Terima Kasih Cintaku!

Pernahkah ketika istri mengambil secangkir teh untuk anda dan anda mengucapkan kata mesra kepada istri anda, “Terima kasih cintaku..” Kemudian terlihat istri tersipu malu dibuatnya. Marilah para suami merenungkan, Apakah anda merasa bahwa istri anda adalah anugerah yang Allah berikan untuk anda? Bila kita menyadari istri adalah sebuah anugerah yang Allah berikan untuk kita maka kita akan memperlakukan dengan yang terbaik untuk istri kita sesuai yang Allah amanahkan, membimbingnya, menjaga dan mencintainya dengan setulus hati. Hanya dengan cara seperti itulah kita mensyukuri anugerah Allah. Sebagaimana Rasulullah telah mengingatkan kita, “Barang siapa mendapatkan nikmat, Allah senang melihat bekas-bekas nikmatNya itu pada diri hambaNya.” (HR. Ahmad).

Kehidupan rumah tangga begitu sangat indahnya bila kita menghiasi dengan cinta dan kasih sayang. Suami istri saling mengasihi dengan kelembutan, tutur kata yang mesra. Sekali waktu bertengkar karena terkadang pertengkaran dibutuhkan sebagai bentuk dinamika dalam berumah tangga karena begitulah keindahan berumah tangga. Selain dengan menunaikan hak dan kewajiban yang melekat pada ikrar suci perkawinan, dengan memperlakukan dengan istimewa penuh dengan penghargaan, banyak hal yang kita bisa lakukan untuk mensyukuri nikmat Allah, salah satunya dengan menyatakan cinta kita kepada istri. “Dan adapun dengan nikmat dari TuhanMu, maka sampaikanlah(sebut-sebutkanlah)” (QS. Adh-Dhuha : 11).

Memanggil istri dengan sebutkan mesra, “cintaku..” menjadi cara bagaimana kita mensyukuri nikmat dan anugerah Allah yang limpahkan untuk kita sebagai suami. Niat kita melakukan adalah untuk menciptakan suasana mesra melanggengkan ikatan batin dan menjaga keharmonisan pernikahan kita untuk menggapai ridha Allah. Keridhaan Allah terpancar dari wajah dan tutur kata pasangan suami istri yang menimbulkan kesejukan dan ketenteraman di dalam keluarga. Menjaga pernikahan agar tetap harmonis dan mesra merupakan wujud rasa syukur kita kepada Allah. Sebagaimana Sabda Rasulullah, “Menyebut-nyebut nikmat Allah adalah tanda bersyukur, meninggalkannya berarti kufur. Barangsiapa tidak mensyukuri nikmat yang sedikit, ia tidak mensyukuri nikmat yang banyak. Dan barangsiapa tidak berterima kasih pada manusia berarti tidak bersyukur kepada Allah. Bersatu adalah rahmat dan bercerai adalah siksa.” (HR. Baihaqi).


Sahabatku, yuk..aminkan doa ini agar keluarga kita menjadi keluarga sakinah mawaddah warahmah. “Rabbana hab lanâ min azwâjinâ wa dzurriyyatinâ qurrata a’yunin waj-’alnâ lil-muttaqîna imâmâ.” Artinya, Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami, pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikan kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Furqan: 74).

Rintihan Seorang Istri

Rintihan seorang istri dalam doa, memohon pertolongan pada Allah adalah keajaiban yang bisa menyelamatkan rumah tangga. Tanpa disadari atmosphere mata mengalir membasahi pipi dan hatinya, merasakan kesedihan yang sangat mendalam. Hatinya telah ditekan hingga batas ambang ketidaksanggupan untuk dipikulnya. Seorang ibu merasakan semua yang ada dalam hidupnya menjadi hampa dan apa yang dilakukanna tidak membawa perubahan apapun.  Keputusasaan menghampiri dirinya, kehilangan gairah untuk hidup, tidak memiliki semangat lagi untuk bekerja maupun untuk melakukan pekerjaan rumah tangga. Semua yang ada dihadapannya hanyalah pandangan kosong belaka yang terhimpit oleh kesulitan. Bertahun-tahun dalam pernikahannya hanya menerima perlakuan kasar dari suami. Sebagai istri berusaha untuk bertahan dari makian dan pukulan suami.

Namun menginjak usia perkawinan ditahun kelima hatinya mulai goyah. Kepahitan hidup seolah tiada pernah berakhir. Putrinya yang dicintainya jatuh sakit sementara tabiat suami tidak berubah. ‘Ya Allah, sampai kapan semua ini akan berakhir?’ ucapnya merintih, hatinya terasa perih. Terbayang kehidupan pada masa kecil yang bahagia bersama kedua orang tuanya yang selalu mendidik agar kokoh imannya, menginjak dewasa dan bekerja membuat dirinya terbuai oleh kenikmatan duniawi menjadi lupa diri. Sampai kemudian menikah dengan pujaan hatinya. Perkawinan ternyata tidak seperti yang diharapkan. Kebahagiaan dirasakan hanya sebentar setelah itu datang cobaan bertubi-tubi. Dalam kesendirian merenungkan perjalanan hidupnya, menyadari sudah sejak lama jauh dari Allah, terpuruk dalam pergaulan yang salah. Sholat lima waktu tidak pernah dikerjakan dengan baik. Hidupnya menjadi terasa hampa. Tersadar akan kesalahan yang dilakukan membuat dirinya semakin mendekatkan diri kepada Allah dengan lebih tekun mengerjakan sholat lima waktu. Itulah yang membuatnya berkenan datang ke Rumah Amalia, beliau bershodaqoh untuk Rumah Amalia agar keluarga selamat dari ambang kehancuran.

Kesabaran dan daya tahan yang kuat  menjalani cobaan hidup akhirnya membuahkan hasil. Disaat Allah memulihkan hidupnya, beliau mendapatkan anugerah yang lebih banyak daripada sebelumnya. Putrinya yang terbaring sakit di Rumah Sakit sudah dinyatakan sembuh dan boleh pulang. Suami yang selalu pulang dalam kondisi mabuk, sudah tidak lagi. Bahkan sudah mau mengerjakan sholat lima waktu dan lebih banyak waktu yang dipergunakan untuk berkumpul bersama keluarga di Rumah. Keberkahan demi keberkahan datang menyirami bagaikan atmosphere hujan yang turun dari langit. Allah mengabulkan doanya. Secercah harapan tentang keluarga bahagia akhirnya terwujud, hanya saja membutuhkan kesabaran cinta yang besar untuk mewujudkannya. “Allah menyelamatkan kamu dari bencana itu dan dari segala macam kesusahan.” (QS. al-An’am :64).


Sahabatku, yuk..aminkan doa ini agar keluarga kita menjadi keluarga sakinah mawaddah warahmah. “Rabbana hab lanâ min azwâjinâ wa dzurriyyatinâ qurrata a’yunin waj-’alnâ lil-muttaqîna imâmâ.” Artinya, Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami, pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikan kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Furqan: 74).

Keajaiban Doa, Kesembuhan Yang Penuh Berkah

Ketika cobaan atau musibah menghampiri kita, seolah diterjang badai kehidupan. Banyak yang menyangka bahwa cobaan atau musibah itu adalah adzab dari Allah, dianggapnya sebagai murka Allah. Padahal jika kita renungkan lebih dalam, sebenarnya selagi kita masih hidup, Allah berkenan memberikan kesempatan agar kita memperbaiki kesalahan yang kita lakukan. Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang tidak pernah memberikan siksaan melainkan ‘sentilan kecil’ bagi kita hambaNya yang lalai dan lupa diri untuk kembali ke jalan yang benar. ‘Sesungguhnya Allah tidak pernah memberikan siksa kepada seseorang walaupun sebesar zarrah sekalipun dan jika ada kebaikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisiNya pahala yang besar.’ (QS. an-Nisaa’ : 40).

Itulah yang terjadi pada seorang Ibu yang mengasuh anaknya seorang diri sampai kemudian putranya menginjak dewasa harus masuk rumah sakit karena penyakit kronis yang dideritanya. Setelah dilakukan pemeriksaan putranya dinyatakan oleh dokter bahwa sakit yang dideritanya harapan untuk sembuhnya sangatlah tipis. Menurut dokter agar memenuhi keinginan putranya dan berdoa, ‘Siapa tahu ada harapan untuk sembuh, Allah Maha Menyembuhkan Ibu.’ begitu tutur dokternya. Tentu saja hal itu membuat hati sang ibu menjadi sangat bersedih, apa yang dituturkan oleh dokter menjadi teringat bagaimana dulu ketika dirinya menjaga dan merawat suami nya dan akhirnya meninggal dunia justru ditengah kebahagiaan keluarga yang dirasakannya. Kesedihan yang dirasakan akan berpisah dengan putranya selama-lamanya. Seolah tiada lagi harapan yang tersisa orang yang dicintai menemani hidupnya.

Ia kemudian berisiatif shodaqoh untuk Rumah Amalia berharap keridhaan Allah untuk kesembuhan putranya. Dua pekan kemudian ada kabar yang cukup menggembirakan, dokter telah memberitahukan kepada sang ibu bahwa putranya memiliki harapan untuk disembuhkan dan keadaan sedikit demi sedikit telah membaik. Ahirnya putra beliau telah keluar dari rumah sakit dalam keadaan sehat walfiat. Semuanya sangat berbahagia dan bersyukur kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas kesembuhannya yang penuh berkah. Obatilah orang yang sakit dengan shodaqoh, bentengilah harta kalian dengan zakat dan tolaklah bencana dengan berdoa (HR. Baihaqi).

Jodoh, Cinta Dan Takwa

Sahabatku, Menurut hadis Nabi, orang yang sedang jatuh cinta cenderung selalu mengingat dan menyebut orang yang dicintainya (man ahabba syai’an katsura dzikruhu), kata Nabi, orang juga bisa diperbudak oleh cintanya (man ahabba syai’an fa huwa `abduhu). Kata Nabi juga, ciri dari cinta sejati ada tiga : (1) lebih suka berbicara dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain, (2) lebih suka berkumpul dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain, dan (3) lebih suka mengikuti kemauan yang dicintai dibanding kemauan orang lain/diri sendiri. Itulah sebabnya bagi orang yang telah jatuh cinta karena Allah, maka ia lebih suka mengajak pasangannya berjuang dijalan Allah, berharap keridhaan Allah, meraih kebahagiaan dengan ketakwaan kepada Allah bukan hawa nafsu.

Sahabatku, jodoh yang diikat oleh ketakwaan kepada Allah akan membuat bahtera rumah tangga menjadi kuat dan kokoh, perlakukanlah dengan hormat pasangan kita, setia dan mencintai dengan setulus hati. Kehidupan ini sangat dinamis, kebahagiaan, kesedihan, kebencian, senyuman semua datang silih berganti. Jika pasangan saling memahami terus ditumbuhsuburkan, maka akan selalu ada tunas cinta yang bersemi. Jika tunas cinta terus bersemi akan selalu bunga-bunga yang bermekaran, menebarkan semerbak harum wangi dipagi hari menyambut kehidupan yang indah. Bersabarlah menghadapi kekurangan, saling menyayangi dan mengasihi. Bila datang masalah dan konflik bukan saling menggugat kelemahan dan mengeluh pengorbanan yang telah pernah kita lakukan namun saling mengakui dengan setulus hati, memahami, memuji. Disinilah rahmat Allah turun melimpahkan kembali sehingga cinta bersemi kembali, disela hempasan badai dan gelombang samudra kehidupan yang datang siling berganti.

Air Mata Menorehkan Luka

Ada seorang ibu muda menangis. Air matanya mengalir deras, menoreh luka. Ia bertutur di Rumah Amalia suaminya sedang lupa diri akan tanggungjawab. Disaat ia bersedih selalu mengeluarkan sebuah photo. Photo ayah, bunda dan dirinya bersama masa suram. Ia menatap print itu, teringat ia duduk memegang lutut dipojok tempat tidur, wajahnya pucat, bibirnya gemetar ketakutan, jantung berdetak kencang. Di depan matanya terlihat ayah bundanya bertengkar, ya..selalu bertengkar. Mereka bisa bertengkar tanpa pernah ada persoalan yang jelas. Teriakan bunda bercampur tangis, suara ayah seolah membara. Ia semakin memegang lututnya, menangis, teriakan mereka menggelegar, satu kata yang selalu diingatnya, memenuhi ruang alam bawah sadarnya “C..E..R..A..I..!!”

Sejak itu ia menjadi takut menikah namun Allah berkehendak lain. Seorang laki-laki mampu meyakinkan dirinya untuk menikah sampai mempunyai tiga anak yang manis dan lucu. Ditengah perjalanan hidupan rumah tangga selalu terguncang oleh masa lalu yang suram, ketakutan dan kecemasan membayangi hidupnya. Kehidupan masa lalu bagian yang tak bisa diingkari, keimanan dan keberserahan diri kepada Allah untuk menjalani hidup penuh dengan syukur sedikit demi sedikit perlahan memulihkan kondisi batinnya. Berbagi kasih sayang di Rumah Amalia membuat hidupnya semakin membaik. Sejak ia lebih banyak untuk mendekatkan diri kepada Allah telah membuka mata hati suaminya. Sampai suatu malam suaminya jatuh sakit. Ia merawat dengan cinta dan kasih sayang, dalam kesembuhan suaminya menangis dan meminta maaf atas kekhilafan dirinya. “Mah, berikanlah maafmu untukku sekali ini saja..” Suaminya mengeluarkan sebuah print didompet, print keluarga bahagia dirinya, suami dan anak-anaknya yang telah menghapus luka masa lalu. Ia mengangguk dan memeluk suaminya. sang suami membisikkan ditelinganya. “Mah, aku selalu bahagia berada disisimu..” Subhanallah..

Jodoh, Sakinah Dan Keluarga Bahagia

Sahabatku, jodoh bukan semata-mata pertemuan laki-laki dan perempuan yang keduanya saling jatuh cinta namun juga bagaimana jodoh bisa menjadi keluarga sakinah. Keluarga sakinah sebenarnya istilah yang khas Indonesia yang menggambarkan suatu keluarga yang bahagia dalam perspektif ajaran Islam. Keluarga sakinah adalah satu ungkapan untuk menyebut sebuah keluarga yang fungsional dalam mengantar orang pada cita-cita dan tujuan membangun keluarga. Dalam bahasa Arab disebut dengan usrah sa`idah, keluarga bahagia. Penggunaan nama sakinah pasti diambil dari al Qur’an surat 30:21, litaskunu ilaiha, yang artinya bahwa Tuhan menciptakan perjodohan bagi manusia agar yang satu merasa tenteram terhadap yang lain. Dalam bahasa Arab, kata sakinah di dalamnya terkandung arti tenang, terhormat, aman, penuh kasih sayang, mantap dan memperoleh pembelaan. Pengertian ini pula yang dipakai dalam ayat-ayat al Qur’an dan hadis dalam kontek kehidupan manusia. Jadi keluarga sakinah adalah kondisi yang sangat ideal dalam kehidupan keluarga, dan yang ideal biasanya jarang terjadi, oleh karena itu ia tidak terjadi mendadak, tetapi ditopang oleh pilar-pilar yang kokoh, yang memerlukan perjuangan serta butuh waktu serta pengorbanan terlebih dahulu. Keluarga sakinah merupakan subsistem dari sistem sosial menurut al Qur’an, bukan bangunan yang berdiri di atas lahan kosong.

Dalam keluarga itu ada mawaddah dan rahmah (Q/30:21). Mawaddah adalah jenis cinta membara, yang menggebu-gebu dan “nggemesi�, sedangkan rahmah adalah jenis cinta yang lembut, siap berkorban dan siap melindungi kepada yang dicintai. Mawaddah saja kurang menjamin kelangsungan rumah tangga, sebaliknya, rahmah, lama kelamaan menumbuhkan mawaddah. Hubungan antara suami isteri harus atas dasar saling membutuhkan, seperti pakaian dan yang memakainya (hunna libasun lakum wa antum libasun lahunna, Q/2:187). Fungsi pakaian ada tiga, yaitu (a) menutup aurat, (b) melindungi diri dari panas dingin, dan (c) perhiasan. Suami isteri dalam bergaul memperhatikan hal-hal yang secara sosial dianggap patut (ma`ruf), tidak asal benar dan hak, Wa`a syiruhunna bil ma`ruf (Q/4:19). Besarnya mahar, nafkah, cara bergaul dan sebagainya harus memperhatikan nilai-nilai ma`ruf. Hal ini terutama harus diperhatikan oleh suami isteri yang berasal dari kultur yang menyolok perbedaannya. Menurut hadis Nabi, pilar keluarga sakinah itu ada empat (idza aradallohu bi ahli baitin khoiran dst); (a) memiliki kecenderungan kepada agama, (b) yang muda menghormati yang tua dan yang tua menyayangi yang muda, (c) sederhana dalam belanja, (d) santun dalam bergaul dan (e) selalu introspeksi.

Sahabatku yang ingin segera menikah, carilah jodoh dunia akhirat, jodoh yang setia dalam mengarungi samudra kehidupan yang penuh ombak dan badai kehidupan yang menghempas bahtera rumah tangga anda, carilah pasangan yang tangguh, kuat dan kokoh, tahan penderitaan, pasangan yang hanya dengan mengharap keridhaan Allah. Maka bahtera rumah tangga anda akan bisa mengarungi samudra kehidupan dengan selamat dunia dan akhirat. Bila memang ada niat keinginan sungguh-sungguh untuk mendapatkan jodoh. Jangan putus asa, tetaplah berikhitiar memohon kpd Allah maka Allah akan mengirimkan jodoh yg terbaik untuk anda.

Dimanakah Engkau, Ya Allah?

Malam temaram, langit gelap, hujan mengguyur membasahi bumi. Laki-laki setengah baya itu meneteskan atmosphere mata tiada henti. Di Rumah Amalia anak-anak terdengar syahdu melantunkan ayat-ayat suci al-Quran. Beliau bertutur, putranya yang berusia dua tahun telah tiada beberapa minggu lalu, untuk terakhir kalinya beliau menggendong. Berbisik lirih, “Ayah selalu mencintaimu, anakku.” Operasi pecangkokan jantungnya berhasil namun Allah berkehendak lain. Anaknya yang dikasihi telah tiada. Ia bersama istrinya berdiri dalam kesunyian yang mencekam di kamar rumah sakit, hidup menjadi terasa hampa, terluka perih dihatinya. “Dimanakah Engkau, Ya Allah?”ucapnya penuh kepedihan.

Disaat dalam kesendirian, setelah selesai sholat. beliau menyadari bahwa sesungguhnya Allah bersama dirinya, disetiap langkahnya. Beliau melihat kasih sayang Allah diwajah kerabat, saudara dan teman-temannya yang berempati. SMS maupun menelponnya. Tiada kepura-puraan untuk menemukan sebuah jawaban, ia yakin Allah selalu bersama orang-orang yang bertakwa kepadaNya untuk mengarungi samudera kehidupan ditengah badai dan gelombang. Allah selalu menyertai hambaNya, dengan kasih sayangNya agar menjadi kuat dan kokoh keimanan dengan menanggung penderitaan karena kehilangan anak satu-satunya agar dirinya lebih mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.


Sahabatku, aminkan doa ini ketika menghadapi Cobaan berat. “Hasbiyallahu lidini, hasbiyallahu lidunyaya, hasbiyallahu lima ahammani. Hasbiyallahi liman bagha ‘alayya, hasbiyallah liman kadani bisu-in wala hawla quwwata illa billahi. “Cukuplah aku bersandar kepada Allah untuk Agamaku. Cukuplah aku bersandar kepada Allah untuk keduniaaanku. Cukuplah aku bersandar kepada Allah terhadap orang-orang yang melakukan penganiayaan kepadaku. Cukuplah aku bersandar kepada Allah untuk menghadapi siapa saja yang berniat jelek kepadaku. Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah.â€�

Dimanakah Engkau, Ya Allah?

Malam temaram, langit gelap, hujan mengguyur membasahi bumi. Laki-laki setengah baya itu meneteskan atmosphere mata tiada henti. Di Rumah Amalia anak-anak terdengar syahdu melantunkan ayat-ayat suci al-Quran. Beliau bertutur, putranya yang berusia dua tahun telah tiada beberapa minggu lalu, untuk terakhir kalinya beliau menggendong. Berbisik lirih, “Ayah selalu mencintaimu, anakku.” Operasi pecangkokan jantungnya berhasil namun Allah berkehendak lain. Anaknya yang dikasihi telah tiada. Ia bersama istrinya berdiri dalam kesunyian yang mencekam di kamar rumah sakit, hidup menjadi terasa hampa, terluka perih dihatinya. “Dimanakah Engkau, Ya Allah?”ucapnya penuh kepedihan.

Disaat dalam kesendirian, setelah selesai sholat. beliau menyadari bahwa sesungguhnya Allah bersama dirinya, disetiap langkahnya. Beliau melihat kasih sayang Allah diwajah kerabat, saudara dan teman-temannya yang berempati. SMS maupun menelponnya. Tiada kepura-puraan untuk menemukan sebuah jawaban, ia yakin Allah selalu bersama orang-orang yang bertakwa kepadaNya untuk mengarungi samudera kehidupan ditengah badai dan gelombang. Allah selalu menyertai hambaNya, dengan kasih sayangNya agar menjadi kuat dan kokoh keimanan dengan menanggung penderitaan karena kehilangan anak satu-satunya agar dirinya lebih mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.


Sahabatku, aminkan doa ini ketika menghadapi Cobaan berat. “Hasbiyallahu lidini, hasbiyallahu lidunyaya, hasbiyallahu lima ahammani. Hasbiyallahi liman bagha ‘alayya, hasbiyallah liman kadani bisu-in wala hawla quwwata illa billahi. “Cukuplah aku bersandar kepada Allah untuk Agamaku. Cukuplah aku bersandar kepada Allah untuk keduniaaanku. Cukuplah aku bersandar kepada Allah terhadap orang-orang yang melakukan penganiayaan kepadaku. Cukuplah aku bersandar kepada Allah untuk menghadapi siapa saja yang berniat jelek kepadaku. Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah.â€�

Jodoh, Sakinah Dan Kualitas Keluarga

Sahabatku, Menikah tidak terlalu sulit, tetapi membangun keluarga sakinah bukanlah hal yang mudah. Ternyata resep membangun keluarga sakinah tidak berubah. Dalam zaman apapun, jika petunjuk Rasul tersebut diatas diikuti, maka pada keluarga itu akan terbangun benteng yang resisten terhadap penyakit kerangkeng sosial itu. Ada beberapa tingkatan kualitas keluarga. Pertama kualitas mutiara. Mutiara tetaplah mutiara meski terendam puluhan tahun di dalam lumpur. Keluarga yang berkualitas mutiara, meski hidup di zaman yang rusak atau tinggal di lingkungan sosial yang rusak, ia tetap terpelihara sebagai keluarga yang indah dengan pribadi-pribadi yang kuat. Keluarga ini memiliki mekanisme dan sistem dalam pergaulan sosial yang menjamin keutuhan kualitasnya meski di tengah masyarakat yang tak berkualitas.

Kedua, kualitas kayu. Kursi kayu akan tetap kuat dan indah jika berada dalam ruang yang terlindung, tetapi jika terkena panas dan hujan, lama kelamaan akan rusak. Model keluarga seperti ini sepertinya terpengaruh oleh lingkungan negatip masyarakatnya, tetapi sebenarnya yang terpengaruh hanya lahirnya saja, mungkin hanya mode pakaiannya, hanya kemasan lahirnya, sedangkan etosnya, semangatnya, komitmennya, keteguhannya tidak terlalu terusik oleh situasi sosial. Kerusakan lahir keluarga ini dapat segera diperbaiki dengan sedikit startle therapy, dengan sedikit pendisiplinan kembali, seperti kursi yang rusak karena kehujanan bisa diperbaiki dengan dipoliytur kembali.

Sementara itu, yang ketiga kualitas kertas, apalagi sekelas kertas tissue, ia segera akan hancur jika terendam air. Model keluarga seperti ini sangat rapuh terhadap dinamika sosial. Mereka mudah mengikuti trend zaman dengan segala macam assesorisnya sehingga identitas asli keluarga itu hampir tidak lagi nampak. Segala macam trend masyarakat diikuti dengan semangat, tanpa mempertimbangkan esensinya. Di butuhkan “laminating� sosial untuk melindungi keluarga seperti ini dari pengaruh buruk masyarakatnya. Laminating sosial bisa berbentuk pakaian, yaitu mengenakan pakaian yang dikenali sebagai pakaian orang baik-baik, misalnya busana muslimah, bisa juga menjadi anggota dari kumpulan orang-orang yang dikenali sebagai kumpulan orang-orang baik, misalnya menjadi anggota majlis pengajian atau organisasi yang dikenal melakukan aktifitas keagamaan berstruktur, atau tinggal di dalam lingkungan yang ketat sistem pemeliharaan identitasnya.

Sahabatku yang ingin segera menikah, carilah jodoh dunia akhirat, jodoh yang setia dalam mengarungi samudra kehidupan yang penuh ombak dan badai kehidupan yang menghempas bahtera rumah tangga anda, carilah pasangan yang tangguh, kuat dan kokoh, tahan penderitaan, pasangan yang hanya dengan mengharap keridhaan Allah. Maka bahtera rumah tangga anda akan bisa mengarungi samudra kehidupan dengan selamat dunia dan akhirat. Bila memang ada niat keinginan sungguh-sungguh untuk mendapatkan jodoh. Jangan putus asa, tetaplah berikhitiar memohon kpd Allah maka Allah akan mengirimkan jodoh yg terbaik untuk anda.

Jodoh, Sakinah Dan Kualitas Keluarga

Sahabatku, Menikah tidak terlalu sulit, tetapi membangun keluarga sakinah bukanlah hal yang mudah. Ternyata resep membangun keluarga sakinah tidak berubah. Dalam zaman apapun, jika petunjuk Rasul tersebut diatas diikuti, maka pada keluarga itu akan terbangun benteng yang resisten terhadap penyakit kerangkeng sosial itu. Ada beberapa tingkatan kualitas keluarga. Pertama kualitas mutiara. Mutiara tetaplah mutiara meski terendam puluhan tahun di dalam lumpur. Keluarga yang berkualitas mutiara, meski hidup di zaman yang rusak atau tinggal di lingkungan sosial yang rusak, ia tetap terpelihara sebagai keluarga yang indah dengan pribadi-pribadi yang kuat. Keluarga ini memiliki mekanisme dan sistem dalam pergaulan sosial yang menjamin keutuhan kualitasnya meski di tengah masyarakat yang tak berkualitas.

Kedua, kualitas kayu. Kursi kayu akan tetap kuat dan indah jika berada dalam ruang yang terlindung, tetapi jika terkena panas dan hujan, lama kelamaan akan rusak. Model keluarga seperti ini sepertinya terpengaruh oleh lingkungan negatip masyarakatnya, tetapi sebenarnya yang terpengaruh hanya lahirnya saja, mungkin hanya mode pakaiannya, hanya kemasan lahirnya, sedangkan etosnya, semangatnya, komitmennya, keteguhannya tidak terlalu terusik oleh situasi sosial. Kerusakan lahir keluarga ini dapat segera diperbaiki dengan sedikit startle therapy, dengan sedikit pendisiplinan kembali, seperti kursi yang rusak karena kehujanan bisa diperbaiki dengan dipoliytur kembali.

Sementara itu, yang ketiga kualitas kertas, apalagi sekelas kertas tissue, ia segera akan hancur jika terendam air. Model keluarga seperti ini sangat rapuh terhadap dinamika sosial. Mereka mudah mengikuti trend zaman dengan segala macam assesorisnya sehingga identitas asli keluarga itu hampir tidak lagi nampak. Segala macam trend masyarakat diikuti dengan semangat, tanpa mempertimbangkan esensinya. Di butuhkan “laminating� sosial untuk melindungi keluarga seperti ini dari pengaruh buruk masyarakatnya. Laminating sosial bisa berbentuk pakaian, yaitu mengenakan pakaian yang dikenali sebagai pakaian orang baik-baik, misalnya busana muslimah, bisa juga menjadi anggota dari kumpulan orang-orang yang dikenali sebagai kumpulan orang-orang baik, misalnya menjadi anggota majlis pengajian atau organisasi yang dikenal melakukan aktifitas keagamaan berstruktur, atau tinggal di dalam lingkungan yang ketat sistem pemeliharaan identitasnya.

Sahabatku yang ingin segera menikah, carilah jodoh dunia akhirat, jodoh yang setia dalam mengarungi samudra kehidupan yang penuh ombak dan badai kehidupan yang menghempas bahtera rumah tangga anda, carilah pasangan yang tangguh, kuat dan kokoh, tahan penderitaan, pasangan yang hanya dengan mengharap keridhaan Allah. Maka bahtera rumah tangga anda akan bisa mengarungi samudra kehidupan dengan selamat dunia dan akhirat. Bila memang ada niat keinginan sungguh-sungguh untuk mendapatkan jodoh. Jangan putus asa, tetaplah berikhitiar memohon kpd Allah maka Allah akan mengirimkan jodoh yg terbaik untuk anda.

Keajaiban Doa, Wujudkan Impian

Laki-laki separuh baya matanya menerawang menatap kedepan. Tak ada suara dan kata yang terucap, Wajahnya nampak sejuk dan damai. Hatinya tersenyum seolah bicara, tak ada hidup yang sempurna tanpa ujian. Sebagai seorang muslim beliau banyak diberikan kemudahan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kehidupan datar dan lurus lalu menanjak mencapai kesuksesan dalam karier. Pernikahannya penuh kebahagiaan. terasa semakin lengkap dengan kehamilan istri tercintanya. Buah hati yang didambakan bagi seluruh anggota keluarganya namun toh, Allah memiliki rencana lain. Putra pertamanya, hanya bertahan 24 jam berjuang bertahan hidup. Kejadian itu benar-benar membuat hidupnya merasa terpuruk dalam kubangan yang penuh lumpur, terasa sesak untuk bernapas dan membuat perih dihati. Selama berbulan-bulan beliau mengurung diri meratapi sang buah hatinya yang telah pergi. Sungguh tak terduga. Kehilangan itu terjadi justru dipuncak kesuksesan kariernya. Kejadian itu menguji keimanannya bahkan terkadang menggugat keberadaan Allah, ‘Kenapa Allah tidak adil pada kami?’ begitu ucapnya.

Ujian keimanan berikutnya, justru menimpa pada istrinya. Istrinya terserang kista dirahimnya. Dokter memvonis istrinya berisiko tinggi jika hamil lagi. Tentu saja sebagai suami hal itu membuatnya sangat terpukul dengan pernyataan itu. Dia teringat bagaimana masa2 indah dilalui berdua dirinya sangat khawatir terhadap kondisi sang istri. Kemudian dia berinisiatif untuk bershodaqoh ke Rumah Amalia. Sungguh menakjubkan, ternyata kista istrinya bisa sembuh tanpa harus operasi. Terlebih kehamilan yang kedua telah membuat hidupnya menjadi terasa bahagia. Kelahiran anak yang dinanti memhiasi indah hidup ini dengan penuh syukur. Dua ujian berat semakin menyadarkan beliau dan keluarganya agar semakin mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Terlebih dengan kehadiran sang buah hati, seolah diberikan anugerah yang tiada tara. Sehingga beliau berjanji tak akan pernah berhenti untuk bersyukur. Dengan bershodaqoh sebagai ungkapan syukur kepada Allah. Beliau bertutur malam itu di Rumah Amalia, ‘ Saya sadar, Allah itu Maha Baik. Allah selalu wujudkan impian kami.’ Subhanallah..

Keajaiban Doa, Wujudkan Impian

Laki-laki separuh baya matanya menerawang menatap kedepan. Tak ada suara dan kata yang terucap, Wajahnya nampak sejuk dan damai. Hatinya tersenyum seolah bicara, tak ada hidup yang sempurna tanpa ujian. Sebagai seorang muslim beliau banyak diberikan kemudahan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kehidupan datar dan lurus lalu menanjak mencapai kesuksesan dalam karier. Pernikahannya penuh kebahagiaan. terasa semakin lengkap dengan kehamilan istri tercintanya. Buah hati yang didambakan bagi seluruh anggota keluarganya namun toh, Allah memiliki rencana lain. Putra pertamanya, hanya bertahan 24 jam berjuang bertahan hidup. Kejadian itu benar-benar membuat hidupnya merasa terpuruk dalam kubangan yang penuh lumpur, terasa sesak untuk bernapas dan membuat perih dihati. Selama berbulan-bulan beliau mengurung diri meratapi sang buah hatinya yang telah pergi. Sungguh tak terduga. Kehilangan itu terjadi justru dipuncak kesuksesan kariernya. Kejadian itu menguji keimanannya bahkan terkadang menggugat keberadaan Allah, ‘Kenapa Allah tidak adil pada kami?’ begitu ucapnya.

Ujian keimanan berikutnya, justru menimpa pada istrinya. Istrinya terserang kista dirahimnya. Dokter memvonis istrinya berisiko tinggi jika hamil lagi. Tentu saja sebagai suami hal itu membuatnya sangat terpukul dengan pernyataan itu. Dia teringat bagaimana masa2 indah dilalui berdua dirinya sangat khawatir terhadap kondisi sang istri. Kemudian dia berinisiatif untuk bershodaqoh ke Rumah Amalia. Sungguh menakjubkan, ternyata kista istrinya bisa sembuh tanpa harus operasi. Terlebih kehamilan yang kedua telah membuat hidupnya menjadi terasa bahagia. Kelahiran anak yang dinanti memhiasi indah hidup ini dengan penuh syukur. Dua ujian berat semakin menyadarkan beliau dan keluarganya agar semakin mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Terlebih dengan kehadiran sang buah hati, seolah diberikan anugerah yang tiada tara. Sehingga beliau berjanji tak akan pernah berhenti untuk bersyukur. Dengan bershodaqoh sebagai ungkapan syukur kepada Allah. Beliau bertutur malam itu di Rumah Amalia, ‘ Saya sadar, Allah itu Maha Baik. Allah selalu wujudkan impian kami.’ Subhanallah..

Setitik Embun Kasih Sayang

Malam itu seorang bapak menuturkan setelah istrinya terkena cadence yang kedua kali, para dokter tidak terlalu berharap lagi. Menurut mereka hanya keajaiban saja yang dapat memulihkan istrinya. Dirinya sebagai seorang suami yang mencintai istrinya bagai setitik embun kasih sayang memanjatkan doa dan menyisihkan rizki bagi yang membutuhkan di Rumah Amalia yang sempat terlupa, memohon keridhaan Allah agar memberikan kesembuhan bagi istrinya. Dia yakin Allah mampu memberikan kesembuhan melebihi pengobatan medis manapun. Beberapa saat kemudian keajaiban itu terjadi, pemulihan yang didukung dengan kasih sayang dirinya dan anak-anaknya. Pernikahannya semakin kokoh dalam kebersamaan menghadapi berbagai problem kehidupan. Iman dan takwanya kepada Allah semakin kokoh, tidak tergoyahkan.

Ketika dirinya berdoa memohon kepada Allah agar diberikan keajaiban yang seperti diinginkan seringkali tidak terjadi namun justru keajaiban itu muncul dalam bentuk yang lain, yang benar-benar tidak terduga. Disaat kondisi istri yang terbaring lemah karena sakit, anak-anaknya yang beranjak dewasa mulanya terlihat cuek, malah setia menemani ibundanya di rumah sakit sepanjang hari, rajin sholat dan mendoakan kesembuhan ibundanya sehingga terasa setitik embun kasih sayang menyirami hati keluarganya merupakan keajaiban yang tak terduga adalah jawaban Allah atas doa yang dipanjatkan dan istrinya joke sembuh dari sakitnya. Subhanallah..

Luapan Kasih Sayang

Luapan kasih sayang tak ubahnya seperti atmosphere di dalam sungai dihambat maka atmosphere akan meluap ketempat dataran yang lebih rendah dan biasa ke tempat yang kering itulah gambaran yang sampaikan kepada seorang ibu di Rumah Amalia. Hidup ini apapun yang telah terjadi adalah wujud ketetapan Allah, terkadang kita sebagai hamba hanya bisa menerima apa yang telah menjadi ketetapanNya. Setelah sekian lama bahtera rumah tangganya terhempas, beliau mengalami kesepian yang menyakitkan. Semula kasih sayang yang ada mengalir dengan bebas kini terputus. Hari-harinya hampa, padahal dulu menghabiskan bersama-sama orang yang dicintainya.

Disetiap kesempatan selalu memohon pada Allah dan Kasih Sayang Allah menjadikan dirinya kuat dan tegar ditengah badai kehidupan. Perhatian tercurah untuk anak-anaknya, membuatkan makanan untuk teman-temannya yang sakit. Menemani dan bertegur sapa dengan sahabatnya yang lama tidak pernah dijumpainya. Seiring dengan waktu, beliau sadar bahwa sesungguhnya Allahlah yang telah membimbing ke dalam hubungan yang baru ini. Seperti aliran sungai yang mengalir ke tanah yang kering, hubungan yang dialaminya telah mengisi dan memperkaya kehidupan dirinya dan orang lain. Kebahagiaan dan ketenteraman hati telah mengisi kehidupan sehari-hari senantiasa bersyukur kepada Allah apapun yang menjadi ketetapan Allah untuk dirinya dan orang-orang yang dikasihinya.


Sahabatku, aminkan doa ini memohon kebaikan untuk hidup kita. “Robbi inni lima anzalta ilayya min khairin faqirun.â€�Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.â€�

Temukan Jodoh Yang Pejuang

Mengapa agama memberi tuntunan agar kita memilih jodoh yang kokoh imannya. Jodoh yang pejuang, tidak memilih kecantikan atau kegagahan sebagai pertimbangan utama dalam memilih pasangan, sebagaimana juga jangan menjadikan harta atau darah biru saja sebagai faktor dominan? Pengalaman hidup menunjukan bahwa banyak cinta berubah menjadi dendam. Pasangan cantik dan ganteng yang semula hidup amat mesra bisa juga berubah menjadi saling membenci, saling merasa muak, saling mendendam dan bahkan saling ingin memusnahkan. Di mata pasangan yang sedang dilanda kebencian, kecantikan dan kegantengan sama sekali tidak mempunyai nilai, karena bagi orang yang benci atau marah atau dendam, faktor kecantikan dan kegantengan justeru menambah bahan bakar kebencian. Demikian juga darah biru yang dibanggakan atau harta yang dibangakan, pada saat tertentu bukan menjadi faktor pengikat, tetapi justru menjadi bahan bakar yang mengobarkan semangat permusuhan antara suami dan isteri. Sungguh sangat terasa peringatan Rasul yang menyatakan bahwa, barang siapa memilih pasangan semata-mata karena kecantikan, atau karena semata-mata harta atau karena semata-mata darah biru , Allah akan mengubah keungulan faktor yang dianggap kebaikan itu menjadi keburukan.

Sahabatku, pilihlah jodoh karena agamanya, kokoh dalam berpegang teguh pada keimanan kepada Allah. Jodoh yang pejuang bagi keluarganya masyarakat dalam membangun peradaban umat. Untuk mengenalinya dan menemukan dapat dengan mudah, bila anda bertemu dengan seseorang dalam kebersamaan, kepedulian terhadap problem-problem kemanusiaan, misalnya dalam bersama-sama memikirkan bagaimana mengentaskan kemiskinan, bagaimana menyelenggarakan pendidikan tepat guna bagi anak yatim anak dhuafa, bagaimana membela orang lemah. Nah dalam ajang kepedulian seperti itu jatidiri dzatiddin seseorang akan muncul secara orisinal. Jatuh cinta di medan juang seperti ini biasanya akan berlanjut menjadi pasangan suami isteri yang memiliki kesamaan visi, indah, bersemangat dan tetap berfikir besar meski belum tentu menjadi orang kaya. Medan perjuangan kepedulian kepada masalah kemanusiaan itu lebih selektif. Teman curhat yang kemudian menjadi isteri belum tentu menjamin kesamaan visi, tetapi jodoh yang dijumpai di medan juang kemanusiaan menjamin kesamaan visi kemanusiaan.


Sahabatku, yuk..aminkan doa ini untuk anda mendapatkan jodoh yg terbaik dari sisi Allah untuk membina keluarga sakinah mawaddah warahmah. ‘Rabbana hablana milladunka zaujan thayyiban wayakuna shahiban lii fiddini waddunya wal akhirah’ Artinya. ‘Ya Tuhan kami, berikanlah kami pasangan yg terbaik dari sisiMu, pasangan yg juga menjadi sahabat kami dlm urusan agama, urusan dunia akhirat.”

Memaafkan

Dalam kehidupan terkadang hati perih dan terluka bukan karena orang lain namun seringkali justru dilakukan oleh orang yang kita cintai. Luka itu hanya bisa sembuh dengan memaafkan. Ada tahapan yang penting dalam proses memaafkan. Perama, Sadarilah dan menerima rasa sakit hati kita bukan karena perbuatan orang lain tetapi hal itu sebabkan betapa rapuhnya hati kita. Jangan menolak, menekan atau menganggap sepele rasa sakit hati anda. Antisipasilah dampak dari sakit hati agar tidak melakukan tindakan yang destruktif seperti menyakiti diri sendiri atau menyakiti orang lain.

Kedua, cobalah memahami bahwa setiap tindakan yang membuat kita sakit hati bukan semata karena perbuatan orang lain karena apapun yang ada didalam hidup ini adalah ujian dan cobaan yang datangnya dari Allah agar kita senantiasa meningkatkan kualitas hidup kita menjadi insan yang bertakwa kepada Allah. Memaafkan berarti berprasangka baik kepada Allah bahwa apapun yang terjadi, peristiwa yang menyakitkan sekalipun tentu ada hikmahnya. Merupakan proses pendewasaan dalam hidup kita agar kita menjadi orang yang senantiasa bersyukur dan bersabar dalam menjalani hidup ini. ‘Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam segala urusannya.’ (QS. Ath-Thalaq : 4).

Hati Yang Berserah

Ada seorang ibu separuh baya menjelang diusia senja, dari wajahnya terlihat guratan yang gigih, hati yang berserah. Walau sepanjang hidupnya dipenuhi dengan penderitaan. Dengan penuh kesetiaan menjaga anak-anak dan suaminya. Namun kepahitan hidup yang selalu didapatkannya. Suaminya lupa diri ketika kariernya menanjak, meninggalkan dirinya dan anak-anaknya. Bergantung masa depan hidupnya pada anaknya yang sulung malah membuat hatinya kecewa, beranjak dewasa pergi meninggalkan dirinya. Satu persatu anaknya pergi dengan kehidupannya masing-masing. Hingga masa menjelang usia senja beliau hidup seorang diri dipinggiran ibukota.

Pada pagi hari di Rumah Amalia, begitulah beliau bertutur pada kami dan banyak orang yang mengira beliau benar-benar dalam kesepian dan kesendirian. Dengan penuh semangat beliau menjawab, “Mas Agus, saya tidak hidup sendiri,” Beliau melanjutkan, “Allah bersama saya, Allah yang menemani dalam hidup saya dalam bahagia dan derita.” Begitulah tutur ibu yang menjalani hidup dengan penuh syukur dan sabar disaat hatinya penuh luka karena orang-orang yang didicintainya. “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa dan berbuat kebaikan.” (QS. an-Nahl : 128).

Wujud Kasih Sayang Allah

WWujud kasih sayang Allah begitu nyata bagi hamba yang bertakwa kepada Allah. Dibalik kepahitan ada buah yang manis dirasakan. Itulah yang dirasakan seorang bapak bersama dua anaknya. Pada hari ahad di Rumah Amalia beliau bercerita bagaimana perjuangan untuk menyembuhkan anak laki-lakinya yang ginjalnya terkena tumor. Dalam penuturannya “Saya teringat ketika Mas Agus mengatakan pada saya harus memohon pada Allah dan yakin doa kita akan dikabulkan.” Selama beberapa kali kemoterapi anak saya akhirnya disembuhkan oleh Allah.” Proses pemulihannya begitu cepat dari yang dibayangkan. Allah mengkaruniakan dirinya dan seorang anak yang hebat yang melewati setiap perawatan.

Beliau bersama istri beban yang begitu berat mampu dilewatinya dengan penuh kesabaran dan rasa syukur. Allah bekerja melalui ujian dan cobaan menguatkan dirinya dalam ketakwaan kepada Allah. Merawat anaknya yang terkena growth diginjalnya merupakan tantangan yang tidak mudah. Tetapi beliau bersama istri menyadari bahwa beliau tidak sendiri untuk bisa menyelesaikan semua masalah dalam hidupnya. Yakin dan percaya, Allah bersamanya dalam keimanan dan ketakwaan berharap pada Allah akan menyembuhkan anak laki-laki yang dicintainya dan Allah menyembuhkannya. Bahkan Allah mengkaruniakan seorang putri yang cantik untuk beliau dan istrinya. Subhanallah.


Sahabatku, aminkan doa ini memohon ilmu bermanfaat, rizki kesembuhan. “Allahumma inni as-aluka’alman nafi’an, wa rizqan wa si’an, wa syifa-an min kulli da-in. “Ya Allah, aku memohon kepada Engkau ilmu yang manfaat, rizki yang luas, dan kesembuhan dari segala rupa penyakit.â€�

Menjemput Cinta Karena Allah

Sahabatku, Jodoh dan cinta tak bisa dipisahkan. Bila kita bertemu jodoh kita semata-mata karena cinta tentunya hal itu akan rapuh, maka cintailah dia karena cinta kita kepada Allah. Cinta adalah salah satu sifat Allah yang maha Agung, oleh karena itu juga di dalamnya, di dalam cinta ada keagungan, keagungan cinta. Manusia diperintahkan untuk meniru akhlak Allah. Dalam hal cinta, orang yang memiliki perasaan cinta dan bisa mencintai adalah manusia yang mulia. Namun cinta itu bertingkat-tingkat. Menurut Imam al Ghazali, ada empat tingkatan kualitas cinta.

Pertama, Ada orang yang hanya mencintai diri sendiri, cinta diri. Segala ukuran kebaikan hanya diukur dengan kepentingan dirinya. Ini adalah cinta yang pale rendah kualitasnya. Kedua, Ada orang yang mencintai orang lain sepanjang orang itu membawa keuntungan bagi dirinya. Jika keuntungan dari cinta itu sudah tidak ada maka cintanya putus. Cinta tingkat ini adalah cinta pedagang, cinta transaksional. Ketiga, Ada orang yang mencintai orang baik, meski ia tidak diuntungkan sedikitpun dari orang yang dicintainya itu. Cinta tingkat ini sudah termasuk cinta yang agung. Ada orang yang mencintai kebaikan murni terlepas dari siapapun yang memiliki kebaikan itu. Cinta tingkat ini adalah yang tertinggi, dan merekalah yang dapat mencintai Allah, karena Allah itu adalah kebaikan an sich.

Sahabatku yang ingin segera menikah, jadikanlah mawaddah warahmah sebagai motiv cinta untuk menemukan jodoh anda, cinta yang membawa ketenteraman, ketenangan dan kebahagiaan dalam mengarungi bahtera rumah tangga hanya dengan mengharap keridhaan Allah. Jangan putus asa, tetaplah berikhitiar dan memohon kpd Allah maka Allah akan mengirimkan jodoh yg terbaik untuk anda.


Sahabatku, aminkan doa bila anda ingin segera mewujudkan impian unt mendapatkan jodoh yg terbaik dari sisi Allah, mewujudkan keluarga sakinah mawaddah warahmah. ‘Rabbana hablana milladunka zaujan thayyiban wayakuna shahiban lii fiddini waddunya wal akhirah’ Artinya. ‘Ya Tuhan kami, berikanlah kami pasangan yg terbaik dari sisiMu, pasangan yg juga menjadi sahabat kami dlm urusan agama, urusan dunia akhirat.’

Dahsyatnya Sabar

Ditengah usia perkawinannya terbilang muda, baru berusia tiga tahun dan memiliki bayi mungil, dirinya sudah merasakan kesulitan dalam berkomunikasi dengan sang istri. Seorang teman di Rumah Amalia, dia mengatakan bahwa setiap kali berbincang dengan istri selalu saja berakhir dengan pertengkaran. Kesulitan itu terjadi sejak usia perkawinan menginjak enam bulan pertama, disaat istri sedang hamil muda. Pada bersamaan dia juga mendapatkan promosi jabatan di kantornya.  Konsekwensi dari promosi jabatan menyebabkan banyak hal harus dikerjakan, pulang larut malam, perjalanan tugas kantor secara rutin. Semua itu menyebabkan pertengkaran sering karena istri merasa tidak lagi mendapatkan perhatiannya. Bahkan pernah sang istri mencoba untuk bunuh diri, sejak peristiwa itu dia selalu mengalah khawatir bila istri melakukan perbuatan nekad yang dilarang oleh agama. Sampai dia harus meminta izin kepada atasannya untuk mengurangi tugas keluar kota dan lebih mengutamakan untuk mengantar istri atau menjemput dari kantornya. Namun upaya yang dilakukan menjadi terasa sia-sia, ternyata istri semakin menunjukkan sikap yang berlebihan, takut ditinggal bahkan istrinya menjadi mudah sekali untuk mengungkit kembali permasalahan yang telah lalu. Pertengkaran inilah yang membuat dirinya menjadi marah. Sampai tidak tahu apa yang harus dilakukan. ‘Mas Agus Syafii, saya sudah lelah dengan kehidupan. Apa yang harus saya lakukan agar istri merubah sikapnya komunikasi bisa menjadi lebih baik? Tuturnya bruise itu pada saya di Rumah Amalia.

Saya kemudian menjelaskan padanya bahwa tekanan hidup seperti di kota Jakarta, dari pagi ketika di jalan raya sudah berhadapan dengan kemacetan, tentunya sangat melelahkan, juga pekerjaan dengan berbagai tekanan sekaligus tanggungjawab di dalam rumah tangga. Tekanan seperti ini yang terjadi terus menerus bukan hanya melelahkan juga sekaligus kita tidak mampu untuk berpikir jernih. dalam melihat persoalan. Suatu keadaan kita seperti berputar-putar di squad buntu. Proses transisi dari cuman berdua, kemudian memiliki bayi mungil ditambah dengan karier yang cemerlang dibutuhkan penyesuaian. Bukan hanya suami yang harus menyesuaikan namun juga istri mesti menyesuaikan diri. Dalam masa transmisi inilah terjadilah kesulitan komunikasi. Kesulitan komunikasi semakin membesar karena memang tidak pernah mempersiapkan diri untuk melewati perubahan ini.

Perkawinan pada dasarnya ada tiga fase, fase pairing, parenting partnering. Fase pairing tantangannya mengenal pasangan yang dihadapkan dengan mengejar karier. Dalam rumah tangganya fase pairing belum berlalu tapi sudah memasuki Fase parenting yaitu menjadi orang tua karena sudah memiliki sang buah hati. Seiring waktu pertumbuhan anak, dirinya dan istri dibutuhkan kondisi partnering dalam pengasuhan. Jadi, saya menyarankan padanya sebaiknya yang dilakukan adalah memantapkan pasa awal sebuah perkawinan yaitu pairing dengan mengenal istrinya, jangan pernah bosan untuk juga mengajak istri untuk lebih mengenal dirinya. Melakukan aktifitas ibadah dengan sholat berjamaah di dalam keluarga menjadi upaya untuk mencairkan komunikasi yang beku. Selesai sholat berjamaah kemudian belajar membaca al-quran bersama menjadi keluarga indah bahagia. Lakukanlah dengan sabar, bahwa dirinya juga harus memahami istri yang juga sedang dalam kondisi tertekan sama seperti dia. Dalam perannya sebagai istri sekaligus ibu tentunya sangatlah tidaklah mudah. Perkawinan merupakan proses belajar yang tidak pernah berhenti. Sebuah perkawinan kita diberikan kesempatan untuk belajar menjadi matang mendewasakan, pasangan hidup kita merupakan cermin yang terbaik dalam membantu kita untuk tumbuh berkembang. “Hai orang2 yang beriman, mintalah pertolongan (kpd Allah) dengan sabar dan sholat, sesungguhnya Allah bersama orang2 yang sabar.’ (QS. al- Baqarah : 153).