Archive for Desember, 2006
curhat akhir tahun versi dunia
begitu banyak rencana-rencana yang tak tercapai. begitu banyak kegiatan-kegiatan yang tak jadi dilaksanakan. usaha pengembangan diri pun tidak mencapai target yang diinginkan. strategi untuk studi pun menjadi kacau balau. keeksisan hubungan sosial, tak dapat diharapkan. dan yang paling parah... rencana nikah yang terpaksa harus ditunda.
di tahun ini, akhirnya saya kembali menjadi operator warnet, setelah sebelumnya warnet tempat saya bekerja mengalami kebangkrutan. di warnet yang baru ini saya merasa lebih nyaman. selain karena sang boss yang sangat baik (kadang suka nraktir saya makan dan minum di rumah makan milik orang tuanya) beliau juga ga terlalu keras terhadap peraturan. hubungannya dengan operator yang lainnya pun cukup akrab. sayangnya saya malah memanfaatkan kebaikannya itu demi kepentingan saya sendiri. saya pun merasa tidak optimal dalam menjalankan tugas. masih terbawa perasaan ketika bekerja.
di tahun ini juga, saya kembali gagal dalam mencapai target perbaikan diri. masih begitu banyak kebiasaan-kebiasaan jelek yang dilakukan. dan sayangnya saya masih melakukan pembenaran terhadap hal itu. kebiasaan paling utama adalah, menunda (dengan alasan "terkadang kita perlu menunda yang baik untuk mendapatkan yang terbaik"), malas, malu, menutup diri, terbawa perasaan, lebih banyak bicara dan merencana tanpa melakukan, dan menyepelekan hal yang sepele.
di tahun ini pula nilai-nilai mata kuliah saya semakin turun. kuliah sering tidak masuk. tidak memperhatikan informasi yang disampaikan dosen. dan masih banyak hal-hal akademis yang saya tinggalkan.
di tahun ini pun saya kembali gagal dalam menyelesaikan buku Dunia Transparan dan cerpen Gw Emang Jagoan. padahal sudah lebih dari 2 tahun konsep itu diendapkan. rencana pergi bersilaturahim ke rumah uyut yang ada di dekat kostan pun kembali tak terlaksana, dan kini uyut saya sudah meninggal.
semoga di tahun depan saya dapat mencapai targetan-targetan yang akan saya rencanakan. semoga di tahun depan semakin banyak rencana yang dapat saya selesaikan. semoga di tahun depan semuanya dapat menjadi lebih baik
Celetukan (18)
Menyibak Pergulatan Azaz Tunggal di Tubuh PII
oleh Admin
Asas tunggal Pancasila tidak lagi menjadi soal. PII mendaftarkan diri kembali di Departemen Dalam Negeri.
Sekitar 250 mantan aktivis PII (Pelajar Islam Indonesia), yang rata-rata berusia setengah abad, berkumpul di Madrasah Tsanawiyah Negeri Desa Kanigoro, Kecamatan Keras, Kediri, Jawa Timur, 18-19 januari silam. Mereka menggelar reuni, sarasehan, sekaligus mengenang kembali Kanigoro Affair, yang terjadi 10 Ramadhan 32 tahun silam. Bendera hijau dan lambang-lambang PII pun kembali berkibar setelah cuti hampir 10 tahun.
Kanigoro Affair tercatat sebagai sebuah tonggak sejarah yang menandai munculnya gelombang amuk PKI dalam ikhtiarnya membungkam kekuatan nonkomunis. Program mental training yang diikuti 127 kader PII Jawa Timur, 9-17 januari 1965, di Kanigoro pun menjadi salah satu sasarannya. Massa PKI melabrak arena latihan kader-kader santri itu dan melakukan teror. Program organisasi PII itu pun terpaksa dihentikan pada 13 Januari (10 Ramadhan). Para peserta menyingkir.
Masduki Muslim, 55 tahun, ketua PII Kediri awal tahun 1960, mengaku telah lama merindukan reuni itu. “tapi kok ndak sempat-sempat,” kata Masduki, salah satu pemrakarsa pertemuan ini. Yang istimewa dalam acara tersebut, bendera dan simbol pii secara mencolok dikibarkan dan sejumlah pejabat hadir -di antaranya ialah Kepala Staf Kodam V Brawijaya Brigadir Jenderal Moechdi, Komandan Korem Surabaya Kolonel Syamsul Ma’arif, dan jajaran Musyawarah Pimpinan Daerah (MUSPIDA) Kabupaten Kediri.
Rupanya PII telah kembali menjadi anak « manis ». Organisasi pelajar islam ini telah mengubah anggaran dasarnya dengan mencantumkan Pancasila sebagai asasnya, dan mendaftarkan diri ke Departemen Dalam Negeri pada 9 Desember lalu,“ini melegakan. Semua peserta sarasehan menyambut gembira. Kami mengharap Pengurus Besar PII menindaklanjutinya agar PII kembali eksis,” kata Masduki.
Sebelas tahun lalu, PII adalah salah satu dari sejumlah organisasi berlabel Islam yang menolak pelaksanaan asas tunggal Pancasila yang diamanatkan Undang-Undang Keormasan 1985. Tapi satu demi satu organisasi-organisasi itu menerima asas tunggal, termasuk di antaranya Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI), yang kendati alot akhirnya menyetujui UU Keormasan itu. PII terus bertahan. Sampai tenggat yang digariskan oleh Pemerintah, yakni akhir 1987, PII tetap enggan mengubah anggaran dasar dan rumah tangganya dengan mencantumkan Pancasila sebagai asas organisasi. Keruan saja organisasi pelajar islam itu terhapus dari daftar organisasi kemasyarakatan resmi di departemen dalam negeri. Tapi PII tak pernah bubar.
Tanpa status sebagai organisasi resmi, roda organisasi PII tentu tersendat. Kantor wilayah PII Jawa Timur di jalan Kupang Panjaan, Surabaya, tampak rombeng. Ketua PII Jawa Timur Mohammad Soddiq mengakui tak tahu jumlah anggotanya. Sejak terpilih maret tahun lalu, ia baru sempat menggelar satu kegiatan, yakni “latihan kepemimpinan” di Sumenep, Madura. Untuk kegiatannya, Soddiq merasa tak bisa meminta izin dari aparat keamanan. “Kami harus diam-diam, kadang nebeng kegiatan NU, Muhammadiyah, atau Al Irsyad,” kata mahasiswa fakultas matematika dan ilmu pengetahuan alam (FMIPA) ITS Surabaya itu. Jumlah cabang PII pun merosot. Sebelum 1987 ada 37 cabang PII di Jawa Timur. ‘’Kini cuma ada 20 buah, dan di situ yang aktif cuma pengurusnya,” kata Soddiq.
Suasana di kantor pengurus besar PII pun - yang menghuni satu ruang kusam 7 x 8 meter pada satu bangunan tua di jalan Menteng Raya, Jakarta - kurang lebih sama memprihatinkan. Dua buah komputer desktop generasi pertama menjadi satu-satunya barang berharga di kantor itu. Tapi ketua umum pengurus besar PII Abdul Hakam Naja, 30 tahun, kini tampak optimistis. “Kami kini sudah bisa berkiprah kembali,”katanya. Selama 10 tahun belakangan, menurut sarjana biologi kelautan lulusan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, itu, PII tetap eksis kendati kiprahnya meredup. Bahkan sempat melakukan tiga kali muktamar. Pada muktamar di bogor 1994, PII memutuskan untuk menerima UU keormasan dan mendaftar ke Departemen Dalam Negeri.
Sejak lahir hampir 50 tahun lalu, PII dikenal sebagai organisasi yang tertata baik. PII pula yang menjadi pemasok kader bagi abangnya, HMI (Himpunan Mahasiswa Indonesia). Sejumlah alumni PII pun tercatat menduduki posisi penting dalam masyarakat, di antaranya Tanri Abeng (eksekutif di grup Bakrie), Taufiq Ismail (penyair), dr. Imaduddin (tokoh ICMI), Mayor Jenderal Cholid Gozali (anggota fraksi ABRI di DPR-RI), dan Mayor Jenderal (purnawirawan) Z. A. Maulani, Alm. mantan Panglima Kodam Tanjungpura, mantan pengamat politik terkemuka.
Di kutip dari: Pth, genot widjoseno, dan saiful anam. Nomor 12/iii, 8 februari 1997
Celetukan (17)
Oleh Admin
Latar Belakang
Pada awalnya gagasan Korps PII Wati lahir di Training Centre Keputerian PII se-Indonesia yang dilaksanakan pada tanggal 20-28 Juli 1963 di Surabaya. Suasana duka sangat mempengaruhi TC karena GPII baru saja dibubarkan (10 Juli 1963) dan ditambah bayang-bayang suram mengenai kemungkinan menyusulnya “pembubaran PII”. TC Keputerian tersebut diikuti oleh peserta dari PB, utusan wilayah-wilayah se-Jawa, Sumatra Selatan, Sumatra Utara, Sulawesi Selatan, serta dipandu oleh bagian Kader PB PII (Muhammad Husni Thamrin, Hidayat Kusdiman, dan E. Basri Ananda).
Mengingat latar belakang yang heterogen, peserta training dibagi dalam tiga kelompok/group. Dalam TC berkembang kesadaran kuat untuk meningkatkan peranan dan kualitas kader / kepemimpinan PII Wati, serta menghapus citra negatif peran sebagai sekedar “etalage” atau “pengelola konsumsi”. Sementara fakta dan realita menunjukan bahwa kesempatan bagi puteri untuk mengembangkan diri dan berjuang di PII relatif lebih terbatas dan pendek. Beberapa peserta dari kelompok I (group Aisyah) yang terdiri dari Sri Samsiar (PB PII), Habibah Idris (PB PII), Chaerani Suty (Sumatra Utara), St Robiatun (Jogjakarta), Tuti Gitoatmodjo (Jawa Tengah), Nur Zahara Ansori (Sumatra Selatan), merumuskan gagasan pembentukan suatu wadah alternatif yang diharapkan mampu memacu / mempercepat proses kaderisasi kepemimpinan puteri yang selama ini banyak hambatannya. Inilah embrio gagasan mengenai Korps PII Wati, meski wujud konkrit lembaganya belum sempat dibicarakan lebih lanjut dalam TC itu. Realisasi gagasan itu kemudian dipelopori oleh bagian keputrian PW PII Jogjakarta Besar, yang membentuk Korps PII Wati Jogjakarta Besar pada akhir 1963.
Dalam sidang keputerian Muktamar PII X bulan Juli 1964 di Malang, disajikan 2 (dua) prasaran yang mengantarkan terbentuknya secara resmi Lembaga Korps PII Wati. Pertama dari PB PII oleh Sri Samsiar, dan kedua dari bagian keputerian PW PII Jogjakarta Besar yaitu St. Wardanah AR, Masyitoh Sjafei dan Hafsah Said.
Apa yang ingin diwujudkan oleh Korps PII Wati dirumuskan dengan singkat dalam tujuannya yaitu: ”Terbentuknya pribadi wanita Islam yang konsekwen terhadap prinsip-prinsip Islam” (Peraturan Dasar Pasal III).
Adapun kondisi yang melatarbelakangi lahirnya Korps PII Wati tersirat dalam Muqadimah Peraturan Dasar Korps PII Wati :
- Bahwa perkembangan hidup dan prikehidupan umat Islam Indonesia di dalam menuju ‘Izzul Islam wal Muslimin telah sampai suatu taraf di mana Pelajar Islam Indonesia (PII) sebagai kader Revolusi dan Kader Umat Islam memegang peranan penting dan utama didalamnya.
- Bahwa dalam mengemban amanat tersebut, tidak berbeda tugas dan tanggung jawab antara Putra dan Puteri, kecuali sesuai dengan fitrahnya masing-masing.
- Bahwa PII di dalam melaksanakan kewajiban tersebut, besarlah peranan PII Wati di dalamnya. Peranan ini perlu dipelihara, dikembangkan, dan dikekalkan, dengan menciptakan konkritisasi, harmonisasi, dan kristalisasi daripada warganya,…” (Prt Dasar Korps PII Wati, 1964).
Pembentukan Korps PII Wati tidaklah dimaksudkan untuk memisahkan diri dari PII atau memisahkan PII-wan dan PII-wati secara organisatoris, seperti yang terjadi antara IPNU dan IPPNU. Hal ini ditegaskan dalam memori Penjelasan :
“Dengan terbentuknya lembaga baru ini yang anggota dan pengurusnya adalah Khusus Puteri, sama sekali bukan untuk memisahkan diri dari anggota PII pun lebih dari organisasi PII secara keseluruhan. Tetapi dalam hal ini hanya terbatas akan spesialisasi penggarapan anggota. Diharapkan dengan adanya lembaga ini PII Wati akan mendapatkan kesempatan yang cukup banyak, kesempatan untuk mengembangkan bakat, kesempatan untuk berlatih, merasakan dan melaksanakan tanggungjawab, kesempatan untuk berdiri sendiri tanpa pengharapkan bantuan orang lain, sehingga dari wadah ini akan menghasilkan puteri-puteri Islam yang militan dan konsekwen terhadap prinsip-prinsip Islam”.(Memori Penjelasan Peraturan Dasar Korps PII Wati, 1964).
Status Korps PII Wati adalah merupakan Badan Otonom dari bagian keputerian dalam kepengurusan PII, dan Ketua Bagian Keputerian langsung menjadi Ketua Korps PII Wati. Masa jabatan Korps PII Wati sesuai dengan masa jabatan pengurus PII yang setara (Prt Dasar Pasal IV dan IX). Selanjutnya, lembaga Korps PII Wati mempunyai kekuasaan penuh kedalam, sedang ke luar dilakukan oleh pengurus PII Bagian Keputerian. Di tiap-tiap kota hanya diperkenankan adanya Korps PII Wati yang dibentuk oleh instansi tertinggi yang ada di kota tersebut. (Memori Penjelasan Pasal IV dan V).
Rapat Pleno PB PII pertama periode 1964-1966 yang dilangsungkan pada tanggal 6 September 1964, selain menetapkan Program Umum PII, antara lain juga menugaskan Sri Samsiar selaku Ketua IV untuk mengkoordinir Bagian Keputerian PB PII dan menindaklanjuti pembentukan Korps PII Wati sebagai Keputusan Muktamar X.
Susunan Personalia Bagian Keputerian PB PII Periode (1964-1966) pada awalnya terdiri dari :
Ketua : St Habibah Idris
Wakil Ketua : Mismar Chatib Salami BA (kemudian menikah dan mengudurkan diri)
Banyak sekali kendala dalam proses pembentukan Korps PII Wati di ibukota, karena sulitnya mengakomodasi semua potensi PII Wati di DKI Jakarta, baik PB, Wilayah maupun Cabang, sementara kondisi di ibukota sendiri sangat kompleks. Namun akhirnya Korps PII Wati Jaya berhasil dibentuk dengan ketua yang pertama St. Habibah Idris (Ketua Bagian Keputerian PB PII), dan dilantik oleh PB PII pada tanggal 15 November 1964.
Celetukan (16)
Kilas Balik Brigade
Ditulis Oleh KORPUS BRIGADE PII PERIODE 2004-2006
PII dan Brigade PII pada saat timbulnya , adalah sebagai salah satu kesatuan yang tidak dapat dipisah – pisahkan, keduanya adalah anak kembardari pergerakan revolusi 45 dengan tugasnya masing – masing yang tumbuh dengan sendirinya dan bukan karena dibuat-buat apalagi dipaksakan.
Sebagaimana kita dapat memahami dari namanya, Brigade PII, berbentuk klasykaran / ketentaraan, ia merupakan salah satu dari pasukan rakyat yang berjuang melawan penjajah. Brigade PII berjuang saling bahu membahu dengan saudara perjuangan lainnya seperti : TKR ( Tentara Keamanan Rakyat ), TRI Hizbullah, BPRI ( Baris dan Pemberontakan RI ), TRIP ( Tentara Republik Indonesia Pelajar Jawa Timur ) Sabilillah, Tentara pelajar ketentaraan IPPI, TPI ( Tentara Pelajar Islam Aceh ), CM Corps – Mahasiswa, CP ( Corps Pelajar Solo ) dan lain sebagainya.
Jika melihat saat peresmiannya lahir dari Brigade PII, dibandingkan dari lainnya emang agak terlambt secara Administratif lahir tahun 1947, sedangkan oknum-oknumnya sudah berjuang jauh sebelumnya, yang menamakan dirinya Pelajar / Brigade Pelajar, tetapi bukan berarti semangat jihad dan pejuang pelajar + mahasiswa ketinggalan.
Brigade PII bukan pahlawan kesiangan, walau peresmian sudah agak terlambat dua tahun, sebagai mana telah dilontarkan orang-orang yang ingin menghilangkan hak hidup Brigade PII pada waktu itu, berkat pengakuan dari saudara – saudaranya dalam perjuangan fisik Brigade PII mempunyai saudara kembarnya yaitu TPI ( Tentara Pelajar Islam Aceh ), dengan anggotanya sebanyak 12 000 dan langsung dibawah komando Korpus Brigade PII ( pada waktu itu komando dipegang oleh Abdul Fatah Permana ). Diantara pimpinan TPI Aceh ialah Hasan Bin Sulaiman, Hamzah SH, Ismail Hasan Matarem SH.
Celetukan (15)
Oleh Admin
Salah satu faktor pendorong terbentuknya PII adalah dualisme sistem pendi-dikan di kalangan umat Islam Indonesia yang merupakan warisan kolonialisme Be-landa, yakni pondok pesantren dan sekolah umum. Masing-masing dinilai memiliki orientasi yang berbeda. Pondok pesantren berorientasi ke akhirat sementara seko-lah umum berorientasi ke dunia. Akibatnya pelajar Islam juga terbelah menjadi dua kekuatan yang satu sama lain saling menjatuhkan. Santri pondok pesantren meng-anggap sekolah umum merupakan sistem pendidikan orang kafir karena produk ko-lonial Belanda. Hal ini membuat para santri menjuluki pelajar sekolah umum de-ngan "pelajar kafir". Sementara pelajar sekolah umum menilai santri pondok pe-santren kolot dan tradisional; mereka menjulukinya dengan sebutan "santri kolot" atau santri “teklekan".
Pada masa itu sebenarnya sudah ada organisasi pelajar, yakni Ikatan Pelajar Indonesia (IPI). Namun organisasi tersebut dinilai belum bisa menampung aspirasi santri pondok pesantren. Merenungi kondisi tersebut, pada tanggal 25 Februari 1947 ketika Yoesdi Ghozali sedang beri'tikaf di Masjid Besar Kauman Yogyakarta, terlintas dalam pikirannya, gagasan untuk membentuk suatu organisasi bagi para pelajar Islam yang dapat mewadahi segenap lapisan pelajar Islam. Gagasan terse-but kemudian disampaikan dalam pertemuan di gedung SMP Negeri 2 Secodining-ratan, Yogyakarta. Kawan-kawannya yang hadir dalam pertemuan tersebut, antara lain: Anton Timur Djaelani, Amien Syahri dan Ibrahim Zarkasji, dan semua yang hadir kemudian sepakat untuk mendirikan organisasi pelajar Islam.
Hasil kesepakatan tersebut kemudian disampaikan Yoesdi Ghozali dalam Kongres Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII), 30 Maret-1April 1947. Karena banyak peserta kongres yang menyetujui gagasan tersebut, maka kongres kemudi-an memutuskan melepas GPII Bagian Pelajar untuk bergabung dengan organisasi pelajar Islam yang akan dibentuk. Utusan kongres GPII yang kembali ke daerah-daerah juga diminta untuk memudahkan berdirinya organisasi khusus pelajar Islam di daerah masing-masing.
Menindaklanjuti keputusan kongres, pada Ahad, 4 Mei 1947, diadakanlah per-temuan di kantor GPII, Jalan Margomulyo 8 Yogyakarta. Pertemuan itu dihadiri Yoesdi Ghozali, Anton Timur Djaelani dan Amien Syahri mewakili Bagian Pelajar GPII yang siap dilebur di organisasi pelajar Islam yang akan dibentuk, Ibrahim Zarkasji, Yahya Ubeid dari Persatuan Pelajar Islam Surakarta (PPIS), Multazam dan Shawabi dari Pergabungan Kursus Islam Sekolah Menengah (PERKISEM) Surakarta serta Dida Gursida dan Supomo NA dari Perhimpunan Pelajar Islam Indonesia (PPII) Yogyakarta. Rapat yang dipimpin oleh Yoesdi Ghozali itu kemudian memutuskan berdirinya organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII) tepat pada pukul 10.00, 4 Mei 1947.
Untuk memperingati momen pembentukan PII, maka setiap tanggal 4 Mei di-peringati sebagai Hari Bangkit PII (HARBA PII). Hal ini karena hari itu dianggap se-bagai momen kebangkitan dari gagasan yang sebelumnya sudah terakumulasi, se-hingga tidak digunakan istilah hari lahir atau hari ulang tahun.
tentang tersendiri

ada yang bilang hidup sendiri itu nikmat, kita tak perlu memikirkan perasaan orang lain. namun ada yang bilang lebih nikmat lagi jika hidup bersama dengan orang lain, karena kita dapat merasakan indahnya kebersamaan. namun, pernahkah kita merasa sendirian meskipun saat itu banyak orang disekeliling kita? pernahkah kita merasa terasing di tengah sahabat-sahabat kita?
manusia merupakan makhluk sosial. dia tidak bisa hidup sendiri, karena ada kebutuhannya yang tak bisa dipenuhi sendiri. namun, manusia juga merupakan makhluk pribadi yang kadang membutuhkan waktu untuk sendirian. beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah novel yang menceritakan tentang kebersamaan beberapa orang manusia ang menyatakan diri untuk saling bersahabat. hampir setiap waktu mereka selalu bersama, hingga pada suatu waktu mereka merasa perlu untuk berpisah untuk sementara waktu. intinya meskipun kita membutuhkan orang lain dalam hidup ini, terkadang kita perlu untuk menyendirikan diri kita. entah itu untuk merenung, mengevaluasi diri, atau membaca keadaan diri dan sekitar.
meskipun kita merasa nyaman dalam kesendirian, namun ada kalanya kita akan merasa sepi dan sendiri. dan pada saat itu kita akan membutuhkan orang lain untuk bercengkrama, merasakan warna lain dari kehidupan. awalnya mungkin akan terasa asing dan sulit, karena jiwa kita akan terasa terkekang oleh kebebasan orang lain, namun justru disanalah bentuk pelajaran berharga yang sangat penting dalam pendewasaan. warna-warni hidup akan mulai mewarnai hati kita.
dengan hidup bersama dengan orang lain, kita akan dapat menempa kesabaran yang dibutuhkan agar hidup kita lebih kuat. dengan hidup sendiri kita dapat mengenali kemampuan kita sesungguhnya. dengan hidup bersama akan ada pembakar semangat yang akan mendorong kita ketika ada rintangan yang menghadang. dengan hidup sendiri kita akan merasa dekat dengan alam.
kita memang membutuhkan orang lain untuk dapat menemukan jati diri sebagai manusia, namun kesendirian akan dapat membantu kita untuk mencari fitrah yang sesungguhnya
Celetukan (14)
Jika memang Islam hadir untuk menghapus "kebodohan" umat manusia menuju jalan lurus yang selamat yang diridoi Allah SWT. Kenap umat islam tak lebih baik daripada non muslim. Mulai dari pendidikan, keterbelakangan ilmu pengetahuan (Iptek) sampai pada persoalan keIman dan takwan pun masih mengidam penyakit akut bernama 'klaim kebenaran'.
Satu kelompok dengan golongan lain, beranggapan bahwa paham merekalah yang paling benar. Di luar batas perhimpuannya sering diangap sesat, hingga kafir. Benarkah sifat dan perbuatan lalim itu di perintahkan oleh Rasul? Tentu saja jawabanya tidak. Lantas apa yang meski kita perbuat, manakala islam berwajah 'ganjil' dalam menyikapi tradisi?
Pemahaman perbedaan pendapat pun harus berubah haluan menjadi laknat daripada rahmat. Lagi-lagi, ruang dialog tak pernaha akrab dalam keseharian kita. Kita hanya bisa menyelesaikan segala persoalan itu dengan meruju kepada hukum Tuhan. Tentunya, pelbagai dalih pun harus rela tuntuk atau sengaja di bakuakn dengan sumber tersebut.
Padahal, begitu tipis perbedaan antara hukum Tuhan dengan Adat. Namun, kedua-duanya mengajarkan kita supaya berbuat baik kepada dirinya, orang lain dan sekiranya. Jika tak bisa berprilaku arif, maka tinggalkanlah. [Ibn Ghifarie]
Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 21/12;23.56 wib
Celetukan (13)
Oleh Ibn Ghifarie
Memerangi hawa nafsu merupakan perang paling akut sekaligus abadi daripada berperang atas nama kepentingan kelompok maupun pribadi. Hingga Iwan Fals berkata dalam liriknya, 'keinginan adalah sumber penderitaan, tempatnya ada dalam pikiran'.
Dengan demikian, segala bentuk peperangan akan membawa malapetaka yang besar dan keji. Terlebih lagi bagi kaum hawa, anak-anak, orang lanjut usia. Pasalnya, baku hantam antara israel-palestina tak mengenal etika peperangan. Sudah tentu, tempat ibadah, ruang publik; rumah sakit, sekolah, jalan tak boleh menjadi sasaran insiden.
Namun, kuatnya keinginan untuk menguasai maka dengan serta merta sistem pelayanan publik pun harus ikut menjadi sasaran empuk.
Pendek kata, berperang melawan hawa nafsulah perang paling besar. [Ibn Ghifarie]
Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 21/12;24.45 wib
Celetukan (12)
Perempuan; Guru Buah Hati
Lagi, perempuan tak bisa berbuat banyak saat bersentuhan dengan kebiasaan masyarakat. Jangankan untuk berkeyuyuran di tengah malam, bepergian keluar rumah (istri) pun harus di barengi dengan suaminya. Apalagi remaja. Sudah tentu, pembagian ruang publik dan domestik pun tak berlaku lagi di kalangan mereka.
Singkat kata, kaum hawa harus tetap berpijak pada 3 tradisi kasur, sumur jeung dapur
Meski seiring waktu, sepenggal asa dan menjamurnya pemahaman sekaligus aksi gerakan feminisme di kampus. Ternyata, kaum ibu harus rela menjadi guru terbaik bagi buah hatinya di rumah. [Ibn Ghifarie]
Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 18/12;21.25 wib
Celetukan (11)
Oleh Ibn Ghifarie
Adalah para pejabat pemerintah yang telah terlalu lama merasakan penderitaan masyarakat kecil, karena semua ia berlatar wong cilik, hingga dengan seenaknya mereka berusaha memperkaya diri sendirinya.
Apalagi, saat mencalonkan diri sebagai pemimpin harus di tebus dengan pengorbanan materi yang melambung tingggi, maka wajar bila ia di kemudian hari berprilaku lalim.
Dengan demikian, yang dibutuhkan masyarakat sekarang bukan lagi janji-janji bualan semata dengan tektek bengeknya, tapi bagai mana dapur mereka dapat ngepul. Pendek kata, yang penting perut isi, bung. [Ibn Ghifarie]
Cag Rampes, Pojok PusInfoKomp, 20/12;22.36 wib
Celetukan (10)
Cerpen: 03
Pulau Gadung...
Oleh Ari Suciyanto
Seluruh badanku benar-benar lemas... Dan aku ga tau, apa yang mesti aku perbuat saat itu?! Jiwa, hati dan pikiranku mati...
Yang tersisa hanya sebuah rasa bersalah... Pada sebuah penyesalan...
...........................................................................
Mataku tertunduk layu dan malu...
Menatap wajah yang penuh luka...
***
Tidak jauh dari tempatku, turun dari angkot... Aku mendengar suara wanita berteriak!
"Jambret!!! Jambret!!! Jambret!!!"
Dan kebetulan dari arah depan mataku! Aku melihat seorang laki-laki berbadan kurus lari menuju kearahku, menghindari kejaran masa.
"Waaa ini dia Jambretnya..."Kataku dalam hati...
Tanpa pikir panjang lagi! Aku lansung menghantapkan pukulan kearah wajah laki-laki itu! Dan dia-pun terjatuh, disambut amuk masa yang terlihat beringas!!!
"Bakar!!! Bakar!!! Bakar!!!"Suara masa mulai memanas!!!
Untung saja ada seorang anggota ABRI berpangkat SERKA (Sersan Kepala) mencoba mengamankan amuk masa yang sudah tak terkendali lagi...
Laki-laki itupun terselamatkan Jiwanya...
***
Aku ga tau kenapa? Beberapa menit kemudian... Laki-laki itu berhasil kabur, dari kerumunan masa yang mulai redah...
Masa yang melihat laki-laki itu! lansung berteriak!
"Jambretnya kabur!!! Jambretnya kabur!!! Jambret!!! Jambret!!! Jambret!!!"
Sebagian masa panik... Dan langsung mengejar...
Tapi sayang Jambret itu berhasil melarikan diri... dari kerjaran masa...
Anjing!!! kabur lagi dia!!!
Coba tadi langsung dibakar!!! Kan ga kecolongan kaya gini!!!
Pake diamanin segala lagi!!! kalo kaya ginikan kebiasaan dia, tar ngulangin lagi, ngejambret lagi!!! Sial!!! (Kata beberapa orang yang kesal dan kecewa)
***
"Makasih Mas... Emang tuh dasar jambret setan! Baru saja saya dan suami saya turun dari mobil... eh langsung dijambret tas saya... untung saja ada mas, kalo ga?! Bisa repot saya, soalnya dalam tas saya banyak surat-surat berharga... Oh ya nih buat Mas..." Kata wanita kaya berbadan gendut dengan perhiasan mahal ditangan dan lehernya, yang mencoba menyodorkan uang pecahan Rp 100.000,-
Sebenarnya aku dah nolak, tapi gimana lagi? Wanita itu terus saja menyodorkan uang itu kearahku...
***
2 jam kemudian...
Aku berada dirumah kontrakan kakaku didaerah Bekasi...
Waaa dengan bangga aku menceritakan kejadian tadi...
Dan semua orang yang ada disitu, seperti terlihat tajub mendengar ceritaku...
Aku seperti Pahlawan saat itu!
***
Tak lama kemudian... Akupun beranjak pergi kerumah sakit dikawasan Bekasih yang tak begitu jauh dari tempat kontrakkan kakakku... Menjenguk keponakkanku yang dirawat disana, akibat penyakit Typus...
***
Dan setelah sampai dirumah sakit...
Aku mendengar suara tangis seorang wanita...
Spontan saja aku dan saudara-saudaraku menghampiri suara itu...
***
Selulur badanku benar-benar lemas... Dan aku ga tau, apa yang mesti aku perbuat saat itu?! Jiwa, Hati dan pikiranku mati...
Yang tersisah hanya rasa bersalah pada sebuah penyesalan...
.......................................................
Mataku tertunduk layu dan malu...
Menatap wajah yang penuh luka...
........................................................
Laki-laki sijambret tadi... mati dengan banyak luka...
Sekujur tubuhnya kotor dan berdarah...
***
Ternyata Laki-laki itu... ngejambret tuk menebus obat anak perempuannya yang terserang Mutaber...
***
"Laki-laki itu mati, dengan menyisakan banyak luka..."
STOP!!! Tuk hari ini!!!
Jakarta, 12/02/2004...
Celetukan (9)
Cerpen: 01 Religius…
Ketika Cinta Itu Menggeletuk !
Oleh Ari Suciyanto*
Sadar atau tidak…
Aku sempat membenci Tuhanku…
Ketika ada Cinta yang membakar hatiku!
Tapi justru dari situlah aku mengenal sifat Tuhanku
Yang Maha Baik
Dan?
Baik sekali…
Aduhhhh…kepalaku! Masih terasa “pusing…***” Mungkin karena terlalu keras terbentur teras ruang tamu tadi pagi, saat aku terjatuh pingsan? Tapi untunglah tidak terjadi geger otak, sehingga aku masih bisa ingat! Siapa dia sebenarnya? Wanita cantik yang duduk disampingku…
“Tias…” Masih terlintas jelas dalam benakku, saat pertama kali aku menggodamu, di Halte bus depan Kampus. Dimana saat itu kau benar-benar begitu membenciku, kau lipat wajah ayumu tuju kuncup, karena haram kau lontarkan senyum manismu Untukku! “Huhuiiii…cantiknya, boleh dong! Kita kencan malam ini!” Godaku, memancing amarahmu dan tanpa sadar! PARRRR!!!! Kau tampar pipiku “Eh! Jaga ya mulut lu! Emang gua cewek apa’an! Dasar ngga punya otak! Katamu yang begitu saja berlalu.. ditelan angkot yang melaju.
***
Malam harinya, setelah kejadian itu, aku benar-benar ngga bisa tidur, bukan lantaran karena aku kesal, karena tamparanmu? Tapi karena ada butiran-butiran cinta yang tiba-tiba saja datang menyentuh hati, tanpaku tau sebabnya, setelah siang tadi kau permalukan aku dengan menampar pipiku didepan teman-temanku, di Halte Bus depan Kampus. Oh…cinta kenapa kau datang meremas hati? Kenapa kau tak pernah memberi kesempatan kepadaku untuk memilih, kenapa mesti dia! Kenapa harus dia! Kenapa kok dia! Yang baru saja memberi cap merah dipipiku! Oh…cinta…Ohhh…GU’BRAK!!! BETE ABIS!!!
Esok harinya aku menunggumu, di Halte bus depan Kampus, berharap hati, bisa bertemu denganmu. Tapi!
“Cewek lu, yang mana?”
“Eh! Pura-pura ngga tau lagi!” BUG!!! Satu pukulan mengarah ke perutku.
“Ayo ngaku! Kemarin lu’kan yang godain cewek gue! Ayo ngaku! Punya nyali juga lu rupanya, ngapain lu ngeliatin gue! Mau ngajak berantem! He!!!
BUG!!! Kali ini aku yang memukul karena aku kesal dengan tingkahnya. Dan tak lama kemudian tiga atau empat pukulan mengarah kemuka dan perutku, ditambah
***
Persahabatanku dengan Desi semakin lama semakin mengukuh, semakin kuat dan tangguh yang akhirnya membuatku berfikir untuk mencoba memiliki hatinya, hatinya yang putih, bersih seperti kilauwan awan dilangit biru. Ya seperti awan itu! Awan yang sedang berjalan berlahan-lahan di atasmu, indah bukan! Tapi sayang hatinya yang putih dan bersih itu! Akhirnya harus terluka karena aku, yang begitu amat mencintaimu, meskipun aku sadar bahwa kau telah punya seorang pacar yang tanpan dan kaya, tidak seperti aku?... Yang hanya, seorang anak Tentara berpangkat Sersa kepala. Tapi itulah cintaku yang tidak mau takluk dengan keadaan.
“Tias…” Dulu aku pernah berfikir… untuk memusnakan rasa cinta ini, rasa cinta kepadamu yang pernah mempermalukan aku di Halte bus depan Kampus. Tapi ternyata? Itu Amat sulit bagiku, karena bayangan wajahmu yang ayu dengan lesung pipimu yang manis, kerap sekali hadir menghantuiku dan menggangguku siang dan malam. Hingga akhirnya aku terbangun dalam sadarku bahwa cinta ini dari Allah SWT dan hanya kepada-Nya cinta ini dikembalikan, karena cinta ini sesungguhnya milik-Nya, milik pencipta langit dan bumi. Sedangkan aku! Hanya seorang manusia biasa yang tak punya kuasa terhadap diriku sendiri.
“Ya Allah yang Maha pengasih dan Maha penyayang, ya Allah yang Maha kuasa atas segala ciptaanNya, ya Allah yang Maha mengetahui hati, ya Allah yang memberikan cinta? Lindungilah aku ya Allah, dari ke fasiqkan ku! Dan selamatkanlah aku dari rasa cinta ini! Karena sesungguhnya aku tak kuasa menerimanya! Ya Allah berikanlah jawaban kepadaku tentang apa yang ku rasakan saat ini!…Amin ya robal allamin” Itulah doaku, setiap aku mengiatmu!
Alhamdullillah…ketika aku banyak berdoa dan berserah diri dihadapanNya, hatiku semakin tenang, bahkan ketenanganku menumbuhkan keberanianku untuk berkunjung ketempat khosmu, hanya untuk sekedar ucapkan kata maaf atas ketidak sopananku di Halte bus depan Kampus, waktu itu! Meskipun cowok kerenmu yang bermobilkan mewah itu! Hampir saja memukulku kembali?
“He! Ngapain lu kesini!” Katanya yang berdiri menantang dihadapanku.
“Sorry mas saya kesini, cuman mau ongmong sama dia!”
“Sudah! Sudah! Romy, biarkan aku saja yang ongmong sama dia” Kau mencoba menenangkan pacarmu dan lalu kau hampiri aku. “Mau ngapain lu kesini!” Ucapmu dengan raup muka yang tidak begitu menyenangkan.
“Gue datang ke sini cuman pengen minta maaf sama lu! Dan seterah lu! Elu mau maafin gue atau ngga, itu hak lu! Itu saja!... Selamat malam!
***
Setelah kejadian itu, hari-hariku semakin menyenangkan, karena aku mencoba untuk tidak perduli lagi dengan perasaanku, bahkan waktu di Halte bus depan Kampus sore itu! Ketika kau mencoba mencuri pandang kearahku, aku cuek aja! Bukan karena aku sombong, tapi memang karena aku tidak ingin lagi berurusan dengan yang namanya…Cinta!!! ( Bete tau ga?!! ) Aku ingin hatiku bebas terbang melintasi luasnya samudra di atas cakrawala-cakrawala jiwaku, meskipun aku terpuruk dalam sadarku bahwa aku masih mencintaimu dan kerap sekali merindukanmu dimalam hari.
“Ya Allah…salahkah aku? Jika aku membunuh perasaanku sendiri, yang kau hadirkan untukku?...”
***
Pukul 21.35 entah kenapa hatiku ingin sekali berada di Halte bus itu? Seperti ada sesuatu yang akan aku temui disana? Dan tak lama kemudian? Aku melihat sedan hitam. Sepertinya? Aku mengenalinya? Ya aku mengenalinya?
“Tias! Tunggu! Tias tolong! Dengarkan aku!”
“Dengarkan apa! Dengarkan mulut busukmu itu! Dasar munafiq!”
“Tias aku minta maaf! Aku hilaf…”
“He Rom! Kamu kira aku ini cewek apa’an! Jangan mentang-mentang kamu anak orang kaya! lalu seenaknya, kamu mempermainkan aku!”
“Tias!!! “
“Pergi Rom! Aku tak ingin lagi melihat mukamu!” Kau terus berjalan menghampiri Halte bus, lalu duduk bersama tangismu, yang tak begitu jauh dariku.
“Tias…maafkan aku?”
“Pergi kamu!!! Pergiiii!!!” Kau dorong pacarmu dan kau usir dia dengan amarahmu, sedangkan aku hanya bisa duduk terdiam tanpa kata dengan mata yang mencoba menghindar dari melihatmu, dan seakan-akan mencoba tak peduli dengan keadaanmu. Sampai akhirnya pacarmu pergi meninggalkanmu…
Aku yang tak kuasa lagi melihat kau menangis, mencoba menghampirimu “Tias…” Sapaku memanggilmu, kau lirik aku sejenak dan lalu kau berdiri, kau stop Taxi, tak lama kemudian? Kau tinggalkan aku, tanpa sedikit kau jawab sapaku. “Ah mungkin kau malu dengan ku?” Pikirku.
Dan semenjak kejadian itu, aku tak pernah lagi bertemu dengan mu, di Halte bus atau di kantin Kampus tempat kau biasa singgah dan bercanda dengan teman-temanmu centilmu…
***
Sebulan telah berlalu, tanpa ku sadari aku melihatmu kembali di depan gerbang Kampus dengan tawa yang begitu manis diantara sapa hangat teman-temanmu yang mungkin telah lama merindukanmu… “Seperti aku!”
Aku begitu senang saat melihatmu tertawa, karena aku, dapat merasakan betapa kau begitu bahagianya saat itu, dengan senyum ayumu yang tergores indah karena lesung pipimu…
Langkahku berdetak berlahat-lahan melewatimu. Dan??? Kau melirik kearahku!!! Membuat langkahku semakin kaku!!! “Ah…” Untunglah temanku menyapaku! Dan menghampiriku, kalau tidak?…Huuu…mungkin??? Aku akan berhenti sejenak, menenangkan debar hati dan melemaskan urat kaki…
“Hai! Wan! Kenapa lu? Gua panggil diam aja?” Sapa temanku.
“Ngga pa-pa! gua lagi ngga enak badan aja” Alasanku mencoba menutupi.
“Gua kirain lu! Kesambet! Abis gua lihat lu’ tadi kaya orang bingung?”
***
Dalam kelas, aku coba menulis puisi untukmu dan lalu ku kirim kepadamu lewat teman sekelasmu, “Santi!” Yang kebetulan teman lamaku waktu di SMA. Tapi! Sayang puisi itu! Tak sampai ketanganmu karena Santi salah mengasikannya, keorang lain. “Ya sudahlah, mungkin lain kali, aku harus lebih jelas lagi memberikan informasi agar puisiku tak salah arah.” Dan untuk meninggalkan jejak, aku langsung lari menuruni anak tangga karena aku takut, kau dan teman-temanmu melihatku yang baru saja sembunyi dibalik pintu kelasmu.
***
Hari-hariku semakin tak menentu, karena aku selalu memikirkanmu dan merindukanmu di tambah lagi niat ke dua orang tuaku yang ingin pindah rumah ke
“Ya Allah apa arti rasa cinta ini bagiku?... Ya Allah berikanlah aku petunjuk! Dengan seindah-indahnya nama-Mu…”
***
Dua tahun kemudian, setelah aku jadi Sarjana Ekonomi, aku mencoba mencari kerja di
Allhamdulillah… setelah enam bulan aku di
“Santi!...” Sapaku.
Tak lama kemudian ia terdiam sejenak dan mencoba mengingat-ingat, siapa aku???...Dan tak lama kemudian?... “Iwan!” Sahutnya.
“Iya ini aku! Iwan! Ingatkan! ”
“Iya aku ingat! Kemana aja kamu! Ngga pernah kelihatan?”
“Aku pindah ke
“Di senayan? Berati dekat dong denganku…”
“Oh ya?”
Tak lama kemudian, Santi menceritakan tentang keadaanmu dan ia-pun mengajaku ke tempat kerjamu yang ternyata tak begitu jauh dari tempat aku bekerja. Wahhh…bertapa senangnya aku, mendengar ajakannya itu. Tapi?... saat aku sampai disana? Kau telah pulang ke
“Aku adalah milikmu ya’ Allah… seterah Kau yang Allah… mau Kau apakan aku! Aku tak akan melawan-Mu! Karena aku sadar, aku tak akan mampu melawan-Mu! Karena kau maha kuasa atas segalanya. Tapi salahkan bila aku saat ini! Aku meminta kepada-Mu! Untuk Kau buktikan kepadaku, tentang arti kasih sayang-Mu! Ya Allah aku selalu berdoa kepada-Mu! Agar Kau hapuskan rasa cinta ini! Tapi mana? Ya Allah… Kau tak pernah kabulkan doaku! Bahkan cinta itu! Semakin tumbuh dan menyiksaku. Saat aku berikhtiar untuk meraih cinta itu! Kau malah menghancurkan harapanku, dimana ya Allah kasih sayang-Mu?Yang sering Kau katakan dalam ayat-ayat suci-Mu. Maafkan aku ya Allah jika saat ini! Aku katakan bahwa aku kecewa pada-Mu!” Itulah ucapanku di depan pintu Mesjid, saat hatiku benar-benar hancur berkeping-keping tanpa sisa...
***
Sehari kemudian? Aku dapat kabar dari kedua orang tuaku di
Cinta adalah sarana untuk mengenal adanya kekuatan di luar batas kemampuan manusia, sedangkan jodoh adalah bukti adanya kekuatan itu! Yaitu Allah SWT.
*Penulis adalah mantan Ketua Komisariat Parakan Pengurus Daerah (PD) Temanggung Jogyakarta Pelajar Islam
Celetukan (8)
Tapi walau demikian kitab-kitab waktu mencatatnya, mereka hidup abadi pada setiap orang-orang yang membaca karya-nya.
Demikianlah buku-buku harapan memberitauku sehingga cemas, dan jari-jari menulis cepat perasaan yang dibakar api cinta menjadi arang ketulusan kejujuran yang diabaikan
Aku ingin abadi dengan cinta ini, dan huruf-hiruf kususun berbuah kata, menjadi simbol apa yang ada didekat hati, walau, terkadang satu dari kalimat-kalimat atau paragrap itu, ada yang kelewat satu atau dua huruf yang bisa membuat pusing pembaca-nya, ya, memang seperti itu, seperti aku yang cemas, menunggu cinta dan ketulusanmu.
Tapi kuanggap semua yang kurasa adalah pembelajaran dan proses perjuangan dalam meyakinkanmu, dan kini aku kembali merangkak dari awal lagi, seperti anak SD yang belajar membaca, menulis, mendengarkan,dan menghapal, mengingat, apa yang telah didengar dari sang guru.
Aku, yang terus-menerus belajar tentang cinta, dan sekarang aku belajar mencintaimu dan maukah kau belajar mencintai aku juga.
Entah Sebelas
Pada dirinya yang kubayang, kuharap, kau ramah pada doa-doa, dan mendekap dalam, dengan untaian rantai cinta
Semua kata tulus, untuk Kau, Penguasa hening sekujur resahku
Kuharap, kau maha mengerti. Lagi maha penyayang
Kau, penguasa timbangan, amal dan dosa, ya, atau tidak
kau kini yang kusembah, dan kepada kau aku benar-benar memohon cinta
Berikanlah aku harapan yang rurus
Yaitu, harapan-harapan yang telah engkau anugerahkan dengan tulusnya cinta pada mereka yang kau sayangi
Entah Duabelas
Dirimu.
Kau, tuhan kecilku
Kitab-kitab cinta ini, tak ada keraguan bagiku , dan jangan kau ragukan.
Dirimu; petunjuk bagiku. Aku yang mengimanimu.
BERSAMBUNG
Bandung 20-12-2006
(JS Kantara)
*Penulis adalah Kepala Suku PK-PII Bandung Raya dan sedang kuliah di Jurusan Menegemen Keuangan Syari'ah (MKS) Fakultas Syari'ah UIN (Universitas Islam Negeri) SGD (Sunan Gunung Djati) Bandung.
Celetukan (7)
Sekujur Entah Di Sudut Jalan Ke-5
Tentang nyeriku, malam sahabat akrab dalam bagian hidup, dan doa tak hati kulempar pada waktu, hari menitipkan kabar pada angin, namun kabar itu menggelitik geli, sunyi, sampai nadi berdendang kencang memukul-mukul malam, agar rindu tak terlalu kalut menahan dingin-nya sikapmu.
Sekejap detik masih menghijab aku dan kau, patah perasaan mengelilingi ruh jiwaku yang kini menyaksi kekalutan tentang sejarah hati, tapi nasib ini, tetap menggantung pada timbangan angkuh cintamu, kenyataan, semakin hari semakin nyeri, semakin ngeri kurasa sendiri.
Tapi! Walau hati ini nyeri,
Entah Satu
Entah menatah resah…
Kau.
Lahirkan entah ini,
Menjaringku jujur tentang perasaan
Namun kejujuran terkadang menyakitkan
Di setiap belokan menjadi doa-doa entah.
Kini, kutelusuri lorong cintamu, tapi sunyi kudapatkan
Namun hati semakin Kukuh meninggi, mengurai gelap, membedah tulusmu
lengkap kenyatan membengkak kecewa
Hari-hari menyuapku lebih bisu
Karma mata jiwa takmau kehilangan sapa, senyumu…
Entah Dua
Kini kutau…
Kini kutau, kabar burung tentang secuil kisahmu
Waktu yang lewat, menusuk ranah jiwaku, sampai raga lelah terkapar semu
Pada entah, kukailkan harapan padamu
Dan, kau menjadi puja pada doa-doa di ruh jauhku
Kini kuhijrah pada setipis senyumu
Kuharap kau, jangan acuhkan perasaanku
Jangan kau malu, apalagi hindari aku
Senyummu tetap sebagai dasar tafsirku
Tetap__
Kuingin kau mengerti,
Sebab cinta, mengakar jauh, menusuk erat nurani ini,__
sebab hati menitifkan lisan, pada bibir untuk bersikap jujur
Menunggu ikhlasmu, tak ada kata terlanjur
Entah Tiga
Harus kau tau,
Harus kau ketahui, kabar tentangmu yang hinggap ditelingaku
Tapi, tak kuperdulikan, apa kata mereka, Kau harus tau__
Mereka, ceritakan seulas jejak-jejak kecil, mencaci maki tentangmu
Tapi, aku tak mau tau!...
Taukah kau,
Secepat senyummu menjadi rantai kekokohan penantianku
Agar kejujuran, ketulusan, rindu, dan harapan ini, tak liar
Dan…
Kutunggu tulusmu, bersenggama dengan cintaku
Bisakah?__
Cinta tulusmu hanya untuk diriku.___
Mungkin?...
Atau, Entah?...
Kusandarkan padamu!__
Entah Empat
Pada bumi yang dicintai
Lembaran-lembaran hati tetap tertulis nyeri
Menangkap makna meringkus sepi
Dirimu pecahkan kebekuan ini
Sependek cerita, tentang udara
Aku, kau, dan mereka, masih takut dengan kehilangan harapan.
Semua itu, sebenarnya sepi kosong.
Tapi, kalut, kadang datang menghibur sekujur tubuh nyeri melengkapi sunyi…
Tersenyumlah, ungkapan halus yang timbul dari penatnya makna
Tenanglah seulas tulus pastidatang mencabut belenggu yang sudah tak tahan lagi menahan retaknya penantian, dalam tafsir-tafsir entah.
Entah Lima
Aku tak perduli!...
Kau, kalian, dan mereka
Menertawakan penuh
Pada diri ini, yang mencintaimu penuh
Dengan tulusku, aku tetap akan bertahan, walau sampai terkapar,
Meski Cintaku, menepuk-nepuk dada, dengan sebelah tangan kebisuan.
Entah Enam
Aku____
Membisu…
Menampa senyummu beku
Tertusuk duri mimpi, guratan luka bertambah nyeri
Bersit-bersit perih menyayat dada ini,
Hingga air mata, banjiri bumi yang becek
dengan rintih dan pedih sigembel
Dan__
perasaan yang tak sampai. Kini tetap tertahan
Bagaikan dedaun didekap erat embun,
Menyimpan berjuta butir-butir air
Pada pagi dilengkapi mendung.
Dipergantian musim.
Mengawur entah, tabu
Tentangmu semu.
Entah Tujuh
Sekujur entah.
Sekujur entah ini keluh
Menapak pondasi merangkai bangunan puisi dijauh hati
Pada sepetak tanah kering, rengat oleh kepedihan
Dan jejak-jejak berlubang, dijalan berbelok-belok jauh
Sampai hati terlalu haus mengubur diam
Meneguk keringat malam, sambil mengusap pipi bertetesan air mata.
Saat rinduku, mengambil bayangmu penuh.
Entah Delapan
Tentang aku merangkak-rangkak
Meraduh aduh persaan,
Sepi tampamu, dan kukepak-kan sayap-sayap, lara hening tentangmu
Lalu kemanalagi kuselipkan gundah ini
Karena, gelas-gelas kosong diatas meja telah habis kupecahkan
Dan kemana lagi harus kubuang sampah-sampah rindu__
Karena, tong-tong sampah disetiap pojok telah dibungkus bisu
Sampai jengkalan kalimat jauh menafsir ayat-ayat tentang diri-nya.
Merangkum kisah, yang suatu saat akan abadi dalam putaran abad
Dan, mungkin kau lebih tau dariku__
Bahwa hidup ini selalu menyisihkan tanya.
Menyisakan tanda. Tanya,,,,,,,,.?
Entah Sembilan
Kunisbahkan diri pada sepercik cahaya cinta
Pada sekuntum bunga yang hidup sekejap mata
Dari jauh, kucium harum-nya
Sepercik air dan doa kutitifkan pada angin,___
Lalu, sampaikanlah salam cinta, dari sigembel ini, bilang kini aku menunggu, gila-semakin gila, mecium harum wewangi aura-nya.
KAU,KAU, KAU……………………………………………………………………………………
KAU________,
Entah Sepuluh
Sabda doa untuk tuhan kecil
Tuhan kecil itu dirinya,
Sambil sila kuputarkan tasbih__
Nyeri kutumpuk menjadi doa-doa
Kata kususun menjadi paragraf penantian
Pada keretas-keretas kosong kehampaan
Wahai, tuhan kecilku, bisakah kau
Atau kau muak dengan ruku dan sujudku ini, yang bersejadahkan lembaran-lembaran keretas berlukiskan puisi-puisi keluh, yang kau tak mengerti.
Tapi, kuharap kau membacanya lagi berulangkali,
Dan kuharap kau mengerti.
Dan, aku, akan tetap sila menunggu tuhan kecil
Menghitung doa-doaku,Dalam singga sananya.
Dengan teramat sangat kuberharap,-
sepercik cinta dia berikan padaku.
Ammin.
Celetukan (6)
Sampai Mana Entah Ke-4
Kau biaskan aku, Pada jejak-jejak perjalanan ini, separuh hari kulacurkan hanya untuk menunggu sebersit senyummu yang terkadang tak kujumpai setiap hari, sebab kenyataan membukus pedih, cemas menggumpal, dalam hamparan dada yang sesak karena badai, badai cintamu, kini bayang-bayang membelit jiwa sampai tersesat keranah mimpi paling jauh dilelap tidurku.
Mengapa cahaya kejujuran, mengusap-ngusap halus auramu, yang terpancar terasa indah untuk kusapa perlahan, walau air mata menetes buah dari rasa nyeriku, asal jangan menggores pedih melukaimu, walau sedikitpun.
Aku disini bias, tercengang, tak bisa suguhkan seucap kata-kata sapa langsung padamu, maaf, harus kau ketahui bukan kerena aku melu, benci, atau sebagainya, tapi saking aku menahan rindu dan rasa cinta ini yang teramat sangat, aku hanya bisa menahan keremukan hati yang dipaku dipalu, Oleh senyumu.
Aku kini, entahlah……………………………………………………………………………..?
Wahai Entah
Wahai__
Aku di sini, dikelilingi seurai bayang,
Tentangmu. AKU…
Kini, kalut menyelimuti pikir
Berbuah patahan-patahan kata luka
Entah.
Tentangmu…aku…patah arah
Wahai____
Masih tatap kusandarkan,
Tentang rindu walau bias dan abu,
Aku, semakin semu kelabu
Mencoba Berkiblat,
padamu terlelap menancap lelah
Wahai_______
Tetaplah disana,
Dengan tegasmu, buang tulusku
Pada tong sampah resah.
Wahai__________
Tetaplah disana,
Jangan toleh aku, yang semakin sakit parah
Harus kau tau,
Sakit ini bukan karenamu…
Tapi separuh sebab meguak tulus dalam jiwa
Wahai______________
Bukan karenamu, aku…gila,
Tapi, kerena perasaan tulus padamu, membuatku lebih gila.
Puisi Entah
Resah semakin membelit
Harapan menggantung pada entah
Kulihat kau…
Dan, langit seakan dekat
Lalu purnama berbisik,
Tentang retaknya langit ditambal mendung___
Kelam seperti cinta yang kuraba, kurasa.
Padat hati ini, semakin sesak oleh rintihan-rintihan kecil tentangmu, bias, sangat bias, jauh kutatap jauh,
Dihilir perasaan hening, dingin, mencekam nadi-nadi,
Sampai air mata kering, mengendap,
Menjadi lumut-lumut penantian. Entah ber__akhir kapan?...
Aku Entahkan Doa
Sehelai doa dipersimpangan jalan
Menjadi setumpuk sampah busuk
Dipandang enggan, cemas, lesu, penuh beban.
Seraut beban itu jujur, menjadi coretan-coretan malam
Menjadi sesajen diatas altar kebisuan
Menjadi ujung dilabirin keheningan
Tetap menggantung dilangit harapan
Celetukan (5)
Seentah Bisu, Entah Ke-3
Dirimu diam dihatiku, kau datang membawa seikat senyum, melintas bagai pesawat tempur. Sekejap melesat seperti rajawali mencakar langit, disaat jingga melempar keganasan sore yang siap menerkam pengemis gila digurun pasir tanpa setetes air atau lemparan bunga, walau layu, dia terkapar lebar pasrah, menunggu orang murah hati menyapa membawanya kejauh pohon rindang. Bangkitkan lelah dari riuh gemuruh angin yang menyakiti luka-luka nyeri dipersimpangan, disisi senyummu menabur sekejap perih harapan, seperti diriku diremang-remang lampu, dihulu magrib menunggu sesosok dirimu, dibawah tiang tanpa dilengkapi bendera seperti aku bisu tak bersama rayu senyummu.
Sepi dengan sebatang roko, segelas kopi, yang tetap setia mengakrabi khayal liar sampai bulan, serata langit, seretak tanah bergurat, bersama sejuta bintang menertawakan aku yang bisu. Tak apalah, hanya ini yang bisa aku lakukan, menunggu seperti tugu di perbatasan dua pulau dengan remang-remang lampu, dengan serumit permasalahan setumpuk keretas yang berbeda, walau berdampingan hanya tembok pembatas menjadi tirai perasaan,kita berdekatan. Hanya segaris batas memisahkan, suasana, pesona, irama daung anginnya berbeda, seperti aku, kamu, mereka, berdekat akrab melekat pada serpihan-serpihan detik, waktu, hari, siang, malam, berenang pada lengketnya resah, menggauli gundah dengan percikan-percikan airmata seperti hujan setelah magrib seperti yang aku menanti, dirimu.
Hanya dengan itu aku mencoba meyakinkan kau yang jauh disana, tahukah kau, kesalnya dada ini, seperti kambing dikandangi, tak bisa melakukan apa-apa. hanya bisa meneriaki jeritan setia dalam kerangkeng kayu-kayu yang dipaku kuat. Walau berusaha mendobrak dengan sepasang tanduk meraduk, menubruk. Tetap, hanya melahirkan sepasang tarian-tarian kalap melelap, melahap. Sama sepertiku, ditali dengan bayang, khayal, mengikat kuat sampai teriak tak lagi mengeluarkan bunyi tangis; saking lelah merayap meyakinkan kamu dalam kukuh, jari jemari yang mengetuk-ngetuk bata hatiku dengan melantunkan nada-nada perih, mengeong-ngeong dengan sepatah kalimat yang gugup melahirkan cemas pada kubangan talu, menjadi hulu menderu, menyiku, dahsyat menatapi dirimu.
Tatapan itu tatapan dirimu. Aku, yang terlalu pagi menjemput hangatnya matahari dengan burung-burung melantun siul dan nyanyian, tarian-tarian kepakan sayap berdansa, menjemput waktu-waktu kelabu, menggulung hitam apa? lalu menyusun entah disimpang-simpang, disudut-sudut, aku terpojok dilubang kecil, dengan mungkin, aku tetap terus merayap, berjalan tak peduli duri-duri, menemu siang membakar kulit menghitam, gersang atau disambut mendung, sembari menetaskan percikan-percikan air hujan membesar membasah kuyupkan sekujur tubuh. Mendingin, tak bisa berlari cepat merapat pada rindangnya pohon cintamu.
‘Kau, Ayat-Ayat Perindu”
Sesosok dirimu menjadi paragrap
Menjadi rima dalam puisi
Kutafsir bagai ayat- ayat mati
Menjadi hadis penerjemah wahyu
Langkahmu menjadi artefak-artefak
Kugali, kujengkali
Seraya berusaha meyakinkan pada naluri
Bahwa aku _______
Kini aku menjadi nabi bagimu
Memuja dengan hasrat
Berdoa dalam bisu untuk segurat senyum
Taukah kau, pujaku!
Kini___
Seurai rambutmu, sekedip matamu, selebat bulu alismu, sepikuk hidungmu, segurat tebing wajahmu, sepeka telingamu. Semua, seonggok daging bersosok dirimu,
Dan wahyu bagi seorang gembel
Ayat-ayat dirimu kuhapal, ku-kumpulkan,
Kubaca, agar tak lupa
Dan, akan kuberi tahu pada dunia semampu aku punya
Bahwa, aku menyukaimu!
Jauh dari yang kau tahu
Agar aku, kau, abadi
Dalam tulis yang tak rapi
seliar kau memilih pendamping hati.
Disini beku, bagai dalam cerita nabi Ibrahim dibakar tumpukan api. Aku pun sama seperti dia yang akan tetap teguh kokoh dengan tulus, walau dibakar rayu-rayu para bidadari yang menggiurkan para jahanam, bersama doa-doa dan sepercik iman yang masih tersisa, aku tetap berusaha teguh berkiblat mengimani cintamu
Disimpang Jalan Bisu
Siang menatah resah
Matahari menggantung diharapan semu
Kuukir hari dengan tinta air mata
Daki semakin pekat dikulit coklat
Lamun bergoyang
Menghantam pilu, nyeri di urat nadi
Diam kupaku kecewa
Di iringan sesak detik kejamnya iri
Sumpah serapah tak lagi dibaca
Doa tak lagi menjadi wewangi bunga
Dedaun terus tumbuh dalam putaran cuaca
Cakrawala menjadi tangis kerapuhan
Dada menjadi lautan pasir sesal
Hati menjadi sejarah hitam yang terlupakan
Langkah tinggal lelah dipersimpangan
Mulut hanya menjadi bungkusan kosong
Pada untaian jingga dilangit harap
Mengendap seluruh rasa asa
Dipalung hening kelam dalam bingung
Aku menjadi diriku!
Namun akhirnya resah dan entah.
(03 Desember 2006)
Celetukan (4)
Aku disini
Angin kecil mengayun kerinduan tentangmu
Terlihat wajah bercahaya menguak rindu dipesisir hatiku
Satu senyum kucuri dikejauhan kusimpan dalam hati
Mata yang indah penuh tandatanya
Mungkinkah kau lempar sapa tulus menjahit resah kerapuhan
yang membelit palung jiwa yang kini berserakan
sampai aku tak sanggup lagi menahan rindu
Disini ditemani sunyi penuh
bercumbu bayangmu pada pesona
sampai langit jiwa retak
lalu kucoba tafsir remang tentang perasaan
oleh ketulusan yang sedikit tersisa
aku yang jauh darimu
tapi aku dekat dengan cintamu
padamu disini aku penuh
Dipersimpangan jalan diujung hati perempuan itu, disana burung gereja belajar bernyanyi diatas genting hati, dia duduk bersama angin kecil membawa lagu tentang keindahan perasaan pada hidup yang terlalu pagi untuk dihinggapi, hari senyumilah burung itu sebagai tepuk tangan dengan hati yang lebih jeli yang sekarang belajar terbang menari bernyanyi bersama ayat-ayat rindunya, seperti puisi dan alunan musik biola yang menyat perih perasaanku.
Disana diujung do’a, warna warni pelangi dimusim hujan dipelihara asmara bersama mimpi dimusim kelam menghitam. Kucoba menyelusup ranah hatimu yang terjauh sampai kutiup seruling jiwa dengan kegugupan untuk tenangkan sepiku darimu. Dihamparan dadamu kuingin terus-menerus diam menyelinap kedasar tebing kalbu, bersama iringan lenting tinggi suara hati, jiwa penuh kesungguhan penuh keindahan tampa hayal dan bayang-bayangmu.
Dipangkuanmu aku ingin menangiskan semua rindu dipelukanmu aku ingin bercerita tentang jiwa yang resah memasrah tentang semua yang mengendap didada, aku ingin hijrah kepangkuan kalbumu, sambutlah kehampaan hatiku dan buka lebar jendela hati untuk aku berpijak dalam cinta dengan ketulusan dan ijinkanlah aku menari ditengah panggung dan iringi aku dengan irama musik cintamu agar tak sepi hidupku.
Aku yang
Kini kugantungkan rinduku
Padamu sambil merayap kucoba selami lautan kasihmu
Semoga tak kelam
Kini kucoba walu luka dan nyeri menguliti diriku sendiri
Dirimu adalah jiwamu
Yang sulit kutafsir seperti bebatuan malam
Yang menggantung dalam palung jiwaku
Sampai saraf dadaku mengejah kembali
Tentang asmara dibalik cintamu
Kau yang hingap, aku yang bergulat dengan andai-andai yang kini menjamah renung, memikir tentang entah yang kini bergetar, takbisa kulempar, bayangmu yang kini telah hinggap menjarah rimba batinku
ke-elokan wajahmu memancarkan cahaya terindah menyerang menyambuk, mendera hamparan dada yang kini disesaki dengan harapan yang bergantung seperti do’a yang takterkabul, dimalam kelam ayat-ayat harapan hanya berbuah air mata dingin yang sepi, yang sendiri, aku terpojok dalam sejarh hati seperti sampah disut-sudut malam ditemani remang cahaya lampu kelam dengan suara lenting tinggi jangkrik menghibur disaat sekarat rindu yang semakin merobek- robek.
Aku bersama malam membisu membatu, terhimpit rasa nyeri tapi aku tetap akan berusaha melukis bayangmu menjadi serpihan-serpihan kalimat, seperti nadi tersusun rapi disekujur bungkusan tubuh, ruangan kamar yang sesak dipenuhi tulisan-tulisan dengan tinta air mata sepiku yang kini didayung cintamu sampai resah menjemput, memahat kesungguhan dan tenggelam dilautan cintamu yang kini dibanjiri jeritan pilu, mengaduh-ngaduh seperti suara anak kecil yang tertusuk duri, anak kecil itu aku, dan duri itu harapanku padamu,
perempuan itu dirimu, kehadiran bayangmu adalah sebuah kompas petunjuk arah untuk aku berkiblat padamu, yang kini kupuja dengan panji-panji, syair-syair hasrat, melekat seperti ayat, doa, menempel kesungguhan kepasrahan keiklasan memanjat tangga iman agar tidak tersesat lagi diranah cinta yang selalu menyakitkan.
Kini aku menggugat pada tuhan, tuhan itu adalah dirimu sekarang dan kini aku tersesat kedalam jalanmu dipersimpangan sejarah hatiku, kau mengelakan kesungguhan do’a-do’a yang kini kusandarkan kepadamu, MENGAPA haya itu gugatanku yang kulempar kepada yang esa, setiap detik aku mencoba merayap dengan ketabahan, tapi sampai manakah ketabahan ini berhenti. Ketabahan di kejauhan kalbu, sampai aku pasrah dan, kata entah yang kini menyimpan lelah, harap, cemas cintamu.
Taukah kau, seandainya perasaan ini dapat bicara kan aku ucap padamu dengan beribu kesungguhan tentang aku yang mencintai mengharap sapa terindah dari kau pujan, aku yang kini, disini, sendiri bersama padatnya malam berbicara tentang nyeri perih rintih pada sepi yang menyambut sunyi menaburkan air mata dingin, sedingin hatimu kepadaku, dan harapanku kini hayalah mimipi-mimipi digelap yeng terlelap dikubur ditutup disembunyikan dibalik pikiranmu, menjadi kehancuran disisi senyummu, dipersimpangan tangisku pada detik memburu waktu semu, bisu, sepi, tuli, membuta, sedih, teramat sangat, taukah kau untuk mengobati piluku yang teramat ini harus dengan ukiran tulusmu, hanya satu yang kini dapat meluruskan sesatku, dirimu.
Kau sangat berharga
Satu bintang berkelip cahaya
Bersinar kearah bumi mati
Kutatap matamu, sorotnya kearah hati
Dada ini, bagaikan merapi berhaburan kawah panas
Diriku sesak, penuh dengan harap pada kerinduan yang mati
Yang menunggu terbelenggu
Diriku kini memusat pada arahmu
Tapi tak ada lagi selain berusaha
Mendongkrak perlahan dirimu yang membatu
Dengan doa dan ayat-ayat cinta
Demi kesungguhan
Aku menyukaimu penuh
Aku diam, aku menjerit disini tak ada yang mendengar aku harus tetap berjalan dengan sisa-sisa dera, kemana lagi kaki kutuju bumi kupijak langit aku jung-jung. Mata, kemana lagi kau memandang sapa dan senyum? kemana lagi harus aku lempar pikirku, yang kini hanya retak-retak bergurat dan lisan menjadi tulisan meninggalkan lidah yang berpesan mewakili sekujur tubuh merapuh lelah..................
Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan sekarang, aku yang dituntut membisu hanya bisa bersandar pada kerapuhanku sendiri. Maafkan aku menyayangimu, maafkan aku ingin mencintaimu sederhana, sesederhana aku menyayangi mencintai ibuku.
Sebersit senyum
Senyummu penghargaan terindah
Senyummu membuat rindu meresah
Senyummu diam dihatiku
Senyummu terjaga selalu
Senyummu semoga menyatukan diriku dan dirimu
Senyummu menjadi detik-detik yang kutunggu
Senyummu kehangatan jiwaku
Senyummu kuharap selalu
Bandung 30-11-2006
Celetukan (3)
TAFSIR-TAFSIR RINDU DI PERSIMPANGAN JALAN ENTAH (edisi Revisi)
Oleh JS Kantara*
Untuk;______
Tuhan kecil.
Yang kuimani dalam persimpangan jalan
Dengan keangkuhan-nya, kuanggap sebuah cobaan pada peradaban rinduku
Dalam coret hitam sejarah hati yang busuk karena mengendap, dalam tongsampah penantian.
Rindu Disimpang Jalan Entah satu
Sejarah hati, aku ukir kembali pada nisan jantung berdebar, bergetar satu sapa senyum, kutafsir pesan samar tak dapat kupahat, palung jiwa retak hamparan dada merapuh keluh musim yang menggarang gersang dilidah pantai disisi gurun beramuk badai dipojok batu, sipengembala murung digulung bingung disudut garis penuh luka nyeri sampai tangis menjarah batin, tersentuh air mata ini tak terendap lagi, namun hati coba mengarifi agar asa tak menerjang jingga dalam lukisan jiwa keremangan, kata tulus kutulis dekat diatas tebing dibatu cadas, disudut penjuru mengaduk nyeri penuh aduh, disini sendiri bernyanyi sepi, sunyi, berdendang hening, malam di iringi tarian dedaunan yang dibungkus embun melengkapi pesta dipersimpangan jalan, entah, jejak-jejak sejarah hati yang kini semakin luka, kemana lagi berjalan aku kini, dipersimpangan jalan hanya digauli, entah.
Apa yang harus kutulis hari ini, pagi yang cerah meludahi aku dengan bayang-bayang semu, sembilu dalam debu berhamburan, seakan dijamah resah mengajak angin untuk bersahabat bersama kebebasan-nya, apa yang kupikir saat detik menjengkal risau, menyambuk, mendera, tentang waktu yang biasa dikenang atau dilupakan dalam angkuh dipergantian musim kerindun.
Doa, hanyalah menjadi tumpukan sampah, dan harapan seperti sejarah hitam yang bersaing dengan irama waktu yang bernada abadi, seperti ucap yang harus dipaksa menjadi prilaku, namun perasaan seakan harus menekan jingga memaksa pada sore, meyakinkan senja, pada magrib yang harus melempar kelam pada sudut hidup semu.
Suatu ayat ku-ungkap dianggap sepi, kutulis malam pada keretas senja seperti puisi, kubaca kuakrabi dengan jiwa dan mata hati yang sering menilai dengan keinginan sendiri, tapi sebuah jawab, harus belajar mengarifi realitas yang ada, seperti dedaunan kering kemuning, jatuh berguguran terlempar, terkapar, membusuk lelah ditengah rengatnya jalan aspal hitam memudar, terselip luka.
Hanya senyum, semoga kecewa cepat berlalu ditelan waktu walau tak tentu, mungkin hanya segumpal diam yang dapat mengendapkan semua rasa, seperti karang yang tetap teguh memaku menahan gelombang pasang.
Bandung 23-11-2006
Celetukan (2)
Oleh Ibn Ghifarie*
Karena itu, ketika musim hujan datang, datang pula malapetaka. Beberapa hari yang lalu 18 warga terkubur di Solok, Sumatra Barat (18/12), karena tanah longsor setelah hujan mengguyur. Di beberapa bagian Pulau Jawa hujan yang disertai angin puting beliung merontokkan rumah-rumah warga.
Di hari-hari mendatang selama musim hujan akan semakin pasti datangnya berita tentang bencana dalam berbagai wujud. Banjir, longsor, topan, gempa, tsunami, gagal panen dan sebagainya.
Musim bencana kali ini rupanya berawal dari Sumatra. Setelah longsor di Solok Senin malam, Pulau Sumatra diguncang gempa kuat. Sejumlah warga meninggal dan ratusan bangunan ambruk. Belum diketahui apakah gempa yang berpusat di Aceh dan Sumatra Barat itu berkaitan dengan datangnya musim hujan. (Media Indonesia, 19/12)
Lagi-lagi bencana terus silih berganti. Satu daerah korban keganasan alam belum selesai saat rekontruksi dan relokasi warga, nyatnya di belahan yang lain alam menunjukan ke kuatannya. Hingga negara Indonesia di buatnya kalangkabut dan berkali-kali menangis.
Mencermati maraknya bencana yang terus menerus mendera Bumi pertiwi, semuanya disebabkan keperkasaan alam, memang sungguh tidak bisa dicegah. Topan, tanah longsor, banjir, dan gempa bumi, misalnya, tidak mampu dihalangi manusia dengan teknologi apa pun.
Tak hanya itu, menegemen bencana pun hanya sebatas wacana semata. Padahal, alat cangih atau sistem peringatan sejak dini yang dapat mendeteksi malapetaka dalam kasus letusan gunung merapi, angin topan, tanah longsor dan gempa tsunami sangatlah di perlukan. Haruskah kehadiran sistem peringatan dini di tebus dengan beribu nyawa manusia tak berdosa?
Meskipun manusia tak dapat mencegah datangnya peristiwa tersebut. Namun, paling tidak, memiliki kemampuan untuk mengurangi dampak dari bencana.
Sudah tentu, semua kemurkaan alam itu berawal dari ulah tanagn lamim manusia dan kesombongannya. Hingga merusak sekaligus merauk keuntungan dari tatanan jagat raya ini.
Thus, buanglah sampah pada tempatnya dan mari melestarikan lingkungasn sekiranya. Tak lagi guna mencegah peristiwa yang tak di inginkan. Apalagi dengan tibanya musim hujan di penghujung tahun. Pasalnya, haruskah datangnya musih hujan berubah menjadi bencana? [Ibn Ghifarie]
*Penulis adalah Ulis (Juru Tulis) Paguyuban Kader Pelajar Islam Indonesia (PK-PII) Bandung Raya dan sedang menyelesaikan kuliah di Jurusan Studi Agama-Agama (PA) Fakultas Filsafat dan Teologi UIN (Universitas Islam Negeri) SGD (Sunan Gunung Djati) Bandung.
Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 19/12;08.25 wib
Celetukan (1)
Oleh Ibn Ghifarie
Naiknya harga beras membuat sebagian masyarakat kecil pontang-panting. Pasalnya, harus kerja ekstra guna mendapatkan bahan pokok tersebut. Tak berakhir sampai disini, rebutan supaya mendapatakn padi pun tak terelakan lagi. Hingga, nasi aking pula menjadi obat mujarab kelaparan tersebut.
Tengok saja, di daerah Klaten kenaikan harga beras melonjak dratis mulai awal bulan ini. Kemarin, di Pasar Klaten beras Cisadane telah mencapai Rp5.000 per kilogram, Rojolele Rp5.500, Mamberamo Rp5.200, IR-64 Rp5.100, Umbuk Rp5.100, Menthik Wangi Rp5.300, dan beras ketan Rp7.000. (Media Indonesia, 16/12)
Konon, di Papua kenaikan harga beras tak terkendali, hingga mencapai 13.000,00-/kg (Metro,16/12). Sudah tentu, nerekalna harga beras juga berdampak pada harga bahan kebutuhan pokok (sembako) lainya.
Mencermati persoalan pelik itu, pemerintah hanya bisa mengelar pasar murah dan kualitasnya pun di pertanyakan. Benarkah permasalahan kemiskinan itu berawal dari kenaikan harga beras? atau Jangan-jangan ada sistem kearifan lokal yang tak terpikirkan sekaligus di tinggalkan oleh masyarakat akibat globalisasi dan kecangihan ilmu pengetahuan.
Yakni penduduk melupakan tatanan kehidupan pokok suatu daerah tertentu sebagai sumber makanan. Kini, sebagian besar masyarakat Mimika tak lagi akrab dengan makan khasnya (ubi-ubian), tapi semuanya makan beras, sebagai contoh. Padahal, daerah pingiran Irian itu penghasil terbesar biji-bijian. Nyatanya, mereka harus rela tak makan selama beberapa hari, hingga menelan banyak korban.
Ironis, sungguh ironis. Nusantara yang terkenal dengan subur makmur alamnya, malah menghasilkan kematian tingkat tinggi. Bak ayat mati di lumbung padi.
Dengan demikian, sentralisasi beras di Bumi Pertiwi ini, hanya dapat menghasil kesengsaraan dan kemiskinan yang akut dan tak kunjung selesai. [Ibn Ghifarie]
Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 17/12;14.17 wib
