Archive for Februari, 2007
UIN
Cahaya sore di UIN Sunan kali jaga..
Oleh Ari Suciatno
Cahaya sore di UIN Sunan kali jaga..
Detik-detik terakhir.. Mungkin nanti? ingatkah itu!..
Dan kebodohan itu! dalam sebuah sejarah hidupku.. adalah saat aku meninggalkanmu.. Mungkin nanti? kau akan tau seberapa baiknya itu?!
Dan aku,.. biarkan jiwa dan roh cintaku terkikis oleh waktu yang menyayat-nyayat uluh hati dan pikiranku.. Demi kau dan kencantikan yang selalu ku simpan dalam dopetku.. Terima kasih atas segala waktu dan senyum manismu..
Ku tunggu sampai matiku.. Caci-makimu, dengan gumpalan kejengkelan, kebencian dan kekesalanmu..
maafkan aku..
Ari..
Aku
Menurutku...
Ari Sucianto
Terdapat 7 orang yang mempengaruhui hidupmu:1.Orang yang kamu tau: adalah orang yang pernah kamu lihat.
2.Orang yang kamu kenal: adalah orang yang pernah memperkenalkan dirinya kepadamu.
3.Orang yg akrab denganmu: adalah orang yang sering bertemu, bercanda, curhat, dan sering berjalan bersamamu.
4.Teman: adalah orang yang selalu siap hadir dalam susahmu dan paling bahagia saat kamu sehat, kuat dan berhasil atau sukses dalam suatu hal.
5.Sahabat: adalah orang yang rela mempertaruhkan nyawanya demi hidupmu.
6.Saudara: adalah orang yang mempunyai hubungan darah dgnmu.
7.Kekasih: adalah orang yang kamu pilih dalam urusan hati.
Oleh karena itu, di dalam dunia ini:
Tidak ada yang namanya teman itu iri atau dengki..
Tidak ada sahabat yang berhianat..
Dan jgn kaget jika ada saudara yang berbuat jahat..
Agar kamu ga sakit hati? Maka ajarkanlah kekasihmu tubuh menjadi sahabatmu..
How about you???
Cinta
Ketika Aku Bicara Cinta (1)
oleh Ari Sucianto
Cinta adalah bahasa keiklasan dalam ungkapan dan luapan rasa emosional, untuk memberikan sesuatu yang terbaik pada suatu yang dikagumi yang telah singgah dihati.. Sesuatu yang dikagumi itu! Bisa berupa benda, seseorang, negara, idiologi, golongan (dll yang sifatnya duniawi) dan Tuhan..! (Allah swt..) Cinta kepada Tuhanlah cinta yang semestinya terwujud dan harus ditinggikan diatas cinta kepada cinta selainNya.. “Kenapa Mesti demikian?!!... Karena Dialah Cinta di atas cinta yang sesungguhnya kita rasa... yang tak akan pernah hilang dan pergi meninggalkan kita sedikitpun... yang tak akan pernah berhenti memberikan ketenangan pada jiwa-jiwa yang telah terhanyut, terayu pada syair-syair CintaNya, yang lembut terurai turun menyusuri bumi... Syair-syair CintaNyalah yang akan menghijaukan daratan, membirukan launtan dan mengindahkan langit-langit tempat bersemanyamnya percikkan para bintang...
Duhai yang Maha Cinta...
Cintailah cintaku...
Panah cintaku pada cinta yang semestinya kepadaMu...
Duhai yang Maha Cinta...
Cintailah aku...
UntukMu Cintaku...
Ku syairkan hatiku...
I love you Allah...
I love You...
...
Ketika Aku Bicara Cinta (2)
Menjadi seperti apa? Yang diinginkan orang yang kita cintai, dengan landasan keiklasan.. akan jauh lebih baik ketibang menjadi pemuja dan perayu hatinya.. karena bahasa cinta adalah bahasa keiklasan untuk menjadi yang terbaik untuk orang yang kita cintai.. bukan bahasa keinginan untuk memiliki hatinya.. biarkanlah hatinya terbang mengikuti irama alam.. dan teruskanlah cinta pancarkan cahaya tuk terangi setiap pijak langkahnya.. secara wajar dan baik-baik saja..
Ketika Aku Bicara Cinta (3)
Ketika aku bicara cinta..
Seperti inilah adanya aku..
Merayumu hingga ke uluh hati..
Memanjakanmu, sampai kau mati..
Seperti inilah adanya aku..
Ketika aku bicara cinta..!
Dan, lalu..
Maafkan aku..
Aku merayumu, bukan karena aku, punya cinta padamu mati!
Tapi karena kau wanita..
Ada lembutnya hati!
Yang wajib! Kujaga!
Maafkan aku..
Ketika aku bicara cinta..
Kata-kataku menuwai luka baru untukmu..
Maafkan aku..
Aku bukan sandaran terbaikmu..
Hanyalah.. dan adalah Dia..!
Pencipta dan penjaga Cinta sejatimu..
Shubahanallah..
Maha suci Allah..
Bersandarlah kau padaNya..
Dzat Si Maha Cinta yang terpaling tinggi..
Maaf..
Bukan aku..
Yang mesti kau cinta mati!
Tapi Dia..! Dia..! Dan hanya Dia..!
Bagiku.. adanya aku..
Hanyalah sekedar sahabat penasehat hati..!
Sesudah itu..
Selamat tidur..
Selamat malam..
Esok
Hari Esok, dan disuatu ketika?
Oleh Ari Suciatno
Hari esok..
Dan di suatu ketika..
Saat suara tak terdengar..
Saat mata terpejam..
Saat suasana sunyi gelap-gulita..
Saat diding liang lahat pisahakan dua dunia..
Hanya, apa yang kita perbuat, itu yang menemani..
Hari esok..
Dan disuatu ketika..
Nyayian penyesalan..
Hanya jeritan menambah derita..
Hanya apa? Hanya itu yang kita bisa..
Kenapa kita mesti menunggu?
Hari esok..
Dan disuatu ketika?..
Dengan terus menciptakan penyesalan-penyelasan, baru’
Yang menyakitkan diri kita sendiri?
Hari esok..
Dan disuatu ketika?
Mengikis waktu-waktu..
Berhari-hari.. makin mendekat!
Sahabat
Gemericiknya waktu yang tertinggal.. Aku rindukan Sahabatku, nyayikan lagu-lagu Cinta.. Suara guitar, senyum manis dan canda-tawa.. Pecahkan cahaya bintang diruang depan.. Siapkan sologan atas nama Cinta.. Demokrasi hati mulai bicara.. Kau datang hampiri aku sepenuhnya..! “Hujan telah redah kawan..” katamu, yang dulu pernah ku sakiti..! Benar perinsipmu! Yang namanya sahabat tidak ada yang berhianat..! Tertulis untukmu yang dimana kini?... ( Puisi 3 hari sebelum kau pergi.. )
Beda-Beda
Jika memang Islam hadir untuk menghapus "kebodohan" umat manusia menuju jalan lurus yang selamat yang diridoi Allah SWT. Kenap umat islam tak lebih baik daripada non muslim. Mulai dari pendidikan, keterbelakangan ilmu pengetahuan (Iptek) sampai pada persoalan keIman dan takwan pun masih mengidam penyakit akut bernama 'klaim kebenaran'.
Satu kelompok dengan golongan lain, beranggapan bahwa paham merekalah yang paling benar. Di luar batas perhimpuannya sering diangap sesat, hingga kafir. Benarkah sifat dan perbuatan lalim itu di perintahkan oleh Rasul? Tentu saja jawabanya tidak. Lantas apa yang meski kita perbuat, manakala islam berwajah 'ganjil' dalam menyikapi tradisi?
Pemahaman perbedaan pendapat pun harus berubah haluan menjadi laknat daripada rahmat. Lagi-lagi, ruang dialog tak pernaha akrab dalam keseharian kita. Kita hanya bisa menyelesaikan segala persoalan itu dengan meruju kepada hukum Tuhan. Tentunya, pelbagai dalih pun harus rela tuntuk atau sengaja di bakuakn dengan sumber tersebut.
Padahal, begitu tipis perbedaan antara hukum Tuhan dengan Adat. Namun, kedua-duanya mengajarkan kita supaya berbuat baik kepada dirinya, orang lain dan sekiranya. Jika tak bisa berprilaku arif, maka tinggalkanlah. [Ibn Ghifarie]
Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 21/12;23.56 wib
Perang Akbar
Oleh Ibn Ghifarie
Dengan demikian, segala bentuk peperangan akan membawa malapetaka yang besar dan keji. Terlebih lagi bagi kaum hawa, anak-anak, orang lanjut usia. Pasalnya, baku hantam antara israel-palestina tak mengenal etika peperangan. Sudah tentu, tempat ibadah, ruang publik; rumah sakit, sekolah, jalan tak boleh menjadi sasaran insiden.
Namun, kuatnya keinginan untuk menguasai maka dengan serta merta sistem pelayanan publik pun harus ikut menjadi sasaran empuk.
Pendek kata, berperang melawan hawa nafsulah perang paling besar. [Ibn Ghifarie]
Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 21/12;24.45 wib
Usir Maksiat dengan Syariat
Usir Maksiat dengan Syariat
Ketika Rancangan Undang-Undang Anti-Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) dibuat, sebagian masyarakat menentangnya. Aneh, padahal isi UU tersebut jelas bertujuan baik, yaitu meminimalkan peluang merebaknya pornografi dan pelecehan bahkan kejahatan seksual.
Berbagai argumen dikemukakan. Ada yang mengatakan UU tersebut tak bisa diterapkan di daerah-daerah tertentu seperti Bali dan Papua. Ada juga yang bilang UU tersebut berbenturan dengan adat tradisional Jawa.
Para ulama yang menghadiri acara Forum Ijtima' di Pondok Modern Darussalam Gontor akhir Mei lalu berkesimpulan, semua penolakan tersebut bermuara pada satu hal: kekhawatiran akan diterapkannya syariat Islam di negara ini.
Bersamaan dengan itu, di sejumlah daerah muncul Peraturan Derah (Perda) yang disebut-sebut bernuansa syariat Islam. Bulukumba, misalnya, kabupaten yang terletak di Sulawesi Selatan ini jelas-jelas menyebut syariat Islam pada Perda tersebut...
