Agu
31st

Mengecam Malaysia

Kasus pemukulan ketua juri karate Indonesia Donald Pieter Luther Kolopita oleh empat oknum polisi Malaysia, membuat geram warga Indonesia, bahkan di Kalimantan Selatan. para karateka pun berdemo mengecam perbuatan Polisi Malaysia tersebut.

Memang Malaysia yang mengaku saudara serumpunsangat arogan terhadap “saudara tuanya”, warga Indonesia sudah berapa kali yang mengalami penganiayaan oleh Warga Malaysia, seperi TKI. Bahkan Gubernur Sutiyoso pun pernah mengalaminya.

Para karateka yang didomininasi para karateka cilit tersebut, mengecam malaysia sambil menyanyikan Lagu Indonesia Raya. Tentu saja ketika para wartawan mengambil gambar, mereka pun sangat bersemangat sambil bergaya, dan wal hasil para sekwan dan staff tersenyum-senyum melihat tingkah para karateka cilit tersebut.

Agu
28th

Rahasia Sukses Sulaiman

Agu
28th

Prinsip-prinsip Toleransi

Agu
28th

Komunikasi Yang Mencerdaskan

Files under Tak Berkategori | Comments Off

Diantara rumusan menarik yang saya temukan semasa kuliah di Fikom Unpad dulu adalah; kecerdasan orang bisa dilihat dari pertanyaan yang diajukannya. Pada masa itu bagi saya rumusan ini begitu cukup menghentak. Maklum saja, ketika itu saya sering terpukau oleh tulisan-tulisan atau pembicaraan public figure yang runtut, argumentasi nya jelas, kesimpulan yang genial serta up to date.

Lahirnya sebuah rumusan pertanyaan berasal dari pengetahuan teoritik yang mapan, dibenturkan dengan pengalaman lapangan yang intens. Bila kedua hal ini ditambah dengan kondisi jiwa yang bergairan dah senantiasa dan mendambakan proses liberasi dan humanisasi, maka pertanyaan itu akan menjadi penggugah. Tidak hanya bagi objek pertanyaan, tetapi juga masyarakat yang mendengar pertanyaan itu.

Triangle antara nalar intelektual,nalar sosial dan jiwa transformatif inilah yang akan menjadi basis munculnya sebuah pertanyaan yang cerdas dan mencerdaskan. Pertanyaan yang tidak hanya bisa mengidentifikasi kapabilitas sosial dan intelektual, tetapi juga menjelaskan kapabilitas personal.

Dalam konteks dunia komunikasi, profesi yang senantiasa bergulat dengan pertanyaan tentunya adalah wartawan. Kewajiban wartawan yang pertama dan utama adalah senantiasa melakukan pertanyaan baik secara interpersonal maupun intrapersonal. Berdasarkan kepada rumusan-rumusan pertanyaan yang dia miliki itulah akan terlahir karya-karya tulis yang menggugah banyak orang, memberi inspirasi untuk senantiasa melakukan proses transformasi diri dan lingkungan.

Pertanyaan wartawan Infotainment

Beberapa malam yang lalu di Taman Ismail Marzuki Jakarta saya mendapat kesempatan yang menggembirakan; menyaksikan pentas teater. Judulnya Nyai Ontosoroh. Adaptasi dari novel Pramoedya; Bumi Manusia yang bercerita perjuangan seorang nyai di zaman Belanda dalam membela hak-haknya. Sebelum memasuki ruang pertunjukan theatre saya sempat melihat beberapa wartawan berkeliaran. Identitas wartawan itu bisa dilihat dari logo mic yang mereka pegang atau baju yang dipakai.

Gesture ternyata hal yang tidak bisa manipulasi. Keluar begitu saja tanpa bisa di kontrol. Manipulasi bisa terjadi bila memang kejadiaannya bisa diprediksi sebelumnya. Bila kejadian itu datang tiba-tiba tanpa koordinasi dan pemberitahuan sebelumnya, sangat sulit untuk memanipulasi gesture.

Beberapa menit setelah melihat ada wartawan infotainment, saya baru tersadar bila saya telah mengeluarkan gesture dan kesimpulan yang cenderung negatif tentang wartawan infotainment. Untung saja gesture dan kesimpulan saya tidak diketahui oleh wartawan tersebut.

Kekecewaan muncul ketika melihat kehadiran wartawan infotainment. Posisi sebagai pekerja media pada dasarnya sangat memungkinkan untuk ikut terlibat mencerdaskan kehidupan masyarakat juga diri sendiri. Modal yang dimiliki tentunya adalah status sebagai wartawan yang memungkinkan melakukan mobilitas penting yang tidak bisa dilakukan oleh profesi lainnya. Tetapi sepertinya itu tidak terjadi.

Ketika melihat wartawan infotainment menjelang pertunjukan teater Nyai Ontosoroh saya teringat kembali moment ketika press confrence acara teater ini beberapa hari sebelumnya. Semula saya berfikir akan terjadi proses dialog yang menarik antar wartawan dengan para aktor theatre ini. Membicarakan posisi Pram dalam kesusastraan Indonesia, keberpihakan kaum feminim, orientasi dari teater ini dan lain sebagainya.

Tetapi ternyata pertanyaan yang muncul, secara pribadi, cukup mengejutkan dan sangat mengecewakan. Pertanyaan wartawan adalah tentang pengalaman, kesan, pesan, proses pelakonan seorang Happy Salma sebagai aktor utama. Proses dialog seperti itu pada akhirnya bisa terobati ketika melihat jajaran microphone yang ada di depan Happy Salma. Mayoritas berlogo siaran infotainment yang ada statsiun tv.

Infotainment sebagai produk komunikasi

Sejarah praktek komunikasi tidak akan pernah lepas dari cita-citanya untuk mencerdaskan kehidupan masyarakat. Caranya adalah menyampaikan informasi yang ditata sedemikian rupa pada aspek proses maupun dan eksplorasi pesan pada aspek isi. Pada aspek proses mestilah menginspirasikan bagi banyak orang yang tergambar dari sistematisasi pesan yang cerdas. Sedangkan pada aspek isi mestilah supportif terhadap usaha mencerdaskan kehidupan masyarakat yang terlihat dari isi yang relevan secara sosial maupun intelektual.

Dalam tradisi retorika dikenal nama Cicero sebagai seorang orator ulung dari bangsa Romawi yang hidup antara 106-43 SM. Bukunya yang terkenal adalah “The Orator dan “On Oratory” yang mengurai pentingnya menyiapkan bahan yang akan dibahas dan memformulasikannya persoalan dengan baik sehingga menarik perhatian orang. Artinya Cicero mengungkapkan untuk selalu memperhatikan isi juga proses penyampaian sebuah pesan. Dua hal ini berkaitan sebagai usaha untuk mencerdaskan masyarakat.

Praktek komunikasi Cicero ini dinodai oleh para kaum sophist. Orang-orang yang menipu orang lain dengan menggunakan argumen yang tidak sah. Kemunculan kaum sophist berangkat dari kebutuhan penguasa untuk melanggengkan kekuasaannya. Diantara cara yang efektif adalah dengan menyewa agitator. Artinya kaum sophist berangkat dari motif ekonomis semata.

Munculnya jurnalistik, sebagai sebuah praktek komunikasi massa, tidak dapat dilepaskan dari cita-cita untuk mencerahkan masyarakat. Caranya adalah dengan mendistribusi informasi sehingga bisa membantu proses pengambilan keputusan baik itu yang bersifat individu maupun kelompok.

Cita-cita seperti inipun sepertinya memang sedang di ciderai oleh praktek jurnalistik yang semata melihat uang sebagai variable utama. Tumbuhnya yellow pers adalah usaha industri komunikasi dimana uang menjadi variable utama. Tidak jauh berbeda dengan dialami oleh Cicero ketika contoh praktik komunikasi yang dia lakukan di cederai oleh kaum sophist.

Kemunculan infotainment merupakan persenyawaan antara kebebasan berkomunikasi dan motif ekonomis yang tidak terkendali. Amanat gerakan reformasi yang menghendaki adanya kebebasan dalam berkomunikasi, terhalang oleh motif ekonomis yang tidak terkendali. Pelaku ekonomi melihat komunikasi sebagai sebuah industri yang prospektif belaka. Melupakan cita-cita awal praktek komunikasi yang ingin mencerdaskan kehidupan masyarakat.

Sebagai sebuah proses produksi komunikasi disebutkan bila infotainment berkeinginan untuk memberitakan gossip. Menurut Ignatius Harjanto istilah memberikan gossip adalah terminologi yang menyesatkan. Berita adalah sebuah fakta sedangkan gossip adalah ilusi belaka.

Kemunculan infotainment tidak dapat dikaitkan dengan keterbatasan sumber daya manusia di bidang komunikasi. Di kampus saya, Fikom Unpad, setiap tahun berbondong-bondong mahasiswa memilih jurusan jurnalistik. Pilihan ini bukan karena keterbatasan jurusan, karena disana ada 3 jurusan reguler S1, atau keterpaksaan. Pilihan ini murni berdasarkan motif individu bukan berdasarkan ranking atau kualfikasi dari institusi. Mahasiswa-mahasiswa yang memasuki jurusan itupun memiliki kebanggaan sendiri dengan statusnya sebagai mahasiswa jurusan jurnalistik dan memiliki dedikasi tinggi terhadap institusi yang menaunginya.

Kehadiran infotainment berawal dari keterbukaan komunikasi yang ditangkap secara liar oleh para pelaku pasar. Karena ekonomi menjadi motif utama, maka prosedur profit dan loss mesti di terapkan secara ketat. Caranya tentu dengan efisiensi pada aspek produksi dan product yang bisa diterima masyarakat banyak.

Efisiensi pada aspek produksi bisa dilihat dari recruitment pegawai yang siap dibayar murah (baca ; tidak capable) karena keterdesakan ekonomi, simplifikasi pola kerja yang tidak menuntut kedalaman. Sehingga wajar bila ada pola kerja jurnalistik gerombolan yang menghasilkan hasil yang juga ”gerombolan”. Apa yang disiarkan oleh TV A sejam kemudian tidak akan jauh berbeda dengan yang disiarkan oleh TV B. Terdapat 37 siaran infotainment, maka sebanyak itu juga seorang artist akan tampil, minimalnya, dalam sehari.

Pada aspek isi tentunya dicari berita-berita yang di kehendaki oleh masyarakat. Tidak perlu mensyaratkan aspek pendidikan, cukup bila berita itu membuat heboh masyarakat, maka isi sebuah siaran akan menjadi tontonan banyak pihak. Pada sisi inilah kemudian kita melihat sisi gelap media. Media tidak berfikir untuk menghadirikan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat, tetapi karena motif ekonomi, berita yang dihadirkan oleh media cenderung mengeksplorasi hasrat rendah masyarakat untuk kepentingan rating.

Posisi triangle; market, government dan soceity pada media saat sekarang ini, pada akhirnya berada dalam posisi yang mengerikan. Bila pada priode Soeharto Media berada dalam kendali pemerintah dengan goverment di posisi puncak triangle, saat sekarang ini media berada pada titik puncak triangle sejajar dengan market untuk menindas society tanpa advokasi dari goverment

Oleh karena itu usaha advokasi masyarakat terhadap praktek komunikasi yang cenderung tidak mencerdaskan ini mesti terus intens di lakukan. Repotnya lagi, institusi masyarakat yang concern terhadap masalah ini sepertinya sudah melempem. Sementara institusi semi pemerintah seperti KPI pun tidak mampu bermain secara cerdas ketika berhadapan dengan pasar dan penguasa.

Harapan lain dari usaha advokasi pola komunikasi ini bisa ditambatkan kepada institusi pendidikan tinggi terkhusus perguruan tinggi yang memiliki studi komunikasi. Ini bisa menjadi bagian dari pengabdian kepada masyarakat sebagai bagian dari tri dharma perguruan tinggi di Indonesia.

Di akhir, semoga para aktor-aktor komunikasi kita memiliki kesadaran untuk bisa menghadirkan pola komunikasi yang bisa supportif membantu masyarakat keluar dari himpitan yang dialaminya sekarang. Tidak menjadi problem baru di tengah krisis sosial yang terjadi di tengah masyarakat kita.

Waalahu’alam bi shawab

Agu
27th

sudahkah kita bersyahadat?

Agu
22nd

PERANG DI JERO TEMPO

Files under Tak Berkategori | Comments Off
Waktu awal-awal kuliah di Fikom Unpad dulu, saya sempat begitu percaya tentang konsep media sebagai sebuah institusi publik, murni tanpa kepentingan dalam melakukan aktivitas pemberitaan. Semuanya bergerak berdasar kebenaran dan kepentingan masyarakat. Lambat laun, baik secara teoritis maupun praktis, kepercayaan itu mulai luntur. Sempat greget, kecewa dan marah, tetapi pada akhirnya bisa memahami dan proporsional melihat fenomena itu. Istilah kepentingan dan kemurnian ternyata mesti di elaborasi lebih tajam lagi.

Tulisan di bawah ini saya dapatkan dari mailing list Alumni muda Pelajar Islam Indonesia. Tentang pergulatan internal di Tempo. Sedikit banyaknya tulisan di bawah ini bisa mengurai relasi-relasi politik yang terjadi di sebuah institusi media.

Skripsi saya tahun 2003, tentunya membutuhkan pembenahan disana-sini, mencoba meneliti media Islam yang sedang booming ketika itu; majalah Sabili. Theoritical framework nya memakai madzhab kritis. Kesimpulannya; intervensi ekonomi, baik itu captive market maupun pemilik modal, begitu kuat mempengaruhi aktivitas dan pola pemberitaan majalah Sabili.

Selamat membaca aja!...


WARS WITHIN


Penulis: Janet Steele, @2005

Penerbit: EQUINOX dan ISEAS

xxxiv, 328 halaman

Oleh Martin Aleida

Jarang ada penulis Barat yang berhati sarat dengan empati ketika menyentuh Indonesia. Kecuali manakala terjadi pelanggaran terang-terangan terhadap hak asasi manusia, yang buat mereka merupakan kejahatan tiada berampun. Apa misalnya? Pembungkaman pers. Kalau sudah begini, buat mereka masalahnya jadi hitam-putih. Karena itulah, dalam menghadapi keadaan semacam itu, tak aneh, kalau mereka malahan datang dengan sikap yang kental memihak, partisan.

Inilah kesan terpenting setelah membaca WARS WITHIN, sebuah babad tentang peperangan intern yang terjadi di dalam salah satu penerbitan yang penting dan berpengaruh di negeri ini: majalah berita mingguan TEMPO, ditulis oleh Janet Steele dari George Washington University, Amerikat Serikat. Sarjana wanita yang bertubuh langsing dan murah senyum ini terpesona dengan majalah tersebut setelah terjadinya pembreidelan terhadap trio-media non-harian, TEMPO, Detik, dan Editor Juni 1994. Tak dia jelaskan mengapa dia hanya jatuh hati pada TEMPO dan tidak pada yang lain. Barangkali karena sejarah TEMPO yang jauh lebih panjang, lebih terkemuka. Lagipula, majalah inilah yang pertama kali memperkenalkan jenis pelaporan berita secara mendalam, in-depth news reporting, di negeri ini dengan bahasa Indonesia yang terjaga.

Dari Amerika, wanita yang semampai, berambut pirang, itu lantas terbang ke sini dengan keyakinan bahwa dia telah menemukan "satu cerita yang hebat" tentang satu "majalah independen" yang jatuh-bangun di zaman rezim militeristis Soeharto. Untuk menggali bahan, dia tidak hanya berkenalan dengan pemimpin redaksi, tetapi juga dengan para petugas cleaning service. Selama enam tahun dia menelusuk di dalam dapur majalah tersebut, seperti ayam yang mau mengeram dengan tekun dia meneliti di perpustakaan, ikut rapat perencanaan, juga turut mengerubungi gorengan di sore hari, ketika para waratwan sedang menikmati saat-saat mengendurkan ketegangan. Begitu rapatnya dia bergaul, sampai-sampai dia pun bisa berbahasa Indonesia dengan cukup lancar.

Tak pelak lagi, Janet telah menemukan dan menuliskan cerita yang menarik. Namun, sayang, kalau ditilik dari mata pers zaman sekarang, dia telah membuat kealpaan yang mendasar. Janet (demikian dia sering disapa oleh para narasumbernya) , baik di dalam Prologue maupun Epilogue, tidak mengisyaratkan kepada para pembaca untuk tidak mencerna WARS WITHIN dengan perspektif masa kini. Tanpa isyarat seperti itu, akan muncul kesimpulan yang gelap, bahwa TEMPO telah menjual harga diri kebebasan pers kepada penguasa, dan mendurhakai kepentingan publik akan informasi, hanya untuk mempertahankan kemakmuran hidupnya.

Kalau ditelisik seluruh halaman buku ini, maka kelihatanlah bahwa batang tubuh majalah tersebut pekat berbalur kompromi, untuk tidak mengatakan berserah diri kepada kekuasaan. Ketika akan menurunkan laporan mengenai peristiwa berdarah Tanjung Priok, awal September 1984, misalnya, penulis masalah nasional, Susanto Pudjomartono (kini Duta Besar untuk Rusia), yang punya hubungan erat dengan L.B. Moerdani, sebelum duduk dan memulai tulisannya, ternyata lebih dulu meminta izin kepada Panglima Angkatan Bersenjata itu, apakah TEMPO boleh "melaporkan investigasi kami sendiri?" Penyerahan diri kepada kanjeng pangeran itu tentu disambut dengan senyuman oleh Benny Moerdani, seraya berucap: "Tentu! Anda punya kebebasan untuk menulis apa saja yang Anda pikirkan!" (h.135).

Kedekatan seseorang wartawan dengan penguasa bisa menimbulkan polarisasi sikap politik di kandang wartawan sendiri, sebagai akibat dari beragamnya latar belakang kecenderungan politik mereka masing-masing. Tak heran, semacam "perang" kepentingan juga muncul dalam episode "Tanjung Priok." Wartawan Bambang Harymurti, yang ketika itu memiliki rekaman pidato Amir Biki, yang menjadi tenaga pemicu demonstrasi yang berbuntut pertumpahan darah selepas salat subuh itu, tidak serta-merta menyerahkan tape kepada Susanto, melainkan kepada redaktur agama, Syu'bah Asa. Sebab ada kecemasan kalau rekaman itu diberikan kepada Susanto, "kemungkinan (dia) akan menunjukkannya kepada Benny Moerdani." (h.126).

Susanto begitu intimnya dengan Benny, sehingga setelah membina hubungan selama beberapa tahun, dia pun bisa berbicara secara akrab dengan Sang Jenderal dalam Bahasa Jawa biasa.

Sikap kompromistis, penuh pertimbangan, supaya bisa bertahan hidup, yang dipaparkam dalam kisah panjang majalah ini, pada akhirnya menjadikan klaim Janet bahwa TEMPO adalah "an independent magazine in Soeharto's Indonesia," sebagaimana yang tersurat dalam subjudul buku yang dia tulis, ternyata tak lebih dari sekedar sinisme yang tidak disengaja.

Seruan "Tiarap …!"

Tanpa mengetahui gejolak politik di dalam kancah kekuasaan, media massa pemberitaan semasa Orde Baru seperti berlayar dalam gelap, tanpa kompas tiada peta, dengan lambung perahu bisa menabrak karang kematian setiap saat. Setelah menikmati suasana kehidupan pers yang relatif bebas sejak terbit awal Maret 1971 sampai tahun 1982, ketika pertama kali TEMPO dibreidel, maka untuk menjaga agar perahu jangan sampai tenggelam lagi di bawah tekanan gelombang kekuasaan politik yang zalim ketika itu, majalah berita tersebut memasang kemudi strategi yang bernama lobby untuk menakar ke mana arus politik bergerak, supaya bisa mengelak.

Segera setelah perintah pembreidelan dikeluarkan Pemerintah tahun 1982, Pemimpin Redaksi Goenawan Mohamad, dalam rapat yang diliputi suasana resah, dengan raut muka yang tegang, menyerukan "Tiarap…!"

Strategi kelangsungan hidup mulai dirancang dan dioperasikan. Sejak saat itu majalah tersebut tampil dengan hati-hati. Lobi sebagai piranti politik dalam mejajagi posisi lawan, mulai masuk ke dalam gaya kerja TEMPO. Para wartawan dianjurkan untuk melobi para pejabat Pemerintah. Ditariklah garis siapa melobi siapa. Goenawan Mohamad sendiri, bagaikan seorang penyair-pertapa yang harus turun dari gunung, mulai mendekati Menteri Sekretaris Negara Moerdiono. Mereka acapkali terlihat bermain tenis bersama.

Tak bisa lain, di balik strategi itu adalah kepentingan umum yang diterlantarkan. Dengan kedekatan pada penguasa, menjaga jangan sampai kepentingan kekuasaan politik terganggu, yang bisa mengancam kelangsungan hidup TEMPO, maka majalah tersebut dengan sengaja telah menutup muka pada kenyataan bahwa pembacalah yang selama ini telah membesarkannya. Apa boleh buat, setengah-pendurhaka an terhadap pers yang bebas, yang dianut majalah tersebut selama ini, sudah dimulai ketika strategi lobi dipancangkan.

Sikap memilah-milah apa yang kalau diberitakan tidak melukai penguasa, menyebabkan tak terhitung banyaknya berita yang diketahui wartawannya yang harus dibuang demi kelangsungan hidup. Termasuk menyembunyikan nama Benny Moerdani, Panglima Angkatan Bersenjata ketika itu, sebagai orang yang berada di belakang penembakan misterius di berbagai tempat untuk memantapkan keamanan kekuasaan Soeharto. Dengan kampanye kekerasan yang brutal itu, dia coba merebut simpati publik dengan jalan menghabisi nyawa mereka yang diduga sebagai penjahat. Kepentingan publik (pembaca dan pembeli) diabaikan. "Begitu banyak informasi yang masuk yang tak dapat kami laporkan," ucap Susanto Pudjomartono. "Haya lima atau sepuluh persen saja yang bisa kami laporkan. Memantau berita (jadi) lebih penting dibandingkan menulis," katanya menguraikan. (h. 135).

Mengagumkan, sekaligus juga membikin tercengang, bagaimana TEMPO telah membiarkan para wartawannya menerima berita-berita yang tak bisa dimuat dari orang di lingkaran dalam kekuasaan, seperti Benny Moerdani, Prabowo Subianto, atau Harmoko. Untuk apa dan dikemanakan berita-berita yang diperoleh Susanto Pudjomartono Cs ketika itu kalau memang tak bisa dimuat? Disimpan di dalam file? Dioper ke wartawan-wartawan asing yang beroperasi di sini? Dijadikan bahan tawar-menawar? Atau mau ditulis kelak di suatu masa? Tak ada jawaban. Karena Janet yang sedang jatuh hati rupanya tidak tergoda untuk bertanya mengenai cacat yang satu ini. Namun, agaknya terlalu salahkah kalau ada yang sampai pada dugaan kuat bahwa para wartawan seperti Amran Nasution, Herry Komar, Karni Ilyas, Susanto Pudjomartono, untuk menyebutkan beberapa nama saja, telah menuai dari lobi-lobi mereka selama ini, terutama ketika mereka akan meniti karier setelah meninggalkan rumah besar mereka yang bernama TEMPO?

Tanpa pesaing yang berarti, TEMPO bergelimang kemakmuran. Namun, tak selamanya biduk berlayar dengan tenang. Guncangnya perimbangan kubu-kubu kepentingan politik di dalam pemerintahan, juga di dalam batang tubuh TEMPO sendiri, membuat penjagalan kedua terhadap majalah tersebut tinggal menunggu waktu. Cuaca tambah memburuk, badai kian bergalau, ketika pada tahun 1993, Goenawan Mohamad mengumumkan niatnya untuk mengundurkan diri sebagai pemimpin redaksi, dan melimpahkan tanggungjawab sehari-harinya kepada orang nomor dua, wartawan flamboyan Fikri Jufri. Dia ingin memusatkan perhatian sebagai penulis saja, dan kalau ada kesempatan, sesekali terbang ke luar negeri memberi kuliah atau ceramah.

Memang, sejak saat-saat awal majalah tersebut berdiri, Goenawan sudah mengisyaratkan wasiat bahwa dia takkan selamanya akan berada di atas, dan bahwa dia tidak ingin bercokol terus di kursinya. Dia bagai dewa yang menggeliat ingin mendobrak kekuasaan mutlak yang berada di genggamannya sendiri. Berbeda dengan sikap tokoh pers lain, yang terus berupaya mengelus-ngelus kursi jabatan dengan harga berapa pun, maka sikap sang penyair memang tiada duanya dalam sejarah pers nasional.

Buat wartawan-wartawan muda yang bergabung dengan TEMPO pada awal 1971, (bahkan sebelumnya, ketika Goenawan Mohamad masih memimpin majalah berita Ekspres) seperti Harun Musawa, Yusril Djalinus, Herry Komar, sosok Goenawan dipuja seperti "setengah Nabi" dalam pembicaraan santai mereka di belakang sang tokoh. Apa yang dikatakannya – dan dia memang selalu berkata jujur dan benar – amatlah sulit untuk ditampik. Dia adalah personifikasi jurnalisme yang netral. Dengan kepribadian yang terkadang mengesankan angkuh, sulit ditebak. Dan jelas tak mudah untuk dibujuk.

Karena itulah niat Mas Goen (demikian dia selalu dipanggil dengan akrab) untuk "lengser" telah menimbulkan guncangan terhadap biduk yang sedang berlayar laju. Keseimbangan mulai terbuai. Di kalangan para wartawan timbul semacam suasana keputusasaan, karena orang yang begitu mengilhami akan pergi meninggalkan kemudi. "Kalau ini adalah bagian dari strategi, maka orang yang berada di atas seharusnya tidak berdiri di pihak siapa pun. Goenawan adalah orang yang semacam itu. Tetapi, Fikri tidak. Jadi, inilah yang telah menggoyang keseimbangan, " kata Bambang Harymurti. (h. 236).

Bambang, yang sekarang menjadi Pemimpin Redaksi, bergabung dengan majalah tersebut awal 1980-an, sebagai koresponden di Bandung. Dia dikenang bukanlah sebagai wartawan dan penulis yang handal, sekalipun dia selalu punya gagasan berita yang baik. Cerdas, pandai bergaul, dan punya kemampuan manajerial yang memadai, barangkali. Mungkin juga dia dianggap sebagai wartawan muda yang loyal. Walaupun dia sempat bersikap "mendua" ketika 32 wartawan bergabung dalam eksodus besar-besaran untuk mendirikan Editor tahun 1987, dengan tujuan terang-terangan untuk "membunuh" tuannya sendiri: TEMPO. Sikap pemodal yang memang tak pernah adil, ditambah polarisasi kecenderungan politik para wartawannya, telah memicu begitu banyaknya staf majalah tersebut yang mengundurkan diri. Tigapuluh-dua wartawan sekaligus! Belum termasuk staf perusahaan. Mungkin, inilah pengunduran diri paling besar dalam dunia pers nasional, barangkali juga internasional.

Fikri Jufri, seorang penulis masalah ekonomi dan bisnis yang tajam dan memikat, dengan penciuman politik yang peka, adalah kutub yang lain. Dia tak punya pengikut, apalagi pengagum sebagaimana Goenawan Mohamad. Kata-kata bersayap Mas Goen tentang "cita-cita kita yang sama mengenai jurnalistik, " yang dia ucapkan dalam rapat persiapan 15 Januari 1971, kurang dari dua bulan sebelum TEMPO terbit (6 Maret 1971), telah terbang disapu angin lalu. Para wartawan yang dianjurkan melobi kanan-kiri, ternyata telah lupa pulang ke rumah mereka sendiri. Yang menuntun mereka bukan lagi "cita-cita kita yang sama mengenai jurnalistik, " tetapi Paduka Tuan yang menjadi teman dekat sekaligus sumber berita dan gantungan hidup di masa depan yang tidak pasti. Para wartawan terperangkap dalam kutub-kutub lobi mereka sendiri. Keputusasaan berbaur dengan bau ketidakpercayaan antara klik yang satu dengan klik yang lain. Masing-masing wartawan tambah merapat dengan lobi dan tambah mendurhakai tuan mereka sendiri. Fikri Jufri tinggal sendirian di kemudi.

Kapal perang rongsokan

Adapun di luar, laut gonjang-ganjing. Tahun 1988, Soeharto mengganti Jenderal Benny Moerdani sebagai Panglima Angkatan Bersenjata, dan memberinya kedudukan yang kurang berkuasa, sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan. Tahun 1993 jabatan yang kurang penting itu pun malahan dicopot pula dari pundaknya. Walaupun tak terbuka, Benny dikabarkan telah memihak pada suara publik yang berada "di bawah tanah" dan bersikap kritis terhadap Soeharto, dalam kaitannya dengan tingkah-laku semua anak-anak "Bapak Pembangunan" itu dalam praktik bisnis yang kotor.

"Pembangkangan" tokoh militer itu mendorong Soeharto mencari dukungan dari kalangan Muslim, dengan Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), B.J. Habibie, sebagai perlambang. Karena kedekatan TEMPO dengan Benny Moerdani, maka bagi banyak pendukung ICMI, majalah berita tersebut dimasukkan ke dalam kelompok yang anti terhadap organisasi besar dari kaum terpelajar yang membawa bendera Islam tersebut. Dan buat mereka, membela majalah itu merupakan sikap yang tak terpuji, naif. (h. 238).

Pada tanggal 11 Juni 1994, TEMPO menurunkan laporan utama mengenai pertikaian di dalam pemerintahan seputar pembelian 39 kapal parang bekas dulunya milik Jerman Timur. Laporan berkisar pada harga beli yang dianggap tidak pantas serta konflik antara Menteri Riset dan Teknologi B.J. Habibie dengan Menteri Keuangan Mar'ie Muhammad. Beberapa perwira tinggi, terutama dari Angkatan Laut, tidak menyetujui pembelian armada kapal bekas itu, dan mereka menganggap B.J. Habibie telah menggerogoti wewenang mereka.

Menurut Fikri Jufri kepada penulis resensi buku ini, TEMPO memutuskan laporan itu karena "uang rakyat yang tidak kecil jumlahnya yang telah disalahgunakan."

Semata-mata itulah, katanya, pertimbangan rapat redaksi dalam memilih topik itu, dan bukan karena kemauannya sendiri. Karena apa yang menjadi berita ditentukan secara kolektif, bukan oleh seseorang, sekalipun dia Pemimpin Redaksi. Tetapi, wartawan TEMPO Agus Basri, yang menulis laporan utama mengenai Habibie dan ICMI, beberapa pekan sebelumnya, kepada Janet Steele, menyebutkan dipilihnya laporan tentang kapal perang rongsokan dari Jerman Timur tersebut "punya maksud tertentu." (h. 240). Agus bahkan menuduh Fikri "bias terhadap Habibie." Menurut Agus lagi, ketika tersiar kabar salah satu dari kapal perang butut dari Jerman Timur itu tenggelam dalam pelayaran menuju Indonesia, saking senangnya, Fikri Jufri mencak-mencak bersyukur dan berteriak dengan sinis, "Alhamdulillah! " Isma Sawitri, yang sedang mengedit laporan itu, terpengaruh oleh Fikri, dan menjadi salah seorang dalam barisan pembenci Habibie.

Agus Basri, sebagaimana yang lebih lanjut dikutip Janet, memoleskan warna yang buruk pada wajah teman sejawatnya sendiri, dengan menceritakan bahwa Max Wangkar, yang menulis laporan utama, "punya masalah dengan Habibie." Karena Max, katanya, seorang pemeluk agama Kristen, lulusan sekolah teologi lagi. Dengan "analisa" pandir seperti yang dilansir Agus Basri itu, menurut Janet, "jelaslah bahwa suasana di dalam majalah tersebut" sungguh telah dipenuhi racun dan bisa. (h. 241).

Sebagaimana yang tercatat dengan tinta merah dalam sejarah pers, TEMPO ditutup untuk kedua kalinya di zaman rezim Soeharto tanggal 21 Juni 1994, dan hanya bisa merangkak kembali setelah banjir reformasi, yang dihumbalangkan para mahasiswa dan rakyat dibarengi tekanan internasional, yang melanda negeri ini.

Sebagai penanggungjawab, Fikri Jufri dengan tegas menampik tuduhan bahwa penyebab pemberangusan adalah sikapnya yang bias terhadap putra mahkota Soeharto, Habibie, dan "ada mainnya" dengan Benny Moerdani, sebagaimana yang dituduhkan oleh Agus Basri. (Jauh sebelum pembreidelan, Susanto Pudjomartono sebagai pelobi Benny sudah menjabat sebagai Pemimpin Redaksi The Jakarta Post, harian berbahasa Inggris di mana TEMPO punya andil.) Menurut Fikri, ada rencana jahat di belakang itu semua. "Habibie mendatangi Soeharto," katanya, sebagai bagian dari rencana busuk untuk membunuh majalah yang dia pimpin. "Karena TEMPO adalah musuh." (h. 239). Ya, musuh kekuasaan yang harus disingkirkan.

Sebagai seorang profesional, kelihatannya tak ada lagi yang lebih menyakitkan hati Fikri Jufri daripada tuduhan kedekatannya pada Benny Moerdani sebagai penyebab bencana pembreidelan. Menjelang akhir Orde Baru, boleh dikatakan tak ada pejabat pemerintah yang suka pada sosok Fikri, terutama Menteri Penerangan Harmoko, yang terus-menerus menunda pengesahan Fikri Jufri sebagai pemimpin redaksi secara resmi. Di dapur sendiri juga begitu. Teman-teman sejawatnya sudah lupa pada jerih-payah anak Gang Haji Murtado ini ketika mengejar Ali Moertopo sampai ke "ujung dunia" (Bali) untuk mendapatkan nafas TEMPO kembali setelah pemberangusan di tahun 1982.

Penulis yang dia kagumi, kawan seperjuangannya sendiri, Goenawan Mohamad, ikut meningkahi suara gendang yang menggiring Fikri hingga terpojok. Kata Mas Goen, sama seperti Susanto Pudjomartono, Fikri juga tergoda (seduced) oleh Benny, yang digambarkan olehnya sebagai perwira tinggi yang sulit dicari tandingannya. Cerdas. Tangkas. Sangat bersahabat. Tahu segala. Berbicara dalam bahasa Inggris yang fasih. Apalagi. "Dia (bersikap) sangat bersahabat terhadap saya setiap kali kami bertemu. Dan Anda bisa tergoda,"ucap Goenawan kepada Janet. (h. 137)

Goenawan dengan bertalu-talu dikutip oleh Janet Steele, dan dia kelihatannya hanyut oleh sumber cerita utamanya ini, sehingga agaknya lupa bersikap berimbang ketika menyangkut keterangan yang mungkin bisa memberikan citra buruk tentang seseorang. Terutama ketika uraiannya menyangkut hubungan Fikri dan Benny. "Semua halaman berisi hasil wawancara dengan Goenawan. Sedangkan saya, yang dituduh macam-macam, cuman sekali diwawancarai. Hah…, ini benar-benar bias," kata Fikri kepada penulis artikel ini.

Katanya, ini bukan pertama kali dia diperlakukan secara tidak adil oleh seorang penulis. Majalah PANTAU, yang diterbitkan oleh Institut Studi Arus Informasi (ISAI) dan justeru punya kedekatan dengan Goenawan Mohamad, juga memperlakukannya seperti itu. Dia dicap sebagai orangnya Benny Moerdani. Tanpa sepatah kata tanggapan pun yang dikutip dari dia.

Episode Pramoedya

Dalam WARS WITHIN Mas Goen keluar tanpa cacat. Dan dia barangkali memang tidak pantas untuk setoreh cacat sekalipun. Seorang pemimpin dikagumi bukan bagaimana dia berpesta-pora dengan pasukannya dalam merayakan kemenangan, tetapi bagaimana dia memberikan martabat kepada musuh yang telah dibikinnya bertekuk lutut. Dan Mas Goenawan punya bakat menerima titisan kebijaksanaan seperti itu.

Begini. Ketika Pramoedya Ananta Toer baru saja dibebaskan dari pulau pembuangan Buru akhir 1970-an, Mas Goen menulis satu artikel yang kritis terhadap pengarang paling terkemuka yang berahang liat itu. Goenawan memanggil saya (penulis artikel ini), yang duduk tak jauh dari meja-tulisnya. Disuruhnya saya membaca ulang rancangan tulisan itu. (Seingat saya, ini untuk ketiga kalinya dia menunjukkan tulisannya kepada saya, sebelum diturunkan, mungkin sekedar untuk menguji data yang terkandung di dalam tulisan itu. Dan saya, sampai kini mengenang dengan rasa hormat yang tinggi pada sikapnya yang rendah hati seperti itu.)

Waktu itu, saya usulkan kepadanya untuk meminta Pram membaca tulisan itu lebih dulu. Agak marah, nada suaranya meninggi: "Mengapa harus dia baca dulu…?" Saya jawab dengan spontan, walau sedikit gugup: "Untuk mencek kebenaran fakta, dan memberikan kesempatan kepadanya untuk menjawab. Kalau ditunggu reaksinya setelah terbit, `kan dia dilarang menulis?!" Mas Goen diam. Kemudian, dia menyelipkan tulisannya itu ke dalam laci, dan di situ tulisan tadi hanya tinggal menjadi milik waktu untuk selama-lamanya. Begitulah rupanya cara Sang Pemimpin menghargai martabat seorang bekas pesakitan yang dia anggap pernah berperangai sewenang-wenang ketika suatu waktu dulu sempat berada di puncak kejayaan.

Episode itu tak muncul dalam WARS WITHIN. Karena Janet kelihatannya hanya terpikat pada penggalan kedua dan terakhir dari sejarah perjalanan TEMPO. Lagipula, sumbernya, selain Goenawan Mohamad, terlalu terpusat pada Bambang Harymurti, yang sebenarnya baru tampil di babak kedua dari penggalan perjalanan hidup majalah tersebut. Memang, sebelum 1980-an benturan dengan kekuasaan tidak begitu sengit, karena suasana kebebasan pers yang relatif longgar. Tetapi, peperangan melawan birokrasi intern majalah itu sendiri, tak kalah sengit. Raksasa-raksasa seperti Christianto Wibisono dan Usamah (karena manipulasi yang berkaitan dengan pemberitaan dan keuangan) sampai terjungkal. Dan di atas segalanya, orang setangguh sastrawan-wartawan Bur Rasuanto pun tak cukup kuat untuk bertahan.

Edisi pertama majalah tersebut dicetak 12.500. Terjual habis. Terbitan kedua dilipat-duakan. Habis! Pada awal 1980-an tiras majalah tersebut sudah berkisar di angka 160.000. Kemajuan pesat. Tetapi, tidak diikuti dengan manajemen yang baik. Jam terbitnya selalu terlambat. Bur Rasuanto, yang berambisi untuk memimpin majalah tersebut ke dalam, sedangkan Goenawan hanya bertanggungjawab keluar, kelimpungan menghadapi batas waktu cetak yang selalu molor. Berbagai kiat dia lakukan untuk mengatasi keadaan. Pernah disediakan "pool" uang sebesar sebulan gaji. Yang paling produktif menggondol uang itu. Tapi, karena protes dari wartawan yang kalah, maka "pool" itu dianggap "tak aci" dan langsung distop.

Singkat cerita, Bur, yang berdarah Komering itu, sudah tak tahan lagi melihat naskah-naskah yang tetap saja menumpuk tidak dikerjakan tepat waktunya oleh para redaktur dan menjadi biang-keladi keterlambatan. Di kantor cikal-bakal TEMPO, yang terletak di Jalan Senen Raya, di seberang kantor pegadaian sekarang, pada suatu hari yang naas, Bur menyambar naskah yang menganggur belum tersentuh juga di meja seorang redaktur. Dia memang penulis yang cepat. Tulisan yang sudah dia rampungkan sendiri itu lantas dia turunkan.

Tak ayal, redaktur yang bersangkutan melapor kepada Mas Goen, bahwa Bur telah menabrak prosedur. Goenawan membenarkan protes itu. Bur jadi naik darah. "Ah, kau juga …," katanya berang, seraya melayangkan secangkir kopi ke muka Goenawan. Luput, dan cangkir itu pecah membentur dinding. Goenawan tak terpercik barang setetes kopi pun. Ketika berjalan melewati ruangan reporter, entah mau pergi ke mana, Goenawan masih bisa senyum bercanda dan berkata, "Kalian lihat tadi tenaga dalam saya…?" Kelakar itu membuat kami, para reporter, tersenyum getir.

Seminggu setelah peristiwa "secangkir kopi" itu, rapat besar digelar di Gedung Pembangunan Jaya, di Jalan Thamrin, Jakarta. Eric Samola, sebagai Pemimpin Umum menegaskan "tak ada harta milik perusahaan, sekecil apa pun, yang boleh dirusak." Esoknya, dan untuk selamanya, Bur Rasuanto sudah tidak bersama kami lagi. Tamatlah riwayat dua-serangkai yang sesungguhnya amat ideal itu. Goenawan yang bijak dan Bur yang pekerja keras.

Bendera yang tumbang

Sebagai orang pertama yang diwawancarai Janet Steele, penulis resensi ini, sebagai mantan wartawan TEMPO, mengatakan kepadanya bahwa saya keluar tahun 1984 (bukan 1985 seperti yang dia tulis) karena majalah itu "telah kehilangan idealisme" dan "telah menyimpang dari misi semula." (h.208).

Ketika itu, Janet datang dengan sikap yang berapi-api memuja Goenawan Mohamad dan timnya. Sekalipun majalah yang dipimpinnya sudah diberangus, katanya, orang tetap mengenangnya, dan malah ikut berjuang untuk mengembalikan hak hidup kepada media berita yang dia kelola. Saya tidak bermaksud mengecilkan peran Goenawan, tetapi kepada Janet, yang datang bersama Melani Budianta ketika itu, saya katakan: "Jangan melupakan faktor lain. Ketika tim Goenawan, yang malahan diperkuat oleh Arief Budiman dan Taufiq Ismail, bekerjasama dengan B.M. Diah, membangun majalah berita Ekspres, namun tim itu tidak berhasil. Jadi Ciputra dan Ali Sadikin, yang kemudian menjadi kawan seperjalanan TEMPO, seharusnya diletakkan juga di meja catur."

"Idealisme" yang saya katakan telah dipertentangkan secara bertolak belakang oleh Janet dengan "kemakmuran" material yang sudah diraih majalah itu. Yang saya maksudkan "meninggalkan idealisme," tak lain adalah bahwa TEMPO sudah meninggalkan "bendera" yang dia kibarkan selama lebih dari satu dasawarsa sebagai majalah berita yang dinanti-nanti publik. Karena laporan-laporannya sering tidak ditemukan di surat-surat kabar atau media lain. Dia malah sering menjadi sumber berita bagi koran-koran terpandang seperti KOMPAS, Sinar Harapan, The Straits Times Singapura dan lain-lain, juga kantor berita AFP dan Reuters. Puncaknya adalah laporan pembongkaran kebobrokan perusahaan minyak negara Pertamina di bawah pimpinan Ibnu Sutowo, dengan Fikri Jufri sebagai ujung tombak penulisnya. Majalah tersebut juga membuat scoop yang membuat iri para pemburu berita, ketika dia memuat wawancara khusus dengan kroni paling top Soeharto, raja semen dan raja segala raja, Liem Swie Liong.

Melalui satu rapat yang menentukan di Wisma TEMPO di Sirnagalih, dekat Puncak Pass, "bendera" kebanggaan itu diturunkan. Tak sebagaimana biasa, Goenawan membuka rapat dengan naskah di tangan. Intinya, perubahan orientasi, dari majalah yang dinanti karena beritanya yang eksklusif, menjadi majalah yang "mengekor" pada kehangatan berita yang dibawakan media harian.

Fikri Jufri, Lukman Setiawan, dan saya, menentang pembalikan haluan itu. Goenawan berargumentasi dengan mengatakan, "eksklusif" tidak hanya berarti media lain tidak memilikinya. "Eksklusif" juga berarti media lain, katanya, bisa saja memilikinya, tapi TEMPO "eksklusif" karena lebih mendalam. Saya langsung angkat tangan, menolak, dengan mengatakan "kedalaman" takkan bisa dicapai, karena wartawan TEMPO dilarang "mangkal" sebagai bagian dari perang sucinya memberantas "wartawan amplop." Bagaimana mungkin mendapatkan kedalaman, atau kutipan-kutipan yang spontan, khas, menarik, kalau narasumber tidak mengenal wartawan yang mewawancarainya.

Saya tak habis pikir, mengapa Goenawan tidak mau berterus-terang saja bahwa majalah yang dipimpinnya tidak bisa lagi mengandalkan diri pada individu-individu wartawannya yang memang tangguh, seperti George Aditjondro dan lain-lain. Tapi, harus tunduk pada satu sistem. Untuk mempertahankan kemakmuran, yang diperlukan adalah kesetiaan pada sistem, dan bukan pada kehebatan orang-perorang. Tiga suara menentang, melawan seluruh floor yang mengamini Goenawan, maka tumbanglah sudah "bendera" TEMPO yang berkibar selama ini. Jadinya dia tinggal hanya sedikit lebih berharga dari kliping-kliping koran. Pelanggan memang tak bergeser. Cuma, dalam satu dasawarsa, sampai dia dibungkam tahun 1994, tirasnya hanya naik sekitar 20.000 eksemplar.

Setelah rapat itu, perubahan besar pun terjadi di dalam dapur. Para wartawan tidak lagi mengejar-ngejar berita, sliweran di jalan-jalan, menggali di sana-sini. Ruangan perpustakaan, tempat koran menumpuk, jadi banjir wartawan. Maka, yang diperlukan tidak lagi ketajaman pena, tetapi berapa panjang dan berapa kasatnya lidah untuk berdebat di dalam rapat untuk menentukan berita hangat yang mana yang harus di-follow-up- i. Episode penting ini juga tak terungkap dalam WARS WITHIN.

Sebagai seorang perantau di negeri orang, Janet Steele terkesan kurang ketat dalam memverifikasi keterangan narasumbernya. Mungkin, memang ada yang sudah lupa pada peristiwa yang terjadi lebih 30 tahun lalu. Seperti Salim Said, yang mengaku ketika majalah tersebut baru berumur sejagung, dialah katanya yang bertanggungjawab dalam program pendidikan dan pelatihan untuk tenaga wartawan baru. Jabatan yang dia pegang itu bukan di TEMPO, tapi barangkali di Angkatan Bersenjata, di mana dia pernah bekerja. Sejawatnya juga kemungkinan bisa ternganga ketika dia mengaku bahwa dialah yang berkeliling dengan mengendarai scooter bersama Syahrir Wahab mencari surat izin terbit untuk TEMPO, dan bukan Fikri Jufri! Mungkin Salim Said tidak lupa. Melainkan Janet yang salah salin dari catatannya. Nama redaktur internasional itu tumpang tindih dengan nama Nadjib Salim, reporter yang kemudian dipindahkan ke bagian pendidikan.

Janet juga kurang awas dengan tabiat sehari-hari narasumbernya. Dia tak tahu bahwa di Deli, misalnya, "membual" bukanlah perbuatan dosa. Dia justeru dicari sebagai hiburan, malah. Karena, tujuannya bukan untuk mencari keuntungan materiil, tetapi untuk mencari efek lucu, yang kalau diceritakan kembali di kedai kopi, siapa-siapa saja yang jadi "korban" penipuan dalam gaya ini, maka orang se-kedai pun akan tertawa, terhibur.

Maka, adalah orang Medan, Amarzan namanya. Nasib yang buruk telah menyebabkannya terbuang ke Buru. Menurut kisah Janet Steele, Amarzan yang baru pulang sebagai "orang rantai" pada tahun 1979, mendatangi Susanto Pudjomartono, dan menawarkan laporan tentang suasana gelombang pembebasan terakhir dari pulau pembuangan itu. Sedapnya pula adalah bahwa Susanto tidak punya kesempatan membantah bualan itu. Karena dia tentu tahu, Amarzan berkenalan dengan TEMPO, karena majalah itu akan menulis satu laporan utama untuk menyambut pembebasan Tapol yang sangat bersejarah tersebut. Di dalam rapat, muncul pertanyaan, bagaimana menceritakan keadaan Buru ketika akan dikosongkan? Seorang peserta rapat perencanaan menjanjikan bahwa bakal ada seorang penulis yang memang berbakat, yang jadi Tapol dan dibuang ke Buru, yang boleh jadi bersedia menuliskan catatan. Maka, Amarzan pun dicarilah. Dan dia bersedia menuliskan satu laporan.

Menurut cerita Janet, "Tak lama kemudian, Amarzan menemukan surat di bawah pintunya. Surat itu berasal dari Susanto yang menyatakan keinginan untuk mengajaknya bergabung dalam proyek `Apa & Siapa' TEMPO." Wah! Menemukan surat di bawah pintu, tak tahu siapa yang membawanya? Amboi makjang…! Ini adalah gaya Medan, bagaimana membuat diri supaya kelihatan "tinggi sebenang." Dan setelah membaca "bual" yang dia letupkan itu, tentulah Amarzan tersipu-sipu, terhibur… Dasar!

Mungkin masih ada saja kesalahan-kesalahan yang kurang berarti dalam satu kisah tentang satu penerbitan pers yang begitu penting dan sudah berusia 30 tahun lebih. Seperti menyebutkan Zulkifly Lubis sebagai salah seorang pendiri TEMPO, mentang-mentang anak Medan yang "luwes" ini sekarang duduk sebagi salah seorang direktur. Bagaimanapun, Janet Steele telah menyelesaikan pekerjaan besar dalam menyusun satu dokumen penting tentang sepenggal sejarah pers dari satu negeri yang jauh, di mana kebebasan pers masih merupakan angan-angan yang musykil. Dan dia telah menulisnya dengan empati dari hati wanitanya yang dalam, sebelum orang lokal, terutama orang TEMPO sendiri, belum sempat berpikir untuk menuliskan riwayatnya sendiri yang begitu kaya. ***

Martin Aleida
Sastrawan, mantan wartawan TEMPO
Agu
22nd

Mohammad Natsir (1908-1993)

Files under Tak Berkategori | Comments Off
Oleh: Shofwan Karim

Mohammad Natsir adalah seorang tokoh kunci dan pejuang yang gigih mempertahankan negara kesatuan RI, yang sekarang menjadi pembicaraan hangat karena melemahnya rasa kesatuan bangsa sebagai akibat reformasi yang kebablasan. Berkali-kali dia menyelamatkan Republik dari ancaman perpecahan.

Ia lah yang pada tahun 1949 berhasil membujuk Syafruddin Prawiranegara, yang bersama Sudirman merasa tersinggung dengan perundingan Rum-Royen, untuk kembali ke Jogya dan menyerahkan pemerintahan kembali kepada Sukarno Hatta. Dia jugalah kemudian yang berhasil melunakkan tokoh Aceh, Daud Beureuh yang menolak bergabung dengan Sumatera Utara pada tahun 1950, terutama karena keyakinan Daud Beureuh akan kesalehan Natsir, sikap pribadi yang tetap dipegang teguh sampai akhir hayatnya.

Natsir juga seorang tokoh pendidik, pembela rakyat kecil dan negarawan terkemuka di Indonesia pada abad kedua puluh. Kemudian ketika kegiatan politiknya dihambat oleh penguasa, dia berjuang melalui dakwah dengan membentuk Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dimana dia berkiprah sampai akhir hayatnya membangun masyarakat di kota-kota dan pedalaman terpencil.

Natsir dilahirkan di Alahan Panjang, Solok pada tanggal 17 Juli 1908. Kedua orang tuanya berasal dari Maninjau. Ayahnya Idris Sutan Saripado adalah pegawai pemerintah dan pernah menjadi Asisten Demang di Bonjol. Natsir adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Dia kemudian diangkat menjadi penghulu atau kepala suku Piliang dengan gelar Datuk Sinaro Panjang di Pasar Maninjau.

Natsir pada mulanya sekolah di Sekolah Dasar pemerintah di Maninjau, kemudian HIS pemerintah di Solok, HIS Adabiyah di Padang, HIS Solok dan kembali HIS pemerintah di Padang. Natsir kemudian meneruskan studinya di Mulo Padang, seterusnya AMS A 2 (SMA jurusan Sastra Barat) di Bandung. Walaupun akan mendapatkan beasiswa seperti di Mulo dan AMS untuk belajar di Fakultas Hukum di Jakarta atau Fakultas Ekonomi di Rotterdam, dia tidak melanjutkan studinya dan lebih tertarik pada perjuangan Islam.

Pendidikan agama mulanya diperoleh dari orang tuanya, kemudian ia masuk Madrasah Diniyah di Solok pada sore hari dan belajar mengaji Al Qur’an pada malam hari di surau. Pengetahuan agamanya bertambah dalam di Bandung ketika dia berguru kepada ustaz Abbas Hasan, tokoh Persatuan Islam di Bandung. Kepribadian A Hasan dan tokoh-tokoh lainnya yang hidup sederhana, rapi dalam bekerja, alim dan tajam argumentasinya dan berani mengemukakan pendapat tampaknya cukup berpengaruh pada kepribadian Natsir kemudian.

Natsir mendalami Islam, bukan hanya mengenai teologi (tauhid), ilmu fiqih (syari’ah), tafsir dan hadis semata, tetapi juga filsafat, sejarah, kebudayaan dan politik Islam. Di samping itu ia juga belajar dari H. Agus Salim, Syekh Ahmad Soorkati, HOS Cokroaminoto dan A.M. Sangaji, tokoh-tokoh Islam terkemuka pada waktu itu, beberapa di antaranya adalah tokoh pembaharu Islam yang mengikuti pemikiran Mohammad Abduh di Mesir. Pengalaman ini semua memperkokoh keyakinan Natsir untuk berjuang dalam menegakkan agama Islam.

Pengalaman organisasinya mulai ketika dia masuk Jong Islamieten Bond (JIB) di Padang. Di Bandung dia menjadi wakil ketua JIB pada 1929-1932, menjadi ketua Partai Islam Indonesia cabang Bandung, dan pada tahun empat puluhan menjadi anggota Majlis Islam A’la Indonesia (MIAI), cikal bakal partai Islam Masyumi (Majlis Syura Muslimin Indonesia) yang kemudian dipimpinnya.

Ia menjalin hubungan dengan tokoh politik seperti Wiwoho yang terkenal dengan mosinya “Indonesia Berparlemen” kepada pemerintah Belanda, dengan Sukarno, dan tokoh politik Islam lainnya yang kemudian menjadi tokoh Masyumi, seperti Kasman Singodimejo, Yusuf Wibisono dan Mohammad Roem.

Berbeda dengan tokoh pergerakan lainnya, sejak semula Natsir juga bergerak di bidang dakwah untuk membina kader. Pada mulanya ia aktif dalam pendidikan agama di Bandung, kemudian mendirikan lembaga Pendidikan Islam (Pendis) yang mengasuh sekolah dari TK, HIS, Mulo dan Kweekschool yang dipimpinnya 1932-1942.

Di samping itu ia rajin menulis artikel di majalah terkemuka, seperti Panji Islam, Al Manar, Pembela Islam dan Pedoman Masyarakat. Dalam tulisannya dia membela dan mempertahankan Islam dari serangan kaum nasionalis yang kurang mengerti Islam seperti Ir. Sukarno dan Dr. Sutomo. Khusus dengan Sukarno, Natsir terlibat polemik hebat dan panjang antara tahun 1936-1940an tentang bentuk dan dasar negara Indonesia yang akan didirikan. Natsir menolak ide sekularisasi dan westernisasi ala Turki di bawah Kemal Attaturk dan mempertahankan ide kesatuan agama dan negara. Tulisan-tulisannya yang mengeritik pandangan nasionalis sekuler Sukarno ini kemudian dibukukan bersama tulisan lainnya dalam dua jilid buku Capita Selecta.

Kegiatan politik Natsir menonjol sesudah dibukanya kesempatan mendirikan partai politik pada bulan November 1945. Bersama tokoh-tokoh Islam lainnya seperti Sukiman dan Roem, dia mendirikan partai Islam Masyumi, menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan anggota Badan Pekerja KNIP.

Dalam kabinet Syahrir I dan II (1946-1947) dan dalam kabinet Hatta 1948 Natsir ditujuk sebagai Menteri Penerangan. Sebagai menteri, tanpa rasa rendah diri dia menerima tamunya di kantor menteri dengan pakaian amat sederhana, ditambal, sebagaimana ditulis kemudian oleh Prof. George Kahin, seorang ahli sejarah Indonesia berkebangsaan Amerika yang waktu itu mengunjunginya di Yogya.

Ketika terbentuknya negara RIS sebagai hasil perjanjian KMB pada akhir Desember 1949, Natsir memelopori kembali ke negara kesatuan RI dengan mengajukan Mosi Integral kepada parlemen RIS pada tanggal 3 April 1950. Bersama dengan Hatta yang juga menjabat sebagai Perdana Menteri RIS, ide ini tercapai dengan dibentuknya negara kesatuan RI pada 17 Agustus 1950. Mungkin atas jasanya itu, Natsir ditunjuk sebagai Perdana Menteri oleh Sukarno, atau juga karena pengaruhnya yang besar, sebagaimana kemudian terlihat dari hasil Pemilu 1955.

Tidaklah mudah menjadi Perdana Menteri dalam keadaan sulit ketika itu. Hampir di semua daerah terdapat perasaan bergalau akibat perang yang menimbulkan rasa ketidak-puasan di mana-mana. Beberapa tokoh yang selama ini berjuang untuk Republik berontak, seperti Kartosuwiryo dan kemudian Kahar Muzakkar. Pengikut RMS dan Andi Azis yang berontak kepada Hatta masih belum tertangani. MMC (Merapi Merbabu Complex) yang beraliran komunis berontak di Jawa Tengah. Daud Beureuh menolak menggabungkan Aceh ke dalam propinsi Sumatera Utara.

Walaupun kemudian Natsir pada bulan Januari 1951 berhasil membujuk Daud Beureuh yang sengaja berkunjung ke Aceh sesudah Assaat dan Syafruddin gagal meyakinkannya, namun Daud Beureuh meninggalkan pemerintahan dan pulang kekampungnya di Pidie. Dengan berat hati Natsir terpaksa membekukan DPR Sumatera Tengah dan mengangkat gubernur Ruslan Mulyoharjo sebagai gubernur. Dalam waktunya yang pendek (September 1950-April 51) Natsir membawa RI dari suasana revolusi ke suasana tertib sipil dan meletakkan dasar politik demokrasi dengan menghadapi bermacam kendala, termasuk perbedaan pendapat dengan Sukarno dan partainya PNI.

Sesudah meletakkan jabatannya di pemerintahan, Natsir aktif dalam perjuangan membangun bangsa melalui partai dan menjadi anggota parlemen. Pada pemilihan umum 1955 Partai Islam Masyumi yang dipimpinnya mendapat suara kedua terbanyak sesudah PNI walaupun memperoleh kursi yang sama dengan PNI. Pada sidang-sidang konstituante antara 1956-1957 dengan gigih dia mempertahankan pendiriannya untuk menjadikan Islam sebagai dasar negara. Sebelum sidang konstituante ini berhasil menetapkan Anggaran Dasar Negara, Sukarno memaklumkan kembali ke UUD 1945 dan membubarkan parlemen serta konstituante hasil pemilu (melalui Dekrit 5 juli 1959 --FF). Natsir menjadi penantang ide dan politik Sukarno yang gigih dan teguh.

Penantangannya kepada Sukarno terutama karena Sukarno kemudian berubah menjadi pemimpin yang otoriter dan menggenggam kekuasaan di tangannya sendiri dengan bekerjasama dengan Partai Komunis Indonesia dan partai lain yang mau menuruti kemauan Sukarno. Bukan saja Natsir, Hatta pun malah juga terdesak. Hatta meletakkan jabatannya sebagai usaha mengembalikan presiden Sukarno ke jalur yang benar, tapi hal itu malah makin membuat Sukarno leluasa. Natsir makin terjepit karena pengaruh PKI yang anti Islam.

Pergolakan politik akibat perebutan hegemoni Islam dan non Islam yang mencuat secara demokratis di parlemen diikuti pula oleh kekisruhan ekonomi dan politik secara tidak terkontrol di luar parlemen. Hal ini berujung dengan munculnya kegiatan kedaerahan yang berpuncak pada pemberontakan daerah dan PRRI pada tahun 1958. Natsir yang dimusuhi Sukarno bersama Sjafruddin Prawiranegara dan Burhanuddin Harahap melarikan diri dari Jakarta dan ikut terlibat dalam gerakan itu. Karena itu partai Masyumi dan PSI Syahrir dipaksa membubarkan diri oleh Sukarno.

Ketika PRRI berakhir dengan pemberian amnesti, Natsir bersama tokoh lainnya kembali, namun kemudian ia dikarantina di Batu, Jawa Timur (1960-62), kemudian di Rumah Tahanan Militer Jakarta sampai dibebaskan oleh pemerintahan Suharto tahun 1966. Ia dibebaskan tanpa pengadilan dan satu tuduhanpun kepadanya.

Walaupun tidak lagi dipakai secara formal, Natsir tetap mempunyai pengaruh dan menyumbang bagi kepentingan bangsa, misalnya ikut membantu pemulihan hubungan Indonesia dengan Malaysia. Melalui hubungan baiknya, Natsir menulis surat pribadi kepada Perdana Menteri Malaysia Tungku Abdul Rahman guna mengakhiri konfrontasi Indonesia-Malaysia yang kemudian segera terwujud.

Karena tidak mungkin lagi terjun ke politik, Natsir mengalihkan kegiatannya, berdakwah melalui perbuatan nyata dalam memperbaiki kehidupan masyarakat. Pada tahun 1967 dia mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia yang aktif dalam gerakan amal.

Lembaga ini dengan Natsir sebagai tokoh sentral, aktif berdakwah bukan saja kepada masyarakat dan para mahasiswa di Jakarta dan kota lainnya, tapi juga di daerah terasing, membantu pendirian rumah sakit Islam dan pembangunan mesjid, dan mengirim mahasiswa tugas belajar mendalami Islam di Timur Tengah. Bahkan di antara mahasiswa ini kemudian menjadi tokoh nasional yang religius seperti Amien Rais Yusril Ihza Mahendra, dan Nurchalis Majid, di antara beberapa tokoh penggerak orde reformasi yang mengganti orde Suharto.

Kegiatan dakwahnya ini telah menyebabkan hubungannya dengan masyarakat luas tetap terpelihara, hidup terus sebagai pemimpin informal. Kegiatan ini juga membawa Natsir menjadi tokoh Islam terkenal di dunia internasional dengan menjadi Wakil Presiden Kongres Islam se dunia (Muktamar Alam Islami) yang berkedudukan di Karachi (1967)dan anggota Rabithah Alam Islami (1969) dan anggota pendiri Dewan Masjid se Dunia (1976) yang berkedudukan di Mekkah. Di samping bantuan para simpatisannya di dalam negeri, badan-badan dunia ini kemudian banyak membantu gerakan amal DDII, termasuk pembangunan Rumah Sakit Islam di beberapa tempat di Indonesia. Pada tahun 1987 Natsir menjadi anggota Dewan Pendiri The Oxford Center for Islamic Studies, London.

Namun kebebasannya hilang kembali karena ia ikut terlibat dalam kelompok petisi 50 yang mengeritik Suharto pada tahun 1980. Ia dicekal dalam semua kegiatan, termasuk bepergian ke luar negeri. Sejak itu Natsir aktif mengendalikan kegiatan dakwah di kantor Dewan Dakwah Salemba Jakarta yang sekalian berfungsi sebagai masjid dan pusat kegiatan diskusi, serta terus menerus menerima tamu mengenai kegiatan Islam.

Atas segala jasa dan kegiatannya pada tahun 1957 Natsir memperoleh bintang kehormatan dari Republik Tunisia untuk perjuangannya membantu kemerdekaaan Negara-negara Islam di Afrika Utara. Tahun 1967 dia mendapat gelar Doktor HC dari Universitas Islam Libanon dalam bidang politik Islam, menerima Faisal Award dari kerajaan Saudi Arabia pada tahun 1980 untuk pengabdiannya pada Islam dan Dr HC dari Universitas Sains dan Teknologi Malaysia pada tahun 1991 dalam bidang pemikiran Islam.

Pada tanggal 7 Februari 1993 Natsir meninggal dunia di Jakarta dan dikuburkan di TPU Karet, Tanah Abang. Ucapan belasungkawa datang tidak saja dari simpatisannya di dalam negeri yang sebagian ikut mengantar jenazahnya ke pembaringan terakhir, tapi juga dari luar negeri, termasuk mantan Perdana Menteri Jepang, Takeo Fukuda yang mengirim surat duka kepada keluarga almarhum dan bangsa Indonesia.

Walaupun telah tiada, buah karya dan pemikirannya dapat dibaca dari puluhan tulisannya yang sudah beredar, mulai dari bidang politik, agama dan sosial, di samping lembaga-lembaga amal yang didirikannya. Perkawinannya dengan Nur Nahar, aktifis JIB pada tahun 1934 di Bandung telah memberinya enam orang anak.

__________________________________

DAFTAR KEPUSTAKAAN
  • Ahmad Syafi'i Ma'arif, Peta Bumi Intelektualisme Islam di Indonesia, (Bandung : Mizan, 1993)
  • Ajib Rosidi, M. Natsir, Sebuah Biografi, (Jakarta : Girimukti Pasaka, 1990)
  • Anwar Harjono, et-al., Pemikiran dan Perjuangan Mohammad Natsir, (Jakarta : Pustaka Firdaus, 1996)
  • Lukman Harun, "Hari-Hari Terakhir PDRI" dalam Endang Saifuddin Anshari dan Amin Rais, Pak Natsir 80 Tahun, Pandangan dan Penilaian Generasi Muda, (Jakarta : Media Dakwah, 1988)
  • Mohammad Natsir, “Politik Melalui Jalur Dakwah” dalam Memoar Senarai Kiprah Sejarah,(Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1993)
  • Mohammad Natsir, Pendidikan, Pengorbanan, Kepemimpinan, Primordialisme dan Nostalgia, (Jakarta : Media Dakwah, 1987)
  • Tohir Luth, M.Natsir, Dakwah dan pemikirannya, (Jakarta: Gema Insani, 1999)
  • Yusril Ihza Mahendra, Modernisme Islam dan Demokrasi, Pandangan Politik M.Natsir dalam Islamika No.3, 1994
  • Yusuf Abdullah Puar, Mohammad Natsir 70 tahun, (Jakarta: Pustaka Antara, 1978)
Agu
20th

BILA MASIH ADA ANAK MUDA

Agu
20th

CINTA SUCI

Files under Tak Berkategori | Comments Off
CINTA SUCI

Ya Allah…………….
Betapa gersang hatiku ini tanpa-Mu disisiku
Mungkinkah masih ada cinta darimu untukku
Oh tuhanku …………..
Selama ini aku selalu melupakan dirimu
Padahal aku tahu hanya engkaulah yang pantas aku cintai
Dan hanya namaMulah yang pantasku sebut disetiap langkahku
Tiada yang lain yang pantas aku cintai selain engkau ya tuhanku
Oh tuhanku ……………….
Selama ini aku telah melupakanmu
Dan aku selalu menjauh dari dirimu
Lupa atas segala nikmat yang telah kau berikan pada diriku
Lupa atas segala cinta yng telah kau berikan pada diriku
Ya Rabb …………….. …
Masih adakah pintu maafMu bagi diri yang hina dan kotor ini
Kutahu hanya padamulah cinta ini kupersembahkan
Cinta yang tak pernah mengharapkan apapun
Cinta yang tulus dan suci yang tak pernah hilang sampai kapanpun
Dan cinta suci itu hanya ada pada-Mu ya Rabb………
Ya Rabb ………..
Ingin sekali kugapai dan kusimpan cinta yang tulus dan suci dari-Mu
Cinta yang membawaku pada kedamaian yang abadi



The true love is Allah …………………..forever



By created :
Someone,something,and nothing







Sebuah puisi untuk sahabat

Sahabatku ………????
Pernahkah kau tahu …
Apa yang sedang kupikirkan saat ini
Tentang dirimu ………….
Yang kini jauh dariku
Sahabat ku…………..
Setiap saat aku selalu ingat
Dengan suara mu
Yang selalu Terngiang di telingaku
dan senyummu
yang selalu terpecik di bibir manismu
oh sahabatku…………..
andai waktu bisa kembali seperti dahulu
seperti saat-saat kau ada disampingku
mungkin hari-hari ini akan terasa indah
dan penuh kebahagianbahagian
oh sahabatku …………..
mungkinkah kau akan kembali
datang dan menemaniku
melanjutkan perjuangan
yang belum selesai ini
oh sahabatku
kurindu canda tawamu yang selalu menghiasi dirimu
uluran tanganmu yang selalu kau berikan
padaku disaat kubutuh
sahabatku ………………….


Januari 2007




Senyum

Tersrnyumlah, maka seluruh dunia akan tersenyum bersama mu

Menangislah, maka anda akan menangis sendirian

Tersenyum bukan hanya sebuah ibadah, tetapi dengan senyum dapat memudahkan segala masalah

Harapan, bukanlah sesuatu yang akan terjadi dimasa datang, tetapi telah kita rasakan dan nikmati dari sekarang


Januari 2007
Agu
20th

Sebatas Merayakan, Belum Menikmati

Files under Tak Berkategori | Comments Off
Barusan dalam perjalanan dari kampus Unpad Jatinangor ke tempat teman saya di pasar cikuda terhambat macet, sehingga saya mesti berjalan kaki sejauh 1 km lebih. Hambatannya, pawai peringatan hari kemerdekaan yang dilaksanakan oleh masyarakat Jatinangor Sumedang.

Ragam atraksi di tunjukan masyarakat sesuai dengan kearifan, kapasitas dan kemampuan financial masyarakat tentunya. Ada yang kreatif ada yang konvensional. Tetapi semuanya mendapatkan apresiasi dari masyarakat.

Saya ingat masa-masa ketika menjadi santri di Perguruan Thawalib Padang Panjang. Dua kali peringatan kemerdekaan berturut-turut di beri tanggung jawab untuk memimpin rombongan karnavaln Perguruan Thawalib Padang Panjang.

Pola atraksi yang disajikan tentunya berbeda, tetapi selalu ada kesamaan dalam menyiapkan atraksi; begadang bermalam-malam menyiapkan konsep karnaval dengan dukungan dana yang minim. Bahkan cenderung tekor. Tetapi semuanya dijalankan dengan suka cita.

Atraksi terakhir yang saya susun dengan teman-teman adalah membuat meriam dari bambu, lengkap dengan ledakannya, dan membuat robot-robotan dari kardus. Teman-teman mendaulat saya untuk masuk dalam kardus itu menjalankan peran robotnya. Persis film komed Warkop Dono Kasino Indro tahun 80an tentang mahasiswa yang membuat robot yang isinya manusia.

Capai dan puas kami nikmati bersama setelah pawai hari kemerdekaan selesai. Capai karena memang kegiatan ini mengurus materi dan emosi. Puas karena masyarakat memberikan apresiasi terhadap atraksi kami. Disetiap jalan yang kami lewati, robot dengan meriam selalu mendapat applaus dari masyarakat setempat.

Tetapi sepertinya saya, dan juga masyarakat lain, baru bisa sebatas merayakan hari kemerdekaan saja. Belum bisa beranjak lebih jauh untuk menikmati kemerdekaan itu sendiri.

Setelah perayaan itu kembali kami disulitkan oleh problem-problem keseharian. SPP yang mesti dibayar tepat waktu dan cukup mahal, harga sembako yang tinggi juga kesulitan untuk mendapatkan buku. Indonesia sudah merdeka dan kami merayakannya, tetapi kami tidak mendapat support untuk menjadi pelajar yang menikmati masa-masa belajar. Itikad untuk memperbaiki kualitas hidup seolah tidak mendapat dukungan sama sekali.

Sepertinya peserta karnaval di Jatinangor pun akan menghadapi hal yang tidak berbeda. Besok, setelah berlelah-lelah menyiapkan dan menggelar karnaval, mereka akan kembali dengan kesulitan hidup yang tidak jauh berbeda dengan apa yang dialami orang tua dahulu ketika jaman penjajahan. Seolah kemerdekaan belum kita capai.

Kenaikan harga minyak goreng, kelangkaan minyak tanah, layanan transportasi minus keselamatan dan kenyamanan, ketidakamanan dan ketidaknyamanan sebagai warga Negara, pemerintah yang corrupt, politisi yang tidak lelah-lelahnya menipu, birokrasi yang minta dilayani. Tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di zaman penjajahan dahulu.

Sepertinya kita memang baru bisa merayakan kemerdekaan Indonesia, belumbisa menikmatinya.


Jatinangor, 18 Agustus 2007
Agu
18th

Kitab Zabur

Files under Tak Berkategori | Comments Off
Orang Islam pasti pernah mendengar kata Zabur, kitab yang diberikan kepada Nabi Daud, dan menjadi salah satu kitab yang wajib diimani bersama Taurat, Injil, dan Al-Quran.

Dan Tuhan-mu lebih mengetahui siapa yang (ada) di langit dan di bumi. Dan sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian (yang lain), dan Kami berikan Zabur kepada Daud.” (QS Al-Israa 55)

Kitab Zabur, bersama Taurat, sebenarnya ada di dalam Kitab Perjanjian Lama, yang bersama Kitab Perjanjian Baru menjadi kitab suci bagi ummat Nasrani atau Kristiani, baik Kristen (Protestan) maupun Katholik, yang dikenal sebagai Alkitab atau Bible. Sementara itu, Kitab Perjanjian Lama dipercaya sebagai kitab suci bagi umat Yahudi.

Kitab Zabur (Arab) atau Mazmur (Ibrani), dikenal sebagai sajak-sajak keagamaan dan karenanya banyak digunakan sebagai buku nyanyian dan doa, baik oleh umat Yahudi maupun Kristiani. Bagi kalangan Kristiani, sejumlah isi Zabur telah digubah menjadi nyanyian gereja.

Sajak-sajak dalam Zabur bermacam ragam: ada nyanyian pujian dan ada nyanyian untuk menyembah Tuhan; ada doa mohon pertolongan, perlindungan dan penyelamatan; doa mohon ampun; nyanyian syukur atas berkat Tuhan, permohonan supaya musuh dihukum.

Doa-doa dalam Zabur ada yang bersifat pribadi, ada pula yang bersifat nasional. Beberapa di antaranya menggambarkan perasaan seseorang yang paling dalam, sedangkan lainnya menyatakan kebutuhan dan perasaan seluruh umat Allah.

Banyak orang Islam yang mungkin belum pernah membaca isi dari kitab itu. Meski Zabur ada di dalam Alkitab yang mudah ditemui, jarang orang Islam mau membacanya. Saya sendiri baru membaca kitab itu setelah melihat sebuah buku berjudul Zabur di sebuah toko buku di Ambasador Mal pada 15 Mei 2007, yang kemudian saya beli untuk menjadi koleksi perpustakaan pribadi.

Inilah beberapa petikan isi Kitab Zabur:

Syair ke-115
Kemuliaan hanya bagi Allah

Bukan kami, ya Allah, bukan kami,
melainkan nama-Mulah yang patut dimuliakan,
karena kasih abadi-Mu dan kesetiaan-Mu.
...

Syair ke-100
Pujilah Allah dalam Bait-Nya *)

...
Ketahuilah bahwa Allah adalah Tuhan.
Dialah yang menjadikan kita, dan kita adalah milik-Nya.
Kita adalah umat-Nya, kawanan domba yang digembalakan-Nya.

Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan ucapan syukur,
masuk ke pelataran-Nya dengan puji-pujian.
Mengucap syukur kepada-Nya dan pujilah nama-Nya!
...

*) Bait (Arab) = Rumah

Syair ke-84
Rindu pada Bait Allah

...
Ya Allah, Tuhan semesta alam, dengarkanlah kiranya doaku.
Indahkanlah, ya Tuhan yang disembah bani Yakub!
Pandanglah perisai kami, ya Allah,
perhatikanlah wajah orang yang Kau lantik.

Karena satu hari di pelataran-Mu lebih baik
dari pada seribu hari di tempat lain.
Aku lebih suka menjadi penunggu pintu Bait Tuhanku
daripada tinggal di rumah-rumah kefasikan.

Karena Allah, Tuhanku, adalah matahari dan perisai.
Allah mengaruniakan anugerah dan kemuliaan.
...

Syair ke-8
Manusia hina sebagai makhluk mulia

Ya Allah, ya Rabbana,
betapa mulia nama-Mu di seluruh bumi!
Keagungan-Mu Kau tempatkan melebihi langit.

Dari mulut bayi dan kanak-kanak yang menyusu pun
Kau letakkan dasar kekuatan karena lawan-lawanmu,
untuk membungkam musuh dan pendendam.
...

Syair ke-128
Berkah atas rumah tangga

Berbahagialah setiap orang yang bertakwa kepada Allah,
dan yang hidup menurut jalan-jalan-Nya.

Engkau akan memakan hasil jerih lelah tanganmu,
engkau akan berbahagia, dan keadaanmu akan baik.

Istrimu akan menjadi seperti pohon anggur yang
berbuah lebat
di dalam rumahmu,
dan anak-anakmu seperti ranting zaitun
di sekeliling mejamu.

Sesungguhnya demikianlan berkah akan dilimpahkan
atas orang-orang yang bertakwa kepada Allah.
...

Agu
18th

Kitab (2)

Files under Maklumat | Comments Off
Mohon Maaf
Oleh Boelldzh

Sebelumnya kami selaku pengelola Blog mengucapkan mohon maaf kepada seluruh pengunjung setia. Pasalnya, ada satu pekerjaan yang memang benar-benar menyita banyak waktu. Sampai-sampai hampir lupa posting di Mblog.

Padahal, deretan coretan di buku harian kian menumpuk sekaligus menuntut untuk di simpan di blog Alakadarisme.

Namun, kuatnya ikhtiar menyelesaikan satu pekerjaan. Memang membuat pekerjaan lain harus di tunda dulu. Pantas saja bila Nenek Moyang kita selalu berpesan `Jang mun anggeus hiji pagawean. Kakara bisa anggeuskeun nu lainna,` katanya.

Adalah membukuan Surat 'Buat Rektor [Baru] UIN SGD Bandung Periode 2007-2011' (Catatan Harian Mahasiswa; Mengabdi Pada Universitas); 'Oposisi Rice Cooker' (Catatan Harian Post LPIK); 'Kala Beda Paham Jadi Petaka' (Catatan Harian Seorang Pengembara). Ketiga naskah itu masih dalam proses pengeditan dan lay out sana-sini serta menunggu jawaban dari salah satu penerbit.

Belum lagi kondisi kesehatan kami yang sedikit terganggu buah dari kurang istirahat dan makan tak teratur. Hingga 2 hari harus rela berbaring di Sekre Kere tanpa ditemani satu kawan pun, kecuali kertas, pena dan tv.

Tak lupa kami memohon doa restu para blogger mania dan pembaca budiman supaya cepat-cepat selesai karya tersebut.

Sekali lagi, mohon maaf para pengunjung blog Ghifarie Area Alakadarisme. Bila beberapa hari ini tak ada tulisan baru, maka harap di maklum. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 17/08;23.05 wib
Agu
17th

Waktunya Membaca Novel

Files under Tak Berkategori | Comments Off
Lebih dari dua bulan terakhir ini, rasanya hari sangat padat. Setiap malam begadang menyelesaikan berbagai pekerjaan yang sederhana tapi menyita waktu. Selain membaca komik silat yang rutin tiap minggu keluar, sepertinya tidak ada waktu untuk membaca novel saga kesukaanku: the Dragonlance Series.

Maka, saat datang liburan 3 hari berturut-turut pada 17, 18, dan 19 Agustus ini, semangatku untuk membaca novel bergairah kembali. Berbagai pesanan proposal terpaksa aku cuekin dulu, terutama pesanan dari Delianur dan Hakam Nagib. Pembuatan program Kamus Inggris untuk Telkomsel, bagian dari program UMB Pelajar yang sedang dikembangkan perusahaan seluler tersebut, juga aku tunda hingga Senen.

Kamis (16/8) malam aku menyelesaikan membaca Dragons of Autumn Twilight, Dragonlance Chronicles Volume I, Weis & Hickman. Jumat (17/8) malam ini aku mulai membaca Dalamar The Dark, Dragonlance Classics Series, Nancy, Varian, & Berberick.

Terimakasih kepada istriku yang sangat baik, yang akhirnya bisa memahami kebiasaanku membaca novel-novel itu :)
Agu
16th

China dan Bazingun

Files under Tak Berkategori | Comments Off
Dua kata ini, China dan Bazingun, mewakili kata-kata yang telah mengalami perubahan makna dilihat dari awal penggunaan katanya. Kata-kata tersebut telah mengalami metamorfosa dari makna awalnya yang jelek menjadi baik dan yang netral menjadi buruk.

Istilah China, konon dilahirkan oleh para fasis militer Jepang untuk menyebut penduduk yang berada di wilayah yang kita kenal sekarang sebagai RRC (Republik Rakyat China) atau PRC (People Republic of China) atau RRT (Republik Rakyat Tiongkok).

Sebagian orang China Indonesia, terutama generasi tua, lebih suka menyebut Tionghoa untuk dirinya atau Tiongkok untuk negaranya. Di Indonesia sendiri, sebelum tahun 1966, kata yang digunakan adalah Tionghoa dan Tiongkok, sebelum diubah menjadi China pasca Gestapu atau Gestok. Kata tersebut berasal dari Tiong Goan (Hokkian) atau Zhong Yuan yang kemudian melahirkan kata Zhong Guo, yang artinya "dataran tengah". Kata "tanah sentral" inilah yang sering digunakan dalam komik-komik silat, seperti komik silat karya Tony Wong, jika menggambarkan epik perebutan kekuasaan antara bangsa tengah (China)--bangsa Jepang (lihat komik Ksatria Langit, Mahadewa III no 26-30), dan bangsa China--bangsa Mongolia (lihat komik Legenda Naga).

Sebagaimana kita tahu, dua bangsa ini, Jepang dan China, memendam rasa permusuhan sejak lama. Konon, para fasis militer Jepang suka menyebut musuhnya dengan nama China. Dalam kosa kata bahasa Jepang terdapat kata yang bunyinya mirip China, yang artinya adalah "mampuslah Kau!". Ada juga yang berpendapat, istilah China digunakan oleh Jepang karena kata itu bermakna "daerah ujung" atau "daerah pinggiran" alias "orang udik". Dengan arti yang demikian, sebutan China untuk penduduk RRC oleh fasis Jepang tentu dimaksudkan sebagai sebuah ejekan atau makian. Jika benar demikian, maka China adalah sebuah kata yang berasal dari makian menjadi nama sebuah bangsa yang besar, yang pertumbuhannya kini mulai ditakuti bangsa-bangsa lain.

***
Lain China lain Bazingun. Bazingun berubah menjadi "bajingan", sebuah kata yang sering digunakan untuk mengumpat, di bumi nusantara ini. Bazingun, menurut sebuah artikel di majalah Panji Masyarakat yang saya baca lebih dari 20 tahun yang lalu, saat saya masih duduk di bangku SMP, berasal dari bahasa Turki. Arti sebenarnya dari bazingun adalah kulit pisang.

Mungkin, pada awalnya ada penduduk negeri ini yang mendengar kata bazingun digunakan oleh saudagar Turki atau Timur Tengah ketika sedang terpeleset karena menginjak kulit pisang. 'Bazingun!", teriak saudagar yang terpeleset itu. Lalu kata itu mulai digunakan bukan saja saat orang terpeleset karena kulit pisang, tetapi juga saat terpeleset karena sebab lainnya. Lalu penggunaannya bergeser bukan saja saat terpeleset, tetapi saat sedang kesal dengan seseorang. Pengucapan katanya pun bergeser, dari bazingun, bazingan, hingga akhirnya menjadi bajingan.

Maka jadilah kata "bajingan" seperti yang kita kenal sekarang ini, padahal kata itu bermula dari sebuah kata yang artinya "kulit pisang". Rasanya lucu juga, kalau ada orang marah kepada orang lain lalu memaki: "kulit pisang Kau!"
Agu
15th

Tayangan Liga Inggris Amshiong

Files under Tak Berkategori | Comments Off
Ini betul-betul tahun amshiong bagi siaran Sepakbola Liga Inggris atau English Premiership League (EPL) 2007/2008 di Indonesia. Bagaimana tidak, siaran yang disukai jutaan pengemar di Indonesia itu kini tidak bisa lagi ditonton oleh banyak orang, yang pada tahun lalu bisa disaksikan lewat TV7 atau ESPN/Indovision (TV berlangganan).

Tahun 2007/2008 ini, hak siar EPL di Indonesia telah dibeli secara eksklusif oleh Astro TV. Menurut saya, ini keputusan yang tidak tepat. Saya tidak tahu siapa yang memutuskan hal ini, apakah penyelenggara EPL sendiri atau ESPN yang memiliki hak penyiaran di Asia. Jika diputuskan oleh penyelenggara EPL, saya juga tidak tahu bagaimana pertimbangan bisnisnya sehingga penyelenggara EPL menyetujui proposal Astro TV. Is it only a matter of "money talks"? Apakah karena Astro TV berani membeli hak siar eksklusif itu dalam jumlah yang besar? Konon, kata Ivan, Astro TV membayar hak siar eksklusif di Indonesia sebesar 5 juta USD atau sebesar Rp 45 miliar untuk masa 3 tahun.

Sebagai awam saya hanya membayangkan, jika EPL memilih untuk dilihat hanya oleh 20.000 pelanggan Astro TV, tentu saja rugi besar karena harus kehilangan jutaan permirsa EPL yang ada di Indonesia. Lagipula, 20.000 pelanggan Astro TV tidak bisa diklaim sebagai masyarakat yang paling potensial untuk bisnis EPL, misalnya, dalam hal pembelian merchandise-nya.

Belum lagi aspek sosialnya. Pemberian hak siar EPL hanya kepada Astro TV telah merenggut salah satu hiburan terbaik yang bisa dinikmati jutaan orang Indonesia yang lagi jenuh dengan partai politik, bahkan sudah mulai jenuh dengan Tukul dan Republik Mimpi :)

Nonton EPL memang merupakan hiburan yang paling aku sukai. Tontonan tersebut benar-benar menghibur karena di sana tidak ada kepura-puraan. Kita tidak disuguhi kumpulan orang yang membuat-buat kelucuan. Kita juga tidak disuguhi kumpulan orang yang berpretensi berjuang untuk republik, dan orang-orang yang menganggap diri mereka paling berhak mengurus negara karena merasa memiliki track record yang lebih baik.

Sementara itu, saya tidak begitu tertarik dengan sepakbola Italia atau Jerman. Saya suka sepakbola Spanyol, hanya saja jam tayangnya terlalu larut. Apakah untuk terus dapat melihat EPL langganan saya harus dipindah dari Indovision ke Astro TV? Apakah memang itu yang diharapkan oleh Astro TV: membeli hak eksklusif EPL untuk merebut pasar Indovision?

Sebagai penggemar EPL, tentu saja saya sangat kecewa dengan kondisi ini. Satu-satunya hiburan yang paling aku sukai telah dirampas oleh Astro TV :(
Agu
10th

TURNAMEN BOLA BEKEL

Files under | 1 Comment

Permainan tradisional mulai banyak ditinggalkan. Salah satunya permainan bola bekel. Padahal permainan tersebut lebih banyak menggunakan gerak motorik. Selain itu, permainan yang dimainkan secara tim ini, sebagai sarana efektif untuk anak dalam belajar bersosialisasi. Olehnya itu, PII Wati kembali membangkitkan minat masyarakat khusunya anak-anak untuk gemar dengan permainan tradisional dengan menggelar turnamen bola bekel. Kegiatan ini diikuti oleh pelajar putri Sekolah Dasar se-Malang Raya.
Agu
10th

Files under | Leave a Comment
Agu
10th

DUTA TANAM SEKOLAH

Files under | Leave a Comment

Kecil Menanam, Besar Memanen.....
Kepedulian terhadap lingkungan perlu ditanamkan sejak usia dini. Korpus Korps PII Wati bekerja sama dengan Kementrian Kehutanan RI serta PERHUTANI membagikan 500 bibit pohon kepada pelajar putri. Sebagai duta tanam, mereka diharapkan mensosialisasikan kepada teman sebaya pentingnya menjaga dan peduli terhadap lingkungan. Ditunjukkan dengan gemar menanam pohon di sekitar lingkungan rumah, sekolah, masjid, taman bermain dan sebagainya.
Kalau semangat ini kemudian mampu ditularkan dengan baik ke lingkungan sekitar, maka kelestarian alam tetap akan terjaga. SELAMAT MENANAM!
Agu
10th

Kabinet tanpa strategi komunikasi

Files under Tak Berkategori | Comments Off

Berikut ini ada artikel menarik dari Kompas yang ditulis oleh Garin Nugroho. Saya lupa tanggal dan bulannya pemuatan artikel.

Beberapa minggu terakhir dari bahan isyu publik yang mesti saya analisa masalah konversi minyak ke elpiji menuai keributan. Pelaksanaan dilapangan tidak menarik minta masyarakat, bahkan cenderung menjadi sangat kontraproduktif, untuk memakai elpiji. Padahal secara matematis elpiji akan sangat menguntungkan bagi masyarakat juga kas negara. Problemnya mesti terletak pada rumusan strategi komunikasi yang tidak compatible dengan kondisi masyarakat serta miskinnya kreativitas pada pelaksanaan di lapangan.

Garin menurut saya menambah catatan lain dari strategi komunikasi yang selama ini sering dilewatkan oleh pemerintah, yaitu proses transformasi budaya. Merujuk kepada studi komunikasi yang pernah saya tulis sebelumnya dari Fiske, mestinya pola komunikasi yang linier harus match dengan studi komunikasi berperspektif semiotik, dimana yang terakhir tidak pernah melupakan aspek budaya dalam kehidupan masyarakat.

Bila melihat uraian Garin, juga rumusan komunikasi secara teoritik, saya merasa betapa canggihnya strategi komunikasi yang telah dijalankan oleh rezim Soeharto. Integral,sistematis dan berjangka sangat panjang. Hasilnya bisa kita lihat dan rasakan sekarang. Pola pikir,sikap dan prilaku pemerintah serta masyarakat Indonesia merupakan buah dari sebuah rancangan stragegi komunikasi regim Soeharto. Problem strategi komunikasi Soeharto tentunya terletak pada keberpihakan nilai nya.

Dalam konteks yang lebih makro sepertinya hal inilah yang dilupakan oleh pemerintah kita. Perlunya rekayasa atau strategi budaya dalam rencana pembangunan kita.

Berikut artikel dari Garin tentang kabinet tanpa strategi komunikasi

Kabinet Tanpa Strategi Komunikasi

Oleh: GARIN NUGROHO

Dalam beberapa waktu ini harian Kompas memuat aneka opini tentang dua aspek penting berbangsa, menyangkut program kerja pemerintah, khususnya revitalisasi pertanian dan kinerja pemerintah menghadapi berbagai krisis, seperti BBM hingga busung lapar.

Dua aspek ini mengingatkan kita pada artikel Menunggu SBY di Bis Kota, mengulas tantangan SBY dan kabinetnya, yaitu kemampuan mewujudkan strategi komunikasi sebagai panduan program kerja masing-masing kabinet kepada masyarakat. Strategi komunikasi menjadi medium sosialisasi yang mampu mendeskripsikan kerja kabinet jangka pendek, menengah, dan panjang.

Masalahnya, lebih setahun pemerintahan, SBY masih figur tunggal strategi komunikasi berbangsa. Kabinet SBY belum mampu mengembangkan strategi komunikasi dan ruang komunikasi publik. Tanyakan kepada masyarakat nama menteri, program, dan kegiatan yang sedang dilakukan. Bisa diduga, masyarakat tidak mengenal program—jangka pendek dan terpanjang—bahkan sosok dan nama menteri.

Karena itu, memberi catatan tersendiri terhadap kinerja strategi komunikasi kabinet menjadi amat penting, mengingat di luar program kerja muncul berbagai bencana dan krisis.

Tidak piawai

Simak pandangan masyarakat terhadap kelangkaan BBM. Muncul berita simpang siur, dari isu penguasaan oleh kelompok tertentu hingga harga minyak akan membubung tinggi. Sementara, para menteri yang bertanggung jawab tidak piawai dan tepat waktu mendeskripsikan masalah secara sederhana dan memberi rasa aman. Yang sering terjadi, debat di televisi yang hanya dikonsumsi para ahli ekonomi dengan istilah rumit, dan hanya muncul ketika masalah sudah meluas luas di masyarakat.

Penghematan BBM dengan kampanye pemanfaatan bahan bakar di luar minyak terasa sebagai strategi yang reaksioner, tidak mencerminkan strategi komunikasi jangka panjang.

Padahal, di berbagai negara, strategi komunikasi yang mentransformasi budaya masyarakat untuk menggunakan energi alternatif membutuhkan waktu minimal lima tahun, tidak mungkin selesai hanya dengan bincang–bincang di televisi dan pernyataan bersama. Strategi komunikasi cara mengonsumsi adalah sebuah transformasi budaya. Sebuah kerja transformasi yang komunikasinya harus masuk ke ruang sekolah sejak dini, sebutlah di buku, yang menceritakan masa depan persediaan minyak hingga aspek bahan pengganti.

Persoalan serupa terlihat pada program revitalisasi pertanian, primadona program kerja Presiden. Perlu dicatat, program kerja itu akan sukses jika dikembangkan strategi komunikasi yang memuat strategi transformasi budaya menuju masyarakat pertanian modern. Proses transformasi ini amat dibutuhkan, mengingat ruang keluarga maupun publik masyarakat Indonesia saat ini—khususnya di ruang-ruang komunikasi seperti cetak dan televisi—kehilangan medium komunikasi terhadap budaya pertanian. Simak ikon-ikon pertanian nyaris tak tampak di sinetron, berita, dan lainnya.

Karena itu, bagaimana mungkin masyarakat mampu mentransformasi diri dalam budaya pertanian modern jika apresiasi terhadap perspektif tani telah surut di ruang keluarga, komunikasi publik, maupun sekolah?

Kelemahan strategi komunikasi kabinet SBY juga tampak dari cara sebagian menteri melihat persoalan. Simak tanggapan Menteri Kesehatan bahwa surat kabar terlalu membesar-besarkan masalah busung lapar. Ucapan itu mencerminkan rendahnya peka krisis terhadap strategi komunikasi. Padahal, sekecil apa pun busung lapar adalah sebuah kemunduran besar suatu bangsa.

Peka krisis

Catatan-catatan itu mencerminkan Kabinet SBY belum semua mampu mengembangkan strategi komunikasi berbangsa yang genial, termasuk mengelola terwujudnya medium komunikasi publik, seperti televisi publik yang berkualitas. Suatu medium komunikasi yang berpihak pada komunikasi untuk bertumbuhnya kualitas masyarakat sipil.

Medium publik semacam ini wajib mewujudkan peliputan terhadap program pemerintahan secara kritis sehingga masyarakat mendapat ruang sosialisasi, konsultasi, dan partisipasi kritis terhadap program setiap kabinet.

Uraian itu juga mencerminkan kecenderungan Kabinet SBY tidak memiliki peka krisis yang cukup tinggi terhadap nilai penting strategi komunikasi, lebih mementingkan kerja langsung, yang dalam realitasnya amat terbatas diapresiasi masyarakat. Akhirnya, para menteri berbicara di publik hanya ketika krisis terjadi.

Jangan heran, dengan kultur kerja semacam itu, menteri yang bekerja bagus belum tentu dikenal masyarakat, sosok maupun programnya. Sementara, menteri yang banyak menuai masalah justru populer lewat televisi. Ini mencerminkan para menteri tidak cukup piawai membuat berita menarik untuk ditayangkan di televisi.

Di sisi lain, hal ini mencerminkan strategi komunikasi pemerintahan tertelan pasar komunikasi yang serba massa, dangkal, penuh kekerasan hasil perilaku konsumerisme tanpa etika dan tidak tegasnya pemerintah menegakkan kode etik komunikasi.

Harus dicatat, para ahli komunikasi politik di abad kuantum informasi-komunikasi berseloroh, ”amatlah beruntung nasib pemerintahan yang sedikit kerja namun hasil kerjanya dikomunikasikan dengan baik. Dan amatlah celaka pemerintahan yang banyak kerja namun hasilnya tidak dikomunikasikan dengan baik sehingga masyarakat tidak pernah merasakannya”.

Garin Nugroho Direktur Yayasan SET (Sain Estetika Teknologi)

Agu
9th

Adang – Dani “Menang”

Files under Tak Berkategori | Comments Off

Tulisan sebelum ini saya menyatakan bahwasannya Adang – Dani akan memenangi pertarungan di Pilkada DKI melawan Fauzi Bowo – Prijanto. Faktanya sampai sekarang, baik itu berdasar Quick Count maupun hasil perhitungan sementara KPUD DKI, dipastikan Foke memenangi Pilkada DKI kali ini. Kisarannya perolehannya berputar-putar sekitar 45 – 55 %. Bukan karena keras kepala, gengsi atau apology bila saya tetap mengatakan bahwasannya pasangan Adang dan Dani telah memenangi pertarungan.

Hitungannya berdasarkan kepada capital yang dimiliki dan posisi politik yang sedang dijalani Adang - Dani. Capital yang dimiliki oleh PKS, sebagai penyokong Adang – Dani, tidak lebih dari 23% masa loyal mereka. Sementara itu posisi politik mereka cukup menyulitkan dengan keroyokan 20 partai yang mendukung pasangan Fauzi – Prijanto. Jelas sebuah prestasi ketika perolehannya bisa menembus angka 45%. Artinya Adang-Dani dengan PKS nya sanggup menggeliat untuk menjaga konstituen dan menambah konstituen yang ada di tengah himpitan keroyokan partai-partai pendukung Foke.

Hanya saja mesti diteliti lebih lanjut posisi kumis dan warna orange itu sendiri terhadap kesuksesan Adang mendulang angka yang begitu besar. Adakah relasi signifikan antara pemilih dengan kumisnya Fauzi atau orangenya Adang?Adakah kedua hal ini menimbulkan aha effect seperti yang terjadi dalam proses komunikasi interpersonal?hal yang menarik untuk dikaji lebih lanjut disamping fenomena-fenomena komunikasi lainnya.

Selain hal diatas ada catatan menarik dari pelaksanaan Pilkada DKI kali ini. Kaitannya dengan massa, praktek komunikasi dan perilaku politik yang dipraktekan oleh para tim sukses kedua kubu. Ada hal yang menggembirakan juga ada hal yang mengkhawatirkan.

Menggembirakan. Bila memakai alur berpikir hypodermic theory,ataupun paradigma positivistik lainnya, mestinya terjadi peningkatan jumlah pemilih ke pasangan Fauzi – Prijanto. Melalui dukungan 20 parpol mestinya Fauzi memperoleh minimalnya 70% suara atau lebih. Patokannya berdasar pada kuantitas iklan televisi, baligho, spanduk, pamflet, stiker dari kubu Fauzi yang jauh lebih banyak dibanding pasangan Adang.

Yang terjadi justru sebaliknya. Alih-alih memelihara massa yang sudah ada tetapi malah banyak konstituen yang menyebrang ke Adang. Artinya masyarakat pada saat sekarang ini memang sudah tidak bisa begitu saja di pengaruhi oleh praktek propaganda komunikasi massa. Telah tercipta resistensi pada diri masyarakat untuk tidak terpengaruh begitu saja terhadap segala bentuk publikasi melalui media. Masyarakat tidak saja melakukan proses negosiasi makna dengan media tetapi juga memiliki paradigma sendiri terhadap setiap apa yang disampaikan sehingga bisa melakukan antitesa.

Sisi lainnya yang menarik adalah betapa solidnya para aktivis partai politik di level mediumnya. Kenaikan jumlah pemilih Adang tidak akan pernah bisa dilepaskan dari solidnya mesin politik PKS, yang dijalankan oleh para aktivis partai di level medium, dalam menjalankan keputusan partai. Ketertiban, kesolidan dan militansi kader PKS menjadi instrumen utama sehingga perolehan suara PKS meningkat tajam

Bila kedua hal ini digabungkan, kondisi masyarakat dan aktivis partai di level medium, maka sebetulnya kita menyaksikan sebuah prospek masyarakat dan perjalanan kehidupan politik yang cukup cerah di masa yang akan datang. Aktivis partai begitu solid, tertib dan militan sementara masyarakat begitu rasional dalam menentukan setiap pilihannya.

Mengkhawatirkan. Ada dua hal yang menjadi catatan dari apa yang telah terjadi di Pilkada DKI kali ini. Pertama adalah tentang Golput sedangkan yang kedua perilaku elite partai itu sendiri.

Kekhawatiran tingkat golput yang tinggi ternyata tidak terbukti. Angka 65% golput seperti yang dilansir oleh LSI sebelum pelaksanaan Pilkada, benar-benar hanya menjadi angka potensial Golput saja.

Berita dari Rakyat Merdeka online hari Khamis 09 Agustus disebutkan; menurut JPPR (Jaringan Pendidikan Pemilih Untuk Rakyat) warga yang ikut menyoblos sampai pada angka 70%. Sementara Puskapol UI mencatat 63% warga DKI telah memberikan suaranya. Kompas hari ini sebetulnya memberikan kesimpulan lain tentang fenomena Golput ini. Menurut Kompas jumlah golput justru hampir menyamai dari jumlah pemenang.

Diluar kontroversi kedua hal diatas, problemnya sampai sekarang adalah belum bisa diketahui secara pasti motif dari adanya Golput. Apakah golput yang terjadi karena masalah tekhnis, politis, tekhnis politis atau karena Idiologis. Hal inilah yang mesti menjadi perhatian dan kajian bagi semua pihak.

Bila terjadi secara tekhnis, politis atau tekhnis politis berarti ini masalah manajemen belaka. Penyelesaiannya bisa berupa regulasi-regulasi yang lebih meringankan untuk menjaring partisipasi pemilih supaya lebih besar atau perbaikan manajerial pelaksanaan Pilkada di massa berikutnya.

Repotnya bila golput terjadi karena masalah idiologis. Akan sangat mengkhawatirkan bila golput terjadi karena masyarakat begitu hopeless terhadap situasi dan kondisi yang ada. Bila ini terjadi maka masyarakat kita dalam keadaan yang mesti dibenahi karena hidup tanpa harapan. Masyarakat tidak mempunyai harapan terhadap kehidupan sekitarnya, perubahan yang dijanjikan juga kepada perilaku politik elite.

Selain itu berarti perilaku dan sistem politik yang terjadi berarti harus diakui tidak cukup supportif dalam membangun mentalitas masyarakat. Padahal yang terakhir inilah yang menjadi amanat besar pendiri bangsa ini.

Sisi mengkhawatirkan lainnya adalah melihat perilaku elite politisi kita. Tidak ada kejelasan orientasi idiologis dalam berpolitik, tidak adanya pijakan etis dalam berpolitik, masih menempatkan kekuasaan sebagai tujuan akhir dan penghalalan segala cara dalam mencapai tujuan.

Bila perilaku elitenya seperti ini, maka modal sosial berupa aktivis politik di level medium dan masyarakat umum yang mempunyai potensi cerah, akan terbuang sia-sia. Terhalang oleh perilaku elite yang masih maruk terhadap kekuasaan dan melupakan masyarakat dalam pengelolaan kekuasaan.

Semoga kesimpulan yang salah