Okt
31st

silent crisis jakarta

Files under , Uncategorized | Leave a Comment

Dalam waktu dekat, Jakarta akan memiliki gubernur baru.
Berdasarkan hasil hitungan cepat dari sejumlah lembaga survei, tampaknya Fauzi
Bowo-Prijanto memenangi pilihan gubernur dan wakil gubernur pada pilkada 8
Agustus lalu. Meski demikian, hasil akhir kemenangan itu mnggu pengesahan dari
KPUD Jakarta untuk menjadi keputusan tetap.

Di saat yang sama, masyarakat Jakarta tengah menanti gebrakan dari gubernur
dan wakil gubernur terpilih. Paling tidak, masyarakat berharap segala janji
yang diucapkan saat kampanye dapat direalisasikan. Di tengah maraknya tuntutan
mayoritas penduduk pada gubernur dan wakil gubernur terpilih untuk mengatasi banjir
dan kemacetan Jrta, ada sekelompok penduduk yang hidup dalam lilitan kesusahan.

Jika banjir dan kemacetan kerap menimbulkan
kehebohan, maka penduduk yang mengalami kesulitan hidup dimaksud, jauh dari
kehebohan. Mengingat jumlah penduduk yang terperangkap dalam kesulitan hidup
itu tidak sedikit jumlahnya, maka hal ini dapat dikategorikan sebagai suatu
bencana kemanusian yang jauh dari kehebohan (silent crisis).

Secara faktual, silent crisis menimpa
penduduk yang memiliki kesejahteraan rendah. Ini terindikasi dari pemenuhan
kebutuhan hidup yang jauh dari layak, seperti kesehatan, pendidikan, perumahan,
dan sanitasi lingkungan.

Potret buram
Hasil survei sosial ekonomi nasional (Susenas) tahun 2004 dan 2005 dapat
dijadikan acuan untuk melihat potret buram dari silent crisis Jakarta.
Pada aspek sanitasi lingkungan, seperti kebutuhan air minum dan tempat
pembuangan air besar (tinja) dapat diamati dari Susenas 2005. Tercatat, rumah
tangga yang memiliki akses air bersih dari ledeng kurang dari setengah total
rumah tangga di DKI Jakarta (46,90 persen). Artinya, lebih dari setengah rumah tangga terpaksa bergantung
pada sumber air minum lain, seperti air kemasan (17, 97 persen), pompa (28,15
persen), sumur (5,62 persen), serta mata air, air sungai, dan air hujan (1,36
persen).

Dengan melihat kenyataan ini, sudah waktunya
gubernur dan wakilnya berupaya memperbesar akses rumah tangga pada air ledeng.
Namun celakanya, sumber air bersih sebagai pasokan perusahaan air minum daerah
kian terbatas. Salah satu kemungkinan adalah dengan mencari sumber air bersih
dari daerah sekitar DKI Jakarta, seperti Bogor,
Puncak dan Cianjur (Bopunjur). Untuk melakukan itu, barangkali sudah mulai
perlu dipikirkan pencarian sumber air bersih melalui proyek pipanisasi secara
langsung ke sumber-sumber air bersih di Bopunjur.

Aspek lain dari silent crisis adalah
tempat buang air besar. Lebih dari seperempat (26,72 persen) rumah tangga tidak
memiliki fasilitas tempat biang air besar sendiri. Mereka yang tidak memiliki
tempat buang air besar itu terpaksa sharing dengan rumah tangga lainnya
(19,94 persen), atau di toilet umum (6,04 persen), bahkan di tempat terbuka
seperti sungai, kolam dan saluran got (0,74 persen).

Dengan lahan terbatas, tampaknya tidak mudah
untuk membuat tempat buang air besar sendiri. Bahkan dari mereka yang telah
memiliki tempat buang besar sendiri, mengandung risiko kesehatan, yakni jarak
antara tempat buang air besar dan sumur air bersih kurang dari 10 meter. Hasil
Susenas 2004 mencatat, sekitar 47,92 persen rumah tangga yang memiliki tempat
buang air besar sendiri kesehatannya tetap terancam.

Pada
aspek perumahan, silent crisis itu terlihat dari luas dan jenis lantai
serta lampu penerangan. Hasil Susenas 2004 mencatat, sekitar 16 persen rumah
tangga di DKI Jakarta menempati luas lantai rumah kurang dari 20 meter persegi,
sekitar 3,85 persen rumah tangga menempati rumah berlantai tanah, dan sekitar
0,40 persen rumah tangga tidak memiliki akses penerangan lampu listrik.

Pemecahan
masalah perumahan dan sanitasi lingkungan itu barangkali sukar dilakukan secara
horizontal mengingat keterbatasan ruang. Jakarta kini menempati urutan
kesembilan kota terpadat di dunia, setelah Mumbai, Hong Kong, Seoul, Manila,
Surabaya, dan New Delhi, dengan tingkat kepadatan tahun 2001 sebesar 44.283 jiwa
per kilometer persegi (Wikipedia Encyclopedia, Agustus 2007).

Maka, pemecahan masalahnya adalah secara
vertikal. Terkait dengan rencana pemerintah membangun 1.000 menara rumah susun
di Jakarta,
sangat diharapkan hal itu menjadi kenyataan. Dalam konteks ini, diharapkan
peran gubernur dan wakil gubernur terpilih dapat memfasilitasi percepatan
pembangunan rumah susun dimaksud.

Kapabilitas dasar
Kapabilitas dasar dari silent crisis itu tercermin dari aspek kesehatan dan
pendidikan. Pada aspek kesehatan, hal itu tercermin dari keluhan kesehatan, dan
kasus gizi kurang. Meski berdasar data BPS tahun 2006 memiliki angka umur
harapan hidup tertinggi kedua (72,4 tahun) setelah Yogyakarta (72,6 tahun), DKI Jakarta menyisakan sejumlah persoalan kesehatan. Keluhan kesehatan,
berdasarkan hasil Susenas 2004, tercatat tertinggi kedua (57,91 persen) setelah
Nusa Tenggara Timur (60,98 persen). Selanjutnya, balita yang menderita
kekurangan gizi pada 2002 tercatat sekitar 23,2 persen. Kondisi yang kurang
lebih serupa juga terjadi pada dunia pendidikan. Pada aspek pendidikan, silent
crisis
itu tercermin dari masih adanya penduduk yang tergolong sebagai
penyandang buta huruf, yakni sekitar 1,7 persen pada 2005. Angka ini lebih
tinggi dari Sulawesi Utara yakni sebesar 0,7 persen (BPS, 2006). Sementara. rata-rata lama sekolah sekitar 10,6
tahun, atau setara kelas dua SMA.

Perhatian terhadap pendidikan untuk wilayah DKI,
barangkali perlu ditekankan pada Pulau Seribu. Pendidikan di wilayah ini,
tertinggal jauh dibanding ke lima wilayah lainnya di DKI Jakarta.
Tercatat, angka melek huruf di Pulau Seribu 96,6 persen, sementara lima wilayah lainnya
telah mencapai di atas 98 persen. Rata-rata lama sekolah di pulau-pulau ini
sekitar 6,9 tahun, atau setara kelas satu SMP, sementara di lima wilayah
lainnya telah mencapai 10 tahun atau lebih, setara dengan kelas satu SMA.

Sebenarnya, masih cukup ruang bagi pemerintah DKI
Jakarta untuk mengatasi silent crisis itu, mengingat APBD dan potensi
ekonomi yang sangat besar. Untuk mengatasi silent crisis dimaksud, salah
satu upaya adalah menurunkan angka kemiskinan dan pengangguran. Tercatat,
jumlah penduduk miskin di DKI Jakarta sebanyak 277.100 orang (BPS, 2005), dan
pengangguran terbuka sebanyak 590.022 orang (BPS,2007). Pengangguran dan
kemiskinan ini sungguh persoalan yang serius.

Besar harapan, gubernur dan wakil gubernur
terpilih nantinya dapat menyelesaikan persoalan Jakarta, yang tidak hanya terkait dengan
banjir dan macet. Saat ini, pemerintah sudah saatnya untuk mengatasi persoalan secara
lebih menukik pada persoalan mendasar penduduk, yaitu silent crisis.

dikutip dari republika, 13 agustus 2007

Okt
31st

Pengangguran Intelektual dan Potential Loss

Files under , Uncategorized | Leave a Comment

Ada

rasa prihatin yang cukup mendalam terkait dengan peringatan Hari Sarjana yang
jatuh pada Tanggal 29 September. Sebab, di hari sarjana itu, sejumlah
persoalan, seperti kemiskinan dan pengangguran yang sepatutnya dapat diatasi
oleh mereka yang berpendidikan sarjana, dalam kenyataannya masih jauh dari
selesai. Alih-alih mengatasi kemiskinan dan pengangguran, sebagian sarjana kita
justru terjerembab dalam ketakmampuan dalam menjawab persoalan sendiri.

Hasil survei angkatan kerja nasional Februari
2007 mencatat, jumlah penganggur di Tanah Air sebanyak 10,55 juta orang, atau
sekitar 9,75 persen. Jika ditilik menurut pendidikan yang ditamatkan, sebanyak
740.206 orang, atau sekitar 7,02 persen tercatat sebagai penganggur
intelektual. Secara sosial, tingginya angka pengangguran intelektual itu akan
menyebabkan beban, tidak hanya bagi pemerintah, akan tetapi juga bagi
masyarakat. Secara ekonomi, tingginya angka pengangguran itu akan menyebabkan
hilangnya potensi (potential loss) dalam peningkatan pendapatan
masyarakat.

Kekurangberhasilan para sarjana dalam mengatasi
persoalan bangsa terkait dengan sistem pendidikan tinggi yang belum mampu
memacu kreativitas mahasiswanya. Padahal, penumbuhan kreativitas dimaksud amat
penting, tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi masyarakat dan bangsa.

Pendidikan orang dewasa
Ditengarai, salah satu penyebab kurangberhasilnya perguruan tinggi menumbuhkan
kreativitas mahasiswa adalah terkait dengan metode pembelajaran. Banyak
kalangan berpendapat bahwa metode pembelajaran di perguruan tinggi di Tanah Air
belum mengacu pada pendidikan orang dewasa. Adapun ciri khas pendidikan orang
dewasa adalah mengutamakan penggalian, pendalaman, pengembangan, dan potensi
mahasiswa.

Lebih jauh, Russel (1984) menjelaskan bahwa
pendidikan orang dewasa mensyaratkan bahan ajar yang mencakup konsep baru,
orientasi individual, berbentuk self instructional, dan volume belajar
bergantung pada kemampuan mahasiswa. Diyakini, jika pembelajaran orang dewasa
itu diberlakukan maka mahasiswa tidak mungkin akan lulus jika hanya melalui
kegiatan belajar secara instan, yakni belajar untuk menjawab materi soal ujian
semata tanpa memahami substansinya. Penentuan kelulusan mahasiswa akan
bergantung pada proses pembelajaran.

Dengan sistem pendidikan orang dewasa, mahasiswa
tidak hanya dilatih berpikir kreatif akan tetapi juga belajar bertanggung jawab
dan mandiri. Sehingga uji kemampuan mahasiswa, dapat dilakukan dengan sistem
buka buku (open book) atau dibawa pulang (take home exam). Di
negara-negara maju, sistim ujian open book atau take home exam
kerap dilakukan, akan tetapi amat jarang dilakukan di Tanah Air. Belum mampunya
para sarjana di Tanah Air menjawab persoalan bangsa merupakan suatu hal yang
sangat disayangkan. Karena hal itu mencerminkan hilangnya potensi (potential
loss
) bangsa. Padahal, investasi yang dikeluarkan untuk mencapai jenjang
kesarjanaan tergolong amat besar. Namun, pengembalian investasi (return on
investment
) itu akan berkurang manakala para sarjana itu tidak mampu
menjawab persoalan yang dihadapi diri sendiri (karena menjadi penganggur) dan
secara akumulasi tidak mampu menjawab persoalan bangsa.

Sepatutnya, para sarjana tidak hanya mampu
menjawab persoalan bangsa, akan tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan
masyarakat. Studi yang dilakukan Denison (1962), menyebutkan bahwa peningkatan
jumlah kelulusan perguruan tinggi di Amerika Serikat selama 1929-1957, mampu
meningkatkan pendapatan per kapita di negara itu sekitar 42 persen. Lebih jauh,

Denison

dan
Chung (1976) mengidentifikasi bahwa peningkatan jumlah kelulusan perguruan
tinggi di Jepang mampu meningkatkan pendapatan per kapita per tahun sebesar
0,35 persen selama 1961-1971.

Celakanya, kontribusi para sarjana terhadap
pemecahan masalah bangsa dan peningkatan kesejahteraan di Tanah Air kian
berkurang terkait dengan kasus brain drain, yakni dengan meningkatnya
kaum intelektual yang bekerja di luar negeri. Jelasnya, potential loss
bangsa kian meningkat karena ketidakmampuan pemerintah dan swasta dalam
penyediaan lapangan pekerjaan atau karena lapangan pekerjaan yang tersedia
tidak sesuai. Kasus terpuruknya PT Dirgantara

Indonesia

(PT DI), misalnya, memicu
pekerja yang memiliki pendidikan tinggi untuk bekerja di luar negeri. Seiring
dengan perjalanan waktu, kelalaian kita dalam mengantisipasi kasus brain
drain
diperkirakan akan menyebabkan potential loss bangsa kian
meningkat. Penyebabnya adalah sejumlah negara asing kini aktif melakukan
penawaran terhadap para sarjana yang mumpuni untuk bekerja di negara mereka.
Suatu negara yang menerapkan strategi rekrutmen berdasarkan brain drain
diperkirakan bakal sangat menguntungkan, karena tidak perlu mengeluarkan
investasi untuk mencetak sarjana. Seperti kita ketahui bersama, untuk mencetak
sarjana tidak hanya memerlukan biaya besar akan tetapi juga waktu yang cukup
lama.

Maka atas dasar itu, berbagai upaya diperlukan
agar keberadaan perguruan tinggi selaras dengan tuntutan kebutuhan untuk
menjawab persoalan bangsa dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Meski
disadari bahwa pemerintah kini tengah disibukkan dalam kegiatan penuntasan
wajib belajar pendidikan dasar, namun seyogianya tidak melupakan perbaikan
kualitas pendidikan tinggi.

Perbaikan metode pembelajaran berciri pendidikan
orang dewasa perlu diciptakan di perguruan tinggi, baik perguruan tinggi milik
pemerintah maupun swasta agar kelak para lulusannya memiliki karakter dan
kualitas yang mumpuni dalam menjawab persoalan bangsa. Selain itu, pemerintah
perlu terus berupaya menciptakan kesempatan kerja yang sesuai dengan latar
pendidikan para sarjana, untuk mencegah terjadinya perpindahan tenaga kerja
berkualitas ke luar negeri.

 

dikutip dari republika, 01 oktober 2007

Okt
31st

masjid itu sangat megah

Files under , Uncategorized | 1 Comment

Mayoritas penduduk
Lombok, Nusa Tenggara Barat, beragama Islam. Perkelahian antarkampung,
terutama di Mataram, menjadi peristiwa biasa di sini. Hanya karena dua
anak muda lain kampung bersenggolan, dalam waktu cepat perkelahian
massal bisa terjadi, yang terkadang juga melibatkan jamaah masjid.

 

Masjid
indah dan megah sangat mudah ditemui di Pulau Lombok dan Kota Mataram.
Warga setempat menyebutnya sebagai ‘Pulau Seribu Masjid’. Dalam satu
gang saja, dengan jarak tidak begitu jauh, bisa ada dua masjid.
Umumnya, masjid-masjid itu bertingkat dengan arsitektur Timur Tengah.
Bahkan, di salah satu tempat karena masjid berdekatan, shalat Jumat
dilakukan bergantian. Jumat ini di masjid yang satu, Jumat depan di
masjid yang lainnya.

 

Di
Banyu Mulek, Lombok Barat, tidak jauh dari Kota Mataram, terdapat
masjid kembar. Dua masjid itu hanya dipisah perempatan jalan.
Bangunannya sama, megah dan berarsitektur Timur Tengah. Satu sudah
mendekati selesai, satu lainnya separuh selesai. Dari gambar bangunan,
direncanakan kedua masjid ini akan disatukan oleh menara besar. Posisi
menara tunggal itu di atas perempatan jalan raya.

 

Indah
dan luar biasa. Modal membangun masjid kembar dengan menara tunggal itu
tentulah miliaran rupiah, mungkin puluhan miliar rupiah. Saya
bayangkan, betapa makmur masyarakat daerah ini, yang dapat mendirikan
masjid megah dengan biaya besar. Dan, jamaah pada setiap shalat
tentulah melimpah ruah sehingga diperlukan dua masjid besar. Apalagi,
tidak jauh dari masjid tersebut, sekitar 300 meter, sudah ada masjid
berkubah hijau yang juga besar.

 

Seorang
sahabat mengatakan kepada saya, masjid-masjid di Lombok dan Mataram ini
umumnya dibangun atas swadaya masyarakat, tanpa bantuan pemerintah.
Secara bergiliran, masyarakat di sekeliling masjid –sebagian di antara
mereka tinggal di rumah sangat sederhana, ada juga masih berlantai
tanah– menaikkan batu, mengaduk semen, mengayak pasir, dan memasang
keramik. Hari berikutnya, kelompok yang lain melakukan hal yang sama.

 

Semangat
warga mendirikan masjid megah pantas diapresiasi. Namun, ini terasa
menjadi mewah, di tengah kondisi ekonomi, pendidikan, dan kesehatan
umat yang rendah. Pada 2005, RSU Mataram merawat bayi usia setahun
kekurangan gizi. Bayi itu satu di antara 51 orang penderita busung
lapar di Kabupaten Lombok Barat, Mataram, dan Lombok Timur.

 

Pendidikan
juga menjadi problem di wilayah ini. NTB menempati posisi sembilan
besar provinsi dengan angka buta aksara tertinggi. Ini melengkapi nilai
buruk Indeks Pembangunan Manusia (IPM) NTB, yang kini di posisi 32 dari
33 provinsi. Data Dinas Pendidikan NTB menyebutkan, penyebab anak-anak
usia sekolah berhenti karena faktor ekonomi, kondisi geografis, dan
pola pikir. Orang tua yang miskin cenderung memerintahkan anaknya
bekerja daripada bersekolah.

 

Lombok
pulau yang indah. Pantai Senggigi berpasir putih. Hotel-hotel
berbintang, vila-vila besar berjejer menghadap laut yang terus
berdebur. Masjid megah berlantai dua sangat mudah ditemui, seperti juga
mudah menemukan anak-anak menengadahkan tangan di perempatan jalan, dan
rumah-rumah berdinding tepas, berlantai tanah.

 

Suara
muadzin mengumandangkan adzan Dzuhur bersahut-sahutan dari pengeras
suara di masjid-masjid besar yang berdekatan: Mari menunaikan shalat,
mari meraih kemenangan. Di salah satu masjid, jamaah hanya tujuh orang.
Mereka sudah berusia lanjut. Masjid besar itu sangat sepi. Saya terpaku
di sini: Sepi sekali di Pulau Seribu Masjid.

dikutip dari republika, 31 oktober 2007

Okt
30th

Jangan Tidur Setelah Shalat Subuh

Files under , Hikmah, Ilmu, artikel | Leave a Comment
Selesai makan malam, sambil menikmati istirahat bersama keluarga di rumah, kubuka e-mail inbox. Seorang teman, anggota mail list mengirim e-mail dengan lampiran slide Power Point. Kubuka slide halaman pertama. Judulnya "Keutamaan Sholat Subuh Berjama’ah di Masjid". Terdapat penjelasan di bawahnya, disarikan dari buku "Misteri Sholat Subuh" karya DR. Raghib As-Sirjani. Kelihatannya sangat menarik
Okt
29th

Membuat Read More (Baca Selengkapnya) dalam Blogspot

Files under , Komputer | Leave a Comment
ditulis oleh: aswarBekerja dengan blog atau memiliki blog memmang menyenangkan. selain GRATIS tempalte_x juga mudah. Tidak perlu membuat disain template secara manual. salah satu keguanaan dari blogger adalah kita dapat mempublikasikan tulisan, ide2, kreatifitas dsb (dan sebagainya). mengedit dan mempercantik blog menjadi kepuasan tersendiri bagi si pemilik blog.Namun jika posting/tulisan-nya
Okt
29th

MEMAKNAI KENABIAN BERSAMA AL FARABI

Files under , Uncategorized | Leave a Comment

Dialah Allah yang menganugerahkan hikmah kepada
siapa yang dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugerahi hikmah itu, dia
telah benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. (Q.s Al-Baqarah : 269)

Pendahuluan

Setiap agama langit tentu mendasarkan
ajaran-ajarannya pada wahyu. Seorang nabi tidak lain adalah manusia biasa yang diberi
kekuatan untuk dapat berhubungan dengan Tuhan dan menyatakan kehendak-Nya.
Agama Islam seperti halnya dengan agama-agama semit, mengambil ajaran-ajarannya
dari langit dan sumber-sumbernya yang utama adalah Kitab Al-Qur’an sebagai
wahyu langsung dan Sunnah Nabi sebagai wahyu yang tak langsung. Siapa yang
menolak wahyu berarti dia mengingkari Islam keseluruhannya, atau
setidak-tidaknya merobohkan sendi-sendi yang utama.

Sebenarnya pengingkaran terhadap wahyu sudah
timbul sejak masa Nabi SAW. Orang-orang kafir Quraisy tidak mau mengakui bahwa
Nabi Muhammad SAW mendapat wahyu dan dapat berhubungan dengan alam ketuhanan,
sebab ia adalah manusia biasa yang makan dan minum serta pergi ke pasar (QS.Al-Furqān:7).
Setelah al-Qur’an, sebagai mukjizatnya yang membumkan mulut mereka sedang
mereka adalah ahli bahasa dan kesusastraan, maka mereka menuduhnya sebagai
tukang sihir. Maka jawaban terhadap tuduhan-tuduhan mereka adalah adalah aku
ini tidak lain adalah manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku (QS.Al-Kahf:110).

Ajaran
Islam tentang wahyu mudah dan jelas, dimana malaikat Jibril yang dapat
mengambil bermacam-macam bentuk, seperti malaikat lain juga, bertugas sebagai
penghubung antara Tuhan dengan nabi-nabi-Nya dan dari Malaikat Jibrillah
Muhammad menerima perintah-perintah agamanya, kecuali pada malam Isra’ Mi’raj
saja dimana pada malam itu ia dapat berhubungan secara langsung dengan Tuhan,
karena jiwa yang suci naik kealam malakut dan disana ia melihat rahasia-rahasia
alam gaib. Nabi SAW sendiri sebelum memulai dakwahnya telah melihat
impian-impian sebagai tanda akan dimulainya tugas-tugas, yang di satu surat di
dalam al-Qur’an dimana seluruh pembicaraannya berbicara berkisar sekitar
impian, yaitu Surat Yusuf, Nabi SAW juga mengatakan tentang impian-impian yang
benar-benar merupakan satu bagian dari 46 tanda kenabian.

Berikut ini penulis akan mencoba mengeksplorasi
pandangan filosofis Al Farabi tentang kenabian yang dibangun atas dasar-dasar
psikologi, metafisika dan erat hubungannya dengan etika serta merupakan ulasan
falsafah pertama dalam sejarah dan keilmuan Islam klasik. Akan tetapi
sebelumnya akan dideskripsikan biografi singkat, konteks inteletual yang
berkaitan tentang kenabian, dimana pandangan kenabiannya merupakan respon
terhadap wacana penolakan terhadap kenabian yang dilakukan oleh Ibnu Rawandi dan Abu Bakr Al Razi.

 

Biografi singkat

Nama lengkapnya adalah Abu Nashr Muhammad bin
Muhammad bin Tarkhan bin Auzalagh. Lahir pada 870 M di desa Wasij, bagian dari
Farab, yang termasuk bagian dari wilayah Mā Warā`a al-Nahr
(Transoxiana); sekarang berada di wilayah Uzbekistan. Al-Farabi meninggal di
Damaskus, ibukota Suriah pada umur sekitar 80 tahun, tepatnya pada 950 M. Di
negeri Barat, al-Farabi dikenal dengan nama Avennaser atau Alfarabius.
Ayahnya berasal dari Persia (Suriah) yang pernah menjabat sebagai panglima
perang Turki. Sedang ibunya berasal dari Turki.

Pada masa mudanya, di kota kelahirannya, al-Farabi
banyak belajar beragam disiplin ilmu, mulai dari fikih, tafsir, hingga logika.
Namun semua penjelasan gurunya tidak memuaskan dirinya. Al-Farabi kemudian
pindah ke Baghdad, pusat ilmu pengetahuan dan peradaban saat itu. Di Baghdad
inilah, al-Farabi bertemu sekaligus belajar dengan orang-orang terkenal dari
beragam disiplin ilmu pengetahuan. Al-Farabi belajar bahasa dan sastra Arab
dari Abu Bakr al-Sarraj; belajar logika dan filsafat dari Abu Bisyr Mattius
(seorang Kristen Nestorian) yang banyak menerjemah filsafat Yunani dan Yuhana
bin Hailam (juga seorang filosof Kristen). Al-Farabi bahkan sempat pergi ke
Harran, daerah yang berada di wilayah tenggara Turki yang dikenal sebagai pusat
kebudayaan Yunani di Asia Kecil. Daerah Harran ini pula lah, konon orang tua
nabi Ibrahim as. lahir dan dibesarkan, sekaligus menjadi tempat lahirnya bapak
para nabi itu.

Al-Farabi dipandang sebagai filosof Islam pertama
yang berhasil menyusun sistematika konsepsi filsafat secara meyakinkan.
Posisinya mirip dengan Plotinus (204 – 270 M) yang menjadi peletak filsafat
pertama di dunia Barat. Jika orang Arab menyebut Plotinus sebagai Syaikh al-Yūnānī
(guru besar dari Yunani), maka mereka menyebut al-Farabi sebagai al-Mu’allim
al-Tsānī
(guru kedua) di mana “guru pertama”-nya disandang oleh
Aristoteles. Julukan “guru kedua” diberikan pada al-Farabi karena dialah
filosof muslim pertama yang berhasil menyingkap misteri kerumitan yang
kontradiktif antara pemikiran filsafat Aristoteles dan gurunya, Plato. Melalui
karya al-Farabi berjudul al-Ibānah ‘an Ghardh Aristhū fī Kitāb Mā Ba’da
al-Thabī’ah
(Penjelasan Maksud Pemikiran Aristoteles tentang Metafisika).
Karya al-Ibānah inilah yang membantu para filosof sesudahnya dalam
memahami pemikiran filsafat Yunani. Konon Ibnu Sina (filosof besar sesudah
al-Farabi) sudah membaca 40 kali buku metafisika karya Aristoteles, bahkan dia
menghafalnya, tetapi diakui bahwa dirinya belum mengerti juga. Namun setelah
membaca kitab al-Ibānah karya al-Farabi yang khusus menjelaskan maksud
dari pemikiran Aristoteles, Ibnu Sina mengaku mulai paham pemikiran
metafisik-nya Aristoteles.

Setelah melakukan petualangan cukup lama di
Baghdad, sekitar 20 tahun, al-Farabi pergi ke Damaskus ketika berumur 75 tahun
(sekitar tahun 945 M). Di ibukota Suriah inilah, al-Farabi berkenalan dengan
Sultan Saif ad-Daulah, penguasa Dinasti Hamdan di Aleppo, wilayah Suriah bagian
utara yang dikenal sebagai negeri industri. Sultan memberi al-Farabi jabatan
sebagai ulama istana dengan banyak fasilitas kerajaan yang mewah. Namun
fasilitas mewah itu ditolaknya dan hanya mau mengambil sekitar 4 dirham saja
per hari sekedar untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari secara sederhana. Di
negeri Aleppo ini, al-Farabi banyak berkenalan dengan para ahli di berbagai
disiplin ilmu pengetahun: sastrawan, penyair, ahli fikih, kalam, dan lainnya.
Sisa dari gaji yang diterima dari kerajaan, digunakan al-Farabi untuk kepentingan
sosial dan dibagi-bagikan pada kaum fakir miskin di sekitar Aleppo dan
Damaskus. Pada tahun 950 M, al-Farabi meninggal dunia di Damaskus pada usia 80
tahun.

 

Perdebatan wacana kenabian dimasanya

Pada masa-masa pertama Islam kaum Muslimin
mempercayai sepenuhnya apa yang datang dari Tuhan, tanpa membahasnya atau mencari-cari
alasannya. Namun keadaan ini tidak berlangsung lama karena karena hal ini mulai
dikeruhkan dengan oleh berbagai hal keraguan, setelah golongan-golongan di luar
Islam perlahan-lahan dapat memasuki fikiran ummat muslim. Golongan-golongan itu
adalah golongan Mazdak, dan Manu dari Iran, golongan Sumniyah dari agama Mrahma,
serta orang-orang Yahudi dan Masehi. Sejak saat itu, setiap dasar-dasar agama
Islam dibahas dan dikritik. Dalam menghadapi kritikan orang-orang yang banyak
dari mengkritik tersebut, orang-orang Mu’tazilah telah memberikan bagian yang
sukar dicari bandingannya.

Sehubungan dengan ini kritikan Ibn ar-Rawandi
(Wafat akhir 111 H) dan Abu Bakar ar-Razi (Wafat 250 H). terhadap kenabian . perlu
dicatat Ibnu ar-Rawandi dan dalam bukunya yang berjudul Az Zamarrudah
mengingkari kenabian pada umumnya dan kenabian Muhammad SAW pada khususnya, ia
banyak membarikan kritikan terhadap ajaran-ajaran Islam dan Ibadahnya, dan
menolak mukjizat-mukjizat keseluruhannya. Khusus mengenai kenabian, ia
mengatakan bahwa rasul-rasul itu sebenarnya tidak diperlukan, karena Tuhan
telah memberikan akal kepada manusia, agar mereka dapat membedakan antar yang
baik dan yang buruk. Pada intinya Ibnu ar-Rawandi dalam hal ini berpendapat
bahwa keberadaan akal itu sudah cukup.

Ar-Razi
seorang dokter dan tokoh filsafat, juga tidak kurang bahaya, karena ia menulis
dua buku, yaitu Makhariq al-Anbiya aw HiIya al-Munatanabbi-in (Mainan nabi-nabi
atau tipu daya terhadap orang yang mengaku menjadi Nabi) dan Naqdl al-Adyan
aw fi an Nubuwwah
(Menentang agama-agama atau menentang kenabian). Menurut Massignon,
buku pertama tersebar luas, sampai mencapai Dunia Barat sehingga buku tersebut
menjadi sumber kritikan-kritikan yang dlancarkan oleh para rasionalis eropa
terhadap agama dan kenabian. Pada masa Frederick II Buku kedua, beberapa
bagiannya sampai kepada kita melalui tulisan-tulisan Abu Hatim ar-Razi (Wafat
tahun 330 H) dalam bukunya A’lam an-Nubuwwah yang dikarang untuk menolak
pandangan ar-Razi mengenai teori kenabian.

Serangan
Abu bakar ar-Razi pada pada garis besarnya tidak banyak berbeda dengan serangan
ar-Rawandi, seolah-olah kedua orang tersebut bersumber satu, atau seolah-olah
ajaran Hindu dan Manu tersembunyi di belakangnya, dan tidak jauh kemungkinannya
kalau keduanya mengetahui kritik orang-orang Yunani terhadap berbagai agama.
Bagaimanapun juga, baik karena terpengaruh oleh fikirannya sendiri, namun yang
jelas ialah bahwa ia mengakui dirinya sebagai sebagai orang-orang yang
mempunyai kelebihan-kelebihan khusus, baik fikiran maupun rohani, karena semua
itu, dan keadilan Tuhan serta hikmah-Nya mengharuskan tidak dibedakannya
seseorang dengan lainnya.

 

Falsafah Kenabian Al Farabi

Dalam suasana penuh perdebatan tentang kenabian
muncullah al Farabi, ia merasa bahwa dirinya harus mengambil bagian, apalagi ia
hidup semasa dengan Ibnu ar-Rawandi dan Abu Bakar ar-Razi. Sebagai hasil
penggabungannya dengan filsafat yang merupakan kegiatan utama bagi
filosof-filosof Islam, maka al-Farabi adalah merupakan orang pertama yang
membahas tetnag kenabian secara lengkap sehingga penambahan dari orang lain hampir
tidak ada. Total kenabian al-Farabi yang merupakan bagian terpenting dalam
filsafat, ditegakkan atas dasar-dasar psikologi dan metafisika, dan erat
hubungannya dengan lapangan-lapangan akhlak Pada waktu membicarakan negeri
utama dari al-Farabi kita melihat bahwa manusia dapat berhubungan dengan al
aql al fa’āl
, meskipun terbatas hanya pada orang tertentu.

Hubungan tersebut bisa ditempuh dengan dua jalan,
yaitu : jalan fikiran dan jalan imajinasi penghayalan), atau dengan perkataan
lain melalui renungan fikiran dan inspirasi (ilham). Sudah barang tentu tidak
semua orang dapat mengadakan hubungan dengan al aql al fa’āl. melainkan
hanya orang yang mempunyai jiwa suci yang dapat menembus dinding-dinding alam
gaib dan dapat mencapai alam cahaya. Dengan melalui renungan-renungan fikiran
yang banyak, seorang hakim (bijaksana) dapat mengalahkan hubungan tersebut dan
orang semacam inilah yang bisa diserahi oleh al-Farabi untuk mengurusi negeri utama
yang dikonsepsikannya itu, Akan tetapi di samping melalui pemikiran hubungan
dengan al aql al fa’āl bisa terjadi dengan jalan imajinasi, dan keadaan
ini berlaku bagi nabi-nabi. Semua ilham dan wahyu yang disampaikan kepada kita
merupakan salah satu bekas dan pengaruh imajinasi tersebut.

Kalau kita
kembali kepada pembahasan psikologi dari al-Farabi maka kita akan mengetahui
bahwa imajinasi memainkan peranan yang penting dan memasuki segi-segi
gejala-gejala psikologis yang bermacam-macam. Imajinasi tersebut erat
hubungannya dengan kecondongan dan perasaan, dan ada pengaruhnya pada gerak
fikiran dan kemauan, serta mengarahkannya kepada arah tertentu. Di samping ini,
imajinasi menyimpan obyek-obyek inderawi dan gambaran-.gambaran alam luar yang
masuk kepada otak melalui indera-indera, Malah kadang-kadang tidak hanya
menyimpan gambar-gambar fikiran tetapi juga membuat gambaran baru sama sekali
yang tidak ada keserupaaanya dengan obyek-obyek inderawi. Di antara gambaran-gambaran
yang baru sama sekali yang diciptakan oleh imajinasi ialah impian-impian.
Dengan demikian maka al-Farabi telah menyebutkan dua macam imajinasi, seperti
yang disebutkan oleh sarjana-sarjana psikologi modern, yaitu imagination
creatrice
(imajinasi pencipta), dan imagination conservatrice (imajinasi
penyimpang). Yang penting dalam hubungannya dengan soal kenabian ialah
bagaimana pengaruh imajinasi terhadap impian dan pembentukannya sebab apabila
soal impian ini bisa ditafsirkan secara ilmiah, maka soal kenabian dan kelanjutan-kelanjutannya
bisa ditafsirkan pula Sebagaimana dimaklumi.

Ilham-ilham
kenabian adakalanya terjadi pada waktu tidur ataupun jaga, atau dengan
perkataan lain, dalam bentuk impian yang benar atau wahyu. Perbedaan antara
kedua cara ini bersifat relatif dan hanya mengenai tingkatannya, tetapi tidak
mengenai esensinya (hakikatnya). Impian yang benar tidak lain adalah merupakan
salah satu cabang kenabian yang erat hubungannya dengan wahyu dan tujuannya
juga sama Meskipun berbeda caranya. Jadi apabila kita dapat menerangkan salah
satunya, maka dapat pula kita menerangkan yang lain. Hubungan antara kedua cara
tersebut dijelaskan oleh al-Farabi dalam bukunya Ara’u Ahl Madinah
al-Fadhilah
. Kalau imajinasi dapat mengadakan gambaran-gambaran tersebut dengan
bentuk alam rohani. Misalnya orang tidur melihat langit dan orang-orang yag
menempatinya serta meraskan senang terhadap kenikmatan-kenikmatan yang ada di
dalamnya. Di samping itu imajinasi kadang-kadang naik kealam langit dan
berhubungan dengan al aql al fa’āl untuk menerima hal-hal yang
berhubungan dengan peristiwa-peristiwa khusus atau peristiwa-peristiwa
perorangan, dan dari sini maka terjadilah peramalan.

Hubungan tersebut bisa terjadi di waktu siang atau
pun di waktu malam, dan dengan adanya hubungan ini maka kita dapat menafsirkan
kenabian, karena. hubungan tersebut merupakan sumber impian yang benar dan
wahyu Al-Farabi mengatakan sebagai berikut “jika kekuatan imajinasi pada
seseorang kuat sekali, sedangkan obyek-obyek inderawi yang datang padanya dari
luar tidak mampu menguasai kekuatan tersebut maka sampai menghabiskan
keseluruhannya, dan orang tersebut tidak memakai kekuatan imajinasi itu untuk
kekuatan-kekuatan berfikirnya, melainkan di samping mengahdapi kedua pekerjaan
tersebut masih ada kelebihan yang banyak dan yang dipakai oleh kekuatan
imajinasi untuk menghadapi pekerjaan-pekerjaannya yang khusus, sedang keadaan
imajinasi ketika menghadapi kedua pekerjaan tersebut pada waktu jaga, sama
dengan keadaan imajinasi ketika terlepas dari jaga yaitu waktu tidur, maka dari
kekuatan imajinasi tersebut yang berhubungan dengan kekuatan al aql al fa’āl ini,
terpantullah gambaran-gambaran yang sangat indah dan sempurna”
. Orang yang
melihat hal sedemikian itu mengatakan bahwa Tuhan mempunyai kebesaran yang
agung dan mengagumkan, dan ia melihat perkara-perkara ajaib yang tidak mungkin
sama sekali terdapat pada alam maujud. Apabila kekuatan imajinasi seseorang
telah mencapai akhir kesempurnaan, maka tidak ada kalangannya pada waktu jaga
untuk menerima dari al aql al fa’āl peristiwa-peristiwa sekarang atau
peristiwa-peristiwa mendatang, atau obyek-obyek inderawi yang merupakan
salinannya. Ia dapat pula menerima salinan-salinan dan obyek-obyek fikiran dan wujud-wujud
lain yang mulia dan, melihatnya pula. Dengan adanya penerimaan-penerimaan itu
maka orang tersebut mempunyai ramalan (Nubuwwah) terhadap perkara-perkara
ketuhanan. Ini adalah tingkatan yang paling sempurna yang basa dicapai oleh
kekuatan imajianasi dan dicapai oleh manusia karena kekuatan tersebut Jadi ciri
khas pertama seorang nabi menurut al-Farabi, ialah bahwa ia mempunyai daya
imajinasi yang kuat dan memungkingkan dia dapat berhubungan dengan al aql al
fa’āl
, baik pada waktu ia tidur maupun pada waktu ia jaga. Dengan imajinasi
tersebut ia bisa menerima pengetahuan-pengetahuan dan kebenaran-kebenaran yang
nampak dalam bentuk wahyu dan impian yang benar. Wahyu tidak lain adalah
limpahan dari Tuhan melalui al aql al fa’āl. Selain nabi nabi-nabi ada
orang yang kuat daya imajinasinya, tetapi di bawah tingkatan nabi-nabi, dan
oleh karena itu tidak dapat berhubungan dengan al aql al fa’āl, kecuali
pada waktu tidur, dan kadang-kadang mereka sukar untuk dapat mengutarakan apa
yang diketahuinya.  Adapun orang awam,
maka imajinsinya lemah sekali dan tidak sampai berhubungan dengan al aql al fa’āl
baik di waktu malam maupun di waktu siang .

Demikianlah teori kenabian kenabian dari al-Farabi
yang dipertalikan dengan soal-soal kemasyarakatan, dan kejiwaan, seperti yang
dikemukakannya dalam bukunya ‘Ara-u Ahl al-Madinah al.Fadhilah Menurut
al-Farabi, nabi dan filosof adalah orang-orang yang pantas mengepalai negeri
utamanya, dimana kedua-duanya dapat berhubungan dengan al aql al fa’āl
yang menjadi sumber syariat dan aturan yang diperlukan bagi kehidupan tersebut.
Perbedaan antara kedua orang tersebut ialah hubungan nabi melalui imajinasi
maka hubungan filosof melalui pembahasan dan pemikiran.

Okt
29th

Sekuler-Liberal

Files under Tak Berkategori | Comments Off
Mengapa Barat Menjadi Sekular-Liberal ?
Fenomena sekularisasi dan liberalisasi pada peradaban Barat – yang kemudian diglobalkan ke seluruh dunia -- dapat ditelusuri dari proses sejarah yang panjang yang dialami oleh salah satu peradaban besar di dunia ini. Setidaknya, ada tiga faktor penting yang menjadi latar belakang, mengapa Barat memilih jalan hidup sekular dan liberal dan kemudian mengglobalkan pandangan hidup dan nilai-nilainya ke seluruh dunia, termasuk di dunia Islam. Pertama, trauma sejarah, khususnya yang berhubungan dengan dominasi agama (Kristen) di zaman pertengahan. Kedua, problema teks Bible. Dan ketiga, problema teologis Kristen.
Pertama, problem trauma sejarah. Dalam perjalanan sejarahnya, peradaban Barat (Western Civilization) telah mengalami masa yang pahit, yang mereka sebut “zaman kegelapan” (the dark ages), atau zaman pertengahan, the medieval ages. Zaman itu ditandai dengan dominasi yang sangat kuat dari Gereja, yang mengklaim sebagai institusi resmi wakil Tuhan di muka bumi. Ketika Gereja berkuasa itulah, mereka mendominasi dan melakukan berbagai tindakan brutal yang sangat tidak manusiawi. Salah satu catatan hitam dalam sejarah zaman ini adalah pembentukan sebuah institusi Gereja yang disebut dengan INQUISISI. Karen Armstrong, mantan biarawati dan penulis terkenal, menggambarkan kejahatan institusi Inquisisi Kristen dalam sejarah sebagai berikut:
Most of us would agree that one of the most evil of all Christian institutions was the Inquisition, which was an instrument of terror in the Catholic Church until the end of seventeenth century. Its methods were also used by Protestants to persecute and control the Catholics in their countries. 1
Ada sebagian tokoh Gereja yang berusaha melakukan pembelaan (apologetic). Tentang upaya apologetik dalam soal Inquisisi itu, Peter de Rosa, dalam bukunya, Vicars of Christ: The dark Side of the Papacy, mencatat, bahwa sikap itu hanya menambah kemunafikan menjadi kejahatan. (it merely added hypocricy to wickedness). Yang sangat mengherankan dalam soal ini adalah penggunaan cara siksaan dan pembakaran terhadap korban. Dan itu bukan dilakukan oleh musuh-musuh Gereja, tetapi dilakukan sendiri oleh orang-orang tersuci yang bertindak atas perintah wakil Kristus (Vicar of Christ). Peter de Rosa mencatat: “How ever, the Inquisition was not only evil compared with the twentieth century, it was evil compared with the tenth and elevent when torture was outlawed and men and women were guaranteed a fair trial. It was evil compared with the age of Diocletian, for no one was then tortured and killed in the name of Jesus crucified.” (Betapa pun, inquisisi tersebut bukan hanya jahat saat dibandingkan dengan (nilai-nilai) abad ke-20, tetapi ini juga jahat dibandingkan dengan (nilai-nilai) abad ke-10 dan ke-11, saat dimana penyiksaan tidak disahkan dan laki-laki serta wanita dijamin dengan pengadilan yang fair. Ini juga jahat dibandingkan dengan zaman Diocletian, dimana tidak seorang pun disiksa dan dibunuh atas nama Jesus yang tersalib). 2
Ketika pasukan Napoleon menaklukkan Spanyol tahun 1808, seorang komandan pasukannya, Kolonel Lemanouski, melaporkan bahwa pastor-pastor Dominikan mengurung diri dalam biara mereka di Madrid. Ketika pasukan Lemanouski memaksa masuk, para inquisitors itu tidak mengakui adanya ruang-ruang penyiksaan dalam biara mereka. Tetapi, setelah digeledah, pasukan Lemanouski menemukan tempat-tempat penyiksaan di ruang bawah tanah. Tempat-tempat itu penuh dengan tawanan, semuanya dalam keadaan telanjang, dan beberapa diantaranya gila. Pasukan Perancis yang sudah terbiasa dengan kekejaman dan darah, sampai-sampai merasa muak dengan pemandangan seperti itu. Mereka lalu mengosongkan ruang-ruang penyiksaan itu, dan selanjutnya meledakaan biara tersebut. 3
Henry Charles Lea, seorang sejarawan Amerika, menulis kejahatan Inquisisi di Spanyol dalam empat volume bukunya: A History of the Inquisition of Spain, (New York: AMS Press Inc., 1988). Dalam bukunya ini, Lea membantah bahwa Gereja tidak dapat dipersalahkan dalam kasus Inquisisi, sebagaimana misalnya dikatakan oleh seorang tokoh Kristen, Father Gam, yang menyatakan: “The inquisition is an institution for which the Church has no responsibility.” (Inquisisi adalah satu institusi dimana Gereja tidak memiliki tanggung jawab untuk itu). Ini adalah salah satu bentuk apologi di kalangan pemimpin Kristen. Lea menunjuk bukti sebagai contoh bahwa dalam kasus bentuk hukuman terhadap korban inquisisi, otoritas gereja mengabaikan pendapat bahwa menghukum kaum “heretics” (kaum yang dicap menyimpang dari doktrin resmi gereja) dengan membakar hidup-hidup adalah bertentangan dengan semangat Kristus. Tapi, sikap gereja ketika itu menyatakan, bahwa membakar hidup-hidup kaum heretics adalah suatu tindakan yang mulia. Karen Armstrong juga menyatakan, bahwa persekusi kaum heretics, Muslim, Yahudi, dan lain-lain, jelas-jelas berlandaskan agama. “This new persecution was no longer, strictly speaking, based on religion.” 4
Ketika melakukan berbagai bentuk kekejaman itu, Gereja bertindak sebagai wakil Tuhan, dan mengatasnamakan Tuhan. Karena itu, kesalahan yang dilakukan Gereja adalah kesalahan pada agama itu sendiri. Ini berbeda dengan Islam, yang tidak mengenal institusi kekuasaan agama (Theokrasi), sebagaimana yang terjadi pada sejarah Kristen. Para pemimpin Gereja diakui haknya untuk mengampuni dosa manusia.
Karena itu, tidaklah tepat jika konsep politik dalam Islam, yang diterapkan selama ratusan tahun, yakni konsep khilafah, disebut dengan istilah dalam tradisi Kristen, yaitu “theokrasi”. Abul A’la Maududi malah menyebut Theokrasi sebagai pemerintahan setan. Padahal, ketika memegang hegemoni kekuasaan yang begitu besar, justru ketika itulah, terjadi berbagai penyalahgunaan kekuasaan, yang akhirnya menimbulkan pemberontakan dari dalam tubuh Gereja sendiri. Mereka menyebutnya dengan istilah “reformasi”.
Salah satu yang mendorong Martin Luther melakukan pemberontakan terhadap Paus adalah praktik jual beli surat pengampunan dosa. Pada 31 Oktober 1517, Marthin Luther (1483-1546) memberontak pada kekuasaan Paus dengan cara menempelkan 95 poin pernyataan (Ninety-five Theses) di pintu gerejanya, di Jerman. Ia terutama menentang praktik penjualan “pengampunan dosa” (indulgences) oleh pemuka gereja. Pada 95 theses-nya itu, Luther juga menggugat keseluruhan doktrin supremasi Paus, yang dikatakannya telah kehilangan legitimasinya akibat penyelewengan yang dilakukannya. Tahun 1521, Luther dikucilkan dari Gereja Katolik. Namun, Luther berhasil mendapatkan perlindungan seorang penguasa di wilayah Jerman dan akhirnya mengembangkan geraja dan ajaran tersendiri terlepas dari kekuasaan Paus. 5
Bahkan, kata Luther, kekuatan anti-Kristus adalah Paus dan Turki secara bersamaan. Kekuatan jahat dalam kehidupan haruslah memiliki tubuh dan nyawa. Nyawa dari kekuatan Anti-Kristus adalah Paus, daging dan tubuhnya adalah Turki…Bangsa Turki adalah bangsa yang dimurkai Tuhan. (Antichrist is the Pope and the Turk together. A beast full of life must have a body and soul. The spirit or soul of Antichrist is the Pope, his flesh and body the Turk … The Turk are the people of the Wrath of God). 6
Berbagai penyelewengan penguasa agama, dan pemberontakan tokoh-tokoh Kristen kepada kekuasaan Gereja yang mengklaim sebagai wakil Kristus menunjukkan bahwa konsep “infallible” (tidak dapat salah) dari Gereja sudah tergoyangkan. Pemberontakan demi pemberontakan terus berlangsung, sehingga dunia Kristen Eropa kemudian terbelah menjadi dua bagian besar, Katolik dan Protestan. Beratus-ratus tahun kedua agama ini bersaing dan saling melakukan berbagai aksi pembantaian. Kisah perebutan tahta di Inggris menarik untuk disimak, bagaimana Raja Henry VIII (1491-1547) memisahkan diri dari Paus dan membentuk Gereja sendiri, hanya karena Paus menentang perkawinannya dengan Anne Boleyn dengan menceraikan istrinya terdahulu, Catharine of Aragon. Tahta Inggris akhirnya jatuh ke tangan Protestan (Anglikan) setelah Vatikan gagal mencegah tampilnya Elizabeth I (1558-1603) sebagai ratu Inggris menggantikan Queen Mary yang Katolik.
Di Perancis, pertarungan antara Katolik dan Protestan juga berlangsung sangat sengit. Salah satu kisah yang paling mengerikan adalah pembantaian kaum Protestan – terutama Calvinists -- di Paris, oleh kaum Katolik tahun 1572 yang dikenal sebagai “The St. Bartholomew’s Day Massacre”. Diperkirakan 10.000 orang mati. Selama berminggu-minggu jalan-jalan di Paris dipenuhi dengan mayat-mayat laki-laki, wanita, dan anak-anak, yang membusuk. 7
Perancis juga dikenal dengan Revolusi-nya (1789) yang dahsyat yang mengusung jargon “Liberty, Egality, Fraternity”. Pada masa itu, para agamawan (clergy) di Perancis menempati kelas istimewa bersama para bangsawan. Mereka mendapatkan berbagai hak istimewa, termasuk pembebasan pajak. Padahal, jumlah mereka sangat kecil, yakni hanya sekitar 500.000 dari 26 juta rakyat Perancis. 8
Dendam masyarakat Barat terhadap keistimewaan para tokoh agama yang bersekutu dengan penguasa yang menindas rakyat semacam itu juga berpengaruh besar terhadap sikap Barat dalam memandang agama. Tidak heran, jika pada era berikutnya, muncul sikap anti pemuka agama, yang dikenal dengan istilah “anti-clericalism”. Trauma terhadap Inkuisisi Gereja dan berbagai penyimpangan kekuasaan agama sangatlah mendalam, sehingga muncul fenomena “anti-clericalism” tersebut di Eropa pada abad ke-18. Sebuah ungkapan populer ketika itu: “Beware of a women if you are in front of her, a mule if you are behind it, and a priest wether you are in front or behind.” 9
Trauma pada dominasi dan hegemoni kekuasaan agama (Kristen) itulah yang memunculkan paham sekularisme dalam politik, yakni memisahkan antara agama dengan politik. Mereka selalu beralasan, bahwa jika agama dicampur dengan politik, maka akan terjadi “politisasi agama”; agama haruslah dipisahkan dari negara. Agama dianggap sebagai wilayah pribadi dan politik (negara) adalah wilayah publik; agama adalah hal yang suci sedangkan politik adalah hal yang kotor dan profan. Bukti-bukti penyimpangan kekuasaan politik oleh para penguasa agama di Eropa dengan mudah ditemukan. Pada tahap selanjutnya, mereka terus mencari dalil-dalil dan alasan teologis untuk memperkuat argumentasi sekularisasi, khususnya ditemukan pada ayat-ayat tertentu pada Bible. Ini adalah trauma Barat pada sejarah keagamaan mereka, yang sangat berbeda dengan pengalaman sejarah Islam, atau peradaban lainnya. Menghadapi serangan yang sangat kuat tersebut pihak Kristen akhirnya menyerah dan menerima proses sekularisasi sebagai bagian dari kenyataan. Bahkan, banyak yang berargumen bahwa sekularisasi adalah bagian dari ajaran Kristen itu sendiri. 10
Kedua, problema teks Bible. Ada sebagian kalangan yang dengan gegabah mencoba menyamakan antara al-Quran dengan Bible, sebab teks al-Quran tidak mengalami problema sebagaimana problema teks Bible. Norman Daniel dalam bukunya, Islam and The West: The Making of an Image, menegaskan: “The Quran has no parallel outside Islam.” 11
Hebrew Bible (Kristen menyebutnya Perjanjian Lama), misalnya, hingga kini masih merupakan misteri. Richard Elliot Friedman, dalam bukunya, Who Wrote the Bible, menulis, bahwa hingga kini siapa yang sebenarnya menulis Kitab ini masih merupakan misteri. (It is a strange fact that we have never known with certainty who produced the book that has played a central role in our civilization). Ia mencontohkan, the Book of Torah, atau The Five Book of Moses, diduga ditulis oleh Moses. Book of lamentation ditulis Nabi Jeremiah. Separoh Mazmur (Psalm) ditulis King David. Tetapi, kata Friedman, tidak seorang pun tahu, bagaimana penyandaran itu memang benar. The Five Book of Moses, kata Friedman, merupakan teka-teki paling tua di dunia (It is one of the oldest puzzles in the world). Tidak ada satu ayat pun dalam Torah yang menyebutkan, bahwa Moses adalah penulisnya. Sementara di dalam teks-nya dijumpai banyak kontradiksi. 12
Perjanjian Baru (The New Testament) juga menghadapi banyak problem otentisitas teks. Profesor Bruce M. Metzger, guru besar bahasa Perjanjian Baru di Princeton Theological Seminary, menulis beberapa buku tentang teks Perjanjian Baru. Satu bukunya berjudul “The Text of the New Testament: Its Transmission, Corruption, and Restoration” (Oxford University Press, 1985). Dalam bukunya yang lain, yang berjudul “A Textual Commentaary on the Greek New Testament”, (terbitan United Bible Societies, corrected edition tahun 1975), Metzger menulis di pembukaan bukunya, ia menjelaskan ada dua kondisi yang selalu dihadapi oleh penafsir Bible, yaitu (1) tidak adanya dokumen Bible yang original saat ini, dan (2) bahan-bahan yang ada pun sekarang ini bermacam-macam, berbeda satu dengan lainnya.
Bahasa Yunani (Greek) adalah bahasa asal The New Testament. Melalui bukunya ini, Metzger menunjukkan, rumitnya problema kanonifikasi Teks Bible dalam bahasa Greek. Banyaknya ragam teks dan manuskrip menyebabkan keragaman teks tidak dapat dihindari. Hingga kini, ada sekitar 5000 manuskrip teks Bible dalam bahasa Greek, yang berbeda satu dengan lainnya. Cetakan pertama The New Testament bahasa Greek terbit di Basel pada 1516, disiapkan oleh Desiderius Erasmus. (Ada yang menyebut tahun 1514 terbit The New Testament edisi Greek di Spanyol). Karena tidak ada manuskrip Greek yang lengkap, Erasmus menggunakan berbagai versi Bible untuk melengkapinya. Untuk Kitab Wahyu (Revelation) misalnya, ia gunakan versi Latin susunan Jerome, Vulgate. Padahal, teks Latin itu sendiri memiliki keterbatasan dalam mewakili bahasa Greek. 13
Dalam bukunya yang lain, The Early Versions of the New Testaments, Metzger mengutip tulisan Bonifatius Fischer, yang berjudul, “Limitation of Latin in Representing Greek”: “Although the Latin language is in general very suitable for use in making a translation from Greek, there still remain certain features which can not be expressed in Latin.” 14
Tahun 1519, terbit edisi kedua Teks Bible dalam bahasa Greek. Teks in digunakan oleh Martin Luther dan William Tyndale untuk menerjemahkan Bible dalam bahasa Jerman (1522) dan Inggris (1525). Tahun-tahun berikutnya banyak terbit Bible bahasa Greek yang berbasis pada teks versi Byzantine. Antara tahun 1516 sampai 1633 terbit sekitar 160 versi Bible dalam bahasa Greek. Dalam edisi Greek ini dikenal istilah Textus Receptus yang dipopulerkan oleh Bonaventura dan Abraham Elzevier. Namun, edisi ini pun tidak jauh berbeda dengan 160 versi lainnya. 15 Meskipun sekarang telah ada kanonifikasi, tetapi menurut Metzger, adalah mungkin untuk menghadirkan edisi lain dari The New Testament. (the way is open for the possible edition of another book or epistle to the New Testament canon). 16
Jadi, menurut Prof. Metzger, adalah mungkin menghadirkan edisi lain dari The New Testatement. Jelas, fakta semacam itu tidak terpikir kaum Muslimin, hingga kini. Apalagi kaum Muslim juga tidak mengalami problema bahasa al-Quran. Mereka masih membaca al-Quran dalam bahasa Arab dan beribadah dalam bahasa Arab, sesuatu yang tidak dapat dinikmati oleh kaum Kristiani pada umumnya. Bagaimana pun telitinya, satu terjemahan pasti tidak akan mampu mengekspresikan bahasa asalnya dengan tepat. Apalagi, jika terjemahan itu sudah dilakukan ke berbagai bahasa. Ambillah satu contoh ayat dalam Bible. Misal, Kitab 1 Raja-raja 11:1 dalam sejumlah versi Bible ditulis sebagai berikut: Versi Lembaga Alkitab Indonesia (2000) ditulis: “Ada pun Raja Salomo mencintai banyak perempuan asing. Disamping anak Firaun ia mencintai perempuan-perempuan Moab, Amon, Edom, Sidon, dan Het.” Dalam The Living Bible ditulis: “King Salomon married any other girls besides the Egyptian princess. Many of them came from nations where idols were worshipped – Moab, Ammon, Edom, Sidon and from the Hittites.” Sedangkan Bible King James Version menulis: But King Solomon loved many strange women, together with the daughter of Paharaoh, women of Moabites, Ammonites, Edomites, Zidonians, and Hittites.” Ada pun The Bible Revised Standard Version menulis: “Now King Solomon loved many foreign women; the daughter of Pharaoh, and Moabites, Ammonite, E’domite, Sido’niah, and Hittite women.” Ada pun dalam edisi Latin ‘Vulgate’, ditulis: “rex autem Salomon amavit mulieres alienigenas multas filiam quoque Pharaonis et Moabitidas et Ammanitidas Idumeas et Sidonias et Chettheas.”
Perhatikan, bagaimana sejumlah versi Bible menggunakan kata “mencintai” (loved/amavit), sedangkan The Living Bible menggunakan kata “married”. Faktanya, Salomon memang mengawini wanita-wanita asing itu. Kejahatan Salomon versi Bible digambarkan dalam Kitab 1 Raja-Raja 11:1-9, digambarkan perilaku Salomo yang tidak patut dilakukan oleh seorang nabi utusan Allah – dalam konsepsi Islam. Bagian dalam Bible ini diberi judul “Salomo Jatuh ke dalam penyembahan berhala”.
“(1) Ada pun Raja Salomo mencintai banyak perempuan asing. Disamping anak Firaun ia mencintai perempuan-perempuan Moab, Amon, Edom, Sidon, dan Het. (2) Padahal tentang bangsa-bangsa itu Tuhan telah berfirman kepada orang Israel: “Janganlah kamu bergaul dengan mereka dan mereka pun janganlah bergaul dengan kamu, sebab sesungguhnya mereka akan mencondongkan hatimu kepada allah-allah mereka. Hati Salomo telah terpaut kepada mereka dengan cinta. (3) Ia mempunyai tujuh ratus istri dan tiga ratus gundik; istri-istrinya itu menarik hatinya dari pada Tuhan. (4) Sebab pada waktu Salomo sudah tua, istri-istrinya itu mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain, sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada Tuhan, Allahnya, seperti Daud, ayahnya. (5) Demikianlah, Salomo mengikuti Asytoret, dewi orang Sidon, dan mengikuti Milkom, dewa kejijikan sembahan orang Amon, (6) dan Salomo melakukan apa yang jahat di mata Tuhan, dan ia tidak dengan sepenuh hati mengikuti Tuhan, seperti Daud, ayahnya. (7) Pada waktu itu Salomo mendirikan bukit pengorbanan bagi Kamos, dewa kejijikan sembahan orang Moab, di gunung di sebelah Timur Yerusalem dan bagi Molokh, dewa kejijikan sembahan bani Amon. (8) Demikian juga dilakukannya bagi semua istrinya, orang-orang asing itu, yang mempersembahkan korban ukupan dan korban sembelihan kepada allah-allah mereka. (9) Sebab itu Tuhan menunjukkan murkanya kepada Salomo, sebab hatinya telah menyimpang dari pada Tuhan, Allah Israel, yang telah dua kali menampakkan diri kepadanya.”
Fakta semacam ini tentu tidak mudah dipahami, sebab dalam konsepsi Bible, penyembah berhala harus dijatuhi hukuman mati. Dalam Alkitab terbitan LAI, Kitab Ulangan 17:2-7 diletakkan di bawah judul “Hukuman Mati untuk penyembah Berhala”:
(2) Apabila di tengah-tengahmu di salah satu tempatmu yang diberikan kepadamu oleh Tuhan, Allahmu, ada terdapat seorang laki-laki atau perempuan yang melakukan apa yang jahat di mata Tuhan, Allahmu, dengan melangkahi perjanjian-Nya, (3) dan yang pergi beribadah kepada allah lain dan sujud menyembah kepadanya, atau kepada matahari, atau bulan atau segenap tentara langit, hal yang telah Kularang itu; (4) dan apabila hal itu diberitahukan atas terdengar kepadamu, maka engkau harus memeriksanya baik-baik. Jikalau ternyata benar dan sudah pasti, bahwa kekejian itu dilakukan diantara orang Israel, (5) maka engkau harus membawa laki-laki atau perempuan yang telah melakukan perbuatan jahat itu keluar ke pintu gerbang, kemudian laki-laki atau perempuan itu harus kau lempari dengan batu sampai mati. (6) Atas keterangan dua atau tiga orang saksi haruslah mati dibunuh orang yang dihukum mati; atas keterangan satu orang saksi saja janganlah ia dihukum mati. (7) Saksi-saksi itulah yang pertama-tama menggerakkan tangan mereka untuk membunuh dia, kemudian seluruh rakyat. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu.”
Ketiga, Problema Teologis Kristen.
Di zaman pertengahan, semua rasio harus disubordinasikan kepada kepercayaan Kristen. Akal dan filosofi di zaman pertengahan tidak digunakan untuk mengkritisi atau menentang doktrin-doktrin kepercayaan Kristen, tetapi digunakan untuk mengklarifikasi, menjelaskan, dan menunjangnya. Sejumlah ilmuwan seperti Saint Anselm, Abelard, dan Thomas Aquinas mencoba memadukan antara akal (reason) dan teks Bible (revelation). Marvin Perry mencatat sikap para ilmuwan dan pemikir abad pertengahan: abad pertengahan:
“They did not reject Christian beliefs that were beyond the grasp of human reason and therefore could not be deduced by rational argument. Instead, they held thst such truths rested entirely on revelation and were to be accepted on faith. To medieval thinkers, reason did not have an independent existence but ultimately had to acknowledge a supra-rational, superhuman standard of truth. They wanted rational thought to be directed by Christian ends and guided by scriptural and ecclesiastical authority.” 17
Problema yang kemudian muncul ialah, ketika para ilmuwan dan pemikir diminta mensubordinasikan dan menundukkan semua pemikirannya kepada teks Bible dan otoritas Gereja, justru pada kedua hal itulah terletak problema itu sendiri. Disamping menghadapi problema otentisitas, Bible juga memuat hal-hal yang bertentangan dengan akal dan perkembangan ilmu pengatahuan. Problema teks Bible telah disinggung pada bagian sebelumnya. Problema kontradiksi antara Bible dengan sains, dapat dilihat dalam kasus Galileo Galilei dan beberapa ilmuwan lainnya.
Hingga di abad pertengahan, para tokoh Kristen – termasuk para reformis seperti Luther, Calvin, dan Zwingli – masih mempertahankan metode interpretasi literal. Model interpretasi semacam itu sejak berabad-abad telah menimbulkan benturan dengan model interpretasi alegoris. Kasus menarik antara model literal dan alegoris terjadi dalam soal penafsiran terhadap teori kosmologi. R. Hoykaas dalam bukunya, G.J. Rheticus Treatise on Holy Scripture and the Motion of The Earth, menjelaskan, bahwa bagi kelompok literal Kristen, penganut metode literalisme, ayat-ayat Bible tentang alam semesta haruslah diartikan secara literal, dan lebih dari itu, dasar-dasar kosmologi harus diambil dari Bible. Sebagai implikasinya, misalnya, ketika ada konsep “waters above the expanse” (air adalah di atas tanah atau udara), yang bertentangan dengan prinsip dasar Aristotelian -- bahwa alam telah menempatkan air di bawah udara, api, dan benda-benda langit – maka teks Bible harus dimenangkan atas konsep filsafat “kafir” Aristotle. Tokoh-tokoh gereja Syria yang ingin agar kosmologi bebas dari pengaruh paganisme, menempatkan konsep kosmologi Bible berhadapan dengan konsep kosmologi Yunani. Abad ke-6 M, penulis Kosmas Indikopleustes menyusun konsep ekstrim bahwa bumi itu datar, sebab Bible (New King James Version) menyatakan: “That it might be take hold of the ends of the earth, and the wicked be shaken out of it.” (Job, 38:13). Juga, “After these things I saw four angels standing at the four corner of the earth, that the wind should not blow on the earth, on the sea, or on any tree.” (Revelation, 7:1). Dalam versi LAI, ayat Ayub 38:3 diterjemahkan: “untuk memegang ujung-ujung bumi, sehingga orang-orang fasik dikebaskan daripadanya.” Sedangkan ayat Wahyu-wahyu 7:1 diterjemahkan: “Kemudian daripada itu, aku melihat empat malaikat berdiri pada keempat penjuru bumi dan mereka menahan keeempat angin bumi, supaya jangan ada angin bertiup di darat, atau di laut atau di pohon-pohon.”
Berdasarkan metode tafsir literalisme, maka fakta sains, bahwa bumi bulat, harus dikalahkan oleh teks Bible. Jadi, menurut mereka, bumi memang segi empat, memiliki tepi, sehingga “orang jahat” bisa dibuang dari bumi. 18
Sejarah Kristen menunjukkan, otoritas Gereja pernah menghukum ilmuwan seperti Galileo Galilei (1564-1642), karena mengekspose teori “heliocentric”, bahwa matahari adalah pusat tata surya. Hal itu dilakukan untuk mempertahankan hegemoni kekuasaan Gereja – yang mempunyai doktrin infallibility (tidak pernah salah) karena merupakan wakil Kristus di muka bumi. Sampai abad ke-17, Gereja masih tetap berusaha mempertahankan posisi hegemoninya, sehingga berbagai hal yang dapat menggoyahkan otoritas dan legitimasi Gereja, dianggap sebagai “heresy” (kafir) dan dihadapkan ke Mahkamah Inquisisi. Kasus yang terkenal terjadi pada Galileo Galilei. Pada 19 Januari 1616, Galileo membuat dua statemen: (1) matahari adalah pusat galaksi dan (2) bumi bukanlah pusat tata surya.
Pada 24 Februari 1616, sekelompok pakar teologi yang dibentuk oleh Tahta Suci Vatikan (Holy Office) menyatakan, bahwa teori Galileo itu bertentangan dengan Bible. Maka, Paus Paul V, meminta Cardinal Bellarmine untuk memperingatkan Galileo. Tetapi, pada 1632, Galileo kembali mengajarkan teorinya itu. Maka, pada 16 Juni 1633, Galileo diinterogasi karena dipandang melakukan kesalahan dalam Teologi, dengan menyebarkan teori “heliocentric”. Ia diundang ke Roma dan dipaksa oleh Mahkamah Inquisisi untuk mencabut teorinya dan mengikuti doktrin Gereja bahwa bumi adalah pusat tata surya. Di depan Inquisitor, Galileo akhirnya ‘bertobat; dan berjanji tidak akan menyebarkan lagi teori heliosentrisnya itu. Di depan Mahkamah Gereja itu, Galileo menyatakan akan menghapus semua opini yang salah, bahwa matahari adalah pusat dari jagad raya dan tidak bergerak, dan bahwa bumi bukanlah pusat jagad raya dan bergerak. Ia berjanji tidak akan mempertahankan atau mengajarkan doktrin yang salah tersebut, dalam bentuk apa pun, secara verbal atau melalui tulisan. 19
Sebelumnya, Nicolaus Copernicus (1473-1543), seorang Astronom dan ahli matematika sudah mengemukakan teori heliocentric itu. Sadar bahwa teorinya akan menimbulkan kontroversi, Copernicus menolak untuk mempublikasikan teorinya. Tapi, atas desakan teman-temannya, pada tahun 1543 ia menerbitkan bukunya yang berjudul On the Revolutions of the Heavenly Spheres. Teori Copernicus menakutkan penguasa Gereja, karena dianggap bertentangan dengan Bible. Sebagai contoh, disebutkan dalam Mazmur (Psalm) 93 ayat 1: “Yea, The world is established, it shall never be moved.” Tahun 1616, Gereja menempatkan buku On The Revolution dan buku-buku lain yang menjelaskan tentang perputaran bumi, ke dalam daftar buku-buku yang terlarang. 20
Jika para ilmuwan dipaksa tunduk kepada doktrin teologis yang mereka sendiri sulit memahaminya, tentu muncul benturan pemikiran. Padahal, konsepsi teologis Kristen – terutama fakta dan posisi ketuhanan Yesus -- telah menjadi ajang perdebatan ramai di kalangan Kristen. Kelompok-kelompok yang tidak menyetujui doktrin resmi Gereja dicap sebagai heretics dan banyak diantaranya yang diburu dan dibasmi. Contohnya, adalah satu kelompok yang bernama Cathary yang hidup di Selatan Perancis. Kelompok Cathary adalah penganut Catharism, satu kelompok heresy radikal di Zaman Pertengahan. Cathary percaya bahwa karena daging adalah jahat, maka Kristus tidak mungkin menjelma dalam tubuh manusia. Karena itu, Kristus tidaklah disalib dan dibangkitkan. Dalam ajaran Cathary, Jesus bukanlah Tuhan, tapi Malaikat. Untuk memperhambakan manusia, tuhan yang jahat menciptakan gereja, yang mempertontonkan “sihirnya” dengan mengejar kekuasaan dan kekayaan. Ketika kaum ini tidak dapat disadarkan dengan persuasif, Paus Innocent III menyeukan kepada raja-raja untuk memusnahkan mereka dengan senjata, sehingga ribuan orang dibantai. 21
Doktrin teologi Kristen tidaklah tersusun di masa Jesus, tetapi beratus tahun sesudahnya, yakni pada tahun 325 dalam Konsili Nicea. Adalah Kaisar Konstantine yang memelopori Konsili tersebut. Ia memelopori Konsili Nicea, 325 M, yang menyatukan atau memilih teologi resmi Gereja. Konsili menjadikan Roma sebagai pusat resmi Christian orthodoxy. Kepercayaan yang berbeda dengan yang resmi dipandang sebagai heresy. Dalam Konsili ini, aspek-aspek Ketuhanan Jesus diputuskan melalui voting. Buku The Messianic Legacy, yang mengkritik doktrin-doktrin Kristen, mencatat, bahwa Kristen memang berhutang pada Constantine, tetapi tidak dapat dikatakan Constantine adalah seorang Kristen atau meng-Kristenkan Romawi. Cerita tentang ‘konversi’ Constantine diperdebatkan. Ia tetaplah penganut paganisme. Tuhannya adalah Sol Invictus, dewa matahari kaum pagan. Paganisme juga menjadi agama resmi Romawi ketika itu. Buku ini menyebut pengaruh paganisme Constantine terhadap Kristen. Tahun 321 M, keluar Edict yang menetapkan hari Minggu sebagai hari istirahat. Padahal, sebelumnya, Kristen tetap menghormati hari Sabtu. Sampai abad ke-4, hari kelahiran Jesus diperingati pada 6 Januari. Tapi, pada tradisi persembahan Sol Invictus, hari terpenting adalah 25 Desember. 22
The Interpreter’s Dictionary of the Bible menjelaskan, bahwa istilah ‘trinitas’ (Latin: trinitas, Inggris: trinity) merujuk pada pengertian: “the coexistence of Father, Son, and Holy Spirit in the Unity of the Godhead”. Istilah ini bukan merupakan istilah Biblical. Tapi, mewakili kristalisasi dari ajaran Perjanjian Baru. Dalam Matius 3:17 disebutkan: "Maka suatu suara dari langit mengatakan, "Inilah anakku yang kukasihi. Kepadanya Aku berkenan." Juga, Lukas 4:41 menyebutkan bahwa Yesus itu adalah Anak Allah." Konsep Trinitas memang tidak mungkin dipahami dengan akal. Tokoh pemikir Kisten abad ke-13, Thomas Aquinas mengungkapkan dengan kata-kata: “Responsio. dicendum quod deum esse trinum et unum est solum creditum, et nullo modo potest demonstrative probari” (That God is three and one is only known by belief, and it is in no way possible for this to be demonstratively proven by reason). 23
Dalam konsep teologis Kristen yang dirumuskan pada Konsisi Nicea, juga ditentang ajaran sesat (bidaah) yang muncul pada awal abad IV yang dibawa oleh Arius, seorang imam Alexandria yang lahir tahun 280. Ia mengajarkan bahwa Yesus bukanlah Allah sejati. Ia menyangkal keilahian Yesus. Dalam Konsili itulah dirumuskan Syahadat Katolik, yang juga dikenal sebagai Syahadat dari Kaesarea. Berikut sebagian bunyi syahadat Katolik tersebut: “Kami percaya akan satu Allah, Bapa yang Mahakuasa, Pencipta hal-hal yang kelihatan dan tak kelihatan, Dan akan satu Tuhan Yesus Kristus, Sang Sabda dari Allah, Terang dari Terang, Hidup dari Hidup, Putra Allah yang Tunggal Yang pertama lahir dari semua ciptaan, Dilahirkan dari Bapa, Sebelum segala abad ... “ 24
Tentang konsep ketuhanan Jesus, buku The Messianic Legacy mencatat: “At Nicea Jesus’s divinity, and the precise nature of his divinity, were established by means of a vote. It is fair to state that Christianity as We know It today derives ultimately not from Jesus’s time, but from the Council of Nicea.” 25
Hingga kini, perdebatan seputar konsep teologi yang berpangkal pada konsep “ketuhanan” Jesus masih terus berlangusng hebat. Maraknya kontroversi terhadap film Mel Gibson berjudul "The Passion of the Christ" pada awal 2004 menunjukkan, bagaimana konsep seputar masalah teologi Kristen in masih menjadi kontroversi hebat. Dalam teologi Kristen, peristiwa “penyaliban” (crucifixion) menjadi faktor mendasar, namun perdebatan seputar “siapa yang membunuh Jesus” masih berlangsung hebat. Film Gibson mendasarkan pada teks Bible, Yahudi-lah yang harus bertanggung jawab terhadap terbunuhnya Jesus. Vatikan sendiri membela film Gibson dan menyatakan, film itu sudah sesuai dengan Perjanjian Baru. "The Passion" mengisahkan sebagian kehidupan Yesus. Tetapi film itu dinilai menggambarkan bangsa Yahudi bertanggung jawab besar terhadap kematian Yesus. Paus menyatakan film itu sebagai “It is at It was”, karena ceritanya memang banyak merujuk pada The New Testament. Namun, News Week edisi 16 Februari 2004 menulis, bahwa justru Bible itu sendiri yang boleh jadi merupakan sumber cerita yang problematis. (But the Bible can be a problematic source). Jika Paus menyatakan film itu sesuai dengan apa adanya, sebagaimana paparan dalam Bible, justru dalam film itu ditemukan berbagai penyimpangan dari cerita versi Bible.
Dalam Perjanjian Baru, memang dikatakan bahwa Yahudi bertanggung jawab terhadap pembunuhan Jesus. “Mengenai Injil mereka adalah seteru Allah oleh karena kamu, tetapi mengenai pilihan mereka adalah kekasih Allah oleh karena nenek moyang.” (Roma, 11:28). Di antara New Testament, Matius dan Yohanes dikenal paling ‘hostile’ terhadap Judaisme. Yahudi secara kolektif dianggap bertanggung jawab terhadap penyaliban Jesus. “Dan seluruh rakyat itu menjawab: “Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami.” (Matius, 27:25). Yahudi juga diidentikkan dengan kekuatan jahat. “Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu.” (Yohanes, 8:44). Sikap-sikap anti-Yahudi yang dikembangkan tokoh-tokoh Gereja kemudian, adalah variasi atau perluasan dari tuduhan-tuduhan yang tercantum dalam Injil.
Namun, kontroversi seputar penyaliban Jesus itu memang terus berlangsung. John Dominic Crossan, professor dalam Biblical Studies di DePaul University Chicago, menulis sebuah buku berjudul Who Killed Jesus? yang isinya membuktikan bahwa pemahaman tradisional terhadap terbunuhnya Jesus, yang digambarkan sebagai perbuatan kaum Yahudi, sebagaimana dipaparkan dalam Perjanjian Baru, bukan hanya salah, tetapi juga berbahaya. Ia juga mempertanyakan berbagai persoalan teologis yang mendasar, seperti “benarkah Jesus mati untuk menebus dosa-dosa manusia?” juga “apakah keimanan kita sia-sia jika tidak ada kebangkitan tubuh Jesus?”
“Penyaliban” dan “Kebangkitan” adalah doktrin pokok dalam teologi Kristen. Namun, justru di sinilah terjadi perdebatan seru di kalangan teolog Kristen. John Dominic Crossan, menulis, bahwa cerita tentang kubur Jesus yang kosong adalah “satu cerita tentang Kebangkitan dan bukan kebangkitan itu sendiri”. (Empty tomb stories and physical appearance stories are perfectly valid parables expressing that faith, akin in their own way to the Good Samaritan story. They are, for me, parables of resurrection not the resurrection itself). Cerita tentang Jesus, seperti tertera dalam Bible, menurut Crossan, disusun sesuai dengan kepentingan misi Kristen ketika itu. Termasuk cerita seputar penyaliban dan kebangkitan Jesus. Itulah yang dibuktikan oleh Crossan melalui bukunya tersebut. 26
Perdebatan seputar Jesus bahkan pernah menyentuh aspek yang lebih jauh lagi, yakni mempertanyakan, apakah sosok Jesus itu benar-benar ada atau sekedar tokoh fiktif dan simbolik? Pendapat seperti ini pernah dikemukakan oleh Arthur Drews (1865-1935) dan seorang pengikutnya William Benjamin Smith (1850-1934). 27
Kontroversi dalam soal teologi semacam itu tidak dijumpai dalam Islam. Konsepsi tentang Tauhid sudah sangat jelas. Begitu juga tentang kenabian Muhammad saw. Sejak awal mula kelahirannya, konsep teologi Islam sudah jelas, lugas, dan mudah dipahami. Bahkan, sejak awal, al-Quran telah menunjukkan berbagai kekeliruan konsepsi teologis kaum Kristen tersebut.
Pengalaman Barat terhadap Kristen selama beratus tahun telah membentuk sikap mereka terhadap Kristen. Mereka kemudian menempatkan Kristen sebagai agama personal dan membatasi wilayah kekuasaan mereka. Tak hanya itu, mereka juga melakukan proses liberalisasi dan dekonstruksi besar-besaran terhadap berbagai doktrin Kristen. Dalam bidang sosial-politik mereka lahirkan konsep sekularisme yang menemukan aplikasi penting pasca Revolusi Perancis, 1789. Dalam bidang Teologi, mereka mengembangkan konsep Teologi Inklusif dan Pluralis yang menolak klaim Kristen sebagai satu-satunya agama yang benar (extra ecclesiam nulla salus). Dalam bidang organisasi keagamaan, mereka menghantam konsep ‘formal religion’ dan mengembangkan konsep agama sebagai aktivitas. Dalam bidang kajian Kitab Suci, mereka mengembangkan ‘hermeneutika’ yang mendekonstruksi konsep Bible sebagai ‘The Words of God’ dan mengembangkan metode historical criticism terhadap Bible.
Melalui dominasi dan hegemoninya, Barat telah berhasil mengglobalkan konsep-konsep keilmuan dalam berbagai bidang, termasuk dalam bidang Islamic Studies. Proses liberalisasi dan sekularisasi di berbagai bidang yang terjadi di dunia Islam tidak lain adalah bagian dari globalisasi yang berangkat dari pengalaman dan realitas Barat dengan berbagai unsur yang membentuknya, seperti tradisi Jedeo-Christian, tradisi Yunani, dan unsur-unsur suku-suku bangsa Eropa. Sebagai satu peradaban besar yang masih eksis hingga kini, Islam memiliki banyak perbedaan fundamental dengan peradaban Barat, sehingga akan selalu terjadi konfrontasi pada level pemikiran. Dalam ungkapan Prof. Naquib al-Attas:
“The confrontation between Western culture and civilization and Islam, from the historical religious and military levels, has now moved on to the intellectual level; and we must realize, then, that this confrontation is by nature a historically permanent one. Islam is seen by the West as posing a challenge to its very way of life; a challenge not only to Western Christianity, but also to Aristotelianism and the epistemological and philosophical principles deriving from Graeco-Roman thought which forms the dominant component integrating the key elements in dimensions of the Western worldview.” 28
Tentu, tidak dinafikan, ada sejumlah persamaan antara Islam dengan Barat. Banyak pula hal-hal positif yang perlu diambil oleh kaum Muslim dari Barat, juga dari peradaban-peradaban lainnya. Tapi, semua itu perlu dikaji secara seksama dan mendalam, sehingga tidak menimbulkan sikap latah dan gegabah, menolak atau menjiplak Barat dengan membabi buta. Untuk memperjelas masalah besar ini, bisa disimak beberapa tulisan: (1) Hermeneutika dan Problema Teks Bible (Majalah ISLAMIA edisi perdana, 2004), (2) Makalah berjudul “Mendiskusikan Kembali Makna Islam” yang disampaikan dalam diskusi di Universitas Muhammadiyah Surakarta 1 Maret 2004, (3) Studi Komparatif Konsep al-Quran Nasr Hamid Abu Zaid dan Mu’tazilah (Majalah ISLAMIA edisi kedua, 2004). Juga buku: Islam Liberal (Adian Husaini -- Gema Insani Press), Pengaruh Kristen-Orientalis terhadap Islam Liberal (Adnin Armas -- Gema Insani Press), Tinjauan Historis Konflik Yahudi-Kristen-Islam (Adian Husaini -- Gema Insani Press), Tantangan Sekularisasi dan Liberalisasi di Dunia Islam (Hamid Fahmy Zarkasyi, Adnin Armas, Adian Husaini -- Khairul Bayan). Wallahu a’lam.

1 Lihat, Karen Armstrong, Holy War: The Crusades and Their Impact on Today’s World, (London: McMillan London Limited, 1991), hal. 456. Perlu dicatat, bahwa kekejaman Inquisisi dilakukan oleh Gereja, yang memegang otoritas atau wakil Tuhan. Kondisi in sangat berbeda dengan Islam yang tidak mengenal institusi kekuasaan agama (rahbaniyyah). Paus adalah Wakil Kristus (Vicar of Christ) yang diklaim mempunyai sifat infallible (tidak dapat salah). Dan ketika Paus melegalisasikan berbagai kekejaman dan penindasan, maka hal itu dilakukan sebagai wakil Tuhan. Inilah yang tidak terjadi pada tradisi Islam. Jika ada penguasa Islam yang melakukan kesalahan atau kezaliman, maka itu dilakukannya sebagai individu dan tidak atas legalitas keagamaan, meskipun ia mungkin menggunakan alasan keagamaan tertentu. Misal, ada sejumlah laporan yang menyebutkan adanya penguasa Muslim yang memaksa orang-orang Yahudi masuk Islam. Tindakan seperti ini, jika benar, jelas tidak dapat dibenarkan menurut ajaran Islam. Karen Armstrong mengakui, bahwa tidak ada tradisi persekusi dalam sejarah Islam. “There was no tradition of religious persecution in the Islamic empire,” tulis Armstrong. (Karen Armstrong, Holy War … hal. 44).
2 Peter de Rosa, Vicars of Christ: The Dark Side of the Papacy, (London: Bantam Press, 1991), hal. 246-247.
3 Peter de Rosa, Vicars of Christ: The Dark Side of the Papacy, hal. 239. Robert Held, dalam bukunya, “Inquisition”, memuat foto-foto dan lukisan-lukisan yang sangat mengerikan tentang kejahatan Inquisisi yang dilakukan tokoh-tokoh Gereja ketika itu. Dia paparkan lebih dari 50 jenis dan model alat-alat siksaan yang sangat brutal, seperti pembakaran hidup-hidup, pencungkilan mata, gergaji pembelah tubuh manusia, pemotongan lidah, alat penghancur kepala, pengebor vagina, dan berbagai alat dan model siksaan lain yang sangat brutal. Ironisnya lagi, sekitar 85 persen korban penyiksaan dan pembunuhan adalah wanita. Antara tahun 1450-1800, diperkirakan antara dua-empat juta wanita dibakar hidup-hidup di dataran Katolik maupun Protestan Eropa.
4 Henry Charles Lea, A History of the Inquisition of Spain, Vol. 1, hal. 35, Vol. 3, hal.183-185; Karen Armstrong, Holy War…, hal. 460).
5 Lihat, Philip J. Adler, World Civilizations, (Belmont: Wasworth, 2000), hal. 314-315.
6 Bernard Lewis, Islam and the West, (New York: Oxford University Press, 1993), hal. 73-75.
7 Philip J. Adler, World Civilization, hal. 322.
8 Marvin Perry, Western Civilization, (Boston: Houghton Mifflin Company, 1997), hal.312.
9 Owen Chadwick, The Secularization of the European Mind in the Nineteenth Century, (New York: Cambridge University Press, 1975), hal. 107-108.
10 Harian The Jakarta Post, edisi 26 Januari 2004, memuat profil Partai Damai Sejahtera (PDS), satu-satunya partai Kristen di Indonesia yang lolos seleksi sebagai kontestan Pemilu 2004. Beberapa program partai ini diantaranya adalah: kebebasan beragama dan proteksi terhadap kebebasan tersebut (Freedom of religion and protection for that freedom) dan menjamin pemisahan antara negara dengan agama (to ensure separation of state and religion). PDS adalah partai misionaris yang dipimpin seorang pendeta bernama Ruyandi Hutasoit. Program sekularisasi pihak Kristen ini sebenarnya bertentangan dengan hasil pertemuan misionaris Kristen se-dunia di Jerusalem tahun 1928, yang menetapkan sekulerisme sebagai musuh besar dari Geraja dan misi Kristen. Dalam usaha untuk mengkristenkan dunia, Gereja Kristen bukan hanya menghadapi tantangan agama lain, tetapi juga tantangan sekularisme. (It was made clear that in its efforts to evangelize the world, the Christian Church has to confront not only the rival claims of non-Christian religious system, but also the challenge of secularism). Pertemuan Jerusalem itu secara khusus menyorot sekularisme yang dipandang sebagai musuh besar Geraja dan misinya, serta musuh bagi misi Kristen internasional. (Lihat Tomas Shivute, The Theology of Mission and Evangelism, (Helsinki: Finnish Missionary Society, 1980), hal. 42-50.
11 Norman Daniel, Islam and The West: The Making of an Image, (Oxford:Oneworld Publications, 1997), hal. 53.
12 Richard Elliot Friedman, Who Wrote the Bible, (New York: Perennial Library, 1989), hal. 15-17.
13 Bruce M. Metzger, A Textual Commentary on the Greek New Testament”, (Stutgard: United Bible Societies, 1975), hal. xiii-xxi. Juga, Werner Georg Kume, The New Testament: The History of the Investigation of Its Problem, (Nashville: Abingdon Press, 1972), hal. 40.
14 Bruce M. Metzger, The Early Versions of the New Testaments, (Oxford: Clarendon Press, 1977), hal. 362-365.
15 Bruce M. Metzger, A Textual Commentary on the Greek New Testament”, hal. xxii-xxiv.
16 Bruce M. Metzger, The Canon of the New Testament: Its Origin, Development, and Significance, (Oxford:Clarendon Press, 1987), hal. 273.
17 Marvin Perry, Western Civilization, hal. 185-186.
18 Lihat, R. Hoykaas, G.J. Rheticus Treatise on Holy Scripture and the Motion of The Earth, (North Hollad Publishing Company, 1984)
19 Lihat, Robert Lomas, The Invisible College, (London: Headline Book Publishing, 2002, hal. 18-20, Juga, Father William G. Most, Catholic Apologetics Today, (Rockford: Tan Books and Publisher Inc., 1986), hal. 168-169. Buku karya Father William tersebut memang memberikan apologi terhadap kasus Galileo ini.
20 Marvin Perry, Western Civilization, hal. 279. Nasib buruk menimpa Giordano Bruno (1548-1600), pengagum Copernicus. Ia dijatuhi hukuman dibakar hidup-hidup oleh Mahkamah Inquisisi.
21 Marvin Perry, Western Civilization, hal. 175; The Encyclopedia Britannica, hal. 361.
22 Michael Baigent, Richard Leigh, Henry Lincoln, The Messianic Legacy, (New York: Dell Publishing, 1986), hal. 36-42.
23 Douglas C. Hall, The Trinity, (Leiden: EJ Brill, 1992), hal. 67-68.
24 The Interpreter’s Dictionary of the Bible, (Nashville: Abingdon Press, 1989; Alex I. Suwandi PR, Tanya Jawab Syahadat Iman Katolik, (Yogyakarta: Kanisius, 1992), hal. 9-10.
25 The Messianic Legacy, hal. 40.
26 Lihat, John Dominic Crossan, Who Killed Jesus (New York: HarperCollins Publishers, 1995), hal. 216-217.
27 Lihat, Howard Clark Kee, Jesus in History, (New York: Harcourt, Brace&World Inc, 1970), hal. 29.
28 Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism, (Kuala Lumpur, ISTAC,1993), hal. 105.



Diambil dari tulisan Adian Husaini, MA (Dosen Pascasarjana UI)
Okt
29th

sedikit pandangan tentang wanita (studi kasus aja)

Okt
28th

BELAJAR DEMOKRASI DARI PANGALAMAN*

Files under Uncategorized | Comments Off


[Rewrite By Rusydi Hikmawan]

Minggu 28 Desember 1997 Sdr. Masyhuri, Ketua Umum PB PII 1980-1982, meluncurkan buku “Pak Timur, Menggores Sejarah”. Sebuah upaya terpuji dari sekelompok KB PII, sebagai panitia dalam menandai penghargaan jasa Pak Anton Timur Djaelani, pendiri PII (Pelajar Islam Indonesia).

Mungkin tidak salah bahwa semua kader PII, yang sekurang-kurangnya pernah menghadiri peringatan ulang tahun PII, apalagi mereka yang pernah mengikuti sebuah training PII, akan mengenal nama Anton Timur Djaelani dan Yusdi Ghazali. Dua nama yang selalu disebut sebagai pendiri PII.

Demikianlah, saya mengenal nama Anton Timur Djaelani dalam sebuah latihan calon kader PII. Begitu juga diungkapkan oleh Dr. Ir. AM Saefuddin (anggota DPR RI) tentang Anton Timur Djaelani. Nama itu lekat dalam ingatan, bak kata iklan: “ingat PII ingat Anton Timur Djaelani.”

Pada saya mencuat rasa bangga, bahwa PII didirikan oleh seorang dengan nama yang biasa: Anton Timur. Anton berasosiasi dengan Barat, modern, Anthony. Sementara Timur yang mula-mula terasa aneh, kosa kata ganti arah dipakai nama, tetapi berasosiasi dengan nama seoarang raja Mongol, gagah perkasa, nomaden penakluk daratan Asia Tengah sampai Bagdag, yaitu Timur Leng.

(more…)

Okt
28th

Indonesiakita

Okt
27th

Files under | Leave a Comment

SUBHANALLAH WALHAMDULILLAH WALA ILA HAILLALAH ALLAHU'AKBAR,
TELAH LAHIR KADER DAKWAH, PUTRA PERTAMA DARI

TENGKU MUDA(MUDA) & D1ND4(YANTI)
DALAM KEDAAN SEHAT DENGAN BERAT 3.5 KG TADI PAGI JAM 5.45 WIB DI BIREUN,
MOHON DO'ANYA
INSYAALLAH AKAN MENJADI PEMIMPIN SHAF MUJAHID DAKWAH...AMIN
Okt
26th

Televisi, Matikan atau Benda Itu Jadi Monstermu [2]

Files under , artikel | Leave a Comment
Oleh : Djoko MoernantyoTelevisi, buruk untuk perkembangan anak.Penelitian yang melibatkan anak-anak dari Kanada, Australia, Amerika dan Indonesia dalam hal menonton televisi mendapatkan hasil menarik. Percaya atau tidak, anak Indonesia adalah penonton televisi terlama, disusul Amerika, Australia dan paling rendah Kanada. “Bagaimana tidak, kita bangun tidur langsung menonton televisi, mau tidur
Okt
26th

Televisi, Matikan atau Benda Itu Jadi Monstermu

Files under , artikel | Leave a Comment
Oleh : Djoko MoernantyoRajiv, sebut saja begitu, adalah seorang laki-laki berusia sekitar 8 tahun. Anak ini ditemukan tidak bernyawa, dengan kepala terluka setelah diketahui terjun dari apartemennya di lantai 9. Rajiv ingin meniru Krrish, tokoh superhero televisi di India yang digambarkan bisa terbang dan menyelamatkan bumi.Kiko, seorang anak berumur 4 tahun tiba-tiba mengatakan “Mama tidak
Okt
25th

Prioritas Kerja Jangka Pendek

Okt
25th

SMANTAweb

Okt
25th

Ta’lim Wustha PII Jakarta

Files under Tak Berkategori | Comments Off
Kegiatan paska intermediate training bagi kader PII (yg telah menempuhnya) selain kursus2 seperti Pelatihan Pemandu, Daurah Mu'allim, Latihan Manajamen Strategis, taw kursus badan otonom (Brigade or PII Wati). Di sini kader PII akan dibina secara intensif dan berkesinambungan, insya Allah. Pertemuan perdana ini diadakan secara mabit di Markas Dakwah Pelajar Jakarta. Jln. Menteng Raya No. 58 Jakarta Mu'allim : Ridwan Zulmi (Ketua Bidang Kaderisasi PW PII Jakarta) Mu'allim tamu : Kanda Yusuf Kesuma (KB PII Jakarta), insya Allah. Direncanakan mabit, mulai ba'da shalat 'Ashar berjama'ah, ada jalan2 ke monas, qiyamul lail, dll. Peserta : (kader intermediate) Dian - Jakarta Selatan Fitri - Jakarta Timur Romlah - Jakarta Utara Mirza Hayati - Kota Bekasi Nafila - Kota Bekasi Diyah - Ciputat Yayah N - Kab. Karawang Linda I - Kab. Karawang Nani M - Kab. Karawang Holis - Kab. Karawang Fasya - Kab. Subang Rofiuddin - Kab. Karawang Muhidin - Kab. Karawang M Luthfi - Kota B...
Okt
25th

Silaturrahim Kader PII Jakarta

Files under Tak Berkategori | Comments Off
Silaturrahim Kader PII Jakarta, mencakup Subang, Purwakarta, Karawang, Kabupaten Bekasi, Kota Bekasi, Depok-Citayam, Tangerang, Ciputat, Batu Ceper Benda, Jakarta Utara, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Jakarta Timur, Kepulauan Seribu, Ponpes At Taqwa Bekasi. Ini acara silaturrahim bwt seluruh kader/anggota PII yang pernah ikut training PII kapanpun n di mana pun. Yg penting trainingnya di bina oleh PW PII Jakarta or tinggal di wilayah teritorial PW PII
Okt
25th

Status Online YM

Okt
25th

Merayakan Jiwa, Muda, Perayaan Lintas Usia

Files under Tak Berkategori | Comments Off

"organisasi-organisasi pemuda yang terbentuk di masa pendudukan adalah hasil dari situasi krisis. Lembaga itu bukanlah sebuah jejak untuk menapaki karier atau bagian dari proses siklus kehidupan. Organisasi-organisasi itu diciptakan bagi satu momen sejarah ke depan, yaitu sejarah terbentuknya sebuah bangsa"

Kutipan diatas adalah ungkapan Ben Anderson, pakar Indonesia dari Amerika, yang ditulis dalam bukunya Java in a Time of Revolution : Occupation and Resistence, 1944-1946, diterbitkan oleh Cornell University Press tahun 1972. Edisi Indonesia diterbitkan oleh penerbit Sinar Harapan tahun 1988 dengan judul Revolusi Pemuda.

Ben Anderson mengingatkan kita akan motif mendasar dari semua pergerakan perjuangan Indonesia yang dilaksanakan oleh kaum muda dulu, para pendahulu kita. Landasan geraknya merupakan hasil dari kesadaran terhadap kondisi masyarakat, idealisme dan future oriented dalam berfikir serta bersikap untuk menata kehidupan Indonesia yang jauh lebih baik. Motif kaum muda, para pendahulu kita, steril dari personal interest yang selalu bersifat semu dan temporal.

Ketiga spirit inilah yang kemudian menjadi kekuatan terbesar bagi para kaum muda sehingga menempatkannya sebagai sebuah generasi yang sangat berpotensi besar menjadi dinamisator gerak kemajuan sebuah bangsa. Sehingga tidak salah bila Presiden Soekarno berkoar bisa merubah dunia dengan hanya bermodalkan sepuluh orang muda saja.

Spirit Jiwa Muda

Ketiga spirit jiwa muda ; kesadaran akan kondisi masyarakat, idealisme dan future oriented dalam berpikir serta menata langkah, mesti menjadi sesuatu yang terus menerus dikumandangkan secara bersama sehingga menjadi kesadaran dan keyakinan publik. Merasuk sedemikian rupa sehingga menjadi agenda kolektif bangsa.

Kesadaran akan kondisi masyarakat tentunya berangkat dari intensitas interaksi yang sangat tinggi dengan masyarakat. Sedangkan kemampuan untuk bisa berinteraksi secara intens dengan masyarakat, dengan segala kondisi yang melingkupinya, mensyaratkan adanya skill komunikasi yang mumpuni, sikap yang positif dalam melihat realitas serta pola berpikir yang sehat.

Skill komunikasi tentunya akan menarik orang untuk tetap berinteraksi mengungkap segala apa yang dipikir dan diharapkan. Sikap yang positif dalam melihat realitas akan selalu memberikan stamina dalam berinteraksi, menghalangi munculnya setiap bentuk apatisme. Sementara melalui pola berpikir yang sehat, akan selalu memberikan inspirasi solusi dari setiap kompleksitas masalah yang dihadapi.

Bersikap positif dan berfikir sehat akan selalu menghalangi tumbuhnya apatisme. Semua kondisi menjadi tantangan bagi terciptanya rencana gerak yang lebih baik.

Idealisme adalah hakikat dasar sifat manusia. Idealisme adalah cara berpikir manusia yang menembus batas usia. Mulai dari anak kecil sampai orang tua selalu berfikir secara ideal dari setiap kehidupan yang dijalaninya. Kehidupan manusia adalah usaha untuk mencapai sesuatu yang ideal menurut persepsi dirinya. Idealisme inilah yang terus membuat manusia bergerak memenuhi segala apa yang mesti dia jalaninya. Melalui idealisme inilah semua manusia bergerak tanpa henti sehingga kehidupan terasa lebih meriah dan dinamis.

Pada sisi lain future oriented, baik itu dalam berpikir juga bersikap, adalah pola berpikir yang senantiasa melekat pada jiwa muda. Berorientasi ke depan berarti memikirkan semua rencana penataan kehidupan lebih sistematis dan tertata. Dimulai dengan menyelami sejarah masa lalu, untuk mengambil pelajaran terdalam dari apa yang telah dilakukan para pendahulu kita, dilanjutkan dengan memancang targetan masa depan yang lebih baik. Setelah itu diciptakan rumusan-rumusan masa kini yang mesti dilakukan.

Melalui agama kita sering diingatkan bahwasannya pangkal dari dosa adalah karena berpikir sangat temporal. Tidak memiliki orientasi ke masa yang lebih jauh dari kehidupan yang dijalani sekarang. Karena berpikir temporal inilah kemudian muncul tindakan korupsi, karena ingin memperkaya diri secara instant. Pelanggaran hukum, karena tidak bershabar menjalani prosedur yang berlaku.

Jiwa-jiwa muda inilah yang bersemayam sedemikian rupa dalam diri kaum muda. Melalui ketiga hal ini telah tercipta kaum muda yang telah membuktikan prestasinya di tengah masyarakat. Jiwa-jiwa muda yang progresif ini telah masuk menelusuk pada peserta sidang pleno ke-3 Kongres Pemuda Indonesia II di Gedung Indonesisch Clubgebouw, Kramat Raya 136 dan melahirkan Sumpah Pemuda.

Sebuah sumpah dari kaum muda yang membutuhkan keberanian, militansi, pemahaman kondisi masyarakat, progresif dan berpikir masa depan. Jiwa muda inilah yang membuang jauh segala bentuk kepentingan personal yang selalu bersifat temporal dan semua.

Faktanya dalam sejarah kehidupan kita, kaum muda telah membuktikan prestasinya di tengah masyarakat. Sejarah dunia mencatat prestasi-prestasi kaum muda seperti Roosevelt yang menjadi Presiden Amerika Serikat pada umur 42 tahun. JFK 43 Tahun, Clinton 46 Tahun atau Tonny Blair yang menjadi Perdana Mentri Inggris pada umur 43 Tahun. Di dunia akademis orang akan senantiasa teringat Leon Botstein yang terpilih menjadi Rektor New Hampshire’s Franconia College pada tahun 1970 dalam umur 23 tahun. Ia tercatat sebagai rektor termuda sepanjang sejarah di Amerika Serikat.

Jiwa Muda

Kesuksesan para pemimpin muda adalah kesuksesan menjaga jiwa muda itu senantiasa bersemayam dan terjaga dalam dirinya. Kepedulian sosial, idealisme dan future oriented yang dibalut dengan progresivitas dan militansi, senantiasamenjadi landasan dari setiap tindakannya, meskipun phisik bertambah renta karena perjalanan waktu.

Franklin Delano Roosevelt, Presiden Amerika Serikat ke 32, pada pidato pelantikan pertamanya hari Sabtu 4 Maret 1933 menyatakan “…So, first of all, let me assert my firm belief that the only thing we have to fear is fear itself…” Inilah ungkapan jiwa muda yang lahir dari seseorang yang secara usia sudah tidak muda lagi (51 Tahun).
Tidak mengherankan bila FD Roosevelt menjadi presiden yang akan senantiasa diingat dan menjadi inspirasi bagi warga Amerika Serikat melalui prestasi yang telah diraihnya. FD Roosevelt lah satu-satunya presiden Amerika yang terpilih empat kali masa jabatan.,melepaskan Amerika dari masa depresi hebat, yang di Indonesai disebut dengan malaise ekonomi, menghindarkan Amerika dari peperangan dan memprakarsai terbentuknya Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Bahkan masyarakat internasional sangat meyakini, bila FD Roosevelt tidak digantikan oleh Harry S Truman karena meninggal dunia, niscaya perang dunia II tidak akan pernah terjadi.
Dalam sejarah Indonesia pun sudah banyak ditunjukan bagaimana jiwa muda, yang bersamayam pada orang yang tua secara usia, terus menerus memberikan inspirasi untuk berbuat sesuatu dan berprestasi bagi masyarakatnya.
Jiwa muda ini telah bersemayam dan dijaga sedemikian rupa oleh Buya Hamka. Sehingga lahirlah master piece nya sebagai seorang ulama dan cendikiawan; Tafsir Al Azhar. Sebuah karya monumental yang justru lahir ketika Hamka di dalam penjara rezim Soekarno. Begitu juga dengan apa yang dilakukan oleh Pramudya Ananta Toer. Jiwa muda yang bersemayam dalam dirinya telah mendorong dirinya untuk membuat karya sastra yang sangat monumental : Tetralogi Bumi Manusia. Sebuah karya sastra yang telah diterjemahkan ke lebih 35 bahasa dan menjadi wajah Indonesia di dunia sastra internasional, lahir dari isolasi penjara pulau buru.
Jiwa muda inilah yang senantiasa mesti menjadi ingatan kita. Jiwa muda yang telah memberikan inspirasi dan dorongan kuat bagi semua komponen masyarakat untuk memperjuangkan kehidupan bangsa ini. Bila jiwa muda ini senantiasa muncul di kaum muda, dan terpelihara sepanjang hidupnya, niscaya segala keterpurukan yang sedang kita alami akan terus dihadapi untuk ditemukan dan dilaksanakan solusinya.
Diujung kehidupan berbangsa kita, bila jiwa muda ini senantiasa terjaga, niscaya cita-cita Bung Karno tentang Indonesia yang berdaulat secara politik berdikari secara ekonomi dan berkepribadian secara sosial budaya akan terlaksana. Sebagaimana yang diucapkannya dalam pidato Trisakti Bung Karno tahun 1963
Jakarta, 25 Oktober 2007

Okt
25th

Ganti Template