Des
31st

Suhuf (16)

Files under Ageman | Leave a Comment
Laporan Akhir Tahun 2007; 'Kueratkan Keyakinan, Demi Tuhanku' (Bagian II)
Oleh Ibn Ghifarie

Di kala Sang Raja siang mulai merangkak menuju titik zenith. Tiba-tiba puluhan elemen ormas Islam berkumpul di samping Balai Desa Manis Lor. Dalam hitungan menit mereka membentuk barisan, dan berorasi.

Selang beberapa menit massa mulai merangsek masuk ke lingkungan Ahmadiyah dengan menerobos barikade Dalmas Polres Kuningan. Tak pelak aksi dorong-mendorong antara petugas dan massa pun tak bisa dihindari. Pasalnya, jumlah petugas tak sebanding. Tentu, ormas itu berhasil menerobos masuk.

Sudah pasti dapat diterkan apa yang terjadi, massa pun mulai beringas. Sebagian merangsek ke lokasi masjid dan lainnya menyisir pemukiman jamaat. Seakan-akan mesjid Al-Hidayah itu di kepung dari pelbagai penjuru.

Sontak saja, kelompok yang mengatasnamakan islam itu beringas bak menerka mangsa, tiba-tiba merusak dan membakar alat-alat masjid, seperti mimbar masjid, kubah masjid, dokumen-dokumen, kipas angin, serta memecahkan kaca-kaca jendela. Pengunjuk rasa lain pun mulai tiga rumah milik jamaat dengan tidak meras berdosa.

Pecahlah kesedihan. Betapa tidak masa dengan gagah sambil meneriakan takbir menghujam habis-habisan kaum Ahmadiyah. Barikade ibu-ibu pun tak berdaya lagi saat mereka mengfitamkan ras amarahnya.

Dari peristiwa naas itu, sedikitnya 3 orang jemaat Ahmadiyah terluka, 1 orang di antaranya mengalami luka tusukan. 2 masjid rusak berat. 8 rumah milik jemaat hancur, 4 di antaranya rusak berat.

Yang lebih mengerikan lagi, orang-orang yang mengaku Islam memperlakukan jemaat Ahmadiyah layaknya tentara musuh yang benar-benar mengancam.

Padahal, bahkan di dalam perang sekalipun, Islam mengajarkan etika tentang larangan menyerang rumah ibadah. Pasukan Islam bahkan tidak dibenarkan menyerang komunitas yang sama sekali tidak melakukan perlawanan. [www.islamlib.com dan www.kompas.com]

Catatan Kisruh Ahmadiyah
Masih segar dalam ingat ingatan kita, riakan kisruh ini berawal dari kemelut organisasi islam dengan Ahmadiyah. Paling tidak, dapat digambarkan sebagai berikut;

Pertama, 19 November 2007
Komponen Muslim Kabupaten Kuningan melayangkan surat penegasan yang isinya penegasan bahwa Ahmadiyah harus segera menanggalkan pengakuannya beragama Islam, menghentikan seluruh kegiatan sesuai isi/perintah SKB dan segera membongkar seluruh tempat ibadah.

Penegasan tersebut diberikan batas/tenggang waktu 15 hari terhitung diterimanya surat.
Apabila pada batas waktu yang telah ditentukan Ahmadiyah tidak melanjuti penegasan tersebut, berarti Ahmadiyah menantang perang terhadap umat Islam. Isi surat penegasan tersebut melampirkan beberapa tanda tangan tokoh-tokoh ormas Islam Kuningan, diantaranya dari Gerakan Anti Ahmadiyah (GERAH) Kuningan, Remaja Masjid Al-Huda (RUDAL), FUI Kabupaten Kuningan, FPI Kabupaten Kuningan serta beberapa Pondok Pesantren, Ulama/Kiai/Intelekt ual Muslim.

Kedua, 26 November 2007
Surat tembusan dari Komponen Muslim diterima oleh Jemaat Ahmadiyah, disusul Jemaat Ahmadiyah Manis Lor melayangkan surat kepada Bapak Kapolres 855 Kuningan agar mohon mendapatkan perlindungan Hukum dan Keamanan bagi jemaah Ahmadiyah Manis Lor.

Ketiga, 30 November 2007
Muspika, Camat, Danramil, dan Kapolsek, Kasi I Polres, Kepala KUA, serta ketua MUI berdialog dengan 10 Anggota Jemaat Ahmadiyah bertempat di Kecamatan Jalaksana.
Pertemuan ini didasarkan Surat tembusan dari Komponen Muslim Kuningan tanggal 19 November 2007, Surat Tembusan dari Jemaat Ahmadiyah cabang Manis Lor tanggal 26 November 2007 mengenai permintaan perlindungan hukum dan keamanan, serta menyampaikan data-data pendukung mengenai kronologis SKB I, II dan beberapa data penting lainnya seperti Surat Depdagri kepada Bupati Kuningan yang menyatakan bahwa SKB bukan produk hukum, Hasil Mukhtamar NU Tentang akan datangnya Nabi Isa a.s, serta data-data lainnya.

Pertemuan ini menghasilkan beberapa kesimpulan: Pertama, Menyikapi rencana komponen Muslim tentang penyampaian surat tembusan kepada warga Jemaat Ahmadiyah. Kedua, Diusahakan pihak komponen Muslim untuk memperkecil volume tenaga penyebaran. Ketiga, Pelaksanaan Penyebaran di barengi oleh aparat pemerintah. Keempat, Pihak warga jemaat tidak bersedia memberikan tandatangan.

Keempat, 3 Desember 2007
Jemaat Ahmadiyah Manis Lor melayangkan surat jawaban penegasan terkait surat tertanggal 19 November 2007 dari Komponen Muslim Kabupaten Kuningan. Isinya terkait dengan 3 point penegasan oleh Kelompok Muslim kabupaten Kuningan, Jemaat Ahmadiyah menegaskan bahwa Ahmadiyah merupakan bagian dari Islam, dengan pegangan Al-Qur'an dan Hadits Nabi SAW, Ahmadiyah terdaftar secara hukum, serta penjelasan turunya SKB sesuai proses hukum, serta menyertakan sabda Nabi SAW mengenai pembangunan masjid/rumah ibadah. Surat ini diharapkan menjadi pertimbangan dan kajian untuk surat penegasan Kelompok Muslim Kabupaten Kuningan. [http://asia.groups.yahoo.com/group/jarik_indonesia/]

Selang satu hari, insiden pengrusakan tempat ibadah pula terjadi di daerah Tasikmalaya. Seolah-olah aksi penghancuran mesjid Ahmadiyah memberikan sinyalemen lain terhadap daerah lain untuk melakukan hal yang sama, bahkan lebih beringas lagi mereka melakukan penghakiman masanya. Ironis memang.

Kelima, 19 Desember 2007
Tasikmalaya- Tindakan anarkis menyikapi perbedaan keyakinan kembali dilakukan. Kali ini rumah ibadah jemaah Ahmadiyah di Kampung Sukajaya, Kecamatan Sukaraja, Tasikmalaya, Jawa Barat, yang dirusak massa, Rabu (19/12) petang. Akibatnya, kaca jendela dan genteng hancur berantakan.

Menurut warga sekitar, aksi ini dilakukan sekitar 30 orang, namun belum diketahui asal mereka. Polisi yang datang langsung mengamankan lokasi dengan memasang garis polisi. Hingga malam ini belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian tentang penyebab pengrusakan. Diduga tindakan ini disebabkan digunakannya kembali tempat tersebut setelah disegel sejak tiga bulan lalu. [liputan6,20/12/07]

Satu hal lagi, hanya berselang tiga hari. Aksi penertiban keyakinan terhadap Ahmadiyah terjadi. Kali ini menimpa daerah majalengka.

Keenam, 22 Desember 2007
Majalengka-Mesjid Al Istiqomah milik jemaah Ahmadiyah di Desa Cadasari, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, pada Sabtu (22/12) malam sekitar pukul 23.30 WIB dirusak sekelompok orang bercadar.

Akibat aksi itu seluruh kaca mesjid berlantai dua hancur berantakan dan sebagian genteng juga pecah diduga terkena lemparan batu, dinding triplek pembatas ruang kelas di lantai bawah juga dibakar, sementara seluruh rak buku porakporanda.

Namun, jemaah Ahmadyah yang mendengar keributan kemudian berdatangan sehingga kebakaran tidak meluas.

Menurut Iyong, salah satu warga setempat, pelaku perusakan itu diperkirakan berjumlah 50 orang dan melakukan penyerangan secara cepat atau sekira 10 menit dan melarikan diri ke kegelapan malam.

"Semua jemaah sedang tertidur dan tersentak ketika mendengar ada suara kaca pecah berantakan. Begitu kami datang, mereka sudah menghilang. Kami segera memadamkan api yang membakar dinding triplek," katanya Minggu.[www.antara.com]

Fatwa MUI Dalih Aksi
Maraknya aksi brutal terhadap kelompok yang dianggap ganjil itu tak bisa dilepaskan dari asal muasal kehadiran fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) tentang pengharaman sekaligus fatwa sesat kepada golongan pengikut Mirza Gulam Ahmad tersebut.

Demikian penuturan Ahmad Suaedi, Direktur The Wahid Institute, menjelaskan, “masyarakat seolah menunggu fatwa sesat MUI untuk melegitimasi aksi kekerasan mereka.”
Di akhir tahun 2007, MUI kembali mengeluarkan fatwa tentang 10 kriteria aliran sesat. 10 kriteria aliran sesat ini sontak mendapat reaksi dari banyak pihak. Monthly Report The Wahid Institute menyebut bahwa dengan mudah sekelompok orang akan dinyatakan sesat karena fatwa ini [Monthly Report on Religious Issues, edisi 4, November 2007 dan www.saidiman.wordpress.com]

Dengan dalih supaya tak meresahkan ketertiban masyarakat dan tak mencemarkan ajaran serta nama baik islam terlahirlah keputusan tersebut.

Tak baehenti sampai disini saja, kumpulan ulama itu menetapkan keriteria aliran sesat.
Adalah 10 kategori yang dinamakan golongan sesat diantarannya; Pertama, Mengingkari rukun iman dan rukun Islam. Kedua, Meyakini dan atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dalil syar`i (Alquran dan as-sunah). Ketiga, Meyakini turunnya wahyu setelah Alquran. Keempat, Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi Alquran. Kelima, Melakukan penafsiran Alquran yang tidak berdasarkan kaidah tafsir. Keenam, Mengingkari kedudukan hadis Nabi sebagai sumber ajaran Islam. Ketujuh, Melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul. Kedelapan, Mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terakhir. Kesembilan, Mengubah pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariah. Kesepuluh, Mengkafirkan sesama Muslim tanpa dalil syar'i. [www.eramuslim.com]

Kendati menuai perbagai protes. Namun, tetap saja keukeuh peuteukeuh kumpulan pewaris nabi itu dalam pendiriannya. Ahmadiyah dianggap sesat. Jangankan di Indonesia, di negara Pakistan saja sudah dilarang.

Satu bukti lagi, soal keterlibatan petaka ini berawal dari fatwa, kita bisa menyimak perkataan Abdul Haris Umarella, yang biasa disebut Habib Abdurrahman Assegaf menyebut-nyebut fatwa MUI sebagai landasan moral mereka melakukan aksi kekerasan. [Antara, 01/11]

Ketidak berdayaan pemerintah dan aparat pemegak hukum dalam memberantas sekaligus mencebloskan ‘otak aksi’ itu menandakan lembeknya penguasa. Bahkan terkesan menutup-nutupi insiden tak beradab tersebut.

Meski ucapan pemimpin tak dapat diikuti lagi oleh masyarakat karena satu dan lain hal. Namun, sebagian besar jamaah Ahmadiyah tetep menajalnkan ibadahnya. Karena penghisaban segala perbuatan hanya Tuhan yang maha mengetahui.

Alih-alih meraih segala kesempatan tak ternilai harganya, mereka rela tercabik-cabik oleh kelompok tertentu demi mempererat keyakinanya guna menyongsong masa depan yang lebih baik. Semoga. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 29/12/07;23.26 wib
“tulislah” ungkap Pramoedya Ananta Toer “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penarbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna,”
Des
30th

REDD, Benarkah Kapitalisasi Sumber Daya Hutan?

Des
30th

CATATAN AKHIR TAHUN BULAN BINTANG MEDIA


masjid-chengho-bulan-bintang-dan-bintang-bulan.jpg

 

Sebelumnya saya mengucapkan terimakasih kepada semua peselancar di blog Bulan Bintang Media terutama yang bersedia untuk berbagi, meninggalkan pesan dan komentar serta tak jarang jalinan silaturrahim melalui Blog BBM ini berlanjut pula dengan komunikasi yang lebih luas dan bermakna, besarnya antusiasme ini setidaknya memberikan dorongan semangat untuk membangun blog yang lebih padat dari sisi informasi (konten) namun tetap menarik dari segi penyampaian dan penampilan visual.

Khusus bagi keluarga besar bulan bintang muncul sebuah harapan agar blog ini terus berlanjut sebagai bagian dari jembatan komunikasi untuk lebih mendekatkan kembali PBB (Partai Bulan Bintang atau Partai Bintang Bulan) kepada basis konstituennya yakni keluarga besar bulan bintang dimanapun mereka berada.

Beberapa posting masih akan dilanjutkan dengan beberapa bagian lagi seperti “Mimpi yang memanggil untuk menjadi the next masyumi”, berdasarkan statistik blog meski relatif baru ditampilkan namun tulisan bertajuk “Yusril ‘chengho’ Ihza Mahendra dan Komunitas Blogger Bulan Bintang” mendapatkan klik terbanyak dari para peselancar blog menyusul tulisan berjudul “Konspirasi para penebar virus anti syariah”, sementara untuk tulisan dengan komentar terbanyak masih ditempati tulisan berjudul “Partai Bulan Bintang luncurkan situs baru” disusul “Partai Bulan Bintang kembar identik dengan Partai Bintang Bulan”, fakta – fakta ini menujukkan bahwa keberadaan situs, blog ataupun media informasi yang khusus bagi keluarga besar bulan bintang masih dirasakan menjadi sebuah kebutuhan penting utamanya ditengah pergolakan dan peperangan media yang lebih banyak memberikan penggambaran negatif dan pemberitaan yang tidak fair mengenai bulan bintang juga terhadap para tokoh dan politisinya.

Bulan Bintang Media juga menyampaikan ucapan terimakasih atas dukungan yang tak henti – hentinya mengalir seperti dari Saudara Eko Hendra Wira di Kalimantan Barat, Bapak Ahmad Dahlan, SH anggota DPRD PBB Kab Alor – NTT, Mas Luthfi Maulana Pengurus DPC PBB Kota Tangerang, Bung Muh Ramdhan Kurniawan H. Bidu Sekretaris Umum DPC Partai Bintang Bulan Kab. Banggai Kepulauan Sulawesi Tengah, Widhiyantoro, Adex, Cokk, Granius abacha, Lukita, Sujono, Rusdianto, Raihan, Jamaluddin, Rahmat Hidayat, Aditya Ghozali, dan semua peselancar Bulan Bintang Media yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.

Secara khusus pada kesempatan ini saya sampaikan rasa hormat dan terimakasih sebesar besarnya kepada Bang Eddie Tarigan, Kreator Situs Resmi Partai Bulan Bintang (http://www.pbb-info.com) atas kontak dan dukungannya selama ini, juga tidak ketinggalan Bang Yusril Ihza Mahendra (http://yusril.ihzamahendra.com) yang memberi inspirasi dan semangat bagi tumbuhnya blogger – blogger bulan bintang dalam membangun Media Komunikasi Keluarga Besar Bulan Bintang sebagai bagian dari perjuangan dan cita – cita besar untuk membangun Indonesia dengan Syariah.

(Ditulis oleh Badrut Tamam Gaffas untuk Bulan Bintang Media)

Des
29th

Islam di Amerika (Resensi)

Wajah Islam di Amerika Pasca Runtuhnya WTC

Judul                : Mengislamkan Amerika: Catatan Dakwah Dai Muda Asal Indonesia di Amerika

Penulis             : M. Syamsi Ali

Penerbit            : Imsa Media Utama

Cetakan            : Pertama, Mei 2007

Tebal               : xii + 116 halaman

            Beberapa saat setelah peristiwa 11 September 2001, lantunan ayat-ayat suci Al Quran berkumandang di zero ground bekas menara kembar WTC, New York. Seorang pria muda berdiri di hadapan Presiden AS Goerge W Bush dan tokoh-tokoh berbagai agama. Momen itu adalah Pray for America, sebuah kegiatan doa bersama antar pemuka agama bagi keamanan dan...

Des
29th

Suhuf (15)

Files under Blogger | Leave a Comment
Kampaye Sunan Gunung Djati; Komunitas Blogger UIN SGD Bandung
Oleh Ibn Ghifarie

Sunan Gunung Djati merupakan Komunitas Blogger Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung.

Kampanye ini sebagai bentuk kepedulian sekaligus cinta para Blogging terhadap kampus. Tak lain guna mempererat tali silaturahmi seluruh Civitas Akademik UIN SGD Bandung baik yang tergabung dalam IKA (Ikatan Keluarga Alumni), HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan)/BEM (Badan Ekseukutif Mahasiswa), maupun UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa).

Ikhtiar kemunculan kumpulan ini sudah lama memang. Ya hampir berbarengan dengan menjamurnya perhimpunan Blogger daerah lainnya pasca ‘Pesta Blogger 2007’. Sayang, niatan luhur itu harus terkubur rapat-rapat di dunia hayalan. Entah dimana memang?

Namun, saat kita mulai Kopdar (kopi darat) kemauan serupa pun menggeliat kembali. Betapa tidak, kelompok penggila cyber; Sukron dan Jajang--menginginkan kumpulan Blogger UIN SGD Bandung. Pasalnya, bila kita searching di google. Konon, banyak mahasiswa, Dosen, aktivis yang akrab dengan dunia ini. Kenapa kita tak coba wadahi dalam satu kumpulan?

Walhasil, saat pertemuan ‘Santai Senja’, kamis (26/12) komunitas ini mulai angkat bicara.

Rasanya amat angkuh bila tak mengucapkan terimakasih kepada Sukron, Jajang atas desakan untuk mewujudkan kumpulan ini dan Zarien atas atas pembuatan logo dan binder Sunan Gunung Djati. Meski masih alakadarnya

Bila rekan-rekan merasa Keluarga Besar UIN SG Bandung, silahkan ikut memasang link logo pita Sunan Gunung Djati di blog temen-temen, dengan cara meng-kopi paste script dibawah ini kehalaman blog template sahabat-sahabat:








Nah, ayo sebarkan virus Komunitas Blogger UIN SGD Bandung ini biar ga goblog he.he.he..[Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Komputer Ngeheng, 27/12/07;00.12 wib
“tulislah” ungkap Pramoedya Ananta Toer “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penarbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna,”
Des
28th

Obat Sakit Tenggorokan

Des
26th

Kiai dan Politik

Files under Tak Berkategori | 1 Comment
PUDARNYA KHARISMA POLITIK KIAI   Oleh Ahmad Khoirul Fata Koordinator Jaringan KB-PII Muda Jawa Timur
                          Meski mendapat dukungan penuh dari KH Hasyim Muzadi (Ketua PB NU), Gus Dur dan sederet kiai lokal Bojonegoro, pasangan M Thalhah-Tamam Syaifuddin (Tahta), tidak bisa memenangkan Pilkada. Nasib serupa juga dialami pasangan M Santoso-Irawanto (Sowan). Padahal, pasangan ini didukung oleh KH Abdullah Fakih (pengasuh Ponpes Langitan Tuban) dan KH Maemun Zubair (kiai berpengaruh asal Rembang). Justru, pasangan Suyoto dan Setyo Hartono yang akar kulturalnya lebih lemah di Bojonegoro, yang menjadi pemenangnya.             Agama dan politik memang dua entitas berbeda, namun seringkali agama dimanfaatkan sebagai alat mengambil dan mempertahankan kekuasaan politik. Itu tidak lepas dari adanya ...
Des
26th

Islam dan Lingkungan Hidup

TEOLOGI LINGKUNGAN DALAM ISLAM   Oleh Ahmad Khoirul Fata Koordinator Jaringan KB-PII Muda Jawa Timur.
     Monoteisme sering dikritik sebagai  keyakinan yang kurang memiliki kepekaan terhadap alam dan ligkungan hidup. Penyebabnya, dalam agama-agama monoteisme, manusia diposisikan lebih unggul daripada alam (Yonky Karman, Teologi Ramah Lingkungan, Kompas 23 November 07). Superioritas manusia itu ditegaskan dengan konsep imago dei (manusia citra Tuhan) dalam doktrin Yahudi dan Kristen, serta khalifah fil ardh dalam Islam. Doktrin superioritas inilah yang seringkali dijadikan legitimasi bagi manusia untuk melakukan segala tindakan atas alam, termasuk mengeksploitasinya. Tetapi benarkah doktrin khalifah fi al-ardh dalam Islam merupakan stempel bagi manusia untuk memperlakukan alam seenaknya? Bagaimana sesungguhnya konsep teologi Islam tentang relasi manusia-alam?     Relasi Manusia-Alam          &n...
Des
26th

Entah Mau menulis Apa

Semenjak beberapa waktu terakhir ini, saya sering lebih asyik dengan kron. Maklum, mainan baru, yang tentunya menarik. Sementara untuk ngeblog lebih sering surfing saja. Sehingga blog ini menjadi semacam anak tiri. Ada banyak perkembangan akhir-akhir ini yang membuat saya cukup gembira. Pertama perkuliahan yang semakin enak saja karena mulai menemukan pola membagi waktu antara kuliah dengan
Des
26th

Kenapa aku aktif di PII?

Di Pesantren Aku Kenal PII

oleh:  ahmad khoirul fata

 

Seumpama tidak belajar di Pon-Pes Taman Pengetahuan Kertosono-Nganjuk, Jatim, mungkin aku tidak pernah menjadi kader PII. Perkenalanku dengan PII berangkat dari kata “tidak” mengingat negative image PII di lingkungan pesantrenku. Citra sebagai organisasi terlarang yang akan mendirikan negara Islam sampai kabar ancaman ditangkap polisi begitu melekat pada PII. Citra itu semakin kuat oleh sikap para kiai, ustad, dan pengurus pesantren yang tidak memberi peluang pada aktivitas PII.  Meski demikian, ada satu hal yang cukup membuatku simpati pada PII, yaitu kenyataan bahwa anak-anak PII merupakan anak-anak unggulan di pesantrenku.

Di pesantrenku ada kegiatan latihan berpidato bagi para santri yang biasa kami sebut Mumarosah (Mumarasah ilqo’ da’wah wa tabligh) dan `Munaqasah’ atau forum diskusi berbagai problem fikih. Forum Mumarosah hampir mirip dengan `Muhadhoroh’ di pesantren lain, yaitu setiap santri dari kel...

Des
26th

asi

Files under Tak Berkategori | 1 Comment

Manfaat ASI untuk Buah Hati

oleh: Izzatur Rusuli

Mahasiswa Pascasarjana Universiti Malaya, Malaysia

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan (QS. Al-Baqarah: 233)

 

Kebahagiaan rumah tangga seakan  kurang lengkap tanpa kehadiran sang buah hati. Karena itulah, buah hati merupakan anugerah terindah yang senantiasa diidam-idamkan setiap pasangan suami istri. Ketika buah hati hadir, tentunya setiap orang tua akan berusaha semaksimal mungkin memberikan yang terbaik untuk sang anak. Seumpama orang tua mempunyai emas segunung, pasti akan diberikan semuanya untuk kebahagiaan sang buah hati.

Jika orang tua menginginkan yang terbaik untuk sang buah hati, maka hal pertama kali yang harus diperhatikan adalah nutrisinya. Nutrisi yang mempengaruhi semua perkembangan yang terjadi pada bayi berasal dari makanan. Namun yang perlu diingat, bayi tidak hanya membutuhkan makanan yang cukup, tetapi juga memerlukan jen...

Des
25th

Photo Album 2007-12-27

Idul Adha kmrn, temen-temen PD PII Sby dapet 3 kambing. Trus disembelih di sekretariat Kupang Panjaan V/14 Sby. Nih foto-foto proses penyembelihannya. Tapi sayang gak dikirim ke rumahku. Piye toh
Des
25th

Qurban

Files under , artikel | Leave a Comment
Berkurban Di Hari Raya
Oleh Moeflih

Selain merupakan momentum bagi penyelenggaraan Ibadah Haji, pada hari raya Iedul Adha, bagi sebagian kita yang sanggup disunahkan untuk melaksanakan ibadah Qurban. Secara ritual qurban dilakukan dengan proses adz-dzabhu (penyembelihan) hewan ternak. Syar’i nya ibadah qurban hanya sebatas penyembelihan sampai menetesnya darah hewan qurban ke tanah.

Namun makna yang terkandung di dalamnya ialah bagaimana kita mampu menyembelih keangkuhan dan keegoan yang ada di dalam diri kita, yang akan menghalangi untuk berbuat baik kepada sesama makhluk.

Semangat yang terkandung dalam ibadah qurban ialah bagaimana kita mampu membebaskan diri dari mempertuhankan harta. Dengan demikian diharapkan kita dapat lebih mendekatkan kepada Allah dengan mengurbankan segala potensi yang kita miliki untuk meraih cinta Ilahi.

Persoalannya apakah qurban yang secara rutin sering kita laksanakan mampu mencerminkan makna dan semangat yang terkandung didalamnya, atau hanya menjadi ritualitas semata. Kita melaksanakannya dengan ringan-ringan saja sebagai sebuah kelaziman tanpa nilai pengorbanan didalamnya. Barangkali saja kisah sederhana dari Koran REPUBLIKA ini bisa menginspirasi.

"SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1428 H"

Kisah "YU TIMAH"
(dicuplik dari RESONANSI - Republika Desember 2006/Ahmad Tohari)

Ini kisah tentang Yu Timah. Siapakah dia? Yu Timah adalah tetangga kami. Dia salah seorang penerima program Subsidi Langsung Tunai (SLT) yang kini sudah berakhir. Empat kali menerima SLT selama satu tahun jumlah uang yang diterima Yu Timah dari pemerintah sebesar Rp 1,2 juta. Yu Timah adalah penerima SLT yang sebenarnya. Maka rumahnya berlantai tanah, berdinding anyaman bambu, tak punya sumur sendiri. Bahkan status tanah yang di tempati gubuk Yu Timah adalah bukan milik sendiri.

Usia Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak menikah.
Barangkali karena kondisi tubuhnya yang kurus, sangat miskin, ditambah yatim sejak kecil, maka Yu Timah tidak menarik lelaki manapun. Jadilah Yu Timah perawan tua hingga kini. Dia sebatang kara. Dulu setelah remaja Yu Timah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta. Namun, seiring usianya yang terus meningkat, tenaga Yu Timah tidak laku di pasaran pembantu rumah tangga. Dia kembali ke kampung kami. Para tetangga bergotong royong membuatkan gubuk buat Yu Timah bersama emaknya yang sudah sangat renta. Gubuk itu didirikan di atas tanah tetangga yang bersedia menampung anak dan emak yang sangat miskin itu.

Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri. Maka ia berjualan nasi bungkus. Pembeli tetapnya adalah para santri yang sedang mondok di pesantren kampung kami. Tentu hasilnya tak seberapa. Tapi Yu Timah bertahan. Dan nyatanya dia bisa hidup bertahun-tahun bersama emaknya. Setelah emaknya meninggal Yu Timah mengasuh seorang kemenakan. Dia biayai anak itu hingga tamat SD. Tapi ini zaman apa. Anak itu harus cari makan. Maka dia tersedot arus perdagangan pembantu rumah tangga dan lagi-lagi terdampar di Jakarta.
Sudah empat tahun terakhir ini Yu Timah kembali hidup sebatang kara dan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan berjualan nasi bungkus.

Untung di kampung kami ada pesantren kecil. Para santrinya adalah anak-anak petani yang biasa makan nasi seperti yang dijual Yu Timah. Kemarin Yu Timah datang ke rumah saya. Saya sudah mengira pasti dia mau bicara soal tabungan. Inilah hebatnya. Semiskin itu Yu Timah masih bisa menabung di bank perkreditan rakyat syariah di mana saya ikut jadi pengurus. Tapi Yu Timah tidak pernah mau datang ke kantor. Katanya, malu sebab dia orangmiskin dan buta huruf. Dia menabung Rp 5.000 atau Rp 10 ribu setiap bulan. Namun setelah menjadi penerima SLT Yu Timah bisa setor tabungan hingga Rp 250 ribu. Dan sejak itu saya melihat Yu Timah memakai cincin emas. Yah, emas. Untuk orang seperti Yu Timah, setitik emas di jari adalah persoalan mengangkat harga diri. Saldo terakhir Yu Timah adalah Rp 650 ribu.

Yu Timah biasa duduk menjauh bila berhadapan dengan saya. Malah maunya bersimpuh di lantai, namun selalu saya cegah.

''Pak, saya mau mengambil tabungan,'' kata Yu Timah dengan suaranya yang kecil.

''O, tentu bisa. Tapi ini hari Sabtu dan sudah sore. Bank kita sudah tutup.
Bagaimana bila Senin?''

''Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak tergesa.''
''Mau ambil berapa?'' tanya saya.
''Enam ratus ribu, Pak.''
''Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?''
Yu Timah tidak segera menjawab. Menunduk, sambil tersenyum malu-malu.

''Saya mau beli kambing kurban, Pak. Kalau enam ratus ribu saya tambahi dengan uang saya yang di tangan, cukup untuk beli satu kambing.''

Saya tahu Yu Timah amat menunggu tanggapan saya. Bahkan dia mengulangi kata katanya karena saya masih diam. Karena lama tidak memberikan tanggapan, mungkin Yu Timah mengira saya tidak akan memberikan uang tabungannya.
Padahal saya lama terdiam karena sangat terkesan oleh keinginan Yu Timah membeli kambing kurban.

''Iya, Yu. Senin besok uang Yu Timah akan diberikan sebesar enam ratus ribu.
Tapi Yu, sebenarnya kamu tidak wajib berkurban. Yu Timah bahkan wajib menerima kurban dari saudara-saudara kita yang lebih berada. Jadi, apakah niat Yu Timah benar-benar sudah bulat hendak membeli kambing kurban?''
''Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berkurban. Selama Ini memang saya hanya jadi penerima. Namun sekarang saya ingin jadi pemberi daging kurban.''
''Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita.''
Wajah Yu Timah benderang. Senyumnya ceria. Matanya berbinar. Lalu minta diri, dan dengan langkah-langkah panjang Yu Timah pulang.

Setelah Yu Timah pergi, saya termangu sendiri. Kapankah Yu Timah mendengar, mengerti, menghayati, lalu menginternalisasi ajaran kurban yang ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim? Mengapa orang yang sangat awam itu bisa punya keikhlasan demikian tinggi sehingga rela mengurbankan hampir seluruh hartanya? Pertanyaan ini muncul karena umumnya ibadah haji yang biayanya mahal itu tidak mengubah watak orangnya. Mungkin saya juga begitu. Ah, Yu Timah, saya jadi malu. Kamu yang belum naik haji, atau tidak akan pernah naik haji, namun kamu sudah jadi orang yang suka berkurban. Kamu sangat miskin, tapi uangmu tidak kaubelikan makanan, televisi, atau pakaian yang bagus. Uangmu malah kamu belikan kambing kurban. Ya, Yu Timah. Meski saya dilarang dokter makan daging kambing, tapi kali ini akan saya langgar. Saya ingin menikmati daging kambingmu yang sepertinya sudah berbau surga. Mudah-mudahan kamu mabrur sebelum kamu naik haji.

Lebih baik Memberi Dari pada Menerima.
Semoga Kita dapat mengambil Hikmahnya. Amien.


Wassalam

"MoeFth"
Des
25th

Suhuf (14)

Files under Blogger | Leave a Comment
Sekali lagi, Alhamdulillah
Oleh Boelldzh

Sekali lagi, Alhamdulillah, bacaan hamdalah itu pun tanpa dikomandoi nongol juga dari bibirku. Setelah berjuang hampir sepekan penuh utak-atik wesite. Seakan-akan Catatan Harian Online (CHO) ini menjadi bagian hidupku yang tak bisa dipisahkan. Apalagi saat waktu senja datang dan malam tiba.

Teraimakasih Kang Agus Heri pengelola edittag, yang telah berbagi pengalaman soal Blognya. Juga rekan-rekan Blogger Garut; Tozie serta kuncen Forum Diskusi UIN SGD Bandung; Cak Agus dan Baba Icon atas canda tawanya. ‘Ayo terus posting di forum. Supaya rame lagi Diskusinya’.

Haturnuhun para pegiat Blogger mania. Semoga kebaikan semuanya di balas oleh Tuhan. Amien. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Komputer Ngeheng, 25/12/07;02.14 wib
“tulislah” ungkap Pramoedya Ananta Toer “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penarbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna,”
Des
25th

Suhuf (13)

Files under Ageman | Leave a Comment
Laporan Akhir Tahun 2007 Tentang Perilaku ‘Penertiban Keyakinan’ (Bagian 1)
Oleh Ibn Ghifarie

Apapun alasannya mengumpat, mencaci-maki, menghancurkan tempat ibadah tertentu, hingga menghilangkan nyawa orang lain, tak termasuk dalam kategori perbuatan baik. Diridhoi oleh Tuhan apalagi, jelas tidak.

Terlebih lagi, hanya karena beda pemahaman dalam menafsirkan sumber umat Islam (al-Quran dan hadis). Rasanya tak pantas bila kita menyelesaikan persoalan beda pendapat dengan budaya preman. Mengerikan sekali.

Kedengaranya perbuatal lalim itu tak mugkin terjadi, tapi kuatnya arus modernitas dan lemahnya keimanan acapkali perlakuan tak terpuji itu menjadi bagian yang tak bisa dipisahkan dalam menuntaskan persoalan yang dihadapi.

Di tengah-tengah keterpurukan umat Islam dan krirsis kepemimpinan, masih banyak kelompok tertentu melakukan perbuatak senonoh dalam menyelesaikan persoalan dengan jalan pintas. Adalah budaya baku hantam menjadi jurus pamungkas guna menumpas semua golongan yang berbeda.

Sekedar Catatan Kecil dan Terlupakan di Tubuh Islam
Pertama, Hery dan Ahyari; Islam Sejati Menuai Badai
Adalah aliran Islam Sejati, di Desa Nyompok, Kecamatan Kopo, Serang Banten. Konon, kemunculan pemahaman ini dianggap meresahkan masyarakat, hingga menafikan Tuhan. Pasalnya, mereka mengajarkan pemahaman di antaranya; Pertama, shalat menghadap 4 arah mata angin, yakni utara, barat, timur dan selatan.

Salah satu alasannya karena perbuatan ini dikenal sebagai shalat mencari rezeki. Kedua, shalatnya dilakukan 3 waktu (3 kali) dalam sehari. Ketiga, Keyakinan bahwa bulan 6 (Juni) 2007 akan terjadi kiamat. Tidak diketahui secara pasti tanggal terjadinya. [Tim Derap hukum SCTV]

Kedua, Agus Yulianto.; Pondok Alif
Kali ini, peristiwa naas itu terjadi pada kelompok pengajian alif di Blok D Vila Siberi Desa Banjarejo, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Alih-alih menyebarkan risalah yang dapat meresahkan masyarakat luas sekaligus menjerumus kepada kegiatan teroris.
Setahun setelah musala berdiri munculah kelompok Alif di bawah pimpinan ustad Agus Yulianto. Mereka menggelar pengajian setiap Ahad. Selama itu kegiatan golongan Alif tak pernah menuai masalah. Belakangan barulah sebagian warga merasa terganggu dengan kegiatan ini. `Kalau shalat tidak pakai doa qunut, Yasinan dan tahlilan apalagi` ungkap Darmaji, warga.

Ketidak hadiran qunut dalam sholat atau tradisi Yasinan dan tahlilan mendorong warga untuk melarang kelompok Alif menjalankan kegiatan di musala Baitussalam. Memagarai tajug pula menjadi jalan pamungkas supaya pengikut alif berhenti memanfaatkan Baitussalam. [Suara Medeka, 24/06/07]

Ketiga, Wahidiyah
Seratusan anggota Front Pembela Islam (FPI) mendatangi salah satu rumah yang dianggap sebagai pusat pertemuan kelompok Wahidiyah di Kampung Keretek, Mangkubumi, Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (11/9) sekitar pukul 15.00 WIB. Kepada warga setempat, FPI menyatakan akan membersihkan daerah itu karena Wahidiyah dinilah telah merusak kesucian Islam.

Di rumah tersebut, FPI tidak menemukan anggota Wahidiyah. Anggota FPI kemudian mencabut spanduk berlambang Wahidiyah dan membakarnya. Aksi pembakaran ini didiamkan oleh polisi yang berjaga di rumah itu. Usai aksi pembakaran, anggota FPI melempari rumah itu dengan batu serta telur busuk. Melihat itu, polisi pun segera menghentikan dan kelompok FPI segera membubarkan diri.

Untuk diketahui, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Tasikmalaya, Jabar, telah mengeluarkan fatwa yang menyatakan Wahidiyah sebagai aliran sesat. Salah satu alasannya, karena pimpinan Wahidiyah bisa menentukan keimanan seseorang.[liputan6, 12/09/07]

Keempat, Ahmad Mushaddeq; Al Qiyadah Al Islamiyah
Majelis Ulama Indonesia Pusat menegaskan ajaran Al-Qiyadah yang dianut oleh sebagian warga Padang, Sumatra Barat, menyimpang dari ajaran Islam. Namun demikian, MUI tidak membenarkan tindakan anarkis terhadap para pengikut ajaran itu.

"Aliran ini [Al-Qiyadah] sesat, pada masyarakat saya memberikan imbauan supaya tidak bertindak sendiri," ucap kata Ketua MUI Pusat Ma'ruf Amin di Jakarta, Kamis (4/10). Pernyataan Ma'ruf Amin ini hanya penegasan dari fatwa MUI Sumbar yang dilansir September silam.

Sementara warga menilai Al-Qiyadah menyimpang karena mengajarkan salat hanya sekali sehari dan Nabi Muhammad bukan rasul terakhir. Warga pun marah dan mengusir pemimpin serta pengikut ajaran Al-Qiyadah [baca: Ricuh, Demonstrasi Menuntut Pembubaran Aliran Sesat].

Hingga kini polisi memeriksa pemimpin Al-Qiyadah Dedi Supriyadi dan 12 pengikutnya. Apabila terbukti bersalah, maka akan dijerat pasal tentang penodaan agama dengan ancaman hukuman lima tahun penjara. [baca: Pemimpin dan Pengikut Al-Qiyadah Diperiksa Polisi].[ Tim Liputan 6 SCTV]

Kelima, Al-Quran Suci
Aliran Alquran Suci memiliki modus sama dengan NII, yang diduga kuat buatan pemerintah. Aliran ini juga merupakan bagian dari rekayasa intelijen dan merupakan bagian dari kegiatan pemerintah yang legal, untuk mencapai tujuan-tujuan politik mereka.

“Aliran-aliran sesat ini termasuk Alquran Suci merupakan rekayasa intelijen, mungkin bisa dikonfirmasi ke pejabat intelijen. Pemerintah sengaja membentuk ini untuk memecah nasionalisme Indonesia dan mengambil jalur Islam,” ujar Dosen Universitas Malikul Saleh, Lhoksemauwe, Al Chaidar yang juga mantan pengikut aliran Negara Islam Indonesia (NII) pada okezone, Sabtu (6/10/07).

Menurutnya, ajaran aliran baru Alquran Suci ini mirip sekali dengan NII yang tidak mengakui adanya hadist hingga sunah-sunah rasul. Selain itu, kedua aliran itu sama-sama mewajibkan infak sebagai kewajiban utama.

“Bagi mereka salat bukanlah kewajiban, puasa belum saatnya, haji belum saatnya yang ada kewajiban syahadat saja,” jelasnya lagi.

Bagi Al Chaidar percuma jika sang korban melaporkan hal ini pada pihak kepolisian untuk menanganinya. Sebab, lembaga penegak hukum justru telah melakukan kongkalikong agar jaringan yang telah tertata apik ini tidak terbongkar.

“Percuma lapor polisi tidak akan selesai masalahnya. Para korban cuma bisa disadarkan dengan rasionalistis. Mereka harus disadarkan oleh orang-orang yang pernah juga ikut dalam aliran itu. Para korban harus berani menggertak,” katanya.

Ia juga mengatakan kebanyakan dana nonbudgeter pada pemerintah diperoleh dari hasil pemasukan infak para korban, yang diwajibkan memberikan setoran sebesar Rp.3 juta/orang tiap bulannya.

“Kebanyakan uang itu masuk sebagai dana nonbudgeter yang digunakan oleh oknum untuk menjalankan program-program pemerintah itu. Jadi, ini memang suatu program yang sengaja dibentuk pemerintah” tandasnya lagi. [Tempo, 07/10/07]

Keenam, Mirja Gulam Ahmad; Ahmadiyyah
Tasikmalaya--Tindakan anarkis menyikapi perbedaan keyakinan kembali dilakukan. Kali ini rumah ibadah jemaah Ahmadiyah di Kampung Sukajaya, Kecamatan Sukaraja, Tasikmalaya, Jawa Barat, yang dirusak massa, Rabu (19/12) petang. Akibatnya, kaca jendela dan genteng hancur berantakan.

Menurut warga sekitar, aksi ini dilakukan sekitar 30 orang, namun belum diketahui asal mereka. Polisi yang datang langsung mengamankan lokasi dengan memasang garis polisi. Hingga malam ini belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian tentang penyebab pengrusakan. Diduga tindakan ini disebabkan digunakannya kembali tempat tersebut setelah disegel sejak tiga bulan lalu. [liputan6,20/12/07]

Kuningan-- Pondok Pesantren Miftahul Huda di Desa Baros, Kecamatan Baros, Kabupaten Serang, Banten, Kamis (13/12), dibakar warga. Warga melakukan itu karena menduga pimpinan pondok pesantren telah menyebarkan aliran sesat kepada para santrinya.

Menurut warga, ketika terjadi penyerangan dan pembakaran seluruh santri dan pimpinan pondok pesantren telah melarikan diri. Mereka telah mengetahui akan adanya penyerangan. Saat ini Majelis Ulama Indonesia Banten belum mengeluarkan fatwa larangan terhadap Pondok Pesantren Miftahul Huda yang dibakar tersebut [Metro, 14/14/07]

Pedoman Penetapan Satu Aliran Sesat Versi MUI
Maraknya aksi 'penertiban' keyakinan oleh sebagian golongan mayoritas terhadap minoritas. Sudah tentu 'mengamini' adagium homo homoni lupus . Siapa yang kuat dia pasti berkuasa.

Terlebih lagi, saat para ulama `bermain mafa` dengan para penguasa. Niscaya keragaman menjadi sesuatu yang mustahil ada. Apalagi dengan adanya pedoman penetapan satu aliran sesat.

Tentunya hasil Rapat Kerja Nasional 2007 Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini salah satunya menjadi rekomendasi pihak aparat keamanan untuk menindak kelompok aliran sesat.
Zainut Tauhid Saadi, Sekretaris MUI Pusat menuturkan pedoman itu di antaranya berisi pengertian aliran sesat. Menurut MUI, pengertian aliran sesat adalah kelompok yang menganut dan mengamalkan faham atau pemikiran yang bertentangan dengan aqidah dan syariat Islam. Artinya, sebuah kelompok dinyatakan aliran sesat jika menyimpang berdasarkan dalil Syar`i.
Selain itu, juga disebutkan 10 kriteria sesat. Satu faham dinyatakan sesat apabila memenuhi salah satu dari 10 kriteria ini, di antaranya menyakini dan atau mengikuti aqidah yang tidak sesuai dengan dalil Syar`i. Selain itu mereka mengingkari salah satu dari Rukun Iman dan Rukun Islam.

MUI menegaskan, penetapan pedoman ini pendapat pribadi perorangan, namun merujuk pada Al-Quran dan hadist Nabi. Rakernas

MUI juga mengeluarkan 14 rekomendasi ekstern. Pedoman ini berisi seruan kepada pemerintah untuk mengoptimalkan fungsi kontrol dan antisipasi terhadap kecenderungan gerakan yang memperkeruh kehidupan beragama, seperti aliran Al Qiyadah Al Ilsmiyah dan lainnya.[Merto TV, 06/11/0]

Tertutupnya Ruang Dialog dan Saling Menghargai
Mencermati perseteruan antara kelompok dalam islam itu, membuat kita mengerutkan kening. Pasalnya, sulut untuk mengurai benang kusut tersebut.

Adalah tertutupnya kebiasaan berdialog manakala iningmenyelesaikan pesoalan. Perbedaan pendapat pun menjadi jurang pemisah sekaligus penyulit konfil.

Kendati mereka tidak meninggal. Namun, kerusakan fisif dan fisikis tak terelakn lagi. Lebih parahnya lagi, hamper kemunculan ‘aliran ganjil’ setiap para pengikutnya ingin kembali ke ajaran sebelumnya selalu mendapatkan bimbingan lebih dari pemuka agama setempat. Termasuk MUI menjadi juru selamat atas perbuatan ganjil ini. Hingga memberikan pengajaran dua kalimat syahadat lagi kepada mereka supaya bersyahadat lagi. Karena mereka telah dianggap menyimpang dan keluar dari Islam. Ironis memeng.

Padahal Rasulullah sangat mengecam perbuatan itu, dengan mengeluarkan sabdanya, “Mencaci maki orang muslim itu kufur, sedangkan membunuhnya juga kafir.” (H R Bukhari-Muslim).

Kalau begitu, apalah artinya petuah Rasulullah mengenai perbedaan sebagai rahmat. Jelas hal ini belum membuahkan hasil yang memuaskan hati kita. Sebab kita masih berkeyakinan bahwa dengan keseragaman (monolitik) kita bisa mengentaskan segala permasalahan yang kita hadapi dengan dalih mudah dikendalikan dan teratur.

Sejatinya kehadiran pewaris nabi harus menjadi perekat sekaligus memperkuat temali silaturahmi antar golongan dalam umat Islam, bukan memperburuk kondisi masyarakat.

Hal ini tak lain guna membangun rasa penghargaan satu sama lain dalam bertukar fikiran. Dengan munculnya Fatwa MUI itu tak ada jaminan akan memperbaiki ukhuwah di antara kedua aliran tersebut. Malahan akan menyulitkan persoalan akut itu. Hingga terjadilah budaya saling bunuh-membunuh.

Dengan demikian, mari kita sama-sama belajar menghargai perbedaan pendapat, baik dalam kelompok maupun di luar golongannya.

Jika perbuatan beradab itu tak menjadi bagian keseharian kita maka tunggulah perpecahan di umat Muhammad ini. Dus, kaum iman minoritas pun menjadi satu kelompok yang terpingirkan lagi.

inilah potret buram ‘penertiban keyakinan’ oleh kelompok tertentu. Segala persoalan apapun selalu diakhiri ngengan pengrusakan tempat ibadah, komplek aliran ganjil itu. Semoga dengan adanya pergantian tahun ini, berahir pula kekerasan atas nama agama tersebut. ‘Selamat menyambut tahun 2008 sebagai tahun kebebasan beragama’.

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 21/12/07;15.36 Wib

*Pembelajar Studi Agama-Agama Fakultas Filsafat dan Teologi UIN GD Bandung dan Koord Post LPIK (Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman) Bandung.
“tulislah” ungkap Pramoedya Ananta Toer “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penarbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna,”
Des
24th

Suhuf (12)

Files under Ageman | Leave a Comment
Ibu; Universitas Pertama
Oleh Ibn Ghifarie

Kendati Hari Ibu telah berlalu. Namun, sebagian masyarakat masih menyimpan segudang makna dan kesan terhadapnya. Pasalnya ibu merupakan Universitas pertama dalam mendidik anak.

Nah, berkenaan dengan hadirnya perayaan Kaum Hawa. Adakah makna lain saat datang Hari Perempuan?

’Hari Ibu harus menjadikan kita lebih baik lagi buat Ibnu kita. Berterimakasih buat Ibu kita’, kata Marlia Mahasiswa IPB (Institut Pertanian Bogor)

Walaupun ga harus mengucapkan di hari ibu saja. Benerkan? tegasnya.

‘Hari Ibu mengingatak kita pada perjuangan sosok perempaun saat melahirkan kita. Antara hidup dan mati’, papar Gani mahasiswa Pertanian Fakultas Sain dan Tehnologi UIN SGD Bandung

‘Makanya saat hadir Hari Ibu sudah selayaknya kita membahagiakan mereka. Apalagi surga berada di telapak kakinya’, jelasnya.

Menanggapi Kaum Hawa merupakan Universitas pertama dalam mendidik anak. Leni mahasiswa Ahwalu Assyahsiyah UIN Sunana Kali Jaga angkat bicara ‘Saja setuju sekali. Karena ibu adalah tempat belajar pertama’,

Selain itu, keberadaan Bunda sangat besar derajatnya. Hingga Allah meningikan mereka dengan posisi Surga di bawah telapak kakainya, tambahnya.

Sejatinya moment ini kita jadikan kita sebagai tempat introsfeksi. Tanpa itu semua kita akan lebih angkuh. Selamat Hari Ibu,’ harapanya.

Cag Rampes, Pokok Seker Kere, 22/12/07; 02.25 dan 21/12/07; 02.02 wib
“tulislah” ungkap Pramoedya Ananta Toer “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penarbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna,”
Des
21st

Suhuf (11)

Files under Obrolan | 1 Comment
HARI IBU: Saatnya Perempuan Angkat Pena
Oleh Ibn Ghifarie

APA YANG ANDA LAKUKAN MANAKALA HARI IBU ITU TIBA?

Aksikah, demokah, turun ke jalan sambil meneriakkan yel-yel ataukah diam seribu bahasa. Bila pertanyan itu dialamatkan padaku, maka aku tidak akan menjawabnya. Tapi akan bercerita perempuan. Pasalnya momen ini merupakan hari bersejarah bagi kaum hawa. Mereka berusaha ingin hidup lebih baik dalam bingkai kesetaraan dan keadilan. Meskipun dalam mewujudkan cita-cita itu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, tapi memerlukan keuletan, ketabahan dan kesabaran.

Tengok saja, tindakan kriminalitas tentang kekerasan semakin marak di negeri beradab ini. Seperti pelecehan di rumah tangga, baik kekerasan anak terhadap orang tuanya, maupun sebaliknya. Bahkan yang lebih ironis lagi perbuatan keji itu dilakukan oleh ibu terhadap anaknya.

Kedengaranya aneh memang, seorang ummi yang notabene mempunyai hasrat naluri keibuan, lemah lembut, gemulai, sopan dan penyayang, tega-teganya melakukan tindakan kekerasan fisik ataupun fisikis terhadap buah hatinya.

Ambil contoh, Januari yang lalu di daerah Gunung Kidul, Jogjakarta dikejutkan oleh seorang Ibu bernama Ruhiem dan ketiga anaknya melakukan pembunuhan dengan cara mencampur racun tikus pada nasinya. Usut punya usut ternyata mereka sudah beberapa hari tidak makan. Menemukan lauk pauk apalagi. Tiba-tiba perempun setengah baya itu kilap dan pada akhirnya melakukan bunuh diri masal. Walaupun, keluarga tersebut tidak mati, karena dapat ditolong oleh tetangganya (Pikiran Rakyat, 31/01).

Peristiwa serupa pun terajdi di Cirebon dan Tanggerang. Pembakaran anak oleh Ibunya sendiri. Pasalnya perempuan kepala tiga itu, tidak tahan lagi dengan kebiasaan suaminya selalu mabuk-mabukan dan jarang memberikan nafkah hampir satu tahun. Sekoyong-koyong, entah kerasukan setan apa wanita itu, nekad melakukan perbuatan ngeri tersebut (Radar, 19/01).

Ironisnya, di tengah-tengah arus informasi mudah didapat dan menjamurnya gerakan feminis, perbuatan senada pun terjadi, bahkan lebih perih lagi. Seperti yang dialami oleh Siti Nur Azilah di Surabya belakangan ini. Lisa, sapaan akrabnya mendapatkan perilaku tidak wajar dari suaminya. Ia disiram air raksa ke wajahnya. Sampai-sampai Lisa harus melakukan operasi face off di Rumah Sakit (RS) DR Soetomo Surabaya. Lagi-lagi kemiskinan lebih akrab dengan perempuan akibat marzinalisasi.


Dominasi Tafsir Patriarkhi
Menilik persoalan tersebut, membuat kita mengerutkan kepala bila mencari jawaban. Apa yang melatarbelakangi modus tersebut? Tentu saja, perlakuan ganjil itu diakibatkan penafsiran ayat-ayat Tuhan yang kaku dan rigid. Seperti yang diutarakan oleh Rifat Hasan, bias tafsir itu terjadi mana kala; pertama, Penciptaan Hawa dari tulang rusuk adam. Kedua, Perempuan bertanggung jawab atas turunnya Adam dari surga. Ketiga, Tujuan diciptakanya Mojang untuk Jajaka.

Selain itu, kuatnya pengaruh ulama dalam menafsirkan ayat-ayat yang berpihak pada laik-laki. Semisal, Arijalu Qowwamuna Ala annisa (Anissa:34); laki-laki menjadi pemimpin di antara perempuan. Bermula dari pemaknaan itu, pada akhirnya kaum Hawa dinilai sebagai pelengkap bagi kaum Adam semata. Ditambah lagi, posisi pemuka agama lebih tinggi dari kedudukan presiden. Pendek kata, ulama sebagai pewaris utama para nabi.

Menanggapi kemalut yang akut dan pelik itu, Fazlu Rahman mengartikan surat Anissa:34 itu mesti dimaknai berkisar pada fungsional, bukan pada perbedan hakiki. Artinya bila perempun memiliki kemampuan dan kemaun dalam mengemban amanah itu, maka berikanlah, tegasnya.

Senada dengan Rahman, Aminah Wadud mengomentari permasalahan tersebut. Bagi Wanita kontroversi itu, selama yang bersangkutan tidak bertentangan dengan al-qur’an sah-sah saja. Apalagi bila kita melihatnya secara fungsional, tutur pakar studi agama-agama itu.

Lebih lanjut, Guru Besar asal Maroko itu, menegaskan penafsiran itu tidak dimaksudkan superioritas hanya melekat pada kaum Adam secara otomatis, sebab itu terjadi secara fungsinal semata. Selama perempuan mempunyai kemampuan dan kualitas, berilah kesempatan, katanya.

Akibat dari pemahaman dan mendarah daging di masyarakat. Kaum Nisa tidak boleh menjadi pemimpin dan hakim. Karena dianggap irasional, emosional dan tidak bisa menentukan keputusan. Hingga terdapat satu stereoty; kaum Adam membuat keputusan. Sementara kaum Hawa membuat kopi. Ujung-ujungnya kaum Banat mesti berkutat pada ranah kasur, sumur dan dapur.

Tak berhenti sampai di sini saja, kaum Hawa pun tidak boleh mendapatkan pendidikan yang tinggi. Seperti yang dilansir oleh Jurnal Perempuan (JP No 23, 2003) terhitung dari tahun 1980-1990 angka perempuan masuk ke lembaga pendidikan lebih kecil bila dibandingkan dengan laki-laki. Di tingkat SMA; 41,45%:58,57% dan diperguruan tinggi 33,60%:66,40%. Padahal mengeyam bangku sekolah investasi jangka panjang bagi masa depan nasib mojang kelak. Menjadi pentolan di panggung politik apalagi. Proses subordinat acap kali menimpa kaum banat. Seolah-olah perempuan tidak boleh berdikari di ruang publik, tapi domestik.


Maka Ambilah Pena
Mencermati kemiskinan wanoja, buah dari domestifikasi dan pembagian peran menurut jenis kelamin adalah pemandangan akrab bagi kita. Tidak ada cara lain selain bangkit dan angkat pena. Pasalnya, kuatnya ideologi patriarki dalam bingkai penafsiran. Mesti ada penafsiran berbasis feminis, yang ramah dan menyapa perbedaan. Coba tengok, adakah mufasir sekaligus pemikir perempuan? Kalaupun ada itu masih bisa dihitung dengan jari. Untuk bangsa Indonesia masih kecil bila dibandingkan dengan laki-laki. Paling tidak terdapat sederetan tokoh; Musdah Mulya, Ratna Mega Wangi, Gadis Arivia, Zakiyyah Darajat, Hopipah Indah Pawangsa, Dee dan Ayu Utami dll. Apalagi pada tataran Kampus UIN SGD Bandung. Seberapa banyak organisasi perempuan? Seberapa banyak pergelaran lomba karya tulis digelar? Berapa banyak penulis dari kalangan kaum hawa?

Dengan demikian, mengangkat pena menjadi penting, bahkan sangat erat kaitannya dengan peradaban. Sejumlah orang besar seperti Carlyle, Kant, Mina Bean, Hanna, Aminah Wadud, Rifat Hasan sangat percya dan meyakini penemuan tulisan benar-benar telah membentuk pearadaban.

Sangatlah wajar bila Fatima Mernisi dengan lantang menyuarakan kaum Nisa untuk menulis. Karena penafsir jumplang harus dilawan dengan penafsir lagi. Bahkan bagi penulis Teras Terlarang itu, goresan pena merupakan obat mujarab awet muda. Apalagi kebiasaan itu di lakukan setiap hari. Terutama setelah Sholat Subuh, tuturnya Lantas mesti mulai dari mana?

Tulislah apa yang dilihat, dialami, diraskan dan dipikirkan dalam bentuk coretan. Seperti yang diungkapkan oleh JK Rowling “mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kau ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri. Itulah yang saya rasakan,” ungkap penulis Hery Pother itu.

Tentu saja, hampir semua orang agaknya pernah melakukan curat-coret. Entah menarikan pena di atas tumpukan; pesan, memo, dan buku harian. Jadi ada pelbagai ragam cara menuangkan ide atau gagasan. Jika kita masih kesulitan memulai membikin apa tulisan yang bersifat luas dan dalam, maka kita bisa memulai latihan dengan cara membuat coretan yang ringan dan sederhana. Misalnya dimulai dengan membikin surat pembaca dan diary. Semisal yang pernah dilakukan oleh Soe Ho Gie lewat Catatan Seorang Demonstran dan Ahmad Wahib melalui Catatan Harian (Pergolakan Pemikir Islam).Pendek kata, mengangkat pena menjadi satu keharusan bagi kaum pelajar. Sebab tanpa itu semua harkat martabat kita akan dianggap rendah, bahkan lebih buruk dari binatang.

Untuk itu, sangatlah wajar apabila dalam dunia Antropolog (Belb, 1926;221-22) dan (Taringan, 1983;11) dikenal satu pameo; sebagaimana bahasa membedakan manusia dengan binatang. Begitu pula tulisan membedakan manusia beradab dari manusia biadab (as languange distinguish hes man from animal, so wraiting dis tinguister civilizen ma from barbarian). Thus, lengkingan pena hanya terdapat dalam peradaban.

Dalam ungkapan lain, buku adalah pengusung peradaban, tanpa buku sejarah menjadi sunyi, sastra bisu, ilmu pengetahuan lumpuh serta pikiran dan spekulasi mandek, begitulah Barbara Tuchmat berujar.

Lagi-lagi upaya merangkai kata dalam bingkai tulis. Terlebih dahulu simpan rasa ketakutan-ketakutan. Namun, “tulislah” ungkap Pramoedya Ananta Toer. “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna,” tutur Pria mantan Lekra itu.

Dengan demikian, mudah-mudahan dengan diperingatinya Hari Kartini ini, kita dapat melanjutkan perjuangannya. Sampai-sampai RA Kartini menggoreskan pena kepada karibnya “Bila perempuan bisa membeli kebebasannya, mereka harus membayar sangat mahal. Mereka akan menghadapi kenestapaan.”; “Pergilah., bekerjalah untuk mewujudkan cita-citamu”; Suatu hari perempuan asal Jepara itu, menulis surat buat Ny. RM Abendono-Mandiri (12 Oktober 1902)

“Orang dapat merampas banyak dari kami, ya semuanya, tapi jangan pena saya! Ini tetap milik saya dan saya akan berlatih dengan rajin menggunakan senjata itu. Janganlah kami terlalu diusik, sebab kesabaran yang sesabar-sabarnya. Akhirnya juga akan habis juga. Oleh karena itu, kami akan menggunakan senjata itu. Walaupun kami sendiri akan terluka kerenanya. Aduhai! Tuhan, berilah kami kekuatan, kekuatan dan bantulah kami! Maafkan saya, cintailah anak-anakmu yang berkulit coklat ini.” Sudah siapkah kaum Banat merdeka? [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 19/12/07;12.13 wib
“tulislah” ungkap Pramoedya Ananta Toer “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penarbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna,”
Des
21st

LBT & LBTD

Files under , Agenda | Leave a Comment
Berkenaan dengan diadakannya Leadership Basic Training (LBT) dan Latihan Brigade Tingkat Dasar (LBTD) Pelajar Isalam Indonesia (PII) Jawa Barat. Garut, 02-09 Januari 2008. Memberitahukan kepada setiap Pengurus Daerah (PD) untuk memperhatikan persyaratan LBT dan LBTD sebagai berikut.
Oleh Admin

Persyaratan Leadership Basic Training (LBT)
Pelajar Islam Indonesia (PII) Jawa Barat
Garut, 02-09Januari 2008


A. PERSYSRATAN UMUM

1. Pelajar Putra dan Putri dilingkungan Jawa Barat minimal kelas VIII SMP/MTs.
2. Pernah mengikuti Pra Basic atau kegiatan-kegiatan PII.
3. Melampirkan sertifikat Pra Basic atau surat keterangan dari Pengurus Daerah yang menerangkan bahwa yang bersangkutan pernah mengikuti kegiatan PII.
4. Bersedia untuk melaksanakan proses pentrainingan dari awal sampai akhir (dibuktikan secara lisan dan tulisan).
5. Berkomitmen untuk melakukan proses tindak lanjut pentrainingan di sekolah, lokal (daerah) dan regional (Jawa Barat).
6. Membawa surat Mandat dari Pengurus Daerah yang mengutusnya.
7. Membawa Fotokopi identitas diri (kartu OSIS/KTP/SIM) sebanyak 1 lembar dan Melampirkan photo berwarna terbaru ukuran 3X4 sebanyak 2 buah.
8. Membawa surat izin dari orang tua/wali.
9. Membayar ketentuan administrasi yang telah ditentukan oleh panitia.
10. Membawa perlengkapan sebagai berikut :

a. Perlengkapan sholat termasuk mushaf Al-Quran
b. Perlengkapan alat tulis.
c. Pakaian ganti selama seminggu.
d. Peralatan mandi.
e. Obat pribadi.

B. PERSYSRATAN KHUSUS
1. Membaca dan membawa buku, jurnal, artikel, koran dan majalah tentang : Keislaman, Pendidikan dan kebudayaan, Teknologi Informasi, Kepemimpinan, Keummatan, Perbankkan, Lingkungan dan Kesehatan, ke-PII-an, Kamus (Arab, Inggris, Indonesia, dan ilmiah kontemporer).
2. Membuat tulisan tentang “Peranan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) bagi Organisasi” dengan ketentuan : ditik pada ketas A4 set up (top 2, bottom 2, left 3, right 2) hurup Arial Narrow spasi 1,5 atau ditulis rapi pada kertas folio minimal 2 lembar maksimal 5 lembar.
3. Membuat makalah dengan memilih salah satu tema dibawah ini :
a. Semangat Tahun Baru Hijriyah 1429 H.
b. Implikasi Film Religi Terhadap Pelajar.
c. Pengaruh Ideologi Barat Terhadap Islam.
d. Sikap PII Terhadap Pemilih Pemula (khususnya menghadapi Pilgub Jabar April 2008).
e. PII sebagai Rumah Pelajar.
dengan ketentuan : ditik pada ketas A4 set up (top 4, bottom 3, left 4, right 3) hurup Arial Narrow spasi 1,5 atau ditulis rapi pada kertas folio minimal 10 lembar maksimal 20 lembar.
4. Membuat kliping seputar Dunia Pelajar atau Pendidikan beserta analisisnya minimal 10 lembar dan maksimal 20 lembar (disampul).
5. Menginfaqkan buku tentang Pendidikan atau Teknologi Informasi masing-masing peserta 1 buah. (untuk Perpustakaan PW PII Jabar).

Bandung, Desember 2007
TTD


ADI FITRIYADI, A.Ma.
Koordinator Tim Instruktur

Catatan :
Persyaratan dikirim paling lambat 31 Desember 2007, dengan dialamatkan kepada Tim Instruktur LBT PW PII Jawa Barat : Jalan Ir H. Juanda No 285 Mesjid Al-Ihsan Darul Hikam Lt 2 Kel. Dago Kec. Coblong Bandung 40135 atau via E-mail : kang_adi9@yahoo.co.id atau e-mail : pii-jbr@yahoo.com Contact Person : 085659017987 dan 081809501759.


Persyaratan Latihan Brigade Tingkat Dasar (LBTD)
Pelajar Islam Indonesia (PII) Jawa Barat
Garut, 02-09Januari 2008

1. Lulus LBT
2. Mambawa Mandat dari korda/daerah
3. Siap mengikuti sampai akhir
4. Membawa pakaian lapangan
5. Celana panjang hitam
6. Baju kaos hitam panjang
7. Sepatu /topi rimba kaos kaki 4 pasang
8. Jas hujan ,ponco,rengkut,jaket
9. Membawa beras 1 liter/alat makam pribadi
10. Membawa mie 5 bungkus/ makanan ringan
11. kacang hijau ¼ kg/susu
12. Gula merah ¼ kg
13. Lilin 1 bungkus /korek api 1 bungkus
14. Ikan Asin 1 bungkus
15. senter
16. Golok/pisau
17. Kompas
18. Membawa tenda dari tiap utusan daerah
19. Al-Qur'an terjemah
20. Alat sholat
21. Obat pribadi dan keterangan sehat dari dokter
22. Alat tulis
23. Membuat analisa perkembangan daerah masing-masing
24. Membawa buku tentang pendidikan,keislaman
25. Membuat karya tulis minimal lima halamam pilih salah satu tema
berikut:
• Brigade sebagai ujung tombak PII
• PII sebagai organisasi alternatif
• Islam bukan agama teroris
• Revolusi nalar sebagai alternatif pendidikan indonesia
• Brigade pii di era nalar dan fikir bebas( format dan arah gerak)
• Brigade pii ke masa kini dan masa depan (Eksitensi)



Catatan: untuk tiap korda/daerah bagi yang akan mengirimkan
Perserta LBTD harap konfirmasi berapa jumlah peserta
Paling lambat satu hari sebelun hari h kepada panitia
Des
21st

MIMPI YANG MEMANGGIL UNTUK MENJADI THE NEXT MASYUMI(BAGIAN 2)


Jejak Panjang Perjuangan Masyumi untuk ummat dan bangsa tidak bisa begitu saja dihapuskan, di era kekinian Masyumi tetap menjadi inspirasi paling aktual dan relevan bagi dunia kepartaian dan perpolitikan di tanah air.
Masyumi lahir dari ide besar yakni Islamic Modernization, sebagai partai ia bisa dibubarkan tetapi sebagai ide besar ia akan tetap muncul dalam bentuk yang lain.

bulan-bintang-dan-bintang-bulan-di-tahun-1955.jpg

Nostalgia kebesaran Masyumi memang tetap terasa hingga saat ini, penulis banyak menjumpai para orang tua di desa – desa yang menjadi saksi hidup sistem multi partai pada pemilu 1955, mereka masih bisa menggambarkan bagaimana hangatnya persaingan diantara partai – partai saat itu, kontestansi partai politik yang besar mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat yang hampir semua larut dalam euphoria demokrasi yang meluap –luap, itulah Pesta Demokrasi dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat yang pertama dan terbesar pasca kemerdekaan.

 

Diantara saksi – saksi hidup itu kebanyakan masih bisa menghafal Hymne/Mars Partai Masyumi yang kurang lebih berbunyi sebagai berikut :

Bismillah mari kita memilih
Lambang Bulan Bintang Putih
Atas Dasar Hitam nan Bersih
Tanda Gambar Masyumi

Partai Berjasa Nusa dan Bangsa
Demi Setia Agama
Partai Berjasa Nusa dan Bangsa
Demi Setia Agama

 

Menurut salah seorang saksi menjelang akhir tahun 50-an kekuatan Nasakom yang melingkari kekuasaan Bung Karno semakin besar bahkan PKI terus menerus mencari jalan untuk lebih dekat lagi dan menguatkan posisinya di pusat kekuasaan, Pada sisi yang lain Masyumi yang menjadi oposisi loyal dan sering memperingatkan bung karno akan ancaman bahaya laten komunisme yang anti tuhan tak urung menjadi target fitnah dan target “untuk dihabisi” secara politik.

Penulis mendengar penuturan para saksi sejarah dengan seksama bahwa saat itu suhu politik meninggi terasa hingga ke desa – desa, penggalangan massa dalam bentuk mimbar- mimbar bebas diadakan oleh kader – kader PKI yang mengaku sebagai barisan penyelamat soekarno, biasanya mereka membuka orasinya dengan slogan – slogan sebagai berikut :

Merdeka !!!

Hidup Bung Karno !!!

Hidup Nasakom !!!

Ganyang Masjumi !!!

 

Kuatnya sentimen anti Masyumi yang di produksi dan direproduksi itulah yang kelak bermuara dalam bentuk opsi pembubaran partai Masyumi, tidak lama berselang kekhawatiran Masyumi akhirnya terbukti, PKI melaksanakan Gestapu-nya dalam sebuah revolusi berdarah yang sarat diselimuti tebalnya “misteri” yang masih tersisa hingga hari ini.

Cendawan yang tumbuh di musim penghujan

 

Konon setelah berakhirnya periode Masyumi, Warga Bulan Bintang mengalami kevakuman politik namun beberapa saksi mengutip dan menggarisbawahi pesan Mr. Mohammad Natsir bahwa :

 

Keluarga Besar Bulan Bintang harus bisa hidup, berkarya dan berjuang dimana saja untuk kepentingan ummat, bangsa dan negara laksana cendawan yang tumbuh di musim penghujan.

 

Diskriminasi atas Masyumi pada masa rezim orde lama berlanjut dengan kebijakan politik rezim orde baru yang menolak merehabilitasi Partai Masyumi.

 

Menyikap hal ini Keluarga Besar Bulan Bintang terbagi dalam tiga kelompok.

  1. Pertama, kelompok yang beralih ke gerakan dakwah dan mendirikan Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) dengan M. Natsir, Muhammad Roem, Sjafruddin Prawiranegara, Anwar Haryono dan Yunan Nasution sebagai tokoh sentralnya. Setelah dilarang untuk beraktifitas dalam dunia politik, mereka melihat celah lain untuk berkiprah di masyarakat, yakni dengan berdakwah.

  2. Kedua, kelompok yang tetap berada di wilayah politik dengan membentuk Par-musi (Partai Muslimin Indonesia), sebuah partai yang sengaja didirikan sebagai pengganti Masyumi dan direstui pemerintah Orde Baru.

  3. Ketiga, kelompok teknokrat yang lebih pragmatis. Mereka adalah bekas anggota dan simpatisan Masyumi dan mendapatkan karirnya melalui Golkar atau organisasi underbow-nya. Di luar ke-tiga kelompok ini, terdapat juga sekelompok kecil anggota dan simpatisan Masyumi yang terlibat dalam gerakan Islam radikal seperti NII.

 

Tekanan yang besar terhadap gerakan Islam Politik oleh dominasi politik kekuasaan menjadikan keluarga besar bulan bintang lebih fokus bergiat dalam arus utama gerakan dakwah dengan DDII sebagai ujung tombaknya.
Menurut para saksi, sebagian dari kader masyumi ada yang memilih tetap bergiat di jalur politik, sebagian melanjutkan idealisme pergerakan dalam Parmusi yang pada akhirnya melebur dalam wadah PPP, sebagian lagi memilih berada dalam wadah Partai Golkar sebagai partai pemerintah karena disinyalir sebagai kekuatan politik terbesar anti PKI dan bahaya laten komunisme.

Apapun jalan politik dan pergerakan yang dipilih oleh keluarga besar bulan bintang pada awalnya dimaksudkan untuk mengisi kevakuman politik dan mencari format baru untuk menyalurkan aspirasi politik yang tersumbat kala itu, harapan dan cita – cita terbesar masihlah sama yakni muncul dan bangkitnya kembali the next Masyumi yang akan mempersatukan komponen – komponen perjuangan yang berserak – serak dalam satu wadah bersama.

(Penulis : Badrut Tamam Gaffas untuk Bulan Bintang Media)

Des
21st

Yusril “CHENGHO” Ihza Mahendra dan Komunitas Blogger Bulan Bintang


Bagi Penulis, Bang Yusril memang sosok yang langka, karirnya tidak sebatas sebagai akademisi dan politisi, karirnya tidak berhenti lantaran didepak dari kursi KIB oleh sebuah “konspirasi”, karir bang yusril justru berlanjut sebagai seorang aktor yang mampu memerankan Laksamana Chengho, seorang bahariwan agung dari Tiongkok dalam sebuah serial Film Televisi berjudul “Admiral Zheng He” , kali ini profesinya bertambah satu lagi yakni menjadi Blogger seperti yang bisa kita lihat di http://yusril.ihzamahendra.com dan http://mahendra-ihza-yusril.blogspot.com

 

yusril-chengho-ihza-mahendra2.jpg

Blog dan Rumah Terbuka (open house)

 

Langkah Bang Yusril nge-blog ternyata ditanggapi secara positif oleh banyak pihak, utamanya komunitas blogger yang langsung menyerbu blog-nya dan memberikan dukungan, pesan dan komentar. Blog bang yusril ibarat rumah terbuka (open house), siapapun bisa datang dan berinteraksi dan melalui blog itu pula masyarakat dan komunitas blogger bisa melihat sisi – sisi lain bang yusril yang selama ini jarang di ungkap oleh media.

 

Dalam perkenalan perdana di dunia blog yang diposting 1 November pukul 00.40 lalu, Yusril menulis:

 

“Atas saran beberapa sahabat yang saya kenal melalui blog, maka hari ini saya menciptakan blog saya, sebagai wahana komunikasi bertukar pikiran secara jernih, intelektual dan simpatik, atas dasar prinsip saling hormat-menghormati.”

“Melalui blog ini, saya ingin berbagai pemikiran, pengalaman dan gagasan, yang barangkali akan bermanfaat untuk menambah wawasan dalam menyikapi berbagai peristwa yang terjadi di sekitar kita. Apa yang saya ungkapkan, mungkin saja bersifat subyektif, karena didasarkan pada titik pandang, falsafah dan keyakinan keagamaan yang saya anut.”

 

Secepat Yusril Ihza Mahendra menulis blog pertamanya di blogger.com, tepat seratus blogger memberikan komentarnya. Tulisan-tulisan Yusril lainnya di www.vavai.com, priyadi.net, dan http://yulian.firdaus.or.id/ juga direspon positif kalangan blogger. Dan dalam beberapa hari, ratusan netters lainnya ramai “mengerubuti” sang blogger baru. Semula, Yusril hanya mengomentari sebuah postingan tentang film Laksamana Cheng Ho yang dilakoninya. Ujung ujungnya, mantan mensesneg itu didorong-bujuk-paksa - untuk membuat blog sendiri, yang ternyata langsung ramai disambut para bloggers.

 

Film Laksamana Cheng Ho dan Misi Perdamaian “Memadamkan kebencian Pribumi terhadap Etnis Tionghoa”.

 

Dalam Blognya Bang Yusril mencantumkan gambar adegan syuting film admiral Zheng He yang dibintanginya, dalam uraiannya seperti yang ditampilkan dalam beberapa blog kawan blogger bang yusril, secara tersirat terungkap bahwa Film Laksamana Cheng Ho juga mengandung Misi Perdamaian yakni “Memadamkan kebencian Pribumi terhadap Etnis Tionghoa”.

“Sebagian Muslim Indonesia ada yang agak “benci” dengan etnis Cina di tanah air. Kebencian itu mungkin dipicu oleh politik kolonial Belanda yang membagi penduduk Hindia Belanda ke dalam tiga golongan, yakni Eropa, Timur Asing dan Inlander”.

 

Kelompok Timur Asing terbesar ialah etnis Cina. Mereka sengaja dijadikan sebagai kelompok “kelas menengah” yang mendapat dukungan untuk menguasai perdagangan. Oleh Belanda, etnis Cina dilarang tinggal di pemukiman Inlander. Untuk mereka disediakan lokasi khusus, yang kelak terkenal dengan sebutan Pecinan atau China Town.

Sebagian kebencian juga disebabkan adanya “pemihakan” oleh etnis Cina kepada Belanda, walau pernah juga etnis Cina memberontak di daerah Glodok, sehingga ribuan etnis Cina dibantai Belanda di abad 18.

 

Hal lain, juga disebabkan oleh keengganan peranakan Cina — akibat politik kolonial — berbaur dengan pribumi. Orang-orang Cina Muslim segenerasi dengan Cheng Ho, baik di Malaka maupun di Jawa dan Palembang, segera membaur dengan pribumi.Lama-kelamaan keberadaan mereka seolah lenyap ditelan sejarah karena telah menyatu dengan pribumi tadi.

 

Orang Cina Muslim, termasuk Cheng Ho, adalah penganut mazhab Hanafi. Namun lama-kelamaan karena berbaur, keturunan mereka juga mengikuti mazhab Syafii, yang dominan di Asia Tenggara. Tidak ada perbedaan prinsipil antara kedua mazhab hukum Islam itu.
Namun, “kebencian” pribumi Muslim dengan etnis Cina tidaklah merata. Di Bangka Belitung, mereka bersatu dan tidak pernah terjadi konflik. Orang Cina dalam jumlah besar, sudah ada di Bangka-Belitung sejak Dinasti Sung, kira-kira 200 tahun sebelum Cheng Ho (dari Dinasti Ming). Bahkan, berbagai keramik dari zaman Dinasti Tang (abad 6-9 M) sudah ditemukan di tanah maupun laut sekitar Belitung …

 

Blog : Jurnalistik Independen

Blog ternyata merupakan media jurnalistik dengan pemberitaan yang lebih fair dan original, sangat berbeda dengan media-media pada umumnya yang masih sering terjebak dalam konflik kepentingan tertentu.

Seorang Blogger bernama Adji Wigjoteruna memberikan tanggapannya:

 

Saya kebetulan baca komen-komen baca di-blognya Jay. Ternyata banyak info mengenai pikiran dan pendapat Bapak (Yusril) yang selama ini tidak diketahui oleh publik. Saya setuju dengan pendapat Bapak bahwa media massa [Indonesia] seringkali tidak fair dalam menjalankan tugas jurnalistiknya, masing-masing media ternyata memang memiliki ‘kepentingan-kepentingan’ tertentu.

 

Pernyataan senada tentang perlunya independensi media juga banyak disampaikan oleh para blogger seperti halnya komentar seorang blogger pada tulisan Masalah “Uang Tommy” di Bank Paribas (komentar #9) :

 

diluar konteks di atas…. saya sendiri melihat banyak hal simple di blow-up sampai jadi berita besar….. sedangkan berita besar ditekan habis hingga tak bergema……. saya gak tau siapa & apa yang menyebabkan ini…… apakah wartawannya, Redaksi atau owner pemilik media….mudah2an blog bisa membuat warna lain deri kebenaran dan keseimbangan berita……..

 

Para Blogger dan Komunitas Blogger memang selalu menyediakan ruang terbuka untuk diskusi publik bagi setiap tulisan yang di posting sehingga partisipasi publik yang berhasil dijaring merupakan potensi yang besar untuk memperkaya sebuah tulisan dan fakta yang diungkapkan melalui media.

 

Komunitas Blogger Bulan Bintang

 

Berikut ini hasil posting bang yusril melalui blog-nya :

 

KENANG-KENANGAN DI MASA KECIL (BAG III), 14 Desember 2007
KENANG-KENANGAN DI MASA KECIL (BAG II), 13 Desember 2007
KENANG-KENANGAN DI MASA KECIL (BAG I), 6 Desember 2007
HUKUM ISLAM & PENGARUHNYA TERHADAP HUKUM NASIONAL INDONESIA, 5 Desember 2007
MASALAH “UANG TOMY” DI BANK PARIBAS, 30 November 2007
ETIKA, INTELEKTUALISME DAN PROPAGANDA, 24 November 2007

 

Dalam Blog-nya Bang Yusril juga menjawab kontroversi mengenai “Uang Tommy di BNP Paribas”, penjelasan bang yusril sepanjang 33 Alinea itu disampaikan dengan sangat terbuka, komprehensif dan secara “khas”, umumnya tanggapan positif diberikan atas klarifikasi ini bahkan tak urung banyak pula berbagai pihak yang mengharap klarifikasi serupa atas “pemberitaan yang tidak fair” mengenai AFIS, Resuffle Jilid II , Koalisi Tiga Kaki Pada Pilpres 2004, dan tema – tema besar yang selama ini menggelinding di media secara sepihak dan sangat tidak berimbang.

 

Keseriusan bang yusril sebagai seorang blogger menjadi inspirasi dan menyisakan jejak yang perlu diikuti oleh keluarga besar bulan bintang terutama yang selama ini bergiat di medan “pergolakan” media. Selain para politisi bulan bintang yang pernah meluncurkan website seperti Bang Hamdan Zoelva, Bang Ahmad Sumargono, Bang Erry Ridwan Latief dan belakangan ini Bang Ali Mochtar Ngabalin, keberadaan blog juga sangat memberi manfaat bagi menyampaikan pesan – pesan moral, fakta – fakta dakwah dan pergerakan serta mensosialisasikan tema – tema penting seputar kebangsaan dan keislaman secara terbuka.

 

Meningkatnya Kesadaran Blogging dan mengakses media di kalangan keluarga besar bulan bintang merupakan modal untuk membangun eksistensi komunitas keluarga besar bulan bintang sebagai komunitas yang tidak hanya pantas diperhitungkan di percaturan politik nusantara melainkan juga sebagai komunitas modern yang eksis di jagad maya, juga sebagai komunitas blogger yang terus bergelora menyeru akan indahnya syariah dan semangat untuk tetap memperjuangkannya dari masa ke masa.

(Penulis: Badrut Tamam Gaffas untuk Bulan Bintang Media)

Sumber :

http://yusril.ihzamahendra.com

http://www.kompas.com

http://satrioarismunandar.multiply.com