Archive for Februari, 2008
Demagogi dan Komunikasi Politik
Dalam sistem demokrasi, manipulasi akan mendapat perlawanan sikap kritis, namun akan tetap mewarnai politik. Manipulasi menyusup ke dalam celah antara nilai, gagasan, dan opini. Penelusupan ini mau mengaburkan pembedaan antara nilai, gagasan, dan opini sehingga tidak bisa dibedakan agar diterima sebagai fakta.
Manipulasi dan demagogi
Manipulasi sebetulnya merupakan tindak kekerasan. Ia menggunakan strategi mengurangi kebebasan agar pendengar atau pembaca tidak mendiskusikan atau melawan apa yang diusulkan (Breton, 2000:24). Lalu manipulasi masuk ke pikiran seseorang untuk meletakkan opini atau membangkitkan perilaku tanpa diketahui orang tersebut bahwa ada pelanggaran.
Keberhasilannya terletak dalam penyembunyian maksud sesungguhnya dan strategi diam. Maka, manipulasi mengandaikan kebohongan yang diorganisir, penghilangan kebebasan pendengar, dan tersedianya alat untuk mengalahkan resistensi. Media massa berperan sangat penting.
Politisi cenderung bersembunyi di balik kalimat-kalimat kabur, kata-kata yang tidak pasti, untuk menghindar dari tuntutan penerapannya. Maka, tepat kata Jacques Ellul: "informasi adalah sarana propaganda". Dengan informasi, pencitraan dibangun. Pencitraan dibuat sesuai dengan aturan demagogi, yaitu menyesuaikan diri dengan yang diharapkan atau ingin didengar pemirsa. Realitas dikesampingkan untuk mengobok-obok perasaan dan pikiran pendengarnya.
Demagog adalah orang yang meminjamkan suaranya kepada rakyat. Ia adalah prototipe perayu massa. Politikus cenderung demagog. Ia bisa menyesuaikan diri dengan situasi yang paling membingungkan dengan menampilkan wajah sebanyak kategori sosial rakyatnya. Ia bisa menunjukkan berbagai peran sehingga membuat tindakannya efektif di dalam situasi yang beragam. Demagog akan meyakinkan kepada pendengarnya bahwa ia berpikir dan merasakan seperti mereka. Ia tidak akan menegaskan pendapat pribadinya, tetapi pernyataannya mengalir bersama dengan pendapat pendengarnya.
Maka, demagogi mengandaikan kelenturan wacana. Kelenturan ini dibangun melalui khazanah politik yang ambigu supaya kata yang sama bisa ditafsirkan sesuai dengan harapan pendengarnya. "Merayu berarti mati sebagai realitas untuk menghasilkan tipu daya," kata Bellenger. Demagogi semakin canggih dengan berkembangnya sarana komunikasi.
Logika pasar
Menjamurnya sarana komunikasi memengaruhi media komunikasi politik. Sistem media komunikasi politik diwarnai oleh tiga hal: pertama, kelahiran berbagai bentuk jurnalistik, dari berita sekilas sampai pada buletin 24 jam, dari infotainment, talk-shows, top-news sampai pada aneka berita (JG Blumler 2000:156). Kedua, teknologi ini memungkinkan tersedianya berita baru setiap saat melalui sistem penyebaran internet dan sumber-sumber informasi lainnya. Ketiga, sistem komunikasi, organisasi, dan aliran komunikasi massa tidak lagi didefinisikan oleh batas-batas negara.
Politik harus bersaing dengan program-program lain yang tidak kalah menariknya, seperti program hiburan, olahraga, infotainment, selebriti, mode. Bentuk-bentuk jurnalisme itu semakin dikemas secara menarik sehingga jurnalisme politik harus mampu bersaing merebut simpati audience. Karena luasnya ranah jurnalisme, bentuk persaingan itu memacu semakin banyak pemain yang terlibat atau para pembuat berita di dalam jurnalisme politik: narasumber, wartawan investigatif, penyuplai skandal, tabloid, website, rakyat biasa (arah jurnalisme populis).
Idealisme dalam komunikasi selalu membayangi logika pasar. Akibatnya, menurut Blumler (2000:160), ialah pertama, meredupnya pembedaan antara media berkualitas dan pers tabloid serta menjamurnya pendekatan model infotainment dalam politik; kedua, wartawan politik harus belajar mengakomodasikan masalah-masalah kewarganegaraan dengan nilai-nilai hedonis. Lalu kepekaan terhadap etika jurnalisme melemah; ketiga, standar nilai yang biasanya cukup dihormati oleh para praktisi komunikasi mulai diabaikan karena media tidak lagi merasa terikat pada prinsip pelayanan publik dan norma obyektif jurnalisme.
Prinsip pelayanan publik
Betapapun prioritas pada orientasi keuntungan, suatu media masih tetap membutuhkan legitimasi yang hanya bisa didapat bila ada manfaat publik. Jadi, tidak sepenuhnya benar pernyataan yang mengatakan bahwa media di bawah kontrol pemerintah hanya melayani pemerintah dan media swasta hanya melayani kepentingan pemodal. Ada tiga alasan yang menyanggah pernyataan itu (Curran 2000:125): pertama, media swasta butuh mempertahankan kepentingan audience supaya tetap menguntungkan; kedua, mereka harus mendapatkan legitimasi publik untuk menghindari sanksi masyarakat; ketiga, mereka dapat dipengaruhi oleh keprihatinan profesional dari staf redaksi atau produksi.
Memang harus diakui bahwa biasanya budaya politik demokrasi lebih waspada terhadap ancaman pemerintah atas kebebasan pers daripada ancaman dari para pemodal media swasta. Pemerintah akan segera diserang bila mencoba mendikte pesan pada media publik, tetapi tidak demikian halnya bila para pemilik modal menentukan editorial atau berita utama media mereka.
Di dalam persaingan ketat antarmedia, godaan terbesar ialah memfokuskan diri pada proses presentasi. Akibatnya, alih- alih menyampaikan komunikasi atau memproduksi makna, akhirnya energi habis untuk penyutradaraan makna dalam proses simulasi (Baudrillard, 1981:121). Pakar dan praktisi komunikasi terlalu terkonsentrasi pada teknik serta cenderung mangabaikan nilai atau makna. Informasi terjerumus dalam bahaya kehilangan makna karena fokus pada pengaturan panggung.
Simpati media turun
Mengapa dewasa ini kecenderungan simpati media terhadap politisi dan pemerintah berkurang? Setidaknya ada empat alasan (Blumler, 2000:159): pertama, meningkatnya skeptisisme terhadap pernyataan-pernyataan pemerintah atau politisi. Kecenderungan pada pembelaan diri sangat mewarnai pernyataan-pernyataan mereka; kedua, wartawan tidak senang terhadap upaya politisi untuk mengatur berita demi kepentingan mereka. Maka, wartawan sering menetralisir pesan mereka dengan memasukkan suara-suara kritis; ketiga, meredupnya pesona situasi politik.
Penayangan konflik partai, pemerintah dengan parlemen, sudah kehilangan daya tarik karena tidak ada lagi yang baru dan bisa diramalkan kelanjutannya; keempat, kesadaran akan hak-haknya sebagai warga negara telah mengembangkan tuntutan akan hidup pantas dalam berbagai bidang (kerja, kesehatan, pendidikan, transpor umum), tetapi banyak dari tuntutan itu tidak dapat diselesaikan oleh politisi.
Kesenjangan antara harapan dan kondisi sosial riil ini memungkinkan kelompok penekan mendapat kesempatan memublikasikan perjuangan, nilai, dan tuntutan mereka di media.
Sumber : www.kompas.com
Zero Complaint
Saya sangat berharap, perusahaan content provider yang saya pimpin sekarang ini, memiliki zero complaint alias tanpa keluhan sama sekali dari pelanggan akibat kelalaian atau salah urus dalam mengelola program-program yang dijalankan.Content provider memang rawan dengan complaint atau keluhan dari pelanggan telepon seluler. Beberapa permasalahan yang lazim dikeluhkan di antaranya:
Tidak bisa UNREG. Ini adalah keluhan paling besar dan paling sering terjadi. Ada banyak penyebab dari masalah ini. Pertama, memang content provider-nya yang nakal, mereka tidak menyediakan fasilitas ini. Ketika ada pelanggan meminta UNREG, permintaannya tidak dikenal oleh mesin yang menjalankan program di mana pelanggan tersebut terdaftar.Atas semua itu, saya berharap teman-teman Asmindo bisa memberikan komitmennya, agar Asmindo bisa men-deliver zero complaint kepada seluruh pelanggan operator yang mengikuti program-program Asmindo. Ada dua hal utama yang harus diperhatikan:
Kedua, pelanggan tidak tahu bagaimana caranya UNREG. Ada seorang kawan yang bercerita, bahwa ia pernah terlupa apa keyword yang harus dimasukkan sesudah kata UNREG pada sebuah progam yang ia ikuti. Akibatnya, ia kesulitan untuk keluar dari program tersebut dan memilih ganti nomor.
Perintah yang benar memang harus tertulis UNREG KEYWORD. Misal, untuk program kuis F1 maka harus ditulis UNREG F1. Dalam hal ini, seringkali pelanggan lupa keyword-nya, lalu mereka merasa dengan memasukkan kata UNREG seharusnya mereka sudah dikeluarkan dari program tersebut. Padahal, mesin tidak akan menjalankan perintah itu kalau tidak ada keyword yang dimasukkan.
Memang, ada sejumlah perbedaan antar operator. Sebuah operator mensyaratkan kalau ada pelanggan mengirim kata STOP maka pelanggan tersebut harus dihentikan dari program yang diikutinya. Tetapi, ada operator yang tetap mensyaratkan harus menggunakan kata UNREG KEYWORD.
Tidak merasa mengikuti program. Seringkali ada pelanggan marah-marah kenapa setiap hari dikirimi info sms ke nomor hp-nya. Yang bersangkutan merasa tidak pernah melakukan registrasi. Padahal, tidak mungkin sebuah mesin mengirim info sms tanpa ada permintaan atau registrasi dari pelanggan. Kadang memang terjadi, yang melakukan registrasi adalah anggota keluarga yang ada di rumah pelanggan tersebut. Di dalam log yang ada di server kami, tentu saja semuanya tercatat, kapan persisnya sebuah nomor handphone melakukan registrasi ke mesin sms kami.
Tidak pernah membagikan hadiah. Beberapa peserta program content sms yang curiga sebuah perusahan content provider tidak mengeluarkan hadiah yang dijanjikan, seringkali menuliskan keluhannya langsung ke media massa, baik cetak maupun elektronik.
Respon mesin yang lambat. Keluhan ini terjadi, terutama, untuk program yang sifatnya PULL, di mana pelanggan meminta sebuah info, tetapi mesin sms Content Provider lama menjawabnya. Proses yang cukup lama ini sebenarnya bisa saja terjadi pada network operatornya, bukan pada mesin sms Content Provider-nya. Tetapi, tetap saja keluhan akan dialamatkan ke penyedia jasa informasinya, bukan kepada operatornya.
Pertama, tidak boleh ada satupun peserta program Asmindo mendapatkan kesulitan untuk melakukan UNREG. Barangsiapa menahan orang dari UNREG, maka ia sama dengan pencuri atau perampok.
Kedua, agar pemberian hadiah harian, mingguan, dan bulanan, yang biasanya dibagikan sekaligus sesudah akhir bulan, harus sudah ditunaikan paling lambat 7 hari sejak bulan itu berakhir, tidak boleh ditunda hingga 2 bulan kemudian.
Sujud Syukur dan Iringan Takbir Hantarkan Partai Bulan Bintang Menuju Kompetisi Demokrasi
Bismillahirrahmanirahim,
Bendera Perjuangan Syariah Kian Berkibar – kibar begitu hasil lobi antar Fraksi Pembahasan RUU Partai Politik kemarin (27/2) akhirnya menetapkan Partai Bulan Bintang sebagai Kontestan Pemilu 2009 dengan predikat freepas, nasib serupa juga dialami oleh beberapa partai yang memiliki wakil di DPR RI. Kontan Berita Lolosnya Partai Pejuang Syariah ini disambut Sujud Syukur serta iringan Takbir oleh Kader, simpatisan dan Keluarga Besar Bulan Bintang.
Alhamdulillah partai kami (Partai Bulan Bintang) bisa ikut pemilu lagi,” ujar Ali Mochtar Ngabalin, sekretaris Fraksi Bintang Pelopor Demokrasi (FBPD), di sela lobi di Hotel Santika tadi malam.
Keputusan untuk memberikan freepas yang terkesan terlambat banyak dipandang sebagai bentuk inkonsistensi dalam penerapan ET 3 %, sementara sebagian besar partai yang mendapatkan freepas justru telah banyak ditinggalkan oleh kader, pengurus maupun pendukungnya yang telah hengkang atau membubarkan diri lantaran partainya terlanjur dianggap tidak mempunyai masa depan lagi. Kubu Partai Bulan Bintang sejak awal memahami benar situasi ini sehingga sejak awal telahpun memperbarui PBB 1 (Partai Bulan Bintang) dan Membentuk PBB 2 (Partai Bintang Bulan) demi menjaga keberlanjutan pergerakan syariah yang diperjuangkan.
Partai Bintang Bulan sendiri yang secara matang di plot sebagai sekoci Penerus Perjuangan Partai Bulan Bintang atau yang biasa disebut sebagai PBB 2 secara sungguh – sungguh telah membekali diri menghadapi proses verifikasi, kemarin PBB pimpinan Bang Hamdan Zoelva telah mendaftarkan diri ke Departemen Hukum dan HAM, namun kepastian Lolosnya Partai Bulan Bintang pada Pukul 22.00 tadi malam tetap disambut dengan rasa syukur mengingat persiapan verifikasi dan konsolidasi partai yang telah dijalani selama ini justru akan menggandakan kekuatan PBB dan diharapkan bisa lebih menghidupkan lagi Perjuangan Syariah yang selama ini menunjukkan kecenderungan positif dengan diberlakukannya Perda – Perda Bernuasa Syariat Islam dalam berbagai tingkatan di sejumlah Kabupaten dan Propinsi.
Di Ibukota Jakarta dan beberapa daerah dimana Partai Islam menjadi Mayoritas dan menguasai parlemen justru perjuangan syariah terabaikan lantaran gerakan syariah bukan menjadi isu dan agenda utama, sementara Partai Bulan Bintang di sejumlah daerah dengan dorongan beberapa ormas seperti Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Komite Persiapan Penerapan Syariat Islam (KPPSI) dan Komponen Ummat Islam lainnya telah melakukan berbagai ikhtiar demi terciptanya Islam yang berkemajuan dan ber-sendi-kan syariah.
Syariah Award bagi pejuang – pejuang syariah makin meneguhkan perjuangan syariah di Bumi Nusantara, apalagi tujuannya jika bukan Islam Jaya dan Ummat Islam Mulia dalam Bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia tanpa mengabaikan Kewajiban untuk melindungi Hak Hak Kaum yang lemah dan kaum yang sedikit dalam hitungan jumlah. Tantangan yang dihadapi sekarang adalah menjaga eksistensi perjuangan syariah dan memenangkan hati masyarakat pemilih melalui berbagai kompetisi demokrasi yang harus dipersiapkan dengan sungguh – sungguh dengan menggerakkan segenap mesin – mesin partai dalam menghimpun potensi ummat seraya mengharap pertolongan dari Allah SWT. Amien…
Allahu Akbar …Allahu Akbar …Allahu Akbar
Maju terus dan Hidupkan Perjuangan Syariah
(Ditulis oleh : Badrut Tamam Gaffas untuk Bulan Bintang Media)

Persyaratan Advance dan PI SUMBAR
Pelajar Islam Indonesia (PII)
Sumatera Barat
Advanced Training
Pernah aktif di Pengurus Daerah dan atau sedang aktif di Pengurus Wilayah
Telah lulus mengikuti Intermediate Training (INTRA) minimal 6 (enam) bulan terakhir
Telah lulus mengikuti salah satu kursus pasca Intermediate Training (INTRA) dan atau Ta’lim Wustho secara penuh
Mendapat surat mandat dari Pengurus Wilayah
Mampu membaca Al Qur’an dengan fasih (Tajwid dan Makhroj Huruf) dan lancer
Telah berusia minimal 17 tahun atau jenjang pendidikannya di kelas 2 SLTA/sederajat
Membuat Tugas Tulis berupa makalah dan resensi secara orsinil dan mampu mempertanggungjawabkan dihadapan tim instruktur
Makalah
Tema makalah (pilih salah satu), antara lain ;
Prophetic Intelligence ; Paradigma Identitas Kader Pembelajar
Membangun Tradisi Intelektual menuju Kebangkitan Islam
Keunggulan Kreativitas Kader dalam Perspektif Budaya Organisasi
Posisi Spiritualitas dalam Kebudayaan dan Peradaban Kontemporer
Prospek Gerakan Pelajar ; Idealitas Nilai dan Realitas Empiris
Ikhtiar Mewujudkan Etika Religius dalam Transformasi Budaya
Menggagas Konsep Pendidikan menuju Masyarakat Beradab
Minimal 10 lembar (dihitung dari pendahuluan, isi dan penutup)
Resensi
1,5 spasi, Times New Roman 12, Kertas A4
Ada lembar pengesahan dari Pengurus Wilayah yang memberi mandate
Daftar buku-bukunya (pilih salah satu), antara lain ;
NO JUDUL PENGARANG PENERBIIT
1 Dua Wajah Islam Stephen Sulaiman Schwartz Blantika, The Wahid Institute
2 Revolusi Integralisme Islam Armahedi Mahzar Mizan
3 Semua Berakar pada Karakter Ratna Megawangi Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universita Indonesia
4 Prophetic Intelligence (Kecerdasan Kenabian) Hamdani Bakran adz-Dzakiey Pustaka Al Furqan
5 Kritik Islam terhadap Materialisme Murtadha Muthahhari Al Huda
6 Menjadi Manusia Pembelajar Andreas Hareffa Kompas
7 Filsafat Etika Islam M. Amin Abdullah Mizan
8 Sekolah Gratis Utomo Dananjaya Paramadina
9 Muqaddimmah Ibnu Khaldun Pustaka Firdaus
10 Ilmu Jiwa Berjumpa Tasawuf Lynn Wilcox Serambi
11 Kepribadian dalam Psikologi Islam Dr. H. Abdul Mujib, M. Ag Rajawali Pers
12 Menanam sebelum Kiamat Fachruddin M. mangunjaya, dkk Yayasan Obor Indonesia
13 Islam sebagai Ilmu Kuntowijoyo Mizan
14 Kiri Islam, ”Antara Modernisme dan Postmodernisme (Telaah Kritis Pemikiran Hassan Hanafi) LKIS
15 Gerakan Pelajar Islam di bawah Bayang-bayang Negara Djayadi Hanan UII Pers
16 Spiritualitas dan Realitas Kebudayaan Kontemporer Alfathri Adlin (ed) Jalasutra
17 Perilaku Organisasi Stephen P. Robbins Indeks
18 Benturan Antar Peradaban Samuel Huntington Qalam
19 Beragama dengan Akal Jernih Idrus Shahab Serambi
21 Pendidikan Karakter Doni Koesoema A Grasindo
22 Media dan Citra Muslim Idi Subandy Jalasutra
23 The Road to Allah Jalaluddin Rahmat Mizan
24 Kemenangan Kapitalisme dan Demokrasi Liberal Fukuyama Qalam
25 Pemikiran Politik Islam Antony Black Serambi
26 Genealogi Intelegensia Muslim Yudi Latif
27 Tugas Cendikiawan Muslim Ali Syariati Srigunting
28 Studium Generale Fuad Hasan Pustaka Jaya
29 Jejak Mereka yang telah pergi
30 Economic Hitman John Perkin
31 Sirah Nabawi
Menyatakan kesediaan untuk aktif di struktur kepengurusan PII minimal 2 tahun kedepan
Mengirimkan curriculum vitae, makalah dan resensi (H-5) via email kortim_advantra@yahoo.com
Mengikuti screening dan dinyatakan lulus oleh tim instruktur
Membawa buku-buku tentang filsafat, tasawuf, pemikiran dan agama, pendidikan, social budaya, ekonomi, politik, sejarah dan lain-lain
Pendidikan Instruktur Dasar
Pernah aktif di Pengurus Daerah dan atau sedang aktif di Pengurus Wilayah
Telah lulus mengikuti kursus pendidikan pemandu/muallim dan Advanced Training (ADVANTRA)
Pernah mengelola kursus pra batra
Mendapat surat mandat dari Pengurus Wilayah
Mampu membaca Al Qur’an dengan fasih (Tajwid dan Makhroj Huruf) dan lancar
Telah berusia minimal 17 tahun atau jenjang pendidikannya di kelas 2 SLTA/sederajat
Membuat silabus dan atau modul kursus pra batra yang orisinil dan mampu mempertanggungjawabkan dihadapan tim instruktur
Membuat klipping koran dengan tema pendidikan dan kebudayaan, masing-masing minimal 5 judul
Menyatakan kesediaan untuk aktif di struktur kepengurusan PII minimal 2 tahun kedepan
Mengirimkan curriculum vitae, silabus dan atau modul (H-5) via email kortim_pid@yahoo.com
Mengikuti screening dan dinyatakan lulus oleh tim instruktur
Membawa buku-buku tentang managemen, pendidikan, psikologi, pengembangan diri.
Persyaratan Advance dan PI SUMBAR 24 April – 03 April 2008
Pelajar Islam Indonesia (PII)
Sumatera Barat
Advanced Training
Pernah aktif di Pengurus Daerah dan atau sedang aktif di Pengurus Wilayah
Telah lulus mengikuti Intermediate Training (INTRA) minimal 6 (enam) bulan terakhir
Telah lulus mengikuti salah satu kursus pasca Intermediate Training (INTRA) dan atau Ta’lim Wustho secara penuh
Mendapat surat mandat dari Pengurus Wilayah
Mampu membaca Al Qur’an dengan fasih (Tajwid dan Makhroj Huruf) dan lancer
Telah berusia minimal 17 tahun atau jenjang pendidikannya di kelas 2 SLTA/sederajat
Membuat Tugas Tulis berupa makalah dan resensi secara orsinil dan mampu mempertanggungjawabkan dihadapan tim instruktur
Makalah
Tema makalah (pilih salah satu), antara lain ;
Prophetic Intelligence ; Paradigma Identitas Kader Pembelajar
Membangun Tradisi Intelektual menuju Kebangkitan Islam
Keunggulan Kreativitas Kader dalam Perspektif Budaya Organisasi
Posisi Spiritualitas dalam Kebudayaan dan Peradaban Kontemporer
Prospek Gerakan Pelajar ; Idealitas Nilai dan Realitas Empiris
Ikhtiar Mewujudkan Etika Religius dalam Transformasi Budaya
Menggagas Konsep Pendidikan menuju Masyarakat Beradab
Minimal 10 lembar (dihitung dari pendahuluan, isi dan penutup)
Resensi
1,5 spasi, Times New Roman 12, Kertas A4
Ada lembar pengesahan dari Pengurus Wilayah yang memberi mandate
Daftar buku-bukunya (pilih salah satu), antara lain ;
NO JUDUL PENGARANG PENERBIIT
1 Dua Wajah Islam Stephen Sulaiman Schwartz Blantika, The Wahid Institute
2 Revolusi Integralisme Islam Armahedi Mahzar Mizan
3 Semua Berakar pada Karakter Ratna Megawangi Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universita Indonesia
4 Prophetic Intelligence (Kecerdasan Kenabian) Hamdani Bakran adz-Dzakiey Pustaka Al Furqan
5 Kritik Islam terhadap Materialisme Murtadha Muthahhari Al Huda
6 Menjadi Manusia Pembelajar Andreas Hareffa Kompas
7 Filsafat Etika Islam M. Amin Abdullah Mizan
8 Sekolah Gratis Utomo Dananjaya Paramadina
9 Muqaddimmah Ibnu Khaldun Pustaka Firdaus
10 Ilmu Jiwa Berjumpa Tasawuf Lynn Wilcox Serambi
11 Kepribadian dalam Psikologi Islam Dr. H. Abdul Mujib, M. Ag Rajawali Pers
12 Menanam sebelum Kiamat Fachruddin M. mangunjaya, dkk Yayasan Obor Indonesia
13 Islam sebagai Ilmu Kuntowijoyo Mizan
14 Kiri Islam, ”Antara Modernisme dan Postmodernisme (Telaah Kritis Pemikiran Hassan Hanafi) LKIS
15 Gerakan Pelajar Islam di bawah Bayang-bayang Negara Djayadi Hanan UII Pers
16 Spiritualitas dan Realitas Kebudayaan Kontemporer Alfathri Adlin (ed) Jalasutra
17 Perilaku Organisasi Stephen P. Robbins Indeks
18 Benturan Antar Peradaban Samuel Huntington Qalam
19 Beragama dengan Akal Jernih Idrus Shahab Serambi
21 Pendidikan Karakter Doni Koesoema A Grasindo
22 Media dan Citra Muslim Idi Subandy Jalasutra
23 The Road to Allah Jalaluddin Rahmat Mizan
24 Kemenangan Kapitalisme dan Demokrasi Liberal Fukuyama Qalam
25 Pemikiran Politik Islam Antony Black Serambi
26 Genealogi Intelegensia Muslim Yudi Latif
27 Tugas Cendikiawan Muslim Ali Syariati Srigunting
28 Studium Generale Fuad Hasan Pustaka Jaya
29 Jejak Mereka yang telah pergi
30 Economic Hitman John Perkin
31 Sirah Nabawi
Menyatakan kesediaan untuk aktif di struktur kepengurusan PII minimal 2 tahun kedepan
Mengirimkan curriculum vitae, makalah dan resensi (H-5) via email kortim_advantra@yahoo.com
Mengikuti screening dan dinyatakan lulus oleh tim instruktur
Membawa buku-buku tentang filsafat, tasawuf, pemikiran dan agama, pendidikan, social budaya, ekonomi, politik, sejarah dan lain-lain
Pendidikan Instruktur Dasar
Pernah aktif di Pengurus Daerah dan atau sedang aktif di Pengurus Wilayah
Telah lulus mengikuti kursus pendidikan pemandu/muallim dan Advanced Training (ADVANTRA)
Pernah mengelola kursus pra batra
Mendapat surat mandat dari Pengurus Wilayah
Mampu membaca Al Qur’an dengan fasih (Tajwid dan Makhroj Huruf) dan lancar
Telah berusia minimal 17 tahun atau jenjang pendidikannya di kelas 2 SLTA/sederajat
Membuat silabus dan atau modul kursus pra batra yang orisinil dan mampu mempertanggungjawabkan dihadapan tim instruktur
Membuat klipping koran dengan tema pendidikan dan kebudayaan, masing-masing minimal 5 judul
Menyatakan kesediaan untuk aktif di struktur kepengurusan PII minimal 2 tahun kedepan
Mengirimkan curriculum vitae, silabus dan atau modul (H-5) via email kortim_pid@yahoo.com
Mengikuti screening dan dinyatakan lulus oleh tim instruktur
Membawa buku-buku tentang managemen, pendidikan, psikologi, pengembangan diri.
Rencana Perda Sungai
Mencari Tafsir Versi Indonesia
Acara Muktamar Pemikiran Islam di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang berlangsung 11-13 Februari 2008 akhirnya diganti namanya menjadi ”Kolokium Nasional Pemikiran Islam”. Sejumlah pembicara tidak bisa hadir. Salah satu pemakalah baru yang dimasukkan namanya adalah Dr. Phil. Nur Kholish Setiawan, dosen mata kuliah Kajian Al-Quran dan Pemikiran Hukum Islam di Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Murid kesayangan Nasr Hamid Abu Zayd ini menggantikan posisi Prof. Dr. Amin Abdullah, rektor UIN Yogya, dalam sesi pembahasan ”Manhaj Baru Muhammadiyah: Mengembangkan Metode Tafsir”. Pada sesi ini tampil juga pembicara Ust. Muammal Hamidy, Lc. dan Dr. Saad Ibrahim.
Muammal Hamidy yang juga pimpinan Ma’had Aly Persis Bangil, dalam makalahnya, mengungkap peringatan Rasulullah saw, bahwa ”Siapa yang menafsiri Al-Quran dengan ra’yunya, maka siap-siaplah untuk menempati tempat duduknya di neraka.” Tokoh Muhammadiyah Jawa Timur ini pun menyitir hadits lain: ”Akan datang suatu masa menimpa umatku, yaitu banyak orang yang ahli baca Al-Quran tetapi sedikit sekali yang memahami hukum, dicabutnya ilmu dan banyak kekacauan. Menyusul akan datang suatu masa, ada sejumlah orang yang membaca Al-Quran tetapi Al-Quran itu tidak melampaui tenggorokannya. Kemudian menyusul satu masa ada orang musyrik membantah orang mukmin tentang Allah (untuk mempertahankan kesyirikannya) dengan bahasa yang sama (HR Thabrani).
Ustadz Muammal Hamidy kemudian menyimpulkan: (1) Al-Quran jangan ditafsiri sesuai selera, (2) Pemahaman terhadap Al-Quran hendaknya didasari dengan ilmu, (3) Ilmu untuk memahami hukum-hukum Al-Quran harus dikuasai dengan baik, (4) Membaca Al-Quran minimal hendaknya disertai dengan pengertiannya, dan (5) Ummat Islam harus mewaspadai orang-orang yang mempergunakan dalil Al-Quran dan Sunnah untuk kepentingan yang tidak Islami.
Peringatan tokoh senior di Muhammadiyah Jawa Timur ini kiranya perlu kita perhatikan. Sebab, umat Islam di Indonesia saat ini banyak dijejali dengan beragam model penafsiran yang ditawarkan oleh sebagian kalangan cendekiawan yang isinya justru mengacak-acak Al-Quran, seperti penafsiran yang menghalalkan perkawinan homoseksual dan perkawinan muslimah dengan laki-laki non-Muslim. Beberapa waktu lalu, kita membahas disertasi doktor Tafsir Al-Quran dari UIN Jakarta yang secara terang-terangan merombak dasar-dasar keimanan Islam dan menafsirkan Al-Quran sesuai seleranya sendiri.
Dengan mengutip ayat-ayat tertentu dalam Al-Quran, doktor Tafsir lulusan UIN Jakarta itu menyimpulkan: “Dengan demikian, bagi umat Islam sendiri, merayakan natal sesungguhnya merayakan hari kelahiran seorang utusan Tuhan yang harus diimani, Isa al-Masih, yang diduga jatuh pada tanggal 25 Desember. Sebagai implikasi dari keberimanan itu, semestinya umat Islam juga diperbolehkan untuk merayakan hari kelahiran Isa dan kelahiran para nabi lain sebelum Muhammad SAW.” (hal. 209).
Pada bagian lain, dia membuat definisi tentang “Ahli Kitab”, yaitu: “Intinya siapa saja yang berpegangan kepada sebuah kitab suci yang mengandung nilai-nilai ketuhanan dan prinsip-prinsip kemanusiaan yang luhur yang dibawa oleh para nabi, maka mereka itu adalah Ahli Kitab.” (hal. 216). Sementara, pada bagian lain dia tulis: “Dilihat dari sisi ini, maka ahl kitab merupakan kelompok yang memang menganut monoteisme (tawhid).” (hal. 219-220).
Dengan definisi “Ahlul Kitab” versi Doktor Tafsir tersebut, maka disimpulkan, bahwa semua agama yang mempunyai kitab suci adalah agama tauhid. Inilah salah satu contoh tafsir aliran “ngawuriyah” – alias tafsir asal-asalan -- yang dibangga-banggakan sebagian orang sebagai tafsir yang “toleran”, “progresif”, “modern”, dan “maju”. Padahal, sudah banyak kitab Tafsir, Fikih, dan disertasi doktor yang dengan sangat serius dan komprehensif membahas masalah Ahlul Kitab ini. Tetapi, semua ini tidak dirujuk oleh penulis disertasi tersebut. Ia lebih suka membuat definisi sendiri berdasarkan hawa nafsunya. Allah SWT sudah mengingatkan dalam Al-Quran:
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? “ (QS 45:23).
Masalah penafsiran Al-Quran adalah masalah yang sangat mendasar dalam Islam. Sebab, melalui ilmu inilah, umat Islam memahami firman Allah SWT. Karena itu, dalam Mukaddimah Tafsirnya, Ibn Katsir memaparkan, bagaimana hati-hatinya para sahabat Nabi saw dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Quran. Jika mereka tidak paham terhadap makna suatu ayat, maka mereka bertanya kepada sahabat lain yang dipandang lebih ahli dalam masalah tersebut. Ibn Katsir menasehatkan, jika tidak ditemukan penafsiran Al-Quran dalam Al-Quran, as-Sunnah, dan pendapat sahabat, maka carilah penafsiran itu dalam pendapat para tabi’in.
Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. dengan tawadhu’nya pernah menyatakan: “Bumi manakah yang akan menyanggaku dan langit manakah yang akan menaungiku jika aku mengatakan sesuatu yang tidak aku ketahui tentang Kitabullah?” Ibn Katsir juga mengutip hadits Rasulullah saw: “Barangsiapa yang mengucapkan (sesuatu) tentang Al-Quran berdasarkan ra’yunya atau berdasarkan apa yang tidak dipahaminya, maka bersiap-siaplah untuk menempati neraka.” (HR Tirmidzi, Abu Daud, Nasa’i). Abu Ubaid pernah juga memperingatkan: “Hati-hatilah dalam penafsiran, sebab ia merupakan pemaparan tentang Allah.”
Sikap hati-hati inilah yang mendorong lahirnya para ulama Tafsir yang serius. Para mufassir Al-Quran harus sangat berhati-hati, sebab tanggung jawab mereka di hadapan Allah SWT sangatlah berat. Bagi yang bukan mufassir pun wajib memperhatikan masalah ini, dan berhati-hati dalam memilih tafsir. Jangan sampai memilih tafsir Al-Quran yang dibuat sesuai dengan selera dan hawa nafsu.
Sebagai satu organisasi Islam yang besar, tentu Muhammadiyah wajib memiliki banyak Ahli Tafsir Al-Quran. Kita menyambut baik setiap upaya ijtihad yang dilakukan oleh para ulama atau pemikir Muslim mana pun. Namun, kita juga perlu berhati-hati dalam soal penafsiran. Tidak setiap ”kilasan pemikiran” bisa dikatakan ijtihad. Setiap lontaran pemikiran yang baru tentang Tafsir Al-Quran, sebaiknya dikaji dengan seksama terlebih dahulu secara terbatas di kalangan pakar Tafsir.
Di dalam Kolokium Nasional Pemikiran Islam di Unmuh Malang tersebut umat Islam disuguhi ide Tafsir Baru oleh Dr. Nur Kholish Setiawan. Ia membawakan makalah berjudul ”Tafsir Sebagai Resepsi Al-Qur’an: Ke Arah Pemahaman Kitab Suci dalam Konteks Keindonesiaan”. Dalam makalahnya, Nur Kholish mengkritik dominasi nalar Arab dalam bangunan tafsir sebagai metode memahami Al-Quran. Tafsir Al-Quran, menurutnya, masih terbuka untuk dikembangkan dengan memanfaatkan khazanah keilmuan kemanusiaan (humaniora) yang bersifat teritorial. Dalam beberapa karya kesarjanaan Nusantara, pemikir Indonesia telah banyak melakukan enkulturasi budaya lokal dalam memahami Al-Quran. Tafsir al-Huda, misalnya, sebuah karya tafsir berbahasa Jawa menunjukkan kentalnya warna budaya Jawa dalam proses pemahaman ayat-ayat Al-Quran.
Contoh lain yang dipaparkan Nur Kholish adalah penolakan Mangkunegara IV dari Kasunanan Surakarta terhadap Arabisasi fikih. Baginya, fikih (pekih) tidak seharusnya dipraktikkan secara utuh seperti yang tertulis dalam literatur Arab, melainkan disesuaikan dengan tingkat kelayakan Jawa. ”Dengan kata lain, ada nilai-nilai luhur Jawa yang tidak boleh begitu saja ditinggalkan.”
Sayangnya, kita tidak mendapat penjelasan, bagaimana contoh budaya Jawa yang luhur dan tidak boleh ditinggalkan, sehingga harus menjadi dasar pertimbangan dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Quran. Kita tunggu saja upaya dosen Al-Quran dari UIN Yogya itu untuk menerbitkan Kitab Tafsir atau Fikih yang mengakomodasi nilai-nilai luhur budaya Jawa. Setelah terbit, baru kita bisa menilainya.
Sebenarnya, selama ini umat Islam sudah paham, bahwa Muslim Jawa boleh shalat dengan kain saung dan blangkon, tetapi tidak boleh shalat dengan menggunakan bahasa Jawa. Tidak ada orang Muslim Jawa berpikir, bahwa azan bisa dilantunkan dalam bahasa Jawa. Kita paham, mana yang termasuk ajaran ad-Dinul Islam, dan mana aspek budaya yang boleh diambil.
Para penyebar Islam di Jawa dulu pun berusaha mengubah tradisi yang tidak sesuai dengan Islam dengan tradisi yang sesuai dengan ajaran Islam. Misalnya, diubahnya tradisi ”sesajen” menjadi ”selametan”. Proses perubahan tradisi tentu memakan waktu yang panjang, sehingga kadang-kadang ada yang masih belum berjalan dengan sempurna. Islam tidak menolak adat pakaian suatu daerah yang memang sudah menutup aurat. Tetapi, Islam tentu akan berusaha mengubah tradisi ”koteka” atau ”telanjang” yang ada di suatu daerah tertentu. Kaum Muslim yang ”normal” tentu akan menyatakan, bahwa budaya makan babi adalah tidak sesuai dengan Islam.
Jadi, bukan tradisi suatu daerah yang jadi pedoman. Tapi, Islamlah yang harusnya menjadi pedoman dalam menilai sesuatu. Kaum Liberal harusnya membuka wawasannya, bahwa Islam juga hadir di tanah Arab untuk mengubah sejumlah tradisi jahiliyah. Misalnya, tradisi perkawinan jahiliyah, tradisi penindasan wanita, tradisi telanjang, tradisi mabuk-mabukan, dan sebagainya. Meskipun diturunkan di negeri yang tandus, syariat Islam justru mengandung banyak ajaran yang mewajibkan umatnya menggunakan air untuk bersuci. Sebab, Islam memang diturunkan untuk seluruh umat manusia tanpa memandang budaya. Karena itu, tidak ada istilah ”Islam Jawa”, ”Islam Arab”, ”Islam Cina”, dan sebagainya.
Dalam upaya untuk menghadirkan hukum Islam bercorak Indonesia, Nur Kholish Setiawan mengajak untuk mengkritisi sejumlah metode istinbath hukum dalam konsep ushul fikih klasik. Misalnya, konsep ijma’. Katanya, ”Ketetapan hukum yang dilahirkan melalui proses istintabh tidak mungkin memiliki corak keindonesiaan, apabila tidak dibarengi dengan rumusan kritis metodologisnya.”
Di sejumlah IAIN/UIN, metode penafsiran Al-Quran “berbasis budaya” ini tampaknya mulai digencarkan. Misalnya, dalam soal mahar dalam perkawinan. Seorang dosen Fakultas Syariah IAIN Semarang, Rokhmadi, M.Ag., ditanya tentang kasus perkawinan seorang laki-laki dengan wanita Minang, yang menurut si penanya, maharnya justru diberikan oleh pihak wanita, bukan pihak laki-laki. Inilah jawabab dosen itu:
“Wajarlah mahar menjadi kewajiban pihak perempuan karena posisinya di atas laki-laki dalam bersikap dan martabat keluarga. Maka saudara MH Tidak perlu risau, susah, dan gelisah. Justru saudara beruntung tidak dibebani Mahar. Terimalah, sebab ketentuan al-Quran (al-Nisa ayat 4) tidak bersifat mutlak karena semata-mata dipengaruhi budaya di mana Islam diturunkan. (Lihat, Jurnal Justisia Fakultas Syariah IAIN Semarang, Edisi 28 Th.XIII/2005).
Kita bisa bayangkan, apa yang terjadi dengan Islam, jika setiap suku bangsa di Indonesia membuat Tafsir Al-Quran model dosen syariat seperti ini? Nanti ada tafsir berbasis budaya Jawa, Tafsir Betawi, Tafsir Sunda, Tafsir Minang, Tafsir Batak, dan sebagainya.
Dalam soal hukum pidana ala Indonesia, misalnya, Nur Kholish mengajukan proposal dari Mohammad Syahrur tentang ”Teori Batas”. Dalam kasus pencurian, ketentuan hukum potong tangan dalam QS 5:38, dipandang sebagai ”batas maksimal” (al-had al-a’la). Menurut Syahrur, hukum potong tangan bagi pencuri adalah ”hukuman maksimal”. Jadi, tidak setiap pencurian harus dikenai hukum potong tangan. Dan menurut Nur Kholish, masih ada ruang untuk berijtihad menentukan jenis hukuman bagi pencuri yang di bawah hukum potong tangan.
Teori batas lain dari Syahrur yang diajukan Nur Kholish adalah batas dalam soal waris. Pola 2:1 bagi laki-laki dan wanita, menurut Syahrur, adalah formula batas atas dan batas bawah. Jadi, menurut formula itu, batas atas bagi laki-laki adalah 66,6 persen dan batas bawah bagi wanita adalah 33,33 persen. Jadi, bisa dilakukan ijtihad baru, seorang laki-laki mendapatkan warisan 60 persen dan seorang wanita mendapatkan 40 persen. Aspek lokalitas turut memberikan warna dalam pergeseran 66,6 banding 33,3 persen.
Itulah yang dikatakan sebagai tawaran ijtihad atau tafsir baru yang lebih menghargai unsur lokalitas atau budaya lokal. Pendapat Syahrur soal ”Teori Batas” itu sudah sangat banyak menuai kritik di negerinya sendiri, Suria. Teori ini memang ”aneh”. Coba bayangkan, bolehkah seorang berijtihad, bahwa yang termasuk hukuman yang berada di bawah derajat hukum ”potong tangan” adalah, misalnya, ”potong rambut” atau ”potong jari” atau ”potong telinga?”
Kekacauan Teori Batas ini bisa dilihat dalam kasus pakaian laki-laki. Syahrur berpendapat bahwa batas bawah (batas minimal) aurat laki-laki yang harus ditutup hanyalah kemaluannya. ”Karena keadaan cuaca berbeda-beda pada tiap penduduk bumi dari panas yang terik sampai dingin yang menggigit. Maka batas minimal pakaian yang diberikan bagi laki-laki adalah menutup kemaluan.” Karena itu, kata Syahrur, laki-laki boleh berenang hanya dengan mengenakan celana renang saja. Yang dilarang adalah melihat laki-laki dalam keadaan telanjang bulat. (Lihat, Muhammad Syahrur, Islam dan Iman: Aturan-sturan Pokok, (Terj.) (Yogya: Jendela, 2002), hal. 71.
Kita bisa bayangkan, bagaimana jika dosen tafsir di UIN Yogya menerapkan teori Syahrur dalam soal pakaian laki-laki ini?
Pada 6 September 2004, situs JIL pernah menurunkan sebuah artikel yang membahas tentang Teori Batas Syahrur, ditulis oleh seorang dosen di Jurusan Tafsir-Hadis UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ditulis di situ, bahwa dalam soal pakaian wanita (libâs al-mar’ah), Syahrur berpendapat bahwa batas minimum pakaian perempuan adalah satr al-juyûb (Q.S al-Nur: 31) atau menutup bagian dada (payudara), kemaluan, dan tidak bertelanjang bulat. Batas maksimumnya adalah menutup sekujur anggota tubuh, kecuali dua telapak tangan dan wajah.
Kita bisa melihat, betapa absurdnya teori semacam ini. Dengan ”Teori Batas” ala Syahrur ini, maka boleh saja wanita mengenakan bikini di depan umum, yang penting dia sudah menutupi batas minimal, yakni kemaluan, payudara, dan tidak telanjang bulat.
Dengan model penafsiran yang sangat ”fleksibel” seperti itu, kita paham, mengapa sebagian kalangan sangat menyukai metode tafsir al-Quran yang disebut ”Teori Batas” ala Syahrur ini. Meskipun model tafsir al-Quran semacam ini yang ditawarkan dalam acara Kolokium Nasional Pemikiran Islam di Unmuh Malang, kita berharap, Majelis Tarjih Muhammadiyah, tidak tergoda untuk memungutnya.
Kita tidak bosan-bosannya mengimbau para intelektual, meskipun sudah bergelar doktor atau profesor, untuk bersikap tawadhu’ dan tahu diri. Jika maqamnya memang ”muqallid” jadilah ”muqallid” yang baik. Tidak patut memposisikan diri sebagai mujtahid, yang dengan gagahnya memaki-maki Imam Syafii, tetapi ujung-ujungnya menjadi pemuja Nasr Hamid Abu Zaid. [Depok, 22 Februari 2008/www.hidayatullah.com]
Kontroversi ayat-ayat cinta (buku dan film)
Pada kawasan Indonesia, buku novel ayat-ayat cinta sebagai hasil pemikiran penulisnya telah menuai kritik dari para pihak yang kontra sekaligus mendapatkan beragam pujian dari pihak yang pro. Kritik utama dan paling sering diungkap ke hadapan umum adalah keluarbiasaan Fahri sebagai tokoh utamanya. Menurut para pengritik, sosok fahri terlalu sempurna untuk ukuran seorang manusia. Oleh penulisnya, fahri digambarkan sebagai manusia yang taat beragama, cerdas, ulet, sensitif terhadap masalah sosial, pemberani, tegas, baik hati, setia, dan paham ilmu agama. Fahri menjadi seorang mahasiswa yang selalu mendapatkan gelar “luar biasa” selama dia kuliah. Penggambaran tersebut, dianggap oleh para pengritik sebagai sebuah ketidakmungkinan, atau bisa disebut sebagai khayalan tingkat tinggi, sehingga ada salah seorang saudara saya yang membuat tugas tentang ini dengan memberi judul “matinya sang pengarang”.
Bagi masyarakat Indonesia, terutama para pengritik, mungkin sosok seperti fahri masih berupa angan-angan saja, karena mereka belum pernah melihat manusia yang memiliki gambaran seperti Fahri. Bagaimana dengan pendapat penulisnya?
“…bagiku, tokoh Fahri itu justru masih kurang sempurna. Harus aku sempurnakan lagi. Dia harus lebih berjiwa malaikat ketimbang yang sudah ada. Kupikir, orang-orang kita bangsa Indonesia ini menilai fahri terlalu sempurna, karena selama ini mereka tidak pernah disuguhi bacaan dan tontonan dengan kualitas perilaku seperti fahri …”itulah pendapat sang penulis terhadap tokoh gambarannya.
(http://guahira.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=16&Itemid=47)
Sama halnya pada format buku, film ayat-ayat cinta pun mendapatkan pihak-pihak yang pro dan kontra. Meskipun film resminya belum ditayangkan di bioskop mana pun selain dalam rangka premiernya, tapi kritik dan pujian sudah mulai bermunculan, ada tiga kemungkinan. Pertama, komentator mengomentari dari hanya sebatas yang dia lihat di premier film, yang sebenarnya belum sepenuhnya rampung. Kedua, komentator mengomentari berdasarkan film bajakannya, yang sebenarnya berasal dari premiernya. Ketiga, komentator mengomentari berdasarkan cerita dari orang yang pernah melihat premiernya atau dari film bajakannya.
Kritik-kritik yang muncul lebih kepada ketidaksesuaian film dengan novel. Kritik juga tertuju pada kurang syar'i nya film ayat-ayat cinta. Film yang berasal dari novel ini dikritik sebagai film yang lebih mirip sinetron-sinetron religi yang sering ditayangkan di televisi. Hal yang menarik dalam fenomena film ayat-ayat cinta bukanlah apa yang dikritik oleh para pengritik, tetapi lebih kepada siapa para pengritik.
Pihak pemberi pujian memiliki keanekaragaman jika dibandingkan dengan pihak pemberi kritik. Para pengritik didominasi oleh para manusia yang oleh sebagian masyarakat disebut sebagai aktivis dakwah Islam. Mereka adalah orang-orang yang umumnya beraktivitas dan berjuang serta bertujuan untuk menegakkan syari'at Islam di kalangan masyarakat. Umumnya mereka pun termasuk orang-orang yang pernah membaca novel ayat-ayat cinta. Terlepas dari apakah mereka termasuk para pengritik novel atau pemuji novel, yang jelas mereka menganggap bahwa film ayat-ayat cinta berbeda dengan novel ayat-ayat cinta. Menurut mereka film ayat-ayat cinta tidak layak untuk ditonton karena nilai dakwahnya tidak sebanding dengan novel ayat-ayat cinta, bahkan ada beberapa bagian yang justru dianggap meruntuhkan image aktivis dakwah.
“Ayat-ayat Cinta di proyeksikan untuk Idul Adha, Natal dan Tahun Baru. Bisa kebayang bukan, siapa yang akan menonton film ini.”(http://hanungbramantyo.multiply.com/journal/item/3).Itulah pandangan pembuat filmnya tentang film ayat-ayat cinta.
Berikut ada kutipan yang isinya adalah “sesuatu” dari salah seorang tokoh penulis yang juga merupakan seorang aktivis dakwah
“Seperti kata seorang teman, "Bisa jadi film itu memang cukup memadai buat sebagian penonton, tahu sendiri selera sebagian besar penonton Indonesia... bisa diukur dari sinetron-sinetron di tivi. Film AAC memang dibuat bukan untuk penonton macam 'kita'".
(http://forum.dudung.net/index.php?topic=2812.285)
sebagai penutup, ada baiknya sebelum kita mengomentari sesuatu, komentarilah terlebih dahulu diri sendiri, sudahkah kita melihat beragam sisi yang sebelumnya belum pernah dilihat? Sudahkah kita melihat apa yang dilihat oleh yang akan kita komentari? Sudahkah kita melihat apa yang subjek komentar kita ingin perlihatkan kepada orang lain? Jika anda menanyakan kembali pertanyaan itu kepada saya, maka jawaban saya adalah “sudah, meskipun tak sempurna”.
Suhuf (3)
Oleh Ibn Ghifarie
Sepekan pascatragedi muski cadas di Asia Africa Culture Center (AACC), sabtu (9/2) sebagian masyarakat ikut prihatin sekaligus membuat aksi solidaritas komunitas underground.
Salah satunya yang dikalukan oleh Nandi panitia pelaksana peluncuran album baside itu, Ia melakukan pembacaan puisi '…..Selamat jalan kawan pahlawanku/haruskah pengorbanan 11 orang itu kita sia-siakan?
Kegiatan ini sebagai bentuk solidaritas terhadap komunitas musik bawahtanah, harapnya.
Acara yang serupa juga hadir dari komunitas underground yang di kawaki oleh Gustar 'Kita harus mengambil pelajaran atas kejadian itu dan lebih baik dalam memahami pelbagai musik, katanya.
Nah, untuk mengenang dan memberiakan dukungan kita kepada komunitas musik cadas lainya , kita akan menggelar Dialog Publik dan tabur bunga pada hari sabtu (23/02) sebagai bentuk kerprihatinan kita terhadap korban dan memberikan bantuan alakadrnya kepada mereka, jelasnya seperti yang dilansir oleh STV dalam program 'Kabayan Nyentrik', selasa (19/02)
Kegiatan Kabayan yang dipandu oleh Tisna Senjaya ini mencoba menelisik tentang kemandirian dan kreativitas aliran ini, Layana pentolan musik cadas dan pemilik Distro menuturkan 'Indrustri kreatif tak tadi tak pernah ada campur tangan pemerintah, bahkan tak pernah diperhatikan.
Memang tak dapat bantuan dari penguasa. Istilahnya harus usaha sendiri, ungkapnya.
Sudahlah jangan saling menyalahkan. Toh, setelah ada korban baru pemerintah mau menanggapi. 'Kreatifitas tak bisa dibungkam'. Mestinya kan tidak seperti itu dan gedung tempat berekspresi musik menjadi satu keharusan untuk mencegah korban lain berjatuhan, tambahnya
Maraknya Distro, label rekaman Indi, hingga ke penjuru Nusantara ini petanda anak muda Bandung masih kreatif dan mandiri, kata Tisna dalam menutup program Kabayan Nyentrin tersebut. [Ibn Ghifarie]
Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 19/02/08;18.45 wib
Suhuf (2)
Oleh Ibn Ghifarie
Tak seperti biasanya, lingkungan kampus UIN SGD Bandung dipadati orang-orang. Pasalnya, beberapa pekan civitas akademika tak tampak. Suasana sepi pun menyelimuti kemegahan bangunan Universitas.
Semula hanya ada para aktivias yang tengah mempersiapkan kegiatanya di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) seperti Teater Awal—mempersiapkan pementasan di Rumentang, sabtu (16/02) LPIK (Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman)—persiapan Ta'aruf Generasi Baru (TGB) di penghujung Februari.
Kini, memasuki hari pertama kuliah di semester genap orang-orang pada kumpul di Fakultasnya masing-masing, ruang belajar mengajar, DPR (Di bawah pohon Rindang), pelataran mesjid Iqomah, sekitar gedung Student Center (SC).
Tentu mengisahkan sederetan cerita, keluh-kesah dan motivasi saat pertama kuliah lagi. Salah satunya, Iim mahasiswa Adab menuturkan 'Asyik masuk kuliah di semester baru. Semanagt dan nuansa baru harus menjadi modal untuk meraih kebahagiaan'
Ya paling tidak, biar lebih baik lagi nilai yang saya dapatkan dari semester sebelumnya, tambahnya.
Aduh belum apa-apa sudah belajar dan dikasih tugas lagi, cetus Asep aktivis pergerakan.
Padahal biasanya tak seperti itu. 'Ya ngaret dikit gitulah. Baru sesudah seminggu proses belajar mengajat dimulai. Ini tidak lagi', keluhnya.
Pemandangan serupa pun terjadi di ruangan eks pasca sarjana. Pasalnya, mahasiswa tingkat empat tengah mencari penempatan sekaligus lokasi KKN (Kuliah Kerja Nyata) yang dipusatkan di daerah Kota dan Kabupaten Bandung dari tanggal 27 Februari-28 Maret 2008.
Geliat mahasiswa juga mulai menampakan dirinya. Kala ditanya soal persiapan apa yang dibawa dalam program pengamdian masyarakat itu 'Ah..nyantai waelah. Pan urang ge pernah PLJK (Peraktek Lapangan Kejamiyahan) baheula. Waktu sakola di Pasantrent [Ah..nyantai saja. Kan saya juga pernah PLKJ dulu. Waktu masih sekolah di Pesantren].
Jadi teu kudu riweuh sagala. Anguran mah nyiapkeun mental jeung duit. Pan sok loba nyiuen kagiatan ceuk anu pernah KKN oge. Otomatis saku kudu rada munel [Jadi ga mesti ribet segala. Yang mesti kita persaapkan dari segi mental dan keuangan. Kan suka banyak kegiatan kata orang-orang yang pernah KKN juga. Otomatis uang harus banyak], ungkap peserta KKN. [Ibn Ghifarie]
Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 18/02/08;21.46 wib
Suhuf (2)
Oleh Ibn Ghifarie
Tak seperti biasanya, lingkungan kampus UIN SGD Bandung dipadati orang-orang. Pasalnya, beberapa pekan civitas akademika tak tampak. Suasana sepi pun menyelimuti kemegahan bangunan Universitas.
Semula hanya ada para aktivias yang tengah mempersiapkan kegiatanya di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) seperti Teater Awal—mempersiapkan pementasan di Rumentang, sabtu (16/02) LPIK (Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman)—persiapan Ta'aruf Generasi Baru (TGB) di penghujung Februari.
Kini, memasuki hari pertama kuliah di semester genap orang-orang pada kumpul di Fakultasnya masing-masing, ruang belajar mengajar, DPR (Di bawah pohon Rindang), pelataran mesjid Iqomah, sekitar gedung Student Center (SC).
Tentu mengisahkan sederetan cerita, keluh-kesah dan motivasi saat pertama kuliah lagi. Salah satunya, Iim mahasiswa Adab menuturkan 'Asyik masuk kuliah di semester baru. Semanagt dan nuansa baru harus menjadi modal untuk meraih kebahagiaan'
Ya paling tidak, biar lebih baik lagi nilai yang saya dapatkan dari semester sebelumnya, tambahnya.
Aduh belum apa-apa sudah belajar dan dikasih tugas lagi, cetus Asep aktivis pergerakan.
Padahal biasanya tak seperti itu. 'Ya ngaret dikit gitulah. Baru sesudah seminggu proses belajar mengajat dimulai. Ini tidak lagi', keluhnya.
Pemandangan serupa pun terjadi di ruangan eks pasca sarjana. Pasalnya, mahasiswa tingkat empat tengah mencari penempatan sekaligus lokasi KKN (Kuliah Kerja Nyata) yang dipusatkan di daerah Kota dan Kabupaten Bandung dari tanggal 27 Februari-28 Maret 2008.
Geliat mahasiswa juga mulai menampakan dirinya. Kala ditanya soal persiapan apa yang dibawa dalam program pengamdian masyarakat itu 'Ah..nyantai waelah. Pan urang ge pernah PLJK (Peraktek Lapangan Kejamiyahan) baheula. Waktu sakola di Pasantrent [Ah..nyantai saja. Kan saya juga pernah PLKJ dulu. Waktu masih sekolah di Pesantren].
Jadi teu kudu riweuh sagala. Anguran mah nyiapkeun mental jeung duit. Pan sok loba nyiuen kagiatan ceuk anu pernah KKN oge. Otomatis saku kudu rada munel [Jadi ga mesti ribet segala. Yang mesti kita persaapkan dari segi mental dan keuangan. Kan suka banyak kegiatan kata orang-orang yang pernah KKN juga. Otomatis uang harus banyak], ungkap peserta KKN. [Ibn Ghifarie]
Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 18/02/08;21.46 wib
Suhuf (1)
Oleh Ibn Ghifarie
Kehadiran Blog menjadi media alternative dalam mengekspresikan apa yang dilihat, didengar, dirasakan dan dialami. Memang sangat menyenangkan.
Betapak tidak, Harian Umum (HU) tengah menyediakan layanan blogger. Linhat saja, HU Tempo, Kompas, Suara Merdeka untuk kalangan nasional dan Tribun Jabar dalam ruang lingkup Bandung.
Semula webblog hanya digandrungi oleh pengiat dan pemerhati blog yang membuat komunitas tertentu. Kini, media cetak pun ikut menumbuh kembangkan media online ini.
Namun, marakya kolom blogger di Koran membuat Fardi salah seorang pengurus LPIK (Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman) Bandung angkat bicara 'Wah…jangan-jangan maraknya layanan blog di Koran itu merupakan trend semata.'
Ya orang-orang lagi gila dengan dunia ngeblog. Baru media cetak pun ikut-ikutan nampilin blog. Benerkan? Jelasnya.
Hal senada juga diamini oleh seorang aktivis mahasiswa yang enggan disebutkan namanya 'Ya itu kan syndrom saja. Lagian komunitas blogger masih elit jika dibandingkan dengan kelompok gerakan petani yang sampai ke gress root'.
Apalagi dengan adanya layanan di Harian Umum, cetusnya.
Nah, bila anggapan yang melekat pada sebagian masyarakat terdapatnya ruang blog di HU hanya syndrome dan trend belaka, maka kira-kira menurut para blogger mania gimana? [Ibn Ghifarie]
Ayo Ngeblog, Ayo Ngement Juga!!
Cag Rampes, Pojok Sekere Kere, 15/02/08; 21.12 wib
Kitab (20)
Oleh Ibn Ghifarie
Terkuaknya, 11 orang tewas mengenaskan saat peluncuran album ‘Baside’ di Asia Africa Culture Center (AACC), sabtu (9/2) membuat komunitas underground jadi bulan-bulanan.
Betapak tidak, angka kematian itu cukup pantastis.
Apalagi menginat keberadaan musik bawahtanah sarat akan Stigma negative. Alih-alih musik cadas yang diusung, dan lantas dikaitkan dengan narkoba, alkohol, serta kekerasan. Benarkah begitu?
"Underground" adalah GOR Saparua. GOR Saparua adalah underground. Seberapa banyak dari Anda sulit membedakan kedua kata di atas. Mana yang diterangkan, mana yang menerangkan.
Ya, underground tentunya tak lepas dari peran GOR Saparua yang menjadi saksi bisu masa keemasan scene (baca: pergerakan) musik itu di Bandung. Kita tentu mengingat betapa ingar bingar musik cadas bergenre punk, hardcore, dan grindcore begitu masif di Bandung sekitar 14 tahun silam. (Pikiran Rakyat, 12/02)
Ujungberung Rebels
Namun, rasanya tak berlebihan jika membicarakan aliran bawahtanah tak menyebut-nyebut ujungberung. Pasalnya, daerah Bandung Timur itu merupakan gudangnya musisi aliran metal.
Tengoklah, dari 10 band independen di Indonesia yang tercatat majalah Hai tahun 1995, tiga di antaranya berasal dari Ujungberung. Mereka adalah Sonic Torment, Jasad, dan Sacrilegious. Label dan perusahaan rekaman yang mereka kibarkan adalah Palapa Records.
Kendati tak jelas, kata Kimung, kapan rock/metal masuk ke Ujungberung. Agaknya, sejak booming heavy metal di Indonesia pertengahan tahun 1980-an, Ujungberung tak ketinggalan tren ini. Dalam kondisi yang sangat terbatas, beberapa gelintir kaum muda Ujungberung membentuk band dan memainkan lagu-lagu band rock favorit mereka.
Kang Koeple (kakak Yayat-produser Burgerkill) dan Kang Bey (kakak Dani-Jasad) bisa disebutkan sebagai generasi awal. Pertengahan 1980-an hingga awal 1990-an, mereka memainkan lagu rock semacam Deep Purple, Led Zeppelin, Queen, dan Iron Maiden selain menciptakan lagu sendiri. (PR, 13/02)
Scumbag Begundal Hardcore Ugal-Ugalan
Pun menyoal Ujungberung Labels tak pas bila tidak menyebut-nyebut Ivan Firmansyah. Walau sudah dulu meninggalkan kita, 27 Juli 2007 silam akibat penyakit akut yang dideritanya bebarapa tahun silam. Pemakan Dangder jadi tempat peristiarahatan terakhirnya.
Ivan Firmansyah, Scumbag Begundal Hardcore Ugal-Ugalan adalah pionir pendobrak Ujungberung Rabels. Bersama bandnya, Burgerkill, ia membuat terobosan-terobosan besar yang lalu semakin mengangkat dinamika musik independent ke tataran yang lebih tiinggi dan fenomenal. Yang kemudian menjadi sangat personal, dengan segala pencapaianya, ivan tak lantas berubah menjadi sosok yang lain. Ia tetep dengan segala kerendahan hatinya, membumi bersama rereka yang mengusungnya.
Ia terlahir dari pasangan Aam Rusyana Suhandi-Dedeh Herawati di Klinik Bersalin Bidan Emma Fatimah, Jl Gegerkalong Hilir ke kediamnya di Jl Sarijadi 59/177 D. Pada tanggal 17 April 1978.
Masa kecil Ivan di besar dalam pola asuh permisif, yang membesarkanya dan melakukan apa saja tanpa kontrol yang jelas. Kurangnya perhatian itu dibarengi dengan jarangnya mendapatkan ‘kasih-sayang lebih’ dari keluarganya.
Meninjak remaja, ia acap kali berpindah asuhan. Sejatinya, figur keluarga sebagai kontol dirinya cenderung semakin pudar. Pola pikirnya selalu berubah. Tentu, sesuai dengan pola pembinaan yang didapat dari sang empunya. Dalam urusan nilai dan norma sangat berat.
Perkenalanya dengan Beby, penabuh drum Beside kala itu memikat hatinya untuk bermain musik. Kendati darah seninya telah mengalir dari Ayahnya, karena memang seorang seniman handal.
Semenjak itulah Ia kerap menghabiskan waktunya bermain musik ria. Aliran Bawahtanah menjadi gendre yang diusungnya kelak. Burgerkil jadi pelabuhan sekaligus muara dalam mengekpresikan kegelisahan, kecambuk hatinya saat mengeja persoalan yang dihadapinya.
Namun, ada yang unik dari Scumbag ini. Meski seorang pentolan kelompok Metal yang sarat pengguna dzat adiktif, tapi dalam urusan ibadah tak mau ketinggalan. Misalnya saat puasa di bulan ramadhan Ia selalu menasihati kawan-kawanya untuk teta[ shaum dan shalat. Lantunan adzan dari kejauhan terdengar agak sayup-sayup mengisaratkan pertemuan Abid dengan Sang Kholik
Aing kan geus mabok van! Sengit Bebi protes
Eh..!! mabok mah mabok. Tapi nu lima waktu kudu jalan terus, ivan menjawab tak kalah sengit.
Inilah percakapan yang mengasikan. Diakui atau tidak masa kecilnya yang dipenuhi dengan bimbingan keagamaan yang kuat membuat Ia tetap mempertahankan rutinitas ibadah. Keaktif di Ikatan Remaja Mesjid Membangun Daerah (Remamuda) Al-Hidayah; Ikatan Remaja Nurul Islam (IRNI); Ketua Ikatan Remaja Mesjid Sekolah Menengah Pertama (SMP) 12 Bandung. Melengkapi keimananya.
‘Penulis Yang Tertunda’
Satu hal lagi yang tak kalah menarik darinya, keinginya untuk menulis terpatri dalam coretan dinding kamar WC Rony salah satu kawan karibnya dan buku harianya.
Ikhtiar sekaligus mengikuti orang beradab dalam menulis terus mengebu-gebu bak api, manakala Ia mendapatkan tawaran membuat ilustrasi untuk buku ‘Tiga Angka Enam’ karya Addy Gembel (Forgoten) dari Minor Books yang dikomandoi oleh Kimung.
Mung urang oge loba tutulisan euy, bisa teu diterbitkeun kumaneh, cetusnya
Sarua jeung si Addy sih. Carita-carita tentang lirik si be-Ka lolobanamah, tapi siganamah teu siga si Addy. Urang teu bisa nyiuen siga kieu mah, kata ivan sambil menggenggam naskah
Wah lamun carita-carita tentang lirik si Be-Ka jigana bisa jadi biografi si Be-Ka nyet sok loba geningan dina buku lirik-lirik the beatles, lagu taxman misalna, iraha ditulisna, nunulisna saha, nyaritakeun naon, kritik dibalik lagu naon, kondisi band pas nyiun lagu eta jiga kumaha, kondisi masyarakat, naha lagu ditulis, jeung sajabana. Menarik sih nyet. Mung jiga kitu, antusian Kimung panjang lebar.
Heueuh nya eta ku urang oge sarua kapikiran kitu. Malah biogapi si Be-Ka mah urang haying nulsi misah deui, ivan menangapi tak kalah antusias.
Enya sok atuh kari tuliskeun!
Bisa aing nulis. Hehehe! Enya eta, urang the teu bisa nuliskeuna, euy. Kumaha mun urang anu ngomong, maneh anu nulis.
Wah hese atuh euy. Tuliskeun mah tuliskeun wae. Kajeun ku urang diedit. Manehmah nulis hajar-hajar weh tong sieun salah tinggal si Gembel oge rea pisan salahna, salah ketik, salah struktur kalimat, cuek weh! Kan aya editor, kilahnya
Heueuhlah ku urang dicobaan heula dituliskeun. Ngke lamu urang butuh bantuan omat bantuan urang, harapanya.
Keterlibatanya dalam dunia tarik suara tak bisa diragukan lagi. Band Burgerkill tak bisa dipisahkan darinya lasmana dua sisi mata uang. Kegigihanya dalam berdendang menorehkan beberapa karya monumental. Hingga kini terkenang dalam ingatan pecinta musik underground, diantaranya; “DUA SISI” MC Album, Riotic Records, (2000), “BERKARAT” MC & CD Album, Sony Music Ent. Indonesia, (2003), “DUA SISI REPACKED” MC & CD Album, Sony Music Ent. Indonesia, (2005), “BEYOND COMA AND DESPAIR” MC & CD Album, Revolt! Records, (2006)
Beberapa penghargaan pun telah diraihnya; Nominator “Band Independent Terbaik” versi majalah NEWSMUSIK Indonesia, (2000),
Exclusive 1 year Endorsement “PUMA Sports Apparel” USA, (2001), Exclusive 2 year Endorsement “INSIGHT Clothing” Australia, (2002),
Award “Best Metal Production” (“Berkarat”, Sony Music Ent.), AMI AWARDS, (2004), Salah satu Album Terbaik (“Beyond Coma…”, Revolt! Records) versi majalah RIPPLE Indonesia, (2006), 20 Album Indonesia Terbaik (“Beyond Coma…”, Revolt! Records) versi majalah ROLLING STONE Indonesia, (2006), Original Soundtrack “Hantu Jeruk Purut” Movie, Indika Film, (2006), Original Soundtrack “Malam Jum'at Kliwon” Movie, Indika Film, (2007).
Di tengah-tengat derasnya arus pelabelan dan mudahnya menjadi seleb mendadak. Scumbag bareng Burgerkill saat teken kontrak selama 6 album dengan Sony Music, malah rela meninggalkan produksi recor ternama itu dan kembali ke Indi.
Keputusan inilah yang menjadi decak kagum, Gustaff H Iskandar, Seniman bekerja untuk Bandung Center For New Media Arts Common Room Networks Foundation di prolog buku Based On True Story My Self Scumbag (Beyond Life And Death) (2007;365)
Namun keterbatasan inilah yang justru malah membina mereka menjadi musisi-musisi yang konsisten diranah idealisme yang tinggi. Terkondisikan oleh gesekan-gesekan dari lingkungan sekitar, membuat mental musisi-musisi Ujungberung menjadi kuat. Ini terbukti hingga sekarang mereka tetap konsisten memainkan musik yang mereka sukai, tidak terpancing oleh arus trend yang global. Justru merekalah yang kemudian menciptakan trend di kalangan musisi underground Bandung, Bahkan Indonesia.
Dengan demikian, kiranya kita menghargai sekaligus mendukung tumbuh berkembangya pelbagai aliran musik di Indonesia sebagai khazanah kebudayaan yang tak ternilai harganya. Sebab peradaban suatu bangsa terlihat dari seberapa jauh kita menghargai karya budaya anak negeri. Semoga. [Ibn Ghifarie, Mahasiswa Studi Agama-Agama Fakultas Filsafat dan Teologi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung dan Pemerhati musik bawahtanah]
Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 12/02/08;22.39 wib dan 13/02/08;16.57 wib
Fenomena Al Qur’an Digital, Fenomena Ayat – ayat Cinta diatas Cinta
Beberapa kelebihan dan fasilitas software Al Quran Digital adalah mampu menampilkan ayat-ayat Al Quran dalam tulisan Arab dan terjemahan Indonesia, menampilkan catatan kaki dari Al Quran terjemahan Depag RI, menyediakan indeks menurut subyek, mampu melakukan pencarian kata dalam terjemahan, mampu membuat bookmark dari ayat yang dianggap penting, ayat dalam tulisan Arab dan terjemahan dapat dicopy paste ke program lain seperti Microsfot Word dan tidak memerlukan instalasi font atau program tambahan Freeware Al Qur’an Digital ini bisa kita nikmati berkat kerja kreatif dari Achmad Fahrudin (Dosen Institut Pertanian Bogor), Ari Widodo (Dosen Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung), Gatot H. Pramono (Staf di Badan Koordinasi Survey dan Pemetaaan Nasional, Cibinong), Mohammad Mukhlis Kamal (Dosen di Institut Pertanian Bogor), dan Poerbandono (Dosen di Institut Teknologi Bandung), sebuah kerja produktif yang InsyaAllah berbuah kebajikan dan menjadi ladang amal bagi para kreatornya.
Ayat – ayat Suci Al Qur’an baik yang Hardcopy maupun yang digital seharusnya lebih menggugah jiwa dan lebih mempesona dibandingkan Ayat – ayat buatan manusia, sayangnya akhir – akhir ini kita justru tenggelam dalam fenomena ayat – ayat indah karya manusia sehingga sibuk luar biasa mencari link Download Gratis E-Book Ayat – Ayat Cinta dan melupakan sebuah keseimbangan untuk kembali kepada Ayat – Ayat Suci Al Qur’an yang sesungguhnya adalah CAHAYA DIATAS CAHAYA, CINTA DIATAS CINTA. Wallahu’alam.
(Sebuah Ajakan oleh Badrut Tamam Gaffas)

Semburan lumpur lapindo, perluasan dampak sosial dan penderitaan tak berujung
- Lokasi eksplorasi adalah kawasan budidaya, tidak sesuai dengan Rencana Tata ruang Wilayah (RTRW) Sidoarjo.
- Tidak adanya upaya sungguh – sungguh untuk meminimalkan resiko sejak muncul semburan
- Peraturan Presiden yang tertuang dalam Perpres Nomor 14 Tahun 2007 menghilangkan kewajiban Lapindo membayar ganti rugi dan sebaliknya memberkan hak untuk membeli tanah.
- Proses Hukum Pidana yang diusulkan di SP3 sementara Proses Hukum Perdata di menangkan oleh Lapindo.
- Pembiaran pipa gas pertamina yang berakibat ledakan yang merenggut 12 korban jiwa.
- Beberapa desa terdampak belum mendapatkan ganti rugi.
- Wacana Politik Penetapan bencana alam.
- Mobilisasi ribuan tentara dengan senjata lengkap untuk pengamanan
Tragedi Semburan Lumpur Lapindo telah lama terjadi tepatnya sejak 29 Mei 2006 namun beragam versi fakta yang terungkap hingga saat ini belum menemukan satu muara, kondisi ini diperparah oleh belum satu suaranya wakil rakyat dan pembuat kebijakan dalam mengupayakan tindakan dan penanganan dampak sosial yang diakibatkan walhasil perluasan peta berdampak makin tak terkendali sehingga rakyat korban lumpur sidoarjo dipaksa untuk terperangkap dan diaduk –aduk dalam derita panjang tak berujung.
Lalu, …saya tak kuasa lagi membayangkan, bagaimana pula dengan anda ???
(Sepenggal Keprihatinan oleh Badrut Tamam Gaffas)

Jujuran
Pagi tadi, sehabis dari pasar, saya mendapatkan sms salah seorang mahasiswa yang akan menikah. Dia mau ketemu saya untuk membicarakan pernikahannya. Saya janjikan bertemu pukul 08.00 di salah satu tempat sebelum berangkat kerja.
Setelah kami ketemu,Dia menceritakn bahwasanya persiapan nikahnya sebentar lagi dilangsungkan, namun, ada hal yang sampai saat ini belum disipkan yaitu “JUJURAN”. Di Kalimatan Selatan budaya Jujuran atau serahan dilakukan dengan menyebutkan nominal uang yng diberikan pihak laki-laki ke perempuan. Dan biasanya pihak perempuan yang menentukan uang yang diinginkan. Nah, ternyata kedua orang tua laki-laki ini hanya bisa menyediakan sekitar 5 jutaan, sedangkan untuk kekurangnnya, rencananya kedua orang tuanya akan menjual tanah untuk membiayai jujuran laki-laki ini, dan sampai sekarang tanah yang mau dijual tersebut belum ada pembelinya.
Dia bercerita ke saya dan berencana mau meminjam uang yang saya miliki. Dalam diam saya berpikir, kenapa kok masih ada yah budaya jujuran ?. Nominal yang disebutkan cukup besar bagi saya, terlebih lagi saya yang baru berkeluarga.
Pada awalnya, rencana pernikahan mahasiswa ini saya ketahui dari teman. Yang kemudian meminta saya untuk mendampingi untuk melamarkan ke orang tua perempuan. Tentu saja saya menolak. Karena saya baru kenal dengan mahasiswa tersebut. Dan ketika saya berbicara beberapa kali dengannya, saya menyimpulkan belum ada keberanian si Laki-laki tersebut tuk mengarungi kehidupan rumah tangga.
Dalam hati saya berpikir, kebanyakan baca buku pernikahan kali, sesuatu yang saya enggan membacanya ketika kuliah dulu. Bagi saya, ketika belum menikah, kehidupan rumah tangga bukanlah cerita dongeng, tapi adalah tantangan dalam hidup yang mesti dilalui. Yah sekarang cuman berdoa, semoga siap dua-duanya menghadapi kehidupan keluarga.
LAPAR MENAJAMKAN MATA BATIN
Kepala ini menyemburkan api yang panasnya bisa membakar orang sampai ke ulu hati. Kepala lainnya adalah perut. Imam Ali berkata,” Jarak yang terjauh antara seorang hamba dengan Allah ialah ketika urusannya hanyalah perut dan seksnya saja”Al-Ghazali menulis dalam Ihya ‘Ulum al-Din sebuah kitab dengan judul Kitâb Kasr al-Syahwatayn, Buku tentang Menghancurkan Kedua Syahwat. Ia menyebut hawa nafsu sebagai syahwat. Dalam bahasa Indonesia tampaknya syahwat hanya berarti nafsu seks. Dalam bahasa Arab dua syahwat itu terdiri dari syahwat seks dan syahwat perut. Yang kedua itu tentu saja termasuk tapi tidak terbatas pada makan dan minum. Ke dalamnya masuk segala cara untuk memuaskan kesenangan-kesenangan fisik dengan menggunakan –pada zaman moderen sekarang ini- duit. Mungkin istilah paling tepat di masa kini untuk syahwat perut adalah konsumerisme, perilaku konsumtif. Simaklah bagaimana Nabi saw dan sahabat-sahabatnya berusaha menaklukkan “syahwat perut”.Pada suatu hari –menurut Anas bin Malik- Fatimah as datang dengan membawa potongan roti untuk Rasulullah saw. Beliau bertanya: Potongan apakah ini? Fatimah berkata: Potongan roti. Aku merasa tidak enak kalau aku tidak membawanya untukmu. Rasulullah saw bersabda; Ketahuilah, ini makanan pertma yang masuk ke mulut ayahmu selama tiga hari.” Dari manusia suci yang –kata ‘Aisyah- tidak pernah makan kenyang tiga hari berturut-turut itu keluar perintah “Biasakan mengetuk pintu surga, supaya pintu itu terbuka bagimu?”. Aisyah bertanya, “Bagaimana kami membiasakan mengetuk pintu surga.” “Dengan lapar dan dahaga,” kata Nabi (Ihya, 3:119).
Lebih dari 30 tahun setelah itu, seorang rakyat biasa menemui khalifah di istananya. Di depan khalifah ada secangkir susu dan pada tangannya ada beberapa potong roti. Dari susu iti keluar bau apek. Sedangkan roti itu tampak keras dan kasar. Khalifah berusaha mematah-matahkannya dan memasukkan serpihan-serpihannya pada susu dalam cangkir. Rakyat kecil itu takjub melihat pemimpinnya makan begitu sederhana. Ia bertanya kepada pembantu khalifah, “Apakah kamu tidak kasihan pada orangtua ini? Kenapa tidak kauminyaki rotinya supaya lunak?”. Pembantunya berkata, “Bagaimana aku bis akasihan padanya; ia sendiri tidak kasihan pada dirinya. Ia memerintahkan kami untuk tidak menambahkan apa pun pada rotinya. Kami sendiri makan roti yang lebih baik dari roti yang dimakannya. Khalifah berkata, “Wahai Suwaydah, kamu tidak tahu apa yang biasa dimakan Nabi saw. Dia pernah tidak makan tiga hari berturut-turut.” Khalifah itu adalah anak didik Nabi saw, keluaran madrasah Rasulullah yang tumbuh dalam asuhan wahyu, Ali bin Abi Thalib.Ketika ia mau berbuka puasa, ia menginginkan daging bakar dengan roti yang lunak. Sudah lama ia menginginkannya. Akhirnya ia berbiacara pada putranya, Hasan. Hasan pun mempersiapkannya. Ketika makanan itu sudah terhidang menjelang waktu buka, seorang pengemis berdiri di depan pintu. Imam berkata pada Hasan, “Anakku, berikan daging bakar itu padanya. Jangan sampai dalam catatan amal kita tertulis Adzhabtum thayyibātikum fi hayātikum al-dunyā wastamta’tum bihā. Kamu sudah menghabiskan yang baik-baik bagimu dalam kehidupan kamu di dunia saja dan kamu sudah bersenang-senang dengannya.”Adi bin Hatim al-Thaiy menyaksikan juga Imam Ali makan dengan sangat sederhana. Ia bertanya: Tuanku, aku melihat engkau berpuasa dan berjihad pada siang harimu, serta banyak salat pada waktu malammu, sedangkan engkau makan dengan potongan roti seperti ini?” Imam Ali menjawab, “Hai Adi, dengarkan. Sesungguhnya kalau kamu memperturutkan nafsumu, ia akan mendorong kamu kepada kekecewaan dan ketidakpuasan. Seperti kata penyair Hatim bin Abdillah: Sungguh, jika kauikuti nafsumu dan farjimu, keduanya akan menjerumuskanmu pada puncak kehinaan.” (Syaikh Ahmad al-Hayri, Tahdzib al-Nafs 1:238).Apa yang kita peroleh jika kita mengendalikan syahwat perut dengan lapar?Apa yang akan kita peroleh bila kita berlatih melaparkan perut kita, mengendalikan nafsu konsumtif kita? Al-Ghazali menyebutkan sepuluh faidah. Hari ini, kita menyebutkan empat di antaranya:Pertama, membersihkan hati dan menajamkan mata batin. Kata Al-Syibli: Setiap hari aku melaparkan perutku, pintu hikmah dan ‘ibrah (pelajaran) terbuka bagiku. Kata Yazid al-Bisthami: Lapar itu mega. Bila perut lapar dari hati akan terucrah hujan hikmah. Bila lapar memancarkan kearifan, kenyang akan melahirkan kedunguan. Nabi saw bersabda: Cahaya kearifan adalah lapar, menjauh dari Allah adalah kenyang, mendekati Allah ialah mencintai fakir dan miskin dan akrab dengan mereka. Jangan kenyangkan perutmu, nanti padam cahaya hikmah dalam hatimu.”Kedua, melembutkan hati dan membersihkannya sehingga mampu merasakan kelezatan berzikir. Kadang-kadang kita berzikir dengan kehadiran hati, tetapi kita tidak menikmatinya dan hati kita tidak tersentuh sama sekali. Pada waktu yang lain, hati kita sangat lembut dan kita merasakan kelezatan berzikir dan kenikmatan bermunajat. Menurut para sufi, sebab utama dari hilangnya kelezatan zikir adalah perut yang kenyang. Kata Abu Sulayman: Apabila orang lapar dan haus, hatinya akan terang dan lembut. Bila orang kenyang, hatinya akan buta dan kasar.Ketiga, meluluhkan dan merendahkan hati, menghilangkan kesombongan dan keliaran jiwa. Ketika kita lapar, kita merasakan kelemahan tubuh kita di hadapan kekuasaan Allah. Betapa ringkihnya kita, kalau Tuhan memisahkan kita dari makanan dan minuman hanya untuk beberapa waktu saja. Karena itu, ketika Nabi saw ditawari semua kenikmatan dunia, ia menolaknya dan berkata, “Tidak, aku ingin lapar sehari dan kenyang sehari; pada waktu lapar aku bisa bersabar dan mernedahkan diriku, pada waktu kenyang aku bisa bersyukur.”Keempat, mengingatkan kita pada ujian dan azab Allah. Ketika orang kenyang ia tidak akan ingat pedihnya kelaparan dan kehausan. Seorang yang arif akan mengenang derita –lapar dan haus- pada hari akhirat atau pada waktu sakratul maut, ketika ia merasakan lapar dan haus di dunia ini. Orang yang selalu kenyang dan sehat tidak akan merasakan pedihnya hari kiamat. Begitu pula, orang yang tidak pernah lapar akan lupa pada sebagian masyarakat yang diuji Tuhan dengan kelaparan. Ia akan kehilangan imannya; karena ia tidur kenyang sementara tetangganya kelaparan di sampingnya. Ketika Nabi Yusuf as menjadi menteri logistik, ia membiasakan puasa setiap hari. Orang bertanya kepadanya: Mengapa Anda lapar padahal perbendaharaan
bumi di tangan Anda? Yusuf menjawab: Aku takut kenyang dan melupakan orang yang lapar.
Diantara pilihan-pilihan hidup
Mungkin setiap kita atau suatu saat akan berhadapan dengan pilihan-pilihan hidup yang kadang sulit kita dapat terima. Ini mungkin lebih dari pengalaman pribadi belaka yang didasari oleh sebuah idealisme yang mungkin orang lain sulit juga untuk menerimanya. Barangkali tanpa sadar bahwa dunia kita sekarang ini atau lingkungan hidup disekitar kita sangat mengajari kita dengan pragmatisme belaka kenapa tidak semuanya diukur dengan materi, seperti uang atau ukuran kekayaan harta, jabatan atau tahta mapun juga kecantikan/kegagahan.
Pilihan-pilihan hidup yang dimaksud adalah dimana suatu saat kita harus terpaksa memilih, kelak mau jadi apa? dan mau mengapa? atau sebuah keinginan yang dilandasi oleh cita-cita. Munungkin ketika kita sedang belajar atau sekolah keinginan kita melambung tinggi setinggi cakrawala tapi dalam kenyataanya mungkin tidak seperti itu. Syukur pada mereka yang dalam kenyataannya dapat berhasil meraihnya dengan syarat janganlah sombong karena mungkin keberhasilan itu yang akan menjatuhkan kita/ menjauhkan kita dari Allah SWT sebagai sang pencipta. Yang paling sedih adalah ketika impian-impian kita tidak terwujud dan kita menyesali Allah SWT.
Ada beberapa pilihan yang pernah menggerogoti hidup saya pertama). keinginan untuk menjadi seorang pengusaha sukses, Kedua). Keinginan hidup dalam dunia aktivis masyarakat, Ketiga). Keinginan untuk menjadi tokoh politik/masyarkat dan keempat). Keinginan untuk menjadi seorang tokoh pendidikan/pendidik.
Dalam perjalanannya dapat dikatakan semua keinginan yang pernah diimpikan pernah singgah dalam hidup saya, masih terasa sekarang ketika dulu pernah membuka usaha dalam bidang komputer mulai dari rental komputer kecil-kecilan sampai membuka sebuah PT.MSU di kota Padang dan akibat pailit akhirnya masih berhutang Rp.35 juta lebih. Masih ada sisa-sisa kegiatan beraktivitas ditengah-tengah masyarakat dengan pihak NZAID dan LP3ES Jakarta seperti laporan yang pernah direalis dalam blogspot ini bahkan sekarang masih dianggap salah seorang staf di P3SD (Pusat Pengkajian dan Pengembangan Sumber Daya Padang. Masih terjejak saat ini untuk selalu berkomunikasi dengan tokoh-tokoh politik/masyarakat bahkan sekarang bersedia menjadi salah seorang ketua di KNPI Kabupaten Limapuluh Kota bidang Otonomi daerah dan Masyarakat Adat dan Ketua Yayasan Peduli Masyarakat Sariak Laweh serta sekarang ini sudah dianggap guru di SMP Islam Raudhatul Jannah Payakumbuh.
Persoalannya adalah ditengah-tengah perjalanan tidaklah semuanya sesuai dengan rencana/impian yang diaharapkan. Mau tidak mau kita harus berani untuk mengorbankan salah satu atau bahkan banyak impian yang kita harapkan. Banyak faktor yang kemudian harus dapat dipertimbangkan. Seperti pepatah minang "ukur bayang sapanjang badan agar jangan besar pasak dari pada tiang" artinya mampukah kita untuk mewujudkan semua impian tersebut dengan situasi dan kondisi penuh keterbatasan kita?
Inilah sebuah pertanyaan pilihan yang harus dihitung bahkan dapat dikalkulasikan secara matematis. Namun Allah maha besar, selama perjalanan yang pernah saya tempuh Insya Allah apa yang saya harapkan selalu melebihi perencanaan. Maka dari itu kata kuncinya adalah mampukah kita mengatur serta bersabar dalam melakukan langkah-demi langkah untuk menjalani rencana kehiudan kita? tentunya dengan melakukan proses memilih dan memiliah mana yang perlu dikerjakan lebih awal.... wallau`alam bissawab.
MUHAMMADIYAH DAN GERAKAN ISLAM TRANSNASIONAL
MUHAMMADIYAH
DAN GERAKAN ISLAM
TRANSNASIONAL
Muktamar Pemikiran Islam di Unmuh Malang 11-13 Pebruari lalu memiliki makna penting sebagai media menyatukan dua kecenderungan pemikiran di Muhammadiyah. Dalam sebuah tulisannya di Kompas Jatim, Abd Siddiq Notonegoro menggambarkan kegiatan tersebut sebagai media mengharmoniskan dua elemen di tubuh ormas itu. Siddiq menulis, penggambaran terjadinya pengkutuban di Muhammadiyah oleh beberapa pihak sebagai sebuah ekspresi rasa sakit hati orang luar terhadap Muhammadiyah. Secara jelas Siddiq menuding kelompok Islam yang berideologi transnasional sebagai kelompok sakit hati yang berkeinginan merongrong ormas tua itu.
Gerakan transnasional dipahami sebagai kelompok keagamaan yang memiliki jaringan lintas nasional dan negara. Kelompok ini datang ke suatu negara dengan membawa paham keagamaan (ideologi) baru dari negeri seberang (Timur Tengah) dan dinilai berbeda dari paham keagamaan lokal yang lebih dulu eksis. Beberapa...
Strategi Inovasi Bangsa Indonesia, Adakah?

John Kao merasa resah dengan menurunnya kemampuan inovasi bangsa Amerika. Menurutnya, kesehatan mesin inovasi nasional bangsa Amerika saat ini sedang terganggu. Sementara itu, persaingan global yang bergerak dengan sangat cepat telah membuat bangsa-bangsa lain, seperti Swedia, China, Singapura, Kanada, dan Australia, mengerahkan segenap sumberdayanya untuk menggali inovasi-inovasi baru. Semua berusaha untuk menjadi pemain kelas dunia (world-class players).
Meski John Kao merasa gelisah, sebenarnya para pemimpin politik di Amerika tidaklah buta terhadap ancaman menurunnya prestise bangsa Amerika di mata dunia. Presiden Bush bahkan telah membuat American Competitiveness Initiative. Hal ini mencakup peningkatan riset dasar (basic research) untuk wilayah-wilayah supercomputing, energi alternatif, dan teknologi nano (nanotechnology); biaya penelitian yang bisa digunakan untuk mengurangi kewajiban pajak perusahaan, hingga pelatihan 70.000 guru SMA yang mengajar matematika dan sains (IPA).
Sementara itu, ketua DPR Amerika (Speaker of the House) Nancy Pelosi dikenal sebagai orang yang sangat peduli pada strategi inovasi nasional yang menekankan pada kewajiban pemerintah pada basic research. Rencana Nancy Pelosi mentargetkan pada peningkatan pendidikan matematika dan sains, menggandakan anggaran untuk National Science Foundation, penekanan yang baru pada basic research yang dilakukan oleh Defence Advanced Research Projects Agency (DARPA), hingga riset yang mengarah pada temuan untuk energy independence.
Lalu sekarang, marilah kita tengok keadaan di dalam negeri kita, khususnya setelah reformasi. Pernahkah kita mendengar rencana-rencana serupa di sini? Pernahkah kita mendengar kepedulian Agung Laksono, Ketua DPR RI 2004-2009, atau Ginandjar Kartasasmita, Ketua DPD RI 2004-2009, pada kemajuan bangsa Indonesia seperti kepedulian Nancy Pelosi tersebut di atas? Pernahkah para petinggi partai politik yang kemudian menjadi pejabat publik menyuarakan perlunya strategi inovasi bangsa Indonesia?
Saya pernah mendengar rencana pemerintahan SBY untuk mengembangkan TIK (teknologi informasi dan komputer). Tetapi apa yang telah dilakukan pemerintahan SBY untuk memajukan dunia TIK? Pernahkah pemerintah SBY membuat kebijakan tarip khusus telepon untuk dunia pendidikan, misalnya, agar lebih banyak pelajar dan mahasiswa kita yang bisa mengakses internet? Pernahkan pemerintah kita memberikan insentif pajak bagi perusahaan yang mau menanamkan uangnya untuk kegiatan penelitian di sebuah perguruan tinggi?
Saya malah jadi ingin bertanya pada hal yang paling mendasar: apakah bangsa ini punya strategi? Jangan-jangan bangsa ini memang tidak memiliki strategi apapun. Para pemimpin bangsa, dari birokrat, politisi, kaum intelektual, hingga aktifis LSM, nampaknya semua hanya sibuk memikirkan bagaimana eksistensi diri dan kelompoknya. Sepertinya mereka tidak memiliki strategi dan prioritas untuk bangsa ini.
Apa kita perlu kembali ke dunia GBHN dan Repelita? :(



