Jun
30th

Sekilas Partai Bulan Bintang, Profil PBB di Youtube

Bismillahirrahmanirrahiim Semoga bisa menjadi inspirasi bagi kita semua (Posting oleh Badrut Tamam Gaffas)
Jun
29th

Cara Guampaang Mengelola Mading Sekolah

Files under , Artikel Kader | 9 Comments
Bikin mading itu biasa. Ngelola mading sekolah secara asyik itu yang luar biasa! Dengan mengelola secara asyik, bikin mading sekolah nggak akan kamu rasakan sebagai beban. Malahan, bikin mading akan kamu rasakan sebagai rekreasi di tengah tugas-tugas belajar yang wuahh buanyaknya itu.
Lalu gimana cara mengelola mading sekolah yang asyik itu? Temukan caranya di artikel ini, insya Allah kamu akan nemukan bahwa mengelola mading sekolah itu gampang plus asyik. Oh, iya, mading itu singkatan dari majalah dinding lho, bukan makanan dingin.


Rapatin Sekalian
Kamu nggak ingin madingmu terbit hanya sekali setahun, kan? Oke, masalah waktu terbit ini pasti juga sudah ditetapkan oleh mereka yang berwenang di atasmu, entah dari OSIS atau dari Pembina. Waktu terbit madingmu bisa 3 bulan sekali, 2 bulan sekali, atau malah sebulan sekali.
Pertama-tama, kru madingmu insya Allah semangat, deh. Tapi wallahu a’lam lho di tengah perjalanan kepengurusanmu nanti. Bisa saja mereka sibuk ini dan itu. Atau malah kamu sendiri yang sibuk dengan hal lain?
Nah, daripada susah ngumpulin mereka di bulan-bulan depan, mending kamu buat program kerja selama setahun kepengurusanmu sekalian. Maksudnya begini. Begitu setelah kru madding terpilih pertama kali, susun jadwal rapat marathon. Bukan rapat sambil lari-lari, tapi rapat secara intensif selama beberapa hari membahas program kerja madingmu yang setahun itu.
Lha bagaimana kalo kepengurusan sekarang udah berjalan beberapa bulan? Jangan khawatir, belum terlambat, kok! Panggil saja semua kru madingmu segera setelah kamu baca artikel ini. Trus, selamat mengadakan rapat marathon. Siap?

Yang Perlu Dirapatin
Ada beberapa hal yang perlu banget untuk dirapatin.

Waktu Terbit
Pertama, waktu terbit madingmu. Pilih waktu terbit mading sedemikian rupa sehingga tugas wajibmu di sekolah enggak tekor. Maksudnya, waktu bikin madingmu harus nggak mengorbankan waktu belajarmu. Jangan sampai kamu bikin mading pas sebulan menjelang ujian. Pasti deh kamu bingung soalnya biasanya bulan beginian full banget dengan ulangan harian. Jangan pula nerbitin mading pas ketabrak liburan sekolah. Kalo sekolahmu libur, siapa yang baca madingmu? Pak Bon kali…

Tema
Kedua, tema besar madingmu. Biasanya, mading kan punya laporan utama atau bahasan utama. Nah, tentuin sekalian tema laporan utama dalam setahun itu. Sinkronkan dengan waktu terbit madingmu. Misal, salah satu edisi madingmu terbit di sekitar bulan Ramadhan. Bulan suci ini bisa jadi tema laporan utama. Atau dekat-dekat dengan bulan Agustus, kamu bisa angkat tema tentang kepahlawanan. Dengan menentukan tema besar selama 1 tahun penuh, kamu enggak perlu mikir-mikir lagi tema edisi depan apa ya. Tinggal kumpulin bahannya. Oke?

Rubrik Isi
Ketiga, tentukan rubric isi madingnya. Sebuah mading bisa berisi sekitar 10 rubrik, tergantung kapasitas luas medianya. Sebelum menentukan isinya, tentu kamu tentukan dulu ukuran fisik medianya.
Setelah itu, baru bisa kamu tentuin apa saja rubric-rubrik madingmu. Kemudian, bagilah tugas bikin rubric itu kepada para anggota kru madingmu. Katakanlah, satu tim madingmu berisi 6 orang –termasuk ketuanya; 1 orang kamu serahi tugas sebagai desainer, 5 orang lainnya sebagai penanggung jawab rubric. Jika ada 10 rubrik, 1 orang bertanggung jawab terhadap 2 rubrik. Mudah bukan?
Oh, ya untuk masalah format dan rubric mading ini, ada satu catatan: berimprovisasilah. Nggak usah tergantung banget sama kakak pengurus pendahulumu. Kalo kamu bisa lebih baik kenapa harus niru mereka?
Jadi, silakan mengotak-atik ukuran madingmu. Silakan juga mengotak-atik isi madingmu. Tapi ingat, kamu harus memperhitungkan pembaca. Madingmu dibuat sebagai bacaan (siswa) seluruh sekolah. Madingmu harus nyaman dibaca. Di antara mereka ada yang punya badan tidak begitu tinggi, ada yang kurang jelas membaca tulisan kecil-kecil. Nah perhitungkan mereka yang seperti itu. Juga perhitungkan keseimbangan rubric; ada yang serius, ada yang ringan, ada yang gaul. Jangan serius semuanya, apalagi humor semuanya. Malah nggak lucu jadinya.

Jadwal Kerja
Jangan lupa untuk merapatkan penjadwalan juga. Tentukan kapan naskah harus jadi dari masing-masing penanggung jawab, kapan naskah harus selesai diedit dan bebas kesalahan, kapan naskah ditata letak, kapan mading harus didesain, kapan waktu pengecekan mading sebelum benar-benar terbit dan kapan akhirnya madingmu terbit siap dibaca oleh siswa. Hitunglah mundur dari jadwal terbit itu untuk menentukan tenggat waktu tugas masing-masing.
Contoh mudahnya penjadwalan adalah begini. Misal saja, madingmu kudu terbit tanggal 5 Mei. Berapa waktu yang diperlukan untuk cek mading sebelum benar-benar terbit plus waktu mengerjakan perbaikannya jika ada kesalahan? Misalnya 3 hari. Ini berarti dead line alias waktu tenggat desain adalah 2 Mei. Lalu, berapa waktu yang diperlukan untuk mendesain dan menata letak mading? Katakanlah 2 pekan. Berarti naskah harus selesai edit alias bebas kesalahan pada 25 April. Kemudian, berapa waktu untuk mengedit semua naskah? Misalnya saja 1 pekan. Berarti naskah kudu selesai dari masing-masing penanggung jawab pada 18 April.
Jika madingmu terbit setiap bulan tiap tanggal 5, berarti masing-masing kru punya waktu sekitar 2 pekan untuk menulis artikel bagiannya. Mungkin malah bisa lebih juga. Pada saat desainer menata letak dan mendesain madingmu, kan kru yang lain bisa juga nyari-nyari bahan tulisan.
Emang asyik bisa nerbitin mading tiap bulan. Tapi ingat, mading hanyalah kegiatan sekolah tambahan. Ingat kerja wajibmu di sekolah. Dari pengalaman penulis, betapa menguras energi bikin mading sekolah sebulan sekali sambil konsentrasi belajar.

nah...
Sahabat-sahabat tunjukkan ekspresimu dalam karya jurnalistik...
Ditunggu yah, mading - mading di sekolahmu!!

Salam Ukhuwah...
Jun
29th

Paedagogik di Kelayu

Files under , Pendidikan | 4 Comments
Kesadaran masyarakat Kelayu tentang pentingnya pendidikan bagi anak-anak keturunan mereka sudah tertanamkan jauh sebelum Kemerdekaan RI, bahkan sebelum masa pergerakan nasional (Budi Oetomo 1908). Hal ini dapat dilihat dengan banyaknya orang Kelayu yang mengirim anaknya untuk belajar ke Makkah sejak masa pemerintahan Bali sampai zaman Jepang.

TGH. Umar (ke Makkah tahun1869), kemudian disusul berturut-turut H. Abdul Halim, TGH. Abdulah, H. Munsyifuddin, H. Muhammad Nasir, H. Muhammad Yasin, H. Abdurrahim, H. Muhibuddin AA., H. Hamdun, dan lain-lain -- yang selanjutnya membuka pengajian halaqah (bahasa orang sekarang: pesantren) setelah kembalinya dari Makkah. Selain ke Makkah, setelah tahun 1937 banyak yang menyekolahkan anaknya ke madrasah NWDI di Pancor. Kemudian setelah kemerdekaan RI, gairah orang Kelayu untuk menyekolahkan anak mereka ke jenjang yang lebih tinggi makin meningkat dibarengi dengan semakin baiknya fasilitas pendidikan di Tanah Air dan semakin berkurangnya hambatan akibat hengkangnya penjajah.

Berdasarkan pemahaman bahwa menuntut ilmu agama Islam merupakan kewajiban tiap-tiap umat (wajib 'ain) -- berbeda dengan hukum menuntut ilmu umum yang wajib kifayah -- menyebabkan adanya dikotomi yang sangat tajam antara madrasah dengan sekolah. Oleh karena itu, madrasah jauh lebih diminati. Sedangkan jenis pekerjaan yang paling populer adalah sebagai guru, karena pekerjaan guru dipandang lebih bernuansa ibadah. Paradigma ini cukup kuat dan bertahan cukup lama. Paradigma baru dunia pendidikan Kelayu khususnya mulai nampak pada era tahun 2000-an di mana kebekuan dikotomi antara madrasah dan sekolah sudah mulai mencair. Hal ini terindikasi dengan adanya perimbangan antara anak-anak yang disekolahkan di madrasah dan di sekolah umum, bahkan para ustadz pun tidak jarang yang menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah umum (atau bukan di madrasah).

Meskipun pada tahun 1950-an sudah banyak orang Kelayu yang melanjutkan studi ke Pulau Jawa, ternyata masih didominasi dengan tujuan ke pesantren, sedangkan yang jenjang perguruan tinggi kebanyakan pada IAIN dan IKIP bahkan yang di IAIN pun sebagian terbesar memilih Fakultas Tarbiyah.

Fasilitas pendidikan di Kelayu mulai dibuka pada tanggal 19 Januari 1942 oleh Ustadz Mas'ud alias Abu Masrah dengan mendirikan Madrasah Sa'adah Diniyah Islamiyah (MSDI) berlokasi di Reban Julu Gubug Daya. Kemudian pada tanggal 1 Agustus 1942 Pemerintah Desa membuka bakal Sekolah Rakyat (SR) yang disebut dengan Sekolah Desa 3 tahun terletak di kebun desa, Sekolah Desa ini tidak memiliki gedung. Karena itu, siswa belajar di bebalek pada perkebunan pisang. Lalu pada tahun 1944 Sekolah Desa ini pindah ke Godang (bekas markas Heiho) di perapatan Kelayu Gubug Ledang. Pada tahun 1946 dipindah lagi ke lokasi sebelah timur jembatan (utara jalan raya) menjadi Sekolah Rakyat (Sekarang: SDN No.1 Kelayu Utara).

Sekolah Desa ini hanya menampung murid laki-laki, sedangkan anak perempuan yang mau bersekolah harus masuk di Meice School di Selong. Anak perempuan Kelayu yang sekolah sampai tamat di Meice School ini hanya dua orang, yaitu Salmah dan Saudah (keduanya dari Gb. Tengak). Setelah tamat Sekolah Desa 3 tahun, siswa melanjutkan ke Sekolah Govartement kelas dua (istilah: Sekolah C) di Selong, namun jumlahnya sangat sedikit. Kebanyakan mereka selesai setelah tamat di Sekolah Desa. Kemudian cabang MSDI di Gubug Ledang dibuka tahun 1944 dan cabang MSDI di Gubug Peresak dibuka pada tanggal 15 Juli 1946. Setelah itu perkembangan fasilitas pendidikan sangat pesat.

Dakwah Islamiah di Desa Kelayu sudah ada sejak awal abad ke-19 yang dilaksanakan oleh seorang tokoh spiritual bernama Haji Muhammad Amin (orang Kelayu yang pertama naik haji). Materi pengajian berkisar pada perukunan (fiqih) dan sifat duapulu (tauhid) yang diajarkan dengan methode halaqah. Disamping itu beliau juga memberikan pelajaran membaca Al-Qur'an (istilah: Ngaji bawa' lumbung) dalam waktu yang berbeda.

Pada periode selanjutnya dilakukan adalah TGH Umar, setelah beliau memperdalam Ilmu Agama Islam di Tanah Haram. Ia berdakwah tidak sebatas di Desa Kelayu melainkan sampai ke Kabupaten Lombok Tengah dan Lombok Barat. Pada masanya, turut serta saudaranya, Ormat alias Puk Isah, di Kokok Lauk yang murid-muridnya dari wilayah bagian Timur dan Selatan, seperti: Teros, Dasan Kurang sampai ke Penede Gandor. Kemudian disusul oleh Tuan Guru H. Abdullah, TGH. Abdul Halim, TGH. Syamsuddin dan TGH. Muhammad Nasir, masing-masing di Gubug Tengak, dan TGH. Munsyifuddin (Baba) di Kokok Lauk, Ust. Mas'ud (Abu Masrah) di Peresak, dan Guru Mahmud Mahya di Ledang, menyusul Ust. 'Alimuddin HS di Peresak, dan setelah kemerdekaan RI perkembangan dakwah di Kelayu berjalan sangat pesat, dengan jumlah asatidz dan asatidzah yang cukup banyak.

TGH Abdullah ke Makkah 4 kali dan selalu bermukim untuk belajar agama Islam. Setiap pulang ke Kelayu ia memberikan pengajian kepada masyarakat. Beliau terakhir ke Makkah tahun 1927 dan bermukim selama 4 tahun. Pada tahun 1928 murid-murid setianya dengan inisiatif sendiri mengumpulkan uang sebagai bekal sang guru menuntut ilmu di kota Makkah. Pada saat itu terkumpul sejumlah tiga ribu rupiah uang perak dengan berat sekitar 10 kg. yang kemudian dikirim ke Makkah melalui jawatan pos di Labuhan Haji.

Pada kepergiannya yang keempat, ia bermukim selama tiga tahun, lalu kembali ke Kelayu pada tahun 1931 dan menetap untuk memberikan pengajian sampai akhir hayatnya tahun 1961. Kala itu, murid-muridnya banyak berdatangan dari luar desa Kelayu, seperti dari wilayah Utara: Suralaga, Reriu, Dames, Pungkang, Aikmel, Mamben, Wanasaba, Bagek Papan, sampai ke Pringgabaya. Sedangkan di bagian Selatan di Marong Mujur Praya Timur. Murid-muridnya bukan hanya dari golongan manusia tetapi konon juga banyak dari bangsa Jin yang berasal dari berbagai negeri. Kitab yang diajarkan diantaranya seperti Minhajussalam (fiqih) dan Syaiful Gaibah (wirid/ilmu hikmah).

TGH Abdul Halim, memberikan pelajaran membaca Al-Qur'an (Pengajian Bawaq Lumbung). Murid-muridnya cukup banyak. Sedangkan pengajian umum kepada masyarakat tidak terlalu lama karena ia berprofesi sebagai pedagang. Beliau istirahat mengajar pada akhir tahun 1935, dan murid-muridnya pun pindah belajar ke TGH. Muhammad Nasir yang pada saat itu baru pulang dari Makkah.

TGH. Muhammad Nasir ke Makkah 2 kali. Kepulangan pertama tahun 1923 dan langsung memberikan pengajian selama tujuh tahun menggunakan kitab kuning berbahasa Melayu, kemudian berangkat lagi tahun 1930 dan kembali pada akhir tahun 1935 setelah belajar pada halaqah Maulanasysyeikh Hasan Muhammad Al-Masysyat selama 5 tahun. Pada kepulangannya yang kedua, ia mengajar menggunakan kitab berbahasa Arab. Beliau terkenal sebagai ahli Ilmu Falaq.

Beberapa minggu sebelum kejadian Gerhana Bulan dan/atau Gerhana Matahari misalnya, ia sudah mengumumkan kepada jama'ahnya untuk bersiap-siap melaksanakan Sholat Sunnat Gerhana. Murid-muridnya yang tetap aktif (istiqomah) berjumlah 14 orang -- diantaranya H. Mahmud Mahya, H. Muhuruddin, Abdurrahim (Aq. Waris), H. M.Yusi Muhsin Aminullah, Guru Abdul Wahab, tiga bersaudara (Abdullatif, Usman, dan Pihir/Bp. Haq), Bapak Tarqi, serta 5 orang lainnya. Beliau mengajar pada periode kedua sampai akhir hayatnya tahun 1939.

Ustadz Mas'ud alias Abu Masrah membuka pengajian di Bawak Sabo Gubug Peresak tahun 1936. Pengajian di tempat ini bertahan selama 6 tahun lalu beliau pindah ke Reban Julu Gubug Daya dan selanjutnya membuka madrasah MSDI pada 19 Januari 1942 setelah beliau tamat belajar di Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) Pancor. Beliau menekuni madrasah ini sampai akhir hayatnya tanggal 14 Januari 1946.
Sedangkan Guru Mahmud Mahya membuka pengajian di Ledang tahun 1943 sampai dibukanya madrasah diniyah Ledang, dan Ustadz M. 'Alimuddin Syaifuddin membuka pengajian di Peresak tahun 1944 dan selanjutnya membuka Diniyah Islamiyah tahun 1952. Pengajian di peresak ini ditekuni dengan istiqomah sampai akhir hayatnya tahun 2006. Dalam perkembangan selanjutnya, kedua tempat pengajian tersebut berkembang menjadi tempat pendidikan sebagai cabang MSDI Reban Julu. Para da'i Kelayu terus berkembang dengan munculnya beberpa ustadz yang baru pulang belajar dari pondok pesantren di Jawa, diantaranya adalah Ustadz Ikliluddin alias Abu Tasnim di Gb. Ledang, Ust. Junaidi Albagdadi alias Abu Rofikdi Gb. Daya, kemudian disusul oleh penerus-penerusnya. Pada era belakangan, semarak dakwah Kelayu semakin menggema setelah pulangnya TGH. Hudatullah Muhibuddin Abdul Azis, MA. dari Mesir dan Malaysia pada akhir tahun 2001.

Di samping prestasi dalam bidang pendidikan dan dakwah, prestasi dan potensi SDM orang Kelayu dalam dunia politik pun sudah diperhitungkan sejak masa pemerintahan Bali dan Belanda, ditandai dengan banyaknya orang Kelayu yang menduduki jabatan atau berperan penting dalam politik pemerintahan. Sebutlah tahun 1850-an Jero Miwangse (Gb. Peresak) mendapat keprcayaan dari Raja Karang Asem AA Gde Ngurah Karang Asem sebagai Tukang Gedong di istana raja setelah terlebih dahulu diuji selama satu bulan berturut-turut.

Setelah tahun 1855/1856 anak Jero Miwangse bernama H. Muh. Yasin alias Guru Baok diangkat sebagai guru agama istana karena raja beristerikan orang Islam yaitu Denda Fatimah (anak Dea Guru dari Kalijaga Lombok Timur) dan isteri raja yang satu lagi bernama Dende Aminah dari Mambalan Gunung Sari Lombok Barat yang juga beragama Islam. Disamping itu, banyak pegawai kerajaan beserta anak-anak mereka yang beragama Islam dan perlu diajar agama. Dalam perjalanan kariernya sebagai guru ngaji di istana raja, beliau mengislamkan seorang cucu raja, putra dari A.A. Ketut Karangasem yang bernama Gopul dan setelah memeluk Agama Islam bernama Iman Sumantri yang terkenal dengan sebutan Datu Pangeran. Sedangkan Guru Baok diberi gelar Anak Agung Guru karena pengabdiannya sebagai guru. Pada saat itu Guru Baok mempersunting gadis dari Karang Bedil Mataram dan tinggal menetap di Punia sampai tahun 1894.

Pada waktu yang hampir bersamaan, tata pemerintahan, perniagaan, dan pelayaran di bawah kerajaan Karang Asem semakin baik, sehingga membutuhkan Kepala Subandar (Sahbandar) di pelabuhan Ampenan. Maka Jero Dulatif (Gb. Kokok Lauk) diangkat sebagai Kepala Subandar di Pelabuhan Ampenan sekaligus mewakili ras Sasak dalam pemerintahan sampai tahun 1894 sehingga beliau diberi gelar Anak Agung Djaba. Pada waktu yang hampir bersamaan, adiknya yang bernama Jero Abdullah dipercayakan sebagai Kepala Subandar di Labuhan Haji. Dalam masa tugasnya, tokoh-tokoh Kelayu tersebut dan beberapa orang abdi dari Kelayu tinggal di Punia Mataram sampai mendapat hak kepemilikan tanah dari pemerintah masing-masing sekitar 40 (empat puluh) hektar sawah per orang.

Pada tahun 1894 Anak Agung Djaba Dulatif bersama Anak Agung Guru Haji Muh. Yasin kembali (pulang) ke Kelayu karena tidak aman akibat Kota Ampenan dibombardir oleh pasukan Belanda. Pada serangan itu, sebagian penghuni istana kerajaan tewas, sedangkan Raja Karang Asem A.A. Gede Ngurah beserta beberapa penghuni istana yang masih hidup dibawa ke Batavia (Jakarta) sebagai tawanan oleh Gubernur Jenderal Belanda -- termasuk Denda Fatimah dan anak laki-lakinya bernama A.A. Ketut Oka yang baru berumur 8 tahun.

Kepulangan kedua tokoh ini ke desa kelahirannya di Kelayu pada saat keduanya sudah cukup uzur karena usia yang lanjut, sehingga dibawa menggunakan juli oleh tenaga upahan yang dibayar limaratus rupiah uang perak. Beliau berdua dibawa dari Punia (Mataram) ke Kelayu dengan menyeberangi hutan. Sebelum kepulangan tersebut, TGH Umar pernah berpesan kepada keduanya agar pulang dengan tidak membawa harta bendanya, melainkan diperintah pulang sebagaimana ia pergi dahulu (hanya membawa pakaian yang melekat pada tubuhnya). Sehingga keduanya tidak mempunyai harta kekayaan yang menonjol.

Namun ada juga beberapa orang keturunan mereka yang menetap dan hingga saat ini sudah satu abad lebih menjadi penduduk Punia. Oleh karena itu, di Punia Mataram ada lingkungan yang bernama Karang Kelayu serta anggota masyarakatnya banyak yang mempunyai hubungan darah di Kelayu.

Kemudian pada zaman Belanda anak Jero Dulatif bernama Muh. Ali alias Bapak Kesip (Gb. Kokok Lauk) diangkat sebagai Lid pada Raad Sasak dan Haji Alimuddin (Gubug Daya) diangkat sebagai Lid pada Landraad masing-masing sampai tahun 1947. Selanjutnya di Kelayu H. Alimuddin dikenal dengan sebutan Tuan Landrad karena beliau telah menunaikan ibadah haji dan berprofesi sebagai landrad. Oleh karena kedua pejabat tersebut, Desa Kelayu sering dikunjungi oleh Controleur Belanda (Bahasa Kelayu: Kuntelir).

Pada masa perjuangan merebut kemerdekaan, tokoh masyarakat Kelayu Haji M. Yusi Muhsin Aminullah bersama kawan-kawan lainnya berjuang melawan pascis Jepang sampai beliau dipenjarakan oleh Nippon di Bui Praya Lombok Tengah selama 6 bulan dan dua orang lainya (Abdurrahman Gb. Kokok Lauk dan Mastur Rais Gb. Daya) masing-masing 3 bulan. Pada masa kemerdekaan, setelah terbentuknya Daerah Swatentara Tingkat II (Daswati II) Lombok Timur H. M. Yusi Muhsin Aminullah diangkat sebagai anggota Dewan Pemerintah Daerah Peralihan sejak tanggal 29 Juli 1959 sampai diangkatnya Lalu Muslihin sebagai Bupati Daswati II Lombok Timur tanggal 2 Juli 1960.

Dengan melihat prestasi orang Kelayu dalam bidang pendidikan, dakwah dan politik, tidaklah mengherankan jika masyarakat Kelayu menyandang prestasi gemilang dalam berbagai kegiatan. Prestasi khusus Ulama' Besar TGH Umar (Imam Besar Masjidil Haram Makkah) dan TGH Muhammad Zainuddin Abdul madjid (Pendiri NWDI). Terdapat pula hafidz Al-Qur'an 30 Juz sebanyak 3 tiga orang, yaitu Al-Hafidz TGH Usman, TGH Hudatullah Muhibudin Abdul Azis, MA., dan Ustadz Muhammad Azmi, SQ., S.Ag. Penyandang jabatan akademik tertinggi, yaitu dua orang Profesor Ir. H. Muhammad Qazuaini, M.Sc., Profesor Dr. H. Djamalullail Abdul Azis, MA. Terdapat 6 doktor dari Kelayu dan 50-an master/magister.

Masyarakat Kelayu sejak awalnya tidak mengenal adanya kasta (strata sosial) berdasarkan keturunan. Tingkat penghormatan seseorang terhadap orang lain secara umum dilihat dari dua hal, pertama, ilmu dan amal sehari-harinya, dan kedua, kesetaraan umur dengan perilakunya. Oleh karena itu, penghormatan tertinggi di Kelayu diberikan bagi seorang yang berilmu dan dilihat mengamalkan ilmunya secara nyata.

Kesederhanaan, persatuan dan kesatuan serta gotong royong, suka mengalah untuk kemaslahatan bersama, ramah, serta menghargai dan menghormati orang lain merupakan sifat dasar orang Kelayu. Namun orang Kelayu juga tidak rendah diri (remeh), melainkan suka dihormati dan dihargai sebagaimana ia menghormati dan menghargai orang lain.
Jun
28th

Mengenang Deliar Noer (1926-2008)

Files under | Leave a Comment

Oleh Ajip Rosidi

Dr. Deliar Noer (meninggal 17 Juni 2008) pernah menjadi Rektor IKIP Jakarta selama lebih dari 7 tahun, tetapi dipecat ketika hendak membacakan pidato pengukuhannya sebagai guru besar Juni 1974.

Padahal, masa jabatan Deliar Noer yang kedua (terakhir) hanya tinggal beberapa bulan lagi. Isi pidato pengukuhannya dianggap Menteri P dan K Mayjen Prof. Dr. Sjarif Thayeb sebagai menghasut, mungkin karena takut terjadi kerusuhan seperti Malari yang berlangsung beberapa bulan sebelumnya.

Keterangan Deliar bahwa pidato yang berjudul "Partisipasi dalam Pembangunan" itu, disusun secara ilmiah sesuai dengan kebebasan mimbar dan otonomi perguruan tinggi, tidak digubris Menteri. Sebelumnya, tak lama setelah peristiwa Malari, Deliar sempat mengemukakan pendapat yang berbeda dengan kebijaksanaan pemerintah Orde Baru dalam menghadapi gerakan mahasiswa, dimuat dalam Harian Kami.

Yang ironis ialah bahwa kira-kira sepuluh tahun sebelumnya, Deliar dilarang mengajar di Universitas Sumatera Utara dan yang memecatnya adalah Prof. Dr. Sjarif Thayeb, juga sebagai Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan. Dia dipecat, karena desakan golongan kiri yang menuduhnya antek Amerika dan dekat dengan Bung Hatta, yang ketika itu sudah berhenti sebagai wakil presiden dan dianggap berseberangan dengan Presiden Soekarno, sehingga Deliar dianggap subversif dan anti Manipol. Dipecat dari IKIP – sebenarnya lebih dari itu, karena menteri juga melarangnya mengajar di semua perguruan tinggi di seluruh tanah air – karena dianggap menghasut para mahasiswa. Oleh karena itu, sempat diinterogasi Tim Interogasi yang menangani Gestapu. Padahal, Deliar yang pernah menjadi Ketua HMI, niscaya antikomunis – hal yang jelas tampak dalam tulisan-tulisannya. Begitulah nasib ilmuwan (sosial) politik, yang berani secara jujur mengemukakan pandangannya secara ilmiah tanpa memedulikan arah kebijakan politis pemerintah yang berkuasa.

Karena, tidak boleh lagi mengajar di seluruh Indonesia baik di universitas swasta maupun (apalagi!) di universitas negeri, Deliar menerima tawaran untuk menjadi peneliti di ANU (Australian National University), Canberra. Sebenarnya, dia juga ditawari mengajar atau melakukan penelitian di Chicago dan Singapura, tetapi urusan dengan Australia lebih cepat selesai. Setelah berada di Australia, dia juga mendapat tawaran untuk mengajar di Kuala Lumpur di Universiti Kebangsaan Malaysia dan tawaran dari The Ford Foundation, untuk membimbing penyusunan tesis para sarjana IAIN yang mendapat beasiswa belajar di Leiden, Belanda. Tapi, pemerintah RI menutup kemungkinan itu dengan menghubungi IAIN dan pemerintah Singapura. Sementara, di Australia pihak universitas mempunyai kebebasan penuh, tak boleh masuk intervensi kekuasaan (politik) pemerintah ke dalamnya. Tahun pertama Deliar menjadi peneliti di ANU. Tahun berikutnya menjadi tenaga pengajar tamu di Griffith University di Brisbane. Setelah setahun, kedudukan itu berubah menjadi pengajar tetap.

Setelah mengajar lima tahun, Deliar bisa mempertemukan maksud beberapa orang kawannya sesama ilmuwan yang Islami di Jakarta yang ada di lingkungan M. Natsir, untuk membentuk lembaga riset LIPPM (Lembaga Islam untuk Penelitian dan Pengembangan Masyarakat) bekerja sama dengan Griffith University. Deliar yang dipercaya memimpin lembaga tersebut, selama tiga tahun pertama masih bekerja di Griffith University, tetapi enam bulan dalam setahun dia diperbolehkan bekerja di Jakarta untuk LIPPM. Di samping itu, Griffith University bersedia menerima para sarjana LIPPM yang hendak memperdalam ilmunya dengan biaya mereka. Sayang bahwa setelah bekerja enam bulan pertama di Jakarta untuk meletakkan dasar-dasar organisasi LIPPM, ketika berada di Brisbane, Deliar diminta Mr. Moh. Roem, yang menjadi salah seorang Dewan Penyantun LIPPM agar jangan kembali ke Jakarta tanpa alasan yang jelas. Deliar berpendapat bahwa sebagai lembaga riset LIPPM, seharusnya mempunyai kebebasan dan tidak diharuskan menyesuaikan hasil penelitiannya, dengan keinginan pihak yang mendanai LIPPM. Setelah ditinggalkan oleh Deliar, LIPPM perlahan-lahan sirna dari permukaan bumi.

Deliar Noer dilahirkan di Medan 9 Februari 1926. Setelah menamatkan sekolah menengah dia melanjutkan ke Universitas Nasional dan ketika menjadi mahasiswa aktif sebagai anggota, kemudian bahkan menjadi Ketua Umum HMI. Setelah menyelesaikan sarjana muda, dia mendapat kesempatan melanjutkan ke Cornell University di Amerika. Di sana, dia berhasil menjadi orang Indonesia pertama yang menggondol gelar doktor (Ph.D.) dalam ilmu politik dengan disertasi "The Modernist Muslim Movement in Indonesia 1900-1942" (Oxford University Press, KL, 1972) yang sekarang telah menjadi klasik. Di samping itu, Deliar banyak menulis buku tentang Islam dan politik di Indonesia, di antaranya "Partisipasi dalam Pembangunan" (ABIM, KL, 1975), "Administration of Islam in Indonesia" (Modern Indonesian Project, Ithaca, 1982), "Ideologi, Politik, dan Pembangunan" (Yayasan Perkhidmatan, Jakarta, 1980), "Islam, Pancasila, dan Asas Tunggal" (Yayasan Perkhidmatan, Jakarta, 1984), "Mohammad Hatta: Biografi Politik" (LP3ES, Jakarta, 1990), "Aku Bagian dari Ummat Aku bagian dari Bangsa, Otobiografi" (Mizan, Bandung, 1996), "Pemikiran Politik di Negeri Barat" (edisi revisi, Mizan, 1997), "Partai Islam di Pentas Nasional" (edisi revisi, Mizan, Bandung, 2000), "Membincang Tokoh-tokoh Bangsa" (Mizan, Bandung, 2001), "Islam dan Masyarakat" (Yayasan Risalah, Jakarta, 2003), "Islam & Politik" (Yayasan Risalah, Jakarta, 2003), "KNIP" (Yayasan Risalah, Jakarta, 2005), dll.

Deliar bukan hanya ilmuwan. Dia juga aktivis. Pada awal masa Orde Baru, dia pernah menjadi staf penasihat Presiden Soeharto, tetapi kemudian mengundurkan diri, karena berbeda paham dengan staf yang lain. Bersama Moh. Hatta dkk., ia pernah juga berusaha mendirikan Partai Demokrasi Islam Indonesia (PDII), tetapi tidak mendapat persetujuan dari pemerintah Orde Baru. Kemudian pada masa Reformasi 1998, Deliar membentuk Partai Umat Islam, tetapi dalam Pemilu 1999 tidak mendapat dukungan yang cukup.

Disertasinya tentang gerakan kaum modernis Islam di Indonésia yang sudah menjadi klasik itu meneliti lembaga-lembaga, organisasi-organisasi, dan tokoh-tokoh modernis Islam di seluruh Indonesia, yang dianggap paling lengkap. Dilukiskannya perbedaan paham antara kaum modernis dengan kaum tradisional, seperti A. Hassan dari Persis, Kiai Haji Abdulhalim dari Persatuan Umat Islam Majalengka, Ajengan Ahmad Sanusi dari Sukabumi, dll. Tapi, telaah Dr. Mohammad Iskandar dari UI tentang pesantren Gunungpuyuh dan Ajengan Ahmad Sanusi dari Sukabumi menunjukkan bahwa agaknya karena kendala bahasa (K.H. Abdulhalim dan Ajengan Ahmad Sanusi banyak menulis dalam bahasa Sunda, yang tidak dikuasai Deliar Noer) tidak menelaah sikap dan pendapat K.H. Ahmad Sanusi dan K.H. Abduhalim dengan cermat. Deliar tidak mengetahui bahwa sikap K.H. Ahmad Sanusi berlainan dengan sikap A. Hassan yang selalu menganjurkan agar setiap muslim melakukan ijtihad, jangan taklid saja. Menurut Ajengan Ahmad Sanusi, ijtihad hanya bisa dilakukan oleh muslim yang menguasai alat-alatnya seperti pandai bahasa Arab, mengetahui isi Alquran, mengetahui al-Hadis dll. Bagi orang awam, lebih baik taklid saja.

Bagi saya sendiri yang menarik dalam disertasinya itu adalah keterangan bahwa K.H. Abdulhalim dilahirkan di Desa Ciborelang, Majalengka. Desa Ciborelang adalah kampung saya, walaupun benar termasuk Kabupaten Majalengka, tetapi bukan di Kota Majalengka, melainkan di kecamatan Jatiwangi. Oleh karena itu, saya sempat menelusurinya. Ternyata K.H. Abdulhalim dilahirkan di sebelah utara jalan raya Bandung-Cirebon, persis di perbatasan Desa Ciborelang dengan desa Sutawangi. Tapi, rumah tempatnya dilahirkan termasuk Desa Ciborelang, yaitu di pinggir Sungai Cigoong yang menjadi batas kedua desa tersebut.

Tentu saja kekurangan itu tidak mengurangi nilai disertasi, sebagai hasil penelitian yang berbobot.

Ketika saya telah selesai menyusun naskah kumpulan karangan Mr. Sjafruddin Prawiranegara, saya meminta Deliar Noer untuk menulis kata pengantar. Permintaan itu dipenuhinya, tetapi ketika setelah buku itu terbit aku mengirimkan uang sebagai honorarium pengantar yang ditulisnya. Uang itu dikembalikannya dengan alasan bahwa dia merasa berutang budi kepada Mr. Sjafruddin dan kawannya segenerasi, maka penulisan pengantar itu dianggapnya sebagai penghormatannya kepada beliau.

Dengan meninggalnya Deliar, Indonesia kehilangan seorang ilmuwan yang daria dan konsisten serta dihormati kalangan Indonesianis di seluruh dunia. Innalilalhi wainna ilaihi roji’un. Mudah-mudahan Allah akan menerima iman-Islam serta amal perbuatannya, mengampuni kekurangan dan keluputannya, serta memberinya tempat yang mulia di hadirat-Nya. Sementara, kepada keluarganya diberikan sabar dan tawakal menghadapi kehilangan yang tak dapat dielakkan ini. Amin. ***

Penulis, sastrawan & budayawan Sunda.

Jun
28th

Kesalehan Lingual

Files under | Leave a Comment
Sabtu, 28 Juni 2008 | 00:32 WIB

Oleh P ARI SUBAGYO

Tidak ada realitas di luar bahasa. Karena itu, semua peristiwa kekerasan—termasuk ”Tragedi Monas” 1 Juni 2008—pasti melibatkan bahasa.

Bermula dari hasutan kata-kata, lalu terbakarlah amarah massa. Nalar menjadi pudar, budi tersungkur mati. Yang tinggal hanya gelegak emosi. Setiap kali kekerasan terjadi, setiap kali pula terbukti, kata-kata lebih tajam daripada pedang. Words are mightier than swords.

Sebagai buah evolusi fisiologis dan peradaban manusia, bahasa menjadi pembeda manusia dari satwa. Dengan bahasa, manusia mewujudkan kemanusiaannya. Tak heran Sudaryanto (Menguak Fungsi Hakiki Bahasa, 1990) menyimpulkan, fungsi hakiki bahasa adalah pengembang akal budi dan pemelihara kerja sama. Simpulan itu merupakan hasil perasan kritis-reflektif berbagai ide tentang fungsi bahasa dari Bühler, Révész, Jakobson, Sapir, Pei, Leech, Hymes, Malinowsky, Ogden & Richards, Halliday, hingga Wood.

Masalahnya, mengapa bahasa terus menjadi pemicu kekerasan? Mengapa bahasa justru mencederai kemanusiaan yang dilekati, diabdi, dan menjadi alasan meng-ada-nya?

Kekerasan verbal

Menurut Bourdieu (Language and Symbolic Power, 1992), bahasa menjadi sarana perwujudan kuasa simbolik (symbolic power). Bahasa lalu memungkinkan terjadinya kekerasan verbal (verbal violence) melalui kata-kata yang merendahkan, mengancam, atau menyudutkan. Pihak lain tercitrakan sebagai ancaman atau sosok menjijikkan yang wajib dibinasakan. Kekerasan verbal lalu memicu kekerasan fisik (physical violence) dan anarkisme.

Namun, kekerasan verbal tak melulu akibat manifestasi kuasa simbolik. Secara natural atau kultural, sejumlah kata berasosiasi dengan kekerasan. Kata-kata seperti membunuh, menyerbu, menyerang, menendang, dan menghantam dalam dirinya telah bermakna kekerasan.

Begitu pun lembaga dan jabatan semacam front, laskar, milisi, komando, komandan, dan panglima berasosiasi dengan kekerasan sebab menghadirkan nuansa perang. Maka, nama ormas yang berasosiasi dengan kekerasan atau berpotensi menimbulkan kekerasan seyogianya ditinjau ulang. Apalagi ormas-ormas semacam itu—apa pun motif pembentukannya—telah menjadi kelompok bersenjata yang tak segan mengambil alih fungsi aparat keamanan dan penegak hukum.

Kekerasan verbal sebenarnya hadir amat lembut dalam pronomina aku-kamu dan kita-mereka yang ada nyaris di semua bahasa. Pronomina itu diam-diam membentuk paradigma ”aku-kamu” dan ”kita-mereka” yang asimetris. Bahasa memang dapat membangun solidaritas sekaligus permusuhan, seperti kata Jay (The Psychology of Language, 2003), ”Language brings us together, and it separates us from others. Language establishes who we and who we are not”.

Paradigma ”aku-kamu” dan ”kita-mereka” gamblang terpampang terutama dalam nama-nama ormas atau tim ad hoc yang beridentitas agama. Paradigma itu tak tersadari telah menjadi kerangka berpikir dalam memandang sesama: si A bagian kita, sedangkan si B bagian mereka!

Harap maklum, nama agama dan segala kata yang bersangkutan dengan agama begitu gampang menyulut sentimen pengikutnya. Sentimen itu tentu melulu bermuatan emosi, bukan nalar dan kearifan.

Pengawafungsian

Tidak selamanya bahasa berfungsi mulia. Sesekali bahasa justru sengaja untuk mengerdilkan akal budi dan memecah kerja sama. Saat kebencian dan kemarahan tidak tertahan, kata-kata menjadi sarana pelampiasan. Jelas itu bukan fungsi bahasa yang diharapkan karena fungsinya telah diselewengkan, bahkan digerogoti atau dienyahkan. Penggerogotan atau pengenyahan fungsi hakiki itulah yang disebut ”pengawafungsian” bahasa (Sudaryanto, 1990).

Padahal, begitu pengawafungsian bahasa terjadi, saat itu juga kebudayaan gagal dikreasi. Roda peradaban terhenti. Bahkan, kebudayaan yang sudah ada dapat dihancur-musnahkan. Rumah, gedung, kemitraan, dan mutiara peradaban, yang dibangun bertahun-tahun, dalam sekejap binasa akibat pengawafungsian bahasa.

Lagi-lagi, kata dan idiom yang membawa identitas agama harus disebut karena begitu rentan diawafungsikan. Tak hanya karena sarat paradigma ”aku-kamu” dan ”kita-mereka”, tetapi kata-kata berbau agama juga akrab dengan penalaran totem pro pars. Menyebut keseluruhan, tetapi sebenarnya hanya mewakili sebagian. Praktik pengatas-namaan agama dengan berbagai dalih pun marak, lengkap dengan sesat pikirnya. Padahal, tidak ada realitas tunggal, termasuk dalam agama dan keyakinan.

Menyangkut Jakarta, menarik ditengok kesaksian Lubis (2008) dalam Jakarta 1950-an. Sebagai pusat pemerintahan, pusat perekonomian, dan ajang pertarungan aneka kepentingan, Jakarta sejak awal republik telah diriuhkan berbagai laskar rakyat, yang disebut Lubis ”the militia of Jakarta”. Siapa pun dapat mendirikan laskar asal memiliki keberanian dan karisma seorang warlord. Anggota direkrut begitu saja dari masyarakat. Untuk membangkitkan sentimen, digunakan atribut khususnya agama dan kedaerahan. Mereka tidak segan merampok, memerkosa, mengancam, dan meresahkan warga yang tergolong ”bukan kita”. Jadi, Jakarta memang lahan subur pengawafungsian bahasa.

Kesalehan lingual

Bangsa ini perlu mengupayakan kesalehan lingual, yakni kearifan berbahasa agar memendam kata-kata yang menebar permusuhan dan memicu kekerasan. Chapman (dalam The Five Love Languages: How to Express Heartfelt Commitment to Your Mate) menawarkan lima ”bahasa kasih”, salah satunya words of affirmation (kata-kata penguatan) guna memampukan pasangan membangun kepercayaan dan citra diri.

Tawaran Chapman memang untuk relasi interpersonal suami-istri. Situasinya jauh lebih sederhana dibandingkan dengan ”rumah tangga” Indonesia yang rumit penuh silang-sengketa kepentingan. Tawaran itu dapat dijadikan inspirasi mengelola lidah dan kata-kata demi menghasilkan bahasa kasih. Apalagi genderang ”perang” kampanye Pemilu 2009 segera berdentang. Repotnya, lidah dan kata-kata digerakkan pikiran, perasaan, keinginan, juga kepentingan. Kesalehan lingual memang menuntut kerelaan dan kedewasaan kita sebagai bangsa.

P ARI SUBAGYO

Penggulat Linguistik di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

Jun
27th

Adab-Adab Penuntut Ilmu

Files under | Leave a Comment
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Rasulullah, amma ba’du. Para pembaca yang budiman, menuntut ilmu agama adalah sebuah tugas yang sangat mulia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang dikehendaki baik oleh Allah maka Allah akan pahamkan dia dalam hal agamanya.” (HR. Bukhari) Oleh sebab itu sudah semestinya kita berupaya sebaik-baiknya dalam menimba ilmu yang mulia ini. Nah, untuk bisa meraih apa yang kita idam-idamkan ini tentunya ada adab-adab yang harus diperhatikan agar ilmu yang kita peroleh membuahkan barakah, menebarkan rahmah dan bukannya malah menebarkan fitnah atau justru menyulut api hizbiyah. Wallaahul musta’aan.

ADAB PERTAMA

Mengikhlaskan Niat untuk Allah ‘azza wa jalla

Yaitu dengan menujukan aktivitas menuntut ilmu yang dilakukannya untuk mengharapkan wajah Allah dan negeri akhirat, sebab Allah telah mendorong dan memotivasi untuk itu. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Maka ketahuilah, sesungguhnya tidak ada sesembahan yang hak selain Allah dan minta ampunlah atas dosa-dosamu.” (QS. Muhammad: 19). Pujian terhadap para ulama di dalam al-Qur’an juga sudah sangat ma’ruf. Apabila Allah memuji atau memerintahkan sesuatu maka sesuatu itu bernilai ibadah.

Oleh sebab itu maka kita harus mengikhlaskan diri dalam menuntut ilmu hanya untuk Allah, yaitu dengan meniatkan dalam menuntut ilmu dalam rangka mengharapkan wajah Allah ‘azza wa jalla. Apabila dalam menuntut ilmu seseorang mengharapkan untuk memperoleh persaksian/gelar demi mencari kedudukan dunia atau jabatan maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Barang siapa yang menuntut ilmu yang seharusnya hanya ditujukan untuk mencari wajah Allah ‘azza wa jalla tetapi dia justru berniat untuk meraih bagian kehidupan dunia maka dia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat.” yakni tidak bisa mencium aromanya, ini adalah ancaman yang sangat keras. Akan tetapi apabila seseorang yang menuntut ilmu memiliki niat memperoleh persaksian/ijazah/gelar sebagai sarana agar bisa memberikan manfaat kepada orang-orang dengan mengajarkan ilmu, pengajian dan sebagainya, maka niatnya bagus dan tidak bermasalah, karena ini adalah niat yang benar.

ADAB KEDUA

Bertujuan untuk Mengangkat Kebodohan Diri Sendiri dan Orang Lain

Dia berniat dalam menuntut ilmu demi mengangkat kebodohan dari dirinya sendiri dan dari orang lain. Sebab pada asalnya manusia itu bodoh, dalilnya adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Allah lah yang telah mengeluarkan kalian dari perut-perut ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun, dan kemudian Allah ciptakan bagi kalian pendengaran, penglihatan dan hati supaya kalian bersyukur.” (QS. An Nahl: 78). Demikian pula niatkanlah untuk mengangkat kebodohan dari umat, hal itu bisa dilakukan dengan pengajaran melalui berbagai macam sarana, supaya orang-orang bisa memetik manfaat dari ilmu yang kau miliki.

ADAB KETIGA

Bermaksud Membela Syariat

Yaitu dalam menuntut ilmu itu engkau berniat untuk membela syariat, sebab kitab-kitab yang ada tidak mungkin bisa membela syariat (dengan sendirinya). Tidak ada yang bisa membela syariat kecuali si pembawa syariat. Seandainya ada seorang ahlul bid’ah datang ke perpustakaan yang penuh berisi kitab-kitab syariat yang jumlahnya sulit untuk dihitung lantas dia berbicara melontarkan kebid’ahannya dan menyatakannya dengan lantang, saya kira tidak ada sebuah kitab pun yang bisa membantahnya. Akan tetapi apabila dia berbicara dengan kebid’ahannya di sisi orang yang berilmu demi menyatakannya maka si penuntut ilmu itu akan bisa membantahnya dan menolak perkataannya dengan dalil al-Qur’an dan as-Sunnah. Oleh sebab itu saya katakan: Salah satu hal yang harus senantiasa dipelihara di dalam hati oleh penuntut ilmu adalah niat untuk membela syariat. Manusia kini sangat membutuhkan keberadaan para ulama, supaya mereka bisa membantah tipu daya para ahli bid’ah serta seluruh musuh Allah ‘azza wa jalla.

ADAB KEEMPAT

Berlapang Dada Dalam Masalah Khilaf

Hendaknya dia berlapang dada ketika menghadapi masalah-masalah khilaf yang bersumber dari hasil ijtihad. Sebab perselisihan yang ada di antara para ulama itu bisa jadi terjadi dalam perkara yang tidak boleh untuk berijtihad, maka kalau seperti ini maka perkaranya jelas. Yang demikian itu tidak ada seorang pun yang menyelisihinya diberikan uzur. Dan bisa juga perselisihan terjadi dalam permasalahan yang boleh berijtihad di dalamnya, maka yang seperti ini orang yang menyelisihi kebenaran diberikan uzur. Dan perkataan anda tidak bisa menjadi argumen untuk menjatuhkan orang yang berbeda pendapat dengan anda dalam masalah itu, seandainya kita berpendapat demikian niscaya kita pun akan katakan bahwa perkataannya adalah argumen yang bisa menjatuhkan anda.

Yang saya maksud di sini adalah perselisihan yang terjadi pada perkara-perkara yang diperbolehkan bagi akal untuk berijtihad di dalamnya dan manusia boleh berselisih tentangnya. Adapun orang yang menyelisihi jalan salaf seperti dalam permasalahan akidah maka dalam hal ini tidak ada seorang pun yang diperbolehkan untuk menyelisihi salafush shalih, akan tetapi pada permasalahan lain yang termasuk medan pikiran, tidaklah pantas menjadikan khilaf semacam ini sebagai alasan untuk mencela orang lain atau menjadikannya sebagai penyebab permusuhan dan kebencian.

Maka menjadi kewajiban para penuntut ilmu untuk tetap memelihara persaudaraan meskipun mereka berselisih dalam sebagian permasalahan furu’iyyah (cabang), hendaknya yang satu mengajak saudaranya untuk berdiskusi dengan baik dengan didasari kehendak untuk mencari wajah Allah dan demi memperoleh ilmu, dengan cara inilah akan tercapai hubungan baik dan sikap keras dan kasar yang ada pada sebagian orang akan bisa lenyap, bahkan terkadang terjadi pertengkaran dan permusuhan di antara mereka. Keadaan seperti ini tentu saja membuat gembira musuh-musuh Islam, sedangkan perselisihan yang ada di antara umat ini merupakan penyebab bahaya yang sangat besar, Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kalian berselisih yang akan menceraiberaikan dan membuat kekuatan kalian melemah. Dan bersabarlah sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. al-Anfaal: 46)

ADAB KELIMA

Beramal Dengan Ilmu

Yaitu hendaknya penuntut ilmu mengamalkan ilmu yang dimilikinya, baik itu akidah, ibadah, akhlaq, adab, maupun muamalah. Sebab amal inilah buah ilmu dan hasil yang dipetik dari ilmu, seorang yang mengemban ilmu adalah ibarat orang yang membawa senjatanya, bisa jadi senjatanya itu dipakai untuk membela dirinya atau justru untuk membinasakannya. Oleh karenanya terdapat sebuah hadits yang sah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “al-Qur’an adalah hujjah untukmu atau untuk menjatuhkanmu.”

ADAB KEENAM

Berdakwah di Jalan Allah

Yaitu dengan menjadi seorang yang menyeru kepada agama Allah ‘azza wa jalla, dia berdakwah pada setiap kesempatan, di masjid, di pertemuan-pertemuan, di pasar-pasar, serta dalam segala kesempatan. Perhatikanlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau setelah diangkat menjadi Nabi dan Rasul tidaklah hanya duduk-duduk saja di rumahnya, akan tetapi beliau mendakwahi manusia dan bergerak ke sana kemari. Saya tidak menghendaki adanya seorang penuntut ilmu yang hanya menjadi penyalin tulisan yang ada di buku-buku, namun yang saya inginkan adalah mereka menjadi orang-orang yang berilmu dan sekaligus mengamalkannya.

ADAB KETUJUH

Bersikap Bijaksana (Hikmah)

Yaitu dengan menghiasi dirinya dengan kebijaksanaan, di mana Allah berfirman yang artinya, “Hikmah itu diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan barang siapa yang diberi hikmah sungguh telah diberi kebaikan yang sangat banyak.” (QS. al-Baqarah: 269). Yang dimaksud hikmah ialah seorang penuntut ilmu menjadi pembimbing orang lain dengan akhlaknya dan dengan dakwahnya mengajak orang mengikuti ajaran agama Allah ‘azza wa jalla, hendaknya dia berbicara dengan setiap orang sesuai dengan keadaannya. Apabila kita tempuh cara ini niscaya akan tercapai kebaikan yang banyak, sebagaimana yang difirmankan Tuhan kita ‘azza wa jalla yang artinya, “Dan barang siapa yang diberikan hikmah sungguh telah diberi kebaikan yang amat banyak.” Seorang yang bijak (Hakiim) adalah yang dapat menempatkan segala sesuatu sesuai kedudukannya masing-masing. Maka sudah selayaknya, bahkan menjadi kewajiban bagi para penuntut ilmu untuk bersikap hikmah di dalam dakwahnya.

Allah ta’ala menyebutkan tingkatan-tingkatan dakwah di dalam firman-Nya yang artinya, “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasehat yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (QS. an-Nahl: 125). Dan Allah ta’ala telah menyebutkan tingkatan dakwah yang keempat dalam mendebat Ahli kitab dalam firman-Nya, “Dan janganlah kamu mendebat ahlu kitab kecuali dengan cara yang lebih baik kecuali kepada orang-orang zhalim diantara mereka.” (QS. al-’Ankabuut: 46). Maka hendaknya penuntut ilmu memilih cara dakwah yang lebih mudah diterima oleh pemahaman orang.

ADAB KEDELAPAN

Penuntut Ilmu Harus Bersabar Dalam Menuntut Ilmu

Yaitu hendaknya dia sabar dalam belajar, tidak terputus di tengah jalan dan merasa bosan, tetapi hendaknya di terus konsisten belajar sesuai kemampuannya dan bersabar dalam meraih ilmu, tidak cepat jemu karena apabila seseorang telah merasa jemu maka dia akan putus asa dan meninggalkan belajar. Akan tetapi apabila dia sanggup menahan diri untuk tetap belajar ilmu niscaya dia akan meraih pahala orang-orang yang sabar; ini dari satu sisi, dan dari sisi lain dia juga akan mendapatkan hasil yang baik.

ADAB KESEMBILAN

Menghormati Ulama dan Memosisikan Mereka Sesuai Kedudukannya

Sudah menjadi kewajiban bagi para penuntut ilmu untuk menghormati para ulama dan memosisikan mereka sesuai kedudukannya, dan melapangkan dada-dada mereka dalam menghadapi perselisihan yang ada di antara para ulama dan selain mereka, dan hendaknya hal itu dihadapinya dengan penuh toleransi di dalam keyakinan mereka bagi orang yang telah berusaha menempuh jalan (kebenaran) tapi keliru, ini catatan yang penting sekali, sebab ada sebagian orang yang sengaja mencari-cari kesalahan orang lain dalam rangka melontarkan tuduhan yang tak pantas kepada mereka, dan demi menebarkan keraguan di hati orang-orang dengan cela yang telah mereka dengar, ini termasuk kesalahan yang terbesar. Apabila menggunjing orang awam saja termasuk dosa besar maka menggunjing orang berilmu lebih besar dan lebih berat dosanya, karena dengan menggunjing orang yang berilmu akan menimbulkan bahaya yang tidak hanya mengenai diri orang alim itu sendiri, akan tetapi mengenai dirinya dan juga ilmu syar’i yang dibawanya.

Sedangkan apabila orang-orang telah menjauh dari orang alim itu atau harga diri mereka telah jatuh di mata mereka maka ucapannya pun ikut gugur. Apabila dia menyampaikan kebenaran dan menunjukkan kepadanya maka akibat gunjingan orang ini terhadap orang alim itu akan menjadi penghalang orang-orang untuk bisa menerima ilmu syar’i yang disampaikannya, dan hal ini bahayanya sangat besar dan mengerikan. Saya katakan, hendaknya para pemuda memahami perselisihan-perselisihan yang ada di antara para ulama itu dengan anggapan mereka berniat baik dan disebabkan ijtihad mereka dan memberikan toleransi bagi mereka atas kekeliruan yang mereka lakukan, dan hal itu tidaklah menghalanginya untuk berdiskusi dengan mereka dalam masalah yang mereka yakini bahwa para ulama itu telah keliru, supaya mereka menjelaskan apakah kekeliruan itu bersumber dari mereka ataukah dari orang yang menganggap mereka salah ?! Karena terkadang tergambar dalam pikiran seseorang bahwa perkataan orang alim itu telah keliru, kemudian setelah diskusi ternyata tampak jelas baginya bahwa dia benar. Dan demikianlah sifat manusia, “Semua anak Adam pasti pernah salah dan sebaik-baik orang yang salah adalah yang senantiasa bertaubat”. Adapun merasa senang dengan ketergelinciran seorang ulama dan justru menyebar-nyebarkannya di tengah-tengah manusia sehingga menimbulkan perpecah belahan maka hal ini bukanlah termasuk jalan Salaf.

ADAB KESEPULUH

Berpegang Teguh Dengan Al Kitab dan As Sunnah

Wajib bagi penuntut ilmu untuk memiliki semangat penuh guna meraih ilmu dan mempelajarinya dari pokok-pokoknya, yaitu perkara-perkara yang tidak akan tercapai kebahagiaan kecuali dengannya, perkara-perkara itu adalah :

1. Al-Qur’an Al-Karim

Oleh sebab itu wajib bagi penuntut ilmu untuk bersemangat dalam membacanya, menghafalkannya, memahaminya serta mengamalkannya karena al-Qur’an itulah tali Allah yang kuat, dan ia adalah landasan seluruh ilmu. Para salaf dahulu sangat bersemangat dalam mempelajarinya, dan diceritakan bahwasanya terjadi berbagai kejadian yang menakjubkan pada mereka yang menunjukkan begitu besar semangat mereka dalam menelaah al-Qur’an. Dan sebuah kenyataan yang patut disayangkan adalah adanya sebagian penuntut ilmu yang tidak mau menghafalkan al-Qur’an, bahkan sebagian di antara mereka tidak bisa membaca al-Qur’an dengan baik, ini merupakan kekeliruan yang besar dalam hal metode menuntut ilmu. Karena itulah saya senantiasa mengulang-ulangi bahwa seharusnya penuntut ilmu bersemangat dalam menghafalkan al-Qur’an, mengamalkannya serta mendakwahkannya, dan untuk bisa memahaminya dengan pemahaman yang selaras dengan pemahaman salafush shalih.

2. As Sunnah yang shahihah

Ia merupakan sumber kedua dari sumber syariat Islam, dialah penjelas al-Qur’an al Karim, maka menjadi kewajiban penuntut ilmu untuk menggabungkan antara keduanya dan bersemangat dalam mendalami keduanya. Penuntut ilmu sudah semestinya menghafalkan as-Sunnah, baik dengan cara menghafal nash-nash hadits atau dengan mempelajari sanad-sanad dan matan-matannya, membedakan yang shahih dengan yang lemah, menjaga as-Sunnah juga dengan membelanya serta membantah syubhat-syubhat yang dilontarkan Ahlu bid’ah guna menentang as-Sunnah.

ADAB KESEBELAS

Meneliti Kebenaran Berita yang Tersebar dan Bersikap Sabar

Salah satu adab terpenting yang harus dimiliki oleh penuntut ilmu adalah tatsabbut (meneliti kebenaran berita), dia harus meneliti kebenaran berita-berita yang disampaikan kepadanya serta mengecek efek hukum yang muncul karena berita tersebut. Di sana ada perbedaan antara tsabaat dan tatsabbut, keduanya adalah dua hal yang berlainan walaupun memiliki lafazh yang mirip tapi maknanya berbeda. Ats tsabaat artinya bersabar, tabah dan tidak merasa bosan dan putus asa. Sehingga tidak semestinya dia mengambil sebagian pembahasan dari sebuah kitab atau suatu bagian dari cabang ilmu lantas ditinggalkannya begitu saja. Sebab tindakan semacam ini akan membahayakan bagi penuntut ilmu serta membuang-buang waktunya tanpa faedah. Dan cara seperti ini tidak akan membuahkan ilmu. Seandainya dia mendapatkan ilmu, maka yang diperolehnya adalah kumpulan permasalahan saja dan bukan pokok dan landasan pemahaman. Contoh orang yang hanya sibuk mengumpulkan permasalahan itu seperti perilaku orang yang sibuk mencari berita dari berbagai surat kabar dari satu koran ke koran yang lain. Karena pada hakikatnya perkara terpenting yang harus dilakukan adalah ta’shil (pemantapan pondasi, ilmu ushul) dan pengokohannya serta kesabaran untuk mempelajarinya.

Dengan perantara nama-nama-Mu yang terindah dan sifat-sifat-Mu yang tertinggi ya Allah, ampunilah dosa-dosa hamba. Begitu banyak nikmat telah hamba sia-siakan. Umur, kesempatan, waktu luang, kesehatan dan keamanan. Semuanya telah Engkau curahkan, namun aku selalu lalai dan tidak pandai mensyukuri pemberian-Mu. Ya Allah bimbinglah hamba-Mu ini, untuk meraih kebahagiaan pada hari di mana tidak ada lagi hari sesudahnya, ketika kematian telah disembelih di antara surga dan neraka. Ketika para penduduk surga semakin bergembira dan para penghuni neraka bertambah sedih dan merana. Ya Allah, limpahkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, dan lindungilah kami dari ilmu yang tidak bermanfaat. Ya Allah, kami mohon kepada-Mu hidayah, ketakwaan, terjaganya kehormatan dan kecukupan. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyinaa Muhammad, walhamdulillaahi Rabbil ‘alamiin.
lebih jelas klick di sini
Jun
27th

Tim Porno Dalam AKKBB

Files under | Leave a Comment
www.nahimunkar.com-Dari hampir tigaratus personil AKKBB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan) selaku pembela kafirin Ahmadiyah, yang namanya tercantum pada petisi yang dipublikasikan sejumlah media massa, kalau kita dekati beberapa di antaranya, ada yang punya kecenderungan yang sama, yaitu suka dengan yang porno-porno. Kita ambil contoh tiga di antara mereka, Ayu Utami, A. Mustofa Bisri, dan Gus Dur. Ditambah satu lagi, Ahmad Tohari.

Urut-urutan nama (tiga orang) yang diambil sebagai sampel dipilih berdasarkan kisaran usia, yaitu yang lebih muda lebih dulu barulah yang lebih tua. Maksudnya, supaya kelihatan bahwa adanya proses pembelajaran dan transfer ‘ilmu’ dari generasi yang tua kepada yang muda. Ibarat pepatah lama, “guru kencing berdiri, murid kencing berlari.” Kesimpulannya, guru dan muridnya memang sama-sama suka kencing sembarangan.

Adapun Ahmad Tohari disendirikan belakangan, bukan lantaran dia lebih tua, namun karena dia berani membantah Kyai yang mengingatkannya dalam hal kepornoan, maka di tulisan ini diurutkan paling belakang, seolah yang paling tua, karena telah berani membantah Kyai yang menghindari porno, masih pula memlintir maksud ayat Alloh lagi. Maka kami beri porsi tersendiri, harap dimaklumi.

Ayu Utami

Ayu Utami lahir di Bogor (Jawa Barat), tanggal 21 November 1968. A. Mustofa Bisri (mertuanya Ulil Abshar Abdalla dedengkot JIL –Jaringan Islam Liberal) lahir di Rembang (Jawa Tengah), tanggal 10 Agustus 1944. Sedangkan Gus Dur kelahiran Jombang (Jawa Timur) tanggal 4 Agustus 1940.

Justina Ayu Utami –begitu nama lengkap aktivis komunitas Utan Kayu ini– adalah lulusan Jurusan Sastra Rusia Fakultas Sastra Universitas Indonesia di tahun 1994. Kalau mendengar nama “Utan Kayu”, pastilah pikiran kita akan membayangkan sosok Goenawan Mohamad (yang namanya juga tercantum pada iklan petisi AKKBB), membayangkan komunitas JIL (Jaringan Islam Liberal) yang menawarkan kesesatan dan kekafiran berfikir.

Nama Ayu Utami mencuat sejak novelnya berjudul Saman memenangi sayembara penulisan roman Dewan Kesenian Jakarta 1998 dan Prince Claus Award 2000 dari Prince Claus Fund, sebuah yayasan yang bermarkas di Den Haag.

Dari sejumlah kegiatannya, Ayu mengisi kolom Kodok Ngorek di harian Seputar Indonesia edisi Ahad. Salah satu tulisannya pernah membahas soal laju pertumbuhan penduduk. Ayu Utami memposisikan diri sebagi orang yang memberikan kontribusi di dalam menekan laju pertumbuhan penduduk, dengan cara sengaja tidak punya anak.

Sebagai penganut paham kebebasan, ternyata Ayu Utami tidak bisa mengerti sikap temannya yang punya anak banyak (lima orang) tanpa sengaja. Ayu juga semakin tidak mengerti terhadap sikap seseorang yang disebutnya sebagai “Tuan F” yang dengan sengaja punya anak sangat banyak dari isri-istrinya yang juga banyak (empat wanita).

Melalui tulisannya berjudul Adopsi (Seputar Indonesia, 4 Mei 2008, hal. 13), Ayu Utami mencurahkan isi hati terdalamnya, sekaligus menumpahkan spontanitas intelektualnya, di dalam mengekspresikan ketidaksetujuannya dengan “Tuan F” (Fauzan Al-Anshari?) yang banyak anak dan banyak istri itu, melalui untaian kata yang bernada mengejek dan agak berbau porno, yaitu: “… Tuan F ini, agaknya, setiap kali bersetubuh membayangkan akan menaklukkan AS…”

Astaghfirullooh… Mungkin bagi Ayu Utami, kata-kata di atas tergolong biasa saja. Namun bagi orang yang bernurani bersih, kata-kata itu selain terkesan kasar, jorok, dan tidak menunjukkan kearifan, juga memberi kesan bahwa penulisnya memiliki cita rasa sastra yang rendahan.

Kita bisa berbeda ‘selera’ dalam soal ini. Tapi, ada satu kesan mendalam yang bisa diambil dari untaian kata-kata tadi, bahwa Ayu Utami sang penganut kebebasan berpendapat, kebebasan berekspresi, bahkan menjunjung kebebasan beragama dan berkeyakinan itu, ternyata masih belum bisa menerima ada sikap dan pendirian orang lain yang tidak sesuai dengan ‘seleranya’. Orang yang berbeda ‘selera’ dengan Ayu Utami selain membuatnya keheranan, juga dengan cepat dijadikan bahan ejekan atau olok-olok melalui untaian kata-kata yang berbau porno.

Sebelumnya, masih di harian yang sama, Ayu Utami melecehkan istilah poligami (salah satu hal yang dibolehkan dalam Islam, namun dibenci oleh orang-orang yang belum tentu senang terhadap Islam walau mengaku Muslim), melalui sebuah tulisannya yang diberi judul Sekte Poligami (Seputar Indonesia, 20 April 2008). Istilah poligami ditempelkan pada sekte-sekte penganut seks bebas yang kebebasannya lebih rendah dari perilaku binatang (lihat artikel berjudul Menista Istilah Poligami Demi Menutupi Kejahatan Ahmadiyah pada nahimunkar.com edisi April 24, 2008).

A. Mustofa Bisri

A. Mustofa Bisri adalah seorang kyai yang mengelola Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Kyai yang biasa dipanggil dengan sapaan Gus Mus ini adalah alumnus Al Azhar University, Kairo. Ketika di tahun 2003 masyarakat ramai mempermasalahkan goyang ngebor ala Inul Daratista, sang kyai tampil sebagai salah satu pembela. Ekspresi pembelaannya dicurahkan melalui sebuah lukisan yang diberi judul Berdzikir Bersama Inul. Pada lukisan itu, digambarkan sejumlah kyai yang sedang berdzikir dalam posisi mengelilingi Inul yang sedang melakukan aksi goyang ngebor-nya.

Lukisan berukuran 60 cm x 50 cm itu dipamerkan pada acara Pekan Muharram 1424 H di Masjid Agung Al Akbar, Surabaya, yang diselenggarakan Harian Duta Masyarakat (4-9 Maret 2003). Selain KH A.Mustofa Bisri alias Gus Mus, juga dipamerkan lukisan karya Danarto (pengikut Lia Eden?), Djoko Pekik, (alm) Amang Rahman, Zawawi Imron dan lain-lain.

Lukisan Gus Mus itu sempat memancing emosi sebagian warga Surabaya. Pengurus masjid menerima ancaman dari sekelompok orang yang mengatasnamakan pemuda Islam. Isi ancamannya, masjid akan dibakar jika panitia tidak menurunkan lukisan porno tersebut. Ancaman itu diterima pengurus masjid melalui telepon pukul 13.00 WIB, Kamis (6 Maret 2003).

Menurut Danarto, pelukis kenamaan di Jakarta yang juga kawan Gus Mus, “Saya menilai Gus Mus ingin membela seorang wanita bernama Inul yang sedang tertindas karena di sana-sini muncul pencekalan akibat gaya tariannya.”

Oh, jadi dalam rangka membela Inul yang goyang ngebor-nya dipermasalahkan banyak orang itu, maka Gus Mus membuat lukisan yang dipamerkan di dalam masjid. Astagfirullah al’adziiem. Urusan yang porno-porno kayak gitu koq dibawa-bawa ke masjid!

Kecenderungan Gus Mus terhadap yang porno-porno juga terlihat ketika dia memberikan ilustrasi tentang kebebasan berfikir ala sepilis (sekulerisme, pluralisme agama –menyamakan semua agama— dan liberalisme) yang menurut fatwa MUI dikategorikan sesat dan haram. Bagi Gus Mus, pluralisme agama, liberalisme, dan sekularisme adalah gagasan (ide) dan pemikiran, sehingga tidak bisa diharamkan. Kecuali bila pemikiran itu diejawantahkan dalam tindakan yang merusak dan merugikan orang banyak, baru bisa diharamkan. “Kalau Sampean punya gagasan akan menzinahi bintang film, ia baru haram kalau Anda laksanakan. Kalau masih gagasan, tidak apa-apa.”

Pernyataan itu dikemukakan Gus Mus yang pernah menjabat sebagai Rois Syuriah PB NU kepada Novriantoni dari Kajian Islam Utan Kayu (KIUK) yang mewawancarainya pada hari Kamis tangggal 4 Agustus 2005, dalam rangka mengomentari fatwa MUI tentang sesatnya JIL.

Dari pernyataan Gus Mus itu, maka semakin terbuktilah bahwa kyai itu belum tentu ulama, dan meski seseorang itu digelari ulama, belum tentu ia ulama yang mengikuti Rosululloh SAW. (lihat tulisan berjudul Kyai Belum Tentu Ulama edisi 6 April 2008).

Apa yang dinyatakan Gus Mus itu jelas berselisihan dengan hadits-hadits shahih berikut:

1550 حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنَ الزِّنَا أَدْرَكَ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ فَزِنَا الْعَيْنَيْنِ النَّظَرُ وَزِنَا اللِّسَانِ النُّطْقُ وَالنَّفْسُ تَمَنَّى وَتَشْتَهِي وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ أَوْ يُكَذِّبُهُ.

1550 Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Nabi shallallahu ‘alahi wasallam bersabda: Allah subhanahu wata’ala telah mencatat bahwa anak Adam cenderung terhadap perbuatan zina. Keinginan tersebut tidak dapat dielakkan lagi, di mana dia akan melakukan zina mata dalam bentuk pandangan, zina mulut dalam bentuk pertuturan, zina perasaan yaitu bercita-cita dan berkeinginan mendapatkannya manakala kemaluanlah yang menentukannya berlaku atau tidak. (Muttafaq ‘alaih).

عَن أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِكُلِّ بَنِي آدَمَ حَظٌّ مِنْ الزِّنَا فَالْعَيْنَانِ تَزْنِيَانِ وَزِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالْيَدَانِ تَزْنِيَانِ وَزِنَاهُمَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلَانِ يَزْنِيَانِ وَزِنَاهُمَا الْمَشْيُ وَالْفَمُ يَزْنِي وَزِنَاهُ الْقُبَلُ وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ أَوْ يُكَذِّبُهُ )مسند أحمد:8507(

“Likulli banii aadama haddhun minaz zinaa: fal ‘ainaani tazniyaani wa zinaahuman nadhru, walyadaani tazniyaani wazinaahumal bathsyu, warrijlaani tazniyaani wazinaahumal masy-yu, walfamu yaznii wazinaahul qublu, walqolbu yahwii wa yatamannaa, walfarju yushod

diqu dzaalika au yukaddzibuhu.”

Artinya: Hadits dari Abu Hurairah, bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Setiap bani Adam ada potensi berzina: maka dua mata berzina dan zinanya melihat, dua tangan berzina dan zinanya memegang, dua kaki berzina dan zinanya berjalan, mulut berzina dan berzinanya mencium, hati berzina dan berzinanya cenderung dan mengangan-angan, sedang farji/ kemaluan membenarkan yang demikian itu atau membohongkannya.” (Hadits Musnad Ahmad 8507, juz 2 hal 243, sanadnya shohih, dan hadits-hadits lain banyak, dengan kata-kata yang berbeda namun maknanya sama).

Benarlah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dan bohonglah A. Mustofa Bisri.


Gus Dur (Abdurrahman Wahid)

Sosok yang satu ini tentu tidak asing lagi bagi kita. Tidak asing berkenaan dengan sesuatu yang berkaitan dengan porno-porno (bahkan isu santer tentang zina?). Ketika Ummat Islam memperjuangkan RUU APP (Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Porno Aksi), Gus Dur justru bersikap kebalikannya, yaitu menentang RUU APP yang sedang diperjuangkan Ummat Islam.

Ketika diwawancarai JIL 10 April 2006, kepada Gus Dur diajukan pertanyaan, “Gus, ada yang bilang kalau kelompok-kelompok penentang RUU APP ini bukan kelompok Islam, karena katanya kelompok ini memiliki kitab suci yang porno?”

Kemudian Gus Dur memberikan jawaban sambil tertawa terkekeh-kekeh: “Sebaliknya menurut saya, Kitab suci yang paling porno di dunia adalah Alqur’an…” Kemudian Gus Dur melanjutkan, “…Di Alqur’an itu ada ayat tentang menyusui anak dua tahun berturut-turut. Cari dalam Injil kalau ada ayat seperti itu. Namanya menyusui, ya mengeluarkan tetek kan?! Cabul dong ini. Banyaklah contoh lain…”

Bagi Gus Dur sekedar ngomong porno ya tidak apa-apa, karena dalam pemberitaan ia dikabarkan pernah (atau suka) berzina (?). Setidaknya ada empat wanita yang menjadi partner Gus Dur, yaitu Aryanti, Putri (isteri Pilot), Siti Farikah, dan Ayu Laksmi (Tabloid ADIL, 7 September 2000).

Menurut mantan ajudan Gus Dur Al-Zastrouw Ngatawi, di layar SCTV awal September 2000, bahwa Gus Dur sering menerima tamu wanita, termasuk pelacur, untuk macam-macam urusan, dalam suasana akrab, dan dengan berpakaian sekedarnya (hanya berkaus singlet). Gus Dur juga suka ke diskotik, menerima tamunya. Pernyataan Al-Zastrouw itu dalam format membela Gus Dur yang saat itu sedang diguncang prahara terbongkarnya kasus perzinaan (?) Gus Dur dengan Aryanti Boru Sitepu. Maksudnya mau membela, malah jadi membuka ‘kebiasaan’ Gus Dur yang lain, yaitu suka ke Diskotik, menerima pelacur dalam busana seadanya. Lha, ternyata walau dia sebutannya kyai tapi suka ke Diskotik, dan tidak punya sopan-santun berbusana di dalam menerima tamu

Emha Ainun Nadjib seorang budayawan pernah menggambarkan kedekatan Gus Dur dengan Aryanti sebagai berikut: “Wanita itu orang yang saya lihat paling dekat dan paling relaks dengan Gus Dur. Dia sering terlihat di tempat-tempat yang disinggahi Gus Dur, baik di hotel maupun di Bali.” (Suara Merdeka, Berita Utama, Jumat, 1 September 2000).

Lha kalau hal-hal yang berdekatan dengan zina saja dilakoni, apalagi sekedar membela yang porno-porno. Misalnya, membela Inul. Dalam membela Inul, Gus Dur beralasan, tidak ada seorang pun yang berhak melarang orang berekspresi selama tidak bertentangan dengan undang-undang. Namun, ketika ada upaya untuk membentuk undang-undang anti pornografi dan pornoaksi, Gus Dur justru menyatakan, rancangan undang-undang anti pornografi dan pornoaksi itu tidak perlu, karena soal pornografi dan pornoaksi, cukup diserahkan kepada masyarakat saja.

Di samping yang tiga orang itu, masih dapat pula dikemukakan seorang yang tercantum dalam iklan AKKBB 26 Mei 2008 di Media Indonesia dan lainnya, yang cukup dikenal pula, namanya Ahmad Tohari.

Ahmad Tohari Agar Bertaubat

Pernyataan orang mengenai sikap dan tingkah lakunya yang melanggar Islam kadang dianggap biasa, bahkan disiarkan lewat media massa. Berikut ini satu contoh, Ahmad Tohari seorang yang pernah menulis cerita tentang ronggeng mengemukakan pendapatnya yang bertentangan dengan Islam waktu diwawancarai Republika. Makanya ada yang menyuruhnya untuk bertaubat.

Berikut ini kami kutip petikan wawancara yang dipersoalkan, dan surat dari seorang aktivis yang menyuruh Ahmad Tohari bertaubat.

Kutipan:

Wawancara Republika

Minggu, 13 Mei 2007

H Ahmad Tohari

Menjenguk Tuhan Lewat Orang kecil

Ahmad Tohari. Siapa yang tak kenal sosok yang satu ini. Ngetop lewat novel Ronggeng Dukuh Paruk, ia kini rutin mengisi kolom Resonansi di Republika, tiap hari Senin. Novel itu ia tulis saat ia masih muda, di tahun 1981. Novel ini, terakhir ia terbitkan dalam versi bahasa Banyumasan. Versi ini mendapat penghargaan Rancage dari Yayasan Rancage, Bandung, pada 2007. Yayasan Rancage yang dimotori sastrawan Ajip Rosidi rutin memberi penghargaan kepada penulis-penulis sastra berbahasa daerah setiap tahun.

Apa yang dulu mendorong Anda menulis novel Ronggeng, padahal latar belakang Anda santri?
Saya kalau sok-sokan begini, kesantrian saya kan sudah lewat yang syariah, jadi sudah membantu kiai. Landasan saya menulis novel tersebut adalah dari ayat Kursi yang salah satu ayatnya adalah Lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardl (kepunyaan Allah lah apa yang ada di langit dan bumi). Jadi, apa yang di bumi adalah kepunyaan Allah, semuanya. Lha, sekarang ada tidak ulama yang bilang ronggeng, pelacur, maling atau yang jahat-jahat itu keluar dari kalimat maa? Jadi, ronggeng adalah salah satu kepunyaan Allah. Satu hal yang harus dipatuhi dalam membaca, menghayati, dan memasuki dunia ronggeng, jangan lupa syaratnya Bismirabbikalladzii khalaq (atas nama Tuhanmu yang menciptakan). Jadi, ketika kondisi kita pegang, baca apa saja boleh karena akan mendatangkan hikmah. Jadi, pemahamannya harus pada tingkat sufi bukan tingkat biasa.

Waktu Anda melihat tarian ronggeng, apa yang Anda rasakan?
Saya memang penikmat ronggeng, jadi betul-betul saya nikmati, lirikan matanya, lenggak-lenggoknya, dan sebagainya. Pada waktu itu di deretan kursi ada beberapa kiai yang ikut hadir dan ketika saya lihat ternyata dia hanya menunduk, tidak berani menatap. Saya sempat tanya kenapa hanya menunduk. Dia hanya tersenyum dan menjawab ada perintah untuk menundukkan pandangan yang mengandung maksiat. Tapi, menurut saya ada pemberitaan lain yang sama-sama di muat di Alquran bahwa apa yang kamu lihat itu tidak lain adalah bukti kekuasaan Allah. Ini harus dipahami secara sufistik. Saya sempat tanya pada kiai muda itu dengan pertanyaan yang provokatif, ‘Anda lihat tidak bukti kebesaran Allah pada payudara lengger’. Dia makin kecut saja tersenyumnya.
Saya jelaskan, kalau kita melihat payudara dengan sensasi, maka kemungkinan maksiat sangat besar. Tapi, coba kita berpikir menggunakan akal. Faktanya, payudara, pantat ronggeng, yang sensasional itu, tidak lain cuma air, protein, fosfor, dan zat-zat kimiawi lain yang dibentuk Tuhan sehingga seperti itu. Nah, itu kemudian tertangkap indra kita, jadi tergantung Anda, mau pakai sensasi akan terjadi maksiat. Kalau pakai akal, maka kita akan membaca ‘lha wong cuma air, protein, fosfor kok bisa seperti itu dan bisa bergerak’. Apa itu tidak menjadi bukti kekuasaan Tuhan? Saya kagum dengan kekuasaan Tuhan. Saya tidak melihatnya dengan sensasi, karena itu akan mendorong pada rangsangan birahi. (Republika, Minggu, 13 Mei 2007, H Ahmad Tohari, Menjenguk Tuhan Lewat Orang kecil )

Terhadap ungkapan-ungkapan Ahmad Tohari itu ada saran dari aktivis Islam yang menyuruhnya bertaubat. Isinya sebagai berikut.

Surat pembaca menyuruh taubat:

To:insistnet@yahoogroups.com, profetik@yahoogroups.com,

mantan-ldk@yahoogroups.com, herry@gatra.com, caklis@yahoo.com,

dinlai@yahoo.com, pambudiutomo@yahoo.com

From:”nuim hidayat” Add to Address Book

Add Mobile Alert

Date:Mon, 14 May 2007 08:00:32 +0700

Subject:[INSISTS] Surat Pembaca untuk Republika

*Surat Pembaca untuk Republika*

* *

*Kritik untuk Ahmad Tohari*

Pendapat Ahmad Tohari di rubrik Wawancara Republika edisi 13 Mei 2007,

sungguh sangat disayangkan. Pendapat senada juga pernah dilontarkan Tohari

di Resonansi Republika beberapa bulan lalu.

Mari kita simak pendapatnya ini: “Saya memang penikmat ronggeng, jadi

betul-betul saya nikmati, lirikan matanya, lenggak-lenggoknya dan

sebagainya. Pada waktu itu di deretan kursi ada beberapa kiai yang ikut

hadir dan ketika saya melihat dia hanya menunduk. Saya sempat tanya kenapa

hanya menunduk. Dia hanya tersenyum dan menjawab ada perintah untuk

menundukkan pandangan yang mengandung maksiat. Tapi menurut saya ada

pemberitaan lain yang sama-sama dimuat Al-Qur’an bahwa apa yang kamu lihat

itu tidak lain adalah bukti kekuasaan Allah….Saya jelaskan, kalau kita

melihat payudara dengan sensasi, maka kemungkinan maksiat sangat besar.

Tapi coba kita berpikir dengan menggunakan akal. Faktanya payudara, pantat

ronggeng, yang sensasional itu, tidak lain cuma air, protein, fosfor, dan

zat-zat kimiawi lain yang dibentuk Tuhan sehingga seperti itu…”

Pendapat Tohari ini menurut saya ngawur dan patut dipertanyakan. Pertama,

apakah ada dalam Al-Qur’an pemberitaan atau bahkan anjuran untuk menikmati

payudara perempuan non istri? Tidak ada satu pun ayat Al Qur’an yang

memberitakan atau membolehkan, bahkan Al Qur’an melarangnya. Yang ada

adalah larangan mendekati zina dan menundukkan pandangan.

Kedua, pendapat Tohari yang memisahkan melihat dengan akal dan melihat

dengan sensasi, adalah pendapat yang tidak sesuai dengan realitas

sinerginya tubuh dan alat indera manusia. Antara otak, mata, tangan terdapat sel-sel saraf yang saling berhubungan. Bisakah Tohari memisahkan rasa sakit

berdarah ketika ditusuk pisau dengan (”nikmatnya” ) berfungsinya akal mengamati sel-sel darah yang keluar dari tubuh ketika itu? Jadi, filsafat/pendapat

memisahkan akal dan rasa ketika Tohari melihat payudara ini sangat

berbahaya. Karena nanti orang yang berzina bisa berpendapat, ah itu kan

cuma ketemu daging dengan daging, yang kemudian mengeluarkan zat kimiawi

dalam tubuh manusia.

Saya menghimbau agar Tohari bertaubat dengan pendapatnya ini. Dan

sekaligus menarik novelnya “Ronggeng Dukuh Paruk.” Kepada Republika agar

berhati-hati ketika menulis sesuatu. Menulis bisa amal jariyah dan bisa jadi “dosa

jariyah”. *Wallahu aliimun hakiim.*

* *

Pengirim:

Nuim Hidayat

Komp. Timah CCII/18, Kelapa Dua Depok

E-mail: nuimh@yahoo. Com

Larangan dari Alloh Subahanahu wa Ta’ala

Terhadap tingkah-tingkah dan pandangan hidup yang cenderung porno itu ada larangan dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang perlu ditaati, di antaranya:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا(32)

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. (QS Al-Israa/17: 31).

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ(30)

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. (QS An-Nuur: 30).

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ ءَابَائِهِنَّ أَوْ ءَابَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ(31)

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS An-Nuur: 31).

Mengenai bicara porno, ada larangan yang cukup jelas berupa ancaman, padahal berbicara tentang pergaulan pasangan suami isteri sendiri yang sah; namun ada ancaman keras untuk menceritakannya. Berikut ini haditsnya:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِي إِلَيْهِ ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا *(مسلم وأبو داود)

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya termasuk sejelek-jelek manusia bagi Allah tempatnya di hari kiamat, (yaitu) laki-laki yang menggauli (menyetubuhi) isterinya dan isterinya pun menggauli lelakinya, kemudian salahsatunya menyiarkan rahasia bergaulnya itu.” (HR Muslim dan Abu Daud).

Dibanding dengan ajaran Islam, lakon mereka yang disebut namanya karena menyebarkan kepornoan ini tadi betapa bertentangannya.

Begitulah profil personil AKKBB, selaku pembela kafirin Ahmadiyah, kecenderungannya pada pornografi dan membela kesesatan merupakan ciri khas yang melekat padanya. Meski mereka mendukung kebebasan berekspresi, berpendapat, beragama dan berkeyakinan, namun bila ada orang yang tidak satu selera dengan mereka, langsung saja dijadikan bahan ejekan. Bahkan Al-Qur’an pun diolok-olok untuk membenarkan pendiriannya. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang celaka dan mencelakakan, maka hendaknya mereka bertaubat, sebelum nyawa sampai di tenggorokan menjelang ajalnya. Di samping itu mereka perlu mencabut seluruh kepornoan yang telah mereka sebarkan yang menjerumuskan masyarakat dan menghancurkan itu. (haji/ tede).

Jun
27th

Negara Bagian Malaysia Larang Wanita Pakai Lipstik

Files under | Leave a Comment

var sburl1069 = window.location.href; var sbtitle1069 = document.title;var sbtitle1069=encodeURIComponent("Negara Bagian Malaysia Larang Wanita Pakai Lipstik"); var sburl1069=decodeURI("http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=7102"); sburl1069=sburl1069.replace(/amp;/g, "");sburl1069=encodeURIComponent(sburl1069);

Negara bagian Malaysia melarang wanita memakai lipstik tebal dan sepatu hak tinggi. Larangan ini diharapkan mencegah "kejahatan" seks

Hidayatullah.com—Otoritas Kota Baru, telah mengeluarkan kebijakan larangan terhadap wanita yang menggunakan lipstik tebal dan meminta wanita tak menggunakan sepatu berhak tinggi. Selain itu, pemerintah melarang kaum hawa untuk tidak menggunakan jilbab transparan.

Kantor Berita Bernama, mengatakan, arahan itu dikeluarkan Dewan Kotapraja di Kota Baru. Kebijakan berupa arahan ini diarahkan terhadap wanita-wanita Muslim yang bekerja di dalam rumah makan dan kantor-kantor bisnis di dalam kota tersebut. Menurut pemerintah, kebijakan ini diharapkan untuk melindungi martabat kaum wanita dan mencegak pemerkosaan.

"Menyebutkan bahwa wanita Muslim dilarang untuk memakai dandanan tebal, seperti gincu tebal dan sepatu berhak tinggi yang mengeluarkan bunyi keras," kata kantor berita itu.

"Bagi mereka yang mendesak memakai sepatu-sepatu berhak tinggi, mereka dapat melakukannya tetapi dengan tumit terbuat dari karet."

Juru Bicara Dewan Kota Azman Mohamad Daham mengatakan, anjuran itu dikeluarkan untuk menjaga martabat dan moral wanita. Untuk menyosialisasikan seruan tersebut, pemerintah membagikan selebaran. ''Selebihnya, terserah mereka,'' kata Azman.

Menurut Bernama, pemerintah kota tersebut juga menerapkan larangan berdandan dan mengenakan sepatu hak tinggi yang berbunyi saat dipakai. Tapi, Azman membantah berita tersebut.

Dia menegaskan, satu-satunya perintah legal yang dibuat pemerintah adalah berjilbab. ''Perintah itu sudah dibuat sepuluh tahun lalu," katanya.

Yang melanggar aturan itu bisa dikenai denda hingga MYR 500 (sekitar Rp 1,4 juta). Tiap bulan, rata-rata ada 20 wanita yang didenda karena melanggar aturan tersebut. ''Tapi, aturan ini hanya diberlakukan bagi muslimah," tegas Azman.

Malaysia, suatu masyarakat yang terdiri dari banyak suku dan etnis. Negara tetangga Indonesia ini dikenal menganut faham sunni madhab Syafi'i. Malaysia menganggap dirinya suatu negeri Muslim yang moderat. Muslim mencapai sekitar 60 persen dari populasi.

Kota Baru adalah ibukota dari Negeri Kelantan, yang dikuasai oposisi partai Islam, PAS. [bnm/cha/www.hidayatullah.com]
Jun
27th

KEINDONESIAAN DI BAHASA DAERAH


Indonesia sebagai negara yang dibentuk berdasarkan proklamasi Agustus 1945 adalah sebuah tempat kosong atau slot. Ia diisi oleh etnis-etnis. Dengan kata lain, ketika menyebutkan Indonesia, maka yang terbayang di dalamnya adalah keberadaan beragam etnis: Jawa, Bali, Batak, Bugis, bahkan Sasak dan ratusan etnis lainnya. Sementara itu, tatkala menyebut etnis tersebut maka yang melekat di dalamnya adalah bahasa-bahasa daerah yang digunakan oleh setiap etnis tersebut.

Artinya, tidak mungkin mengindentifikasi adanya etnis tersebut tanpa bahasa etnis itu sendiri. Sehingga, bahasa daerah menjadi identitas yang menandai keberadaan etnis tersebut yang ada di Indonesia. Karena jelas, etnis-etnis itu sendirilah menjadi pengisi konkret keindonesiaan dan, secara kultural linguis, keindonesiaan ada di bahasa-bahasa daerah di negara ini.

Sewajarnya, bahasa Indonesia secara etimologis, seharusnya dipahami sebagaimana memahami konsep Indonesia sendiri, yaitu sebagai tempat kosong, yang mengisi untuk pertama kalinya adalah bahasa Melayu dan pengisi pengembangannya adalah bahasa-bahasa daerah. Untuk itu perlu strategi kebudayaan, khususnya kebahasaan dan sastra daerah, yang dapat merajut keindonesiaan dari pandangan kebahasaan etnis.

Dengan konsep tersebut, secara filosofis, kehidupan berindonesia dapat dimaknai sebagai relasi fungsional antar etnis yang menjadi pengisi keindonesiaan itu dengan sendirinya. Agar relasi fungsional dapat berjalan sesuai hajat pembentukan Indonesia, diperlukan sistem budaya (sistem nilai) yang mengatur jalannya relasi fungsional tersebut, misalnya sikap toleran, menghargai keberagaman dan sebagainya.

Jelas, bahasa yang masih hidup kini akan senantiasa mengalami perubahan, bahasa Indonesia dan bahasa dearah Sasak contohnya. Perubahan itu sejalan dengan kebutuhan masyarakat terhadap bahasa yang bersangkutan. Perubahan dapat terjadi pada segi ejaan, unsur ataupun status bahasa. Perubahan ejaan misalnya dialami bahasa Indonesia pada tahun 1928 dijadikan sebagai bahasa nasional dan pada tahun 1945 di samping sebagai bahasa nasional juga sebagai bahasa negara. Dan bahasa Sasak lebih dipengaruhi oleh bahasa Jawa Sanskrit yang dibawa oleh penganut Budha ke pulau Lombok.

Terjadinya perubahan pada bahasa ini mengisyaratkan diperlukannya perencanaan kebahasaan. Tanpa sebuah perencanaan bahasa, perubahan yang terjadi terhadap bahasa tersebut cenderung tidak terarah. Perubahan yang tidak terarah ini pada akhirnya akan menimbulkan ketidaklancaran dalam berkomunikasi di bahasa tersebut.

Usaha perencanaan kebahasaan dalam hal ini bahasa Indonesia salah satunya dilakukan dengan cara membina sikap positif terhadap bahasa tersebut. Sikap positif terhadap bahasa Indonesia, urgensinya adalah mengedepankan sikap setia dan bangga terhadap bahasa Indonesia. Sikap positif terhadap bahasa Indonesia ini mengandung makna taat asas dan patuh pada kebijaksanaan kebahasaan yang ditetapkan pemerintah.

Selain perubahan kebahasaan bahasa Indonesia, eksistensi bahasa daerah juga hampir bernasib sama. Masalahnya adalah bagaimana menjaga, kedudukan dan fungsi, bahasa daerah dalam keberagaman masyarakat Indonesia di era global ini. Ketika hanya bahasa Indonesia yang menjadi lambang identitas dan kebanggaan nasional, alat pemersatu etnik dan alat perhubungan antar daerah dan budaya, bahasa resmi serta sebagai sarana pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan. Bahkan, bahasa Indonesia menjadi bahasa media massa, pendukung sastra Indonesia.

Walau bahasa Indonesia menduduki fungsi sedemikian hebatnya, bahasa daerah, dengan bahasa ibu dari sebagian besar etnis-etnis di Indonesia dengan dukungan bahasa Indonesia, harus digalakkan pemakaiannya. Tak hanya dalam ritual-ritual budaya, tetapi juga ketika pertemuan-pertemuan kelompok etnis digelar.

Karena harus dipahami, bahwa bahasa Indonesia hidup berdampingan dengan ratusan bahasa daerah di seluruh nusantara. Dan tentu saja, kondisi ini mendatangkan persoalan ekologis antara keduanya. Ketika bahasa Indonesia dipadang lebih berprestise dibandingkan dengan bahasa daerah, sehingga kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia lebih menguat dibanding dengan bahasa daerah. Sehingga kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia lebih menguat dibandingkan dengan kedudukan dan fungsi bahasa daerah.

Dari sisi kepentingan keindonesiaan ini, hal demikian merupakan hal yang dipandang positif, tetapi dilihat dari sisi keharmonisan dalam keanekaragaman, penguatan bahasa Indonesia atas bahasa daerah dipandang sebagai hal yang negatif. Oleh karena itu, selain perencanaan kebahasaan, diperlukan pula reorientasi pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia, dengan tidak hanya, mempertimbangkan keseimbangan ekologisnya dengan bahasa daerah tetapi juga perlindungan eksistensi bahasa daerah (lokal) tersebut.

Perlindungan tehadap eksistensi bahasa daerah telah menjadi bagian upaya badan dunia PBB dan UNESCO dalam menyelamatkan bahasa-bahasa lokal dunia. Demikian juga dengan bahasa-bahasa daerah yang ada di Indonesia. Meskipun telah ada jaminan keberlangsungan bahasa daerah sebagai bagian dari keberagaman kebudayaan Indonesia dalam UUD 1945 dan dimasukkannya bahasa daerah dalam muatan lokal kurikulum sekolah KTSP, namun semua itu belum menjamin keberlangsungan eksitensi bahasa daerah untuk hidup di tengah bahasa persatuan Indonesia dan arus deras pengaruh negatif globalisasi terhadap tata bahasa sehari-hari dan bahasa asing yang mulai banyak digunakan.

Oleh sebab itu, untuk mencegah bahasa dan sastra daerah dalam posisi marjinal perlu dicari solusi berperspektif studi kultural. Wawasan kebangsaan dapat diintegrasikan secara inklusif ke dalam muatan lokal bahasa dan sastra daerah. Secara kajian budaya, muatan lokal bahasa daerah dapat dipandang sebagai sebagai sebuah kekuatan budaya (cultural capital) yang di dalamnya terkandung dialektikan antara teks dan konteks mengenai identitas, representasi, konsumsi, produksi dan regulasi yang yang menyangkut politik bahasa nasional dan strategi budaya.

Kekuatan budaya tersebut memang sebagai identitas dan kebanggaan suatu daerah dan juga penyatu rasa sedaerah dan tentu bahasa daerah mempunyai kedudukan penting di daerah masing-masing. Walaupun, penurunan pemakaian bahasa daerah di suatu daerah biasanya disesalkan oleh pihak tertentu, tapi tak sedikit bahasa daerah yang mulai musnah, padahal musnahnya bahasa daerah tersebut juga mengindikasikan musnahnya pula satu peradaban manusia di dunia ini.

Mengantisipasi hal tersebut dan sesuai dengan amanat pasal 36 UUD 1945 bahwa bahasa daerah adalah satu unsur pemerkaya bahasa nasional, bahasa Indonesia, dan eksistensinya dilindungi oleh negara. Tak hanya pemerintah pusat, pemerintah daerah pun harus turut menjaga kelestarian bahasa daerah, turut memberdayakan bahasa identitasnya. Salah satu caranya adalah dengan memuat berita berbahasa daerah dan pembelajaran bahasa daerah.

Memang patut diajungi jempol bagi pemerintah daerah yang membuat peraturan daerah mengenai pengajaran bahasa daerah pada siswa di tingkat pendidikan tertentu di wilayah administratifnya dan secara khusus dijadikan suatu jurusan bidang studi di perguruan tinggi. Semisal, di Jawa Barat (di daerah Pantura, sebagian Cirebon, Indramayu, Depok, dan Bekasi), yang jelas-jelas bahasa ibunya bukan bahasa Sunda, tetapi mereka harus belajar bahasa Sunda sebagai muatan lokal. Dan ini tentunya harus dengan mekanisme dan perturan yang detail pembahasannya. Agar tidak merugikan masyarakat dengan bahasa ibu yang berbeda.

Artinya, pemakaiannya dibatasi pada ranah tertentu yang bersifat kedaerahan, baik dalam arti budaya maupun teritorial. Subordinasi linguis ini memang dianggap sebagai penyebab tidak berkembangnya atau -akhirnya- kematian bahasa daerah. Pada situasi dilematis ini, di sisi politis dan historis diharapkan ada tali pengikat bersama yang berupa bahasa persatuan.

Di sisi lain, keberagaman budaya dengan bahasa sebagai sarana pengungkapnya terus dipertahankan dan dikembangkan. Karena keindonesiaan di bahasa daerah adalah niscaya dan perlu rekonstruksi hubungan antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah agar sama-sama hidup dan berkembang serta saling menguntungkan. Wa Allahu ’alam.



Catatan kecil ini merupakan cuplikan pikiran:
Mahsun (Kantor Bahasa Provinsi NTB)
Mansur Ma’sum (Rektor Universitas Mataram)
Asep Muhyidin (FKIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa)
Yulia Esti Katrini (FKIP Universitas Tidar Magelang)
M. Darwis (Dekan Fakultas Sastra, Makasar)
Arif Budi Wurianto (Universitas Muhammadiyah Malang)
Warso (Staf Subbidang Pengajaran Pusat Bahasa)
C. Ruddyanto (Balai Bahasa Denpasar)

Terimakasih atas kesempatan perbincangan kecil pada mereka. Semoga Seminar Nasional Bahasa Dan Sastra, 24-26 Juni di Mataram, memberi makna, pendidikan dan pembelajaran bagi kesastraan dan kebahasaan negeri ini.

Jun
26th

Surabaya-Madura

Files under | 1 Comment
Beberapa hari lalu aku pergi ke Bangkalan. Wawancara sama Bupati RKH Fuad Amin. Nah, di penyeberangan Ujung-Kamal aku sempatkan ambil foto. Ini sebagian foto
Jun
26th

Rhafah Habis Sakit

Files under | Leave a Comment
Tgl 10 hingga 14 juni kemaren Rhafah 'indekos' di RSI Wonokromo akibat infeksi pencernaan. Nah, karena sakit itu, berat badannya turun dari semula 7,4 kg jadi 6,7 kg bahkan sampai 6,3 kg. Setelah lulus 'nyantri' di RSI, Dr Widyawati mencanangkan program penggemukan kembali Rhafah. Foto-foto ini diambil setelah pulang dari RSI ketika BB-nya 6,3 kg. Selain itu, Rhafah juga sulit
Jun
25th

Pria Berpistol dalam Insiden Monas Katanya Polisi

Files under | Leave a Comment
Rabu, 25 Juni 2008
var sburl9676 = window.location.href; var sbtitle9676 = document.title;var sbtitle9676=encodeURIComponent("Pria Berpistol dalam Insiden Monas Katanya Polisi"); var sburl9676=decodeURI("http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=7103"); sburl9676=sburl9676.replace(/amp;/g, "");sburl9676=encodeURIComponent(sburl9676);

Polda Metro Jaya mengungkap pria berpistol yang terekam saat terjadi insiden Monas pada 1 Juni lalu. Pria itu katanya polisi. Tetapi mengapa harus mengacung-asungkan senjata? dan tak berseragam?

ImageHidayatullah.com--Kepolisian Daerah Metro Jaya Bidang Profesi dan Pengamanan telah menangkap dan mengamankan pria berpistol yang terekam saat terjadi insiden Monas pada 1 Juni lalu. Pria itu adalah polisi berpangkat bintara yang juga anggota Ahmadiyah.

Si polisi adalah Brigadir Kepala Iskandar Saleh, anggota unit kecelakaan di Satuan Lalu Lintas Polres Kota Tangerang.

"Dia diamankan provost Polres pada 23 Juni pukul 16.00 WIB," kata Juru Bicara Mabes Polri Inspektur Jenderal Abubakar Nataprawira di Markas Polda Metro Jaya, kemarin. "Dia masih dalam pemeriksaan Propam Polda."

Menurut Abubakar, pada 1 Juni lalu Iskandar mendampingi mertua, istri, dan anaknya ke acara yang digelar Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan. "Atas keinginan sendiri," kata Abubakar.

Dalam pemeriksaan di Bidang Propam Polda Metro, Iskandar mengatakan bahwa pistolnya adalah revolver mainan. Propam juga mengecek ke Polres Tangerang, dan hasilnya Iskandar tidak termasuk satu di antara 73 petugas yang memiliki senjata api. "Tapi ini masih diselidiki. Sebab, katanya (pistol mainan itu) hilang," kata Abubakar.

Meski Iskandar mengaku sebagai anggota Ahmadiyah, polisi juga akan mengecek ke pengurus Ahmadiyah Tangerang.
"Anda lihat sendiri di rekaman. Front Pembela Islam mengatakan (penyerbuan) dipicu pria yang mengacungkan pistol. Tapi tidak ada suara letusan," kata Abubakar. Alasan ia mengacungkan pistol, katanya untuk melindungi seorang perempuan dan seorang anak. Tapi mengapa pula ia harus mengacung-acungkan senjata itu disaat segalanya sedang panik dan tak memakai seragam? [ti/www.hidayatullah.com]
Jun
24th

Mengapa Masa Depan Milik Islam? [1]

Files under | Leave a Comment

var sburl2397 = window.location.href; var sbtitle2397 = document.title;var sbtitle2397=encodeURIComponent("Mengapa Masa Depan Milik Islam? [1]"); var sburl2397=decodeURI("http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=7083"); sburl2397=sburl2397.replace(/amp;/g, "");sburl2397=encodeURIComponent(sburl2397);

Majalah Maclean, Kanada, menghadapi kasus hukum karena tulisan kebencian kepada Islam. Tapi di Amerika, menghina agama minoritas dilindungi konstitusi. Ini ditiru kaum liberal Indonesia. Mengapa polisi tak obyektif dalam kasus Monas?

Oleh: Amran Nasution

ImageHidayatullah.com--Para pejabat Amerika selalu mendamprat pejabat China karena dianggap salah urus ekonomi. Mulai sistem subsidi, regulasi investasi asing, sampai pematokan nilai mata uang Yuan. Tapi itu dulu. Kini posisi berubah.

Para pejabat senior China secara terbuka mengecam cara Amerika menangani ekonominya – dengan kapitalisme laissez-faire –dan mereka berani membela sistem ekonominya yang ditandai adanya regulasi. Seperti ditulis sebuah artikel di The New York Times, 17 Juni lalu, para pejabat China menuduh Amerika hipokrit: mengajari mereka tentang ekonomi tapi pertumbuhan ekonomi negerinya sendiri stagnan. Sementara ekonomi China justru tumbuh sangat tinggi.

China mendamprat Amerika dalam skandal kredit perumahan (mortgage) yang menyeret dunia ke dalam krisis. Utusan China di World Trade Organization (WTO) mengecam Amerika karena tak bisa menahan kemerosotan nilai dollar yang memacu kenaikan harga minyak dan pangan dunia. Amerika dituduh bersikap bermusuhan dan diskriminatif karena menghambat perusahaan China membeli saham perusahaan Amerika yang goyah diguncang krisis.

Pendek kata, China berani mengatakan sistem ekonominya terbukti lebih baik dari Amerika Serikat. Karena itu pula mereka tak akan meniru sistem demokrasi Amerika Serikat. Liao Min, salah seorang pejabat perbankan China malah berkata kepada koran The Financial Times, Mei lalu, “Konsensus Barat dalam hubungan pasar dengan Pemerintah, harus dikaji-ulang.’’ Sesuatu yang sebenarnya sudah lama disuarakan para ahli ekonomi Amerika sendiri seperti Profesor Joseph Stiglitz atau Profesor Paul Krugman, para pengeritik kapitalisme atau neo-liberalisme.

Ketika terjadi gempa dahsyat di Provinsi Sichuan, mobilisasi tentara China terbukti sangat cepat ke daerah bencana. Bandingkan dengan loyonya Pemerintah Federal pimpinan Presiden Bush menghadapi serangan Badai Katrina, sehingga korban jatuh bertambah banyak.

Pendek kata Amerika sekarang memang payah. “Di mana saja di dunia, kredibilitas Amerika Serikat dan kredibilitas pasar uangnya sekarang nol (zero),’’ kata Joseph Stiglitz, Profesor Ekonomi dari Columbia University, seperti dikutip The New York Times tadi. Pemenang nobel ekonomi 2001 itu, sejak lama dikenal kritis kepada Amerika Serikat dan sering memuji ekonomi China.

Paul Krugman, Guru Besar Ekonomi Princeton University dan Kolomnis The New York Times, sering menyoroti sistem ekonomi Amerika yang katanya menyebabkan 0,01% orang terkaya bertambah kaya sementara yang lain stagnan atau bertambah miskin. Orang-orang kaya itu, begitu kayanya, sampai mampu ‘’membeli’’ partai politik.

Awal Juni lalu, sebuah sub-komisi di DPR Amerika Serikat melaporkan bahwa anti-Amerikanisme di dunia kini mencapai level tertinggi, terutama di negara Muslim dan Amerika Latin. Laporan itu dibuat berdasarkan sejumlah survei dan pendapat para ahli.

“Kekuatan militer kita tak dianggap jaminan keamanan, melainkan ancaman. Tak dianggap garansi stabilitas dan ketertiban tapi sumber intimidasi, kekerasan, dan penyiksaan,’’ kata Bill Delahunt, Ketua Sub-Komisi Organisasi Internasional, HAM dan Pengawasan, DPR.

Laporan itu menyebutkan bahwa semua terjadi karena Perang Iraq, dukungan Amerika kepada sejumlah rezim represif, sikap bias Amerika dalam konflik Israel-Palestina, serta penyiksaan dan kekerasan yang dilakukan kepada para tahanan (di Guantanamo dan sejumlah penjara rahasia).

Laporan itu juga menyimpulkan di dunia Islam tumbuh persepsi yang meyakinkan bahwa perang melawan teror telah digunakan Amerika Serikat untuk menghancurkan Islam. Semuanya memperluas dan memperdalam sikap anti-Amerikanisme (lihat artikel Alice Ritchie, AFP, 11 Juni 2008).

Di Timur Tengah wibawa Amerika sudah rontok. Perundingan Israel dengan kelompok Hamas terjadi dengan Mesir sebagai penengah. Sedang pertemuan Suriah dengan Israel berkat difasilitasi Turki. Amerika sudah ditinggalkan.

Meski demikian Pemerintah Indonesia tetap berkiblat ke Amerika. Para ekonom Presiden SBY adalah penganut sistem ekonomi neo-liberal: Budiono, Sri Mulyani, Marie Pangestu, Purnomo Yusgiantoro, dan beberapa yang lain.

Karena itulah harga BBM dinaikkan, sehingga pompa bensin milik kapitalisme global bisa bersaing bebas dan menghancurkan pompa bensin milik pribumi kita (lihat Laissez-Faire Pak SBY, Laissez-Faire, www.hidayatullah.com, 21 dan 22 Mei 2008).

Sekarang ladang minyak kita sebagian besar dikuasai perusahaan asing, terutama dari Amerika Serikat, seperti Exxon-Mobil, Shell-Penzoil, Total-Fina-Elf, BP-Amoco-Arco, dan Chevron-Texaco. Perusahaan itu dikabarkan menguasai lebih 70% ladang minyak dan gas Indonesia.

Presiden SBY menyingkirikan Pertamina, perusahaan milik sendiri, untuk memenangkan Exxon-Mobil, perusahaan Amerika, dalam menguasai proyek minyak dan gas yang amat menguntungkan di Blok Cepu. Wajar SBY menjadi teman dekat Presiden George Bush.

Wajar pula kalau dalam setiap demo anti-kenaikan BBM di mana saja, selalu ada poster menuntut penyitaan atau pengambil-alihan aset negara yang dikuasai asing. Pemerintahan SBY-JK dinilai sangat sukses melayani kepentingan asing di Indonesia, terutama Amerika Serikat.

Amerika Bentuk Densus 88

Selain ekonomi, Indonesia berkiblat ke Amerika dalam politik. Sistem pemilihan langsung yang kita lakukan sekarang meniru Amerika, dan itu biayanya amat-sangat mahal. Namun itu bisa terlaksana karena pemilihan Bupati, Gubernur, dan Presiden, berlangsung dalam sistem keuangan yang tertutup.

Mestinya, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) merekam telepon para calon Bupati sampai Presiden, beserta Tim Suksesnya, baru ketahuan dari mana sebenarnya dana politik itu berasal. Tapi KPK tak akan ke sana. Percayalah. Akibatnya sistem politik Indonesia terus dihidupi dengan cara-cara korupsi dan melawan hukum (baca Membuka Topeng Negara Gagal, www.hidayatullah.com, 17 dan 23 April 2008).

Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta tak segan menyampuri soal Ahmadiyah dan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang bentrok dengan kelompok FPI di Monas, 1 Juni 2008.

Campur tangan Kedubes Amerika merepotkan FPI, soalnya, Kepolisian selama ini mendapat dana bantuan dari Amerika Serikat. Menurut Majalah Far Eastern Economic Review (FEER), 13 November 2003, Pemerintah Amerika mengeluarkan dana 16 juta dollar (sekitar Rp 150 milyar) untuk membentuk dan melatih Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti-Teror Polri. Laporan yang sama ditulis Warta Kota, 12 November 2003, dan The Jakarta Post, 6 September 2004.

Menurut berita itu, detasemen khusus anti-teror difasilitasi berbagai peralatan dan persenjataan canggih. Malah guna mobilitas pasukan, detasemen dilengkapi Amerika dengan pesawat angkut khusus C-130.

Belum cukup. Congressional Research Service (CRS), lembaga riset Kongres Amerika Serikat, dalam laporan tahun 2005, menyebutkan secara terperinci dana yang dikeluarkan Pemerintahan Presiden Bush kepada polisi Indonesia dan pasukan anti-terornya.

Dari situ diketahui bahwa setiap tahun POLRI menerima bantuan dari Amerika Serikat, tahun 2004 sebesar US$ 5.778.000, tahun 2005, US$ 5.300.000, dan pada tahun 2006, sebesar US$ 5.300.000 (sekitar Rp 50 milyar).

There is no free-lunch. Tak ada makan siang yang gratis. Karena Kedubes Amerika Serikat memihak Ahmadiyah dan AKKBB, maka tokoh kelompok Front Pembela Islam (FPI) yang ditahan polisi seperti Habib Riziek Shihab, Munarman, dan kawan-kawan, memang mendapat masalah. Mereka tergolong kelompok anti-Amerika. Munarman adalah tokoh yang paling ngotot berkampanye mengusir proyek NAMRU-2 milik Angkatan Laut Amerika, dari Indonesia.

Independensi polisi dari pengaruh Kedubes Amerika Serikat menjadi tanda tanya besar. Misalnya, pengacara Mahendradatta dari Tim Pembela Muslim (TPM) mengherankan prioritas polisi dalam menangani peristiwa Monas. Kalau berdasarkan hukum, mestinya yang menjadi prioritas adalah pria berpistol yang menggunakan kostum AKKBB. ‘’Ancaman hukuman kasus senjata api itu seumur hidup, paling berat,’’ kata Mahendradatta.

Nyatanya walau kasus itu sudah dilaporkan FPI, polisi sampai sekarang belum menangkap pria berpistol. Polisi hanya sibuk menguber orang-orang FPI yang dituduh terlibat penganiayaan dengan ancaman hukuman hanya 5 tahun penjara, jauh lebih ringan dari urusan senjata api. Polisi sibuk mencari-cari pasal pidana agar bisa menangkap dan menahan Habib Riziek Shihab. [berlanjut.../www.hidayatullah]

Penulis adalah Direktur Institute for Policy Studies

Jun
24th

Mengapa Masa Depan Milik Islam? [2]

Files under | Leave a Comment
ar sburl9517 = window.location.href; var sbtitle9517 = document.title;var sbtitle9517=encodeURIComponent("Mengapa Masa Depan Milik Islam? [2]"); var sburl9517=decodeURI("http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=7095"); sburl9517=sburl9517.replace(/amp;/g, "");sburl9517=encodeURIComponent(sburl9517);

Majalah Maclean, menghadapi kasus hukum karena tulisan kebencian kepada Islam. Tapi di AS, menghina agama minoritas dilindungi konstitusi. Ini ditiru kaum liberal Indonesia. Mengapa polisi tak obyektif dalam kasus Monas? [tulisan kedua]

Oleh: Amran Nasution

ImageThere is no free-lunch. Sungguh sial nasib sebuah bangsa yang tergantung bantuan asing. Sejumlah anggota FPI yang diperiksa menolak menandatangani berita acara pemeriksaan (BAP) sebagai protes atas ketidak-adilan polisi. Sampai sekarang belum satu pun tokoh AKKBB yang menjadi tersangka. Padahal mereka dituduh melakukan provokasi.

Seharusnya DPR turun tangan mengawasi kasus ini. Ketidak-adilan polisi akan menyebabkan luka yang dalam pada bangsa ini – apalagi kalau benar itu disebabkan campur tangan Pemerintah Amerika Serikat.

Selebaran dan iklan di sejumlah koran yang berasal dari AKKBB tampaknya memang provokatif : semua yang tak setuju Ahmadiyah adalah mengabaikan konstitusi, memaksakan rencana mengubah Pancasila, pemecah-belah bangsa, dan membahayakan ke-Indonesiaan.

Artinya, mayoritas rakyat Indonesia yang tak bisa menerima Ahmadiyah, diberi stempel oleh AKKBB, yang tak lain dari kelompok liberal. Masalah ini sudah dilaporkan Habib Riziek tapi polisi belum bereaksi.

Di Amerika Serikat sendiri kaum minoritas seperti AKKBB, tak akan berani menyerang kelompok mayoritas. Malah sebaliknya, kaum minoritaslah yang selalu menjadi korban, apakah itu minoritas ras atau agama.

‘’Di Amerika Serikat, di bawah Amendemen pertama (the First Amendment) koran dan majalah bisa bilang apa saja yang mereka mau tentang group dan agama minoritas – sekali pun tak benar, provokatif, dan penuh kebencian – tanpa konsekuen hukum,’’ tulis Adam Liptak di dalam artikelnya di The New York Times, 12 Juni 2008.

Profesor Ilmu Hukum dari John F.Kennedy School of Government, Harvard University, Frederick Schauer, Februari tiga tahun lalu, menerbitkan essei berjudul: The Exceptional First Amendment . Di situ ditulisnya bahwa di banyak negara maju (terutama di Eropa), ejekan rasial, memperagakan atribut kebesaran Nazi, kebencian etnik, diskriminasi terhadap agama minoritas, diancam hukuman denda atau penjara. ‘’Tapi di Amerika Serikat, semua itu dilindungi konstitusi,’’ kata Profesor itu.

Awal bulan ini, artis seks zaman baheula, Brigitte Bardot, kini aktivis penyayang binatang, didenda pengadilan 23.000 dollar, karena menyerang penyembelihan domba yang dilakukan orang Islam di Perancis. Ia telah lima kali didenda karena kesalahan yang sama.

Di Austria, Sejarahwan Inggris David Irving, dihukum 3 tahun penjara karena menulis buku yang membantah holocaust, pembunuhan orang Yahudi oleh Nazi Jerman pada Perang Dunia II. Di Kanada, pada 1990, James Keegstra dihukum karena pernyataan anti-Semit. Kasus yang mirip ditemukan di Jerman.

Tapi di Amerika, Mahkamah Agung membebaskan Clarence Brandenburg, pemimpin Ku Klux Klan (KKK) Ohio pada 1969. Ia diadili karena memimpin demo bertema: mengusir pulang orang Yahudi ke Israel, dan menguburkan orang kulit hitam.

Kelompok sosialisme nasional dipimpin Frank Collin berbaris dengan uniform Nazi lengkap dengan lambang Swastika, melintasi perkampungan Yahudi di Skokie, Illinois, dan Marquette Park di Chicago pada 1977. Selebaran yang mereka bagikan: ‘’Mati untuk Yahudi.’’

Minoritas Muslim betul-betul tak tertolong, terutama setelah serangan teror 11 September 2001. Para tokoh Kristen Evangelical seperti Pat Robertson dan Jarry Palwel (meninggal tahun lalu) berkali-kali berpidato menyerang Islam dan Muslim, malah berteriak-teriak menyuruh mengebom Mekkah.

Presiden Bush berkali-kali menyebut Islamic-fascism (fasisme Islam) dalam pidato. Tulisan para kolumnis neo-konservatif – termasuk di koran terkemuka – selalu menyerang dan mengejek Islam dan Muslim.

Mereka Gunakan Jargon Presiden Bush

Sekarang, majalah terkemuka di Kanada, The Maclean, sedang bermasalah karena memuat laporan utama berjudul “Why The Future Belongs to Islam’’ (Mengapa Masa Depan Milik Islam). Majalah itu akan dibawa ke pengadilan atas pengaduan masyarakat Muslim setempat. Ia dianggap menebarkan kebencian kepada Islam. Antara lain, ditulis: Islam mengancam nilai-nilai Barat. Angka pertambahan penduduknya tinggi menyebabkan Islam akan menguasai Eropa.

Laporan itu ditulis Mark Steyn, penulis konservatif kelahiran Kanada, kini menetap di New Hampshire, Amerika, disarikan dari bukunya, America Alone, yang pernah menjadi buku terlaris di The New York Times Books, beberapa tahun lalu. Orang Islam di Amerika tak bisa mempersoalkan America Alone. Penulis dan penerbitnya dilindungi Amendemen Pertama.

Mark Steyn sendiri cukup beken di Amerika sebagai penulis penghasut perang. Di bulan Mei 2004, ia menulis artikel menuduh koran The Daily Mirror dan The Boston Globe memuat foto palsu tentara Inggris dan Amerika menyiksa orang Iraq. Foto itu, katanya, untuk menjelek-jelekkan Presiden Bush. Tulisannya menimbulkan reaksi dari koran yang ia tuduh. Ramai jadinya. Tapi Steyn tak peduli. Ia pernah ribut dengan Andrew Jaspan dari koran Australia, The Age, karena soal yang mirip.

Untuk Anda ketahui Mark Steyn-lah yang menulis kolom di Chicago Sun-Times, Januari 2007, mengatakan bahwa kandidat calon Presiden dari Partai Demokrat, Barack Obama, seorang Muslim. Obama, tulisnya, belajar di sebuah madrasah di Jakarta, dipimpin seorang imam radikal. Guna menambah seru cerita, Steyn menyebutkan bahwa tim Hillary Clinton, saingan Obama, telah memperoleh bocoran informasi itu.

Tapi dua hari kemudian, Chicago Sun-Times terpaksa mengoreksi tulisan Mark Steyn yang mereka sebut telah mencemarkan Obama dan menyerang Hillary Clinton. Lynn Sweet, mewakili koran itu, mengatakan bahwa tak ada bukti Hillary Clinton berkampanye dengan menyebarkan isu seolah-olah Obama menyembunyikan keislamannya.

Ia tambahkan bahwa John Vause dari CNN telah mengunjungi sebuah sekolah SD Negeri di Jakarta, tempat Obama belajar dari 1969 sampai 1971. Sebuah SD Negeri tentu beda dengan madrasah yang ditulis Mark Steyn. Terbongkar belangnya, Mark Steyn bersikap masa bodoh. Mungkin karena Obama yang diserangnya seorang minoritas kulit hitam.

Sikap seperti itulah yang dianut orang liberal di Indonesia. Hanya berbeda dengan Amerika yang menyerang kelompok atau agama Katolik, Mormon, Yahudi, dan belakangan terutama Islam, di sini yang diserang adalah kelompok mayoritas Islam. Mereka gunakan jargon perang melawan teror Presiden Bush: Islam radikal, Islam ekstrim, dan semacamnya.

Patrick Buchanan, intelektual dan penulis konservatif terkemuka, menulis di Real Clear Politics.Com, 17 Juni 2008, dengan judul “Return of the Censors’’ (Kembalinya Sensor). Tokoh yang pernah dua kali menjadi kandidat calon Presiden Amerika Serikat itu, menulis bahwa sebenarnya banyak orang yang setuju diperlukan semacam lembaga sensor.

Banyak yang percaya bahwa menerbitkan atau mengucapkan kebohongan, merusak nama baik, harus dihukum, dan bahwa ada sejumlah rahasia militer yang harus dijaga. Tak banyak orang yang percaya bahwa Hollywood bisa melindungi masyarakat dari polusi berbahaya yang meracuni anak-anak.

Sejarah Amerika bukan tak mengenal sensor. Presiden John Adam menandatangani undang-undang yang memenjarakan wartawan yang menulis berita fitnah. Abraham Lincoln, menekan koran yang menolak perangnya untuk memerdekaan budak. Sementara Woodrow Wilson memenjarakan Eugene Debs, seorang sosialis ,yang menolak perang.

Maka Patrick Buchanan, penulis buku Day of Reckoning, yang menggambarkan bobroknya Amerika sekarang dan meramalkannya akan terpecah-pecah, menyimpulkan apa yang terjadi di Kanada atau Eropa dalam soal kebebasan akan menyebar, termasuk ke Amerika Serikat. ‘’Ortodoksi baru sedang tumbuh,’’ tulisnya. [kedua habis/www.hidayatullah.com]

* Penulis adalah Direktur Institute for Policy Studies

Jun
23rd

Quo Vadis Amien Rais (Umat Islam Niscaya Tidak akan Mendukungmu Lagi !!!)


Ditulis Oleh : Ahmad Sumargono, S.E, M.M

(Deklarator Partai Bulan Bintang, Ketua GPMI, Kandidat Doktor Ilmu Pemerintahan UNPAD)

Pernyataaan Amien Rais dalam wawancara dengan majalah Tempo 4 Mei 2008 bertajuk : Ahmadiyah Punya Hak Hidup untuk kesekian kalinya membuat saya terperangah. Dengan semangat membela Ahmadiyah Amien Rais berkata, “Saya mencium ada kelompok siluman yang melakukan semacam operasi intelejen untuk memeperkeruh suasana, menghancurkan ketenangan masyarakat.” Tuduhan itu bukan alang kepalang daya pressurenya, karena di ketahui bersama bahwa komponen umat Islam terbesar, atau Islam mainstream di negeri ini inilah yang justru berada di balik protes-protes keras pembubaran Ahmadiyah. Wabil khusus tentu saja MUI ( Majelis Ulama Indonesia) yang telah dua kali mengeluarkan fatwa tegas bahwa Ahmadiyah adalah aliran sesat dan menyesatkan.

Amien Rais menyetarakan protes-protes Ahmadiyah itu dengan konflik Islam-Kristen di Ambon . kata Amien Rais , “Sebelumnya tidak pernah ada konflik Islam-Kristen di sana, tiba-tiba muncul.” Amien Rais sama sekali tidak menyebutkan akar masalah inti konflik horizontal Islam-Kristen di Ambon itu, jelas-jelas terjadi karena di mulai pertamakali dengan peristiwa penyerangan pihak Kristen terhadap kelompok Islam. Umat Islam yang baru saja merayakan Idul Fitri tiba-tiba saja di serang, di serbu, di bantai secara membabi buta. Ketika konflik berlarut-larut, umat Islam makin tersudut dan terus menerus di bantai, datanglah bala bantuan dari Laskar Jihad pimpinan Ust Jafar Umar Thalib. Posisi pun berubah, umat Islam bahkan banyak memenangkan peperangan dalam berbagai front yang ada di Ambon dan sekitarnya.

Dalam posisi umat Islam di atas angin, Amien Rais sepulang dari kunjungan ke AS (1999), tiba-tiba membuat pernyataan yang amat mengejutkan, yakni : Mengundang Pasukan asing semacam Pasukan Perdamaian PBB agar masuk ke Ambon. Ide ketua Muhammadiyah ( ketika itu) sungguh aneh. Pulang dari Amerika Serikat mendadak sontak mempunyai pemikiran yang sarat anasir aspirasi di luar Islam. Bisa di bayangkan jika benar-benar pasukan asing didatangkan ke Ambon, bisa jadi sampai hari ini konflik di Ambon akan terus berkobar.

Sikap Amien Rais yang sering kontroversial dalam setiap pernyataannya itu memang sangat menarik perhatian pers juga publik yang membacanya. Tulisan-tulisan Amien Rais yang merinci masalah Tambang di Busang juga Freeport, (1997) di elu-elukan masyarakat khususnya Islam. Dengan angka-angka yang amat gamblang Amien Rais membongkar ketidakadilan kontrak karya di Busang dan Freeport. Amien Rais menyebutkan lokasi tambang emas Freeport kini menjadi kubangan raksasa berupa danau. Seluruh isinya, gunung emas sudah pindah ke Amerika Serikat. Sikap kritis Amien Rais yang pro rakyat dan sebaliknya dengan berani menghantam rezim Soeharto, telah melambungkan nama Amien Rais menjadi pahlawan baru. Saya sendiri sejak awal sangat bersahabat dan bersimpati kepada Amien Rais karena itu ketika Amien Rais semakin melambung namanya karena sikap kritisnya kepada rezim Soeharto, hal ini telah membuat rezim Soeharto berang dan dan merekayasa agar Amien Rais di copot jabatannya sebagai Ketua Dewan Pakar ICMI.Habibie pun ikut menekan agar Amien Rais mundur. Di sini, saya membela posisi Amien Rais dan menulis duduk masalahnya secara gamblang di harian KOMPAS, “Amien Rais dan masa depan ICMI” ( KOMPAS 24 Februari 1997). Tetapi bersamaan dengan waktu yang terus berjalan dengan jatuhnya rezim Soeharto, sepak terjang Amien Rais terus bermunculan yang “aneh” buat saya. Karena sikapnya dalam konflik Islam-Kristen di Ambon, ingin mendatangkan pasukan asing , semacam Pasukan Perdamaian PBB itu. Adian Husaini menulis buku berjudul : Amien Rais dan Amerika Serikat, yang sarat kritik pedas. Buku yang amat gamblang membedah penampilan Amien Rais yang justru konsisten “mengabdi” kepada kepentingan asing, hal ini tidak pernah di jawab oleh Amien Rais.

Sikap Amien Rais di hari-hari “musim semi” umat Islam membentuk partai politik Islam pasca lengsernya Presiden Soeharto, sekitar Juni-Juli 1998, kembali pilihan dan sikap Amien Rais menjadi tanda tanya besar buat saya. Ketika itu saya dan tokoh-tokoh Islam lainnya sibuk pula mempersiapkan partai Islam penerus Masyumi yang kemudian menjadi partai Bulan Bintang sekarang. Sususnan pengurus DPP (sementara) sudah sepakat di tentukan melalui rapat-rapat di kediaman Bapak HM Cholil Badawi dan DR. Anwar Haryono SH. Di Ketua umum pun di se pakati akan duduk Yusril Ihza Mahendra. Namun tatkala Amien Rais bertandang kerumah Pak Anwar Haryono, Juli 1998 di tawarkanlah agar Amien Rais mau duduk sebagai Ketua Umum Partai Bulan Bintang. Amien Rais pun dengan mantap menyanggupi tawaran itu, Sdr Yusril pun ( saat itu sedang berada di Banyuwangi Jawa Timur) langsung di telepon dan siap posisinya di gantikan Amien Rais dan Yusril duduk sebagai Sekjen. Adegan mengharukan pun tercipta. Semua yang hadir larut dalam tangis dan saling peluk, di mana Amien Rais pun memeluk dan di peluk Anwar Haryono yang hanya bisa duduk di kursi roda karena mengidap stroke. Semua orang menjadi lega terutama Anwar Haryono yang di kenal sebagai juru bicara Masyumi setelah partai ini di paksa bubar oleh rezim Soekarno pada tahun 1960. Acara di tutup dengan doa bersama untuk kesukesan partai penerus Masyumi itu. Selanjutnya Amien Rais pun pamit segera pulang karena hari itu adalah hari Jumat dan harus segera pulang melaksanakan sholat Jumat di kantor pusat PP Muhammadiyah di Menteng Raya 62 Jakarta.Kejadian yang amat dramatis itu terjadi hanya beberapa jam saja setelah adegan pelukan -pelukan yang mengaharukan di rumah Bapak Anwar Haryono. Amien Rais tiba-tiba muncul di layar televise seusai sholat Jumat di kantor PP Muhammadiyah. Ketika wartawan menanyakan, apakah Pak Amien Rais mantap akan memimpin partai Bulan Bintang, Amien Rais menjawab, “ Saya akan mendirikan partai lain yang lebih terbuka . Bagi saya partai seperti Partai Bulan Bintang ibarat baju akan “kesesakan” jika saya “pakai”, pernyataan ini kini di catat sejarah menjadi pendirian seorang Amien Rais. Ia kemudian memprakarsai berdirinya PAN (Partai Amanat Nasional) bersama-sama Goenawan Mohammad , Albert Hasibuan dll. Platform partai pun di kabarkan di siapkan orang-orang Goenawan Mohammad, walau bos Kelompok Tempo ini tak lama setelah PAN berdiri justru meninggalkan PAN.

Bela Ahmadiyah

kembali ke pernyataan Amien Rais soal Ahmadiyah di awal artikel ini. Seharusnya saya tidak perlu terkejut karena sudah memiliki catatan historis tentang Amien Rais. Komentarnya terhadap FUI (Forum Umat Islam) memang menyakitkan. FUI di tuduh sebagai organisasi siluman. Padahal FUI ini merupakan gabungan lebih dari 50 ormas Islam termasuk Muhammadiyah berada di dalamnya. Saya tahu bahwa Amien Rais tahu persis personel di tubuh FUI yang tak lain adalah justru para sahabatnya sendiri yang pada tahun 2004 lalu justru mendukungnya maju sebagai Capres.

Di tengah keraguan dan track record Amien Rais yang kelabu itu, toh Amien Rais tetap di jagokan seluruh Komponen politik Islam, PKS juga tokoh-tokoh Islam, misalnya KH. Abdul Rasyid Abdullah Syafii (Tokoh ulama Betawi kharismatik yang kini menjadi pimpinan FUI). Walau demikian menjadi gamblang pula, potret Amien Rais yang hari ini bisa tampak sangat melawan Amerika Serikat, namun nanti sore dia sangat membela kepentingan Paman Sam. Kata ungkapan Jawa: “Isuk Dele Sore Tempe” (Pagi masih berupa Kedelai dan sore hari sudah berubah menjadi tempe).

Saya teringat pada sebuah diskusi di Universitas Trisakti awal 1980-an sepulang Amien Rais dan Nurcholis Madjid dari studi di Chicago University. Sikap Nurcholis Madjid yang cenderung ingin mencari selamat itu di sindir Amien Rais dengan menyitir anekdot Kyai, Ular dan Kodok. Cerita Amien Rais di sambut dengan gelak tawa yang meledak. Karena sikap kyai yang sangat plin plan itu di lekatkan ke tubuh Nurcholis Madjid dengan sangat jitu. Kini saya bisa memastikan bahwa sikap kyai seperti itu ternyata juga melekat di tubuh Amien Rais.

Sebagai mubaligh yang hampir setiap hari menghampiri umat dan masyarakat luas di tingkat grass roots, saya kini acapkali di sergap pertanyaan jamaah yang awam “Bagaimana kabar pak Amien Rais? Menurut rakyat awam, kehancuran bangsa Indonesia saat ini mutlak menjadi tanggung jawab Amien Rais. Sikapnya yang jelas-jelas plin plan dan tidak konsisten bahkan membawakan agenda asing (seperti sikapnya mengenai masalah Ahmadiyah) kini terbuka dengan senyata-nyatanya. Kini menjadi pertanyaan besar :

Ada Apa sebenarnya Amien Rais dengan Ahmadiyah?

Sebuah dokumen awal reformasi niscaya bisa membantu kita. Amien Rais saat menjabat sebagai ketua MPR-RI, pada 22 April 2000 pernah menerima kunjungan Kholifah Ahmadiyah Mirza Thahir Ahmad. Kunjungan pemimpin Ahmadiyah ini di atur oleh Dawam Raharjo, dalam kapasitas sebagai salah-satu pimpinan Muhammadiyah. Mirza Thahir sempat berkunjung ke berbagai kota di Jawa dan mengumumkan pencanangan Indonesia (menjadi) Pusat Ahmadiyah di dunia. Di Yogya Mirza juga mengumumkan hendak membuka Perkampungan Islam Internasional degan lahan seluas 500 hektar bekerjasama dengan Sri Sultan Hamengkubuwono. Ketika itu, foto Amien Rais saat menerima kunjungan cicit Mirza Ghulam Ahmad ini di muat hampir seluruh media massa baik cetak dan elektronik. Kunjungan ini pun sempat di protes oleh kelompok Khatamunnubuwwah dari Pakistan yang sengaja mengirimkan 50 orang utusannya ke Indonesia untuk memprotes PP Muhammadiyah yang telah menjalin kerjasama dengan Ahmadiyah/ Mirza Thahir Ahmad. Dari balik cerita ini bisa di duga mengapa Amien Rais begitu membela Ahmadiyah.

Quo Vadis Amien Rais. (Umat Islam Niscaya Tidak akan Mendukungmu Lagi !!!).

Wallahu’alam bissawab.

‘(Sumber : Tabloid Suara Islam, Juni 2008)’

Jun
21st

Musim Training & Kursus di Sumut Telah Tiba

Files under , Training | Leave a Comment
Assalamualaikum Wr Wb.

Segala puji bagi allah tuhan semesta alam yang telah memeberikan kita rahmad hidayah serta inayahnya, sehingga kita senantiasa selalu memperjuangkan izzul islam wal muslimin sebagai mana yang telah diselenggarakannya kegiatan-kegiatan Pengkaderan yang dilakukan oleh Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia (PII) khususnya di Bidang Kaderisasi dengan mengadakan Pentrainingan Di Daerah yang ada di SUMUT, Insaya Allah.


Selawat berangkaikan salam mari sama-sama kita sampaikan kepada nabi muhammad SAW, yang telam membawa kita dari jaman yang gelab gulita menjadi jaman yang terang benerang.

Pengurus wilayah Pelajar Islam Indonesia (PII) sumatera utara mulai pada tanggal 21 juni telah melaksanakan pentrainingan bekerja sama dengan pengurus daerah yang ada di sumut, adapun daerah yang mengadakan pentaraininga dan kursus sebagai berikut :
  1. Pengurus Daerah Pelajar Islam Indonesia (PII) Serdang Bedagai mengadakan Latihan Manajemen Dasar (LMD) pada tanggal 21 s/d 23 juni 2008 dan dilanjutkan Basic Training (BATRA) pada tanggal 03 s/d 09 Juli 2008
  2. Pengurus Daerah Pelajar Islam Indonesia (PII) Pematang Siantar mengadakan Basic Training Pada tanggal 22 s/d 27 Juni 2008
  3. Pengurus Daerah Pelajar Islam Indonesia (PII) Deli Serdang mengadakan Basic Training (BATRA) pada tanggal 03 s/d 09 Juli 2008 dan dilanjutkan dengan Latihan Manajemen Dasar (LMD) pada tanggal 09 s/d 11 Juli 2008
  4. Pengurus Daerah Pelajar Islam Indonesia (PII) Binjai mengadakan Basic Training (BATRA) pada tanggal 02 s/d 08 Juli 2008
Dengan harapan seluruh kegiatan yang telah diselenggaraka PW PII SUMUT dapat berjalan dengan baik sehingga dapat melahirkan kader-kader muslim cendekia pemimpin, yang dapat memperjuangkan Izzul Islam Wal Muslimin dan terwujudnya tujuan PII yaitu Kesempurnaan pendidikan dan kebudayaan yang sesuai dengan Islam, yang dapat memberi perubahan di negara kita ini khususnya di kalangan Pelajar.

Wallahu a’lam bish shawab.




ccfileMalikSek
Jun
20th

Selamat Berjuang Sahabatku…!

Files under | Leave a Comment
SAHABATKU…
TERUSLAH BERJUANG DENGAN IKHLAS

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan sifat ikhlas, sabar, dan optimis kepada Da’i-Nya, sehingga dengan sifat inilah mereka mencapai ketinggian iman serta menyatukan diri dengan Islam dan terus melangkah menuju tujuannya.
Sahabatku…

Masihkah Tujuan Dakwah ini terjaga?
Hati yang bersih akan melahirkan keihklasan. Satu upya batin yang hanya dengannya Allah akan menerima sebuah amalan. Hati yang bersihlah yang akan melahirkan pribadi-pribadi yang ikhlas. Pribadi yang hanya mengharapkan Ridha Allah sebagai imbalan atas ibadahnya.
Sahabat-sahabatku yang memiliki militansi yang tinggi.
Hidup adalah pilihan-pilihan. Dan pilihan melaksanakan amanah adalah konsekuensi sebagai Da’i. Oleh karenanya sandaran yang paling baik adalah Allah, teman yang paling baik adalah orang-orang yang sholeh. Maka kuatkan hubungan dengan Allah dan tingkatkan ukhuwah Islamiyah niscaya kita akan sukses melaksanakan amanah itu, sebesar apapun.
Marilah kita melaksanakan amanah yang diberikan Allah kepada kita dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan.
Marilah kita melaksanakan yang diberikan PII kepada kita dengan penuh kesabaran dan lapang dada.
Marilah kita melaksanakan amanah Ummat ini dengan keseriusan dan tanggung jawab.

Sahabatku yang disayangi Allah…
Ketahuilah sesungguhnya banyak sekali lading-ladang dakwah yang membutuhkan peran, kontribusi dari sahabat-sahabat sekalian. Maka bekerjalah dengan sungguh-sungguh, dengan optimal, jangan setengah-setengah dalam melangkah. Hadapilah segala sesuatu dengan kesabaran, keikhlasan, hindari berkeluh kesah dengan apa yang terjadi, karena pada hakikatnya itu adalah ujian yang Allah berikan kepada Da’i-Nya. Di sini sesungguhnya Allah akan melihat apakah kita Ikhlas atau tidak dalam menjalankan Amanah.

Wahai sahabatku yang kucintai karena Allah…
Berbahagilah selalu, karena Allah telah memilih kita untuk mengemban Amanah ini, menjadi pewaris Nabi, menjadi unsure Perubah di muka Bumi. Semoga kita akan selalu menjadi orang-orang yang beruntung dan hamba yang pandai bersyukur. Amin…

Hamba Allah
Jun
18th

Selamat Datang Pemimpin Baru

Files under | Leave a Comment
Hari Senin (16/6) ini masyarakat Sumatera Utara akan menyambut kedatangan Gubernur baru yang terpilih melalui Pilkada 2008. Ya, Syamsul Arifin yang telah berhasil memenangkan hati rakyat Sumut untuk memilihnya.

Sebagai pengaemban amanat rakyat, Syamsul Arifin tentunya akan menghadapi tantangan yang sangat besar dan tidak mudah. Sekali lagi tidak mudah. Dalam rentang waktu lima tahun ke depan begitu banyak persoalan yang harus dihadapi mengingat kondisi Sumut yang harus bergegas bangkit dari keterpurukan. Sumut tidak saja harus bangkit sepadan dengan provinsi-provinsi yang ada di Sumatera atau di Indonesia, tetapi Sumut juga harus bangkit sepadan dengan kawasan regional lainnya seperti Singapura ataupun Penang, mengingat posisinya yang berdekatan.

Dalam waktu yang relatif singkat, (lima tahun) Syamsul Arifin harus mampu membuktikan kredibilitasnya sebagai pemimpin yang tangguh dan efektif, manakala secara 'dramatis' mampu mengalahkan lawan-lawannya dalam Pilkada yang lalu, sehingga dengan visi-misi yang sekilas tampak sederhana, namun memunculkan konsekuensi kebijakan yang sangat kompleks dan mungkin sulit untuk dicapai. Manifestasi 'rakyat jangan lapar, jangan bodoh, jangan sakit dan rakyat punya masa depan', adalah konsep pembangunan yang sangat ideal dan menyeluruh.

Rakyat jangan lapar, harus diwujudkan dalam bentuk kebijakan pengentasan kemiskinan, di mana berdasarkan program BLT tahun ini, jumlah rakyat miskin di Sumut semakin meningkat. Pada tahun 2004 saja penduduk miskin Sumatera Utara mencapai 1,80 juta dari sekitar 11 juta jiwa. Rakyat bukan sekadar bisa makan tiga kali sehari, tetapi gizinya juga harus cukup, sehingga konsekuensinya rakyat harus memiliki pekerjaan dan pendapatan yang layak.

Penyediaan lapangan kerja dan kebijakan bidang pertanian harus mampu diaplikasikan dan mampu menciptakan swasembada.

Rakyat jangan bodoh, menimbulkan konsekuensi peningkatan infrastruktur sekolah yang memadai manakala banyak sekolah yang tidak layak dijadikan tempat belajar. Pekerjaan ini semakin sulit mengingat pendidikan tidak saja persoalan infrastruktur, tetapi persoalan mutunya juga menjadi persoalan penting. Pelayanan terhadap kesejahteraan guru juga merupakan pekerjaan yang membutuhkan penanganan serius dan cepat.

Rakyat jangan sakit, memiliki makna yang sangat luas. Jaminan terhadap faktor kesehatan masyarakat umumnya telah dilakukan oleh kabupaten/kota dengan kebijakan berobat gratis, untuk itu peningkatan pelayanan kesehatan menjadi faktor lanjutan dengan mengoptimalkan peran Puskesmas dengan perangkat-perangkat yang lebih modern, sehingga pandangan bahwa Puskesmas merupakan alternatif terakhir untuk mendapatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat marginal, pelan-pelan dapat dihapuskan. Memberdayakan Posyandu juga merupakan faktor penting, sebagai garda terdepan dalam pelayanan kesehatan sekaligus sebagai alat untuk mendeteksi penyakit-penyakit menular yang berkembang.

Peletakan dasar kebijakan yang melayani kepentingan masyarakat di bidang pendidikan, kesehatan, dan perekonomian mandiri harus segera ditancapkan, di samping itu Syamsul Arifin harus bisa menjadi pemimpin yang efektif guna mengawal setiap tahapan menuju Sumatera Utara yang adil dan sejahtera.

Kinerja kepemimpinan Syamsul Arifin harus mencerminkan visi-misi yang pernah diucapkan kepada masyarakat dalam bentuk aksi dan solusi bagi banyak persoalan/agenda terutama kebijakan penanggulangan kemiskinan, mutu pendidikan yang tak boleh dikompromikan, investasi yang terbuka dan berkeadilan, pelayanan kesehatan yang berkualitas. Selain itu, kebijakan-kebijakan populis dan positif yang pernah diimplementasikan oleh gubernur sebelumnya juga perlu untuk diteruskan seperti misalnya kebijakan good governance dan clean governance ala Rizal Nurdin (almarhum).

Setidaknya dalam satu tahun pertama kepemimpinan Syamsul Arifin, ada barometer yang jelas yang dapat diukur tentang kinerja Gubernur Sumatera Utara. Berawal dari agenda ini memang sebagai pemimpin, Syamsul Arifin harus senantiasa didukung dan dibantu, baik secara teknis maupun secara politis. Sumatera Utara sesungguhnya adalah hamparan provinsi di mana teritorialnya dikuasai oleh 'raja-raja' kecil dalam manifestasi bupati dan walikota. Akan sangat sulit mensinkronkan kesepahaman kebijakan dari seluruh bupati dan walikota, manakala semangat otonomi daerah semakin mengecilkan peran peran gubernur.

Bahkan, seorang Rizal Nurdin yang memiliki latar belakang militer dan berpengalaman teritorial, sangat sulit melakukan koordinasi antarkepala daerah.

Syamsul Arifin tentu pernah merasakan jadi bupati di mana tidak sedikit kebijakan gubernur pada masa lalu juga belum tentu sepaham dengannya ketika memimpin kabupaten Langkat. Namun begitu, dengan karakter Syamsul Arifin yang merakyat, bergaul, sahabat semua suku kita optimis beliau mampu melakukan komunikasi politik, sehingga hambatan struktural dalam birokrasi antara provinsi dengan kabupaten/kota dapat diatasi. Pola 'dua minggu di kantor, dua minggu di daerah' tampaknya konsep yang sangat ideal agar dapat dimanfaatkan untuk menjalin kerjasama yang baik dengan pimpinan di daerah.

Selain itu, hambatan politis juga merupakan pekerjaan rumah yang cukup berat, mengingat menangnya Syamsul Arifin hanya didukung partai-partai yang relatif kurang besar (PPP, PKS dan lain-lain), sehingga resistensi dari partai seperti Golkar, PDIP dan Demokrat misalnya, harus dapat diantisipasi sehingga menjadi bauran dinamika politik yang dinamis untuk membangun Sumatera Utara.
Jun
18th

Tiga Mimpi

Files under | 5 Comments
Dalam hidupku, ada 3 mimpi yang tidak akan pernah saya lupakan. Ini mimpi dalam arti yang sesungguhnya, mimpi yang datang saat saya sedang tidur, bukan dalam artian harapan.

Mimpi pertama, adalah mimpi tentang nilai Ebtanas (evaluasi belajar tahap akhir nasional). Saat itu aku sedang di tempat tumpangan, di rumah tanteku di Poncol, Senen, Jakarta Pusat. Malam itu aku ingin sekali pulang ke Bumiayu untuk melihat pengumuman kelulusan SMA. Tapi kondisi memaksaku untuk tidak pulang. Aku tidak punya uang buat pulang balik Jakarta-Bumiayu. Padahal, ingin sekali aku tahu hasil ujianku.

Setelah shalat malam, aku berdoa kepada Allah untuk diberi perkabaran lewat mimpi tentang nilai ujianku. Menjelang subuh aku terbangun. Terbayang mimpi yang baru saja aku alami. Aku bermimpi bertemu guru matematika, Pak Asrori. Dia menyalamiku sambil mengucapkan, "Nilaimu sangat bagus tapi ada 1 yang merah".

Beberapa hari kemudian, saat aku akhirnya balik ke Bumiayu untuk mengambil STTB (surat tanda tamat belajar) atau ijasah, aku lihat nilai-nilaiku. Semua di atas 7 angkanya. Saat aku lihat Nilai Ebtanas Murni (NEM), kulihat angka 9 untuk Matematika dan Fisika, angka 7 untuk Bhs Indonesia, Bhs Inggris, dan Kimia, serta 5 untuk pelajaran Biologi. Ternyata benar apa yang telah dikabarkan lewat mimpi tempo hari. Ada 1 pelajaran yang nilainya merah. Merah adalah sebutan untuk nilai 5 ke bawah.

Mimpi kedua adalah mimpi yang sudah aku ceritakan sebelumnya lewat tulisan di blog ini dengan judul Mimpi Jadi Kenyataan. Silahkan klik judul tersebut untuk membaca ceritanya.

Mimpi ketiga, adalah saat aku kuliah di the University of Arizona at Tucson. Aku mimpi bertemu Rasulullah, manusia agung yang kehadirannya sekedar lewat mimpi ditunggu-tunggu dengan penuh harap oleh jutaan muslim di seluruh dunia. Ya, believe it nor not, aku bermimpi melihat junjungan kaum muslimin itu.

Ceritanya, dalam mimpi itu aku sedang bermain bola di tengah lapangan yang sangat luas. Lapangan itu berada di tengah gedung-gedung bertingkat. Saat bola melambung mendekatiku dan aku hendak menendang, kudengar adzan dhuhur, lalu sebuah tangan menangkap bola itu sebelum aku sempat menendangnya. Aku langsung menengadah, kulihat orang tersebut. Subhanallah, dia Rasulullah saw. Itulah yang aku yakini dalam mimpi itu.

Dengan lembut manusia yang penuh kemuliaan itu menyeru, "Berhentilah bermain bola, segera kerjakan shalat." Setengah tidak percaya aku sedang bertemu Rasulullah, aku berusaha melihat wajahnya dari jarak yang sangat dekat. Ketika jarak sudah sangat dekat aku terbangun.

Itulah 3 mimpi yang rasanya akan sulit hilang dari memoriku.
Jun
18th

Seminar Business Creativity

Files under , Business | Leave a Comment

Baru pulang dari Seminar bertemakan “Business Creativity” di gedung SPC Jl. Gatot Subroto Jaksel, dengan keynote speaker Pak Ikhwan Asrin (Deputi Bid. Pemasaran dan Jaringan Usaha Kementerian Negara Koperasi dan UKM) dan Pak M Taufiq (Staff Ahli Kemenkop & UKM Bid. Pengembangan Usaha dan Kewirausahaan.

Acara tadi dimulai pagi jam 8.30 dengan pembicara Pak Handito Joewono (President Arrbey) dan Pak Tung Desem Waringin (Motivator).

Pak Taufik menyampaikan tentang Getuknas (Gerakan Kewirausahaan Nasional) lucu juga istilahnya hehehe…beliau mengungkapkan fakta kependudukan di Indonesia 224,3 juta jiwa (BPS 2007) 100 %, Jumlah angkatan kerja 108,1 juta jiwa (48,2%), Jumlah Pekerja 97,5 juta jiwa, pengangguran 10,5 juta, penduduk miskin 37,1 juta jiwa.

dan fakta membuktikan bahwa semakin tinggi pendidikan, makin rendah kemandirian dan semangat kewirausahaannya, itu terbukti dengan lulusan Perguruan Tinggi 83,18 % menjadi Buruh/karyawan.

Para pengangguran terdidik umumnya : tidak punya NYALI dan tidak punya INISIATIF untuk BERBISNIS. fantastis sekali…

Kalo presentasi Pak Handito yang dapat saya simpulkan adalah : Karakteristik orang yang mempunyai “jiwa bisnis” dirangkum dalam “7n1″ Karakter Pebisnis baru.
1. Kreatif Spontan
2. Intuisi
3. Berani Bermain Resiko
4. ‘Melanggar’ Aturan Main
5. Serba Bisa
6. Pengendalian Konflik
7. Tidak Cepat Puas
n. Pantang Mundur

dan 5 Strategi untuk memulai bisnis baru
1. mulai dari apa yang kita sukai
2. mudah dibuat
3. bisa ‘makan rutin’
4. pasar lumayan (good market)
5. Jangan terlalu lama (Not to loong).

sesi teraktir dari Pak Tung Desem Waringin seorang motivator pembuat buku yang best seller tentang Marketing Revolution. sebuah motivator yang ulung dalam ide kreatif nya dalam dunia marketing salah satu yang paling heboh dibuatnya yaitu hujan duit 100 juta… memang edan nih orang.

semua orang di peserta jadi termotivasi dari penyampaiannya dan memang masuk akal…

capek ah.. mo pulang ke kost.