Oleh Ajip Rosidi
Dr. Deliar Noer (meninggal 17 Juni 2008) pernah menjadi Rektor IKIP Jakarta selama lebih dari 7 tahun, tetapi dipecat ketika hendak membacakan pidato pengukuhannya sebagai guru besar Juni 1974.
Padahal, masa jabatan Deliar Noer yang kedua (terakhir) hanya tinggal beberapa bulan lagi. Isi pidato pengukuhannya dianggap Menteri P dan K Mayjen Prof. Dr. Sjarif Thayeb sebagai menghasut, mungkin karena takut terjadi kerusuhan seperti Malari yang berlangsung beberapa bulan sebelumnya.
Keterangan Deliar bahwa pidato yang berjudul "Partisipasi dalam Pembangunan" itu, disusun secara ilmiah sesuai dengan kebebasan mimbar dan otonomi perguruan tinggi, tidak digubris Menteri. Sebelumnya, tak lama setelah peristiwa Malari, Deliar sempat mengemukakan pendapat yang berbeda dengan kebijaksanaan pemerintah Orde Baru dalam menghadapi gerakan mahasiswa, dimuat dalam Harian Kami.
Yang ironis ialah bahwa kira-kira sepuluh tahun sebelumnya, Deliar dilarang mengajar di Universitas Sumatera Utara dan yang memecatnya adalah Prof. Dr. Sjarif Thayeb, juga sebagai Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan. Dia dipecat, karena desakan golongan kiri yang menuduhnya antek Amerika dan dekat dengan Bung Hatta, yang ketika itu sudah berhenti sebagai wakil presiden dan dianggap berseberangan dengan Presiden Soekarno, sehingga Deliar dianggap subversif dan anti Manipol. Dipecat dari IKIP – sebenarnya lebih dari itu, karena menteri juga melarangnya mengajar di semua perguruan tinggi di seluruh tanah air – karena dianggap menghasut para mahasiswa. Oleh karena itu, sempat diinterogasi Tim Interogasi yang menangani Gestapu. Padahal, Deliar yang pernah menjadi Ketua HMI, niscaya antikomunis – hal yang jelas tampak dalam tulisan-tulisannya. Begitulah nasib ilmuwan (sosial) politik, yang berani secara jujur mengemukakan pandangannya secara ilmiah tanpa memedulikan arah kebijakan politis pemerintah yang berkuasa.
Karena, tidak boleh lagi mengajar di seluruh Indonesia baik di universitas swasta maupun (apalagi!) di universitas negeri, Deliar menerima tawaran untuk menjadi peneliti di ANU (Australian National University), Canberra. Sebenarnya, dia juga ditawari mengajar atau melakukan penelitian di Chicago dan Singapura, tetapi urusan dengan Australia lebih cepat selesai. Setelah berada di Australia, dia juga mendapat tawaran untuk mengajar di Kuala Lumpur di Universiti Kebangsaan Malaysia dan tawaran dari The Ford Foundation, untuk membimbing penyusunan tesis para sarjana IAIN yang mendapat beasiswa belajar di Leiden, Belanda. Tapi, pemerintah RI menutup kemungkinan itu dengan menghubungi IAIN dan pemerintah Singapura. Sementara, di Australia pihak universitas mempunyai kebebasan penuh, tak boleh masuk intervensi kekuasaan (politik) pemerintah ke dalamnya. Tahun pertama Deliar menjadi peneliti di ANU. Tahun berikutnya menjadi tenaga pengajar tamu di Griffith University di Brisbane. Setelah setahun, kedudukan itu berubah menjadi pengajar tetap.
Setelah mengajar lima tahun, Deliar bisa mempertemukan maksud beberapa orang kawannya sesama ilmuwan yang Islami di Jakarta yang ada di lingkungan M. Natsir, untuk membentuk lembaga riset LIPPM (Lembaga Islam untuk Penelitian dan Pengembangan Masyarakat) bekerja sama dengan Griffith University. Deliar yang dipercaya memimpin lembaga tersebut, selama tiga tahun pertama masih bekerja di Griffith University, tetapi enam bulan dalam setahun dia diperbolehkan bekerja di Jakarta untuk LIPPM. Di samping itu, Griffith University bersedia menerima para sarjana LIPPM yang hendak memperdalam ilmunya dengan biaya mereka. Sayang bahwa setelah bekerja enam bulan pertama di Jakarta untuk meletakkan dasar-dasar organisasi LIPPM, ketika berada di Brisbane, Deliar diminta Mr. Moh. Roem, yang menjadi salah seorang Dewan Penyantun LIPPM agar jangan kembali ke Jakarta tanpa alasan yang jelas. Deliar berpendapat bahwa sebagai lembaga riset LIPPM, seharusnya mempunyai kebebasan dan tidak diharuskan menyesuaikan hasil penelitiannya, dengan keinginan pihak yang mendanai LIPPM. Setelah ditinggalkan oleh Deliar, LIPPM perlahan-lahan sirna dari permukaan bumi.
Deliar Noer dilahirkan di Medan 9 Februari 1926. Setelah menamatkan sekolah menengah dia melanjutkan ke Universitas Nasional dan ketika menjadi mahasiswa aktif sebagai anggota, kemudian bahkan menjadi Ketua Umum HMI. Setelah menyelesaikan sarjana muda, dia mendapat kesempatan melanjutkan ke Cornell University di Amerika. Di sana, dia berhasil menjadi orang Indonesia pertama yang menggondol gelar doktor (Ph.D.) dalam ilmu politik dengan disertasi "The Modernist Muslim Movement in Indonesia 1900-1942" (Oxford University Press, KL, 1972) yang sekarang telah menjadi klasik. Di samping itu, Deliar banyak menulis buku tentang Islam dan politik di Indonesia, di antaranya "Partisipasi dalam Pembangunan" (ABIM, KL, 1975), "Administration of Islam in Indonesia" (Modern Indonesian Project, Ithaca, 1982), "Ideologi, Politik, dan Pembangunan" (Yayasan Perkhidmatan, Jakarta, 1980), "Islam, Pancasila, dan Asas Tunggal" (Yayasan Perkhidmatan, Jakarta, 1984), "Mohammad Hatta: Biografi Politik" (LP3ES, Jakarta, 1990), "Aku Bagian dari Ummat Aku bagian dari Bangsa, Otobiografi" (Mizan, Bandung, 1996), "Pemikiran Politik di Negeri Barat" (edisi revisi, Mizan, 1997), "Partai Islam di Pentas Nasional" (edisi revisi, Mizan, Bandung, 2000), "Membincang Tokoh-tokoh Bangsa" (Mizan, Bandung, 2001), "Islam dan Masyarakat" (Yayasan Risalah, Jakarta, 2003), "Islam & Politik" (Yayasan Risalah, Jakarta, 2003), "KNIP" (Yayasan Risalah, Jakarta, 2005), dll.
Deliar bukan hanya ilmuwan. Dia juga aktivis. Pada awal masa Orde Baru, dia pernah menjadi staf penasihat Presiden Soeharto, tetapi kemudian mengundurkan diri, karena berbeda paham dengan staf yang lain. Bersama Moh. Hatta dkk., ia pernah juga berusaha mendirikan Partai Demokrasi Islam Indonesia (PDII), tetapi tidak mendapat persetujuan dari pemerintah Orde Baru. Kemudian pada masa Reformasi 1998, Deliar membentuk Partai Umat Islam, tetapi dalam Pemilu 1999 tidak mendapat dukungan yang cukup.
Disertasinya tentang gerakan kaum modernis Islam di Indonésia yang sudah menjadi klasik itu meneliti lembaga-lembaga, organisasi-organisasi, dan tokoh-tokoh modernis Islam di seluruh Indonesia, yang dianggap paling lengkap. Dilukiskannya perbedaan paham antara kaum modernis dengan kaum tradisional, seperti A. Hassan dari Persis, Kiai Haji Abdulhalim dari Persatuan Umat Islam Majalengka, Ajengan Ahmad Sanusi dari Sukabumi, dll. Tapi, telaah Dr. Mohammad Iskandar dari UI tentang pesantren Gunungpuyuh dan Ajengan Ahmad Sanusi dari Sukabumi menunjukkan bahwa agaknya karena kendala bahasa (K.H. Abdulhalim dan Ajengan Ahmad Sanusi banyak menulis dalam bahasa Sunda, yang tidak dikuasai Deliar Noer) tidak menelaah sikap dan pendapat K.H. Ahmad Sanusi dan K.H. Abduhalim dengan cermat. Deliar tidak mengetahui bahwa sikap K.H. Ahmad Sanusi berlainan dengan sikap A. Hassan yang selalu menganjurkan agar setiap muslim melakukan ijtihad, jangan taklid saja. Menurut Ajengan Ahmad Sanusi, ijtihad hanya bisa dilakukan oleh muslim yang menguasai alat-alatnya seperti pandai bahasa Arab, mengetahui isi Alquran, mengetahui al-Hadis dll. Bagi orang awam, lebih baik taklid saja.
Bagi saya sendiri yang menarik dalam disertasinya itu adalah keterangan bahwa K.H. Abdulhalim dilahirkan di Desa Ciborelang, Majalengka. Desa Ciborelang adalah kampung saya, walaupun benar termasuk Kabupaten Majalengka, tetapi bukan di Kota Majalengka, melainkan di kecamatan Jatiwangi. Oleh karena itu, saya sempat menelusurinya. Ternyata K.H. Abdulhalim dilahirkan di sebelah utara jalan raya Bandung-Cirebon, persis di perbatasan Desa Ciborelang dengan desa Sutawangi. Tapi, rumah tempatnya dilahirkan termasuk Desa Ciborelang, yaitu di pinggir Sungai Cigoong yang menjadi batas kedua desa tersebut.
Tentu saja kekurangan itu tidak mengurangi nilai disertasi, sebagai hasil penelitian yang berbobot.
Ketika saya telah selesai menyusun naskah kumpulan karangan Mr. Sjafruddin Prawiranegara, saya meminta Deliar Noer untuk menulis kata pengantar. Permintaan itu dipenuhinya, tetapi ketika setelah buku itu terbit aku mengirimkan uang sebagai honorarium pengantar yang ditulisnya. Uang itu dikembalikannya dengan alasan bahwa dia merasa berutang budi kepada Mr. Sjafruddin dan kawannya segenerasi, maka penulisan pengantar itu dianggapnya sebagai penghormatannya kepada beliau.
Dengan meninggalnya Deliar, Indonesia kehilangan seorang ilmuwan yang daria dan konsisten serta dihormati kalangan Indonesianis di seluruh dunia. Innalilalhi wainna ilaihi roji’un. Mudah-mudahan Allah akan menerima iman-Islam serta amal perbuatannya, mengampuni kekurangan dan keluputannya, serta memberinya tempat yang mulia di hadirat-Nya. Sementara, kepada keluarganya diberikan sabar dan tawakal menghadapi kehilangan yang tak dapat dielakkan ini. Amin. ***
Penulis, sastrawan & budayawan Sunda.
Oleh P ARI SUBAGYO
Tidak ada realitas di luar bahasa. Karena itu, semua peristiwa kekerasan—termasuk ”Tragedi Monas” 1 Juni 2008—pasti melibatkan bahasa.
Bermula dari hasutan kata-kata, lalu terbakarlah amarah massa. Nalar menjadi pudar, budi tersungkur mati. Yang tinggal hanya gelegak emosi. Setiap kali kekerasan terjadi, setiap kali pula terbukti, kata-kata lebih tajam daripada pedang. Words are mightier than swords.
Sebagai buah evolusi fisiologis dan peradaban manusia, bahasa menjadi pembeda manusia dari satwa. Dengan bahasa, manusia mewujudkan kemanusiaannya. Tak heran Sudaryanto (Menguak Fungsi Hakiki Bahasa, 1990) menyimpulkan, fungsi hakiki bahasa adalah pengembang akal budi dan pemelihara kerja sama. Simpulan itu merupakan hasil perasan kritis-reflektif berbagai ide tentang fungsi bahasa dari Bühler, Révész, Jakobson, Sapir, Pei, Leech, Hymes, Malinowsky, Ogden & Richards, Halliday, hingga Wood.
Masalahnya, mengapa bahasa terus menjadi pemicu kekerasan? Mengapa bahasa justru mencederai kemanusiaan yang dilekati, diabdi, dan menjadi alasan meng-ada-nya?
Kekerasan verbal
Menurut Bourdieu (Language and Symbolic Power, 1992), bahasa menjadi sarana perwujudan kuasa simbolik (symbolic power). Bahasa lalu memungkinkan terjadinya kekerasan verbal (verbal violence) melalui kata-kata yang merendahkan, mengancam, atau menyudutkan. Pihak lain tercitrakan sebagai ancaman atau sosok menjijikkan yang wajib dibinasakan. Kekerasan verbal lalu memicu kekerasan fisik (physical violence) dan anarkisme.
Namun, kekerasan verbal tak melulu akibat manifestasi kuasa simbolik. Secara natural atau kultural, sejumlah kata berasosiasi dengan kekerasan. Kata-kata seperti membunuh, menyerbu, menyerang, menendang, dan menghantam dalam dirinya telah bermakna kekerasan.
Begitu pun lembaga dan jabatan semacam front, laskar, milisi, komando, komandan, dan panglima berasosiasi dengan kekerasan sebab menghadirkan nuansa perang. Maka, nama ormas yang berasosiasi dengan kekerasan atau berpotensi menimbulkan kekerasan seyogianya ditinjau ulang. Apalagi ormas-ormas semacam itu—apa pun motif pembentukannya—telah menjadi kelompok bersenjata yang tak segan mengambil alih fungsi aparat keamanan dan penegak hukum.
Kekerasan verbal sebenarnya hadir amat lembut dalam pronomina aku-kamu dan kita-mereka yang ada nyaris di semua bahasa. Pronomina itu diam-diam membentuk paradigma ”aku-kamu” dan ”kita-mereka” yang asimetris. Bahasa memang dapat membangun solidaritas sekaligus permusuhan, seperti kata Jay (The Psychology of Language, 2003), ”Language brings us together, and it separates us from others. Language establishes who we and who we are not”.
Paradigma ”aku-kamu” dan ”kita-mereka” gamblang terpampang terutama dalam nama-nama ormas atau tim ad hoc yang beridentitas agama. Paradigma itu tak tersadari telah menjadi kerangka berpikir dalam memandang sesama: si A bagian kita, sedangkan si B bagian mereka!
Harap maklum, nama agama dan segala kata yang bersangkutan dengan agama begitu gampang menyulut sentimen pengikutnya. Sentimen itu tentu melulu bermuatan emosi, bukan nalar dan kearifan.
Pengawafungsian
Tidak selamanya bahasa berfungsi mulia. Sesekali bahasa justru sengaja untuk mengerdilkan akal budi dan memecah kerja sama. Saat kebencian dan kemarahan tidak tertahan, kata-kata menjadi sarana pelampiasan. Jelas itu bukan fungsi bahasa yang diharapkan karena fungsinya telah diselewengkan, bahkan digerogoti atau dienyahkan. Penggerogotan atau pengenyahan fungsi hakiki itulah yang disebut ”pengawafungsian” bahasa (Sudaryanto, 1990).
Padahal, begitu pengawafungsian bahasa terjadi, saat itu juga kebudayaan gagal dikreasi. Roda peradaban terhenti. Bahkan, kebudayaan yang sudah ada dapat dihancur-musnahkan. Rumah, gedung, kemitraan, dan mutiara peradaban, yang dibangun bertahun-tahun, dalam sekejap binasa akibat pengawafungsian bahasa.
Lagi-lagi, kata dan idiom yang membawa identitas agama harus disebut karena begitu rentan diawafungsikan. Tak hanya karena sarat paradigma ”aku-kamu” dan ”kita-mereka”, tetapi kata-kata berbau agama juga akrab dengan penalaran totem pro pars. Menyebut keseluruhan, tetapi sebenarnya hanya mewakili sebagian. Praktik pengatas-namaan agama dengan berbagai dalih pun marak, lengkap dengan sesat pikirnya. Padahal, tidak ada realitas tunggal, termasuk dalam agama dan keyakinan.
Menyangkut Jakarta, menarik ditengok kesaksian Lubis (2008) dalam Jakarta 1950-an. Sebagai pusat pemerintahan, pusat perekonomian, dan ajang pertarungan aneka kepentingan, Jakarta sejak awal republik telah diriuhkan berbagai laskar rakyat, yang disebut Lubis ”the militia of Jakarta”. Siapa pun dapat mendirikan laskar asal memiliki keberanian dan karisma seorang warlord. Anggota direkrut begitu saja dari masyarakat. Untuk membangkitkan sentimen, digunakan atribut khususnya agama dan kedaerahan. Mereka tidak segan merampok, memerkosa, mengancam, dan meresahkan warga yang tergolong ”bukan kita”. Jadi, Jakarta memang lahan subur pengawafungsian bahasa.
Kesalehan lingual
Bangsa ini perlu mengupayakan kesalehan lingual, yakni kearifan berbahasa agar memendam kata-kata yang menebar permusuhan dan memicu kekerasan. Chapman (dalam The Five Love Languages: How to Express Heartfelt Commitment to Your Mate) menawarkan lima ”bahasa kasih”, salah satunya words of affirmation (kata-kata penguatan) guna memampukan pasangan membangun kepercayaan dan citra diri.
Tawaran Chapman memang untuk relasi interpersonal suami-istri. Situasinya jauh lebih sederhana dibandingkan dengan ”rumah tangga” Indonesia yang rumit penuh silang-sengketa kepentingan. Tawaran itu dapat dijadikan inspirasi mengelola lidah dan kata-kata demi menghasilkan bahasa kasih. Apalagi genderang ”perang” kampanye Pemilu 2009 segera berdentang. Repotnya, lidah dan kata-kata digerakkan pikiran, perasaan, keinginan, juga kepentingan. Kesalehan lingual memang menuntut kerelaan dan kedewasaan kita sebagai bangsa.
P ARI SUBAGYO
Penggulat Linguistik di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
Urut-urutan nama (tiga orang) yang diambil sebagai sampel dipilih berdasarkan kisaran usia, yaitu yang lebih muda lebih dulu barulah yang lebih tua. Maksudnya, supaya kelihatan bahwa adanya proses pembelajaran dan transfer ‘ilmu’ dari generasi yang tua kepada yang muda. Ibarat pepatah lama, “guru kencing berdiri, murid kencing berlari.” Kesimpulannya, guru dan muridnya memang sama-sama suka kencing sembarangan.
Adapun Ahmad Tohari disendirikan belakangan, bukan lantaran dia lebih tua, namun karena dia berani membantah Kyai yang mengingatkannya dalam hal kepornoan, maka di tulisan ini diurutkan paling belakang, seolah yang paling tua, karena telah berani membantah Kyai yang menghindari porno, masih pula memlintir maksud ayat Alloh lagi. Maka kami beri porsi tersendiri, harap dimaklumi.
Ayu Utami lahir di Bogor (Jawa Barat), tanggal 21 November 1968. A. Mustofa Bisri (mertuanya Ulil Abshar Abdalla dedengkot JIL –Jaringan Islam Liberal) lahir di Rembang (Jawa Tengah), tanggal 10 Agustus 1944. Sedangkan Gus Dur kelahiran Jombang (Jawa Timur) tanggal 4 Agustus 1940.
Justina Ayu Utami –begitu nama lengkap aktivis komunitas Utan Kayu ini– adalah lulusan Jurusan Sastra Rusia Fakultas Sastra Universitas Indonesia di tahun 1994. Kalau mendengar nama “Utan Kayu”, pastilah pikiran kita akan membayangkan sosok Goenawan Mohamad (yang namanya juga tercantum pada iklan petisi AKKBB), membayangkan komunitas JIL (Jaringan Islam Liberal) yang menawarkan kesesatan dan kekafiran berfikir.
Nama Ayu Utami mencuat sejak novelnya berjudul Saman memenangi sayembara penulisan roman Dewan Kesenian Jakarta 1998 dan Prince Claus Award 2000 dari Prince Claus Fund, sebuah yayasan yang bermarkas di Den Haag.
Dari sejumlah kegiatannya, Ayu mengisi kolom Kodok Ngorek di harian Seputar Indonesia edisi Ahad. Salah satu tulisannya pernah membahas soal laju pertumbuhan penduduk. Ayu Utami memposisikan diri sebagi orang yang memberikan kontribusi di dalam menekan laju pertumbuhan penduduk, dengan cara sengaja tidak punya anak.
Sebagai penganut paham kebebasan, ternyata Ayu Utami tidak bisa mengerti sikap temannya yang punya anak banyak (lima orang) tanpa sengaja. Ayu juga semakin tidak mengerti terhadap sikap seseorang yang disebutnya sebagai “Tuan F” yang dengan sengaja punya anak sangat banyak dari isri-istrinya yang juga banyak (empat wanita).
Melalui tulisannya berjudul Adopsi (Seputar Indonesia, 4 Mei 2008, hal. 13), Ayu Utami mencurahkan isi hati terdalamnya, sekaligus menumpahkan spontanitas intelektualnya, di dalam mengekspresikan ketidaksetujuannya dengan “Tuan F” (Fauzan Al-Anshari?) yang banyak anak dan banyak istri itu, melalui untaian kata yang bernada mengejek dan agak berbau porno, yaitu: “… Tuan F ini, agaknya, setiap kali bersetubuh membayangkan akan menaklukkan AS…”
Astaghfirullooh… Mungkin bagi Ayu Utami, kata-kata di atas tergolong biasa saja. Namun bagi orang yang bernurani bersih, kata-kata itu selain terkesan kasar, jorok, dan tidak menunjukkan kearifan, juga memberi kesan bahwa penulisnya memiliki cita rasa sastra yang rendahan.
Kita bisa berbeda ‘selera’ dalam soal ini. Tapi, ada satu kesan mendalam yang bisa diambil dari untaian kata-kata tadi, bahwa Ayu Utami sang penganut kebebasan berpendapat, kebebasan berekspresi, bahkan menjunjung kebebasan beragama dan berkeyakinan itu, ternyata masih belum bisa menerima ada sikap dan pendirian orang lain yang tidak sesuai dengan ‘seleranya’. Orang yang berbeda ‘selera’ dengan Ayu Utami selain membuatnya keheranan, juga dengan cepat dijadikan bahan ejekan atau olok-olok melalui untaian kata-kata yang berbau porno.
Sebelumnya, masih di harian yang sama, Ayu Utami melecehkan istilah poligami (salah satu hal yang dibolehkan dalam Islam, namun dibenci oleh orang-orang yang belum tentu senang terhadap Islam walau mengaku Muslim), melalui sebuah tulisannya yang diberi judul Sekte Poligami (Seputar Indonesia, 20 April 2008). Istilah poligami ditempelkan pada sekte-sekte penganut seks bebas yang kebebasannya lebih rendah dari perilaku binatang (lihat artikel berjudul Menista Istilah Poligami Demi Menutupi Kejahatan Ahmadiyah pada nahimunkar.com edisi April 24, 2008).
A. Mustofa Bisri
A. Mustofa Bisri adalah seorang kyai yang mengelola Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Kyai yang biasa dipanggil dengan sapaan Gus Mus ini adalah alumnus Al Azhar University, Kairo. Ketika di tahun 2003 masyarakat ramai mempermasalahkan goyang ngebor ala Inul Daratista, sang kyai tampil sebagai salah satu pembela. Ekspresi pembelaannya dicurahkan melalui sebuah lukisan yang diberi judul Berdzikir Bersama Inul. Pada lukisan itu, digambarkan sejumlah kyai yang sedang berdzikir dalam posisi mengelilingi Inul yang sedang melakukan aksi goyang ngebor-nya.
Lukisan berukuran 60 cm x 50 cm itu dipamerkan pada acara Pekan Muharram 1424 H di Masjid Agung Al Akbar, Surabaya, yang diselenggarakan Harian Duta Masyarakat (4-9 Maret 2003). Selain KH A.Mustofa Bisri alias Gus Mus, juga dipamerkan lukisan karya Danarto (pengikut Lia Eden?), Djoko Pekik, (alm) Amang Rahman, Zawawi Imron dan lain-lain.
Lukisan Gus Mus itu sempat memancing emosi sebagian warga Surabaya. Pengurus masjid menerima ancaman dari sekelompok orang yang mengatasnamakan pemuda Islam. Isi ancamannya, masjid akan dibakar jika panitia tidak menurunkan lukisan porno tersebut. Ancaman itu diterima pengurus masjid melalui telepon pukul 13.00 WIB, Kamis (6 Maret 2003).
Menurut Danarto, pelukis kenamaan di Jakarta yang juga kawan Gus Mus, “Saya menilai Gus Mus ingin membela seorang wanita bernama Inul yang sedang tertindas karena di sana-sini muncul pencekalan akibat gaya tariannya.”
Oh, jadi dalam rangka membela Inul yang goyang ngebor-nya dipermasalahkan banyak orang itu, maka Gus Mus membuat lukisan yang dipamerkan di dalam masjid. Astagfirullah al’adziiem. Urusan yang porno-porno kayak gitu koq dibawa-bawa ke masjid!
Kecenderungan Gus Mus terhadap yang porno-porno juga terlihat ketika dia memberikan ilustrasi tentang kebebasan berfikir ala sepilis (sekulerisme, pluralisme agama –menyamakan semua agama— dan liberalisme) yang menurut fatwa MUI dikategorikan sesat dan haram. Bagi Gus Mus, pluralisme agama, liberalisme, dan sekularisme adalah gagasan (ide) dan pemikiran, sehingga tidak bisa diharamkan. Kecuali bila pemikiran itu diejawantahkan dalam tindakan yang merusak dan merugikan orang banyak, baru bisa diharamkan. “Kalau Sampean punya gagasan akan menzinahi bintang film, ia baru haram kalau Anda laksanakan. Kalau masih gagasan, tidak apa-apa.”
Pernyataan itu dikemukakan Gus Mus yang pernah menjabat sebagai Rois Syuriah PB NU kepada Novriantoni dari Kajian Islam Utan Kayu (KIUK) yang mewawancarainya pada hari Kamis tangggal 4 Agustus 2005, dalam rangka mengomentari fatwa MUI tentang sesatnya JIL.
Dari pernyataan Gus Mus itu, maka semakin terbuktilah bahwa kyai itu belum tentu ulama, dan meski seseorang itu digelari ulama, belum tentu ia ulama yang mengikuti Rosululloh SAW. (lihat tulisan berjudul Kyai Belum Tentu Ulama edisi 6 April 2008).
Apa yang dinyatakan Gus Mus itu jelas berselisihan dengan hadits-hadits shahih berikut:
1550 حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنَ الزِّنَا أَدْرَكَ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ فَزِنَا الْعَيْنَيْنِ النَّظَرُ وَزِنَا اللِّسَانِ النُّطْقُ وَالنَّفْسُ تَمَنَّى وَتَشْتَهِي وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ أَوْ يُكَذِّبُهُ.
1550 Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Nabi shallallahu ‘alahi wasallam bersabda: Allah subhanahu wata’ala telah mencatat bahwa anak Adam cenderung terhadap perbuatan zina. Keinginan tersebut tidak dapat dielakkan lagi, di mana dia akan melakukan zina mata dalam bentuk pandangan, zina mulut dalam bentuk pertuturan, zina perasaan yaitu bercita-cita dan berkeinginan mendapatkannya manakala kemaluanlah yang menentukannya berlaku atau tidak. (Muttafaq ‘alaih).
عَن أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِكُلِّ بَنِي آدَمَ حَظٌّ مِنْ الزِّنَا فَالْعَيْنَانِ تَزْنِيَانِ وَزِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالْيَدَانِ تَزْنِيَانِ وَزِنَاهُمَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلَانِ يَزْنِيَانِ وَزِنَاهُمَا الْمَشْيُ وَالْفَمُ يَزْنِي وَزِنَاهُ الْقُبَلُ وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ أَوْ يُكَذِّبُهُ )مسند أحمد:8507(
“Likulli banii aadama haddhun minaz zinaa: fal ‘ainaani tazniyaani wa zinaahuman nadhru, walyadaani tazniyaani wazinaahumal bathsyu, warrijlaani tazniyaani wazinaahumal masy-yu, walfamu yaznii wazinaahul qublu, walqolbu yahwii wa yatamannaa, walfarju yushod
diqu dzaalika au yukaddzibuhu.”
Artinya: Hadits dari Abu Hurairah, bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Setiap bani Adam ada potensi berzina: maka dua mata berzina dan zinanya melihat, dua tangan berzina dan zinanya memegang, dua kaki berzina dan zinanya berjalan, mulut berzina dan berzinanya mencium, hati berzina dan berzinanya cenderung dan mengangan-angan, sedang farji/ kemaluan membenarkan yang demikian itu atau membohongkannya.” (Hadits Musnad Ahmad 8507, juz 2 hal 243, sanadnya shohih, dan hadits-hadits lain banyak, dengan kata-kata yang berbeda namun maknanya sama).
Benarlah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dan bohonglah A. Mustofa Bisri.
Gus Dur (Abdurrahman Wahid)
Sosok yang satu ini tentu tidak asing lagi bagi kita. Tidak asing berkenaan dengan sesuatu yang berkaitan dengan porno-porno (bahkan isu santer tentang zina?). Ketika Ummat Islam memperjuangkan RUU APP (Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Porno Aksi), Gus Dur justru bersikap kebalikannya, yaitu menentang RUU APP yang sedang diperjuangkan Ummat Islam.
Ketika diwawancarai JIL 10 April 2006, kepada Gus Dur diajukan pertanyaan, “Gus, ada yang bilang kalau kelompok-kelompok penentang RUU APP ini bukan kelompok Islam, karena katanya kelompok ini memiliki kitab suci yang porno?”
Kemudian Gus Dur memberikan jawaban sambil tertawa terkekeh-kekeh: “Sebaliknya menurut saya, Kitab suci yang paling porno di dunia adalah Alqur’an…” Kemudian Gus Dur melanjutkan, “…Di Alqur’an itu ada ayat tentang menyusui anak dua tahun berturut-turut. Cari dalam Injil kalau ada ayat seperti itu. Namanya menyusui, ya mengeluarkan tetek kan?! Cabul dong ini. Banyaklah contoh lain…”
Bagi Gus Dur sekedar ngomong porno ya tidak apa-apa, karena dalam pemberitaan ia dikabarkan pernah (atau suka) berzina (?). Setidaknya ada empat wanita yang menjadi partner Gus Dur, yaitu Aryanti, Putri (isteri Pilot), Siti Farikah, dan Ayu Laksmi (Tabloid ADIL, 7 September 2000).
Menurut mantan ajudan Gus Dur Al-Zastrouw Ngatawi, di layar SCTV awal September 2000, bahwa Gus Dur sering menerima tamu wanita, termasuk pelacur, untuk macam-macam urusan, dalam suasana akrab, dan dengan berpakaian sekedarnya (hanya berkaus singlet). Gus Dur juga suka ke diskotik, menerima tamunya. Pernyataan Al-Zastrouw itu dalam format membela Gus Dur yang saat itu sedang diguncang prahara terbongkarnya kasus perzinaan (?) Gus Dur dengan Aryanti Boru Sitepu. Maksudnya mau membela, malah jadi membuka ‘kebiasaan’ Gus Dur yang lain, yaitu suka ke Diskotik, menerima pelacur dalam busana seadanya. Lha, ternyata walau dia sebutannya kyai tapi suka ke Diskotik, dan tidak punya sopan-santun berbusana di dalam menerima tamu
Emha Ainun Nadjib seorang budayawan pernah menggambarkan kedekatan Gus Dur dengan Aryanti sebagai berikut: “Wanita itu orang yang saya lihat paling dekat dan paling relaks dengan Gus Dur. Dia sering terlihat di tempat-tempat yang disinggahi Gus Dur, baik di hotel maupun di Bali.” (Suara Merdeka, Berita Utama, Jumat, 1 September 2000).
Lha kalau hal-hal yang berdekatan dengan zina saja dilakoni, apalagi sekedar membela yang porno-porno. Misalnya, membela Inul. Dalam membela Inul, Gus Dur beralasan, tidak ada seorang pun yang berhak melarang orang berekspresi selama tidak bertentangan dengan undang-undang. Namun, ketika ada upaya untuk membentuk undang-undang anti pornografi dan pornoaksi, Gus Dur justru menyatakan, rancangan undang-undang anti pornografi dan pornoaksi itu tidak perlu, karena soal pornografi dan pornoaksi, cukup diserahkan kepada masyarakat saja.
Di samping yang tiga orang itu, masih dapat pula dikemukakan seorang yang tercantum dalam iklan AKKBB 26 Mei 2008 di Media Indonesia dan lainnya, yang cukup dikenal pula, namanya Ahmad Tohari.
Ahmad Tohari Agar Bertaubat
Pernyataan orang mengenai sikap dan tingkah lakunya yang melanggar Islam kadang dianggap biasa, bahkan disiarkan lewat media massa. Berikut ini satu contoh, Ahmad Tohari seorang yang pernah menulis cerita tentang ronggeng mengemukakan pendapatnya yang bertentangan dengan Islam waktu diwawancarai Republika. Makanya ada yang menyuruhnya untuk bertaubat.
Berikut ini kami kutip petikan wawancara yang dipersoalkan, dan surat dari seorang aktivis yang menyuruh Ahmad Tohari bertaubat.
Kutipan:
Wawancara Republika
Minggu, 13 Mei 2007
H Ahmad Tohari
Menjenguk Tuhan Lewat Orang kecil
Ahmad Tohari. Siapa yang tak kenal sosok yang satu ini. Ngetop lewat novel Ronggeng Dukuh Paruk, ia kini rutin mengisi kolom Resonansi di Republika, tiap hari Senin. Novel itu ia tulis saat ia masih muda, di tahun 1981. Novel ini, terakhir ia terbitkan dalam versi bahasa Banyumasan. Versi ini mendapat penghargaan Rancage dari Yayasan Rancage, Bandung, pada 2007. Yayasan Rancage yang dimotori sastrawan Ajip Rosidi rutin memberi penghargaan kepada penulis-penulis sastra berbahasa daerah setiap tahun.
Apa yang dulu mendorong Anda menulis novel Ronggeng, padahal latar belakang Anda santri?
Saya kalau sok-sokan begini, kesantrian saya kan sudah lewat yang syariah, jadi sudah membantu kiai. Landasan saya menulis novel tersebut adalah dari ayat Kursi yang salah satu ayatnya adalah Lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardl (kepunyaan Allah lah apa yang ada di langit dan bumi). Jadi, apa yang di bumi adalah kepunyaan Allah, semuanya. Lha, sekarang ada tidak ulama yang bilang ronggeng, pelacur, maling atau yang jahat-jahat itu keluar dari kalimat maa? Jadi, ronggeng adalah salah satu kepunyaan Allah. Satu hal yang harus dipatuhi dalam membaca, menghayati, dan memasuki dunia ronggeng, jangan lupa syaratnya Bismirabbikalladzii khalaq (atas nama Tuhanmu yang menciptakan). Jadi, ketika kondisi kita pegang, baca apa saja boleh karena akan mendatangkan hikmah. Jadi, pemahamannya harus pada tingkat sufi bukan tingkat biasa.
Waktu Anda melihat tarian ronggeng, apa yang Anda rasakan?
Saya memang penikmat ronggeng, jadi betul-betul saya nikmati, lirikan matanya, lenggak-lenggoknya, dan sebagainya. Pada waktu itu di deretan kursi ada beberapa kiai yang ikut hadir dan ketika saya lihat ternyata dia hanya menunduk, tidak berani menatap. Saya sempat tanya kenapa hanya menunduk. Dia hanya tersenyum dan menjawab ada perintah untuk menundukkan pandangan yang mengandung maksiat. Tapi, menurut saya ada pemberitaan lain yang sama-sama di muat di Alquran bahwa apa yang kamu lihat itu tidak lain adalah bukti kekuasaan Allah. Ini harus dipahami secara sufistik. Saya sempat tanya pada kiai muda itu dengan pertanyaan yang provokatif, ‘Anda lihat tidak bukti kebesaran Allah pada payudara lengger’. Dia makin kecut saja tersenyumnya.
Saya jelaskan, kalau kita melihat payudara dengan sensasi, maka kemungkinan maksiat sangat besar. Tapi, coba kita berpikir menggunakan akal. Faktanya, payudara, pantat ronggeng, yang sensasional itu, tidak lain cuma air, protein, fosfor, dan zat-zat kimiawi lain yang dibentuk Tuhan sehingga seperti itu. Nah, itu kemudian tertangkap indra kita, jadi tergantung Anda, mau pakai sensasi akan terjadi maksiat. Kalau pakai akal, maka kita akan membaca ‘lha wong cuma air, protein, fosfor kok bisa seperti itu dan bisa bergerak’. Apa itu tidak menjadi bukti kekuasaan Tuhan? Saya kagum dengan kekuasaan Tuhan. Saya tidak melihatnya dengan sensasi, karena itu akan mendorong pada rangsangan birahi. (Republika, Minggu, 13 Mei 2007, H Ahmad Tohari, Menjenguk Tuhan Lewat Orang kecil )
Terhadap ungkapan-ungkapan Ahmad Tohari itu ada saran dari aktivis Islam yang menyuruhnya bertaubat. Isinya sebagai berikut.
Surat pembaca menyuruh taubat:
To:insistnet@yahoogroups.com, profetik@yahoogroups.com,
mantan-ldk@yahoogroups.com, herry@gatra.com, caklis@yahoo.com,
dinlai@yahoo.com, pambudiutomo@yahoo.com
From:”nuim hidayat” Add to Address Book
Add Mobile Alert
Date:Mon, 14 May 2007 08:00:32 +0700
Subject:[INSISTS] Surat Pembaca untuk Republika
*Surat Pembaca untuk Republika*
* *
*Kritik untuk Ahmad Tohari*
Pendapat Ahmad Tohari di rubrik Wawancara Republika edisi 13 Mei 2007,
sungguh sangat disayangkan. Pendapat senada juga pernah dilontarkan Tohari
di Resonansi Republika beberapa bulan lalu.
Mari kita simak pendapatnya ini: “Saya memang penikmat ronggeng, jadi
betul-betul saya nikmati, lirikan matanya, lenggak-lenggoknya dan
sebagainya. Pada waktu itu di deretan kursi ada beberapa kiai yang ikut
hadir dan ketika saya melihat dia hanya menunduk. Saya sempat tanya kenapa
hanya menunduk. Dia hanya tersenyum dan menjawab ada perintah untuk
menundukkan pandangan yang mengandung maksiat. Tapi menurut saya ada
pemberitaan lain yang sama-sama dimuat Al-Qur’an bahwa apa yang kamu lihat
itu tidak lain adalah bukti kekuasaan Allah….Saya jelaskan, kalau kita
melihat payudara dengan sensasi, maka kemungkinan maksiat sangat besar.
Tapi coba kita berpikir dengan menggunakan akal. Faktanya payudara, pantat
ronggeng, yang sensasional itu, tidak lain cuma air, protein, fosfor, dan
zat-zat kimiawi lain yang dibentuk Tuhan sehingga seperti itu…”
Pendapat Tohari ini menurut saya ngawur dan patut dipertanyakan. Pertama,
apakah ada dalam Al-Qur’an pemberitaan atau bahkan anjuran untuk menikmati
payudara perempuan non istri? Tidak ada satu pun ayat Al Qur’an yang
memberitakan atau membolehkan, bahkan Al Qur’an melarangnya. Yang ada
adalah larangan mendekati zina dan menundukkan pandangan.
Kedua, pendapat Tohari yang memisahkan melihat dengan akal dan melihat
dengan sensasi, adalah pendapat yang tidak sesuai dengan realitas
sinerginya tubuh dan alat indera manusia. Antara otak, mata, tangan terdapat sel-sel saraf yang saling berhubungan. Bisakah Tohari memisahkan rasa sakit
berdarah ketika ditusuk pisau dengan (”nikmatnya” ) berfungsinya akal mengamati sel-sel darah yang keluar dari tubuh ketika itu? Jadi, filsafat/pendapat
memisahkan akal dan rasa ketika Tohari melihat payudara ini sangat
berbahaya. Karena nanti orang yang berzina bisa berpendapat, ah itu kan
cuma ketemu daging dengan daging, yang kemudian mengeluarkan zat kimiawi
dalam tubuh manusia.
Saya menghimbau agar Tohari bertaubat dengan pendapatnya ini. Dan
sekaligus menarik novelnya “Ronggeng Dukuh Paruk.” Kepada Republika agar
berhati-hati ketika menulis sesuatu. Menulis bisa amal jariyah dan bisa jadi “dosa
jariyah”. *Wallahu aliimun hakiim.*
* *
Pengirim:
Nuim Hidayat
Komp. Timah CCII/18, Kelapa Dua Depok
E-mail: nuimh@yahoo. Com
Larangan dari Alloh Subahanahu wa Ta’ala
Terhadap tingkah-tingkah dan pandangan hidup yang cenderung porno itu ada larangan dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang perlu ditaati, di antaranya:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا(32)
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. (QS Al-Israa/17: 31).
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ(30)
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. (QS An-Nuur: 30).
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ ءَابَائِهِنَّ أَوْ ءَابَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ(31)
Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS An-Nuur: 31).
Mengenai bicara porno, ada larangan yang cukup jelas berupa ancaman, padahal berbicara tentang pergaulan pasangan suami isteri sendiri yang sah; namun ada ancaman keras untuk menceritakannya. Berikut ini haditsnya:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِي إِلَيْهِ ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا *(مسلم وأبو داود)
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya termasuk sejelek-jelek manusia bagi Allah tempatnya di hari kiamat, (yaitu) laki-laki yang menggauli (menyetubuhi) isterinya dan isterinya pun menggauli lelakinya, kemudian salahsatunya menyiarkan rahasia bergaulnya itu.” (HR Muslim dan Abu Daud).
Dibanding dengan ajaran Islam, lakon mereka yang disebut namanya karena menyebarkan kepornoan ini tadi betapa bertentangannya.
Begitulah profil personil AKKBB, selaku pembela kafirin Ahmadiyah, kecenderungannya pada pornografi dan membela kesesatan merupakan ciri khas yang melekat padanya. Meski mereka mendukung kebebasan berekspresi, berpendapat, beragama dan berkeyakinan, namun bila ada orang yang tidak satu selera dengan mereka, langsung saja dijadikan bahan ejekan. Bahkan Al-Qur’an pun diolok-olok untuk membenarkan pendiriannya. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang celaka dan mencelakakan, maka hendaknya mereka bertaubat, sebelum nyawa sampai di tenggorokan menjelang ajalnya. Di samping itu mereka perlu mencabut seluruh kepornoan yang telah mereka sebarkan yang menjerumuskan masyarakat dan menghancurkan itu. (haji/ tede).
| var sburl1069 = window.location.href; var sbtitle1069 = document.title;var sbtitle1069=encodeURIComponent("Negara Bagian Malaysia Larang Wanita Pakai Lipstik"); var sburl1069=decodeURI("http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=7102"); sburl1069=sburl1069.replace(/amp;/g, "");sburl1069=encodeURIComponent(sburl1069); Negara bagian Malaysia melarang wanita memakai lipstik tebal dan sepatu hak tinggi. Larangan ini diharapkan mencegah "kejahatan" seks Hidayatullah.com—Otoritas Kota Baru, telah mengeluarkan kebijakan larangan terhadap wanita yang menggunakan lipstik tebal dan meminta wanita tak menggunakan sepatu berhak tinggi. Selain itu, pemerintah melarang kaum hawa untuk tidak menggunakan jilbab transparan. Kantor Berita Bernama, mengatakan, arahan itu dikeluarkan Dewan Kotapraja di Kota Baru. Kebijakan berupa arahan ini diarahkan terhadap wanita-wanita Muslim yang bekerja di dalam rumah makan dan kantor-kantor bisnis di dalam kota tersebut. Menurut pemerintah, kebijakan ini diharapkan untuk melindungi martabat kaum wanita dan mencegak pemerkosaan. "Menyebutkan bahwa wanita Muslim dilarang untuk memakai dandanan tebal, seperti gincu tebal dan sepatu berhak tinggi yang mengeluarkan bunyi keras," kata kantor berita itu. "Bagi mereka yang mendesak memakai sepatu-sepatu berhak tinggi, mereka dapat melakukannya tetapi dengan tumit terbuat dari karet." Juru Bicara Dewan Kota Azman Mohamad Daham mengatakan, anjuran itu dikeluarkan untuk menjaga martabat dan moral wanita. Untuk menyosialisasikan seruan tersebut, pemerintah membagikan selebaran. ''Selebihnya, terserah mereka,'' kata Azman. Menurut Bernama, pemerintah kota tersebut juga menerapkan larangan berdandan dan mengenakan sepatu hak tinggi yang berbunyi saat dipakai. Tapi, Azman membantah berita tersebut. Dia menegaskan, satu-satunya perintah legal yang dibuat pemerintah adalah berjilbab. ''Perintah itu sudah dibuat sepuluh tahun lalu," katanya. Yang melanggar aturan itu bisa dikenai denda hingga MYR 500 (sekitar Rp 1,4 juta). Tiap bulan, rata-rata ada 20 wanita yang didenda karena melanggar aturan tersebut. ''Tapi, aturan ini hanya diberlakukan bagi muslimah," tegas Azman. Malaysia, suatu masyarakat yang terdiri dari banyak suku dan etnis. Negara tetangga Indonesia ini dikenal menganut faham sunni madhab Syafi'i. Malaysia menganggap dirinya suatu negeri Muslim yang moderat. Muslim mencapai sekitar 60 persen dari populasi. Kota Baru adalah ibukota dari Negeri Kelantan, yang dikuasai oposisi partai Islam, PAS. [bnm/cha/www.hidayatullah.com] |

| Rabu, 25 Juni 2008 | |
| var sburl9676 = window.location.href; var sbtitle9676 = document.title;var sbtitle9676=encodeURIComponent("Pria Berpistol dalam Insiden Monas Katanya Polisi"); var sburl9676=decodeURI("http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=7103"); sburl9676=sburl9676.replace(/amp;/g, "");sburl9676=encodeURIComponent(sburl9676); Polda Metro Jaya mengungkap pria berpistol yang terekam saat terjadi insiden Monas pada 1 Juni lalu. Pria itu katanya polisi. Tetapi mengapa harus mengacung-asungkan senjata? dan tak berseragam? Hidayatullah.com--Kepolisian Daerah Metro Jaya Bidang Profesi dan Pengamanan telah menangkap dan mengamankan pria berpistol yang terekam saat terjadi insiden Monas pada 1 Juni lalu. Pria itu adalah polisi berpangkat bintara yang juga anggota Ahmadiyah.Si polisi adalah Brigadir Kepala Iskandar Saleh, anggota unit kecelakaan di Satuan Lalu Lintas Polres Kota Tangerang. "Dia diamankan provost Polres pada 23 Juni pukul 16.00 WIB," kata Juru Bicara Mabes Polri Inspektur Jenderal Abubakar Nataprawira di Markas Polda Metro Jaya, kemarin. "Dia masih dalam pemeriksaan Propam Polda." Menurut Abubakar, pada 1 Juni lalu Iskandar mendampingi mertua, istri, dan anaknya ke acara yang digelar Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan. "Atas keinginan sendiri," kata Abubakar. Dalam pemeriksaan di Bidang Propam Polda Metro, Iskandar mengatakan bahwa pistolnya adalah revolver mainan. Propam juga mengecek ke Polres Tangerang, dan hasilnya Iskandar tidak termasuk satu di antara 73 petugas yang memiliki senjata api. "Tapi ini masih diselidiki. Sebab, katanya (pistol mainan itu) hilang," kata Abubakar. Meski Iskandar mengaku sebagai anggota Ahmadiyah, polisi juga akan mengecek ke pengurus Ahmadiyah Tangerang. "Anda lihat sendiri di rekaman. Front Pembela Islam mengatakan (penyerbuan) dipicu pria yang mengacungkan pistol. Tapi tidak ada suara letusan," kata Abubakar. Alasan ia mengacungkan pistol, katanya untuk melindungi seorang perempuan dan seorang anak. Tapi mengapa pula ia harus mengacung-acungkan senjata itu disaat segalanya sedang panik dan tak memakai seragam? [ti/www.hidayatullah.com] |
| var sburl2397 = window.location.href; var sbtitle2397 = document.title;var sbtitle2397=encodeURIComponent("Mengapa Masa Depan Milik Islam? [1]"); var sburl2397=decodeURI("http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=7083"); sburl2397=sburl2397.replace(/amp;/g, "");sburl2397=encodeURIComponent(sburl2397); Majalah Maclean, Kanada, menghadapi kasus hukum karena tulisan kebencian kepada Islam. Tapi di Amerika, menghina agama minoritas dilindungi konstitusi. Ini ditiru kaum liberal Indonesia. Mengapa polisi tak obyektif dalam kasus Monas? Oleh: Amran Nasution
Para pejabat senior China secara terbuka mengecam cara Amerika menangani ekonominya – dengan kapitalisme laissez-faire –dan mereka berani membela sistem ekonominya yang ditandai adanya regulasi. Seperti ditulis sebuah artikel di The New York Times, 17 Juni lalu, para pejabat China menuduh Amerika hipokrit: mengajari mereka tentang ekonomi tapi pertumbuhan ekonomi negerinya sendiri stagnan. Sementara ekonomi China justru tumbuh sangat tinggi. China mendamprat Amerika dalam skandal kredit perumahan (mortgage) yang menyeret dunia ke dalam krisis. Utusan China di World Trade Organization (WTO) mengecam Amerika karena tak bisa menahan kemerosotan nilai dollar yang memacu kenaikan harga minyak dan pangan dunia. Amerika dituduh bersikap bermusuhan dan diskriminatif karena menghambat perusahaan China membeli saham perusahaan Amerika yang goyah diguncang krisis. Pendek kata, China berani mengatakan sistem ekonominya terbukti lebih baik dari Amerika Serikat. Karena itu pula mereka tak akan meniru sistem demokrasi Amerika Serikat. Liao Min, salah seorang pejabat perbankan China malah berkata kepada koran The Financial Times, Mei lalu, “Konsensus Barat dalam hubungan pasar dengan Pemerintah, harus dikaji-ulang.’’ Sesuatu yang sebenarnya sudah lama disuarakan para ahli ekonomi Amerika sendiri seperti Profesor Joseph Stiglitz atau Profesor Paul Krugman, para pengeritik kapitalisme atau neo-liberalisme. Ketika terjadi gempa dahsyat di Provinsi Sichuan, mobilisasi tentara China terbukti sangat cepat ke daerah bencana. Bandingkan dengan loyonya Pemerintah Federal pimpinan Presiden Bush menghadapi serangan Badai Katrina, sehingga korban jatuh bertambah banyak. Pendek kata Amerika sekarang memang payah. “Di mana saja di dunia, kredibilitas Amerika Serikat dan kredibilitas pasar uangnya sekarang nol (zero),’’ kata Joseph Stiglitz, Profesor Ekonomi dari Columbia University, seperti dikutip The New York Times tadi. Pemenang nobel ekonomi 2001 itu, sejak lama dikenal kritis kepada Amerika Serikat dan sering memuji ekonomi China. Paul Krugman, Guru Besar Ekonomi Princeton University dan Kolomnis The New York Times, sering menyoroti sistem ekonomi Amerika yang katanya menyebabkan 0,01% orang terkaya bertambah kaya sementara yang lain stagnan atau bertambah miskin. Orang-orang kaya itu, begitu kayanya, sampai mampu ‘’membeli’’ partai politik. Awal Juni lalu, sebuah sub-komisi di DPR Amerika Serikat melaporkan bahwa anti-Amerikanisme di dunia kini mencapai level tertinggi, terutama di negara Muslim dan Amerika Latin. Laporan itu dibuat berdasarkan sejumlah survei dan pendapat para ahli. “Kekuatan militer kita tak dianggap jaminan keamanan, melainkan ancaman. Tak dianggap garansi stabilitas dan ketertiban tapi sumber intimidasi, kekerasan, dan penyiksaan,’’ kata Bill Delahunt, Ketua Sub-Komisi Organisasi Internasional, HAM dan Pengawasan, DPR. Laporan itu menyebutkan bahwa semua terjadi karena Perang Iraq, dukungan Amerika kepada sejumlah rezim represif, sikap bias Amerika dalam konflik Israel-Palestina, serta penyiksaan dan kekerasan yang dilakukan kepada para tahanan (di Guantanamo dan sejumlah penjara rahasia). Laporan itu juga menyimpulkan di dunia Islam tumbuh persepsi yang meyakinkan bahwa perang melawan teror telah digunakan Amerika Serikat untuk menghancurkan Islam. Semuanya memperluas dan memperdalam sikap anti-Amerikanisme (lihat artikel Alice Ritchie, AFP, 11 Juni 2008). Di Timur Tengah wibawa Amerika sudah rontok. Perundingan Israel dengan kelompok Hamas terjadi dengan Mesir sebagai penengah. Sedang pertemuan Suriah dengan Israel berkat difasilitasi Turki. Amerika sudah ditinggalkan. Meski demikian Pemerintah Indonesia tetap berkiblat ke Amerika. Para ekonom Presiden SBY adalah penganut sistem ekonomi neo-liberal: Budiono, Sri Mulyani, Marie Pangestu, Purnomo Yusgiantoro, dan beberapa yang lain.Karena itulah harga BBM dinaikkan, sehingga pompa bensin milik kapitalisme global bisa bersaing bebas dan menghancurkan pompa bensin milik pribumi kita (lihat Laissez-Faire Pak SBY, Laissez-Faire, www.hidayatullah.com, 21 dan 22 Mei 2008). Sekarang ladang minyak kita sebagian besar dikuasai perusahaan asing, terutama dari Amerika Serikat, seperti Exxon-Mobil, Shell-Penzoil, Total-Fina-Elf, BP-Amoco-Arco, dan Chevron-Texaco. Perusahaan itu dikabarkan menguasai lebih 70% ladang minyak dan gas Indonesia. Presiden SBY menyingkirikan Pertamina, perusahaan milik sendiri, untuk memenangkan Exxon-Mobil, perusahaan Amerika, dalam menguasai proyek minyak dan gas yang amat menguntungkan di Blok Cepu. Wajar SBY menjadi teman dekat Presiden George Bush. Wajar pula kalau dalam setiap demo anti-kenaikan BBM di mana saja, selalu ada poster menuntut penyitaan atau pengambil-alihan aset negara yang dikuasai asing. Pemerintahan SBY-JK dinilai sangat sukses melayani kepentingan asing di Indonesia, terutama Amerika Serikat. Amerika Bentuk Densus 88 Selain ekonomi, Indonesia berkiblat ke Amerika dalam politik. Sistem pemilihan langsung yang kita lakukan sekarang meniru Amerika, dan itu biayanya amat-sangat mahal. Namun itu bisa terlaksana karena pemilihan Bupati, Gubernur, dan Presiden, berlangsung dalam sistem keuangan yang tertutup. Mestinya, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) merekam telepon para calon Bupati sampai Presiden, beserta Tim Suksesnya, baru ketahuan dari mana sebenarnya dana politik itu berasal. Tapi KPK tak akan ke sana. Percayalah. Akibatnya sistem politik Indonesia terus dihidupi dengan cara-cara korupsi dan melawan hukum (baca Membuka Topeng Negara Gagal, www.hidayatullah.com, 17 dan 23 April 2008). Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta tak segan menyampuri soal Ahmadiyah dan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang bentrok dengan kelompok FPI di Monas, 1 Juni 2008. Campur tangan Kedubes Amerika merepotkan FPI, soalnya, Kepolisian selama ini mendapat dana bantuan dari Amerika Serikat. Menurut Majalah Far Eastern Economic Review (FEER), 13 November 2003, Pemerintah Amerika mengeluarkan dana 16 juta dollar (sekitar Rp 150 milyar) untuk membentuk dan melatih Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti-Teror Polri. Laporan yang sama ditulis Warta Kota, 12 November 2003, dan The Jakarta Post, 6 September 2004. Menurut berita itu, detasemen khusus anti-teror difasilitasi berbagai peralatan dan persenjataan canggih. Malah guna mobilitas pasukan, detasemen dilengkapi Amerika dengan pesawat angkut khusus C-130. Belum cukup. Congressional Research Service (CRS), lembaga riset Kongres Amerika Serikat, dalam laporan tahun 2005, menyebutkan secara terperinci dana yang dikeluarkan Pemerintahan Presiden Bush kepada polisi Indonesia dan pasukan anti-terornya. Dari situ diketahui bahwa setiap tahun POLRI menerima bantuan dari Amerika Serikat, tahun 2004 sebesar US$ 5.778.000, tahun 2005, US$ 5.300.000, dan pada tahun 2006, sebesar US$ 5.300.000 (sekitar Rp 50 milyar). There is no free-lunch. Tak ada makan siang yang gratis. Karena Kedubes Amerika Serikat memihak Ahmadiyah dan AKKBB, maka tokoh kelompok Front Pembela Islam (FPI) yang ditahan polisi seperti Habib Riziek Shihab, Munarman, dan kawan-kawan, memang mendapat masalah. Mereka tergolong kelompok anti-Amerika. Munarman adalah tokoh yang paling ngotot berkampanye mengusir proyek NAMRU-2 milik Angkatan Laut Amerika, dari Indonesia. Independensi polisi dari pengaruh Kedubes Amerika Serikat menjadi tanda tanya besar. Misalnya, pengacara Mahendradatta dari Tim Pembela Muslim (TPM) mengherankan prioritas polisi dalam menangani peristiwa Monas. Kalau berdasarkan hukum, mestinya yang menjadi prioritas adalah pria berpistol yang menggunakan kostum AKKBB. ‘’Ancaman hukuman kasus senjata api itu seumur hidup, paling berat,’’ kata Mahendradatta. Nyatanya walau kasus itu sudah dilaporkan FPI, polisi sampai sekarang belum menangkap pria berpistol. Polisi hanya sibuk menguber orang-orang FPI yang dituduh terlibat penganiayaan dengan ancaman hukuman hanya 5 tahun penjara, jauh lebih ringan dari urusan senjata api. Polisi sibuk mencari-cari pasal pidana agar bisa menangkap dan menahan Habib Riziek Shihab. [berlanjut.../www.hidayatullah] Penulis adalah Direktur Institute for Policy Studies |
| ar sburl9517 = window.location.href; var sbtitle9517 = document.title;var sbtitle9517=encodeURIComponent("Mengapa Masa Depan Milik Islam? [2]"); var sburl9517=decodeURI("http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=7095"); sburl9517=sburl9517.replace(/amp;/g, "");sburl9517=encodeURIComponent(sburl9517); Majalah Maclean, menghadapi kasus hukum karena tulisan kebencian kepada Islam. Tapi di AS, menghina agama minoritas dilindungi konstitusi. Ini ditiru kaum liberal Indonesia. Mengapa polisi tak obyektif dalam kasus Monas? [tulisan kedua] Oleh: Amran Nasution
Seharusnya DPR turun tangan mengawasi kasus ini. Ketidak-adilan polisi akan menyebabkan luka yang dalam pada bangsa ini – apalagi kalau benar itu disebabkan campur tangan Pemerintah Amerika Serikat. Selebaran dan iklan di sejumlah koran yang berasal dari AKKBB tampaknya memang provokatif : semua yang tak setuju Ahmadiyah adalah mengabaikan konstitusi, memaksakan rencana mengubah Pancasila, pemecah-belah bangsa, dan membahayakan ke-Indonesiaan. Artinya, mayoritas rakyat Indonesia yang tak bisa menerima Ahmadiyah, diberi stempel oleh AKKBB, yang tak lain dari kelompok liberal. Masalah ini sudah dilaporkan Habib Riziek tapi polisi belum bereaksi. Di Amerika Serikat sendiri kaum minoritas seperti AKKBB, tak akan berani menyerang kelompok mayoritas. Malah sebaliknya, kaum minoritaslah yang selalu menjadi korban, apakah itu minoritas ras atau agama. ‘’Di Amerika Serikat, di bawah Amendemen pertama (the First Amendment) koran dan majalah bisa bilang apa saja yang mereka mau tentang group dan agama minoritas – sekali pun tak benar, provokatif, dan penuh kebencian – tanpa konsekuen hukum,’’ tulis Adam Liptak di dalam artikelnya di The New York Times, 12 Juni 2008. Profesor Ilmu Hukum dari John F.Kennedy School of Government, Harvard University, Frederick Schauer, Februari tiga tahun lalu, menerbitkan essei berjudul: The Exceptional First Amendment . Di situ ditulisnya bahwa di banyak negara maju (terutama di Eropa), ejekan rasial, memperagakan atribut kebesaran Nazi, kebencian etnik, diskriminasi terhadap agama minoritas, diancam hukuman denda atau penjara. ‘’Tapi di Amerika Serikat, semua itu dilindungi konstitusi,’’ kata Profesor itu. Awal bulan ini, artis seks zaman baheula, Brigitte Bardot, kini aktivis penyayang binatang, didenda pengadilan 23.000 dollar, karena menyerang penyembelihan domba yang dilakukan orang Islam di Perancis. Ia telah lima kali didenda karena kesalahan yang sama. Di Austria, Sejarahwan Inggris David Irving, dihukum 3 tahun penjara karena menulis buku yang membantah holocaust, pembunuhan orang Yahudi oleh Nazi Jerman pada Perang Dunia II. Di Kanada, pada 1990, James Keegstra dihukum karena pernyataan anti-Semit. Kasus yang mirip ditemukan di Jerman. Tapi di Amerika, Mahkamah Agung membebaskan Clarence Brandenburg, pemimpin Ku Klux Klan (KKK) Ohio pada 1969. Ia diadili karena memimpin demo bertema: mengusir pulang orang Yahudi ke Israel, dan menguburkan orang kulit hitam. Kelompok sosialisme nasional dipimpin Frank Collin berbaris dengan uniform Nazi lengkap dengan lambang Swastika, melintasi perkampungan Yahudi di Skokie, Illinois, dan Marquette Park di Chicago pada 1977. Selebaran yang mereka bagikan: ‘’Mati untuk Yahudi.’’ Minoritas Muslim betul-betul tak tertolong, terutama setelah serangan teror 11 September 2001. Para tokoh Kristen Evangelical seperti Pat Robertson dan Jarry Palwel (meninggal tahun lalu) berkali-kali berpidato menyerang Islam dan Muslim, malah berteriak-teriak menyuruh mengebom Mekkah. Presiden Bush berkali-kali menyebut Islamic-fascism (fasisme Islam) dalam pidato. Tulisan para kolumnis neo-konservatif – termasuk di koran terkemuka – selalu menyerang dan mengejek Islam dan Muslim. Mereka Gunakan Jargon Presiden Bush Sekarang, majalah terkemuka di Kanada, The Maclean, sedang bermasalah karena memuat laporan utama berjudul “Why The Future Belongs to Islam’’ (Mengapa Masa Depan Milik Islam). Majalah itu akan dibawa ke pengadilan atas pengaduan masyarakat Muslim setempat. Ia dianggap menebarkan kebencian kepada Islam. Antara lain, ditulis: Islam mengancam nilai-nilai Barat. Angka pertambahan penduduknya tinggi menyebabkan Islam akan menguasai Eropa. Laporan itu ditulis Mark Steyn, penulis konservatif kelahiran Kanada, kini menetap di New Hampshire, Amerika, disarikan dari bukunya, America Alone, yang pernah menjadi buku terlaris di The New York Times Books, beberapa tahun lalu. Orang Islam di Amerika tak bisa mempersoalkan America Alone. Penulis dan penerbitnya dilindungi Amendemen Pertama. Mark Steyn sendiri cukup beken di Amerika sebagai penulis penghasut perang. Di bulan Mei 2004, ia menulis artikel menuduh koran The Daily Mirror dan The Boston Globe memuat foto palsu tentara Inggris dan Amerika menyiksa orang Iraq. Foto itu, katanya, untuk menjelek-jelekkan Presiden Bush. Tulisannya menimbulkan reaksi dari koran yang ia tuduh. Ramai jadinya. Tapi Steyn tak peduli. Ia pernah ribut dengan Andrew Jaspan dari koran Australia, The Age, karena soal yang mirip. Untuk Anda ketahui Mark Steyn-lah yang menulis kolom di Chicago Sun-Times, Januari 2007, mengatakan bahwa kandidat calon Presiden dari Partai Demokrat, Barack Obama, seorang Muslim. Obama, tulisnya, belajar di sebuah madrasah di Jakarta, dipimpin seorang imam radikal. Guna menambah seru cerita, Steyn menyebutkan bahwa tim Hillary Clinton, saingan Obama, telah memperoleh bocoran informasi itu. Tapi dua hari kemudian, Chicago Sun-Times terpaksa mengoreksi tulisan Mark Steyn yang mereka sebut telah mencemarkan Obama dan menyerang Hillary Clinton. Lynn Sweet, mewakili koran itu, mengatakan bahwa tak ada bukti Hillary Clinton berkampanye dengan menyebarkan isu seolah-olah Obama menyembunyikan keislamannya. Ia tambahkan bahwa John Vause dari CNN telah mengunjungi sebuah sekolah SD Negeri di Jakarta, tempat Obama belajar dari 1969 sampai 1971. Sebuah SD Negeri tentu beda dengan madrasah yang ditulis Mark Steyn. Terbongkar belangnya, Mark Steyn bersikap masa bodoh. Mungkin karena Obama yang diserangnya seorang minoritas kulit hitam. Sikap seperti itulah yang dianut orang liberal di Indonesia. Hanya berbeda dengan Amerika yang menyerang kelompok atau agama Katolik, Mormon, Yahudi, dan belakangan terutama Islam, di sini yang diserang adalah kelompok mayoritas Islam. Mereka gunakan jargon perang melawan teror Presiden Bush: Islam radikal, Islam ekstrim, dan semacamnya. Patrick Buchanan, intelektual dan penulis konservatif terkemuka, menulis di Real Clear Politics.Com, 17 Juni 2008, dengan judul “Return of the Censors’’ (Kembalinya Sensor). Tokoh yang pernah dua kali menjadi kandidat calon Presiden Amerika Serikat itu, menulis bahwa sebenarnya banyak orang yang setuju diperlukan semacam lembaga sensor. Banyak yang percaya bahwa menerbitkan atau mengucapkan kebohongan, merusak nama baik, harus dihukum, dan bahwa ada sejumlah rahasia militer yang harus dijaga. Tak banyak orang yang percaya bahwa Hollywood bisa melindungi masyarakat dari polusi berbahaya yang meracuni anak-anak. Sejarah Amerika bukan tak mengenal sensor. Presiden John Adam menandatangani undang-undang yang memenjarakan wartawan yang menulis berita fitnah. Abraham Lincoln, menekan koran yang menolak perangnya untuk memerdekaan budak. Sementara Woodrow Wilson memenjarakan Eugene Debs, seorang sosialis ,yang menolak perang. Maka Patrick Buchanan, penulis buku Day of Reckoning, yang menggambarkan bobroknya Amerika sekarang dan meramalkannya akan terpecah-pecah, menyimpulkan apa yang terjadi di Kanada atau Eropa dalam soal kebebasan akan menyebar, termasuk ke Amerika Serikat. ‘’Ortodoksi baru sedang tumbuh,’’ tulisnya. [kedua habis/www.hidayatullah.com] * Penulis adalah Direktur Institute for Policy Studies |
Ditulis Oleh : Ahmad Sumargono, S.E, M.M
(Deklarator Partai Bulan Bintang, Ketua GPMI, Kandidat Doktor Ilmu Pemerintahan UNPAD)
Pernyataaan Amien Rais dalam wawancara dengan majalah Tempo 4 Mei 2008 bertajuk : Ahmadiyah Punya Hak Hidup untuk kesekian kalinya membuat saya terperangah. Dengan semangat membela Ahmadiyah Amien Rais berkata, “Saya mencium ada kelompok siluman yang melakukan semacam operasi intelejen untuk memeperkeruh suasana, menghancurkan ketenangan masyarakat.” Tuduhan itu bukan alang kepalang daya pressurenya, karena di ketahui bersama bahwa komponen umat Islam terbesar, atau Islam mainstream di negeri ini inilah yang justru berada di balik protes-protes keras pembubaran Ahmadiyah. Wabil khusus tentu saja MUI ( Majelis Ulama Indonesia) yang telah dua kali mengeluarkan fatwa tegas bahwa Ahmadiyah adalah aliran sesat dan menyesatkan.
Amien Rais menyetarakan protes-protes Ahmadiyah itu dengan konflik Islam-Kristen di Ambon . kata Amien Rais , “Sebelumnya tidak pernah ada konflik Islam-Kristen di sana, tiba-tiba muncul.” Amien Rais sama sekali tidak menyebutkan akar masalah inti konflik horizontal Islam-Kristen di Ambon itu, jelas-jelas terjadi karena di mulai pertamakali dengan peristiwa penyerangan pihak Kristen terhadap kelompok Islam. Umat Islam yang baru saja merayakan Idul Fitri tiba-tiba saja di serang, di serbu, di bantai secara membabi buta. Ketika konflik berlarut-larut, umat Islam makin tersudut dan terus menerus di bantai, datanglah bala bantuan dari Laskar Jihad pimpinan Ust Jafar Umar Thalib. Posisi pun berubah, umat Islam bahkan banyak memenangkan peperangan dalam berbagai front yang ada di Ambon dan sekitarnya.
Dalam posisi umat Islam di atas angin, Amien Rais sepulang dari kunjungan ke AS (1999), tiba-tiba membuat pernyataan yang amat mengejutkan, yakni : Mengundang Pasukan asing semacam Pasukan Perdamaian PBB agar masuk ke Ambon. Ide ketua Muhammadiyah ( ketika itu) sungguh aneh. Pulang dari Amerika Serikat mendadak sontak mempunyai pemikiran yang sarat anasir aspirasi di luar Islam. Bisa di bayangkan jika benar-benar pasukan asing didatangkan ke Ambon, bisa jadi sampai hari ini konflik di Ambon akan terus berkobar.
Sikap Amien Rais yang sering kontroversial dalam setiap pernyataannya itu memang sangat menarik perhatian pers juga publik yang membacanya. Tulisan-tulisan Amien Rais yang merinci masalah Tambang di Busang juga Freeport, (1997) di elu-elukan masyarakat khususnya Islam. Dengan angka-angka yang amat gamblang Amien Rais membongkar ketidakadilan kontrak karya di Busang dan Freeport. Amien Rais menyebutkan lokasi tambang emas Freeport kini menjadi kubangan raksasa berupa danau. Seluruh isinya, gunung emas sudah pindah ke Amerika Serikat. Sikap kritis Amien Rais yang pro rakyat dan sebaliknya dengan berani menghantam rezim Soeharto, telah melambungkan nama Amien Rais menjadi pahlawan baru. Saya sendiri sejak awal sangat bersahabat dan bersimpati kepada Amien Rais karena itu ketika Amien Rais semakin melambung namanya karena sikap kritisnya kepada rezim Soeharto, hal ini telah membuat rezim Soeharto berang dan dan merekayasa agar Amien Rais di copot jabatannya sebagai Ketua Dewan Pakar ICMI.Habibie pun ikut menekan agar Amien Rais mundur. Di sini, saya membela posisi Amien Rais dan menulis duduk masalahnya secara gamblang di harian KOMPAS, “Amien Rais dan masa depan ICMI” ( KOMPAS 24 Februari 1997). Tetapi bersamaan dengan waktu yang terus berjalan dengan jatuhnya rezim Soeharto, sepak terjang Amien Rais terus bermunculan yang “aneh” buat saya. Karena sikapnya dalam konflik Islam-Kristen di Ambon, ingin mendatangkan pasukan asing , semacam Pasukan Perdamaian PBB itu. Adian Husaini menulis buku berjudul : Amien Rais dan Amerika Serikat, yang sarat kritik pedas. Buku yang amat gamblang membedah penampilan Amien Rais yang justru konsisten “mengabdi” kepada kepentingan asing, hal ini tidak pernah di jawab oleh Amien Rais.
Sikap Amien Rais di hari-hari “musim semi” umat Islam membentuk partai politik Islam pasca lengsernya Presiden Soeharto, sekitar Juni-Juli 1998, kembali pilihan dan sikap Amien Rais menjadi tanda tanya besar buat saya. Ketika itu saya dan tokoh-tokoh Islam lainnya sibuk pula mempersiapkan partai Islam penerus Masyumi yang kemudian menjadi partai Bulan Bintang sekarang. Sususnan pengurus DPP (sementara) sudah sepakat di tentukan melalui rapat-rapat di kediaman Bapak HM Cholil Badawi dan DR. Anwar Haryono SH. Di Ketua umum pun di se pakati akan duduk Yusril Ihza Mahendra. Namun tatkala Amien Rais bertandang kerumah Pak Anwar Haryono, Juli 1998 di tawarkanlah agar Amien Rais mau duduk sebagai Ketua Umum Partai Bulan Bintang. Amien Rais pun dengan mantap menyanggupi tawaran itu, Sdr Yusril pun ( saat itu sedang berada di Banyuwangi Jawa Timur) langsung di telepon dan siap posisinya di gantikan Amien Rais dan Yusril duduk sebagai Sekjen. Adegan mengharukan pun tercipta. Semua yang hadir larut dalam tangis dan saling peluk, di mana Amien Rais pun memeluk dan di peluk Anwar Haryono yang hanya bisa duduk di kursi roda karena mengidap stroke. Semua orang menjadi lega terutama Anwar Haryono yang di kenal sebagai juru bicara Masyumi setelah partai ini di paksa bubar oleh rezim Soekarno pada tahun 1960. Acara di tutup dengan doa bersama untuk kesukesan partai penerus Masyumi itu. Selanjutnya Amien Rais pun pamit segera pulang karena hari itu adalah hari Jumat dan harus segera pulang melaksanakan sholat Jumat di kantor pusat PP Muhammadiyah di Menteng Raya 62 Jakarta.Kejadian yang amat dramatis itu terjadi hanya beberapa jam saja setelah adegan pelukan -pelukan yang mengaharukan di rumah Bapak Anwar Haryono. Amien Rais tiba-tiba muncul di layar televise seusai sholat Jumat di kantor PP Muhammadiyah. Ketika wartawan menanyakan, apakah Pak Amien Rais mantap akan memimpin partai Bulan Bintang, Amien Rais menjawab, “ Saya akan mendirikan partai lain yang lebih terbuka . Bagi saya partai seperti Partai Bulan Bintang ibarat baju akan “kesesakan” jika saya “pakai”, pernyataan ini kini di catat sejarah menjadi pendirian seorang Amien Rais. Ia kemudian memprakarsai berdirinya PAN (Partai Amanat Nasional) bersama-sama Goenawan Mohammad , Albert Hasibuan dll. Platform partai pun di kabarkan di siapkan orang-orang Goenawan Mohammad, walau bos Kelompok Tempo ini tak lama setelah PAN berdiri justru meninggalkan PAN.
Bela Ahmadiyah
kembali ke pernyataan Amien Rais soal Ahmadiyah di awal artikel ini. Seharusnya saya tidak perlu terkejut karena sudah memiliki catatan historis tentang Amien Rais. Komentarnya terhadap FUI (Forum Umat Islam) memang menyakitkan. FUI di tuduh sebagai organisasi siluman. Padahal FUI ini merupakan gabungan lebih dari 50 ormas Islam termasuk Muhammadiyah berada di dalamnya. Saya tahu bahwa Amien Rais tahu persis personel di tubuh FUI yang tak lain adalah justru para sahabatnya sendiri yang pada tahun 2004 lalu justru mendukungnya maju sebagai Capres.
Di tengah keraguan dan track record Amien Rais yang kelabu itu, toh Amien Rais tetap di jagokan seluruh Komponen politik Islam, PKS juga tokoh-tokoh Islam, misalnya KH. Abdul Rasyid Abdullah Syafii (Tokoh ulama Betawi kharismatik yang kini menjadi pimpinan FUI). Walau demikian menjadi gamblang pula, potret Amien Rais yang hari ini bisa tampak sangat melawan Amerika Serikat, namun nanti sore dia sangat membela kepentingan Paman Sam. Kata ungkapan Jawa: “Isuk Dele Sore Tempe” (Pagi masih berupa Kedelai dan sore hari sudah berubah menjadi tempe).
Saya teringat pada sebuah diskusi di Universitas Trisakti awal 1980-an sepulang Amien Rais dan Nurcholis Madjid dari studi di Chicago University. Sikap Nurcholis Madjid yang cenderung ingin mencari selamat itu di sindir Amien Rais dengan menyitir anekdot Kyai, Ular dan Kodok. Cerita Amien Rais di sambut dengan gelak tawa yang meledak. Karena sikap kyai yang sangat plin plan itu di lekatkan ke tubuh Nurcholis Madjid dengan sangat jitu. Kini saya bisa memastikan bahwa sikap kyai seperti itu ternyata juga melekat di tubuh Amien Rais.
Sebagai mubaligh yang hampir setiap hari menghampiri umat dan masyarakat luas di tingkat grass roots, saya kini acapkali di sergap pertanyaan jamaah yang awam “Bagaimana kabar pak Amien Rais? Menurut rakyat awam, kehancuran bangsa Indonesia saat ini mutlak menjadi tanggung jawab Amien Rais. Sikapnya yang jelas-jelas plin plan dan tidak konsisten bahkan membawakan agenda asing (seperti sikapnya mengenai masalah Ahmadiyah) kini terbuka dengan senyata-nyatanya. Kini menjadi pertanyaan besar :
Ada Apa sebenarnya Amien Rais dengan Ahmadiyah?
Sebuah dokumen awal reformasi niscaya bisa membantu kita. Amien Rais saat menjabat sebagai ketua MPR-RI, pada 22 April 2000 pernah menerima kunjungan Kholifah Ahmadiyah Mirza Thahir Ahmad. Kunjungan pemimpin Ahmadiyah ini di atur oleh Dawam Raharjo, dalam kapasitas sebagai salah-satu pimpinan Muhammadiyah. Mirza Thahir sempat berkunjung ke berbagai kota di Jawa dan mengumumkan pencanangan Indonesia (menjadi) Pusat Ahmadiyah di dunia. Di Yogya Mirza juga mengumumkan hendak membuka Perkampungan Islam Internasional degan lahan seluas 500 hektar bekerjasama dengan Sri Sultan Hamengkubuwono. Ketika itu, foto Amien Rais saat menerima kunjungan cicit Mirza Ghulam Ahmad ini di muat hampir seluruh media massa baik cetak dan elektronik. Kunjungan ini pun sempat di protes oleh kelompok Khatamunnubuwwah dari Pakistan yang sengaja mengirimkan 50 orang utusannya ke Indonesia untuk memprotes PP Muhammadiyah yang telah menjalin kerjasama dengan Ahmadiyah/ Mirza Thahir Ahmad. Dari balik cerita ini bisa di duga mengapa Amien Rais begitu membela Ahmadiyah.
Quo Vadis Amien Rais. (Umat Islam Niscaya Tidak akan Mendukungmu Lagi !!!).
Wallahu’alam bissawab.
‘(Sumber : Tabloid Suara Islam, Juni 2008)’

Dalam hidupku, ada 3 mimpi yang tidak akan pernah saya lupakan. Ini mimpi dalam arti yang sesungguhnya, mimpi yang datang saat saya sedang tidur, bukan dalam artian harapan.Baru pulang dari Seminar bertemakan “Business Creativity” di gedung SPC Jl. Gatot Subroto Jaksel, dengan keynote speaker Pak Ikhwan Asrin (Deputi Bid. Pemasaran dan Jaringan Usaha Kementerian Negara Koperasi dan UKM) dan Pak M Taufiq (Staff Ahli Kemenkop & UKM Bid. Pengembangan Usaha dan Kewirausahaan.
Acara tadi dimulai pagi jam 8.30 dengan pembicara Pak Handito Joewono (President Arrbey) dan Pak Tung Desem Waringin (Motivator).
Pak Taufik menyampaikan tentang Getuknas (Gerakan Kewirausahaan Nasional) lucu juga istilahnya hehehe…beliau mengungkapkan fakta kependudukan di Indonesia 224,3 juta jiwa (BPS 2007) 100 %, Jumlah angkatan kerja 108,1 juta jiwa (48,2%), Jumlah Pekerja 97,5 juta jiwa, pengangguran 10,5 juta, penduduk miskin 37,1 juta jiwa.
dan fakta membuktikan bahwa semakin tinggi pendidikan, makin rendah kemandirian dan semangat kewirausahaannya, itu terbukti dengan lulusan Perguruan Tinggi 83,18 % menjadi Buruh/karyawan.
Para pengangguran terdidik umumnya : tidak punya NYALI dan tidak punya INISIATIF untuk BERBISNIS. fantastis sekali…
Kalo presentasi Pak Handito yang dapat saya simpulkan adalah : Karakteristik orang yang mempunyai “jiwa bisnis” dirangkum dalam “7n1″ Karakter Pebisnis baru.
1. Kreatif Spontan
2. Intuisi
3. Berani Bermain Resiko
4. ‘Melanggar’ Aturan Main
5. Serba Bisa
6. Pengendalian Konflik
7. Tidak Cepat Puas
n. Pantang Mundur
dan 5 Strategi untuk memulai bisnis baru
1. mulai dari apa yang kita sukai
2. mudah dibuat
3. bisa ‘makan rutin’
4. pasar lumayan (good market)
5. Jangan terlalu lama (Not to loong).
sesi teraktir dari Pak Tung Desem Waringin seorang motivator pembuat buku yang best seller tentang Marketing Revolution. sebuah motivator yang ulung dalam ide kreatif nya dalam dunia marketing salah satu yang paling heboh dibuatnya yaitu hujan duit 100 juta… memang edan nih orang.
semua orang di peserta jadi termotivasi dari penyampaiannya dan memang masuk akal…
capek ah.. mo pulang ke kost.