Jul
31st

info advantra

Files under | Leave a Comment
Assalamu'alaikum,

Pelaksanaan Advantra dan PID di Jakarta akan dilaksanakan pada 2-13 September 2008.
Persyaratannya blm terbit dr PB PII.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu
Barakallah fi kum, Waffaqanallah fi al-khair...

yang nio ikut..samo wak yo ( mudah2an)...
zami...
ayah wisma thaliban...
winda...
ghazali...
oby...
tya...
dll nan lun ikut advantra...
termasuk yang dari luar sumbar, kalau mau ikut datang ja ke sekret kita atau kontak ketum atau tinggalkan email di shout bax piisumbar...
Jul
31st

Untukmu sahabat pejuang dakwah

Files under | Leave a Comment
berada di jalan dakwah
bukanlah suatu takdir
melainkan pilihan atas izin Alloh..

di jalan ini tak semulus jalan tol,
banyak lubang dan duri.

jalan ini tak seindah jalan berkarpet
merah, tapi penuh dengan rintangan dan
pengorbanan.

jalan ini bukanlah jalan menuju harta karun,
yang menjanjikan emas,
perak,
uang,
dan perhiasan lainnya.

jalan ini adalah jalan yang membutuhkan
tetesan keringat, cucuran air mata,
bahkan darah.

tapi ini adalah jalan yang mengantarkan
orang - orang yang melaluinya ke tempat
terindah, ternyaman

" JANNATI FIRDAUS ".

tersenyumlah saudara ku karena jalan
kita tak seseram tampilannya,
ada janji RABB pada kita !


Salam Ukhuwah Fisabilillah
Jul
31st

Ulah Polisi

Files under | Leave a Comment
Pada Hari Selasa (27/7) malam, saya dihentikan oleh polisi ketika mengemudi motor sambil membonceng istri di persimpangan Jl. Juanda. Polisi itu mengaku bernama Cahyo dari Kepolisian Resort Depok. Kesalahan saya adalah karena saya menerobos lampu merah yang baru saja menyala. Seharusnya saya sudah harus mengurangi kecepatan ketika lampu kuning menyala. Di pos polisi itu saya dikenai tilang
Jul
31st

Jutaan Perokok Mati Sia-sia

Files under | Leave a Comment
Dewasa ini ada 4,9 juta orang mati sia-sia setiap tahunnya akibat rokok.

Patut diketahui pula sekitar 100 juta orang telah meninggal akibat rokok pada abad ke-20. Kalau tren ini terus berjalan maka pada abad ke-21 akan ada satu miliar orang yang meninggal akibat rokok.

Sejauh ini peringatan dalam bungkus rokok yang mencantumkan bahaya merokok tidak cukup efektif. Belum lagi istilah low, light, mild, dan lain lain yang justru menyesatkan.

Soalnya, tidak ada penurunan bahaya yang bermakna dengan penurunan kadar tar dan nikotin dengan cara ini. Istilah itu hanya memberi kesan rokok "aman" sehinggga si perokok cenderung merasa "boleh" merokok dan bukan tidak mungkin akan mengonsumsi rokok lebih banyak lagi karena merasa mengisap rokok "ringan".

Makanya dibuat peringatan yang lebih keras dan tegas akan bahaya merokok. Gerakan ini sudah dilakukan di Inggris dalam bentuk iklan di televisi yang cukup mendirikan bulu roma.

Gambar cairan lemak yang dikeluarkan dari arteri perokok ditunjukkan dengan sangat jelas, agar para perokok --yang berniat berhenti merokok di awal tahun baru ini-- semakin membulatkan tekatnya.

Mereka yang sudah lama merokok ditengarai lebih berisiko terkena penyakit jantung akibat terjadinya penyumbatan dalam pembuluh darah. Iklan rokok tadi dibiayai oleh Yayasan Jantung Inggris, dengan harapan bisa memperkecil jumlah perokok hingga 1,5 juta orang dalam jangka enam tahun mendatang sampai 2010.

Saat ini, tercatat 20 persen pria dan 26 persen wanita Inggris merokok secara teratur setiap hari. Indonesia sendiri berada dalam kondisi cukup parah, yakni negara dengan konsumsi rokok nomor lima terbesar di dunia.

Adegan dalam iklan televisi tadi berlatar belakang sekelompok pria dan wanita muda yang sedang nongkrong di pub menyalakan rokok dikelilingi bir dan minuman keras. Selain tumpukan abu rokok, para penonton menyaksikan cairan lemak "menjijikkan" meleleh dari ujung rokok. Iklan itu kemudian memperlihatkan gambar pembuluh darah dari seorang perokok berusia 32 tahun yang nyaris sepenuhnya tersumbat lapisan lemak.

Merokok berkaitan dengan risiko penyakit jantung dan mengurangi harapan hidup, akibat kerusakan lapisan sel pada dinding pembuluh darah yang lebih rentan mengalami pengerasan, penyempitan dan penyumbatan.

Profesor Sir Charles George dari Yayasan Jantung Inggris mengatakan iklan antirokok tersebut dapat membantu orang-orang yang berketetapan hati berhenti merokok di tahun 2004 ini.

�Meski jumlah perokok semakin menurun, masih dibutuhkan usaha ekstra keras untuk semakin memperkecil jumlahnya,� ujar George.

Pemerintah Inggris menyumbang 7,5 juta poundsterling untuk mengkampanyekan gaya hidup sehat memasuki tahun yang baru ini.

Selain Inggris, iklan sejenis yang menayangkan penyumbatan pembuluh darah dilakukan pula di 12 negara lain.

Ketika penduduk Australia menyaksikan tayangan ini untuk pertama kalinya, 190.000 perokok dilaporkan berhenti, dalam waktu kurang dari satu bulan.

Menteri Kesehatan Inggris Melanie Johnson dalam pesan tahun barunya menyatakan, �Pesan dalam iklan anti rokok tersebut sangat keras dan tegas, dan itu bagus. Rokok merupakan ancaman besar bagi kesehatan dan menimbulkan berbagai risiko penyakit.�

�Saya ingin jumlah perokok berkurang hingga 1,5 juta orang pada 2010 nanti. Target ini agak ambisius, tetapi kami bertekat mencapainya,� tegas Johnson.

Diperkirakan terjadi 120.000 kematian setiap tahun di Inggris berkaitan dengan aktivitas merokok.

Perlu diingat asap rokok terdiri dari 4.000 bahan kimia dan kebiasaan merokok diketahui dapat menyebabkan 25 penyakit di tubuh manusia. Asap rokok tidak saja mengganggu kesehatan perokok aktif tetapi juga para perokok pasif, dan dapat menimbulkan kematian. (zrp/bbc.co.uk)
Jul
31st

3.000 Dolar AS untuk Pornografi Setiap Detik

Files under | Leave a Comment
Asosiasi Warung Internet Indonesia (AWARI) mengungkapkan, di dunia sebanyak 3.075,64 dolar AS dibelanjakan untuk pornografi setiap detiknya.

"Statistik industri pornografi pada 2006, setiap detiknya 3.075,64 dolar AS dibelanjakan untuk pornografi," kata Ketua AWARI, Irwin Day, dalam jumpa pers tentang internet sehat bagi anak-anak di Kantor Depkominfo, di Jakarta, Jumat.

Mengutip data sebuah situs internet reviewer, Irwin mengatakan, pendapatan industri pornografi global pada 2006 sebanyak 97,06 Miliar dolar AS, dengan empat besar negara peraih pendapatan terbanyak yaitu China sebanyak 27,40 Miliar dolar AS, Korea Selatan sebanyak 25,73 Miliar dolar AS, Jepang sebanyak 19,98 Miliar dolar AS dan Amerika sebanyak 13,33 Miliar dolar AS.

Dia mengatakan, sebanyak 28.258 pengguna internet melihat konten pornografi dan sebanyak 372 pengguna internet mengetikan kata kunci berkaitan dengan pornografi.

Irwin mengakui dirinya belum mendapatkan data yang terkait dengan industri pornografi.

Mengutip data dari Alexa, Irwin mengatakan, 7 dari 100 top site Indonesia adalah situs porno dan 15 dari 100 top site dapat ditumpangi konten porno.

Untuk memblokir akses situs pornografi, katanya, ada tiga teknik penyaringan yang dapat dilakukan yaitu penyaringan di PC, penyaringan di proxy/cache server dan penyaringan dengan menggunakan DNS (Domain Name System).

Pada kesempatan yang sama, Asisten Deputi Urusan Hak Sipil dan Partisipasi Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan, Sri Pardina Pudiastuti mengatakan, pihaknya bekerjasama dengan instansi pemerintah lainnya melakukan berbagai upaya untuk memblokir situs-situs pornografi yang sangat berbahaya bagi pertumbuhan dan perkembangan psikologi anak.

"Anak-anak Indonesia sejak dini perlu mendapatkan bimbingan dan informasi yang memadai tentang dampak positif dan negatif dari penggunaan internet," kata Sri Pardina.

Sedangkan langkah-langkah yang diperlukan untuk mewujudkan internet yang sehat bagi anak antara lain mendorong penegakan hukum yang tegas terhadap pelanggaran, mengadakan kampanye penggunaan internet sehat bagi anak.

Dia mengatakan, pihaknya juga berusaha dengan pihak lain untuk mendorong dan mengembangkan dibuatnya situs-situs untuk anak-anak.

Sedangkan Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Masnah Sari, mendorong adanya kerjasama secara terpadu antara pemerintah, orang tua, keluarga, dunia pendidikan, masyarakat dan dunia usaha untuk meminimalisir dampak negatif internet pada anak-anak.

"KPAI menghimbau orang tua dan keluarga untuk mendampingi anak ataupun anggota keluarganya yang berusia anak dalam menggunakan internet," katanya.(antara)
Jul
30th

Files under | Leave a Comment
Silahkan berkunjung Ke

Jul
29th

Kitab (4)

Files under , Ageman | Leave a Comment
Isra Miraj dan Kebebasan Beragama
Oleh Ibn Ghifarie

Apapun alasanya mengumpat, mencaci-maki, menghancurkan tempat ibadah tertentu, hingga menghilangkan nyawa orang lain, tak termasuk dalam kategori perbuatan baik.

Di tengah-tengah keterpurukan, masih banyak kelompok yang melakukan perbuatak senonoh atau menempuh jalan pintas dalam menyelesaikan persoalan. Budaya baku hantam menjadi jurus pamungkas guna menumpas semua golongan yang berbeda.

Apakah kita tidak lelah? Apakah kita tidak ada kepentingan dan kebutuhan lainya yang lebih urgen dari pertengkaran tak berarti itu? Apakah kita memang lebih gandrung terhadap budaya barbar daripada duduk rukun dan bicara dari hati ke hati?

Mampukah kehadiran Isra Miraj yang jatuh pada tanggal 30 Juli 2008 (27 Rajab 1429 H) dapat memberikan spirit keadilan, kemerdekaan sekaligus membuka ruang untuk tumbuh dan berkembangnya kebebasan beragama di Indonesia bagi komunitas penghayat atau aliran kepercayaan.

Spirit Yang Terlupakan
Momentum Isra Mi'raj Nabi Muhammad merupakan tonggak awal lahirnya peradaban Islam berbasis keimanan yang kukuh. Perintah shalat pun menjadi petanda peradaban Rasul untuk menegakkan keadilan, kemerdekaan sesuai dengan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan.

Singkatnya, perjalanan suci kenabian (dari Mesjid Haram ke Mesjid Aqsa lalu ke sidrat al-muntaha) harus menjadi tonggak keteladanan yang mesti diserap dalam kesadaran (kehidupan) umat Islam.

Pasalnya, para ulama sirah nabawiyah hampir menyepakati, seperti ditulis Zuhairi Misrawi, Isra dan Mi'raj merupakan perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Yerusalem (isra) serta dari Yerusalem menuju singgasana Tuhan atau sidrat al-muntaha (mi'raj).

Muhammad Husein Haikal dalam Hayat Muhammad menjelaskan, sebagaimana ditulis Dermenghem dan Ibnu Hisyam, setelah sampai di Yerusalem, Nabi Muhammad SAW melakukan sembahyang di atas puing-puing Kuil Sulaiman bersama utusan Tuhan yang lain, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi Isa.

Lalu, Nabi Muhammad bersama Malaikat Jibril naik ke langit memenuhi panggilan Tuhan, hingga akhirnya melakukan negosiasi dengan Tuhan ihwal perintah shalat bagi kaum Muslim. Sejak itulah shalat disyariatkan bagi kaum Muslim hingga kini.

Bila kita kuat memegang amanat Isra Miraj niscaya tak akan ada lagi upaya 'penertibak keyakinan' oleh kelompok tertentu terhadap golongan yang berbeda sekalipun kuat memegang teguh tradisi leluhurnya. Seolah-oleh mereka tak masuk kategori islam dan harus diislamkan. Inilah wajah muram islam indonesia.

Ambil contoh perlakuan tak lazim ini menimpa komunitas penghayat Sunda Wiwitan, Cigugur Kuningan Jawa barat. Anehnya lagi pemerintah ikut melanggengkan budaya benci dan masyarakat pengkayat itu untuk memilih agama resmi yang diakui oleh negara. Islam, Katolik, Protestan, Budha, Hindu, dan Konghucu. Di luar keenam keyakinan berbau tradisi lokal sarat pengawasan. Badan Kordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakor Pakem) pun menjadi juru kunci penguasa dalam mengatur keimanan.

Alhasil, negera tidak mengakui pernikahan masyarakat adat. Akta nikah, akta kelahiran, KTP (Kartu Tanda Penduduk) pula menjadi bagian yang sangat susah didapatkan oleh para penghayat.

Salah satunya, kasus ini menimpa Lastri, sejak duduk dibangku Sekolah Dasar (SD). Ia acapkali diejek oleh temen-temennya manakala mengetahui dirinya penganut Sunda Wiwitan. Eh...eh..Madrais (Agama Jawa Sunda), Madrais, Kafir, Kafir dan Kafir. Terlebih lagi ditengah persaingan dunia kerja. Ia kembali dijegal status agama di KTP untuk menyatakan identitas sesungguhnya.

Perlakuan diskriminatif tak berakhir sampai disini saat ingin menggelar perkinahan pula deraan serupa menimpanya saat mencatat perkawinannya ke kantor catatan sipil daerah setempat. 'Udah atuh jangan dicatetin,' cetus petugas sipil

Dengan kesal ia menjawab 'Mba aku tuh ingin menjadi seorang warga negara Indonesia yang baik ketentuan-ketentuan yang berlaku di bumi pertiwi ini aku ingin menjalaninya,' paparnya. (Jurnal Perempuan Edisi 57)

Kebebasan Beragama
Kemerdekaan, keadilan, sikap keterbukaan menjadi barang langka di Nuasntara ini. Urusan keimanan saja pemerintah masih ikut mencampurinya. Padahal negara kita bukan pemerintahan teokratis atau sekuler. Namun, penertiban kepercayaan selalu digalakan. Atas nama meresahkan masyarakat, berbuat onar, menafikan Tuhan, hingga penodaan agama kerap menjadi dalih untuk membumi hanguskan keberadaan mereka.

Kiranya, jaminan kebebasan berkumpul, berserikan dan beragama sesuai dengan keyakiannya dan hak kemerdekaan pikiran, nurani dan kepercayaan hanya berhenti pada Pasal-pasal (28 ayat 2, 29 ayat 1 dan 2), Undang-undang (No 1/PNPS/1965) dan Surat Edaran (SE) Menteri Dalam Negeri No 477/ 74054/ BA.012/ 4683/95 tertanggal 18 November 1978 semata.

Salah satu hak dan kebebasan dasar yang diatur ICCPR sekaligus sudah dirativikasi adalah hak atas kebebasan berkeyakinan dan beragama, mencakup kebebasan menganut, menetapkan agama, kepercayaan atas pilihan sendiri, dan kebebasan, baik secara individu maupun bersama, di tempat umum maupun tertutup, untuk menjalankan agama, kepercayaan dalam kegiatan ibadah, ketaatan, dan pengajaran. Tidak seorang pun dapat dipaksa sehingga mengurangi kebebasan untuk menganut, menetapkan agama, kepercayaan sesuai dengan pilihannya.

Dalam urusan perkawinan. Pasal 1 Undang-undang Perkawinan No 1 Tahun 1974 menjelaskan perkawinan ikatan lahir-batin anatara pria dengan perempuan sebagai suami-istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Pasal 2 ayat 1 perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaan. Ironis memang.

Dengan demikain, Isra Mi'raj harus menjadi ajang evaluasi kebebasan beragama. Bukan malah sebaliknya kita sengaja menabur ayat-ayat penuh kebencian dan fitna dalam wilayah keyakinan. Inilah yang di inginkan Joahim Wach, Guru Besar Perbandingan Agama dalam mengeja suatu kebenaran.

Memang benar, bahwa untuk mencintai kebenaran orang harus membenci ketidakbenaran. Akan tetapi tidak benar bahwa untuk memuji keyakinan sendiri, seseorang harus membenci dan merendahkan keyakinan orang lain (Joahim Wach, 2000)

Inilah makna terdalam Isra Miraj bagi komunitas penghayat. Terwujudnya kedamaian, toleransi, saling menghormati antarajaran, antaragama, dan antarkelompok menjadi cita-cita tertinggi masyarakat Indonesia yang beradab. Semoga.

*IBN GHIFARIE, Pengiat Studi Agama-agama dan Pemerhati Kebebasan Beragama

Tulisan ini pernah dimuat di Harian Kompas Biro Jabar, Selasa 29 Juli 2008
“tulislah” ungkap Pramoedya Ananta Toer “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penarbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna,”
Jul
29th

Bias Berita, Rusak Etika Jurnalistik

Files under | 1 Comment
Biasnya pemberitaan tentang Islam selama ini disebabkan pengidolaan pers lokal terhadap media Barat.



Wartawan senior, Amran Nasution mengatakan, biasnya pemberitaan tentang Islam selama ini disebabkan pengidolaan pers lokal terhadap media Barat.


“Bias yang diimpor dari Amerika Serikat. Wartawan-wartawan Amerika itu sudah dihinggapi praduga yang parah terhadap orang Arab, Islam, kulit berwarna, dan sebagainya,” kata Amran dalam diskusi tentang media sekaligus acara peluncuran versi baru situs Hizbut Tahrir Indonesia di Wisma Antara, Jakarta, 28/7 kemarin.


Contoh nyatanya kata Amran, adalah pemuatan foto Panglima Komando Laskar Islam, Munarman sedang mencekik seseorang di halaman muka harian Koran Tempo awal Juni lalu. Tanpa konfirmasi, Koran Tempo menulis keterangan Munarman sedang mencekik anggota Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan.


Ternyata keterangan Tempo salah. Pria yang dicekik adalah anggota Laskar Islam yang dilerai Munarman agar tidak bertindak anarkistis. Kata Amran, cara-cara ini dipraktekkan oleh media AS untuk mendukung invasi Amerika ke Irak pada tahun 2003 lalu.


“Ini jelas penyesatan. Tempo sekarang jadi pejuang,” kata mantan wartawan Majalah Tempo di era Orde Baru ini. Padahal, sambung Amran, kata “pejuang” dahulunya sering dipakai sesama wartawan Tempo sebagai ejekan terhadap wartawan yang cenderung menyerang atau membela suatu pihak.


Turut memberi tanggapan, Edi Utama dari kantor berita Antara mengatakan, ada dua kemungkinan Tempo bertindak demikian. Pertama karena Tempo ikut dalam suatu grand design. Kedua karena ingin mengejar pasar.


Edi mengakui tindakan Tempo adalah teknik penggiringan opini. Faktanya pelanggaran kaidah jurnalistik. “Tidak kali ini saja. Tempo memang langganan digugat,” kata Edi.


Turut menjadi pembicara, Juru Bicara HTI Ismail Yusanto dan Pimpinan Redaksi Majalah Suara Hidayatullah Mahladi. Ditanya tentang masalah obyektivitas dan keberpihakan media, Mahladi tegas mengatakan medianya berpihak.


“Kami tegas berpihak kepada Islam. Apa yang menjadi musuh Islam menjadi musuh kami,” ujar Mahladi. Sebagai konskuensi, medianya sering mendapat kritikan dari luar, termasuk dari pejabat pemerintah. Bahkan diakuinya, Suara Hidayatullah bersama media Islam seperti Sabili kerap disebut sebagai media sektarian. (surya/www.hidayatullah. com)
Jul
29th

Biarlah Gambar Berbicara













Jul
28th

Capres Malu-malu

Files under | Leave a Comment
Depok (ANTARA News) - Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, Din Syamsuddin mengharapkan ada kebersamaan antar potensi umat Islam dalam setiap Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) maupun Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres).

"Sedapat mungkin pada pilkada dan pilpres yang akan datang ada kebersamaan antara berbagai potensi umat Islam, baik Parpol maupun organisasi yang berbasis Islam," kata Din Syamsuddin, usai menjadi pembicara Talk Show Wajah Muslim Indonesia, dengan tema "Muslim Indonesia Cermin Masyarakat Islam Inklusif", di Fakultas Ilmu Budaya (FIB), di Depok, Kamis.

Menurut dia, jika partai-partai Islam yang akan bertarung dalam Pemilu 2009 nanti bersatu, maka akan menjelma menjadi kekuatan yang bisa memenangi pemilihan langsung tersebut.

Namun ia mengingatkan untuk memimpin bangsa ini ke depan, memang tidak bisa hanya satu golongan saja yang menguasai, tetapi perlu kerjasama dengan golongan-golongan lain yang ada di Indonesia.

Sementara itu, ketika ditanya kesiapan untuk dicalonkan sebagai Calon Presiden (Capres) atau wakil Presiden (Cawapres) ia menyatakan kesediaannya.

"Saya merasa tidak enak untuk menjawab tidak bersedia atau tidak mampu," jelasnya.

Namun ia menjelaskan bahwa saat ini belum waktunya membicarakan pencalonannya sebagai capres atau cawapres, karena akan ada waktunya.

"Saat ini belum waktunya karena nanti ada jadwalnya sendiri yang ditentukan oleh partai-partai," katanya.

Dikatakannya hingga saat ini belum ada satu partaipun yang secara resmi mengusungnya sebagai Capres atau cawapres.

"Kalau secara resmi belum ada, termasuk partai-partai Islam, karena parpol masih perlu waktu untuk menjaring Capres yang diusung," ujarnya

Sultan Malu Dicapreskan

Gubernur Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X menyatakan tidak memperasalahkan jika Partai Golkar DIY akan mencapreskan dirinya dalam Pemilu 2009.

"Jika memang Partai Golkar DIY berniat mencapreskan saya, ya tidak menjadi masalah. Namun, perlu diketahui sampai saat ini saya bukan kandidat dan belum pernah mendeklarasikan diri untuk maju Pilpres 2009," katanya di Yogyakarta, Kamis.

Diminta komentarnya tentang niat Partai Golkar DIY mencapreskan dirinya, ia kepada wartawan mengatakan niat Partai Golkar DIY itu merupakan aspirasi dari masyarakat, sehingga baginya bukan persoalan.

"Siapapun yang akan mencalonkan saya dalam Pilpres 2009 ya silakan saja. Semua itu kan sebagai bentuk aspirasi rakyat," kata Sultan HB X sambil buru-buru masuk ke mobilnya.

Sebelumnya, Ketua DPD Partai Golkar DIY, Gandung Pardiman mengatakan Partai Golkar DIY akan memperjuangkan Sri Sultan Hamengku Buwono X menjadi calon presiden (capres) pada pemilihan presiden (pilpres) 2009.

"Kami menginginkan Sultan HB X maju pada pilpres 2009 yang tidak menjadi calon wakil presiden (cawapres), tetapi capres," katanya.

Menurut dia, upaya menjadikan Sultan HB X sebagai capres pada Pilpres 2009 sedang dikomunikasikan dengan DPP Partai Golkar. "Saat ini masih dalam tahap pembicaraan. Kami sedang membicarakan ini dan diharapkan semua pihak berkenan mendukung Sultan HB X sebagai capres," katanya. (antara/amz)
Jul
28th

Amien Rais Hanya Ingin “Tunggu Bola Saja”

Files under | Leave a Comment
Jakarta (ANTARA News) - Mantan Ketua MPR Amien Rais menyatakan bahwa dirinya hanya akan menanti bola saja dan tidak akan menonjolkan diri untuk turut berkompetisi di Pilpres 2009.

"Saya akan `open minded` saja. Kalau tidak ada yang membutuhkan, buat apa mendorong-dorong diri," ujarnya, menjawab pers di Gedung DPR Jakarta, Senin, terkait dengan apakah ia masih akan mencalonkan diri sebagai capres lagi di pilpres 2009.

Pada Pilpres 2004, Amien Rais yang diusung PAN mencalonkan diri sebagai capres bersama Siswono Yudohusodo dan ia menempati posisi keempat dari lima kandidat yang bersaing saat itu.

Tapi, menurut Amien, kalaupun ternyata ada elemen-elemen politik bangsa ini yang masih memandangnya layak untuk tampil, ia pun siap pula menyambutnya.

"Saya siap karena memang mempunyai konsep untuk memimpin negeri ini dan Bismillah saja," ujarnya.

Namun demikian, Amien menyatakan tidak mau "GR" dengan menyatakan siap untuk dilamar partai-partai yang memang berminat mencalonkannya.

Mengenai wacana capres muda, mantan Ketua Umum PAN dan Ketua PP Muhammadiyah itu mengatakan bahwa tidak ada manfaatnya berpolemik di media massa antara kandidat senior dan yang lebih muda.

Amien berpendapat, silahkan saja kaum muda untuk tampil dengan penuh keyakinan diri bahwa rakyat akan memilihnya di Pilpres 2009.

"Yang tua juga jangan takut untuk berkompetisi secara terbuka," ujarnya.

Dengan adanya pertarungan bebas seperti itu, dia yakin akan terjadi proses seleksi yang sehat dan pada akhirnya akan mengerucut pada figur-figur yang memang layak menjadi pemimpin.

KPKN Bukan earakan Politik

Mantan Ketua MPR Amien Rais menegaskan, deklarasi Komite Penyelamat Kekayaan Negara (KPKN) bukan gerakan politik, melainkan itikad bersama untuk menyelamatkan aset-aset bangsa dari kerakusan kelompok-kelompok tertentu.

"Sama sekali tidak ada agenda politik apapun. Ini semua untuk kepentingan bangsa," ujarnya, saat bersama sejumlah tokoh nasional lainnya mendeklarasikan KPKN di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin.

Selain Amien, turut mendeklarasikan KPKN antara laina sastrawan WS Rendra, mantan Presiden Gus Dur, Ketua MPR Hidayat Nurwahid dan ekonom Sri Edi Swasono.

Ditegaskan Amien bahwa KPKN merupakan salah satu sekrup untuk menyelamatkan bangsa yang saat ini tengah terancam eksistensinya, karena berbagai aset-asetnya tergadaikan kepada asing.

Amien mengaku prihatin dengan berbagai upaya pemerintah selama ini yang gemar menjual aset-aset strategis milik rakyat Indonesia kepada asing melalui privatisasi.

Karena itu, dia mengharapkan agar KPKN mengambil sikap tegas kepada siapa pun yang mencoba-coba mengkorup kekayaan negara.

"Di sini ada Gus Dur. Kalau ada apa-apa biar Gus Dur yang maju. Saya hanya ban serep saja," ujar Amien, seraya disambut tawa para hadirin.

Senada dengan Amien, juru bicara deklarator Sri Edi Swasono mengatakan bahwa gerakan KPKN itu merupakan tanggungjawab moral kepada bangsa ini.

"Namun gerakan moral tidak berarti apa-apa tanpa adanya program aksi yang lebih nyata untuk menyelamatkan aset-aset bangsa," ujarnya.

Menurut menantu proklamator Bung Hatta itu, setapak lagi bangsa Indonesia sudah sampai pada titik yang tidak bisa kembali lagi.

Namun, ia menambahkan, semua masih belum terlambat untuk menyelamatkan kembali aset-aset bangsa yang sempat dikorupsi ataupun dikuasai pihak asing melalui beragam cara.

Mengutip salah satu buku yang dibacanya, dia mengatakan bahwa ketika pemerintahan suatu bangsa lemah dan proses pemilihannya juga tidak berkah, maka yang akan muncul adalah "preman-preman kekuasaan".
Jul
28th

Menyoal Kekerasan terhadap Anak

Files under | Leave a Comment
Oleh Siti Nuryati (Muslimah HTI)

Dunia anak masih dalam duka. Hidup dan kehidupan anak terus ternoda dan dinodai oleh berbagai aksi kekerasan baik yang datang dari keluarga, sekolah, lingkungan sekitar, bahkan negara. Dari tahun ke tahun berbagai aksi kekerasan tersebut terus mengalami peningkatan.

Belum lama ini kita dikejutkan dengan ulah seorang ibu yang tega membakar dua balitanya hidup-hidup lantaran kesal pada suami. Belum reda kasus tersebut, kisah seorang bapak yang tega menyetrika tubuh anaknya sudah harus menyusul menambah deretan panjang kasus-kasus kekerasan terhadap anak.

Tak hanya mengalami perlakuan salah dari orang tua/anggota keluarga, sosok bernama anak ini pun kadang masih harus berhadapan dengan guru yang belum seluruhnya mampu menjadikan dirinya sebagai pendidik anak yang baik. Bahkan di sektor publik, realitasnya bahkan lebih ironis. Banyak anak-anak yang dipaksa bekerja untuk menambal kehidupan ekonomi keluarganya.

Di beberapa daerah anak-anak sudah harus terjun menjadi kuli kontrak siang dan malam, buruh selama delapan jam sehari di pabrik dalam ruang tertutup dan menggunakan alat bermesin, atau kuli turunan di perkebunan. Bahkan ada pula yang dijadikan mangsa di hotel-hotel, tempat hiburan atau lokalisasi maksiat.

Di jalanan, manusia bernama anak itu, lagi-lagi menghadapi masyarakat dan negara yang tidak ramah terhadap diri dan statusnya. Berbagai hinaan, cacian, makian, kekejaman, kekerasan dan image-image buruk masyarakat telah menjadi bagian kesehariannya. Dan jangan heran, kekerasan itu, bukan hanya terjadi di kota-kota besar, tapi juga di pelosok kampung.

Mengurai Tanggung Jawab

Anak-anak, makhluk yang karena belum matangnya jasmani dan mentalnya ini seharusnya diberikan pengamanan dan pemeliharaan khusus termasuk perlindungan hukum yang layak. Namun apa yang terjadi? Meski hak-haknya telah diatur dalam Konvensi Hak-Hak Anak (Convention on The Rights of The Child) yang telah diratifikasi pemerintah Indonesia melalui Keppres No. 39/1990, bahkan Undang-undang Perlindungan Anak (UU No.23/2002) pun telah dikeluarkan, namun semua itu masih sering sebatas ornamen dalam gelap.

Banyak faktor penyumbang terus berlangsungnya kekerasan terhadap anak. Mulai dari konflik sosial horizontal dan vertikal, policy dan kewajiban negara (pembangunan) yang tidak mendahulukan kepentingan terbaik dan memberikan yang terbaik kepada anak, keluarga yang kurang melaksanakan fungsi dan tanggung jawabnya, masyarakat yang belum atau kurang menyadari kedudukan dan hak-hak seorang anak, penegakan hukum yang tidak memberikan keadilan bagi anak, dan berbagai faktor lain yang menyebabkan kedudukan anak dalam keluarga, masyarakat dan negara berada pada kelas bawah yang pada gilirannya mengantarkan pada munculnya perasaan tak bersalah manakala akan atau setelah melakukan kekerasan terhadap anak.

Jika demikian, setidaknya ada empat subjek yang layak dituntut tanggung jawabnya terkait dengan “hidup matinya” dunia anak-anak. Pertama, Orang Tua. Para orang tua mestinya lebih memperhatikan kehidupan anaknya. Orang tua dituntut kecakapannya dalam mendidik dan menyayangi anak-anaknya. Jangan biarkan anak hidup dalam kekangan, mental maupun fisik. Sikap memarahi anak habis-habisan, apalagi tindakan kekerasan (pemukulan dan penyiksaan fisik) tidaklah arif, karena hal itu hanya akan menyebabkan anak merasa tidak diperhatikan, tidak disayangi.

Akhirnya anak merasa trauma, bahkan putus asa. Penting disadari orang tua bahwa anak dilahirkan ke dunia ini dilekati dengan berbagai hak yang layak didapatkannya. Seorang anak memiliki hak untuk mendapatkan pengasuhan yang baik, kasih sayang, dan perhatian. Anak pun memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang baik di keluarga maupun di sekolah, juga nafkah (berupa pangan, sandang dan papan). Bagaimanapun keadaannya, tidak wajib seorang anak menafkahi dirinya sendiri, sehingga ia harus kehilangan banyak hak-haknya sebagai anak karena harus membanting tulang untuk menghidupi diri (atau bahkan keluarganya).

Kedua, Guru. Di sini peran seorang guru dituntut untuk melihat bahwa pendidikan di negara kita bukan saja untuk membuat anak pandai dan pintar, tetapi harus juga dapat melatih mental anak didiknya. Peran guru dalam memahami kondisi siswa sangat diperlukan.

Sikap arif, bijaksana, dan toleransi sangat diperlukan. Idealnya seorang guru mengenal betul pribadi peserta didik, termasuk status sosial orang tua murid sehingga ia dapat bertindak dan bersikap bijak. Ada toleransi yang diberikan sehingga tidak menimbulkan kepanikan bagi siswa.

Ketiga, Masyarakat. Anak-anak kita ini selain bersentuhan dengan orang tua dan guru, mereka pun tak bisa lepas dari berbagai persinggungan dengan lingkungan masyarakat sekitar dia hidup. Untuk itu diperlukan kesadaran juga kerjasama dari berbagai elemen di masyarakat untuk turut memberikan nuansa pendidikan positif bagi anak-anak kita ini. Salah satu elemen tersebut adalah pihak pengelola stasiun TV. Banyak riset menyimpulkan bahwa pengaruh media (terutama TV) terhadap perilaku anak (sebagai salah satu penikmat acara TV) cukup besar. Berbagai tayangan kriminal di berbagai satsiun TV, tanpa kita sadari telah menampilkan potret-potret kekerasan yang tentu ini akan berpengaruh paa pembentuk mental dan pribadi anak. Menjadi tanggung jawab penyelenggara siaran TV untuk mendesain acaranya dengan acara yang banyak mengandung unsur edukasi yang positif.

Keempat, Pemerintah. Pemerintah adalah pihak yang bertanggung jawab penuh terhadap kemashlahatan rakyatnya, termasuk dalam hal ini adalah menjamin masa depan bagi anak-anak kita sebagai generasi penerus. Bahwa orang tua berkewajiban menyayangi, mendidik dan melindungi anak-anaknya, itu benar. Namun ini bukan berarti, negara lantas melepas tanggung jawabnya. Untuk membumikan Konvensi-Konvensi yang telah diratifikasi, selain pengembangan sistem hukum formalnya, dibutuhkan juga perubahan yang sifatnya struktural. Adalah hal yang mustahil berharap masyarakat menyadari arti penting hak-hak anak jika disaat yang sama ternyata negara dan elit-elit politik masih belum memiliki sensitivitas terhadap persoalan anak. Padahal negara adalah pemegang kunci dalam pemenuhan hak-hak anak. Dapat dikatakan bahwa tidak terpenuhinya hak anak secara optimal karena tidak ada penjaminan yang jelas oleh negara.

Jika kita menginginkan generasi masa depan tumbuh dengan lebih baik, sangatlah wajar apabila anak-anak harus mendapatkan perhatian. Anak harus mendapatkan jaminan keberlangsungan hidup dan perkembangannya di bawah naungan ketetapan hukum yang pasti, yang harus dijalankan semua pihak, baik keluarga masyarakat maupun pemerintah (negara). Sehingga anak bisa tumbuh dan berkembang dengan baik serta jauh dari berbagai tindak kekerasan. Karena kita sadari kekerasan telah meremukkan kekayaan imajinasi, keriangan hati, kreatifitas, bahkan masa depan anak-anak kita.

Bisa-bisa mereka akan tumbuh menjadi manusia-manusia yang tidak siap terjun dalam kehidupan ini. Bahkan tak mustahil mereka akan tumbuh menjadi ”anak-anak bermasalah” yang tidak mampu menyelesaikan persoalan dirinya, alih-alih persoalan bangsanya apalagi persoalan manusia secara universal. Untuk itu tiada dapat ditunda lagi, tumbuhnya komitmen bersama untuk memberikan jaminan perlindungan bagi anak-anak, yang nota bene merupakan generasi penerus bangsa ini.(*)
Jul
28th

rime of Passion, Kekejian Dibalik Pembunuhan

Files under | Leave a Comment
Lebih dari separuh kasus pembunuhan yang melibatkan kaum homoseksual, dimutilasi. Pelaku umumnya menusuk korban lebih dari 10 kali tikaman. Kasus dilakukan secara spontan, terkait pasangan seks dan dilakukan secara spontan. Apakah ini menunjukkan, perilaku sosial kaum homoseksual lebih kejam dari perilaku masyarakat heteroseksual?

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro, Komisaris Besar Carlo Brix Tewu, Rabu (16/7) malam, mengatakan, lebih dari separuh kasus pembunuhan yang melibatkan homoseks, berakhir dengan mutilasi. Kasus umumnya dilakukan secara spontan dan terkait dengan persoalan pasangan seks. Angkanya saya punya, tetapi tidak di tangan saya sekarang. Jadi saya sebut saja, lebih dari separuh berakhir mutilasi, tuturnya.

Kepala Satuan Kejahatan dengan Kekerasan, Ajun Komisaris Besar Fadhil Imran menambahkan, Kamis (16/7) siang, korban sekurangnya ditikam dalam 10 kali tikaman. Korban tewas Heri Santoso (40) misalnya, ia ditikam tersangka Ryan (Verry Idham Henyaksyah, 30) dengan sebelas kali tikaman. Juga pelaku dewasa dalam kasus sodomi anak-anak di bawah lima tahun yang pernah saya tangani. Tersangka, tega menikam korbannya yang masih kecil dengan 10 kali tikaman, hanya karena si anak yang sudah lama disodomi, hari itu menolak disodomi,papar Fadhil.

Pelaku seolah ingin menunjukkan kepada orang lain bahwa ia benar-benar marah, lanjutnya. Menurut Fadhil, dalam kasus pembunuhan yang dilakukan masyarakat heteroseksual, pelaku cukup menikam korban sekali dua kali saja, tanpa atau dengan mutilasi.

Heri dibunuh Ryan di kamar 309A, Blok C Margonda Garden Residence, Depok, Jum’at (11/7) pukul 20.00. Ryan membunuh Heri setelah Heri menawar Noval (Novel Andrias) pacar Ryan. Ryan tersinggung. Heri ditikam dengan 11 kali tikaman. Mayatnya dipotong tujuh bagian, disimpan dalam travel bag, koper, dan sebuah tas plastik, lalu di buang ke dua lokasi di tepi Jalan Kebagusan Raya, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu (12/7) subuh.


Crime of Passion

Prof Dr Marjono Reksodipuro, mantan Dekan Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI), yang dihubungi Kamis (17/7) mengatakan, identifikasi kasus dan pelaku yang disampaikan Carlo dan Fadhil belum menunjukkan kaum homoseksual lebih kejam dari masyarakat yang heteroseksual. Terkesan menjadi lebih kejam karena umumnya, kalangan homoseks meledak dalam basis crime of passion dengan latar belakang yang sama, soal pasangan seks.

Marjono mengatakan, basis kejahatan masyarakat heteroseksual lebih beragam dan latar belakang atau motifnya pun bermacam-macam. Itu sebabnya, prosentase rangkaian kejahatan keji yang dilakukan masyarakat heteroseksal, lebih kecil berbanding total kejahatan yang mereka lakukan.
Kejahatan homoseks yang muncul ke publik hanya rangkaian kejahatan keji, yang nyaris melulu menyangkut pasangan seks. Timbul kemudian citra, kaum homoseks itu umumnya keji.

Padahal, kekejian itu hanya sebatas menyangkut persoalan pasangan seks, kilah Marjono. Menurut dia, Crime of passion adalah ledakan kemarahan yang membabi buta karena merasa terhina, dan cemburu, yang membuat pelaku membunuh atau menganiaya berat. Biasanya berlangsung secara spontan, tidak terorganisir dan terencana. Oleh karena itu, para pelaku umumnya terjerat pasal 338 atau 339 KUHAP, tambah Kriminolog UI, Prof Dr Adrianus Meliala yang dihubungi terpisah.

Pada kaum homoseksual, lanjut Kriminolog UI lainnya, Prof Dr Ronny Niti Baskoro, crime of passion bisa dipicu unsur lain, yaitu unsur ketakutan kehilangan peran karena pasangannya terancam hilang. Guru Besar Fakultas Psikologi UI, Prof Dr Sarlito Wirawan, Adrianus, dan Marjono mengakui, rendahnya populasi kaum homoseksual menyebabkan kalangan ini mudah mengalami distres, mudah panik. Crime of passion diantara homoseks terjadi lebih keras karena berlangsung di antara para pria.

Menurut mereka, asmara yang tumbuh di antara mereka adalah cinta Platonis, mencinta untuk menguasai dengan pendekatan, looose-loose solution, dan bukan win-win solution. Dengan kata lain, dalam kasus-kasus perebutan, perselingkuhan dan pertengkaran asmara, kaum homoseks umumnya berprinsip, Kalau saya tidak dapat, makan kamu pun tidak akan mendapat dia. Interaksi berlangsung agresif saling menghancurkan,ungkap Sarlito.

Peran permanen

Menurut dia dan Adrianus, dalam menjalin asmara, kaum homoseks tidak mengenal konsep belahan jiwa. Mereka hanya mengenal konsep pembagian peran yang permanen antara perempuan dan pria . Peran tersebut mereka jalankan sampai mereka ajal.

Fungsi-fungsi dalam organ tubuh pria dan perempuan tidak penting bagi mereka. Yang mereka utamakan pembagian peran pria dan perempuan. Itu bedanya homoseks dengan waria. Waria adalah pria yang ingin menjadi perempuan dengan mengubah keadaan tubuhnya. Dari tubuh pria, menjadi tubuh yang mirip perempuan. Dia lantas membesarkan dada menjadi payudara, dan mengubah alat kelaminnya.

Sepengamatan Fadhil, di kalangan kaum homoseksual, peran itu cukup ditandai dengan ada tidaknya bulu-bulu di sekitar genital mereka. Yang berperan perempuan mencukur habis bulu-bulu mereka, sedang yang berperan pria tidak. Saya melihat itu pada jenazah mereka. Yang berperan perempuan melakukan oral, sedang yang berperan pria melakukan sodomi,ungkapnya. Fadhil sependapat dengan Sarlito dan Adrianus, pembagian peran itu bersifat permanen.

Saya mendapatkan pengakuan itu ketika menyidik para tersangka pembunuh yang homoseks,ucapnya. Kepada wartawan, tersangka Ryan pun mengaku, sudah lima tahun ia mengenal dekat Heri. Tetapi selama itu, keduanya tidak berhubungan intim karena keduanya berperan sebagai perempuan.

Pembagian peran ini kata Adrianus dan Sarlito, menentukan eksistensi setiap homoseks. Jika salah seorang dari pasangan homoseks hilang (lari, selingkuh, kembali menjadi pria sesuai fungsi tubuhnya, atau meninggal), maka homoseks lainnya mengalami krisis peran, krisis eksistensi. Itulah yang membuat tersangka Ryan memutilasi Heri. Ryan tidak ragu menghabisi Heri karena Ryan merasa perannya sebagai perempuan terancam oleh ucapan Heri.

Sarlito mengatakan, sebagai kelompok minoritas yang terus merasa terancam, kaum homoseks bisa cepat mengatasi berbagai persoalan eksternal mereka karena ada perasaan senasib yang harus mereka tanggung bersama. Oleh karena itu, jarang muncul kejahatan yang melibatkan homoseks karena motif ekonomi, atau motif eksternal lainnya. Tapi begitu menyangkut persoalan internal seperti persoalan peran tadi, mereka akan bersikap loose-loose,tutur Adrianus.

Lebih keji

Kriminolog UI lainnya, Prof Dr Ronny Niti Baskoro, mengutip sejumlah hasil riset internasional mengakui, kaum homoseks lebih keji ketika meledak ketimbang kaum lesbian. Bukan hanya karena yang satu pria dan yang lain perempuan, tetapi juga karena pasangan homoseks lebih terbuka, lebih loyal dan setia, serta berbasis pada kasih sayang pasangan ketimbang kebutuhan seksual mereka. Bisa dimaklumi bila kemarahan mereka menjadi seperti amuk bila dikhianati pasangannya, atau pasangannya direndahkan, paparnya.

Kaum lesbian umumnya, lanjut Ronny, berbanding sebaliknya. Mereka lebih sebagai pasangan yang tertutup, lebih mengutamakan kepuasan seksual ketimbang kesetiaan, dan lebih mudah kembali menjadi perempuan sesuai organ tubuhnya, atau kembali lagi menjadi lesbian ketika menemukan pasangan yang cocok.

Karena sifat komunitasnya itu, kaum lesbian lebih mudah menjadi biseks ketimbang kaum homoseks. Kaum homoseks yang menikah lain jenis, ia menikah hanya sebagai kedok saja. Dia tetap homoseks dan bukan biseks,tegas Ronny. (Kompas,Selasa, 22 Juli 2008 | 06:19 WIB)
Jul
28th

Membangun Poros Islam di Pemilu 2009

Files under | Leave a Comment
Parpol Islam harus membina masyarakat dengan syariah. Parpol-parpol Islam itu secara bersama-sama perlu melakukan edukasi secara intensif terhadap masyarakat akan wajibnya syariah dan kewajiban mendukung parpol dan gerakan Islam. Demikian disampaikan oleh Ismail Yusanto dalam Diskusi Forum Kajian Sosial Kemasyarakatan ke 40, bertema “Membangun Poros Islam dalam Pemilu 2009”, Senin (22/7) di Gedung YTKI Jakarta.

Harapan Aspirasi Umat

Umat Islam saat ini merindukan adanya partai yang betul-betul mengerti aspirasi umat. Aspirasi umat Islam itu intinya adalah bagaimana syariah Islam bisa diberlakukan di Indonesia dan bagaimana ke depan Indonesia dipimpin oleh orang baik yakni orang yang mau tunduk kepada sistem syariah. Persoalannya bagaimana aspirasi itu bisa disalurkan.

“Inilah harapan kita dengan adanya poros Islam, agar aspirasi itu bisa diwujudkan di masa yang akan datang,” ujar jubir Hizbut Tahrir Indonesia tersebut.

Menurut Ismail, partai politik Islam adalah alat untuk memperjuangkan kepentingan politik dan aspirasi umat Islam. Karenanya menurut Ismail penting menjelang pemilu 2009 mendatang kaum Muslim membangun satu kesepahaman di antara partai-partai politik yang tentunya bukan hanya partai politik Islam, tapi siapa saja partai politik yang mengerti aspirasi umat Islam.

Ismail menerangkan bahwa dukungan umat Islam akan tegaknya syariah di negeri ini cukup tinggi. Bahkan berdasarkan survey dari lembaga survey semacam PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dukungan umat itu akan tegaknya syariah di negeri ini dari tahun ke tahun cenderung terus meningkat. Survey PPIM pada tahun 2001 menunjukkan ada 61 persen masyarakat Indonesia yang menginginkan syariah. Kemudian pada tahun 2002 meningkat menjadi 71 persen. Dan tahun 2003 meningkat lagi menjadi 74 persen. Besarnya dukungan masyarakat akan syariah juga bisa dilihat dari survey yang dilakukan oleh SEM Institute pada awal tahun 2008, yakni ada 83 persen masyarakat Indonesia yang mendukung tegaknya syariah.

”Ini kenyataan bahwa dukungan masyarakat akan tegaknya syariah itu cukup tinggi,” ujar Ismail di depan ratusan peserta Forum Diskusi FKSK.

Namun yang menjadi persoalan adalah bagaimana keinginan masyarakat itu bisa diwujudkan secara nyata dalam realitas kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Di sinilah kata Ismail, pentingnya ada partai politik yang bisa mewujudkan aspirasi masyarakat itu. Partai politik Islamlah yang tentunya diharapkan bisa mewujudkan aspirasi umat Islam itu. Namun karena partai Islam yang ikut pemilu 2009 itu cukup banyak maka perlu adanya poros Islam.

“Bukan hanya masih relevan gagasan poros Islam itu, tapi malah wajib adanya poros Islam itu untuk mewujudkan angka-angka survey tadi menjadi kenyataan,” ujar Ismail.

Parpol Islam Bersatu untuk Islam

Sementara itu Hamdan Zoelva, Sekjen Partai Bulan Bintang sependapat dengan Ismail. Ia mengatakan bahwa poros kekuatan yang bersumber dari partai-partai Islam atau partai-partai berbasis Islam itu memang harus dibangun dari sekarang. Kekuatan besar itu diperlukan untuk mewujudkan kepentingan-kepentingan umat ke depan. Menurut pengalaman, katanya, ketika berbicara tentang isu-isu strategis kepentingan umat secara keseluruhan maka parpol Islam sebenarnya tidak sulit untuk bersatu. Tapi ketika berbicara masalah kepemimpinan siapa yang di atas, siapa yang di bawah di sini lah kadang-kadang kepentingan itu bisa berbenturan.

“Di sinilah persoalannya. Karena itu menjalin komunikasi sejak awal itu menjadi penting untuk membangun kekuatan bersama yang lebih besar,” ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh KH Ma’ruf Amin, ketua Dewan Mustasyar PKNU menyatakan setuju dengan gagasan poros Islam itu.

“Saya kira koalisi antar parpol Islam itu suatu tuntutan yang harus kita laksanakan. Tapi yang utama adalah bagaimana mengembalikan kembali kepercayaan umat terhadap partai Islam,” ujarnya.

Ia mengatakan bahwa ke depan parpol Islam itu harus bekerja keras untuk mengembalikan kepercayaan umat akan parpol Islam. Sehingga dukungan umat kepada parpol Islam pun besar.

“Itu bisa dilakukan dengan membangkitkan kembali kepemimpinan ulama dalam parpol Islam. Juga mengembalikan ulama dalam perpolitikan di Indonesia,” terang KH Ma’ruf.

Parpol Islam kata KH Ma’ruf juga harus punya visi dan misi yang jelas dalam merealisasikan ajaran Islam. Bukan hanya penerapan Islam dalam masyarakat tapi juga dalam perundang-undangan baik formal maupun substansi. “Inilah yang harus diperjuangkan parpol Islam ke depan,” ujar politisi dari NU ini.

Poros Islam atau sinergi dan aliansi antar parpol Islam menurut Ismail memang akan berjalan efektif kalau meraih suara besar di pemilu nanti. Untuk meraih dukungan umat, parpol Islam itu harus tetap istiqomah dalam mengemban Islam. Jangan bergeser ke tengah (sekuler) sebagaimana yang diusulkan para pengamat selama ini.

Sebuah Ulasan

Memang benar, saat ini umat Islam harus bangkit termasuk dalam berpolitik pun harus Islam. Hal ini karena politik berarti pengaturan urusan umat. Dengan apa urusan umat diatur sekiranya bukan dengan Islam. Di sinilah sebuah partai politik yang dijalankan oleh setiap insan Muslim tidak usah malu dan sungkan untuk mengatakan bahwa perjuangan parpol tersebut untuk Islam, baik dalam pemikiran maupun langkah perjuangan.

Aktivitas parpol Islam tidak hanya lima tahun sekali menjelang pemilu. Tetapi semestinya setiap saat sejak saat ini di mana saja, berbagai aktivitas politik berdasarkan Islam terus digencarkan, termasuk dalam upaya edukasi umat dengan Islam. Sudah saatnya para politikus muslim bersatu padu membawa Islam dengan metode Islam. Jika tidak, maka sia-sia belaka karena itu semua tidak akan bermakna di hadapan Allah Swt. Apakah Allah akan meridhoi aktivitas politik kita sementara kita berpaling dari aturan dan perjuangan menegakkan syariah-Nya? Jika para politisi Muslim enggan membawa Islam, maka murka Allah menanti, naudzubillah. (syabab.com)
Jul
28th

Ta’dib: Perbenturan Realita Dan Idealita

Files under , NTB | Leave a Comment
seringkali realita tidak seiya sekata dengan idealita yang dicita-citakan. bukan usaha yang gampang untuk merealisasikan ta’dib secara sempurna. butuh perjuangan yang berdarah-darah pula. tahun 90-an, kanda Husni Thamrin harus bolak balik Mataram-Loteng-Lotim-Lobar dengan kayuhan sepedanya untuk menjalankan ta’dib secara paripurna. kursus dan taklim. atau kisah bang Burhan Said dengan segala ‘kebodohan’nya dari Jayapura ke Jakarta [...]
Jul
28th

apa cih group dynamic itu?

Files under , NTB | Leave a Comment
dalam proses pelaksanaan training sering kita dengar group dynamic. pendekatan training ini dianggap paripurna karena tidak hanya pendekatan nilai-nilai trasenden atau pengajaran (andragogi) an sih, tapi bagaimana memadukan dua pendekatan tersebut menjadi lebih sempurna. buku yang dipakai dalam membahas ini adalah ‘kitab lama’ yang sering dipakai aktivis PII, ACHIEVING CHANGE IN PEOPLE : Same Application Of [...]
Jul
27th

Join to Bintang Pelajar

Files under | Leave a Comment
Join to BePe
(26 Juli 2008)

Ketidakakuratan merencanakan studi/masa depan menjadikan saya memburu sumber nafkah yang halal dan sesuai dengan kemampuan. Setelah lepas dari salah satu LSM di Jakarta November 2007 silam, cuma karena gak betah, saya mencoba meng-apply ke lembaga pendidikan Bintang Pelajar (exactly, lembaga les privat & kelompok belajar; lembaga bimbingan belajar).

 

Sebelumnya dahulu pernah mendaftarkan diri pada beberapa jasa les privat amatir (baca: belum melembaga). Setelah muter2 di kampus... lihat2 mading... Eits, ada lowongan sebagai staf & guru freelance dgn background kertas pamflet oranye, bintang pelajar cari guru nie...

 

Ku catat nomor telepon secara diam-diam, karena malu2 gitu, sesudah memperhatikan persyaratan dan kualifikasi yg ada. Yup, berminat menjadi guru freelance tingkat SMP. Lumayan punya pengalaman ngajar sebagai guru les private 3 SMP dan 5 SD.

 

Pertama, konsultasi dengan k’Febri (IPB) yg saya ketahui mengajar di BePe. P...

Jul
26th

…..

Files under | Leave a Comment
Tidak dapat dipungkiri dewasa ini masyarakat seakan-akan telah berkiblat ke barat dan seakan-akan melupakan jati dirinya yang sesungguhnya. Betapapun melimpahnya sumber daya di suatu negeri jika tidak memiliki keahlian dalam mengolah sumber daya tersebut, maka jangan berharap sumber daya itu akan menjadi milik bangsa itu. Baik itu sumber daya kebudayaan ataupun sumber daya ekonomi. Hal ini jelas membuat kita menjadi bangsa yang ketergantungan terhadap yang kita jadikan kiblat tersebut. Dan bangsa ini akan senantiasa berada dalam kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan.
Apabila suatu bangsa telah memiliki kesadaran di bidang budaya maka pasti akan mampu mengubah keadaan negeri yang miskin, bodoh, terbelakang menjadi negeri yang dapat berdiri di atas usaha sendiri tanpa intervensi dari pihak manapun, kehidupan yang dinamis yang memiliki kreatifitas dan moral yang tinggi.
Banyak sekali masalah-masalah yang terjadi di negeri sendiri yang di analisis dengan pendekatan barat (karena telah kebarat-baratn). Hal ini jelas tidak bisa kita terima karena masalah yang kita hadapi berbeda dengan yang ada di barat, kendatipun ada akar permasalah yang sama juga tidak bisa diselesaikan denga metode barat karena masih banyak constarin-constrain lain yang membedakan kita dengan barat sebut saja watak, keadaan sosial masyarakat dll.
Berkiblat kepada suatu kebudayaan yang sejatinya bukan budaya bangsa sendiri telah mengantarkan kita kepada suatu bentuk penjajahan kolonialisme. Dapat dilihat bangsa Afrika dapat membebaskan diri dari penjajahan kolonialisme karena mereka telah menyadari kenyataan bahwa kembali pada diri sendiri dan kebudayaan sendirimerupakan suatu langkah utama untuk membebaskan diri.
Sebagai bagian dari bangsa timur kita harus berjuang membangun bangsa kita sendiri yang bebas dari segala bentuk penjajahan barat. Hanya saja kita tidak bisa mencapai itu jika kita belum percaya diri terhadap dan kembali kepada budaya luhur bangsa sendiri dan menyaring budaya asing yang masuk, memprotes dan memperjelasnya.
Jul
25th

Orang-Orang Sakit

Files under | 2 Comments
Adinda Bakrie, keponakan Aburizal Bakrie, akan menikah. Calon suaminya bernama Seeng Hoo Ong, warga Singapura yang dia kenal semasa kuliah di Bobson College Amerika Serikat. Menurut kabar beredar biaya pernikahan menelan dana sampai Rp 10 Miliar. Untuk rangkaian bunga nya saja menghabiskan dana Rp 1 Miliar, mahkota pengantin Adinda Rp 3 Miliar dan kalung, yang menurut Adinda "Murah Kok" berharga Rp 2 Miliar. Tidak tahu berapa miliar untuk membayar dekorator Preston Bailey, yang pernah disewa oleh Donald Trump.

Pernikahan akan dilaksanakan di Hotel Mulia, sebuah hotel papan atas di Jakarta. Resepsi akan dilanjutkan di Pulau Dewata Bali, tepatnya di Hotel Bvlgari. Para undangan yang akan berangkat kesana tidak usah khawatir masalah transportasi karena keluarga Bakrie sudah menyiapkan penerbangan khusus kesana. Selain para artis, pejabat dan Anggota DPR, rencana pernikahan juga akan mengundang penyanyi Sting dan II Divo. Untuk hal terakhir ini keluarga Bakrie membantahnya

Aburizal Bakrie, paman Adinda, adalah Mentri Koordinator Kesejahteraan Rakyat kabinet SBY -JK. Diantara orang terkaya di Asia Tenggara yang berasal dari negeri yang sedang mengalami krisis ekonomi yang sangat akut. Negeri dengan pertumbuhan ekonomi mandeg, pengangguran dimana-mana Menurut majalah Globe Asia (Mei 2008) Aburizal adalah orang terkaya se-Asia Tenggara. Sedangkan setahun sebelumnya menurut majalah Forbes Asia (2007) memiliki kekayaan 5,4 miliar dollar AS (sekitar Rp 50 triliun dengan kurs 1 dollar AS = Rp 9.200) atau naik dari 1,2 miliar dollar AS pada tahun sebelumnya.

Bersama ayah Adinda, Indra Bakrie, Aburizal adalah Pemegang saham PT Lapindo Brantas Sidoarjo. Perusahaan yang paling bertanggung jawab terhadap bencana lumpur panas di Sidoarjo.

Kerusakan karena lumpur panas Lapindo bukan hanya secara ekologis, tetapi juga kerusakan ekonomis, sosiologis dan psychologis. Sampai sekarang korban lumpur Lapindo masih terlunta-lunta karena tidak adanya penyelesaian yang tuntas. "Bakrie Layak Mati" itu kalimat yang keluar dari temen saya yang pernah datang mengunjungi korban lumpur Lapindo.

Lalu apa kesimpulan anda bila melihat rencana Adinda Bakrie dan Aburizal Bakrie sendiri?Kalo saya hanya 3 kata saja. ORANG-ORANG SAKIT

Jakarta, 25 Juli 2008
Jul
24th

Pelatihan Menulis di Wikipedia untuk Organisasi

Files under | 1 Comment

Wikipedia Bahasa Indonesia adalah ensiklopedi berbahasa Indonesia yang dapat
disunting oleh semua orang.

Organisasi yang telah layak dan ingin memberikan informasi tentang dirinya
dianjurkan untuk dibuat artikelnya dan atau disunting dengan mengikuti
kaidah-kaidah tertentu sesuai kebijakan Wikipedia.

Artikel yang bagus dan netral tentang suatu organisasi akan memberikan nilai
tambah untuk organisasi tersebut karena pranala wikipedia selalu muncul no. 1
pada situs pencarian google.

Pastikan anda tau bagaimana cara yang baik untuk berkontribusi di Wikipedia
Bahasa Indonesia dalam memperkenalkan organisasi anda secara ensiklopedis dan
netral. Ikuti seminar dan lokakaryanya pada:

Hari/Tanggal : Jumat / 8 Agustus 2008
Pukul : 14:00 – 16:00 WIB
Tempat : Ruang Summit, Jakarta Convention Center (JCC)

Ayo segera mendaftar! GRATIS! Hanya untuk 50 peserta yang berminat. Setiap
peserta akan langsung dapat menambahkan dan menyunting informasi di WIKIPEDIA
karena akan disediakan komputer A Note dan koneksi Internet.

Segera hubungi Contact Center APTEL di nomor 021-38997800 untuk pendaftaran.

Informasi lebih lanjut, silakan hubungi alamat email: komunitas@inaicta.web.id