Okt
31st

LAGU gue banget….

pengen tau lagu-lagu kesayangan gue. klik aja disini
Okt
31st

Jawa Mode “ON”

Selain lembaga pemerintahan, kebiasaan singkat menyingkat juga berlaku untuk tag line suatu daerah.

Solo Berseri, Jogja Berhati Nyaman, Temanggung Bersenyum, Cilacap Bercahaya, semuanya adalah singkatan. Juga untuk menyebut suatu kawasan, yang katanya akan menjadi suatu kawasan yang unggul dan berkembang.

Bermula dari Jabotabek, eh sekarang Jabodetabek. Muncul pula Gerbangkertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan), Barlingmascakeb (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, Kebumen), Pawonsari Bakulrejo (Pacitan Wonogiri Wonosari, Bantul, Kulon Progo, Purworejo), atau Joglosemar(Jogja Solo Semarang).

Beruntung tidak ada yang membalik urutannya menjadi Semarang Solo Yogya, disingkat menjadi Semar Loyo. Mungkin di masa mendatang akan muncul juga Dibalang Sendal (Purwodadi, Batang, Pemalang, Semarang , Kendal), (dibalang sandal = dilempar sandal) atau Kasur Bosok (Karanganyar, Sukoharjo, Boyolali, Solo, Klaten) -kasur
bosok=kasur busuk). Asal jangan Susu Mbokde (Surakarta, Sukoharjo, Mboyolali, Kartasura, Delanggu) atau Tanteku Montok (Panjatan, Tegalan, Kulwaru, Temon, Toyan, Kokap) - ini kawasan Jogja.

Anak-anak muda Jogja tidak kalah kreatifnya untuk ikut-ikutan menyingkat
nama tempat. Sebut saja Amplas untuk Ambarukmo Plaza, atau Jakal (Jalan Kaliurang), Jamal (Jalan Magelang).
Kalau sampeyan sekolah di SMA 6, bisa nyombong kalau sampeyan sekolah di Depazter alias Depan Pasar Terban.

Bahkan, dari pusat kota Jogja, sangat mudah untuk mencapai Paris (Parangtritis), atau Pakistan (Pasar Kidul Stasiun alias Sarkem), bahkan Banglades (Bangjo Lapangan Denggung Sleman).

Sampeyan seorang yang enthengan, ringan tangan, suka membantu, ndak pernah menolak untuk dimintai tolong? Berarti sampeyan layak menyandang nama Willem Ortano, alias Dijawil Gelem Ora Tau Nolak.(dijamah mau tidak
pernah nolak). Atau kalau sampeyan pinter omong, jualan obat, meyakinkan orang dengan omongan sampeyan yang nggak karuan bener salahnya, maka jangan marah kalau sampeyan dipanggil sebagai Toni Boster, alias Waton Muni Ndobose Banter (asal bunyi bohongnya besar). (oleh solihin)
Okt
31st

Laskar Remaja Islam

Akhir-akhir ini banyak orang yang lagi kesengsem ama film Laskar Pelangi. Berawal dari novel laris dengan judul yang sama karya Andrea Hirata, akhirnya diangkat ke layar bioskop oleh sutradara Riri Reza. Hasilnya, banyak orang yang senang dan terinspirasi ama film itu. Konon banyak politisi yang ikutan nonton juga terharu oleh adegan demi adegan pada film itu.

Film ini menceritakan perjuangan anak-anak sekolah di daerah yang tertinggal menggapai masa depan. Jangan bandingkan ama kota Jakarta yang hingar bingar en segala ada, bersekolah aja mereka kudu menghindari hadangan seekor buaya besar. Tapi karena ketekunannya, banyak di antara mereka yang menjadi orang sukses di masa depan.

Nggak manja

Mungkin banyak yang tersentuh oleh film itu, tapi berapa banyak nih remaja jadi nyadar, bahwa hidup itu emang perjuangan? Kejadian dalam novel itu bukan bohongan. Banyak teman kita yang berjuang untuk bisa sampai ke sekolah. Di satu harian nasional pernah dipampang foto seorang anak SD yang sedang berenang untuk tiba di sekolah. Ya, sekolahnya emang terhalangi oleh sungai besar. Untuk itu ia kudu berangkat pagi-pagi banget dan siap-siap berenang. Tas, sepatu, seragam sekolah, dan buku-buku pelajarannya dimasukkan ke dalam kantong plastik agar tidak basah. Dan … byur! Ia pun berenang agar tiba di sekolah.

Saudara-saudara saya pun sering bercerita kalo dulu mereka harus jalan kaki 4-5 kilometer? ke sekolah. Untuk itu mereka melewati perkebunan teh, karet, dan melintasi jembatan kereta api yang tingginya masya Allah! Kadangkala di tengah jembatan harus berpapasan dengan kereta api. Mereka pun menghindar ke bahu jembatan yang sengaja disiapkan oleh perusahaan kereta api, atau bergelantungan di bawah rel!

Wah beda banget ya dengan kita semua. Yang kalo ke sekolah berjalan kaki sekian puluh meter saja udah ngeluh kejauhan, lalu milih naik angkutan umum, antar jemput, atau bawa kendaraan sendiri ke sekolah. Nggak ada ceritanya kudu berenang, melewati kebun karet, apalagi berpapasan ama buaya atau kudu pontang-panting menghindari kereta api.

Udah begitu, di sekolah nggak ada cerita kelaperan. Kantin ada dengan menu jajanan yang komplit. Uang saku pun terjamin. Malah nggak sedikit anak sekolah yang uang sakunya di atas UMR buruh pabrik atau kuli bangunan! Belum lagi ponsel setia menemani dengan pulsa yang dijamin selalu ada.

Punya fasilitas yang oke emang nggak salah. Yang salah kalo kemudian kita jadi kebawa manja dan nggak mandiri. Selalu menggantungkan semuanya pada orang lain. Nggak terbayangkan bahwa bersekolah itu nggak gratis dan orang tua banting tulang menghidupi kita semua.

Sikap mandiri itulah yang di antaranya pengen ditampilkan dalam kisah Laskar Pelangi. Meski dalam keadaan seadanya - malah serba susah - tapi pantang menyerah. Kita tidak tahu apakah pesan itu bisa ditangkap oleh para pembaca dan pemirsa film. Jangan-jangan orang lebih terpukau pada jalinan cerita di buku, atau sinematografinya di film ketimbang menangkap pesannya.

Di Indonesia, jadi remaja yang punya semangat tinggi untuk belajar nggak gampang. Pasalnya sejak remaja udah dicekoki aneka dugem (dunia gemerlap). Yang namanya sukses itu bukanlah kerja keras apalagi ngandelin kecerdasan otak, tapi cukup tampang keren atau suara merdu. Maka bangku sekolah udah mulai ditinggalkan banyak remaja. Kalo pun sekolah atau kuliah ya untuk formalitas punya ijazah. Yang lebih parah, nggak sedikit remaja kita cuek abis kalo nggak naek kelas atau putus sekolah gara-gara sibuk cari duit en popularitas. Musibah deh tuh!

Saya jadi teringat, beberapa tahun silam, di sebuah infotainment diliput cerita beberapa selebritis yang nggak naek kelas atau drop out karena kesibukan mereka. Rata-rata dengan enteng mereka menceritakan pengalaman tersebut. Bukankah ini kampanye negatif buat kaum remaja bahwa bersekolah itu nggak penting, yang penting elo-elo bisa cari duit. Toh, jadi kaya nggak perlu pake ijazah.

Ini juga yang jadi tema sebuah iklan rokok. Pilih mana; lulus dulu or kerja dulu? Menurut kamu gimana?

Di Amerika, banyak pakar pendidikan dan tokoh masyarakat yang prihatin melihat kualitas pendidikan para remaja AS. Di kampus-kampus ternama seperti Harvard, indeks prestasi mahasiswa asal AS kalah oleh mahasiswa asal Asia.

Di Indonesia? Masih ada aja anak SMA yang berangkat hanya bawa satu buah buku tulis yang dilipat dan dimasukkan ke saku belakang celananya. Pulang sekolah ada ekskul informal; nongkrong di mall dan di pinggir jalan, atau tawuran. Halah!

Ada beberapa kawan yang pernah jadi guru di sekolah-sekolah swasta unggulan. Di sana, kata mereka, banyak guru yang jiper alias takut ngasih nilai kecil pada muridnya. Soalnya orang tua siswa bakal marah pada sekolah kalo sampai anaknya dapet nilai kecil, apalagi sampai nggak naek kelas. Bukankah ini berarti membuat remaja kita jadi makin manja?

Remaja Islam, remaja pejuang

Bro en sis, mungkin nggak banyak remaja tahu apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw. ketika hidup dalam asuhan Abu Thalib, pamannya. Setelah kedua orang tuanya wafat, kemudian kakeknya juga wafat, Rasulullah saw. diajak tinggal di rumah pamannya itu. Abu Thalib bukan orang yang kaya. Anaknya pun banyak. Maka Rasulullah saw. pun berinisiatif mencari pekerjaan untuk meringankan beban pamannya. Salah satunya beliau bekerja sebagai penggembala kambing. Beliau juga bercerita kalo para nabi dan rasul pun adalah orang-orang yang hidupnya mandiri, ada yang menjadi penggembala kambing, atau yang lain.

Ketika dewasa, Nabi saw.? bekerja membawa barang dagangan milik Khadijah ra. Berkali-kali Beliau melakukan perdagangan dan membawa keuntungan besar. Sampai akhirnya menikahi wanita yang suci dan mulia itu.

Guyz, umat Islam diajarkan oleh Nabi saw. untuk jadi umat pejuang. Beliau memuji orang-orang yang giat belajar dan giat bekerja. Orang yang mencari ilmu dijanjikan akan mudah meniti jalan ke surga. Sabdanya:

???? ?????? ????????? ???????? ????? ??????? ?????? ????? ???? ????????? ????? ??????????

“Barangsiapa yang meniti jalan untuk mencari ilmu di sana, niscaya Allah mudahkan jalannya ke surga.”

Hakim bin Hizam ra. pernah bertutur bahwa ia pernah meminta sesuatu kepada Nabi saw. lalu beliau memberinya. Ia meminta lagi, dan kembali Beliau saw. memberinya. Kemudian ia meminta lagi, tapi kali ini Rasulullah saw. berkata padanya, “Hai Hakim, harta ini memang indah dan manis, maka siapa yang mengambilnya dengan kelapangan hati diberi berkat baginya. Sebaliknya, siapa yang menerimanya dengan kerakusan tidak berkah baginya, bagaikan orang yang tak kunjung kenyang. Dan tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah.” Hakim kemudian berkata, “Ya Rasulullah, demi Allah yang mengutusmu dengan kebenaran, saya tidak akan menerima apapun dari seseorang sepeninggalmu hingga mati.” Maka semenjak itu Hakim tidak pernah menerima pemberian dari siapapun termasuk dari baytul mal.

Sobat muda muslim, kesuksesan yang diceritakan dalam film Laskar Pelangi itu adalah buah kerja keras dan ketekunan. Nggak datang begitu aja. Dua hal itulah yang jadi resep siapa aja yang pengen sukses.

So, nyadar deh kalo masa muda yang kamu sedang miliki itu adalah impian banyak orang yang udah lanjut usia? Karena kamu tuh punya satu kesempatan yang oke banget, yang kalo dimanfaatkan semaksimal mungkin bakal menjadi sesuatu yang hebat. Termasuk jadi kepala negara yang hebat pun ditentukan hari ini selagi kamu muda. Pepatah lama bilang, “pemuda hari ini, pemimpin masa depan”.

Hari ini, umat Islam butuh banget remaja-remaja yang punya semangat untuk maju. Cinta agama, mandiri dan pastinya nggak egois. Nabi saw. bersabda: “Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan pada hari tidak ada naungan kecuali naunganNya; … pemuda yang senantiasa beribadah kepada Allah semasa hidupnya.” (HR Muslim)

Udah gitu, umat Islam juga butuh remaja-remaja yang istiqamah dengan agamanya. Nggak peduli orang lain mau ngomong apa yang penting maju terus pantang mundur membela kebenaran. Maklum aja, hari gini banyak orang yang mencela orang-orang yang cinta pada agamanya (Islam). Yakin aja, yang namanya kebenaran nggak ditentukan ama suara terbanyak, tapi oleh Al Quran dan as sunnah. Allah Swt. Berfirman (yang artinya): “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (QS al-An’am [6]: 116)

Jujur aja, kita udah kelamaan jadi bangsa yang manja. Maju mundurnya bangsa ini digantungkan kepada pihak lain. Tanah air kita bangun dengan uang hasil ngutang pada bangsa lain, yang entah kapan bisa dilunasi. Teknologi harus beli dari pihak lain dengan harga yang mahal. Ironinya ketika minggu-minggu ini perekonomian Amerika dilanda krisis, eh kita juga ikutan panik. Kena imbas masalah ekonomi dari bangsa lain. Duh, betapa hidup kita ditentukan oleh bangsa lain. Manja banget ya kita ini.

Moga-moga, bakal segera berjejer barisan remaja Islam yang siap memajukan agamanya. Remaja yang mandiri. Nggak manja. Yakin banget bahwa Allah bakal ngasih pertolongan buat hamba-hambaNya yang berbaris rapi memperjuangkan agama Allah. Allah Swt. Berfirman (yang artinya): “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikanNya kepada siapa yang dikehendakiNya, dan Allah Maha Luas (pemberianNya) lagi Maha Mengetahui.” (QS al-Maidah [5]: 54)

Yuk, sama-sama benahi diri, permak pemahaman kita, siap hidup mandiri, tekun mengkaji Islam dengan benar dan baik,? dan jadilah remaja pejuang dan pembela Islam. Maju terus pantang mundur, Bro! [januar]

(www.osolihin.wordpress.com)
Okt
31st

DILEMA UU APP, SIKAP (TER)PELAJAR MERESPON PRO-KONTRA UU APP

Files under , artikel, wacana | Leave a Comment
Oleh: Nugrah Yatna Utama*Fenomena salaf dan khalaf terkhusus yang terjadi pada sebuah penyimpangan “moral” yang orang zaman sekarang ini mengatakannya dengan kata-kata yang agak sensitif untuk didengar “porno” baik segara grafis maupun aksi, terkhusus lagi yang terjadi pada Bangsa kita RI tercinta ini, hingga hari ini pornografi dan pornoaksi yang terjadi pada negeri kita tercinta ini tidak perlu
Okt
31st

ribut di milis

Files under , NTB | 2 Comments
Lagi-lagi tentang RUU APP, ini memang gak dari meja parlemen tapi di dunia maya. Memang ini menjadi perbincangan panjang. Liat aja di Milis PII, dari rimas kautsar <rimaskautsar@yahoo.com misalnya. Dia ngungkapin tulisan dengan judul penekanan penting Wlkm.Wr.Wb. Saudaraku, sudahkah ada yang melihat draft final UU Pornografi yang tadi siang disahkan? Jiakalau belum ada baiknya kita menunggu UU tersebut diundangkan dalam lembaran negara (proses perundang-undangan setelah pengesahan, [...]
Okt
30th

Pro-Kontra Atau Memaksimalkan UU

Files under , NTB | Leave a Comment
Rekan-rekan pelajar NTB kini pasti melihat realitas sosial masyarakat Indonesia yang begitu sibuk, bahkan telah terjebak dalam memperjuangkan Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi Dan Pornoaksi (RUU APP) antara pro dan kontra menyetujuinya. Tak hanya Gubernur NTB, Zainul Majdi, yang telah menunjukkan dukungannya terhadap RUU APP ini beberapa waktu yang lalu, tapi juga dikalangan penikmat, browser, surfer [...]
Okt
30th

Bolehkah Biaya Perjalanan Haji Dikredit

Files under | Leave a Comment
Bolehkah Biaya Perjalanan Haji Dikredit

Jawa Pos, September 4, 2008

Oleh Ahmad Khoirul Fata
koordinator Jaringan KB PII Muda Jatim.


Awal Agustus kemarin media massa Malaysia ramai memberitakan perdebatan dua pejabatnya tentang kebolehan utang ke bank untuk menunaikan ibadah haji.

Perdebatan dipicu pernyataan Wakil Menteri pada jabatan Perdana Menteri Malaysia Datuk Dr Mashitah Ibrahim saat meresmikan Kursus Intensif Bimbingan Haji bagi Musim Haji 1429H/2008M di Putrajaya (3/08).

Seperti diberitakan Berita Harian (5/08), Dr Mashitah mengharuskan umat Islam memohon pinjaman ke bank untuk membiayai ibadah haji dengan syarat mampu membayar kembali pinjaman dalam tempo yang telah ditetapkan.

"Kalau tidak pergi (haji) sekarang, kemungkinan bila sudah tua nanti tak dapat pergi karena kesehatan tidak mengizinkan," ujarnya.

Namun, "fatwa" itu segera dibantah menteri pada jabatan Perdana Menteri Malaysia Dr Zaid Hamidi. "Kalau ada kalangan ulama atau ahli politik menyatakan bank atau lembaga keuangan harus memberikan pinjaman, ini bertentangan dengan hukum Islam itu sendiri," tegas atasan Mashitah itu sambil mengutip fatwa Majlis Fatwa Kebangsaan Malaysia.

Zaid menjelaskan, Islam hanya mewajibkan umatnya berhaji bila dia mampu secara finansial, kesehatan, dan tidak ada halangan apa pun (Berita Harian, 7/08).

Meski telah disanggah atasannya, Mashitah tetap pada pendiriannya. Bahkan, dia teguhkan pendapatnya dengan mengutip keputusan Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan bagi Hal Ehwal Islam Ke-69 di Johor Bahru, 13-15 Juni 2005.

Dalam muzakarah itu, ujar Mashitah, diputuskan bahwa pinjaman dari koperasi atau yang lain untuk membayar biaya haji atau umrah adalah harus. "Dengan syarat, peminjam itu mampu membayar utangnya dan tidak mempengaruhi kehidupan normal," jelasnya (Bernama, 7/08).

Secara primordial, haji hanyalah sebentuk ritualisme simbol pengabdian hamba kepada Tuhannya. Namun, ternyata ibadah ini juga memiliki daya magnet yang mampu menarik "tembaga-tembaga" di sekitar medan magnetnya. Letak kekuatan haji bukan hanya di titik keterpesonaan spiritual yang dijanjikan kepada setiap jamaah. Tapi, juga pada efek samping politis, ekonomis, dan sosial yang mengiringi mereka saat kembali ke tanah air.

Prestise
Dalam tradisi masyarakat Nusantara, seseorang yang telah berhaji memiliki prestise tersendiri yang disimbolkan dengan penambahan gelar "haji" di depan namanya. Bahkan, sering gelar itu dibarengi dengan perubahan nama pemiliknya. Jika sebelum haji mereka menyandang nama bernuansa Jawa atau Madura, maka haji merubah nama mereka menjadi kearab-araban.

Ironisnya, justru efek samping itu menjadi daya tarik utama dalam menunaikan haji. Maka, meski secara doktrinal belum masuk dalam kategori wajib haji, sering masyarakat kita memaksa diri mereka menunaikan ibadah, yang sebenarnya, khusus orang mampu itu. Istilah "haji abidin" (haji atas biaya dinas) adalah salah satu contoh pemaksaan itu. Apakah haji kredit juga termasuk bentuk pemaksaan berhaji?

Mungkin saja perdebatan boleh tidaknya haji kredit belum memasuki ruang publik negeri ini. Namun, realitas haji model ini sesungguhnya tidak sulit kita temui di masyarakat kita.
Bahkan, boleh jadi, pada tahun-tahun mendatang haji kredit akan menjadi tren, mengingat belum pulihnya perekonomian masyarakat, semakin tingginya biaya perjalanan ibadah haji (BPIH) dan panjangnya waiting list bakal calon jamaah ibadah haji (CJIH).

Pada musim haji tahun ini saja, BPIH naik sekitar 5 juta rupiah akibat kenaikan harga BBM. Sementara waiting list CJIH sudah mencapai 4 tahun. Artinya, bila sekarang mendaftar sebagai CJIH, kita baru masuk waiting list CJIH untuk tahun 2013. Hal itu diperparah keluarnya Keppres 53/2008 yang hanya memberikan waktu sebulan (11/08 hingga 10/09) kepada CJIH 2008 untuk melunasi BPIH, tanpa diberi kesempatan kedua seperti tahun kemarin.

Kondisi-kondisi seperti inilah yang bisa memaksa CJIH untuk berpikir pragmatis; daripada menunggu 4-5 tahun untuk bisa berangkat haji, bukankah lebih baik utang dahulu biar bisa berangkat sekarang? Bukankah mereka juga punya kemampuan untuk membayar utang itu?
Di titik ini pihak-pihak terkait (Depag dan MUI) dituntut segera meresponsnya. Dengan beitu, ketika persoalan haji kredit muncul di negeri ini, masyarakat dan CJIH tidak dilanda kebimbangan. Allahu a'lam.
Okt
30th

MUHAMMADIYAH DAN AHMADIYAH

Files under | Leave a Comment
MUHAMMADIYAH DAN AHMADIYAH

Oleh: Ahmad Khoirul Fata

Koordinator Jaringan KB Muda PII Jawa Timur

(Jawa Pos, 28 April 2008)


Tulisan Asvi Warman Adam "Belajar Dari Sejarah Ahmadiyah" (JP, 24/04/08) patut dikritisi. Sebab, dalam tulisan itu Asvi membuat suatu kesimpulan bahwa sejak dulu kala Muhammadiyah tidak memiliki problem serius dengan Ahmadiyah, terutama Lahore. Resistensi Muhammadiyah baru muncul saat MUI mengeluarkan fatwa kesesatan Ahmadiyah pada 1984.

Kesimpulan itu tentu saja layak untuk diperdebatkan. Beberapa literatur justru menunjukkan bahwa sikap resisten Muhammadiyah sudah muncul jauh sebelum dekade 1980-an. Juga, Asvi tampaknya hanya menyampaikan fakta sejarah yang sepenggal.

Buya Hamka dalam buku "Peladjaran Agama Islam (PAI)" (terbit pertama kali pada 1956) menulis, Ahmadiyah - baik Qadiani atau Lahore - masuk ke Indonesia sejak tahun 1920-an. Qadiani masuk melalui Tapak Tuan, kemudian ke Minangkabau di zaman kejayaan Sumatera Thawalib di Padang Panjang sekitar tahun 1923.

Awalnya, beberapa pelajar Sumatera Thawalib melanjutkan studi ke luar negeri. Di sana mereka secara intens dibina Qadiani hingga bisa bertemu dengan Khalifatul Masih II. Setelah dinilai matang dalam ajaran Ahmadiyah Qadiani, mereka pun disuruh pulang ke Minangkabau ditemani seorang dai Qadiani, Maulvi Rahmat Ali. Di tanah kelahirannya, mereka pun menggelar berbagai perdebatan tentang keyakinannya dengan ulama’ lokal.

Tentu saja, keyakinan menyimpang yang mereka bawa ditentang para ulama. Karena hanya memperoleh beberapa puluh pengikut di Sumatera, Rahmat Ali pun pindah ke Jawa, dan mendapat beberapa orang pengikut. Namun akhirnya usaha di Jawa juga mendapat tentangan keras, terutama, dari tokoh Persis, A Hassan. Dalam sebuah perdebatan di Bandung, A Hassan membuka semua kekeliruan Qadiani dan terbongkarlah semua kepalsuannya oleh pendebat ulung itu.

Hampir bersamaan dengan Qadiani, aliran Lahore juga hadir di Indonesia. Pada tahun 1924, dua orang utusan Lahore datang ke Yogya, yaitu Maulana Ahmad dan Mirza Ali Ahmad Beig. Menurut Hamka, ada dua tokoh Muhammadiyah yang mengikuti ajaran ini, yaitu M Ngabehi Joyosugito dan M Yunus Anis. Saat itu, belum ada sikap tegas dari Muhammadiyah atas kedua tokohnya tersebut.

Pada 1925 Syaikh Abdul Karim Amrullah datang ke Yogya dan sempat berdebat dengan Ahmad Beig di depan H Fakhruddin. Dari perdebatan itu H Fakhruddin baru tahu bahwa Qadiani dan Lahore tidak jauh berbeda. Meski demikian, Muhammadiyah tetap belum bisa mengambil sikap tegas. Selang dua tahun kemudian, muballigh terkenal dari India, Maulana Abdul Aleem As-Shiddiqi, datang ke Yogya dan berceramah tentang hakikat Ahmadiyah Qadiani dan Lahore. Baru setelah ini Muhammadiyah bersikap tegas dengan mengeluarkan kedua tokohnya yang telah terjangkit penyakit Ahmadiyah itu.

Agama Ahmadiyah

Ada satu kenyataan yang tidak disinggung Asvi dalam tulisan itu, bahwa keluarnya fatwa MUI tentang kesesatan Ahmadiyah pada 1984 tidak lepas dari peran penting tokoh Muhammadiyah, yaitu Buya Hamka yang saat itu menjabat ketua MUI.

Sikap ini sesungguhnya adalah akumulasi dari resistensi Hamka dan Muhammadiyah terhadap Ahmadiyah. Dalam buku PAI tersebut, Hamka secara panjang lebar membahas Ahmadiyah, mulai dari sejarah kemunculan, ajaran, hingga masuknya ajaran itu ke Indonesia.

Ada dua kesimpulan penting dalam buku itu; 1) lahirnya nabi palsu di zaman modern (Mirza Ghulam Ahmad) tidak lepas dari dukungan kolonial Inggris untuk melemahkan perlawanan umat Islam. 2) Ahmadiyah lebih berbahaya daripada Bahai. Pasalnya, Bahai secara jantan mengaku dirinya bukan bagian dari Islam, sedangkan Ahmadiyah tetap menempel pada Islam. Dengan status seperti ini, Kaum Ahmadi dinilai berpotensi merusak Islam dari dalam.

Karena itulah, Hamka menulis Ahmadiyah sebagai "agama" bukan "aliran". Sebagai "agama", Hamka melihat Ahmadiyah memiliki akidah dan syariat yang berbeda dengan Islam. Akidah Ahmadiyah berinti pada keyakinan akan kenabian Mirza Ghulam Ahmad. Sedangkan syariatnya bertumpu pada upaya mengekalkan kolonialisme Inggris di India dengan menghapuskan ajaran jihad. Allahu a’lam
Okt
30th

“COMMON ENEMY” BARU MUHAMMADIYAH

Files under | Leave a Comment
"COMMON ENEMY"
BARU MUHAMMADIYAH


Oleh: Maf’ul Farida

Alumnus PP “Arraudhatul Ilmiyah” Kertosono-Nganjuk


Diskusi antara Abd Sidiq Notonegoro (ASN) -Kompas Jatim, 15/02- dengan Ahmad Khoirul Fata (AKF) -Kompas Jatim 05/03- tentang Muhammadiyah dan gerakan Islam transnasional (GIT) memang cukup menarik mengingat ketegangan antara keduanya akhir-akhir ini semakin mengeras dengan aksi ‘bersih-bersih’ yang dilakukan Muhammadiyah. Dengan alasan menyelamatkan asetnya, Muhammadiyah melakukan aksi ‘bersih-bersih’ dari anasir GIT dengan memberikan pilihan hitam-putih kepada kadernya: tetap aktif di Muhammadiyah atau keluar ikut GIT.



Selain Muhammadiyah, kekhawatiran terhadap GIT sesungguhnya juga dirasakan oleh ormas lain seperti NU. Ketua Umum PBNU, KH Hasyim Muzadi pernah meminta warga NU untuk waspada terhadap GIT karena dianggap membahayakan ideologi NU dan NKRI. Hasyim juga meminta pemerintah untuk bertindak tegas terhadap GIT semisal Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), dan Al-Ikhwan Al-Muslimun (Tarbiyah/PKS/KAMMI/kelompok halaqah).

Namun dalam kasus Muhammadiyah, saya sepakat dengan AKF bahwa peristilahan gerakan Islam transnasional yang dihadapkan dengan Muhammadiyah sebenarnya cukup membingungkan. Pasalnya, sejak awal kelahirannya, Muhammadiyah banyak mengambil inspirasi gerakannya dari ideologi puritanisme-salafisme Wahabiyah di Saudi Arabia dan reformisme-modernisme Abduh di Mesir. Dengan demikian, Muhammadiyah sebenarnya juga masuk dalam kategori GIT karena salafisme Wahabiyah dan reformisme Abduhiyah yang berasal dari Timur Tengah itu juga memiliki pengaruh dan jaringan lintas bangsa-negara.

Meminjam analisis Charles Kurzman (Kurzman, Liberal Islam: a source book, 1998) tentang tiga pola gerakan Islam, diketahui bahwa kedua corak Islam yang digunakan Muhammadiyah tersebut memiliki satu musuh bersama, yaitu Islam costumary (Islam tradisional) yang banyak mengadopsi unsur-unsur lokal dalam praktik keberagamaannya.

Menurut Kurzman, kedua model Islam itu (salafisme dan reformisme) awalnya bersatu dalam satu visi memperbaharui pola keberagamaan masyarakat Muslim yang dianggap mandeg dan jumud. Selain tantangan eksternal berupa kemajuan peradaban Barat, ‘musuh’ yang secara riel dihadapi kedua ideologi itu adalah Islam costumary dengan pola keberagamaan yang sinkretik. Namun pada perkembangan selanjutnya, Islam modernis-reformis membedakan dirinya dari Islam revivalis-puritanis.

Dalam konteks Islam Nusantara awal abad ke 20, corak Islam revivalis dan reformis dibawa dari Timur Tengah oleh KH Ahmad Dahlan dan founding fathers lainnya untuk memperbaharui pola keberagamaan penduduk Nusantara yang dianggapnya sinkretik-tradisionalis dalam satu wadah gerakan bernama Muhammadiyah. Kaum tradisionalis yang resah dengan kehadiran ideologi baru itu pun mengkonsolidasikan diri dalam wadah Nahdlatul Ulama (NU). Pelembagaan itu tentu saja semakin mengeraskan ketegangan antara keduanya hingga beberapa dekade.

Namun, perkembangan zaman dan perubahan pola pikir mempengaruhi pola hubungan keduanya. Di akhir dekade 90-an, NU-Muhammadiyah memasuki fase baru hubungan yang lebih harmonis yang ditandai dengan keakraban pemimpin kedua ormas terbesar itu dan, di tingkat akar rumput, aksi pisah masjid gara-gara perbedaan jumlah rakaat tarawih, azan shalat Jumat, atau qunut dalam shalat subuh pun relatif reda.

Perubahan ini tentu saja mempengaruhi koalisi kutub modernis-salafis di Muhammadiyah. Kedua kutub pemikiran itu pun mulai menunjukkan jati dirinya masing-masing dan berseteru memperebutkan dominasinya atas Muhammadiyah. Konflik antara keduanya tercermin pada pergesekan antara Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) dengan Majlis Tabligh dan berujung pada tersingkirnya tokoh-tokoh semisal A Munir Mulkhan dan Amin abdullah dari PP Muhammadiyah karena dianggap berpikiran liberal dan menjadi pelindung JIMM.

Kondisi ini tentu saja tidak menguntungkan Muhammadiyah. Berbagai upaya dilakukan untuk mendamaikan kembali kedua corak itu. Saat upaya itu sedang berlangsung, tiba-tiba beberapa GIT yang sedang mengalami puncak kegairahan beraktivitas melakukan sesuatu yang dianggap salah oleh Muhammadiyah.

Momen ini pun tidak disia-siakan Muhammadiyah. Dengan isu menyelamatkan aset-nya, Muhammadiyah menjadikan GIT sebagai common enemy yang diharapkan dapat menyatukan kembali kedua kutubnya yang berseteru.

Apakah upaya ini akan berhasil? Jawabannya bisa “Ya” atau “Tidak”. Namun yang pasti, koalisi berdasar kesamaan musuh (common enemy) tidak memiliki daya rekat yang kuat dan akan pudar ketika sang musuh itu tiada. Bukankah Muhammadiyah telah membuktikannya?. Allahu a’lam.
Okt
30th

MUHAMMADIYAH

Files under | Leave a Comment
MUHAMMADIYAH
DAN PASAR BEBAS DAKWAH

(Tanggapan untuk Abd Sidiq Notonegoro)

Dimuat di Kompas Jatim, 5 Maret 2008


Oleh Ahmad Khoirul Fata

Koordinator Jaringan KB-PII Muda Jawa Timur


Muktamar Pemikiran Islam yang mengambil tema “Dinamisasi Muhammadiyah untuk Pencerahan Peradaban” di UMM (11-13/02) dinilai Abd Sidiq Notonegoro (“Muhammadiyah Maju, Ada Yang Sakit Hati?,” Kompas Jatim, 15/02) memiliki makna penting sebagai jembatan yang bisa menghubungkan silaturrahim antarkader Muhammadiyah. Dengan itu diharapkan terjadi pencairan hubungan antara dua kecederungan pemikiran “liberal” dan “fanatik-normatif”dalam Muhammadiyah.

Sidiq melihat, saat ini ada beberapa kelompok yang memang sengaja mengagitasi Muhammadiyah untuk menanamkan pengaruhnya sekaligus berupaya merebut aset-aset Muhammadiyah. Secara jelas Sidiq menuding kelompok yang berideologi transnasional sebagai kelompok yang berkeinginan merongrong ormas tua itu.

Pembicaraan tentang kelompok Islam transnasional memang menarik. Pasalnya, kelompok ini biasanya dituding sebagai kekuatan radikal yang berkeinginan merubah tatanan sosial-politik yang mapan dengan sebuah tatanan baru berdasarkan Islam yang dipahami secara ideologis. Jaringan lintas negara yang dimiliki kelompok-kelompok ini menjadikan mereka kelompok ideologis tanpa batas teritorial dengan titik pusat di beberapa negara kawasan Timur Tengah.

Beberapa gerakan Islam yang dianggap transnasional adalah: Al-Ikhwan Al-Muslimun (IM/Tarbiyah) dari Mesir, Hizbut Tahrir (HT) dari Lebanon, Jihadi (Afghanistan), Salafi (Arab Saudi), Syiah (Iran/Irak) dan Jamaah Tabligh (JT-India/Pakistan) (Reform Review, vol I, 2007).

Dari keenam gerakan itu, mungkin hanya HT, Tarbiyah, dan Salafi yang memiliki pengaruh cukup luas di Indonesia Ini bisa dilihat dari berbagai aktivitas mereka yang tampak kolosal (seperti demonstrasi) dan kemampuan mereka masuk dalam berbagai lini kehidupan, seperti dalam lembaga pendidikan-sosial dengan menjamurnya Sekolah Islam Terpadu dan lembaga pengelola zakat infaq (Lazis).

Contoh paling kongkrit kuatnya pengaruh gerakan transnasional adalah fenomana PKS (sayap politik Gerakan Tarbiyah di Indonesia) yang dalam waktu relatif singkat mampu memperoleh dukungan cukup besar dalam pemilu 2004 lalu.

Meski demikian, istilah “ideologi transnasional” yang dipakai Sidiq sesungguhnya membingungkan. Apalagi bila itu dihadapkan dengan Muhammadiyah mengingat ormas yang didirikan KH Ahmad Dahlan ini mengambil inspirasi gerakannya dari ideologi puritanisme Wahabiyah di Saudi Arabia dan reformisme Abduh di Mesir seperti yang diakui ketua PW Muhammadiyah Jatim Prof Dr Syafiq A Mughni MA dalam sebuah diskusi bulanan di kantor PW Muhammadiyah Jatim.

Maka, Muhammadiyah sebenarnya juga masuk dalam kategori gerakan Islam transnasional karena pada saat itu (sekitar awal abad 20 di mana Muhammadiyah lahir) ideologi yang diusung Muhammad Abduh dan Abdul Wahhab tersebut bergema melampaui batasan teritorial seperti gema ideologi yang diusung gerakan Islam model Hizbut Tahrir, Salafi, atau Ikhwanul Muslimun saat ini.


Pasar Bebas

Perkembangan yang begitu cepat dan luas itu tentu saja menimbulkan sejumlah gesekan dengan beberapa gerakan Islam yang lebih dulu eksis. Ini sebenarnya peristiwa yang wajar dan lumrah mengingat mereka sama-sama memperebutkan “sepiring kue” bernama umat Islam Indonesia.

Pada titik ini, tulisan Sidiq tersebut sesungguhnya mengekspresikan kehawatiran akan hilangnya pengaruh Muhammadiyah dalam percaturan gerakan dakwah Islam di Indonesia digantikan gerakan-gerakan baru yang lebih bercorak ideologis dan transnasional. Sidiq tampaknya begitu terkejut dengan kehadiran mereka yang “tiba-tiba besar” dan berpotensi menyaingi gerakan-gerakan Islam semacam Muhammadiyah yang lebih dulu ada.

Semestinya keterkejutan itu tidak perlu terjadi bila Sidiq mampu membaca tanda-tanda zaman yang semakin bebas dan terbuka. Dalam alam kebebasan, semua kelompok memiliki hak yang sama untuk memasarkan ide-idenya tanpa ada yang berhak memiliki kekhususan dalam persaingan itu. Di sini berlaku hukum demand & supply yang menuntut setiap kelompok untuk selalu berkreasi dan berinovasi demi memikat “pembeli”.

Maka, para fungsionaris Muhammadiyah seharusnya bertanya, apa yang salah sehingga banyak kadernya yang “termakan” ideologi transnasional. Muhammadiyah perlu melihat kembali ideologi gerakan, sistem kaderisasi, metode dakwah dan sistem keorganisasiannya untuk diselaraskan dengan perkembangan zaman dan perubahan paradigma berfikir umat Islam secara global.

Sebagai gerakan dakwah yang tua dan besar, sangat mungkin para kader Muhammadiyah mengalami kejenuhan dengan berbagai pola yang selama ini terstruktur dalam tubuh persyarikatan. Kiranya, upaya ini tidak akan berlangsung lama mengingat kematangan usia gerakan dan banyaknya cendekiawan dalam Muhammadiyah.

Sikap ini jauh lebih arif dan solutif daripada berapologi dengan membangun kesan seolah-olah ada “musuh” yang sedang berbuat makar pada Muhammadiyah sebagaimana yang diekspresikan pada tulisan Abd Sidiq Notonegoro. Allahu a’lam
Okt
30th

Wajib Belajar atau Wajib Sekolah?

Files under | Leave a Comment
Wajib Belajar atau Wajib Sekolah?

Oleh Maf`ul Farida, S.Pd

Guru TK Islam Terpadu IBNU SINA, Wisma Bungurasih, Waru, Sidoarjo


Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 Pasal 34 ayat 2 menyebutkan tentang pendidikan dasar gratis 9 tahun bagi anak-anak di negeri ini dan pemerintah wajib menyediakan segala sarana dan prasarananya. Kewajiban belajar ini didasari oleh rendahnya sumber daya manusia Indonesia dan tantangan bangsa yang semakin kompetitif. Kondisi SDM bangsa ini memang memprihatinkan, di tingkat Asia Tenggara saja, kita masih berada di bawah Vietnam, Malaysia, Thailand, apalagi Sinagpura.

Amanat UU tersebut kemudian diterjemahkan oleh Pemerintah Pusat dengan Program Wajib Belajar (Wajar) 9 tahun, dan dioperasionalkan dengan kewajiban bersekolah bagi anak bangsa minimal selesai SLTP. Dan sesuai dengan UU Sisdiknas, pemerintah berkewajiban menyediakan sarana-prasarana yang dibutuhkan bagi suksesnya program tersebut.

Di Jawa Timur sendiri, amanat konstitusi itu dioperasionalkan oleh Pemprov Jatim dengan mencanangkan tahun 2007 sebagai tahun pemberantasan buta huruf. Program tersebut merupakan respons Pemprov atas tingginya angka buta huruf di Jatim. Statistika mencatat, pada tahun 2006, dari 13 juta jiwa keluarga miskin di Jatim, 4 juta di antaranya menyandang buta huruf. Dan sebanyak 500.000 anak usia sekolah (7-15 tahun) yang tidak mendapatkan kesempatan sekolah.

Dan sejarah kemudian mencatat, program pemberantasan buta huruf tersebut dianggap berhasil oleh pemerintah pusat sehingga Gubernur Jatim mendapat penghargaan dari Presiden SBY.

Sekilas, tidak ada problem serius dari program Wajar tersebut kecuali persoalan praktis aplikatif. Tetapi bila dibaca lebih kritis, terdapat problem fundamental dalam program tersebut. Pertama, problem istilah. Wajib belajar (compulsory education) di Indonesia tidak sama dengan Wajar di negara-negara maju.

Dalam pengertian negara maju, compulsory education mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: (1) adanya unsur paksaan agar peserta didik bersekolah, (2) diatur dengan undang-undang tentang wajib belajar, (3) ada sanksi bagi orang tua yang membiarkan anaknya tidak sekolah, dan (4) tolok ukur keberhasilan Wajar adalah tidak adanya orang tua yang terkena sanksi karena telah mendorong anaknya bersekolah.

Berbeda dengan itu Wajar di Indonesia dicirikan oleh: (1) tidak bersifat paksaan melainkan persuasif, (2) tidak ada sanksi hukum, sekedar sanksi moral (3) tidak diatur dalam undang-undang tersendiri, (4) keberhasilan diukur dengan angka partisipasi dalam pendidikan.

Karena Wajar hanyalah himbuan, pemerintah dan masyarakat tampak tidak serius menangani pendidikan. Hal ini terlihat jelas pada anggaran pendidikan yang kurang dari 20% dalam APBN dan APBD, padahal UUD 45 pasal 31 ayat 2 telah secara jelas mengamanatkan anggaran pendidikan minimal 20% dari APBN dan APBD.

Problem kedua terkait dengan filosofi pendidikan. Penerjemahan Wajar sebagai

wajib sekolah dari SD hingga SLTP, dapat dilihat sebagai praktik reduksi makna belajar dan pendidikan itu sendiri.

Pendidikan sesungguhnya memiliki tujuan dasar universal membawa anak menjadi individu dewasa. Dewasa berarti seseorang yang telah mencapai tahapan otonomi relatif yang dicirikan dengan kesanggupan berpikir sendiri, menggunakan pikirannya dan pikiran orang lain untuk menyusun pertimbangannya sendiri, menarik kesimpulan sendiri, dan akhirnya membuat keputusan sendiri.

Dalam arti ini seorang dewasa menghayati suatu tindakannya sebagai hasil pertimbangan dan keputusan pribadinya, bukan paksaan dari luar. Karena itu dia lebih siap menanggung akibat perbuatannya sendiri, baik atau buruk. Proses menjadi dewasa itulah yang disebut sebagai belajar.

Proses pendewasaan tersebut sesungguhnya telah diterjemahkan dalam UU No 20/2003 tentang Sisdiknas Bab II, pasal 3 tentang fungsi dan tujuan pendidikan sebagai upaya mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, kritis, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Proses tersebut terjadi dan dilakukan tanpa mengenal batas waktu dan tempat mengingat manusia adalah makhluq dinamis, tidak statis. Sebagai makhluk dinamis manusia terus menerus berada dalam proses “menjadi” (to be). Proses ini membutuhkan suasana yang bebas dan tanpa tekanan. Hanya dengan kebebasan manusia dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya untuk menjadi dewasa.

Maka tujuan pendidikan kita sebenarnya adalah mengantarkan peserta didik menjadi manusia dewasa, yakni manusia yang mampu berfikir dan bertindak atas pilihan dan inisiatifnya sendiri.
Dalam makna seperti ini ukuran benar tidaknya arah pendidikan adalah dengan menguji apakah praktek pendidikan dan pengajaran di sekolah membantu anak didik semakin dewasa dan otonom, atau membuat anak didik terus tergantung pada otoritas (guru, orang tua, atau bahkan negara).

Pun demikian, makna tersebut secara tidak langsung menyatakan bahwa proses pendewasaan tidak hanya terjadi di sekolah belaka, melainkan juga di keluarga dan masyarakat. Pendidikan tidak hanya melibatkan guru, kelas, buku, dan birokrasi pendidikan, tetapi juga orang tua, saudara, tetangga, media massa, bahkan pemerintah.
Di sinilah letak problem program Wajar 9 tahun itu. Penerjemahan Wajar sebagai wajib bersekolah hingga SLTP dapat dianggap sebagai pereduksian makna belajar. Dengan program itu pemerintah seakan-akan menyatakan kepada masyarakat bahwa cukup hanya dengan mengikuti sekolah 9 tahun seseorang sudah dianggap sebagai manusia dewasa. Atau dengan bahasa lain belajar hanya terjadi dalam ruang sekolah dengan waktu 9 tahun, di luar tempat dan waktu tersebut tidak dianggap sebagai belajar, karenanya tidak perlu.

Pereduksian ini dapat membawa akibat lebih jauh dengan berlepas tangannya pihak luar sekolah (keluarga, tetangga, media massa, pemerintah) dari tanggung jawab mendidik anak bangsa. Tanggung jawab mendewasakan anak didik diberikan secara total kepada pihak sekolah.
Ini tentu problem serius, apalagi sekolah di Indonesia selama ini, seperti yang disinyalir Paulo Freire, telah menjadi “bank” dengan ciri-ciri: guru mengajar, murid belajar; guru tahu segalanya, murid tidak tahu apa-apa; guru berfikir, murid difikirkan; guru bicara, murid mendengarkan; guru mengatur, murid diatur; guru memilih dan memaksakan pilihannya, murid menuruti; guru bertindak, murid meniru; guru memilih apa yang diajarkan, murid menyesuaikan diri; guru mengacaukan wewenang ilmu pengetahuan denga profesionalisme, murid tidak punya wewenang; dan guru menjadi subyek, murid hanyalah obyek.

Selain itu pendidikan kita juga telah mengidap, apa yang disebut oleh Dave Meier sebagai, ‘penyakit budaya pendidikan’ yaitu berupa puritanisme (dengan gejala: serius, suram, kering, kaku dan berpusat pada guru), individualisme (belajar adalah usaha individualistis), model pabrik (belajar berdasarkan waktu yang telah ditentukan dan kepatuhan pada petunjuk atasan), pemikiran ilmiah yang berpusat pada Barat (linier, mekanistis dan terkotak-kotak), pengetahuan terutama bersifat kognitif dan verbal, maskulinisme dan berlandaskan pada konsep-konsep yang abstrak.

Dengan problema itulah, pemerintah selayaknya mengevaluasi program Wajar 9 tahun, apakah program itu telah memang dapat membantu tujuan pendidikan sebagaimana yang ada dalam UU Sisdiknas kita atau justru semakin mengaburkan tujuan pendidikan itu sendiri. Wallahu a’lam.

* Tulisan ini pernah dimuat di Republika Rubrik "Guru Menulis", 16 Januari 2008
Okt
30th

SOFT VIOLENCE AHMADIYAH

Files under | Leave a Comment
SOFT VIOLENCE AHMADIYAH

Oleh: Ahmad Khoirul Fata

Koordinator Jaringan KB PII Muda Jawa Timur


Dengan ditemani Ketua ICRP, Djohan Efendi, dan anggota Komnas HAM Ahmad Baso, Amir Nasional Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) Abdul Basyit, menemui Ketua PBNU mengadukan persoalan mereka(Republika, 9/1/08).. Sebelumnya, bersama aktivis JIL, mereka juga berdemo ke Mabes Polri meminta perlindungan atas hak kebebasan beragama mereka (JP, 8/1/08).

Pengaduan mereka sebenarnya bukan yang pertama kali. Beberapa bulan lalu, didampingi Adnan Buyung Nasution dan YLBHI, jemaah Ahmadiyah mendatangi DPR untuk mengadukan kekerasan yang menimpanya. Mereka juga mengancam akan meminta suaka ke negara lain jika negara tidak melindunginya.

Tentang Doktrin Kenabian

Titik inti penolakan masyarakat muslim terhadap Ahmadiyah terletak pada doktrin adanya kenabian pasca Nabi Muhammad saw, yang dalam klaim komunitas Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad adalah sang Nabi yang dijanjikan itu. Menteri Agama Maftuh Basyuni sebenarnya telah menawarkan solusi cerdas agar Ahmadiyah terbebas dari penolakan umat Islam, yaitu mereka mendeklarasikan ajarannya sebagai agama baru yang terlepas dari Islam. Solusi ini merupakan penawaran ulang atas apa yang pernah ditawarkan filosof besar Sir Muh Iqbal.

Deklarasi Ahmadiyah sebagai agama independen sebenarnya tidak mengalami banyak hambatan jika agama dimaknai sebagai pengalaman kehadiran entitas supranatural (numen) yang memanifestasikan diri sebagai mysterium tremendum (rasa kekaguman pada yang supranatural) sebagaimana yang didefinisikan Rudolf Otto.

Dengan perspektif Otto-ian ini, pendirian Ahmadiyah sebagai agama tersendiri tanpa membawa nama Islam telah memenuhi syarat karena secara epistemologis Ahmadiyah bersumber dari pengalaman pendirinya (Mirza Ghulam Ahmad) dalam menapaki jalan mistik.

Tetapi bila agama didefinisikan sebagai “ketetapan Ilahi yang diterima makhluk yang berakal melalui Rasul” sebagaimana yang dimaknai oleh Syarif al-Jurjani dalam al-Ta`rifat-nya, atau “kumpulan hukum Tuhan yang diajarkan Tuhan melalui suara Rasul-Nya” dalam definisi Ibrahim Bajuri, maka Ahmadiyah merupakan sebentuk heterodoksi dalam Islam, karena doktrin Islam secara jelas meniadakan kenabian pasca-Muhammad Saw.

Dalam perspektif Jurjani atau Bajuri inilah doktrin kenabian Ahmadiyah dapat dinilai sebagai polutan yang mencemari kemurnian akidah Islam, dan penyebarannya ke tengah-tengah masyarakat muslim dapat dianggap sebagai sebentuk kekerasan halus (soft violence) yang memiliki daya rusak jangka panjang, tidak terasa, tetapi sangat mematikan. Tetapi sayangnya, para pembela HAM banyak yang bungkam ketika umat Islam mengalami soft violence itu.

Bagi umat Islam, agama bukan sekedar baju yang dengan mudah dapat diganti setiap saat. Agama adalah ruh kehidupan yang sangat mempengaruhi kehidupan setiap muslim. Agama adalah air kehidupan yang dapat menyelamatkan manusia dari kehausan padang pasir duniawi. Ia datang untuk manusia dengan membawa petunjuk hidup yang berdimensi historis dan trans-historis (akhirat).

Maka tidak heran jika umat Islam selalu berusaha menjaga agar air kehidupan itu tetap murni sebagaimana ia hadir pertama kalinya dan terbebas dari segala polusi kesejarahan. Dalam perspektif inilah kita bisa memahami, reaksi tegas umat atas Ahmadiyah hanyalah sebuah upaya membersihkan sumber mata air kehidupan mereka dari pihak-pihak yang berupaya mengotorinya.

Reaksi itu dapat diibaratkan dengan seseorang yang merokok dalam ruangan ber-AC, sementara di ruangan itu terdapat banyak orang yang sedang menikmati kesejukannya. Maka, ada dua pilihan yang harus diambil si perokok; tetap tinggal di ruangan itu dengan mematikan rokoknya atau tetap merokok dengan keluar dari ruangan tersebut. Jika perokok itu tinggal di ruangan ber-AC dengan tetap menyalakan rokoknya, apakah salah jika penghuni lainnya bereaksi mengusirnya?

Sejarah mencatat, ketika kemurnian agama telah tercampur dengan debu-debu sejarah, ia akan kehilangan jati dirinya sebagai petunjuk bagi umat manusia dalam menjalani kehidupannya. Maka kita melihat, ketika ajaran Nabi Musa kehilangan kemurniannya, ia menjadi agama yang rasis. Begitu juga saat ajaran Nabi Isa tercampur berbagai kepercayaan dan tradisi kaum penyembah berhala, ia berubah menjadi sekedar pemberi legalitas atas semua tradisi heretik bangsa Romawi.

Kemurnian ajaran yang dibawa para nabi harus selalu dijaga. Untuk itu, Allah menurunkan nabi-nabi baru untuk memurnikan kembali ajaran nabi sebelumnya yang sudah tidak murni lagi itu. Maka kehadiran Isa adalah untuk memurnikan ajaran Musa, begitu pula Muhammad datang untuk memurnikan ajaran Isa.

Selain untuk memurnikan ajaran nabi-nabi terdahulu, kedatangan Muhammad juga sebagai pertanda telah berhentinya risalah kenabian (Qs. 33:40). Itu artinya, Muhammad adalah utusan terakhir dan Allah tidak akan mengutus lagi nabi/rasul untuk memurnikan ajaran yang dibawanya.


* Tulisan ini pernah dimuat di Jawa Pos, 12 Januari 2008
Okt
30th

Alhamdulillah, Istriku Hamil

Files under | Leave a Comment
Alhamdulillah, Istriku Hamil

Oleh Ahmad Khoirul Fata


Menjelang azan subuh, sesaat setelah salat malam, hatiku tiba-tiba bergetar, seketika dadaku berdetak kencang setelah istriku menunjukkan sesuatu padaku. Perasaan seperti ini tidak biasa padaku. Hanya dalam momen-momen tertentu saja aku merasakannya. Getaran seperti ini pernah aku rasakan saat kakiku melangkah memasuki ruang ujian tesis beberapa bulan lalu, atau saat kuucapkan kalimat qabiltu nikahaha wa tazwijaha bi mahrin madzkur haalan setahun yang lalu.

Januari ini kami memasuki tahun kedua pernikahan kami. Alhamdulillah selama ini tidak ada persoalan serius antara kami. Hanya problem kecil yang biasa menghinggapi hubungan dua insan yang masih dalam tahap pengenalan pribadi. Namun dengan cinta dan kelapangan hati, problem tersebut menjadi pelangi yang menghiasi cakrawala rumah tangga kami.

Namun hidup bukanlah garis linier, kelokan-kelokan kerapkali mewarnai perjalanan hidup seseorang. Itu pula yang kami rasakan dalam setahun ini. Menjelang ulang tahun pertama pernikahan kami, istriku belum juga menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Kami sebetulnya tidak begitu risau. “Mungkin Allah melihat kami belum layak mendapat amanat besar itu, nanti kalau sudah masanya, pasti amanat itu diberikan juga“ batinku.

Apalagi kami berpandangan bahwa keturunan itu ibarat rizki yang tak kan lari meski dikejar. Allah sudah menetapkan rizki seseorang sejak ia dalam kandungan. Dan yakin saja, rizki itu akan datang juga kepada pemiliknya tanpa berkurang sedikit pun atau tertukar dengan rizki orang lain.

Namun tidak demikian dengan orang-orang di sekitar kami. Banyak teman yang bertanya: “udah punya momongan?“ atau “udah berapa bulan?” setiap kali kami bertemu dengan mereka. Pertanyaan ini sebenarnya wajar belaka mengingat kebiasaan pasangan muda yang segera mendapat momongan di bulan-bulan awal pernikahannya. Apalagi beberapa teman yang waktu pernikahannya bersamaan dengan kami atau setelah kami telah hamil satu, dua, tiga bulan. Bahkan beberapa di antaranya telah bersiap menyambut buah cintanya yang pertama.

Meski wajar, tak pelak pertanyaan-pertanyaan itu membuat istriku risau juga. Pertanyaan itu lama kelamaan menyentuh perasaan istriku. Bekali-kali ia mengungkapkan perasaan keinginannya untuk segera punya momongan, dan berkali-kali pula aku tenangkan dia. Puncaknya terjadi ketika perayaan ulang tahun pertama pernikahan kami. Saat itu istriku memintaku ke dokter kandungan untuk periksa dan konsultasi bulan depan.

Aku iya-kan permintaan itu. Namun di sisi lain, aku berfikir mencari solusi lain selain ke dokter. Akhirnya aku ingat pidato seorang ustad saat khutbah idul adha kemarin. Dalam khutbah yang menjelaskan keutamaan ibadah kurban dan haji itu, sang ustad sempat membacakan hadis nabi tentang fadhilah air zam-zam.

Kontan aku hubungi seorang kawan yang bekerja di sebuah travel haji dan umrah. Aku katakan padanya aku butuh air zam-zam. Beberapa hari kemudian ia memintaku untuk menemuinya di tempatnya. Dan sebotol kecil air zam-zam ia berikan padaku. Dengan bismillah, air itu kami minum setiap pagi dan sore, cuma seteguk tiap kali minum. Dalam beberapa hari saja air itu habis.

Meski sedikit, air zam-zam itu memiliki khasiat yang besar bagi kami. Akhir Januari, beberapa hari sebelum kami mendatangi dokter, istriku telat. Ia pun sering mual-mual. Dan di pagi itu, sesaat sebelum azan subuh, istriku menunjukkan dua tanda strip merah di pengetes yang aku belikan kemarin sore, dadaku bergetar...perasaanku campur aduk... alhamdulillah.... istriku hamil.

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Suara Hidayatullah, Juli 2007
Okt
30th

Kontribusi Peradaban Islam dalam Kedokteran Gigi

Files under | Leave a Comment
Ajaran Islam memerintahkan agar umatnya senantiasa menjaga kesehatan gigi dan mulut. Dalam salah satu haditsnya, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: ''Seandainya tidak akan merepotkan umatku, maka aku akan perintahkan kepada mereka untuk membersihkan gigi pada setiap akan shalat.''(HR Bukhari dan Muslim).

Islam memahami bahwa menjaga kesehatan gigi dan mulut akan sangat menentukan kualitas hidup manusia. Tak heran jika seabad setelah Rasulullah SAW wafat, para dokter Muslim di era keemasan terdorong untuk turut mengembangkan ilmu kedokteran gigi (dentistry). Sejatinya, pengobatan gigi telah diterapkan manusia dari peradaban Lembah Indus bertarikh 7.000 hingga 5.500 SM.

Namun, ilmu kedokteran gigi justru berkembang pesat pada era kejayaan peradaban Islam. Henry W Noble (2002) dalam Tooth transplantation: a controversial story, History of Dentistry Research Group, Scottish Society for the History of Medicinemengakui bahwa para dokter Muslim di zaman kekhalifahan merupakan perintis dalam pengembangan ilmu kedokteran gigi.

Peradaban Barat saja baru mengembangkan ilmu kedokteran gigi secara khusus pada abad ke-17 M. Buku pertama tentang ilmu kedokteran gigi di Barat baru hadir tahun 1530 M bertajuk "Artzney Buchlein". Buku teks kedokteran gigi dalam bahasa Inggris baru muncul tahun 1685 karya Charles Allen berjudul Operator for the Teeth.Bahkan, masyarakat Amerika baru mengenal adanya dokter gigi pada abad ke-18 M. John Baker merupakan dokter pertama yang praktik di benua itu. Baker merupakan dokter gigi yang berasal dari Inggris. Amerika baru memiliki dokter gigi sendiri pada tahun 1779 M bernama Isaac Greenwood.

Lucunya, peradaban Barat mengklaim Pierre Fauchard - berkebangsaan Prancis yang hidup di abad ke-17 sebagai "bapak ilmu kedokteran gigi modern". Padahal, menurut Noble, 700 tahun sebelum Fauchard hidup, seorang dokter Muslim bernama Abu al-Qasim Khalaf ibn al-Abbas Al-Zahrawi alias Abulcasis (930 M - 1013 M) telah sukses mengembangkan bedah gigi dan perbaikan gigi.Keberhasilannya yang telah memukau para dokter gigi modern itu tercantum dalam Kitab Al-Tasrif. Kitab itu tercatat sebagai teks pertama yang mengupas bedah gigi secara detail. "Dalam kitabnya itu, Abulcasis juga secara detail menggambarkan keberhasilannya dalam melakukan penanaman kembali gigi yang telah dicabut," papar Noble.

Al-Zahrawi juga tercatat sebagai dokter yang mempelopori penggunaan gigi palsu atau gigi buatan yang terbuat dari tulang sapi. Kemudian geligi palsu itu dikembangkan lagi mengunakan kayu - seperti yang digunakan oleh presiden pertama Amerika Serikat, George Washington 700 tahun kemudian. Sumbangan penting dokter Muslim di era kejayaan dalam pengembangan ilmu kedokteran juga diungkapkan Salma Almahdi (2003) dalam tulisannya berjudul Muslim Scholar Contribution in Restorative Dentistry yang dimuat dalam Journal of the International Society for the History of Islamic Medicine. Menurut Almahdi, dokter gigi Muslim dari abad ke-10 M lainnya yang mengembangkan >dentistry adalah Abu Gaafar Amed ibnu Ibrahim ibnu Abi Halid al-Gazzar.

Dokter gigi asal Afrika Utara itu memaparkan metode perbaikan gigi secara detail dalam Kitab Zad al-Musafir wa qut al-Hadir. Kitab itu lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Latin sebagai Viaticum oleh Constantine the African di Universitas Salerno - yang berada di Selatan Italia. "Kitab yang ditulis Al-Gazzar merupakan yang pertama yang mengupas tentang perawatan gigi busuk/rusak," papar Almahdi.

Dalam kitabnya, Al-Gazzar menyatakan bahwa hal pertama yang perlu dilakukan untuk mengobati gigi yang busuk adalah membersihkannya. Kemudian, papar dia, gigi itu diisi dengan gallnut, madu, kemenyan, terbinth yang mengandung damar, pohon cedar yang mengandung damar, pellitory atau pengasapan dengan akar colocynthis.Al-Gazzar pun merekomendasikan senyawa arsenik untuk gigi yang berlubang. Campuran ini juga mampu mengatasi pembusukan gigi serta mengendurkan dan meredakan ketegangan syaraf. Dokter Muslim lainnya yang memberi sumbangan penting bagi ilmu kedokteran gigi adalah Ibnu Sina lewat karyanya yang sangat fenomenal bertajuk he Canon of Medicine. Menurut Almahdi, Ibnu Sina terpengaruh oleh Al-Gazzar dalam pengobatan gigi.

Meski begitu, Ibnu Sina mengembangkan sendiri pengobatan gigi dengan caranya sendiri. Baik Al-Gazzar maupun Ibnu Sina sepakat bahwa kebusukan pada gigi disebabkan oleh "cacing gigi". Namun pendapat itu dipatahkan oleh dokter Muslim lainnya dari abad ke-12 M bernama Gaubari. Dalam Book of the Elite yang ditulisnya, Gaubari menyatakan bahwa dalam kenyataannya cacing gigi tak pernah ada. Sejak abad ke-13 M, teori cacing gigi akhirnya tak lagi diterima dalam kedokteran Islam.

Kontribusi peradaban Islam lainnya yang tak kalah penting dalam kedokteran gigi diberikan oleh Abu Bakar Muhammad Ibnu Zakaria Ar-Razi. Dokter legendaris di era keemasan peradaban Islam itu juga secara khusus mengembangkan perawatan kesehatan gigi. Ar-Razi terbilang sebagai dokter Muslim pertama yang memberi sumbangan bagi ilmu kedokteran gigi.Menurut Almahdi, Ar-Razi mencoba merekomendasikan metode yang dikembangkan Galen - dokter dari peradaban Yunani - dalam melepas gigi rusak dengan cara dibor. Untuk mengurangi rasa sakit saat gigi dibor, dokter terkemuka di kota Baghdad itu menganjurkan agar lubang gigi ditetesi minyak.

Selain mengkaji masalah gigi, dokter Muslim di era kekhalifahan pun sudah mengkaji kesehatan mulut, salah satunya soal lidah. Organ penting yang dibiasa digunakan untuk mengunyah, menelan dan berbicara itu mendapat perhatian khusus dari Ibnu Sina. Dalam Canon the Medicine, Ibnu Sina mengkaji berbagai penyakit lidah dan penyembuhannya.Menurut Almahdi, dalam kitabnya yang sangat lengkap itu Ibnu Sina menerangkan tentang anatomi lidah serta penyakit-penyakit yang sering dialami organ lidah baik secara sensorik maupun motorik. Ibnu Sina membahas masalah lidah secara mendalam dalam empat belas bab.

Betapa sumbangan peradaban Islam bagi dunia kedokteran sungguh begitu luar biasa. Namun, kontribusi penting para dokter Muslim itu kerap dinihilkan dan disembunyikan peradaban Barat. Tak heran, bila pencapaian para ilmuwan Muslim di era kejayaan itu juga tak diketahui masyarakat Islam di era modern ini. Sungguh ironis memang. heri ruslan
Okt
30th

Jejak Kejayaan Islam di Luar Angkasa

Files under | 1 Comment
Al-Sufi pun tercatat sudah berhasil melakukan obsevasi dan menjelaskan bintang-bintang, posisinya, jarak dan warna bintang-bintang itu. Ia juga mampu membuat peta bintang. Kitabnya yang paling fenomenal, yakni kitab Suwar al-Kawakib.

Dunia Islam di zaman kekhalifahan sempat menjelma sebagai pusat studi astronomi dan astrologi. Studi astronomi dan astrologi mulai berkembang pada era kepemimpinan Khalifah Al-Mansyur sebagai penguasa ketiga Kekhalifahan Abbasiyah di abad ke-8 M. Studi astronomi dan astrologi di dunia Islam kian menggeliat sejak ditemukannya astrolabe oleh Al-Fazari.

Menurut sejarawan sains, Donald Routledge, kedua ilmu yang telah menguak rahasia langit itu mencapai puncak kejayaannya dalam peradaban Islam dari tahun 1025 M hingga 1450 M. Pada masa itu, di berbagai wilayah kekuasaan Islam telah lahir sederet astronom dan astrolog Muslim serta sejumlah observatorium yang besar dan megah.

Tak dapat dimungkiri bahwa sederet astronom dan astrolog Muslim terkemuka, seperti Nasiruddin at-Tusi, Ulugh Beg, Al-Batanni, Ibnu Al-Haitham, Ibnu Al-Syatir, Abdur Rahman as-Sufi, Al-Biruni, Ibnu Yunus, Al-Farghani, Al-Zarqali, Jabir Ibnu Aflah, Abu Ma'shar, dan lainnya, telah memberi sumbangan penting bagi pengembangan astronomi dan astrologi.

Bukti kejayaan yang diraih peradaban Islam dalam astronomi dan astrologi dapat dibuktikan melalui penamaan bintang dan sederet kawah bulan dengan nama-nama yang berasal dari bahasa Arab. Muslim Heritage Foundation mencatat ratusan nama bintang yang berasal dari peradaban Islam. Para astronom Muslim pada awalnya mengenal nama-nama bintang dari Almagest karya Ptolemeus--astronom Yunani yang hidup pada abad ke-2 M.

Setelah menguasai pengetahuan serta teknologi dalam bidang astronomi dan astrologi, para ilmuwan Muslim pun mulai memberi nama bintang-bintang yang berhasil mereka temukan. Sejarawan Jerman yang juga ahli dalam penamaan bintang dalam astronomi Islam, Paul Kunitzsch, mengungkapkan, ada dua tradisi penamaan bintang yang diwariskan oleh peradaban Islam.

Pertama penamaan bintang melalui dongeng. Paul menyebut penamaan bintang secara tradisional ini sebagai indigenous-Arabic. Yang kedua, menurut Paul, penamaan bintang secara ilmiah (scientific-Arabic). Sayangnya, penamaan bintang yang dilakukan para ilmuwan Muslim telah dibelokkan oleh peradaban Barat.

Hal itu dilakukan saat buku-buku teks bahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Latin mulai abad ke-12 M. Buku-buku teks bahasa Arab yang ditulis para astronom dan astrolog Muslim dengan sengaja dirusak sehingga maknanya pun berubah. Selain itu, perusakan alih bahasa itu juga membuat nama-nama bintang yang ditemukan peradaban Islam kehilangan arti.

Tak cuma itu, nama bintang juga secara sengaja dipindahkan dari satu ke yang lain. Sehingga, posisi bintang yang telah ditetapkan oleh para astronom dan astrolog Muslim itu berada dalam peta bintang yang berbeda. Untungnya, sebagian besar nama bintang yang diadopsi masyarakat Barat sejak bergulirnya Renaisans masih dalam bahasa Arab yang asli.

Salah seorang astronom Muslim yang sangat berpengaruh dalam penamaan bintang adalah Abu al-Husain `Abd Al-Rahma-n Al-Sufi (903 M-986 M). Orang Barat mengenalnya dengan panggilan Azophi. Al-Sufi secara sistematis berhasil merevisi katalog bintang yang dibuat Ptolemeus. Ia mengubah Almagest yang populer itu dengan Kitab Suwar al-Kawakib (Kitab Bintang-Bintang Tetap).

Kitab yang dirampungkannya pada 964 M itu memang berbasis pada warisan astronomi Yunani. Meski begitu, nama-nama bintang yang tercatat dalam kitabnya itu berasal dari penemuannya sendiri dan diberi nama dalam bahasa Arab. Salinan kitab karya Al-Sufi itu sempat ditulis ulang olah putranya sekitar tahun 1010 M. Kini, kitab itu tersimpan di Perpustakaan Bodleian, Oxford.

Menurut Paul, tradisi masyarakat lokal di negeri Muslim yang tersebar di Semenanjung Arab dan Timur Tengah memiliki nama tersendiri untuk beragam bintang yang terang, salah satunya adalah Aldebaran. Paul menambahkan, kerap kali masyarakat Muslim memperlakukan bintang tunggal seperti orang atau binatang. Bintang yang dikenal sebagai Alpha dan Beta Ophiuchi, tutur dia, dianggapnya sebagai anjing gembala.

Paul menemukan fakta adanya penamaan bintang dalam bahasa Arab yang terdapat dalam buku Almagest karya Ptolemeus. "Contohnya nama bintang Fomalhaut berasal dari bahasa Arab yang berarti 'mulut ikan dari selatan'," ungkap Paul. Dalam kitab yang ditulisnya, astronom Muslim, Al-Sufi, telah mencatat hasil observasinya tentang Galaxi Andromeda. Ia menyebutnya sebagai 'awan kecil'.

Al-Sufi pun tercatat sudah berhasil melakukan observasi dan menjelaskan bintang-bintang, posisinya, jarak, dan warna bintang-bintang itu. Ia juga mampu membuat peta bintang. Kitabnya yang paling fenomenal, yakni Kitab Suwar al-Kawakib itu diterjemahkan ke dalam bahasa Latin mulai abad ke-12, baik penjelasan teksnya maupun gambarnya.

Dari kitab inilah, masyarakat Barat salah satunya mengenal nama-nama bintang. Nama-nama bintang di luar angkasa yang ditemukan para ilmuwan Islam itu merupakan salah satu jejak kejayaan Islam.


Nama Islam di Galaxi

Peradaban Islam telah turut memberi nama ratusan hingga ribuan bintang dalam populasi galaksi. Dari sederet nama bintang yang ditemukan dan dinamai ilmuwan Muslim itu, hingga kini masih ada yang dipakai, bahkan ada pula yang sudah lenyap dan tak digunakan lagi oleh peradaban modern. Berikut ini beberapa contoh nama bintang yang berasal dari warisan kejayaan Islam.

No Nama Populer Nama Arab Bintang

1 Acamar Akhir an-Nahr Theta Eri
2 Achernar Akhir an-Nahr Alpha Eri
3 Acrab Al-'Aqrab Beta Sco
4 Acubens Az-Zubana Alpha Cnc
5 Adhafera Ad-Dafirah Zeta Leo
6 Adhara Al-'Adhara Epsilon CMa
7 Ain 'Ain Epsilon Tau
8 Albali Al-Bali' Epsilon Aqr
9 Alchibah Al-Khiba' Alpha Crv
10 Aldebaran Ad-Dabaran Alpha Tau
11 Alderamin Adh-Dhira' al-Yamin? Alpha Cep
12 Alfirk Al-Firq Beta Cep
13 Algedi Al-Jady Alpha Cap
14 Algenib Al-Janb Gamma Peg
15 Algieba Al-Jabhah Gamma Leo
16 Algebar Al-Jabbar Beta Ori
17 Algol Al-Ghul Beta Per
18 Algorab Al-Ghurab Delta Crv
19 Alhena Al-Han'ah Gamma Gem
20 Alioth Al-Jawn Epsilon UMa
21 Alkaid Al-Qa'id Eta UMa
22 Alkes Al-Ka's Alpha Crt
23 Almak 'Anaq al-Ard Gamma And
24 Almeisan Al-Maisan Gamma Gem
25 Alnair An-Nayyir Alpha Gru
26 Alnair An-Nayyir Zeta Cen
27 Alnilam An-Nidham Epsilon Ori
28 Alnitak An-Nitaq Zeta Ori
29 Alphard Al-Fard Alpha Hya
30 Alphecca Al-Fakkah Alpha CrB
sumber: Muslim Heritage

Abadi di Kawah Bulan

Sebagai bentuk pengakuan dunia terhadap sumbangan peradaban Islam, sebanyak 24 ilmuwan dan ulama Muslim terkemuka di era kejayaan telah diabadikan menjadi nama kawah bulan. Pemberian nama ke-24 ilmuwan Muslim itu pun telah mendapat pengakuan dari Organisasi Astronomi Internasional (IAU).

Hanya satu nama tokoh Muslim yang tak diakui IAU menjadi nama kawah bulan, yakni Muhammad Abduh (1849 M-1905 M). Ke-24 tokoh Muslim itu resmi diakui IAU sebagai nama kawah bulan secara bertahap pada abad ke-20 M, antara tahun 1935, 1961, 1970, dan 1976. Pada awalnya, nama ilmuwan Muslim yang diabadikan di kawah bulan itu disebut dalam bahasa Latin, seperti Alhazen, Azophi, Alpetragius, Albataneus, Alfraganus, dan lainnya. Namun, kemudian diberi nama aslinya dalam bahasa Arab.

Berikut nama-nama tokoh dan ilmuwan Muslim yang diabadikan di kawah bulan.

Abulfeda. Nama lengkapnya Isma'il Ibn Abu al-Fida. Ia adalah ahli geologi dari Suriah (1273 M-1331 M).

Abulwafa. Bernama lengkap Abu al-Wafa al-Buzajani. Matematikus dan astronom asal Persia (940 M-998 M).

Al-Bakri. Geografer Muslim asal Andalusia itu bernama Abu `Ubayd Abdallah Ibn `Abd al-Aziz Ibn Muhammad al-Bakri (1010 M-1094 M).

Al-Biruni. Ilmuwan serba bisa yang populer di Afghanistan dan India itu bernama lengkap Abu ar-Rayhan Muhammad ibn Ahmad al-Biruni. Dia seorang astronom, matematikus, dan geografer (973 M-1048 M).

Al-Khwarizmi. Matematikus dan astronom kelahiran Khwarizmi itu bernama lengkap Muhammad ibnu Musa al-Khwarizmi.

Al-Marrakushi. Abu `Ali al-Hasan Ibn `Ali al-Marrakushi adalah astronom dan matematikus asal Maroko dan bekerja di Mesir pada abad ke-13 M.

Albategnius. Muhammed bin Jaber Al-Battani dikenal di dunia Barat dengan panggilan Albategnius. Dia seorang astronom dan matematikus yang berasal dari Harran, Mesopotamia.
Alfraganus. Abu 'l-'Abbas Ahmad Ibn Muhammad Ibn Kathir al-Farghani adalah astronom terkemuka di Baghdad yang berasal dari Iran pada abad ke-9 M.

Alhazen. Nama aslinya adalah Abu Ali al-Hasan Ibn al Haytham. Ahli fisika, matematika, dan astronomi itu mengabdikan hidupnya di Mesir (987 M-1038 M).

Almanon. Ini merupakan nama panggilan orang Barat terhadap Abu Ja'far Abdallah al-Ma'mun ibnu Harun al-Rashid. Khalifah Dinasti Abbasiyah di Baghdad yang berkuasa pada 813 M-833 M.
Alpetragius. Astronom asal Andalusia itu bernama Abu Ishaq Nur al-Din Al-Bitruji Al-Ishbili.

Arzachel. Nama lengkapnya adalah Abu Ishaq Ibrahim ibn Yahya al-Naqqash al-Zarqalluh or al-Zarqali. Matematikus terkemuka ini berasal dari Toledo, Andalusia.
Avicenna. Ilmuwan legendaris Muslim itu bernama Abu `Ali al-Hussayn Ibn Sina (980 M-1037 M).

Azophi. Nama lengkapnya Abdurrahman Al-Sufi. Dia adalah astronom terkemuka yang menulis tentang bintang.
Geber. Astronom abad ke-12 M asal Andalusia itu sebenarnya bernama Abu Muhammad Jabir Ibn Aflah al-Ishbili.

Ibnu Battuta. Penjelajah dan geografer Muslim asal Maroko itu bernama Abu Abd Allah Muhammad Ibn `Abd Allah Ibn Battuta.
Ibnu Firnas. Orang Barat menyebutnya Armen Firman. Insinyur pencipta kapal terbang itu bernama lengkap Abbas Ibn Firnas.

Ibnu Yunus. Astronom Mesir (950 M-1009) itu bernama Abu al-Hasan bin Ahmad ibnu Yunus al-Sadafi.

Ibnu-Rushd. Dokter dan filsuf Muslim asal Andalusia ini bernama Abu al-Walid Muhammad Ibn Ahmad Ibn Rushd.

Messala. Nama lengkapnya adalah Ma-sha' Allah ibnu Athari al-Basri. Dia adalah astronom asal Irak.

Nasiruddin. Ilmuwan terkemuka asal kota Tus, Khurasan, ini bernama lengkap Muhammad ibnu Muhammad ibnu al-Hasan al-Tusi.

Omar Khayyam. Dia adalah sastrawan, astronom, dan matematikus terkemuka asal Persia yang hidup pada abad ke-11 M. Dia juga dikenal dengan panggilan al-Khayyami.
Thebit. Ilmuwan asal Irak ini bernama lengkap Thabit Ibn Qurrah al-Sabi' al-Harrani Thabit Ibn Qurra. Ia hidup pada abad ke-9 M.

Ulugh Beigh. Dia adalah penguasa Dinasti Timurid yang juga mencintai astronomi serta sempat membangun observatorium. Nama lengkapnya adalah Mirza Mohammad Taragai bin Shahrukh. hri
Okt
30th

Revolusi Kimia dalam Peradaban Islam

Files under | Leave a Comment
Ilmu kimia merupakan sumbangan penting yang telah diwariskan para kimiawan Muslim di abad keemasan bagi peradaban modern. Para ilmuwan dan sejarah Barat pun mengakui bahwa dasar-dasar ilmu kimia modern diletakkan para kimiawan Muslim. Tak heran, bila dunia menabalkan kimiawan Muslim bernama Jabir Ibnu Hayyan sebagai 'Bapak Kimia Modern'."Para kimiawan Muslim adalah pendiri ilmu kimia," cetus Ilmuwan berkebangsaan Jerman di abad ke-18 M. Tanpa tedeng aling-aling, Will Durant dalam he Story of Civilization IV: The Age of Faith, juga mengakui bahwa para kimiawan Muslim di zaman kekhalifahanlah yang meletakkan fondasi ilmu kimia modern.

Menurut Durant, kimia merupakan ilmu yang hampir seluruhnya diciptakan oleh peradaban Islam. "Dalam bidang ini (kimia), peradaban Yunani (seperti kita ketahui) hanya sebatas melahirkan hipotesis yang samar-samar," ungkapnya. Sedangkan, peradaban Islam, papar dia, telah memperkenalkan observasi yang tepat, eksperimen yang terkontrol, serta catatan atau dokumen yang begitu teliti.Tak hanya itu, sejarah mencatat bahwa peradaban Islam di era kejayaan telah melakukan revolusi dalam bidang kimia. Kimiawan Muslim telah mengubah teori-teori ilmu kimia menjadi sebuah industri yang penting bagi peradaban dunia. Dengan memanfaatkan ilmu kimia, Ilmuwan Islam di zaman kegemilangan telah berhasil menghasilkan sederet produk dan penemuan yang sangat dirasakan manfaatnya hingga kini.

Berkat revolusi sains yang digelorakan para kimiawan Muslim-lah, dunia mengenal berbagai industri serta zat dan senyawa kimia penting. Adalah fakta tak terbantahkan bahwa alkohol, nitrat, asam sulfur, nitrat silver, dan potasium--senyawa penting dalam kehidupan manusia modern--merupakan penemuan para kimiawan Muslim.Revolusi ilmu kimia yang dilakukan para kimiawan Muslim di abad kejayaan juga telah melahirkan teknik-teknik sublimasi, kristalisasi, dan distilasi. Dengan menguasai teknik-teknik itulah, peradaban Islam akhirnya mampu membidani kelahiran sederet industri penting bagi umat manusia, seperti industri farmasi, tekstil, perminyakan, kesehatan, makanan dan minuman, perhiasan, hingga militer.

Pencapaian yang sangat fenomenal itu merupakan buah karya dan dedikasi para ilmuwan seperti Jabir Ibnu Hayyan, Al-Razi, Al-Majriti, Al-Biruni, Ibnu Sina, dan masih banyak yang lainnya. Setiap kimiawan Muslim itu telah memberi sumbangan yang berbeda-beda bagi pengembangan ilmu kimia.Jabir (721 M-815 M), misalnya, telah memperkenalkan eksperimen atau percobaan kimia. Ia bekerja keras mengelaborasi kimia di sebuah laboratorium dengan serangkaian eksperimen. Salah satu ciri khas eksperimen yang dilakukannya bersifat kuantitatif. Ilmuwan Muslim berjuluk 'Bapak Kimia Modern' itu juga tercatat sebagai penemu sederet proses kimia, seperti penyulingan/distilasi, kristalisasi, kalnasi, dan sublimasi.

Sang ilmuwan yang dikenal di Barat dengan sebutan 'Geber' itu pun tercatat berhasil menciptakan instrumen pemotong, pelebur, dan pengkristal. Selain itu, dia pun mampu menyempurnakan proses dasar sublimasi, penguapan, pencairan, kristalisasi, pembuatan kapur, penyulingan, pencelupan, dan pemurnian.Berkat jasanya pula, teori oksidasi-reduksi yang begitu terkenal dalam ilmu kimia terungkap. Senyawa atau zat penting seperti asam klorida, asam nitrat, asam sitrat, dan asam asetat lahir dari hasil penelitian dan pemikiran Jabir. Ia pun sukses melakukan distilasi alkohol. Salah satu pencapaian penting lainnya dalam merevolusi kimia adalah mendirikan industri parfum.

Ilmuwan Muslim lainnya yang berjasa melakukan revolusi dalam ilmu kimia adalah Al-Razi (lahir 866 M). Dalam karyanya berjudul, Secret of Secret, Al-Razi mampu membuat klasifikasi zat alam yang sangat bermanfaat. Ia membagi zat yang ada di alam menjadi tiga, yakni zat keduniawian, tumbuhan, dan zat binatang. Soda serta oksida timah merupakan hasil kreasinya.Al-Razi pun tercatat mampu membangun dan mengembangkan laboratorium kimia bernuansa modern. Ia menggunakan lebih dari 20 peralatan laboratorium pada saat itu. Dia juga menjelaskan eksperimen-eksperimen yang dilakukannya. "Al-Razi merupakan ilmuwan pelopor yang menciptakan laboratorium modern," ungkap Anawati dan Hill.

Bahkan, peralatan laboratorium yang digunakannya pada zaman itu masih tetap dipakai hingga sekarang. "Kontribusi yang diberikan Al-Razi dalam ilmu kimia sungguh luar biasa penting," cetus Erick John Holmyard (1990) dalam bukunya, Alchemy. Berkat Al-Razi pula industri farmakologi muncul di dunia.Sosok kimiawan Muslim lainnya yang tak kalah populer adalah Al-Majriti (950 M-1007 M). Ilmuwan Muslim asal Madrid, Spanyol, ini berhasil menulis buku kimia bertajuk, Rutbat Al-Hakim. Dalam kitab itu, dia memaparkan rumus dan tata cara pemurnian logam mulia. Dia juga tercatat sebagai ilmuwan pertama yang membuktikan prinsip-prinsip kekekalan masa --yang delapan abad berikutnya dikembangkan kimiawan Barat bernama Lavoisier.

Sejarah peradaban Islam pun merekam kontribusi Al-Biruni (wafat 1051 M) dalam bidang kimia dan farmakologi. Dalam Kitab Al-Saydalah (Kitab Obat-obatan), dia menjelaskan secara detail pengetahuan tentang obat-obatan. Selain itu, ia juga menegaskan pentingnya peran farmasi dan fungsinya. Begitulah, para kimiawan Muslim di era kekhalifahan berperan melakukan revolusi dalam ilmu kimia. heri ruslan
Okt
30th

Industri Kimia Warisan Kejayaan Islam

Files under | Leave a Comment
Bagi peradaban Islam, kimia bukan hanya teori belaka. Melalui berbagai upaya, umat Islam di abad keemasan telah melahirkan sederet industri yang sangat bermanfaat bagi kehidupan umat manusia. Berikut ini adalah industri berbasis kimia yang dilahirkan peradaban Islam.

Keramik dan gerabah
Sejak abad ke-8 M hingga 18 M, penggunaan keramik glazed begitu populer di ranah seni Islam. Teknologi penciptaan keramik itu dikembangkan para seniman Islam. Basrah, Irak, menjadi sentra pembuatan gelas tak tembus cahaya. Selain itu, Ar-Raqqah, Suriah, pada abad ke-8 M juga tercatat sebagai pusat produksi gelas dan gerabah.

Lem keju
Dalam bukunya bertajuk, Book of the Hidden Pearl, Jabir Ibnu Hayyan untuk pertama kali menjelaskan tentang resep pembuatan lem dari keju.

Minyak dan produk-produk turunannya
Sejak abad ke-8 M, jalanan di Kota Baghdad telah dilapisi dengan aspal. Si hitam yang membuat jalan mulus itu merupakan produk turunan dari minyak setelah melalui distilasi. Pada abad ke-9 M, ladang minyak di sekitar Baku, Azerbaijan, sudah mulai diekploitasi dan dibuat naftah atau minyak tanah.

Al-Razi tercatat sebagai kimiawan pertama yang mampu memproduksi minyak tanah melalui distilasi. Metode pembuatan minyak tanah itu diungkapkannya dalam Kitab Al-Asrar (Buku Rahasia). Kimiawan Muslim tercatat sebagai yang pertama memproduksi bensin dari minyak mentah melalui distilasi.

Minyak mawar
Pertama kali diproduksi oleh kimiawan Muslim melalui distilasi bunga mawar. Minyak mawar digunakan untuk minuman dan industri parfum.

Industri minuman
Kopi. Minuman kopi pertama kali berkembang di dunia Islam. Kali pertama, minuman kopi ditemukan masyarakat Muslim di Yaman pada abad ke-10 M. Di Yaman, kopi diracik sebagai minuman bernama Al-Qahwa. Konon, minuman itu dibuat oleh kelompok sufi agar mereka dapat tetap beribadah serta berzikir sepanjang malam. Kopi menyebar ke seluruh negeri Muslim melalui para pelancong, jamaah haji, dan para pedagang.

Minuman kopi mulai dikenal masyarakat Makkah dan Turki di akhir abad ke-15 M. Sedangkan, masyarakat Mesir baru bisa mencicipi kopi pada abad ke-16 M. Masyarakat Eropa baru mengenal nikmatnya kopi pada abad ke-17 M. Kopi masuk ke Eropa melalui Italia. Hubungan perdagangan antara Venisia dengan Afrika Utara, khususnya Mesir, menjadi pintu masuknya kopi ke Eropa.

Penyulingan dan pemurnian air
Para kimiawan Muslim merupakan yang pertama kali memproduksi air suling dan air murni. Ini dilakukan untuk mengatasi perjalanan panjang melalui gurun yang tak jelas sumber airnya.

Minuman ringan
Sherbet tercatat sebagai minuman ringan berkarbon pertama di dunia. Kimiawan Muslim di era kejayaan juga banyak yang menciptakan resep minuman sirup yang dapat bertahan di luar lemari es selama satu pekan hingga satu bulan.

Batu Mulia dan Mutiara
Dalam Kitab Al-Durra al-Maknuna Jabir sudah mampu menjelaskan resep pembuatan mutiara buatan dan pemurnian mutiara.

Gelas Silika
Industri gelas silika ditemukan Abbas Ibnu Firnas (810 M-887 M). Dia yang pertama mencipatakan gelas dari pasir dan batu.

Kosmetik
Pengembangan produk kosmetik di dunia Islam begitu gencar dilakukan seorang dokter dan ahli bedah Muslim di Andalusia, Al-Zahrawi (936 M-1013 M), pada abad ke-10 M. Dalam ensiklopedia kesehatan yang berjudul, Al-Tasreef, Albucassis begitu Barat menjuluki Al-Zahrawi, telah mengupas secara khusus tentang kosmetik. Bagi Al-Zahrawi, kosmetik merupakan bagian dari pengobatan. Kitab Al-Tasreef ini begitu besar pengaruhnya di Eropa.

Sabun
Sabun yang berasal dari minyak tumbuhan (olive oil), minyak aroma kali pertama diproduksi oleh kimiawan Muslim.

Parfum
Adalah fakta yang tak terbantahkan bahwa kebudayaan Islam telah memberi pengaruh yang sangat signifikan terhadap perkembangan industri parfum di dunia Barat. Dunia Islam berkontribusi besar dalam memperkenalkan proses ekstrasi wewangian melalui teknologi distilasi uap yang telah dikembangkan para ilmuwan Islam sejak abad ke-8 M. Industri parfum modern di dunia Barat pun banyak mengadopsi bahan ramuan parfum yang telah dikembangkan para ahli kimia Muslim.

Mesiu
Fakta sejarah menyebutkan bahwa ahli kimia Muslim bernama Khalid bin Yazid (wafat tahun 709 M) sudah mengenal potassium nitrat (KNO3)bahan utama pembuat mesiu pada abad ke-7 M. Dua abad lebih cepat dari Cina. Menurut Prof Ahmad Y Al-Hassan dalam bukunya bertajuk, Islamic Technology an Ilustrated History (1986), potasium nitrat dikenal di dunia teknologi Islam dengan beragam nama. Senyawa kimia itu pada awalnya digunakan dalam proses metalurgi serta digunakan untuk membuat asam nitrat dan aqua regia.

''Rumus dan resepnya dapat ditemukan dalam karya-karya Jabir Ibnu Hayyan (wafat tahun 815 M), Abu Bakar Al-Razi (wafat tahun 932 M), dan ahli kimia Muslim lainnya,'' papar Prof Al-Hassan. Dari abad ke abad, istilah potasium nitrat di dunia Islam selalu tampil dengan beragam nama, seperti natrun, buraq, milh al-ha'it, shabb Yamani, serta nama lainnya. hri
Okt
30th

Ekonomi Islam Dapat Dijadikan Model Baru Atasi Krisis Global

Files under | 1 Comment
Direktur Bank Muamalat U Saefudin Noer, Rabu, mengungkapkan bahwa "Islamic Economic" dapat dijadikan model baru untuk mengatasi "bublle" ekonomi yang terjadi saat ini.

"Banyak negara saat ini melihat sistem ekonomi Islam untuk dijadikan referensi untuk mengatasi 'gelembung atau bublle' yang terjadi saat ini," kata Saefudin, saat berbicara dengan ANTARA di Jakarta, Rabu.

Beberapa negara sudah mulai mengembangkan ekonomi Islam, seperti Hongkong dengan mengembangkan "Islamic Economic Center", ungkapnya.

Salah satu penyebab permasalahan krisis keuangan yang melanda Amerika adalah berkaitan dengan industri "subprime mortgage" (KPR Subprima).

Dia juga menyebutkan bahwa permasalahan krisis yang melanda ekonomi dunia saat ini, bukan hanya diakibatkan sistem kapitalisme yang diragukan kemampuannya dalam mewujudkan kesejahteraan dunia, tetapi juga diakibatkan oleh berubahnya etika moral para pelaku dunia keuangan.

Para pelaku ekonomi gaya kapitalis ini lebih cenderung melakukan rekayasa produk spekulasi untuk mencari keuntungan yang cenderung rakus (greedy), kata Saefudin.

Perbedaan pokok antara bank konvensional dengan bank syariah terletak pada landasan falsafah yang dianutnya.

Bank syariah tidak melaksanakan sistem bunga dalam seluruh aktivitasnya sedangkan bank kovensional justru kebalikannya.

Hal inilah yang menjadi perbedaan yang sangat mendalam terhadap produk-produk yang dikembangkan oleh bank syariah, dimana untuk menghindari sistem bunga, maka sistem yang dikembangkan adalah jual beli serta kemitraan yang dilaksanakan dalam bentuk bagi hasil.

Selain itu, Saefudin juga mengungkapkan bahwa perbankan syariah juga pro sektor riil, sehingga mendorong ekonomi negara bergerak, sehingga bisa menyelamatkan dari krisis.

Konsep bagi hasil yang diterapkan bank syariah adalah menginvestasikan dana nasabah di bank terlebih dahulu kedalam usaha, barulah keuntungan usahanya dibagikan.

Berbeda dengan simpanan nasabah di bank konvensional, tidak peduli apakah simpanan tersebut di salurkan ke dalam usaha atau tidak, bank tetap wajib membayar bunganya, katanya.


Perbankan Syariah di Indonesia

Perbankan syariah di Indonesia yang muncul pertama kali adalah PT Bank Muamalat Indonesia (BMI) yang berdiri pada 1992 ini merupakan yang tidak mendapat suntikan dana pemerintah saat krisis 1998 lalu.

Pengalaman itu dapat dijadikan bukti bahwa sistem ekonomi Islam yang diterapkan dalam BMI bisa selamat dari krisis yang terjadi di sektor industri perbankan, jelasnya.

"Pada saat krisis 1998 lalu perbankan Indonesia telah menaikkan suku bunganya yang tinggi, sehingga yang terjadi adalah negatif margin karena perbankan tidak bisa menyalurkan kredit kembali dan timbul kredit macet," jelasnya.

Dia juga mengungkapkan bahwa pertumbuhan bank syariah di Indonesia sangat pesat, namun "size"nya masih kecil.

"Pertumbuhan bank syariah sebesar 60 persen tahun lalu, memang bank syariah asetnya masih sekitar 2-3 persen dibanding bank konvesional," jelasnya.

Sedangkan pasar bank syariah sendiri, BMI telah menguasai 35 persen pangsa pasarnya, dengan transaksi paling besar dari sistem traksaksi Murabahah (Jual-beli), diikuti oleh sistem transaksi mudharabah (bagi hasil) dan sistem transaksi Ijarah (sewa).

Tantangan yang dihadapi bank syariah di Indonesia saat ini perlunya modal yang lebih besar untuk mengembangkan usahanya, sumber daya manusia yang belum mampu mengimbangi pertumbuhannya dan jaringan kantor.

Saefudin juga mengungkapkan bahwa bank syariah tidak akan melakukan pendanaan besar-besaran disaat bank konvensional sedang melakukan pengetatan likuiditas akibat krisis saat ini.

"Kita memang tidak akan menghentikan pendanaan, namun perlu ditingkatkan sistem prudential (kehati-hatian) dalam penyaluran dana," jelasnya. (*)
Okt
29th

Islam Berbicara Perempuan

Files under , NTB | Leave a Comment
MENCERMATI pro dan kontra RUU APP, kita bisa memandang satu hal yang sama dari dua perspektif yang berbeda. Permisalannya adalah satu gelas yang hanya berisi setengah air, seseorang bisa saja mengatakan, “Gelas ini setengah penuh,” sedangkan yang lain mengatakan, “Helas ini setengah kosong.” Artinya, ada dua kubu yang berseteru antara pro dan kontra tentang suatu [...]
Okt
29th

Adab- Adab yang Wajib diketahui oleh Setiap Muslim

Files under | Leave a Comment
Sesungguhnya Islam adalah agama yang sempurna, yang mengatur segala aspek kehidupan, baik ‘aqidah, ibadah, muamalah, akhlak dan adab, sebagai dalil yang menjelaskan bahwa Islam adalah agama yang sempurna, adalah firman Allah Ta'ala: "Pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu, dan telah kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah kuridhai Islam jadi agama bagimu". (QS al-Maidah: 3)

Salah satu aspek dari ajaran Islam yang tidak kalah pentingnya dan wajib bagi setiap muslim mengetahuinya dan memilikinya serta menghiasi diri dengannya adalah akhlak dan adab, karena suatu umat apabila telah hilang akhlak dan adabnya, maka ini merupakan tanda-tanda kehancuran suatu umat dan generasi tersebut, demikian juga sebaliknya, ketika suatu kaum dan generasi mempunyai akhlak dan adab maka jayalah umat tersebut. Oleh karena itu untuk mewujudkan hal tersebut maka Insya Allah pada edisi ini akan dibahas tentang adab-adab yang wajib diketahui oleh setiap muslim.


Diantara bentuk-bentuk adab yang yang wajib diketahui oleh setiap muslim adalah :

1. Adab kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Bersyukur terhadap segala nikmat-Nya
Seorang muslim yang mempunyai adab yang benar hendaknya merenungi segala nikmat dan karunia yang diberikan oleh Allah Ta'ala kepadanya. Kenapa seorang muslim wajib bersyukur ? Karena begitu banyaknya nikmat Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah dia terima, Allah ‘Azza wa Jalla telah menciptakannya dalam bentuk sebaik-baiknya, Dialah Allah Ta'ala yang telah memberikan pendengaran, penglihatan, hati, rizki yang tidak terhitung banyaknya. Yang tidak akan sanggup manusia menghitungnya meskipun manusia menginfakkan hartanya sebesar bukit dari emas dan perak, sebagaimana yang dipertegas dalam firman-Nya Subhanahu wa Ta'ala:"Dan jika kamu kamu menghitung nikmat Allah, niscaya engkau tidak bisa menghitungnya". (QS. Ibrahim: 34 ) Oleh karena itu kufur nikmat serta ingkar kepada nikmat Sang Pencipta ‘Azza wa Jalla merupakan sebagai pertanda tidak beradab kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan berlawanan dengan adab Islam. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Oleh karena itu, ingatlah kepada-Ku niscaya aku ingat pula kepadamu dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku". (QS. al-Baqarah: 152)

Malu dan takut kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala tatkala ada keinginan atau kecenderungan untuk melakukan dosa dan maksiyat. Bukan termasuk adab kalau tidak ada rasa malu dan takut seorang hamba dalam melakukan kedurhakaan kepada Rabb-Nya dan menentang-Nya dengan melakukan dosa dan maksiyat kepada-Nya, sedangkan Allah Subhanahu wa Ta'ala Maha Mengetahui, mengawasi apa yang dilakukan hamba-Nya. Allah Subhanahu wa Ta'ala: "Ia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan". (QS. at-Taghabun: 4)

Berserah diri dan menggantungkan segala perkara dan urusan kepada-Nya
Maka tidaklah dikatakan seseorang beradab jika dia lari Allah Subhanahu wa Ta'ala, yang ia tidak dapat menghindar dari-Nya, dan menyandarkan diri kepada sesuatu yang tidak mempunyai daya dan upaya sedikitpun, dalam hal ini Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: "Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya". (QS. Hud: 56). Didalam surat yang lain Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman : "Dan hanya kepada Allahlah hendaknya kamu bertawakkal jika kamu benar-benar orang yang beriman". (QS. al-Maidah: 23).

Merenungi rahmat Allah yang telah dilimpahkannya dan kepada seluruh makhluk
Maka tatkala ia menginginkan rahmat yang lebih besar dari sebelumnya, ia tunduk merendah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan berdo'a dengan penuh ketulusan dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan kata-kata yang baik dan melakukan amal shalih. Dan bukan termasuk adab kalau seseorang berputus asa dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah Ta'ala berfirman : "Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah". (QS. Yusuf: 87)

Memikirkan betapa kerasnya adzab Allah dan betapa kuat balasannya
Dengan melakukan yang demikian ia bisa menjaga dirinya, yaitu dengan mentaati segala perintah-Nya dan berusaha untuk tidak mendurhakakan-Nya. Tidaklah seseorang dikatakan beradab kepada Allah ‘Azza wa Jalla jika seorang hamba yang lemah dan tidak memiliki kekuatan sedikitpun, melakukan kedurhakaan dan kezholiman di hadapan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Kuasa.

Berhusnuzhan kepada Allah terhadap janji yang pasti akan ditepati dan ancaman yang pasti dipenuhi. Karena tidaklah beradab jika seseorang berburuk sangka kepada Allah ‘Azza wa Jalla lalu ia melakukan kemaksiatan dan kedurhakaan kepada-Nya, lalu ia mengira bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak melihatnya dan tidak akan memberi balasan terhadap dosa-dosanya. Oleh karena itu wajib bagi seorang muslim untuk berbaik sangka kepada Allah karena janji Allah Subhanahu wa Ta'ala itu benar dan sekali-kali Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan mengingkari janji-Nya. Allah Ta'ala berfirman: "Barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya maka mereka adalah orang-orang yang mendapatkan kemenangan". (QS. an-Nur: 52)

2. Adab Kepada Al-Qur'an

* Membacanya dalam keadaan suci, menghadap kiblat dan duduk dengan penuh kesopanan dan ketenangan.
* Membacanya dengan tartil dan tidak terburu-buru.
* Membaca dengan penuh kekhusu'an.
* Membaguskan suaranya, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : "Hiasilah Al-Qur'an dengan suaramu". (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Nasa'i, Abu Daud)
* Mensirkan (merendahkan) bacaannya jika ia takut riya' atau mengganggu kekhusyu'an orang sedang shalat.
* Membacanya dengan penuh perhatian, serta berusaha merenungi dan memahami maknanya dan hikmah-hikmah yang terkandung didalamnya.
* Ketika membaca Al-Qur'an hendaknya ia tidak termasuk orang yang lalai dan menyimpang dari aturan-aturannya, karena hal tersebut dapat menyebabkan laknat terhadap diri sendiri, seperti ia membaca ayat: "Maka kita minta supaya laknat Allah ditimpakan pada orang-orang yang dusta". (QS. Ali Imran: 61) Dalam surat lain Allah Ta'ala berfirman: "Ingatlah laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dzalim". (QS. Hud: 18)
* Berusaha dengan sungguh-sungguh supaya menjadi ahlul-Qur'an yang merupakan Ahlullah dan orang-orang yang mendapatkan keistimewaan.


3. Adab Kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

* Mentaati dan mengikuti jalan kehidupan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik dalam urusan dunia ataupun agamanya.
* Mendahulukan cinta kepadanya dari mencintai yang lain.Dalam hal ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Tidaklah sempurna keimanan salah seorang dari kalian sehingga aku lebih dia cintai dari anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia" (Muttafaqun ‘alaihi)
* Mencintai orang yang beliau cintai, memusuhi orang yang beliau musuhi, dan meridhai apa yang beliau ridhai, serta marah terhadap sesuatu yang beliau murkai.
* Memuliakannya ketika menyebut nama beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bershalawat beserta salam kepadanya.
* Membenarkan apa yang beliau khabarkan, baik tentang urusan agama, permasalahan dunia maupun hal ghaib tentang kehidupan dunia maupun akhirat.
* Menghidupkan sunnah-sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, memperjuangkan syari'atnya, dan menyampaikan dakwah beliau serta menjadikan beliau sebagai khudwah uswatun hasanah.


4. Adab seorang muslim terhadap dirinya sendiri

Agar seorang muslim bisa mengenal dirinya, membersihkan jiwanya maka dalam hal ini syari'at Islam telah memberikan langkah-langkah yang sangat mudah dan praktis sebagai berikut :

Taubat
Yang dimaksud dengan taubat adalah berlepas diri dari seluruh perbuatan dosa dan maksiat, menyesali segala dosa yang telah berlalu serta bertekad untuk tidak mengulanginya dikemudian hari. Dalam hal ini Allah Ta'ala berfirman : "Hai orang-orang beriman bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya, mudah-mudahan Tuhanmu menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu kedalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai" (QS at-Tahrim: 28) Untuk lebih jelasnya keterangan tentang taubat ini baca buletin Dar el-Iman edisi No. 1 dan 2 yang berjudul Bertaubatlah Wahai Hamba Allah.

Muraqabah
Hendaklah setiap muslim menjaga sikap dan perbuatannya dihadapan Allah Ta'ala di setiap waktu dalam hidupnya, dan menyadari bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala selalu mengawasi segala tindak-tanduk, serta mengetahui apa yang dirahasiakannya dan yang dinyatakannya itulah yang dimaksud dengan Muraqabah. Orang yang muraqabah jiwanya menjadi yakin dengan pengawasan Allah Subhanahu wa Ta'ala terhadap dirinya, merasakan dekat ketika mengingat-Nya, mendapatkan ketenangan jiwa tatkala mentaati-Nya, selalu berserah diri kepadaNya. Dalam hal ini Allah Ta'ala berfirman: "Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah sedang diapun mengerjakan kebaikan". (QS. an-Nisa': 125). Dalam ayat yang lain Allah Ta'ala mempertegas : "Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al-Qur'an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan kami menjadi saksi atasmu diwaktu kamu melakukannya". (QS. Yunus: 61)

Muhasabah (Mengoreksi diri)
Seorang muslim didalam melakukan amal kebaikannya yang akan membuahkan hasil yang dijanjikan oleh Allah Ta'ala ibarat seorang saudagar yang melihat kewajiban yang disyari'atkan padanya sebagai modal perniagaannya, dan memandang semua amal-amal yang sunnah sebagai keuntungan yang lebih dari modalnya, lalu memandang dosa-dosa dan maksiat sebagai kerugian yang dideritanya. Kemudian dalam skala waktu tertentu ia duduk seorang diri untuk merenungi semua amal yang telah dilakukannya sehari-hari, maka jika ia mendapatkan kekurangan didalamnya ia mencela dan menjelekkan dirinya, lalu mengerjakan amal yang kurang tersebut, jika termasuk amal yang bisa diqhada' (diganti/ditebus) maka ia mengqhada'nya, dan jika tidak maka untuk menutupinya ia memperbanyak amalan sunnah, dan jika kekurangan tersebut dalam amalan sunnah, ia segera mengganti amalan tersebut lalu mencukupinya. Dan jika ia melihat kerugian karena telah melakukan pekerjaan yang dilarang, ia mohon ampun dan menyesali lalu mengerjakan amal kebaikan sebagai bentuk perbaikan terhadap kerusakan yang ia lakukan inilah yang dimaksud dengan muhasabah diri, dalam hal ini Allah Ta'ala berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah dia perbuat untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan". (QS. al-Hasyr: 18) Didalam astar shahabat yaitu perkataan Umar radhiyallahu ‘anhu : "Evaluasilah diri kalian sebelum kalian dievaluasi".

Mujahadah
Didalam melaksanakan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala seorang muslim dihadapkan dengan berbagai macam godaan-godaan dunia, dengan godaan tersebut banyak orang yang terlena dan jatuh ke dalam lembah keburukan, dosa, maksiat, dan memperturutkan syahwat. Oleh karena itu sangat dibutuhkan Mujahadah (kesungguhan) untuk memerangi penyakit-penyakit tersebut dengan beramal shalih, menjauhi kemungkaran. Dalam hal ini Allah Ta'ala berfirman: "Dan orang-orang yang berjihad untuk mencari keridhaan Kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat baik". (QS. al-Ankabuut: 69)

Penutup
Dengan mengenal adab-adab tersebut merupakan suatu jalan bagi seorang muslim untuk menggapai keridhaan Allah Ta'ala. Semua yang telah dijelaskan tersebut tidaklah akan bisa membuahkan hasil melainkan dengan ikhlas dan kesungguhan seorang hamba dan sabar dalam menjalankan syari'at Allah Ta'ala ini. Demikianlah tulisan ini semoga Allah Ta'ala menujuki hati kita untuk menjadi seorang muslim yang beradab dan memudahkan kita dalam mengamalkannya, menjauhkan kita dari adab yang jelek.

Faishal Abdurrahman, Lc