"Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, namun orang yang kuat adalah orang yang memiliki jiwanya ketika marah." (Nabi Muhammad 571-634)
Hadirnya Si Kecil Shofia di Ramadhan ini pun menambah kesempatan untuk berlatih sabar. Usai terjaga di sepertiga malam, membantu istri mengurusi Shofia hingga menjelang Subuh, sejurus berikutnya bersiap-siap ke sekolah.
Itulah proses berlatih sabar kami. Sabar jadi sumber kekuatan mengurusi amanah Tuhan. Dalam teks suci Quran dijelaskan, satu orang sabar saja mampu mengalahkan sepuluh lawan dalam pertempuran, atau setidaknya mereka mampu menghadapi lawan sebanyak dua kali jumlah mereka (QS 8: 65-66).
Maka tak salah, bersama istri sejak sepuluh hari pertama di bulan penuh berkah ini begitu kami maksimalkan sebagai ajang berlatih; mengontrol jiwa dari pengaruh hawa nafsu, berharap keluar Ramadhan sebagai pribadi yang kuat dan pandai mengendalikan diri dan emosi.
Sabar memang bukan urusan sekedar menahan diri untuk tidak tertindas, tapi juga sabar dalam menjalankan perintah Allah, sabar menahan diri dari yang dilarang oleh-Nya, dan sabar terhadap ketetapan-Nya.
Menariknya, menurut Alwi Alatas, konsep sabar mencakup kecerdasan emosi (emotional intelligence) juga.
Setidaknya ada dua ciri-ciri kecerdasan emosi. Pertama, seorang dikatakan memiliki kecerdasan emosi ketika ia mampu mengendalikan emosinya.
Dengan kata lain, orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan emosinya. Walaupun Rasulullah tidak secara khusus menyebutkan kata sabar, tapi para ulama menjelaskan itu bagian dari kesabaran. Karena ketika berhadapan dengan situasi yang mendorong emosi negatif, kita malah merespon dengan emosi positif.
Kedua, kemampuan dalam menunda pemuasan. Orang yang cerdas emosinya, memiliki kemampuan untuk menunda pemuasan dirinya. Sementara orang yang tidak cerdas secara emosi, cenderung ingin memuaskan dirinya sesegera mungkin.
Menunda pemuasan diri untuk mendapatkan kepuasan yang lebih sempurna di masa depan. Itu sebabnya, orang yang cerdas secara emosi memiliki potensi lebih besar dalam meraih keberhasilan dalam hidup.
Seorang Muslim diarahkan untuk bersabar dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Ketika melakukan itu, ia terhalang dari pemuasan diri yang segera. Tapi semua itu dilakukan demi mencapai kepuasan yang lebih besar dan lebih abadi.
Ketika seorang berpuasa, ia bersabar dengan menunda pemuasan makan dan minum untuk mendapatkan kepuasan dan kegembiraan yang lebih tinggi dan agung. Rasulullah SAW bersabda, ”... Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan (farhatain), yaitu kegembiraan tatkala ia berbuka dan kegembiraan tatkala ia bertemu dengan Rabb-nya....” (Muttafaq ’alaihi).
Ketika berpuasa seorang Muslim diarahkan untuk bersabar dan menahan/mengendalikan emosinya. Ketika berpuasa ia juga dibimbing untuk menunda pemuasan dirinya. Ini semua juga merupakan ciri-ciri kecerdasan emosi.
Kesadaran melalui ibadah Ramadhan inilah yang membuat kami menjadi pribadi yang lebih sabar. Karena sudah seharusnya kami keluar dari bulan Ramadhan sebagai pribadi yang lebih cerdas secara emosi, tangkas menjalankan kewajiban sebagai hamba Tuhan.










