Archive for Agustus, 2009

Shofia Mengajariku Sabar

"Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, namun orang yang kuat adalah orang yang memiliki jiwanya ketika marah." (Nabi Muhammad 571-634)


aya memang bukan orang yang berfisik kuat. Cepat lelah membuat emosi saya juga cepat bergejolak. Tapi sukurnya, setelah menikah, kelelahan fisik sedikit berkurang. Apa lagi sekedar perjalanan dari Kelayu ke sekolah di Jurang Koak, tidak terasa melelahkan.

Hadirnya Si Kecil Shofia di Ramadhan ini pun menambah kesempatan untuk berlatih sabar. Usai terjaga di sepertiga malam, membantu istri mengurusi Shofia hingga menjelang Subuh, sejurus berikutnya bersiap-siap ke sekolah.

Itulah proses berlatih sabar kami. Sabar jadi sumber kekuatan mengurusi amanah Tuhan. Dalam teks suci Quran dijelaskan, satu orang sabar saja mampu mengalahkan sepuluh lawan dalam pertempuran, atau setidaknya mereka mampu menghadapi lawan sebanyak dua kali jumlah mereka (QS 8: 65-66).

Maka tak salah, bersama istri sejak sepuluh hari pertama di bulan penuh berkah ini begitu kami maksimalkan sebagai ajang berlatih; mengontrol jiwa dari pengaruh hawa nafsu, berharap keluar Ramadhan sebagai pribadi yang kuat dan pandai mengendalikan diri dan emosi.

Sabar memang bukan urusan sekedar menahan diri untuk tidak tertindas, tapi juga sabar dalam menjalankan perintah Allah, sabar menahan diri dari yang dilarang oleh-Nya, dan sabar terhadap ketetapan-Nya.

Menariknya, menurut Alwi Alatas, konsep sabar mencakup kecerdasan emosi (emotional intelligence) juga.

Setidaknya ada dua ciri-ciri kecerdasan emosi. Pertama, seorang dikatakan memiliki kecerdasan emosi ketika ia mampu mengendalikan emosinya.

Dengan kata lain, orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan emosinya. Walaupun Rasulullah tidak secara khusus menyebutkan kata sabar, tapi para ulama menjelaskan itu bagian dari kesabaran. Karena ketika berhadapan dengan situasi yang mendorong emosi negatif, kita malah merespon dengan emosi positif.

Kedua, kemampuan dalam menunda pemuasan. Orang yang cerdas emosinya, memiliki kemampuan untuk menunda pemuasan dirinya. Sementara orang yang tidak cerdas secara emosi, cenderung ingin memuaskan dirinya sesegera mungkin.

Menunda pemuasan diri untuk mendapatkan kepuasan yang lebih sempurna di masa depan. Itu sebabnya, orang yang cerdas secara emosi memiliki potensi lebih besar dalam meraih keberhasilan dalam hidup.

Seorang Muslim diarahkan untuk bersabar dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Ketika melakukan itu, ia terhalang dari pemuasan diri yang segera. Tapi semua itu dilakukan demi mencapai kepuasan yang lebih besar dan lebih abadi.

Ketika seorang berpuasa, ia bersabar dengan menunda pemuasan makan dan minum untuk mendapatkan kepuasan dan kegembiraan yang lebih tinggi dan agung. Rasulullah SAW bersabda, ”... Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan (farhatain), yaitu kegembiraan tatkala ia berbuka dan kegembiraan tatkala ia bertemu dengan Rabb-nya....” (Muttafaq ’alaihi).

Ketika berpuasa seorang Muslim diarahkan untuk bersabar dan menahan/mengendalikan emosinya. Ketika berpuasa ia juga dibimbing untuk menunda pemuasan dirinya. Ini semua juga merupakan ciri-ciri kecerdasan emosi.

Kesadaran melalui ibadah Ramadhan inilah yang membuat kami menjadi pribadi yang lebih sabar. Karena sudah seharusnya kami keluar dari bulan Ramadhan sebagai pribadi yang lebih cerdas secara emosi, tangkas menjalankan kewajiban sebagai hamba Tuhan.

Geliat Ilmu Pengetahuan di Era Dinasti Timurid


Dinasti Timurid. Inilah salah satu kerajaan Islam yang pernah menguasai wilayah Asia Tengah, Persia hingga Asia Selatan pada abad ke-14 hingga 16 M. Dinasti Timurid dibangun oleh seorang penakluk dari Mongol bernama Timur Lenk. Dinasti itu dibangun oleh percampuran antara bangsa Mongolia keturunan Jenghis Khan dan bangsa Turki.

Pada awalnya, bangsa Mongolia nomaden yang dikenal sebagai Barlas membuat permukiman di Turkistan. Mereka berinteraksi dengan penduduk asli. Lambat laun, bangsa Mongol mengalami perubahan dalam bahasa dan budaya. Mereka mengikuti penduduk lokal Turki. Tak heran, jika bahasa dan budaya mereka lebih Turki, ketimbang Mongol.

Menurut B Spuler dalam tulisannya bertajuk Central Asia in the Mongol and Timurid periods, bangsa Mongol itu pun memeluk agama Islam. Meski secara historis mereka adalah keturunan antara Mongolia dan Turki, tetapi dalam perkembangan peradaban pada era Dinasti Timurid, mereka banyak mengadopsi ilmu pengetahuan, seni, maupun arsitektur dari Persia.

Asimilasi antara budaya Persia yang dipengaruhi oleh budaya Islam dengan Dinasti Timurid sangat kental pada masa itu. Ilmu pengetahuan yang berkembang pada masa Dinati Timurid sangat dipengaruhi oleh literatur Persia. Seorang penulis bernama David J Roxburg dalam bukunya yang berjudul The Persian Album 1400-1600: From Dispersal to Colletion, mengatakan, puisi-puisi bergaya Persia sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan berbagai macam tulisan yang berkembang pada masa Dinasti Timurid.

Salah seorang Sultan Dinasti Timurid yang terkenal yaitu Sahrukh Mirza dan putranya yang bernama Mohammad Taragai Uleg Beg merupakan pembangun fondasi budaya Persia di dinastinya. Mereka sangat mendukung penyerapan berbagai macam ilmu pengetahuan dan budaya Persia yang dianggap sangat maju pada masa itu. Sehingga untuk memajukan dinastinya, mereka harus mempelajari pengetahuan dari Persia.

Salah satu karya literatur yang sangat penting pada masa era Timurid adalah biografi Timur Lenk sebagai pendiri Dinasti Timurid. Dalam biografi Timur yang ditulis oleh seorang ahli penulis biografi kerajaan yang bernama Sharaf ud-Din Ali Yazdi, Timur juga sering disebut Zafarnameh. Biografi Timur Lenk dibuat pada masa 'Sang Penakluk' masih hidup.

Pada era itu, Dinasti Timurid memiliki penyair masyhur bernama Nur Ud-Din Jami. Ia dikenal dengan karya-karyanya yang fenomenal. Selain itu, dia juga menjadi sufi hebat yang terakhir pada akhir abad pertengahan. Karya-karya Nur Ud-Din Jami sangat berpengaruh terhadap puisi-puisi yang dilahirkan di Persia.

Ilmu pengetahuan di era Timurid tumbuh pesat pada masa kepemimpinan Ulugh Beg. Ia dikenal sebagai penguasa yang sangat cinta dan tertarik pada ilmu pengetahuan. Kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan, terutama astronomi dia buktikan dengan mengeluarkan berbagai macam karya astronomi.

Sebagian karyanya ditulis dengan bahasa Persia, meskipun sebagian besar karyanya ditulis dalam bahasa Arab. Astronomi Barat, Kevin Krisciunas dalam tulisannya berjudul The Legacy of Ulugh Beg, mengungkapkan, pada masa kepemimpinannya, Ulugh Beg berhasil membangun observatorium astronomi.

Menurut Krisciunas, observatorium yang dibangun Ulugh Beg adalah yang termegah di antara tempat pengamatan benda antariksa lainnya yang dimiliki peradaban Islam. Observatorium itu dibangun di Samarkand.

''Ketertarikan dalam astronomi bemula, ketika dia mengunjungi Observatorium Maragha yang dibangun ahli astronomi Muslim terkemuka, Nasir al-Din al-Tusi,” tutur Krisciunas. Geliat pengkajian astronomi di Samarkand mulai berlangsung pada tahun 1201. Namun, aktivitas astronomi yang sesungguhnya di wilayah kekuasaan Ulugh Beg mulai terjadi pada 1408.

Salah seorang penguasa Dinasti Timurid lainnya yang menyokong aktivitas keilmuan adalah Baysungur. Dia ikut mempersiapkan Epik Nasional Persia yang berjudul Shahnameh atau disebut juga Shahnameh Baysungur.

Dinasti Timurid ternyata tak hanya sangat berperan penting dalam mengembangkan literatur Persia. Dinasti itu juga memiliki pengaruh yang sangat besar dalam sejarah perkembangan literatur Turki. Berdasarkan tradisi literatur Persia, literatur nasional Turki akhirnya dikembangkan dengan menggunakan bahasa Chagatay.

Para penyair Chagatay seperti Mir Ali Sher Nawa'i, Sultan Husayn Bayqara, dan Zaher ud-Din Babur mendorong para penyair untuk membuat berbagai macam puisi dengan gaya bahasa Persia, Arab, maupun Turki untuk memperbanyak khasanah bahasa dalam puisi.

Zaher ud-Din Babur dan Mir Ali Sher Nawa'is merupakan seorang penyair hebat yang sangat mempengaruhi karya literatur Turki. Pada era Timurid, lukisan gaya Persia sangat berkembang pesat. Perkembangan lukisan Persia banyak dipengaruhi oleh perkembangan seni Safawiyah Persia dan seni Cina. Hal itu terjadi karena banyaknya para petualang maupun ilmuwan yang membawa lukisan Cina ke Timurid.

Para seniman Timurid banyak yang mengembangkan seni menyampul buku dengan menghiasi sampul buku tersebut menggunakan kaligrafi, iluminasi, maupun ilustrasi yang penuh dengan warna warni yang indah. Sebenarnya etnis Mongol dari suku Chagatay dan Timurid Khan yang pertama kali mengembangkan seni Persia pada abad pertengahan.

Dalam bidang arsitektur, Dinasti Timurid banyak dipengaruhi oleh perkembangan arsitektur Bangsa Seljuk yang bergaya Islami. Hal ini bisa terlihat dari adanya ubin berwarna turkois dan biru yang menghiasi berbagai macam bangunan dengan mengikuti pola geometri. Bahkan interior yang berada di dalam bangunan Dinasti Timurid juga disusun dan didekorasi mengikuti gaya Seljuk, termasuk lukisan serta relief yang berada di dalamnya.

Arstitektur Timurid benar-benar menggambarkan kesenian Islam yang berkembang pada abad pertengahan di Asia Tengah. Berbagai macam bangunan Dinasti Timurid yang spektakuler banyak dibangun di Samarkand. Bangunan-bangunan di kedua wilayah tersebut banyak juga dipengaruhi oleh arsitektur Mughal, selain arsitektur Seljuk.

Salah satu bangunan peninggalan Dinsti Timurid adalah Mausoleum yang dibangun untuk menghormati Ahmed Yasawi yang merupakan tokoh penting pada masa itu. Bangunan tersebut sekarang berada di Kazakhstan. Selain itu Dinasti Timurid juga membangun mausoleum untuk menghormati Gur-e Amir di Samarkand.

Salah satu ciri khas bangunan warisan Dinasti Timurid adalah simetri aksial yang selalu ada dalam struktur bangunan Timurid. Struktur simetri aksial itu bisa dilihat pada struktur bangunan kompleks Musallah di heart serta Masjid Gowhar Shad di Mashhad. Pada masjid tersebut terdapat kubah dobel yang dihiasi dengan warna yang sangat indah. Arsitektur Timurid juga lebih didominasi arsitektur Persia dibanding India.

Ilmuwan Dinasti Timurid

Jamshid Al-Kashi (1380-1436)
Jamshid Al- Kashi merupakan ilmuwan sekaligus ahli astronomi yang terkemuka pada masa kekuasaan Dinasti Timurid. Ia tumbuh besar ketika Timur Lenk, penguasa Dinasti Timurid, menguasai tanah kelahirannya. Ia berasal dari keluarga miskin. Meski begitu, kemiskinan justru memicu semangatnya untuk belajar dan bekerja keras.

Al-Kashi sangat tertarik dengan ilmu matematika dan astronomi. Sehingga dia tak pernah lelah mempelajari dan melakukan berbagai macam penelitian terkait dengan kedua subjek tersebut. Perekonomian di tanah kelahirannya mulai pulih ketika Dinasti Timurid dipimpin Shahrukh. Sang pemimpin baru Dinasti Timurid tersebut sangat mendukung dan mendorong berkembangnya ekonomi, seni, dan ilmu pengetahuan.

Di kota kelahirannya, Al-Kashi dengan serius mempelajari dan mengkaji astronomi. Pada 1 Maret 1407 M, dia berhasil merampungkan penulisan risalah astronomi berjudul, Sullam Al-Sama . Naskahnya hingga kini masih tetap eksis. Pada 1410 M, ia kembali berhasil menyelesaikan penulisan buku Compendium of the Science of Astronomy. Buku tersebut sebenarnya ditulis dan didedikasikan secara khusus untuk penguasa Timurid.

Al-Kashi telah berjasa menemukan peralatan yang menggunakan prinsip kerja komputer analog. Dia berhasil menciptakan Plate of Conjunctions yaitu sebuah alat hitung untuk menentukan waktu dan hari terjadinya konjungsi planet-planet di alam semesta. Dia juga sukses menciptkan komputer planet: The Plate of Zones, berupa sebuah komputer planet mekanik yang bisa memecahkan berbagai macam masalah terkait planet.

* Qadi Zada al-Rumi ( 1364 -1440)
Qadi Zada adalah seorang ahli matematika yang lahir di Bursa, Turki. Ia menyelesaikan pendidikannya terkait ilmu geometri dan astronomi pada 1431. Gurunya adalah seorang ahli ensiklopedi teologi yang bernama Al-Fanari.

Namun, melihat perkembangan dan minat yang besar Qadi terhadap geometri dan astronomi, Al-Fanari menyarankan Qadi untuk pergi ke pusat kebudayaan Kerajaan Khurasan atau Transoxania. Dengan demikian Qadi bisa bertemu dan belajar dengan seorang ahli matematika hebat di sana. Al-Fanari juga memberikan surat rekomendasi bagi Qadi dan memberikan salah satu karyanya yang berjudul Emmuzeg al-ulum (Tipe-tipe ilmu pengetahuan) sebagai tanda bah wa dia adalah seorang pelajar.

Mengikuti nasihat gurunya, Qadi akhirnya belajar matematika dan astronomi di Transoxiana sebagai pusat kebudayaan. Pada 1383, Qadi memiliki reputasi yang hebat sebagai ahli matematika dengan menyelesaikan bukunya yang berjudul Risala fi'l Hisab ( Risalah Aritmatika). Buku tersebut berisi pengetahuan kompleks mengenai aritmatika, aljabar, dan pengukuran.Pada 1417, pemimpin Dinasti Timurid Ulugh Beg mulai membangun madrasah karena dorongan Qadi. Pembangunan madrasah tersebut selesai pada 1420 berhadapan dengan alun-alun Rigestan di Samarkand. dya

Sayed Quthb, Sang Syahid yang Kontroversial


Quthb lahir dengan nama lengkap Sayyid Quthb Ibrahim Husein asy-Syadzili pada tanggal 9 Oktober 1906 M. (1326 H.) di Musya, sebuah pedesaan yang terletak di dekat kota Asyut, hulu Mesir. Ayahnya pernah aktif di Partai Nasional pimpinan Musthofa Kamil, hal ini mungkin yang menanamkan pada diri Quthb kesadaran politik yang tinggi.

Perjalanan intelektual Quthb dimulai dari desa di mana dia lahir dan dibesarkan. Di bawah asuhan orangtuanya, Quthb berhasil menghafal Alquran dalam usia relatif dini, 10 tahun. Menyadari bakat tersebut, orangtuanya memindahkan keluarga ke Hilwan, daerah pinggiran Kairo, agar Quthub memperoleh kesempatan masuk ke Tajhiziyah “Dar al-‘Ulum” (nama lama dari Universitas Cairo).

Pada tahun 1929, Quthb kuliah di Dar al-‘Ulum dan memperoleh gelar Sarjana Muda di bidang Pendidikan pada tahun 1933, kemudian bekerja sebagai pengawas pada Departemen Pendidikan. Tahun 1949 ia mendapat tugas belajar ke Amerika Serikat untuk memperdalam pengetahuannya di bidang Pendidikan selama 20 tahun, tepatnya di Wilson's Teacher's College Washington dan Stanford University California.

Sekembalinya dari Amerika, Quthb bergabung dengan gerakan Ikhwanul Muslimin karena kekagumannya pada Hasan Al-Banna, pendiri gerakan tersebut. Quthb menjadi tokoh penting dalam kelompok ini. Pada tahun 1954, Quthb diangkat menjadi Pemimpin Redaksi harian Ikhwanul Muslimin. Namun, baru dua bulan terbit, harian tersebut dibredel oleh pemerintahan Gammal Abdul Nasser.

Menurut Quthb, saat itu Ikhwanul Muslimin menghadapi situasi yang hampir sama dengan situasi masyarakat saat Islam datang untuk pertama kalinya, yaitu kebodohan tentang akidah Islam dan jauh dari nilai-nilai etik Islam (jahiliyah). Namun sayangnya, kesucian niat dan semangatnya dalam memperjuangkan orang banyak mengantarnya ke penjara pada 13 Juli 1955.

Pada tahun 1964 Quthb dibebaskan atas permintaan Abdul Salam Arif, Presiden Irak, yang mengadakan kunjungan ke Mesir. Saat itu, menurut informasi Abdul Hakim Abidin, salah seorang sahabatnya, Abdul Salam meminta Quthb untuk ikut bersamanya ke Irak, tetapi dia menolak seraya menyatakan, "Ini adalah medan perjuangan yang tidak bisa saya tinggalkan".

Setahun kemudian (1965) ia kembali ditangkap. Presiden Nasser menguatkan tuduhannya bahwa Quthb berkomplot untuk membunuhnya. Berdasarkan UU No. 911 tahun 1966, Presiden mempunyai kekuasaan untuk menahan siapa pun yang dianggap bersalah.

Sayyid Quthb diadili oleh Pengadilan Militer pada tanggal 12 April 1966. Tuduhannya sebagian besar berdasarkan tulisannya, Ma'alim fi ath-thariq, di mana isinya dianggap berupaya menumbangkan pemerintahan Mesir dengan kekerasan. Kemudian, pada 21 Agustus 1966 Sayyid Quthb bersama Abdul Fattah Ismail dan Muhammad Yusuf Hawwasy dinyatakan bersalah dan dihukum mati.

Quthb dihukum gantung bersama dua orang sahabatnya pada 29 Agustus 1966. Pemerintah Mesir tidak menghiraukan protes dari Amnesti Internasional yang memandang proses peradilan militer terhadap Sayyid Quthub sama sekali bertentangan dengan rasa keadilan.

Sejak saat itu Quthb dijuluki sebagai Syahid bagi kebangkitan Islam, yang rela mengorbankan nyawanya di tiang gantungan.



Tafsir Fi Zhilal al-Qur'an, Sarana Dakwah dari Balik Jeruji Penjara

Umej Bhatia (peneliti di Pusat Studi Timur Tengah, Universitas Harvard, AS), dalam A Critical Reading of Sayyid Quthb's Qur'anic Exegesis, mengatakan, pada kondisi sosial dan politik itulah karya-karya Sayyid Quthb tentang pergerakan melawan penguasa tiran harus dipahami. Tafsir Fi Zhilal al-Qur'an (Di Bawah Naungan Alquran) merepresentasikan gagasan-gagasan pergerakan tersebut.

Umej Bhatia menilai, tafsir Fi Zhilal al-Qur'an menyajikan cara baru dalam menafsirkan Alquran yang belum pernah dilakukan oleh ulama-ulama klasik. Sayyid Quthb memasukkan unsur-unsur politik dan ideologi dengan sangat serasi. Boleh dibilang, tafsir yang satu ini paling unik karena menjadikan Alquran sebagai pijakan utama untuk melakukan revolusi politik dan sosial.

Tampaknya, menurut Umej, Sayyid Quthb dipengaruhi oleh dua ulama agung sebelumnya, yakni Muhammad Abduh dan Rashid Ridho. Tafsir Al-Mannar karya kedua ulama tersebut lebih memfokuskan penafsiran Alquran dalam konteks sosial masyarakat ketimbang mengupas makna kata per kata. "Akan tetapi, Sayyid Quthb selangkah lebih maju daripada kedua pendahulunya itu. Ia berhasil mengolaborasikan teori-teori sosial Barat ke dalam pesan-pesan agung Alquran," kata Umej.

Penilaian serupa juga disampaikan oleh Dr Ahzami Samiun Jazuli, pakar tafsir Alquran dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta. Menurut Ahzami, tafsir yang ditulis oleh Sayyid Quthb ini merupakan tafsir haraki (tafsir pergerakan) atau tafsir dakwah. Sang ulama tidak menggunakan manhaj (metode) penulisan tafsir seperti ulama-ulama terdahulu, misalnya tafsir tahlili (tafsir analitis) yang memulai penafsiran dari penjelasan kata dalam ayat Alquran.

"Sayyid Quthb tidak menjelaskan panjang lebar makna kata dalam suatu ayat. Tidak pula menerangkan secara detail aspek-aspek fiqhiyyah (hukum-hukum fikih) karena pembahasan semacam itu sudah banyak dikupas dalam kitab-kitab tafsir klasik," jelas Ahzami.

Alquran bagi Sayyid Quthb merupakan kitab pedoman hidup yang komprehensif ke arah kehidupan yang diridhai Allah SWT. Oleh sebab itu, ia menamai tafsirnya itu Fi Zhilal al-Qur'an supaya umat Islam benar-benar berada dalam tuntunan dan naungan Alquran.

Tafsir Fi Zhilal al-Qur'an merupakan hasil dari dinamika akademis, politik, dan sosial. Ia tidak semata-mata rekreasi intelektual yang mendekati Alquran dari perspektif ilmu pengetahuan. Namun, juga menggunakan pendekatan atas dasar pengalaman hidup sang penulis. Tidak mengherankan, kata Ahzami, kalau kitab tafsir ini berpengaruh besar terhadap umat Islam di seluruh dunia, terutama mereka yang aktif dalam gerakan dakwah.

Dr Muchlis Hanafi, ahli tafsir lulusan Universitas Al-Azhar Kairo, melihat fenomena tafsir Fi Zhilal al-Qur'an ini dari sudut pandang yang berbeda. Menurutnya, ada beberapa aspek yang menonjol dalam karya Sayyid Quthb itu. Di antaranya adalah al-zauq al-adabi (ketinggian nilai sastra). Sayyid Quthb, menurut Muchlis, menjelaskan makna ayat-ayat Alquran dengan gaya bahasa yang sangat indah. Sehingga, punya kekuatan magnetik dan pengaruh yang besar terhadap pembacanya.

Kelebihan lainnya, menurut Muchlis, adalah al-wihdah al-maudhu'iyyah (kesatuan tema). Setiap surat yang ia tafsirkan diawali dengan mukadimah. Dan, mukadimah itu menjelaskan secara komprehensif isi surah sehingga tampak benang merah dan kesatuan tema sebuah surah.

Metode ini bukanlah hal baru dalam tradisi penafsiran Alquran, tetapi Sayyid Quthb berhasil menggunakannya dengan sangat baik. Saat ini, dapat disaksikan sebuah tafsir kontemporer yang bernilai tinggi. Namun demikian, tafsir ini tidak serta-merta lolos dari kritik para pegiat tafsir Alquran.

Dari segi metodologi, banyak yang menilai bahwa Sayyid Quthb melanggar tata aturan penafsiran Alquran yang dianut oleh para ulama salaf. Ia terlalu banyak menggunakan akal daripada merujuk pada Alquran, hadis Nabi SAW, dan tradisi para sahabat.

Ide-ide revolusioner
Umej Bhatia berpendapat bahwa penjara dan penyiksaan berperan penting dalam membentuk karakter pemikiran Sayyid Quthb. Umej memakai istilah prison perspective (perspektif penjara) bagi perspektif Sayyid Quthb dalam penafsiran Alquran. Yaitu, sebuah cara pandang korban keganasan rezim otoriter terhadap realitas sosial politik di masanya.

Kepahitan pengalaman politik Sayyid Quthb mendorongnya menyerukan konsep hakimiyatullah (kekuasaan hanya milik Allah) sebagaimana diusung oleh Abu al-'Ala al-Maududi di Pakistan. Hakimiyatullah berarti kekuasaan harus dikembalikan kepada Allah, bukan dikuasai manusia zalim yang melanggar hukum-hukum Tuhan. Umat Islam wajib berjihad mengembalikan tata aturan itu sesuai dengan doktrin Alquran.

Untuk itu, menurut Sayyid Quthb, perlu ada gerakan At-Thali'ah al-Islamiyah , yaitu menyiapkan generasi Muslim baru yang berpegang teguh pada ajaran-ajaran Allah serta mendidik mereka untuk menjadi pemimpin umat di masa depan. Ide-ide pergerakan dan perlawanan Sayyid Quthb itu tampak jelas dalam mukadimah tafsirnya pada surah Al-An'am.

Ia memaparkan konsep masyarakat ideal sesuai dengan tuntunan Islam; berseru kepada para juru dakwah untuk konsisten berada di jalan ini; serta menancapkan akidah agar sistem pemerintahan yang terbentuk kelak tidak melanggar tata aturan yang ditetapkan Allah SWT. "Orang-orang yang tidak memiliki akidah adalah pribadi-pribadi jahiliyah. Kejahiliyahan mereka memenuhi akal, pikiran, dan hati," tegas Sayyid Quthb.

Dalam pemaparannya tentang tatanan sosial politik yang ideal menurut doktrin Islam, Sayyid Quthb tidak segan-segan melabeli status 'kafir' kepada para penguasa zalim atau yang melanggar hukum Allah. Ini mengundang respons beragam dari banyak kalangan, bahkan dari ulama sendiri.

Dr Yusuf al-Qardhawi menilai bahwa pemikiran takfir (pengkafiran pada Muslim lain) dalam karya Sayyid Quthb sama sekali tidak mencerminkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang dianut mayoritas umat Islam di dunia. Pemikiran ini, tambah Qardhawi, juga tidak mencerminkan pemikiran gerakan Ikhwan al-Muslimin karena pemikiran takfir sama sekali tidak selaras dengan pemikiran organisasi itu ( RepublikaOnline, 9 Agustus 2009).

Pernyataan Qardhawi tersebut disanggah sejumlah tokoh Ihkwan al-Muslimin. Menurut mereka, Sayyid Quthb tidak keluar dari Ahlussunnah wal Jamaah. Semua pemikiran Sayyid Quthb selaras dengan manhaj Ikhwan al-Muslimin, tidak ada satu pun yang menyalahi kaidah dan dasar organisasi tersebut. Quthb, menurut mereka, juga tidak pernah mengafirkan kelompok Islam lain dan tidak pernah mendakwahkan perlawanan terhadap pemerintahan yang sah ( RepublikaOnline, 19 Agustus 2009).

Menawarkan Pemecahan Problem Umat
Tafsir Fi Zhilal al-Qur'an ditulis oleh Sayyid Quthb selama kurang lebih 15 tahun, yaitu sejak tahun 1950-ah hingga 1960-an. Pada mulanya, ia memulai menulis tafsirnya itu atas permintaan rekannya, Said Ramadhan, redaktur majalah Al-Muslimun yang terbit di Kairo dan Damaskus.

Sang mufasir menyambut baik permintaan itu dan memberi nama rubrik tersebut Fi Zhilalil Quran. Tulisan pertama yang dimuat adalah penafsiran surah Alfatihah, kemudian surah Albaqarah. Akan tetapi, beberapa bulan kemudian, Sayyid Quthb memutuskan menyusun satu kitab tafsir sendiri yang juga ia beri nama Fi Zhilalil Quran .

Karya beliau lantas dicetak dan didistribusikan oleh penerbit al-Bab al-Halabi. Penerbitan pertamanya tidak langsung berjumlah 30 juz, namun tiap satu juz. Setiap juznya terbit dalam dua bulan sekali. Proses penyempurnaan penafsiran selanjutnya diselesaikan dalam penjara.

Edisi pertama dalam bentuk 30 juz diterbitkan pada tahun 1979. Sejak saat itu, persebarannya meluas hingga mencapai hampir seluruh negara Muslim di dunia. Umej Bhatia mencatat, kitab tafsir ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Persia, Turki, Urdu, Bengali, Indonesia, dan Melayu.

Di negara-negara Arab, volume penjualan tafsir Fi Zhilal al-Qur'an bak kacang goreng. Selama bertahun-tahun, tafsir itu menjadi best seller. Menurut cerita Syekh Abdullah Azzam, pada pertengahan 1980-an, jika di Lebanon ada percetakan mulai bangkrut, kemudian pemiliknya mencetak Fi Zhilalill Quran dan juga buku-buku Sayyid Quthb yang lain, percetakan tersebut selamat dari kebangkrutan.

Gaya bahasa dan kualitas penafsiran Sayyid Quthb merupakan daya pikat utama bagi para pembaca untuk menyelami samudra ilmu Alquran. Di dalamnya tersaji konsep-konsep Islam modern tentang jihad, masyarakat jahiliyyah dan Islam, serta ummah .

Konsep-konsep tersebut menumbuhkan kesadaran baru akan gerakan sosial politik berdasarkan doktrin Islam. Tak ayal, banyak peneliti Barat yang melabeli Sayyid Quthb sebagai pengusung radikalisme, ekstremisme, fundamentalisme, atau atribut-atribut yang menjurus pada nuansa kekerasan lainnya.

Tentang konsep umat, Sayyid Quthb mengutarakan bahwa pembentukan pribadi umat harus berdasarkan keimanan yang kokoh, optimisme pada rahmat dan pertolongan Allah, serta rasa percaya diri sebagai umat terbaik yang diutus Allah di muka bumi ini. Segala permasalahan umat, menurutnya, harus dicarikan solusinya dari kitab Allah SWT dan sunah nabi.

"Keimanan berimplikasi pada sikap pasrah dan menyerah kepada hukum-hukum Allah. Jiwa-jiwa yang tulus akan menerima segala sistem hukum dan perundangan Islam secara sukarela. Tidak terdetik satu penentangan pun sejak aturan tersebut dikeluarkan. Juga, tak ada sedikit pun keengganan untuk melaksanakannya ketika hukum itu diterima," kata Sayyid Quthb dalam mukadimah surat Al-An'Am.

Secara umum, tema yang ditekankan dalam tafsir Fi Zhilal al-Qur'an meliputi gagasan tentang hubungan antarsesama manusia. Allah SWT, menurutnya, menghendaki sebuah bangunan sosial yang harmonis berdasarkan keimanan dan cinta kasih. Konsep ini menghindarkan terbentuknya kekuasaan tiran yang menebarkan kebencian, kebodohan, dan kekafiran. rid/taq


Susu, Pelengkap Nutrisi Berpuasa


Sering kali masyarakat salah mengartikan fungsi susu. Sebagian menyakini susu mengemukkan badan, kemudian ada juga yang beranggapan susu hanya membuat rasa tidak enak dimulut terutama di bulan puasa.

"Sebenarnya, konsumsi susu itu penting guna menjamin kebutuhan akan tambahan asupan nutrisi bagi tubuh, terlebih saat puasa," ujar Pakar Gizi dari Persatuan Gizi Indonesia (Persagi), Ida Ruslita Ami di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Lebih dari itu, keberadaan susu dengan aneka jenis memudahkan individu untuk menyesuaikan kandungan nutrisi dengan kebutuhan tubuh.

Terkait dengan masalah kegemukan, Ida coba meluruskan. Yang menyebabkan gemuk itu, kata dia, karena sebagian masyarakat tidak memperhatikan kebutuhan dirinya akan asupan nutrisi. "Saat tubuh sudah terpenuhi bukannya diikuti dengan aktivitas tapi malah diberikan asupan kembali. Itu yang bikin gemuk," tegasnya.

Oleh karena itu, Ida menyarankan agar memperhatikan waktu mengkonsumsi susu. Saat puasa misalnya, minimal sehari sekali bagi orang dewasa. Sedangkan untuk anak-anak disarankan Ida minimal dua kali sehari saat sebelum tidur dan sahur.

Terkait jenis susu, Ida menyatakan tidak ada masalah apakah susu bubuk atau susu kental manis. Pasalnya, kedua jenis susu memiliki kandungan dan aturan pola konsumsi yang mesti disesuaikan." Mungkin ada individu yang alergi dengan susu kental manis maka diganti dengan susu bubuk. Tak hanya itu, perhatikan tabel kandungan yang terdapat dalam kemasan susu," tegasnya.

Intinya, kata Ida, kebutuhan susu itu tergantung sekali dengan kebutuhan kalori tubuh. Semakin besar jumlah kalori yang diperlukan maka semakin besar perlunya susu sebagai tambahan."Ingat 4 sehat 5 sempurna kan. Tapi ingat pula elemen-elemen yang dibutuhkan tubuh semisal, protein, lemak, karbohitrat, vitaminnya," tukasnya.

Saat disinggung, bagaimana dengan yang alergi susu. Ida menjelaskan, hal itu bukanlah masalah. Menurutnya, masalah alergi bisa disiasati dengan menjadikan susu sebagai bahan dasar makanan."Kalau memang enek dan alergi, ada baiknya dicampurkan bahan lain yang bisa meminimalisir rasa enek dan alergi," pungkasnya. (cr2/rin)

Jamarat Mina Siap Tahun Ini


MEKAH--Komite Tertinggi Haji Kerajaan Arab Saudi menyatakan pembangunan jamarat (tempat lontar jumrah) sudah selesai dan siap digunakan pada musim haji tahun ini. Renovasi bangunan empata lantai ini menghabiskan dana sebesar SR4,2 milar atau sekitar Rp10,5 triliun. Demikian seperti dilansir harian Arab News, Senin (31/8).

"Bangunan dengan kapasitas 25.000 jemaah ini dibangun dengan tujuan agar dapat menampung lebih banyak jemaah di tempat suci Mina," kata laporan itu.

Beberapa CCTV telah dipasang di berbagai bagian untuk memantau pergerakan jemaah haji, sehingga bagian keamanan dapat segera turun tangan bila diperlukan.

Bangunan ini juga memiliki sistem pemadam kebakaran yang canggih dan telah dipasang sejak tahun lalu. Pompa air dengan bahan bakar solar dan listrik ini dapat memompa 1.50

Ke Tiongkok Ataukah Meksiko?

ernyata komunis China mulai merevitalisasi doktrinnya, begitu yang saya baca di China Radio International (24/8) dalam Kongres Nasional Ke-17 Partai Komunis Tiongkok (PKT) di Balai Agung Rakyat Beijing yang dihadiri lebih 2.200 wakil melalui pemilihan demokratis dari lebih 70 juta anggota PKT.

Pembaruan doktrin komunisme akan terus dilakukan di Tiongkok. Hari ini pun, ketika Kongres Ke-17 Partai Komunis Tiongkok dibuka, acara pembaruan doktrin itu menjadi salah satu agenda terpentingnya.

Kalau dalam kongres ke-16 lima tahun lalu diputuskan komunisme Tiongkok "komunisme tiga kaki". Namun kongres ke-17 akan ada menambah satu doktrin lagi: "membangun negara berdasar konsep yang ilmiah".

Dengan doktrin baru itu, komunisme Tiongkok menjadi tidak hanya berlandas Marxisme-Leninisme, tapi sudah menjadi komunisme pancapilar: Marxisme-Leninisme, Maoisme, Dengisme, Jiangisme, dan Huisme. Itu karena ajaran Mao Zedong (Maoisme) tidak asli lagi oleh Uni Soviet.

Selain itu, Dengisme (ajaran Deng Xiaoping yang menitikberatkan pada pragmatisme ekonomi) membuat komunisme Tiongkok kian jauh dari landasan awalnya. Jiangisme (doktrin Jiang Zemin yang memasukkan businessman sebagai soko guru ketiga dalam komunisme Tiongkok setelah buruh dan tani) membuat Partai Komunis Tiongkok sebenarnya sudah tidak layak lagi disebut komunis.

Untungnya, Soviet juga sudah tidak ada dan Rusia (inti Soviet) juga sudah bukan negara komunis lagi. Memang, kepentingan Jiangisme atas doktrinnya telah membuat ekonomi dan dunia usaha di Tiongkok gegap gempita.

Doktrin tokoh yang memimpin Tiongkok selama sepuluh tahun (berakhir 2002) itu telah mengukuhkan Tiongkok sebagai calon raksasa ekonomi terbesar di dunia dalam hitungan waktu tidak sampai 50 tahun lagi. Tapi, doktrin Jiangisme menimbulkan dampak yang umumnya ditimbulkan oleh kapitalisme lama: kesenjangan kaya-miskin yang menganga lebar.

Data yang bisa menggambarkan kondisi itu dilihat dari Indeks Kesenjangan Tiongkok yang sudah mengkhawatirkan, pada posisi 4,75. Kalau angka indeks tersebut terus meningkat berarti kondisi sosial ekonomi Tingkok kritis. Padahal, indeks sosialis-komunis seharusnya tidak lebih dari angka 2,5.

Melihat itu, di bawah kepemimpinan Hu Jinto, Tiongkok saat ini akan melakukan usaha besar-besaran untuk menyeimbangkan kapitalisme lewat doktrin "Huisme" yang akan diputuskan dalam kongres partai minggu ini.

Rupanya, sistem ekonomi terbuka yang sudah telanjur dijalankan selama 15 tahun belum mendapatkan landasan di dalam partai sehingga disusulkanlah perubahan tersebut. Dalam kongres ketika itu, ditetapkanlah tafsir resmi teori Marxisme dan Leninisme serta doktrin Mao Zedong sesuai dengan konsep pemikiran Deng Xiaoping.

Itulah "jasa" Jiang Zeming yang sekaligus menunjukkan kuatnya posisinya di dalam partai. Bahkan, perubahan tersebut dia teruskan dengan perubahan lima tahun kemudian, yakni disahkannya pengusaha sebagai anggota partai dan harus punya wakil dalam politbiro.

Perubahan itulah yang dipakai sebagai dasar perubahan ekonomi dari sistem sosialisme menuju sistem yang terbuka. Perubahan itu juga dipakai sebagai landasan untuk perubahan berikutnya yang ditetapkan dalam kongres partai pada tahun 1992 yang menggariskan secara resmi bahwa sosialisme RRT adalah "sosialisme yang disesuaikan dengan keadaan di RRT".

Memang, keberanian Jiang Zeming itu telah melahirkan juga sayap kiri yang keras. Bulan lalu, menghadapi kongres ke-17 itu, kelompok tersebut menandatangani petisi yang mengecam keras komunisme Tiongkok sekarang. "Ini sudah bukan komunis lagi," katanya.

Petisi yang ditandatangani para pensiunan jenderal, pensiunan pejabat tinggi, dan ketua partai tingkat provinsi itu minta agar partai mencabut doktrin "komunisme tiga kaki" yang diputuskan di masa Jiang Zeming. Tentu, Hu tidak akan menghapus begitu saja doktrin-doktrin tambahan komunisme itu.

Bukan saja doktrin tersebut telah membuahkan hasil nyata, juga tidak mungkin Hu mengabaikan asas harmoni. Terlalu berisiko kalau negara sebesar Tiongkok harus berubah secara reformasif. Hu, kelihatannya, memilih membelokkannya saja sedikit dengan menambahkan doktrin baru "pembangunan yang berdasar ilmu pengetahuan". Itu berarti Hu akan menjalankan kebijakan pembangunan yang tidak lagi berdasar pada doktrin apa pun.

Program apa pun, asal dilandasi pemikiran yang ilmiah, akan dia jalankan. Kalau secara ilmiah, kapitalisme baru memang bisa diterima, ya mengapa harus ditolak. Kalau secara ilmiah sosialisme baru bisa diterima, mengapa tidak.

Kini, Tiongkok sedang meletakkan dasar untuk menjadi negara modern. Partai komunis Tiongkok yang berkuasa pun sedang membangun diri. Lalu bagaimana negara dengan ideologi yang berbeda dengan Tiongkok?

Kalau Tiongkok dapat mewakili interpretasi ideologi komunisme, maka Meksiko saya jadikan titik poin pandangan liberalisme. Oleh neolib, neoliberalisme terlihat hendak disembunyikannya, agar negara tetap menyokong hak kepemilikan individu mereka.

Untuk itu, aturan hukum dan institusi harus membebaskan fungsi pasar dan perdagangan bebas. Artinya, negara berhak menggunakan monopolinya atas alat-alat 'pendisiplinan' untuk menjamin kebebasan pasar.

Di samping itu, mengutip David Harvey, kekuasaan negara harus melindungi institusi finansial, dengan segala pembiayaannya. Prinsip ini bekerja pada saat krisis New York City pada pertengahan 1970-an, dan dikenal secara internasional ketika Meksiko berada di ujung kebangkrutan pada tahun 1982.

Melalui negara pula, sistim neoliberal ditegakkan berdasarkan sokongan dan dukungan penuh dari negara. Di sini, seperti kita ketahui, negara lah yang bertindak sebagai pemegang kendali pelaksanaan sejumlah proposal neoliberal, diantaranya pengalihan sektor publik (pendidikan, kesehatan, layanan sosial) ke tangan swasta.

Carlos Villas menjelaskan bahwa kebijakan sosial neoliberal ini menjalankan dua fungsi penting; pertama, sebagai pendukung proses akumulasi kapital melalui reproduksi sosial tenaga kerja.

Kedua, melegitimasi keseluruhan tatanan politik yang ada dengan cara menciptakan konsesi dengan keseluruhan populasi yang menerima sedikit keuntungan dari program ini.

Dalam neoliberalisme, untuk diketahui, kebijakan sosial bukan hal yang permanen dalam perangkat ekonomi mereka, tapi sesuatu yang temporer sifatnya. Dalam memperkuat proses akumulasi kapital, kebijakan sosial ini membantu proses akumulasi kapital melalui manuver finansial. Kebijakan privatisasi sistim pensiun, misalnya, dibanyak negara Amerika Latin yang diambil alih oleh perusahaan-perusahan finansial swasta, dan dijadikan sebagai sumber finansial yang besar untuk diputar kembali di pasar finansial.

Alih-alih memperbaiki kondisi kehidupan group penduduk berpendapatan rendah, kebijakan sosial ini hanya membantu sangat sedikit korban penyesuaian struktural, dan tetap tidak menghentikan laju kemerosotan ekonomi.

Meksiko. Tahun 1980-an pemerintah menyiasati dampak krisis ekonomi dengan menjalan program penyesuaian struktural, diantaranya memotong secara drastis anggaran sosial, memotong anggaran pendidikan dan kesehatan, serta menghapus segala jenis subsidi untuk kebutuhan dasar.

Situasi ini, tentunya, berkontribusi pada jatuhnya standar kehidupan rakyat secara keseluruhan. Untuk merespon ini, rejim Miguel de la Madrid segera menurunkan dua program sosial neoliberal, yaitu Program Dana Untuk Perumahan Rakyat (FONHAPO) dan Program Distrubusi Bahan Makanan Nasional Untuk Zona Rakyat Miskin Kota (PAZPU).

Pada saat itu, Meksiko dikenal dengan politik klientalisme dan korupsi, terutama di kalangan partai politik tradisional; PAN dan PRI. Sehingga, pada saat itu, pemerintah banyak meminta uluran tangan LSM dan sektor-sektor independen.

Program FONHAPO, yang sumber pendanaannya sangat terbatas, difokuskan kepada pembangunan rumah bagi mereka yang berpendapatan sangat rendah. Pada prakteknya, dengan mengadopsi sistim kredit kolektif, FONHAPO memberikan bantuan dana kepada orang miskin untuk menyelesaikan pembangunan rumahnya.

Program itu dianggap gagal mencapai target pemerintah, karena persoalan managemen dan pengelolaan dana. Untuk itu, pada tahun 1983, FONHAPO direorganisasi dan melahirkan administrasi baru, dimana keterlibatan organisasi popular dan LSM lebih besar.

Pada saat itu, organisasi-organisasi kiri yang berakar di organisasi popular, juga berupaya menunggangi proyek ini untuk membangkitkan partisipasi politik rakyat. Mereka mengorganisasikan rumah tangga yang belum terdata, supaya diberikan peluang untuk masuk dalam program ini.

Sementara itu, program PAZPU menyiapkan bahan makanan dengan harga murah kepada zone rakyat miskin kota yang berpendapatan di bawah minimum. Melalui program ini, DICONSA, sebuah administrasi yang bertanggung jawab terhadap penyaluran bahan makanan ini, menciptakan sejumlah toko makanan di berbagai komunitas rakyat miskin kota.

Dengan bersandar pada mobilisasi, berbeda dengan metode LSM yang berdasarkan lobi, organisasi sosial berhasil mendapatkan dukungan luas dari rakyat miskin kota, terutama ketika memenangkan negosiasi soal penambahan anggaran dan perluasan cakupan program ini.

Paul Haber menganggap program ini justru memberikan legitimasi kuat kepada pemerintah, meskipun sangat teoritis. Bagi gerakan kiri yang memanfaatkan program ini, tujuan utama mereka adalah mengorganisasikan massa rakyat secara luas, dan mendorong kemampuan mereka untuk bernegosiasi dengan pemerintah.

Di level komunitas, seperti dicatat seorang antroplogis Meksiko, Paula Sabloff, program ini dimanfaatkan oleh sejumlah gerakan sosial untuk mengorganisasikan rakyat di komunitas; meregulerkan rapat-rapat, melakukan pendidikan politik, serta menganjurkan mobilisasi politik. The Frente Democrático Campesino (FDC), sebuah organisasi rakyat di Chihuahua, berhasil memanfaatkan program ini untuk memperkuat organisasinya, memajukan kapasitas anggotanya, namun tetap mandiri dihadapan pemerintah.

Atau secara umum, kepentingan yang sengaja dibentuk oleh gerakan sosial dan partai kiri adalah untuk memperluas basis keanggotaan, basis dukungan, dan struktur partai; berhasil membangun dan memperkuat sebuah infrastuktur politik, berupa partai, aliansi, ataupun blok politik, yang memiliki hubungan erat dengan massa luas.

Baik gerakan kiri dan gerakan kanan di Indonesia memang memiliki tempat kepentingannya masing-masing. Gerakan kiri dan gerakan kanan di negeri ini masih mencari bentuk, menciptakan peluang kepentingan yang harus mereka jadikan kendaraan pergerakan. Indonesia masih malu-malu, menjadi Tiongkok ataukah Meksiko.

Festival Pelajar Islam Denpasar

Kegiatan lomba pelajar islam kota Denpasar yang diselenggarakan oleh Pengurus Daerah Pelajar Islam Indonesia (PII)

Dunia Shofia

epat hari pertama ibadah Ramadhan, pukul 10 pagi, Shofia Rizkiy Ramadhani lahir dengan berat 3 kg. Alhamdulillah. Kelahiran anak perempuan pertama dari Diana sudah membuat semua bangga. Bagaimana tidak, apa yang selama ini kami dapatkan tidak lepas dari semua anugerah-Nya pada Shofia.

Materi en finansial sudah sangat banyak. Tidak ada alasan kami tidak bersyukur. Sekarang en nanti, tugas utama kami adalah kontinu menjaga fitrahnya. Menjaga sisi-sisi kemanusiaan dan ketuhanan yang melekat pada dirinya.

Sifat fitrah (suci) mudah ditemukan pada sosok anak-anak, liat Shofia saja sudah membuktikan. Namun sifat fitrah itu perlahan-lahan dapat menjadi sirna oleh banyak faktor penyebab, menurut saya, pihak yang paling berperan besar mengikis fitrah justru orang tua.

Pola asuhan yang salah penyebabnya. Orang tua dengan wewenang ekslusif dan akses tak terbatas, misalnya. Ketika seorang bapak menyuruh anaknya untuk membalas pukulan temannya, misalnya. Maka secara tidak sadar orang tua telah mengikis fitrah kasih sayang anak dan menggantinya dengan kekerasan. Anak-anak mendapatkan hal baru bahwa kekerasan hanya dapat dibalas dengan kekerasan. Eksesnya sungguh luar biasa, saat menanjak ke usia sekolah menengah, anak-anak itu menyelesaikan masalah mereka dengan cara paling primitif, tawuran. Padahal, jurus paling ampuh menyudahi kekerasan adalah dengan kasih sayang.

Pola asuhan lainnya yang salah ketika orang tua memberi iming-iming hadiah atau imbalan ketika anak melakukan perintahnya, maka orang tua telah mengikis fitrah keikhlasan anak dan mengenalkannya dengan  pamrih.

Maka tak salah, ketika saat usia anaknya menanjak naik, orang tua mendapati anaknya hanya mau disuruh jika diberi imbalan. Ekses negatif pola asuh tersebut bisa kita bandingkan dengan anak seusia di luar negeri yang luar bisa kreatif daya eksplorasinya, tapi anak-anak kita masih berkutat pada hafalan teksbuk.

Orang tua, bisa saja tak menyadari, saat mereka melarang anaknya bermain dengan anak lain -- yang divonis sepihak— yang dianggap ‘nakal’, maka  orang tua telah mengikis fitrah pemaaf anak dan menggantinya dengan sifat pendendam. Sulit memaafkan dan pendendam hanya ditemui di dunia orang dewasa. Dalam kaca mata anak-anak, teman yang baru saja (dianggap orang dewasa) menyakiti, bukanlah sosok yang harus dihindari untuk seterusnya. Anak-anak dengan fitrahnya itu, sangat mudah melupakan kejahatan, mereka adalah pemaaf sejati. Tapi, karena campur tangan orang tua, anak-anak sudah dapat berlaku diskriminatif, hanya mau bermain atau meminjamkan mainan kepada teman yang disukai. Eksesnya, kelak akan lahir dari sini kempulan-kumpulan eksklusif atau geng-geng yang dalam sepak terjangnya justru lebih banyak bersifat saling berkonfrontatif.

Dan masih banyak lagi pola asuhan orang tua yang mengancam kesucian anak. Diantaranya, mengganti fitrah kejujuran dengan mengenalkan mereka kebohongan, saat orang tua berjanji namun tak menepati. Eh malah ada yang menakuti dengan cerita khurafat, tidak masuk akal.

Karena kekeliruan itu semua, jangan heran saat orang tua kelimpungan saat ‘memanen’ hasil percobaannya. Anak mereka tumbuh menjadi figur yang tak menyenangkan. Hal ini baru diketahui, saat si kecil masuk ke bangku sekolah untuk pertama kalinya, bertemu dengan teman-teman sebayanya.

Karenanya, Ramadhan ini menjadi momen istimewa bagi orang tua (saya dan istri; Rusydi dan Diana) yang baru berstatus bapak atau ibu untuk menjalani komitmen agar kontinu menjaga dan pemelihara sifat fitrah (suci) anak-anaknya. Semoga doa kami dan kawan-kawan di Lombok Blogger menjadi kekuatan mendidik calon pejuang islam, Shofia Rizkiy Ramadhani. Amiin.

Home dakta107FM

Link

Warga Jalan Garuda Pintu Air RT 03 RW 02, Kelurahan Juru Mudi Baru, Kecamatan Benda, Kota Tangerang, dua pekan lalu sempat dihebohkan seputar pembongkaran makam KH Abdullah Mukmin. Pasalnya, saat dibongkar, jasad kiai tersebut masih dalam kondisi utuh kendati telah meninggal 26 tahun silam.

Alhasil, kini makam kiai yang juga mantan Wakil Ketua Pengadilan Agama Tangerang itu menjadi pusat perhatian warga. “Ada saja yang datang ke sini. Ada yang ziarah, ada juga yang sekadar melihat-lihat,” kata Ahmad Pathi, anak keempat dari tujuh bersaudara mendiang KH Abdullah Mukmin saat ditemui pada Selasa (18/8) petang.

Dalam kesempatan itu, Ahmad ditemani kakak sulungnya, Mukhtar Ali. Mukhtar mengatakan, pihaknya mengizinkan warga yang ingin berziarah ataupun hanya untuk melihat makam mendiang ayah mereka yang meninggal pada 22 Oktober 1983. Ayah mereka meninggal karena gagal ginjal dan sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Terkait pembongkaran makam terseb...

Meredam Keserakahan

egelintir pemodal, PT Freeport, telah menguasai bagian kekayaan negeri kita di Pulau Cendrawasih, Papua. Akankah keserakahan terus menggerus tanah Timika, Papua saat lalu lintas karyawan menuju areal pertambangan Tembagapura, dihentikan sementara (17/8).

Harapan masih terlalu besar pada keberhasilan Ramadhan tahun ini. Keberhasilan menjadikan diri suci kembali tanpa keserakahan. Memang, selain dalam keadaan suci (fitrah), Allah telah menciptakan nafsu bagi manusia, hingga membuatnya dinamis, kreatif, dan inovatif dalam berkarya di muka bumi ini. Dengan nafsu itu pula yang membedakannya dengan malaikat yang senantiasa taat kepada perintah Allah, Rabb semesta alam.

Namun, adakalanya nafsu bermuatan negatif dan positif. Dalam teks suci Quran, Allah berfirman, "Maka Allah mengilhamkan kepada nafs (jiwa) itu (jalan/potensi) kefasikan (keburukan) dan ketakwaan (kebaikan)-nya" (Syams: 8).

Atau oleh Jalaluddin Rakhmat (2005: 233) menyebutnya sebagai dimensi kepribadian; al-bu’dul malakut atau dimensi kemalaikatan yang berasal dari alam malakut dan al-bu’dul bahimi atau dimensi kebinatangan, keserakahan.

Ada satu bagian dari dalam diri manusia yang membawa ke arah kesucian sebagaimana asal penciptaannya sehingga dimensi ini akan membawanya untuk dekat kepada Allah (al-bu’dul malakut). Dimensi ini pula yang membuat manusia tetap pada kemanusiaanya yang gemar membantu, bersilaturrahim dan melakukan berbagai bentuk kebaikan lainnya.

Namun, dimensi kebinatangan inilah yang merubah posisi manusia dari manusia yang sesungguhnya. Dimensi ini mendorong manusia untuk melakukan kejahatan, iri kepada orang lain, tega menzalimi orang lain, serakah pada kekayaan dan dendam kepada orang lain. Inilah sisi buruk manusia yang jika tidak dikendalikan maka dapat mengantarkannya pada posisi yang sama dengan binatang, atau malah melebihi keserakahan binatang.

Artinya, ketika manusia berada pada dimensi malakut, maka ia telah menghambakan dirinya hanya kepada Allah. Sebaliknya, ketika dimensi bahimi mendominasinya, maka ia telah menjadi budak setan yang selalu menjerumuskannya ke jalan kegelapan dan kesesatan.

Untuk itu manusia mesti mengendalikian nafsunya sehingga ia tetap manjadi makhluk Allah yang paling mulia. Pengendalian nafsu itu memerlukan perjuangan yang besar, dalam makna kemanusiaan oleh Rasulullah menyebutnya sebagai jihad al-akbar, perjuangan yang lebih besar dari pada perjuangan para sahabat dalam peperangan Badr atau Uhud sekalipun.

Meskipun demikian, Allah tidaklah membiarkan begitu saja hamba-Nya dalam keserakahan. Dia tetap mendidik hamba-Nya agar tetap pada posisi yang mulia, Dia disebut sebagai Rabb, yang artinya Maha Pemelihara atau Maha Pendidik. Karena sebagai pencipta, Allah tidaklah hanya menciptakan manusia begitu saja, tetapi Dia memelihara makhluk-Nya dan mendidiknya agar tetap pada kebaikan dan keselamatan.

Salah satu bentuk pendidikan yang diberikan Allah kepada manusia agar dapat mengendalikan nafsunya adalah dengan menetapkan bulan Ramadhan sebagai bulan untuk melakukan ibadah puasa khusus bagi umat Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian salah satu hikmah Ramadhan adalah sebagai lembaga pendidikan ruhaniyah bagi manusia sehingga kita dapat mengendalikan diri (jihad al-nafs atau selfrestrain) agar tetap pada posisi makhluk Allah yang mulia.

Menurut Isma'il al-Faruqi, yang dikutip Azyumardi Azra (2005: 25), menyebut Ramadhan sebagai "latihan terbaik dalam seni pengendalian diri" (the art of self mastery). Itu sebabnya bulan ini juga disebut dengan Syahr al-Tarbiyah (bulan pendidikan), atau madrasah ruhaniyah.

Ada tiga hal, yang bisa saya tulis, bahwa ibadah Ramadhan mampu mendidik manusia agar tetap menjadi manusia yang sesungguhnya. Pertama, puasa mendidik manusia untuk jujur dan merasakan kedekatan dengan Allah. Puasa menjadi ibadah yang rahasia, itu pula yang menunjukkan perbedaan Puasa Ramadhan dengan ibadah lainnya. Karena hanya Allah yang tahu apakah seseorang itu puasa atau tidak. Alhasil, orang yang berpuasa akan senantiasa merasakan bahwa dirinya dalam pengawasaan Allah, lalu mustahil baginya untuk berbuat sesuatu yang diyakininya sebagai perbuatan yang mengundang murka Allah.

Kedua, puasa mendidik manusia untuk meningkatkan kesalehan sosial. Dengan berpuasa, ia akan menyadari apa yang dirasakan oleh si miskin yang selalu lapar. Maka tak heran, ketika ibadah Ramadhan telah mempengaruhi tingkah polahnya ia akan santun dan kasih kepada si miskin. Setidaknya, hal itu akan dibuktikan dengan mengeluarkan zakat fitrah pada kaum mustadafin, proletar menjelang datangnya Hari Raya Idul Fitri.

Pendidikan berlapar-lapar pun telah meningkatkan persaudaraan, sehingga ia akan selalu menghindari diri dari hal-hal yang dapat mengundang pertengkaran antara sesamanya. Secara normatif, efek lapar dapat mengikis rasa kesombongan, dimana kesombongan acapkali merusak persaudaraan. Puasa tidak membedakan antara pejabat dengan rakyat, pengusaha dengan pekerja, kaya dengan miskin, dan berbagai bentuk kelebihan-kelebihan lainnya.

Yang terakhir, Ramadhan mampu mendidik agar manusia senantiasa menyucikan jiwanya. Sebulan penuh ummat manusia dididik melalui zikir, baik siang maupun di malam hari. Mungkin, ada yang termotivasi dengan kehadiran lailatul qadar, malam seribu bulan, sehingga mereka memperbanyak zikir dan shalat di setiap malam (qiyam al-lail).

Puasa yang penuh kesadaran dan tulus selama bulan Ramadhan pun akan menyucikan segala kesalahan, hati kembali suci dan tidak ada lagi keserakahan mengeksploitasi, jiwa merdeka tidak terjajah. Semoga.

TAREKAT, Sebuah Pengantar


TAREKAT Sebuah Pengantar

Oleh: AHMAD KHOIRUL FATA

(Ustadz di Pon-Pes Arraudlatul Ilmiyah (Taman Pengetahuan) Kertosono Nganjuk)

Pendahuluan

Tarekat sebagai organized mysticism menjadi pembicaraan yang cukup menarik. Pasalnya, oleh sebagian kalangan, tarekat dijadikan tertuduh bagi kemunduran Islam abad pertengahan. Perkembangan tarekat di abad ke 12/13 M, secara simplistik dikaitkan dengan penurunan pengaruh Islam secara sosio-politik-ekonomi-militer.

Kesimpulan ini tentu saja masih perlu diperdebatkan mengingat kesamaan masa belum tentu menunjukkan kausalitas dua peristiwa. Pun demikian, jika kedua peristiwa itu menunjukkan adanya hubungan sebab-akibat, pertanyaan yang muncul adalah mana di antara dua peristiwa tersebut yang berposisi sebagai sebab dan mana yang akibat. Klarifikasi ini perlu dilakukan agar kita bisa melihat secara jernih dan obyektif sehingga terhindar dari kesimpulan yang kurang tepat.

Image negatif tentang tarekat menunjukkan masih banyaknya masyarakat yang belum mengenal apa dan bagaimana tarekat sesungguhnya. Eksklusivitas gerakan tarekat bisa menjadi salah satu sebab ketidaktahuan publik atas gerakan mistik ini. Namun bukankah setiap komunitas pasti memiliki sisi eksklusif dan inklusif. Pada titik ini para praktisi mistik yang tergabung dalam tarekat perlu menyosialisasikan gerakannya untuk mengikis image negatif itu.

Untuk memberikan gambaran tentang tarekat, tulisan ini mencoba mengulas gerakan mistisisme Islam itu. Tentu saja tidak semua sisi gerakan tarekat bias ter-cover oleh tulisan ringkas ini.


Pengertian Tarekat

Tarekat (Arab: Tariqah) berarti: 1. jalan, cara; 2. keadaan; 3. mazhab, aliran; goresan/garis pada sesuatu; 5. tiang tempat berteduh, tongkat paying; 6. yang terkenal dari suatu kaum.[1] Dalam pengertian istilahy, tarekat berarti: 1. pengembaraan mistik pada umumnya, yaitu gabungan seluruh ajaran dan aturan praktis yang diambil dari al-Qur’an, sunnah Nabi Saw, dan pengalaman guru spiritual; 2. persaudaraan sufi yang biasanya dinamai sesuai dengan nama pendirinya.[2]

Ilmuan Barat sering menyebut tarekat dengan istilah Sufi Order. Terma order ini awalnya digunakan dalam kelompok-kelompok monastik besar Kristen seperti Fransiscan dan Benedictan. Pengertian order ini kemudian diluaskan kepada sekelompok manusia yang hidup bersama di bawah disiplin bersama. Sehingga kemudian terma order diterapkan penggunaannya pada tarekat. Meski demikian, istilah order dalam Kristen dan tarekat pada Islam memiliki titik-titik perbedaan, seperti aturan keharusan hidup membujang bagi rahib-rahib Kristen dan aturan legal yang ketat terpusat pada otoritas tunggal Paus berbeda dengan tarekat.[3] Perbedaan kedua istilah itu juga ditegaskan oleh Fazlur Rahman dengan melihat pengertian asal keduanya. Poin penekanan terma order terletak pada aspek organisasi, sedangkan tarekat selain bermakna organized sufism, juga merupakan jalan sufi yang mengklaim memberikan bimbingan mistik manusia untuk “bersatu” dengan Tuhan. Karenanya, tarekat bisa eksis tanpa adanya sebuah organisasi persaudaraan. Tentunya, tegas Rahman, sebelum keberadaan organized Sufism telah ada tarekat yang bermakna school of sufi doctrine.[4]

Tarekat sebagai organized sufism hadir sebagai institusi penyedia layanan praktis dan terstruktur untuk memandu tahapan-tahapan perjalanan mistik yang berpusat pada relasi guru murid; otoritas sang guru yang telah mendaki tahapan-tahapan mistik harus harus diterima secara keseluruhan oleh sang murid. Ini diperlukan agar langkah murid untuk bertemu dengan Tuhan dapat terlaksana dengan sukses.

Relasi guru-murid ini terbangun sambung menyambung hingga sampai kepada Rasulullah Muhammad Saw sebagai sumbernya. Inilah yang disebut sebagai silsilah (jama’: salasul). Silsilah kemungkinan besar merupakan copy-an dari institusi isnad (sanad) yang digunakan ahli hadis untuk menguatkan validitas dan otentisitas suatu hadis kepada Rasulullah Saw.[5]

Sejarah Perkembangan Tarekat

Tarekat telah dikenal di dunia Islam terutama di abad ke 12/13 M (6/7 H) dengan hadirnya tarekat Qadiriyah yang didasarkan pada sang pendiri Abd Qadir al-Jilani (1077-1166 M), seorang ahli fiqih Hanbalian yang memiliki pengalaman mistik mendalam. Setelah al-Jilani wafat, ajaran-ajarannya dikembangkan oleh anak-anaknya dan menyebar luas ke Asia Barat dan Mesir.[6] Tarekat Qadiriyah ini mengikuti corak tasawufnya al-Gazali, yaitu tasawuf suni.[7]

Meski marat di abad tersebut, embrio tarekat telah ada sejak abad ke 3 / 4 H dengan munculnya Malamatiyah yang didirikan oleh Hamdun Al-Qashshar, Taifiyah yang mengacu pada Abu YAzid al-Bistami, al-Khazzaziyah yang mengacu pada Abu Said al-Khazzaz. Namun tarekat-tarekat ini masih dalam bentuk yang sederhana.[8]

Sufisme abad 3-4 H merupakan kritik terhadap kemewahan hidup para penguasa dan kecenderungan orientasi hidup masyarakat muslim pada materialisme. Keadaan ini memberikan sumbangsih pada terjadinya degradasi moral masyarakat.[9] Keadaan politik yang penuh ketegangan juga memberikan peran bagi pertumbuhan sufisme abad tersebut. Dalam konteks ketegangan politik ini terdapat beberapa daerah yang berkeinginan memisahkan diri dari kekuasaan Bani Abbas. Ada dua model pemisahan tersebut: pertama, secara langsung memberontak. Ini dilakukan oleh sisa-sisa kekuatan Umayyah yang selamat. Mereka mendirikan kekuatan baru di Andalusia. Halserupa juga dilakukan oleh Bani Idrisiah di Maroko. Cara kedua dengan pembangkangan membayar upeti kepada kekuasaan pusat. Daerah-daerah ini secara perlahan kemudian memisahkan diri dari pusat atau sekedar mengakui pusat secara formalitas. Ini dilakukan oleh, seperti, Daulah Aghlaliyah di Tunis dan Tahiriyah di Khurasan.[10]

Kondisi politik yang tegang tersebut tidak lepas dari ketidakmampuan pemimpin Abbasiyah mengendalikan para pembantunya. Bahkan para pemimpin Abbasiyah hanya menjadi pemimpin secara de jure, de facto-nya yang memimpin adalah pejabat-pejabat dari bangsa-bangsa yang banyak masuk kekuasaan, seperti Arab, Persia, atau Turki. Seperti diketahui kekuasaan pemerintahan di tangan Bani Abbas secara total terjadi di awal pemerintahan, yaitu pada pertengahan abad ke 8 hingga pertengahan abad ke 9 M, dan di akhir pemerintahan ketika kekuasaannya hanya tersisa di sekitar Baghdad pada awal abad ke 11 hingga pertengahan abad ke 13 M. Di antara kedua era tersebut Bani Abbas hanya menjadi simbol kekuasaan, pengambil dan pelaksana kebijakan bergilir dan bersaing antara bangsa Arab, Persia, dan Turki. Di tengah kedua era tersebut semangat chauvinisme begitu kuat di tengah masyarakat.[11]

Maraknya praktek sufisme dan tarekat di abad ke 12-13 M juga tidak lepas dari dinamika sosio-politik dunia Islam. Abad ke 11-13 M merupakan zaman disintegrasi politik Islam. Kekuasaan khalifah menurun dan akhirnya Baghdad dirampas dan dihancurkan oleh Hulagu Khan di tahun 1258. Kekhalifahan sebagai lambang persatuan umat Islam telah tiada. Di abad ke 13-15 M disintegrasi semakin meningkat. Pertentangan antara Syiah-Sunni dan Arab-Persia semakin meningkat. Dan umat Islam pun memasuki “the dark ages”-nya.[12]

Di tengah instabilitas politik inilah sebagian umat Islam mencoba mempertahankan tradisi keberislamannya dengan melakukan oposisi diam (silent opposition) dengan menyebarkan aspek esoterisme Islam ke tengah-tengah masyarakat dalam bentuk tarekat-tarekat. Sikap ini dapat diperbandingkan dengan respons umat Islam Nusantara terhadap kekuasaan kolonial Belanda dengan mendirikan pesantren-pesantren untuk mempertahankan identitas dan praktek keberislaman mereka.[13]

Perkembangan tarekat dibagi oleh Harun Nasution menjadi tiga, yaitu: 1. tahap Khanaqah, di mana para shaykh mempunyai sejumlah murid yang hidup secara bersama-sama di bawah peraturan yang tidak terlalu ketat. Shaykh menjadi murshid yang dipatuhi. Kontemplasi dan latihan-latihan spiritual dilakukan secara individual dan kolektif. Ini terjadi sekitar abad ke 10 M;[14] 2. tahap tariqah di abad ke 13 M. Di tahap ini ajaran-ajaran, peraturan, dan metode-metode tasawuf di tarekat telah dimapankan. Juga muncul pusat pengajaran tasawuf dengan silsilahnya masing-masing; 3.tahap taifah. Terjadi sekitar abad ke 15 M. Di sini terjadi transmisi ajaran dan peraturan kepada pengikut. Muncul juga tarekat dengan cabang-cabang di tempat lain. Di tahap ini tarekat memiliki makna sebagai organisasi sufi yang melestarikan aaran shaykh tertentu.[15]

Keanggotaan Tarekat

Guru (shaykh, master) dalam tarekat biasanya bertempat tinggal atau mengajar di tempat yang sering disebut Zawiyah atau Ribat di Arab, Khanaqah di India dan Persia, dan Tekke di Turki, sebagai pusat aktivitas. Untuk menjadi anggota tarekat terdapat beberapa syarat: 1. keputusan bergabung harus benar-benar lahir dari kesadaran sendiri; 2. semua harta harus ditinggalkan untuk keperluan tarekat, keluarga, atau orang miskin; 3. kepatuhan total kepada sang guru.

Setiap anggota harus melewati masa percobaan baru kemudian menjadi anggota resmi. Terdapat beberapa tahapan yang akan dilalui oleh anggota: murid-salik-majdzub (terikat jalan sufi)-mutadarak (diselamatkan dari kejahatan dan godaan dunia). Ada beberapa posisi dalam keanggotaan tarekat, yaitu: mubtadi’ (pemula), mutaraij (praktisi yang sukses), shaykh (guru), qutb (otoritas tertinggi dalam tarekat dengan semua cabangnya).[16] Di masa lalu terdapat dua model keanggotaan tarekat: 1. anggota resmi yang mencurahkan hidupnya menjalani praktek sufisme secara total. Mereka ini hidup di pusat aktivitas sufisme dekat dengan gurunya; 2. anggota biasa yang secara frekuently datang ke guru untuk mendapatkan perintah baru. Mereka dibolehkan mengambil kehidupan normal duniawiah. Kelompok terakhir ini menjadi pendukung finansial utama bagi Zawiyah.[17]

Setelah melewati tahapan-tahapan dalam tarekat, seorang anggota akan mendapat ijazah dari guru untuk dapat mengajarkan ajaran tarekat kepada orang lain. Maka, anggota tarekat tersebut telah menjadi shaykh/guru. Keberadaan ijazah menjadi sangat penting dalam tarekat. Seseorang yang mengajarkan ajaran tarekat tanpa ijazah dalam pengajarannya akan mengakibatkan kerusakan, bukan kebaikan.[18]

Dengan berposisi sebagai guru, secara otomatis orang tersebut harus mentaati norma-norma ke-guru-an. Maka seorang shaykh tidak bisa berbuat seenaknya meski ia mempunyai otoritas yang besar. Atjeh menyebutkan 24 norma yang mengikat shaykh, di antaranya: alim di bidang aqidah, tawhid dan fiqih; arif dalam segala sifat-sifat kesempurnaan hati, adab-adabnya, kegelisahan jiwa dan pengobatannya; mempunyai rasa kasih sayang kepada orang Islam khususnya kepada sang murid; menjaga rahasia sang murid; tidak boleh memerintah dan melarang sang murid dengan sesuatu hal kecuali perintah tersebut layak dilakukannya atau larangan tersebut layak ditinggalkannya sendiri; segala ucapan dan perilakunya harus bersih dari nafsu, dan sebagainya. Demikian juga dengan murid, ia memiliki norma sendiri. Di antara norma sebagai murid adalah: menyerahkan diri sepenuhnya kepada guru; tidak boleh menentang atau menolak perintah guru; segala aktivitas tidak boleh terlepas dari pantauan guru; tidak boleh menyembunyikan segala sesuatu yang terjadi pada dirinya kepada sang guru.[19]

Silsilah dalam Tarekat

Seperti fungsi sanad dalam hadis, keberadaan silsilah dalam tarekat berfungsi menjaga validitas dan otentisitas ajara mistik agar tetap merujuk pada sumbernya yang pertama, Rasulullah Muhammad Saw. Kebanyakan tarekat mengaitkan silsilah mereka kepada Rasulullah Saw melalui sahabat Ali bin Abi Thalib, kecuali Naqsyabandi yang melalui Abu Bakar Siddiq. Di bawah Imam Ali terdapat empat khalifah: Imam Hasan, Hussein, Kumayl bin Ziyad, dan Hasan al-Bashri. Dua imam yang pertama adalah anak-anak Imam Ali Kw. Kedua imam itu memiliki khalifah dari jalur keturunan mereka. Mereka dikenal sebagai aimah ahl bayt. Sedangkan Imam Hasan al-Bashri memiliki beberapa khalifah, dua di antaranya yang terkenal adalah: Abd al-Wahid bin Zayd dan Habib ‘Ajami atau Habib al-Farsi.[20]

Terdapat banyak salasul. Rabbani menyebutkan setidaknya ada lebih dari 40 salasul. Dua belas salasul yang terkenal adalah:

  1. Silsilah Qadiriyah. Nama ini merujuk pada Abd al-Qadir al-Jilani, ia adalah khalifah dar Abu Said Makhzumi, khalifah dari Abu al-Hasan Ali al-Qarshi, khalifah dari Abu al-Farah al-Tartusi, khalifah dari Junayd al-Baghdadi bersambung terus sampai Imam Ali. Al-Jilani meminta jubah kekhalifahan melalui jaringan keturunan Imam Hasan bin Abi Thalib dengan 11 jaringan di antaranya.
  2. Silsilah Yasuya. Dipimpin oleh Ahmad Yasui yang dikenal sebagai “Shaykh of Turkistan”. Dia adalah khalifah Yusuf Hamdani, khalifah Ali Farmadi (Shaykh Abu Hamid al-Gazali), khalifah Abd al-Qasim Gorgani, khalifah Abu Usman Maghribi, khalifah Abu Katib, khalifah Abu Ali Rodbari, khalifah Junayd Baghdadi terus hingga ke Imam Ali. Ahmad Yasui juga memperoleh jaringan ke Imam Ali dari para shaykh melalui Muhammad Hanafiyah, anak Imam Ali dari istri lainnya.
  3. silsilah Naqshabandiyah. Dinamai dengan nama Bahau al-Din Naqshaband. Dia adalah khalifah Amir Syed Kalal, khalifah Muhammad Samasi, khalifah Ali Ramatani, khalifah Mahmud Abu Khayr Faghnavi, khalifah Arif Regviri, khalifah Abd al-Khaliq Ghayidwani, khalifah Yusuf Hamdani, khalifah Ali farmadi, khalifah Abu al-Qasim Gorgani, yang berjaring ke atas dengan Junayd al-Baghdadi dengan 3 jaringan di antaranya. Abu al-Qasim juga berjaringan ke atas dengan Abu Bakar melalui Abu al-Hasan Khargani, Abu Yazid al-Bistami, dan Ja’far Shiddiq.
  4. Silsilah Nuriyah. Dinamai dengan Shaykh Abu al-Hasan Nuri. Dia adalah khalifah dari Sari Saqti.
  5. Silsilah Khazruyah. Diambil dari nama Ahmad Khazruya yang merupakan khalifah dari Hatim Asum, khalifah Saqiq Balkhi, khalifah Muhammad Ali Ishqi, khalifah Ibrahim Adham yang menerima kekhalifahan dari Fudhayl bin Ayyas sebagaimana Imam Muhammad Baqir, cucu Imam Hussein.
  6. Silsilah Shattariyah. Dari Muhammad Arif, khalifah Muhammad Ali Ishqi, khalifah Shaykh Khuda Qali Mawara al-nahri, khalifah Abd al-Hasan al-Ishqi, khalifah Abi Mudhaffar Mawlana Turk Tusi, khalifah Bayazid al-Ishqi, khalifah Muhammad Maghribi, khalifah Abu Yazid al-Bistami hingga Imam Ali.
  7. Silsilah Sadat Karram. Pemimpin silsilah ini adalah Jalal al-Din Bukhari, khalifah leluhurnya dari imam-imam Ahl al-Bayt dengan 15 jejaring antara dia dan Imam Ali. Dia menerima lebih dari 2 jubah kekhalifahan. Satu dari Shaykh Rukun al-Din Suhrawardi, cucu dari Bahau al-Din Multan, yang lain dari Shaykh Nasir al-Din khalifah dari Nizam al-Din Awlia, khalifah Baba Farid al-Din Ganjshaker, khalifah dari Qutb al-Din Bakhtiar, khalifah Muin al-Din Ajmeri..
  8. silsilah Zahidiyah. Dari Badr al-Din Zahid yang merupakan khalifah Sadr al-din Samarqand, khalifah Abd al-Qasim, khalifah Qutb al-Din Abd al-Majid, khalifah Abu Ishaq Gazruni, khalifah Hussain Bazyar dari Herat, khalifah Muhammad Roem, khalifah Junayd Baghdadi hingga ke Imam Ali.
  9. Silsilah Anshariyah. Dimulai dari Abd Allah Anshari, khalifah dari Abd al-Hasan Qirqani, khalifah Abi Yazid Bistami. Dia juga menyambung dari Abu al-Abbas Qassab, khalifah dari Abu Muhammad Abd Allah Tabri, khalifah Abu Muhammad al-Dariri, khalifah Junayd Baghdadi hingga ke Imam Ali.
  10. Silsilah Safwiyah. Dari Safi’ al-Din Ishaq, khalifah Zahid, khalifah Jamal al-Din Tabrizi, khalifah Shihab al-Din Abhari, khalifah Rukun al-Din Sajjazi, khalifah Qurb al-Din Abhari, khalifah Abu Najib Suhrawardi yang menyambung hingga ke Junayd Baghdadi sampai ke Imam Ali.
  11. Silsilah Idrusiyah. Dari Mir Abd Allah al-Makki Idrusi, dia adalah khalifah dari Abu Bakar, khalifah Abd al-Rahman, khalifah dari Shaykh Mawla, khalifah Ali, khalifah Shaykh Alwi, khalifah Muhammad bin Ali, khalifah Abu Muhammad Maghribi, berjenjang ke atas sampai ke Junayd Baghdadi. Shaykh Idrus juga menerima kekhalifahan dari silsilah Suhrawardi.
  12. Silsilah Qalandariyah. Silsilah ini berada di beberapa shaykh yang memiliki beberapa silsilah. Dikenal dengan Qalandariyah karena anggotanya merupakan kaum Qalandari (kaum sufi mabuk). Beberapa Qalander adalah: Muhammad Qalander, Shaykh Haidar Qalander, Hussein Balkhi, Shaykh Tabrizi, Fakhr al-Din Iraqi, dll.[21]

Penutup

Tarekat merupakan gerakan sosial yang terus mengalami perkembangan seiring dengan perubahan waktu dan tempat berpijaknya. Tulisan ini hanya sekedar catatan awal yang mencoba mengantarkan kita memasuki gerbang pengetahuan tentang tasawuf dan, khususnya, gerakan tarekat. Ada banyak hal yang belum tersentuh oleh tulisan ringkas ini. Tentunya, hal ini membuka pintu-pintu bagi penulis lain untuk mengungkapkannya secara jelas dan terperinci. Allahu A`lam.



[1] Louis Ma’luf, Al-Munjid fi al-Lugah wa al-A’lam (Beirut: Dar al-Mashriq, 1992), 565

[2] Jean Louis Michon, “Praktek Spiritual Tasawuf” dalam Syed Hossein Nasr (ed), Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, terj. Rahmani Astuti (Bandung: Mizan, 2002), 357-394

[3] Carl W Ernst, The Shanbala Guide to Sufism (Boston&London: Shanbala Publ., 1997), 120

[4] Fazlur Rahman, Islam (Chicago & Lonon: University of Chicago Press, 1979), 156-157s

[5] Ibid., 156

[6] William Montgomery Watt, Islam, terj. Imron Rosyidi (Yogyakarta: Jendela, 2002), 158

[7] Alwi Shihab, Islam Sufistik (Bandung: Mizan, 2001), 172

[8] Ibid.

[9] Aboe Bakar Atjeh, Pengantar Ilmu Tarekat (Solo: Ramadhani, 1993), 74

[10] Lihat CE Bosworth, Dinasti-dinasti Islam, terj. Ilyas Hasan (Bandung: Mizan, 1993), 29-30. Juga Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: PT Raja Grafino Persada, 2000), 64

[11] Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab (Ciputat: Logos, 1997), 89

[12] Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), 13-14. Menyebut abad tersebut sebagai abad kegelapan sesungguhnya kurang tepat mengingat saat itu umat Islam juga menghasilkan banyak karya di bidang sastra dan arsitektur. Untuk mengetahui lebih jauh kondisi umat Islam abad pertengahan, baca Syafiq A Mughni, Dinamika Intelektual Islam pada Abad Kegelapan (Surabaya: LPAM, 2002).

[13] Mengenai sikap umat Islam Nusantara tersebut, baca Azyumardi Azra, Pendidikan Islam (Jakarta: Logos, 1999), terutama bagian kedua.

[14] Tahapan pertama ini adalah lingkaran murid mengelilingi gurunya yang disebut Khanaqah, Zawiyah, Khalwa atau Ribat. Meski memiliki pengertian yang sama, yaitu biara sufi, istilah-istilah tersebut mengandungi sedikit perbedaan. Khanaqah lebih merupakan tempat peristirahatan bagi traveller sufi atau jamaah haji. Tempat ini digunakan pertemuan dan shalat secara berkala ketika anggota lingkaran bepergian selama setahun atau lebih. Di Khanaqah, dalam hubungan guru-murid, tidak secara kaku tersentral pada figur guru. Official Khanaqah berperan lebih sebagai adiministrator dari pada sebagai pengembara ruhani. Ribat didirikan di daerah perbatasan sebagai biara Muslim di lingkungan non-Muslim. Figur shaykh menjadi pusat aktivitas. Sedang Zawiyyah berbentuk lebih kecil dan berpusat pada shaykh. Zawiyyah awalnya tidak permanent, khususnya ketika sang guru bepergian. Baca J Spencer Trimingham, The Sufi Orders in Islam (London, Oxford & New York: Oxford Univ Press, 1973), 5, 6, 166, 168, dan 169

[15] Harun Nasution, Islam Rasional (Bandung: Mizan, 1996), 366

[16] Ismail Raji’ al-Faruqi, Atlas Budaya Islam, terj. Ilyas Hasan (Bandung: Mizan, 1998), 328

[17] Rahman, Islam, 157

[18] Atjeh, Pengantar, 80

[19] Ibid, 79-89

[20] Wahid Bakhsh Rabbani, Islamic Sufism (Kuala Lumpur: AS Noordeen, 1995), 264. Dalam buku tersebut tidak ada penjelasan tentang khalifahnya Kumayl.

[21] Ibid, 268-273

Marhaban Ya Ramadan Show

Marhaban Ya Ramadan Show

Marhaban ya Ramadan. Bulan suci itu kembali tiba. Ia menyapa kita dengan segala keagungannya. Dan seperti biasanya, Ramadan membuat segala yang ada di sekitar kita berubah. Tiba-tiba banyak orang menjadi saleh, dermawan, rajin ke masjid, santun, dan sabar. Masjid dan kegiatan keagamaan penuh oleh jamaah. Dan media elektronik (TV) pun berlomba-lomba menyajikan tayangan religi spesial Ramadan.

Alhasil, Ramadan seolah-olah menjadi panggung teater yang menyajikan drama kesantunan, moralitas, religiusitas, dan kemanusiaan. Tontotan ini tentu saja semakin meyakinkan kita betapa sebenarnya Ramadan adalah bulan keajaiban yang memiliki energi dahsyat untuk menggulung segala realitas yang ada di depannya. Dapat diibaratkan, Ramadan adalah luapan lumpur panas Lapindo yang menenggelamkan budaya pragmatisme dan hedonisme masyarakat kita.

Kita boleh saja berbangga dengan aura Ramadan yang begitu bergelora. Namun, di balik semangat itu, kita patut bersedih melihat betapa sesungguhnya Ramadan telah dibajak dan dijadikan komoditas belaka.

Mirror Image

Erving Goffman mengibaratkan perilaku manusia bagai panggung teatrikal di mana lingkungan masyarakat menjelma menjadi sebuah panggung drama, dan orang-orang di dalamnya bertindak sebagai aktor yang menyusun performa mereka untuk memberi kesan kepada penonton. Persis seperti permainan sinetron, setiap aktor harus menjalankan perannya dalam skema yang telah ditentukan.

Dramaturgi ala Goffman tersebut tampak jelas pada Ramadan saat ini. Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini semua stasiun TV sangat antusias menyambut Ramadan dengan menyajikan berbagai program spesial.

Menurut catatan Kompas (16/08/09), Ramadan kali ini RCTI menyajikan sinetron Baim Anak Sholeh, Manohara, dan reality show Dahsyat. Di SCTV ada sinetron Para Pencari Tuhan 3 dan Cinta Fitri season Ramadan. ANTV menyajikan Happy Sahur dan Sambil Buka Yuk dengan tokoh utama Eko Patrio. TPI menyajikan Kuis Berhadiah 1 M, Hur Sahur, dan Dag Dig Dug Nunggu Bedug. Saatnya Kita Sahur di Trans TV, Opera Sahur di Trans7, dan Sahur Show di Indosiar.

Dengan sajian-sajian itu, sesungguhnya pihak stasiun TV sedang berjumpalitan di atas panggung drama demi menampilkan citra sebagai media yang religius dan peduli terhadap pemirsanya.

Namun seperti layaknya panggung sandiwara, sajian-sajian tersebut hanyalah, meminjam istilah yang digunakan Jacques Lacan, mirror image, atau representasi maya dari diri sang lakon (pengelola stasiun TV). Apa yang tampak hanyalah permainan yang akan segera selesai jika panggung telah ditutup. Dan benar saja, ketika panggung Ramadan selesai, semua stasiun TV kembali ke wajah aslinya.

Tontonan

Fenomena ini sebenarnya bukan monopoli media elektronik belaka. Hampir seluruh elemen bangsa ini telah terjangkiti penyakit seperti itu. Lihat saja, para selebritis yang begitu sopan atau para pejabat yang mendadak akrab pada rakyat saat Ramadan, kembali ke wajah aslinya begitu Ramadan usai. Mungkin kita juga sama seperti mereka.

Kondisi seperti ini terjadi karena Ramadan, yang merupakan momen introspeksi dan transformasi diri, telah terdevaluasi menjadi sekedar budaya massa. Menurut Kuntowijoyo (2002), budaya massa terjadi akibat sektor budaya mengalami industrialisasi dan komersialisasi. Budaya ini dicirikan oleh tiga hal: objektivikasi, alienasi, dan pembodohan.

Objektivikasi artinya pemilik nilai kebudayaan hanya menjadi objek yang tidak memiliki peran apa-apa dalam pembentukan simbol budaya. Ia hanya menerima produk budaya sebagai barang jadi dan tidak boleh berperan dalam bentuk apapun. Dengan kondisi seperti ini, ia mengalami alienasi (perasaan terasing dari kenyataan hidup) dan tidak mendapatkan pengalaman baru yang dapat dipetik sebagai pelajaran hidup yang berguna (pembodohan).

Dalam konteks ini, ketika Ramadan masuk dalam mesin industrialisasi dan komersialisasi, kaum muslimin sebagai pemilik nilai-nilai Ramadan dipaksa duduk sebagai objek kebudayaan oleh kaum kapitalis. Kelompok terakhir ini memproduksi simbol-simbol budaya Ramadan melalui media, terutama TV, dengan tanpa mempedulikan makna suci Ramadan, demi meraih keuntungan material. Maka tidak heran jika banyak tayangan spesial Ramadan di berbagai stasiun TV jauh dari makna Ramadan.

Akibatnya, publik merasa asing dengan semua tayangan itu dan tidak mendapatkan pencerahan ruhani meski telah banyak melahap tayangan yang disajikan. Dan tayangan spesial Ramadan pun terdevaluasi dari tuntunan menjadi sekedar tontonan. Marhaban ya Ramadan show.#

RAMADAN, PESTA SPIRITUAL ATAU KESERAKAHAN?

RAMADAN,
PESTA SPIRITUAL ATAU KESERAKAHAN?

Ketika Ramadan datang, tiba-tiba aura kehidupan di sekitar kita berubah drastis. Spanduk ucapan selamat berpuasa bertebaran di berbagai sudut kota. Masjid dan musholla tidak mampu menampung jumlah jamaah. Dan berbagai kegiatan keislaman penuh sesak oleh antusiasme peserta.

Banyak orang tiba-tiba menjadi alim dan saleh. Para artis dan pejabat tampil ke muka publik dengan memakai kerudung, baju takwa, atau kopyah. Mereka seolah-olah tampak begitu dekat dengan Tuhan. Suasana ini diperkuat oleh media cetak dan elektronik yang menyajikan berbagai program khusus selama Ramadan.
Fenomena itu menyampaikan pada kita, bahwa manusia sesungguhnya memiliki titik ketuhanan (God spot) yang secara primordial menjadi bagian tak terpisahkan dalam dirinya. Titik yang selalu mengajak manusia kepada Tuhan itu tidak akan pernah hilang dari ruang jiwa manusia. Tapi sayang, ritualisme kehidupan material memendam titik itu di dasar jiwa sehingga manusia lupa pada tujuan primordial penciptaannya.
Ibarat luapan lumpur panas Lapindo, puasa menjadi bor yang membongkar kerak-kerak tanah yang memendam titik ketuhanan itu dan meluapkan antusiasme keagamaan. Dan Ramadan pun menjadi semacam pesta-pora spiritualitas umat manusia.
Misi suci Ramadan itu sesungguhnya tercermin dalam makna kata “Ramadan” itu sendiri. Secara literal, Ramadan bermakna membakar atau panas. Dalam makna ini Ramadan dapat dipahami sebagai momen pembakaran diri manusia dari berbagai kerak kehidupan yang menutupi titik ketuhanan itu. Dengan pembakaran itu diharapkan titik ketuhanan kembali menjadi pusat kehidupan yang mengendalikan segala aktivitas manusia.

Disorientasi
Namun sayang, misi suci tersebut mengalami disorientasi dalam kehidupan nyata. Beberapa saat sebelum Ramadan, harga barang-barang kebutuhan pokok tiba-tiba menggeliat naik. Kenaikan harga itu terus terjadi hingga usai Ramadan. Kenapa naik? Salah satu sebab adalah naiknya tingkat konsumsi masyarakat menjelang dan selama Ramadan.
Kenyataan ini tentu saja cukup aneh mengingat puasa melatih kita mengendalikan diri dari makan minum. Dengan model seperti ini seharusnya tingkat konsumsi menjadi turun, bukan malah naik.
Memang, di siang hari kita dilarang makan-minum, tetapi naifnya,
kita kemudian balas dendam dengan memuaskan nafsu keserakahan di malam harinya. Kita lupa, bahwa larangan makan-minum itu sesungguhnya mengajarkan kita untuk tidak serakah serta melatih kepekaan sosial, bukan sebuah izin pemuasan nafsu di malam hari.
Inilah paradoks Ramadan. Paradoks ini dimanfaatkan kaum kapitalis yang menjajakan berbagai produknya dengan menumpang momen suci itu. Maka jangan heran bila selama Ramadan iklan di berbagai TV dan media cetak dipenuhi oleh produk makanan-minuman, pakaian, dan berbagai kesenangan konsumtif lainnya. Pun demikian, berbagai pusat perbelanjaan menawarkan diskon khusus selama Ramadan agar masyarakat tergoda menghamburkan uangnya.
Antusiasme konsumerik itu pun dilihat oleh pemilik media massa sebagai peluang mengumpulkan keuntungan sebesar-besarnya. Mereka kemudian menawarkan berbagai program Ramadan yang bisa menarik iklan sebesar-besarnya. Dan sudah menjadi umum, program yang bisa menyedot iklan besar dan diminati masyarakat adalah program hura-hura yang jauh dari nilai edukasi Ramadan.
Puncak dari parade konsumerisme itu terjadi di hari-hari terakhir Ramadan. Jika di awal Ramadan terjadi ledakan spiritualitas di mana masjid dan berbagai aktivitas keagamaan disesaki jamaah, maka akhir Ramadan menjadi titik balik ledakan itu. Menjelang usainya bulan suci itu, masjid-masjid kembali sepi karena jamaahnya berbondong-bondong memuaskan nafsu keserakahannya di berbagai pusat perbelanjaan.
Dan Ramadan yang seharusnya menjadi momen pesta-pora spiritualitas pun terdevaluasi menjadi momen pelampiasan nafsu keserakahan. (*)

Awasi Dakwah Melanggar HAM


Ketua Komisi Nasional (Komnas) Hak Asasi Manusia (HAM), Ifdhal Kasim, menilai pengawasan terhadap pendakwah merupakan bentuk pelanggaran HAM. Ia punberpendapat pola ini seperti era Orde Baru.

"Saya kira kita mundur lagi ke Orde Baru dengan keinginan untuk melakukan pengawasan terhadap dakwah," katanya kepada Republika, Jumat (21/8). Menurut dia dakwah merupakan wilayah agama yang tidak bisa diintervensi oleh pemerintah ataupun negara.

"Saya rasa kurang tepat melakukan pengawasan terhadap dakwah. Kita mendukung usaha pemerintah memberantas teroris tapi pemerintah juga jangan terlalu panik. Jangan lewati prinsip-prinsip HAM yang dijamin dalam institusi kita," ungkapnya.

Jadi, lanjut Ifdhal, tidak perlu ada pengawasan terhadap dakwah karena akan berimplikasi terhadap penyelewengan atau rawan disalahgunakan. "Biarkan agama menjalankan kegiatannya," kilahnya.

Menurut Ifdhal, pengawasan ini akan membuat para tokoh agama takut berdakwah. Mereka akan selalu mengontrol materi dakwah mereka dan takut oleh pengawas. Ia juga menegaskan pentingnya kepolisian, Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan sejumlah ormas Islam untuk bersinergi mengupayakan pemberantasan teroris. "Perlu ada kontrol dari dalam juga," katanya.


Terorisme Tidak Dikaitkan Islam
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Din Syamsuddin, kembali mengingatkan bahwa terorisme jangan dikaitkan dengan Islam karena agama ini cinta damai.

"Islam itu penuh kedamaian maka perang melawan teroris jangan dikaitkan dengan Islam," katanya pada tablig akbar di Masjid Jami` Baitussalam di Dusun Beji, Desa Kedu, Temanggung, Jawa Tengah, Jumat.

Masjid Jami` Baitussalam berjarak sekitar 200 meter dari rumah Muhdjahri.

Muhdjahri yang anggota Muhammadiyah ini sempat diamankan polisi karena rumahnya dijadikan tempat persembunyian Ibrohim, teroris yang dilumpuhkan Densus 88 Antiteror melalui penggerebekan selama 17 jam pada 7 dan 8 Agustus lalu.

Ia mengatakan, umat Islam harus membuktikan bahwa Islam penuh kedamaian, begitu juga umat Islam di Dusun Beji, Kedu ini.

Menurut dia, Muhammadiyah dan umat Islam pada umumnya mendukung perang terhadap teroris, tetapi terorisme jangan dikaitkan dengan agama Islam.

Terkait bom bunuh diri yang dilakukan para teroris, dia menyatakan hal itu bukan merupakan tindakan jihad.

"Mati sahid dengan cara bom bunuh diri adalah haram, tidak dibenarkan," katanya.

Ia mengatakan, jihad merupakan ajaran mulia dalam Islam, bukan mudah menghilangkan nyawa diri sendiri atau orang lain.

Pada tablig akbar yang dihadiri ratusan umat Islam baik dari Beji, Kedu, dan sekitarnya itu, Din menyatakan berterima kasih kepada pihak kepolisian yang telah membebaskan Muhdjahri karena tidak terbukti bersalah ikut dalam jaringan teroris.

"Kami juga berterima kasih bahwa selama di Mabes Polri Muhdjahri mendapat pelayanan dengan baik bahkan waktu berangkat dan pulang dengan pesawat terbang," katanya.

Ia berharap kepada masyarakat agar menerima kembali Muhdjahri yang selama ini merupakan tokoh masyakat di Beji karena tidak terbukti bersalah.

Usai menjadi pembicara pada tablig akbar yang juga dihadiri Bupati Temanggung, Hasyim Afandi tersebut, Din menyempatkan diri untuk melihat rumah Muhdjahri yang porak poranda dan ditutup dengan seng serta diberi garis polisi.

Pengamat kepolisian, Neta S Pane, yang juga komisioner Indonesian Police Watch (IPW) tak sepakat upaya polisi untuk mengawasi kegiatan dakwah. Hal itu dianggap langkah mundur bagi demokrasi.

Semestinya, pengawasan terhadap dakwah tersebut bukan tugas polisi, melainkan para pendakwah itu sendiri. "Kalau dakwah diawasi, berarti kita kembali lagi ke zaman rezim Orde Baru," ujar Neta saat dihubungi Republika, Jumat (21/8) malam.

Kata dia, pengawasan terhadap dakwah seharusnya dilakukan oleh para ulama. Neta yakin, bahwa ulama yang tidak setuju dengan paham-paham ekstrem di Indonesia jumlahnya jauh lebih banyak. Untuk itulah, menurut dia, seharusnya pengawasan dakwah diserahkan pada mayoritas ulama tersebut dan bukannya kepolisian.

Lain halnya dengan ormas-ormas keagamaan yang punya kecenderungan main hakim sendiri. Seperti terjadi tahun lalu, beberapa ormas Islam di tanah air tercatat sempat melakukan penrusakan dan razia di tempat-tempat yang dianggap maksiat.

"Seharusnya ormas yang seperti ini perlu berkoordinasi dengan polisi. Dilaporkan dulu mana saja tempat-tempat yang meresahkan mereka, baru biarkan polisi yang menangani," paparnya. Ant/c82/rif


Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1430 H

Marhaban Ya Ramadhan… Tak terasa kita berjumpa lagi dengan bulan yg Agung ini, dimana bulan ini penuh berkah dari Allah SWT. Untuk itu, saya coba berikan jadwal imsakiyah berikut agar ibadah puasa kita di bulan Ramadhan tidak lalai. > Berikut Jadwal Imsakiyah Versi Rukyatulhilal: * Jadwal...

[[ This is a content summary only. Visit my website for full links, other content, and more! ]]

Potret Para Ulama Gunakan Waktu


Nikmat waktu adalah nikmat yang sangat besar, akan tetapi banyak orang yang menyia-nyiakannya dengan menghabiskan untuk keperluan yang kurang penting atau bahkan sia-sia. Berikut sekelumit potret kehidupan para ulama dalam memaksimalkan waktu untuk amal-amal ketaatan.

Ibnu Mas’ud
Beliau salah seorang sahabat yang mulia, beliau pernah berkata, “Aku belum pernah menyesali sesuatu seperti halnya aku menyesali tenggelamnya matahari, dimana usiaku berkurang, namun amal perbuatanku tidak juga bertambah”


Amir bin Abdi Qais
Beliau seorang tabi’in yang zuhud. Ada seorang pria berkata kepadanya, “Berbincang-bincanglah denganku”. Amir bin Abdi Qais menjawab, “Tahanlah matahari” Artinya, “Cobalah hentikan perputaran matahari, jangan biarkan ia berputar, baru aku akan berbincang-bincang denganmu. Karena sesungguhnya waktu ini senantiasa merayap dan bergerak maju, dan setelah berlalu ia tak akan kembali lagi. Maka kerugian akibat tak memanfaatkan waktu adalah jenis kerugian yang tidak dapat diganti atau dicarikan kompensasinya. Karena setiap waktu membutuhkan amal perbuatan sebagai isinya”


Hammad bin Salamah (91 H - 167 H)
Musa bin Isma’il At-Tabudzaki pernah menuturkan, “Kalau aku mengatakan kepada kalian bahwa Hammad bin Salamah tak pernah tertawa, niscaya aku tidak berdusta. Beliau itu memang orang yang sangat sibuk. Kegiatannya hanya meriwayatkan hadits, membaca, bertasbih atau shalat. Beliau membagi-bagi waktu siangnya hanya untuk itu saja”

Muridnya sendiri, Abdurrahman bin Mahdi, pernah menuturkan, “Kalau ada orang yang berkata kepada Hammad bin Salamah, “Engkau akan meninggal besok”, niscaya Beliau tidak akan mampu lagi untuk menambah sedikitpun dalam amalnya”

Yunus bin Al-Mu’addab menegaskan, “Hammad bin Salamah meninggal dunia saat beliau shalat. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya

Muhammad bin Suhnun (202 H-256 H)
Al-Maliki menuturkan, “Muhammad bin Suhnun memiliki seorang sariyyah, budak wanita milik sendiri- yang bernama Ummu Mudam. Suatu hari ia bertandang ke rumahnya. Saat itu beliau sibuk menulis buku di malam hari. Datanglah saat santap malam. Budak itu meminta ijin masuk kamarnya, “Saya sedang sibuk’, ujar Muhammad.

Karena terlalu lama menunggu, maka sang budak menyuapkan makanan itu ke mulut Beliau sampai Beliau mengunyahnya. Hal itu berlangsung lama, dan Beliau tetap dalam kondisi demikan, hingga datang waktu shalat subuh.

“Maaf, aku sangat sibuk sehingga melupakanmu tadi malam wahai Ummu Mudam.Tolong berikan makanan yang engkau tawarkan tadi malam!” Tuanku, demi Allah, aku sudah menyuapkannya ke mulutmu”, ujar budak itu heran. “Lho, kok aku tidak merasakannya?”, tanya Muhammad lebih heran lagi

Ibnul Khayyath An-Nahwi (Wafat tahun 320)
Konon beliau belajar di sepanjang waktu, hingga saat beliau sedang berada di jalanan. Sehingga terkadang beliau terjatuh ke selokan atau tertabrak binatang.

Al-Hakim (Wafat 334 H)
Abu Abdillah bin Al-Hakim Asy-Syahid, putra beliau menuturkan tentang Bapaknya, “Beliau adalah orang yang gemar berpuasa Senin dan Kamis, dan tidak pernah meninggalkan shalat malam saat bepergian dan saat tidak bepergian. Bila duduk, maka pena, buku dan tinta selalu berada ditangannya. Beliau adalah menteri pembantu Sulthan. Ia bisa memberikan izin bertemu Sulthan bila orang itu belum mendapatkan izin. Kemudian beliau sibuk menyusun tulisan ilmiah. Bila sudah demikian, maka orang yang masuk menemuinya pasti hanya berdiri saja. Hal itu dikeluhkan oleh Abul Abbas bin Hammuyah, ‘Kami biasa masuk menemui Beliau, tapi Beliau tidak menyapa kami sedikitpun. Beliau hanya mengambil pena dengan tangannya sendiri, dan membiarkan kami berdiri di pojok rumahnya’.”

Al-Hakim Abu Abdillah Al-Hafizh, penulis Al-Mustadrak, menceritakan, “Aku pernah hadir pada pengajian malam saat Al-Hakim Abul Fadhal mendiktekan hadits. Tiba-tiba masuk Abu Ali bin Abu Bakar bin Al-Muzhaffa, seorang amir. Ia berdiri di dekat Beliau, namu Beliau tak sedikitkpun bergeming dari tempatnya. Kemudian beliau memaksanya keluar dari pintu depan., ‘Hai Amir, pergi saja, hari ini bukan giliran Anda!’”

Begitulah sebagian potret kehidupan ulama dalam memanfaatkan waktu, bagaimana dengan kita?

Sumber: Sungguh Mengagumkan Manajemen Waktu Para Ulama, Syaikh Abdul Fattah. Penerbit: Zam-Zam

Kalender Islam, Kerumitan Menghitungnya


Meskipun kali ini tahun baru Islam dan tahun baru Masehi hampir berdempetan namun kedua sistem penanggalan itu jelas berbeda.Tahun baru Masehi berdasarkan perhitungan semu matahari (syamsiah) mengelilingi bumi, sedangkan tahun baru Islam menggunakan acuan bulan (qomariah).Kalender Islam yang dimulai dengan bulan Muharam itu ditentukan berdasarkan penampakan hilal (bulan sabit pertama) sesaat sesudah matahari terbenam.

Dibandingkan dengan sistem penanggalan masehi yang berdasarkan hitungan pergerakan matahari, kalender bulan ini memiliki sistem yang lebih mudah diamati.Kemudahan itu dalam menentukan awal bulan dan kemudahan dalam mengenali tangggal dari perubahan bentuk dan fase bulan.

Menurut anggota Islamic Crescent's Observation Project (ICOP), Mutoha, dalam perjalanannya mengelilingi bumi, fase bulan akan berubah dari bulan mati ke bulan sabit, bulan separuh, bulan lebih separuh, purnama, bulan separuh, bulan sabit, dan kembali ke bulan mati. Satu periode dari bulan mati ke bulan mati, lamanya 29 hari 12 jam 44 menit 3 detik (29,5306 hari); periode itu disebut dengan satu bulan. Panjang tahun dalam kalender bulan adalah 12 bulan (12 x 29.5306 hari), yakni 354 hari 8 jam 48 menit 34 detik (354,3672 hari).

Kalender bulan tertua yang diketahui berusia 17 ribu tahun dengan bukti keberadaan kalender ini terpahat di dinding Gua Lascaux, Perancis, ujarnya.Sedangkan kalender matahari menekankan pada keajegan (konsistensi) terhadap perubahan musim, tanpa memperhatikan tanda perubahan hariannya. Kalender ini menggunakan matahari sebagai patokan. Satu tahun terdiri atas 365 hari 5 jam 48 menit 46 detik (365.2422 hari) atau lamanya waktu yang diperlukan bumi untuk mengelilingi matahari.

Kelebihan kalender ini adalah, kesesuaiannya dengan musim, ia mencontohkan Indonesia, yang biasa mengalami musim kemarau antara bulan April hingga Oktober. Karenanya, kalender ini digunakan sebagai pedoman beraktivitas sehari-hari seperti bercocok tanam atau menangkap ikan.Namun berbeda dengan kalender matahari, dengan kalender bulan, orang awam bahkan bisa menentukan kapan pergantian bulan sehingga sistem kalender tradisional banyak yang bertumpu pada kalender bulan.

Menurut Pakar Astronomi dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin, karena waktu ibadah sifatnya lokal, penentuannya yang berdasarkan penampakan hilal memang merupakan cara yang termudah.
Masyarakat di suatu tempat cukup memperhatikan kapan hilal teramati untuk menentukan saat ibadah puasa Ramadan, beridul fitri, beridul adha, atau saat berhaji (khusus di daerah sekitar Mekkah)."Bahkan seandainya cuaca buruk sehingga sulit melihat bulan, Nabi Muhammad SAW memberikan petunjuk praktis: genapkan bulan sekarang menjadi 30 hari, karena tidak mungkin bulan qamariyah lebih dari 30 hari," katanya.

Karena sifatnya lokal, apapun keputusan di suatu daerah sah berlaku untuk daerah itu. Daerah lain mungkin saja berbeda, tambahnya.

Membingungkan
Menurut dia, penentuan awal bulan yang saat ini sering membingungkan hanyalah merupakan akibat perkembangan zaman. Faktor-faktor penyebab kerumitan itu antara lain, tuntutan penyeragam waktu ibadah untuk daerah yang luas.
"Bahkan ada pula yang menuntut penyeragaman yang sifatnya mendunia tanpa menyadari bahwa banyak kendala yang dengan teknologi maju saat ini belum bisa teratasi," katanya.

Ia mengatakan, rukyatul hilal (pengamatan hilal) saat ini tidak murni lagi, di mana hisab (perhitungan) secara tak sadar telah mendominasi sebagian besar pengamat, meski hisab yang mereka gunakan banyak yang tidak akurat.Selain itu, urainya, tidak banyak lagi orang yang mengenali hilal, terutama di kota-kota besar, sehingga kemungkinan keliru mengidentifikasi objek lain sebagai hilal lebih mungkin terjadi.

Polusi atmosfer seperti debu dan cahaya mempersulit pengamatan hilal karena bersifat meredupkan, tambahnya. Kerumitan itu sebenarnya menurut Djamal, bisa sedikit diatasi dengan memanfaatkan data posisi hilal yang akurat dari almanak astronomi mutakhir yang merupakan hasil penyempurnaan almanak astronomi sepanjang sejarah perkembangannya.

Akurasi almanak astronomi dalam penentuan ijtima' (astronomical new moon) kini telah teruji pada ketepatan perhitungan waktu gerhana matahari yang pada hakikatnya adalah ijtima' teramati (observable new moon). Setidaknya informasi posisi hilal yang akurat bisa mencegah terjadinya kesalahan identifikasi hilal, ujarnya.

Kalau data almanak astronomi tentang posisi hilal sudah bisa diterima secara luas, menurut Djamal, berarti tinggal satu langkah lagi dalam mengatasi kerumitan itu, yakni menentukan kriteria visibilitas hilal. "Inilah bagian tersulit, tetapi telah dimulai oleh IICP (International Islamic Calendar Programme) di Malaysia yang dipimpin Mohammad Ilyas," katanya.

Dalam prakteknya, kriteria visibilitas hilal belum banyak dipakai, menurut dia, mungkin karena belum memasyarakat.
Kriteria utama yang banyak di pakai, lanjut dia, adalah bulan sudah di atas ufuk yang pada hakikatnya syarat wujudul hilal.
"Menurut data Badan Hisab dan Ru'yat Departemen Agama RI hilal dengan ketinggian 2 derajat berhasil di ru'yat. Itu berarti beda waktu terbenam hanya sekitar 8 menit, jauh di bawah ambang batas kriteria visibilitas hilal," ujarnya.
Karena itu, semua pihak perlu berlapang dada untuk berdiskusi mencari acuan yang paling sahih di antara data dan metode yang kini ada di masyarakat.

Bila semua ahli hisab telah mengacu pada almanak astronomi, lanjut dia, satu langkah lagi adalah menyepakati kriteria visibilitas hilal.Kriteria IICP yang memberikan syarat batas visibilitas hilal: beda waktu terbenam matahari dan bulan lebih dari 40 menit di daerah tropik, ia mengusulkan, sangat baik diterapkan di Indonesia dan negara-negara ASEAN untuk mengatasi kerumitan. dewanti lestari/ant/kp

Ulama NU Belum Sepakat Soal Bank Syariah


Para ulama Nahdlatul Ulama (NU) belum satu kata atau belum memiliki kesamaan pendapat menyangkut keberadaan bank syariah, setidaknya demikian yang mengemuka dalam Halaqah Pra-Muktamar ke-32 NU Komisi Maudlu`iyah Waqi`iyah.

Pertemuan itu diikuti utusan pengurus wilayah NU se-Indonesia serta pengurus lembaga, lajnah, dan badan otonom NU, di Jakarta, Selasa.

Wakil Ketua Lembaga Takmirul Masajid Indonesia (LTMI) NU Mukhlas Syarkun menilai, dalam beberapa kasus, bank syariah ternyata tak ada bedanya dengan bank konvensional. Bahkan, ia menyebut ada pelanggaran syariah dalam praktiknya.

Mukhlas mengatakan, bank syariah memang tidak mengenal bunga, namun dalam praktik pemberian kredit, misalnya, diberlakukan sistem agunan. Sementara, tidak semua orang, terutama kaum miskin, yang dapat memberikan agunan untuk mendapatkan kredit.

"Di sinilah bank syariah bisa disebut tidak syar`i karena hanya orang-orang yang dapat memberikan agunan yang dapat menerima kredit. Sedangkan orang yang sangat miskin, tidak punya apa-apa, tidak bisa memberikan agunan, tidak bisa menerima kredit," katanya.

Mukhlas justru lebih sependapat dengan konsep Grameen Bank di Bangladesh yang mengembangkan konsep kredit mikro yaitu memberi pinjaman skala kecil untuk usahawan miskin yang tidak mampu meminjam dari bank umum.

Lembaga keuangan yang digagas Muhammad Yunus itu berbeda dengan bank konvensional karena tidak menggunakan sistem agunan.

Untuk menjamin pembayaran utang, Grameen Bank menggunakan sistem "kelompok solidaritas". Kelompok-kelompok itu mengajukan permohonan pinjaman bersama-sama, dan setiap anggotanya berfungsi sebagai penjamin anggota lainnya, sehingga mereka dapat berkembang bersama-sama.

"Konsep bank seperti ini, menurut saya, lebih syar`i daripada bank syariah sendiri, karena dapat mengangkat perekonomian masyarakat miskin yang paling miskin sekalipun," kata Mukhlas.

Pendapat berbeda dikemukakan Ketua Komisi Maudlu`iyah Waqi`iyah KH Masyhuri Naim. Menurut dia, secara umum bank syariah tidak bertentangan dengan syariat Islam. Salah satu alasannya adalah ketiadaan bunga bank yang memang diharamkan dalam Islam.

"Hanya saja dalam praktiknya memang tidak sepenuhnya baik seperti dalam teorinya sendiri. Tapi itu wajar saja. Kita bukan tidak setuju dengan bank syariah. Kita hanya mengkritik kelemahan-kelemahan yang ada dalam praktik bank syariah itu sendiri," kata rais syuriah PBNU itu.

Menurut Masyhuri, beragam persoalan seputar perekonomian dan perbankan syariah yang mengemuka dalam halaqah tersebut akan dibahas dan dikaji lebih mendalam pada Muktamar di Makassar, Sulawesi Selatan, Januari 2010. ant/ahi

Penyelundupan Heroin Memakai Al-Quran Berhasil Digagalkan


Penyelundupan narkotika jenis heroin digagalkan kantor Bea dan Cukai Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang.

Heroin seberat 60 gram yang diduga bernilai Rp 600 juta itu diselundupkan dengan menyelipkan paketnya dalam kitab suci Al-Quran yang dilengkapi dengan sampul.

"Modus yang digunakan tergolong baru," kata Kepala Bea Cukai Soekarno-Hatta, Baduri Wijayanata kemarin.

Menurut Baduri, selain menyita barang bukti, petugas kapabeanan menahan dua orang tersangka yang menyelundupkan barang haram tersebut, yaitu seorang wanita bernama Djuhana binti Rahman Amir, 52 tahun, dan Harizaldi bin Oyong, 32 tahun.

Menantu dan mertua itu ditangkap petugas sesaat setelah menerima paket yang datang dari Kamboja itu. Heroin yang diselipkan dalam Al-Quran itu dikirim lewat paket atas nama pengirim EJC dengan penerimanya HR di daerah Cikini, Jakarta Pusat.

Kepada petugas, para tersangka mengaku telah menerima pengiriman dengan modus yang sama sebanyak lima kali.

"Tapi pelaku mengaku hanya sebagai kurir sehingga tidak tau apa isi paket pengirimannya," kata Baduri.

Penggagalan penyelundupan ini berawal dari informasi Bea dan Cukai Kamboja (Cambodian Customs Office) yang berkoordinasi dengan Direktorat Jendral Bea Cukai, Badan Narkotika Nasional, dan Direktorat IV Markas Besar Kepolisian RI.

Baduri mengatakan kedua pelaku penyelundupan melanggar Undang-undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Narkotika dengan ancaman maksimal pidana hukuman mati atau seumur hidup, atau paling lama penjara 20 tahun dan denda paling banyak Rp 1 miliar.

Untuk penyelidikan lebih lanjut, pihak Bea-Cukai Bandara Soekarno-Hatta sudah menyerahkan tersangka ke Markas Besar Kepolisian RI. Saat dimintai informasi, Direktur IV Narkoba, Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian RI, Brigadir Jendral Harry Montolalu, membenarkan adanya penangkapan terhadap dua orang tersebut.

"Sekarang mereka masih kami periksa, "katanya. Menurut Harry, keduanya merupakan jarinagn baru. "Heroinnya jenis yang bagus," katanya. Namun, Harry mengatakan ini bukan merupakan modus baru. Kalau dulu, kata Harry, para penyelundup heroin menggunakan buku tebal, sekarang menggunakan Al-Quran ukuran besar yang kemudian bagian tengahnya dilubangi untuk paket heroin.

Upaya penyelundupan narkotika masih kerap dilakukan lewat bandara. Sejak Mei hingga Agustus, setidaknya sudah tiga kali petugas menggagalkan upaya serupa. Pada 21 Mei, petugas pabean menggagalkan upaya penyelundupan sabu seberat 1.863 gram senilai Rp 3,3 miliar oleh seorang warga Malaysia bernama Khoo Chin Thiam. Pada 17 Mei, aparat pabean juga menggagalkan sabu seberat 2.100 gram. Penyelundupan psikotropika senilai Rp 2 miliar itu melibatkan warga Singapura dan dua warga Indonesia. Kemudian, pada 16 Juli, sepasang suami_istri asal Iran ditangkap petugas pabean karena menyelundupkan sabu senilai Rp 5,5 miliar.

Kotak Hitam Ideologi

khirnya datang juga bulan yang dinanti-nanti, bulannya umat islam sedunia. Bulan penuh berkah, saat aktifitas sehari-hari menjadi ladang ibadah. Ramadhan! Ya, Ramadhan.

Seperti biasa, mendekati masuknya bulan Ramadhan, setiap stasiun televisi berlomba-lomba dengan program khas bulan spiritual. Dari penambahan jam tayang ceramah agama - dengan berbagai versi, sampai acara hiburan yang 'islami'. Kotak hitam televisi menjadi daya magnet yang menarik kuat bagi setiap penikmatnya. Acara berbuka dan makan sahur kurang lengkap tanpa tontonan, itulah sebabnya ideologi dalam kotak hitam mampu menyusup halus, lembut dalam otak-otak penonton.

Pas, memang, saat perut lapar, tenaga hampir tidak ada, menonton menjadi pilihan. Acaranya pun tepat dalam kemasan untuk peningkatan spiritualitas. Kepentingan atas spiritual yang begitu halus. Karena kepentingan di balik media, pasti, akan menentukan peran sosial media, apakah itu kepentingan elit produser produk atau program media, maupun kelompok konsumer media.

Dapat kita lihat, ada kepentingan utama di balik media : kepentingan rezim dalam memelihara kekuasaan dan sekaligus upaya "brain washing"; kepentingan pemodal dalam membiakkan kapital; kepentingan publik dalam menyalurkan inspirasi dan berekspresi.

Ramadhan memang waktu yang tepat untuk meraih kepentingan. Menjelang bulan penyucian ini, kita telah melalui beberapa kejadian nasional : pemilihan presiden dan aksi teror bom di JW Mariot dan Ritz Hotel. Ramadhan melalui televisi menjadi bulan pertarungan ideologi, atau meminjam istilah Antonio Gramsci, "pertarungan hegemoni" (hegemonic struggle).

Televisi menjadi bagian mekanisme perebutan dominasi di antara kekuatan yang ada, bukan melalui kekuatan (senjata, militer atau massa), akan tetapi melalui pertarungan emosi dan perasaan kotak hitam ideologi. Karena Ramadhan mampu menjembatani kepentingan pemodal yang ingin mendapat simpati penonton. Dominasi melalui kekuatan ide, konsep atau gagasan politik, ekonomi dan kultur. Keberhasilan dominasi tersebut dapat kita lihat melalui penerimaan ide atau gagasan yang diekspresikan melalui opini publik, dan televisi berhasil membangun opini publik tersebut.

Siapa sangka, hanya dengan duduk manis di depan kotak hitam televisi, ideologi telah merasuk dalam otak penonton, ideologi pemodal yang memproduksi "ide hegemonik" dalam rangka mempengaruhi dan membentuk opini publik. Ide hegemonik yang telah direkonstruksi penguasa hegemonik yang ada - entah itu, kapitalisme, leberalisme atau sosialisme.

Kepentingan hegemonik melalui kotak hitam ideologi, selain membentuk opini publik, dalam pandangan Marx, sebagai manipulasi atau "kesadaran palsu" (false consciousness). Penonton digiring menuju pemikiran dan kesadaran pada sebuah ideologi tertentu. Kesadaran yang salah tentang realitas dirinya. Sehingga kotak hitam ideologi televisi menjadi "cermin palsu realitas" dan telah mendistorsi realitas.

Nah, ketika kotak hitam televisi dengan program-program pemikatnya, bak madu yang siap dihinggapi lebah, bagian dari alat ideologi tertentu (ideological apparatusses), maka, menurut Yasraf Amir Piliang, itu semakin membuktikan bahwa media televisi bukan "cermin realitas" (miror of reality), tetapi telah menjadi mesin "perumus realitas" (definer of reality), agar sesuai dengan ideologi rezim, pemodal yang melatarinya.

Beroperasinya cermin palsu realitas saat Ramadhan dalam program kotak hitam televisi tidak dapat dipisahkan dari mekanisme ketersembunyian (invisibility) dan ketersembunyian (unconsciousness), yang merupakan titik keberhasilan sebuah ideologi. Artinya, ideologi telah menyusup dan menanamkan pengaruhnya lewat program televisi secara "tersembunyi" dan berhasil merubah pandangan penonton secara "tidak sadar".

Bila menonton adalah rutinitas utama selama Ramadhan dan televisi menjadi pilihan utama menanti "bedug buka", maka tak heran para penikmat televisi tidak mampu obyektif, karena kotak hitam ideologi telah mendidik penonton menjadi tidak obyektif. Pun banyak yang terjerumus bertingkah polah tidak menggambarkan realitas dirinya, karena kotak hitam ideologi telah menyeretnya menjadi 'realitas' menurut kacamata ideologi (kepentingan) tertentu.
KIRIM SMS GRATIS
Jejaring Sosial
Langganan Berita

Masukkan email anda:

Sponsor
Iklan
Agustus 2009
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
KlikSaya