Archive for September, 2009

600 Orang Masuk Islam dalam 24 Jam


RIYADH--Hidayah turun kepada lebih dari 600 warga Cina yang kini bekerja di proyek jaringan kereta api Haramain di Arab Saudi. Dalam waktu 24 jam, mereka diberi kesadaran akan kebenaran Islam. Seperti dilaporkan situs Gulf News, Saat itu juga mereka kemudian mengucap syahadat dalam sebuah majelis di Makkah.

Warga Cina itu merupakan pegawai Chinese Railway Company, yang memenangkan tender pembangunan jaringan kereta api yang menghubungkan Makkah dan Madinah lewat Jeddah dan Rabigh. Jaringan kereta api ini bakal dibangun sepanjang 450 kilometer (km).

Menurut sekretaris pemerintahan daerah kota Makkah, Dr Abdul Azis Al Khudhairi, fenomena ini juga sekaligus menjadi jawaban atas kritik sebagian masyarakat terhadap pemerintah yang memenangkan perusahaan Cina untuk proyek tersebut. "Keputusan mereka untuk pindah agama hanya berlangsung 24 jam setelah mendapatkan buku tentang Islam dalam bahasa Cina," tutur Abdul Azis.

Kejadina tersebut, kata dia, juga membuatnya bersemangat untuk terus mendakwahkan Islam kepada sekitar 5.000 warga Cina yang bekerja untuk proyek tersebut. Masalahnya, tutur dia, saat ini jumlah buku pengantar tentang Islam yang ditulis dalam bahasa Cina masih sangat terbatas. Proyek itu sendiri dijadwalkan berakhir tahun 2012. irf

Darul Kutub Akui Bajak Kitab Karya Ulama Indonesia


JAKARTA--Kasus pembajakan kitab Sirajut Thalibin oleh penerbit Darul Kutub Al-Ilmiah di Lebanon, diakui oleh direktur penerbit itu sebagai keteledoran. Pihaknya menyadari telah melakukan kesalahan karena mengganti nama penulis kitab, Syekh Ihsan Jampes asal Kediri, di halaman sampul dan di halaman mukadimah. Serta telah membuang kata pengantar dari pendiri NU KH Hasyim Asy’ari.

Darul Kutub Al-Ilmiyah secara resmi telah menyatakan permohonan maaf kepada Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi di Jakarta pekan lalu. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menilai bahwa Darul Kutub Al-Ilmiah menunjukkan kebesaran hati, karena bersedia mengakui kekeliruannya dan meminta maaf.

”Kita menyambut baik permintaan maaf ini. Ternyata Darul Kutub Ilmiyah mau berbesar hati mengakui kesalahannya,” kata Rais Syuriyah PBNU KH Hafidz Utsman yang menjadi koordinator pengusutan kasus pembajakan ini atas nama ahli waris Syekh Ihsan.

Namun, menurutnya, proses penyelesaian kasus ini tetap berjalan. ”Kita telah menerima surat permintaan maaf yang ditandatangani oleh Direktur penerbit, Mohamed Ali Baydoun ini, dan nanti akan kita bicarakan lebih lanjut,” jelasnya, seperti dikutip NU Online.

Dalam surat itu Darul Kutub Al-Ilmiyah juga menyertakan copy sampul dan halaman pertama kitab Sirajut Thalibin edisi ketiga yang telah mencantumkan nama penulis aslinya. Pada edisi kedua, penerbit mengganti nama pengarang kitab menjadi Syekh Ahmad Zaini Dahlan, Al-Quraisyi dari Makkah.

“Kami meminta maaf atas pencantuman nama yang tidak sebenarnya dari kitab Sirajut Thalibin yang merupakan syarah dari kitab Minhajul Abidin,” kata Ali Baydoun dalam suratnya yang ditulis dengan bahasa Arab.

Ia juga menyatakan, penggantian nama itu hanya dilakukannya pada terbitan edisi kedua. Sementara pada edisi pertama telah menyantumkan nama penulis yang sebenarnya.

Sejak kasus pembajakan ini mencuat, desakan permohonan maaf dilakukan oleh Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Lebanon. Hingga kemudian keluar surat resmi bernomor 7629 tertanggal 11 September 2009 tentang permintaan maaf kepada PBNU.

Akan tetapi, seperti dijelaskan oleh Muhammad Zainal Aziz, ketua PCINU Lebanon, Darul Kutub Al-Ilmiyah tidak mungkin menarik semua buku yang telah beredar luas ke beberapa negara Muslim di dunia. Yang akan ditarik hanya buku-buku yang masih berada dalam jangkauan penerbit.

Zainal Aziz melihat langsung proses pencetakan edisi ketiga kitab Sirajut Thalibin di kota kecil dekat Beirut. Ia menjelaskan, cetakan ketiga itu belum memuat pengantar dari KH Hasyim Asyari. Pihak penerbit, katanya, berkilah bahwa pengantar semacam itu tidak penting khususnya di dunia Arab. rid/taq


Arab Saudi Buka Kampus Hi-tech


JEDDAH--Langkah penting dilakukan Raja Abdullah dari Arab Saudi untuk memajukan dunia pendidikan di wilayahnya. Di dekat kota Jeddah, Raja Abdullah membuka kampus umum berteknologi tinggi dengan nama Universitas King Abdullah. Pendidikan yang berlangsung di kampus ini akan fokus pada pengembangan sains dan teknologi.

Situs berita Al Jazeera, Kamis (24/9) melaporkan bahwa kampus ini mengenalkan tradisi baru dalam dunia pendidikan di Arab Saudi. Mahasiswa dan mahasiswi di kampus ini tidak ditempatkan secara terpisah, melainkan dibaurkan dalam satu kelas. Hal tersebut dinyatakan sebagai salah satu simbol modernisme.

Selain itu, Universitas King Abdullah juga akan menghadirkan para profesor dari seluruh penjuru dunia dengan bidang keahlian masing-masing. Proyek bernilai jutaan dolar AS ini dianggap sebagai upaya Raja Abdullah dalam menjalankan reformasi di lingkungan kerajaan.

Hussein Shoboksi, seorang kolumnis di harian berpengaruh di dunia Arab, Asharq Alawsat, menilai pembangunan kampus tersebut menunjukkan adanya perubahan paradigma. Pendidikan dinilainya sebagai alat penting yang mendorong terjadinya perubahan ini. ''Ini adalah proyek yang sangat ambisius dan memberi banyak tekanan bagi lembaga-lembaga di Arab Saudi,'' tutur dia. aljazeera/irf

Capitol Hill Jadi Tempat Jumatan


WASHINGTON--Beragam cara dilakukan umat Islam di Amerika Serikat (AS) untuk mendakwahkan agamanya. Salah satu upaya yang mereka tempuh adalah menggelar shalat Jumat atau dikenal dengan istilah Jumatan di Capitol Hill, gedung Kongres AS. Rencananya, shalat Jumat di lokasi tersebut berlangsung Jumat ini (25/9).

Ini adalah menjadi momentum yang sangat bersejarah, sebagai shalat Jumat pertama yang dilangsungkan di kantor lembaga negara itu. Acara ini digagas oleh pengurus Masjid Darul Salam, AS. Ketua pengurus Darul Salam, Hassan Abdullah Esq, mengungkapkan bahwa acara ini digelar untuk memberi perbaikan citra Islam di mata dunia.

''Situasi dan citra umat Islam di mata masyarakat luas belum begitu menggemberakan,'' tutur dia seperti dilansit Islamonline. Salah satu cara untuk memperbaikinya, kata dia, adalah berkumpul di satu tempat dan beribadah bersama secara damai. Dia memperkirakan Jumatan di Capitol Hill kali ini akan dihadiri sekitar 50 ribu umat Islam dari berbagai wilayah di AS.

Dia menambahkan bahwa hal yang sangat kuat untuk bisa mempersatukan sesama umat Islam adalah ibadah. Fokus shalat Jumat tersebut, kata dia, adalah pada semangat dan kekhusu'an beribadah. Untuk menyederhanakan acara, pihaknya tidak akan mengundang tokoh ternama untuk memberi khutbah, tidak memasang plakat, juga tidak menonjolkan seruan-seruan khusus.

Di antara tokoh yang diharapkan hadir dalam Jumatan bersejarah itu adalah Syeikh Ahmed Dewidar, Imam Masyarakat Muslim Mid-Manhattan, dan qari' kenamaan Mohamed Jebril. ''Kita tidak akan bicara politik,'' tutur Dewidar. Ibadah tersebut, menurut dia, hanya bertujuan untuk mengharapkan ridha dan ampunan Allah SWT. islamonline/irf

Perdebatan Pengamat Terorisme


Kita berharap masyarakat tidak terpengaruh pandangan pengamat yang memiliki kepentingan tertentu

Oleh: Sapto Waluyo

Operasi penyergapan Densus 88 Antiteror di Jebres, Solo tak hanya menimbulkan histeria publik, tapi juga kontroversi di kalangan pengamat. Sudah lama masyarakat menunggu hari tertangkapnya buron kelas kakap Polri, Noordin M. Top, setelah rekannya Dr. Azahari bin Husein tertembak di Batu, Malang (2005). Pada jam-jam pertama pasca penyergapan Solo ternyata masih ada pengamat yang menyangkal kemungkinan tertangkapnya Noordin.

Dialah Dynno Chressbon yang mengaku punya sumber penting di kalangan petinggi Polisi dan kelompok radikal. Menurut sumber Chressbon, Noordin sedang iktikaf selama 10 hari menjelang lebaran di Jawa Barat, sehingga mustahil tertangkap di Jawa Tengah (Detikcom, 17/9/2009). Selain itu, Chressbon punya teori tersendiri – mirip dengan pandangan Al-Chaidar, mantan juru bicara Darul Islam-- bahwa Urwah dan Noordin selama ini tidak pernah bersembunyi di tempat yang sama secara bersamaan. Apalagi, di kota Solo yang tergolong hotspot (wilayah utama) dalam pengawasan aparat, itu sama saja dengan menyerahkan diri.

Jika teori Chressbon benar, maka mungkin saja Noordin tertangkap di Jawa Barat, lalu dibawa ke Jawa Tengah untuk dieksekusi. Dalam konteks ini, Polri harus menjelaskan bagaimana faktanya hingga Noordin bisa terperangkap di Solo. Sebaliknya, jika teori Chressbon terbukti salah, maka profil Noordin tidak serelijius dan se-radikal yang dicitrakan. Noordin ternyata tidak sedang iktikaf di mushola atau masjid, tetapi sedang merancang serangan baru pasca Idul Fitri. Apakah sosok seperti itu masih dipandang membawa misi Islam melawan kejahatan negara Barat?

Lebih janggal lagi, walaupun sumber polisi menyebut ciri-ciri salah satu jenazah yang tertembak di Solo sangat mirip dengan Noordin, Chressbon tetap yakin bukan Noordin yang tewas. Alasannya? Belum ada satupun polisi di Indonesia yang mengetahui ciri-ciri Noordin saat ini, jadi tak bisa main klaim begitu saja, ujar Chressbon. Barulah setelah Kapolri mengungkapkan betapa terdapat 14 titik kesamaan dalam sidik jari dengan identitas Noordin yang dimiliki Polri, maka Chressbon tak terdengar lagi komentarnya.

Dulu, pasca penyergapan di Temanggung dan Jatiasih, Chressbon juga pernah meramalkan bahwa Presiden Barack Obama yang akan berkunjung ke Indonesia pada bulan November menjadi target serangan paling prestisius. Ramalan itu diutarakannya di tengah perdebatan tentang perubahan strategi kelompok teror setelah polisi menyatakan bahwa rumah kediaman Presiden SBY di Cikeas menjadi salah satu target operasi pemboman. Mana yang benar, orientasi penyerangan kelompok teroris itu demi melawan kepentingan domestik atau asing? Para pengamat tak punya kata sepakat.

Tentu saja, prediksi Chressbon dibantah keras oleh Kapolri, karena jika diterima begitu saja akan mengganggu kredibilitas pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan SBY dalam menciptakan stabilitas nasional dan keamanan regional. Padahal, SBY dikenal sangat dekat dengan pemerintahan AS. Sebelum pemilihan presiden tahun 2004, SBY berkunjung ke negeri Paman Sam untuk mempresentasikan gagasannya tentang Indonesia yang aman, demokratis dan terbuka, serta bersahabat dengan negara-negara di dunia. Kunjungan serupa juga akan dilakukan pada akhir September 2009, sebelum pelantikan SBY untuk periode kedua.

Kedatangan Obama akan membuktikan keramah-tamahan bangsa Indonesia. Karena itu, tak boleh ada seorang teroris pun yang mengusiknya. Kalau bisa, tak seekor nyamuk pun yang mengganggu. Apalagi, sekadar igauan seorang pengamat terorisme yang menjabat Direktur Pusat Studi Intelijen dan Keamanan Nasional (SIKNAL). Chressbon tak membantah sanggahan Kapolri, walaupun ia mengaku mendapat informasi kunci dari aktivis kelompok radikal Islam. Mengapa Polri tidak memeriksa Chressbon secara intensif dan menelusuri sumber informasinya yang kritikal itu? Siapa tahu memang ada isyarat ancaman terhadap Obama; atau jika tak ada, sekurang-kurangnya bisa dipastikan tak ada celah kealpaan dalam pengamanan VVIP sedikitpun.

Hubungan antara aparat keamanan dan para pengamat dalam isu terorisme di Indonesia memang unik. Keduanya seperti berbagi peran untuk meyakinkan publik bahwa tindakan keras melawan teroris memang harus dilakukan. Pengakuan mengejutkan disampaikan Hermawan Sulistyo, peneliti LIPI yang mengkaji sejarah kekerasan di Indonesia. "Noordin itu hanya dipakai sebagai ikon oleh pemerintah bahwa dia itu gembong. Coba saja lihat saat nama Noordin muncul pada Bom Bali I, peran dia dalam aksi itu sangat kecil, dia bukan yang utama. Artinya dia dipakai sebagai image building," jelas Hermawan (Detikcom, 18/9/2009).

Astaga, kalau benar begitu maka persepsi publik terhadap keahlian dan kekejaman Noordin harus direvisi kembali. Termasuk juga, klaim polisi bahwa Noordin merupakan seorang Qoid (pemimpin) dari Tanzhim (organisasi) Al-Qaidah di Asia Tenggara. Pada mulanya, Noordin memang hanya murid pengajian yang dipimpin Mukhlas di madrasah Lukmanul Hakim di Johor Baru. Setelah Bom Bali I, Mukhlas dkk tertangkap, tiba-tiba Noordin dan Azahari menjadi bintang perakit bom. Keahlian keduanya dalam merakit bom tak pernah dibuktikan, karena polisi lebih suka mengeksekusi mati ketimbang memeriksanya di pengadilan.

Hermawan yang pernah terlibat dalam penyelidikan Bom Bali I menjelaskan fakta lain yang mengejutkan, ternyata saat ini berdasarkan catatannya saja ada 400 orang yang diketahui memiliki keahlian merakit bom. Catatan polisi atau pengamat lain mungkin lebih banyak lagi, Pernyataan ini sudah pasti tidak sembarangan, karena Hermawan menjadi konsultan Polri saat menulis buku putih Bom Bali I. Bila informasi ini valid, maka ‘Azahari-azahari’ atau ‘Noordin-noordin’ baru akan segera bermunculan, entah karena mereka mampu meningkatkan kapasitasnya atau sengaja dipromosikan media massa.

Keyakinan macam itu dimiliki oleh pengamat asing, Ken Conboy, yang menengarai kondisi Indonesia belum terjamin aman pasca tewasnya Noordin. Conboy percaya, sebelum meninggal, gembong teroris itu pasti telah menyiapkan aksi 'balas dendam'. "Dia memiliki banyak waktu untuk memikirkan aksi balas dendam. Tapi saya pikir, polisi akan menindaklanjuti dugaan ini. Mereka harus tetap waspada," kata Conboy yang pernah menulis buku tentang Kopassus dan intelijen di Indonesia (The Strait Times, 18/9/2009). Menurut Conboy, meski pemimpinnya telah tewas, bukan berarti jaringan teroris terputus. Mereka memiliki kemampuan yang baik untuk membentuk kembali kelompok baru setelah kematian Noordin.

Sinyalemen aksi balas dendam ditepis Nasir Abbas, mantan petinggi JI yang kini telah beralih profesi menjadi penulis buku dan komentator. Aneh juga, Nasir tidak diekstradisi ke Malaysia untuk diadili, malah dibiarkan bebas berkeliaran di Indonesia membentuk citra diri baru sebagai pengamat terorisme yang populer. Nasir beropini, balas dendam tidak dikenal dalam kelompok JI. Penyerangan tetap ditujukan kepada aset milik Amerika Serikat, bukan sasaran pribadi. Padahal, pengamat lain pernah berteori: aksi bom Marriott-Ritz Carlton merupakan serangan balasan atas eksekusi pelaku Bom Bali I. Demikian juga dulu, saat terjadi bom di depan Kedubes Australia (2004), ada yang menyimpulkan sebagai balasan atas penahanan Abu Bakar Ba’asyir yang disebut pemimpin spiritual JI.

Pandangan manakah yang dipakai aparat untuk memastikan motif serangan teroris selama ini? Semuanya tergantung kesaksian para tersangka yang masih hidup, barang bukti yang tersedia dan kedekatan analisis pengamat dengan narasi besar yang sedang dibangun Polri. Karena itu, penemuan laptop, hard disk, dan dokumen di lokasi penyergapan Solo sangat penting untuk menyempurnakan jalan cerita gembong teroris di Asia Tenggara. Jasad Noordin belum bisa dibawa pulang ke Malaysia sebelum narasi hitam itu tuntas.

Bobot kisah Noordin harus dikemas lebih seru karena dia telanjur ditahbiskan sebagai pentolan JI setelah tertangkapnya Hambali. Penasehat senior International Crisis Group (ICG), Sidney Jones, yang paling getol menguak jejak Noordin dan sejarah JI. Menurut Jones, JI mengalami perpecahan internal pada 2003. Sejak itu, Noordin memimpin kelompok sempalan yang tidak tunduk kepada JI pusat dan merasa menjadi wakil Al-Qaidah di Indonesia dan Asia Tenggara. "Penting untuk dibedakan antara kelompok Noordin dan JI. Dia memang anggota JI, tapi selama lima tahun belakangan ini sudah menjadi ketua kelompok sempalan, dimana bergabung beberapa anggota JI, tapi mereka tidak tunduk kepada JI sebagai organisasi," simpul Jones.

Tewasnya Azahari dan Noordin ternyata bukan akhir sebuah cerita dan tuntasnya pekerjaan rumah aparat keamanan. Situasi aman juga masih jauh dalam impian rakyat. Ada pihak yang menginginkan agar tragedi itu terus berlangsung, sehingga terorisme bak proyek keamanan yang berimplikasi pada pembesaran anggaran dan mobilisasi personal. Bahkan, saat ini telah muncul proposal untuk membentuk Badan Anti Terorisme Nasional yang akan menggantikan Desk Anti Terorisme di kantor Menko Polkam. Usulan untuk merevisi UU Anti Terorisme serta membahas RUU Intelijen semakin kencang, meskipun RUU Rahasia Negara sudah ditarik kembali oleh pemerintah.

Peran media sangat penting dalam menggiring opini publik. Setelah Noordin tewas ditembak Densus 88, kini tampil tokoh lain yang belum begitu terkenal, antara lain Para Wijayanto. Tokoh ini sudah masuk daftar pencarian orang di Polri. Sosok Wijayanto digambarkan media sebagai orang yang disegani Noordin. Dia merupakan senior Noordin saat pelatihan di Moro, Filipina. Wijayanto diduga kuat orang yang membujuk Noordin agar mau masuk ke Indonesia dalam pelarian dari Malaysia.

Pengamat lain menyebut Syaifuddin Zuhri sebagai pelanjut Noordin karena dia mampu merekrut calon ‘pengantin’ (pelaku bom bunuh diri) dalam waktu singkat darikalangan remaja yang lugu. Selain itu, masih ada tokoh sekelas Dulmatin dan Umar Patek yang bersembunyi di Filipina. Peran mereka mungkin akan segera tampil ke muka setelah Noordin tiada.

Mana di antara sejumlah figur misterius itu yang akan mewarisi bintang Noordin? Tergantung hasil perdebatan pengamat yang akan dilansir media massa. Pendapat pengamat berfungsi sebagai opsi yang dapat dipilih aparat untuk memantapkan langkah yang diambil, bisa juga sebagai justifikasi atas tindakan aparat yang sulit dijelaskan kepada publik.

Kita berharap masyarakat tidak terpengaruh pandangan pengamat yang memiliki kepentingan tertentu, sehingga terjebak pada stereotipe yang menyudutkan umat Islam. Akal sehat harus tetap dijaga di tengah perang opini yang sangat gencar. [www.hidayatullah.com]

Tewas Aksara

ernyata belajar membaca di negeri ini harus punya lebih dari satu nyawa, harus berani mati untuk bisa membaca rangkaian aksara. A, B, C masih ikhlas dieja, dirangkai Amaq Basri.

Amaq Basri dan beberapa kawannya setiap hari mengikuti program kelompok belajar di desanya, Burnei. Desa yang terletak jauh di dalam hutan di pinggir perbatasan Sembalun.

Tapi belum selesai mampu membaca, Amaq Basri tewas dalam perjalan ke tempat belajarnya, innalillahi wa innailaihi rojiun. Usut punya usut, ia terlalu lelah harus bekerja siang hinga malam, ditambah lagi dengan program belajarnya. Itu untuk sebuah aksara.

Delapan September kemaren negeri ini memang sepi dalam perayaan Hari Aksara Internasional Ke – 44. Amaq Basri yang masih susah membaca menjadi bukti tingginya angka buta aksara di Indonesia.

Awalnya, Hari Aksara Internasional, sebagai upaya pemberantasan buta aksara di dunia, tercetus di Taheran Iran pada tahun 1965 dalam Kongres antar menteri pendidikan sedunia, yang saat itu dideklarasikanlah sebuah kesepakatan untuk memberantas buta aksara sedunia.

Prakarsa tersebut tercetus atas dasar kenyataan bahwa 40% penduduk dewasa di seluruh dunia pada saat itu, menyandang status buta aksara. Deklarasi tersebut mengharuskan komitmen dunia untuk melawan buta aksara dengan meratifikasi hasil kesepakatan tersebut oleh seluruh delegasi yang hadir. Oleh sebab itu setiap negara harus menciptakan syarat-syarat, baik anggaran maupun infrastruktur yang mendukung pemberantasan buta aksara.

Di Indonesia sendiri, berbagai program diklaim telah dijalankan pemerintah dalam memberantasi buta aksara, mulai dari program wajib belajar 9 tahun, program Bantuan Operasional Sekolah (BOS), pembentukkan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), sampai merealisasikan anggaran 20% dari APBN dan APBD untuk pendidikan, dan berbagai program lainnya.

Akan tetapi, setelah 44 tahun pemberantasan buta aksara dicanangkan oleh dunia internasional, ironisnya di Indonesia masih terdapat lebih dari 15 juta penduduknya yang menyandang status buta aksara. Dari total jumlah penduduk yang buta aksara, 64% adalah perempuan dan masyarakat yang tinggal di pedesaan.

Belajar, secara formal maupun non formal, memang berperan penting dalam memberatas buta aksara. Dan negara tentu bertanggungjawab dalam menyelenggarakan proses pembelajaran sebagai hak dasar seluruh rakyatnya.

Hal itu tertuang jelas dan tegas dalam pasal 13 Konvenan Internasional tentang Hak Sosial, Ekonomi, dan Budaya, demikian pula dalam pasal 31 Undang-Undang Dasar 1945 dan pasal 49 Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Menurut Dirjen Pendidikan Non Formal Dan Informal Depdiknas, Hammid Muhammad, ada beberapa faktor penyebab tingginya buta aksara di Indonesia, antara lain tingginya angka putus sekolah dasar, beratnya geografis Indonesia, munculnya buta aksara baru, dan kembalinya seseorang menjadi buta aksara. Tapi, sebagian besar penyebab tingginya angka buta aksara di Indonesia, adalah terkait dengan persoalan ketersediaan akses pendidikan bagi rakyat.

Suatu ketimpangan memang. Ketika pemerintah mengklaim bahwa akses pendidikan bagi rakyat telah dijalani melalui berbagai program. Namun, buta aksara di Indonesia masih saja tinggi.

Ketimpangan tersebuat berawal dari prespektif pemerintah yang keliru dalam menyediakan akses pendidikan bagi seluruh rakyat. Terkait dengan realisasi anggaran 20% APBN dan APBD, dalam pasal 31 ayat (4) UUD 1945 dan pasal 49 ayat (1) Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas), menyatakan bahwa besarnya dana pendidikan minimal 20% dari APBN dan APBD, adalah diluar gaji pendidik dan pendidikan kedinasan.

Misal, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat yang telah meningkatkan anggaran pendidikan hingga empat kali lipat dari sebelumnya, 2008 jumlahnya hanya Rp 51,522 miliar maka tahun 2009 ini menjadi Rp 240,722 miliar yang anggaran tersebut terpecah menjadi beberapa pos anggaran.

Di bidang pendidikan, diberikan melalui Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Rp 24,057 miliar, bantuan keuangan kepada kabupaten-kota untuk biaya sharing pendidikan dan guru kontrak Rp 130,420 miliar. Selain itu, hibah juga diberikan kepada lembaga pendidikan swasta maupun negeri. Sedangkan dalam bentuk bantuan, anggaran diberikan kepada pondok pesantren, pemberdayaan Badan Akreditasi Sekolah, dan beasiswa miskin sebanyak Rp 63,588 miliar.

Hal tersebut sama seperti total APBN 2009 yang dialokasikan untuk pendidikan. Untuk Departemen Pendidikan Nasional Rp 52,0 trilliun, Rp 46,1 trilliun untuk meningkatkan penghasilan guru dan peneliti, serta untuk Departemen Agama sebesar Rp 20,7 trilliun. Sehingga, berdasarkan ketentuan pasal 31 ayat (4) UUD 1945 dan pasal 49 ayat (1) UU Sisdiknas, anggaran pendidikan untuk tahun 2009 sesungguhnya hanya mencapai 4,63% dari total rencana anggaran belanja negara.

Itu sebabnya mengapa sekalipun presentase anggaran pendidikan dalam APBN 2009 telah mencapai 20%, belum dapat menjawab persoalan penyediaan akses pendidikan yang seluas-luasnya bagi seluruh rakyat.

Lalu, bagaimana faktor akses belajar yang yang diungkapkan Hammid Muhammad terselesaikan. Kalau anggaran masih jauh dari semestinya. Kesempatan belajar membaca rakyat jadi taruhannya: tewas atau hidup tidak mampu membaca.

DALAM MASA PERBAIKAN

Assalamu alaikum. Mohon maaf kepada para pembaca setia ESENSI karena untuk beberapa waktu Media ini tidak diupdapte karena dalam tahap perbaikan dan persiapan pengalihan pengelolaan. Jazakallah Khoir.

Fahmi Azzam
Adminitstrator Blog 07-09

Noordin Wafat, Innalillahi Wa Inna Illaihi Roji’un

ernyata berita kematian Noordin lebih heboh dari berita kemenangan Pak Esbeye dalam pemilu kemaren. Kematian Noordin jadi pembicaraan kelas wahid di kampung.

Seperti biasa, penggrebekan dan matinya para 'teroris' selalu menyisakan pertanyaan. Selalu ada jejak tertinggal yang dijadikan sumber oleh pengamat intelejen dan pengamat sosial politik lainnya.

Bagaimana tidak. Kisah teror meneror, kalau ditelusur, sejak tahun 2001, tiba-tiba muncul dengan target orang nomor satu di Indonesia, Megawati. Saat suhu politik dalam negeri, saat perseteruan dua orang berpengaruh di negeri ini memanas. Itu berlajut hingga kini.

Selain itu, peledakan WTC tahun 2001 dijadikan alasan Bush mendefinisikan teroris sebagai pihak-pihak yang menentang kebijakan AS. “Either you are with us or with terrorists (Anda bersama kami ataukah bersama para teroris),” ujar Bush.

Di Indonesia pun ketika itu sedang ramai menentang kepentingan AS, antara lain penghentian Namru 2; isu pengambilalihan (nasionalisasi) aset-aset publik yang notabene dikuasai AS seperti Migas, tambang, dll. Umat Islam dan organisasi Islam yang lantang menyuarakan kepentingan rakyat tersebut tersudut oleh stigma terorisme.

Dalam perkembangan berikutnya, menurut Yudi Latif prototipe stigma “boneka monster” menjadi liar, malahan master-nya ini tidak mampu mengendalikan seluruh tindakan-tindakan selanjutnya. Ketika elemen-elemen yang dikerjakan oleh intelejen, si-tuan ini tidak bisa membayangkan implikasi selanjutnya dari tindakan-tindakan seperti ini.

Ketika prototipe sudah dididik oleh intelejen, menurut pria kelahiran Sukabumi 40 tahun silam ini, untuk melakukan beberapa aksi, lama-lama mereka sudah punya logikanya sendiri untuk membangun jaringan yang tidak selalu bisa dikendalikan oleh aparatur negara, aparatur keamanan.

Itulah bola liar yang menjadi monster-monster baru yang ketika berkoneksi dengan pengalaman, bertemu dengan kekuatan Islam radikal di seberang sana kemudian memperoleh tambahan-tambahan pengetahuan, dari yang tadinya tidak bisa bikin bom menjadi bisa. Alhasil setiap tindakan refresif pasti melahirkan bibit munculnya elemen-elemen radikal dalam masyarakat.

Sedangkan hubungannya dengan intelejen Indonesia, dalam sebuah wawancara peneliti LIPI ini menjelaskan bahwa, ada beberapa oknum aparatur keamanan yang dipersuasi oleh para oportunis politik tertentu untuk memanfaatkan elemen-elemen kekerasan dalam agama agar terjadi kekisruhan untuk mendeskreditkan lawan politiknya. Itu bisa terjadi, tapi tidak bisa dipastikan.

Pesantren sebagai elemen agama yang disinyalir Sidney Jones sebagai sarang teroris adalah berlebihan. Masih menurut Yudi, tidak bisa bagian kecil dijadikan statemen untuk keseluruhan atau pos pro toto.

Kutipan Yudi dari tulisan Ariel Heryanto, dia bilang bahwa beberapa serangan-serangan dan tindakan kekerasan di Indonesia, memang di situ ada aparat yang sengaja mengambil manfaat. Kadang-kadang jika terjadi tindak kekerasan, tidak segera diatasi supaya donasi atau dana-dana yang dialokasikan oleh donor Internasional bisa mengucur terus. Itu salah satu contoh aparat yang memanfaatkan isu-isu kekerasan agama untuk kepentingan pribadi.

Namun kita tetap bersyukur. Bila aksi teror selama ini murni, seperti yang selama ini diberitakan, maka tidak salah bila kita acungi jempol pada Polri. Mabes Polri melalui Kapolri Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (17/9) telah memastikan Noordin M Top tewas dalam penyergapan di Kampung Kepuhsari, Mojosongo, Solo, Jawa Tengah.

Menurut Kapolri, Noordin tewas bersama dengan tiga kaki tangannya, yaitu Bagus Budi Pranoto alias Urwah, Hadi Susilo alias Ahit (24), dan Haryo Sudarso alias Aji oleh aparat Detasemen Khusus 88 Antiteror.

Ketika pemerintah Malaysia tidak banyak bersikap, ketika banyak korban sia-sia, semoga ada titik terang apa motivasi dan siapa yang menggerakkan aksi teror selama lebih dari satu dasawarsa di Indonesia. Dan muslim lainnya tidak menjadi target stigma yang lahir dari aksi teror oknum. Wa Allahu 'Alam.

Dan M Top pun Makin NgeTop

Berita Penembekaan Noordin M Top oleh Dansus 88, Kamis, 17 September 2009 berhasil menenggelamkan berita nasional seperti, Gerakan anti Malaysia, kasus Buaya dan Cicak, Godzila dan kasus Bank Century. Walaupun yang bersankutan tewas, itu bukan berarti jaringan teroris di Indonesia lenyap. Ada kemungkinan gerakan teroris ini akan memperbaiki kinerjanya dengan memilih “gaya baru”. Karena gerakan tersebut merupakan gerakan yang terstruktur, yang jikalau salah strategi, tentunya akan memperbaiki -dengan cara tersetruktur pula- pola pergerakan mereka agar lebih baik.

Kondisi “Hidden War” atau perang tersembunyi sepeerti inilah yang lebih meresahkan masyarakat. Masih belum jelas, motif dari para terorisme itu. Hanya saja, cara berfikir yang “lurus” menurut mereka, sangatlah bertolak belakang dengan ajaran Islam yang selalu menenangkan masyarakat. Bukan meresahkan.

Bookmark and Share

Facebook | Andy Hariyono

Facebook | Andy Hariyono

Shared via AddThis

Ikhwanweb :: The Muslim Brotherhood Official English Website

Ikhwanweb :: The Muslim Brotherhood Official English Website

Shared via AddThis

Idul Fitri, 1 Syawal 1430


Apakah lebaran kali ini akan kita rayakan bersama-sama? Berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, maka kondisi hilal pada akhir bulan Ramadhan kali ini memberi peluang kita akan lebaran bersama-sama. Apakah demikian? Berikut prediksi awal Syawal 1430 Hijriyah.


Rukyatul hilal untuk menentukan awal bulan Syawwal 1430 Hijriyah akan dilaksanakan pada Sabtu sore (19/9) bertepatan dengan 29 Ramadhan 1430 H. Data rukyat untuk Yogyakarta: Matahari terbenam pada pukul 17:35 WIB pada azimuth 271°14' - Tinggi Bulan saat Matahari terbenam 5°25' di atas ufuk Hakiki pada azimuth 264°21' atau di sebelah kiri-atas posisi Matahari. Bulan terbenam pada 18:02 WIB pada azimuth 263°23'. Walaupun rukyat menggunakan mata telanjang adalah mustahil pada kondisi seperti ini, namun dalam kondisi cuaca yang cerah dan didukung oleh peralatan bantu penglihatan (teleskop/binokuler) maka masih ada peluang hilal dapat dirukyat.

RHI Yogyakarta merencanakan akan melakukan rukyatul hilal bersama Tim BHR DIY pada Sabtu, 19 September 2009 di beberapa lokasi rukyat di DIY. Antara lain POB Bela-belu Parangkusumo Yogyakarta, POB Bukit Brambang Pathuk Gunungkidul dan POB Pantai Trisik Kulonprogo. Kesemua lokasi akan dilengkapi peralatan rukyat yang cukup standard. Bahkan di lokasi rukyat utama di POB Bela-belu akan dipasang teleskop yang sangat canggih yang dapat mencari dan mengikuti gerakan Bulan secara otomatis yaitu Teleskop VIXEN dengan hand controlnya yang dinamakan Starbook.



Konjungsi (Ijtimak) Awal Bulan



Terjadi pada :

Sabtu, 19 September 2009 @ 01:46 WIB - 02:46 WITA - 03:46 WIT

atau Jum'at, 18 September 2009 @ 18:46 UT



Visibilitas (kenampakan) Hilal pada hari terjadinya Ijtimak selepas matahari terbenam di seluruh dunia khususnya kawasan Indonesia ditunjukkan pada gambar peta di bawah ini. Peta visibilitas mengacu pada Kriteria Odeh yang mengadopsi Limit Danjon sebesar 6° yaitu syarat ketinggian hilal agar terlihat dengan mata telanjang. Kriteria tersebut dikemas dalam sebuah software Accurate Times yang menjadi acuan pembuatan peta visibilitas ini.



KETERANGAN :

1.

Sangat tidak mungkin daerah yang berada di bawah arsiran MERAH dapat menyaksikan hilal, sebab pada saat itu bulan terbenam lebih dulu sebelum matahari terbenam atau ijtimak lokal (topocentric conjunction) terjadi setelah matahari terbenam.
2.

Daerah yang berada pada area BIRU TUA (tak berarsiran) juga tidak memiliki peluang menyaksikan hilal walaupun menggunakan peralatan optik (binokuler/teropong) sekalipun, sebab kedudukan hilal masih sangat rendah ( <6° ) dan terang cakram bulan masih terlalu kecil sehingga cahaya hilal tidak mungkin teramati.
3.

Hilal baru mungkin dapat teramati menggunakan peralatan optik seperti teleskop maupun binokuler pada area di bawah arsiran BIRU MUDA. Pada area ini pun masih sangat sulit karena dibutuhkan kondisi langit yang sangat cerah terutama di langit Barat.
4.

Wilayah yang berada dalam arsiran UNGU hanya dapat menyaksikan hilal menggunakan peralatan optik sedangkan untuk melihat langsung dengan mata diperlukan kondisi cuaca yang sangat cerah dan ketelitian pengamatan.
5.

Hilal dengan mudah dapat disaksikan pada area di bawah arsiran HIJAU baik menggunakan mata langsung maupun terlebih menggunakan peralatan optik dengan syarat kondisi udara dan cuaca cukup baik.
6.

Peta ini dibuat dan hanya berlaku untuk daerah 60° Lintang Utara sampai 60°Lintang Selatan.

Peta Ketinggian Hilal di Wilayah Indonesia



Tanggal Rukyatul Hilal :

Sabtu, 19 September 2009 @ sunset ( Kriteria MABIMS/Danjon )



Diagram ketinggian di atas hanya berlaku untuk wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Sedangkan untuk wilayah lain memungkinkan terjadi perbedaan terhadap posisi dan ketinggian Bulan saat Matahari terbenam.



Prediksi Awal Bulan Menurut Berbagai Kriteria

1. Menurut Kriteria Rukyat Hilal ( Limit Danjon )

Melihat lokasi Indonesia menurut peta visibilitas di atas, kalau Kriteria Limit Danjon diberlakukan maka di wilayah Indonesia ada peluang dapat menyaksikan hilal walaupun harus menggunakan alat bantu teleskop maupun binokuler serta pada kondisi cuaca yang bagus. Sementara rukyat menggunakan mata telanjang adalah mustahil pada kondisi hilal seperti ini. Dan sangat besar kemungkinan akan ada laporan rukyat dari lokasi-lokasi yang bahkan hanya menggunakan mata telanjang. Namun demikian, walaupun hal ini mustahil laporan tersebut akan dijadikan acuan penetapan awal bulan pada sidang isbat yang digelar di Jakarta dan menetapkan awal bulan jatuh pada : Ahad, 20 September 2009







2. Menurut Kriteria Imkanur Rukyat

Pemerintah RI melalui pertemuan Menteri-menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) menetapkan kriteria yang disebut Imkanur Rukyah yang dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan bulan pada Kalender Islam negara-negara tersebut yang menyatakan :



Hilal dianggap terlihat dan keesokannya ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah berikutnya apabila memenuhi salah satu syarat-syarat berikut:

(1)· Ketika Matahari terbenam, ketinggian Bulan di atas horison tidak kurang dari 2° dan

(2). Jarak lengkung Bulan-Matahari (sudut elongasi) tidak kurang dari 3°. Atau

(3)· Ketika Bulan terbenam, umur Bulan tidak kurang dari 8 jam selepas konjungsi/ijtimak berlaku.



Menurut Peta Ketinggian Hilal di atas pada hari pertama ijtimak syarat Imkanurrukyat MABIMS sudah terpenuhi. Dengan demikian awal bulan jatuh pada : Ahad, 20 September 2009



3. Menurut Kriteria Wujudul Hilal

Kriteria Wujudul Hilal dalam penentuan awal bulan Hijriyah menyatakan bahwa : "Jika setelah terjadi ijtimak, bulan terbenam setelah terbenamnya matahari maka malam itu ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah tanpa melihat berapapun sudut ketinggian bulan saat matahari terbenam". Berdasarkan posisi hilal saat matahari terbenam di beberapa bagian wilayah Indonesia maka syarat wujudul hilal sudah terpenuhi. Maka awal bulan ditetapkan jatuh pada : Ahad, 20 September 2009



4. Menurut Kriteria Kalender Hijriyah Global

Universal Hejri Calendar (UHC) merupakan Kalender Hijriyah Global usulan dari Komite Mawaqit dari Arab Union for Astronomy and Space Sciences (AUASS) berdasarkan hasil Konferensi Ke-2 Atronomi Islam di Amman Jordania pada tahun 2001. Kalender universal ini membagi wilayah dunia menjadi 2 region sehingga sering disebut Bizonal Hejri Calendar. Zona Timur meliputi 180° BT ~ 20° BB sedangkan Zona Barat meliputi 20° BB ~ Benua Amerika. Adapun kriteria yang digunakan tetap mengacu pada visibilitas hilal (Limit Danjon).



Pada hari pertama ijtimak zone Barat maupun zone Timur sudah masuk dalam kriteria Limit Danjon. Dengan demikian awal bulan di masing-masing zona akan jatuh pada :

Zona Timur : Ahad, 20 September 2009

Zona Barat : Ahad, 20 September 2009





5. Menurut Kriteria Rukyat Hilal Saudi

Kurangnya pemahaman terhadap perkembangan dan modernisasi ilmu falak yang dimiliki oleh para perukyat sering menyebabkan terjadinya kesalahan identifikasi terhadap obyek yang disebut "Hilal" baik yang "sengaja salah" maupun yang tidak disengaja. Klaim terhadap kenampakan hilal oleh seeorang atau kelompok perukyat pada saat hilal masih berada di bawah "limit visibilitas" atau bahkan saat hilal sudah di bawah ufuk sering terjadi. Sudah bukan berita baru lagi bahwa Saudi kerap kali melakukan istbat terhadap laporan rukyat yang "kontroversi".

Kalender resmi Saudi yang dinamakan "Ummul Qura" yang telah berkali-kali mengganti kriterianya hanya diperuntukkan sebagai kalender untuk kepentingan non ibadah. Sementara untuk ibadah Saudi tetap menggunakan rukyat hilal sebagai dasar penetapannya. Sayangnya penetapan ini sering hanya berdasarkan pada laporan rukyat dari seseorang tanpa terlebih dahulu melakukan klarifikasi dan konfirmasi terhadap kebenaran laporan tersebut apakah sudah sesuai dengan kaidah-kaidah sains astronomi modern yang diketahui memiliki tingkat akurasi yang sangat tinggi.



Diagram ketinggian Hilal di Mekkah pada hari pertama ijtimak.



Menurut Kalender Ummul Qura' :

Kalender ini digunakan Saudi bagi kepentingan publik non ibadah. Kriteria yang digunakan adalah "Telah terjadi ijtimak dan bulan terbenam setelah matahari terbenam di Makkah" maka sore itu dinyatakan sebagai awal bulan baru. Pada hari pertama ijtimak/konjungsi kondisinya sudah memenuhi syarat. Dengan demikian awal bulan akan jatuh pada : Ahad, 20 September 2009



Menurut Kriteria Rukyatul Hilal Saudi :

Rukyatul hilal digunakan Saudi khusus untuk penentuan bulan awal Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah. Kaidahnya sederhana "Jika ada laporan rukyat dari seorang atau lebih pengamat/saksi yang dianggap jujur dan bersedia disumpah maka sudah cukup sebagai dasar untuk menentukan awal bulan tanpa perlu perlu dilakukan uji sains terhadap kebenaran laporan tersebut".

Kemungkinan hilal bisa dirukyat di Saudi pada hari pertama ijtimak. Dengan demikian sangat besar peluang ada yang mengaku berhasil melihat hilal sehingga awal bulan akan jatuh pada : Ahad, 20 September 2009.

Ada kemungkinan juga tidak ada laporan rukyat, sehingga awal bulan akan jatuh pada: Senin, 21 September 2009.



6. Kriteria Awal Bulan Negara-negara Lain



Seperti kita ketahui secara resmi Indonesia bersama Malaysia, Brunei dan Singapura lewat pertemuan Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) telah menyepakati sebuah kriteria bagi penetapan awal bulan Komariyahnya yang dikenal dengan "Kriteria Imkanurrukyat MABIMS" yaitu umur bulan > 8 jam, tinggi bulan > 2° dan elongasi > 3°.

Menurut catatan Moonsighting Committee Worldwide ternyata penetapan awal bulan ini berbeda-beda di tiap-tiap negara. Ada yang masih teguh mempertahankan rukyat bil fi'li ada pula yang mulai beralih menggunakan hisab atau kalkulasi. Berikut ini beberapa gambaran penetapan awal bulan Komariyah yang resmi digunakan di beberapa negara :

1.

Rukyatul Hilal berdasarkan kesaksian Perukyat/Qadi serta pengkajian ulang terhadap hasil rukyat. Antara lain masih diakukan oleh negara : Banglades, India, Pakistan, Oman, Maroko dan Trinidad.
2.

Hisab dengan kriteria bulan terbenam setelah Matahari dengan diawali ijtimak terlebih dahulu (moonset after sunset). Kriteria ini digunakan oleh Saudi Arabia pada kalender Ummul Qura namun khusus untuk Ramadhan, Syawwal dan Zulhijjah menggunakan pedoman rukyat.
3.

Mengikuti Saudi Arabia misalnya negara : Qatar, Kuwait, Emirat Arab, Bahrain, Yaman dan Turki, Iraq, Yordania, Palestina, Libanon dan Sudan.
4.

Hisab bulan terbenam minimal 5 menit setelah matahari terbenam dan terjadi setelah ijtimak digunakan oleh Mesir.
5.

Menunggu berita dari negeri tetangga --> diadopsi oleh Selandia Baru mengikuti Australia dan Suriname mengikuti negara Guyana.
6.

Mengikuti negara Muslim yang pertama kali berhasil rukyat --> Kepulauan Karibia
7.

Hisab dengan kriteria umur bulan, ketinggian bulan atau selisih waktu terbenamnya bulan dan matahari --> diadopsi oleh Algeria, Tuki dan Tunisia.
8.

Ijtimak Qablal Fajr atau terjadinya ijtimak sebelum fajar diadopsi oleh negara Libya.
9.

Ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam di Makkah dan bulan terbenam sesudah matahari terbenam di Makkah --> diadopsi oleh komunitas muslim di Amerika Utara dan Eropa
10.

Nigeria dan beberapa negara lain tidak tetap menggunakan satu kriteria dan berganti dari tahun ke tahun
11.

Menggunakan Rukyat : Namibia, Angola, Zimbabwe, Zambia, Mozambique, Botswana, Swaziland dan Lesotho.
12.

Jamaah Ahmadiyah, Bohra, Ismailiyah serta beberapa jamaah lainnya masih menggunakan hisab urfi.

Posisi Muhammadiyah


Sejak awal, Muhammadiyah tak hanya peduli soal takhayul, bid’ah dan khurafat. Tapi juga sadar tantangan Kristenisasi dan liberalisasi. Catatan Akhir Pekan Adian Husaini ke-269


Oleh: Dr. Adian Husaini



Selama bulan Ramadhan 1430 Hijriah, sejumlah diskusi tentang Muhammadiyah digelar di berbagai tempat. Beberapa diantaranya sempat saya hadiri. Pada 5 September 2009 saya menghadiri diskusi yang diselenggarakan oleh Pengurus Wilayah Muhammadiyah Yogyakarta. Diskusi itu membahas topik Muhammadiyah antara Serbuan Fundamentalisme dan Liberalisme. Pada 10 September 2009, kembali saya menghadiri diskusi tentang Muhammadiyah dan Wahabi di Kantor PP Muhammadiyah Jakarta.

Menyusul terjadinya bom di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton beberapa waktu lalu, wacana tentang RADIKALISME keagamaan kembali mencuat. Radikalisme dianggap sebagai biang keladi munculnya terorisme. Orang menjadi teroris, menurut pendapat ini, karena dia beragama secara radikal. Maka, supaya tidak menjadi teroris, dilakukanlah proses “deradikalisasi”. Diskusi tentang masalah ini semakin marak, setelah mantan Kepala BIN, AM Hendropriyono secara terbuka menunjuk paham Wahabi dan Ikhwanul Muslimin sebagai paham keras yang ada kaitannya dengan aksi terorisme.

Kebetulan, Hendropriyono juga baru saja lulus doktor di Universitas Gadjah Mada. Dalam disertasi doktornya di Universitas Gadjah Mada yang berjudul “Terorisme dalam Filsafat Analitika: Relevansinya dengan Ketahanan Nasional.” AM Hendropriyono antara lain menulis: “Fundamentalisme yang diusungnya (al-Qaidah) hanya ingin menegaskan otoritas keagamaan yang bersifat holistik dan mutlak… bahkan Islam Indonesia menilai ancaman yang sangat berbahaya adalah mengidentifikasi Islam dengan fundamentalisme atau ideologi keras ala Wahabi atau Ikhwanul Muslimin…” (hal. 4).

Lebih jauh Hendropriyono juga menulis: Karenanya Gus Dur dan NU menyerukan perlawanan terhadap gerakan garis keras Wahabi yang sudah melakukan infiltrasi dan terus kembangkan sayapnya di Indonesia… adapun Wahabi yang secara intelektual dinilai marginal berkembang menjadi signifikan bukan karena pemikirannya, tetapi karena kekuasaan Raja Ibn Saud dan penerusnya. NU menolak ideologi dan gerakan ekstrim bersifat trans-nasional tersebut. (hal. 5)... Din Syamsuddin keluarkan keputusan No. 149/kep/I.0/B/2006, agar Muhammadiyah bebas dari paham, misi, politik dari luar.” (hal. 5).

Di tengah tekanan politik dan opini global semacam itu, maka sebagian kalangan Muslim berusaha “menyesuaikan diri”. Sejumlah negara dan LSM Barat kemudian juga menawarkan dana untuk proses de-radikalisasi Islam. Tentu saja, di tengah kesulitan ekonomi yang melanda bangsa Indonesia, dana-dana itu terlalu menggiurkan untuk ditolak oleh sebagian kalangan. Sejumlah organisasi dan tokoh Islam lalu meluncurkan pernyataan, bahwa mereka adalah muslim moderat. Mereka tidak termasuk radikal dan tidak termasuk juga liberal. Dalam berbagai artikel, saya sudah mengusulkan, agar perkataan radikal diganti dengan istilah “ekstrim”, sebab kata “ekstrim” memang ada padanannya dalam Islam, yaitu tatharruf atau ghuluw. Keduanya, berarti tindakan yang melampaui batas-batas syariat Islam.

Tidak dapat dipungkiri, ada sebagian kalangan Muslim yang bersikap ekstrim dalam memahami dan menjalankan agamanya. Ada yang dengan mudah mengkafirkan orang Islam lain, hanya karena perbedaan masalah furu’iyyah. Orang yang terlibat dalam pemilu, meskipun dengan niat untuk memperjuangkan Islam, dicap sebagai kaum musyrik. Tapi, ada juga kelompok – biasanya menyebut dirinya liberal – yang tidak mau lagi membedakan antara mukmin dan kafir. Bagi kelompok ekstrim jenis ini, semua agama sama saja. Baik beragama Islam atau beragama apa saja, dia pandang sama saja. Yang penting baginya adalah “agama kemanusiaan”. Padahal, dalam Al-Quran jelas-jelas dibedakan antara orang mukmin dan orang kafir. Orang mukmin disebut sebagai “khairul bariyyah” (sebaik-baik makhluk); sedangkan orang kafir disebut “syarrul bariyyah” (seburuk-buruknya makhluk).

Dalam diskusi di PW Muhammadiyah Yogya ketika itu, saya menyampaikan, agar kaum Muslim – khususnya warga Muhammadiyah – menyadari makna hakiki dari ad-Dinul Islam yang berbeda dengan segala agama yang eksis saat ini. Islam bukanlah agama budaya yang ajarannya tunduk kepada kondisi budaya setempat. Perbedaan hakikat Islam dengan agama lain inilah yang menjadikan Islam sebagai satu-satunya agama yang memiliki ritual yang tidak berkembang sepanjang zaman. Keyakinan akan kebenaran dan keunikan Islam ini sama sekali tidak membenarkan kaum Muslim untuk bersikap tidak toleran terhadap pemeluk agama lain. Kaum Muslim pun juga diminta menghormati keyakinan agama lain, meskipun keyakinan mereka juga mengklaim kebenaran atas ajaran agama mereka sendiri.

Jika kita mencermati sejarah pendirian Muhammadiyah, tampak, bahwa dengan berdasarkan keyakinan terhadap Islam yang sangat kokoh itulah, KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah pada 8 Dzulhijjah1330 H atau 18 November 1912 M. Menurut Alwi Shihab, dalam bukunya Membendung Arus, Muhammadiyah didirikan sebagai respon terhadap (1) praktik keagamaan yang dinilai menyimpang dari ajaran Islam, (2) gerakan Kristenisasi dan (3) gerakan Free Mason. (Lihat, Alwi Shihab, Membendung Arus: Repons Gerakan Muhammadiyah terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia, (1998).

Jadi, sejak awal, Muhammadiyah bukan hanya peduli pada soal takhayul, bid’ah dan khurafat, tetapi juga sadar akan tantangan Kristenisasi dan liberalisasi yang diusung oleh Freemason. Kelompok terakhir ini terkenal dengan jargonnya: liberty, egality, dan fraternity. Freemason mulai beroperasi di Indonesia tahun 1764 dan dibubarkan oleh Bung Karno pada tahun 1961. Organisasi inilah yang rajin menggelorakan semangat dan slogan “Freedom” di berbagai penjuru dunia.

Sejak awal pendiriannya, Muhammadiyah sadar benar akan tantangan semacam itu. Maka, hingga saat ini, dengan keyakinan yang kuat itulah, warga Muhammadiyah – melalui Anggaran Dasar (AD) Muhammadiyah, menyatakan, bahwa “Muhammadiyah berasas Islam” (pasal 4). Sedangkan tujuan organisasi atau persyarikatan Muhammadiyah adalah tegas dan lugas: “Maksud dan tujuan Muhammadiyah ialah menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.” (pasal 6).

Dari Anggaran Dasar Muhamadiyah sendiri, dapat ditarik sejumlah pokok pikiran/prinsip/pendirian, yaitu (1) Hidup manusia harus berdasar Tauhid (meng-Esakan) Allah; beribadah serta tunduk dan taat hanya kepada Allah. (2) Hidup itu bermasyarakat. (3) Hanya hukum Allah yang sebenar-benarnyalah satu-satunya yang dapat dijadikan sendi untuk membentuk pribadi yang utama dan mengatur ketertiban hidup bersama (masyarakat) dalam menuju hidup bahagia dan sejahtera yang hakiki, di dunia dan akhirat. (4) Berjuang menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya adalah wajib, sebagai ibadah kepada Allah berbuat ihsan dan islah kepada manusia/masyarakat. (Pokok pikiran keempat ini dirumuskan dalam Muqaddimah AD Muhammadiyah sebagai berikut: Menjunjung tinggi hukum Allah lebih dari pada hukum yang manapun juga adalah kewajiban mutlak bagi tiap-tiap orang yang mengaku bertuhan kepada Allah. Agama Islam adalah agama Allah yang dibawa oleh sekalian Nabi, sejak Nabi Adam sampai Nabi Muhammad saw dan diajarkan kepada umatnya masing-masing untuk mendapatkan hidup bahagia dunia dan akhirat). (5) Perjuangan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, hanyalah akan dapat berhasil bila mengikuti jejak (ittiba’) perjuangan para nabi terutama perjuangan Nabi Muhammad saw. (6) Perjuangan mewujudkan pokok pikiran tersebut hanyalah akan dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan berhasil, bila dengan cara berorganisasi. Organisasi adalah satu-satunya alat atau cara perjuangan sebaik-baiknya.

Kuatnya visi dan misi keislaman Muhammadiyah dapat disimak dalam dokumen penting dalam Muhammadiyah yang disebut “Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup (MKCH) Muhammadiyah”, yang antara lain menegaskan:

1. Muhammadiyah adalah Gerakan berasas Islam, bercita-cita dan bekerja untuk terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, untuk melaksanakan fungsi dan misi manusia sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi.
2. Muhammadiyah berkeyakinan bahwa Islam adalah agama Allah yang diwahyukan kepada para Rasul-Nya, sejak Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan seterusnya sampai kepada Nabi penutup Muhammad saw, sebagai hidayah dan rahmat Allah kepada umat manusia sepanjang masa dan menjamin kesejahteraan hidup materiil dan spiritual, duniawi dan ukhrawi.
3. Muhammadiyah dalam mengamalkan Islam berdasarkan: al-Quran dan Sunnah Rasul.
4. Muhammadiyah bekerja untuk terlaksananya ajaran-ajaran Islam yang meliputi bidang-bidang: aqidah, akhlak, ibadah, muamalah duniawiyat. (Penjelasan: Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya aqidah Islam yang murni, bersih dari gejala-gejala kemusyrikan, bid’ah dan churafat, tanpa mengabaikan prinsip toleransi menurut ajaran Islam…).
5. Muhammadiyah mengajak segenap lapisan bangsa Indonesia yang telah mendapat karunia Allah berupa tanah air yang mempunyai sumber-sumber kekayaan, kemerdekaan bangsa dan negara Republik Indonesia yang berfilsafat Pancasila, untuk berusaha bersama-sama menjadikan suatu negara yang adil dan makmur dan diridhai Allah SWT.

Demikianlah sekilas gambaran tentang Muhammadiyah. Apakah Muhammadiyah ada hubungannya dengan Wahabi? Tidak dapat dipungkiri, bahwa Gerakan Pembaruan di Timur Tengah, terutama yang dilakukan oleh Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha memberikan pengaruh besar terhadap pemikiran dan gerakan pendiri Muhammadiyah KH A. Dahlan. Rasyid Ridha sendiri juga banyak memberikan pembelaan terhadap pemikiran dan ajaran Muhammad bin Abdul Wahhab yang oleh para seterunya dicap sebagai pembawa paham Wahabi.

Di Indonesia, salah satu buku yang banyak dijadikan rujukan di Indonesia dalam mendeskripsikan apa itu Wahabi, adalah karya Prof. Dr. Harun Nasution, yang berjudul Pembaharuan dalam Islam, Sejarah Pemikiran dan Gerakan (Jakarta: Bulan Bintang, 2003, cet. Ke-14). Dalam buku ini dijelaskan seputar gerakan Wahabi yang dipelopori oleh Muhammad Abd Wahhab (1703-1787), sebagai berikut:

1. Yang boleh dan harus disembah hanyalah Tuhan, dan orang yang menyembah selain dari Tuhan telah menjadi musyrik dan boleh dibunuh.
2. Kebanyakan orang Islam bukan lagi penganut paham tauhid yang sebenarnya karena mereka meminta pertolongan bukan lagi dari Tuhan, tetapi dari syekh atau wali dan dari kekuatan gaib. Orang Islam demikian juga telah menjadi musyrik.
3. Menyebut nama Nabi, syekh atau malaikat sebagai perantara dalam doa juga merupakan syirik.
4. Meminta syafaat selain kepada Tuhan juga syirik.
5. Bernazar kepada selain dari Tuhan juga syirik.
6. Memperoleh pengetahuan selain dari Alquran, Hadits dan qiyas (analogi) merupakan kekufuran.
7. Tidak percaya kepada kada dan kadar Tuhan juga merupakan kekufuran.
8. Demikian pula menafsirkan Alquran dengan takwil (interpretasi bebas) adalah kufur. (hal. 15-17)

Sayangnya, buku Prof. Harun Nasution ini sama sekali tidak menyebutkan rujukan dari satu pun karya Muhammad bin Abdul Wahhab sendiri. Cara penilaian terhadap Wahabi semacam ini tentu saja tidak fair dan tidak ilmiah. Sebuah buku yang baik dalam menyajikan pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab disusun oleh Abdurrahman ibn Muhammad ibn Qasim. Buku itu diberinya judul al-Durar al-Saniyyah fi al-Ajwibah al-Najdiyyah. Buku yang merupakan kumpulan karya dan surat-surat Muhammad bin Abdul Wahhab ini menghimpun berbagai jawaban sang tokoh terhadap tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepadanya.

Muhammad bin Abdul Wahhab sendiri tidak pernah menamai ajarannya sebagai paham “Wahabi”. Orang-orang di luar dirinya yang memberikan nama itu. Beliau sendiri mengaku sebagai pemeluk mazhab Hanbali, sama dengan tokoh sufi Abdul Qadir al-Jilani. Buku-buku ilmiah tentang Wahabi perlu dikaji dengan serius agar tidak mudah memberikan gambaran yang keliru tentang paham Wahabi. Kita boleh saja berbeda tentang beberapa hal dengan mazhab atau kelompok lain. Tetapi, selama perbedaan itu masih dalam batas-batas keislaman, seharusnya di antara sesama Muslim terjalin sikap saling menghormati dan menghargai. NU dan Muhammadiyah, misalnya, adalah dua organisasi Islam yang sama-sama menegaskan komitmen kepada penegakan Islam. Perbedaan diantara keduanya masih dalam batas-batas furu’iyyah.

Di tengah dominasi paham sekularisme, liberalisme, materialisme, hedonisme, dan sebagainya, sebagai salah satu pengurus Majlis Tabligh dan Dakwah Khusus PP Muhammadiyah, saya hanya sempat berbagi harapan dengan sesama warga Muhammadiyah, bahwa yang terpenting saat ini, seluruh jajaran Muhammadiyah bersungguh-sungguh dan tetap istiqamah dalam merujudkan tujuan Muhammadiyah, yaitu: “MENEGAKKAN DAN MENJUNJUNG TINGGI AGAMA ISLAM SEHINGGA TERWUJUD MASYARAKAT ISLAM YANG SEBENAR-BENARNYA.”.

Dan salah satu pesan KH A. Dahlan kepada warga Muhammadiyah adalah: “Harus bersungguh-sungguh hati dan tetap tegak pendiriannya (jangan was-was).” Juga, pesan Kyai Ahmad Dahlan yang lain, “Jangan sentimen, jangan sakit hati, kalau menerima celaan dan kritikan.” (Catatan: Paparan tentang Muhammadiyah ini dikutip dari buku Ideologi dan Strategi Muhammadiyah karya Drs. H. Hamdan Hambali, (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2008, cetakan keempat).

Insyaallah, dengan niat ikhlas dan kesungguhan dalam berjuang di jalan Allah, kita mampu menjaga dan melanjutkan amanah KH Ahmad Dahlan dan seluruh pejuang Islam di tubuh Muhammadiyah lainnya yang telah mempertaruhkan diri, harta, dan lisan mereka dalam upaya mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya di bumi Indonesia tercinta ini. (Depok, 24 Ramadhan 1430 H/14 September 2009/www.hidayatullah.com]

Monopoli 1 Syawal

Dialah (Allah) yang telah menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dia telah menetapkan baginya (bulan itu) lintasan-lintasan, agar kalian bilangan tahun dan hisab (perhitungan ilmu falak)

QS Yunus: 5

elama hidup di Kota Mataram saya terbiasa mengikuti ketetapan 1 Syawal via pesan pendek dari beberapa kawan pergerakan (harokah). Isi pesan pendek tersebut tentu dari kawan pergerakan yang tinggal di negara lain sudah melihat hilal.

Tapi beda setelah tinggal di sini, Desa Kelayu. Tiap malam secara individu, masyarakat Desa Kelayu terbiasa melihat perubahan bulan untuk menentukan 1 Syawal.

Kata Nabi Besar, patokan melihat Al Hilal mengawali puasa Ramadhan dan mengakhirinya adalah dengan ru’yah al hilal (melihat bulan baru).

Dalam beberapa hadits Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Berpuasalah kalian dengan melihatnya (al hilal), dan berbukalah kalian (di awal Syawal) dengan melihatnya. Maka jika ia (hilal itu) terhalangi dari pandangan kalian, maka lengkapkan bilangan Sya’ban sampai 30 hari” (HR. Bukhari).

Matahari dan bulan memang dapat dijadikan ukuran perhitungan waktu, karena ketepatan rotasi dan revolusi sehingga terjadinya gerhana matahari dan gerhana bulan dapat diprediksi beberapa bulan sebelum terjadi.

Bila bulan sudah cukup memenuhi kriteria tanda awal Bulan Syawal 1430 H, seperti keterangan KK Astronomi FMIPA ITB Dr. Moedji Raharto, maka awal Syawal 1430 H jatuh pada 19 September 2009 setelah maghrib dan shalat Ied 1430 H pada hari Ahad tanggal 20 September 2009.

Namun di negeri ini sering banget jumlah hari Ramadhan 30 hari. Padahal bila ru’yatul hilal di suatu negeri Muslim telah terlihat maka hal tersebut bisa menjadi patokan bagi negeri-negeri lain untuk mengikutinya.

Umat Islam sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW dalam menentukan patokan penanggalan adalah revolusi dan rotasi bulan yang disebut Bulan Sinodis, yaitu 29,5 hari. Karena itulah penanggalan bulan Hijriyah adalah 6 bulan 28 hari, dan 6 bulan 29 hari selang-seling (artinya kalau bulan Sya’ban 30 hari berarti bulan Ramadhan 29 hari dan bulan Syawal 30 hari, dan seterusnya), sehingga satu tahun komariyah adalah (6×29) + (6×30) = 354 hari. Karena ketepatan inilah seharusnya umat Islam tidak ragu dalam menentukan awal dan akhir Ramadhan.

Sedangkan metode rukyat yang tertuang dalam hadits Rasulullah SAW H.R. Bukhari-Muslim tentang menggenapkan bulan menjadi 30 hari memang pernah dilakukan. Rasulullah SAW puasa 29 hari dari 9 kali Ramadhan, puasa 30 hari 1 kali karena tidak melihat bulan.

Di jaman Rasulullah SAW tentunya ilmu astronomi belum sehebat sekarang, sehingga metode hisab yang digunakan pun masih manual, seperti tertuang dalam hadits tersebut.

Tapi disayangkan, seringkali memulai puasa Ramadhan dan mengakhirinya tidak sesuai dengan suara minoritas Muslim yang benar telah melihat al hilal, atau mendengar kabar hilal di negara lain.

Keputusan pemerintah berbeda dengan suara minoritas Muslim selama ini, karena keputusan pemerintah masih diartikan sebagai keputusan mutlak benar dan harus ditaati oleh rakyat Indonesia.

Padahal sejak dimulainya berpuasa Ramadhan, sejak tahun ke-2 Hijriyah, selama di Madinah, Rasulullah lebih sering berpuasa 29 hari, dan hanya sekali saja berpuasa genap 30 hari, karena gagal melihat al hilal.

Sedangkan, di Kerajaan Saudi, berpuasa 29 hari bukanlah hal aneh. Mereka biasa berpuasa seperti itu, dan lebih jarang berpuasa 30 hari. Artinya, usaha melihat al hilal juga lebih banyak suksesnya, daripada gagalnya.

Tapi di Indonesia lain lagi. Mayoritas puasa di negeri kita 30 hari, jarang sekali 29 hari. Padahal panjang wilayah Indonesia jauh lebih panjang daripada Kerajaan Saudi. Ini menjadi pertanyaan yang penuh misteri.

Satu kelemahan fundamental penentuan ru’yatul hilal di Indonesia adalah pihak yang berhak melihat hilal itu hanyalah orang-orang tertentu yang ditunjuk oleh negara, dengan SK, fasilitas, serta honor tertentu. Adapun kaum Muslimin yang melihat secara mandiri alias swasta tidak akan diterima hasil penglihatannya, meskipun dia Muslim yang adil dan benar-benar telah melihat al hilal.

Kalau merujuk ke sistem kaum Muslimin di masa Rasulullah, setiap Muslim yang benar-benar telah melihat al hilal, bisa diterima kesaksiannya. Dan proses melihat al hilal itu tidak harus dimonopoli oleh pemerintah. Semua Muslim boleh melihat dengan caranya masing-masing dan di tempat masing-masing.

Penetapan 1 Syawal dalam proses pengamatan al hilal sejatinya tidak menjadi monopoli badan tertentu. Ia bebas milik umat Islam dan melibatkan siapapun yang mampu dan sempat melakukannya. Jangan sampai, ketika ada seseorang yang telah melihat al hilal, hanya karena dia tidak tergabung dalam panitia ru’yatul hilal, pengamatannya ditolak.

Mitos Kepahlawanan Herakles

i hari-hari terakhir Ramadhan mestinya makin masuk akal tentang kebenaran. Tapi begitulah kotak hitam ideologi, ada saja 'kebenaran' manipulatif yang asik buat dinikmati.

Rabu pagi nonton Hercules, mitologi Yunani, di salah satu stasiun televisi swasta. Mitologi Yunani, menurut Wikipedia, kumpulan legenda Yunani tentang dewa-dewi Yunani serta para pahlawan yang berawal dan tersebar melalui tradisi lisan.

Seperti kisah Hercules, kebanyakan dewa Yunani digambarkan seperti manusia, dilahirkan namun tak akan tua, kebal terhadap apapun, bisa tak terlihat, dan tiap dewa mempunyai karakteristik tersendiri. Karena itu, para dewa juga memiliki nama-nama gelar untuk tiap karakternya yang mungkin lebih dari 1, seperti Demeter. Dewa-dewi ini terkadang membantu manusia dan bahkan memperistri seorang wanita manusia menghasilkan anak yang setengah manusia setengah dewa. Anak-anak inilah yang kemudian dikenal sebagai pahlawan.

Saat menonton Hercules, kenapa Hera digambarkan sebagai karakter jahat? Padahal dalam Greek Mythology Reteller, Hera adalah dewi agung, ratu langit, dewi pelindung pernikahan dan keluarga. Jelas, si pembuat cerita hanya membual dan tidak memiliki pengetahuan apa-apa tentang mitologi Yunani, hanya menempatkan tokoh mitologi hanya sebagai kulit luar sekaligus mengenyampingkan nilai-nilai yang terdapat dalam sebuah kisah mitologi.

Kebenaran mitologi memang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Karena mitologi hanya tradisi lisan saat itu. Namun dari sumber lain, awal kebencian Hera pada Hercules - atau dengan nama Herakles dalam Tales of Greek Mythology - karena Zeus memiliki anak dari rahim wanita lain.

Sembilan bulan telah berlalu semenjak Zeus mengunjungi Alkmene. Dan saat itu, saat semua dewa berkumpul di Olympus sambil minum-minum, Zeus mengumumkan kepada semua dewa yang hadir bahwa malam ini yang akan lahir pertama kali dari garis keturunan Perseus adalah anak laki-lakinya, yang akan menjadi pahlawan besar dan seluruh Yunani akan tunduk pada kemauannya.

Hera yang turut hadir, terbakar oleh api cemburu, dia berbisik kepada Ate, dewi cerdik yang duduk di sampingnya. Lalu Ate bangkit dari duduknya dan menyeru Zeus untuk bersumpah agung bahwa perkataannya ini akan menjadi takdir yang tidak dapat diubah lagi.

"Aku bersumpah demi air suci Styx yang mengalir di Bawah Tanah, bahwa akan terjadi seperti yang kukatakan. Anak yang pertama lahir dari garis Perseus malam ini akan memerintah Yunani dan seluruh Yunani tunduk pada kemauannya," seru Zeus.

Hera tersenyum, Zeus terjebak ucapannya sendiri. Karena saat itu di Mykena, Nikipe, istri Stenelus sedang hamil tujuh bulan. Stenelus adalah saudara Elektryon (ayah Alkmene) dan keduanya putra Perseus. Agar rencananya berhasil, Hera menyuruh Eletia, dewi kelahiran bayi, agar mempercepat proses kelahiran Nikipe dan memperpanjang rasa sakit Alkmene.

Akhirnya anak pertama yang lahir dari garis Perseus malam itu adalah putra Stenelus yang bernama Eurystheus, bayi lemah dan penyakitan tetapi mewarisi takhta Mykena, kerajaan yang paling berkuasa di Yunani saat itu. Satu jam kemudian baru lahir Herakles, disusul oleh Iphikles, putra Amphytrion.

Zeus pada akhirnya mengetahui taktik licik Hera, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena sudah terlanjur bersumpah. Dengan murka, Zeus melemparkan Ate dari Olympus dan dihukum tinggal di antara manusia.

Akhirnya Zeus menyusun rencana untuk membalas perbuatan Hera. Pada suatu malam, Zeus membuat hati Alkmene khawatir kalau-kalau Hera akan mencelakakan Herakles kecil. Untuk melindunginya, Alkmene membawa Herakles keluar dari istana dan meninggalkannya di tempat sepi di bawah dinding kota Thebes, sambil berdoa kepada Athena, dewi kebijaksanaan, agar melindungi anaknya.

Sesuai dengan perintah Zeus, seperti dalam Greek Mythology Reteller, Athena mengajak Hera berjalan-jalan di sekitar Thebes dan seolah-olah tanpa sengaja membawanya ke tempat dimana Herakles ditinggalkan. "Seorang bayi sendirian! Dan begitu rupawan! Aku belum pernah melihat bayi yang begitu tampan dan sesehat ini!", seru Hera begitu melihat Herakles.

Athena melirik Hera sambil tersenyum, "Sudah berapa lama ia ditinggalkan disini? Kelihatannya ia sangat haus. Kau punya air susu, bukan? Susuilah ia barang sebentar saja." Dengan senang hati Hera menyusuinya, tetapi Herakles menyusu dengan begitu hebat sehingga Hera kesakitan.

Alhasil, dengan sentakan keras, Hera melepaskan diri dari Herakles dan air susu Hera memancar ke langit malam, membentuk gugus Bima Sakti (milky way-english).

Alih-alih Hera membunuhnya, ternyata sang Dewi malah membuat Herakles menjadi bertambah kuat dan tidak terkalahkan. Itulah sepenggal mitologi dari sebuah negeri yang pernah dikuasai pemimpin besar karismatik, Pericles (445-429 SM), Yunani.

Muhammad al-Fatih

Muhammad Al-Fatih
Pembawa Islam ke Eropa

Dalam bahasa Turki, Muhammad Al-Fatih sering disebut dengan Fatih Sultan Mehmet. Beliau lahir 30 Maret 1432 dan wafat 3 Mei 1481. Al-Fatih tidak pernah meninggalkan shalat Tahajjud dan shalat Rawatib sejak baligh hingga wafat. Dan kedekatannya kepada Allah SWT ditularkan kepada tentaranya. Tentara Sultan Muhammad Al-Fatih tidak pernah meninggalkan shalat wajib sejak baligh. Dan separuh dari mereka tidak pernah meninggalkan shalat Tahajjud sejak baligh.

Karena prestasinya menaklukkan Konstantinopel, Muhammad kemudian mendapat gelar “Al-Fatih”. Artinya sang pembebas. Barangkali karena para pelaku sejarah sebelumnya tidak pernah berhasil melakukannya. Al-Fatih Berasal dari kata: fataha. Artinya membuka atau membebaskan.

Beliau merupakan seseorang yang sangat ahli dalam berperang dan pandai berkuda. Ada yang mengatakan bahwa sebagian hidupnya dihabiskan di atas kudanya.

Yang lebih menarik, meski beliau punya kedudukan tertinggi dalam struktur pemerintahan, namun karena keahlian beliau dalam ilmu strategi perang, hampir seluruh perjalanan jihad tentaranya ia pimpin secara langsung. Bahkan ia tetap berangkat berjihad kendati sedang sakit.
Selain sebagai ahli perang dan punya peran besar dalam hal perluasan wilayah Islam, beliau juga ahli di bidang tata negara. Kehebatan beliau dalam menata negerinya menjadi negeri yang sangat maju diakui oleh banyak ilmuwan. Bahkan secara serius beliau banyak melakukan perbaikan perekonomian, pendidikan, dan lain-lain.

Dalam kepemimpinannya, Istanbul dalam waktu singkat sudah menjadi pusat pemerintahan yang sangat indah dan maju di samping sebagai pusat ekonomi yang sukses.

Al-Fatih menguasai 6 bahasa sejak umur 21 tahun dan dikenal sebagai pakar dalam bidang kemiliteran, sains, matematika. Satu hal yang jarang diingat orang adalah proses pembentukan pasukan yang sangat profesional. Pembibitan dilakukan sejak calon prajurit masih kecil. Ada tim khusus yang disebarkan ke seluruh wilayah Turki dan sekitarnya seperti Balkan dan Eropa Timur untuk mencari anak-anak yang paling tinggi IQ-nya, paling rajin ibadahnya, dan paling kuat fisiknya. Lalu ditawarkan kepada orang tuanya sebuah kontrak jangka panjang untuk ikut dalam pembinaan sejak dini.

Bila kontrak itu ditandatangani dan anaknya memang berminat, maka seluruh kebutuhan hidupnya langsung ditanggung negara. Anak itu kemudian mulai mendapat bimbingan agama, ilmu pengetahuan, dan militer sejak kecil. Mereka sejak awal sudah dipilih dan diseleksi serta dipersiapkan. Maka tidak heran kalau tentara Al-Fatih adalah tentara yang paling rajin shalat, bukan hanya 5 waktu, tetapi juga shalat-shalat sunnah. Sementara dari sisi kecerdasan, mereka memang sudah memilikinya sejak lahir, sehingga penambahan ilmu dan sains menjadi perkara mudah.

Jadi Khalifah Saat Belia
Saat masa jabatannya belum habis, Sultan Murad II (ayah Al-Fatih), berniat untuk beruzlah di tempat yang sepi dan menjauh dari keramaian politik. Roda kepemimpinan diserahkan kepada putranya, Muhammad, yang sebenarnya saat itu masih belum cukup umur. Apalagi saat itu wilayah Islam sudah membentang luas dari Maroko sampai Marauke.

Namun kebeliaannya tidak membuat prestasinya berkurang. Justru sejarah mencatat bahwa di masa kepemimpinan beliau, silsilah khilafah Bani Utsmani mencapai kejayaan terbesarnya, yaitu menaklukkan benua Eropa sebagaimana yang pernah dijanjikan oleh Rasulullah Saw.

Sejak kecil Al-Fatih telah mendapatkan berbagai macam pembinaan diri dan pendalaman ilmu-ilmu agama. Sang Ayah memang secara khusus meminta kepada para ulama untuk mendidiknya, karena nantinya dia akan menjadi khalifah tertinggi. Mulai dari bahasa Arab, tafsir, hadits, fiqih, sampai ke ilmu tata negara, telah beliau lahap sejak usia diri. Bahkan termasuk ilmu strategi perang dan militer adalah makanan sehari-hari.

Siapa Yang Jadi Khalifah?
Sultan Murad II berhenti dari jabatannya di tengah begitu banyak problem, baik internal maupun eksternal. Sementara khilafah sedang menghadapi serangan bertubi-tubi dari tentara kerajaan Romawi Timur. Sebagai khalifah yang masih sangat belia, Al-Fatih kemudian berinisiatif untuk mengirim utusan kepada ayahandanya dengan membawa pesan. Isinya cukup unik untuk mengajak sang ayahanda tidak berdiam diri menghadapi masalah negara.

"Siapakah yang saat ini menjadi khalifah: saya atau ayah? Kalau saya yang menjadi khalifah, maka sebagai khalifah, saya perintahkan ayahanda untuk datang kemari ikut membela negara. Tapi kalau ayahanda yang menjadi khalifah, maka seharusnya seorang khalifah berada di tengah rakyatnya dalam situasi seperti ini"

Menembus Eropa
Setiap pahlawan Islam selalu bercita-cita untuk menjadi orang yang dimaksud Rasulullah SAW dalam haditsnya sebagai panglima yang terbaik dan tentaranya tentara yang terbaik dan membebaskan Konstantinopel agar terbebas dari kekuasaan Romawi.

Sudah sejak Rasulullah SAW masih hidup, beliau sudah berupaya menjadikan penguasa di Konstatinopel menjadi muslim. Selembar surat ajakan masuk Islam dari nabi SAW telah diterima Kaisar Heraklius di kota ini.

Dari Muhammad utusan Allah kepada Heraklius raja Romawi.
Bismillahirrahmanirrahim, salamun 'ala manittaba'al-huda, Amma ba'du,
Sesungguhnya Aku mengajak anda untuk memeluk agama Islam. Masuk Islam lah Anda akan selamat dan Allah akan memberikan Anda dua pahala. Tapi kalau Anda menolak, Anda harus menanggung dosa orang-orang Aritsiyyin."

Dikabarkan bahwa saat menerima surat ajakan masuk Islam itu, Kaisar Heraklius cukup menghormati dan membalas dengan mengirim hadiah penghormatan. Namun dia mengakui bahwa dirinya belum siap untuk memeluk Islam.

Di masa shahabat, tepatnya di masa pemerintahan khalifah Umar RA, Khalid bin Walid dikirim sebagai panglima perang menghadapi pasukan Romawi. Khalid memang mampu membebaskan sebagian wilayah Romawi dan menguasai Damaskus serta Palestina (Al-Quds). Tapi tetap saja ibukota Romawi Timur saat itu, Konstantinopel, masih belum tersentuh.

Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi, pahlawan yang merebut Al-Quds sekalipun, ternyata masih belum mampu membebaskan Konstantinopel. Padahal beliau pernah mengalahkan serangan tentara gabungan dari Eropa pimpinan Richard The Lion Heart dalam perang Salib. Ternyata membebaskan kota warisan Kaisar Heraklius bukan perkara sederhana. Dibutuhkan kecerdasan, keuletan dan tentunya, kekuatan yang mumpuni untuk pekerjaan sebesar itu. Dan ternyata Al-Fatih orangnya. Beliau adalah sosok yang telah ditunggu umat Islam sepanjang sejarah menunggu-nunggu realisasi hadits syarif Muhammad Saw.
Tidak mudah memang untuk membebaskan Istanbul yang sebelumnya bernama Konstantinopel ini. Kotanya cukup unik, karena berada di dua benua, Asia dan Eropa. Di tengah kota ada selat Bosporus yang membentang, ditambah benteng-benteng yang cukup merata.
Tetapi Sultan Al-Fatih tidak pernah menyerah. Sejarah mencatat beliau telah memerintahkan para ahli dan insinyurnya untuk membuat sebuah senjata terdahsyat, yaitu sebuah meriam raksasa. Suaranya saja mampu menggetarkan nyali lawan dan berpeluru logam baja. Meriam ini mampu menembak dari jarak jauh serta meluluh-lantakkan benteng Bosporus.
Inilah barangkali meriam terbesar yang pernah dibuat manusia. Sebelumnya dari sejarah para penakluk, belum pernah ada tentara manapun yang punya meriam raksasa sebesar ini.

Jadi Istanbul
Setelah ditaklukan nama Konstatinopel diubah menjadi Islambul yang berarti “Kota Islam”, tapi kemudian penyebutan ini bergeser menjadi Istambul seperti yang biasa kita dengar sekarang. Sejak saat itu ibu kota khilafah Bani Utstmani beralih ke kota ini dan menjadi pusat peradaban Islam dan dunia selama beberapa abad. Sebab kota ini kemudian dibangun dengan segala bentuk keindahannya, percampuran antara seni Eropa Timur dan Arab.
Gereja dan tempat ibadah non muslim dibiarkan tetap berdiri, tidak diutak-atik sedikit pun. Sementara khalifah membangun gedung dengan arsitektur yang tidak kalah cantiknya dengan gedung-gedung sebelumnya. Sepintas kalau kita lihat gedung peninggalan peradaban masehi sama saja dengan bangunan masjid. Tetapi ternyata tetap ada perbedaan mendasar. Selain masalah salib yang menjadi ciri gereja, bangunan dari peradaban Islam punya dominasi lingkaran dan setengah lingkaran.
Kejayaannya dalam menaklukkan Konstantinopel menyebabkan bayak kawan dan lawan kagum dengan kepimpinannya serta taktik strategi peperangannya yang dikatakan mendahului zamannya. (Fat)

Tugas Presentasi kelompok Auditing II

Untuk : Rekan-rekan Mahasiswa Program Kelas Karyawan (PKK) kelas Meruya Universitas Mercubuana Mata kuliah Auditing II

Di awal perkuliahan, saya lakukan proses expectasi, kontrak belajar, Satuan acara perkuliahan dan materi pertemuan 1 (sampel audit untuk pengujian). Material (slide maupun modul) mudah-mudahan bisa membantu memahami materi tersebut. Presentasi minggu depan saya bagi menjadi 9 kelompok

Tugas Presentasi kelompok untuk setiap pertemuan :
Kelompok 1 : Audit terhadap siklus Pendapatan (penjualan) dan Penerimaan kas
Kelompok 2 : Audit terhadap siklus Pembelian dan Pembayaran
Kelompok 3 : Audit terhadap siklus Produksi
Kelompok 4 : Audit terhadap siklus Penggajian dan kepegawaian
Kelompok 5 : Audit terhadap siklus Persediaan dan penyimpanan
Kelompok 6 : Audit terhadap siklus modal dan investasi
Kelompok 7 : Audit terhadap siklus kas dan investasi
Kelompok 8 : Penyelesaian audit
Kelompok 9 : Jasa assurance lainnya

Kerangkanya adalah :
1. Konsep dasar
2. Contoh Penerapannya

Waktu presentasi maksimal 15 menit.....

Selamat bekerja, selamat menikmati liburan panjangnya dan selamat menikmati sisa puasanya yach......

Budi Prayogi

Model Pembelajaran Kepepet

iuh anak-anak pagi ini memang gak seperti biasa. Ini hari terakhir belajar di sekolah di bulan Ramadhan. Setelah denting berbunyi, kelas mereka bisa dipastikan lengang, bisa dihitung dengan jari jumlah yang masuk kelas.


Kalau hari biasa, jumlah mereka tidak kurang dari 40 kepala di tiap kelasnya. Namun, di bulan Ramadhan, tidak lebih dari sepertiga jumlah yang masuk ditiap kelas. Karena, lebih dari setengah murid di sekolah ini tinggal di Burnei dan Dasan Erot - dua jam perjalanan ke sekolah. Jadi gak heran maksimal murid yang bersekolah, misal kelas liman, hanya 12 dari 41 murid.

Itu sebabnya, melihat kondisi tersebut, model Pembelajaran Ragam Kelas (PRK) -model pembelajaran "kepepet" istilah saya- saya pikir menjadi solusi. Selain karena sedikitnya murid bersekolah dan jumlah guru yang ikut-ikutan malas, faktor lain yang dominan adalah kesulitan geografis sehingga membatasi mobilitas murid.

Maka tak heran, selama bulan Ramadhan, sekolah dikelola oleh jumlah guru yang sangat terbatas, bahkan terkadang dikelola oleh hanya seorang guru (one-teacher school).

Ada beberapa model atau pola pembelajaran yang dapat dikembangkan dalam PRK tergantung pada situasi dan kondisi masing-masing daerah. Menurut Anwas  M. Oos, seorang guru menghadapi murid yang berada pada dua ruangan untuk dua tingkatan kelas yang berbeda; seorang guru menghadapi murid dalam tiga tingkatan kelas yang berbeda dalam dua ruangan kelas; seorang guru menghadapi dua tingkatan kelas yang berbeda dalam satu ruangan; seorang guru menghadapi tiga tingkatan kelas yang berbeda pada dua ruangan kelas; dan seorang guru menghadapi tiga tingkatan kelas yang berbeda dalam satu ruangan kelas.

Di dalam proses belajar-mengajar model PRK yang dilaksanakan, para peserta didik dikondisikan sedemikian rupa agar mereka senantiasa aktif belajar dan khususnya belajar mandiri (independent learning), baik secara perseorangan maupun kelompok, tanpa harus sepenuhnya tergantung pada guru.

Salah satu pendekatan dalam PRK dan yang sekaligus juga merupakan karakteristik utama adalah adanya pemisahan atau segregasi. Guru membuat pemisahan yang jelas antara setiap tingkatan, setiap mata pelajaran, setiap kelompok anak yang berada di dalam kelas. Anak-anak yang termasuk ke dalam satu tingkatan diorganisasikan untuk berada dalam satu kelompok tersendiri.

Misal, anak-anak dari tingkatan/kelas 1 dan 2 duduk bersama membentuk satu kelompok. Demikian juga dengan anak-anak kelas 3 dan 4. Kemudian, guru akan mencoba menjelaskan satu mata pelajaran kepada masing-masing kelompok secara bergantian. Artinya, akan ada pelajaran matematika untuk kelas 4 dan pelajaran matematika untuk kelas 5 dan demikian selanjutnya.

Kriteria Konsep PRK yang harus dimengerti, yaitu: (a) adanya penggabungan murid yang berasal dari 2 atau lebih tingkatan, (b) seorang guru ditugaskan untuk membelajarkan para murid gabungan yang terdiri dari beberapa tingkatan, (c) seorang guru melaksanakan tugas-tugas mengajarnya kepada para murid gabungan secara serempak, dan (d) murid secara individual maupun di dalam kelompok (tingkatan) tetap dikondisikan oleh guru untuk tetap aktif belajar sekalipun guru sedang memberikan bimbingan kepada murid tingkatan tertentu.

Di beberapa negara, model sekolah PRK dilaksanakan untuk para peserta didik yang tinggal di daerah-daerah pedesaan dan terpencil dengan jumlah penduduknya yang jarang dan kurang beruntung (disadvantaged). Dengan menghadirkan/mendatangkan sekolah ke lingkungan anak-anak, agar berkurang kesenjangan pendidikan antara anak-anak di daerah perkotaan dan pedesaan serta memberikan layanan pendidikan yang dapat diakses dengan mudah oleh anak-anak usia sekolah dalam rangka pelaksanaan Pendidikan Dasar Universal.

Model Sekolah Dasar yang menerapkan PRK di Jepang, misalnya, hanya diperkenankan untuk menggabungkan 2 tingkatan ke dalam satu kelas. Penggabungan 2 tingkatan ini dinilai masih relatif lebih mudah untuk dikelola oleh seorang guru. Kondisinya akan jauh lebih sulit lagi apabila Sekolah Dasar hanya dikelola oleh seorang guru, “Sekolah Satu Guru” (one-teacher schools), yang juga melaksanakan berbagai tugas administratif.

Untuk kepentingan kegiatan pembelajaran, dikemukakan oleh Takako Suzuki, bahwa pemerintah mengembangkan kurikulum khusus yang siklusnya dua tahunan yang didasarkan pada kebijakan kurikulum nasional yang bersifat umum. Pengembangan kurikulum yang akan digunakan oleh guru yang mengajar di kelas-kelas ragam tingkatan ini disesuaikan juga dengan kondisi lokal.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Bray mengenai Sekolah Dasar Kecil (Small Primary Schools) di Kalimantan Tengah dikemukakan bahwa terdapat 460 SD yang dikelola oleh 1 sampai dengan 3 orang guru dengan bahan-bahan belajar yang dirancang secara khusus sehingga dapat dipelajari secara mandiri oleh murid (Bray, 1987).

Sebagai penyemangat. Sebenarnya manfaat yang saya dan beberapa guru peroleh dengan melaksanakan model pembelajaran PRK, seperti yang dikemukakan Paula Rogers, adalah bantuan dari sesama para murid tidak saja hanya menguntungkan para murid dari kelas yang lebih rendah tetapi juga para murid dari di kelas yang lebih tinggi (kerjasama yang saling menguntungkan); para murid terkondisi untuk belajar secara independen karena para gurunya mendidik mereka untuk mengembangkan sikap independen dan efisien dalam belajar; berkembangnya perasaan bangga di dalam diri para murid karena mereka merasa lebih puas sekalipun sedikit mengalami friksi dalam kegiatan belajarnya dibandingkan para murid sekelas yang hanya terdiri atas satu tingkatan (Rogers, 2002). Semoga dengan ini kita tetap semangat memberi yang terbaik buat anak bangsa.

Abu Nawas


SIAPA SEBENARNYA ABU NAWAS?


Abu Nawas. Siapa pun pasti pernah mendengar nama ini. Di negara kita, ia dikenal sebagai seorang tokoh cerdik yang sarat dengan cerita-cerita lucu. Perseteruannya dengan Raja Harun al-Rasyid selalu menjadi cerita utama anak-anak kecil. Hebatnya, kisah lucu Abu Nawas seakan tak pernah habis. Selalu ada cerita lucu yang baru hingga akhirnya ia dikenal dengan seorang humoris yang sangat pintar. Raja Harun al-Rasyid, yang disebut sebagai Raja Dinasti Abbasiyah paling pintar, tak pernah berhasil mengalahkannya. Berbagai macam cara atau tipudaya dilakukan oleh raja Harun dan Abu Nawasdengan kecerdikannya selalu selamat dari ancaman penjara atau hukuman dari Raja Harun.
Syair “Ilahi lastu lil firdausi ahlan. Wa la aqwa ala nari al-jahimi…” yang sering kita dengar sebagai karya Abu Nawas, menggambarkan betapa jenakanya tokoh dari Baghdad itu. Konon, di dalam kubur Abu Nawas membaca doa di atas sehingga ia selamat dari amukan Munkar-Nakir. Kalau diartikan secara harfiah, doa itu memang agak lucu: masuk surga tak pantas, masuk neraka tidak kuat. Mungkin, dari sikap-sikapnya yang nyeleneh, akhirnya banyak yang mempercayai bahwa Abu Nawas adalah wali Allah atau minimal seorang tokoh sufi.
Gus Dur pun mengatakan bahwa syair itu adalah karya Abu Nawas, Syair ini dikarang oleh seorang ulama sufi besar di kota Baghdad pada pertengahan abad ke delapan yang silam. Ia Bernama Abu Nawas atau Abu Nuwas.
Tidak jelas dari mana sumbernya cerita dan kesufian Abu Nawas itu. Sebab dalam literatur sejarah Islam, Abu Nawas justru lebih dikenal sebagai tokoh sastra daripada seorang pelawak. Dan sekedar diketahui, ternyata petualangan Abu Nawas bukan dengan Harun al-Rasyid melainkan dengan khalifah setelahnya, Al-Amin, putra Harun. Bahkan ada yang mengatakan bahwa Abu Nawas tidak pernah bertatap muka dengan Harun al-Rasyid. Para sejarawan hanya mengenalnya sebagai tokoh sastra. Banyak ulama yang menempatkan Abu Nawas sebagai sastrawan Islam nomor wahid di dunia Islam mengalahkan Furazdaq, bahkan Jalaluddin al-Rumi (?).
Ibnu Arabi mengatakan, aku telah bandingkan syair Abu Nawas dengan yang lain, ternyata tidak aku temukan syair seindah miliknya. Tokoh hadits, sejarah dan sastra terkenal di Bashrah bernama Ubaidullah bin Muhammad mengatakan, barang siapa yang belajar sastra tetapi tidak meriwayatkan syair Abu Nawas, maka dia tidak akan sempurna sastranya. Kultsum al-Uttabi juga mengatakan, andaikan Abu Nawas hidup sejak masa Jahiliyah, niscaya tidak seorang pun yang bisa mengalahkannya. Imam al-Utbi mengatakan, al-Jahiz berkomentar, tidak aku temukan orang yang alim dalam ilmu bahasa dan lebih fasih lahjahnya dari mengalahkan Abu Nawas. Dan masih banyak komentar ulama yang senada dengan di atas.
Sayang, keahliannya dalam bersastra terkontaminasi oleh kebiasaannya yang mujun. Hampir semua kitab sejarah menyebutkan hal yang sama: Abu Nawas adalah sastrawan cabul: gemar minuman keras, berbicara kotor dan puisi-puisinya banyak mengkritik hadits dan ayat al-Qur’an yang melarang minum Khomer. Ia sering keluar masuk penjara karena puisi-puisinya itu.
Puisi dan cerita mujun-nya bisa dilihat dalam kitab-kitab sejarah seperti, Tarikh al-Islam (juz 10/161) karya sejarawan handal Adz-Dzahabi, Tarikh Baghdad (juz 7/ 436) karya Khatib al-Baghdadi, Tahdzib ibn Asakir juz 4 (biografi Abu Nawas), Wafayat al-A’yan karya Ibnu Khalkan, Masalik al-Abshar (jilid 9), Syudzurat al-Dzahab (juz 1/345) atau kitab Mulhaq al-Aghani juz 25 karya Abu al-Faraj al-Ashbihani yang khusus menerangkan biografi Abu Nawas.
Di samping peminum minuman keras, Abu Nawas ternyata juga seorang homosex, hal yang terasa asing ditelinga kita. Seorang tokoh Timur Tengah menulis sebuah disertasi mengenai hal ini. Dalam disertasinya yang berjudul al-Syudzudz al-Jinsiyah (kelainan seksual), beliau mengupas habis kepribadian Abu Nawas terutama tentang kelainan seksualnya. Karena itulah, selama hidupnya ia tidak pernah menyukai orang perempuan.
Dalam Mulhaq al-Aqhani juz 25 disebutkan bahwa Abu Nawas pernah dikawinkan secara paksa oleh orang tuanya dengan salah satu wanita yang masih familinya, tapi keesokan harinya perempuan itu ditalaknya karena Abu Nawas tidak mencintainya. Ia pernah mencintai seorang perempuan bernama Jinan. Sayang, cintanya tak sampai.
Kecabulannnya inilah yang membuat Abu Nawas nyaris tidak mendapatkan simpati dari tokoh-tokoh Islam. Salah satu bukti, dalam kitab-kitab balaghah sangat jarang dijumpai pengarangnya menggunakan contoh dari syair-syairnya. Kehebatan sastranya tenggelam di telan kefasikannya. Orang sebesar Imam Syafi pun mengakui kehebatan sastranya. Beliau mengatakan, seandainya Abu Nawas tidak mujun, niscaya aku akan belajar sastra kepadanya Para pengamat sastra menyimpulkan, ada tiga generasi dalam sastra Arab. Di masa Jahiliyah, hanya ada seorang penyair yang tak tertandingi yaitu Imru’ul Qois, dan pada masa awal perkembangan Islam ada nama Jarir dan Furazdaq, musuh al-Hajjaj. Sedang di abad terakhir hanya nama Abu Nawas yang terhebat.
Dus, belum ditemukan keterangan bahwa Syair “Ilahi lastu…” itu adalah karya Abu Nawas. Dalam sebuah kitab justru disebutkan bahwa syair itu adalah karya Syekh al-Sya’roni, bukan milik Abu Nawas. Begitu pula dengan cerita-cerita lucunya, tidak ditemukan dalam literatur sejarah.
Apakah ia seorang wali? Kita tidak bisa menjawabnya. Walaupun ada sebagian ulama berpendapat bahwa Abu Nawas termasuk zindiq, atau minimal fasiq. Namu pada detik-detik akhir kehidupannya, Abu Nawas berubah total. Khamer yang menjadi trade mark nya sejak ia menginjak dewasa dibuang jauh-jauh. Ia tidak lagi menggubah puisi-puisi mujun. Lembaran-lembaran syairnya dibakar habis. “Aku takut setalah aku mati nanti masih tersisa satu dari syairku. Karena itu aku membakarnya,” kata Abu Nawas ketika ditanya oleh salah seorang temannya. Kehidupan zuhudnya di masa injury time itu terangkum dalam beberapa syairnya yang kemudian dikenal dengan isltilah zuhdiyat.
Dari salah satu syair zuhdiyatnya ini, ada empat bait syair yang mirip dengan syair yang biasa kita dengar itu (Ilahi lastu…).
Konon, setalah meninggal, salah seorang temannya mimpi bertemu dengan Abu Nawas dengan wajah yang sangat tampan dan pakaian yang serba bagus.
“Apa yang kamu terima dari Allah?,” tanya si teman.
“Allah mengampuni segala dosaku,” jawab Abu Nawas.
“Mengapa?”
“Karena puisi-puisiku yang aku gubah sebelum aku mati.”
Alhasil, dari manakah sumber cerita yang sering kita dengar itu? Jawabnya, mungkin Abu Nawas ada dua: yang satu ada di kota Baghdad, Iraq. Sedang satunya ada di Indonesia. Dan yang kita dengar cerita itu adalah Abu Nawas yang hidup di Indonesia. (Zubaydi Ilyas R/Sidogiri)

Fatimah Azzahra

FATIMAH AZ-ZAHRA
Sekuntum Bunga di Taman Surga

Fatimah binti Muhammad atau lebih dikenal dengan Fatimah Azzahra (mawar yang mekar semerbak) adalah putri bungsu Nabi
Saw dengan Khadijah. Lahir pada Jumat, 20 Jumadil akhir di Makkah, tahun kelima setelah kenabian. Beliau mendapat gelar Asshiddiqah (wanita terpercaya), Aththahirah (wanita suci), al-Mubarakah (yang diberkahi Allah) dan yang paling sering disebut adalah Fatimah Azzahra.
Fatimah tumbuh dewasa di awal pertumbuhan Islam yang penuh dengan rintangan. Beliau menyaksikan sendiri betapa rintangan yang dihadapi sang ayahanda dalam memperjuangkan Islam. Suatu ketika Rasulullah Saw sedang bersujud di depan Ka’bah, tiba-tiba di punggung beliau diletakkan kotoran onta oleh kaum Qurays. Dengan tangisan kesedihan Fatimah pun membersihkan tubuh Nabi Saw dari kotoran.
Ketika berusia 18 tahun, Fatimah dipersunting oleh salah satu sahabat sekaligus orang kepercayaan Rasulullah Saw,
Ali bin Abi Thalib Kw. Sebagai hadiah pernikahan, Rasulullah Saw memberikan tempat air dari kulit, sebuah kendi dari tanah, sehelai tikar, dan sebuah batu gilingan jagung kepada Fatimah.
Nabi Saw pun berkata, "Anakku, aku telah menikahkanmu dengan laki-laki yang kepercayaannya lebih kuat dan lebih tinggi daripada yang lainnya, dan seorang yang menonjol dalam moral dan kebijaksanaan."
Wanita mulia ini memiliki kepribadian yang sabar, penyayang, dan taat beribadah. Karena itu beliau lebih dikenal daripada putri-putri Rasulullah yang lainnya. Rasullullah sering kali menyebutkan nama Fatimah sebagai contoh dalam banyak ceramah beliau. Seperti ketika Rasulullah berkata, "Seandainya Fatimah Azzahra mencuri, niscaya akan kupotong tangannya dengan tanganku sendiri".
Aisyah pernah berkata, "Saya tidak pernah berjumpa dengan pribadi yang lebih besar daripada Fatimah, kecuali kepribadian ayahnya." Dan ketika menjawab sebuah pertanyaan, Aisyah berkata, "Fatimahlah yang paling disayang oleh Nabi Saw."

Maka wajar bila jutaan orangtua menamakan putri mereka dengan nama Fatimah Azzahra.

Nasihat Ayahanda
Meski menjadi putri kesayangan Rasulullah Saw, Fatimah tetap rendah hati dan tidak sombong. Di tengah kesulitan hidup keluarganya, beliau tetap menjalankan semua tugas dan kewajibannya sebagai seorang istri dan ibu dengan baik. Suami beliau, Ali bin Abi Thalib menuturkan, “Aku menikahi Fatimah, sementara kami tidak mempunyai alas tidur selain kulit domba untuk kami tiduri di waktu malam dan kami letakkan di atas unta untuk mengambil air di siang hari. Kami tidak mempunyai pembantu selain unta itu." Beberapa riwayat menceritakan, Fatimah menggiling sendiri gandum untuk makan sehari-hari dengan alat penggiling hingga menimbulkan bekas di telapak tangannya. Beliaumengangkut air dengan qirbah hingga berbekas pada dadanya, dan menyapu rumahnya hingga bajunya dipenuhi debu.

Atas semua itu, Rasulullah Saw memberi nasihat kepada sang putri tercinta. Nasihat ini patut direnungkan oleh setiap wanita muslimah zaman kini. Inilah nasihat Rasulullah Saw:

Hai Fatimah, setiap istri yang membuatkan tepung untuk suami dan anak-anaknya, maka Allah mencatat baginya kebajikan dari setiap butir biji yang tergiling dan menghapus keburukannya serta meninggikan derajatnya.Hai Fatimah, setiap istri yang berkeringat di sisi alat penggilingnya karena membuatkan bahan makanan untuk suaminya, maka Allah memisahkan antara dirinya dan neraka sejauh tujuh hasta.

Hai Fatimah, setiap istri yang meminyaki dan menyisirkan rambut mereka, dan mencuci baju mereka, maka Allah mencatatkan untuknya pahala seperti pahala orang yang memberi makan 1000 orang yang sedang kelaparan dan seperti pahala orang yang memberi pakaian 1000 orang yang telanjang.

Hai Fatimah, setiap istri yang mencegah kebutuhan tetangganya, maka Allah kelak akan mencegahnya (tidak memberi kesempatan baginya) untuk minum air dari telaga Kautsar pada hari kiamat.

Namun Fatimah, yang lebih utama dari semua itu adalah keridhaan suami terhadap istrinya. Sekiranya suamimu tidak meridhaimu, tentu aku tidak akan mendoakan dirimu. Bukankah engkau mengerti Fatimah, bahwa ridha suami itu menjadi bagian dari ridha Allah, dan kebencian suami itu merupakan bagian dari kebencian Allah.

Hai Fatimah, manakala seorang istri mengandung maka para malaikat memohon ampun untuknya dan setiap hari dirinya dicatat memperoleh 1000 kebajikan dan 1000 keburukannya dihapus. Apabila telah mencapi rasa sakit (menjelang melahirkan) maka Allah memcatat untuknya pahala seperti pahala orang-orang yang berjihad di jalan Allah. Apabila ia telah melahirkan, dirinya terbebas dari segala dosa seperti keadaannya setelah dilahirkan ibunya.

Hai Fatimah, setiap istri yang melayani suaminya dengan niat yang benar, maka dirinya terbebas dari dosa--dosanya seperti pada hari dirinya dilahirkan ibunya. Ia akan meninggal dunia tanpa membawa dosa. Ia menjumpai kuburnya sebagai pertamanan surga. Allah memberinya pahala seperti 1000 orang yang berhaji dan berumrah dan 1000 malaikat memohonkan ampunan untuknya hingga kiamat.Setiap istri yang melayani suaminya sepanjang hari dan malam hari disertai hati yang baik, ikhlas, dan niat yang benar, maka Allah mengampuni dosanya. Pada hari kiamat kelak, dirinya diberi pakaian berwarna hijau dan dicatat untuknya pada setiap rambut yang ada di tubuhnya dengan 1000 kebajikan dan Allah memberi pahala kepadanya sebanyak 100 pahala orang yang berhaji dan berumrah.Hai Fatimah, setiap istri yang tersenyum manis di depan suaminya, maka Allah memperhatikannya dengan penuh rahmat.

Hai Fatimah, setiap istri yang menyediakan diri tidur bersama suaminya dengan sepenuh hati, maka ada seruan yang ditujukan kepadanya dari langit, "Hai wanita, menghadaplah dengan membawa amalmu. Sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang."Hai Fatimah, setiap istri yang meminyaki rambut dan jenggot suaminya, memangkas kumis dan memotong kuku-kukunya, maka kelak Allah akan memberi minum kepadanya dari rahiqim makhtum (tuak jernih yang tersegel) dan dari sungai yang ada di surga. Bahkan Allah kelak akan meringankan beban sakaratul mautnya. Kelak dirinya akan menjumpai kuburnya bagaikan taman surga. Allah mencatatnya terbebas dari neraka dan mudah melewati sirath (titian).

Ratu di Surga
Fatimah amat sayang kepada ayahandanya. Beliau merawat luka sang ayahanda sepulang dari Perang Uhud. Fatimah juga ikut bersama Nabi Saw ketika merebut Makkah. Beliau juga ikut ketika Nabi Saw melaksanakan Haji Wada’.Dalam perjalanan haji terakhir itulah Nabi Saw jatuh sakit. Fatimah mendampingi beliau di sisi tempat tidur. Ketika itu Nabi Saw membisikkan sesuatu ke telinga Fatimah yang membuat Fatimah menangis. Kemudian Nabi membisikkan sesuatu lagi yang membuat Fatimah tersenyum. Setelah Nabi Saw wafat, Fatimah menceritakan kejadian itu kepada Aisyah. Ayahnya membisikkan berita akhir usianya. Itulah yang menyebabkan Fatimah menangis. Tapi waktu Nabi mengatakan bahwa Fatimahlah orang pertama yang akan berkumpul bersama Nabi, maka Fatimah menjadi bahagia.

Enam bulan setelah Nabi wafat, di tahun itu juga Fatimah meninggal dunia ketika sedang membaca Al-Qur’an. Waktu itu Fatimah berumur 28 tahun. Beliau dimandikan oleh suaminya, Ali bin Abi Thalib, dan dimakamkan di Jaat ul Baqih (Madinah), diantar dengan dukacita masyarakat luas.

Fatimah telah menjadi simbol segala yang suci dalam diri wanita, dan pada konsepsi manusia yang paling mulia. Nabi sendiri menyatakan bahwa Fatimah akan menjadi "Ratu segenap wanita yang berada di surga." [Fata, dari berbagai sumber]

KIRIM SMS GRATIS
Jejaring Sosial
Langganan Berita

Masukkan email anda:

Sponsor
Iklan
September 2009
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
KlikSaya