Archive for Oktober, 2009

UMAR LUBIS

Ketua Umum Forum Silaturahmi Ketua RT Se-Tangerang Selatan.
dikukuhkan oleh Pejabat Walikota Tangerang Selatan. Sabtu, 31 Oktober 2009 di Restoran Situ Gintung Pukul 10.00-12.00. selamat dan sukses. FSKRT Tangerang Selatan.salam hangat dari Salman Al-Farisi (Wk.Sekjen SIMPUL Tangerang Selatan).

Mantab Mantab…. Allahu Akbar!

Mantab Mantab....
Allahu Akbar!

Kajian Kader Pelajar Islam Indonesia (PII) Jakarta Pusat

Waktu : 1 November 2009 / pukul 10.00 WIB Tempat : Masjid At-Taqwa Tanah Abang Materi : Urgensi Ilmu dan Berjuang Pemateri : Muhammad Setiawan (Ketua Umum PW PII Jakarta 2000-2002) CP: Ridwan Z-021 305

Bahas Seks di TV, Wanita Saudi Dihukum Cambuk


RIYADH--Seorang wartawati Arab Saudi dijatuhi hukuman cambuk 60 kali karena perannya dalam program televisi yang membahas seks di luar nikah. Wartawan ini menjadi produser televisi dimana seorang pria menggambarkan kehidupan seksnya di luar nikah.

Menurut wartawan BBC, Sebastian Usher, program ini menimbulkan skandal besar ketika ditayangkan beberapa bulan lalu. Laki-laki yang mengaku mencari wanita Saudi untuk melakukan hubungan badan sudah terlebih dulu dihukum.

Peristiwa ini merupakan salah satu skandal terbesar di Arab Saudi selama bertahun-tahun terakhir. Program yang membuat heboh ini merupakan bagian dari seri televisi bernama Red Lines yang dibuat perusahaan televisi satelit Libanon yang terkenal, LBC.

Program ini membahas persoalan-persoalan tabu di dunia Arab. Misalnya soal sex di luar nikah yang dilakukan warga Arab Saudi di negara mereka.

Merasa ditipu

Laki-laki Saudi yang tampil dalam program ini, Mazen Abdul Jawad, membuat marah banyak orang karena dia bercerita tentang tekniknya dalam mencari wanita Saudi untuk berhubungan badan dengan mereka.

Dengan berlinang air mata dia meminta maaf, tetapi dia kemudian tetap dihukum lima tahun dan dicambuk seribu kali. Tiga temannya yang tampil di acara yang sama, masing-masing mendapat hukuman dua tahun.

Abdul Jawad mengatakan dia ditipu oleh produser acara televisi itu. Perwakilan stasiun televisi ini di Arab Saudi sekarang ditutup, dan produser acara ini, yang dua-duanya wanita, diajukan ke pengadilan.

Satu orang sudah dinyatakan bersalah dan dicambuk 60 kali. Bisa jadi dia adalah wartawan perempuan Saudi pertama yang mendapat hukuman semacam ini.

LBC tidak berkomentar dalam masalah ini. Stasiun ini sudah lama dikritik oleh para ulama Saudi karena menayangkan berbagai acara yang menampilkan penyanyi dan artis berpakaian minim ke Arab Saudi. Ironisnya salah satu pemilik LBC adalah milyarder Saudi Pangeran Alwaleed bin Talal. bbc/ahi

Dua Juta Alquran Gratis untuk Jamaah Haji


Pemerintah Arab Saudi menyiapkan dua juta eksemplar Aquran untuk jamaah yang menunaikan ibadah haji tahun ini. Pembagian Alquran gratis tersebut merupakan bagian dari program menyebarluaskan Alquran yang dilakukan pemerintah Arab Saudi. Secara keseluruhan, 10 juta Alquran disebarkan ke seluruh dunia setiap tahunnya.

Sekretaris Daerah Kerja (Daker) Madinah, Mukholih Jimun, menjelaskan, jutaan Alquran itu dibagikan secara gratis oleh Kerajaan Arab Saudi melalui Komplek Percetakan Alquran Raja Fahd di Madinah Al-Munawwaroh. Percetakan ini kerap dijadikan sebagai salah satu lokasi tujuan ziarah (wisata spiritual) jamaah haji di Madinah.

“Untuk keperluan syiar Islam, Alquran yang dibagikan dicetak beserta terjemahannya ke dalam 53 bahasa dunia,” ujar Mukholih di Komplek Percetakan Alquran Raja Fahd, Madinah, Senin (26/10).

Dia menambahkan, di antara bahasa terjemahan Alquran yang dicetak di sana adalah bahasa Afrika seperti bahasa Zulu dan sebagainya, Arab, Indonesia, Thailand, Jepang, China, Inggris, Spanyol, Urdu, sejumlah bahasa Asia lainnya.

Percetakan yang dalam bahasa Arab bernama Mujamma’ Al-Malik Fahd Li Thiba’a al-Mushaf al-Syarif Madinah Al-Munawarah ini berada di bawah naungan Kementerian Urusan Agama Islam Kerajaan Arab Saudi.

Petugas publikasi Kompleks Malik Fahd, Syekh Ahmad, menjelaskan, kecuali membagikan Alquran versi cetak secara gratis, percetakan ini juga memproduksi cakram padat (CD, VCD, dan DVD) Alquran beserta film dokumentasi sejarah Alquran. “Tapi yang kita bagikan ke jamaah haji tahun ini hanya dua juta Alquran versi cetak,” imbuh Syeikh Ahmad.

Kecuali dibagikan kepada jamaah haji, pemerintah Arab Saudi juga membagikan Alquran melalui pengiriman langsung ke negara-negara yang terdapat komunitas Muslim. Untuk Indonesia, pembagian Alquran dilakukan melalui kerja sama dengan Departeman Agama dan sejumlah lembaga nirlaba seperti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia-Arab (LIPIA) dan sebagainya.

Selain Alquran, Syekh Ahmad melanjutkan, percetakan juga mencetak jurnal-jurnal kajian Alquran dan Hadis (Sunnah) Nabi Muhammad SAW guna penyebaran syiar Islam secara benar. Sejumlah jurnal sengaja diterbitkan untuk meluruskan pemahaman yang berkaitan dengan kesalahan memahami makna Alquran dan hadis. “Ada juga jurnal yang berisi kumpulan hasil seminar-seminar Alquran dan Hadis,” papar Syekh Ahmad.

Dia pun berharap, program menyebarkan Alquran dan jurnal kajian-kajian ilmiah keislaman mampu memberikan pandangan yang utuh terhadap Islam yang merupakan agama damai, rahmat bagi semua alam, dan agama yang menjunjung tinggi toleransi serta harmonika kehidupan. “Semoga Allah swt melapangkan dan memudahkan niat kita semua dalam menegakkan syariat Islam,” tandas Syekh Ahmad. ade/mch/taq

Ternyata Tak Sesholihah Yang Ku Kira


i read a good article from http://eramuslim.com/oase-iman/ternyata-tak-sesholihah-yang-kukira.htm

i wish we can learn from this story,.....

“Pagi yang istimewa”, sahutku. Sembari mengeluarkan motor dari garasi, aku baru saja menyadari ada yang berbeda di pagi ini. Nuansa alam yang kusuka : mendung. Itulah yang membuatku makin terbakar untuk bersemangat menuntut ilmu ke kampus. Ya, aku hanya butuh waktu tujuh menit untuk tiba dikampus. Kali ini aku tidak sedang ingin mengebut. Rasanya menikmati mendung pagi hari menjadi karunia tersendiri.

Setiba disana, aku menjalani kehidupan kampus dengan ceria. Kuliah kali ini cukup menyenangkan, setidaknya kali ini wawasanku teruji lantran beberapa kali diberi pertanyaan oleh dosen dan aku bisa menjawabnya. Meskipun tidak semua jawaban yang kuberi adalah sempurna, namun sang dosen cukup puas dengan argumen ilmiah yang kujabarkan. Hmm, menjadi wanita populer memang menyenangkan. disapa banyak kalangan, diperhatian banyak orang, dan yang pasti ini menjadi peluang agar bisa memberi lebih banyak manfaat bagi orang..

Sore menjelang petang. ” Saatnya pulang”, pikirku. Langkah kecil ini mengarah pada lapangan parkir yang terletak di sudut kampus. Masih tersisa 5 motor, motorku salah satunya. Hmm, cukup sepi ternyata. Tanpa pikir panjang, kusegerakan diri mengeluarkan kunci motor dari saku rok-ku dan mengeluarkan STNK yang nantinya akan kusodorkan pada pak satpam untuk di perikasa di ujung gerbang kampus. Namun tiba-tiba, aku mengernyitkan dahi dan tanganku tertahan.Ada amplop cantik berwarna biru muda terselip di keranjang kecil motor ”Mio” ku. Awalnya tangan ku ragu untuk mengambilnya, sampai akhirnya kuyakini amplop itu tak lain adalah untukku, walau identitas pengirim tak terbaca oleh mata jeliku.

Kucoba merobek tepi amplop itu, hingga kutemukan secarik kertas berwarna putih dengan tulisan besar memenuhi kertas ukuran F4.
Deg!
Seketika mataku terbelalak, bibirku tak bergeming, tanganku berkeringat dingin, dan ... ”Allah!” aku berteriak.

Ternyata, tak sesholihah yang kukira”.
Lututku lemas, dan tubuhku jatuh terduduk.. Aku.. aku menangis seketika itu juga membaca sepucuk surat yang hanya bertuliskan 1 kalimat itu. Tulisan tangan berwarna merah yang dibuat dengan ukuran ekstra besar.


Sepanjang perjalanan pulang dengan mengendarai motor, hampir sering aku melamun. Klakson motor dan mobil menegurku berkali-kali. Puffh, di otakku hanya ada kejaidan itu. Hanya itu. Hanya itu. Sampai akhirnya setibaku dirumah, wudhu menjadi pelarianku. Adzan magrib yang bersahut-sahutan itu makin membuatku ingin bergegas. Bergegas takbir, sujud dan salam. Sudah cukup, hatiku tak kuat lagi menahan teguran itu..

***
Aku hanya wanita yang dititipkan keindahan oleh-Nya. Pintar, kaya, cantik dan sholihah. Begitu kebanyakn penilaian orang padaku. Namun, sejak kejadian sore itu, hatiku terhenyak, seakan aku disadarkan akan suatu hal sering terlupakan.

Kupikir aku termasuk muslimah yg cukup berilmu. Tapi ternyata, seminggu sekali meluangkan waktu untuk memperdalam ilmu agama, membuatku pandai mencari-cari alasan untuk menghindar dari kajian keIslaman. Ya, kupikir aku sholihah. Tapi ternyata, aku tak sesholihah yang kukira.

Kupikir aku termasuk muslimah yang dicintai banyak orang. Tapi ternyata, tak sedikit yang sakit hanya karena lisan. Apa karena aku masih kekanak-kanakan, sehingga tak cukup dewasa menanggapi omongan orang? Ya, kupikir aku sholihah, tapi ternyata, aku tak sesholihah yang kukira.

Kupikir aku termasuk muslimah yang teguh dalam pendirian. Tapi ternyata, aku sempat terpikir untuk melepas jilbab yang telah lama kupakai. Entah mengapa, hal itu justru kejadian. Kini aku bebas bermain dengan teman-teman lelaki hingga larut malam, berfoto bersama mereka, mengupload-nya di facebook kesayangan. Hmm, bertelanjang dada dan paha menjadi keseharianku. Mungkin sekarang aku terlihat makin cantik dihadapan orang lain. Tapi entah, apakah aku terlihat cantik dihadapan penciptaku? Ya, kupikir aku sholihah, tapi ternyata, aku tak sesholihah yang kukira.

Kupikir aku termasuk muslimah yang mampu menjaga pergaulan. Tapi ternyata, aku masih saja teguh dengan statusku sbg pacar dari lelaki yang bagiku dia adalah lelaki tertampan dan baik agamanya. Dulu, tepat 3 bulan yang lalu, aku sadar Allah sempat menegurku dengan ayat ini : ”Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Surah Al-Israa’ : 32). Ya, mendekati zina! Aku.. aku mengakui itu adalah kebenaran. Tapi kini aku merasa aku menjadi wanita yang lemah tak berdaya, karena aku menyerah saat tahu bahwa aku terlanjur terpenjara oleh perasaan cinta yang tak halal. Ya, kupikir aku sholihah. Tapi ternyata, aku tak sesholihah yang kukira.

Kupikir aku termasuk muslimah yang mampu menjaga niatan dalam hati. Tapi ternyata, aku bangga menjadi wanita populer yang sering menampakkan diri di depan umum. Aku memang bukan sedang mengikuti ajang puteri indonesia yang intinya pamer kecantikan dan kepintaran. Aku juga bukan sedang mengikuti ajang miss universe yang salah satunyaa adalah pamer lekukan tubuh yg aduhaii.. tapi, hatiku gampang terkotori untuk bangga mendapatkan pujian. Hatiku mudah terprovokasi untuk riya’.. Ya, kupikir aku sholihah. Tapi ternyata, aku tak sesholihah yang kukira.

Kupikir aku termasuk muslimah yang istiqomah mengamalkan ilmu agama. Tapi ternyata, aku pernah berdua-duaan dengan seorang lelaki yang bukan mahram. Aku menyadari, ada muslimah lain yang bisa kuajak menamaniku bertemu lelaki itu, tapi entahlah.. aku segan memintanya menemaniku. Hhmm segan? Tidak. Aku hanya ingin sedikit menikmati rasanya berdua dengan seorang lelaki walau dalam tempo yang tidak lama Ya, kupikir aku sholihah. Tapi ternyata, aku tak sesholihah yang kukira.

Kupikir aku termasuk muslimah yang lembut hati dan tuturkatanya. Tapi ternyata, diusiaku yang dewasa, masih saja aku membentak orang tua. Sedikit membentak, lebih tepatnya.Aku tahu, orang tua adalah harta berharga. Aku tau lambat laun mereka akan dipanggil oleh-Nya, tapi entah mengapa.. aku tidak cukup sabar melayani nasihat mereka. Ya, kupikir aku sholihah. Tapi ternyata, aku tak sesholihah yang kukira.

Kupikir, aku termasuk muslimah yang berkontribusi banyak untuk umat. Tapi ternyata, aku menjadi muslimah yang tidak jauh beda dengan orang-orang yang sukanya menghina dan mencela jam'aah yang berjuang di jalan dakwah. aku sadar, menjadi orang yang tidak mencintai dakwah, menghambat dakwah, dan menjatuhkan citra dakwah, adalah sama halnya dengan menjadi musuh agama Allah. Ya, kupikir aku sholihah, tapi ternyata aku tak sesholihah yang kukira.


Aku hampir saja sombong dalam menilai diriku sendiri. Sampai akhirnya, Allah menegurku dengan kuasa-Nya. Aku tertipu tak lain oleh diriku sendiri. Ya, kupikir aku sholihah. Tapi ternyata, aku tak sesholihah yang kukira...


-Malang, 16 Oktober 2009-
moslemalda@yahoo.com

oleh Meralda Nindyasti








Biarkan Nurani Berbicara


Ku bersandar pada dinding hitam
Lelah menghampiri perjalanan panjang
Ku menengadah menatap langit bertabur bintang
Sunyi ini miliknya malam...

Ku lihat bara api di kejauhan jalan
Merah membara membakar jiwa
Hati yang lapar ikut terluka
Makna yang memudar ikut berteriak bergelora
Dan aku hanya tertunduk menatap tanah yang basah
Airmata perlahan jatuh tak kuasa tertahan....

Untuk apa tangis ini?
Untuk apa rehat ini?
Untuk apa api ini?
Untuk menyadarkan diri yang terlalu lama berfoya-foya...

Aku bermain api namun tak kuasa memadamkannya
Aku terbakar api dan tak mampu mengobatinya...

Dan kemudian ini salah siapa?...

Tanyakan saja pada nurani!
Biarkan ia berbicara...

Sepi Ini Milik Siapa…?


Sepi...
Sepi ini milik siapa?...
Milik hati penguasa,.
Ataukah hati rakyat jelata?...

Sepi ini milik siapa?...
Milik diri yang sendiri,.
Ataukah milik diri ketika dalam perut saat bayi?...

Sepi..
Sepi ini milik siapa ya?..
Aku terus berteriak hingga habis suara..
Aku selalu mencari cahaya..
Namun gelap dan tak terdengar suara..

Apakah sepi ini milik aku sendiri?..
Tanpa teman memeluk diri sendiri..
Menutup mata merebahkan diri pada malam..
Membangunkan diri ditemani kelam..

Sepi ini milik siapa?
Milik penghuni bumi..
Milik penghuni rumah..
Milik penghuni sebidang tanah..

Sudah siapkah kita menghadapi sepi?...
Sendiri...
Seperti sebelum berada di atas bumi...


Membincangkan Kembali Pancasila


“Umat Kristen dan Hindu harus gigit jari dan menelan ludah atas kekalahan Bapak-bapak Kristen dan Hindu ketika menyusun Sila Pertama ini.”

(I.J. Satyabudi, Penulis Kristen)

Di tengah-tengah derasnya tuduhan bahwa umat Islam saat ini tengah mengebiri Pancasila lewat perundang-undangan dan perda-perda bias syari’at Islam, Dr. Adian Husaini, meluncurkan buku terbarunya, Pancasila Bukan untuk Menindas Hak Konstitusional Umat Islam. Pada hari Sabtu, 29 Agustus 2009 silam, buku tersebut dibedah di Aula Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Pusat, Jakarta, dengan menghadirkan pembanding Prof. Dr. Rifyal Ka’bah. Menurut penulisnya, buku tersebut sengaja diberi judul yang panjang seperti di atas untuk menggambarkan kesimpulan yang terkandung dalam buku tersebut. Kecenderungan buku tersebut yang disebutkan Rifyal Ka’bah bersifat propaganda, diamini oleh penulisnya. Akan tetapi sang penulis buku menegaskan, propaganda yang tidak sembarang propaganda, melainkan tetap bernilai ilmiah tinggi.

Adian Husaini dalam acara launching bukunya tersebut menegaskan, bahwa hari ini masyarakat non-muslim sudah keterlaluan menuduh umat Islam telah menyelewengkan Pancasila. Apalagi yang lebih ekstremnya mereka menuduh umat Islam tengah memecah belah NKRI. Di antara mereka adalah Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI), induk kaum Katolik di Indonesia, dan Persekutuan Gereja Indonesia (PGI), induk kaum Protestan di Indonesia. KWI misalnya telah mengirimkan surat kepada para capres Pilpres 2009 kemarin yang di antara isinya: “Untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, kami menganjurkan kepada presiden dan wakil presiden terpilih untuk membatalkan 151 peraturan daerah ini dan yang semacamnya serta tidak pernah akan mengesahkan peraturan perundang-undangan yang bertentangan dengan konstitusi Republik Indonesia.”

Sebuah tabloid Kristen, Reformata, pada edisi 103/2009 juga mempersoalkan penerapan syariat Islam yang tengah dilakukan umat Islam Indonesia. Menurut tabloid tersebut, para anggota DPR yang sedang menggodok RUU Makanan Halal dan RUU Zakat akan meruntuhkan Pancasila dan menghancurkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Cornelius D. Ronowidjojo, Ketua Umum DPP PIKI (Persekutuan Intelegensia Kristen Indonesia), seperti dikutip tabloid tersebut menyatakan bahwa Piagam Jakarta sekarang sudah dilaksanakan dalam realitas ke-Indonesiaan melalui Perda dan UU. Cornelius meminta penyelenggara negara bertobat, dalam arti kembali ke Pancasila secara murni dan konsekuen. “Saya mengatakan bahwa mereka sekarang sedang berpesta di tengah puing-puing keruntuhan NKRI,” kata Cornelius.

Dalam edisi 110/2009, tabloid Reformata lagi-lagi mempersoalkan penerapan syariat Islam di Indonesia. Di bawah judul “RUU Diskriminasi Segera Disahkan”, tabloid tersebut menulis:

“Kita memerlukan presiden yang tegas dan berani menentang segala intrik atau manuver-manuver kelompok tertentu yang ingin merongrong Negara Kesatuan Republik Indonesia (NRI) ini. Ketika kelompok ini merasa gagal memperjuangkan diberlakukannya “Piagam Jakarta”, kini mereka membangun perjuangan itu lewat jalur legislasi. Mereka memasukkan nilai-nilai agama mereka ke dalam peraturan perundang-undangan. Kini ada banyak UU yang mengarah kepada syariah, misalnya UU Perkawinan, UU Peradilan Agama, UU Wakaf, UU Sisdiknas, UU Perbankan Syariah, UU Surat Berharga Syariah (SUKUK), UU Yayasan, UU Arbitrase, UU Pornografi dan Pornoaksi, dan lain-lain. Apapun alasannya, semua ini bertentangan dengan prinsip dasar negeri ini.”

Terhadap tuduhan-tuduhan miring tersebut, Adian Husaini menegaskan bahwa itu jelas merupakan sebuah kesalahpahaman, dan bahkan penyalahpahaman Pancasila dan Piagam Jakarta. Piagam Jakarta adalah jelas tetap berlaku sampai saat ini berdasarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang dengan tegas menyatakan: “Bahwa kami berkeyakinan bahwa Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni 1945 menjiwai dan merupakan suatu rangkaian kesatuan dengan konstitusi tersebut”. Menurut Roeslan Abdulgani, salah seorang tokoh PNI: “Tegas-tegas di dalam Dekrit ini ditempatkan secara wajar dan secara histories-jujur posisi dan fungsi Jakarta Charter tersebut dalam hubungannya dengan UUD Proklamasi dan Revolusi kita yakni: Jakarta Charter sebagai menjiwai UUD ’45 dan Jakarta Charter sebagai merupakan rangkaian kesatuan dengan UUD ’45.” (hlm. 50-51)

Lebih lanjut Adian Husaini menyatakan bahwa umat Islam tidak kalah telak ketika dalam rapat PPKI 18 Agustus 1945 tujuh kata dalam sila Pertama, “Negara berdasar Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”, dihapus dan diganti menjadi “Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa”. Karena jelas, Ketuhanan Yang Maha Esa adalah konsep yang kental dengan nuansa pandangan-dunia Islam (Islamic worldview) yakni tauhid (hlm. 137).

KH. Achmad Siddiq, Rais Aam NU, dalam hal ini menyatakan:

“Kata “Yang Maha Esa” pada sila pertama (Ketuhanan Yang Maha Esa) merupakan imbangan tujuh kata yang dihapus dari sila pertama menurut rumusan semula. Pergantian ini dapat diterima dengan pengertian bahwa kata “Yang Maha Esa” merupakan penegasan dari sila Ketuhanan, sehingga rumusan “Ketuhanan Yang Maha Esa” itu mencerminkan pengertian tauhid (monoteisme murni) menurut akidah Islamiyah (surah al-Ikhlas). Kalau para pemeluk agama lain dapat menerimanya, maka kita bersyukur dan berdoa.” (hlm. 138).

Bahkan bukan sila pertama saja yang kental dengan nuansa Islam, melainkan juga sila-sila lainnya yang menyebutkan “adil”, “beradab”, “hikmat”, “permusyawaratan” dan “perwakilan”. Kata-kata tersebut jelas-jelas merupakan berasal dari khazanah pemikiran Islam sehingga hanya bisa ditafsirkan berdasarkan konsep Islam saja. Dalam hal inilah, Adian menegaskan, para tokoh Islam yang terlibat dalam penyusunan Pancasila benar-benar cerdik. Mereka masih bisa mempertahankan nilai-nilai Islam dalam Pancasila walaupun “tujuh kata” sudah dihapus. Sebaliknya, umat non-muslim cenderung tergesa-gesa, mereka hanya terfokus pada penghapusan “tujuh kata” saja dengan mengabaikan sila-sila lainnya, termasuk juga sila pengganti dari sila pertama yang tegas menyebutkan “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Jadi, ketika pada faktanya posisi Piagam Jakarta sah berlaku berdasarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959, demikian juga Pancasila sama sekali tidak bertentangan dengan Islam, maka tidak tepat, menurut Adian, jika Pancasila masih digunakan untuk menindas hak konstitusional umat Islam.

Rifyal Ka’bah, Guru Besar Hukum Universitas Indonesia (UI) yang menjadi pembanding mengingatkan bahwa dokumentasi tentang rapat-rapat BPUPKI dan PPKI yang ada di Indonesia (Setneg) masih diragukan orisinalitasnya. Karena yang asli terdapat di Belanda dan masih memerlukan penelitian mendalam. Di antaranya penyebutan dalam dokumentasi Setneg bahwa tokoh-tokoh Islam menyetujui penghapusan “tujuh kata”. Padahal dalam dokumentasi asli di Belanda disebutkan hanya menyetujui penghapusan “bagi pemeluk-pemeluknya” saja.

Berkaitan dengan penghapusan “tujuh kata” itu sendiri menurut Rifyal memang masih misteri. Sang aktor, Hatta, tampaknya hanya merahasiakan fakta yang sebenarnya untuk dirinya sendiri. Karena sampai akhir hayatnya Hatta tidak menjelaskan siapa-siapa saja yang datang pada 17 Agustus 1945 sore dan mendesaknya untuk menghapus “tujuh kata” tersebut. Bahkan majalah Tempo edisi 1990-an, menurut Rifyal, pernah memuat wawancara Opsir Kaigun Jepang yang waktu itu diakukan Hatta menemuinya untuk mendesak penghapusan “tujuh kata”. Tapi kata Opsir yang kebetulan waktu itu masih hidup, betul bahwa dia datang ke Hatta sore tanggal 17 Agustus 1945 selepas Maghrib, akan tetapi dia sama sekali tidak membicarakan penghapusan “tujuh kata”. Jadi, tegas Rifyal, misteri ini hanya Hatta yang tahu.

Selanjutnya berkaitan dengan tuduhan penyelewengan terhadap Pancasila, Rifyal menegaskan, bahwa tafsir resmi Pancasila itu ada dua: pertama, bersifat politik, kedua, bersifat hukum. Yang bersifat politik terlihat dalam ketetapan dan produk undang-undang MPR/DPR. Jadi apa saja yang dihasilkan oleh MPR/DPR itu adalah tafsiran resmi Pancasila. Konsekuensinya, apa yang dihasilkan MPR/DPR itu tidak dapat dikatakan bertentangan dengan Pancasila/UUD ‘45. Sementara tafsiran kedua yang bersifat hukum, itu adalah keputusan Mahkamah Konsitusi. Artinya, yang berhak menentukan bahwa sebuah undang-undang/perda bertentangan dengan Pancasila/UUD ‘45 itu hanya Mahkamah Kosntitusi. Presiden dalam hal ini sama sekali tidak punya kewenangan untuk menafsirkan Pancasila.

Lebih lanjut Rifyal menegaskan, bahwa umat non-muslim sudah semestinya menyadari bahwa hukum itu pada hakikatnya melegalisir yang sudah hidup di masyarakat, atau yang biasa disebut hukum yang hidup (living law). Jadi kalau perkawinan berdasarkan agama Islam itu sudah dipraktikkan oleh penduduk negeri ini, maka sudah semestinya DPR mengundang-undangkannya. Karena jika tidak diundang-udangkan persoalan perkawinan ini kelak akan merepotkan negara jika terjadi hal-hal yang tidak dinginkan.

Sama kasusnya dengan UU tentang ekonomi syariah yang saat ini tengah dibahas di DPR. Hal itu sudah semestinya dilakukan DPR karena memang ekonomi syariah sudah hidup di negeri ini (living law). Ketika terjadi sengketa, selama ini payung hukumnya tidak ada, pengadilan pun sulit memprosesnya. Artinya, negara sendiri yang kerepotan. Oleh karena itu adalah sebuah kebijaksanaan jika kemudian Pemerintah dan DPR membuat UU tentang syariah.

Jadi, Rifyal menegaskan, mempersoalkan perundang-undangan dan perda-perda yang sebenarnya tidak ada satu pun yang menyebutkan sebagai “syari’at Islam” adalah salah kaprah. Karena terbukti apa yang diundang-undangkan itu adalah hukum yang sudah hidup di masyarakat (living law). Dalam hal ini sama sekali tidak ada kesalahan, karena di negara Barat yang modern pun model pembuatan hukum seperti ini pun diberlakukan.

Maka dari itu, Rifyal menggarisbawahi, umat Islam sudah semestinya mempertahankan intensitas dakwahnya. Termasuk di dalamnya mengisi posisi-posisi strategis di pemerintahan, khususnya di kehakiman dan MPR/DPR. Karena selama posisi-posisi strategis tersebut masih diisi oleh orang-orang Islam, kekhawatiran akan dikebirinya hak-hak konstitusional umat Islam tidak akan terjadi.

Arab Saudi Bantu Israel Serang Iran


Sebagai negara Muslim, Arab Saudi memang menyedihkan. Alih-alih membela sesama negara Muslim yang sedang dizalimi, Saudi malah memberikan fasilitas pada musuh-musuh Islam yang ingin menghancurkan negara-negara Islam.

Surat kabar Inggris Daily Express menurunkan laporan yang sangat memprihatinkan tentang pertemuan segitiga antara Inggris-Israel-Arab Saudi yang dilakukan secara rahasia di kota London. Dalam pertemuan itu, Kepala Badan Intelejen Inggris Sir John Scarlett, pejabat Intelejen Israel Meir Dagan dan pejabat intelejen negara Saudi membahas tentang kemungkinan pesawat-pesawat tempur Israel menggunakan wilayah udara Saudi jika negara Zionis itu jadi melakukan serangan sepihak terhadap fasilitas-fasilitas nuklir Iran.

Menurut surat kabar itu, kemungkinan Israel melakukan serangan sendiri ke Iran meningkat secara signifikan setelah Iran mengumumkan akan meluncurkan fasilitas pengayaan uraniumnya yang kedua yang akan dibangun di kota Qom. Iran sudah memberitahukan rencana itu dalam surat resmi yang dikirim ke badan nuklir dunia, IAEA pada Selasa (21/9) pekan lalu sesuai aturan transparansi pengembangan nuklir yang ditetapkan IAEA terhadap negara-negara anggotanya.

Rencana Iran itu membuat Israel kebakaran jenggot. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu makin gencar melontarkan ancamannya untuk membombardir Iran dan menghancurkan fasilitas-fasilitas pengembangan nuklir negara Para Mullah itu.

Israel mendapat angin segar untuk menyerang Iran setelah mantan dubes AS di PBB John Bolton baru-baru ini menyatakan pada sejumlah analis intelejen bahwa “Saudi sudah setuju jika Israel menggunakan wilayah udaranya untuk kepentingan menyerang Iran.”

Bolton mengklaim sudah membahas masalah itu secara tertutup dengan para pejabat Saudi. “Tak seorang pun diantara para pejabat Saudi itu yang bakal bicara secara terbuka tentang masalah ini. Tapi yang pasti, Saudi menyetujui jika wilayah udaranya digunakan Israel asalkan Israel tidak ‘berisik’ menyebutnya sebagai sebuah kesuksesan besar,” ujar Bolton terkait kesediaan Saudi membantu Israel menyerang Iran.

Informasi bahwa Saudi sepakat menyediakan wilayah udaranya untuk mempermudah serangan Israel ke Iran sebenarnya sudah merebak sejak bulan Juli lalu. Meski Saudi menerapkan kebijakan untuk tidak menjalin hubungan diplomatik dengan Israel, seorang sumber di Israel mengatakan bahwa agen-agen Mossad (badan intelejen Israel) diam-diam menjalin “hubungan kerjasama” dengan Saudi.

Terkait dengan Iran, Saudi selama ini terlibat perang dingin dengan Iran dan Saudi berambisi untuk “menghentikan” langkah maju Iran.

Lantas, apa jadinya jika Israel benar-benar menyerang Iran? Sebuah studi yang dilakukan Center for Strategic and International Studies menyebutkan, perang ini kemungkinan akan menelan korban sebanyak 6 juta jiwa. Sebuah perang yang dikobarkan karena kebencian dan ambisi setan, haruskah mengorbankan jutaan manusia tak berdosa? (tab/em/persis)

Memahami Makna Bahagia


Pernahkah anda merasa bahagia??..
Pada saat kapan anda merasa bahagia??..
Karena apa anda bahagia??..

Hmmm,… coba sekarang pejamkan mata sejenak dan pikirkan lima hal yang sudah atau akan membuat anda bahagia.

Saya mempunyai contoh ilustrasi mengenai kebahagiaan. Di suatu mata kuliah semester empat, saya mulai berandai-andai untuk bisa lulus dalam mata kuliah tersebut. karena susahny amateri yang diajarkan, jadi saya hanya berpikir untuk lulus, tak perlu nilai A ataulah B, C saja sudah bahagia. Namun suatu saat saya membuat ilustrasi kebahagiaan mengaitkan dengan mata kuliah tersebut. Jika seandainya saya menjadi satu-satunya mahasiswa di angkatan saya yang mendapat A, maka itu adalah suatu anugrah dan kebahagiaan tersendiri buat saya. Jadi, parameter kebahagiaan saya saat itu adalah “menjadi satu-satunya mahasiswa yang berhasil lulus dengan nilai A”.

Kemudian saya berpikir, apahak kebahagiaaan saya hanya dinilai dengan materi dan nilai A saja? Apakah kebahagiaaan saya dihargai dengan satu angka A pada KHS saya? Dan banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya yang datang sehingga saya memikirkan sebuah pertanyaan, “Apakah sebenaranya makna bahagia itu?”


Ketika saya mendapati bahwa impian dan harapan saya menjadi kenyataan, maka tentu saja saya merasakan kebahagiaan itu. Namun, kadar kebahagiaan itu hanyalah sementara dan semu. Ketika selang beberapa minggu setelah kejadian tersebut, maka sedikit demi sedikit kebahagiaan itu akan luntur juga dan memudar. Karena kebahagiaan yang berlandaskan materi hanyalah akan menjadi kebahagiaan yang semu yang sifatnya hanya sementara.

Lantas, adakah yang dinamakan kebahagiaan yang haqiqi? Jawabannya ada. Yakni kebahagiaan yang sifatnya abadi yang muncul dari dalam hati. Ketika suatu harapan kita tercapai, maka kita merasakan nikmat kebahagiaan dan kita bersyukur karenanya. Ketika harapan tersebut tidak sesuai dengan realitanya, maka sabar merupakan kunci kebahagiaan yang nikmatnya sungguh membuat kita merasakan kebahagiaan.

Agar merasakan kebahagiaan yang haqiqi, maka kita harus memahami makna hidup kita. Makna hidup hadir agar kita memaham dan mengetahui kebahagiaan yang bagaimana yang dapat membuat kita paham dan sadar akan fungsi dan tujuan kita hadir di dunia ini. Dunia hanyalah tempat persinggahan sementara selama kita hidup. Maka, kebahagiaan kita tidak hanya disandarkan akan kepentingan dunia, namun juga harus paham akan hakikat keberadaan dan hakikat kebahagiaan itu sendiri.

Ada empat pertanyaan yang harus di jawab agar kita mampu mengetahi makna keberadaan kita di bumi ini. Pertanyaan pertama adalah Siapakah kita? Jawabannya tentulah sangat mudah sekali. Kita adalah manusia. Manusia yang diberikan kesemprnaan oleh Allah swt dan diberi kelebihan berupa akal dan nafsu. Manusia memiliki potensi untuk menjadi lebih mulia derajatnya dibandingkan malaikat, namun bisa juga derajatnya lebih hina dibandingkan hewan.

Selanjuya adalah pertanyaan Dari mana kita diciptakan? Untuk menjawabnya, mari kita membuka kitab suci kita Al Qur’an surah Ath Thaariq ayat 5-7. Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang dipancarkan, yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan. Selain itu, dijelaskan pula roses penciptaan manusia dalam Qur’an surah Al Mu’minun ayat 12-14. Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.

Mari kita renungkan bersama, bahwa sesungguhnya kita dahulu diciptakan dari air yang dipancarkan (air mani) dan kemudian dari air mani tersebut menjadi segumpal darah, dan seterusnya hinggu dalam proses penciptaan tersebut jadilah kita sebagai seorang manusia, yang diberi potensi akal untuk kita berpikir agar mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dari merenungi proses penciptaan tersebut, kita mampu menyadari bahwa manusia diciptakan dari proses penciptaan yang sangat luar biasa dahsyatnya, dan ada Allah Sang Maha Pencipta yang telah memilih kita dan menciptakan kita dengan sebaik-baik penciptaan.

Pertanyaan selanjutnya adalah Untuk apa kita diciptakan? Pertanyaan yang mengandung misi, fungsi dan peran kita dalam menjalani kehidupan ini. Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Qur’an surah Adz Dzaariyat ayat 56 inilah kunci kita dalam menjalani hidup ini, bahwa sesungguhnya kita diciptakan di muka bumi ini adalah untuk mengabdi kepada Allah SWT. Pengabdian yang seperti apa? Beribadah, menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya, kerena ibadah tidak hanya ritual shalat, puasa saja, namun banyak aspek kehidupan kita yang merupakan ibadah jika niatan kita adalah untuk menggapai ridho Allah SWT. Sudahkah kita melaksanakan tugas penciptaan ini?

Dan pertanyaan terakhir adalah Mau kemana kita setelah menginggal nanti? Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: "Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)." Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah." Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun? [Q.S. An Nisaa:78]. Bahwa kita setelah mengalami proses kehidupan di dunia ini semuanya akan meninggal. Kita tidak mengetahui sampai kapan kita erada di muka bumi ini, dan kita juga tidak tahu bagaimana kondisi kita saat menemui kematian, apakah khusnul khotimah ataukah su’ul khotimah. Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan. [Q.S. Al Munaafiquun:11] Dan jawaban atas pertanyaan ini adalah dua, Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu." Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya. [Q.S. Al Baqarah:25]. (Dikatakan kepada mereka): "Ini adalah suatu rombongan (pengikut-pengikutmu) yang masuk berdesak-desak bersama kamu (ke neraka)." (Berkata pemimpin-pemimpin mereka yang durhaka): "Tiadalah ucapan selamat datang kepada mereka karena sesungguhnya mereka akan masuk neraka." [Q.S. Shaad:59]

Kita telah diberi kesempatan yang sebaik-baiknya oleh Allah SWT untuk merasakan kehidupan di dunia. Kita juga telah diberi akal untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. [Q.S. Asy Syaams:8]

Dari keempat pertanyaan tersebut, sudahkah kita mampu untuk menjawabnya dengan benar? Apabila kita telah mengetahui hakikat keberadaam kita di dunia ini maka beruntunglah kita telah termasuk dalam golongan yang orang yang telah mengetahui fungsi dan peran kita di mua bumi ini.

Nah sekarang, apa kaitannya dengan kebahagiaan dan makna hidup? Kaitannya sungguhlah sangat erat sekali. Ketika kita paham dan sadar akan arti keberadaan kita di dunia, maka kebahagiaanlah bagi kita dalam proses pencarian makna hidup dan dalam proses menjalaninya. Ketika kita punya keinginan, maka kita akan bahagia karena kita yakin bahwa kebahagian yang kita cari di dunia ini adalah salah satu jalan untuk mencapai kebahagiaan haqiqi. Ketika keinginan tersebut tecapai, maka kebahagiaan yang kita rasaan merupakan wujud syukur karena kita telah diberi kesempatan oleh Allah untuk merasakan nikmat yang telah kita inginkan. Dan ketika keinginan kita tersebut tidak tercapai, maka kita akan merasakan indahnya sabar dan tawakal kepada Allah sebgai pengharapan bahwa sesungguhnya dengan belum tercapainya keinginan kita tersebut ada hikmah yang besar yang telah diciptakan Allah untuk kita.

So, tunggu apa lagi, mari kita bersama-sama mencari dan menemukan makna kebahagiaaan dalam kehidupan kita.


Pertentangan Dua Hati part 2



Matahari sore itu bersinar kemerah-merahan. Senja menjelang, namun lalu-lalang berbagai macam kendaraan membuat ramai taman kecil di tengah kota itu. Kendaraan orang-orang yang baru pulang dari rutinitas pekerjaan di kantor maupun aktivitas segelintir orang lainnya yang baru akan memulai mencari nafkah di kala hari gelap. Beberapa kali terlihat penjual nasi goreng yang baru akan memulai dagangannya, tukang sate, dan masih banyak lagi yang menyambung hidupnya berjualan di taman ini.

Dua orang gadis sedang duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon beringin. Beberapa kali daun kering berwarna cokelat tua yang berasal dari pohon besar itu jatuh di atas jilbab mereka, namun mereka tidak menyadarinya. Jangankan itu, aktivitas hiruk pikuk manusia di tengah kota itu pun luput dari perhatian mereka. Dua pasang mata sedang menerawang ke arah yang berbeda. Entah apa yang ada dalam benak kedua wanita muda tersebut, namun wajah keduanya sedang mendung.

“Sejak kapan?” tannya gadis berjilbab lebar berwana biru langit itu tanpa menatap ke arah lawan bicaranya.

Sementara gadis di sebelahnya yang mengenakan gamis cokelat muda tertunduk lesu memainkan ujung jilbab putihnya.

“Baru sebulan.” Jawabnya datar dan pelan. Ada rasa penyesalan dalam kata-kata yang terucap dari bibirnya.

“Maaf.” Sambungnya lagi, lebih pelan dari sebelumnya.


“Kok bisa?” suara dari lawan bicaranya semakin meninggi dan tatapannya mengarah pada gadis berjilbab putih yang masih tertunduk lesu. “Lantas, apa artinya nasehat-nasehat yang selama ini kamu kasih ke aku Nit?”

Nita menoleh ke samping, sorotan matanya tepat bertemu dengan pandangan sahabatnya. Aci terdiam. Kata-kata yang hendak diucapkannya tertahan di langit-langit tenggorokan. Ia tidak pernah melihat mata itu merah dan sembab oleh airmata yang tertahankan. Ia tidak pernah melihat Nita menangis dan mengeluarkan airmata sebelumnya. Nita yang begitu tegar tidak pernah takluk oleh perasaan ataupun penderitaan. Tapi kini, wajah itu begitu sayu, dan pandangan mata itu beku.

“Please Nita jangan siksa aku dengan wajahmu seperti itu.” Aci tertuduk dan menutup seluruh wajahnya denagn ujung jilbab birunya.

Aci yang melankolis mengeluarkan sebagian ekspresinya denagn airmata. Sementara Nita sebaliknya, selalu saja mengcover semua permasalahan dengan senyum dan tawa. Tak ada yang tahu ekspresi hatinya, bahkan Aci sendiripun kurang peka untuk mendengarkan cerita sahabatnya sendiri.

Nita mengulurkan pelukan hangat pada orang yang disayangnya itu. Nita membisikkan sesuatu pada telinga Aci. “Bukankah aku sudah berjanji untuk membantumu menyelesaikan permasalahan ini? Dan aku tidak mau mengkhianati kepercayaanmu Aci.”

“Tapi kamu menyiksa dirimu sendiri Nita!”

“Aku ngga apa-apa Ci.”

“Ngga mungkin ngga apa-apa kalau kita ternyata punya perasaan pada orang yang sama!” Aci melepaskan tangan Nita dan kemudian menatapnya dengan berurai airmata.

Sesaat mereka sama-sama terdiam. Hingga sehelai daun kering jatuh pun tak mereka sadari.

“Aci, kamu tahu kenapa waktu itu aku bilang kalau perasaan yang kita rasakan sama si Ikhwan X itu wajar? Ini fitrah Ci, ketertarikan itu pasti akan muncul tanpa disadari. Menjadi tidak wajar ketika kita tidak bisa mengatur perasaan itu pada koridornya. Koridor apa yang harus kita tempakan disini? Tentu saja koridor syariat. Islam tidak membunuh perasaan itu, namun tidak juga membiarkannya berkeliaran dalam benak kita. Kau tahu bagaimana harus memanagenya ukhti.”

“Tapi,……… Tapi ngga adil buatmu Nita. Di satu sisi, kamu harus melawan perasaan itu dan saat itu juga aku datang menambah beban dalam ujianmu. Sebulan lamanya Nita….” Kembali tangis menghiasi perkataan Aci.

“Aku ngga apa-apa Aci. Buktinya sekarang aku masih bisa tersenyum.”

“Aku egois ya, selalu minta didengar dan dikasih solusi tapi ngga mau mendengar dan ngga peka dengan permasalahan sahabat sendiri.” Kembali Aci bersandar pada pelukan Nita.

“Kita hadapi ujian ini sama-sama ya ukhti.” Kata Nita tersenyum. Ya, masih ada senyum tersungging di bibir Nita, menutupi perasaannya yang bergemuruh di dalam dada.



*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*


Udara panas di siang ini tak menyurutkan langkahnya untuk pergi. Nita berlari sepanjang koridor kampus menuju aula pertemuan yang letaknya di lantai dua untuk mengejar keterlambatannya di acara Kajian Keislaman. Ssampainya di aula yang sudah bayak dipenuhi oelh ikhwan maupun akhwat, Nita mengambil tempat duduk di belakang, mengatur napasnya dan mengetik sms ke sahabatnya.

Alhamdulillah g jd ngajar, aq di blkang pke jilbab ijo ;)

Aci meoleh ke belakang dengan jari telunjuk dan jari tengah di rentangkan sembari mengumar senyuman. Tak lama kemudian acara pun dimulai. MC memandu acaranya dan kemudian dilanjutkan dengan pembacaan tilawah. Nita tampak sibuk sendiri dengan buku yang dibawanya, sementara acara sedang berlangsung.

“Assalamu’alaikum warhmatullahi wabarakatuh.”

Suara itu adalah suara salam biasa yang keluar dari bibir sang moderator. Namun menjadi tidak biasa bagi beberapa peserta Kajian Keislaman siang itu. Seorang ikhwan berwajah teduh yang mengenakan baju koko berwarna hijau muda terlihat santun mengatur jalannya kajian, mempersilahakan pemateri yang merupakan ustadz terkenal di area kampus itu untuk membawakan materi yang bertemakan “Manajemen Qalbu”. Ada gemuruh di hati Aci. Dia hanya tertunduk tanpa mengarahkan pandangan ke depan. Sementara tangannya menari-nari di atas tutus handphone. Message sent.

Nit, aq mau plg aj rasanya! T-T

Nita tesenyum membca pesan dari sahabatbya yang sedang duduk di barisan kedua dari depan itu. Tak ada yang tahu ada badai hebat di dalam dirinya. Aku sedang berusaha memperbesar jarak dan memperkecil muatan, namun ini ada gaya yang semakin membesar. Apakah hukum Coulomb tidak berlaku disini? Seolah ada tarikan magnetik yang menarik diri ini selalu mendekat padanya ketika hasrat suda mampu aku redam. Ilahi, Kau uji aku dengan ujian ini hingga aku mampu lulus dalam menjalaninya. Berikan hamba nilali kelulusan yang memuaskan ya Rabb. Semoga aku dan sahabatku mampu lulus denagn predikat terbaik di hadapanMu. Sms balasan dikirim oleh Nita.

Back to niat ukhti ;)

Nita lebih sibuk menata hati dibandingkan sibuk mendenagrkan taushiyah ilmu dari sang Ustadz. Namun dia begitu tersindi ketika Ustadz Hasan sampai pada paragraf tertentu dari taushiyahnya yang begitu tajam terekam dalam ingatan Nita.

“Ketika kita memaknai sesuatu yang kita cintai, kita takuti, dan kita harapkan sama atau bahkan lebih dari rasa kecintaan kita, rasa takut kita dan rasa pengharapan kita kepada Allah, maka hati-hati ikhwah, bisa jadi kita sedang menyembah ilah selain Allah.”

Aci dan Nita sama-sama terdiam, bahkan mungkin masih banyak lagi yang merasakan begitu dalam makna yang disampaikan ustadz Hasan dengan tenang dan tapa kesan menggurui tersebut.

“Coba tolong akhi Fandi bacakan surat cinta Allah surah Al Baqarah ayat 165.”

Suara lantunan Al Qur’an terdengar begitu indah dan merdu yang dibacakan oleh sang moderator begitu menelusup ke dalam hati.

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).”

Astaghfirullahal’adzim.


Mengukur arah mata angin yang sejati



Untuk mengukur arah mata angin, kita menggunakan alat yang bernama kompas. Namun, jarum kompas sendiri tidak selamanya akurat dalam mengukur arah mata angin, karena jarum kompas mengalami deklinasi. Jarum kompas peka terhadap gaya magnet. Deklinasi kompas selalu berubah-ubah tergantung pada posisi tempat dan waktu dan Data tentang deklinasi kompas di suatu tempat dapat menghubungi BMG.

Namun, jika inforrmasi dari BMG tidak dapat diperoleh, maka kita dapat melakukan percobaan sederhana untuk mengukur arah mata angin yang sejati dengan bantuan sinar matahari dengan cara sebagai berikut:

1. Melakukan kegiatan ini sekitar jam 11.00 waktu setempat.
2. Memilih tempat yang datar, dan terbuka (terkena cahaya matahari langsung)
3. Membuat sebuah lingkaran di tempat itu dengan diameter ± 100 cm.
4. Menancapkan sebuah tongkat kecil lurus setinggi ± 150 cm tegak lurus tepat di tengah lingkaran itu.
5. Memberi tanda titik B pada titik perpotongan antara bayangan ujung tongkat itu dengan garis lingkaran sebelah barat (ketika bayangan sinar matahari mulai masuk lingkaran). Titik B ini terjadi sebelum waktu dhuhur.
6. Memberi tanda titik T pada titik perpotongan antara bayangan ujung tongkat itu dengan garis lingkaran sebeleah timur (ketika bayangan sinar matahari keluar lingkaran). Titik ini terjadi sesudah waktu dhuhur.
7. Menghubungkan titik B dan T tersebut dengan garis lurus.
8. Titik B merupakan titik Barat dan titik T merupakan titik Timur, sehingga sudah didapatkan garis lurus yang menunjukkan arah Barat dan Timur yang sejati.
9. Membuat garis ke arah utara dan selatan tegak lurus pada garis Barat-Timur, maka garis ini menunjukkan arah Utara dan Selatan sejati.




Selamat mencoba,….



Rumah Makan dan Sertifikasi Halal di Australia



Kehidupan di Australia yang multikultural dan bebas--layaknya di Eropa dan Amerika--mengharuskan umat Islam di negeri ini menyelaraskan diri dengan kehidupan setempat. Namun demikian, mereka tetap berpegang teguh pada ajaran-ajaran Islam. Mereka tidak ingin turut dalam kehidupan yang glamor, dunia malam, seks bebas, judi, minuman keras, obat-obatan terlarang, dan perbuatan negatif lainnya.

Dengan keanekaragaman budaya, agama, dan bahasa, umat Islam di Australia yang terus berkembang, harus membentengi akidah umat dengan cara-cara yang sesuai tuntunan Alquran dan hadis Nabi SAW.


Salah satu yang sangat penting dan mendesak dilakukan umat Islam setempat adalah mengonsumsi makanan dan minuman halal. Karena jumlah pemeluk non-Muslim mencapai 98 persen, sangat sulit untuk mendapatkan makanan-makanan yang jelas-jelas halal. Untuk itulah, Australian Federation Islamic Council (AFIC) bersama-sama dengan organisasi Islam lainnya, mendirikan lembaga penerbit sertifikasi halal, baik untuk rumah makan (restaurant) maupun rumah pemotongan hewan (abatoir).

''Kalau tidak ada lembaga-lembaga penerbitan sertifikasi halal bagi rumah makan dan rumah pemotongan hewan, dikhawatirkan umat Islam akan mengonsumsi makanan yang haram,'' jelas Mohamed el-Mouelhy, ketua Halal Certification Authority Australia.

Di Australia, terdapat beberapa lembaga penerbit halal, di antaranya AFIC, Otoritas Sertifikat Halal Australia, Al-Iman Islamic Society, Australian Halal Food Service, Adelaide Mosque Islamic Society of South Australia, Islamic Cordinating Council of Victoria (ICCV), Perth Mosque Incorporated, Islamic Association of Katanning, dan Geraldton.

Beberapa lembaga penerbit sertifikasi halal ini telah diakui oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Indonesia, Malaysia, Singapura, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Termasuk, beberapa rumah pemotongan hewan, seperti ICCV, Adelaide Islamic Mosque Society, Supreme Islamic Council of Halal Meat in Australia, dan Perth Mosque Inc. Lembaga-lembaga inilah yang memberikan sertifikasi halal pada rumah-rumah makan di Australia.

Saat ini, cukup banyak rumah makan yang telah mendapatkan sertifikat halal dari otoritas sertifikat halal Australia itu. Secara keseluruhan, jumlahnya mencapai 265 buah rumah makan, toko daging, dan lainnya.

Di negara bagian Victoria, terdapat 87 buah rumah makan dan toko daging yang sudah mendapatkan sertifikat halal. Di Australia Selatan sebanyak dua buah, Australia Barat sebanyak 16 buah, Tasmania dua buah, New South Wales sebanyak 97 buah, Queensland sebanyak 52 buah, dan Northern Teritory (NT) sebanyak dua buah.

Dengan adanya sertifikasi halal itu, warga Muslim Australia tak merasa khawatir lagi untuk mencari rumah makan di seluruh wilayah Australia. ''Tentu saja, jumlah rumah makan dan toko daging yang sudah mendapatkan sertifikat halal ini belum sebanding, kalau dibandingkan dengan jumlah umat Islam dan luasnya wilayah Australia,'' kata Ahmed Imam, chief executive officer Islamic Cordinating Council of Victoria (ICCV).

''Kami berharap, setiap tahun jumlahnya terus meningkat. Sehingga, dapat memudahkan umat Islam mengonsumsi makanan halal,'' kata Mohamed Ahmed, ketua Al-Iman Islamic Society.

Kebanyakan rumah makan atau toko daging yang sudah mendapatkan sertifikat halal itu adalah rumah makan milik orang-orang Indonesia, Turki, Libanon, Paksitan, Bangladesh, Sudan, Mesir, dan beberapa negara Timur Tengah lainnya.

Hati-hati
Dengan wilayah yang sangat luas, jumlah rumah makan yang sudah mendapatkan sertifikat halal itu sangat tidak sebanding dengan jumlah umat Islam. Di beberapa kota di Australia, seperti Sydney, Canberra, dan Melbourne, seorang Muslim tak bisa sembarangan mengonsumsi makanan.

Dalam kunjungan Republika bersama media lainnya yang tergabung dalam 'International Media Visit' yang diselenggarakan oleh Department Foreign Affairs and Trade (DFAT), ternyata tidak mudah mencari rumah makan atau toko yang menjual jenis makanan dan minuman yang halal.

Salah satunya, gerai makanan cepat saji McDonald's. Kendati di beberapa kota sudah mendapatkan sertifikasi halal, ternyata di beberapa tempat tak sepenuhnya halal. Di seluruh wilayah Australia banyak McDonald's, namun hanya beberapa yang sudah mendapatkan sertifikasi halal dari otoritas halal Australia.

Itu pula yang dialami Lisa, warga negara asal Indonesia di Melbourne. Kendati sudah 22 tahun tinggal di Australia, ternyata tidak mudah mendapatkan atau menemukan rumah makan yang jelas-jelas halal.

''Saya sengaja memilih rumah makan yang ada tulisannya halal, karena di sana dapat dipastikan prosesnya dilakukan secara halal dan sesuai dengan ajaran Islam,'' kata Lisa.

Kalau terpaksa harus membeli makanan atau kudapan dari toko atau swalayan yang tidak ada tulisan halalnya, kata dia, harus teliti dalam memperhatikan kandungan barang yang terdapat pada kemasan makanan tersebut. ''Kira-kira di sana ada tulisan yang mengandung babi dan alkohol atau tidak. Kalau ada, tentu saja kami tidak akan membelinya, dan kalau tidak ada, barulah kami mau membelinya,'' terang Lisa. sya/ta

AYI RUHIYAT

CALON WALIKOTA TANGERANG SELATAN
Insya Allah dengan Silaturahmi
Insya Allah dengan Turun ke bawah
Insya Allah dengan Tekad bersama Masyarakat
Insya Allah dengan Kesabaran
Insya Allah dengan Keridloan
Insya Allah dengan Keyakinan
Insya Allah dengan Jalan yang benar
Insya Allah dengan cara yang Jujur adil dan terbuka...

DEMOKRASI TANPA OPOSISI

DEMOKRASI TANPA OPOSISI
; Ancaman Terhadap Demokrasi

Akhir-akhir ini wacana koalisi makin berkembang jauh. Ide membangun koalisi pemerintahan yang kuat, efektif dan produktif, termasuk dengan basis dukungan yang besar dan permanen dinilai berbeda. Ada yang menilai sebagai konsekuensi dari sistem presidensial yang berlatar demokrasi multipartai. Tanpa dukungan koalisi yang besar, kuat dan permanen, harapan bagi terbangunnya pemerintahan yang makin efektif dan produktif akan menemui kendala di lapangan.

Sebaliknya, ada yang mengkritik bahwa koalisi yang besar akan menjadi ancaman bagi demokrasi. Pemerintah akan terlalu kuat. Oposisi makin kehilangan maknanya dan kehilangan daya kontrol. Karena itu, kata pandangan ini, politik akan bergerak ke arah otoritarianisme. Dan ini akan membahayakan masa depan demokrasi. Pemerintah dibayangkan akan berjalan sendirian tanpa tandingan.

Kedekatan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dan Partai Demokrat (PD) telah memunculkan skeptisisme terhadap perkembangan demokrasi pada masa mendatang. Asumsi politis yang berkembang belakangan ini mengatakan bahwa demokrasi Indonesia akan berjalan tanpa kontrol jika PDI-P mengambil bagian dalam koalisi pemerintahan partai berkuasa, PD; dan bahwa keduanya akan mudah menciptakan kekuasaan otoritarian.

Bagaimanakah nasib demokrasi di Indonesia kedepan, apakah tudingan dari pengamat politik tentang koalisi besar yang di usung oleh Partai demokrat benar akan melahirkan rezim otoritarianisme, atau malah akan memperkuat posisi pemerintahan ???
Cecep el chilamoya....

Selembar Kain Sang Putri



Perhelatan putri Indonesia 2009 telah berlangsung semarak pekan lalu. Sebuah program tahunan yang bertujuan untuk mencari duta-duta bangsa yang diharapkan menunjukan sebuah kesempurnaan perempuan yang diibaratkan seperti seorang “Putri”. Dengan mewakili setiap daerah di Indonesia, para kontestan Putri Indonesia berlaga di “panggung kerajaan”.

Tahun ini, putri dari daerah paling barat Indonesia berhasil meraih predikat sebagai “Putri Indonesia 2009”. Ada yang membuatqu cukup terhenyak ketika mendengar statement dari sang Putri, bahwa dia menanggalkan jilbabnya untuk mengikuti kontes itu. Adalah seorang Qory- putri kelahiran Jakarta 18 tahun yang lalu dan besar di Nanggroe Aceh Darussalam, yang kini bertahtakan mahkota putri Indonesia itu. Mungkin merasa terbayar dengan kemenangannya sebagai putri Indonesia, sang putri dengan bangga menyatakan bahwa dia melepas jilbab karena rambutnya Indah dan sesuatu yang indah itu tak perlu ditutup-tutupi. Rupanya bagi sang putri kita ini, kerudung hanyalah selembar kain yang hanya akan menutupi keindahan yang dianugerahkan oleh Tuhan.

Hemh…, kalau kita berfikir, memang bagian mana sih dari tubuh kita yang tidak indah??? Dari ujung rambut hingga ujung kaki, semua diciptakanNya dengan sebaik-baiknya bentuk. Sampe lubang hidung yang mungkin Cuma berisi upil-upilkita yang bau (he3), itu juga punya nilai keindahan tersendiri. Kemudian bagaimana kita memaknai keindahan dan fungsi pakaian itu???

Keindahan adalah sebuah anugerah dan nikmat dari Tuhan. Namun apakah keindahan itu untuk dipamerkan dan diperlihatkan? Keindahan adalah sebuah hal yang kita diberi tanggungjawab untuk menjaganya. Tidak semua keindahan bersifat common dan bisa dinikmati oleh semua orang. Kemudian apa fungsi pakaian???

Fungsi dasar dari pakaian adalah kebutuhan kita,bahwa manusia memliki privasi (aurat) dan rasa malu yang harus dilindungi. Sama saja dengan fungsi bank yang melindungi harta kita dengan menyimpannya disana. Tubuh juga adalah harta kita yang harus dijaga dan dilindungi dengan sebaik-baiknya. Kita punya uang saja ditaro di dompet, masa kita punya aurat nggak disimpen di pakaian sieh?

Kalau menurut pendapat temanku, kontes Putri Indonesia dan Putri-putri lainnya memang sebatas kontes kecantikan, tidak lebih dari itu. Objek yang dinilai hanyalah kecantikan, bukan lagi kecerdasan, apalagi kepribadian.

Ya, sekali lagi ini hanyalah salah satu bentuk dari bisnis sex. Putri Indonesia adalah program yang melibatkan berbagai macam sponsor kecantikan dan kewanitaan yang nilai rupiahnya cukup menggiurkan.

Sebatas membawa nama”Indonesia” dalam embel-embelnya ,karena dia lahir di Indonesia, silahkan saja… Tapi jangan anggap bahwa kau mewakili perempuan-perempuan Indonesia, karena perempuan Indonesia tidak sedangkal itu memaknai keindahan dan pakaian.

Rumah Bordil Masuk TV!!!



“ ampun deh, gak siang gak malem…yang ditonton gituan mulu! Ganti ah!” walaupun dengan resiko mendapat keluhan dari adhe2 kos, tapi dengan tega kukuasai remote untuk mengendalikan acara televisi malam itu. Agak kesal senja itu melihat suasana di ruang tengah. Sebuah kotak ajaib yang menjadi pusat perhatian menayangkan sebuah tontonan.

“ Ya elah mbak, sirik banget, mentang2 belum dapet jodoh!!!”

Halah!!! Enak aja tuh bocah ngomong. Tapi aq tau walaupun mereka protes, mereka paham akan alasanku mengendalikan acara tv. Cukup memprihatinkan memang dengan satu acara ini, acara import yang dikemas dengan kemasan local (halah!!!)ini cukup menarik banyak animo penikmat tv di Indonesia. Tapi kalo dipikir-pikir, penonton itu lebih tepatnya dipaksa untuk suka. Gimana nggak??? Setiap hari mereka dicekoki dengan acara itu dua kali sehari. Tadinya aku pikir acara ini nggak laku, kok siangnya diputer ulang. Tapi setelah liat barisan pariwara-nya, masih lumayan banyak, berarti tinggi juga rating-nya.

Angka penjualan yang cukup tinggi bagi acara Take Me/Him Out. Dengan menghadirkan MC kawakan, Chocky Sitohang, acara ini cukup menyedot banyak rupiah. So, kini bertambah lagi daftar tontonan yang tidak sehat di depan mata anggota keluarga/ teman-teman kita.

Dengan memberikan dua session penayangan, acara ini hadir dua kali sehari, siang dan malam. Siang hari, sekitar pukul 13.00. Kita tau di jam-jam itu , banyak tayangan bagi anak-anak. Jam tayangnya bersamaan dengan beberapa program yang disajikan khusus untuk anak-anak yang mungkin baru pulang sekolah. Jam dimana anak-anak biasa menonton si bolang, acara2 petualangan anak-anak, atau kompetisi-kompetisi bagi anak-anak hingga sore hari. Maka, Take Me/Him Out ternyata juga hadir sebagai alternative acara bagi mereka.



Di malam hari, acara ini menempati prime time, disaat semua orang kini jenuh dengan sinetron yang tidak jelas, Take Me Out hadir untuk memberikan suguhan pada penonton. Bagaimana penonton tidak tercekoki kalau seperti ini?

Acara yang berdurasi sekitar 2 x 60 menit ini, sebenarnya tidak terlalu istimewa. Hampir sama dengan program-program kontak jodoh yang lain. Tapi memang acara seperti ini mampu mengundang rasa penasaran yang cukup besar bagi penonton (khususnya di Indonesia). Dengan menghadirkan pria/wanita single, kemudian mereka diberi sessi perkenalan dan bebas dipilih dan kemudian bebas memilih, pria/wanita mana yang akan diajaknya ke romantic room.

Dengan vulgar, acara ini mempertontonkan tayangan “rumah bordil” yang elegan! Ya, bagi saya mungkin Choky Sitohang tak ada bedanya dengan (maaf) “Germo”. Dua puluh pria/wanita single tak ubah seperti pelanggannya yang ingin mengetahui para “single” yang ditawarkan perharinya. Tak perlu uang banyak, tapi “profesi” atau prestise menjanjikan cukup menentukan apakah sang “single” akan dipilih atau tidak. Untuk semakin meyakinkan bahwa acara ini bermutu, setiap peserta yang berhasil mendapatkan pasangannya, akan mendapat tanggapan dari sang Ustadz Cinta. Baru kali ini saya melihat dengan jelas bahwa ada Ustadz di rumah Bordil.

Perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat membuat orang juga semakin pintar mengemas kemaksiatan dengan cukup elegan. Hal-hal Syirik saja bisa dikemas dengan layanan sms premium. Begitu juga dengan tayangan-tayangan di televisi. Kini kita tak perlu susah melihat bagaimana sebenarnya kinerja germo menjajakan para korbannya pada para pelanggannya. Kalau dulu mungkin masih tersembunyi di balik rumah remang-remang, tapi didalamnya warnanya merah menyala. Disana perkenalan dan transaksi dilakukan dengan diam-diam. Para lelaki hidung belang, baik yang masih lajang ataupun sudah menikah, bisa mencari “kebutuhan”nya disini.

“Sedikit agak beradab”, kini rumah remang-remang itu bisa kita tonton di layar televise dengan kemasan yang gemerlap. Tak jauh beda, para wanita akan dikenalkan dengan pria single. Penentuan pasangan akan dilakukan dengan tiga putaran. Putaran pertama, dikenalkan nama-profesi- dan usianya. Dengan dalih “mendapat chemistry”, beberapa wanita akan tetap menyalakan lampunya, dan yang “nggak daoet chemistry” dipersilahkan mematikan lampunya. Putaran kedua biasanya akan diputarkan video profile, akan semakin jelas bagaimana pekerjaan dan aktvitasnya sehari-hari. Putaran ketiga akan performance. Putaran terakhir kini giliran sang pria yang akan memilih dari para peminatnya yang tersisa. Kalau tidak ada, berarti sang pria itu harus pasrah, bahwa dia bukang orang yang diinginkan oleh para wanita.

Bisnis Sex, dimanapun dan kapanpun selalu menjadi bisnis yang besar dan menjanjikan. Pengalaman baru-baru kemarin, naiknya “isu Miyabi” semakin memperlihatkan bahwa itu merupakan sebuah keuntungan besar2an bagi para penyedia bisnis sex.

Kita lihat bagaimana Valentine, bukan hanya menguntungkan para perusahaan coklat (kalau ini Cuma beberapa persen), tapi juga membuat semua media menyuguhkan acara-acara special valentine, bertemakan kasih sayang, minimarket sampe hypermarket berlomba-lomba memberikan sale besar-besaran. Film-film dan sinetron-sinetron tidak jauh beda akan menjadikan “sex” sebagai tema tayangannya.

Kembali pada Take Me Out, kalau ada yang beranggapan bahwa itu adalah salah satu “ikhtiar” mencari jodoh, ya itu memang pilihan bagi masing-masing orang, akan memilih jodoh dimana??? Ada yang suka cari jodoh di diskotik, atau rumah bordil??ya, itu pilihan kok! Lagipula, saya tidak melihat bahwa para peserta adalah orang-orang yang memang telah siap untuk menikah. Tidak ada jaminan juga bahwa pasangan itu akan diproses ke jenjang pernikahan. Justru seperti menunjukan bahwa hubungan pranikah itu adalah sah!

Apakah para tim kreatif media kita tidak bisa lagi membuat program yang sehat bagi masyarakat Indonesia???

Gals, jangan lupa mukena-mu!




Iqamah Dhuhur yang berkumandang beberapa menit lalu membuatku agak menyegerakan langkah menaiki tangga menuju tempat sholat perempuan. Ada helaan nafas ketika sampai di ujung tangga dan menyaksikan pemandangan disana. Namun,kutepis dan tak mau banyak berfikir, karena sholat akan dimulai.

Sudah kuduga, seusai sholat, seorang perempuan menghampiriku untuk meminjam mukena. Jujur, sebenarnya itu cukup mengganggu. Pernah nggak ya orang-orang itu berfikir bahwa mereka mengganggu hubungan oranglain dengan Tuhan, yang seharusnya sehabis sholat itu adalah jenak-jenak kita untuk bermunajat. Belum lagi kalau kita ingin menunaikan rawatib.

Satu hal yang mungkin jadi pertanyaan, kenapa sih nggak bawa mukena sendiri??? Toh itu adalah kebutuhan pribadi, dan kita tahu bahwa akan melewati waktu sholat, kenapa untuk hubungan antara kita dengan Tuhan kita tidak mempersiapkannya? Kenapa kemana2 kita bawa make-up,tapi hanya sekedar sepotong mukena, kita lalai membawanya?
Dulu waktu kecil, saya tinggal di sebelah mushola, saya pernah melihat bapak marah-marah pada beberapa jamaah wanita. Pasalnya disaat sholat sedang berlangsung, mereka malah ngobrol ketawa-tiwi sendiri, dengan alasan menunggu giliran mukena. Lalu,dengan nada agak keras, bapakku berkata: “ Kalau niat sholat, ya bawa mukena dari rumah donk!”


Waktu itu,aku sempat berfikir “ih pelit banget sih bapak, di mushola kan ada mukena, ya kita nggak usah repot-repot bawa mukena!”

Namun, ternyata itu pelajaran kecil bagiku yang mungkin awalnya aku hanya melakukannya sebatas sebuah kebiasaan. Lama-kelamaan aku berfikir, sholat adalah kebutuhan bukan kewajiban. Kita yang butuh akan sholat itu,maka kita sendiri yang tahu apa yang harus kita lakukan untuk kebutuhan kita.

Kalau kita butuh sholat, maka kita akan berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan itu. Mukena itu adalah pakaian yang sangat penting buat kita. Bahkan tingkat pentingnya lebih dari sekedar pakaian kita sehari-hari karena ini adalah pakaian kita untuk berkencan denganNya,Allah tidak menyuruh kita untuk menggunakan kemeja berkerah atau gaun mode terbaru, jilbab yang sedang trend. Tapi ketika menghadapNya, kita ada dalam kondisi bersih, santun dan sederhana. Pakaian sholat adalah pakaian khusus, kok dengan mudahnya kita kadang berfikir “ah gampang,bisa minjem orang lain”.

Waktu sholat adalah waktu privasi kita, harus terganggu oleh orang-orang yang untuk kebutuhannya sendiri dia enggan untuk membawanya. Di tempat-tempat ibadah memang disediakan peminjaman mukena, tapi itu kan ditujukan untuk musafir dan persediaannya terbatas. Kalau sebatas anak kos yang jarak antara kampus-kos/rumahnya tidak seberapa, dan sudah gede lagi! Sudah bisa tahu, apakah hari itu aktivitasnya akan melewati waktu sholat atau tidak, seharusnya bisa mempersiapkan donk!

Alasan repot kerap kali menjadi factor kita lupa membawa mukena. Padahal hanya satu stel pakaian,apalagi sekarang ada yang kemasan mini,praktis dibawa kemana-mana (lho,kok jadi promo ya???he3). Mungkin dari kita kadang berfikir, “wah kalo cowok enak ya, nggak usah repot-repot pake mukena”. Hemh… apa iya???

Gals, sholat itu nggak repot kok dan jangan dibuat repot. Inti pada sebuah pakaian sholat adalah suci dan menutupi aurat. Ketika sholat, pakaiannya sebenarnya sama saja dengan pakaian sehari-hari kita, kalau kita memaknai bahwa kebutuhan berpakaian adalah kebutuhan untuk menutupi aurat, bukan kebutuhan untuk bergaya. Kalau kita sudah terbiasa menutup aurat, maka ketika sholat juga tidak repot, asal kita juga harus tahu apakah pakaian kita masih bersih atau tidak. Laki-laki pun sebenarnya sama, bukan berarti karena pakaian mereka sudah menutup aurat, ketika mau sholat juga asal saja. Saya salut dengan beberapa ikhwan yang benar-benar menjaga toharoh, dengan mempersiapkan pakaian khusus untuk sholat untuk lebih berjagta-jaga ketika pakaiannya terkena najis.

Mukena itu kan salah satu “budaya” kita saja, karena di lingkungan masyarakat kita, kebanyakan perempuan belum mengenakan pakaian yang menutup aurat dengan benar.

Lepas dari itu semua, goresan ini hanya sebatas curahan hati untuk mencoba melakukan fungsi saudara sesame muslim,untuk saling mengingatkan. (nta)

Tiga Cara Penyerangan terhadap Mushaf Utsmani


Penulis: Ugi Suharto

Untuk menyerang dari sisi periwayatan, mereka terpaksa menggunakan senjata ulumul hadits agar riwayat yang awalnya tertolak bisa diterima kembali. Ulama hadits tentu tidak berdiam diri, karena sejak dahulu mereka memang telah memberi sumbangan besar dalam menjaga keutuhan al-Quran. Karena mushaf ini disandarkan pada riwayat yang mutawatir, serangan ini tidak akan mampu merusak Mushaf Utsmani. Apalagi upaya mereka melalui cara ini paling jauh hanya bisa mengangkat kedudukan riwayat syadz (yang menyimpang) menjadi ahad. Itupun dengan syarat riwayat itu tidak bertentangan dengan ayat-ayat al-Quran Mushaf Utsmani lainnya.

Pun, bila usaha itu berhasil, fungsi yang paling tinggi dari riwayat itu paling hanya sebagai tafsir pembantu bagi Mushaf Utsmani. Itu pun belum tentu diterima oleh ijma sebagai salah satu bacaan Utsmani. Jadi sebenarnya, serangan terhadap Mushaf Utsmani melalui jalan ini terlalu banyak makan waktu dan tenaga, tetapi hasilnya tidak seberapa.

Alford T. Welch yang menulis mengenai al-Quran dalam Encyclopaedia of Islam menyatakan keputusasaan para pengkaji Barat itu. Menurutnya, berbagai riwayat mengenai bacaan-bacaan yang telah mereka kumpulkan sekian lama itu tidak terlalu berarti untuk menyerang Mushaf Utsmani.

Ketika mereka gagal meruntuhkan al-Quran dengan jalan riwayat, karena dijaga ketat oleh para ulama hadits, para orientalis itu jadi semakin berang. Kemudian dengan serta merta mereka menuduh bahwa riwayat-riwayat hadits yang mutawatir itu merupakan rekaan para ulama Islam.

Begitulah sikap mereka, bila gagal menyerang al-Quran, maka hadits yang menjadi sasaran. Dan bila gagal menyerang hadits, maka fikih dan ilmu kalam pun akan mereka hantam. Bila gagal lagi, mereka menghantam dan memburu sejarah Islam yang luas dan panjang itu. Mereka memang tidak akan berhenti menyerang sumber-sumber Islam, baik secara halus maupun terang-terangan agar agama Islam menerima nasib yang sama seperti agama mereka.

Cara kedua yang mereka lancarkan adalah melalui penemuan-penemuan manuskrip. Misalnya yang dilakukan oleh Gerd R. Puin baru-baru ini. Ia mengklaim telah menemukan mushaf tua di Yaman yang konon mengandungi qira’ah yang lebih awal dari Qira’ah Tujuh yang terkandung dalam Mushaf Utsmani, walaupun mushaf itu tidak lengkap dan sangat berbeda dengan Mushaf Utsmani.

Tujuan dari klaim itu adalah agar umat Islam yang membaca tulisannya menjadi keliru dan ragu sehingga menganggap bahwa al-Quran pada zaman Sahabat itu satu sama lain saling bertolak belakang. Memang serangan melalui manuskrip lama ini lebih canggih dibandingkan dengan serangan melalui riwayat. Tapi, ketiadaan manuskrip yang mereka inginkan itu jadi masalah yang mengganjal tujuan kajian mereka.

Maka, dengan penemuan manuskrip Yaman di atas, konon Puin ingin mengemukakan bukti bahwa riwayat-riwayat yang bertentangan dengan Mushaf Utsmani itu bukan sekadar isu, tetapi fakta. Beliau turut mengkritik pernyataan Welch yang mengisyaratkan bahwa sebenarnya tidak ada alasan bagi para pengkaji Barat untuk menolak sumber-sumber hadits, sebab apa yang dinyatakan dalam banyak riwayat mengenai isu susunan surah-surah al-Quran adalah mendekati susunan Mushaf Utsmani.

Dengan modal penemuan manuskrip Sana’a di Yaman itu, pernyataan Welch di atas disindir dan diputarbalikkan oleh Puin. Ia merasa bahwa serangannya terhadap Mushaf Utsmani lebih ampuh menggunakan manuskrip dibanding melalui jalan riwayat yang merupakan jalan mati bagi para orientalis yang menggeluti bidang al-Quran.

Memang wajar bagi pengkaji Barat yang berlatar belakang tradisi Ahlul Kitab, Yahudi, dan Kristian, untuk melirik manuskrip lama sebagai senjata utama mereka. Ini karena masalah agama mereka bersumber pada kitab suci mereka sendiri. Mereka ingin agar nasib al-Quran seperti nasib Taurat dan Injil. Mereka mau agar kita juga masuk dalam kelompok Ahlul Kitab! Maha Benar Allah, dengan firman-Nya:

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti millah mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).” Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah datang ilmu kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.“ (Al-Baqarah: 120)

Jangan bimbang

Kita, kaum Muslimin, tidak perlu terlalu bimbang dengan serangan baru melalui manuskrip ini, karena kualitas manuskrip itu pada dasarnya sama dengan kualitas riwayat hadits. Sebuah hadits, yang bila dari segi isnadnya nampak sah, tetapi pengertian matannya bertentangan dengan hadits-hadits yang lebih kuat derajat kesahihannya, maka hadis tersebut dianggap syadz (menyimpang). Begitu pula nilai sebuah manuskrip al-Quran dan qiraah-nya. Kesahihan manuskrip maupun riwayat harus menjadi ukuran utama.

Puin mengklaim bahwa manuskrip Sana’a itu lebih tua dari sistem qiraah tujuh atau sepuluh, yang telah diakui mutawatir atau masyhur masing-masingnya oleh para ulama Islam. Kebetulan manuskrip itu mengandung qirah yang lebih banyak daripada qiraah tujuh, sepuluh atau empat belas seperti yang diuraikan dalam Mu‘jam al-Qira`at al-Quraniyyah.

Kita ingin mengatakan kepada Puin bahwa banyaknya qiraah yang terdapat dalam manuskrip itu sebenarnya tidak sahih. Karena apabila ia telah keluar dari qiraah 14 yang memuatkan bacaan ahad, boleh jadi bacaan-bacaan yang banyak itu hanyalah merupakan bacaan yang bernilai syadz (ganjil, menyimpang) ataupun mawdhu’‘ (palsu).

Bacaan-bacaan yang dikategorikan bernilai dha’if (lemah) seperti itu boleh jadi merupakan suatu kesalahan-kesalahan tulisan dalam manuskrip al-Quran yang ditulis secara individual oleh para penulis manuskrip, yang bisa jadi dalam keadaan mengantuk, letih, tidak profesional, dan lain-lain. Perlu disebutkan bahwa asal al-Quran adalah bacaan (qiraah) yang diperdengarkan, barulah tulisan (rasm) mengikutinya.

Prinsip yang disepakati adalah al-rasm tabi‘ li al-riwayah (tulisan teks mengikuti periwayatan). Karena itu, faktor periwayatan dari mulut ke mulut sangatlah penting. Hal itu telah dilakukan oleh para sarjana dan penghafal al-Quran yang berwibawa. Tetapi para orientalis ingin menyodorkan pemikiran mereka yang menyeleweng dengan mengatakan bahwa bacaan al-Quran mestilah mengikuti teks tulisan (rasm), sekalipun tulisan itu salah.

Pantaslah nenek moyang mereka yang Ahlul Kitab itu tersesat sejak dahulu, karena mereka hanya berpegang dengan teks tulisan dan telah kehilangan isnad dan sandaran yang kukuh dalam periwayatan kitab suci mereka. Mungkin karena sebab itu pula mereka dipanggil Ahlul Kitab, karena mereka itu memang, seperti kata Prof. Naquib al-Attas, bookist.

Para ulama Islam awal telah membuat perbedaan antara al-Quran dengan qiraah. Al-Quran adalah bacaan mutawatir yang diterima oleh keseluruhan umat Islam, dibaca dalam shalat,dan menolak bacaan itu adalah kufur. Sedangkan pada qiraah tidak demikian. Mereka juga telah meletakkan syarat-syarat penerimaan qiraah. Pembahagian qiraah yang kita sebutkan di atas menunjukkan kategori penerimaan dan penolakan terhadap sesuatu qiraah. Oleh karena itu tidak semua qiraah dapat diterima. Kalaupun diterima, belum tentu bacaan itu dibenarkan untuk dibaca dalam shalat. Dan hal ini tidak berarti qiraah tersebut tidak bermakna, karena fungsi bacaan itu masih boleh membantu dalam ilmu tafsir. Jadi penemuan Puin mengenai banyak terdapatnya qiraah dalam manuskrip itu mungkin sekali termasuk qiraah-qiraah yang dha’if , yang tidak akan diterima para ulama.

Agaknya Puin tidak begitu mengindahkan tiga rukun utama yang mesti dipenuhi agar setiap qiraah itu bisa diterima. Rukun-rukun yang telah disepakati itu adalah: pertama, qiraah mestilah sesuai dengan tata bahasa Arab, walaupun itu hanya dari satu pengertian (wajh); kedua, qiraah mesti juga sesuai dengan salah satu dari Mushaf Utsmani, walaupun itu hanya dari segi kemungkinannya (ihtimal); dan ketiga, qiraah juga mesti sah sanad periwayatannya. Apabila salah satu rukun itu tidak terpenuhi, maka qiraah tadi dianggap dha’if (lemah), syadzh (ganjil) atau batil.

Menurut Ibnu al-Jazari, ketentuan itu adalah sahih di mata para pengesah (pentahqiq), baik di kalangan ulama salaf (ulama di masa awal) ataupun khalaf (ulama yang terkemudian). Uraian terperinci terhadap ketiga rukun itu terdapat dalam kajian ‘Ulum al-Quran. [www.hidayatullah.com]

Asisten Profesor di Universitas Islam Antarbangsa (UIA) Malaysia. Sekarang menjadi dosen tamu di Qatar.

KIRIM SMS GRATIS
Jejaring Sosial
Langganan Berita

Masukkan email anda:

Sponsor
Iklan
Oktober 2009
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
KlikSaya