Archive for the ‘artikel’ Category
Menjawab Pernyataan John Palinggi terhadap Realitas Obyektif “Impeachment” SBY
Bersandar Hanya Kepada Allah
Teror Sistematis Al-Aqsho oleh Zionis Israel La`natullah
Teror Sistematis Al-Aqsho oleh Zionis Israel La`natullah
Bersandar Hanya Kepada Allah
PII antara Heroisme Masa Lalu dan Realitasnya Masa Kini
KFC ‘Halal’ Jadi Perdebatan di Inggris
Kampanye Kotor (Black Campaign) Pemilu 2009
Semut di Kantong Semar
Pembaca pasti sudah tahu mengenai tumbuhan perangkap serangga atau yang lazim disebut tumbuhan kantong semar (Nepenthes bicalcarata). Tumbuhan yang baunya menyengat dan memangsa serangga yang hinggap pada jebakannya. Tapi dari sumber yang saya dapat, Al Falah, tak semua serangga dijadikan mangsanya, ada serangga tertentu yang lolos dari perangkap tumbuhan ini.
Diantaranya adalah binatang yang memiliki komunitas terbesar di dunia, semut hitam. Semut hitam dengan Black Community-nya ini dapat hidup berdampingan dengan tanaman kantong semar. Di dalam kantong semar, yang hidup sebelah India Timur, seringkali ditemukan koloni semut. Tumbuhan ini bentuknya seperti teko dan memangsa serangga yang menghinggapinya. Meskipun demikian, semut bisa bebas berlenggak-lenggok untuk mengambil sisa-sisa serangga dan bahan makanan lain dari tumbuhan ini. Hmm...Kerja sama ini menguntungkan kedua belah pihak, semut dan kantong semar. Pasalnya, meski ada kemungkinan semut akan dimakan oleh tumbuhan pemangsa serangga ini, namun mereka dapat membangun sarang pada tumbuhan ini. Sang tumbuhan juga menyisakan jaringan tertentu dan sisa-sisa serangga untuk semut. Dan biasanya sebagai balasannya, semut melindungi tumbuhan dari musuhnya. Sungguh suatu kerja sama yang indah..
Memang tak selamanya Black Community yang dibentuk oleh semut hitam mengganggu tumbuhan lain. Malah sebaliknya.
3 pokok ajaran islam
Sejauh Mana Pemahaman Kita?
Tak terasa, sudah sejak lama sekali (mungkin sudah 20-an tahun atau bahkan lebih) kita menjadi sebagai seorang muslim. Nikmat yang besar ini patutlah kita syukuri, karena banyak diantara manusia yang tidak memperoleh nikmat ini. Dan nikmat inilah yang sangat menentukan bahagia atau sengsaranya kita di hari akhir nanti.
Pada kesempatan ini, tidaklah kami ingin menanyakan ‘Sejak kapan kita masuk islam?’ atau ‘Bagaimana ceritanya kita masuk islam?’ karena jawaban pertanyaan ini bukanlah suatu yang paling mendasar dan paling penting. Namun pertanyaan paling penting yang harus kita renungkan dan kita jawab pada setiap diri kita adalah: ‘Sudah sejauh manakah kita telah memahami dan mengamalkan ajaran kita ini?’ Pertanyaan inilah yang paling penting yang harus direnungkan dan dijawab, karena jawaban pertanyaan inilah yang nantinya sangat menentukan kualitas keislaman dan ketakwaan seseorang.
Alloh berfirman, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati di dalam kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Al Ashr: 1-3)
Alloh berfirman, “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Alloh ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.” (Al Hujurot: 13)
Pokok Ajaran Islam
Sebagaimana yang telah diketahui bahwa ajaran Islam ini adalah ajaran yang paling sempurna, karena memang semuanya ada dalam Islam, mulai dari urusan buang air besar sampai urusan negara, Islam telah memberikan petunjuk di dalamnya. Alloh berfirman, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam menjadi agama bagimu.” (Al-Maidah: 3)
Salman Al-Farisi berkata,“Telah berkata kepada kami orang-orang musyrikin, ‘Sesungguhnya Nabi kamu telah mengajarkan kepada kamu segala sesuatu sampai buang air besar!’ Jawab Salman, ‘benar!” (Hadits Shohih riwayat Muslim). Semua ini menunjukkan sempurnanya agama Islam dan luasnya petunjuk yang tercakup di dalamnya, yang tidaklah seseorang itu butuh kepada petunjuk selainnya, baik itu teori demokrasi, filsafat atau lainnya; ataupun ucapan Plato, Aristoteles atau siapa pun juga.
Meskipun begitu luasnya petunjuk Islam, pada dasarnya pokok ajarannya hanyalah kembali pada tiga hal yaitu tauhid, taat dan baro’ah/berlepas diri. Inilah inti ajaran para Nabi dan Rosul yang diutus oleh Alloh kepada ummat manusia. Maka barangsiapa yang tidak melaksanakan ketiga hal ini pada hakikatnya dia bukanlah pengikut dakwah para Nabi. Keadaan orang semacam ini tidak ubahnya seperti orang yang digambarkan oleh seorang penyair,
Semua orang mengaku punya hubungan cinta dengan Laila,
namun laila tidak mengakui perkataan mereka
Berserah Diri Kepada Alloh Dengan Merealisasikan Tauhid
Yaitu kerendahan diri dan tunduk kepada Alloh dengan tauhid, yakni mengesakan Alloh dalam setiap peribadahan kita. Tidak boleh menujukan satu saja dari jenis ibadah kita kepada selain-Nya. Karena memang hanya Dia yang berhak untuk diibadahi. Dia lah yang telah menciptakan kita, memberi rizki kita dan mengatur alam semesta ini, pantaskah kita tujukan ibadah kita kepada selain-Nya, yang tidak berkuasa dan berperan sedikitpun pada diri kita?
Semua yang disembah selain Alloh tidak mampu memberikan pertolongan bahkan terhadap diri mereka sendiri sekali pun. Alloh berfirman, “Apakah mereka mempersekutukan dengan berhala-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatu pun? Sedang berhala-berhala itu sendiri yang diciptakan. Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada para penyembahnya, bahkan kepada diri meraka sendiripun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan.” (Al -A’rof: 191-192)
Semua yang disembah selain Alloh tidak memiliki sedikitpun kekuasaan di alam semesta ini. Alloh berfirman, “Dan orang-orang yang kamu seru selain Alloh tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu, dan pada hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui.” (Fathir: 13-14)
Tunduk dan Patuh Kepada Alloh Dengan Sepenuh Ketaatan
Pokok Islam yang kedua adalah adanya ketundukan dan kepatuhan yang mutlak kepada Alloh. Dan inilah sebenarnya yang merupakan bukti kebenaran pengakuan imannya. Penyerahan dan perendahan semata tidak cukup apabila tidak disertai ketundukan terhadap perintah-perintah Alloh dan Rosul-Nya dan menjauhi apa-apa yang dilarang, semata-mata hanya karena taat kepada Alloh dan hanya mengharap wajah-Nya semata, berharap dengan balasan yang ada di sisi-Nya serta takut akan adzab-Nya.
Kita tidak dibiarkan mengatakan sudah beriman lantas tidak ada ujian yang membuktikan kebenaran pengakuan tersebut. Alloh berfirman, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Alloh mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” ( Al-Ankabut: 2-3)
Orang yang beriman tidak boleh memiliki pilihan lain apabila Alloh dan Rosul-Nya telah menetapkan keputusan. Alloh berfirman, “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang beriman dan tidak pula perempuan yang beriman, apabila Alloh dan Rosul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Alloh dan Rosul-Nya maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (Al Ahzab: 36)
Orang yang beriman tidak membantah ketetapan Alloh dan Rosul-Nya akan tetapi mereka mentaatinya lahir maupun batin. Alloh berfirman, “Sesungguhnya jawaban orang-orang beriman, bila mereka diseru kepada Alloh dan Rosul-Nya agar rosul menghukum di antara mereka ialah ucapan. ‘Kami mendengar, dan kami patuh’. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (An Nur: 51)
Memusuhi dan Membenci Syirik dan Pelakunya
Seorang muslim yang tunduk dan patuh terhadap perintah dan larangan Alloh, maka konsekuensi dari benarnya keimanannya maka ia juga harus berlepas diri dan membenci perbuatan syirik dan pelakunya. Karena ia belum dikatakan beriman dengan sebenar-benarnya sebelum ia mencintai apa yang dicintai Alloh dan membenci apa yang dibenci Alloh. Padahal syirik adalah sesuatu yang paling dibenci oleh Alloh. Karena syirik adalah dosa yang paling besar, kedzaliman yang paling dzalim dan sikap kurang ajar yang paling bejat terhadap Alloh, padahal Allohlah Robb yang telah menciptakan, memelihara dan mencurahkan kasih sayang-Nya kepada kita semua.
Alloh telah memberikan teladan kepada bagi kita yakni pada diri Nabiyulloh Ibrohim ‘alaihis salam agar berlepas diri dan memusuhi para pelaku syirik dan kesyirikan. Alloh berfirman, “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: ‘Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Alloh, kami mengingkari kamu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Alloh saja.’” (Al-Mumtahanah: 4)
Jadi ajaran Nabi Ibrohim ‘alaihis salam bukan mengajak kepada persatuan agama-agama sebagaimana yang didakwakan oleh tokoh-tokoh Islam Liberal, akan tetapi dakwah beliau ialah memerangi syirik dan para pemujanya. Inilah millah Ibrohim yang lurus! Demikian pula Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam senantiasa mengobarkan peperangan terhadap segala bentuk kesyirikan dan memusuhi para pemujanya. Inilah tiga pokok ajaran Islam yang harus kita ketahui dan pahami bersama untuk dapat menjawab pertanyaan di atas dengan jawaban yang yakin dan pasti. Dan di atas ketiga pokok inilah aqidah dan syari’ah ini dibangun. Maka kita mohon kepada Alloh semoga Alloh memberikan taufiq kepada kita untuk dapat memahami agama ini, serta diteguhkan di atas meniti din ini. Wallohu a’lam…
Perjuangan Belum Selesai Saudara……… (Realitas menyikapi pengesahan UUP, serta mengkritisi aksi Provinsi Sulsel yang menolak UUP)
DILEMA UU APP, SIKAP (TER)PELAJAR MERESPON PRO-KONTRA UU APP
Idea Progress of Youth Leadership
Tak hanya secara nasional, untuk mewujudkan satu generasi yang lebih baik bagi NTB memang membutuhkan waktu yang lama. Tak cukup masa waktu 25 tahun untuk menelurkan generasi dengan kualitas prima. Walau di tempat yang berbeda kemungkinan itu selalu ada.
Lihat kenyataan negeri jiran Malaysia, hanya membutuhkan satu generasi untuk mengejar ketertinggalan, lalu meninggalkan Indonesia yang dulu pernah menjadi "kakak" pendidikan. Tertinggal sehasta: sehasta ide, sehasta visi. Malaysia punya visi ideal 2020, sedangkan Indonesia terbayang oleh deviasi banyak harap, namun tumpul visi.
Revitalisasi keIndonesiaan –khususnya ke-NTB-an, membutuhkan kerja keras lebih dari satu generasi ke depan. Bukan hanya pada saat transisi demokrasi yang sarat dengan perubahan institusional dan kultural kebangsaan, namun juga saat dibutuhkannya perubahan secara "radikal" mengenai negara-bangsa secara holistik.
Untuk itu mentransformasi Indonesia berawal dari teladan kepemimpinan yang prima adalah sebuah keniscayaan. Kepemimpinan yang visioner tak akan tercapai kecuali dengan menyediakan ruang gerak bagi jejaring kepemimpinan pemuda.
Pemuda Garda Depan
Ini kunci utama pembangunan bangsa: kepemimpinan pemuda. Dalam lembaran sejarah, tiap perubahan zaman selalu dimulai dengan barisan pemuda yang visioner, berani, pantang menyerah, dan tak hirau dengan gemerlap imbal jasa maupun popularitas.
Bermula dari sejarah kebangkitan nasional 1908, sumpah pemuda 1928, kemerdekaan RI 1945, angkatan 1966, peristiwa Malari 1974, hingga gerakan reformasi 1998 yang merupakan sebuah deretan sejarah kepemudaan bagi tegaknya peradaban. Bukan hanya semangat perlawanan kritis, tapi lebih dari itu menyimpan sebuah spirit jiwa merdeka dan mampu menerobos zaman.
Kini bangsa membutuhkan entitas pemuda yang merapatkan integritas bangsa. Elemen pergerakan pemuda, yang terdiri dari mahasiswa, aktivis, taruna, dan seterusnya dalam pelbagai dedikasi maupun institusi di berbagai lini, mesti dipersatukan dalam common platform membangun kembali keIndonesiaan.
Kenyataannya, ideologisasi yang meluruh disertai dengan pragmatisme pergerakan, semakin menyurutkan langkah persatuan. Polarisasi pergerakan hadir bahkan hingga menimbulkan jarak, oleh egoisme berupa kepentingan sesaat (vested interest).
Meskipun ada himpunan bernama ”gerakan mahasiswa,” misalnya, tak lebih dari rutinitas bak ritual yang amat formalitas. Gerakan yang tampak di permukaan saja, yang senyatanya tidak mampu meraih intisari idealitas yang diusung. Terjebak dalam gemerlap kerumunan, bukan barisan yang mempersatukan.
Tantangan berwujud skisma atau perpecahan pergerakan ini ialah bukti belum tertibnya kepemimpinan (pemuda). Dalam matra lain, kita menemukan perspektif bahwa fenomena kepemimpinan pemuda yang kelihatan instan dan "asal jadi" sesungguhnya bermuara pada penyebab gagalnya menyiapkan generasi pemuda terkini dalam menyongsong masa depan.
Hal lain yang terkait dengannya ialah krisis keteladanan bangsa dari "kaum tua" sekaligus masih peliknya kondisi pendidikan nasional, zeitgeist. Guna menata bangunan peradaban bangsa yang relatif baru, maka kepemimpinan pemuda merupakan aspek krusial.
Reinvensi kepemimpinan pemuda yang menghimpun jalinan tali persatuan dan mempunyai teropong yang visioner perlu dirangkai dalam jejaring rekayasa masa depan yang terencana secara strategis. Salah satunya ialah penanaman pendidikan kepemimpinan pemuda secara nasional yang bersifat nasionalis, pluralis, dan strategis dalam pelbagai aspek kehidupan bangsa.
Format Kepemimpinan Pemuda
Kepemimpinan pemuda perlu diformat oleh sentuhan zeitgeist (jiwa zaman, Hegel) yang melulu membumikan altruisme kebangsaan. Format kepemudaan sebagai upaya kristalisasi kepemimpinan visioner melalui berbagai elemen pemuda di seantero negeri ini harus disadari sebagai bagian dari warga negara yang punya kesadaran hakiki dan kematangan berpikir membangun bangsa.
Format kepemimpinan yang harus diwujudkan semestinya sesuai dengan "jiwa zaman" yang membangun sistem pribadi-pribadi yang unggul, asketik, arif, dan berlandaskan pada moral etik di atas eksklusivisme primordialistik. Menerobos batas dengan berupaya melampaui konflik kepentingan secara pribadi maupun kelompoknya demi kemaslahatan bersama, sebagai prasyarat berikutnya.
Bagaimana pun, sebuah barisan kepemimpinan pemuda mesti dibangun di atas paradigma yang membebaskan dan mencerahkan. Untuk itu, ia (pemuda) perlu membangun barisan yang cinta khazanah keilmuan dalam samudera republica literaria (Latif, 2005).
Yakni, generasi yang senantiasa belajar segala ilmu dengan memuliakan pikiran sebagai manusia mulia. Hingga saatnya benih-benih kaum inteligensia dan intelektual hadir menuntun peradaban bangsa dengan kitab-kitab yang mencerahkan bangsa, disertai oleh kearifan melalui kepemimpinan kolektif.
Untuk itu, setiap pribadi sebagai pemuda harus merdeka sejak dalam pikirannya sedari dini. Bahkan, kata almarhum Pramoedya, kita harus adil sejak dalam pikiran. Kekuatan sebuah ide atau gagasan mampu menata dunia (idea of progress) secara lintas-batas dan lintas-zaman. "Kebebasan" ialah prasyarat kemerdekaan berpikir. Bukan ide untuk pragmatisme, tapi ide untuk independensi di atas idealisme, di mana pun ia berdiri. Tentu disertai oleh kepekaan etik spiritual bagi junjungan moralitas yang berpijak pada kebenaran.
Dalam sejarah kebangsaan, Indonesia mempunyai sejumlah tokoh yang memiliki sisi moralitas yang pantas dijadikan model atas format yang dibangun. Sebut saja Bung Syahrir, Haji Agus Salim, dan Mohammad Roem. Jika kita baca riwayat hidup, pergulatan dan perjuangannya, keluar-masuk penjara, dibuang hingga diasingkan, maka semua orang akan tersadarkan, betapa susahnya menggapai keberhasilan secara beradab.
Kepekaan etika spiritual dan sisi moralitas yang berpijak pada kebenaran dari tokoh-tokoh tersebut adalah persepsi dan praksis mereka, yang memilih hidup serba susah sebagai pembebas bangsa ini dari penindasan penjajah.
Ada baiknya juga, jika setiap individu anak bangsa ini mau belajar dari Benjamin Franklin, mantan presiden Amerika Serikat (AS). Membangun “peradaban” individu dari dirinya sendiri, mempelajari dan mempraktekkan keadaban jujur, adil, ugahari (merasa cukup), diam (tidak gembar-gembor), tertib (disiplin), tenang, teguh hati, hemat, rajin, moderat, bersih (sehat), hidup murni, dan rendah hati untuk masa depan yang lebih baik.
Membangun kepemimpinan pemuda NTB tidak hanya dimulai dengan transformasi generasi, tapi juga harus dikristalisasi sebagai upaya real mencipta kepemimpinan yang berpihak pada perubahan. Karena tak ada transformasi kepemimpinan kecuali mempersiapkan kepemimpinan generasi visioner (pemuda) yang menjunjung tinggi idealitas dan moralitas.
NTB pun akan bangkit, menuju perubahan yang menjadi lebih baik dengan mengedepankan elemen pemuda yang visioner dan tentunya amanah, nrimo atas gugatan masyarakat ketika visi dan amanah telah terjual oleh rupiah. Semoga.
Terungkapnya Relativitas Kebenaran
(Maxim Gorky, Sastrawan Rusia)
Ternyata Gorky salah. Kebenaran dapat tenggalam, bahkan timbul, bila kebenaran itu hakiki. Ketika saya tenggelam dalam lautan buku dan diskusi saat itu (intra PII), semakin jelas kebenaran 'ala' yang dipegang teguh oleh mereka. Ini sebuah proses, memang. Layaknya beberapa kelompok scientis atau pemikir yang mengatakan bahwa tidak ada kebenaran mutlak, segala sesuatu bersifat relatif, apabila suatu kepercayaan tertentu diteliti dengan membandingkannya dengan kepercayaan lainnya maka akan didapati bahwa dalam setiap kepercayaan ada corak-corak khusus yang saling melengkapi satu sama lain, dan hal itu tidak berarti bahwa yang satu mutlak benar dan yang lain mutlak salah, kedua-duanya bisa sama-sama benar bisa juga sama-sama salah tergantung dari perspektif mana orang memandangnya, orang-orang yang berpandangan demikian dikenal dengan penganut paham liberalisme. Misalnya dalam paham liberalisme agama.
Walaupun beberapa orang yang berpandangan liberalisme tidak selalu serba menerima segala konsep agama, namun paling tidak beberapa kelompok berpandangan bahwa ada unsur kebenaran dan kebaikan di dalam setiap agama, sehingga atas dasar penalaran demikian maka mereka tidak menerima konsep adanya kebenaran mutlak atau absolute, segala hal bersifat relatif tergantung sudut pandang masing-masing kelompok orang.
Banyak orang saat ini senang dengan paham liberalism, karena dengan mengikuti konsep berpikir seperti ini mereka berpandangan bahwa hubungan horisontal antara sesama umat manusia akan lebih harmonis karena menerima perbedaan di antara sesama manusia, orang yang berpandangan seperti ini tidak akan bersikap terlalu kritis dengan agama orang lain maupun agamanya sendiri.
Oleh sebab itu munculah konsep pluralism seperti di dalam agama Kristen ada kelompok persekutuan yang disebut dengan Oikumene (menggabungkan seluruh sekte kristen dalam satu wadah perkumpulan jemaat) bahkan ada ungkapan yang diberikan oleh suatu konsili Vatikan Katolik Roma yang menyebutkan bahwa “ada kesucian di dalam semua agama”, dan disamping itu beberapa paham kelompok Kristen yang bersikap Liberal juga menerima tradisi upacara adat istiadat etnis ke dalam kekristenan sebagai bagian dari tatacara peribadatan. Di dalam Islam pun konsep ini telah menyusup. Apakah konsep ini salah?
Jika ditinjau secara liberal maka tidak ada yang salah dalam hal tersebut, sebab segalanya adalah bersifat relatif, akan tetapi jika ditinjau dari segi kebenaran absolute, realitas atau fakta maka akan timbul pertanyaan yang mendasar, apa yang dimaksudkan dengan liberal di sini? Apakah liberal dalam kaitannya dengan dogma, doktrin dan ajaran agama? Ataukah liberal dalam arti mentoleransi umat beragama lain dengan tidak saling mengusik atau menjelek-jelekkan agama orang? Jika demikian saya sependapat, namun Jika mereka mengatakan bahwa yang dimaksud adalah liberal dari segi dogma dan ajaran maka timbul pertanyaan apakah memang semua agama benar-benar mengajarkan dogma yang sama? Dan apakah semua agama benar-benar jalan yang sama menuju Tuhan yang sama pula? Apakah orang-orang yang menganut paham liberalism tersebut bersedia berpindah-pindah agama misalnya hari ini beribadah ke mesjid, besok beribadah ke gereja, lusa beribadah ke klenteng budha atau kuil hindu dan seterusnya? Saya tidak yakin akan hal itu.
Atau bisa jadi mungkin para penganut paham liberalism tersebut berdalih bahwa mereka hanya menerima sebagian-sebagian konsep dari seluruh paham agama-agama untuk di-combine dengan filsafat mereka menjadi satu "ramuan" pengajaran baru atau pencerahan baru - who knows, jadi mereka tidak menerima secara utuh semua paham agama di dunia ini, namun mencomot beberapa hal dan menggabungkannya dengan paham filsafat, jika demikian maka tidakkah hal ini berarti mereka (para penganut paham liberalism) tidak kosisten dan konsekuen? Jika mereka benar-benar liberal dan konsisten maka tidakkah seharusnya mereka menerima semua paham agama-agama secara utuh sebagai paham yang benar karena toh mereka mengatakan bahwa semua agama baik dan benar?
Bila mengambil sebuah simulasi, apakah para penganut paham Islam Liberal mau menerima Yesus Kristus sebagai juru selamat selayaknya orang Kristen memandang Yesus? Atau sebaliknya maukah para penganut paham Kristen Liberal mengakui Nabi Muhammad SAW sebagaimana orang muslim memandang Muhammad? Atau mungkin saja para penganut paham liberal tersebut mengatakan bahwa mereka hanya berusaha untuk menghormati semua agama yang ada di dunia ini, bukan untuk menerima semua dogma dari agama-agama yang ada sebagai kebenaran yang sejati.
Salah satu argumen kelompok liberal adalah bahwa kebenaran itu dapat dibagi atas dua kategori: 1. Kebenaran Eksklusif, 2. Kebenaran Inklusif. Kebenaran eksklusif adalah kebenaran tertentu yang hanya diyakini dalam agama tertentu. Misalnya Umat Kristen pada umumnya percaya bahwa Yesus itu adalah Tuhan yang layak mereka sembah, sedangkan umat Islam tidak mungkin menerima doktrin itu dan tidak akan mau menyembah Yesus. Sedangkan ajaran cinta kasih dalam agama Kristen adalah kebenaran inklusif yang bisa diterima oleh pemeluk agama Islam dan bahkan oleh semua agama.
Maka jika demikian halnya itu berarti para penganut paham liberalism tersebut tetap saja menganggap bahwa agama yang dianutnya entah itu Islam atau Kristen atau apapun adalah agama yang benar dan agama lain selain yang dianutnya bukanlah agama yang benar, karena ada beberapa dogma fundamental dari masing-masing agama yang tidak mungkin bisa saling tukar-menukar konsep dan iman diantara penganutnya. Dengan kata lain jika demikian maka konsep liberal yang dimaksudkan mereka hanyalah sebagai ungkapan saling toleransi antara umat beragama demi menjaga hubungan horizontal sesama manusia tidak soal latar belakang agamanya.
Dan itu juga berarti bahwa kebenaran yang sesungguhnya tidaklah bersifat relatif, karena jika semua relatif maka tidak ada suatu "pakem" yang fundamental dalam setiap agama, karena terbukti bahwa tetap saja orang-orang yang berpandangan liberal memiliki status jati diri agamanya sendiri? mereka menamakan diri Islam Liberal yang notabene ada identifikasi Islam juga dalam kelompok itu.
Seringkali artikel-artikel liberalism yang ditulis, di media internet misalnya, hanya mengkritisi para penganut di dalam kelompok agamanya sendiri khususnya agar supaya jangan sampai berpandangan ekstrim dan fanatik terhadap agamanya. Mereka jarang mengkritik agama lain, mereka hanya mencoba mengkaji ulang agamanya sendiri dari paradigma yang berbeda (seperti filsafat, science, sejarah, logika dan akal sehat), sehingga mereka mengajak umat agamanya untuk berpikir lebih comprehensive dan tidak picik. Itu memang suatu hal yang positif, dalam arti mereka berusaha menggunakan akal pikirannya (yang notabene Tuhan menciptakan manusia memiliki akal budi untuk digunakan sebaik-baiknya tidak seperti binatang) untuk mengkaji ulang konsep berpikir umat beragama yang selama ini mungkin seolah-olah terbelenggu secara picik oleh agamanya.
Akan tetapi, tetap saja pada suatu titik tertentu para penganut paham liberalism ini akan mentok, karena konsep liberalism itu sendiri telah menjadi bumerang bagi mereka karena jika segala hal bersifat relatif maka konsep mereka pun juga akan menjadi relatif juga jika dikaji dari kacamata liberalism. Sehingga pada suatu titik mereka pada akhirnya akan dihadapkan juga kepada suatu pertanyaan dan pilihan tentang manakah sebenarnya kebenaran yang sejati itu.
Membongkar Jaringan AKKBB (Bag. 2)
Membongkar Jaringan AKKBB (Bag.1)
Guru
Oleh Wandi Irfandi
Pendidikan oleh beberapa kalangan dianggap sebuah proses perubahan kea rah yang lebih baik dan dilakukan secara sadar. Pendidikan pun dianggap sebagai sebuah barometer kecerdasan masyarakat di satu bangsa.
Jika bangsa memiliki masyarakat yang berpendidikan tinggi, maka dipastikan negara tersebut merupakan negara maju. Begitu pun sebaliknya jika suatu bangsa memiliki masyarakat yang berpendidikan rendah maka sudah dapat dipastikan negara atau bangsa tersebut tidak akan mengalami kemajuan.
Indonesia satu dari berbagai negara yang tidak mau dikatakan mempunyai masyarakat yang berpendidikan rendah. Karena konsekuensi dari hal tersebut Indonesia akan mendapat gelar negara tidak berkembang. Berbagai macam usaha pun dilakukan oleh pemerintah guna menaikan harkat dan martabat bangsa Indonesia. System pendidikan yang dianggap akan menghambat kemajuan negara, sesegera mungkin diganti hingga perubahan demi perubahan system pendidikan diberlakukan, dari mulai system pendidikan CBSA (cara belajar siswa aktif) sampai dengan kurikulum berbasis kompetensi atau yang lebih dikenal dengan KBK.
Selain dari pada itu sumber daya manusia sebagai infrastruktur pendidikan mulai di-upgrade. Para pendidik sekolah atau yang lebih dikenal dengan guru tidak bisa lagi semena-mena mengajar. Bermacam kualifikasi dan standarisasi diberlakukan demi menunjang guru yang competent dibidangnya sehingga anak didik (baca: murid) mendapatkan mata pelajaran dari guru dibidangnya. Pendapatan guru dinaikkan untuk memicu semangat mengajar. Serta yang terakhir adalah ingin naik golongan atau pangkat akan sangat mudah hanya mengumpulkan minimal 850 kredit point maka guru tersebut bisa menambah pendapatan dan kenaikan pangkat
Namun justru disinilah permasalahan mulai muncul. Ketika guru diharuskan mengumpulkan point, maka secara tidak langsung pendidikan sudah beralih fungsi menjadi suatu industri. Semua guru, terutama guru yang masih baru, akan terus mengumpulkan point sehingga ia bisa menambah pendapatannya. Masih mending jika pengumpulan point tersebut tidak mengganggu aktifitas belajar mengajar dan tidak memakai uang sekolah. Akan tetapi jika proses yang dilakukan adalah sebaliknya maka dapat dibayangkan berapa kerugian sekolah dan para murid.
Maklumlah, saat ini di kalangan guru mulai muncul suatu kegiatan yang bernama stratifikasi guru, yakni suatu kegiatan yang jika guru tersebut mengikutinya maka ia akan mendapatkan point sesuai dengan kegiatannya. Kegiatan tersebut bisa berupa seminar atau pendidikan. Point yang didapat pun tergantung dari tingkat seminar atau pendidikan tersebut dilakukan. Pendidikan atau seminar yang berskala se-kabupaten atau kota tentu akan lebih rendah nilainya dibanding pendidikan atau pelatihan yang berskala Nasional. Namun yang lebih tinggi dari pada semuanya adalah pendidikan dengan skala nasional yakni sebanyak 25 point.
Baru-baru ini di berbagai kota dan kabupaten di Jawa Barat muncul kegiatan hal tersebut. Para guru diminta untuk datang mengikuti pendidikan profesi guru atau disingkat P2G, tentu saja dengan iming-iming point sebanyak 25. Kegiatan tersebut mengundang respon yang sangat besar dari para guru hingga tak heran jumlah perserta dari tiap daerah pun sangat banyak. Untuk daerah Tasikmalaya yang mengadakan P2G tercatat ada 1700 perserta itu pun terpaksa dibatasi karena tidak bisa menampung lokasi yang digunakan. Pun begitu dengan daerah lain majalengka yang mengadakan P2g pada tanggal 4 Mei kemarin mampu menyedot sedikitnya 1500 guru untuk datang menghadiri acara tersebut dan lagi-lagi jumlah peserta harus dibatasi. Padahal kegiatan tersebut tidak gratis. Para guru diharuskan membayar uang pendaftaran dari mulai Rp. 70.000,0 sampai Rp. 100.000,-, berbeda di masing-masing daerah tergantung penyelenggaranya.
Begitu banyaknya guru yang mengincar kegiatan-kegiatan tersebut tentu merupakan sasaran yang empuk bagi para event organizer (EO) untuk mengadakan acara serupa. Maklumlah selain kegiatannya sederhana, para EO pun tersebut akan mendapat keuntungan dari uang pendaftaran para guru. Pada bulan ini saja tercatat sudah 6 kegiatan yang melibatkan guru sebagai pesertanya.
Kegiatan berjenis pelatihan untuk bulan ini merupakan kegiatan yang paling banyak dilakukan di Jawa Barat. Sebut daerah Sukabumi 3 kegiatan yang tentu akan membuat ngiler para guru. Kegiatan tersebut adalah 2 seminar nasional dan 1 pendidikan. Untuk seminar nasional diadakan pada tanggal 4 Mei kemarin di Gedung Merdeka dan tanggal 11 Mei di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) dengan biaya pendaftaran Rp. 75.000,- untuk di Gedung Merdeka dan Rp. 70.000,- di STAI. Sedangkan untuk biaya pelatihan sebesar Rp. 100.000,- dan dilaksanakan di gedung olah raga Cisaat.
Selain itu dengan tanggal yang sama yakni 11 Mei 2008 Kab. Cianjur pun seolah tak mau kalah melaksanakan Pelatihan Profesi Guru. Dengan biaya Rp. 80.000,00 para guru sudah bisa mengikuti pelatihan tersebut dan setelahnya mendapat kredit point sebanyak 25 point. Kemudian sebagaimana telah disebutkan Kab. Cirebon dan Kab. Majalengka juga mengadakan pelatihan profesi Guru.
Dari uraian diatas dapat dilihat bahwa pendidikan di Indonesia saat ini kayaknya sudah beralih pada industrialisasi pendidikan, dimana seluruh aspek pendidikan, dari mulai kurikulum belajar sampai peningkatan kualitas guru, sudah terkotori oleh perdagangan dan perusahaan. Maka jangan heran bila suatu saat nanti banyak guru yang melupakan dulu kewajibannya demi meraih point sebanyak-banyaknya.
Sungguh sebuah ironi yang sangat mengenaskan. Alih-alih meningkatkan kualitas pendidikan kini malah tejerembab pada industri pendidikan yang kapitalis dan tidak bermartabat. Semoga pemerintah lebih efektif dan bermoral dalam membuat suatu kebijakan khususnya dalam bidang pendidikan. Sehingga cita-cita pendidikan berkualitas bagi semua tidak hanya menjadi slogan belaka. Satu hal yang mesti diingat pendidikan kita pernah menjadi contoh teladan oleh negara lain. Mudah-mudahan ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk lebih peduli terhadap pendidikan di Indonesia
Valentine’s Day dalam Tinjauan Syarî`at
oleh : Anis Nila
Valentine’s Day sebenarnya, bersumber dari paganisme orang musyrik, penyembahan berhala dan penghormatan pada pastor kuffar. Bahkan tak ada kaitannya dengan “kasih sayang”, lalu kenapa kita masih juga menyambut Hari Valentine? Adakah ia merupakan hari yang istimewa? Adat? Atau hanya ikut-ikutan semata tanpa tahu asal muasalnya?
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertangggungjawaban nya.” (Al Isra’: 36)
Sebelum kita terjerumus pada budaya yang dapat menyebabkan kita tergelincir kepada kemaksiatan maupun penyesalan, kita tahu bahwa acara itu jelas berasal dari kaum kafir yang akidahnya berbeda dengan ummat Islam, sedangkan Rasulullah bersabda: Diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri Radiyallahu ‘anhu: Rasulullah bersabda: “Kamu akan mengikuti sunnah orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sampai mereka masuk ke dalam lubang biawak kamu tetap mengikuti mereka. Kami bertanya: Wahai Rasulullah, apakah yang kamu maksudkan itu adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani? Rasulullah bersabda: Kalau bukan mereka, siapa lagi?” ( HR. Bukhori dan Muslim ).
Pertanyaan: Sebagian orang merayakan Yaum Al-Hubb (Hari Kasih Sayang) pada tanggal 14 Februari [bulan kedua pada kalender Gregorian kristen/Masehi] setiap tahun, diantaranya dengan saling-menghadiahi bunga mawar merah. Mereka juga berdandan dengan pakaian merah (merah jambu, red), dan memberi ucapan selamat satu sama lain (berkaitan dengan hari tsb).
Beberapa toko-toko gula-gula pun memproduksi manisan khusus -berwarna merah- dan yang menggambarkan simbol hati/jantung ketika itu (simbol love/cinta, red). Toko-tokopun tersebut mengiklankan yang barang-barang mereka secara khusus dikaitkan dengan hari ini. Bagaimana pandangan syariah Islam mengenai hal berikut:
1. Merayakan hari valentine ini?
2. Melakukan transaksi pembelian pada hari valentine ini?
3. Transaksi penjualan - sementara pemilik toko tidak merayakannya - dalam berbagai hal yang dapat digunakan sebagai hadiah bagi yang sedang merayakan?
Semoga Allah memberi Anda penghargaan dengan seluruh kebaikan!
Jawaban: Bukti yang jelas terang dari Al Qur’an dan Sunnah - dan ini adalah yang disepakati oleh konsensus (Ijma’) dari ummah generasi awal muslim - menunjukkan bahwa ada hanya dua macam Ied (hari Raya) dalam Islam: ‘ Ied Al-Fitr (setelah puasa Ramadhan) dan ‘ Ied Al-Adha (setelah hari ‘ Arafah untuk berziarah).
Maka seluruh Ied yang lainnya - apakah itu adalah buatan seseorang, kelompok, peristiwa atau even lain - yang diperkenalkan sebagai hari Raya/‘Ied, tidaklah diperkenankan bagi muslimin untuk mengambil bagian didalamnya, termasuk mengadakan acara yang menunjukkan sukarianya pada even tersebut, atau membantu didalamnya - apapun bentuknya - sebab hal ini telah melampaui batas-batas syari’ah Allah:
Itulah hukum-hukum Allah dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. [Surah At-Thalaq ayat 1]
Jika kita menambah-nambah Ied yang telah ditetapkan, sementara faktanya bahwa hari raya ini merupakan hari raya orang kafir, maka yang demikian termasuk berdosa. Disebabkan perayaan Ied tersebut meniru-niru (tasyabbuh) dengan perilaku orang-orang kafir dan merupakan jenis Muwaalaat (Loyalitas) kepada mereka. Dan Allah telah melarang untuk meniru-niru perilaku orang kafir tersebut dan termasuk memiliki kecintaan, kesetiaan kepada mereka, yang termaktub dalam kitab Dzat yang Maha Perkasa (Al Qur’an). Ini juga ketetapan dari Nabi (Shalallaahu ` Alaihi wa sallam) bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa meniru suatu kaum, maka dia termasuk dari kaum tersebut.”
Ied al-Hubb (perayaan Valentine’s Day) datangnya dari kalangan apa yang telah disebutkan, termasuk salah satu hari besar/hari libur dari kaum paganis Kristen. Karenanya, diharamkan untuk siapapun dari kalangan muslimin, yang dia mengaku beriman kepada Allah dan Hari Akhir, untuk mengambil bagian di dalamnya, termasuk memberi ucapan selamat (kepada seseorang pada saat itu). Sebaliknya, adalah wajib untuknya menjauhi dari perayaan tersebut - sebagai bentuk ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya, dan menjaga jarak dirinya dari kemarahan Allaah dan hukumanNya.
Lebih-lebih lagi, hal itu terlarang untuk seorang muslim untuk membantu atau menolong dalam perayaan ini, atau perayaan apapun juga yang termasuk terlarang, baik berupa makanan atau minuman, jual atau beli, produksi, ucapan terima kasih, surat-menyurat, pengumuman, dan lain lain. Semua hal ini dikaitkan sebagai bentuk tolong-menolong dalam dosa serta pelanggaran, juga sebagai bentuk pengingkaran atas Allah dan Rasulullah. Allaah, Dzat yang Maha Agung dan Maha Tinggi, berfirman:
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. [Surah al-Maaidah, Ayat 2]
Demikian juga, termasuk kewajiban bagi tiap-tiap muslim untuk memegang teguh atas Al Qur’an dan Sunnah dalam seluruh kondisi - terutama saat terjadi rayuan dan godaan kejelekan. Maka semoga dia memahami dan sadar dari akibat turutnya dia dalam barisan sesat tersebut yang Allah murka padanya (Yahudi) dan atas mereka yang tersesat (Kristen), serta orang-orang yang mengikuti hawa nafsu diantara mereka, yang tidak punya rasa takut - maupun harapan dan pahala - dari Allah, dan atas siapa-siapa yang memberi perhatian sama sekali atas Islam.
Maka hal ini sangat penting bagi muslim untuk bersegera kembali ke jalan Allah, yang Maha Tinggi, mengharap dan memohon Hidayah Nya (Bimbingan) dan Tsabbat (Keteguhan) atas jalanNya. Dan sungguh, tidak ada pemberi petunjuk kecuali Allaah, dan tak seorangpun yang dapat menganugrahkan keteguhan kecuali dariNya.
Dan kepada Allaah lah segala kesuksesan dan semgoa Allaah memberikan sholawat dan salam atas Nabi kita (Shalallaahu ` Alaihi wa sallam) beserta keluarganya dan rekannya.
(Fataawa al-Lajnah ad-Daaimah lil-Buhuts al-’Ilmiyyah Wal-Iftaa.- Fatwa Nomor 21203. Lembaga tetap pengkajian ilmiah dan riset fatwa Saudi Arabia)
Dinukil dari http://www.fatwa- online.com/ fataawa/innovati ons/celebrations /cel003/0020123_ 1.htm.
Pertanyaan: Bagaimana hukum merayakan hari Kasih Sayang/Valentine Day’s?
Syaikh Muhammad Sholih Al-Utsaimin menjawab:
“Merayakan hari Valentine itu tidak boleh, karena:
Pertama: ia merupakan hari raya bid‘ah yang tidak ada dasar hukumnya di dalam syari‘at Islam.
Kedua: ia dapat menyebabkan hati sibuk dengan perkara-perkara rendahan seperti ini yang sangat bertentangan dengan petunjuk para salaf shalih (pendahulu kita) - semoga Allah meridhai mereka. Maka tidak halal melakukan ritual hari raya, baik dalam bentuk makan-makan, minum-minum, berpakaian, saling tukar hadiah ataupun lainnya. Hendaknya setiap muslim merasa bangga dengan agamanya, tidak menjadi orang yang tidak mempunyai pegangan dan ikut-ikutan. Semoga Allah melindungi kaum muslimin dari segala fitnah (ujian hidup), yang tampak ataupun yang tersembunyi dan semoga meliputi kita semua dengan bimbingan-Nya.”
Maka adalah wajib bagi setiap orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat untuk melaksanakan wala’ dan bara’ ( loyalitas kepada muslimin dan berlepas diri dari golongan kafir) yang merupakan dasar akidah yang dipegang oleh para salaf shalih. Yaitu mencintai orang-orang mu’min dan membenci dan menyelisihi (membedakan diri dengan) orang-orang kafir dalam ibadah dan perilaku.
Di antara dampak buruk menyerupai mereka adalah: ikut mempopulerkan ritual-ritual mereka sehingga terhapuslah nilai-nilai Islam. Dampak buruk lainnya, bahwa dengan mengikuti mereka berarti memperbanyak jumlah mereka, mendukung dan mengikuti agama mereka, padahal seorang muslim dalam setiap raka’at shalatnya membaca,
“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (Al-Fatihah:6-7)
Bagaimana bisa ia memohon kepada Allah agar ditunjukkan kepadanya jalan orang-orang yang mukmin dan dijauhkan darinya jalan golongan mereka yang sesat dan dimurkai, namun ia sendiri malah menempuh jalan sesat itu dengan sukarela. Lain dari itu, mengekornya kaum muslimin terhadap gaya hidup mereka akan membuat mereka senang serta dapat melahirkan kecintaan dan keterikatan hati.
Allah Subhannahu wa Ta’ala telah berfirman, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin( mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Al-Maidah: 51)
“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya.” (Al-Mujadilah: 22)
Ada seorang gadis mengatakan, bahwa ia tidak mengikuti keyakinan mereka, hanya saja hari Valentine tersebut secara khusus memberikan makna cinta dan suka citanya kepada orang-orang yang memperingatinya.
Saudaraku! Ini adalah suatu kelalaian, padahal sekali lagi: Perayaan ini adalah acara ritual agama lain! Hadiah yang diberikan sebagai ungkapan cinta adalah sesuatu yang baik, namun bila dikaitkan dengan pesta-pesta ritual agama lain dan tradisi-tradisi Barat, akan mengakibatkan seseorang terobsesi oleh budaya dan gaya hidup mereka.
Mengadakan pesta pada hari tersebut bukanlah sesuatu yang sepele, tapi lebih mencerminkan pengadopsian nilai-nilai Barat yang tidak memandang batasan normatif dalam pergaulan antara pria dan wanita sehingga saat ini kita lihat struktur sosial mereka menjadi porak-poranda.
Alhamdulillah, kita mempunyai pengganti yang jauh lebih baik dari itu semua, sehingga kita tidak perlu meniru dan menyerupai mereka. Di antaranya, bahwa dalam pandangan kita, seorang ibu mempunyai kedudukan yang agung, kita bisa mempersembahkan ketulusan dan cinta itu kepadanya dari waktu ke waktu, demikian pula untuk ayah, saudara, suami …dst, tapi hal itu tidak kita lakukan khusus pada saat yang dirayakan oleh orang-orang kafir.
Semoga Allah Subhannahu wa Ta’ala senantiasa menjadikan hidup kita penuh dengan kecintaan dan kasih sayang yang tulus, yang menjadi jembatan untuk masuk ke dalam Surga yang hamparannya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.
Menyampaikan Kebenaran adalah kewajiban setiap Muslim. Kesempatan kita saat ini untuk berdakwah adalah dengan menyampaikan buletin ini kepada saudara-saudara kita yang belum mengetahuinya.
Semoga Allah Ta’ala Membalas ‘Amal Ibadah Kita.
——————————————————
Penjelasan Tambahan:
Beberapa versi sebab-musabab dirayakannya hari Kasih sayang ini, dalam The World Book Encyclopedia (1998) melukiskan banyaknya versi mengenai Valentine’s Day
.
1. Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama -nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan obyek hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.
Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I (lihat: The Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity) . Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (lihat: The World Book Encyclopedia 1998).
The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak pernah ada penjelasan siapa “St. Valentine” termaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda.
Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap dan memenjarakan St. Valentine karena menyatakan tuhannya adalah Isa Al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan. Orang-orang yang mendambakan doa St. Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.
Versi kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan dari pada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St. Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M (lihat: The World Book Encyclopedia, 1998).
Kebiasaan mengirim kartu Valentine itu sendiri tidak ada kaitan langsung dengan St. Valentine. Pada 1415 M ketika the Duke of Orleans dipenjara di Tower of London, pada perayaan hari gereja mengenang St.Valentine 14 Februari, ia mengirim puisi kepada istrinya di Perancis. Kemudian Geoffrey Chaucer, penyair Inggris mengkaitkannya dengan musim kawin burung dalam puisinya (lihat: The Encyclopedia Britannica, Vol.12 hal.242 , The World Book Encyclopedia, 1998).
Lalu bagaimana dengan ucapan “Be My Valentine?” Ken Sweiger dalam artikel “Should Biblical Christians Observe It?” (www.korrnet. org) mengatakan kata “Valentine” berasal dari Latin yang berarti: “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. Maka disadari atau tidak, -tulis Ken Sweiger- jika kita meminta orang menjadi “to be my Valentine”, hal itu berarti melakukan perbuatan yang dimurkai Tuhan (karena memintanya menjadi “Sang Maha Kuasa”) dan menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Dalam Islam hal ini disebut Syirik, yang artinya menyekutukan Allah Subhannahu wa Ta’ala. Adapun Cupid (berarti: the desire), si bayi bersayap dengan panah adalah putra Nimrod “the hunter” dewa Matahari. Disebut tuhan Cinta, karena ia rupawan sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri! Layaknya seorang muslim segera bertaubat mengucap istighfar, “Astaghfirullah”, wa naudzubillahi min dzalik. (Dari berbagai sumber).
Thumuhat Tarbawiyah
Ketika beliau bersama para sahabat menggali parit, terdapat bongkahan batu yang keras sehingga mereka menyerahkannya pada Rasulullah SAW. Beliau pun memecahkan batu tersebut dengan palu godamnya. Pukulan Rasulullah SAW. memercikkan api. Waktu itu beliau mengucapkan Subhanallah. Kejadian itupun berulang lagi hingga tiga kali. Hal ini menakjubkan para sahabat.
Kemudian Rasulullah SAW. menceritakan bahwa tatkala muncul percikan api, terpancar gambaran istana Persia disusul dengan istana Romawi dan selanjutnya istana Mauqaqis. Beliau mengatakan sebentar lagi istana Persia menjadi milik kita, istana Romawi akan kita taklukan dan istana Mauqaqis akan kita miliki. Pernyataan tersebut disambut dengan ucapan gembira dari para sahabat, Allahu akbar wa lillahilhamd.
Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua, betapa Rasulullah SAW. telah mendidik para sahabatnya untuk berjiwa besar. Dengan jiwa besar, mereka mampu membangun obsesi meski dalam keadaan lapar, dingin, terkepung dan mencekam. Inilah thumuhat dakwah dan tarbawiyah (obsesi dakwah dan tarbiyah). Obsesi yang luar biasa. Tidak pernah terbayangkan oleh pikiran banyak orang ketika itu. Keadaan yang mencekam, lapar yang menggeliat, dingin yang menusuk. Namun keyakinan akan memperoleh kemenangan selalu bersama mereka. Kemenangan yang akan datang segera atau kemudian.
Perwujudan obsesi bisa datang dalam waktu yang relatif singkat dapat juga hadir di waktu mendatang. Malah realisasi dari sebuah obsesi sering tidak di cicipi oleh si pemiliknya. Memang terkadang obsesi lebih panjang dari pikiran orang bahkan ia lebih panjang dari usia manusia itu sendiri. Meski demikian obsesi selalu ada dalam dinamika kehidupan manusia, karena ia bagian dari tabiat manusia.
Keinginan-keinginan besar menjadi sebuah tabiat manusia sejak ada di muka bumi. Sejak lama kita mendengar ada ungkapan ingin memiliki dunia ini. Ada pula yang ingin hidup seribu tahun lamanya. Juga ada yang ingin bermegah-megah di muka bumi dengan segala kemewahan nya. Ada pula yang ingin menguasai kerajaan langit dan bumi dan masih banyak lagi keinginan besar lainnya. Keinginan besar ini sering pula mengarah pada hal-hal negatif namun tidak sedikit juga pada hal-hal positif. Keinginan besar yang bernilai negatif dinamakan thama’ (tamak, rakus), sedangkan keinginan besar yang bernilai positif dinamakan thumuh (obsesi).
Sifat ini merupakan bagian dari kehidupan manusia maka semua kader semestinya juga memiliki obsesi yang besar, meskipun dalam kondisi yang serba minim sarana dan prasarana. Akan tetapi satu hal yang tidak boleh terabaikan adalah bahwa obsesi ini mesti bersandar kepada karunia dan kebaikan Allah SWT. sehingga Dia menganugerahkan kepada orang-orang mukmin sesuatu yang mahal nilainya. Yakni kecerdasan imaniyah (Dzaka imany) untuk mewujudkan keinginan-keinginan besar itu. Kecerdasan imaniyah ini perlu ditopang dengan :
1. Dzaka Syu’ury (kecerdasan emosional)
Kecerdasan emosional yang dimaksud adalah kemampuan mengendalikan emosi hingga tidak mudah goyah ataupun patah dalam menghadapi berbagai tantangan.
Rasulullah SAW. bersabda: " Orang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan diri dan berbuat untuk hari esok. (HR. Muslim).
Emosional terkadang cenderung mengikuti suasana yang terjadi di sekitarnya. Bahkan acap kali menggelembung histeris mengikuti irama sekelilingnya, sehingga berpotensi tidak dapat dikendalikan. Emosional yang tidak terkendali dapat mengakibatkan tumpulnya akal jernih. Dampaknya adalah muncul kepanikan sehingga kehilangan jalan solusi atas persoalan yang sedang dihadapi.
Nabi Musa as. pernah mengalaminya, ketika tiba di kampung halamannya sepulang dari negeri lain. Didapati kaumnya kembali pada perilaku yang menyimpang dari ajaran yang telah disampaikannya. Melihat kenyataan ini Nabi Musa as. sangat emosional. Nabi Musa as. menjambak jenggot Nabi Harun as. sambil marah-marah kepadanya dan melempar-lempar lembaran Taurat yang digenggamnya. Akan tetapi ketika emosinya mulai mereda Nabi Musa mengambil kembali lembaran-lembaran Taurat yang berceceran itu. (QS. Al ‘Araf: 150 - 153)
Islam mengajarkan pemeluknya untuk mencerdaskan emosi. Emosi yang cerdas memberikan manfaat besar bagi si empunya. Daya pandang yang jernih, melihat persoalan dengan pandangan jauh ke depan serta jelas dan terangnya solusi yang harus diambil. Pencapaian obsesi diperlukan juga kecerdasan emosional agar fukos-fukos sasaran yang hendak diraih dihadapi dengan perasaan dan jiwa yang tenang. Para ulama menyebutnya hal ini sebagai indera keenam, yaitu firasat mukmin. "Takutlah kamu pada firasat orang mu’min karena mereka melihat dengan cahaya Allah". (HR. An Nasa’i)
2. Dzaka Fikry (kecerdasan intelektual)
Umat Islam dibekali Allah SWT. intelektual yang cerdas. Di antaranya daya ingat yang tajam, sistematika dalam berpikir dan merumuskan persoalan, menyikapi persoalan secara simpel dan lain sebagainya, seperti kemampuan umat Islam menghafal Al Qur’an dan Hadits serta rumusan berpikir dalam ilmu mantiq.
Keistimewaan ini karena kasih sayang Allah SWT. pada orang-orang mukmin. Keimanan yang bersemayam dalam dada mukmin menghantarkan mereka memiliki kecerdasan intelektual. Rasul SAW. memberikan indikator orang yang cerdas intelektualnya adalah Konsentrasi pada satu titik yang jelas, berpikir cerdas sehingga tidak mudah tertipu dan selalu dalam keadaan siap siaga.
"Apabila cahaya Islam telah masuk ke dalam hati maka hati akan menjadi terang dan lapang. Para sahabat bertanya: apa tanda-tandanya ya Rasulullah?. Beliau menjawab: Kembali kepada negeri yang abadi, jauh dari tipu daya dan mempersiapkan kematian sebelum datangnya kematian". (H.R. Thabari).
Kecerdasan intelektual juga akan memberikan jalan keluar ketika menghadapi kondisi sulit. Bentuknya dapat berupa alternatif pemecahan yang beragam, menaklukkannya melalui cara yang ringan dan lain sebagainya.
Abu Bakar as. pun pernah mengalami hal yang sama ketika menyertai perjalanan hijrah Rasulullah SAW. ke Madinah. Pertengahan perjalanan Abu Bakar as. berjumpa dengan peserta sayembara pembunuhan terhadap Rasulullah SAW. Abu Bakar as. ditanya: Siapakah orang yang berada di depanmu itu?. Abu Bakar as. menjawab: Huwal Hadi (dia petunjuk jalanku). Petunjuk jalan yang dimaksud Abu Bakar as. adalah yang menunjuki jalan dari jalan kegelapan jahiliyah kepada jalan terang benderang Islam. Sedangkan orang kafir mengira orang yang di depan Abu Bakar as. adalah guiding perjalanan.
Kecerdasan intelektual memunculkan rumusan yang aplikatif untuk mewujudkan sebuah obsesi. Karenanya peran kecerdasan intelektual sangat berarti terhadap pencapaian obsesi.
3. Dzaka Jismy (kecerdasan fisikal)
Amal Islam lebih banyak dari pada waktu yang tersedia dan sedikit orang yang dapat memikulnya. Banyaknya amal dalam Islam memerlukan orang yang siap dan mampu menunaikannya. Di antara kriterianya adalah mereka yang memiliki kecerdasan fisikal. Maksudnya adalah mereka yang mempunyai tubuh yang kuat dan sehat.
Tidak sedikit tugas dan tanggung jawab dalam Islam akan terlaksana dengan baik bila dilakukan oleh badan yang sehat dan kuat. Misalnya saja dalam beribadah, akan terasa nikmat dalam menjalankan ibadah apabila kondisi badan dalam keadaan sehat. Akan tetapi bila kondisi tubuh menurun apalagi sakit, pelaksanaan ibadah sering mengalami ketidaksempurnaan.
Hasan Al Banna sangat perhatian dalam masalah kekuatan dan kesehatan badan untuk mencapai kecerdasan fisikal ini. Perhatian beliau baik yang bersifat ajakan, pencegahan dan pemeriksaan. Kita dapat jumpai pandangan beliau dalam wajibatul akh (kewajiban al akh) di Majmu’atur Rasail.
Orang yang sehat dan kuat berpeluang menunaikan tugas dan kewajiban dengan baik. Bahkan dapat melaksanakannya secara optimal untuk mencapai afdholiyatul amal. Ia akan dapat menyelesaikan tugasnya, sanggup pula membantu tugas orang lain serta mampu memberikan kontribusi bagi banyak orang. Pantas bila Allah SWT. lebih menyukai mukmin yang sehat dan kuat dari pada mukmin yang lemah, sebagaimana sabda Rasulullah SAW.: "Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah meskipun keduanya dalam keadaan baik". (HR. Muslim)
Fisikal yang cerdas juga menentukan keberhasilan pencapaian obsesi. Ia akan dapat mengukur sejauh mana dan seberapa besar kemampuan diri untuk merealisasikannya. Tidak kalah penting juga ia dapat menilai kemampuan dirinya untuk menghadapi berbagai kendala.
4. Dzaka Amaly (kecerdasan operasional)
Kecerdasan operasional merupakan sikap tanggap dan cepat dalam merespon sesuatu dengan tindakan yang nyata. Sikap inilah yang mendorong seseorang untuk terdepan dalam beramal. Tidak menunda-nundanya hingga hilang kesempatan untuk menjadi pionir.
Ajaran Islam menganjurkan umatnya untuk selalu menjadi yang terdepan. Baik dalam beribadah kepada Allah SWT. juga dalam bermuamalah antar manusia seperti shalat, bersedekah, beramal shalih, bergotong royong ataupun yang lainnya.
Demikian juga dalam kehidupan Rasulullah SAW banyak kita temukan riwayat tentang kesegeraan beliau untuk menunaikan sesuatu dengan cepat. Dalam suatu riwayat, sesudah shalat Rasulullah SAW. pernah segera berdiri lalu melangkahi orang lain kemudian masuk ke salah satu bilik istrinya. Para sahabat juga heran dengan kejadian ini. Tidak lama kemudian beliau segera kembali ke tempat semula, sesudah itu beliau ceritakan bahwa dia tadi teringat ada emas yang harus segera dibagi-bagikan. Maka beliau perintahkan istrinya untuk secepat mungkin membagi-bagikan emas tersebut.
Rasulullah SAW. bersabda: "Bersegeralah kalian beramal shalih sebab akan terjadi fitnah besar bagaikan gelap malam yang sangat gulita". (HR. Muslim)
Kecerdasan operasional membentuk si pemiliknya untuk segera berbuat sebelum orang lain sempat berpikir. Melalui hal ini obsesi akan relatif cepat untuk tercapai.
5. Dzaka Ijtima’iy (kecerdasan sosial)
Kehidupan manusia tidak dapat memutuskan ketergantungannya dengan pihak lain. Satu dengan yang lainnya saling memerlukan. Oleh karenanya manusia diperintahkan untuk berinteraksi dengan sesama agar berbagai kelemahan dan kekurangannya dapat saling ditopang dengan berbagai kelebihan pihak lain.
Dengan banyak bergaul kita akan menemukan potensi-potensi yang tidak ada pada diri kita. Juga dapat menemukan peluang-peluang besar untuk menutupi segala kekurangan yang ada. Dari sanalah kita mendapatkan manfaat, kesempatan-kesempatan dan peluang-peluang besar untuk menunjang kelemahan yang kita miliki.
Rasulullah SAW. bersabda: "Mukmin yang bergaul dengan banyak orang lebih baik daripada mukmin yang tidak bergaul apabila dia bersabar". (HR. Muslim)
Mewujudkan obsesi terkadang kita dibantu potensi orang lain. Bahkan kita hanya merangkai kelebihan-kelebihan orang lain untuk mencapai obsesi yang kita canangkan.
6. Dzaka Tanzhimy (kecerdasan struktural)
Apabila kita memahami bahwa setiap orang membutuhkan orang lain maka segala peran yang diberikannya akan sangat bermakna bila dikokohkan oleh pihak lainnya.
Sebuah bangunan terdiri dari berbagai macam komponen, ada yang besar namun ada pula yang kecil. Semua komponen itu saling mengaitkan dengan komponen lainnya. Masing-masing fungsi dan peran yang diberikan tidak dapat dianggap sebelah mata. Posisi masing-masing elemen tidak dapat dilebih-lebihkan dengan yang lainnya. Mungkin saja komponen yang besar akan berarti bila ditopang oleh komponen yang kecil begitu juga sebaliknya.
Menyikapi persoalan ini dengan sikap yang arif bahwa kehadiran dirinya tidak akan sempurna malah mungkin tidak akan berhasil tanpa kesertaan orang lain. Peran serta ini diwujudkan dengan keyakinan bahwa potensi dirinya akan berguna bagi orang lain. Dengan begitu setiap orang menyadari bahwa ia harus berada pada posisinya masing-masing untuk keberhasilan sebuah obsesi.
Rasulullah SAW. bersabda: "Prajurit yang baik jika ditempatkan di bagian logistik dia akan tetap berada tempatnya, jika ditempatkan di garis depan dia akan berada di garis depan" (HR. Abu Daud)
Kiat-kiat Meraih Kecerdasan
Meraih kecerdasan imaniyah perlu kerja keras sehingga ia akan merefleksikan segala thumuhat kita. Adapun kiat-kiat mencapai hal itu sebagai berikut:
1. Latihan yang banyak.
Berusahalah untuk banyak latihan dalam segala hal terutama pada kemampuan diri untuk meraih kecerdasan. Latihan yang sering akan memperhalus dan mempertajam kemampuan yang kita miliki.
2. Belajar dari orang lain.
Janganlah sungkan untuk belajar pada dan dari orang lain. Pengalaman orang lain dapat menjadi masukan bagi kita. Malah orang lain bisa menjadi cermin agar kita bisa mematut diri dari pengalaman mereka.
3. Mencoba sesuatu yang baru untuk meraih pengalaman.
Berusahalah untuk mencoba sesuatu yang baru. Kreativitas sering kali memberikan banyak jalan untuk mencapai keinginan-keinginan.
4. Meyakini pertolongan Allah SWT.
Tidak boleh dilupakan bahwa semua aktifitas kita akhirnya berpulang pada pertolongan dan kehendak Allah SWT. Oleh karena itu yakinlah bahwa Dia akan memudahkan kita meraih thumuhat maka berdoalah kepada-Nya agar keinginan-keinginan tersebut dapat terealisir.
Semoga Allah SWT. memudahkan jalan bagi kita meraih Thumuhat Tarbawiyah. Semoga sukses.
–wallahu’alam–
Hukum Merayakan Tahun Baru Masehi
Nah, ngomong-ngomong soal tahun baru masehi yang senantisa dirayakan dengan sangat meriah, kadangkala bahkan ada yang sengaja melupakan sejenak persoalan hidup yang berat untuk sekadar merayakan pergantian tahun: old and new. Haruskah kita merayakan pergantian tahun tersebut? Padahal, isinya tak jauh dari “itu-itu” juga: kumpul bareng dengan keluarga, atau bersama komunitas yang kita buat, atau rame-rama membaur dengan masyarakat pada umumnya di tempat tertentu sambil menikmati makanan dan hiburan. Termasuk melanggengkan tradisi niup terompet pas detik jarum jam yang disepakati sebagai penanda awal dan akhir tahun tepat di angka 12 atau pada jam digital menunjukkan kombinasi angka “00.00″.
Idih, apa enaknya kayak gitu? Cuma hiburan sesaat, suka-suka sejenak, setelah itu esok hari kita stres lagi dihadapkan pada langkanya minyak tanah, pada nasib diri yang tak kunjung membaik, pada semua harga-harga yang makin tak terbeli, pada banjir yang menenggelamkan kota, pada tanah longsor yang siap mengubur dan pada semua beban hidup yang mendera. Maklumlah, jaman sekarang lagi krisis kayak gini kalo sampe hura-hura keterlaluan banget! Iya nggak sih?
Belum lagi kalo kita ngomongin hukum merayakan pergantian tahun baru masehi, boleh apa nggak, haram apa nggak bagi kaum muslimin. Iya kan? Kita harus tahu. Malu atuh ama jenggot yang tumbuh di mana-mana (eh, jenggot kan cuma tumbuh di bawah dagu ya?). Iya, maksudnya udah gede tapi nggak tahu aturan syariat kan kayaknya gimana gitu? Nggak layak, gitu lho! Sori ini bukan merendahkan, tapi sekadar nyindir bin nyentil aja. Supaya kamu yang belum tahu terpacu untuk belajar. Setuju kan?
Hukum merayakan tahun baru masehi
Nah, sebelum membahas lebih lanjut, saya sengaja menempatkan subjudul ini lebih dulu ketimbang tema lain. Iya, ini supaya kita sebagai muslim bisa berhati-hati sebelum melakukan perbuatan. Sebab, berdasarkan kaidah fiqih dalam ajaran agama kita, bahwa hukum asal suatu perbuatan adalah terikat dengan hukum syara (sayriat Islam). Itu sebabnya, sebelum melakukan suatu perbuatan kita harus tahu apakah perbuatan tersebut dihukumi sebagai perbuatan yang dibolehkan, diwajibkan, disunnahkan, diharamkan atau dihukumi sebagai makruh.
Lalu apa hukumnya merayakan tahun baru masehi bagi seorang muslim? Jawaban singkatnya adalah SSTBAH alias sangat sangat tidak boleh alias haram. Titik.
Duh, kok saklek banget sih? Oke, kalo kamu pengen tahu sebabnya, gaulislam mo ngasih bocorannya nih. Bahwa merayakan tahun baru masehi adalah bukan tradisi dari ajaran Islam. Meskipun jutaan atau miliaran umat Islam di dunia ini merayakan tahun baru masehi dengan sukacita dan lupa diri larut dalam gemerlap pesta kembang api atau melibatkan diri dalam hiburan berbalut maksiat tetap aja nggak lantas menjadikan tuh perayaan jadi boleh atau halal. Sebab, ukurannya bukanlah banyak atau sedikitnya yang melakukan, tapi patokannya kepada syariat.Oke?
So, sekadar tahu aja nih, tahun baru masehi itu sebenarnya berhubungan dengan keyakinan agama Nasrani, lho. Masehi kan nama lain dari Isa Almasih dalam keyakinan Nasrani. Sejarahnya gini nih, menurut catatan di Encarta Reference Library Premium 2005, orang pertama yang membuat penanggalan kalender adalah seorang kaisar Romawi yang terkenal bernama Gaisus Julius Caesar. Itu dibuat pada tahun 45 SM jika mengunakan standar tahun yang dihitung mundur dari kelahiran Yesus Kristus.
Tapi pada perkembangannya, ada seorang pendeta Nasrani yang bernama Dionisius yang kemudian ?memanfaatkan’ penemuan kalender dari Julius Caesar ini untuk diadopsi sebagai penanggalan yang didasarkan pada tahun kelahiran Yesus Kristus. Itu sebabnya, penanggalan tahun setelah kelahiran Yesus Kristus diberi tanda AD (bahasa Latin: Anno Domini yang berarti: in the year of our lord) alias Masehi. Sementara untuk jaman prasejarahnya disematkan BC (Before Christ) alias SM (Sebelum Masehi)
Nah, Pope (Paus) Gregory III kemudian memoles kalender yang sebelumnya dengan beberapa modifikasi dan kemudian mengukuhkannya sebagai sistem penanggalan yang harus digunakan oleh seluruh bangsa Eropa, bahkan kini di seluruh negara di dunia dan berlaku umum bagi siapa saja. Kalender Gregorian yang kita kenal sebagai kalender masehi dibuat berdasarkan kelahiran Yesus Kristus dalam keyakinan Nasrani. “The Gregorian calendar is also called the Christian calendar because it uses the birth of Jesus Christ as a starting date.”, demikian keterangan dalam Encarta.
Di jaman Romawi, pesta tahun baru adalah untuk menghormati Dewa Janus (Dewa yang digambarkan bermuka dua-ini bukan munafik maksudnya, tapi merupakan Dewa pintu dan semua permulaan. Jadi mukanya dua: depan dan belakan, depan bisa belakang bisa, kali ye?). Kemudian perayaan ini terus dilestarikan dan menyebar ke Eropa (abad permulaan Masehi). Seiring muncul dan berkembangnya agama Nasrani, akhirnya perayaan ini diwajibkan oleh para pemimpin gereja sebagai satu perayaan “suci” sepaket dengan Natal. Itulah sebabnya mengapa kalo ucapan Natal dan Tahun baru dijadikan satu: Merry Christmas and Happy New Year, gitu lho.
Nah, jadi sangat jelas bahwa apa yang ada saat ini, merayakan tahun baru masehi adalah bukan berasal dari budaya kita, kaum muslimin. Tapi sangat erat dengan keyakinan dan ibadah kaum Nasrani. Jangankan yang udah jelas perayaan keagamaan seperti Natal, yang masih bagian dari ritual mereka seperti tahun baru masehi dan ada hubungannya serta dianggap suci aja udah haram hukumnya dilakukan seorang muslim. Why?
Di antara ayat yang menyebutkan secara khusus larangan menyerupai hari-hari besar mereka adalah firman Allah Swt.: ”
???????????
????????
?????
“Dan orang-orang yang tidak memberikan perasaksian palsu” (QS al-Furqaan [25]: 72)
Ayat ini berkaitan dengan salah satu sifat para hamba Allah yang beriman. Ulama-ulama Salaf seperti Ibnu Sirin, Mujahid dan ar-Rabi’ bin Anas menafsirkan kata “az-Zuura” (di dalam ayat tersebut) sebagai hari-hari besar orang kafir.
Itu artinya, kalo sampe seorang muslim merayakan tahun baru masehi berarti melakukan persaksian palsu terhadap hari-hari besar orang kafir. Naudzubillahi min dzalik. Padahal, kita udah punya hari raya sendiri, sebagaimana dalam hadits yang shahih dari Anas bin Malik ra, dia berkata, saat Rasulullah saw. datang ke Madinah, mereka memiliki dua hari besar (’Ied) untuk bermain-main. Lalu beliau bertanya, “Dua hari untuk apa ini?” Mereka menjawab, “Dua hari di mana kami sering bermain-main di masa jahiliyyah”. Lantas beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian untuk keduanya dua hari yang lebih baik dari keduanya: Iedul Adha dan Iedul Fithri” (Dikeluarkan oleh Imam Ahmad di dalam Musnadnya, No. 11595, 13058, 13210)
Terus, boleh nggak sih kita merayakan tahun baru karena niatnya bukan menghormati kelahiran Yesus Kristus dalam keyakinan agama Nasrani? Ya, sekadar senang-senang aja gitu, sekadar refreshing deh. Hmm.. ada baiknya kamu menyimak ucapan Umar Ibn Khaththab: “Janganlah kalian mengunjungi kaum musyrikin di gereja-gereja (rumah-rumah ibadah) mereka pada hari besar mereka karena sesungguhnya kemurkaan Allah akan turun atas mereka“ (Dikeluarkan oleh Imam al-Baihaqy No. 18640) Umar ra. berkata lagi, “Hindarilah musuh-musuh Allah pada momentum hari-hari besar mereka” (ibid, No. 18641) Dalam keterangan lain, seperti dari Abdullah bin Amr bin al-Ash ra, dia berkata, “Barangsiapa yang berdiam di negeri-negeri orang asing, lalu membuat tahun baru dan festival seperti mereka serta menyerupai mereka hingga dia mati dalam kondisi demikian, maka kelak dia akan dikumpulkan pada hari kiamat bersama mereka” (‘Aun al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, Syarh hadits no. 3512)
Nah, berkaitan dengan larangan menyerupai suatu kaum (baik ibadahnya, adat-istiadanya, juga gaya hidupnya), Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka” (HR Imam Ahmad dalam Musnad-nya jilid II, hlm. 50)
At-Tasyabbuh secara bahasa diambil dari kata al-musyabahah yang berarti meniru atau mencontoh, menjalin atau mengaitkan diri, dan mengikuti. At-Tasybih berarti peniruan. Dan mutasyabihah berarti mutamatsilat (serupa). Dikatakan artinya serupa dengannya, meniru dan mengikutinya.
Tasyabbuh yang dilarang dalam al-Quran dan as-Sunnah secara syar’i adalah menyerupai orang-orang kafir dalam segala bentuk dan sifatnya, baik dalam aqidah, peribadatan, kebudayaan, atau dalam pola tingkah laku yang menunjukkan ciri khas mereka. Hmm.. catet ye!
Tahun baru, dosa baru?
Waduh, masa’ sih kita memulai bilangan tahun dengan dosa baru? Apalagi untuk dosa lama aja kita belum pernah melakukan tobatnya, tapi udah bikin dosa baru. Keterlaluan abis deh kalo sampe punya cita-cita seperti itu. Tapi kenyataannya, ternyata banyak di antara kita yang malah merayakan tahun baru masehi dengan melakukan aktivitas maksiat. Kasihan deh!
Boys and gals, sebenarnya dalam pandangan Islam, untuk mengevaluasi diri selama ini udah ada tuntunannya dalam al-Quran, sebagaimana firman Allah Swt. (yang artinya): “Demi Waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS al-Ashr [103] 1-3)
Rasulullah saw. bersabda: “Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan baik amalannya, dan sejelek-jeleknya manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan jelek amalannya.” (HR Ahmad)
Orang yang pasti beruntung adalah orang yang mencari kebenaran, orang yang mengamalkan kebenaran, orang yang mendakwahkan kebenaran dan orang yang sabar dalam menegakan kebenaran. Mengatur waktu dengan baik agar tidak sia-sia adalah dengan mengetahui dan memetakan, mana yang wajib, sunah, haram, mana yang makruh, en mana yang mubah. Intinya kudu taat sama syariat Islam.
Itu artinya perubahan waktu ini harusnya kita jadikan momentum (saat yang tepat) untuk mengevaluasi diri. Jangan malah hura-hura bergelimang kesenangan di malam tahun baru masehi. Sudahlah merayakannya haram, eh, caranya maksiat pula. Halah, apa itu nggak dobel-dobel dosanya? Naudzubillahi min dzalik!
Sobat muda muslim, nggak baik hura-hura, lho. Hindari deh ya. Jangan sampe lupa diri. Itu sebabnya, Rasulullah saw. mewanti-wanti tentang dua hal yang bikin manusia tuh lupa diri. Sabda beliau saw.: “Ada dua nikmat, dimana manusia banyak tertipu di dalamnya; kesehatan dan kesempatan.” (HR Bukhari)
Nggak baik kalo kita nyesel seumur-umur akibat kita menzalimi diri sendiri. Sebab, kita nggak bakalan diberi kesempatan ulang untuk berbuat baik atau bertobat, bila kita udah meninggalkan dunia ini. Firman Allah Swt.:
????????????
?????
??????
?????
???????????
??
?
????????????
“Maka pada hari itu tidak bermanfaat (lagi) bagi orang-orang yang zalim permintaan uzur mereka, dan tidak pula mereka diberi kesempatan bertaubat lagi.” (QS ar-R?m [30]: 57)
Jadi, nggak usah deh kita ikutan heboh merayakan tahun baru masehi. Kita evaluasi diri, dan itu dilakukan setiap hari biar lebih seru. Jangan nunggu pergantian tahun baru masehi, entar tobat belum eh udah mati duluan. Rugi berat! Yuk kita tingkatin terus amal baik kita, jangan cuma menumpuk dosa. Hari demi hari harus lebih baik. Yup, mari mulai sekarang juga untuk evaluasi diri. Are you ready? [solihin: sholihin@gmx.net]
