Feb
2nd

Mesin Wudlu Otomatis

Files under , Dunia Islam | Leave a Comment

Mesin wudhu otomatis ini membantu untuk berhemat air. Diluncurkan dengan sensor otomatis, mesin wudhu ini dibanderol seharga US$ 3 ribu - US$ 4 ribu (Rp 28 juta - Rp 38 juta).

Adalah perusahaan Malaysia, AACE Technologies yang meluncurkan mesin wudhu itu di Kuala Lumpur, Malaysia seperti dilansir dari Reuters, Senin (1/2/2010).

Mesin itu berwarna hijau dan berornamen. Ada 2 bak di mesin itu, bak untuk cuci tangan di bagian atas dan bak untuk cuci kaki di bawah. Di tiap bak ada keran yang dilengkapi sensor. Air hanya akan keluar jika kaki atau tangan berada di bawah kran itu.

"Menghemat air adalah motivasi orang-orang untuk mengadopsi cara ini daripada cara konvensional, di mana banyak air yang terbuang," ujar Kepala AACE Anthony Gomez.

Alat itu juga bisa mengeluarkan suara ayat-ayat Alquran yang sudah direkam. Mesin wudhu itu memiliki tinggi 1,65 meter, dan membutuhkan 1,3 liter air untuk sekali wudhu dibandingkan dengan wudhu konvensional yang biasanya membiarkan kran air terbuka selama beberapa menit.

"Saat musim haji, 2 juta orang menggunakan 50 juta liter air per hari untuk wudhu. Kalau mereka memakai mesin ini, mereka akan berhemat 40 juta liter air per hari," imbuh Gomez.

Dubai sudah menunjukkan ketertarikannya untuk memiliki produk ini untuk ditempatkan di bandaranya. Namun mesin itu membutuhkan waktu 2 tahun untuk pengembangan lebih lanjut yang memakan biaya US$ 2,5 juta.

Feb
1st

Libya Kekuatan Baru Islam

Files under , Dunia Islam | Leave a Comment

Libya melalui Jam’iyah Ad-Dakwah Al-Islamiyah Al-Alamiyah sangat konsen dan konsisten untuk menyebarkan ajar an Islam ke ber bagai penjuru dunia. Lembaga ini bah kan turut meno pang gerakan dakwah Is lami yah di se luruh nega ra Afrika. Negeri Saha ra. Begitulah Libya negara berpenduduk mayoritas Muslim yang terbentang di sepanjang pantai timur laut Afrika itu kerap dijuluki. Sejarah peradaban Islam mencatat, negara yang dikenal dengan nama resmi Great Socialist People’s Libyan Arab Jamahiriya itu turut me me gang peranan penting dalam pe nye baran Islam di benua Afrika Utara.

Kini, melalui Jam’iyah Ad- Dakwah Al-Islamiyah Al-Alamiyah yang dimilikinya—negeri petrodolar yang terhampar di daratan seluas 1.759. 540 km persegi itu—mulai menjadi sebuah kekuatan baru Islam di ‘Benua Hitam’ Afrika. Negara multietnis yang terdiri atas bangsa Barbar, Arab, Yunani, Mal ta, Italia, Mesir, Pakistan, Turki, In dia, dan Tunisia itu terletak di se belah barat Tunisia dan Aljazair.

Di bagian timur, negeri yang tercatat se bagai salah satu wilayah ter tua yang dihuni peradaban manusia itu berbatasan dengan Mesir. Di ba gian selatan, negara yang kini dipim pin oleh Kolonel Muam mar Qaddafi sejak tahun 1969 itu bertetangga dengan Sudan dan Nigeria. Popu lasi pen duduk Libya yang dikaruniai lim pahan cadangan minyak itu mencapai 6.173. 579 jiwa—97 persen beragama Islam.

Menurut bukti-bukti arkeologi, di wilayah Libya sekitar 8 milenium SM telah berkembang kebudayaan Neoli ti kum di kawasan pantai. Masyarakat Libya kuno sudah mulai mengembang kan pertanian. Sedangkan di wilayah selatan yang terdiri atas hamparan padang pasir, masyarakat Libya kuno memiliki mata pencaharian sebagai pemburu.

Asal muasal keberadaan bangsa Barbar di daratan Libya hingga kini masih diselimuti misteri. Meski be gitu, bukti arkeologi dan lingusitik mengindikasikan suku Barbar berasal dari barat daya Asia. Mereka diduga hijrah ke daratan Afrika Utara pada milenium ke-3 SM. Sejarah mencatat, wilayah Libya selalu menarik perhatian beragam peradaban. Tak heran, jika penguasa negeri itu selalu silih berganti dari zaman ke zaman. Sebelum abad ke-12 SM, wilayah ini sempat dikuasai orangorang Phoenik.

Bangsa Yunani Kuno juga sempat menguasai wilayah itu sekitar abad ke-7 SM. Selama 400 tahun la manya, wilayah Libya, Tripoli, dan Cyrenaica, sempat menjadi bagian da ri kekuasaan bangsa Romawi.

Pada masa itu, penduduk Libya dikisahkan hidup dalam kemakmur an. Bangunan Leptis Magna nan me gah yang terletak 120 km dari Tripoli menjadi sak si kekuasaan Romawi di Libya. Sisasisa peninggalan Romawi itu menunjukkan adanya kehidupan metropolis yang sangat maju di permulaan abad masehi.

Gedung teater, pasar, istana raja, ko lam pemandian, dan lapangan olah raga yang begitu megah menjadi saksi kehi dupan masyarakat kota bangsa Romawi di darat an Libya. Seiring ber kuasanya Romawi, pada awal abad ke-2 M agama Kristen mulai menyebar di wilayah Libya.

Libya memasuki babak baru ketika ajar an Islam memasuki negeri Sahara itu pada 642 M. Di bawah komando Jenderal Muslim, Amar bin Ash, pasukan tentara Islam yang saat itu berada di era kepemimpinan Umar bin Khat tab berhasil menguasai Libya—ka was an Cyrenaica dan membangun markas pertahanan di Barce.

Dua tahun kemudian, pasukan tentara Islam mampu menembus ke ku atan Bizantium dan akhirnya m e nguasai Tripo litania. Jenderal perang tentara Muslim lainnya, Uqba bin Na fi, pada 663 M juga tercatat berhasil merebut wilayah Fezzan dari Kekai sar an Bizantium. Kekuasaan Romawi semakin menyusut ketika pada 670 M, tentara Muslim mengambil alih se jum lah provinsi di Afrika. Uqba lalu mendirikan kota Kairouan di wilayah Tunisia.

Mulai abad ke-8 M, wilayah Libya, Tripolitania, dan Cyrenaica—berada dalam kekuasaan Dinasti Umayyah yang berpusat di Damaskus. Berkuasanya Islam di wilayah Libya menjadi berkah bagi penduduknya. Dinasti Umayyah mampu menyatukan kehi dupan politik dan agama di bawah payung kekhilafahan. Pemerintahan dijalankan dengan syariah (hukum Islam)—berdasarkan Alquran dan Hadis.

Kehidupan masyarakat Libya be gitu makmur dan tenteram di bawah kekuasaan kekhilafahan Islam. Sektor pertanian di kawasan pesisir dan per kotaan berkembang pesat. Orang-orang kota merasa nyaman dan aman ka rena mendapat jaminan untuk ber niaga dan berbisnis. Penduduk non-Muslim mendapatkan jaminan hak atas lahan yang mereka kuasai. Di Cy renaica, para pemimpin gereja me nyambut datangnya Islam, karena te lah membebaskan mereka dari penindasan Bizantium.

Peradaban Islam pun mulai membangun perkotaan di Afrika Utara. Kedatangan pasukan tentara Islam di Afrika Utara—khususnya Libya—bu kan untuk melakukan penjajahan, melainkan untuk melakukan dakwah dan penaklukan saja. Berbeda dengan invasi yang dilaku kan Barat terhadap negara-negara Islam. Mereka m e ngu a sai, menindas, mengeksploitasi, dan menjajah ketika menaklukkan sebuah wilayah.

insn7lEkspansi yang dilakukan peradaban Islam malah membawa kedamaian dan kemakmuran bagi wilayah yang ditaklukkan tentara Islam. Perlahan namun pasti, jumlah pemeluk Islam mulai berkembang di Libya. Apalagi, tentara Muslim yang datang ke wila yah itu melakukan asimilasi dengan penduduk asli, seperti melakukan pernikahan dengan wanita di wilayah Libya. Suku Barbar yang nomaden pun berbondong-bondong memeluk agama Islam. Setelah ke kuasaan Dinasti Umay yah berakhir, wila yah Libya ber ada dalam naungan Kekhilafahan Ab basiyah. Kawasan Afrika Utara termasuk Libya—dipimpin seorang amir yang berada di bawah kendali kha lifah. Pada tahun 800, Khalifah Ha run Ar-Ra syid mengangkat Ib ra him bin Aghlab, yang mendirikan dinasti di Kairouan, memerintah Afrika dan Tripo litania sebagai negara bagian yang otonom.

Amir Aghlabid memperbaiki sistem irigasi bekas Romawi. Peradaban Is lam pun membangun kawasan Libya hingga menjadi daerah yang makmur dan kaya-raya. Produksi pertanian pun melimpah ruah. Dinasti Aghlabid berlombalomba dengan Kekaisaran Bizantium untuk menguasai Medi terania Tengah.

Dari wilayah itu pula, Dinasti Aghlabid mampu mengusai Sicilia—wila yah otonom di Italia Selatan, dan memainkan peranan aktif dalam kancah perpolitikan di Italia. Setelah tenggelamnya kekuasaan Dinasti Aghlabid, kawasan Libya sempat pula dikuasai Dinasti Fatimiyah. Libya pernah pula berada dalam kekuasaan Dinasti Mamluk dan hingga akhirnya diambil alih Kekhilafahan Turki Usmani.

Seiring waktu, Libya melalui Jam’iyah Ad-Dakwah Al-Islamiyah Al- Alamiyah sangat konsisten untuk menyebarkan ajar an Islam ke ber bagai penjuru dunia. Lemba ga ini bah kan turut meno pang gerakan dakwah Is lamiyah di se luruh nega ra Afrika. Se cara rutin, lem baga dakwah ini mempersatukan umat Islam dengan meng undang para ulama dan intelektual Muslim dari berbagai penjuru dunia untuk menyusun agenda dakwah.

Lembaga ini pun telah membangun sederet masjid agung di berbagai be lah an dunia. Bahkan secara rutin, lembaga ini mengundang ulama dari Indonesia. Lembaga dakwah ini pun mendanai pembangunan Masjid Qa dafi Center di Bogor, Jawa Barat.

Libya di Era Kekuasaan Turki Usmani

Di awal abad ke-16 M, kawasan Mediterania menjadi rebutan dua kekuatan dan peradaban; Spanyol Hapsburg dan Kekhilafahan Turki Usmani. Pada 1510 M, bangsa Spanyol menginvasi Libya. Mereka menguasai Tripoli dan menghancurkan ibu kota Libya itu. Spanyol pun sempat mendirikan basis pertahanan laut di Tripoli.

Meski begitu, Spanyol tak terlalu meng anggap penting Kota Tripoli. Raja Charles V pun memercayakan penguasaan Tripoli kepada Ksatria St John Malta. Pasukan Turki Usmani dibawah komando Admiiral Sinan Pasha pada 1551 M berhasil mengusir para kesatria Kristen yang menguasai Tripoli. Sultan Turki Usmani lalu mengangkat kapten Draughut Pasha sebagai gubernur di Tripolitania.

Draughut Pasha memperbaiki kota pantai yang sempat dihancurkan bangsa Spanyol. Secara formal wilayah kekuasaan Turki Usmani di benua Afrika dibagi menjadi tiga wilayah, yakni Aljazair, Tunis, dan Tripoli (Libya). Setelah tahun 1565 M, wilayah Tripoli dipimpin oleh seorang Pasha yang diangkat langsung oleh Sultan.

Setiap wilayah diperkuat oleh pasukan tentara khusus yang personelnya berasal dari suku Turki yang benar-benar telah bertekad untuk mengabdikan dirinya bagi mili ter. Pada akhir abad ke-17 M, jumlah penduduk Tripoli tercatat sekitar 30 ribu jiwa. Pada masa itu, Tripoli ma sih sebatas kota kabupaten bagi Kesultanan Turki Usmani.

Selama dikuasai Turki Usmani, wilayah Libya mengalami masa pasang surut. Kekuasaan Turki di Libya berakhir pada awal abad ke-20 M. Setelah melalui pertempuran yang sangat sengit, Libya akirnya jatuh dalam genggaman kekuasaan Italia pada 1912 M. Penjajah Italia lalu menyatukan Tripolitania dan Cyrenaica pada 1934 sebagai bagian dari Libya.

Hingga kini, peninggalan Kekhilafahan Usmani berupa benteng pertahanan masih berdiri kokoh di Jalan Medan Al-Jazair Tripoli. Di sebelah kiri benteng itu juga berdiri sebuah pasar, yakni Pasar Turki. Pasar rakyat itu menjadi salah satu sentra perdagangan dan niaga masyarakat Libya di Tripoli.

Dari Gerakan Sufi hingga Revolusi 1 September

Selama Italia menjajah Libya, rakyat Libya terus melakukan perlawanan. Perlawanan terhadap penjajah dari Eropa itu digelorakan oleh kaum sufi yang tergabung dalam tarekat yang didirikan oleh Muhammad bin Ali as-Sanusi (1787-1859). Setelah melalui perjuangan panjang, akhirnya pada Oktober 1951, berdasarkan konstitusi Libya menyatakan kemerdekaannya dalam bentuk negara federal monarki yang dipimpin Raja Idris—sebagai kepala negara.

Perjalanan pemerintahan monarki di bawah pimpinan Raja Idris itu akhirnya berakhir pada 1 September 1969. Sekelompok tentara muda yang terdiri atas 70 orang mengambil alih kekuasaan dari Raja Idris. Penggulingan kekuasaan itu digulirkan dari kota Benghazi. Kelompok militer muda ini dipimpin oleh 12 anggota direktorat yang menamakan dirinya Revolutionary Command Council (RCC).

Sejak itulah, pimpinan militer muda yang dipimpin Kolonel Mua mar Qaddafi mendeklarasikan kemerdekaan Libya yang kedua kalinya. Inilah kemerdekaan Libya sepenuhnya yang be bas dari pengaruh negara-negara Barat. Libya pun memproklamasikan berdirinya Great Socialist People’s Libyan Arab Jamahiriya. Qaddafi tampil sebagai pemimpin tertinggi di negara itu.

Tahun ini, usia Libya di bawah kepemimpinan Qaddafi memasuki usia ke-39. Selain membangun bangsanya, Qaddafi pun menaruh perhatian penting terhadap aktivitas dakwah Islamiyah. Uniknya, negara ini menghitung tahun Islam dari saat wafatnya Rasulullah SAW, bukan dari saat hijrah. Aktivitas keislaman kini terus menggeliat di Libya. Sebuah harapan baru bagi kemajuan ajaran Islam.

Feb
1st

Tinta Di Dunia Islam

Files under , Dunia Islam | Leave a Comment

Belajar dan seni memainkan peranan penting dalam sebuah peradaban, Apalagi, di era keemasan Islam, kedua bidang itu mendapat perhatian yang sangat besar dari para khalifah, ilmuwan, seniman dan masyarakat Muslim. Salah satu faktor yang telah mendorong berkembangnya ilmu pengetahuan dn seni rupa di dunia Islam adalah tersedianya tinta dan zat warna.

Tinta dan zat warna merupakan bahan yang sangat penting untuk menopang aktivitas keilmuan dan seni rupa. Karena itulh, umat Muslim di zaman kekhalifahan memberi perhatian khusus terhadap ketersediaan tinta dan zat warna.

Perkembangan industri tinta dan zat warna direkm secara khusus oleh Al-Muzz Ibnu Badis (wafat 416 H / 1025 H) dalam bukunya bertjuk, Umdat Al-Kuttab (buku tentang Keahlian Menulis dan peralatan oarang-orang arief). Peradaban Islam memang bukanlah yang pertama menemukan tinta dan zat warna. Menurut catatan sejarah, peradaban Cina telah menemukan tinta untuk menghitamkan permukaan gambar dan tulisan yang terpahat pada batu sekitar 5000 tahun yang lalu. mereka membuat tinta dari campuran jelaga dari asap kayu cemara, lampu minyak dan jelatin dari kulit binatang serta darah yang dibekukan.

Ada pula yang menyebutkan, tinta telah digunakan peradaban India kuno pada abad ke-4 SM, Hal ini terungkap dari sebuah naskah kuno India, Kharosthi, yang ditemukan para arkeolog di wilayah Turkistan Cina, sekarang provinsi Xinjiang. Resep pembuatan tinta telah ditemukan 1.600 tahun yang lalu, ungkap sharon J Hutington.

Will Kwiatkowski dalam bukunya berjudul, ink and Gold: Islamic Calligraphy, menuturkan, produksi tinta di dunia Islam telah di mulai pada 1000 tahun yang lalu. Pada masa itu, tinta digunakan untuk menulis kaligrafi. Produksi tinta sama pesatnya dengan pencapaian dunia Islam di bidang seni Kaligrafi. Produksi tinta berkembang di setiap kekhalifahan, seperti Abbasiyah (749-1258), Selbuk (1055-1243), Safawiyah (1520-1736) dan Mughal (1526-1857)

Ahmad Y Al-Hassan dan Donald R Hill dalam bukunya bertajuk, Islamic Technology;An Ilustrated History mengungkapkan di era kejayannyan peradaban Muslim telah mampu memproduksi tinta hitam. Pada massa itu, terdapat dua tipe utama permanen. Pertama, tinta permanen yang dihasilkan dari partikel-partikel halus karbon dan kedua adalah tinta hitam yang berasal dari besi tanat.

Menurut Al-Hassan dan Hill, karbon untuk tinta hitam diperoleh dari jelaga berbagai minyak dan lemak, seperti minyak biji rami dan minyak bumi atau arang giling yang dibuat dari berbagai biji-bijian. Cara membuat tinta di masa itu begitu khas. Salah satu cara membuat tinta dari jelaga, papar Al-Hasan, dengan menggunakan lampu empat sumbu untuk membakar minyak biji rami.

Pada bagian atas lampu terdapat penutup berbentuk kubah dengan sebuah lubang dan di atasnya terdapat lagi enam penutup serupa berbentuk cerobong. Sumbu dinyalakan dan minyak terbakar habis, kemudian jelaga yang terkumpul di dalam cerobong dikumpulkan menggunakan bulu. Selanjutnya, jelaga itu diayak hingga didapat serbuk yang halus. Pembuatan tinta permanennya juga ada yang menggunakan gom Arab (diperolah dari tumbuhan sejenis akasia) sebagai bahan pengikat, walaupun glair (dibuat dari kocokan putih telur) dapat dijadikan alternatif.

“Tinta lain juga dijabarkan dalam manuskrip Arab, di antaranya tinta biru-hitam yang didapatkan dari biji-bijian tertentu dan ferro sulfat yang msih digunakan hingga kini” ungkap Al-Hassa dan Hill.

Jan
28th

Meredam Radikalisme dengan Channel Alquran

Files under , Dunia Islam | Leave a Comment

ALJIER--Isu radikalisme masih menjadi wacana penting bagi Pemerintah Aljazair. Bukan hanya karena trauma 'perang sipil', melainkan perhatian besar terhadap soal radikalisme ini juga mencuat seiring masuknya Aljazair dalam 14 negara yang diawasi khusus oleh AS, terkait isu terorisme.

Menteri Agama Aljazair, Bouabdallah Ben El Hadj Mohamed Al Ghlamallah, mengungkapkan, salah satu penyebab utama munculnya radikalisme adalah gejolak perang di Afghanistan. Menurut dia, sebagian warga Aljazair ikut terlibat dalam perjuangan Afghanistan.

Yang saat itu, ujar Ghlamallah, didukung AS untuk mengusir Uni Soviet. Saat kembali dari Afghanistan, mereka kemudian menjadi salah satu kelompok penting yang mengembangkan gerakan radikal. Lalu, bagaimana cara pemerintah setempat mengatasi radikalisme ini?

Ghlamallah mengatakan, pendidikan agama digiatkan untuk memberikan pemahaman yang benar mengenai ajaran Islam. Menurut dia, masjid, madrasah, dan pusat-pusat kajian Islam memegang peran yang sangat penting dalam program tersebut.

''Hanya dengan menyebarkan pemahaman yang benar tentang Islam, masyarakat akan sulit untuk ditarik ke dalam gerakan-gerakan radikal,'' kata Ghlamallah, Senin (25/1). Pemerintah juga memberikan amnesti kepada warganya yang tak terbukti terlibat aksi terorisme.

Mereka dibebaskan dari segala hukuman dan direhabilitasi namanya. Sebaliknya, mereka yang terlibat dalam aksi pembunuhan massal, diproses melalui jalur hukum. Pemerintah Aljazair pun menempuh langkah lain yang terbilang maju dalam menyebarkan ajaran Islam yang benar.

Langkah ini dilakukan Pemerintah Aljazair dengan membuka channel (saluran) televisi khusus Alquran. Menteri Informasi dan Komunikasi Aljazair, Azzedin Mihoubi, menyatakan, saluran ini sudah mengudara selama setahun terakhir. Hasilnya, menurut dia, sudah mulai terasa.

Saluran Alquran ini, jelas Mihoubi, memang khusus menyiarkan berbagai hal yang terkait dengan ajaran kitab suci tersebut. Selain diisi dengan kajian-kajian tentang penafsiran ayat Alquran, saluran ini juga menyajikan dialog keislaman.

Di sisi lain, saluran ini pun mengudarakan bacaan Alquran untuk didengarkan oleh seluruh masyarakat. Mihoubi mengungkapkan, siaran ini tak hanya melibatkan para wartawan senior, tapi juga para ulama untuk menjelaskan isi Alquran dengan baik.

Para ulama mendapatkan tugas menyampaikan fatwa-fatwa yang terkait problem kemasyarakatan, dengan bahasa yang bisa dipahami audiens. Saluran Alquran ini seperti menjadi oase di tengah serbuan tayangan televisi yang meninggalkan norma-norma agama.

Dengan perangkat parabola, saat ini warga Aljazair bisa mengakses lebih dari 1.000 siaran televisi. Menurut perkiraan Mihoubi, saat ini hanya sekitar 10 persen dari seluruh saluran televisi di wilayahnya, yang mengudarakan tayangan acara bermutu.

''Sedangkan sisanya, mirip kios dagang,'' kata Mihoubi di kantornya, di Algiers, Aljazair. Sebagian televisi di Aljazair yang diakses lewat parabola memang menyajikan tayangan yang tak 'menyehatkan'. Bukan hanya tayangan yang mengumbar aurat, melainkan juga gaya hidup hedonis.

Lewat parabola ini, masyarakat bisa mengakses siaran-siaran televisi di dunia Arab, Eropa, juga televisi-televisi Amerika. Mihoubi menambahkan, selain untuk meredam radikalisme, saluran Alquran juga menjadi pengimbang bagi tayangan-tayangan yang kurang bermutu itu.

Saluran Alquran merupakan bagian dari aktivitas dari stasiun televisi milik pemerintah. Saat ini, Mihoubi menyatakan, televisi milik pemerintah mempunyai saluran dan salah satunya bisa ditangkap tanpa melalui parabola.

Menurut Mihoubi, saluran ini disebut sebagai saluran induk. Sedangkan empat saluran lainnya adalah saluran Arab, saluran untuk warga Prancis dan sekitarnya, saluran Alquran, serta saluran khusus berbahasa Tamasigh, yaitu bahasa asli warga Aljazair.

Mihoubi menjamin, Pemerintah Aljazair memiliki komitmen yang sangat kuat untuk terus mendukung keberadaan saluran Alquran. Menurut dia, konstitusi negara sangat memperhatikan permasalahan agama.''Keberadaan saluran ini tak bisa diperdebatkan lagi,'' katanya menegaskan.

Masyarakat Aljazair, imbuh Mihoubi, mulai merasakan hasil dari siaran melalui saluran Alquran tersebut. Saat ini, warga setempat bisa mengembangkan dialog mengenai berbagai persoalan hidup yang harus diatasi dengan kembali kepada Alquran. Menurut Mihoubi, melalui dialog intensif, semangat untuk mengembangkan tindak kekerasan bisa diredam.

Jan
19th

Pakai Burka Didenda Seribu Dolar

Files under , Dunia Islam | Leave a Comment

PARIS--Parlemen Prancis akan segera mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Anticadar. Dalam draf UU itu, wanita Muslimah yang memakai burka (cadar) akan dikenakan denda 750 euro atau sekitar 1.000 dolar AS.

Jean-Francois Cope, pemimpin partai berkuasa UMP di Majelis Nasional, mengatakan, kaum pria yang memaksa istri-istri mereka mengenakan burka juga akan dikenai denda, bahkan lebih berat. Menurutnya, pengesahan undang-undang ini terkait dengan isu keamanan.

''Usulan ini akan melarang penutupan wajah di tempat-tempat publik dan di jalan-jalan dengan pengecualian event-event budaya khusus atau karnaval,'' kata Cope kepada majalah mingguan Le Figaro, seperti dilansir kantor berita AFP, akhir pekan lalu.

Dikatakan Cope, RUU ini akan disampaikan dalam dua pekan mendatang. Selanjutnya, RUU tersebut baru akan masuk untuk diperdebatkan di parlemen setelah pemilihan regional pada Maret mendatang.

Pimpinan mayoritas parlemen Prancis itu menekankan, burka harus dilarang untuk membela hak-hak kaum perempuan. ''Kita bisa mengukur modernitas masyarakat dengan caranya memperlakukan dan menghormati perempuan,'' ujar Cope yang juga merupakan salah satu tim sukses Presiden Nicolas Sarkozy untuk Pemilihan Presiden pada 2017.

Saat ini, berbagai kubu politik di Prancis terpecah soal pelarangan burka. Kubu oposisi, Partai Sosialis, pekan ini, menyatakan menolak aturan soal pelarangan burka. Perdebatan mengenai burka kembali memanas menjelang disahkannya RUU Anticadar oleh parlemen Prancis pada akhir bulan ini.

Banyak politikus dari sayap kiri dan kanan telah memperingatkan bahwa undang-undang yang melarang penggunaan penutup kepala hingga kaki akan sulit untuk diterapkan. Bahkan, tidak menutup kemungkinan, undang-undang tersebut akan menghadapi tantangan di tingkat pengadilan HAM Eropa. Presiden Sarkozy sendiri telah mengatakan bahwa burka tidak diterima di Prancis. Namun, ia belum menyatakan secara terbuka apakah undang-undang tersebut harus diberlakukan secara resmi.

Sementara itu, para kritikus berpendapat bahwa hukum tertentu yang diberlakukan untuk melarang penggunaan cadar sama dengan menggunakan palu godam untuk memukul lalat. Hal ini mengingat hanya 1.900 perempuan yang mengenakan jilbab penuh di Prancis berdasarkan data kementerian dalam negeri.

Cermin keraguan
Menurut tokoh Muslim asal Swiss, Thariq Ramadhan, rencana parlemen Prancis ini mencerminkan keraguan mereka terhadap diri sendiri.

''Ini adalah sebuah masyarakat yang memiliki keraguan tentang dirinya sendiri," kata Tariq Ramadhan di hadapan panel parlemen Prancis yang membahas pelarangan burka, beberapa waktu lalu.

Menurut Tariq, panel ini lahir dari sebuah keraguan diri para anggota parlemen. Karena itu, kata dia, permasalahan burka tidak akan bisa diselesaikan dengan cara-cara seperti itu.

Perdebatan mengenai burka menjadi topik hangat di Prancis sejak anggota parlemen berhaluan komunis, Andre Gerin, mengusulkan pelarangan pemakaian burka kepada parlemen. Sementara itu, Presiden Nicolas Sarkozy tengah mempertimbangkan usulan tersebut dengan mengatakan bahwa burka tidak diterima di negara sekuler seperti Prancis.

Des
29th

Islam di Tibet, Ketika Kedamaian Terkoyak

Files under , Dunia Islam | Leave a Comment

"Atap Dunia’’. Begitulah Tibet kerap dijuluki. Tak berlebihan julukan itu ditabalkan kepada Tibet. Betapa tidak. Di negara itulah puncak tertinggi di dunia, yakni Everest, berada. Sejatinya, sebagian wilayah Tibet masuk dalam kawasan pegunungan Himalaya.

Begitu terkenalnya, sampai-sampai nama Tibet, Himalaya atau Everest, banyak dijadikan sebagai inspirasi pembuatan karya seni khususnya film dan buku. Di antaranya adalah seri kisah petualangan Tintin. Pada salah satu judulnya, yakni Tintin di Tibet, Herge sang penulis asal Belgia, menyuguhkan sekilas pemandangan dan kondisi alam di Tibet, serta kehidupan masyarakatnya.

Apa yang tersaji memang tak jauh berbeda dengan kenyataan sesungguhnya. Tibet memiliki karakteristik lingkungan yang sangat beragam, di samping wilayahnya yang bergunung-gunung. Iklim yang keras lantaran kerap turun hujan salju juga menjadi bagian dari kondisi alam di sana. Meski demikian, situasi itu agak berbanding terbalik dengan sifat masyarakat Tibet yang cinta damai.

Sebagian besar penduduk beragama Budha. Tak heran, jika di Tibet mudah ditemui kuil-kuil Budha sebagai tempat pendidikan serta pembinaan para biksu. Di tengah keseharian mereka, terdapat komunitas Muslim. Islam dan Budha sejatinya telah berbagi sejarah panjang di negara yang berpenduduk sebanyak 2,7 juta jiwa itu. Hubungan erat telah berlangsung sejak abad ke-8 M. Para sejarawan Islam di era kekhalifahan, semisal Thabari, Yaqut Hamawi, dan Ibn Khaldun, bahkan kerap menyebut nama Tibet dalam tulisantulisannya. Islam masuk ke Tibet di era Umar bin Abdul Aziz I (717 M - 720 M) dari Dinasti Umayyah.

Saat itu, Khalifah Umar mengirim utusan atas permintaan delegasi Tibet dalam rangka mengenalkan Islam di kawasan tersebut. Rombongan utusan dipimpin oleh Salah bin Abdullah Hanafi. Mereka segera mendakwahkan Islam. Kegiatan itu tak berhenti meski terjadi pergantian kepemimpinan di Baghdad dari Dinasti Umayyah ke Dinasti Abbasiyah.

Namun demikian, penduduk Tibet yang berpindah keyakinan ke agama Islam tidak terlampau banyak. Kehadiran pemeluk Islam dalam jumlah signifikan terjadi melalui pedagang dan imigran asal Kashmir, wilayah di India yang berbatasan langsung dengan Tibet.

Keberadaan mereka ditemukan di seluruh kota di Tibet. Pedagang dan imigran Muslim dari Kashmir pertama kali datang ke Tibet sekitar abad ke-12 M. Dari waktu ke waktu, interaksi kian erat. Pedagang dan imigran Muslim kemudian menikah dengan wanita setempat, yang akhirnya mengikuti agama suaminya. Hal ini mendorong pening katan jumlah umat Islam di Tibet.

Masyarakat Tibet pun menyebut pemeluk Islam dengan panggilan Kachee, artinya orang Kashmir. Walaupun bukan warga asli Tibet, tapi mereka lebih diakui sebagai bagian dari masyarakat ketimbang Muslim Hui yang berasal dari Cina yang disebut Kyangsha.

Sebagian besar Muslim Tibet menetap di kota Lhasa dan Shigatse, kota terbesar kedua. Kebanyakan mereka tinggal di sekitar masjid yang dibangun kemudian. Masjid lantas menjadi pusat kehidupan sosial umat. Ini membuat masjid-masjid di Tibet terpelihara dengan baik. Ketika Tibet berada di bawah kekuasaan Dalai La ma kelima, umat Islam hidup berdampingan secara damai bersama pemeluk Budha. Umat Muslim juga mendapat perlakuan istimewa. Mereka misalnya diizinkan menjalankan urusan keseharian secara syariat. Muslim Tibet juga bebas untuk mendirikan perusahaan dan berbisnis.

Masa-masa penuh kedamaian itu terkoyak seiring invasi tentara Cina pada 1950. Setahun kemudian, Cina menduduki ibu kota Lhasa dan mendongkel Dalai Lama dari kekuasaannya. Tibet pun dijadikan sebagai salah satu provinsi Cina. Sejak peristiwa tersebut, masyarakat terus mendapat tekanan. Tak hanya umat Budha, perlakuan semena-mena juga diterima warga minoritas Muslim. Kedua umat juga sering diadu domba. Tak hanya itu, pihak penguasa mendesak Muslim Tibet untuk menjual tanah dan bangunan milik mereka.

Untuk itu, Muslim Tibet diiming-imingi tawaran untuk berimigrasi ke luar negeri apabila bersedia menjual lahan dan bangunannya. Tapi, tawaran ini ditolak mentahmentah. Muslim Tibet tak ingin menyerahkan begitu saja harta dan kekayaan yang mereka peroleh dari jerih payahnya. Sebagai konsekuensinya, mereka terus mendapatkan tekanan dan penindasan.

Para pedagang dan warga Tibet dilarang untuk menjual makanan kepada umat Muslim yang enggan menjual tanah dan rumahnya. Dampak dari perintah boikot ini sangat memprihatinkan, mengingat banyaknya umat yang menderita kelaparan.

Tak kuasa menahan derita, umat Muslim Tibet memilih untuk mengungsi ke wilayah India. Maka, terjadilah gelombang eksodus ke kota-kota perbatasan di India. Di lokasi pengungsian, kehidupan tak lebih baik. Mereka mencoba bertahan dan berjuang membangun komunitas di pengasingan hingga selama dua dasawarsa berikutnya. Hanya saja, usaha ini tak cukup berhasil lantaran ketiadaan figur pemimpin yang mumpuni.

Akibat permasalahan yang tak kunjung tuntas, sebagian umat Muslim Tibet memilih pergi ke luar negeri. Arab Saudi, Turki, Nepal dan beberapa kawasan di India menjadi tujuan mereka dalam usaha mencari penghidupan yang lebih layak.

Situasi dan kondisi memprihatinkan yang dialami warga Muslim Tibet ini tak lepas dari perhatian Dalai Lama, pemimpin spiritual Tibet yang juga hidup di pengasingan. Dalai Lama secara khusus mengirimkan utusannya untuk mengetahui kondisi sebenarnya warga Muslim Tibet ini. Dia cukup diyakinkan dengan informasi terkait penderitaan Muslim Tibet di pengungsian.

Maka itu, saat kunjungan ke Srinagar tahun 1975, Dalai Lama membahas ma -salah ini dengan sejumlah petinggi India. Dia sekaligus mendorong Muslim Tibet membentuk Asosiasi Kesejahteraan Pengungsi Muslim sebagai wadah perjuangan. ed; heri ruslan


Dukungan untuk Muslim Tibet

Imbauan Dalai Lama untuk membentuk semacam badan peningkatan kesejahteraan Muslim di pengungsian, segera direalisasikan. Badan ini langsung bekerja terutama untuk mengangkat taraf ekonomi dan pendidikan komunitas Muslim.

Bantuan dana dari Dalai Lama sangat membantu pelaksanaan kerja badan tersebut. Setelah itu, sejumlah bantuan lain mulai berdatangan, antara lain dari yayasan masyarakat Tibet di New York.

Program pengembangan usaha kecil menjadi prioritas. Di beberapa lokasi pengungsian, didirikan pusat-pusat kerajinan tangan. Umat Muslim ada yang dikirim ke Dharamsala untuk belajar teknik membuat karpet.

Dari aspek sosial kemasyarakatan, Kerajaan Arab Saudi turut membantu dana bagi pembangunan ratusan unit rumah, sekaligus masjid. Pembangunan perumahan selesai sekitar tahun 1985 untuk kemudian didistribusikan kepada para pengungsi.

Situs www.unpo.orgmenyebutkan, diperkirakan sekitar dua ribu umat Muslim Tibet menjadi perantau. Sementara yang masih bertahan di Tibet jumlahnya mencapai tiga ribu jiwa. Mereka yang memilih meninggalkan Tibet kini hidup terpencar di berbagai negara. Sebagian masih berada di wilayah Kashmir, sebagian lagi menetap di Nepal, juga beberapa negara di Timur Tengah dan Turki.

Para pengungsi ini masih punya satu harapan. Yaitu, suatu hari nanti mereka ingin kembali ke Tibet. Seorang pemuda Muslim saat ditanya apakah berkeinginan kembali ke Tibet sebagai solusi akhir, dengan tegas menjawab, Lebih baik hidup di bawah jembatan di negeri sendiri, ketimbang hidup senang tapi sebagai pengungsi di negara orang.

Mimpi dan harapan itulah yang membuat umat Muslim Tibet di pengasingan terus berupaya menggalang bantuan dari seluruh dunia. Salah satu yang sangat mendukung langkah itu adalah Dalai Lama.

Pada berbagai forum, pemimpin spiritual Tibet ini senantiasa mengungkapkan penderitaan warga Muslim Tibet. Dia pun meminta agar dunia memberikan perhatian bagi mereka.

Dalai Lama juga mengaku prihatin dengan stigma kekerasan yang saat ini disematkan kepada umat Muslim. Menurutnya, dalam kaitan tersebut Islam telah diperlakukan dengan tidak adil.

Berdasarkan pengalamannya hidup bersama komunitas Muslim, peraih Nobel Perdamaian tahun 1989 itu mengungkapkan, Islam bukanlah sebuah tradisi militan. Sebaliknya, kata dia, Islam memiliki pesan dan ajaran yang mengedepankan kasih sayang dan perdamaian.

Terkait aksi kekerasan yang dilakukan oleh segelintir umat Islam, Dalai Lama mengingatkan, bahwa hal serupa bisa terjadi pada agama lain. Di tiap-tiap agama, selalu akan ada orang yang memilih cara tersebut, paparnya.

Lebih jauh, pemilik nama asli Tenzim Gyatso ini meminta agar segenap umat manusia untuk menjalin kerjasama, berto leransi dan menjauhi pertikaian yang meng atasnamakan agama. Dia berpendapat, dengan semangat saling menghargai dan tolong menolong itulah, maka harapan untuk membantu sepenuhnya umat Muslim Tibet dapat diwujudkan. yusuf/taq

Des
21st

Muslim Laos Bertahan di Tengah Rezim Komunis

Files under , Dunia Islam | Leave a Comment

Laos adalah salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yang berbatasan dengan Myanmar dan Cina di sebelah barat laut, Vietnam di timur, Kamboja di selatan, dan Thailand di sebelah barat. Dari Abad ke-14 hingga abad ke-18, negara ini disebut Lan Xang atau Negeri Seribu Gajah.

Beribu kota Vientiane, Laos dikenal sebagai salah satu negara dengan sistem pemerintahan komunis yang masih tersisa di dunia. Mayoritas penduduknya merupakan pemeluk Buddha Theravada. Karena itu, tak mengherankan kalau Laos merupakan negara dengan penduduk Muslim paling sedikit di Asia Tenggara.

Agama Islam pertama kali masuk Laos melalui para pedagang Cina dari Yunnan. Para saudagar Cina ini bukan hanya membawa dagangannya ke Laos, namun juga ke negara tetangganya, seperti Thailand dan Birma (Myanmar saat ini). Oleh masyarakat Laos dan Thailand, para pedagang asal Cina ini dikenal dengan nama Chin Haw.

Peninggalan kaum Chin Haw yang ada hingga hari ini adalah beberapa kelompok kecil komunitas Muslim yang tinggal di dataran tinggi dan perbukitan. Mereka menyuplai kebutuhan pokok masyarakat perkotaan.

Di sini, mereka memiliki sebuah masjid dengan ukuran yang sangat besar dan menjadi kebanggaan Muslim Laos. Letaknya di ruas jalan yang terletak di belakang pusat air mancur Nam Phui. Masjid ini dibangun dengan gaya neo-Moghul dengan ciri khas berupa menara gaya Oriental. Masjid ini juga dilengkapi pengeras suara untuk azan. Ornamen lain adalah tulisan-tulisan dalam lima bahasa, yaitu Arab, Tamil, Lao, Urdu, dan Inggris, yang terdapat dalam masjid.

Selain kelompok Muslim Chin Haw, ada lagi kelompok Muslim lainnya di Laos, yaitu komunitas Tamil yang berasal dari selatan India. Muslim Tamil dikenal dengan nama Labai di Madras dan sebagai Chulia di Malaysia dan Phuket (Thailand). Mereka masuk ke Vientiane melalui Saigon. Mereka juga memiliki sebuah masjid yang bentuknya mirip dengan masjid di Tamil.

Para jamaah Muslim India Selatan inilah yang mendominasi masjid di Vientiane. Di ibu kota Laos ini, hanya terdapat dua buah masjid, yakni Masjid Al-Azhar dan Masjid al-Jamia.

Imam Masjid al-Jamiah, Najmul, menuturkan, masjid ini dibangun oleh kaum pendatang dari India. Masjid ini tak pernah sepi dari jamaah. Apalagi, pada perayaan Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, masjid ini selalu dipenuhi oleh jamaah. Jamaah Muslim ini kebanyakan berasal dari India, Pakistan, dan Bangladesh.

Walaupun berada di lingkungn padat dan sebagian besar penduduknya pemeluk agama Buddha, aktivitas dan kegiatan keagamaan di masjid ini berjalan normal. Bahkan, sebagian warga Vientiane sangat akrab dengan komunitas Muslim di sini. Mereka semua mengetahui ada masjid di daerah Prabang Road ini.

Menurut Najmul, hubungan antaragama di Vientiane juga sangat baik. Bahkan, ketika azan berkumandang, komunitas non-Muslim di Vientiane tak merasa terganggu. ''Mereka tak peduli dengan adanya azan itu dan mereka tidak merasa terganggu,'' ujarnya.

Masjid ini juga banyak dikunjungi jamaah Muslim dari berbagai negara. Jamaah tetap di masjid ini kebanyakan warga dari negara tetangga, termasuk para diplomat dari negara Muslim di Vientiane, termasuk dari Malaysia, Indonesia, dan Palestina. Bangunan masjid di Vientiane juga dilengkapi dengan bangunan madrasah untuk anak-anak Muslim belajar agama Islam.

Selain di Vientiane, ada lagi komunitas Muslim lainnya di Laos. Namun, jumlahnya sangat sedikit. Umumnya, mereka lebih memilih tinggal di kota kecil di luar Vientiane. Sebagian orang menyatakan ada sebuah masjid kecil di Sayaburi, di tepi barat Mekong, tidak jauh dari Nan. Sayaburi dulu pernah dinyatakan sebagai daerah tertutup bagi orang asing.

Pengungsi Kamboja
Laos merupakan salah satu negara yang kaya dengan keberagaman etnis. Saat ini, jumlah penduduk Laos mencapai 6,2 juta jiwa. Setengah dari populasi penduduk Laos berasal dari etnis Lao atau yang dikenal masyarakat lokalnya sebagai Lao Lum. Selain mendominasi dari segi jumlah penduduk, mereka juga mendominasi pemerintahan dan komunitas masyarakat di Laos.

Mereka yang berasal dari etnis ini memiliki hubungan kekerabatan dengan penduduk kawasan timur laut Thailand. Mereka berasal dari dataran rendah Mekong yang hidup mendominasi di Vientiane dan Luang Prabang. Secara tradisional, mereka juga mendominasi pemerintahan dan masyarakat Laos.

Keberagaman etnis ini juga tampak pada komunitas Muslim di sana. Muslim Laos didominasi oleh para pendatang dari kawasan Asia Selatan dan juga Muslim Kamboja. Khusus untuk Muslim Kamboja, mereka adalah para pengungsi dari rezim Khmer. Mereka melarikan diri ke negara tetangga mereka, Laos, setelah pemimpin rezim, Pol Pot, menyerukan gerakan pembersihan massal etnis Kamboja Cham Muslim dari tanah Kamboja.

Sebagai pengungsi, kehidupan mereka terbilang miskin. Selain itu, mereka mengalami trauma akibat pengalaman hidup di bawah tekanan rezim Khmer sejak 1975. Semua masjid di Kamboja dihancurkan. Mereka juga dilarang beribadah atau berbicara dalam bahasa Kamboja dan banyak di antara mereka dipaksa untuk memelihara babi.

Sejarah pahit mengiringi kepergian Muslim Kamboja ke Laos. Mereka dipaksa makan rumput, sementara satu-satunya daging yang mereka dapatkan dari tentara Khmer hanyalah daging babi yang diharamkan oleh Islam.

Beberapa orang Kamboja, seperti mereka yang tinggal di Vientiane, kemudian melarikan diri dari kampung halamannya. Sementara itu, sisanya berhasil bertahan dengan cara menyembunyikan identitas etnis mereka dan juga keislamannya. Dari seluruh populasi Muslim Kamboja, diperkirakan tujuh puluh persennya tewas akibat kelaparan dan pembantaian.

Kini, di Laos, diperkirakan ada sekitar 200 orang Muslim asal Kamboja. Mereka memiliki masjid sendiri yang bernama Masjid Azhar atau yang oleh masyarakat lokal dikenal dengan nama Masjid Kamboja. Masjid ini berlokasi di sebuah sudut di distrik Chantaburi yang berjarak sekitar 4 kilometer dari pusat kota Vientiane. Sebagai sebuah tempat ibadah, bangunan Masjid Kamboja ini memang terlihat sederhana sekali. Sebagian bangunan dinding masjid tampak belum selesai dipasang karena kendala pendanaan.

Meski berjumlah sangat sedikit dan tergolong miskin, mereka teguh memegang agama. Umumnya, mereka adalah penganut Mahzab Syafii yang berbeda dengan komunitas Muslim Asia Selatan di Vientiane yang menganut Mazhab Hanafi.

Mayoritas berbisnis
Saat ini, sebagian besar Muslim di Vientiane bekerja sebagai pebisnis. Mereka berusaha di bidang tekstil, ekspor-impor, atau melayani komunitas mereka sendiri dengan menjadi penjual daging atau pemilik restoran halal.

Beberapa restoran yang dikelola oleh Muslim asal India terletak di kawasan Taj off Man Tha Hurat Road dan dua atau tiga restoran halal lainnya berdiri di persimpangan Jalan Phonxay dan Nong Bon Roads.

Selain melayani komunitas Muslim, mereka juga menyediakan jasa katering bagi petugas kedutaan yang beragama Islam. Sisanya, para pekerja Muslim lokal di Vientiane bekerja di bagian tesktil di berbagai pasar di kota ini, seperti di Talat Sao atau pasar pagi, di persimpangan jalan Lan Xang, dan Khu Vieng.

Kelompok ini merupakan orang-orang yang percaya diri, ramah, dan giat bekerja meski mereka berbicara bahasa Inggris tidak sebanyak mereka yang berasal dari Asia Selatan. Setiap pertanyaan dalam bahasa Inggris yang tidak dimengerti akan mereka jawab dengan kalimat bo hu atau "saya tidak mengerti" dalam bahasa Laos.

Selain bekerja di industri tekstil, banyak Muslim Laos yang bekerja sebagai penjual daging. Ini mengingat kebutuhan makanan yang sangat spesifik dari komunitas Muslim, yaitu penyembelihan secara Islam. Untuk membedakan kios daging mereka dari kios daging lain yang menjual daging babi, para penjual yang beragama Islam memasang lambang bulan sabit atau tanda dalam bahasa Arab.

Tanda ini menunjukkan, selain pemiliknya Muslim, mereka hanya menyediakan daging halal. Maklum saja, sebagai minoritas, sangat sulit bagi mereka untuk menemukan makanan yang dijamin kehalalannya. Daging yang biasa dipasarkan adalah daging babi. nidia/sya/taq

Des
14th

Islamic Center Washington, Pusat Islam Amerika

Files under , Dunia Islam | 1 Comment

WASHINGTON–-Islamic Center merupakan masjid tertua di Washington DC. Masjid tersebut tidak hanya menjadi tujuan favorit dan sering dikunjungi oleh umat Muslim. Tetapi rupanya banyak juga orang non-Muslim yang datang ke masjid tersebut untuk mencari pengetahuan tentang keimanan Muslim.

Direktur Islamic Center Imam Abdullah M. Khouj mengatakan, pihaknya mencoba untuk menyebarkan pengetahuan tentang Islam dari ajaran Al Qur'an. “Selain itu juga melalui kebijaksanaan dan bimbingan yang baik,” katanya kepada Islamonline.net.

Masjid yang bersejarah tersebut yang menjadi Islamic center terletak di pusat kota Washington di Massachusetts Avenue. Masjid tersebut menjadi tujuan wisata bagi orang non-Muslim Amerika dan orang non Muslim luar Amerika yang datang ke sana.

Setiap hari, kata Imam Khouj, pihaknya menerima tamu yang mengunjungi masjid tersebut yang mencapai antara 10 hingga 600 orang. “Sejumlah tamu yang berkunjung ke masjid adalah para pejabat Departemen Luar Negeri yang akan bertugas di dunia Muslim atau para siswa yang akan belajar di negara-negara Muslim. Sehingga mereka membutuhkan pengetahuan tentang Islam. Kami memberikan ceramah dan seminar mengenai situasi di Timur Tengah dan tata cara berperilaku baik di sebuah negara Islam," katanya.

Pembangunan masjid tersebut, ujar Imam Khouj, dimulai pada tahun 1947 dan dibuka untuk umum pada tahun 1952. Ketika dibuka, masjid tersebut menjadi masjid terbesar di belahan dunia Barat. Sedangkan gagasan pembangunan masjid pertama kali muncul pada tahun 1944, saat tidak ada satu masjid pun di ibukota AS. “Masjid ini merupakan hasil upaya bersama umat Islam di Amerika dan para duta besar negara-negara Islam," ujarnya.

Saat ini masjid tersebut dikelola oleh dewan direksi yang terdiri dari semua duta besar dari negara-negara Islam di Amerika Serikat.

Umat Muslim Amerika anti berpartner dengan kaum ekstremis
Kelompok pendukung hak-hak sipil Muslim membuat sebuah strategi untuk memerangi ekstremisme yang muncul. Mereka juga mendesak penegakkan hukum dan pembuatan kebijakan komunitas Muslim serta program-program baru untuk mencegah anak muda terlibat dalam kegiatan kaum ekstremis.

Penghubung Muslim Public Affairs Council (MPAC) dengan pemerintah, Alejandro J. Beutel mengatakan, kekerasan ekstremis di komunitas Muslim sudah banyak. Kebijakan Muslim tersebut sudah dirilis pada hari Jumat, 11 Desember yang berisi 32 halaman laporan berjudul Building Bridges to Strengthen America: Forging an Effective Counterterrorism Enterprise between Muslim Americans and Law Enforcement.

Laporan tersebut berisi penjelasan teori-teori untuk memahami radikalisasi dan perekrutan teroris di kalangan masyarakat Muslim AS. Salah satu teori dalam laporan tersebut menyatakan, langkah pertama dalam proses radikalisasi adalah adanya pembukaan yang terjadi kepada seorang individu yang mengalami krisis pribadi yang disebabkan oleh frustrasi akibat tekanan sosial-ekonomi, krisis identitas atau keluhan politik.

Selanjutnya, menurut laporan tersebut, jika seseorang yang mengalami krisis pribadi tersebut tidak memiliki fondasi agama yang kuat, maka dia bisa terjebak dengan agama yang disalahgunakan untuk membingkai ulang pandangan seseorang. Setelah seorang individu setuju dengan ideologi radikal, maka proses "sosialisasi" radikal dimulai.

Muslim Amerika memerangi kaum ekstremis domestik
Sebuah organisasi Muslim Amerika terkemuka dan para tokoh masyarakat berencana untuk meluncurkan sebuah website dan menyelenggarakan pertemuan pemuda Muslim untuk memerangi munculnya ekstremisme. National Executive Director of the Council on American-Islamic Relations (CAIR) Nihad Awad mengatakan, tujuan dari peluncuran website tersebut untuk menyangkal dan melawan penyalahgunaan ayat-ayat tertentu dari Al Qur'an dan hadits.

Sebab biasanya, perekrut anggota ekstremis menyalahgunakan ayat-ayat tersebut untuk mempengaruhi orang-orang muda yang tidak memahami kedalaman Al Qur'an dan bagimana keadaan ketika ayat tersebut diturunkan. Mereka juga hanya menjajarkan makna yang dangkal dan terputus untuk membenarkan tindakan ekstrimis mereka,” katanya.

Menurut Nihad, website tersebut akan berfungsi sebagai pusat sumber dara online bagi umat Islam yang rentan terhadap ideologi ekstremis. Pengumuman peluncuran website tersebut bertepatan dengan laporan penangkapan lima orang muda Muslim Amerika di Pakistan yang sedang diselidiki kemungkinannya terlibat dengan jaringan ekstremis.

Banyak orang percaya, orang-orang tersebut adalah para mahasiswa yang menghilang pada akhir November dari utara Virginia dan Washington, DC. Seorang juru bicara Kedutaan Besar AS di Islamabad mengatakan, mereka sedang bekerja dengan pemerintah Pakistan dalam masalah tersebut. dya/kpo

Des
8th

Merindukan Kejayaan Khilafah Ottoman

Files under , Dunia Islam | Leave a Comment

Sejak 1923, di bawah pimpinan Mustafa Kemal Ataturk, Turki telah berubah menjadi negara sekuler. Sudah 86 tahun Republik Turki secara ketat memisahkan agama dan negara dalam kehidupan rakyatnya. Kini, sebagian besar rakyat di negara yang terletak di dua benua--Eropa dan Asia--itu mulai frustrasi dan muak dengan kebudayaan sekuler yang begitu ketat.

Kini, sebagian rakyat Turki merindukan kejayaan Kekhalifahan Ottoman yang sempat menjadi adikuasa dunia. ''Rakyat Turki kembali tertarik dengan kepahlawanan dan kejayaan di era Kesultanan Turki Usmani. Mereka kini merasa memilikinya lagi,'' ungkap Direktur Istana Topkapi, Ilber Ortayli, yang juga penjaga kediaman mewah Sultan Ottoman, kepada The New York Times, Sabtu (5/12).

Dari hari ke hari, kesadaran rakyat Turki untuk mengenang kejayaan Kekaisaran Ottoman terus meningkat. Anak-anak muda di negara itu juga mulai menghidupkan kembali semangat kejayaan Turki Usmani. Melalui kaus yang mereka pakai, generasi muda Turki mengampanyekan keinginannya untuk kembali merebut kejayaan yang pernah dicapai di masa kekhalifahan.

"Kekaisaran Turki Usmani pernah menguasai dua pertiga dunia, namun tak pernah memaksa siapa pun untuk mengganti bahasa atau agama pada kelompok minoritas,'' papar Egeman Bagis, menteri untuk Hubungan Uni Eropa. ''Rakyat Turki bisa membanggakan warisan Turki Usmani itu.''

Kekhalifahan Turki Usmani berjaya sekitar enam abad, yakni mulai 1299 hingga 1 November 1922. Pada era keemasannya, yakni abad ke-16 hingga 17 M, Kekhalifahan Turki Usmani menguasai sebagian besar wilayah di tiga benua, yakni Eropa Tenggara, Asia Barat, dan Afrika Utara.

Pada masa kejayaannya, seluruh wilayah kekuasaan Turki Usmani itu terbagi mejadi 29 provinsi dan sejumlah wilayah otonom menyatakan diri bergabung dengan Sultan Turki Usmani yang bergelar khalifah. Seiring kekalahannya pada Perang Dunia I, kedigdayaan Kesultanan Turki Usmani pun mulai pudar.

Sejak 29 Oktober 1923, Turki pun memproklamasikan diri sebagai negara sekuler. Kerinduan terhadap kejayaan Turki Usmani mulai dipandang sebagai pemberontakan terhadap budaya sekuler yang ketat yang diterapkan oleh pendiri Turki, Mustafa Kemal Ataturk.

''Ottomania (orang-orang Turki yang merindukan Turki Usmani) merupakan bentuk kesadaran dan berdayanya kalangan Islam sebagai reaksi terhadap Ataturk yang berusaha membuang agama dan Islam ke pinggir lapangan,'' ujar Pelin Batu, co-host sebuah program sejarah televisi populer. Setelah menerapkan aturan sekularisme, rakyat Turki dijauhkan dari nilai-nilai agama Islam.

Betapa tidak, aturan sekularisme Turki melarang rakyatnya menggunakan tulisan Arab yang juga merupakan bahasa Alquran. Muslimah pun dilarang berjilbab saat bekerja di lembaga-lembaga negara. Kini, popularitas Ataturk tampaknya mulai meredup di kalangan rakyat Turki.

Kemenangan Partai Pembangunan dan Keadilan pada Pemilu 2002 dan 2007 merupakan bukti bahwa rakyat Turki kembali merindukan ajaran Islam kembali ditegakkan. Dua tahun silam, rakyat Turki memilih Abdullah Gul sebagai seorang presiden yang istrinya mengenakan jilbab dalam satu windu terakhir.

Kerinduan rakyat Turki atas kejayaan Kekhalifahan Turki Usmani juga dipandang sebagai kekecewaan atas upaya Uni Eropa yang menolak kehadiran negara dua benua itu sebagai anggotanya. "Kami orang Turki sudah capek diperlakukan Uni Eropa sebagai negara miskin dan terbelakang,'' papar Kerim Sarc, seorang pemilik toko Ottoman Empire T-Shirts. hri/taq

Nov
28th

SESUDAH DIPOTONG MAKIN BERCABANG | sebuah inspirasi perjuangan

Bismillahirrahmanirrahiim, Secarik kertas bertuliskan “Sesudah dipotong makin bercabang” menjadi buah goresan pena yang seringkali diselipkan dari balik dinding tahanan semasa Buya M Natsir menjalani Karantina Politik di Batu Malang pada tahun 1963. “Sesudah dipotong makin bercabang” boleh jadi adalah kalimat sederhana namun hakikatnya mengandung spirit yang luarbiasa. Saya pernah membaca Biografi KH Misbach, secara tidak langsung terungkap [...]
Nov
21st

Mayoritas Cendekiawan Muslim Tolak Teori Darwin

Files under , Dunia Islam | Leave a Comment

LONDON--Kepercayaan para mahasiswa dan akademisi Muslim di seluruh dunia terhadap teori evolusi Charles Darwin terus melemah. Mereka semakin tidak percaya dengan kebenaran teori tersebut. Bukti yang mendukung kebenaran teori evolus itu, juga mereka nilai sangat lemah.

Kenyataan itu terlihat dari penelitian yang dilakukan oleh Guru Besar Fisika dan Astronomi Universitas Sharjah, Uni Emirat Arab, Nidhal Guessoum. Menurut dia, hanya 15 persen dari responden yang dijadikan sasaran penelitiannya itu, yang mempercayai bahwa teori evolusi Darwin itu benar atau mungkin benar. Sementara 62 persen respondennya menyatakan bahwa teori Darwin tidak terbukti kebenarannya.

"Rata-rata tingkat penerimaan terhadap teori evolusi dan ide untuk mengajarkannya, sangat rendah," ujar dia seperti dikutip situs Daily Telegraph edisi Selasa (17/11). Menurut Guessoum, mereka tidak hanya menolak teorinya, tapi juga menolak pandangan evolusi Darwin diajarkan sebagai bagian dari kurikulum akademik. Di masa lalu, diakuinya, memang sebagian cendekiawan muslim masih mengambil cara pandang teori evolusi.

Dia memandang, saat ini situasinya berubah. Melalui arus informasi yang sangat deras, kata dia, para cendekiawan Muslim mulai menemukan pandangan teori penciptaan yang merupakan 'jawaban' dari teori evolusi.

Debat soal asal mula penciptaan ini terus memanas. Di Inggris, sebuah lembaga survei bernama Ipsos MORI, dengan sponsor British Council pernah melakukan jajak pendapat soal isu tersebut. Hasilnya, 54 persen responden menginginkan para pemuka Kristen untuk memberi peluang bagi diajarkannya teori asal mula kehidupan yang menjadi pembanding bagi teori Darwin, di sekolah, Hanya 21 persen responden yang menghendaki agar sekolah-sekolah hanya mengajarkan teori Darwin. irf

Nov
19th

Islam di Trinidad and Tobago Turut Menjaga Toleransi Beragama

Files under , Dunia Islam | Leave a Comment

Jumlah pemeluk Islam di Trinidad and Tobago hanya enam persen dari populasi negara sebanyak 1,2 juta orang.

Pemakaian jilbab semakin berkembang pesat di seluruh dunia. Tidak hanya di negara mayoritas Muslim, di negara-negara non-Muslim, seperti di Eropa atau Amerika, pemakaian jilbab pun populer. Tak terkecuali di Trinidad and Tobago, sebuah negara kecil di Kepulauan Karibia. Di negara tersebut, para Muslimah kian 'jatuh hati' dengan busana khas umat Islam ini.

Seiring dengan perkembangan zaman, semakin mudah menemukan pelajar, karyawati, atau ibu rumah tangga Muslim yang beraktivitas dengan menggunakan busana Muslimah. Mereka tak canggung lagi untuk mengenakan jilbab sekaligus berbaur dengan anggota masyarakat lain.

Seperti juga di banyak negara, mereka turut memerhatikan penampilan dan lantas memadupadankan jilbab dengan mode pakaian lain. Simak penuturan salah satu karyawati, ''Saya mengambil gaya pakaian terbaru dari majalah mode. Namun, saya membuatnya menjadi lebih Islami.''

Pada beberapa kesempatan, para gadis Muslim juga meniru mode busana Barat terkini. Namun, mereka mengenakan jilbab, kaos tangan panjang, atau membeli pakaian berukuran lebih besar (longgar) sesuai dengan tuntunan ajaran Islam untuk berpakaian secara sederhana, tetapi menyenangkan.

Dalam perjalanannya, jilbab tidak lagi dipandang sekadar simbol agama, melainkan sebagai identitas masyarakat, politik, dan kelas. Bahkan, lebih dari itu, para Muslimah melihatnya sebagai lambang yang menghubungkan mereka dengan warisan kebudayaan asal atau komunitas Islam secara global.

''Saat mengenakan jilbab, saya merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada Trinidad,'' ungkap seorang mahasiswi dari sebuah universitas di Trinidad and Tobago.

Fatima Jafri dalam Common Ground News Service memiliki analisis lain. Menurutnya, dengan mengenakan pakaian berciri khas tertentu, Muslimah Trinidad and Tobago sanggup mempertahankan lambang masyarakat dan agama mereka. Jilbab pun dikatakan berhasil menciptakan sebuah identitas yang berbeda dari budaya dan masyarakat Afro-Trinidad.

Peran dai
Sejak kapan tren ini muncul? Hal itu sangat terkait dengan peningkatan jumlah dai dan daiyah Muslim serta cendekiawan dari Pakistan, Arab Saudi, dan Iran. Demikian juga bertambahnya jumlah umat Muslim Trinidad and Tobago yang berhaji ke Makkah sejak awal 1990-an. ''Faktor-faktor itu memberi peluang meningkatnya pemakaian jilbab di kalangan Muslimah setempat,'' sambung Fatima.

Kini, jilbab telah menjadi cara paling nyata yang menunjukkan kaum perempuan Muslim sebagai pembawa tradisi di ruang publik. Satu aspek fundamental yang juga berkontribusi bagi peningkatan pemakai jilbab. Bahkan, dalam banyak tradisi Islam lainnya, itu adalah situasi dan kondisi di negara yang sangat kondusif bagi kehidupan beragama. Trinidad adalah negara di mana tradisi keagamaan dan kebudayaan diakui dan dihormati.

Praktik seperti ini telah menciptakan sebuah masyarakat yang terbuka dan penuh penerimaan, termasuk umat Muslim. Mereka dapat secara bebas mempraktikkan kebiasaan dan ritual agama yang diyakini.

Karena itulah, umat Muslim di Trinidad tidak dapat digolongkan dengan cap yang sama. Seperti banyak umat Muslim yang tinggal dalam masyarakat Barat, Muslim di Trinidad menciptakan identitas Muslim yang dinamis.

Jumlah umat Islam memang hanya sekitar enam persen dari populasi penduduk sebanyak 1,2 juta jiwa. Akan tetapi, mereka sangat solid dan merupakan kekuatan yang cukup berpengaruh dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik. Dua agama terbesar adalah Kristen (36 persen) dan Hindu (23 persen).

Dalam banyak hal, ada kesamaan antara Indonesia dan Trinidad and Tobago. Keduanya dikenal sebagai negara yang multietnis dengan perbedaan tradisi, budaya, dan agama di lingkup masyarakatnya.

Meski demikian, jarang ada gesekan antarwarga yang dipicu perbedaan tadi. Sebaliknya, mereka mampu menciptakan kondisi damai, toleransi, tenggang rasa, dan pembauran agama atau kebudayaan. Ini menjadi bagian keseharian dari masyarakat Trinidad.

Keragaman tersebut tak lepas dari sejarah negara pulau yang awalnya diduduki kekuatan-kekuatan besar Eropa. Bangsa Spanyol, Inggris, dan Prancis membawa perbudakan dan kuli kontrak dari wilayah-wilayah jajahan sebagai bagian kebijakan kolonialisme di kawasan tersebut.

Islam diyakini telah ada di Trinidad sejak abad ke-18, yakni ketika bangsa kolonial mendatangkan budak-budak atau tentara bayaran dari Afrika. Di antara mereka terdapat pula pemeluk agama Islam.

Akan tetapi, seperti dikemukakan Dr Nasser Mustapha, sosiolog dari Universitas Trinidad, komunitas Afrika Muslim justru tidak ditemukan lagi ketika negara ini telah menghapus perbudakan. ''Kalau masih ada, jumlahnya sangat tidak signifikan,'' katanya.

Pada periode itu, agama Islam lebih berkembang dalam masyarakat Muslim India Timur yang datang belakangan, tepatnya di awal abad ke-19. Kehadiran mereka di Karibia terutama dipekerjakan sebagai kuli kontrak. Umat Muslim asal India ini tiba dalam jumlah yang cukup banyak.

Dr Nasser mengungkapkan, saat sensus penduduk tahun 1901, diketahui jumlahnya hampir sama dengan persentase umat Islam yang ada di Uttar Pradesh dan Bihar, tempat asal mereka.

Para kuli asal India ini mempertahankan norma-norma gender patriakal tradisional dari tanah leluhur. Termasuk pula, kaum perempuannya yang bertanggung jawab dalam memelihara budaya India di rumah, yang membawa pada pembangunan identitas gender Muslim Indo-Trinidad berdasarkan berbagai tradisi kerja, keluarga, dan agama.

Festival Hosay
Dewasa ini, masyarakat multietnis Trinidad mendorong sebuah ruang kebudayaan unik untuk memadukan berbagai tradisi yang berbeda. Misalnya, upacara Muslim Ashoura yang memperingati wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW--Husain (yang merupakan asal usul nama festival yang disebut Hosay) dan Hasan--diperingati tidak hanya oleh umat Muslim, tetapi juga oleh banyak umat non-Muslim.

Penduduk dari berbagai etnis, termasuk umat Hindu, Creole, bangsa Afrika, dan Trinidad, berperan serta dalam kemeriahan Hosay. Tradisi ini sempat melambat setelah penguasa kolonial menjadi waspada terhadap kumpulan orang. Mereka melihat perayaan Hosay sebagai potensi pemberontakan sehingga melarang kegiatan itu.

Akhirnya, Hosay menjadi lambang pengasingan masyarakat dari semua etnis dan agama sebagai bentuk perlawanan terhadap hegemoni kolonial. Umat Muslim dan non-Muslim berperan serta dalam ritual berpuasa dan berbagai kegiatan penyucian.

Dengan keberagaman pengaruh serta faktor eksternal dan internal, warga Muslim Trinidad ikut mewarnai budaya lokal, mempertahankan, dan memperbarui identitas mereka. Identitas dan budaya dalam masyarakat ini terus bergerak dan berubah.


Menangkal Bahaya Pemurtadan

Di mana pun terdapat kawasan komunitas Muslim di Trinidad and Tobago. Di tempat-tempat tersebut, hampir selalu dijumpai bangunan masjid. Ya, masjid menjadi bagian penting dalam kehidupan keagamaan umat Islam setempat yang tak hanya berfungsi sebagai tempat peribadatan, tapi juga sarana penguatan akidah.

Aspek penguatan akidah memang sangat ditekankan. Bukan tanpa sebab, karena hal tersebut sangat berkaitan dengan sejarah kelam masa lalu yang juga berpotensi terjadi kembali di masa kini.

Kejadiannya bermula di pertengahan abad ke-20. Adalah para misionaris asal Kanada datang ke negara pulau itu untuk menyebarkan agama mereka kepada penduduk setempat.

Setelah beberapa waktu, mereka berhasil mengajak sejumlah warga untuk berpindah agama. Di antaranya adalah pemeluk Islam keturunan India. Kebanyakan mereka yang beralih agama adalah yang tinggal di kawasan yang jumlah umat Muslimnya tidak banyak. Meski begitu, tak ayal kejadian tersebut membuka mata umat Islam untuk waspada terhadap potensi ancaman pemurtadan.

Dari keterangan Dr Nasser Mustapha, sebelum kedatangan misionaris itu, warga Muslim hidup dengan tenang dan damai. Namun, kondisi itu segera berubah. Selain umat Islam, yang juga terancam dengan sepak terjang misionaris tadi adalah para pemeluk Hindu.

Seolah memiliki ancaman bersama, antara umat Islam dan Hindu memutuskan bersatu untuk menangkal bahaya itu. Maka, tutur Dr Nasser, kedua umat agama ini mendirikan sekolah Islam dan Hindu pada tahun 1940-an.

Upaya lain adalah mendatangkan tenaga dai dari India. Ini terjadi antara tahun 1941-1942. Salah satu yang terkenal adalah Amir Ali. Dia dikenal dengan metode pengajaran agama yang lebih modern.

''Secara jelas, muncul kekhawatiran kalangan muda Muslim akan bahaya pemurtadan dan mereka menginginkan penguatan bidang pendidikan agama. Selain itu, yang penting dilakukan adalah pembentukan organisasi Muslim,'' kata Dr Nasser.

Amir Ali kemudian mendirikan Trinidad Muslim League. Langkah strategis lainnya adalah semakin berkembangnya penerbitan terjemahan kitab suci Alquran dalam bahasa Inggris serta literatur-literatur agama untuk mendukung pendidikan agama Islam.

Hadir pula anggota Jamaah Tabligh, kelompok dakwah dari India yang melakukan kegiatannya di komunitas-komunitas Muslim. Mereka dengan cepat mampu meningkatkan kepedulian umat terhadap ancaman pemurtadan.

Berturut-turut, pada 1975, untuk pertama kalinya dibuka toko buku dan perpustakaan khusus Islam, namanya The Islamic Trust. Sarana ini sangat membantu para pelajar dan guru agama untuk memperoleh sumber-sumber literatur yang memperkuat bidang pendidikan.

Era 80-an, pendakwah dari Arab Saudi dan negara-negara Timur Tengah lainnya mulai berdatangan ke Trinidad atau kawasan Karibia. ''Kemajuan signifikan juga dicapai dalam pembangunan masjid di sejumlah wilayah. Kini, jumlah masjid di Trinidad mencapai 700-800 unit,'' jelas Dr Nasser lagi. sya/taq

Data:
Nama Negara: Trinidad and Tobago
Ibu Kota: Port of Spain
Merdeka: 1962
Penduduk: 1,2 juta jiwa
Pemeluk Agama: Islam (enam persen), Kristen (36 persen), dan Hindu (23 persen)

Okt
27th

Dua Juta Alquran Gratis untuk Jamaah Haji

Files under , Dunia Islam | Leave a Comment

Pemerintah Arab Saudi menyiapkan dua juta eksemplar Aquran untuk jamaah yang menunaikan ibadah haji tahun ini. Pembagian Alquran gratis tersebut merupakan bagian dari program menyebarluaskan Alquran yang dilakukan pemerintah Arab Saudi. Secara keseluruhan, 10 juta Alquran disebarkan ke seluruh dunia setiap tahunnya.

Sekretaris Daerah Kerja (Daker) Madinah, Mukholih Jimun, menjelaskan, jutaan Alquran itu dibagikan secara gratis oleh Kerajaan Arab Saudi melalui Komplek Percetakan Alquran Raja Fahd di Madinah Al-Munawwaroh. Percetakan ini kerap dijadikan sebagai salah satu lokasi tujuan ziarah (wisata spiritual) jamaah haji di Madinah.

“Untuk keperluan syiar Islam, Alquran yang dibagikan dicetak beserta terjemahannya ke dalam 53 bahasa dunia,” ujar Mukholih di Komplek Percetakan Alquran Raja Fahd, Madinah, Senin (26/10).

Dia menambahkan, di antara bahasa terjemahan Alquran yang dicetak di sana adalah bahasa Afrika seperti bahasa Zulu dan sebagainya, Arab, Indonesia, Thailand, Jepang, China, Inggris, Spanyol, Urdu, sejumlah bahasa Asia lainnya.

Percetakan yang dalam bahasa Arab bernama Mujamma’ Al-Malik Fahd Li Thiba’a al-Mushaf al-Syarif Madinah Al-Munawarah ini berada di bawah naungan Kementerian Urusan Agama Islam Kerajaan Arab Saudi.

Petugas publikasi Kompleks Malik Fahd, Syekh Ahmad, menjelaskan, kecuali membagikan Alquran versi cetak secara gratis, percetakan ini juga memproduksi cakram padat (CD, VCD, dan DVD) Alquran beserta film dokumentasi sejarah Alquran. “Tapi yang kita bagikan ke jamaah haji tahun ini hanya dua juta Alquran versi cetak,” imbuh Syeikh Ahmad.

Kecuali dibagikan kepada jamaah haji, pemerintah Arab Saudi juga membagikan Alquran melalui pengiriman langsung ke negara-negara yang terdapat komunitas Muslim. Untuk Indonesia, pembagian Alquran dilakukan melalui kerja sama dengan Departeman Agama dan sejumlah lembaga nirlaba seperti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia-Arab (LIPIA) dan sebagainya.

Selain Alquran, Syekh Ahmad melanjutkan, percetakan juga mencetak jurnal-jurnal kajian Alquran dan Hadis (Sunnah) Nabi Muhammad SAW guna penyebaran syiar Islam secara benar. Sejumlah jurnal sengaja diterbitkan untuk meluruskan pemahaman yang berkaitan dengan kesalahan memahami makna Alquran dan hadis. “Ada juga jurnal yang berisi kumpulan hasil seminar-seminar Alquran dan Hadis,” papar Syekh Ahmad.

Dia pun berharap, program menyebarkan Alquran dan jurnal kajian-kajian ilmiah keislaman mampu memberikan pandangan yang utuh terhadap Islam yang merupakan agama damai, rahmat bagi semua alam, dan agama yang menjunjung tinggi toleransi serta harmonika kehidupan. “Semoga Allah swt melapangkan dan memudahkan niat kita semua dalam menegakkan syariat Islam,” tandas Syekh Ahmad. ade/mch/taq

Okt
13th

Terjemah Alquran Berilustrasi dari California

Files under , Dunia Islam | Leave a Comment

SAN FRANSISCO--Dari semua hal, berselancar di dunia maya-lah yang membuat Sandow Birk mengenal Islam. Seniman California itu berkelana hingga ke Indonesia, India dan Maroko dan di tanah-tanah gersang gurun pasir demi ketertarikan dan keingintahuan Sandow berpusat pada agama yang dipraktekkan di sana. Ia mengunjungi masjid-masjid, hingga akhirnya mendapat satu kopi terjemah Al Qur'an.

Lalu datanglah serangan miris pada 11 September 2001 dan Sandow langsung menyadari bahwa Amerika hanya tahu sedikit tentang ajaran Al Qur'an. Ia pun memulai proyek pribadi, melukis seluruh 114 ayat, namun dalam cara yang tak seorang pun pernah lakukan.

Pelukis berusia 46 tahun itu, mengimajinasikan ulang pengungkapan diri Tuhan abad ke-7 kepada Rasul Muhammad dalam konteks kontemporer warga Amerika. Sandow mulai menyusun ayat-ayat dan menghubungkan setiapnya ke hal-hal yang ia tahu paling baik.

Sejauh ini, ia telah menyelesaikan 60 ayat. "Al Qur'an Amerika, kini tengah dipajang di dua galeri California. "Tujuannya sederhana, untuk membuat teks-teks didalamnya lebih akrab," ungkap dia mengutarakan niatnya.

Jadilah, pembuka Al Qur'an, surat Al Fatihah dengan tujuh ayat yang berisi meminta petunjuk Allah, kerap ditemukan di rumah-rumah Muslim, dibingkai dengan bentuk-bentuk timur tengah yang bila didekati dan dicermati seksama menampilkan benda-benda esensial kehidupan rumah tangga Amerika--,garpu, gelas, tangga, pengocok telur, sikat gigi.

Sementara untuk mengilustrasikan sebuah ayat yang berbicara secara metafora tentang unta-unta bertenaga besar yang berlari, Sandow menggambar balapan mobil barang. "Lagi pula, bagaimana warga Amerika berhubungan dengan unta?"

Warna-warna merah, putih dan biru dari konvensi politik menjadi teman ayat-ayat yang menggambarkan kemunafikan. Pemandangan lain terpusat di kantor-kantor, wilayah suburban dan rumah makan sushi. Mereka menggambarkan pemakaman, pernikahan dan liburan.

Lalu masuk ke surat ke-44, Ad Dukhaan, (kabut) pada ayat ke-10 dan ke-11 "Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata,yang meliputi manusia. Inilah azab yang pedih"

Sandow pun memencet tombol berdasar intepretasinya: sebuah altar berlatar pemandangan sebuah jalan Manhattan, asap membumbung dari World Trade Center. "Saya tahu saya akan membawa tragedi WTC masuk. Kalau tidak, proyek ini tidak akan terasa sakral," aku Sandow.

"Itu adalah hal penting dalam pemahaman Islam untuk Amerika," imbuh dia.

Pemilik galeri di San Fransico, Catharine Clark menyadari, panel lukisan Surat ke-44 memiliki potensi besar untuk dihujat. Ia mengatakan khawatir terhadap reaksi lukisan tersebut, namun mengatakan ia menilai tidak ada kelicikan tersembunyi dalam niat Sandow.

"Itu lukisan yang menyulitkan," ujar dia. "Namun ia tak bermaksud membuat kesal siapa pun,"

Sandow mengaku ia bukanlah orang yang sangat taat agama. Hanya saja ia memiliki reputasi besar menangani proyek-proyek epik, termasuk karya yang mengeksplorasi perang Irak dan Divine Comedy karya Dante.

Catharine menuturkan beberapa blog Kristen menuding seniman terlalu lunak terhadap Islam. Sementara reaksi Muslim terhadap karya terakhirnya beragam.

Setengah lukisan "Al Qur'an Amerika" ada di galeri milik Catharin. Sementara 30 ayat lain dipajang di galeri Koplin del Rio, di Culver City. Namun sejumlah pengamat berkomentar tidak dalam nada baik.

Usman Madha, juru bicara dari Masjid King Fahad, masjid terbesar di Los Angeles County mengatakan ia melihat hasil karya Sandow tanpa sengaja. Saat menyaksikan, ia mengaku bahkan tak bisa membaca judulnya.

"Al Qur'an Amerika sangat selip," ujar Usman. "Tidak ada hal semacam Al Qur'an Amerika, seperti tak mungkin ada Al Qur'an Eropa atau Al Qur'an Asia atau Al Qur'an Timur Tengah. Hanya ada satu, Al Qur'an," tegas dia.

"Saya sedih," imbuh Usman. "Karya itu memberi impresi salah,"

Usman bukan tak mendengar reputasi Sandow. Ia pun menyatakan memahami niat baik sang seniman dan menghormati kebebasan berekspresi. Namun ia tidak dapat menerima gagasan Al Qur'an berilustrasi. Hal itu, ungkap dia, menentang dasar agamanya.

"Dalam Islam, kami tidak mengenal gambar. Itu memicu kultus dan itu yang kami hindari," ujar Usman.

Sandow, bagaimanapun, tidak berencana mengesampingkan proyek Al Qur'an pribadinya.

Ia berharap menyelesaikan seluruh 114 ayat pada 2011 nanti, dengan menyalin setiap ayat dari Al Qur'an terjemahan berbahasa Inggris, 1861, dengan tangan dan melukis dengan metoda gouche (menggambar menggunakan warna transparan di atas kertas basah dan ditebali dengan material mirip lem) pada kertas berukuran 16 x 24 inchi. (40 x 60 centi meter)

Ia mengatakan panel-panel lukisannya bukanlah ilustrasi harafiah melainkan meditasi pribadinya yang kental terhadap pesan-pesan Al Qur'an. Itu cara Sandow, membuat warga Amerika mengakui bahwa teks-teks islam tidak lebih unik, puitis, keras atau indah dibanding teks-teks agama lain.

Sandow menekankan, Al Qur'an pun mengabarkan kisah seperti dalam Injil. Mungkin itu pesan yang diharapkan orang dari ulama, pecinta damai, bahkan teologian, namun tidak perlu dari seorang pria peselancar dunia maya dari California. cnn/itz

Okt
7th

Al-Azhar: Cadar Bukan Ajaran Islam

Files under , Dunia Islam | 1 Comment

KAIRO--Pimpinan Al-Azhar, institusi pendidikan tertinggi di dunia Sunni, telah memerintahkan para siswi untuk melepas niqab (cadar) selama kunjungan mereka ke sekolah Al-Azhar dan akan membuat larangan resmi pemakaian penutup wajah (cadar) di sekolah-sekolah. Demikian dilaporkan surat kabar Al-Masri Al-Youm pada hari Senin (5/10).

"Kenapa kamu mengenakan cadar ketika duduk di kelas sementara semua temanmu wanita?" tanya Imam Besar Al-Azhar, Syekh Mohamed Sayyid Tantawi, kepada seorang siswi kelas 8.

Gadis muda itu terkejut dengan pertanyaan yang datang dari ulama pimpinan Al-Azhar tersebut. Seorang guru berusaha untuk menjelaskannya. "Dia melepaskan niqabnya di dalam kelas, tetapi ia hanya memakainya di saat Anda masuk dengan rombongan Anda."

Namun Syekh Tantawi tidak puas dan bersikeras bahwa gadis muda tersebut harus melepas cadar yang menutup wajahnya. "Niqab adalah sebuah tradisi dan tidak ada hubungannya dengan Islam."

Setelah gadis itu menuruti perintahnya untuk membuka niqab, Syekh Tantawi kemudian meminta supaya gadis tersebut tidak memakainya lagi. "Saya berkata kepadamu lagi bahwa niqab itu tidak ada hubungannya dengan Islam dan hanya sekadar kebiasaan. Saya memahami agama lebih baik daripada kamu dan orang tuamu."

Sebagian besar perempuan Muslim di Mesir mengenakan jilbab, yang merupakan aturan wajib berpakaian dalam Islam. Namun fenomena makin maraknya wanita mengenakan cadar rupanya telah menggelisahkan pemerintah dan beberapa kalangan intelektual Al-Azhar.

Kementerian pelayanan wakaf dan agama baru-baru ini telah menyebar buklet di masjid-masjid yang berisi penentangan terhadap praktik penggunaan cadar. Mayoritas ulama Islam pun meyakini bahwa seorang wanita tidak wajib untuk menutupi wajah atau tangannya. Mereka percaya bahwa hal tersebut merupakan hak setiap wanita untuk memutuskan apakah akan menutup wajah dengan cadar atau tidak.

Imam Besar Al-Azhar berjanji untuk mengeluarkan larangan terhadap cadar di semua sekolah yang terkait dengan Al-Azhar. "Saya berniat untuk mengeluarkan peraturan yang melarang niqab di sekolah-sekolah Al-Azhar. Tidak ada siswa atau guru yang akan diizinkan masuk ke sekolah dengan mengenakan niqab," kata Syekh Tantawi.

Didirikan pada tahun 359 H (971 M), Masjid Al-Azhar menarik cendekiawan dari dunia Muslim dan tumbuh menjadi sebuah universitas ternama dan terpandang di seluruh penjuru dunia. Universitas Al-Azhar telah menjadi kiblat ilmu agama Islam selama berabad-abad. Kelas pertama di Al-Azhar diberikan pada tahun 975 M dan kampus pertama dibangun 13 tahun kemudian.

Al-Azhar pertama kali menerima kehadiran murid wanita pada tahun 1961, namun ditempatkan dalam kelas terpisah hingga sekarang. Di tahun yang sama, subyek-subyek tentang teknik dan kedokteran mulai ditambahkan pada kelas-kelas syariah, Alquran, dan bahasa Arab. iol/taq


Okt
5th

Kritik Kebijakan Raja, Ulama Saudi Dipecat

Files under , Dunia Islam | 1 Comment

RIYADH--Raja Arab Saudi Abdullah memecat seorang ulama garis keras dari Majelis Ulama Senior, yang tangguh, Senin, setelah ia mengritik kebijakan terobosan yang mencampur mahasiswa dan mahasiswi di universitas baru yang dipromosikan oleh raja.

Syekh Sa'ad Ash-Shathry dipecat dari badan tinggi tokoh agama itu, yang menetapkan kebijakan agama di Kerajaan Islam tersebut, melalui instruksi Raja, demikian laporan kantor berita resmi Arab Saudi, SPA.

Tak ada alasan yang diberikan, tapi instruksi itu dikeluarkan segera setelah komentar Ash-Shathry melalui televisi satu pekan sebelumnya. Ia mengeritik praktek pencampuran mahasiswa dan mahasiswi di King Abdullah University of Science and Technology, yang baru didirikan dan diresmikan pada 23 September.

Universitas bertaraf internasional untuk jenjang pasca-sarjana, yang menelan biaya tujuh juta dolar AS, adalah lembaga pendidikan negeri pertama di Arab Saudi yang mengizinkan laki-laki dan perempuan berbaur secara bebas.

Dalam satu wawancara yang disiarkan televisi, Ash-Shathry menyebut pembauran tersebut sebagai "kejahatan" dan "dosa besar", sehingga menyulut kemunduran yang sangat besar dari kemajuan di media Arab Saudi.

Berdasarkan sistem ajaran aliran ultra-konservatif Wahhabi di Arab Saudi, perempuan dilarang berbaur dengan pria di luar keluarga mereka sendiri, tak dapat bepergian secara bebas dan tak diizinkan mengemudikan kendaraan.

Universitas baru itu, yang terletak di kota tepi Laut Merah di bagian utara Arab Saudi, Jeddah, adalah bagian dari visi Raja Abdullah untuk memperkuat negaranya memasuki jajaran global penelitian ilmiah maju.

Namun satu sasaran yang tak diungkapkan oleh Raja, menurut sebagian pejabat Arab Saudi, ialah untuk menerobos pembatasan terhadap perempuan yang diberlakukan oleh para pemuka agama di negeri tersebut. ant/taq

Sep
8th

Pemerintah Turki Buka Kelas Tahfidzul Qur’an

Files under , Dunia Islam | Leave a Comment

Pemerintahan Turki baru-baru ini membuka kelas-kelas belajar, mengaji, sekaligus hafalan al-Qur'an untuk anak- anak negerinya yang tengah menjalani liburan tahunan musim panas. Kebijakan pemerintah untuk membuka kelas-kelas tersebut terbilang baru.

Kelas-kelas ini dibuka secara gratis, dan dikelola oleh para profesional dan guru-guru al-Qur'an terbaik. Selain itu, kelas-kelas ini pun tak hanya dibuka di kota tertentu saja, melainkan di hampir seluruh provinsi-provinsi Turki, mulai dari Aegean di Eropa hingga Diyarbakar di wilayah timur. Tak pelak, masyarakat Turki yang mayoritas Muslim pun menyambut baik kebijakan ini, dan berbondong-bondong memasukkan anak- anak mereka ke kelas-kelas qur'ani tersebut.

Kebijakan ini tak lepas dari peran pemerintahan Turki yang dikuasai oleh AKP (Partai Keadilan dan Pembangunan) dengan PM-nya Recep Tayep Erdogan dan Presidennya Abdullah Gul.

Sejak masa kekausaannya, partai berhaluan Islam moderat ini menampakkan komitmen dan kesungguhannya untuk menjaga tradisi dan nilai-nilai Islami, sekaligus memajukan Turki dari segala bidang, seolah tak mau kalah oleh tetangga mereka: Eropa.

Kelas-kelas tersebut nantinya akan dibawahi oleh Dewan Fatwa Turki sekaligus Lembaga Amal dan Wakaf Turki yang mendapat dukungan penuh dari Kepala Badan Keagamaan Turki.

Selain itu, untuk menambah kesuksesan program al-Qur'an ini, pemerintahan Turki juga akan memberikan penghargaan kepada kelas-kelas dan madrasah-madrasah yang dapat menyelanggarakan program ini dengan baik.

Dengan dibukanya kelas-kelas al-Qur'an tersebut, semoga kecintaan masyarakat Turki terhadap al-Qur'an kian meningkat, dan dapat mengamalkan ajaran-ajaran luhur dan mulianya dalam kehidupan sehari-hari. (L2/db)

Sep
7th

Tantangan Puasa di Negeri Sakura

Files under , Dunia Islam | Leave a Comment

Foto: Para pengurus Islamic centre Jepang musyawarah.
Banyak pengalaman yang bisa dipetik dari menjalankan ibadah puasa Ramadhan di negara ateis, seperti Jepang. Dari lama puasa di musim panas yang mencapai 14,5 jam sampai susahnya mencari tempat untuk shalat tarawih berjamaah.

Seperti yang dialami Megasari Pusparini, wanita asal Bantul, Jawa Tengah, yang telah delapan tahun tinggal di negeri matahari terbit itu. Tahun pertama hingga keempat, ia habiskan di sebuah kota kecil di Pulau Kyushu, Beppu. ''Karena waktu itu masih kuliah, saya banyak berkumpul dengan teman-teman kampus saya,'' kata wanita lulusan Ritsumeikan Asia Pacific University (APU) itu.

Ia menjalankan ibadah puasa bersama dengan Muslim dan Muslimah dari berbagai negara, karena di APU terdapat mahasiswa-mahasiswi dari 78 negara di dunia, baik dari Eropa, Amerika, dan Afrika. Mega pun menjalankan puasa dengan gembira.

''Apalagi, teman-teman dari Jepang yang non-Muslim sering ikut dalam acara-acara Ramadhan. Biasanya mereka ingin tahu mengenai kegiatan-kegiatan tersebut,'' katanya.

Seringkali Mega ditanyai oleh teman-teman dari Jepang tentang puasa dan Islam. ''Rasanya senang bisa mengenalkan Islam kepada mereka. Kenapa kita harus shalat, kenapa harus puasa, kenapa dilarang makan babi, kenapa memakai jilbab, dan masih banyak kenapa yang lain lagi,'' ungkapnya.

Meskipun demikian, hambatan yang dijumpai juga tidak ringan. Misalnya, sangat sulit menjumpai tempat untuk shalat tarawih. Oleh karena itu, Mega kini tinggal di Osaka. Di sini, bersama dengan teman-teman komunitas Muslimnya, harus mengadakan shalat tarawih sendiri.

Dikejar polisi
Pada saat pertama kali Mega datang ke Jepang, tahun 2002, berdekatan dengan peristiwa serangan teroris 11 September di WTC, New York (AS). Islam menjadi kambing hitam dan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan agama ini sangat diawasi hingga ke Jepang.

Ia pun terpaksa bergerilya ketika hendak beribadah di kampus. Mega mengaku shalat di tempat-tempat semacam emergency exit, di kelas kosong, di tangga, di kamar ganti toilet, atau di perpustakaan. ''Kadang-kadang shalatnya sambil deg-degan,'' katanya.

Bahkan, pernah suatu kali terjadi peristiwa yang membuatnya sedih. Yaitu, saat dirinya ketahuan shalat di perpustakaan. Petugas perpustakaan mengusirnya dengan mengatakan: ''Tidak ada tempat shalat baginya di kampus.''

Selama kuliah, ia memang tidak pernah ketahuan kala menjalankan shalat di kampus. Suatu kali ia juga pernah dikejar-kejar polisi ketika pulang dari shalat tarawih di kampusnya.

''Waktu itu, kegiatan keagamaan dilarang di kampus sehingga kami sering kucing-kucingan dengan para aparat setempat,'' ungkap Mega.

Masalah cuaca juga menjadi hambatan bagi dirinya dalam menjalankan puasa. Tahun ini, bulan Ramadhan di Jepang jatuh pada musim panas sehingga lama puasa adalah 14,5 jam. Namun, Mega mengaku telah terbiasa dengan keadaan tersebut. Begitu juga, dengan makanan halal yang selama hari-hari biasa saja sudah susah dijumpai di Jepang.

Mega, yang tahun depan akan kembali ke Indonesia, berpesan kepada orang-orang yang sedang atau hendak menjalankan Ramadhan di Jepang, agar menikmati saja segala tantangan yang ada. Ia juga mengimbau agar lebih banyak berkumpul dengan komunitas Muslim terdekat.

''Hambatan yang ada Insya Allah akan membuat semuanya lebih indah. Mungkin Allah memang sedang menggembleng kita menjadi Muslim dan Muslimah yang lebih tangguh,'' tutur Mega. nan/taq

Sep
4th

Ramadhan ala Makkah di Masjid London

Files under , Dunia Islam | Leave a Comment

Ramadhan adalah bulan yang paling ditunggu-tunggu oleh umat Islam di seluruh dunia. Selama bulan suci ini, masjid menjadi pusat perhatian dan kegiatan bagi umat Islam dari berbagai negara.

Salah seorang Muslim yang selalu menunggu kedatangan Ramadhan adalah Abu Burhan Ed-din (63 tahun), pria asal Irak yang tinggal di London. Ia mengaku setiap kali dia merindukan roh suci bulan Ramadhan di Makkah, di mana umat Islam dari seluruh dunia berkumpul di satu tempat. Namun, karena tidak bisa ke Masjidil Haram di Makkah, ia pun memilih mendatangi Masjid Sentral di London yang dikenal pula sebagai The London Central Mosque atau Islamic Cultural Centre (ICC) yang berlokasi di dekat stasiun Marylebone. ''Saya senang shalat di masjid ini, di mana saya merasa seperti berada di Makkah dan Madinah,'' ujarnya seperti dikutip Islam Online.

Selama bulan suci, masjid tersebut juga dikenal sebagai Regent's Park Mosque. Masjid ini juga menjadi pusat perhatian bagi umat Islam dari berbagai negara yang tinggal di Britania.

Umat Muslim seluruh dunia berduyun-duyun ke masjid yang berada di jantung ujung timur London ini. Mereka datang untuk menikmati spiritualitas yang unik. Mereka juga ingin menikmati wangi sekilas Ramadhan di tempat-tempat suci di Arab Saudi.

Dalam setiap doa, ribuan umat Islam berkumpul di bawah masjid kubah emas yang berkilau itu. ''Masjid ini menarik perhatian kebangsaan yang berbeda sepanjang bulan Ramadhan,'' ujar Burhan.

Ayman Mohamed Ali, 23 tahun, seorang warga Yaman, mengatakan hal senada. Selama bulan Ramadhan, acara-acara Ramadhan di Regent's Park Mosque ini sangat menarik perhatian kaum muda dari semua bangsa. ''Anak muda Muslim menjadi lebih bersemangat untuk menghadiri shalat di masjid selama bulan suci,'' kata Ali.

Ia menambahkan, di masjid itu ia bisa bertemu dengan teman-temannya sesama Muslim dari berbagai negara. ''Saya merasa kesempatan yang sangat istimewa untuk bertemu teman-teman dari Libya dan Arab Saudi.''

Ciri khas London
Masjid itu telah menjadi ciri akrab London skyline sejak didirikan pada 1944. Masjid ini merupakan pusat pelayanan bagi Muslim, di samping doa-doa sehari-hari menawarkan berbagai layanan lainnya.

Bahkan, sebelum kedatangan bulan Ramadhan, masjid ini pun penuh dengan jamaah. Mohamed Hussein dari Irak, mengatakan, ia berkumpul di masjid tersebut setiap minggu sebelum Ramadhan. ''Saya tidak pernah ketinggalan shalat di masjid itu setiap bulan, dan menammatkan Alquran setidaknya tiga kali,'' ujarnya.

Masjid tersebut menawarkan jamaah iftar dan sahur sepanjang bulan suci. Setelah panggilan untuk Shalat Maghrib bergema dari menara masjid yang menjulang, banyak pemuda Muslim berkeliaran di masjid untuk menawarkan hidangan berbuka dan buah-buahan untuk para jamaah.

Selain itu, Idris, jamaah dari Maroko, mengatakan ia lebih suka berbuka puasa di Regent's Park Mosque karena masjid itu merupakan tempat di mana orang banyak berdoa di sana dan Tarawih malam. ''Ini adalah satu-satunya cara untuk mencari suatu pijakan di masjid,'' katanya.

Ia mengaku sangat senang berbagi suasana Ramadhan yang luar biasa dengan sesama Muslim. ''Itu membuat saya ingin Ramadhan adalah sepanjang tahun.''
Ramadhan adalah bulan yang paling suci dalam kalender Islam. Pada bulan ini, Muslim dewasa, berpantang dari makanan, minuman, merokok, dan seks sejak matahari terbit hingga terbenam.

Umumnya para Muslim di London dan juga di dunia mendedikasikan waktu mereka selama bulan suci menjadi lebih dekat kepada Allah melalui pengendalian diri, perbuatan baik, dan doa. she/taq

Agu
10th

Quthb Bertanggung Jawab atas Berkembangnya Islam Radikal

Files under , Dunia Islam | Leave a Comment

Ketua persatuan ulama Muslim internasional, Syekh Yusuf al-Qardhawi, menyatakan pemikiran takfir (pengkafiran pada muslim lain) dalam kitab-kitab Sayyid Quthb sama sekali tidak mencerminkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang dianut mayoritas umat Islam di dunia. Pemikiran ini, tambah Qardhawi, juga tidak mencerminkan pemikiran gerakan al-Ikhwan al-Muslimin, karena pemikiran takfir sama sekali tidak selaras dengan pemikiran Ikhwan al-Muslimin.

Pernyataan Qardhawi ini disampaikan dalam dialog dengan Dr. Dhia Rishwan, peneliti gerakan Islam terkemuka asal Mesir, dalam program acara televisi "Manabir wa Madafi" (Mimbar dan Debat) yang disiarkan oleh kanal al-Fara'in Mesir pada Jumat (7/8), sebagaimana dilansir IslamOnline.net.

Dari Moderat ke Konservatif

Menurut Qardhawi, Sayyid Quthb bergabung dan aktif di organisasi Ikhwan al-Muslimin sejak awal tahun 50-an atas dasar ketertarikan dan kekagumanya pada Ikhwan. Pada mulanya, Quthb berpemikiran moderat dan selaras dengan Ikhwan, namun lama kelamaan, Quthb berubah menjadi lebih konserfatif. Perubahan ini terjadi pada akhir-akhir masa hidupnya, khususnya dalam kitab tafsir Fi Dzilal al-Qur'an (Dalam Naungan Alquran) dan kitab Ma'alim fi at-Thariq (Rambu-Rambu Jalan). Perubahan ini juga sangat jelas ketika kita bandingkan Dzilal cetakan pertama dan cetekan keduanya, pada cetakan kedua lah mulai muncul pemikiran hakimiyah (masyarakat hukum) dan jahilyah (masyarakat jahiliyah.

"Ahlussunnah tidak pernah condong kepada takfir, tidak sebagaimana yang sering dilakukan oleh sekte Khawarij," jelas Qardhawi.

Pemikiran takfir tersebut, lanjut Qardhawi, berkembang ketika ia mendekam di penjara. Kondisi ini cukup memengaruhi pemikiranya. Quthb menganggap pemerintah yang ada sebagai komunis dan jauh dari agama.

Meski demikian, jika saja Sayyid Quthb saat itu tidak digantung (pada 29 Agustus 1966) dan diberi kesempatan untuk hidup normal (tidak dalam tekanan politik) dan berbaur dengan masyarakat, kemungkinan pemikiran Quthb akan berubah dan kembali lagi kepada pemikiran moderat.

Quthb dan Pendidikan Ikhwan

Menurut Qardhawi, Sayyid Quthb merupakan salah seorang yang sangat mengagumi sosok Imam Hasan al-Banna, pendiri Ikhwan. Atas ketertarikan ini, Quthb pun menulis buku berjudul Hasan al-Banna wa 'Abqariyyah al-Banna (Hasan al-Banna dan Kejeniusan Seorang Pendiri).

Meski demikian, pada perjalanan selanjutnya, masih menurut Qardhawi, Quthb lebih dipengaruhi oleh pemikiran Abul A'la al-Mawdudi, tokoh Islam sezamannya dari Pakistan.

Namun menurut Qardhawi pemikiran takfir dan tajhil (menganggap masyarakat Islam saat ini adalah jahiliyyah) sangat berbeda dengan pemikiran Mawdudi sendiri.

"Pemikiran Quthb lebih kepada pencampuran antara Ikhwan, Salafi, dan Jihadi," jelas Qadhawi.

"Sayyid Quthb adalah sastrawan, pemikir, cendikiawan, penafsir, dan tokoh Islam terbesar pada masanya," terang Qardhawi. Namun, tambah Qardhawi, Quthb adalah orang yang paling bertanggung jawab atas berkembangnya aliran pemikiran radikal yang sekarang marak di kalangan sebagian umat Islam. iol/taq