Archive for the ‘Dunia Islam’ Category

Berhaji Gratis untuk Keluarga Syuhada dan Tawanan Palestina


REPUBLIKA.CO.ID, GAZA--Departemen urusan tawanan dan mantan tawanan di Jalur Gaza, Amer Ghasin meminta keluarga tawanan yang anggota keluarganya sudah mendekam dalam penjara Israel lebih dari 10 tahun untuk menghadap ke kantor departemen agar didaftarkan menjadi calon haji tahun ini. Pihaknya akan mulai menerima pendaftaran haji bagi keluarga tawanan yang mendapat undangan khusus dari khadimul haramain, Raja Abdullah bin Abdul Aziz.

Tahun ini Raja Abdullah akan mengundang 2000 jamaah haji dari kalangan keluarga syuhada dan tawanan dari Tepi Barat maupun Jalur Gaza untuk berhaji secara cuma-cuma. Ghasin mengatakan, yang akan menjadi prioritas utama berangkat ibadah haji adalah mereka yang anggota keluarganya telah mendekam dalam penjara Israel lebih dari 10 tahun.

Para mantan tawanan wanita yang telah ditahan lebih dari tiga tahun dalam penjara Israel juga diprioritaskan untuk mendapatkan fasilitas berhaji secara gratis. Dalam pada itu, Ghasin mengucapkan terima kasihnya tiada terhingga pada kerajaan Arab Saudi atas empati kerajaan itu terhadap penderitaan rakyat Palestina akibat blokade.

Tarawih dengan Langit Terang di Alaska


By Republika

Terletak paling utara benua Amerika dan lebih dekat dengan benua Artik membuat Alaska identik dengan musim dingin berkepanjangan. Namun, dibalik dinginnya Alaska tersimpan satu hal yang begitu menghangatkan yakni keberadaan komunitas muslim di kawasan itu. Jumlahnya memang tidak banyak, tapi cukup menggambarkan betapa Islam mulai diterima dan diakui.

Berbeda dengan saudara-saudaranya dibelahan dunia lain, komunitas muslim di Alaska memiliki perbedaan yang unik saat melaksanakan kewajibannya sebagai muslim. Khusus bulan ramadhan misalnya, muslim di Alaska melakukan sholat tarawih pada saat matahari masih bersinar terang, karena jarak antara matahari terbit dan terbenam sangat panjang pada musim panas.

Dua Muslimah Indonesia, Amalia dan Nila, yang menetap di Anchorage, Alaska, menuturkan tantangan berpuasa di kawasan kutub itu, yakni kejanggalan alam sewaktu bertarawih dan bagaimana mendidik anak untuk menjalankan puasa di tengah lingkungan masyarakat yang mayoritas non-Muslim.

Amalia baru saja pindah dari Las Vegas ke Anchorage, Alaska, dan puasa tahun ini merupakan yang kedua bagi dia dan keluarga. Awalnya, Amalia merasa janggal bertarawih di 'siang bolong'.

“Langit masih terang-terang kita udah bersolat Isya, karena faktanya memang begitu. Tetapi, kalau menunggu matahari benar-benar tenggelam nggak kuat juga walaupun sejuk karena terlalu lama, lebih dari 14 jam,“ ungkapnya seperti dikutip dari voanews.com, Senin, (23/8).

Nila menuturkan pengalaman lain. Dia mengasuh bayinya yang baru lahir dan pada saat yang sama mendidik anaknya yang berusia lima tahun untuk berpuasa. “Memang sih susah di sini. Tetapi saya enjoy tiap tahun bersama anak saya yang pertama. Selalu saya bilang, kalau kamu puasa kamu dapat hadiah. Saya juga memiliki anak bayi, dia juga ikut bangun, tetapi saya tidak merasa terlalu repot. Saya tidak merasa capek atau malas untuk bangun,”kata Nila.

Amalia dan Nila mengatakan, warga Muslim Indonesia di Alaska sudah diberitahu oleh sebuah lembaga Islam di Amerika agar mereka mengikuti jadwal puasa yang ditetapkan Mekah.

voanews.com, Agung Sasongko, Ajeng Ritzki Pitakasari

Palestina Kutuk Israel Karena Bongkar Masjid


Ramallah (ANTARA News) - Pemerintah Otonomi Nasional Palestina (PNA), Senin, mengutuk keputusan Israel untuk membongkar dua masjid yang baru dibangun di Tepi Barat Sungai Jordan, dengan dalih kedua tempat ibadah itu "dibangun tanpa izin".

Menteri Urusan Agama Mahmoud Al-Bahash mengatakan kepada radio Voice of Palestina bahwa keputusan Israel untuk membongkar dua masjid di dea Burin, dekat Nablus, dan al-Jalazoon di dekat Ramallah adalah provokatif dan tidak sah.

Israel tak memiliki hak untuk mencampuri urusan pembangunan masjid, itu adalah hak umat Muslim, kata al-Habash. Ditambahkannya, keputusan tersebut akan memiliki dampak negatif.

"Israel melakukan langkah provokatif sepihak untuk menghalangi upaya melanjutkan proses perdamaian dan mencapai kesepakatan perdamaian permanen dengan Palestina," kata al-Habash.

Israel dan Palestina sebelumnya telah menerima baik undangan AS untuk menghadiri pertemuan di Washington pada 2 September guna melanjutkan pembicaraan perdamaian langsung untuk mencapai kesepakatan perdamaian permanen dalam waktu satu tahun.

PNA melakukan kontak intensif dengan masyarakat internasional dan mengajukan penjelasan tentang tindakan provokatif Israel terhadap rakyat Palestina di Tepi Barat, kata al-Habash.
(C003/A011)

Proyek Raksasa Masjidil Haram Jalan Terus


Jeddah–Operasi wajah Masjidil Haram sudah mulai kelihatan hasilnya. Wajah rumah Allah itu sudah bisa dilihat dari jalan raya. Pasar Seng yang dulu menutup kecantikan masjid, kini sudah tak ada bekasnya. Areal perluasan yang sudah kosong itu kira-kira tiga kali lipat dari halaman aslinya.

Operasi tahap pertama di sebelah timur masjid itu boleh dikatakan selesai total. Kini yang masih terus dilakukan adalah menghancurkan bangunan serta bukit di sebelah utara dan barat. Meskipun Masjidil Haram sudah dipenuhi sekitar 1,5 juta jemaa haji, pekerjaan tak terpengaruh. Truk-truk besar hilir mudik mengangkut bongkahan-bongkahan batu gunung yang dihancurkan.

Di sebelah barat nanti ada proyek superblock Jabal Umar. Proyek ini akan menyatu dengan proyek Jabal Khandama di sebelahnya.Sebagaimana juga proyek Jabal Omar, superblock Jabal Khandama akan berupa bangunan-bangunan apartemen pencakar langit, hotel bintang lima, dan mal.

Istana raja yang ada di Jabal Kubis tampaknya dipertahankan. Bangunan yang relatif baru itu sudah menempl di Msjdil Haram. Istana ini dipergunakan dipergunakan keluarga kerajaan bila ingin ke Masjidil Haram.

Di sebelah utara masjid ada sekitar seribu rumah dan hotel yang dirobohkan. Lokasi ini meilputi wilayah Jabal Syamiya. Untuk memindahkan mereka, pemerintah Arab Saudi mengeluarkan biaya tak kurang dari SR 6 miliar (sekitar 16 triliun). Pemilik bangunan harus menerima keputusan tanpa syarat. Di situ sudah tidak ada satu pun bangunan yang berdiri.

Sebagai perluasan Masjidil Haram tanah bekas bangunan itu harus dikeruk hingga sejajar dengan masjid. Bahkan, harus digali hingga beberapa lantai untuk memancangkan tiang. Pekerjaan inilah yang membutuhkan waktu paling lama. Sudah setahun ini belum juga kelar. Penggusuran rumahnya sendiri hanya memakan waktu beberapa bulan. Tentu dengan peralatan yang serba canggih. Hotel-hotel besar dihancurkan dengan dinamit.

Yang membutuhkan waktu lama justru pengerukan tanahnya. Itulah bukit batu yang sangat keras. Nyaris seluruh bangunan semula berdiri di atas sebuah batu besar. Kini batu itu harus disingkirkan. Untuk menghancurkannya tidak cukup menggunakan satu dua dinamit. Sebelum jemaah haji datang, hampir setiap hari terdengar ledakan-ledakan bom. Sekarang ledakan itu sudah berhenti. Yang dilakukan tinggal menyingkirkan bongkahan batu-batu besar tersebut.

Membuang batu-batu tersebut juga tidak mudah. Bukan hanya Jabal Khandama dan Jabal Umar di sekita Masjidil Haram yang dihancurkan. Bukit-bikit lainnya pun dipotong untuk rumah-rumah flat baru. Sementara itu, kota Makkah sudah tidak ada lagi tanah datar. Maka bongkahan-bongkahan gunung harus diangkut ke luar kota. Material itu dibuang ke celah-celah bukit.

Hiruk pikuk alat-alat berat tak mengganggu jemaah yang sedang beribadah di Masjidil Haram. Pelaksana proyek sekarang lebih pintar. Setiap kali dilakukan pengerukan selalu disertai penyemprotan dengan air. Sehingga debu tak lagi beterbangan ke masjid.

Jabal Umar di sebelah barat daya Masjidil Haram juga tak luput dari penghancuran. Upaya ini diharapkan bisa menghasilkan ntanah datar 23 hektar. Di sini kelak dibangun superblok terpadu: rumah tingal, pusat perbelanjaan, dan hotel. Proyeknya akan menyatu dengan perluasan Masjidil Haram. Di situ akan disediakan ruang terbuka yang bisa dipakai salat untuk 200 ribu jemaah mengikuti imam di depan kabah.
Sekarang sebagian bangunan di Jabal Umar sudah dihancurkan. Sebagian masih berdiri, namun tidak berpenghuni lagi. Pembebasan tanahnya sudah dilakukan sejak setahun lampau. Kira-kira tahun depan seluruhnya bisa beres.Sehingga operasi wajah tahap pertama Masjidil Haram selesai.

Proyek-proyek tersebut bukan hanya menggusur rumah-rumah dan hotel. Pasar Seng yang menjadi tempat vaforit belanja jemaah Indonesa kini tak ada bekasnya.Gantinya, toko-toko yang ada di belakang Pasar Seng dan sepanjang jalan yang mengelilingi Masjidil Haram. Jemaah haji sudah mendapatkan alternatif baru berbelanja.
Para mukimin yang dulu menjajakan dagangannya di sekitar Pasar Seng sudah tergusur. Memang masih ada yang mengais rezeki di pinggir-pinggir areal perluasan masjid. Tetapi jumlahnya tidak banyak. Aparat keamanan setempat sering mengusir mereka. Beberapa hari lalu pun dilakukan razia.

Pemerintah Arab Saudi tidak ingin jemaah haji tertipu. Razia bukan hanya dilakukan terhadap pedagang kaki lima. Toko-toko milik warga Arab tak luput dari pemeriksaan. Banyak minuman, air zam-zam palsu, pakaian, souvenir yang disita.
Penggusuran sekitar Masjidil Haram itu menimbulkan peluang baru bagi warga Arab dan mukimin. Jiwa-jiwa dagang bangkit. Di sekitar pondokan banyak bermunculan tok-toko baru. Di situ jemaah bisa mendapatkan aneka tasbih, surban, sajadah, kurma, dan oleh-oleh khas Arab lainnya.

Jam Dunia
Menara Jam terbesar di dunia segera dibangun dekat kota suci Makkah. Pemerintah Arab Saudi berencana menyelesaikan proyek itu hingga awal Ramadhan nanti.
Proyek itu dikembangkan oleh dua insinyur dari Jerman dan Swiss yang membawahi para ahli dari berbagai negara di Eropa dan Dunia. Sejauh ini proyek telah berlangsung selama tiga bulan.

Seperti yang diberitakan Saudi Press Agency, 4 Agustus, bangunan yang bakal mengalahkan menara Jam legendaris Big Ben ini berukuran setinggi 601 meter dengan tinggi jam hingga 251meter. Melalui menara ini, kelak penduduk Makkah bisa melihat pemandangan kota tersebut hingga 7 km.

Gaya arsitektur bangunan banyak mengadopsi kebudayaan Islam. Khusus desain jam dibuat menjadi empat bagian. Nama Allah akan tertulis disetiap empat bagian jam tersebut.

Untuk kemudahaan pengunjung, menara jam akan dilengkap 2 elevator. Rencananya, bangunan ini akan diletakan dekat lima menara proyek amal Raja Abdul Aziz yang menghadap kota suci Makkah. (dari berbagai sumber)

Waktu Dunia Terpusat Di Mekkah




Bermula Di Qatar
Konferensi Qatar yang bertema "Mecca, the Centre of the Earth, Theory and Practice" (Makkah sebagai Pusat Bumi, Teori dan Ibadah) membahas masalah dirubahnya patokan waktu bagi Internasional yaitu mengacu pada Makkah. Selama konferensi tersebut, sebuah jam penemuan muslim Prancis yang dapat menyatukan arah kiblat dari seluruh dunia juga turut dipamerkan. Jam tersebut dirasa mampu menjadi media pembenaran terhadap pengetahuan internasional mengenai kekeliruan pusat bumi yang diyakini selama ini.

Tak lama setelah konferensi itu, Arab Saudi pun kini telah memulai proyek besar untuk mengganti waktu GMT menjadi waktu MMT (Mekkah Mean Time) yang menjadi kota suci bagi lebih dari satu milyar ummat muslim dunia. Kerajaan Arab Saudi saat ini sedang berusaha melaksanakan tujuan tersebut melalui pengembangan jam khusus yang ditempatkan di atas menara yang terbesar di dunia di samping Masjidil Haram Makkah yang bertujuan menjadikan waktu kota suci sebagai standar waktu bagi dunia.

Akhirnya!
Setelah lama menjadi perbincangan hangat, maka pada awal Ramadhan jam Mekkah mulai berdetak. Jam yang terdiri atas empat sisi itu masing-masing berdiamater 41 meter dan terbuat dari keramik yang dibuat dengan teknologi tinggi. Jam raksasa ini mengalahkan jam raksasa di Mall Cevahir Istanbul yang berdiameter 36 meter, dipasang di atap kompleks perbelanjaan. Hanya satu dari empat sisi jam yang sejauh ini telah selesai dan ditutup dengan 98 juta lembar kaca mozaik. Beberapa bagiannya dilapisi emas yang berada pada posisi sekira 400 meter dari Masjidilharam. Jam raksasa itu dipasang pada ketinggian 601 meter.

Masing-masing jam itu juga dilengkapi kata Arab bertuliskan “Allah Maha Besar” dengan huruf raksasa yang terletak di atas jam dan akan dihiasi dua juta lampu warna-warni. ak kurang dari 21.000 lampu berwarna putih dan hijau dipasang di atas jam tersebut.Cahaya lampu itu bakal terlihat hingga 30 km untuk mengirimkan sinyal waktu salat lima waktu. Kini jam tersebut bisa dilihat jelas dengan hiasan pedang yang bersilang dan pohon palem sebagai simbol negara Saudi. Menurut Mohammed al-Arkubi, manajer the Royal Mecca Clock Tower Hotel, gedung yang berada di bawah jam raksasa itu, pemasangan jam ditenderkan kepada sebuah perusahaan dari Jerman.“Ini merupakan megaproyek,” katanya. Menurut Kementerian Agama Saudi, keseluruhan proyek jam raksasa menelan biaya $ US3 miliar.

Kompleks Abraj Al-Bait yang menopang jam raksasa itu berada di jalanan dari pintu selatan Masjidilharam, masjid suci umat Islam. Kompleks itu terdiri atas enam gedung yang memiliki 42 hingga 48 lantai. Kompleks tersebut memiliki 3.000 kamar hotel dan apartemen, ditambah lima gedung pusat perbelanjaan serta 1,5 juta meter persegi untuk lobi. Arsitek dan perusahaan konstruksi yang membangun gedung tersebut sama dengan yang mendesain terminal tiga bandara internasional di Dubai. Kompleks ini memiliki tiga hotel papan atas, yakni the Fairmont, Raffles, dan Swiss Hotel. Di sini juga terdapat apartemen mewah, sebagian besar didesain agar mampu melihat langsung Masjidilharam. Kompleks menara ini dibangun oleh pengembang Bin Laden Group. Proyek itu merupakan bagian dari rencana Pemerintah Saudi untuk mengembangkan Makkah agar mampu menampung 10 juta jamaah haji tiap tahunnya. Saat ini Makkah hanya mampu menampung 3 juta jamaah haji. Pada musim haji, menurut arsitek Dar Al-Handasah, kompleks tersebut mampu menampung 65.000 jamaah haji. Nantinya akan disediakan elevator bagi pengunjung yang ingin melihat balkon jam tersebut. Kemudian ada juga observatorium astronomi dan museum Islam.

Bagaimana Konsep MMT?

Pengubahan jam dari GMT (Greenwich Mean Time) ke MMT (Mekkah Mean Time) bukan perkara mudah. Karena harus mengubah paradigma dunia internasional yang sudah 126 tahun menggunakan standar GMT. Lebih jelasnya dibuat konsepnya yaitu:

  1. Kordinat waktu Islam dalam jam MMT adalah kota Makkah Al Mukarramah. Jadi Makkah bukan sekedar arah kiblat shalat tetapi juga sebagai pusat koordinasi hitungan waktu.
  2. Jam MMT waktu dibagi menjadi 12 jam Rest Time (RT) dan 12 jam Work Time (WT). RT dimulai sejak terbenamnya matahari hingga terbitnya matahari. Dan sebaliknya Work Time dimulai dari terbitnya matahari hingga terbenamnya matahari.
  3. Jam MMT dibuat untuk mendukung penanggalan Hijriyah. Sesuai dengan penanggalan hijriyah, pergantian tanggal terjadi saat terbenamnya matahari. Sehingga jam 18.00 dalam jam GMT adalah jam 00.00 pada jam MMT. Selanjutnya, jam 19.00 adalah jam 01.00, jam 20.00 adalah jam 02.00, dan jam 21.00 adalah jam 03.00 dalam MMT.

Jam MMT secara mekanisme dapat dibuat karena konsep waktu dalam Islam juga menggunakan media matahari. Namun demikian, selama ini penanggalan hijriyah dianggap hanya menggunakan sistem Qomariyah saja tanpa ada sistem Syamsiyah, sehingga tidak ada jamnya sebagai pelengkap.

Dari Berbagai Sumber.


Umat Islam Indonesia Kecam Rencana Pembakaran Al Qur’an Oleh Gereja


Jakarta (voa-islam.com) -Rencana ekstrem sebuah gereja di Florida, Amerika Serikat, yang hendak melakukan aksi membakar Alquran dalam rangka peringatan 9 tahun tragedi 11 September (9/11), menuai kecaman keras umat Islam di Indonesia.

Kecaman ini berawal dr rencana sebuah gereja di Gainesville, Florida, Amerika Serikat, berencana melakukan aksi pembakaran Alquran. Aksi ekstrim tersebut dilakukan memperingati serangan di Washington dan New York pada 11 September 2001.

Tepatnya, Gereja Dove World Outreach Center yang menyatakan pihaknya akan menjadi penyelenggara acara kontroversial membakar AlQur'an tersebut, gereja ini bahkan telah mempromosikan peringatan tersebut di website dan situs jejaring sosial milik mereka.

Pastur gereja Terry Jones menyerukan kepada umat Kristen untuk membakar kitab suci umat Islam tersebut pada pukul 06.00 hingga 09.00 pagi, tepat pada 9 September 2010 mendatang. Aksi ini berarti berdekatan dengan perayaan hari Raya Idul Fitri.

Kontan, rancana itu dikecam berbagai organisasi Islam di Indonesia. Semisal Muhammadiyah dengan tegas menyatakan mengecam aksi penistaan terhadap kitab suci umat Islam itu. Pembakaran Alquran dinilai sebagai suatu penghinaan terhadap Islam dan kaum muslimin di seluruh dunia.

...“Jangan sampai hal itu terjadi karena akan sangat menyakiti hati umat Islam." ujar pengurus PP Muhammadiyah Syamsul Anwar...


“Jangan sampai hal itu terjadi karena akan sangat menyakiti hati umat Islam. Dalam kehidupan modern yang sudah serba sesak ini seharusnya rasa toleransi itu ditanamkan dalam kehidupan beragama, bukannya melecehkan (agama) lain, ujar pengurus PP Muhammadiyah Syamsul Anwar, Kamis (5/8/2010).

Dia menambahkan, Pemerintah RI, khususnya Kementerian Agama seharusnya berupaya melakukan upaya pencegahan agar hal tersebut tidak sampai terjadi. Hal itu menurutnya bisa dilakukan dengan cara penyampaian penolakan secara tegas dari pemerintah.

“Kemenag supaya mengambil langkah-langkah yang tepat sehingga tidak melukai golongan umat Islam. Saya kira perlu sikap tegas dari pemerintah tentunya sesuai dengan etika pergaulan internasional,” tandas Syamsul.

PBNU: Semua Agama Harus Lawan Pembakaran Al Qur'an

Sementara itu, PBNU juga mengecam rencana aksi pembakaran AlQur'an tersebut. PBNU mencurigai bahwa aksi tersebut bukan dilakukan oleh umat beragama.

Anak Palestina: “Bagi Kami, Kamera Sudah Seperti Senjata”


Selain batu dan ketapel, anak-anak Palestina, menggunakan "senjata baru" untuk melawan penjajahan Zionis Israel. Senjata baru mereka adalah kamera video, yang digunakan untuk merekam tindak kekerasan yang dilakukan tentara-tentara Zionis terhadap rakyat Palestina. Rekaman-rekaman video itulah yang bisa dijadikan bukti jika kasusnya sampai ke pengadilan.

Kamera video mereka dapatkan dengan cuma-cuma dari Btselem, organisasi hak asasi manusia di Israel. Sejak tiga tahun belakangan ini, Btselem menggelar proyek membagikan kamera video dan melatih anak-anak Palestina menggunakan kamera video tersebut untuk mengumpulkan bukti-bukti pelanggaran dan tindakan sewenang-wenang tentara-tentara Israel dan pemukim Yahudi terhadap warga Palestina di Tepi Barat.

Btselem sudah membagikan 150 kamera video di seluruh wilayah Tepi Barat dan Gaza. Sampai saat ini, Btselem berhasil merekam aksi-aksi kekerasan tentara Zionis maupun pemukim Yahudi, yang jika disatukan membutuhkan waktu tayang sekitar 1.500 jam. Beberapa rekaman video para sukarelawan menjadi bukti penting di pengadilan saat warga Palestina mengajukan gugatannya ke aparat hukum Israel.

"Bagi kami, kamera sudah seperti senjata. Kamera bisa menunjukkan pada semua orang di dunia apa yang sebenarnya terjadi," kata Arafat Kanaan, pemuda Palestina berusia 17 tahun yang kerap "meliput" aksi unjuk rasa aktivis anti tembok pembatas Israel di Tepi Barat.

Kakak perempuan Arafat, Salam, berhasil mereka tindakan seorang tentara Zionis yang menembak seorang warga Palestina di Ni'lin. Warga Palestina itu ditembak dalam kondisi tangan diborgol. Dengan bukti hasil rekaman tersebut, tentara Israel yang melakukan penembakan diadili.

Salam, Arafat dan Rasheed Amira akhirnya membentuk Ni'lin Media Group yang setiap minggu memproduksi paket rekaman video aksi-aksi protes dan kehidupan sehari-hari warga Palestina di bawah penjajahan Zionis Israel.

Kamera-kamera video itu memberi keleluasaan bagi warga Palestina, bukan sekedar hanya untuk mereka tindakan sewenang-wenang tentara Zionis dan pemukim Yahudi, tapi juga untuk membuat rekaman-rekaman dokumenter tentang penderitaan rakyat Palestina akibat penjajahan Israel.

Mohammed Al-Majdalawi. seorang pemuda Gaza mengatakan, "Film-film yang kami buat di Gaza sangat penting karena tidak banyak media di dunia yang menampilkan secara detil kehidupan yang sebenarnya di Gaza."

Jika pada dua peristiwa Intifada, anak-anak Palestina menggunakan batu untuk melawan pasukan Zionis (anak-anak Palestina pelempar batu itu disebut Shabab), sekarang mereka menggunakan video untuk melakukan perlawan dan dijuluki "Shabab si Video". (ln/CP)

Saluran TV ‘Fatwa’ Mulai Marak Mengudara


Saluran kanal TV satelit Islam Al-Dalil mengumumkan peluncuran layanan inovatif saluran televisi mereka dengan mengekspresikan progran baru yang memberikan fatwa sepanjang jam untuk umat Islam selama bulan suci Ramadhan mendatang.

TV Al-Dalil - diawasi oleh ulama terkemuka Saudi Syaikh Salman al-Audah - mengeluarkan pernyataan yang menyatakan bahwa sentuhan akhir acara baru berupa Fatwa agama, telah siap untuk memulai mengudara pada hari pertama bulan Ramadhan, yang jatuh pada 11 Agustus tahun ini.

Acara baru ini berdurasi selama 10 menit dan akan ditayangkan setiap jam. Setiap episode, yang akan disiarkan langsung, akan menampilkan pertanyaan melalui SMS, telepon, dan seorang bintang tamu yang akan menjawabnya.

Acara baru Fatwa agama, bertujuan untuk menawarkan layanan yang cepat bagi umat Islam yang meminta fatwa agama yang umumnya meningkat pada bulan suci ramadhan.

"Di bulan Ramadhan, umat Islam memiliki beberapa pertanyaan tentang masalah-masalah seperti apa yang membatalkan puasa, kapan diperbolehkan berbuka, dan sebagainya," kata Abdul Rahman Qaid, Kepala departemen Urusan Ilmiah saluran TV Al-Dalil, dalam sebuah pernyataan pers.

Qaid menambahkan bahwa tujuan dari ditayangkan acara fatwa ini setiap jam untuk memastikan semua orang dapat bertanya dan dijawab tanpa adanya penundaan.

"Kami merasa ini adalah tugas kami untuk memberikan jawaban yang jelas untuk hal-hal yang kadang-kadang menjadi ambigu bagi kebanyakan umat muslim dan untuk melakukannya segera," tambahnya.

Qaid menolak untuk mengungkapkan nama-nama bintang tamu yang akan ditampilkan dalam acara itu, namun menekankan bahwa mereka semua sangat mapan dan ulama yang dapat dipercaya yang namanya terkait dengan penafsiran rasional, berpengetahuan yang luas, dan mumpuni dalam bicara.

Meningkatnya jumlah program yang menawarkan fatwa pada saluran TV satelit - umumnya dikenal sebagai 'fatwa satelit' - belakangan ini telah mengaduk banyak kontroversi di kalangan ulama Islam dan menimbulkan berbagai pertanyaan tentang siapa yang berwenang untuk mengeluarkan fatwa agama dan topik apa yang memenuhi syarat untuk difatwakan.

Banyaknya program yang menawarkan fatwa, perdebatan argumen, membuat beberapa umat Islam mencari legitimasi atas tindakan mereka melalui pencarian fatwa yang paling toleran dari ulama dan mengikuti fatwa yang sesuai dengan selera mereka. Beberapa pertanyaan lewat telepon yang masuk dalam acara sejenis, kebanyakan bertanya tentang masalah yang sama, sampai mereka menemukan fatwa yang sesuai dengan keinginan mereka.

Isu-isu yang ditangani dalam program fatwa juga menjadi sumber perdebatan panas. Beberapa pakar berpendapat bahwa Islam mengeluarkan fatwa tentang hal-hal yang melibatkan hubungan antara umat muslim dan Allah - - seperti shalat, puasa, dan iman - - dan hal itu tidak menjadi masalah karena ini melibatkan tingkat fleksibilitas bahkan jika ulama berbeda tentang hal itu.

Namun, para penentang 'fatwa satelit' mempertimbangkan untuk mengeluarkan fatwa tentang hal-hal yang berkaitan dengan hak orang lain, termasuk hukum perdata, yang merupakan masalah klasik sejak ulama mengeluarkan fatwa tentang masalah ini yang kebanyakan pemberi fatwa tidak mengetahui seluk beluk hukum sebenarnya.

Akibatnya, orang-orang mengikuti fatwa yang bisa menimbulkan kerusakan pada orang lain, mereka berpikir tindakan mereka sesuai dengan ajaran Islam.

Situs Al-Fiqh al-Islami (Fikih Islam) memposting laporan rinci tentang fatwa-fatwa satelit yang dikeluarkan pada kuartal pertama tahun Hijriah saat ini (1431), menyoroti munculnya fenomena tersebut.

Menurut laporan tersebut, program dari 11 channel TV satelit Saudi dan Arab yang diterima di 244 episode memuat lebih dari 5.000 pertanyaan dari 17 negara yang berbeda, dengan Arab Saudi, Mesir, Qatar, Libya, dan Maroko di bagian atas daftar yang paling serung bertanya.

Umat Islam dari negara-negara Eropa, laporan itu menambahkan, juga banyak yang bertanya. Sebagian besar dari mereka berasal dari Austria, Britania Raya, Jerman, Belgia, dan Perancis.(fq/aby)

Saudi Akan Tentukan Ramadhan dengan Teknologi Modern


Diperkirakan bahwa ru'yatul hilal sepertinya tidak mungkin dilakukan di daerah Arab pada hari Selasa (10/8) nanti

Hidayatullah.com--Untuk pertama kalinya penetapan awal bulan Ramadhan di Arab Saudi pada hari Selasa, (10/8) nanti akan menggunakan teknologi modern. Dan diharapkan juga proyek ini supaya diprakarsai oleh beberapa negara Islam. Demikian dilansir Al-Arabiya.net (25/7).

Pempinan proyek ini, Muhammad Shawkat mengatakan kepada Al-Arabiya.net bahwa teknologi modern yang bergantung pada gambar-gambar antronomi tersebut membutuhkan legitimasi secara syar'i, sehingga dapat dijadikan acuan.

Teknologi modern tersebut terdiri dari sebuah kamera video khusus yang ditempatkan di teleskop, dan terhubung ke komputer. Dengan demikian, ratusan foto gambar yang ditangkap kamera, dapat langsung diakses ke komputer. Kemudian dengan menggunakan sebuah program khusus untuk meneliti gambar-gambar itu, baru setelah itu bulan akan terlihat di komputer.

Adapun kelebihan dari alat ini adalah dapat melihat bulan yang sebelumnya tidak terlihat, dan bahkan dapat melihat bulan di siang hari.

Rencanya, penentuan awal bulan Ramadhan akan menggunakan alat ini. Karena telah diperkirakan bahwa ru'yatul hilal sepertinya tidak mungkin dilakukan di daerah Arab pada hari Selasa (10/8) nanti, baik dengan mata telanjang ataupun dengan teleskop. Namun cara-cara falak yang manual atau tradisional masih digunakan terlebih dahulu. [sdz.aby/hidayatullah.com]

Ulama Mesir Menolak Revisi Buku-Buku Islam


Kalangan ulama di Mesir sedang gundah menyusul tercapainya kesepahaman antara Al-Azhar dan Vatikan untuk merevisi buku-buku sekolah yang isinya dianggap menyinggung sentimen agama tertentu.

Bulan Februari kemarin, sejumlah pejabat dari Al-Azhar dan para kardinal Vatikan bertemu di kota Roma dan membahas hubungan persahabatan antara kedua belah pihak serta masalah perdamaian dunia. Dalam pertemuan tersebut muncul usulan agar dilakukan revisi terhadap buku-buku sekolah yang memuat keterangan tentang ajaran agama lain.

“Buku-buku pendidikan selayaknya direvisi agar tidak memuat materi-materi yang mungkin bisa menyinggung sentimen agama dan penganut keyakinan lainnya, lewat dogma, sejarah dan ajaran moral yang salah,” demikian salah satu pernyataan hasil pertemuan tersebut.

Pernyataan itu menuai kecaman dari kalangan cendikiawan Muslim di Mesir, termasuk dari Al-Azhar sendiri. Mereka menyatakan bahwa buku-buku pegangan di negara-negara Muslim tidak memuat materi yang menyinggung sentimen agama lain. Menurut mereka, buku-buku teks dari Barat-lah yang seharusnya direvisi, terutama buku-buku yang isinya negatif tentang Islam dan Muslim.

“Umat Islam tidak perlu merevisi buku-bukunya. Islam mengajarkan untuk menghormati keyakinan orang lain,” kata Taha Riyan, profesor di bidang prinsip-prinsip agama di Universitas Al-Azhar.

Syaikh Youseef el-Badri, ulama dan mantan petinggi Al-Azhar mengungkapkan pernyataan serupa, bahwa Muslim menghormati semua agama. “Saya menantang siapa pun untuk memberitahu materi-materi mana yang menyinggung sentimen agama lain dalam buku-buku sekolah kami,” tukasnya.

Namun para pejabat Al-Azhar lainnya berkelit bahwa Imam Besar Al-Azhar Syaikh Mohamed Sayed Tantawi sudah sejak lama memerintahkan revisi buku-buku sekolah tapi bukan karena alasan isinya menyinggung sentimen agama lain.

Seperti banyak cendikiawan lainnya yang mengkritik rencana revisi itu, El-Badri menegaskan bahwa yang bermasalah sebenarnya orang-orang Barat, yang melakukan pelecehan dan penghinaan terhadap Islam dan Rasulullah Muhammad saw.

Sejumlah cendikiawan dan ulama di Mesir mengkritik upaya dialog antar umat beragama yang digagas Vatikan. Mereka menilai dialog itu cuma sandiwara dan gagal total.

“Orang-orang Barat tidak jujur dengan ucapan-ucapan mereka tentang perlunya penghormatan dan kesepahaman antara agama-agama di dunia. Paus sendiri tidak menghormati Islam,” kritik Gamal el-Bana, ketua International Muslim Federation. (ln/iol)

Beli Emas Batangan atau Koin? Gampang, Tinggal Klik di Mesin ATM


Mesin otomatis untuk membeli makanan dan minuman atau anjungan tunai mandiri (ATM) untuk mengambil uang, memang tak aneh lagi. Namun, mesin yang bisa digunakan untuk membeli emas murni mungkin bukan pemandangan yang biasa.

Dipasang di lantai bawah Emirates Palace Hotel, Abu Dhabi dengan langit-langit berlapis emas dan para tamu dari kalangan bangsawan dan miliuner yang datang untuk menikmati kopi dengan hiasan emas diatasnya, mesin itu justru tampak sebagai pelengkap perabotan.

"Alasan kami memilih Emirate Palace karena sangat cocok dengan kondisi sekitarnya disini," ujar pencipta mesin emas "Gold to Go" serta pemimpin perusahaan Ex Oriente Lux, Thomas Geissler.

Tampilan dari mesin otomatis itu berkilat berkat lapisan emas dan mampu menawarkan 320 jenis emas untuk dipilih, mulai dari emas batangan dengan berat 10 gram hingga koin emas yang bisa disesuaikan dengan keinginan pelanggan.

"Semua emas itu diimpor dari Jerman dan segera kami akan menyediakan emas batangan dengan logo Emirates Palace, yang bisa menjadi suvenir menarik bagi para tamu untuk dibawa pulang," ujar pengusaha asal Jerman tersebut.

Melalui sistem komputerisasi, mesin otomatis tersebut bisa memperbarui harga emas setiap 10 menit untuk menyesuaikan dengan harga pasar internasional.

Untuk saat ini, mesin tersebut hanya bisa menggunakan mata ulang lokal dirham, namun pilihan untuk penggunaan kartu kredit akan segera dilengkapi.

Percobaan mesin emas otomatis itu pertama kali dilakukan di Jerman tahun 2009, namun Geissler kemudian memilih Abu Dhabi untuk peresmian dari ciptaannya tersebut karena tingginya permintaan emas di kawasan tersebut.

"Pada malam pertama mesin itu dipasang, kami mendapat banyak permintaan. Salah seorang pelanggan bahkan membeli satu untuk setiap produk yang kami miliki," tutur Geissler.

Langkah Geissler dinilai tepat, karena semakin banyak investor yang memilih emas sebagai investasi aman dari krisis ekonomi.
Red: Ririn Sjafriani
Sumber: reuters

“Pemalsuan” Fatwa Ibnu Taimiyah tentang Jihad


Kesalahan penulisan satu huruf dalam Al Majmu’ Al Fatawa, “sebabkan” peperangan dalam komunitas muslim

Hidayatullah.com--Dr Abdul Wahhab At Thariri, salah satu tokoh Islam Saudi menyebutkan, adanya tashif, alias kekeliruan penulisan disebabkan kemiripan satu kata dengan kata lainnya, pada fatwa Ibnu Taimiyah. Hal ini terjadi pada fatwa beliau yang berkenaan dengan status kota Mardin, Turki.Tak pelak, terjadi penyimpangan dari makna aslinya.

Wakil Penasehat situs Islam Today ini mengakui bahwa dalam dua buku Al Majmu’ah Al Fatawa yang dimilikinya, kesalahan ini juga terjadi. Bahkan kesalahan itu terjadi pada mayoritas cetakan yang tersebar saat ini, yakni penggunaan kata yuqatal (diperangi). Padalah yang benar, menurut At Thariri, adalah yu’amil (memperlakukan), huruf ‘ain bukan qaf.

Pijakan argumen At Thariri adalah sebuah naskah manuskrip yang berkode 2757 di Perpustakaan Ad Dhahiriyah Damaskus, serta kutipan oleh Ibnu Muflih yang merupakan murid dari Ibnu Taimiyah dalam bukunya Al Adab Asy Syar'iyah (1/212). Selain dari dua sumber tadi, juga terdapat sumber lainnya, yaitu fatwa yang ada dalam Ad Durar As Sunniah (12/248), dan seperti yang telah dijelaskan oleh Syaikh Rosyid Ridha dalam majalahnya Al-Manar. Semuanya menggunakan kata yu’amalu, bukan yuqatalu.

Dengan demikian, teks fatwa mengenai status kota Mardi yang memiliki penduduk Muslim namun dikuasai oleh pihak kafir (Mongol) sebagai berikut, “Sesungguhnya negeri mereka itu bukan darul Islam karena yang menguasainya bukan muslim, dan bukan pula darul Kufr, karena penduduknya muslim. Namun, merupakan negeri yang mencakup makna keduanya. Diperlakukan muslim di dalamnya, sesuai dengan haknya, serta diperlakukan siapa yang keluar dari syari’ah sesuai dengan haknya.”

Sedangkan fatwa yang ada dalam Majmu’ Fatawa yang tercetak saat ini tertulis, “... diperangi siapa yang keluar dari syari’at sesuai dengan haknya.”

Tashif ini, menurut At Thariri, mulai terjadi sekitar seratus tahun lalu, yakni pada fatwa yang tercetak oleh Farajullah Al Qurdi tahun 1327 H, yang kemudian diikuti oleh Syeikh Abudrrahman Qasim dalam Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah (28/248).

At Thariri menyebutkan bahwa fatwa Mardin telah banyak dijadikan sebagai pegangan beberapa kelompok muslim untuk melakukan peperangan di tengah komunitas muslim.

Sebelumnya At Thariri juga menjadi salah satu pembicara dalam Muktamar Mardin Darus Salam di Mardin Turki, pada tangga 27-28 Maret lalu, yang membahas menganai fatwa Ibnu Taimiyah ini. [sadz/tho/aby/hidayatullah.com]

Tantangan Berat Bisnis Syariah di Afrika Sub-Sahara


NAIROBI--Industri keuangan syariah di Africa tengah berjuang mengatasi presepsi negatif di kalangan non-Muslim agar sistem keuangan itu dapat diterima semua jenis nasabah. Masklum, para pelaku bisnis keuangan Islam di benua tersebut berencana melakukan perluasan ke bagian sub-Sahara Afrika, wilayah yang didominasi penduduk Kristen.

Para pakar bisnis mengatakan lembaga kebijakan di negara-negara Afrika wilayah sub Sahara perlu memfasilitasi sistem alternatif dalam perbankan mereka. Beberapa negara di sub-Sahara sudah ada yang merespon, seperti Kenya yang baru-baru ini melakukan penyesuaian dalam undang-undang perbankannya dengan memasukkan sistem keuangan Islami.

Tak jauh terpaut dengan itu, Grup Standard Bank cabang Afrika Selatan, baru saja meluncurkan produk syariah pertama di Tanzania. Kini mereka tengah menunggu persetujuan undang-undang baru untuk membuka layanan serupa di Nigeria, demikian menurut kepala personal dan bisnis perbankan di Standard Bank, Terry Moodley.

"Sebagai awalan kami memang membidik dua negara ini," ujar Terry. "Mereka memiliki basis nasabah yang besar yang berpotensi tertarik dengan skema yang ditawarkan perbankan syariah. Kami pun menyadari jika 40 persen penduduk Afrika adalah Muslim," ujarnya seperti yang dikutip Reuters, Kamis, (6/5)

Separuh penduduk Tanzania beragama Islam. Sekitar 80 persen warga negara itu tinggal di wilayah pedalaman dan 95 persen dari penduduk di wilayah terpencil tersebut hingga kini tidak tersentuh oleh layanan perbankan, demikian menurut keterangan menteri keuangan Tanzania.

Oleh karena itu, Moodley berharap peluncuran layanan perbankan syariah dapat sedikit mendongkrak kehidupan warga Tanzania. Ia menyatakan dalam beberapa bulan ke depan, begitu perbankan syariah yang diluncurkan memperoleh cukup dana dari nasabah, bank akan merilis produk pinjaman.

"Jika kami kebetulan membutuhkan dana di saat kami telah meluncurkan produk pinjaman, namun saat itu kami tak punya cukup jaminan dari deposit--yang juga berasal dari bisnis syariah, maka kami akan mencari sumber alternatif pendanaan yang tetap berbasis syariah," papar Modley. Tapi, sejauh ini bank tersebut masih belum ingin berpatisipasi dalam lelang surat berhaga milik pemerintah.

Tantangan di Sub-Sahara

Kawasan Afrika Utara dengan banyak negara Islam dan populasi Muslim, seperti Mesir dan Sudan, memang relatif mudah bagi praktek bisnis syariah. Keuangan Islami telah berjalan selama berdekade di wilayah tersebut.

Namun, ketika pengusaha mencari celah meluaskan bisnis di negara-negara sub-Sahara seperti Uganda--denga 80 persen penduduk penganut Kristiani, tentu cerita akan berbeda. Pelarangan bunga sekaligus spekulasi dalam investasi dan jaminan aset nyata, bukan kelaziman bagi nasabah non-Muslim.

"Tantangan terbesar yang kami hadapi adalah presepsi bahwa bank ini hanya untuk nasabah Muslim, itu sangat tidak benar," ujar pimpinan Gulf African Bank, Suleiman Shahbal. Bank yang ia pimpin baru berdiri pada 2008 lalu dan menjadi satu dari dua bank syariah di Kenya.

"Ini adalah bisnis dan terus terang kami tidak membedakan apakah anda Muslim, Kristen, Hindu, tak percaya tuhan atau apa pun," ujar Suleiman. Ia juga mengungkapkan hambatan lain dalam bisnis, yaitu tudingan masyarakat non-Muslim bahwa bank syariah menyembunyikan agenda politik.

"Beberapa orang bahkan bersikap ekstrim. Padahal ini tak ada hubungan dengan politik dan kami tak punya agenda politik," tegas Suleiman. "Ada pula yang menuduh kami mendukung Al Qaidah, tentu saja itu tak masuk akal," imbuhnya.

Sejauh ini, bank-bank syariah beroperasi dalam skala kecil di sedikit negara Sub-Sahara, seperti Kenya, Afrika Selatan, Botswana dan Nigeria. Sejumlah pelaku bisnis syariah kini membidik Tanzania, Malawi, Uganda dan Zambia dalam rencana perluasan di masa depan dan negara itu memiliki populasi Muslim sebagai minoritas.

Bisnis keuangan Islam berhasrat melebarkan sayap agar tak hanya berpusat di wilayah Timur Tengah dan Asia Tenggara. Kepala FNB Afrika Selatan dan WestBank Islamic Finance, Ebrahim Ahmed Patel, dalam konferensi mengatakan potensi pasar keuangan syariah di Afrika sangat besar bernilai 235 milyar juta Dolar atau di atas Rp2000 triliun Rupiah.
Red: Ajeng Ritzki Pitakasari

Warna-warni Jilbab


Berawal dari sebuah keinginan, Dikra Ait Nancere kemudian membuat produk dengan label N-ti. Dalam bahasa Arab berarti Anda (perempuan). Melalui produk ini, ia ingin memenuhi kebutuhan rancangan jilbab bagi perempuan Muslim yang ada di Montreal, Kanada. Sebagian besar mereka adalah perempuan aktif dan pekerja.

Berdasarkan pengamatannya, ia waktu itu merasa belum menemukan rancangan jilbab yang mampu memenuhi kebutuhan perempuan Muslim modern di kota tersebut. Maka, tahun 2007, menjadi langkah awal baginya untuk memenuhi hasratnya. Ia merancang pakaian kasual untuk perempuan Muslim di basement rumahnya.

Rancangan perdana yang dibuat, ia tunjukkan kepada kalangan terbatas. Sejumlah teman ia undang untuk melontarkan komentar. Bahkan, ia juga membentuk sebuah kelompok yang secara khusus diminta memberikan masukan atas rancangan yang telah ia buat.

"Mereka menyukai ide saya itu dan saya melihat ada potensi bisnis di sana," katanya seperti dikutip Arab News, akhir April 2010 lalu. Dan, sejarah pun tertoreh. Pada Mei 2008, ia menghadiri perayaan pembukaan butik N-ti yang pertama. Butik yang menawarkan pakaian simpel dan trendi bagi Muslimah.

Nancere, perempuan Kanada asli Maroko yang kini memimpin N-ti itu, mengatakan jilbab ada di seluruh dunia. Setiap negara memiliki gaya uniknya sendiri-sendiri. Ada jilbab bergaya Arab Saudi, Maroko, Mesir, dan juga bergaya Kanada.

Menurut dia, di Kanada masih jarang jilbab yang kasual dan praktis bagi para perempuan Muslim. Nancere menambahkan, banyak perempuan Muslim di Montreal yang bekerja. Melalui N-ti, ia ingin menyuguhkan beragam pilihan pakaian yang mungkin cocok bagi mereka.

"Saya berkewajiban menawarkan pilihan pakaian untuk perempuan pekerja dan pakaian itu praktis bagi pekerjaan mereka," ujar Nancere. Ia mengakui, keberhasilan mendirikan sebuah butik jilbab itu bukanlah hal mudah untuk dilalui. Banyak rintangan yang harus ia taklukkan.

Nancere mengungkapkan, ia menghadapi masalah keuangan dan merek setelah ia mendaftarkan butiknya sebagai toko busana Muslim. Ia mengatakan, banyak toko yang telah berdiri menjual makanan halal hingga buku-buku Islam. Tetapi, toko yang ia dirikan, merupakan yang pertama menjual pakaian Muslim di Montreal.

Namun, tantangan itu tak membuatnya kendur. Ia berhasil membuka butiknya dengan suntikan dana dari sejumlah sumber, baik teman maupun keluarganya. Pada 2009, ia memutuskan memperbesar usahanya dengan menjadikan tokonya sebagai sebuah perusahaan, N-ti Inc. Sang suami, pun memberi sokongan operasi perusahaan ini.

Nancere mengakui, risiko memang menghadang pilihannya itu. Namun, ia sejak awal telah yakin bahwa pilihannya itu tak salah. Dalam kurun waktu satu tahun setelah berdirinya N-ti Inc, ia menyiapkan untuk ketiganya koleksi pakaian musim semi dan panas.

Menurut Nancere, koleksi ini tak hanya dipajang untuk para langganan butiknya. Namun, pakaian rancangannya juga dikenakan para model di panggung peragaan busana. Koleksi pakaian untuk para perempuan Muslim yang bertema 'Wind of Sand' itu, ditampilkan dalam peragaan busana pertama yang digelar N-ti.

Acara tersebut digelar pada awal April lalu di Montreal. Acara yang menampilkan rancangan hijab itu rencananya akan digelar secara reguler. Model non-Muslim Kanada kelahiran Prancis, Audrey Gueria, Elsa Desloges, dan Mariam, mengenakan koleksi N-ti dalam peragaan itu.

Mereka mengungkapkan, ini merupakan pengalaman menarik. "Saya berasal dari wilayah sub-urban, dengan peragaan ini saya berkesempatan mempelajari sebuah kultur baru. Bagi saya, ini sangat menarik," ujar Audrey. Mereka berjalan di panggung diiringi musik Islami.

Di belakang saat mereka berjalan menyusuri panggung peragaan, musik milik Outlandish dan Sami Yusuf diputar. Sementara, Shaima Mahmoud, seorang pegawai bank, mengatakan pertunjukan pakaian itu berjalan dengan baik. Ia mengatakan, N-ti menawarkan pakaian untuk para ibu dan perempuan yang ingin tetap gaya.

Lalu, bagaimana masa depan N-ti selanjutnya. Nancere mengatakan, ia akan mengembangkan sistem waralaba untuk usahanya itu. "Dalam kurun waktu setahun ini, saya berkeinginan bisa membuka sebuah toko di Toronto," katanya. Ia memiliki mimpi, ada satu toko di setiap kota besar.

Titik terang bagi perkembangan busana Muslim ini begitu kontras dengan kondisi yang kini terjadi di Eropa. Jilbab sedang menjadi 'musuh bersama' di wilayah tersebut. Berbagai negara di Eropa pun berlomba untuk melarang Muslimah mengenakan jilbab di tempat umum. Saat di Eropa menghadapi tekanan, jilbab di Kanada justru terus mengundang minat.
Red: irf
Rep: ferry kisihandi

Indonesia Selenggarakan Kongres Penghafal Alquran Asia-Pasifik


JAKARTA--Indonesia akan menjadi tuan rumah penyelenggaraan Konferensi Penghafal Al Quran se-Asia Pasifik di Masjid Istiqlal Jakarta, 7-10 Mei 2010. Ketua Panitia Pengarah Konferensi, KH Abdul Hasib, di Jakarta, Kamis, mengatakan, Konferensi itu akan diikuti oleh 9 negara di kawasan Asia Pasifik yakni Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Kamboja, Australia, China dan tuan rumah Indonesia.

Dua negara lain di luar kawasan yang akan berpartisipasi dalam Konferensi itu adalah Maroko dan Arab Saudi.Selain itu, Konferensi yang mengambil tema "Peran Huffaz Al Quran di Masyarakat" serta dibuka oleh Menteri Agama Suryadharma Ali dan Menkominfo Tifatul Sembiring tersebut juga akan diikuti oleh sekitar 100 pendiri dan pengelola lembaga tahfiz Al Quran se-Indonesia. Menurut tema besar peran huffaz Al Quran di masyarakat itu sengaja diangkat untuk memetakan sekaligus mempertegas posisi para ulama penghafal Al Quran ditengah-tengah masyarakat muslim.

"Mereka, para penghafal Al Quran, yang umumnya adalah para ulama, kiai dan ustadz itu memiliki peran dan kontribusi yang signifikan bagi umat Islam di negara ini," ujar KH Abdul Hasib yang juga Ketua Rabithah Ma'ahid Al Quran Indonesia itu.

Dikemukakannya bahwa peran para huffaz itu adalah berkontribusi membangun masyarakat yang penuh dengan kedamaian dan perilaku terpuji (akhlakul karimah) dengan memaknai dan mengamalkan nilai-nilai Al Quran di masyarakat. Pada bagian lain, ia menjelaskan bahwa secara spesifik konferensi itu memiliki 5 tujuan, yakni menjalankan peran huffaz Al Quran dalam pengembangan masyarakat pada aspek ilmu dan dakwah, peningkatan amal Qurani dengan cara mengatur, merencanakan, meningkatkan dan mengevaluasi lembaga-lembaga Al Quran.

Tujuan lainnya adalah memberikan referensi ilmiah seluruh organisasi dalam pengembangan Al Quran, membekali lembaga-lembaga AL Quran dengan hasil penelitian ilmiah guna meningkatkan kemampuan dalam pengamalan Al Quran serta membentuk jaringan pakar dan pencinta Al Quran dan menjadikan sarana pertukaran pengalaman di antara peserta konferensi. Konferensi itu akan dilaksanakan dalam berbagai kegiatan seperti seminar, lokakarya, workshop, hingga kunjungan ke sejumlah lembaga tahfizhul Quran di Indonesia.

Ancaman Denda Berat Bagi Pria Perancis yang Paksa Istri Bercadar


PARIS--Para pria di Perancis kini dibayang-bayangi hukuman denda sebesar 13 ribu Poundsterling (Rp200 juta lebih) dan penjara selama setahun bila terbukti memaksa istri mereka mengenakan burka. Itu adalah salah satu pasal dalam rancangan undang-undang di Perancis yang bocor dan kini tersebar ke publik.

Para menteri di kabinet berharap keputusan pelarangan total terhadap siapa pun yang menutupi wajahnya di depan publik, pada Juli nanti. Gerakan itu muncul setelah Belgia menjadi negara Eropa pertama kali yang melarang penggunaan burka dan cadar pekan lalu.

Di Belanda dukungan terhadap pelarangan burka dan cadar pun semakin menyebar. Sebuah surat kabar Perancis, Le Figaro, menyatakan undang-undang tersebut justru menciptakan pelanggaran baru terhadap penutup wajah atas alasan gender.

Menurut surat kabar tersebut, lembaga legislatif menyatakan, "Tak seorang pun boleh mengenakan pakaian yang menutup wajah di tempat-tempat umum."

Ketika pria bakal menderita akibat denda tinggi dan hukuman penjara bila memaksa istri mereka untuk mengenakan cadar, para wanita, sebaliknya akan mendapat hukumn denda jauh lebih ringan, sekitar Rp2 jutaan. Alasannya mereka kerap menjadi korban dan tak punya pilihan lain, demikian menurut para perumus RUU tersebut.

Para wanita tidak akan dipaksa melepas cadar mereka di jalan. Alih-alih mereka akan dibawa ke kantor polisi terdekat untuk diidentifikasi secara resmi, demikian pernyataan satu pasal dalam RUU.

UU, bila disahkan, akan berlaku pula untuk turis Muslim. Berarti berlaku pula bagi ribuan orang kaya dari Timur Tengah yang melancong ke Paris saban tahun.

Tanda sikap keras Perancis terhadap cadar salah satunya terlihat ketika seorang wanita diminta berhenti dan didenda pada April lalu karena mengenakan burka saat menyetir. Tahun lalu, seorang wanita Muslim juga dilarang mengenakan kostum renang menutup tubuh, "burkini" di kolam renang umum di Paris karena alasan higenis.

Presiden Nicolas Sarkozy telah melabeli burka sebagai 'tanda degradasi'. Sementara, menteri imigrasi, Eric Besson, menjuluki burka sebagai 'peti mati berjalan'.

Red: Ajeng Ritzki Pitakasari
Sumber: Daily Mail

Masjid Bradford Menangi “Menara Masjid Paling Indah se-Eropa”


STRASBOURG--Masjid Madni di Bradford, Inggris Utara mengalahkan 50 nimonator lainnya dalam pemilihan "Menara Masjid Paling Indah se-Eropa". Demikian parlemen Eropa mengumumkannya.

Pemilihan ini dihajat oleh COJEP Internasional, sebuah organisasi amal yang didirikan kaum muda di Prancis bekerja sama dengan OSCE dan Dewan Eropa. Yuri dalam pemilihan ini terdiri dari berbagai kalangan interrasial dan etnik serta independen. Termasuk dalam barisan dewan yuri adalah seorang rabi Yahudi, teolog Protestan asal Swiss, dan seorang pendeta Anglikan.

Yuri mengumpulkan data 53 menara masjid di 13 negara Eropa sebelum membuat pilihan mereka. Kriteria masjid yang diikutkan dalam lomba itu adalah yang berusia di bawah 50 tahundan telah memenuhi syarat untuk kontes. "Kami tidak memasukkan masjid-masjid bersejarah seperti di Andalucia, Bosnia, atau Paris karena kami menginginkan kompetisi tetap terkait dengan imigrasi Islam terkini," kata juru bicara COJEP, Veysel Filiz.

Juri mengambil keputusan atas dasar pertimbangan estetika tetapi juga cara menara yang bekerja di lingkungan perkotaan itu dibangun dalam. "Ide dari kompetisi ini adalah untuk menunjukkan bahwa menara tidak boleh berkaitan dengan rasa takut dan prasangka," kata Filiz.

Bagaimana Dewan Pengelola Masjid bekerja juga disorot. "Karena Islam di Eropa harus bekerja secara transparan dan masjid terbuka untuk masyarakat," tambahnya.

Menurut Filiz, syiar Islam adalah terbuka dan bersifat universal. "Jika Islam adalah tersembunyi di gua-gua, kita tidak dapat mengetahui apa yang dikatakan di mimbar," tegasnya.

Inisiatif untuk kompetisi sengit telah dikritik oleh kelompok kanan ekstrem, terutama di internet. Namun, anjing menggonggong kafilah tetap berlalu. Pemberian penghargaan itu didukung oleh parlemen Eropa.
Red: Siwi Tri Puji.B
Sumber: EU Business

Potensi Industri Keuangan Syariah Dunia 5 Triliun Dolar AS


PARIS--Industri keuangan syariah terus bersinar. Lembaga ekonomi bergengsi kelas dunia, Moody's Investors Service, meramat potensi industri ini mencapai 5 triliun dolar AS.

Namun Moody's menambahkan bahwa lembaga-lembaga tersebut perlu mengembangkan instrumen derivatif sendiri dan menghindari praktik derivatif konvensional, jika mereka ingin mempertahankan popularitas mereka di kalangan investor Muslim. Dikatakan lembaga keuangan Islam memiliki total aset tahun 2009, sebesar 950 miliar dolar AS, ketika banyak industri keuangan terpuruk akibat krisis global.

Menurut lembaga ini, mengapa industri ini moncer di tengah krisis, karena perbankan Islam memiliki kode etik yang melarang keterlibatan dalam jenis bisnis yang berisiko, seperti yang dilakukan Lehman Brothers. Aturan syariah juga mengharamkan bisnis yang penuh spekulasi dan risiko, serta bertentangan dengan kaidah agama.

Hukum Islam melarang pembayaran dan penerimaan bunga, yang dipandang sebagai bentuk perjudian. Keuangan Islam juga beroperasi pada prinsip berbagi risiko antara bank penerbit dan pembeli dari produk keuangan, sehingga hal ini bisa menjadi alternatif untuk beberapa instrumen perbankan konvensional.

Vice President dan Senior Credit Officer Moody's, Hassoune Anwar, mengatakan bahwa badan-badan keuangan Islam sekarang ingin menggunakan instrumen derivatif untuk lindung nilai terhadap risiko dan untuk meningkatkan praktik pemantauan. Namun mereka melakukannya dengan cara syariah, daripada meniru instrumen derivatif konvensional. "Untuk ini, fase inovasi baru dalam industri sangat penting."
Red: siwi
Sumber: AP

Palestina Lebih Indah dari Citra di Media


Ditulis : Dr. Abdus Sattar Qasim

Citra Palestina di media regional dan internasional tidak seutuhnya terhormat. Terkadang citranya buruk bahkan dihindari orang. Misalnya, gambaran konflik internal Palestina dan pertarungan berdarah atau yang menebarkan kekacauan, sejumlah skandal moral dan korupsi selama bertahun. Namun terhadap muncul citra terhormat karena kesabaran dan keteguhan tekad mereka. Namun citra terakhir ini tidak mendominasi. Yang mendominasi adalah perpecahan, saling tuding, kerusakan moral dan meremehkan hak dan prinsip nasional bangsa Palestina.

Benar, Palestina kini sedang dirundung krisis moral, sosial dan nasional. Benar, orang Palestinalah yang membukakan jalan bagi bangsa Arab dan Umat Islam untuk menjalin hubungan dengan Israel bahkan menyeret banyak negara dunia untuk membiarkan bangsa Palestina dan berpihak kepada Israel. Namun bukan berarti bangsa Palestina ikut dalam kejahatan. Bangsa Palestina lebih besar dari citra hina ini.

Media dan Peristiwa

Media biasanya tidak mengangkat perilaku dan sikap yang tidak bukan merupakan peristiwa. Media terkadang tidak mengangkat seseorang membantu tetangganya. Namun segera memberitakan ketika seseorang melakukan kekerasan terhadap tetangganya. Media tidak memberitakan bagaimana seorang pemuda membela seorang pemudi dari tindak kekerasan. Namun media memberitakan ketika seorang pemuda melakukan kejahatan terhadap seorang pemudi. Mayoritas orang-orang Palestina menentang perundingan dan normaliassi dengan Israel. Namun yang muncul di media adalah aktifitas perundingan Palestina dan normalisasi dengan Israel, pada saat PM Otoritas Palestina ikut dalam konferensi Hertezelia, dan…dan…

Orang-orang Palestina membenci peperang saudara, tapi media fokus memberitakan Fatah dan Hamas saling tembak atau saling perang statemen. Ini memang tidak disengaja oleh media sebab cara kerja media seperti itu. Media tidak fokus terhadap kehidupan yang normal tapi fokus terhadap yang mengganggu kehidupan normal itu atau sesuatu yang menarik perhatian. Bagi pengamat media, mereka lebih fokus kepada apinya bukan asapnya yang diangkat media.

Palestina Burukkan Citra Diri Sendiri

Orang-orang Palestina sendiri sebenarnya yang memburukkan citra bangsa Palestina. Misalnya (ini juga berlaku bagi yang lain);

Pertama, meski pengorbanan Palestina begitu besar namun penyusupan keamanan Israel ke Palestina sangat luas sehingga mereka harus membayar mahal. Badan-badan di bawah PLO tidak bisa menormalkan kondisi keamanan.

Kedua, elit Palestina menandatangani kesepakatan Oslo yang bertentangan secara jelas terhadap piagam-piagam Palestina. Ini membuka negara-negara Arab, Islam dan dunia mengakui Israel dan membuka hubungan dengannya. Tanpa memenuhi prinsip dasar bangsa Palestina dan hanya memenuhi tuntutan Israel dengan mendirikan pemerintahan otoritas bonke.

Ketiga, elit otoritas Palestina mulai melakukan koordinasi keamanan dengan Israel untuk menghalangi kerja militer melawan Israel.

Keempat, Tepi Barat dan Jalur Gaza (Gaza hingga 2006) menjadi panggung sandiwara Amerika dan Eropa. Konsul Amerika dan koordinator keamanan Amerika mengendalikan segala masalah dengan mengorbankan aspirasi rakyat Palestina.

Kelima, tanah jajahan Palestina dipenuhi dengan kisah kerusakan birokrasi dan korupsi.

Keenam, antara faksi-faksi Palestina saling berperang.

Palestina Berbuat Pada Diri Sendiri

Tapi ada kerja terhormat dari Palestina yang patut dipuji sehingga mereka memiliki citra indah.

Pertama, bangsa Palestina berperang selama setahun dan mereka masih terus berkeras untuk berjuang mengembalikan tanah air mereka. Meski sebagian warga Palestina menyalami Israel, namun kebanyakan mereka – di dalam dan luar negeri – ingin tetap di sana dan memerdekakan negeri mereka. Bangsa yang tahan di kamp pengungsi dan dari pengejaran Israel. Mereka bertahan di tengah pembunuhan, penghancuran, pelaparan, pesakitan, kesedihan, pengusiran dan kejahatan lainnya. Inilah bangsa agung dan terhormat.

Kedua, bangsa Palestina tidak patuh kepada elit, tapi lebih setia kepada darah syuhada dan siap memberikan pengorbanan.

Ketiga, bangsa Palestina masuk dalam Intifadhah (perlawanan) rakyat secara luas dalam waktu yang sangat panjang dan mengalami berbagai tekanan.

Keempat, antara bangsa Palestina mereka saling simpati dan saling empati meski semua politik dari berbagai penjuru ingin menghancurkan rajutan sosial dan moral mereka.

Kelima, ada sebagian rakyat sedang dengan jaminan sepotong roti dari Eropa dan Israel atau Amerika, namun kebanyakan bangsa Palestina menyadari bahwa harta negara-negara donor digunakan untuk membeli sikap politik agar mereka melepaskan hak-hak prinsip nasional Palestina.

Keenam, Kebanyakan rakyat Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza menolak normalisasi dengan Israel dan koordinasi keamanan, menolak mengakui Israel dan kesepakatan yang pernah ada.

Ketujuh, bangsa Arab berharap kepada saudara mereka dari bangsa Arab dan kaum muslimin, mereka menolak pemetakan dan perpecahan. (bn-bsyr)

Mesin Wudlu Otomatis


Mesin wudhu otomatis ini membantu untuk berhemat air. Diluncurkan dengan sensor otomatis, mesin wudhu ini dibanderol seharga US$ 3 ribu - US$ 4 ribu (Rp 28 juta - Rp 38 juta).

Adalah perusahaan Malaysia, AACE Technologies yang meluncurkan mesin wudhu itu di Kuala Lumpur, Malaysia seperti dilansir dari Reuters, Senin (1/2/2010).

Mesin itu berwarna hijau dan berornamen. Ada 2 bak di mesin itu, bak untuk cuci tangan di bagian atas dan bak untuk cuci kaki di bawah. Di tiap bak ada keran yang dilengkapi sensor. Air hanya akan keluar jika kaki atau tangan berada di bawah kran itu.

"Menghemat air adalah motivasi orang-orang untuk mengadopsi cara ini daripada cara konvensional, di mana banyak air yang terbuang," ujar Kepala AACE Anthony Gomez.

Alat itu juga bisa mengeluarkan suara ayat-ayat Alquran yang sudah direkam. Mesin wudhu itu memiliki tinggi 1,65 meter, dan membutuhkan 1,3 liter air untuk sekali wudhu dibandingkan dengan wudhu konvensional yang biasanya membiarkan kran air terbuka selama beberapa menit.

"Saat musim haji, 2 juta orang menggunakan 50 juta liter air per hari untuk wudhu. Kalau mereka memakai mesin ini, mereka akan berhemat 40 juta liter air per hari," imbuh Gomez.

Dubai sudah menunjukkan ketertarikannya untuk memiliki produk ini untuk ditempatkan di bandaranya. Namun mesin itu membutuhkan waktu 2 tahun untuk pengembangan lebih lanjut yang memakan biaya US$ 2,5 juta.

KIRIM SMS GRATIS
Jejaring Sosial
Langganan Berita

Masukkan email anda:

Sponsor
Iklan
September 2010
S S R K J S M
« Agu    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
KlikSaya