Sesaat bus menginjak dermaga pelabuhan ketapang, beberapa musisi jalanan tidak melewatkan kesempatan untuk berunjuk kebolehan, seniman – seniman alam itu memetik gitar, menabuh gendang dan menyanyikan kisah sedih tragedi bom bali, kuingat tragedi yang terjadi di legian kuta itu telah lama terjadi namun duka atas tragedi kemanusiaan itu terasa masih menghunjam dalam, begitupula sesaat bus menjejak gilimanuk, sebuah pos pemeriksaan harus dilalui dan beberapa petugas dengan sigap mencatat identitas setiap orang termasuk tujuan dan masa kunjungnya di Bali, petugas pengamanan pelabuhan itu melakukannya tanpa kesan yang berlebihan dan meski tak terucapkan seolah mereka dengan ramah mengatakan “Selamat Singgah di Pulau Dewata – Pulau Seribu Pura”
Perjalanan menuju Denpasar sedikit terhambat karena di dibeberapa rute jalan bus harus berpapasan dengan parade baris – berbaris dan juga karnaval, rupanya agustusan di Bali tidak kalah meriah dengan di Jawa atau di tempat lainnya, justru menjadi menggelikan ketika dengan fakta ini masih ada yang beranggapan bahwa Bali dengan status khususnya sebagai Daerah Istimewa bukanlah bagian Integral dari negara kita.
Sepanjang perjalanan menuju denpasar terlihat keaslian Pesona Alam Bali yang sangat natural, hamparan hijau persawahan dengan petak bertingkat atau terasiring tampak elok sekaligus menyegarkan, Budaya bercocok tanam di Bali hingga saat ini bisa bertahan karena didukung oleh kesesuaian sistem pengairan yang dikenal sebagai Subak, sebuah potret kearifan tradisional di tengah arus dan pusaran zaman.
Setelah kurang lebih dua jam akhirnya sampai juga di terminal Ubung dan musisi jalanan kembali memperdengarkan senandung pilu tragedi legian dengan paduan irama gendang yang dinamis, rancak dan menghentak.
Jika mengikuti panduan, rute yang seharusnya kutempuh adalah Ubung – Kreneng – Sanur namun seorang sopir angkot yang kemudian kukenal bernama Pak Komang menawarkan diri untuk mengantar langsung ke PPLH Bali di Jalan Danau Tamblingan – Sanur, Pak Komang semakin senang manakala kuceritakan asalku dari Lumajang, para pengrajin perak asal Pulo – Lumajang selama ini cukup dikenal di Bali sebagai pekerja art shop, mereka banyak tersebar di daerah celuk dan sekitarnya, selain itu Pak Komang berharap suatu saat bisa mengunjungi Lumajang yang sudah lazim dikenal sebagai sebuah Kota Penghasil “Pisang Agung” yang terletak di Lereng Gunung Semeru. Lumajang ternyata menyimpan daya tarik wisata religi khususnya bagi peziarah dari Bali, konon setidaknya sekali dalam seumur hidup warga hindu di syariatkan untuk menunaikan ritual sembah-hyang di Pura Mandara Giri Semeru Agung yang terletak di Kecamatan Senduro - Lumajang, sayangnya ritual ini tak ubahnya ibadah haji dan umrah bagi ummat Islam yang dilaksanakan “bila mampu”, untuk keperluan yang satu ini ummat hindu harus menempuh perjalanan ke lokasi mata air suci “Watu Klosot” di Kaki Gunung Semeru dan juga melaksanakan Persembahan (Kurban) yang dilarung di Pantai Watu Pecak (Pantai Laut Selatan), ssst….tanpa terasa PPLH sudah di depan mata dan sekilas info tentang syariat hindu di kota lumajang harus berakhir disini.
Dua hari di PPLH Bali, kami hanya sempat jalan – jalan sore ke Plaza Hardy’s sekedar melihat – lihat cinderamata khas Bali dan jalan – jalan pagi ke pantai sanur menanti “sunrise” terbitnya Sang Mentari, jika turis eropa paling suka jogging sambil menyapa “Se-lamat Pagi” maka turis dari negeri sakura terlihat antusias menyambut datangnya Sunrise, Syariat agama mereka yang memuja matahari menjadikan fenomena sunrise sebagai moment yang istimewa. Para orangtua kita yang menjadi saksi sejarah pernah menuturkan bahwa Pemerintahan Pendudukan Jepang mentradisikan untuk setiap pagi melakukan penghormatan kepada sang kaisar yang diyakini sebagai titisan dari Sang Dewi Matahari “Ametarazu Omikami”, ada juga yang menyebutnya sebagai “Sang Timur” yang disembah setelah terdengar aba – aba “Seikerei Tenno Haika”
Menjelang detik – detik yang dinanti beberapa turis terlihat mengeluarkan digital camera bersiap membidik ke arah timur, bahkan ada yang sejak shubuh telah mempersiapkan seperangkat kamera khusus berlensa fokus panjang yang ditopang oleh sebuah tripod namun sayang keindahan sunrise gagal disaksikan lantaran terhalang oleh gugusan awan. Menariknya turis – turis jepang itu dengan ceria menuturkan “It’s OK , Maybe Tomorrow or Maybe The Day after Tomorrow” sebuah ungkapan yang menandaskan “hanya sebatas inilah ikhtiar manusia dibawah kekuasaan Tuhan”, sebuah ungkapan yang juga berarti “LA KHAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH”
Para Jurnalis Barat menjuluki Bali sebagai “The Heaven Island” alias Pulau Sorga, bagi para Backpacker Pulau ini memang menawarkan banyak kejutan serta dinamika petualangan alam dan budaya, beruntung sekali ada seorang teman, I Wayan Anggara Bawa dari BOA (Bali Organic Assosiation) mengajak berkeliling melihat bali kala senja beranjak malam.
Dari Sanur kami menelusuri jalan ke arah selatan melewati By Pass Bandara Ngurah Rai dan berputar menuju Pantai Kuta, pantai selatan berombak tinggi dan berpasir putih ini tidak hanya menjadi tujuan utama wisata di Bali, pantai kuta sudah lama dikenal sebagai sorganya para peselancar dan menjadi tempat yang mengilhami Andre Hehanusa dan seniman - seniman lainnya untuk menciptakan lagu dan karya – karya indah, sayang kami datang terlambat sehingga gagal menyaksikan matahari terbenam alias sunset namun setidaknya masih terlihat gambaran keindahan seperti yang digambarkan oleh Maribeth, seorang penyanyi asal filipina dalam lirik lagunya “Denpasar Moon, Shining on an empty street”.
Perjalanan berlanjut ke pusat kota, melewati monumen peringatan bom bali – sebuah dinding penuh bertuliskan nama – nama korban jiwa pada tragedi 12 Oktober 2002 itu, para wisatawan biasanya datang untuk memperingati tragedi bali dengan menyalakan lilin di sekitar lokasi kejadian dan setiap tahunnya tragedi itu diperingati sebagai momentum untuk “Bangkit” diatas semangat Persaudaraan dan Perdamaian.


Bom Bali menyisakan stigma pukul rata, selain sektor pariwisata yang terimbas langsung karena munculnya Travel Warning, komunitas muslim khususnya Komunitas Muslim Bali menghadapi tantangan untuk bisa membuktikan bahwa Islam dan Syariat Islam merupakan ajaran anti terorisme, Islam senantiasa mengajarkan “Seseorang tidak dinyatakan beriman sebelum ia mencintai orang lain seperti ia mencintai dirinya sendiri” sebuah pesan damai yang sepatutnya kita jaga dan refleksikan secara nyata dalam realitas kehidupan.
(Ditulis Oleh Badrut Tamam Gaffas, Sebuah Catatan Perjalanan)

Gerakan Waspada AIDS bertajuk AIDS AWARENESS semakin gencar akhir – akhir ini, begitu serius, kompleks dan menakutkannya ancaman penyakit AIDS ini sehingga Barat yang selama ini mengklaim memiliki teknologi pengobatan super canggih menjadi gagap dan tak berdaya bahkan secara ‘sadar’ para profesor pengobatan menegaskan belum adanya vaksin dan obat yang bisa mengatasi penyakit ini, lantaran hal inilah kampanye waspada AIDS lebih banyak diarahkan pada aspek pencegahan dan sosialisasi dampak virus HIV/AIDS yang mematikan.
Para peneliti mengurai kesimpulan bahwa virus yang menurunkan daya kekebalan tubuh itu tergolong jenis penyakit menular seksual yang hanya bisa dicegah dengan menanggulangi virus penyebabnya yaitu free sex dan perilaku sex menyimpang lainnya.
Fakta yang perlu digarisbawahi adalah semakin maraknya perilaku sex bebas, hubungan sex pra nikah dan penyimpangan sex yang tidak hanya terjadi di negara – negara barat yang dikenal sangat mendewakan kebebasan melainkan juga terjadi di negara kita sehigga ancaman virus mematikan itu sesungguhnya tengah terjadi di sekitar kita atau bahkan lebih dekat lagi…(Semoga Allah SWT melindungi kita dan generasi muda kita dari bahaya ini)
AL QUR’AN PELOPOR SISTEM PERINGATAN DINI HIV/AIDS
Peringatan atas musibah ini sudah puluhan abad silam disuarakan oleh Al Qur’an melalui seruan atas pentingnya menunaikan syariat pernikahan sebagai benteng untuk menghindari perzinahan sementara bahaya perilaku sex menyimpang juga sangat terang digambarkan melalui kisah Nabi Luth AS dengan kaum negeri sodom yang tidak tunduk dengan syariat pernikahan, mereka menolak seruan Nabi Luth untuk menikah antara pria dan wanita (Heteroseksual) karena tenggelam dalam budaya sex menyimpang seperti homo seks dan lesbian.
Peringatan dini yang termaktub dalam Al Qur’an harusnya membuka mata dan hati kita untuk bersama – sama dan secara sadar kembali kepada kehidupan beragama, menjadikan agama sebagai pelita yang mengeluarkan kita “Minad-Dzulumati ilan-Nur” dari belenggu kegelapan kepada cahaya yang terang - benderang
AIDS has already claimed the lives of more than 23 million men, women, and children world wide . With an estimated 42,3 million people throughout the globe currently living with this disease, most frightening is that current predictions tell us that this is only the start, just the beginning of the Aids epidemic. And without major action, this global epidemic will continue to kill millions.
AIDS telah merenggut 23 jiwa dan diperkirakan 42,3 juta orang mengidap penyakit ini dan tanpa tindakan pencegahan dikhawatirkan musibah tersebut menjadi awal dari penyebaran AIDS secara Global (Global Epidemi). Semuanya berpulang kepada kita “bersedia atau tidak untuk menuai hikmah dan mengambil pelajaran dari setiap kejadian karena Sesungguhnya Agama Islam dengan Syariatnya yang bersifat universal adalah Rahmatan lil Alamin, yang senantiasa mengajak kita kepada jalan – jalan keselamatan. Wallahu a’lam
( Ditulis Oleh Badrut Tamam Gaffas untuk Bulan Bintang Media )

Image by Igan Lantang klik di http://www.pbb-info.com
Prahara ekonomi, sosial dan politik
Setiap zaman memang menemukan tantangannya sendiri, sebelum ini tepatnya dalam rentang tahun 1950 hingga 1960-an kita pernah mengalami sebuah fase kebangkrutan ekonomi tingkat tinggi, sampai – sampai muncullah fenomena “gunting syafrudin” yakni menggunting uang kertas menjadi dua dengan penyesuaian nilai untuk mengatasi devaluasi dan menekan inflasi, langkah brilliant Mr. Syafrudin Prawiranegara sebagai Menteri Keuangan (selanjutnya menjabat Gubernur Bank Indonesia pertama) kala itu menuai pujian dari dalam dan luar negeri namun badai krisis memang teramat dahsyat menerpa lantaran lemahnya fundamental ekonomi bangsa kita saat itu yang berimplikasi sosial dengan terjadinya kelangkaan minyak, lonjakan harga kebutuhan pokok masyarakat dan krisis pangan akut yang diperparah dengan carut marut tata kelola pemerintahan akibat memanasnya suhu politik sebelum akhirnya mencapai klimaknya pada akhir tahun 1965 dengan mengerasnya tiga tuntutan rakyat (TRITURA) yaitu Bubarkan PKI, Turunkan Harga dan Bersihkan kabinet (pemerintah) dari unsur – unsur PKI.
Revolusi Hijau
Pemerintahanpun berganti, krisis pangan yang melatarbelakangi tidak boleh terjadi dan dimulailah sebuah revolusi hijau dengan sebuah gengsi untuk membalikkan keadaan dari sebuah negera agraris pengimpor beras terbesar didunia beralih menjadi negeri dengan status “Swasembada”
Mesin – mesin revolusi hijau bekerja cepat melalui intensifikasi, diversifikasi hingga mekanisasi pertanian, saat itulah kita mengenal benih – benih unggul hibrida seperti IR dan sejenisnya yang secara “terhormat” menggeser benih – benih unggul lokal yang diklaim memiliki produktifitas tinggi, varietas unggul tahan wereng (VUTW) berhasil dibudidayakan dengan intensitas penggunaan pupuk dan pestisida kimia yang lagi – lagi “secara terhormat” menggeser Pupuk Kandang, Pupuk Alami dan Pestisida Nabati yang sebelumnya menjadi tradisi pertanian lokal.
Mimpi Swasembada pangan memang pada akhirnya tercapai namun ledakan jumlah penduduk yang menurut Bung Haji Rhoma Irama mencapai angka fantastis 125 juta harus dikendalikan secara terpadu tidak saja dengan program Keluarga Berencana (KB) tetapi juga dengan sebuah proyek besar bernama Transmigrasi.
Buya Mohammad Natsir sangat menaruh harapan terhadap program ini menurut beliau kesenjangan pembangunan di luar Jawa salah satu faktornya adalah kurangnya sumber daya manusia yang selama ini terkonsentrasi di Pulau Jawa, Buya Natsir lewat Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) yang dipimpinnya kemudian menerjunkan dai – dai muda potensial untuk disebar di daerah – daerah yang tertinggal.
Revolusi Hijau Kebablasan
Pembukaan lahan di berbagai pulau didukung dengan diterbitkannya sertifikat HPH (Hak Pengelolahan Hutan) yang dikantongi oleh sejumlah perusahaan rekanan pemerintah, ujung –ujungnya pembukaan hutan menjadi tidak terkendali, sejumlah pengusaha mengeksploitasi hutan demi memperkaya diri modusnya beragam namun secara garis besar berputar pada tiga hal yakni pembalakan liar, penyelundupan kayu ilegal dan perburuan satwa – satwa langka yang seharusnya dilindungi. Ketika itu LSM – LSM peduli lingkungan hidup seperti wahana lingkungan hidup Indonesia (Walhi) terus bersuara menentang eksploitasi hutan sebagai biang perusakan lingkungan hidup, mengganggu kelestarian habitat dan merusak keseimbangan ekosistem.
Episode Krisis pangan pada akhirnya menggulirkan banyak bola liar hingga akhirnya Revolusi Hijau banyak dinilai sebagai kebijakan besar dengan biaya tinggi dan ongkos sosial yang teramat mahal.
Reformasi Hijau Berkelanjutan
Belum lama menjabat, Menhut MS Ka’ban dituding sebagai biang kerusakan lingkungan hidup, padahal secara obyektif perusakan dan kerusakan lingkungan telah terjadi sejak lama melalui berkali – kali pergantian menteri kehutanan dan justru MSK-lah yang lantang dan istiqomah menyuarakan program penanaman sejuta pohon (belia menanam dewasa memanen), pemberantasan illegal logging hingga tuntas ke akar – akarnya dengan berkoordinasi dengan Jajaran Kepolisian RI dan Pemerintah Daerah, MSK tidak ketinggalan mengeluarkan Permenhut yang mengatur pembatasan izin HPH, pengelolaan HTI dan transparansi Konversi Hutan dengan melibatkan multipihak yang kompeten dengan persetujuan parlemen.
Ketika Walhi menuding dan menghujat langkah – langkah “Reformasi Hijau” MSK maka siapapun bisa menilai betapa Walhi telah kehilangan independensinya sebagai pejuang lingkungan hidup lantaran tidak bersedia diajak duduk bersama berdialog menuntaskan permasalahan lingkungan hidup yang tidak se-sederhana yang dibayangkan.
MSK melalui program “reformasi hijau” dengan keras menyatakan perang terhadap pengusaha – pengusaha nakal para eksploitir hutan, pembalak – pembalak dan penyelundup liar juga para pelaku perdagangan satwa – satwa langka nusantara.
MSK menggulirkan berbagai program “reformasi hijau” bukan semata – mata demi mengatasi pemanasan global namun demi menjaga Penghijauan Bumi Berkelanjutan karena hakikatnya Bumi, Air dan semua kekayaan Alam yang terkandung didalamnya harus dijaga agar bisa diwariskan kepada generasi selanjutnya.
GO REFORMASI HIJAU
(Ditulis Oleh Badrut Tamam Gaffas untuk Bulan Bintang Media)

Masjid Jamik Sumenep dan Asta tinggi adalah dua buah manikam sejarah keemasan syiar Islam di Pulau Madura yang berwujud arsitektur indah dan menawan, keduanya menjadi bagian tak terpisahkan dari tingginya peradaban Islam yang terlahirkan di tanah madura berabad-abad yang silam.
R. Musaid Seorang Pejuang Budaya
Diantara rekaman sejarah tentang Pulau Madura ternyata Babad Sumenep menjadi dokumen penting yang bisa dijadikan literatur awal untuk mempelajari madura khususnya sumenep secara lebih mendalam.
Raden Musaid adalah Sastrawan Legendaris yang berjasa menulis Babad Sumenep. Awalnya penulisan tersebut dimaksudkan sebagai upaya pelurusan sejarah terutama sejarah islam di sumenep dalam bingkai dinamika hubungan antar etnik yang berlangsung damai. Dalam Babad itu digambarkan pula tumbuh kembang sebuah komunitas masyarakat berperadaban dan berperilaku elok yang disebut Bangselok.
Sebagai Budayawan dan Pejuang secara cerdik Raden Musaid berupaya mengobarkan semangat perjuangan anti penjajahan kolonial belanda melalui simbol dan kiasan yang banyak terdapat dalam Babad yang dikarangnya, buku tersebut memang ditulis menggunakan Bahasa Madura dengan Aksara Jawa sehingga praktis pihak belanda menjadi gagap dalam menangkap maksud rahasia sang penulis, sebaliknya pemerintah hindia belanda memberikan apresiasi yang tinggi dan penghargaan kepada Raden Musaid berupa sejumlah Gulden dan sebuah Gelar “WERDISASTRO” .
Sejak itulah Raden Musaid dikenal sebagai R. Musaid Werdisastro, ketika tarikh masehi menginjak 15 Pebruari 1914 Naskah Babad Sumenep tersebut naik cetak dan diterbitkan oleh Balai Pustaka sehingga anggapan Raden Musaid sebagai sastrawan lokal menjadi terbantahkan, Babad Sumenep menjadi sebuah naskah budaya yang memperkaya khazanah budaya dan sejarah bangsa.
Semangat Beragama yang menjadi Pelita
Raden Musaid yang budayawan dan cendikiawan memiliki kedekatan dengan Kyai Haji Mas Mansur yang berdarah Sumenep, dalam berbagai biografi disebutkan bahwa KH Mas Achmad Marzuki (ayahanda Mas Mansur) terhitung masih keturunan dari bangsawan Sumenep. Sebagai ulama muda yang kharismatik Kyai Haji Mas Mansur berhasil membawakan kehalusan dakwah yang menyentuh sehingga memberi pengaruh yang luarbiasa kepada pribadi Raden Musaid, beliau memilih jalan yang tidak biasa ditempuh oleh kebanyakan budayawan dan kaum adat yang mengambil jarak atas gerakan dakwah, semangatnya justru meluap – luap untuk mengikuti cara beragama yang diajarkan oleh mas mansur yang berusaha menempatkan agama dan budaya secara proporsional tanpa mengesampingkan adat / budaya yang bersendi syara’ dan berpilar kitabullah.
Raden Musaid menjadi penggerak pengembangan Muhammadiyah di Sumenep, beliau secara tegas menolak dikotomi NU-Muhammadiyah, menurutnya NU-Muhammadiyah atau Ormas keagamaan lainnya sama – sama bisa menjadi jembatan pergerakan berbasis keagamaan yang bisa mengantarkan ummat menggapai pencerahan spiritual. Dukungan untuk mengembangkan Muhammadiyah di Ujung timur Pulau Madura itu datang dari keluarga besarnya juga dari Kyai Haji Mas Mansur yang menjadi konsul Muhammadiyah Jawa Timur di Surabaya dan kemudian terpilih menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Muhammadiyah (1937 – 1943).
R. Muhammad Saleh Werdisastro, Berkarya Hingga Tutup Usia
Semangat untuk mengikuti jejak perjuangan dan pergerakan sang ayah menitis dalam jiwa Muhammad Saleh Werdisastro, salah seorang putera Raden Musaid yang pada akhirnya terkenal sebagai salah satu putera Sumenep yang mendapatkan pengakuan dari Pemerintah sebagai Pahlawan Nasional.
Muhammad Saleh Werdisastro memulai karir sebagai pendidik dan aktivis Muhammadiyah selanjutnya beliau mulai menapaki berbagai karir dengan cemerlang tanpa meninggalkan panggilan jiwanya sebagai pendidik dan aktivis pergerakan. Bakat dan jiwa perjuangannya terasah sejak memimpin kepanduan Hizbul Wathon di Madura, Karirnya sebagai prajurit bermula dengan bergabung dalam laskar hizbullah kemudian bergabung sebagai milisi PETA dan terpilih sebagai Dai Dancho (Komandan Batalyon) Dai Yang II Yogyakarta pada tahun 1943 bersama dengan beberapa tokoh lainnya seperti Soedirman (Kemudian menjadi Panglima Besar TNI), Kyai Muhammad Idris, Kyai Doeryatman, Soetaklaksana, Kasman Singodimejo, Moelyadi Djojomartono, dan lain-lain. Setelah PETA dibubarkan maka mulailah Karirnya sebagai politisi dengan menjabat sebagai Ketua Komite Nasional Indonesia (KNI) daerah Yogyakarta (1945) dan dikukuhkan sebagai anggota KNIP (1946).
Karirnya sebagai pamong bersinar ketika menjabat Walikota Yogyakarta (1950), di Yogyakarta itulah beliau dipercaya sebagai anggota Tanwir Muhammadiyah Pusat dan turut pula menjadi penggagas berdirinya Universitas Gajah Mada (UGM), selanjutnya beliau menjabat Walikota Surakarta selama dua periode (1951 – 1958) dan kemudian menjabat Residen Kedu yang berkedudukan di Magelang (1959 – 1964) hingga pensiun dengan pangkat Gubernur dan Wafat di Yogyakarta pada tahun 1966.
Pihak militer meminta jenazah Muhammad Saleh Werdisastro dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki Yogyakarta karena almarhum adalah seorang pejuang yang memiliki Bintang Gerilya sementara pihak Muhammadiyah menolak karena Muhammad Saleh Werdisastro begitu besar jasanya kepada Muhammadiyah sehingga untuk menghormatinya, jenazah beliau dimakamkan berdampingan dengan pendiri Muhammadiyah lainnya, Kyai Haji Achmad Dahlan di pemakaman Karangkajen Yogyakarta.
Sebagaimana ayahnya yang dekat dengan Kyai Haji Mas Mansur maka R. Muhammad Saleh Werdisastro juga merasakan tempaan dari seorang Mas Mansur yang demikian berbekas sehingga nama sang guru pergerakan itupun diabadikan sebagai nama putera pertamanya Ir. R. Muhammad Mansur Werdisastro. Dalam beberapa tajuk biografi Muhammad Saleh Werdisastro tertulis “Residen Kebanggaan Muhammadyah”, penggambaran tersebut seolah - olah hanya membatasi beliau sebagai tokoh muhammadiyah padahal perjuangannya tidak pernah secara khusus didedikasikan bagi Muhammadiyah melainkan demi meraih kemaslahatan yang bersifat universal untuk ummat, bangsa dan negara.
Ustadz Hakam , Pijar dakwah yang berpendar
Karena minimnya tenaga dakwah di Sumenep pada sekitar tahun tiga puluhan maka Raden Musaid meminta bantuan kepada Kyai Haji Mas Mansur yang segera dijawab dengan dikirimkannya beberapa tenaga dakwah yang salah satunya adalah Abdul Kadir Muhammad (AKM), salah seorang murid sekaligus keponakan KH Mas Mansur.
Abdul Kadir dibesarkan dalam lingkungan agamis yang pluralis, sang ayah KH Mas Muhammad menitipkannya untuk dididik oleh adiknya yaitu Kyai Haji Mas Mansur sementara saudara Abdul Kadir yang lain ada yang mendapatkan didikan langsung dari Hasan Gipo, Ketua Tanfidziah NU pertama.
Keluarga Besar Sagipodin (Bani Gipo) memang memiliki akar yang kuat di kalangan Muhammadiyah maupun Nahdlatul Ulama, Kedua Cucu Sagipodin yakni KH Mas Mansur dan KH. Hasan Basri (Hasan Gipo) merupakan dua tokoh penting dalam pertumbuhan Muhammadiyah dan NU.
Di Pulau Madura, Abdul Kadir memulai berdakwah dari lingkungan keluarga besar Raden Musaid, keberadaannya cepat bisa diterima dan akrab disapa dengan sebutan “Ustadz”, beliau juga berdakwah di lingkungan Masjid Jamik Sumenep. Demikianlah Ustadz Abdul Kadir Muhammad yang ber-etnis Jawa ternyata sangat memahami karakteristik orang madura dan terbukti fasih dalam berbahasa madura sehingga tidak mengalami kesulitan dalam berinteraksi dalam komunitas yang berbahasa dan berbudaya madura.
Untuk meneguhkan perjalanan dakwahnya di Sumenep maka Ustadz Hakam kemudian menikahi R. Fatimatuz Zahro yang tak lain adalah cucu R. Musaid dari Puteranya R. Tajibuddin Werdisastro yang dikenal sebagai pamong terpandang di Sumenep yang berperan dalam menggubah Babad Sumenep menjadi ber-aksara latin.
Dalam menyikapi perbedaan corak keberagamaan Ustadz Hakam selalu menekankan pentingnya mencari persamaan serta memperkuat ukhuwah wathoniah diantara ummah. Seperti halnya R. Muhammad Saleh Werdisastro yang peduli terhadap pendidikan kaum pribumi maka beliau juga merancang Home Schooling serta membuat sebuah perpustakaan dengan koleksi buku – buku pribadinya yang terbilang sangat banyak untuk ukuran perpustakaan pribadi, selain aktif berdakwah ustadz hakam juga meniti karir dari bawah di lingkungan Departemen Agama, pada pertengahan tahun lima puluhan ditugaskan sebagai kepala Kantor Urusan Agama Maluku Tenggara, sekembalinya dari tanah Maluku cita –citanya makin menguat untuk mengembangkan pendidikan yang berbasis agama, pada periode tahun enam puluhan beliau dipercaya untuk mengembangkan Pondok Pesantren Modern Panarukan dan mulai merintis pengembangan dakwah di pulau – pulau kecil di sekitar Madura, terakhir KH Abdul Kadir Muhammad menjadi Pengasuh Yayasan Pondok Pesantren Modern Islam (YPPMI) Pulau Kangean dan terus berdakwah hingga akhir hayatnya.
Penulis perlu menggaris bawahi peran Raden Musaid yang sangat besar dalam membuka jalan bagi pengembangan dakwah Islam di Tanah Madura, selebihnya tulisan ini bersifat rintisan sehingga penulis menyadari banyaknya kekurangan atas rekaman – rekaman peristiwa dalam paparan diatas sehingga diharapkan bantuan dari berbagai pihak untuk dapat melengkapinya.
Akhirnya semoga kita bisa belajar dari catatan perjalanan hidup Raden Musaid yang Budayawan, Muhammad Saleh Werdisastro yang Birokrat dan Ustadz Hakam yang Ulama yang masing – masing sangatlah profesional di bidangnya. Kemudian yang terlintas adalah tanda tanya, bisakah kita turut mengambil bagian dalam meneruskan perjuangan dan pergerakan yang takkan bisa terpadamkan ??? Wallahu A’lam.
(Ditulis oleh : Badrut Tamam Gaffas untuk Sebuah Nama )

Tragedi Semburan Lumpur Lapindo telah lama terjadi tepatnya sejak 29 Mei 2006 namun beragam versi fakta yang terungkap hingga saat ini belum menemukan satu muara, kondisi ini diperparah oleh belum satu suaranya wakil rakyat dan pembuat kebijakan dalam mengupayakan tindakan dan penanganan dampak sosial yang diakibatkan walhasil perluasan peta berdampak makin tak terkendali sehingga rakyat korban lumpur sidoarjo dipaksa untuk terperangkap dan diaduk –aduk dalam derita panjang tak berujung.
Lalu, …saya tak kuasa lagi membayangkan, bagaimana pula dengan anda ???
(Sepenggal Keprihatinan oleh Badrut Tamam Gaffas)
