Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...
Salam ESENSI!!!
Apa kabar para pembaca setia ESENSI... Semoga limpahan rahmat dan hidayah selalu tercurah kepada kita selaku Hamba Allag yang Insya Allah istiqomah dalam perjuangan dakwah ini. Serta sholawat atas Nabi Muhammad SAW semoga kita tetap dapat menjalankan sunnah-sunnah beliau. Amin.
Sesuai dengan janji kami bahwa ESENSI akan hadir kembali di hadapan anda. Walaupun dengan format yang tidak jauh berbeda dengan ESENSI edisi pertamanya di periode PW PII Sumatera Utara 2007-2009. Dan Alhamdulillah, PW PII Sumatera Utara Periode 2009-2011 kembali mempercayakan pengelolaan Media kita ini kepada kami. Sungguh kepercayaan yang patut kami ucapkan terima kasih.
Pada edisi Kedua ESENSI, kami terfokus pada peningkatan kualitas ISI dari ESENSI karena prinsip kami "Apalah artinya bungkus yang rapi dan elok tanpa dibarengi ISI yang berkualitas". Oleh karenanya, demi peningkatan kualitas isi tersebut, kami mengajak kepada para pembaca sekalian yang ingin mengirimkan tulisannya dapat dikirim ke Email Redaksi ESENSI redaksi_esensi@yahoo.co.id.
Akhirnya, semoga Allah SWT memudahkan segala urusan kita. Amin.
Fahmi Azzam
Koordinator Redaksi Esensi
Posted by PII Sumatera Utara |
No Comments »
PENA REDAKSI
“…..berikanlah aku sepuluh orang pemuda, maka akan aku guncang dunia…” (Soekarno)Kenapa Soekarno mengatakan hal itu, apakah ia hanya sekedar beretorika saja ? jawabannya jelas TIDAK ! Pemuda adalah elemen bangsa yang memiliki energi serta pemikiran yang “segar” untuk kemajuan bangsa ini. Saat – saat muda inilah produktivitas manusia dapat dilihat, dan produktivitas suatu bangsa sangat bergantung pada keadaan dan produktivitas pemudanya. Coba lihat bangsa kita, bagaimanakah pemudanya ? HIV, Narkoba, Seks bebas, Pengangguran, Kriminalitas, dll adalah profil sebagian pemuda di Tanah Air tercinta ini
Berbicara tentang pemuda kita tidak terlepas dari pelajar, baik itu siswa maupun mahasiswa. Pelajar merupakan tunas bangsa yang patut kita lindungi dan kita bina. Ibarat sebuah tanaman, agar tumbuh tunasnya baik maka kita harus selalu memberinya nutrisi yang cukup. Ketika asupan nutrisi yang kita berikan kurang dari kebutuhan maka tunas tadi bisa jadi akan gagal tumbuh atau mati, begitu juga dengan pelajar, mereka perlu asupan nutrisi yang cukp bagi perkembangan dirinya baik secara emosional, intellectual dan spiritualnya. Bagaimana caranya agar semua kebutuhan tersebut terpenuhi ? ini sebuah pertanyaan simple yang sangat membutuhkan jawaban panjang dan cukup rumit.
Kebutuhan tersebut bisa kita dapatkan dengan berorganisasi. Karena dalam sebuah organisasi kita akan menemui berbagai tantangan yang mampu melatih kecerdasan probadi kita baik IQ, SQ, dan EQ. Sekarang kita coba bahas bagaimana mungkin kita bisa mendapatkan ketiga kecerdasan tadi dalam sebuah organisasi.
Pertama, Intellectual Question (IQ). Organisasi memiliki berbagai program kerja yang butuh pemikiran yang cerdas untuk menjalankannya. Sebelum menjalankan sebuah Program kerja misalnya, kita sering mengadakan rapat mingguan dimana akan banyak membutuhkan pemikiran. Jadi, pengembangan IQ yang saya maksudkan bukanlah berimplikasi langsung kepada akademiknya, tetapi ini lebih condong kepada perubahan pola pikir sempit yang selama ini selalu “menghimpit” otak para pelajar. Selama ini banyak dari pelajar yang tidak memperdulikan hal itu, mereka berasumsi bahwa dengan menyibikkan diri dengan organisasi maka nilainya akan hancur dan masa depannya suram, padahal kalau kita melihat pemimpin sekarang adalah orang yang dahulunya disibukkan dengan kegiatan berorganisasi. Kalau anda tidak percaya silahkan lihat CV dari pemimpin yang ada di daerah anda.
Kedua, Emotional Question (EQ) dapat dikembangkan melalui sebuah organisasi karena disini kita akan ditanamkan jiwa bekerja sama, berkorban untuk orang lain, melayani orang yang membutuhkan, peduli kepada penderitaan orang lain, dll.
Ketiga, Spiritual Question (SQ). Hal ini dapat kita kembangkan karena dalam sebuah organisasi apalagi organisasi Islam seperti Pelajar Islam Indonesia(PII) kita selalu diajarkan untuk meningkatkan rasa keimanan dan ketaqwaan kita kapada Allah. Melalui program kaderisasi dan kegiatan lainnya.
Dalam sebuah organisasi kita dilatih untuk kritis dalam menanggapi permasalahan. Bukti sejarah memperlihatkan kepada kita bahwa REFORMASI mampu ditegakkan karena pemuda yang kritis, dan mereka adalah Pemuda yang Organisatoris. Camkanlah…!! Apakah anda hanya akan menjadi Saksi perubahan yang selalu tertindas oleh kereta zaman yang terus melaju dengan cepatnya ? ataukah Anda ingin menjadi salah satu orang yang tergabung dalam kereta perubahan zaman tersebut ? Semuanya ada pada Tanganmu Wahai Pemuda..!!! Negara ini menantikan karya terbaikmu. Sekarang bagaimana pilihan anda ? Masih tetap seperti yang dulu..?
Posted by PII Sumatera Utara |
No Comments »
Pena RedaksiMencoba mengingat-ingat kembali pelajaran bahasa Indonesia yang pernah saya pelajari saat duduk di bangku sekolah dulu. Pe- sebagai awalan mengandung makna subjek yang melakukan, misalnya Pencuri yang berarti orang yang melakukan tindakan pengambilan hak milik orang lain, Pelapor yang berarti orang yang melakukan tindakan melapor. Selain itu, awalan Pe- juga mengandung makna alat, misalnya Pemukul yang berarti alat memukul, dan lain sebagainya.
Sedangkan pada kata Pemilu mengandung makna alat yang membuat pilu. Terlepas dari pemilu adalah singkatan dari pemilihan umum namun ini hanyalah berdasarkan tinjauan bahasanya saja kalau pemilu kata dasarnya adalah pilu.
Apa yang menyebabkan pilu? Kita baru saja mendengar kasus baru dari anggota legislatif yang tersandung kasus korupsi yakni Abdul Hadi Jamal dari PAN dan kasus-kasus sebelumnya yang sudah banyak menjadi pesakitan KPK. Ini baru di tingkat pusat, belum lagi di tingkat I dan tingkat II yang kalau disebutkan satu-persatu tidak akan ada habisnya. Kasus ini dilihat dari sudut pandang suap-menyuap atau bahasa kerennya sogok-menyogok. Kita lihat dari segi moral, cukup banyak anggota dewan yang tertangkap melakukan tindakan mesum yang pada akhirnya foto-foto mesra dengan kekasih gelapnya beredar di masyarakat. Sial buat mereka yang tertangkap dan mungkin saja yang belum tertangkap lebih banyak lagi. Yang lebih parah lagi dari segi tanggung jawabnya sebagai wakil rakyat, yakni tingkat partisipasinya dalam mengikuti sidang-sidang di dewan. Ada yang menandatangani absen kehadiran akan tetapi batang hidungnya tidak terlihat, yang tidur di dalam ruang sidang, yang ngerumpi alias menggosip, dan segala macam aktifitas lainnya.
Pemilu hanya menghasilkan awalan Pe- lainnya, pemeras, perampok, pemalas, pencuri, dan mudah-mudahan saja tidak sebagai “pemerkosa” hak-hak rakyat.
Wallahu a’lam
Posted by PII Sumatera Utara |
No Comments »