Dunia PII

Seputar Dunia Aktifis PII

The photo and the text can be changed by modifying the about.php file.Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

User Login

Site Search

Archive for the ‘Pencerahan Hati’ Category

Paku

Posted by Fahmi Azzam On Desember - 11 - 2008 ADD COMMENTS Subscribe here
Suatu ketika ada seorang anak laki – laki yang pemarah. Ayahnya berusaha keras untuk membuang sifat buruk anaknya. Suatu hari ia memanggil anaknya dan memberinya sekantong paku. Paku ? Ya Paku…. !

Sang anak heran. Tapi bibir ayahnya justru tersenyum bijak. Dengan suaranya yang lembut, ia berkata kepada anaknya agar memakukan sebuah paku di pagar belakang rumah setiap kali marah. Ajaib !!!

Di hari pertama, sang anak menancapkan 48 paku ! Sungguh jumlah yang menakjubkan. Begitu juga di hari kedua, ketiga dan beberapa hari selanjutnya. Tapi hal itu tak berlangsung lama.
Setelah itu jumlah paku yang tertancap berkurang secara bertahap. Ia menemukan fakta bahwa lebih mudah menahan marahnya daripada menancapkan banyak paku di pagar rumahnya.

Akhirnya kesadaran itu membuahkan hasil. Si anak berhasil mengendalikan marahnya dan tidak cepat kehilangan kesabaran. Ia bergegas memberitahukan hal itu kepada ayahnya. Sang Ayah tersenyum. Kemudian meminta si anak agar mencabut satu paku untuk setiap hari dimana ia tidak marah.

Hari – hari berlalu dan anak laki – laki itu akhirnya berhasil mencabut semua paku yang pernah ia tancapkan. Ia bergegas melaporkan kabar gembira itu kepada ayahnya. Sang ayah bangkit dari duduknya dan menuntun si anak melihat pagar di belakang rumah.

“Hmm, kamu telah berhasil dengan baik anakku. Tapi lihatlah lubang – lubang di pagar ini. Pagar ini tak akan bisa kembali seperti semula, tidak akan bisa sama seperti sebelumnya,” kata sang ayah bijak.

Sang Ayah sengaja memotong kalimatnya pendek – pendek agar si anak bisa mencerna maksudnya dengan baik. Si anak menatap ayahnya dengan sikap menunggu apa kelanjutan ujaran ayahnya itu.

Ketika kamu melontarkan sesuatu dalam kemarahan, kata – katamu itu meninggalkan bekas seperti lubang ini di hati orang lain. Kamu bisa saja menusukan pisau, dan mencabutnya kembali. Tetapi, tidak peduli berapa kali kamu akan minta maaf, luka itu akan tetap ada. Dan luka karena kata – kata sama buruknya dengan luka fisik, “ ucap sang ayah lembut namun sarat makna.


“Sang anak membalas tatapan lembut ayahnya dengan mata berkaca – kaca. Pelajaran yang diberikan ayahnya begitu tajam menghujam relung hatinya.


***

Sahabat, saling mema’afkan mungkin bisa mengobati banyak hal. Tapi, akan sirna maknanya saat kita mengulangi kesalahan serupa. Padahal, lubang bekas cabutan paku yang sebelumnya masih menganga. Jadi, berhati – hatilah sahabat. Semoga Allah melembutkan hati kita dan menghiasinya dengan sifat sabar tanpa tepi. Amiien.

Cinta yang Takkan Pernah (Mampu) Terbayar

Posted by Fahmi Azzam On Oktober - 14 - 2008 ADD COMMENTS Subscribe here
Lutfia, bukan siapa-siapa. Tapi ia menjadi seseorang yang akan disebut namanya di Surga kelak oleh Yusuf, anak tercintanya. Dan ia akan menjadi satu-satunya yang direkomendasikan Yusuf, seandainya Allah memperkenankannya menyebut satu nama yang akan diajaknya tinggal di Surga, meski Lutfia sendiri nampaknya takkan membutuhkan bantuan anaknya, karena boleh jadi kunci surga kini telah digenggamnya.

Bagaimana tidak, selama dua hari Lutfia menggendong anaknya yang berusia belasan tahun mengelilingi Kota Medan untuk mencari bantuan, sumbangan dan belas kasihan dari warga kota, mengumpulkan keping kebaikan dan mengais kedermawanan orang-orang yang dijumpainya, sekadar mendapatkan sejumlah uang untuk biaya operasi anaknya yang menderita cacat fisik dan psikis sejak lahir.

Tubuh Yusuf, anak tercintanya yang seberat lebih dari 40 kg tak membuat lelah kaki Lutfia, juga tak menghentikan langkahnya untuk terus menyusuri kota. Tangannya terlihat gemetar setiap menerima sumbangan dari orang-orang yang ditemuinya di jalan, sambil sesekali membetulkan posisi gendongan anaknya. Sementara Yusuf yang cacat, takkan pernah mengerti kenapa ibunya membawanya pergi berjalan kaki menempuh ribuan kilometer, menantang sengatan terik matahari, sekaligus ratusan kali menelan ludah untuk membasahi kerongkongannya yang kering sekering air matanya yang tak lagi sanggup menetes.

Ribuan kilo sudah disusuri, jutaan orang sudah dijumpai, tak terbilang kalimat pinta yang terucap seraya menahan malu. Sungguh, sebuah perjuangan yang takkan pernah bisa dilakukan oleh siapa pun di muka bumi ini kecuali seorang makhluk Tuhan bernama; Ibu. Ia tak sekadar menampuk beban seberat 40 kg, tak henti mengukur jalan sepanjang kota hingga batas tak bertepi, tetapi ia juga harus menyingkirkan rasa malunya dicap sebagai peminta-minta, sebuah predikat yang takkan pernah mau disandang siapapun. Tetapi semua dilakukannya demi cintanya kepada si buah hati, untuk melihat kesembuhan anak tercinta, tak peduli seberapa besar yang didapat.

Tidak, ia tak pernah berharap apa pun jika kelak anaknya sembuh. Ia tak pernah meminta anaknya membayar setiap tetes peluhnya yang berjatuhan di setiap jengkal tanah dan aspal yang dilaluinya, semua letih yang menderanya sepanjang jalan menyusuri kota. Ibu takkan memaksa anaknya mengobati luka di kakinya, tak mungkin juga si anak mengganti dengan seberapa pun uang yang ditawarkan untuk setiap hembusan nafasnya yang tak henti tersengal.

Lutfia, adalah contoh ibu yang boleh jadi semua malaikat di langit akan mengagungkan namanya, yang menjadi alasan tak terbantahkan ketika Rasulullah menyebut "ibu" sebagai orang yang menjadi urutan pertama hingga ketiga untuk dilayani, dihormati, dan tempat berbakti setiap anak. Lutfia, barangkali telah menggenggam satu kunci surga lantaran cinta dan pengorbanannya demi Yusuf, anak tercintanya. Bahkan mungkin senyum Allah dan para penghuni langit senantiasa mengiringi setiap hasta yang mampu dicapai ibu yang mengagumkan itu.

Sungguh, cintanya takkan pernah terbalas oleh siapapun, dengan apapun, dan kapanpun. Siapakah yang lebih memiliki cinta semacam itu selain ibu? Wallaahu 'a'lam

Belajar Dari Puasa Ramadhan

Posted by Fahmi Azzam On September - 9 - 2008 ADD COMMENTS Subscribe here

Tidak benar jika dikatakan bahwa puasa hanya tidak makan dan tidak minum. Di samping dua hal jasmaniah di atas, puasa juga mempunyai aspek yang tidak kalah penting lagi, yaitu aspek bathiniyah ruhaniyah.

Aspek yang meletakkan ibadah puasa pada tingkat yang lebih tinggi sebagi siklus tahunan yang bertugas membentuk kader-kader muslim dengan kadar ketakwaan yang hakiki.

Dalam sebuah haditsnya Rasulullah menggambarkan: “Banyak di antara mereka berpuasa tapi tidak mendapatkan apa-apa, kecuali lapar dan dahaga.” Dari sini bisa kita kesimpulan, bahwa di balik rasa lapar dan haus yang kita rasakan saat berpuasa, kita harus bisa menggali hikmah dan nikmat yang tersimpan, agar tidak termasuk pada golongan di atas.

Ibadah puasa menyimpan banyak hikmah yang bila kita gali, bukannya akan berkurang, tapi akan bertambah. Seperti air laut, semakin banyak kita minum semakin haus rasanya. Ramadhan ibarat cermin yang memantulkan apa yang ada di depannya.

Kalau kta menyambut dan menjalaninya dengan baik, maka ia akan baik pada kita. Tapi kalau kita memasang muka masam dan buruk rupa di hadapannya, ia akan menjelma seperti yang kita perbuat di hadapannya. Maka berhias manislah di hadapannya!

Puasa mengajarkan kita kedisiplinan waktu. Disiplin untuk berbuka dan sahur (mewakili kebutuhan biologis kita), disiplin sholat Taraweh (mencerminkan aspek rohaniyah), dan disiplin bangun pagi (mewakili kebutuhan fisikologis).

Kita diajarkan untuk bisa memenej waktu sebaik dan seefisien mungkin, karena waktu adalah modal kita yang paling berharga. Waktu kita sadari atau tidak akan sangat cepat berlalu, dan adalah hal mustahil bagi kita untuk mengembalikannya.

Maka siapa saja yang ingin hidupnya berarti, hargailah waktu. Bahkan Tuhanpun memberikan posisi yang mulia terhadap waktu. Banyak ayat yang menerangkan tentang urgensi waktu (lihat QS. 89:1-2, 92:1-2, 93:1-3).

Puasa mengajarkan kita arti sebuah kejujuran. Jujur pada Allah dan kepada diri kita sendiri. Karena keduanya adalh modal paling dasar dalam kehidupan. Bisa saja kita berkata “Saya puasa” di depan umum, kemudian di belakang kita makan dan minum sepuasnya. Ia mungkin bisa membohongi orang lain.

Tapi apakah kita bisa membohongi Tuhan yang Maha Tahu dan diri kita sendiri? Bersikap jujur kepada Tuhan adalah pangkal dan modal untuk bersikap jujur pada orang lain. Kita seharusnya memahami makna dan arti sebuah kejujuran. Bukankah tidak ada yang tersembunyi dari kacamata Allah SWT? (baca QS. Al Nahl 19, al An’am 03).

Puasa mengajarkan kita meningkatkan rasa peduli dan solidaritas. Dengan puasa kita diajak untuk merasakanpula “belantara” kaum fakir dan misin yang terbiasa dengan rasa lapar, haus dan dahaga.

Sehari makan, sehari tidak. Sense of crisis kita dipacu untuk tidak hanya berktat alam ranah “keprihatinan pikir” tapi juga merasakan langsung “keprihatinan praktis” nya. Puasa memberikan ruang bagi kita untuk merenung, berpikir, untuk kemudian merealisasikannya alam karya nyata. Bukankah setelah melalui masa kontemplatif sebulan itu kita diwajibkan berzakat? Itulah tindakan nyata!

Puasa juga mengajarkan kita mensyukuri nikmat. Biasanya ketika kita berada dalam kesenangan, menikmati kehidupan yang mapan, kita terkadang lupa untuk bersyukur dan mengingat Tuhan. Tapi, justru kita akan merasakn nikmat dari kenikmatan yang diberikan pada kita, jika kita berada di luar “bingkai” kenikmatan tersebut.

Bila kita sakit, kita akan berpikir tentang nikmat sehat. Ketika kita melarat, maka akan teringat nikmatnya bahagia. Begitu pula ketika kita lapar, kita akan merasakan nikmatnya kenyang. Dan saat kita mengingat nikmat tersebut, kita dituntut untuk bersyukur. Allah berfirman: “Jika kalian bersyukur, maka kami akan menambahnya. Dan jika kalian kufur, sesungguhnya adzabku itu sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Puasa megajarkan kita untuk menahan nafsu. Menahan semua keinginan yang tidak sejalan dengan agama dan realita yang ada. Semua manusia tentu tidak lepas dari keinginan, hawa dan ambisi pribadi.

Semua itu adalah fitrah. Tapi Rasulullah mengingatkan pada kita bahwa nafsu adalah medan peperangan yang besar yang harus kita hadapi. Dan puasa adalah benteng kokoh yang akan membantu kita menahan serangan-serangan nafsu. Siapakah kita berperang? Terutama berperang kepada kemiskinan dan ketidakberdayaan.

QS. Al-Baqarah : 216

Posted by Fahmi Azzam On September - 9 - 2008 ADD COMMENTS Subscribe here
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui."


Ketahuilah...
Tak selamanya hal yang kita benci tidak baik dan tak selamanya hal yang baik selalu baik. Sesungguhnya Allah Maha Pemilik Kebaikan yang Abadi. Dan hanya Allah lah yang Maha Mengetahui atas kehendak hati hambanya.

Seorang Sahabat…

Posted by Fahmi Azzam On September - 9 - 2008 ADD COMMENTS Subscribe here

“Alangkah susah mendapat kawan… bukan kenalan di zaman ini, berpuncak dari hati yang rusak, yang ada hanyalah di jalanan…”

Kata-kata Al-Qamah kepada anaknya….
Sifat-sifat seorang sahabat yang soleh ialah…
* bila engkau berbakti padanya, dia akan melindungimu
* bila engkau perlukan pertolongan, dia akan membantumu
* bila engkau melakukan kebaikan, dia akan menerimanya dengan baik
* bila dia melihat kelemahanmu, dia akan menutupnya
* bila engkau meminta daripadanya, dia akan coba mengusahakannya
* bila engkau berdiam diri ( malu untuk meminta ), dia akan bertanyakan kesusahanmu
* bila datang suatu bencana menimpamu, dia akan meringankan kesusahanmu
* jika engkau merancang sesuatu, dia akan membantumu
* jika engkau berselisih faham, dia akan mudah mengalah demi menjaga kepentingan
persahabatan……

” Sahabat sejati… memandang wajahnya teringat Allah, mendengar kata-katanya menambah
Iman di jiwa, melihat wajahnya teringat Kematian…….”

Sahabat,
Aku ingin sepertimu dalam ketenangan … menghadapi hidup ini……

Makna Tersirat

Posted by Fahmi Azzam On Juni - 3 - 2008 ADD COMMENTS Subscribe here

Untuk sebuah harapan pada sedhaif insan, sediakanlah sedikitnya tiga kecewa terlatih untuk persiapan. Tapi bagi tiap-tiap permohonan pada yang MAHA, maka pastikanlah engkau menanti tanda-tanda kekuasaan-Nya. Kerasnya batu mungkin tanda kekokohannya. Tapi karena kerasnya juga, dengan satu bantingan sang batu terpecah. Memang tetap tidak bisa disangkal bahwa lemahnya daun kering membuat sang daun tak berpendirian. Arahnya tergantung semilir angin atau hempasan badai. Lalu mengapa tidak elastis saja? Yang mengerti kapan harus bertegak, berubah dan kembali ke bentuk semula. Tidak hancur hempas, tidak patah tertindih.


Kemarin telah berlalu, esok belum tiba dan bisa jadi tidak akan pernah tiba. Lakukan yang terbaik hari ini, saat ini…!!!


Di sudut gelap kamarnya mungkin ada anak manusia menangis tak ada habisnya. Mungkin “CUMA” karena harapannya, kecewanya, marahnya atau keputus asaannya. Tapi juga ada manusia yang tak kalah muda usia masih sanggup bertegak di samping mayat Ayah Ibunya, di depan jasad saudara perempuannya yang ternoda, di atas tanah air dan harta bendanya yang terampas, di…


Tidak ada tangis apalagi buruknya prasangka pada pencipta. Dia memilih memegang erat batu gaza untuk mengisi detik yang masih dimilikinya. Kita siapa…??? Tergantung bagaimana kita menyikapi segalanya. Tidak semua dan tidak banyak yang bisa sebaik dirimu. Tidak ada harapan dan permohonan yang lain pada Allah untukmu selain doaku : “Semoga setelah awal yang baik yang berhasil engkau bangun, bisa engkau jalani dan akhiri dengan yang lebih baik…”

Nasihat Wanita Buruk Rupa

Posted by Fahmi Azzam On Mei - 30 - 2008 1 COMMENT Subscribe here

SEORANG Gubernur pada zaman Khalifah Al-Mahdi, pada suatu hari mengumpulkan sejumlah warganya dan menaburkan uang dinar dihadapan mereka. Tentu saja semuanya saling berebutan memunguti uang itu dengan suka cita. Siapa tidak senang diberi uang secara gratis tanpa persyaratan yang macam-macam.

Namun, seorang wanita kumal, berkulit hitam dan berwajah buruk yang hadir terlihat diam, ia tidak bergerak untuk memunguti uang yang ditabur gubernur tersebut. Ia hanya memandangi para tetangganya yang sebenarnya lebih kaya dari dirinya tetapi seolah-olah mereka orang-orang yang kekurangan harta.

Dengan keheranan gubernur tersebut bertanya kepada wanita tersebut, "Mengapa engkau tidak ikut memunguti uang dinar itu seperti tetangga engkau?"

Wanita yang sudah tidak bersuami itu (janda) menjawab, "Tuanku, yang mereka cari itu uang dinar sebagai bekal dunia. Sedangkan yang saya perlukan bukan dinar melainkan bekal akhirat."

"Maksud engkau?" tanya sang gabernur mulai tertarik akan kepribadian perempuan itu. "Maksud saya, uang dunia sudah cukup. Yang masih saya perlukan adalah bekal akhirat, yaitu sholat, puasa dan zikir. Sebab perjalanan di dunia amat pendek dibanding dengan pengembaraan di akhirat yang panjang dan kekal."

Mendengar jawaban tersebut, gabernur merasa telah disindir tajam. Ia insaf, dirinya selama ini hanya sibuk mengumpulkan harta benda dan melalaikan kewajiban agamanya. Padahal kekayaannya melimpah rauh, tak kan habis dimakan keluarganya sampai tujuh keturunan. Sedangkan umurnya sudah di atas setengah abad, dan Malaikat Izrail jelas sudah mengintainya.

Akhirnya sang gabernur jatuh cinta kepada perempua lusuh yang berparas buruk rupa itu. Tentu saja, kabar itu tersebar ke segenap pelosok negeri. Orang-orang besar tak habis fikir, bagaimana seorang gabernur yang mempunyai kekuasaan dan harta menaruh hati kepada perempuan jelata bertampang buruk itu.

Untuk menjawab prasangka yang tidak baik tersebut, maka pada suatu kesempatan, gabernur mengundang mereka dalam sebuah pesta mewah. Begitu juga para warganya, termasuk wanita yang dicintainya tersebut. Kepada mereka diberikan gelas kristal yang bertahtakan permata, berisi cairan anggur segar. Gabernur lalu memerintah agar mereka membanting gelas masing-masing. Semuanya terbengong dan tidak ada yang mau menuruti perintah itu. Tiba-tiba terdengar bunyi berdenting, pertanda ada orang yang melaksanakan perintah itu.

Tentu saja semua terkejut, mereka jelas berpikiran hanya orang gila saja yang akan melemparkan gelas kristal yang bertahta permata tersebut. Selidik punya selidik, rupanya yang memecahkan gelas mahal itu adalah perempuan yang berwajah buruk tersebut. Di kakinya pecahan gelas berhamburan.

Gabernur lalu bertanya, "Mengapa kaubanting gelas itu?" Tanpa takut wanita itu menjawab, "Ada beberapa sebab. Pertama, dengan memecahkan gelas ini berarti berkurang kekayaan tuan. Tetapi, menurut saya hal itu lebih baik daripada wibawa tuan berkurag lantaran perintah tuan tidak dipatuhi." Gabernur terkesima. Para tamunya juga kagum akan jawaban yang masuk akal itu. Sebab lainnya?" tanya Gabernur. Wanita itu menjawab, "Kedua, saya hanya menaati perintah Allah. Sebab di dalam Al-Quran, Allah memerintahkan agar kita mematuhi Allah, Utusan-Nya, dan para penguasa. Sedangkan tuan adalah penguasa, atau ulil amri, maka dengan segala resikonya saya laksanakan perintah tuan." Gubernur kian takjub. Demikian pula paran tamunya. "Masih ada sebab lain?"

Perempua itu mengangguk dan berkata, "Ketiga, dengan saya memecahkan gelas itu, orang-orang akan menganggap saya gila. Namun, hal itu lebih baik buat saya. Biarlah saya dicap gila daripada tidak melakukan perintah gubernurnya, yang bererti saya sudah berbuat durhaka. Tuduhan saya gila, akan saya terima dengan lapang dada daripada saya dituduh durhaka kepada penguasa saya. Itu lebih berat buat saya."

Maka ketika kemudian gubernur yang kematian isteri itu melamar lalu menikahi perempuan bertampang jelek dan hitam legam itu, semua yang mendengar bahkan berbalik sangat gembira kerana gubernur memperoleh jodoh seorang wanita yang tidak saja taat kepada suami, tetapi juga taat kepada gubernurnya, kepada Nabinya, dan kepada Tuhannya.

Sebuah kisah yang penuh hikmah. Apalagi saat ini kita melihat, kekayaan dan rupa menjadi salah satu sebab orang menghargai seseorang. Sementara kemiskinan dan buruk rupa menyebabkan orang menjauh darinya.

Padahal tidak demikian. Belum tentu kekayaan yang kita dapatkan dan rupa yang ada pada diri kita menyebabkan kita akan selamat dunia akhirat, karena bagaimanapun ini akan dipertanggungjawabkan. Sementara kemiskinan dan buruk rupa yang didapatkan seseorang bisa menjadi ladang amal bagi dirinya, jika ia sabar dan bersyukur dengan apa yang Allah berikan kepadanya.

Di sinilah hikmah yang paling dalam terkandung dalam kisah ini, mudah-mudahan hal ini menjadi pelajaran bagi kita semua, terutama bagi mereka-mereka yang ingin mencari pasangan, jangan hanya memprioritaskan kepada kekayaan dan rupa semata, tetapi keimanan dan ketakwaan kepada Allah diabaikan. Karena kekayaan setiap saat bisa diambil Allah, rupa yang cantik dan elok juga bisa hilang seketika. Tetapi yakinlah, kalau keimanan dan ketakwaan menjadi kunci insya Allah, pintu dunia dan akhirat akan terbuka untuk kita.

Loket Tiket

Posted by Fahmi Azzam On Mei - 12 - 2008 ADD COMMENTS Subscribe here
Kemarin ketika hendak pergi ke Rantau Prapat saya memilih untuk menaiki kereta api yang bagi kantong "minimal" merupakan alat transportasi paling efisien jika kita pergi ke Rantau Prapat. Ada dua macam tiket yang bisa dipilih untuk menuju ke sana, kelas Bisnis dan kelas eksekutif dan tidak ada pilihan lain.

Selama perjalanan, satu hal yang selalu saya pikirkan adalah ternyata dunia ini diciptakan dengan fungsi sebagai loket. Kita tahu, di loket tiket tersedia tiket dengan berbagai macam jenis, yang kelas bisnis dan kelas eksekutif sampai kelas "kambing" pun ada. Mana yang kita pilih? Terserah kita mau pilih dan beli yang mana karena masing-masing tiket sudah jelas posisi dan keadaannya. Inilah kata kunci dari fungsi loket tiket. Tempat kita memilih dan membeli.

So, di loket tiketlah sesungguhnya nasib kita ditentukan. Sebanyak apapun uang yang kita bawa, jika sudah memilih dan membeli tiket lalu kita masuk ke kereta api, maka kita akan menduduki tempat sesuai dengan pilihan tiket yang kita beli, sehingga dengan uang kita yang banyak kita bisa menukar tiket seenak kita. Suka atau tidak, kita harus rela menerima konsekuensi dari sikap kita ketika masih di loket tiket. Di dalam kereta api sudah tidak ada lagi acara pilih memilih dan beli membeli tiket, karena memang bukan tempatnya. Cuma satu kata kunci dari fungsi kereta api yaitu tempat kita merasakan akibat dari tiket yang kita pilih dan beli.

Inilah sesungguhnya jawaban dari apapun fenomena yang terjadi di dunia. Apapun yang terjadi di sini, baik atau buruk atau campuran antara baik dan buruk, semuanya "boleh" dan "sah" terjadi selama di dunia. Di dunia, masih bisa terjadi istilah ganti pilihan tiket. Yang beli tiket kebaikan bisa menukar dengan tiket keburukan, begitu juga sebaliknya.

Kalau sudah sampai akhirat, tidak ada lagi pilihan-pilihan. Masing-masing kita akan menempati posisi sesuai dengan "tiket" yang kita beli dan pilih. Surga atau neraka! Tidak ada lagi pilihan, karena akhirat bukan loket seperti di dunia...

Wallahu a'lam