Feb
14th

Lambang dan Makna Lambang Laskar Hijau Bulan Bintang Laskar Hijau Pejuang Syariah (LHPBB)

Bismillahirrahmanirrahiim, MAKNA LAMBANG LASKAR HIJAU LANTANG (LHPBB) 1. Lambang Laskar Hijau Lantang  adalah tanda pengenal yang melambangkan  sifat, keadaan, nilai dan tujuan laskar hijau  lantang  dengan ikhtiar nyata melalui pergerakan pena dan media. (Kreasi Lambang dan Makna Lambang oleh Agung Arifudin dan Badrut Tamam Gaffas) 2. Lambang Laskar Hijau Lantang terdiri atas : * a.Bulan Bintang Berwarna Kuning Keemasan * [...]
Apr
30th

2,5 % terasa sulit untuk dicapai Partai Bulan Bintang, Benarkah ?!?!

[Bismillahirrahmanirrahiim - Bulan Bintang Media] Sebuah Topik Diskusi di Forum Laskar Hijau Oleh : Bp.  Kasman Panduko Ada rasa haru, sedih (tanpa kehilangan rasa optimis tentunya), melihat hasil Quick Count : PBB sangat sulit menembus angka 2,5 %. Insya Allah kita bisa mencapainya dengan Ridha Illahi tentunya, masih ada sisa waktu. Tentunya kita semua sudah bisa mengadakan evaluasi tentang [...]
Apr
2nd

MS Kaban Serukan Kebangkitan Indonesia Bersama Syariat Islam dalam Orasi Kampanye Partai Bulan Bintang di Sumatera Barat

[Bismillahirrahmanirrahiim - Bulan Bintang Media] Puluhan Ribu Massa Partai Bulan Bintang menyemut hijaukan Sumatera Barat, tidak kurang dari sepuluh ribu simpatisan Partai Bulan Bintang (PBB) memadati lapangan Pasar Amur, Kecamatan Sungai Pua, Kabupaten Agam, Sabtu (21/3). Tampil sebagai juru kampanye (jurkam) Ketua Umum DPP PBB, MS Kaban, Caleg DPR RI Nursyamsi Nurlan, SH., Ketua DPC Agam, [...]
Mar
16th

Kasman, SE, MM Dosen yang Istiqomah berjuang dibawah terang cahaya Bulan Bintang

[Bismillahirrahmanirrahiim - Bulan Bintang Media] Banyak sisi menarik dari sosok pak Kasman yang sederhana, selain menjalani aktivitas sebagai Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sahid Jakarta beliau juga istiqomah berjuang sebagai Ketua PAC Partai Bulan Bintang Kecamatan Bojong Gede Kabupaten Bogor. Ditengah rutinitas berinteraksi dan bersilaturrahim dengan konstituen pak kasman ternyata tidak mengesampingkan media informasi sebagai pengiring [...]
Sep
11th

GPI Award Dan Panggilan untuk Istiqomah Perjuangkan Penegakan Syariat Islam

Bismillahirrahmanirrahiim. Tokoh Islam Abu Bakar Baasyir, Ketua Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq, dan Ketua Majelis Syuro DPP Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra menerima Gerakan Pemuda Islam (GPI) Award, karena kegigihan mereka memperjuangkan penerapan Syariat Islam di Indonesia. Penyerahan penghargaan itu dilaksanakan di kantor GPI di Jakarta, Sabtu, bersamaan dengan acara Muhasabah Ramadhan dan [...]
Agu
2nd

Melihat Dari Dekat Calon Presiden Alternatif untuk Rakyat

Bismillahirrahmanirrahiim Beberapa kali di layar kaca kader Partai Bulan Bintang tampil untuk mensosialisasikan visi, misi dan program perjuangan partai serta dalam rangka lebih mendekatkan partai kepada masyarakat sebagai pendukung dan pemilih. Setelah Bang Dr. H Ali Mochtar Ngabalin, MSi tampil dalam debat di TV One seputar penerapan syariat Islam dengan Prof. Dr. Thamrin Amal Tamagola, selanjutnya [...]
Mei
9th

Secerah Pewarna di Pulau Dewata


Sesaat bus menginjak dermaga pelabuhan ketapang, beberapa musisi jalanan tidak melewatkan kesempatan untuk berunjuk kebolehan, seniman – seniman alam itu memetik gitar, menabuh gendang dan menyanyikan kisah sedih tragedi bom bali, kuingat tragedi yang terjadi di legian kuta itu telah lama terjadi namun duka atas tragedi kemanusiaan itu terasa masih menghunjam dalam, begitupula sesaat bus menjejak gilimanuk, sebuah pos pemeriksaan harus dilalui dan beberapa petugas dengan sigap mencatat identitas setiap orang termasuk tujuan dan masa kunjungnya di Bali, petugas pengamanan pelabuhan itu melakukannya tanpa kesan yang berlebihan dan meski tak terucapkan seolah mereka dengan ramah mengatakan “Selamat Singgah di Pulau Dewata – Pulau Seribu Pura”

Perjalanan menuju Denpasar sedikit terhambat karena di dibeberapa rute jalan bus harus berpapasan dengan parade baris – berbaris dan juga karnaval, rupanya agustusan di Bali tidak kalah meriah dengan di Jawa atau di tempat lainnya, justru menjadi menggelikan ketika dengan fakta ini masih ada yang beranggapan bahwa Bali dengan status khususnya sebagai Daerah Istimewa bukanlah bagian Integral dari negara kita.

Sepanjang perjalanan menuju denpasar terlihat keaslian Pesona Alam Bali yang sangat natural, hamparan hijau persawahan dengan petak bertingkat atau terasiring tampak elok sekaligus menyegarkan, Budaya bercocok tanam di Bali hingga saat ini bisa bertahan karena didukung oleh kesesuaian sistem pengairan yang dikenal sebagai Subak, sebuah potret kearifan tradisional di tengah arus dan pusaran zaman.

Setelah kurang lebih dua jam akhirnya sampai juga di terminal Ubung dan musisi jalanan kembali memperdengarkan senandung pilu tragedi legian dengan paduan irama gendang yang dinamis, rancak dan menghentak.

Jika mengikuti panduan, rute yang seharusnya kutempuh adalah Ubung – Kreneng – Sanur namun seorang sopir angkot yang kemudian kukenal bernama Pak Komang menawarkan diri untuk mengantar langsung ke PPLH Bali di Jalan Danau Tamblingan – Sanur, Pak Komang semakin senang manakala kuceritakan asalku dari Lumajang, para pengrajin perak asal Pulo – Lumajang selama ini cukup dikenal di Bali sebagai pekerja art shop, mereka banyak tersebar di daerah celuk dan sekitarnya, selain itu Pak Komang berharap suatu saat bisa mengunjungi Lumajang yang sudah lazim dikenal sebagai sebuah Kota Penghasil “Pisang Agung” yang terletak di Lereng Gunung Semeru. Lumajang ternyata menyimpan daya tarik wisata religi khususnya bagi peziarah dari Bali, konon setidaknya sekali dalam seumur hidup warga hindu di syariatkan untuk menunaikan ritual sembah-hyang di Pura Mandara Giri Semeru Agung yang terletak di Kecamatan Senduro - Lumajang, sayangnya ritual ini tak ubahnya ibadah haji dan umrah bagi ummat Islam yang dilaksanakan “bila mampu”, untuk keperluan yang satu ini ummat hindu harus menempuh perjalanan ke lokasi mata air suci “Watu Klosot” di Kaki Gunung Semeru dan juga melaksanakan Persembahan (Kurban) yang dilarung di Pantai Watu Pecak (Pantai Laut Selatan), ssst….tanpa terasa PPLH sudah di depan mata dan sekilas info tentang syariat hindu di kota lumajang harus berakhir disini.

Dua hari di PPLH Bali, kami hanya sempat jalan – jalan sore ke Plaza Hardy’s sekedar melihat – lihat cinderamata khas Bali dan jalan – jalan pagi ke pantai sanur menanti “sunrise” terbitnya Sang Mentari, jika turis eropa paling suka jogging sambil menyapa “Se-lamat Pagi” maka turis dari negeri sakura terlihat antusias menyambut datangnya Sunrise, Syariat agama mereka yang memuja matahari menjadikan fenomena sunrise sebagai moment yang istimewa. Para orangtua kita yang menjadi saksi sejarah pernah menuturkan bahwa Pemerintahan Pendudukan Jepang mentradisikan untuk setiap pagi melakukan penghormatan kepada sang kaisar yang diyakini sebagai titisan dari Sang Dewi Matahari “Ametarazu Omikami”, ada juga yang menyebutnya sebagai “Sang Timur” yang disembah setelah terdengar aba – aba “Seikerei Tenno Haika”

Menjelang detik – detik yang dinanti beberapa turis terlihat mengeluarkan digital camera bersiap membidik ke arah timur, bahkan ada yang sejak shubuh telah mempersiapkan seperangkat kamera khusus berlensa fokus panjang yang ditopang oleh sebuah tripod namun sayang keindahan sunrise gagal disaksikan lantaran terhalang oleh gugusan awan. Menariknya turis – turis jepang itu dengan ceria menuturkan “It’s OK , Maybe Tomorrow or Maybe The Day after Tomorrow” sebuah ungkapan yang menandaskan “hanya sebatas inilah ikhtiar manusia dibawah kekuasaan Tuhan”, sebuah ungkapan yang juga berarti “LA KHAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH”

Para Jurnalis Barat menjuluki Bali sebagai “The Heaven Island” alias Pulau Sorga, bagi para Backpacker Pulau ini memang menawarkan banyak kejutan serta dinamika petualangan alam dan budaya, beruntung sekali ada seorang teman, I Wayan Anggara Bawa dari BOA (Bali Organic Assosiation) mengajak berkeliling melihat bali kala senja beranjak malam.

Dari Sanur kami menelusuri jalan ke arah selatan melewati By Pass Bandara Ngurah Rai dan berputar menuju Pantai Kuta, pantai selatan berombak tinggi dan berpasir putih ini tidak hanya menjadi tujuan utama wisata di Bali, pantai kuta sudah lama dikenal sebagai sorganya para peselancar dan menjadi tempat yang mengilhami Andre Hehanusa dan seniman - seniman lainnya untuk menciptakan lagu dan karya – karya indah, sayang kami datang terlambat sehingga gagal menyaksikan matahari terbenam alias sunset namun setidaknya masih terlihat gambaran keindahan seperti yang digambarkan oleh Maribeth, seorang penyanyi asal filipina dalam lirik lagunya “Denpasar Moon, Shining on an empty street”.

Perjalanan berlanjut ke pusat kota, melewati monumen peringatan bom bali – sebuah dinding penuh bertuliskan nama – nama korban jiwa pada tragedi 12 Oktober 2002 itu, para wisatawan biasanya datang untuk memperingati tragedi bali dengan menyalakan lilin di sekitar lokasi kejadian dan setiap tahunnya tragedi itu diperingati sebagai momentum untuk “Bangkit” diatas semangat Persaudaraan dan Perdamaian.

Bom Bali menyisakan stigma pukul rata, selain sektor pariwisata yang terimbas langsung karena munculnya Travel Warning, komunitas muslim khususnya Komunitas Muslim Bali menghadapi tantangan untuk bisa membuktikan bahwa Islam dan Syariat Islam merupakan ajaran anti terorisme, Islam senantiasa mengajarkan “Seseorang tidak dinyatakan beriman sebelum ia mencintai orang lain seperti ia mencintai dirinya sendiri” sebuah pesan damai yang sepatutnya kita jaga dan refleksikan secara nyata dalam realitas kehidupan.

(Ditulis Oleh Badrut Tamam Gaffas, Sebuah Catatan Perjalanan)