Ali dan beberapa kawannya telah menggerus etika kejujuran dalam ujian yang baru diikutinya di kelas. Jawaban yang sudah disiapkan gurunya di’telan mentah-mentah’ sebagai jawaban dari tuhannya. Sang ustazah memberi wahyu tertulis jawaban dari ujian nasional yang sebelumnya disakralkan oleh sekolah dan Ali.
Hari itu, saat Ali menyalin jawaban dari secarik kertas sang ustadzah, kepala sekolah pun mengamini tindakan pembeberan jawaban ujian tersebut. Matilah moralitas sekolah. Sudah tak ada sekolah yang berani menjunjung kebenaran dan kejantanan - benani menang, berani kalah - dalam ujian nasional.
Lalu, kalau sang guru gagal mengajarkan konsep kebahagiaan melalui kejujuran, apa yang bisa diandalkan anak dan negara ini sepuluh tahun ke depan? Ternyata saat ini tak ada lagi hidup bermutu (tak asal hidup) demi tercapainya kebahagiaan melalui ujian nasional.
Padahal jauh-jauh hari filsuf Aristoteles mengemukakan kebahagiaan haruslah tujuan dari dirnya sendiri dan bukan tujuan instrumental : sekolah bahkan penguasa setempat. Sudah tak ada lagi kenikmatan dengan kebijaksanaan seperti harapan Epikuros. Tapi, hanya kemauan sang penguasalah Ali dan ustadzah berkiblat.
Seperti kata guru, rekan saya mengawas saat ujian akhir sekolah berstandar nasional tahun lalu, kalau kelas murid kelas enam nilainya jelek, maka guru kelas enam lah yang akan dimarahi oleh kepala sekoalah.
Dan saat nilai sebuah sekolah jelek maka kepala sekolahlah yang akan di marahi oleh dinas pendidikan setempat. Bahkan kalau nilai kelulusan di sebuah kabupaten atau kota jelek, maka gubernurlah yang akan memarahi bupati dan walikota tersebut. Aneh! Kolektifitas pencurian.
Kolektif Mencuri
Bagi Al-Ghazali dalam karya terjemahannya Meretas Jalan Kebenaran, taqlid memang sebagai salah satu sumber pengetahuan. “Tetapi seperti yang telah kita lihat, sumber ini bukan menjadi bagian bagi semua orang,” tulis Ghazali.
Itu memang jalan keimanan yang ada dari sekian banyak jalan. Keimanan rasional yang juga pernah saya lalui di sekolah-sekolah umum. Dan kini, di ujian nasional terbuktilah bagaimana keimanan murid-murid diujikan. Lalu hasilnya banyak yang gagal.
Tadi pagi, istri saya harus mengorek dalam-dalam kecurangan yang terjadi di sekolah yang ia datangi. “Ternyata, masih banyak berkeliaran pencuri-pencuri ilmu dan pelaku taklid buta dari secarik kertas di sini,” kata istri saya sambil menyerahkan kertas berisi jawaban ujian nasional pada temannya.
Seandainya Haji Abdul Majid (HAM) masih hidup dan menyaksikan yang terjadi kecurangan ujian nasional di sekolah-sekolah pasti beliau akan memukul seperti memukul anaknya Haji Muhammad Zainuddin (HMZ). Dan itu harus dilakukan pihak sekolah bila menemukan kecurangan ujian. HAM saja teguh mengajarkan etika dan kejujuran pada TGKH HMZ. Mengapa kita tidak(?).
Dan kejujuran pun membuahkan hasil, HMZ menjadi sejarah tokoh nasional dan banyak mendirikan Madrasah NW hingga di pelosok negeri. Kalau kita tidak meneladani HAM, lalu apa yang kita harapkan dari pelaksanaan ujian nasional kali ini? Tidak ada.
Tidak ada, karena ketidakjujuran sudah tersistem di luar akal sadar kita. Ketidakjujuran sudah lama mendarah daging di negeri ini. Lihat saja temuan istri saya. Kertas yang didapatkan dari salah seorang murid itu ternyata tulisan sang gurunya.
“Inget ya, koling-koling kita,” kata murid tersebut sambil mempraktekkan tingkah polah guru yang ia segani itu. Loh, ternyata gurunya ya yang merekomendasikan jawaban itu.
Sudahlah. Semua mau mendapatkan nilai terbaik. Semua mengamini ketidakjujuran yang tersistem. Semua terbiasa secara kolektif mencuri. Penyimpangan etika yang digerus oleh Ali dan banyak sekolah kali ini lewat ujian nasional. Jadi katakan, selamat tinggal kejujuran, selamat tinggal kebahagiaan religius (meminjam istilah Thomas Aquinas). Selamat datang penipuan dan kebodohan. “Saya harap anak cucu saya tidak melakukan hal sehina itu.”
The photo and the text can be changed by modifying the about.php file.Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.




