Dunia PII

Seputar Dunia Aktifis PII

The photo and the text can be changed by modifying the about.php file.Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

User Login

Site Search

Archive for the ‘tapaki cerita’ Category

Menggerus Etika Ujian

Posted by rusydi hikmawan On Maret - 24 - 2010 ADD COMMENTS Subscribe here
ernyata proses belajar Ali selama tiga tahun di sekolah menengah atas di salah satu madrasah di desanya tidak membuatnya mampu membedakan abstrak dan konkret : realita dan imajinasi. Ali malah terjebak oleh buaian imajinasi kelulusannya mengikuti ujian nasional.

Ali dan beberapa kawannya telah menggerus etika kejujuran dalam ujian yang baru diikutinya di kelas. Jawaban yang sudah disiapkan gurunya di’telan mentah-mentah’ sebagai jawaban dari tuhannya. Sang ustazah memberi wahyu tertulis jawaban dari ujian nasional yang sebelumnya disakralkan oleh sekolah dan Ali.

Hari itu, saat Ali menyalin jawaban dari secarik kertas sang ustadzah, kepala sekolah pun mengamini tindakan pembeberan jawaban ujian tersebut. Matilah moralitas sekolah. Sudah tak ada sekolah yang berani menjunjung kebenaran dan kejantanan - benani menang, berani kalah - dalam ujian nasional.

Lalu, kalau sang guru gagal mengajarkan konsep kebahagiaan melalui kejujuran, apa yang bisa diandalkan anak dan negara ini sepuluh tahun ke depan? Ternyata saat ini tak ada lagi hidup bermutu (tak asal hidup) demi tercapainya kebahagiaan melalui ujian nasional.

Padahal jauh-jauh hari filsuf Aristoteles mengemukakan kebahagiaan haruslah tujuan dari dirnya sendiri dan bukan tujuan instrumental : sekolah bahkan penguasa setempat. Sudah tak ada lagi kenikmatan dengan kebijaksanaan seperti harapan Epikuros. Tapi, hanya kemauan sang penguasalah Ali dan ustadzah berkiblat.

Seperti kata guru, rekan saya mengawas saat ujian akhir sekolah berstandar nasional tahun lalu, kalau kelas murid kelas enam nilainya jelek, maka guru kelas enam lah yang akan dimarahi oleh kepala sekoalah.

Dan saat nilai sebuah sekolah jelek maka kepala sekolahlah yang akan di marahi oleh dinas pendidikan setempat. Bahkan kalau nilai kelulusan di sebuah kabupaten atau kota jelek, maka gubernurlah yang akan memarahi bupati dan walikota tersebut. Aneh! Kolektifitas pencurian.

Kolektif Mencuri

Bagi Al-Ghazali dalam karya terjemahannya Meretas Jalan Kebenaran, taqlid memang sebagai salah satu sumber pengetahuan. “Tetapi seperti yang telah kita lihat, sumber ini bukan menjadi bagian bagi semua orang,” tulis Ghazali.

Itu memang jalan keimanan yang ada dari sekian banyak jalan. Keimanan rasional yang juga pernah saya lalui di sekolah-sekolah umum. Dan kini, di ujian nasional terbuktilah bagaimana keimanan murid-murid diujikan. Lalu hasilnya banyak yang gagal.

Tadi pagi, istri saya harus mengorek dalam-dalam kecurangan yang terjadi di sekolah yang ia datangi. “Ternyata, masih banyak berkeliaran pencuri-pencuri ilmu dan pelaku taklid buta dari secarik kertas di sini,” kata istri saya sambil menyerahkan kertas berisi jawaban ujian nasional pada temannya.

Seandainya Haji Abdul Majid (HAM) masih hidup dan menyaksikan yang terjadi kecurangan ujian nasional di sekolah-sekolah pasti beliau akan memukul seperti memukul anaknya Haji Muhammad Zainuddin (HMZ). Dan itu harus dilakukan pihak sekolah bila menemukan kecurangan ujian. HAM saja teguh mengajarkan etika dan kejujuran pada TGKH HMZ. Mengapa kita tidak(?).

Dan kejujuran pun membuahkan hasil, HMZ menjadi sejarah tokoh nasional dan banyak mendirikan Madrasah NW hingga di pelosok negeri. Kalau kita tidak meneladani HAM, lalu apa yang kita harapkan dari pelaksanaan ujian nasional kali ini? Tidak ada.

Tidak ada, karena ketidakjujuran sudah tersistem di luar akal sadar kita. Ketidakjujuran sudah lama mendarah daging di negeri ini. Lihat saja temuan istri saya. Kertas yang didapatkan dari salah seorang murid itu ternyata tulisan sang gurunya.

“Inget ya, koling-koling kita,” kata murid tersebut sambil mempraktekkan tingkah polah guru yang ia segani itu. Loh, ternyata gurunya ya yang merekomendasikan jawaban itu.

Sudahlah. Semua mau mendapatkan nilai terbaik. Semua mengamini ketidakjujuran yang tersistem. Semua terbiasa secara kolektif mencuri. Penyimpangan etika yang digerus oleh Ali dan banyak sekolah kali ini lewat ujian nasional. Jadi katakan, selamat tinggal kejujuran, selamat tinggal kebahagiaan religius (meminjam istilah Thomas Aquinas). Selamat datang penipuan dan kebodohan. “Saya harap anak cucu saya tidak melakukan hal sehina itu.”

Menulis Doa

Posted by rusydi hikmawan On Maret - 14 - 2010 ADD COMMENTS Subscribe here
“Loh, kok gak jadi?”
“Sudah jam dua belas apa?”
“Ya. Sudah.”


am dua belas tengah malam berarti waktunya baca dan nulis. Seperti biasa, weker yang sudah diaktifkan ternyata tidak sedikit pun membangunkan saya. Tapi istrilah yang bekerja keras membuat mata saya terbuka lebar. “Sholat sana, biar kuat,” kata Ummu Shofia menyemangati. Mata memang sulit diajak berkompromi, tapi ini harus. Karena pagi hingga malam sulit belajar maksimal dengan mengikat makna – meminjam istilah Pak Hernowo.

Selepas sholat malam, membaca menjadi agenda selanjutnya. Membaca buku hingga mampu mengikat makna biar blog tetap terisi posting bergizi. Ketika pagi baru seja dimulai semenit yang lalu, dan membaca harus mampu mengambil hal-hal penting biar terkreasi tulisan baru dengan gaya baru.

Kalau tidak puas mengikat makna dari buku, hape jadul saya pun siap membantu. Bermodal pulsa sisa pekan lalu, curve melaju kencang di jam-jam seperti ini. Tak perlu ribet menulis di atas tuts laptop, cukup kertas bekas mahasiswa sang istri dan pulpen sudah membantu. Ya karena gak punya laptop juga. Tapi apapun keadaannya harus tetap disyukuri dan masalah teknis tak boleh jadi kendala untuk berkarya.

Saya memang pengen punya laptop, punya segala fasilitas untuk mendukung aktivitas kepenulisan saya. Namun, saya juga harus realistis. Realistis bermimpi, realistis berdoa. Pembaca pasti masih ingat dengan tulisan saya Berdoalah, Bang. Berdoa! Doa dalam posting itu sudah terkabul lama. Motor Win 100 yang saya harapin sudah sering menggendong saya sampai ke Rinjani. Dulu.

Sekarang, menulis doa biar punya laptop. Menulis doa, semoga laptop yang kelak saya miliki membantu amal ibadah saya dan keluarga di dunia dan kelak di akherat. Amiin.

Secangkir Kopi Beraroma Cengkeh

Posted by rusydi hikmawan On Maret - 5 - 2010 ADD COMMENTS Subscribe here
angkir harus terus diisi dengan kopi beraroma cengkeh pagi ini. Baru tiga jam berlalu sejak tengah malam. Hanya tiga jam lagi buku di depan memiliki waktu bersama saya, untuk dinikmati. Tiga jam sebelum semua rutinitas pagi dimulai : bersih-bersih dan kembali mengajar di esde.

Psikologi Marxis karya Phil Brown memang terus memanggil sejak kemarin. Meretas Jalan Kebenaran-nya Ghazali pun kuat menarik tangan saya untuk segera dibaca kembali. Ini baru tiga jam berlalu. Semua buku berteriak, membangunkan saya dari hening malam dan hangatnya selimut biru.

Mau diapakan lagi kalau sudah begini. Cangkir harus terus diisi dengan kopi kental beraroma cengkeh pagi ini.

Nanti, ketika matahari akan muncul, tigapuluh menit berjalan, saya harus menempuh jalan berkelok empatpuluh menit dan terguncang di jalan runtak* selama tigapuluh menit. Jalan yang menggiring saya bertemu murid-murid desa di perbatasan Kecamatan Sembalun.

Semua ingatan tentang mereka sesekali muncul di sela-sela paragraf Pendidikan Rakyat Petani karya Barid Hardiyanto. Paragraf yang menyatukan rasa dan aksi untuk menjadikan semua murid saya berani bersuara dan berekspresi.

Jawaban-jawaban masalah di kelas selama ini pun sering saya temui di rangkaian kalimat Sekolah Gratis-nya Utomo Dananjaya. Dan petuah suci Agus Nggermanto di Quantum Quetient.

Semua harus saya baca sebelum koko ayam terdengar oleh matahari.

Strategi pembelajaran harus rampung disusun, materi ajar harus mampu memanusiakan mereka, murid saya. Itu sebabnya, cangkir harus terus diisi dengan kopi kental beraroma cengkeh pagi ini.

“Abang, tidur,” terdengar suara istri saya memanggil.
“Entar, cinta,” jawab saya lirih biar Shofia, anak saya, tidak terbangun.

Dia, istri saya, memang tidak biasa tidur tanpa genggaman erat tangan saa. Tanan saya terlanjur berselingkuh dengan tumpukan buku. Pikiran saya pun terlanjur melesat ke dalam rangkaian huruf-huruf buku dan tak ada yang bisa mengusik semua hayal saya tentang sekolah idaman.

“Sudahlah, murid-murid tdak perlu dipikirkan sebegitu dalam. Kan guru-guru lain sudah mengajar sebatas mesin. Sebatas ceramah, tulis, dan diam tak bersuara.”

Pikiran itu seringkali mengganggu saat tubuh ini terasa lemas tanpa kopi beraroma cengkeh.

“Gak mungkin. Itu bukan tipe saya. Bagaiaman saya harus ngelakuin itu. Haruskah idealisme saya jual sebatas gaji bulanan?”

Saya memang buruh pendidikan yang gak punya jabatan tinggi, jabatan politis atau berbesan dengan pejabat di sini. Saya guru kecil yang bisa saja didepak, karena gak manut pada atasan. Atau bisa saja saya dipekerjakan di salah satu pulau kecil di Kabupaten Lombok Timur ini kalau tidak mengikuti pakem penguasa.

Saya harus menerima semua resiko, ketika tak bersahabat dengan penguasa. Cukuplah saya bersahabat dengan buku dan pulpen. Dan dihangati secangkir kopi beraroma cengkeh sampai pagi, sampai mata ini tertutup selamanya.

Catatan :
runtak* Bahasa Sasak artinya jalan berlubang dan berbatu.

Tifatul Dan Curhat Twitter

Posted by rusydi hikmawan On Februari - 26 - 2010 4 COMMENTS Subscribe here
atu lagi kali ini saya tulis mengenai efek jejaring sosial selain Facebook. Jejaring yang berhasil menyediakan media untuk berekspresi. Inilah Twitter. Walau dibatasi hanya sampai 140 karakter, tapi Twitter mampu menjadi telegram abad 21.

Gak hanya selebriti. Politisi pun banyak meraih sukses berkat Twitter. Pengguna Twitter yang paling banyak pengikutnya adalah Barack Obama, tercatat memiliki lebih dari 265.000 pengikut.

Twitter juga terbukti menjadi sumber berita berharga dan seringkali mengalahkan kecepatan media. Update pesan penggunanya bisa dilihat semua orang. Pasti itulah alasan mengapa mantan presiden PKS kerapkali ngetwet 'curhat'nya di ruang Twitter.

Dia bisa dibilang paling aktif meng-update status. Dari kabar kegiatan harian hingga menanggapi isu yang berkembang. Tidak kurang 30-an ribuan follower ada di akun sang menteri, seperti dilansir berita metrotvnews.com.

Memang, riuh RPM Konten belum juga mereda, kini Tifatul Sembiring sebagai Menkoinfo kembali 'berulah', ia meredang setelah pemberitaan yang tak seimbang, menurutnya, di Media Indonesia, begitu yang saya baca di inilah.com.

Status di Twitternyalah semua bermula. Sehari sebelumnya, ia protes dalam jejaring sosial terkait headline koran MI, Tifatul Tuduh Pers. Melalui akun jejaring sosial twitter miliknya ia keberatan dengan pemberitaan tersebut, yang dianggap telah memelintir berita.

"Sy protes HL MI kmrin, krn mlintir brita, itu rporter ngotot trus, sy blg jngan cari rezeki dg cr2 spt itu, lalu dimuat "tifatul tuduh pers," kata Tifatul lewat status Twitter.

Lalu muncullah ancaman twit-nya sekitar 18.37 :
Setelah saya protes berita gak seimbang, Saya diberi 'hadiah' lagi oleh MI hari ini dengan judul, "Tifatul lecehkan wartawan". Saya akan somasi !!


Tidak cukup via Twitter, somasinya pun melayang via pesan pendek :
Tolong dibaca isinya, agar jelas sebenarnya, saya bilang "anda", dirubah jadi 'pers', saya sudah beberapa kali, ditulis macam-macam, dan baru 1x ini protes via sms.


Memang Pak Tif dikenal sebagai tokoh Islam moderat. Pernyataannya mudah dipahami, santun tapi tidak dibuat-buat. Kritiknya kadang pedas, meski sering dibumbui lelucon. Tidak menghindar apalagi lempar tanggung jawab apabila terlibat polemik atau menghadapi tantangan lawan.

Sebagai orang yang turut meramaikan bursa pemilihan ketua dewan syuro PKS, ia sangat sensitif atas kasus-kasus yang melanggar kemerdekaan dan kebebasan warga negara sebagaimana dijamin konstitusi.

Namun seperti merusak susu sebelanga dengan nila setitik semua persepsi baik tersebut buyar setelah dia jadi menteri. Sungguh mengherankan, menurut Didik Supriyanto, di tengah kuatnya dukungan publik menolak kriminalisasi KPK, tiba-tiba dia melansir Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Penyadapan. Padahal jika RPP berlaku, KPK akan lumpuh, karena kegiatan penyadapan adalah kunci keberhasilan membongkar kasus korupsi.

Inilah yang menarik: Tifatul tampak tidak menjadi dirinya sendiri. Dia lempar tanggung jawab. Katanya, RPP dan RPM itu sudah dipersiapkan pendahulunya. Dirinya hanya meneruskan saja kebijakan lama.

Kebijakan dan aksi 'curhat' dengan ber-twet ria benar-benar telah diagendakan menjadi personal branding sang menteri. Jadi wajar saja pengamat komunikasi politik Universitas Indonesia Effendi Gazali mengatakan, demam politisi menggunakan Twitter hanyalah sebuah kelatahan. Hal ini diamini oleh pemerhati sosial media Wimar Witoelar dan Fadjroel Rachman. Terlepas dari kelatahan atau berkampanye, Twitter bisa menjadi bumerang bagi pemiliknya. Seperti sebuah peribahasa "Twittermu harimaumu".

Ibu Empat Bulan

Posted by rusydi hikmawan On Desember - 22 - 2009 ADD COMMENTS Subscribe here
mpat bulan yang lalu Shofia meneriaki bumi, empat bulan yang lalu pula di telinganya memantul gema kebesaran Illahi. Adzan di telinga kanan, iqomah di telinga kiri.

Itu memang empat bulan yang lalu. Kini tawanya seperti menggetar bumi, senyumnya selalu menyenangkan hati kami. Bukan hanya untuk kakek neneknya, tapi senyumnya terlempar juga buat ibunya, Diana.

Diana memang baru empat bulan menjadi ibu. Ibu dari anak pertama saya dengannya. Masa empat bulan yang membuat kami seperti telah memiliki segalanya. "Selangkah saja semua sudah di depan mata," kata istri yakin segalanya semakin mudah setelah ini.

Empat bulan memang masa yang pendek buat kami. Karena setahun lebih dua bulan usia pernikahan ternyata serasa segalanya dipermudah. Alhamdulillah. Semoga berkah.

Bulan pertama karya mengalir begitu deras. Bulan kedua doa jundi mulai terasa damai. Di bulan keenam, rizki pekerjaan harus diambil; berdamai dengan idealisme. Bulan kesepuluh, Shofia lahir dengan kebahagiaan sempurna. Puji syukur tak terhenti pada Illahi Robbi.

Empat bulan memang masa yang pendek buat kami. Tapi sebagai ibu muda, istri saya, terus belajar memaknai semua rizki. Semua hanya cobaan dan titipan, yang mesti diperhatiin sebagai hamba, ya, "Mensukurinya; harus, menjaga keberkahannya; gak kalah penting."

Baru empat bulan menjadi ibu. Ummu Shofia tak berhenti belajar menjadi Ummu Salamah, bahkan menjadi Fatimah. Itu adalah pilihannya, "Tak sekedar bahagia di dunia, tapi selalu bersama hingga di surga."

Mitos Kepahlawanan Herakles

Posted by rusydi hikmawan On September - 16 - 2009 ADD COMMENTS Subscribe here
i hari-hari terakhir Ramadhan mestinya makin masuk akal tentang kebenaran. Tapi begitulah kotak hitam ideologi, ada saja 'kebenaran' manipulatif yang asik buat dinikmati.

Rabu pagi nonton Hercules, mitologi Yunani, di salah satu stasiun televisi swasta. Mitologi Yunani, menurut Wikipedia, kumpulan legenda Yunani tentang dewa-dewi Yunani serta para pahlawan yang berawal dan tersebar melalui tradisi lisan.

Seperti kisah Hercules, kebanyakan dewa Yunani digambarkan seperti manusia, dilahirkan namun tak akan tua, kebal terhadap apapun, bisa tak terlihat, dan tiap dewa mempunyai karakteristik tersendiri. Karena itu, para dewa juga memiliki nama-nama gelar untuk tiap karakternya yang mungkin lebih dari 1, seperti Demeter. Dewa-dewi ini terkadang membantu manusia dan bahkan memperistri seorang wanita manusia menghasilkan anak yang setengah manusia setengah dewa. Anak-anak inilah yang kemudian dikenal sebagai pahlawan.

Saat menonton Hercules, kenapa Hera digambarkan sebagai karakter jahat? Padahal dalam Greek Mythology Reteller, Hera adalah dewi agung, ratu langit, dewi pelindung pernikahan dan keluarga. Jelas, si pembuat cerita hanya membual dan tidak memiliki pengetahuan apa-apa tentang mitologi Yunani, hanya menempatkan tokoh mitologi hanya sebagai kulit luar sekaligus mengenyampingkan nilai-nilai yang terdapat dalam sebuah kisah mitologi.

Kebenaran mitologi memang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Karena mitologi hanya tradisi lisan saat itu. Namun dari sumber lain, awal kebencian Hera pada Hercules - atau dengan nama Herakles dalam Tales of Greek Mythology - karena Zeus memiliki anak dari rahim wanita lain.

Sembilan bulan telah berlalu semenjak Zeus mengunjungi Alkmene. Dan saat itu, saat semua dewa berkumpul di Olympus sambil minum-minum, Zeus mengumumkan kepada semua dewa yang hadir bahwa malam ini yang akan lahir pertama kali dari garis keturunan Perseus adalah anak laki-lakinya, yang akan menjadi pahlawan besar dan seluruh Yunani akan tunduk pada kemauannya.

Hera yang turut hadir, terbakar oleh api cemburu, dia berbisik kepada Ate, dewi cerdik yang duduk di sampingnya. Lalu Ate bangkit dari duduknya dan menyeru Zeus untuk bersumpah agung bahwa perkataannya ini akan menjadi takdir yang tidak dapat diubah lagi.

"Aku bersumpah demi air suci Styx yang mengalir di Bawah Tanah, bahwa akan terjadi seperti yang kukatakan. Anak yang pertama lahir dari garis Perseus malam ini akan memerintah Yunani dan seluruh Yunani tunduk pada kemauannya," seru Zeus.

Hera tersenyum, Zeus terjebak ucapannya sendiri. Karena saat itu di Mykena, Nikipe, istri Stenelus sedang hamil tujuh bulan. Stenelus adalah saudara Elektryon (ayah Alkmene) dan keduanya putra Perseus. Agar rencananya berhasil, Hera menyuruh Eletia, dewi kelahiran bayi, agar mempercepat proses kelahiran Nikipe dan memperpanjang rasa sakit Alkmene.

Akhirnya anak pertama yang lahir dari garis Perseus malam itu adalah putra Stenelus yang bernama Eurystheus, bayi lemah dan penyakitan tetapi mewarisi takhta Mykena, kerajaan yang paling berkuasa di Yunani saat itu. Satu jam kemudian baru lahir Herakles, disusul oleh Iphikles, putra Amphytrion.

Zeus pada akhirnya mengetahui taktik licik Hera, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena sudah terlanjur bersumpah. Dengan murka, Zeus melemparkan Ate dari Olympus dan dihukum tinggal di antara manusia.

Akhirnya Zeus menyusun rencana untuk membalas perbuatan Hera. Pada suatu malam, Zeus membuat hati Alkmene khawatir kalau-kalau Hera akan mencelakakan Herakles kecil. Untuk melindunginya, Alkmene membawa Herakles keluar dari istana dan meninggalkannya di tempat sepi di bawah dinding kota Thebes, sambil berdoa kepada Athena, dewi kebijaksanaan, agar melindungi anaknya.

Sesuai dengan perintah Zeus, seperti dalam Greek Mythology Reteller, Athena mengajak Hera berjalan-jalan di sekitar Thebes dan seolah-olah tanpa sengaja membawanya ke tempat dimana Herakles ditinggalkan. "Seorang bayi sendirian! Dan begitu rupawan! Aku belum pernah melihat bayi yang begitu tampan dan sesehat ini!", seru Hera begitu melihat Herakles.

Athena melirik Hera sambil tersenyum, "Sudah berapa lama ia ditinggalkan disini? Kelihatannya ia sangat haus. Kau punya air susu, bukan? Susuilah ia barang sebentar saja." Dengan senang hati Hera menyusuinya, tetapi Herakles menyusu dengan begitu hebat sehingga Hera kesakitan.

Alhasil, dengan sentakan keras, Hera melepaskan diri dari Herakles dan air susu Hera memancar ke langit malam, membentuk gugus Bima Sakti (milky way-english).

Alih-alih Hera membunuhnya, ternyata sang Dewi malah membuat Herakles menjadi bertambah kuat dan tidak terkalahkan. Itulah sepenggal mitologi dari sebuah negeri yang pernah dikuasai pemimpin besar karismatik, Pericles (445-429 SM), Yunani.

Shofia Mengajariku Sabar

Posted by rusydi hikmawan On Agustus - 31 - 2009 ADD COMMENTS Subscribe here
"Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, namun orang yang kuat adalah orang yang memiliki jiwanya ketika marah." (Nabi Muhammad 571-634)


aya memang bukan orang yang berfisik kuat. Cepat lelah membuat emosi saya juga cepat bergejolak. Tapi sukurnya, setelah menikah, kelelahan fisik sedikit berkurang. Apa lagi sekedar perjalanan dari Kelayu ke sekolah di Jurang Koak, tidak terasa melelahkan.

Hadirnya Si Kecil Shofia di Ramadhan ini pun menambah kesempatan untuk berlatih sabar. Usai terjaga di sepertiga malam, membantu istri mengurusi Shofia hingga menjelang Subuh, sejurus berikutnya bersiap-siap ke sekolah.

Itulah proses berlatih sabar kami. Sabar jadi sumber kekuatan mengurusi amanah Tuhan. Dalam teks suci Quran dijelaskan, satu orang sabar saja mampu mengalahkan sepuluh lawan dalam pertempuran, atau setidaknya mereka mampu menghadapi lawan sebanyak dua kali jumlah mereka (QS 8: 65-66).

Maka tak salah, bersama istri sejak sepuluh hari pertama di bulan penuh berkah ini begitu kami maksimalkan sebagai ajang berlatih; mengontrol jiwa dari pengaruh hawa nafsu, berharap keluar Ramadhan sebagai pribadi yang kuat dan pandai mengendalikan diri dan emosi.

Sabar memang bukan urusan sekedar menahan diri untuk tidak tertindas, tapi juga sabar dalam menjalankan perintah Allah, sabar menahan diri dari yang dilarang oleh-Nya, dan sabar terhadap ketetapan-Nya.

Menariknya, menurut Alwi Alatas, konsep sabar mencakup kecerdasan emosi (emotional intelligence) juga.

Setidaknya ada dua ciri-ciri kecerdasan emosi. Pertama, seorang dikatakan memiliki kecerdasan emosi ketika ia mampu mengendalikan emosinya.

Dengan kata lain, orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan emosinya. Walaupun Rasulullah tidak secara khusus menyebutkan kata sabar, tapi para ulama menjelaskan itu bagian dari kesabaran. Karena ketika berhadapan dengan situasi yang mendorong emosi negatif, kita malah merespon dengan emosi positif.

Kedua, kemampuan dalam menunda pemuasan. Orang yang cerdas emosinya, memiliki kemampuan untuk menunda pemuasan dirinya. Sementara orang yang tidak cerdas secara emosi, cenderung ingin memuaskan dirinya sesegera mungkin.

Menunda pemuasan diri untuk mendapatkan kepuasan yang lebih sempurna di masa depan. Itu sebabnya, orang yang cerdas secara emosi memiliki potensi lebih besar dalam meraih keberhasilan dalam hidup.

Seorang Muslim diarahkan untuk bersabar dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Ketika melakukan itu, ia terhalang dari pemuasan diri yang segera. Tapi semua itu dilakukan demi mencapai kepuasan yang lebih besar dan lebih abadi.

Ketika seorang berpuasa, ia bersabar dengan menunda pemuasan makan dan minum untuk mendapatkan kepuasan dan kegembiraan yang lebih tinggi dan agung. Rasulullah SAW bersabda, ”... Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan (farhatain), yaitu kegembiraan tatkala ia berbuka dan kegembiraan tatkala ia bertemu dengan Rabb-nya....” (Muttafaq ’alaihi).

Ketika berpuasa seorang Muslim diarahkan untuk bersabar dan menahan/mengendalikan emosinya. Ketika berpuasa ia juga dibimbing untuk menunda pemuasan dirinya. Ini semua juga merupakan ciri-ciri kecerdasan emosi.

Kesadaran melalui ibadah Ramadhan inilah yang membuat kami menjadi pribadi yang lebih sabar. Karena sudah seharusnya kami keluar dari bulan Ramadhan sebagai pribadi yang lebih cerdas secara emosi, tangkas menjalankan kewajiban sebagai hamba Tuhan.

Meredam Keserakahan

Posted by rusydi hikmawan On Agustus - 23 - 2009 ADD COMMENTS Subscribe here
egelintir pemodal, PT Freeport, telah menguasai bagian kekayaan negeri kita di Pulau Cendrawasih, Papua. Akankah keserakahan terus menggerus tanah Timika, Papua saat lalu lintas karyawan menuju areal pertambangan Tembagapura, dihentikan sementara (17/8).

Harapan masih terlalu besar pada keberhasilan Ramadhan tahun ini. Keberhasilan menjadikan diri suci kembali tanpa keserakahan. Memang, selain dalam keadaan suci (fitrah), Allah telah menciptakan nafsu bagi manusia, hingga membuatnya dinamis, kreatif, dan inovatif dalam berkarya di muka bumi ini. Dengan nafsu itu pula yang membedakannya dengan malaikat yang senantiasa taat kepada perintah Allah, Rabb semesta alam.

Namun, adakalanya nafsu bermuatan negatif dan positif. Dalam teks suci Quran, Allah berfirman, "Maka Allah mengilhamkan kepada nafs (jiwa) itu (jalan/potensi) kefasikan (keburukan) dan ketakwaan (kebaikan)-nya" (Syams: 8).

Atau oleh Jalaluddin Rakhmat (2005: 233) menyebutnya sebagai dimensi kepribadian; al-bu’dul malakut atau dimensi kemalaikatan yang berasal dari alam malakut dan al-bu’dul bahimi atau dimensi kebinatangan, keserakahan.

Ada satu bagian dari dalam diri manusia yang membawa ke arah kesucian sebagaimana asal penciptaannya sehingga dimensi ini akan membawanya untuk dekat kepada Allah (al-bu’dul malakut). Dimensi ini pula yang membuat manusia tetap pada kemanusiaanya yang gemar membantu, bersilaturrahim dan melakukan berbagai bentuk kebaikan lainnya.

Namun, dimensi kebinatangan inilah yang merubah posisi manusia dari manusia yang sesungguhnya. Dimensi ini mendorong manusia untuk melakukan kejahatan, iri kepada orang lain, tega menzalimi orang lain, serakah pada kekayaan dan dendam kepada orang lain. Inilah sisi buruk manusia yang jika tidak dikendalikan maka dapat mengantarkannya pada posisi yang sama dengan binatang, atau malah melebihi keserakahan binatang.

Artinya, ketika manusia berada pada dimensi malakut, maka ia telah menghambakan dirinya hanya kepada Allah. Sebaliknya, ketika dimensi bahimi mendominasinya, maka ia telah menjadi budak setan yang selalu menjerumuskannya ke jalan kegelapan dan kesesatan.

Untuk itu manusia mesti mengendalikian nafsunya sehingga ia tetap manjadi makhluk Allah yang paling mulia. Pengendalian nafsu itu memerlukan perjuangan yang besar, dalam makna kemanusiaan oleh Rasulullah menyebutnya sebagai jihad al-akbar, perjuangan yang lebih besar dari pada perjuangan para sahabat dalam peperangan Badr atau Uhud sekalipun.

Meskipun demikian, Allah tidaklah membiarkan begitu saja hamba-Nya dalam keserakahan. Dia tetap mendidik hamba-Nya agar tetap pada posisi yang mulia, Dia disebut sebagai Rabb, yang artinya Maha Pemelihara atau Maha Pendidik. Karena sebagai pencipta, Allah tidaklah hanya menciptakan manusia begitu saja, tetapi Dia memelihara makhluk-Nya dan mendidiknya agar tetap pada kebaikan dan keselamatan.

Salah satu bentuk pendidikan yang diberikan Allah kepada manusia agar dapat mengendalikan nafsunya adalah dengan menetapkan bulan Ramadhan sebagai bulan untuk melakukan ibadah puasa khusus bagi umat Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian salah satu hikmah Ramadhan adalah sebagai lembaga pendidikan ruhaniyah bagi manusia sehingga kita dapat mengendalikan diri (jihad al-nafs atau selfrestrain) agar tetap pada posisi makhluk Allah yang mulia.

Menurut Isma'il al-Faruqi, yang dikutip Azyumardi Azra (2005: 25), menyebut Ramadhan sebagai "latihan terbaik dalam seni pengendalian diri" (the art of self mastery). Itu sebabnya bulan ini juga disebut dengan Syahr al-Tarbiyah (bulan pendidikan), atau madrasah ruhaniyah.

Ada tiga hal, yang bisa saya tulis, bahwa ibadah Ramadhan mampu mendidik manusia agar tetap menjadi manusia yang sesungguhnya. Pertama, puasa mendidik manusia untuk jujur dan merasakan kedekatan dengan Allah. Puasa menjadi ibadah yang rahasia, itu pula yang menunjukkan perbedaan Puasa Ramadhan dengan ibadah lainnya. Karena hanya Allah yang tahu apakah seseorang itu puasa atau tidak. Alhasil, orang yang berpuasa akan senantiasa merasakan bahwa dirinya dalam pengawasaan Allah, lalu mustahil baginya untuk berbuat sesuatu yang diyakininya sebagai perbuatan yang mengundang murka Allah.

Kedua, puasa mendidik manusia untuk meningkatkan kesalehan sosial. Dengan berpuasa, ia akan menyadari apa yang dirasakan oleh si miskin yang selalu lapar. Maka tak heran, ketika ibadah Ramadhan telah mempengaruhi tingkah polahnya ia akan santun dan kasih kepada si miskin. Setidaknya, hal itu akan dibuktikan dengan mengeluarkan zakat fitrah pada kaum mustadafin, proletar menjelang datangnya Hari Raya Idul Fitri.

Pendidikan berlapar-lapar pun telah meningkatkan persaudaraan, sehingga ia akan selalu menghindari diri dari hal-hal yang dapat mengundang pertengkaran antara sesamanya. Secara normatif, efek lapar dapat mengikis rasa kesombongan, dimana kesombongan acapkali merusak persaudaraan. Puasa tidak membedakan antara pejabat dengan rakyat, pengusaha dengan pekerja, kaya dengan miskin, dan berbagai bentuk kelebihan-kelebihan lainnya.

Yang terakhir, Ramadhan mampu mendidik agar manusia senantiasa menyucikan jiwanya. Sebulan penuh ummat manusia dididik melalui zikir, baik siang maupun di malam hari. Mungkin, ada yang termotivasi dengan kehadiran lailatul qadar, malam seribu bulan, sehingga mereka memperbanyak zikir dan shalat di setiap malam (qiyam al-lail).

Puasa yang penuh kesadaran dan tulus selama bulan Ramadhan pun akan menyucikan segala kesalahan, hati kembali suci dan tidak ada lagi keserakahan mengeksploitasi, jiwa merdeka tidak terjajah. Semoga.

Hidup Memilih Bumiputra

Posted by rusydi hikmawan On Mei - 3 - 2009 ADD COMMENTS Subscribe here
urang lengkap baca posting ini kalau belum baca Manajemen Ketidakpastian, posting terakhir saya, dan Jangan Asal Memilih Perusahaan Asuransi di Bumiputra Dot Com. Hidup memang sering dilingkari dengan hal-hal ketidakpastian. Begitu pula ketika kita memutuskan untuk menggunakan jasa asuransi. Posting ini sharing buat kita yang ingin mengambil keputusan memilih asuransi.

Selama menjadi blooger tiga tahun belakangan, saya punya kawan maya bernama Meilin Pruita, seorang Blogger pernah menulis Asuransi Bumiputera di blog-nya yang bertajuk girasku ing panguripan. Meilin bercerita bahwa dia pernah menjadi pengguna jasa asuransi Bumiputra sebelum memosting tulisannya 31 Januari 2008. Tepatnya asuransi pendidikan untuk anaknya, yang tentunya tiap bulan dia harus menyetor sejumlah uang.

Meilin ikut sejak dia masih hamil, dengan asumsi sembari menabung buat masa depan si kecil. Tapi karena harus pindah rumah dan merenovasi di sana sini, ia pun akhirnya meng-cut perjanjian dengan asuransi tersebut untuk tambahan renovasi rumah. Setelah mengajukan klaim lamat-lamat Meilin dipersulit. Dipersulit... lit lit semakin sulit.

Orang yang menguruskan klaimnya mulai susah dihubungi. Sedang onlenlah, sedang meetinglah, sedang apalah, sedang inilah.... Meilin benar-benar tak habis pikir. Dikarenakan memutuskan kontrak, perusahaan asuransi tersebut memberikan pinalti sekian persen dengan memotong sejumlah uang yang sudah disetornya sekian tahun (dan itu bukan jumlah uang yang sedikit baginya).

Penyesalan pun datang, walau proses masih juga dipersulit??? Sebulan, dua bulan, tiga bulan???? “Jan (tiiit... , sensor)!!!” tulis Meilin. Akhirnya Meilin mendapat haknya kembali 4 Maret tahun lalu. Tentu saja dengan potongan hampir sepertiga jumlah total dari uang. Akhirnya dengan uang itu, bersama suami tercinta, Meilin mulai mager dan mbikin perbenahan di dalam rumah.

Tidak jarang, mungkin, kita mendapat cerita seperti hal di atas. Ironis memang. Memiliki produk asuransi tetapi tidak dapat membantu sama sekali di saat mereka amat sangat membutuhkannya. Lalu apa yang harus kita lakukan?

Seperti yang ditulis Kepala Departemen Komunikasi Perusahaan AJB Bumiputera 1912, Ryana Mustamin dalam blognya,
Ada baiknya sesekali meluangkan waktu membaca laporan neraca keuangan perusahaan asuransi. Di perhitungan laba rugi, selalu tercatat dua hal: pendapatan dan beban. Premi yang dibayar pemegang polis sudah pasti dicatat di pendapatan, dan nilai pertanggungan polis akan tercatat sebagai beban. Dari pendapatan premi, perusahaan asuransi akan melakukan investasi. Hasilnya, mengkontribusi aktiva (asset). Sementara, beban klaim - yang akan meningkat dari waktu ke waktu sesuai benefit yang dijanjikan ke pemegang polis, menjadi beban - bagian dari kewajiban perusahaan.

Nah, apa jadinya jika klaim jatuh tempo yang seharusnya dibayarkan, tapi ditunda?

Pertama, neraca akan pincang. Pendapatan tidak bertambah, karena premi sekaligus sumber dana investasi telah terhenti pembayarannya. Di sisi lain, beban tidak berkurang, karena kewajiban klaim tidak dikeluarkan. Nah, jika laju penurunan pendapatan tidak dibarengi dengan laju penurunan beban - bahkan sebaliknya beban meningkat, saya rasa bukan sekadar neraca keuangan tidak sedap dipandang, tapi perusahaan itu sendiri tengah mengarsiteki jalannya menuju jurang kehancuran.

Kedua, jika kewajiban klaim ke pemegang polis tidak diselesaikan, bukankah perusahaan asuransi tidak bisa mengajukan klaim reasuransi? Padahal semakin cepat klaim cair, semakin cepat pula perusahaan bisa menginvestasikan kembali dana itu ke outlet investasi yang dinilai prospektif?

Ketiga, terlepas dari kinerja keuangan, sangat bodoh jika pelaku industri asuransi tidak menyadari bahwa ini bisnis reputasi, kredibilitas. Konsumen tidak sedang mengkonsumsi suatu barang atau jasa yang bisa Anda ujicoba pada tahap pembelian. Milyaran dana promosi yang ditebar tidak akan sanggup mencuri kepercayaan konsumen, jika mekanisme klaim perusahaan bersangkutan rumit dan berbelit. Apalagi sampai melakukan tipu-daya. Kontrak masa asuransi (terutama asuransi jiwa) pun dikenal sangat panjang, berbilang puluhan tahun. Adalah mustahil perusahaan asuransi berumur panjang jika praktik bisnisnya curang.


Selanjutnya yang perlu kita ketahui adalah Risk Based Capital (RBC) suatu perusahaan asuransi. RBC pada dasarnya adalah rasio dari kekayaan bersih atau “net worth” perusahaan bersangkutan, yang dihitung berdasarkan peraturan dari standar akuntansi dibagi dengan nilai kekayaan bersih, yang dihitung kembali dengan mengikutsertakan risiko-risiko pemburukan yang mungkin terjadi. Artinya, RBC juga berkaitan dengan pengukuran keamanan finansial atau kesehatan perusahaan-perusahaan asuransi.

Regulasi pemerintah berdasarkan RBC mengenai kesehatan perusahaan-perusahaan asuransi memang diluncurkan ke industri asuransi di Indonesia oleh pemerintah Indonesia di tahun 1999. Dan tentunya, beberapa perusahaan asuransi sekarang telah berada di bawah pengawasan khusus pemerintah karena rasio kesehatan RBC mereka tidak memenuhi ketentuan minimum pemerintah.

Lalu, apakah rasio kesehatan RBC sebuah perusahaan asuransi yang kita percayakan sudah jauh di atas ketentuan pemerintah yang hanya sebesar 120 persen? Makanya, kita-kita mesti cari tahu sebelum mengambil keputusan asuransi mana yang akan menjamin keamanan finansial kita.

Dan diulangtahun ke 97, AJB Bumiputra 1912 pasti semakin memberi pelayanan terbaiknya. Karena dalam falsafahnya, AJB Bumiputra 1912 terus bekerja dengan profesionalisme, berkomitmen mengelola perusahaan dengan mengedepankan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) dan senantiasa berusaha menyesuaikan diri terhadap tuntutan perubahan lingkungan.

Kembalikan Hutanku

Posted by rusydi hikmawan On April - 21 - 2009 ADD COMMENTS Subscribe here
“Bila semua orang membangun, mengapa kita tidak membangun juga?” Quito mempertanyakan hal ini suatu hari dalam percakapannya dengan Ampelio. Hal tersebut terdengar oleh ibunya, yang kemudian berteriak sambil meletakkan tangannya di atas kepala, “Oh tidak, kebunku malang!” Pernyataan Quito dan respons ibunya ini kemudian dilanjutkan dalam untaian diskusi, perhitungan, pemeriksaan, negosiasi. Hasil perbincangan tersebut menyebabkan Quito pulang ke rumah untuk mencoba terjun ke dalam bisang real estate.

khir bagian pertama dari Terjun Dalam Real Estate karya jurnalis komunis pada L’unita tersebut terangkum dalam Gli Amori Difficuli. Italo Calvino yang terlahir di masa kekuasaan komunis di Kuba pada 15 Oktober 1923 akhirnya meraih gelar sarja sastranya di Universitas Turin.

Calvino memang kritis melihat kondisi sekitarnya. Meraba pergeseran sebuah hegemoni. Hegemoni yang meminggirkan segala di sekitarnya. Saat ini Orangutan pun terpinggirkan dan walau Populasi Baru Orangutan Ditemukan Lagi di Kalimantan tulis Hayati M. Nur dalam Tempo 13 April lalu, tapi tidak segampang itu permasalahan melangkanya Orangutan dinomorduakan.

Erik Meijaard, senior ahli ekologi Amerika yang aktif di The Nature Conservancy menyatakan sebanyak 219 sarang telah ditemukan di Tebing Kapur di ujung timur pulau Kalimantan. Dari hasil aktivitas Orangutan yang diambil tim peneliti ekologi tersebut diperkirakan 90 persen dari 50 ribu hingga 60 ribu Orangutan hidup liar di Indonesia.


Lain lagi dengan Firmansyah, peneliti dari Yayasan Cassia Lestari dan Betsy Yaap, peneliti dari Havard University saat membeberkan data temuannya bahwa populasi Orangutan dalam 10 tahun terakhir berkurang 30 hingga 50 persen atau tinggal 5.141 sampai 7.773 ekor. Berkurang karena maraknya penebangan kayu ilegal dan pembakaran hutan secara besar-besaran yang dampaknya turut menghancurkan habitat Orangutan.

Masih segar diangatan kita, sejak kebakaran hutan yang terjadi pada tahun 1994, disusul dengan bencana serupa tahun 1997, populasi binatang tersebut semakin menipis. Demikian pula ketika penebangan kayu yang disertai dengan pembakaran marak, banyak sekali Orangutan yang mati terjebak dalam kobaran api. Habitat serta sumber makanan pun rusak, hancur, dan musnah.

Inilah nasib hewan dikedalaman hutan di negeri ini. Dikarenakan program pembangunan panti rehabilitasi Orangutan memerlukan biaya yang sangat mahal. Lagi pula, tingkat keberhasilannya pun sangat rendah, maka diperlukan model rehabilitasi yang lain yang lebih mudah, murah dan alami. Kembalikanlah lahan mereka. Untuk itu kawasan taman nasional, cagar alam dan suaka margasatwa harus dijaga kelestariannya dari ancaman kaum perusak lingkungan.

Tulisan dibuat untuk mengikuti “Kontes Blog Sahabat Orangutan

Nyaris

Posted by rusydi hikmawan On April - 14 - 2009 ADD COMMENTS Subscribe here
yaris saja. Ini memang dunia kreatifitas, dunia anti mati gaya. Kalau Bang Yudi menjadi terlihat mengesankan dengan blognya yang nangkring sebagai blog inspiratif bulan Maret, bang Djayadi Hanan dengan studinya yang melangit, Sapto kawan saya di PII NTB dengan penemuan di dunia kedokterannya. Kenapa saya harus duduk manis jauh di perkampungan di kabupaten paling timur di Lombok ini.

Memang nyaris saja menjadi juara pertama. Blog yang saya dedikasikan untuk istri saya, Husnud Diana, mendapat juara kedua dalam Black Blog Competition yang diadain Djarum –lihat pengumuman di sini. Ini memang dunia kratifitas, saya pun harus menunjukan bahwa saya mampu memberi yang lebih pada orang-orang disekitar saya.

Bila materi tidak mungkin, maka ide dan perbuatan pasti bisa jadi bagian yang membantu mereka. Terutama buat calon jundu saya, yang insyaAllah lahir di bulan Ramadhon nanti. Doain abi ya biar bisa menemanimu, memberi yang terbaik untukmu dan ummimu.

Nasib Rakyat Di Pemilu

Posted by rusydi hikmawan On April - 10 - 2009 ADD COMMENTS Subscribe here
ari ini pasti rakyat Indonesia sibuk di te-pe-es masing-masing. Itu untuk menentukan nasib bangsa lima tahun ke depan. Seperti di Lombok Timur, di desa Kelayu di tempat saya tinggal sekarang. Semua sibuk, tapi tetap aja ada yang harus mengantri minyak tanah yang langka atau seperti mertua saya yang harus mengurusi ternaknya dulu.

Saya, harus mengisi bensin motor, mengisi dirigen dengan bensin. Untuk di jual, untuk menjadi moral menghidupi hidup dan istri dan calon anak saya. Hmmm…

Bensin…. bensin….

Ini Pemilu, Bang. Sekarang libur, es-de tempat saya mengajar pun libur hingga Ahad. Sekolah saya di Jurang Koak, Bebidas, Wanasaba udah jadi TPS siang kemaren.

Kita para guru pun tahu, politik selalu mengandung dua dimensi, pertama upaya mempengaruhi atau merayu rakyat agar bersedia memberi dukungan suara dalam pemilu dan kerelaan, keihlasan atau kerendahan rakyat untuk memberikan suaranya saat pemilu berlangsung.

Kedua, bagi elit politik, agar bisa menarik dukungan dari rakyat, mereka memberi janji atau argumentasi yang menyentuh hati rakyat, walaupun janji-janji itu hanya tinggal janji (omong kosong) tanpa ada realisasi sedikit pun.

Tapi buat saya, dan semoga pembaca sepakat, satu-satunya pertimbangan mengapa rakyat bersedia memilih (mencontreng, kata KPU) tanda gambar dalam pemilu adalah agar para elit politik bersedia membela, memperjuangkan dan memihak kepada rakyat kecil pada saat rakyat kecil memiliki problem kehidupan.

Karena saya jauh dari Anda elit politik, karena saya nun jauh dari rumah dinas anda Pak pejabat. Karena saya harus berjuang, setelah meminta pada Rabb, untuk menghidupi keluarga dan orang-orang yang saya cintai.

Kalau gitu, mari kita sepakati, pertimbangan utama dalam memilih partai politik bukan saatnya lagi berdasar pada alasan ideologis-normatif, yaitu hanya karena ada persamaan kelompok, organisasi, ideologi dan agama/keyakinan. Pertimbangan utama harus didasarkan pada alasan rasionalitas ekonomis pragmatis.

Artinya, rakyat akan memilih hanya kepada partai politik yang benar-benar mampu menunjukkan kepada rakyat dengan kinerja nyata bahwa partai politik itu mampu membantu dan mensejahterakan rakyat.Semoga itu juga yang terjadi di Lombok Timur ini, Pak.

Nasib Rakyat Di Pemilu

Posted by rusydi hikmawan On April - 10 - 2009 ADD COMMENTS Subscribe here
ari ini pasti rakyat Indonesia sibuk di te-pe-es masing-masing. Itu untuk menentukan nasib bangsa lima tahun ke depan. Seperti di Lombok Timur, di desa Kelayu di tempat saya tinggal sekarang. Semua sibuk, tapi tetap aja ada yang harus mengantri minyak tanah yang langka atau seperti mertua saya yang harus mengurusi ternaknya dulu.

Saya, harus mengisi bensin motor, mengisi dirigen dengan bensin. Untuk di jual, untuk menjadi moral menghidupi hidup dan istri dan calon anak saya. Hmmm…

Bensin…. bensin….

Ini Pemilu, Bang. Sekarang libur, es-de tempat saya mengajar pun libur hingga Ahad. Sekolah saya di Jurang Koak, Bebidas, Wanasaba udah jadi TPS siang kemaren.

Kita para guru pun tahu, politik selalu mengandung dua dimensi, pertama upaya mempengaruhi atau merayu rakyat agar bersedia memberi dukungan suara dalam pemilu dan kerelaan, keihlasan atau kerendahan rakyat untuk memberikan suaranya saat pemilu berlangsung.

Kedua, bagi elit politik, agar bisa menarik dukungan dari rakyat, mereka memberi janji atau argumentasi yang menyentuh hati rakyat, walaupun janji-janji itu hanya tinggal janji (omong kosong) tanpa ada realisasi sedikit pun.

Tapi buat saya, dan semoga pembaca sepakat, satu-satunya pertimbangan mengapa rakyat bersedia memilih (mencontreng, kata KPU) tanda gambar dalam pemilu adalah agar para elit politik bersedia membela, memperjuangkan dan memihak kepada rakyat kecil pada saat rakyat kecil memiliki problem kehidupan.

Karena saya jauh dari Anda elit politik, karena saya nun jauh dari rumah dinas anda Pak pejabat. Karena saya harus berjuang, setelah meminta pada Rabb, untuk menghidupi keluarga dan orang-orang yang saya cintai.

Kalau gitu, mari kita sepakati, pertimbangan utama dalam memilih partai politik bukan saatnya lagi berdasar pada alasan ideologis-normatif, yaitu hanya karena ada persamaan kelompok, organisasi, ideologi dan agama/keyakinan. Pertimbangan utama harus didasarkan pada alasan rasionalitas ekonomis pragmatis.

Artinya, rakyat akan memilih hanya kepada partai politik yang benar-benar mampu menunjukkan kepada rakyat dengan kinerja nyata bahwa partai politik itu mampu membantu dan mensejahterakan rakyat.Semoga itu juga yang terjadi di Lombok Timur ini, Pak.

Menulislah Dan Belajar Di Belanda

Posted by rusydi hikmawan On April - 4 - 2009 ADD COMMENTS Subscribe here
ila melihat kalender akademik Universitas Utrecht tahun 2008-2009, maka pemenang pertama Kompetiblog yang diadakan Netherlands Education Support Office (NESO) Indonesia akan mengikuti Summer Course selama dua minggu di Utrecht Summer School, Utrecht, Belanda saat libur semester. Berikutnya, Universitas Utrecht akan memasuki semester pertama tahun akademik 2009-2010, tepatnya sejak 31 Agustus 2009.




Mengapa harus dimulai dengan membahas kemenangan? Ini tentu untuk membentuk motivasi blogger Indonesia agar tetap menulis. Pun kehadiran kita, yang ingin melanjutkan studi di Belanda, tidak akan terasa sepi. Karena ada Asosiasi Pelajar Indonesia (PPI) di Belanda siap menemani. Berarti tidak ada alasan untuk tidak belajar di Negeri Seribu Satu Kincir Angin.

Apalagi pemerintah Belanda sejak puluhan tahun yang lalu sudah mendukung para pelajar dari berbagai negara untuk melanjutkan studi di Belanda, baik berupa bantuan beasiswa yang bersifat penuh (full) ataupun sebagian (partial). Bila tidak mendapat beasiswa, pelajar Indonesia tidak perlu bersedih hati, karena telah disediakan pinjaman dengan syarat yang terbilang mudah (easy loan) untuk melanjutkan pendidikan.

Hmm pengen sih…. Apalagi bagi kita-kita yang memiliki prestasi cukup memuaskan, tentu saja layak untuk berusaha mendapatkan partial ataupun full scholarship. Seperti Hyugens Scholarship Programme, Stuned, NFP, maupun scholarship dari universitas yang bersangkutan.

Biar tetap semanget neh, saya kabari kalau tahun lalu Netherlands Education Support Office (Neso) Indonesia dan Kedutaan Besar Belanda menyerahkan beasiswa bagi lebih dari 200 profesional muda Indonesia untuk melanjutkan program master di Belanda. Mereka berhasil memperoleh beasiswa dari pemerintah Belanda diantaranya StuNed (Studeren in Nederland).

Gak tanggung-tanggung, penyerahan beasiswa StuNed tersebut diberikan langsung oleh Nikolaos van Dam, Duta Besar Belanda; didampingi Marrik Bellen, Direktur Neso Indonesia dan Monique Drenthem Soesman, Head Scholarships Section, di kantor Neso Indonesia, Jakarta.

Kita memang tahu, negara kita memiliki sejarah yang tidak "enak" bagi rakyat Indonesia, tapi di sisi lain, dengan adanya program beasiswa jelas memungkinkan untuk kedua negara saling meningkatkan pemahamannya tentang budaya masing-masing. Dan tentunya, program beasiswa tersebut menjadi yang sangat penting bagi hubungan kerja sama pembangunan antara Belanda dan Indonesia.

Jadi buat saya, dan mari kita sepakati, bahwa belajar di manapun oleh siapapun itu sudah selayaknya kita jalani. Negara kita, Indonesia, sangat membutuhkan orang-orang yang berdikari pada dunia ilmu dan pengetahuan. Tetaplah menulis, tetaplah belajar kawan!

Tak Mati di PII

Posted by rusydi hikmawan On Maret - 23 - 2009 ADD COMMENTS Subscribe here





Maaf lama gak posting. Sekarang cerita pengalaman di PII n' nyoba desain posting baru ney. Kebersamaan saya memang masih terbilang muda di organisasi pelajar, PII. Hanya dari delapan tahun yang lalu. Pun tidak banyak kawan yang saya kenal, tapi tetap banyak yang dapat saya pelajari. Bagaimana PII membuat saya semakin kutu buku, membaca dan akhirnya saya aktif di dunia blogging.

Bagaimana bisa ya? Ya itu karena saya akhirnya memiliki komunitas pembelajar yang tidak sedikit dan tidak sekedar di provinsi ini, NTB. Tapi saya menjadi hidup di wilayah lain dengan wacana yang tentunya berbeda. Inilah yang membuat kedewasaan berpikir dan bersikap tumbuh.

Aktivitas kepenulisan pun saya geluti. Tulisan yang pertama saya rilis di millis PII berjudul REVOLUSI SOSIAL, gimana dengan PII? Tulisan itu tertuang jauh sebelum tulisan itu saya muat di blog ini. Dan sontak tulisan itu membuat saya dikritisi, mati kutu. He3.


Sehingga, saat ini kita pun akan melihat PII diberbagai wilayah dengan permasalahan yang sama dan tidak memiliki konsep perubahan Internal yang tidak kongkrit, maka keadaan ini pun tetap berlangsung dari tahun ketahun, dan milis ini pun berjudul kapan PII maju, sebuah judul yang jujur pada sejarah perdaban oleh PII sendiri. Akankah PII melakukan revolusi? Menilik dari perjuangan yang selama ini diagung-agungkan.


Ya saya sadar dan tahu tulisan itu gak begitu bagus, alur yang menentu. Tapi dari sana saya mulai giat belajar. Dan hari ini saya telah menyaksikan dunia kepenulisan di PII makin rame dengan aktivitas blogging para Kanda dan Yunda PII. Lihat saja Memel dan Yudi dengan blogspotnya. Atau beberapa blog PII yang malah gugur, liat aja di blogroll dunia pelajar-islam. Ya saya tahu pasti mereka sibuk dengan dunianya di daerah sana. Yang jelas saya, kita dan mereka tak mati gaya di PII.

Terus belajar, terus membaca, terus menulis, terus beraksi. Karena kita tak mati gaya di Pelajar Islam Indonesia.

Dunia Gak Statis

Posted by rusydi hikmawan On Maret - 14 - 2009 ADD COMMENTS Subscribe here
nam bulan yang lalu saya memang berdomisili di Mataram. Tapi, siapa sangka sekarang saya berdomisili di Lombok Timur. Beberapa tahun yang lalu saya memang hidup dengan idealisme yang berkobar-kobar, tapi siapa sangka enam bulan yang lalu saya memutuskan “lebih baik menjadi rakyat biasa”.

Seperti itu juga perkembangan dunia ini, kehidupan di dunia dipenuhi dengan perubahan. Begitulah yang sejatinya terjadi, sebab dunia ini terus mengalami pertumbuhan tiap harinya. Seiring dengan berjalannya waktu, tanpa sadar segala pernik di sekeliling kita berubah.

Dan kita akan memahami, tulis Guru Besar dan Direktur Metode Silva Untuk Indonesia H.Rd. Lasmono Abdulrify Dyar Dipl.Sys.Ing., Ph.D bahwa bentuk D-U-N-I-A selama ini masih terpengaruhi dengan kendala penggunaan emosi yang kurang pada tempatnya. Masih saja terumbang-ambing oleh kekuatan dahsyatnya sendiri dan tak mampu untuk mengawasi gejolaknya. Benarkah?

Benar jika arti dunia itu hanya D-imensi U-ngkapan N-ikmat I-nisiasi A-lam? Diantara kita akan ada pendapat, bahwa mereka telah mendapatkan nikmat dari dunia ini. Mereka itu selalu mempunyai arogansi dan tidak akan mengakui bahwa kelimpahan kekayaan itu TIDAK bakal menjamin adanya tuntas, karena selalu masih ada saja masalah-masalah yang tetap menghampiri mereka.

Itu juga yang terjadi di dunia politik. PKS, yang dulu lebih mendakwahkan islam dan syariat ternyata sekarang harus mendakwahkan partai, analisa dalam sebuah majalah islam. Mungkin saja PKS telah terjebak nikmat inisiasi alam. Karena ini juga istri saya turut menyimpulkan “lebih baik adek jadi rakyat biasa”. Karena kita pun tahu PKS tidak statis.

Kisah Dari Jerman

Posted by rusydi hikmawan On Maret - 11 - 2009 ADD COMMENTS Subscribe here
eberapa waktu yang lalu di email saya mendapat short message, dengan nama yang gak saya kenal sebelumnya. Gusyan. Siapa tuh? Saya gugling aja, eh ternyata seseorang yang pernah menjadi mentor (murrobi) saya, Yanuar Muharrom, ini multiply-nya. Terkejut juga saya. Beliau kan sedang di Jerman.


Sejurus berikutnya, saya bertanya via email, ini sedikit kutipannya.


Dari: rusydi hikmawan
Kepada: yanuarm@xxx.com

apakabar pak? sekarang posisinya lagi di mana? gimna azam dan keluarga? semoga sehat dan sukses selalu. doakan saya ya pak..



--- On Sun, 3/8/09, Gus Yan wrote:

Assalamu'alaikum
Alhamdulillah kabar baik
aku masih ada di Jerman
Azzam sudah kelas 1 SD.
Adiknya TK
Adiknya lagi masih balita
Iya, saling mendoakan semoga sama2 sukses.
JazakalLoh

Wassalamu'alakm


Dari: rusydi hikmawan
Kepada: Gus Yan

wah asik ney pak, di jerman terus. cerita2 dong ngapai aja di sana. mungkin bisa dapet inspirasi, ide untuk saya. salam buat keluarga di sana. semoga sehat selalu. oy saya sekarang tinggal di desa pak, di lombok timur. istri saya aktif di P(xxx)S sini. pokoknya seru dah..saya dah lulus CPNS sebgai guru SD di sini. doain ya pak



--- On Mon, 3/9/09, Gus Yan wrote:
Assalamu'alaikum

Wah kalo mau cerita panjang Wan....hehehe
Intinya karena istri saya ke Jerman atas biaya pemerintah jerman untuk studi, maka saya sebagai suaminya boleh ikut dan hidupnya dibiayai oleh pemberi beasiswa dalam hal ini pemerintah jerman.

Tapi meskipun begitu, ada hal lain yang kurang 'menyenagkan', yakni Visa masuk jerman saya, oleh negara bagian tempat saya tinggal bahwa saya dilarang kuliah, dilarang bekerja formal dan dilarang kursus keahlian tertentu.
Jadi mau gimana lagi, bisanya cuman melakukan di luar tiga aktifitas di atas.

cuman kalo anak2 tetap dikenakan wajib belajar. setiap anak yang terdata di balaikota, sesuai umurnya yakni 6 tahun wajib masuk sekolah SD. Kasus Azzam,nama dia terdaftar di SD tertentu, namun waktu itu kita tidak tahu, sebab pas mudik ke mataram. ketika saya balik ke jerman, ternyata sudah di beri surat panggilan sampai 2x. karena juga belum 'ngeh', kita tidak langsun ngurus sekolahnya.

ternyata baru 3 hari di jerman dapat surat teguran terakhir dengan ancama bila tidak mendaftarkan anaknya sekolah maka akan di laporkan ke polisi.
Akhirnya besok paginya langsung ngurus sekolah.
cerita yang lainnya bersambung ya Wan..insyaAlloh


Wassalamu'alakm

Dari: rusydi hikmawan
Kepada: Gus Yan

yang jelas harus terus disyukuri kan pak. salut buat sekeluarga di sana. saya juga pengen studi lebih tinggi kayak bu teti. doain ya pak..saya bakal ngelanjutin kuliah di sini, di lombok timur. semoga bisa S2,S3 juga. istri saya juga lagi nyari beasiswa S2. dia ngajar fisika zat padat di STKIP. semoga semua rencana keluarga bapak di sana berjalan lancar pak...kritisi saya ya pak kalau ada sesuatu yang mengganjal bapak



Dari: "Gus Yan"
Kepada: "rusydi hikmawan" rusydi_pii_ntb@xxx.com

Wa alikum salam
Betul Wan, bersyukur kepada Alloh itu panglimanya.
Kalo bahasa saya, disuruh jadi turis sama pemerintah jerman, di suruh jalan2 di jerman selama sekian tahun tapi makan minum dan kost di bayarin oleh mereka..hehee.
Ya Wan, aku doakan semoga Wawan dan Istri mendapat jatah rezeki s2 dan s3 dari Alloh.
SEmoga sukses selalu Wan..
Salam untuk keluarga.

Wassalamu'alaikum.


-----------------end of story------------------

Wah, saya salut ma beliau, tapi lebih salut ma negara tempatnya tinggal kini. Sekolah aja gratis gitu n' begitu diperhatiin ma pemerintahnya, walau mahal juga sey biaya selain itu. Semoga saja Indonesia, negara tempat saya tinggal kini bisa lebih mudah untuk belajar, gratis gitu loh.

Dewasa berdemokrasi

Posted by rusydi hikmawan On Februari - 13 - 2009 ADD COMMENTS Subscribe here
etelah lama bungkam, akhirnya mahasiswa Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) melakukan sikap tegas untuk menurunkan PUREK III yang selama ini tidak pernah melaksanakan kerja sebagai PUREK, tidak pernah menghormati mahasiswa dengan selalu intervensi terhadap segala bentuk kerja mahasiswa dan selalu memandang keberadaan mahasiswa dengan sepihak saja, kata Lina dalam blognya penuh semangat.

Apa masalahnya? Koordinator aksi mahasiswa, Dedi Irawan menjelaskan bahwa selama ini PR III sering mengambil kebijakan yang tidak berpihak kepada mahasiswa, di samping itu juga ia sering mendeskreditkan PR lain, “Ia hanya mementingkan diri sendiri, tanpa melihat kepentingan mahasiswa, oleh sebab itu kami menuntut PR III turun dari jabatannya,” jelas Dedi seperti keterangannya di Sasak.org.

Turun dari jabatan tentu bukan hanya karena, “PR III sering menekan kreatifitas kami, diskriminatif bahkan saya pernah dipanggil olehnya da diancam dipecat,” ungkap Dedi. Tapi menurutnya, sebenarnya mahasiswa menginginkan pemilihan BEM dilakukan melalui proses Pemilu mahasiswa atau Pemungutan suara, namun oleh PR III menolak dengan alasan tidak ada biaya “Kalau alasannya karena tidak ada biaya, lalu kemana dana pembinaan sebesar Rp 50 ribu yang dibayarkan oleh setiap mahasiswa?” Lalu turun dan terbebas dari tanggungjawab akankah menyelesaikan masalah.

Inilah tantangan dari kedewasaan berdemokrasi yang diungkapkan Chairman Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC) Dien Syamsuddin dalam detik.com, “Kita berharap pada 2008 dan seterusnya penerapan demokrasi lebih dewasa dan lebih substansial.”

Ini pula yang dikritisi Hamdani Gunawan dalam tulisannya Kedewasan Berdemokrasi, Reformasi dan keterbukaan di negeri ini baru mampu diterjemahkan oleh sebagian besar politikus sebagai ‘hanya kebebasan berbicara tanpa ditangkap’, ‘kebebasan mengkritik pemimpin tanpa dicopot dari jabatannya’.

Membangun demokrasi yang sehat dan berbobot dalam politik kita membutuhkan kedewasaan. Sikap ini, kata Kasdin Sihotang dosen Filsafat Ekonomi dan staf inti PPE Unika Atma Jaya, Jakarta, justru menjadi modal sosial yang sangat penting. Sejumlah keunggulan akan didapatkan dengan mengembangkan sikap dewasa dalam politik. Pertama, kemampuan menggunakan nalar sehat. Sebagaimana sudah disinggung di atas demokrasi tidak bisa berkembang dalam irasionalitas. Demokrasi hanya bisa berkembang secara sehat ketika rasionalitas menjadi titik pijak. Itu berarti argumen-argumen yang dapat dipertanggungjawabkan menjadi titik tolak untuk perjuangan demokratis.

Dengan kata lain dasar untuk memperjuangkan kebenaran adalah nalar, bukan emosi atau tangan besi. Argumen-argumen rasional tentu memiliki ukuran yang objektif. Ukuran kebenaran sebuah perjuangan dalam konteks politik dilihat dari sifat universalnya, yakni dapat diterima semua pihak yang terlibat di dalamnya sebagai sesuatu yang benar.

Sebagaimana pernah dikatakan Immanuel Kant, seorang filsuf politik dari Jerman, salah satu kebenaran dari rasionalitas adalah isinya dapat diterima oleh siapapun. Inilah yang disebutnya sebagai masuk akal. Artinya, apa yang diupayakan itu adalah sesuatu yang konkrit, dan bukan sebuah utopia. Sudahkah ini tercermin dalam aksi mahasiswa IAIH? Semoga posting singkat ini bisa menjadi pencerahan buat kawan-kawan.

Juara III Euy..

Posted by rusydi hikmawan On Februari - 3 - 2009 ADD COMMENTS Subscribe here



lhamdulillah ternyata menang juga. Gak nyangka memang. Walau gak hebat-hebat banget SEO-nya, tapi tulisan boleh diadulah. He3. Thanks, jazakallah ma semua yang dah ngomentari n’ setia mengritik tulisan saya. Tulisan memang selesai cuma satu setengah jam, tapi trik SEO-nya yang berjam-jam. InsyaAllah posting berikutnya tentang SEOisme dan Adsesenisme para blogger. Jadi blog kita mau dikemanain, untuk duit atau idealisme. Pilihan ada ditangan pembaca

Note:
pengumuman pemenang bisa klik di sini atau pada gambar di atas.
SEO (Search Engine Optimize)

Jalan Baru Menuju Perubahan

Posted by rusydi hikmawan On Januari - 28 - 2009 ADD COMMENTS Subscribe here
erakan Indonesia Bangkit adalah gerakan bangkit dari keterpurukan, bangkit menuju perubahan Indonesia yang lebih baik dan gerakan ini adalah keniscayaan untuk kesejahteraan rakyat Indonesia. Jalan baru ini terlahir dari sejarah keterpurukan negara yang panjang, ketika terjadi kepemimpinan dan perekonomian yang timpang berlarut-larut hingga kini.

Kita tahu, politik di Indonesia berbeda dengan politik di luar negeri. Kita masih pada tahap awal dalam berdemokrasi. Politik negara Indonesia masih pada tahap love and hate (hubungan bersdasarkan cinta dan benci). Jadi pemimpin itu sangat dicintai rakyat dengan ekspektasi mereka yang sangat berlebihan. Kemudian ada periode di mana rakyat mulai bertanya, benarkah pemimpin itu bekerja untuk rakyat? Tidak adakah pemimpin untuk rakyat? Nah, seandainya pertanyaan-pertanyaan itu tidak bisa dijawab, rakyat masuk ke fase hate. Kalau sudah pada fase ini, rakyat Indonesia rata-rata berkata “asal bukan”. Kita pernah mendengar di media, asal bukan Soeharto, asal bukan Habibie, asal bukan Gusdur, asal bukan Megawati dan sebagainya.

Dan memang pemerintah sekarang sudah masuk ke fase kritis. Rakyat kebanyakan mulai berpikir “asal bukan”. Walau sangat ironis, presiden pertama yang dipilih langsung oleh rakyat secara demokratis. Tapi paradigma yang beredar di masyarakat ini tak bisa dihindari.

Ada dua masalah utama yang dihadapi rakyat Indonesia dalam mengawali Gerakan Indonesia Bangkit, kualitas kepemimpinan dan school of thought (cara berpikir) pemerintah, yang mengandalkan cara berpikir apa yang dikenal sebagai economist washington consensus. Yaitu garis kebijakan ekonomi dari Washington untuk negara-negara berkembang, yang mereka sendiri tidak melaksanakannya.

Di Asia Timur ini hanya Indonesia dan Philipina yang secara konsisten melaksanakan washinton consensus. Di kedua negara ini, sejak beberapa dekade, ekonominya terus merosot. Prestasi terbesar dari kedua negara ini hanya menjadi eksportir tenaga kerja wanita terbesar di dunia.

Negara-negara di Asia Timur lainnya, seperti Malaysia, Singapura, Thailand, China, Jepang tidak menjalankan washington consensus. Mereka lebih percaya pada bidang ekonomi, dalam bidang perumusan kebijakan di bidang ekonomi, mereka lebih mandiri, menggunakan apa yang disebut sebagai Model Asia Timur.

Seperti yang diketahui dalam Model Washington Consensus, peranan pemerintah memainkan peran seminimum mungkin, sedangkan dalam Model Asia Timur pemerintah begitu proaktif dalam bidang ekonomi. Dengan cara inilah negara-negara di Asia Timur mengejar ketinggalannya dari Barat. Itu sebabnya, negara-negara tersebut maju lebih cepat, tingkat kesejahteraan rakyatnya lebih baik, jurang antara yang miskin dan kaya ada tapi tidak sebesar di indonesia.

Walau tidak serta merta kita bisa menyalahkan presiden demi presiden, karena school of thought mereka dalam pembangunan ekonomi Indonesia hanya merupakan sub-ordinasi kepentingan internasional. Negara kita memang sudah memiliki political independence, sudah memilki freedom in terms of democratiac mechanism (kebebasan dalam arti mekanisme demokrasi), tetapi kebangkitan ekonomi belum pernah terjadi sampai sekarang.

Jawabannya adalah apa yang disebut sebagai the creeping back of neo-colonialism (kembalinya kolonialisme gaya baru). Masih segar dalam ingatan kita, ini berawal dari peristiwa Konferensi Meja Bundar (KMB) di Belanda. Indonesia di tekan saat itu untuk mengambil alih hutang-hutang pemerintah Hindia Belanda.

Rakyat Indonesia selama ini memang tidak begitu mengetahui bahwa pemerintah Indonesia ditekan untuk membayar seluruh hutang dari pemerintah Belanda. Padahal hutang-hutang tersebut merupakan kekalahan pihak Belanda hutang dalam melawan dan menghancurkan kelompok pejuang kemerdekaan Indonesia. Tapi saat itu Soekarno mengambil hutang-hutang tersebut dengan dalih kemerdekaan lebih utama. Begitu KMB ditandatangani, Bung Karno memerintahkan untuk tidak membayar hutang tersebut. Jadi walaupun hutang disepakati, pemerintah Indonesia saat itu tidak mau membayar. Itulah taktik.

Celakanya, saat pemerintahan Soeharto, awal orde baru pada tahun 1967, Widjojo Nitisastro dan kawan-kawan yang disebut sebagai Mafia Berkeley membuat kesepakatan baru untuk membayar hutang Hindia Belanda tersebut, yang sebetulnya secara moral dan histories politics itu tidak dibenarkan. Dan sejak itulah dimulai the creeping back of neo-colonialism. Dan sejak itu pula dalam prakteknya Indonesia menjadi saluran bagi lembaga-lembaga keuangan internasional seperti Bank Dunia, IMF, untuk merumuskan undang-undang di Indonesia, merumuskan Undang-undang dan kebijakan. Segala bentuk privatisasi menjadi hal yang tidak bisa dihindarkan.

Hal tersebut sesungguhnya melanggar konsitusi. Kita adalah negara state sovereign (negara berdaulat) tidak boleh ada pihak manapun yang memberi iming-iming memberi pinjaman dengan syarat UU yang mereka susun. Sesungguhnya Indonesia adalah negara yang kaya raya atau yang sering disebut dengan golden bowls (cangkir emas). Seperti Freeport, Cepu dan sebagainya. Tapi karena mental pemimpin dan elitnya inlander(penjajah), maka kekayaan negara ini seakan tidak bermakna.

Untuk mengubah itu semua, tentu kita harus memulainya dengan GERAKAN INDONESIA BANGKIT, gerakan yang mampu menghancurkan jiwa-jiwa neo-kolonialisme, neo-kolonialisme dalam bentuk hutang yang dikaitkan dengan UU dan peraturan pemerintah, pemerintah berikutnya harus mampu merumuskan kebijakan ekonomi sendiri.

Itulah sebabnya Indonesia membutuhkan pemimpin baru dengan jalan baru. Karena sudah 40 tahun, sejak orde baru sampai sekarang, pemimpin sudah berganti beberepa kali tapi lagunya masih lagu lama, yakni lagu sub-ordinasi kepada kepentingan internasional, lagu the creeping back of neo-colonialism. Artinya memutus mata rantai neo-kolonialisme, mengubah school of thought. Hal itu bisa dilakukan melalui media, salah satunya Media Kita, dalam memberi analisis kritis bahwa Indonesia perlu jalan baru.