Dunia PII

Seputar Dunia Aktifis PII

The photo and the text can be changed by modifying the about.php file.Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

User Login

Site Search

Archive for the ‘tapaki sosio’ Category

Selamat Datang Perdagangan Bebas

Posted by rusydi hikmawan On Januari - 1 - 2010 ADD COMMENTS Subscribe here
ernyata gak hanya di Mataram orang-orang pada niup trompet, di sepanjang jalan di Lombok Timur mereka juga pada bakar petasan. Eh, sampe sepagi ini masi saja terdengar trompet en petasan itu.

Bukan hanya pertanda dimulainya tahun baru, itu juga pertanda dimulainya perdagangan bebas seasia tenggara di awal tahun duaribu sepuluh, satu Januari, pagi ini.

Sepertinya mereka bersuka ria menikmati awal perdagangan bebas dan sudah bersiap diri untuk itu. Saat semua kompetisi semakin menganga bagi rakyat di negeri ini. Siapkah kalian? Siaaap!!! Siap tidak siap, kita memang harus siap.

Namun, di balik kesiapan itu, Ketua KAMMI Pusat Rijalul Imam begitu khawatir, hingga ia menulis di dinding fesbuk-nya, "...Mulai 1 Januari 2010 produk-produk Cina merapat ke Tanjung Priok, genderang pasar bebas (FTA) Cina-Asean dimulai.. Renungan besar era liberalisme ekonomi baru semakin mencengkeram Indonesia..."

Komentar pun bermunculan, "Biar Indonesia tambah semangat memproduksi barang berkualitas,, biasanya kreativitas muncul karena ada tekanan,, persaingan." Tapi itu ditimpali ketua umum, "Persaingannya tidak berimbang. Sejak 400 tahun penjajahan, Indonesia tidak lagi dikenal sebagai peniaga internasional. Sebagai petani tangguh pun yang terjadi adalah perbudakan dan pengempasan harga tani oleh serbuan produk impor yg tak kalah murahnya. Sebagai pelaut pun kini semakin tenggelam saja."

Padahal, tambahnya, dahulu kala terdapat pemeo: nenek moyangku sang pelaut. Tapi kini lautan kita dikuasai asing. Persoalannya bukan semata pada keterampilan kita berdagang dan memproduk, tapi pada dukungan kebijakan yang tidak pro rakyat.

Itulah perdagangan bebas. Sistem pedagangan yang didewa-dewakan para penguasa pro pemodal. Itu pula yang telah menegasikan tulisan Donny Gahral Adian dalam Neoliberalisme Kertas.

"Neoliberalisme hanya teoretisasi di atas kertas. Ibarat hantu, wujud terukurnya di realitas nyata sukar ditangkap. Paling banter kita melihat jejak pikirannya dalam beberapa kesepakatan ekonomi global. Lalu, buat apa kita memukuli setan bernama neoliberalisme saat musuh sebenarnya bersembunyi di belakang republik ini?" tulis Ketua Jurusan Filsafat Universitas Indonesia.

Ia berpijak pada gagasan manusia sebagai homo oeconomicus dan kesepakatan global. Saat homo oeconomicus yang hanya melihat kepentingan pribadi dan mengerahkan rasionalitasnya. Lalu, pasar sebagai satu-satunya institusi kebebasan bekerja sempurna, kesepakatan global harus dihasilkan.

Artinya, kebijakan global adalah gagasan amat sumir. Kesumiran gagasan neoliberalisme dalam pelbagai kesepakatan global membuat kita harus berhati-hati menyusun kritik, simpulan dari buah pikiran Donny.

Padahal menurut Ketua Komisi VI DPR Airlangga Hartarto di Bisnis.com, iklim neraca perdagangan nasional terhadap China akan semakin terpuruk kalau kesepakatan perdagangan bebas itu dilaksanakan sesuai jadwal.

Lihat saja, sejak AFTA antara Indonesia dan China diterapkan bertahap mulai 2005 lalu, nilai perdagangan Indonesia terus merosot. Bahkan pada 2008 nilai akumulasi perdagangan Indonesia dengan China mengalami defisit US$3,61 miliar.

Alih-alih meningkatkan kemakmuran rakyat, eh defisit malah makin besar. Terhitung mulai 1 Januari 2010 bea masuk 8.097 pos tarif dari 17 sektor industri akan jadi 0%. Sementara ekspor Indonesia kalah dengan impor dari China.

Gak hanya Industri, pertanian merupakan sektor yang paling terpukul dengan pelaksanaan kesepakatan perdagangan bebas dengan China. Hal itu tentu akan merusak kesinambungan program ketahanan pangan dan produk pertanian nasional yang sekarang baru dimulai.

Lalu kenapa ada gerakan yang menentang neoliberalisme bertopeng AFTA? Itu karena enam anggota Perhimpunan Negara Asia Tenggara (ASEAN) akan mengurangi sebagian besar tarif perdagangan  mulai 1 Januari 2010.

Artinya, perjanjian AFTA yang mengikat enam negara, yakni Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina dan Brunei Darussalam akan mengurangi tarif impor, maka nilai perdagangan intra ASEAN bisa berkembang hingga 30 persen setelah AFTA berlaku.

Dalam Common Effective Preferential Tariff (CEPT) Agreements, pengurangan tarif juga berlaku bagi sekitar 98,86 persen jenis produk dengan kisaran tarif 0-5 persen.

Dengan pengurangan tarif tersebut, wajar saja produk dalam negeri tak bisa berbuat banyak. Produk secara massal dari negara tetangga dengan harga murah tentu lebih diminati. Jadi gak heran, CEPT Agreements menjadi batu sandungan bagi pedagang kecil.

Batu sandungan yang akan menggerus pedagang-pedagang di lapak kecil, pedagang tradisional dan pedagagang dengan modal terbatas. Jadi, hanya ucapan selamat saja yang bisa kita ucapkan untuk mereka: Selamat datang perdagangan bebas, selamat datang penguasa-penguasa pro pemodal besar dan selamat tinggal rakyatku.

Korupsi Bersama Saja

Posted by rusydi hikmawan On November - 15 - 2009 ADD COMMENTS Subscribe here
ni ajakan buat yang gak punya malu. Ajakan me-mark up anggaran yang bukan haknya.

Sebagai guru SD, saya sedikit tahu gimana kesempatan sekecil apapun dijadiin peluang oleh segelintir oknum guru untuk mendapatkan keuntungan dengan cara gak dibenerkan. Sebut saja, korupsi waktu.

Atau parahnya, me-mark up biaya raport per anak. "Seperti tahun lalu, biaya raport per anak semester ini enamribu, tapi cukup dibayar limaribu rupiah," kata pejabat teras kecamatan itu. Itu dilakuin berjamaah pula.

Saya pernah nulis note di Fesbuk dengan judul Bail Out Itu Oleh Pak Guru? pada 6 September. Pak Guru yang saya maksud adalah mantan orang berpengaruh di Bank Indonesia.

"Pak guru, apa tidak tau kondisi Century kok tetep ngasi dana talangan? Apa tidak mendengar wakil saya di DPR, kalo itu beresiko en udah ketauan akan merugi?" Tulis saya di fesbuk.

"Pemerintah melalui Lembaga Penjamin Simpanan telah mengucurkan modal untuk bank yang dibobol mantan pemiliknya, Robert Tantular, sebesar Rp 6,7 triliun. Suntikan dana ini membuat anggota DPR protes," sumbernya dari VivaNews.com.

Selain note tersebut, saya udah nulis note berjudul "Cermati Negeri". Note yang saya tulis 7 September ini juga menghadirkan komentar beragam.

Saya memang belum pernah mendiskusikan ama temen2 yang paham ekonomi. Tapi kalo mencermati berbagai sumber berita - di hape saya ini cuman ada metronews, vivanews, okezone, liputan 6, detik news, kompas en TVone. Kasus Century ini sungguh kesengajaan dan ada upaya perampokan, mengorupsi uang negara.

Apa alasan bank sekecil Century bisa mendapat kucuran dana sebesar Rp 6,7 triliun? Kata ekonom Tim Indonesia Bangkit, Imam Sugema, memaparkan fakta aset Bank Century yang sebesar 0,05 persen dari total aset perbankan nasional. "Nasabahnya juga hanya 65 ribu, kurang dari 0,01 persen dari total nasabah nasional. Ini bisa dikatakan, kalau dikaji lagi, bank tidak besar, kenapa permasalahannya sampai Rp 6,7 trliun, ini ada apa?" tukasnya.

Ketelodoran Menkeu simpulan berita lainnya. "Menkeu tidak cermat dari awal untuk mengestimasi berapa besaran konsesi kerugian pada saat BI mengucurkan dana ke Century," kata Imam di Warung Daun, Jalan Paku Buwono, Jakarta Selatan, Sabtu (5/9).

Dalam kesempatan sama, ekonom Standard Chartered Bank, Fauzi Ichsan, menambahkan, seharusnya Century langsung ditutup saat krisis dunia melanda, karena banyak pelanggaran bank itu sejak 2004.

Artinya, seharusnya pada saat eksekusi, harus ada pelaporan akurat yang sudah dianalisa cermat oleh Bank Indonesia dan Menteri Keuangan. Tapi apa? Nihil.

Parahnya lagi, seperti yang diungkapkan Anggota DPR Komisi XI dari Fraksi PKS Andi Rahmat ternyata pengucuran dana sebesar Rp 6,7 triliun dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) tidak diketahui sama sekali oleh DPR.

Menkeu Sri Mulyani dan mantan Gubernur BI Boediono disebutnya tidak pernah transpararhadap DPR. Walaupun, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) tidak harus meminta izin DPR untuk mengucurkan dana, seperti tercantum di UU, tapi pemerintah dan DPR sebelumnya telah menyepakati pengucuran dana penyelamatan hanya Rp 1,3 triliun.

Apa pemerintah tidak belajar dari kasus BLBI? Belum aja dilantik, eh bailout mencuat. para penguasa, ingat uang itu adalah uang rakyat.

Alhasil, pagi ini saya liat perkembangan berita di Tipi, Bosnya koruptor di negeri ini terindikasi kandas di ujung hak angket. Walau hak angket yang sudah ditandatangani lebih dari seratus limapuluh lebih anggota DPR RI. Hhh...

Pematik Kebisuan

Posted by rusydi hikmawan On November - 5 - 2009 ADD COMMENTS Subscribe here
asca diperdengarkan hasil penyadapan terkait upaya kriminalisasi KPK di sidang MK, semua masyarakat hampir tidak ada yang tidak berkomentar.

Saya aja yang tinggal jauh di kampung, jauh dari pusat kota, banyak mendengar komentar-komentar kritis dari masyarakat Kabupaten Lombok Timur. Terutama bapak mertua saya.

Di sela-sela mengurusi ayam peliharaannya, gak jarang dia mengomentari berita TV yang tiap hari ditontonnya. "Hukum sudah gak ada tempetnya," salah satu komentarnya. Saya hanya diem mendengarnya.

Bukan mertua saya saja, para aktivis mahasiswa pun sibuk unjuk gigi saling dukung di jalanan hingga dunia maya, fesbuk. Salah satu Group fesbuk genjar mengiritisi perkembangan kriminalisasi KPK beberapa hari ini.

Sebuat saja KAMMI. Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia ini juga mengiritisi apa yang terlontar dari bibir manis Fahri Hamzah, politisi PKS anggota DPR RI komisi 3.

Kerja Komisi Pemberantasan Korupsi selama ini ngawur dan selalu saja meremehkan polisi maupun kejaksaan

Fahri Hamzah

“KAMMI menyesalkan dan prihatin dengan sikap Fahri Hamzah dan PKS,” kata Ketua Umum KAMMI, Rijalul Imam. Rijal berharap para anggota Dewan termasuk Fahri Hamzah yang mantan Ketua Umum KAMMI itu melihat fakta. “Saya kira jadi ironi, Fahri yang ikon Reformasi malah ada kesan melemahkan KPK sebagai produk Reformasi,” ujarnya.

Walau pematik kebenaran telah dinyalakan, tapi ternyata beda di gedung DPR RI yang sejatinya menjadi cerminan suara rakyat. Dari sumber berita RRI,
Rapat Kerja (Raker) Komisi III DPR dengan jajaran Mabes Polri yang berlangsung selama 7 jam lebih ternyata kebanjiran pujian.

"Saya mengapresiasi polri karena tidak terpancing dengan statement-statement yang ada meski sangat keras," ujar Wakil Ketua Komisi III, Fahri Hamzah, pada penghujung Raker di Gedung DPR, Senayan, Jumat (7/11/2009). Anggota Komisi III lainnya juga memberi apresiasi kepada Polri yang tetap teguh dalam tekanan yang berat serta berani mengabaikan rekomendasi tim 8 untuk menahan Anggodo.

Lalu, kalau wakil rakyat yang kita pilih saja bertindak membela, menurut KAMMI secara mata telanjang Polri bisa dinyatakan salah, pihak kepolisian dan telah meniup pematik kebenaran. Apakah kita menerima logika para politisi oportunis itu?

Pematik kebisuan memang harus terus dihidupkan, jangan biarkan kasus ini menghilang. Terus suarakan kebenaran, hukum harus ditegakkan tanpa tebang pilih.

Iffah Sebatas Status

Posted by rusydi hikmawan On Oktober - 14 - 2009 ADD COMMENTS Subscribe here
erada di tanah orang, hidup gak seramai biasanya. Mengajar di sekolah dasar jauh dari perkotaan, tinggal di perkampungan, Jurang Koak. Saya pun harus nyari komunitas, sahabat baru biar survive dengan status baru: bapak rumah tangga.

Selain blog ini, jauh sebelum menjadi guru SD, saya sudah akrab dengan komunitas dunia maya lainnya: friendster, milis, group, atau facebook. Facebook memang jadi jawaban yang tepat saat ini. Bisa cari teman yang berasal dari satu kampung, bahkan mencari blogger aktif.

Namun anehnya, para facebooker (sebutan pengguna facebook) yang meng-update status lupa atau sengaja menulis hal-hal yang semestinya menjadi konsumsi internal keluarga, menjadi kebanggaan di statusnya.

Lihat saja beberapa status facebook (ini sebelumnya diposting salah satu group di Facebook):
#Seorang wanita menuliskan, "Hujan-hujan malam-malam sendirian, enaknya ngapain ya.....?" Eh, kemudian puluhan komen bermunculan dari lelaki dan perempuan, bahkan seorang lelaki temannya menuliskan, "Mau ditemanin? Dijamin puas deh..."

#Seorang wanita lainnya menulis status, "Bangun tidur, badan sakit semua, biasa....habis malam jumat ya begini...:" Kemudian komen2 nakal bermunculan...

Bahkan ada yang menulis, "bete nih di rumah terus, mana misua jauh lagi....", ----kemudian komen2 pelecehan bermunculan.

Parahnya, (give me apologize before:), ada juga yang nulis, "Mau tidur nih, panas banget...bakal tidur pake dalaman lagi nih"

Dan itu sadar atau tidak sadar dinikmati oleh indera kita, mata kita, telinga kita, bahkan pikiran kita. Ada yang lebih kejam dari sekedar status facebook, dan herannya seakan hilang ifah (kemuliaan diri) dan sensitifitas dari tiap diri terhadap hal-hal yang semestinya ditutup dan tidak perlu ditampilkan.

Rasanya hilang apa yang diajarkan seseorang yang sangat dicintai Allah, yaitu Muhammad, Rasulullah kepada umatnya. Seseorang yang sangat menjaga kemuliaan dirinya dan keluarganya. Ingatkah ketika Rasulullah bertanya pada Aisyah, "Wahai Aisyah apa yang dapat saya makan pagi ini?" maka Istri tercinta, sang humairah, sang pipi merah Aisyah menjawab, "Rasul, kekasih hatiku, sesungguhnya tidak ada yang dapat kita makan pagi ini". Rasul dengan senyum teduhnya berkata, "Baiklah Aisyah, aku berpuasa hari ini". Tidak perlu orang tahu bahwa tidak ada makanan di rumah Rasulullah....

Ingatlah Abdurahman bin Auf mengikuti Rasulullah berhijrah dari Mekah ke Madinah, ketika saudaranya menawarkannya sebagian hartanya, dan sebagian rumahnya, maka Abdurahman bin Auf mengatakan, "Tunjukan saja saya pasar."

Kekurangannya tidak membuat beliau kehilangan kemuliaan hidupnya. Bahwasanya kehormatan menjadi salah satu indikator keimanan seseorang, sebagaimana Rasulullah, bersabda, "Malu itu sebahagian dari iman". (Bukhari dan Muslim).

Dan fenomena di atas menjadi pertanyaan besar buat kita umat Islam, hegemoni 'kesenangan semu' dan dibungkus dengan 'persahabatan fatamorgana' ditampilkan dengan mudahnya celoteh dan status dalam facebook yang melindas semua tata krama tentang malu, tentang menjaga kehormatan diri dan keluarga.

Dan Rasulullah menegaskan dengan sindiran keras kepada kita, "Apabila kamu tidak malu, maka perbuatlah apa yang kamu mau." (HR. Bukhari). Maka jagalah kehormatan diri, jangan tampakkan lagi aib-aib diri, mudah-mudahan Allah menjaga aib-aib kita.

Maka jagalah kehormatan diri kita, simpan rapat keluh kesah kita, simpan rapat aib-aib diri, jangan bebaskan 'kesenangan', 'gurauan' membuat iffah kita luntur tak berbekas hanya sebatas status.

Berdamai Dengan Neolib

Posted by rusydi hikmawan On Oktober - 6 - 2009 ADD COMMENTS Subscribe here
asti ada yang menganggap saya tidak idealis lagi. Tidak idealis karena tidak progresif menentang kemunafikan lagi, sudah mentok jadi bapak yang tinggal mengurusi anak dan istri.

Prasangka yang sah diajukan siapa saja. Bukan hanya Donny Gahral Adian, keraguannya akan wacana neoliberalisme, mungkin, benar adanya bahwa neoliberalisme hanya teoretisasi di atas kertas.

Ibarat hantu, wujud terukurnya di realitas nyata sukar ditangkap. Paling banter terlihat jejak pikirannya dalam beberapa kesepakatan ekonomi global. Lalu, buat apa kita memukuli setan bernama neoliberalisme saat musuh sebenarnya bersembunyi di belakang republik ini?

Sebagai gagasan, neoliberalisme telah mendukung ekonomi monetaris yang nyaris tak bercelah, gagasan yang sejiwa dengan homo oeconomicus-nya manusia. Homo oeconomicus yang hanya melihat kepentingan pribadi dan mengerahkan rasionalitasnya.

Itu sebabnya, walau sulit dibuktikan, seperti tulisan Bang Donny dalam Neoliberalisme Kertas: neolib hanya ada di atas kertas. Namun untuk sebuah kekuasaan, sudah pasti. Mengutip kalimat Ekonom Fuad Bawazier yang menyebut perpaduan antara pro neolib dan pro rakyat tepat untuk mengisi posisi menteri yang membawahi bidang perekonomian dalam kabinet Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mendatang.

Memang saat kompetisi bursa pilpres 2009, wacana dan stigma kadung menempeli Pak SBY sebagai antek neolib. Itu sebabnya Fuad mengatakan, sebagai bentuk perdamaian ideologi, presiden harus mempertimbangkan untuk mengurangi sosok yang pro neolib untuk tim menteri ekonomi pada kabinet mendatang. Pasalnya, pada kabinet periode 2004-2009 ini, banyak sosok yang mengusung pro neolib telah melakukan banyak pelanggaran dan berdampak buruk bagi perekonomian Indonesia.

Dan memang di tahun 2004, saat saya masih menjabat di salah satu organisasi nasional, Sri Mulyani ribut dibicarakan mahasiswa sebagai antek IMF. Namun, melihat kinerja selama ini, Ekonom Indonesian Development of Economics and Finance (INDEF) Fadil Hasan meyakini Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati akan tetap duduk sebagai menteri dalam jajaran kabinet mendatang.

Bisa saja, salah satu hasil positif kinerja Mba Sri, misal, dilihat dari perkembangan perekonomian Nusa Tenggara Barat berkembang relatif baik saat ini. Indikatornya dilihat dari data penghimpunan dana kredit masyarakat yang disalurkan kepada nasabah atau LDR (loan to deposit ratio) cukup bagus dalam tiga bulan terakhir ini.

Seperti penjelasan Tri Dharma Pimpinan Bank Indonesia Mataram, "Kalau dulu mungkin, daerah ini dijadikan daerah funding, sehingga mungkin banyak capital flight, sekarang justru kalangan perbankan tersedot dananya oleh para penggiat ekonomi yang membutuhkan pembiyaan untuk kegiatan usahanya."

Selain itu, dinamika perekonomian di NTB terlihat secara empiris seperti terus bertambahnya komplek pertokoan (pasar modern), jumlah bank yang tahun 2006 sebanyak 15 bertambah mnjadi 19 bank pada Agustus 2009. Indikasi terlihat dari LDR pada Agustus 2009 mencapai 103,31 persen, atau naik dari 95,45 persen tahun 2008."

Itu sebabnya, pasar adalah institusi paling sempurna bagi kebebasan homo oeconomicus. Pasar adalah institusi sukarela tempat homo oeconomicus memuaskan preferensinya. Bisa dibilang, itu satu-satunya institusi paling demokratis bagi kepelbagaian preferensi manusia. Titik keseimbangan bagi dinamisme preferensi pelaku pasar bertumpu pada harga.

Karena itu, tugas pokok para pengambil kebijakan adalah menjaga agar pasar bekerja sempurna. Artinya, pengambil kebijakan berfungsi sebagai regulator tak berpihak bagi kelangsungan mekanisme pasar. Idealisasi ini menjegal kemungkinan pengambil kebijakan mengganti jubah menjadi pelaku pasar itu sendiri.

Idealisasi ini bekerja bagi arah sebaliknya. Pelaku pasar yang berganti jubah menjadi pengambil kebijakan juga harus melepas jubah pasar. Konflik kepentingan niscaya terjadi jika pelaku pasar dan pengambil kebijakan menyatu dalam satu tubuh.

Tidak salah bila siapapun presiden atawa menteri yang akan mengambil kebijakan untuk kesejahteraan rakyat, jubah yang mereka pakai harus dicocokan dulu. Jubah kekuasaan politisi harus berpihak pada rakyat, harus berdamai dengan ideologi apapun itu. Bisa gak?

Noordin Wafat, Innalillahi Wa Inna Illaihi Roji’un

Posted by rusydi hikmawan On September - 19 - 2009 ADD COMMENTS Subscribe here
ernyata berita kematian Noordin lebih heboh dari berita kemenangan Pak Esbeye dalam pemilu kemaren. Kematian Noordin jadi pembicaraan kelas wahid di kampung.

Seperti biasa, penggrebekan dan matinya para 'teroris' selalu menyisakan pertanyaan. Selalu ada jejak tertinggal yang dijadikan sumber oleh pengamat intelejen dan pengamat sosial politik lainnya.

Bagaimana tidak. Kisah teror meneror, kalau ditelusur, sejak tahun 2001, tiba-tiba muncul dengan target orang nomor satu di Indonesia, Megawati. Saat suhu politik dalam negeri, saat perseteruan dua orang berpengaruh di negeri ini memanas. Itu berlajut hingga kini.

Selain itu, peledakan WTC tahun 2001 dijadikan alasan Bush mendefinisikan teroris sebagai pihak-pihak yang menentang kebijakan AS. “Either you are with us or with terrorists (Anda bersama kami ataukah bersama para teroris),” ujar Bush.

Di Indonesia pun ketika itu sedang ramai menentang kepentingan AS, antara lain penghentian Namru 2; isu pengambilalihan (nasionalisasi) aset-aset publik yang notabene dikuasai AS seperti Migas, tambang, dll. Umat Islam dan organisasi Islam yang lantang menyuarakan kepentingan rakyat tersebut tersudut oleh stigma terorisme.

Dalam perkembangan berikutnya, menurut Yudi Latif prototipe stigma “boneka monster” menjadi liar, malahan master-nya ini tidak mampu mengendalikan seluruh tindakan-tindakan selanjutnya. Ketika elemen-elemen yang dikerjakan oleh intelejen, si-tuan ini tidak bisa membayangkan implikasi selanjutnya dari tindakan-tindakan seperti ini.

Ketika prototipe sudah dididik oleh intelejen, menurut pria kelahiran Sukabumi 40 tahun silam ini, untuk melakukan beberapa aksi, lama-lama mereka sudah punya logikanya sendiri untuk membangun jaringan yang tidak selalu bisa dikendalikan oleh aparatur negara, aparatur keamanan.

Itulah bola liar yang menjadi monster-monster baru yang ketika berkoneksi dengan pengalaman, bertemu dengan kekuatan Islam radikal di seberang sana kemudian memperoleh tambahan-tambahan pengetahuan, dari yang tadinya tidak bisa bikin bom menjadi bisa. Alhasil setiap tindakan refresif pasti melahirkan bibit munculnya elemen-elemen radikal dalam masyarakat.

Sedangkan hubungannya dengan intelejen Indonesia, dalam sebuah wawancara peneliti LIPI ini menjelaskan bahwa, ada beberapa oknum aparatur keamanan yang dipersuasi oleh para oportunis politik tertentu untuk memanfaatkan elemen-elemen kekerasan dalam agama agar terjadi kekisruhan untuk mendeskreditkan lawan politiknya. Itu bisa terjadi, tapi tidak bisa dipastikan.

Pesantren sebagai elemen agama yang disinyalir Sidney Jones sebagai sarang teroris adalah berlebihan. Masih menurut Yudi, tidak bisa bagian kecil dijadikan statemen untuk keseluruhan atau pos pro toto.

Kutipan Yudi dari tulisan Ariel Heryanto, dia bilang bahwa beberapa serangan-serangan dan tindakan kekerasan di Indonesia, memang di situ ada aparat yang sengaja mengambil manfaat. Kadang-kadang jika terjadi tindak kekerasan, tidak segera diatasi supaya donasi atau dana-dana yang dialokasikan oleh donor Internasional bisa mengucur terus. Itu salah satu contoh aparat yang memanfaatkan isu-isu kekerasan agama untuk kepentingan pribadi.

Namun kita tetap bersyukur. Bila aksi teror selama ini murni, seperti yang selama ini diberitakan, maka tidak salah bila kita acungi jempol pada Polri. Mabes Polri melalui Kapolri Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (17/9) telah memastikan Noordin M Top tewas dalam penyergapan di Kampung Kepuhsari, Mojosongo, Solo, Jawa Tengah.

Menurut Kapolri, Noordin tewas bersama dengan tiga kaki tangannya, yaitu Bagus Budi Pranoto alias Urwah, Hadi Susilo alias Ahit (24), dan Haryo Sudarso alias Aji oleh aparat Detasemen Khusus 88 Antiteror.

Ketika pemerintah Malaysia tidak banyak bersikap, ketika banyak korban sia-sia, semoga ada titik terang apa motivasi dan siapa yang menggerakkan aksi teror selama lebih dari satu dasawarsa di Indonesia. Dan muslim lainnya tidak menjadi target stigma yang lahir dari aksi teror oknum. Wa Allahu 'Alam.

Monopoli 1 Syawal

Posted by rusydi hikmawan On September - 17 - 2009 2 COMMENTS Subscribe here
Dialah (Allah) yang telah menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dia telah menetapkan baginya (bulan itu) lintasan-lintasan, agar kalian bilangan tahun dan hisab (perhitungan ilmu falak)

QS Yunus: 5

elama hidup di Kota Mataram saya terbiasa mengikuti ketetapan 1 Syawal via pesan pendek dari beberapa kawan pergerakan (harokah). Isi pesan pendek tersebut tentu dari kawan pergerakan yang tinggal di negara lain sudah melihat hilal.

Tapi beda setelah tinggal di sini, Desa Kelayu. Tiap malam secara individu, masyarakat Desa Kelayu terbiasa melihat perubahan bulan untuk menentukan 1 Syawal.

Kata Nabi Besar, patokan melihat Al Hilal mengawali puasa Ramadhan dan mengakhirinya adalah dengan ru’yah al hilal (melihat bulan baru).

Dalam beberapa hadits Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Berpuasalah kalian dengan melihatnya (al hilal), dan berbukalah kalian (di awal Syawal) dengan melihatnya. Maka jika ia (hilal itu) terhalangi dari pandangan kalian, maka lengkapkan bilangan Sya’ban sampai 30 hari” (HR. Bukhari).

Matahari dan bulan memang dapat dijadikan ukuran perhitungan waktu, karena ketepatan rotasi dan revolusi sehingga terjadinya gerhana matahari dan gerhana bulan dapat diprediksi beberapa bulan sebelum terjadi.

Bila bulan sudah cukup memenuhi kriteria tanda awal Bulan Syawal 1430 H, seperti keterangan KK Astronomi FMIPA ITB Dr. Moedji Raharto, maka awal Syawal 1430 H jatuh pada 19 September 2009 setelah maghrib dan shalat Ied 1430 H pada hari Ahad tanggal 20 September 2009.

Namun di negeri ini sering banget jumlah hari Ramadhan 30 hari. Padahal bila ru’yatul hilal di suatu negeri Muslim telah terlihat maka hal tersebut bisa menjadi patokan bagi negeri-negeri lain untuk mengikutinya.

Umat Islam sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW dalam menentukan patokan penanggalan adalah revolusi dan rotasi bulan yang disebut Bulan Sinodis, yaitu 29,5 hari. Karena itulah penanggalan bulan Hijriyah adalah 6 bulan 28 hari, dan 6 bulan 29 hari selang-seling (artinya kalau bulan Sya’ban 30 hari berarti bulan Ramadhan 29 hari dan bulan Syawal 30 hari, dan seterusnya), sehingga satu tahun komariyah adalah (6×29) + (6×30) = 354 hari. Karena ketepatan inilah seharusnya umat Islam tidak ragu dalam menentukan awal dan akhir Ramadhan.

Sedangkan metode rukyat yang tertuang dalam hadits Rasulullah SAW H.R. Bukhari-Muslim tentang menggenapkan bulan menjadi 30 hari memang pernah dilakukan. Rasulullah SAW puasa 29 hari dari 9 kali Ramadhan, puasa 30 hari 1 kali karena tidak melihat bulan.

Di jaman Rasulullah SAW tentunya ilmu astronomi belum sehebat sekarang, sehingga metode hisab yang digunakan pun masih manual, seperti tertuang dalam hadits tersebut.

Tapi disayangkan, seringkali memulai puasa Ramadhan dan mengakhirinya tidak sesuai dengan suara minoritas Muslim yang benar telah melihat al hilal, atau mendengar kabar hilal di negara lain.

Keputusan pemerintah berbeda dengan suara minoritas Muslim selama ini, karena keputusan pemerintah masih diartikan sebagai keputusan mutlak benar dan harus ditaati oleh rakyat Indonesia.

Padahal sejak dimulainya berpuasa Ramadhan, sejak tahun ke-2 Hijriyah, selama di Madinah, Rasulullah lebih sering berpuasa 29 hari, dan hanya sekali saja berpuasa genap 30 hari, karena gagal melihat al hilal.

Sedangkan, di Kerajaan Saudi, berpuasa 29 hari bukanlah hal aneh. Mereka biasa berpuasa seperti itu, dan lebih jarang berpuasa 30 hari. Artinya, usaha melihat al hilal juga lebih banyak suksesnya, daripada gagalnya.

Tapi di Indonesia lain lagi. Mayoritas puasa di negeri kita 30 hari, jarang sekali 29 hari. Padahal panjang wilayah Indonesia jauh lebih panjang daripada Kerajaan Saudi. Ini menjadi pertanyaan yang penuh misteri.

Satu kelemahan fundamental penentuan ru’yatul hilal di Indonesia adalah pihak yang berhak melihat hilal itu hanyalah orang-orang tertentu yang ditunjuk oleh negara, dengan SK, fasilitas, serta honor tertentu. Adapun kaum Muslimin yang melihat secara mandiri alias swasta tidak akan diterima hasil penglihatannya, meskipun dia Muslim yang adil dan benar-benar telah melihat al hilal.

Kalau merujuk ke sistem kaum Muslimin di masa Rasulullah, setiap Muslim yang benar-benar telah melihat al hilal, bisa diterima kesaksiannya. Dan proses melihat al hilal itu tidak harus dimonopoli oleh pemerintah. Semua Muslim boleh melihat dengan caranya masing-masing dan di tempat masing-masing.

Penetapan 1 Syawal dalam proses pengamatan al hilal sejatinya tidak menjadi monopoli badan tertentu. Ia bebas milik umat Islam dan melibatkan siapapun yang mampu dan sempat melakukannya. Jangan sampai, ketika ada seseorang yang telah melihat al hilal, hanya karena dia tidak tergabung dalam panitia ru’yatul hilal, pengamatannya ditolak.

Mitos Kepahlawanan Herakles

Posted by rusydi hikmawan On September - 16 - 2009 ADD COMMENTS Subscribe here
i hari-hari terakhir Ramadhan mestinya makin masuk akal tentang kebenaran. Tapi begitulah kotak hitam ideologi, ada saja 'kebenaran' manipulatif yang asik buat dinikmati.

Rabu pagi nonton Hercules, mitologi Yunani, di salah satu stasiun televisi swasta. Mitologi Yunani, menurut Wikipedia, kumpulan legenda Yunani tentang dewa-dewi Yunani serta para pahlawan yang berawal dan tersebar melalui tradisi lisan.

Seperti kisah Hercules, kebanyakan dewa Yunani digambarkan seperti manusia, dilahirkan namun tak akan tua, kebal terhadap apapun, bisa tak terlihat, dan tiap dewa mempunyai karakteristik tersendiri. Karena itu, para dewa juga memiliki nama-nama gelar untuk tiap karakternya yang mungkin lebih dari 1, seperti Demeter. Dewa-dewi ini terkadang membantu manusia dan bahkan memperistri seorang wanita manusia menghasilkan anak yang setengah manusia setengah dewa. Anak-anak inilah yang kemudian dikenal sebagai pahlawan.

Saat menonton Hercules, kenapa Hera digambarkan sebagai karakter jahat? Padahal dalam Greek Mythology Reteller, Hera adalah dewi agung, ratu langit, dewi pelindung pernikahan dan keluarga. Jelas, si pembuat cerita hanya membual dan tidak memiliki pengetahuan apa-apa tentang mitologi Yunani, hanya menempatkan tokoh mitologi hanya sebagai kulit luar sekaligus mengenyampingkan nilai-nilai yang terdapat dalam sebuah kisah mitologi.

Kebenaran mitologi memang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Karena mitologi hanya tradisi lisan saat itu. Namun dari sumber lain, awal kebencian Hera pada Hercules - atau dengan nama Herakles dalam Tales of Greek Mythology - karena Zeus memiliki anak dari rahim wanita lain.

Sembilan bulan telah berlalu semenjak Zeus mengunjungi Alkmene. Dan saat itu, saat semua dewa berkumpul di Olympus sambil minum-minum, Zeus mengumumkan kepada semua dewa yang hadir bahwa malam ini yang akan lahir pertama kali dari garis keturunan Perseus adalah anak laki-lakinya, yang akan menjadi pahlawan besar dan seluruh Yunani akan tunduk pada kemauannya.

Hera yang turut hadir, terbakar oleh api cemburu, dia berbisik kepada Ate, dewi cerdik yang duduk di sampingnya. Lalu Ate bangkit dari duduknya dan menyeru Zeus untuk bersumpah agung bahwa perkataannya ini akan menjadi takdir yang tidak dapat diubah lagi.

"Aku bersumpah demi air suci Styx yang mengalir di Bawah Tanah, bahwa akan terjadi seperti yang kukatakan. Anak yang pertama lahir dari garis Perseus malam ini akan memerintah Yunani dan seluruh Yunani tunduk pada kemauannya," seru Zeus.

Hera tersenyum, Zeus terjebak ucapannya sendiri. Karena saat itu di Mykena, Nikipe, istri Stenelus sedang hamil tujuh bulan. Stenelus adalah saudara Elektryon (ayah Alkmene) dan keduanya putra Perseus. Agar rencananya berhasil, Hera menyuruh Eletia, dewi kelahiran bayi, agar mempercepat proses kelahiran Nikipe dan memperpanjang rasa sakit Alkmene.

Akhirnya anak pertama yang lahir dari garis Perseus malam itu adalah putra Stenelus yang bernama Eurystheus, bayi lemah dan penyakitan tetapi mewarisi takhta Mykena, kerajaan yang paling berkuasa di Yunani saat itu. Satu jam kemudian baru lahir Herakles, disusul oleh Iphikles, putra Amphytrion.

Zeus pada akhirnya mengetahui taktik licik Hera, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena sudah terlanjur bersumpah. Dengan murka, Zeus melemparkan Ate dari Olympus dan dihukum tinggal di antara manusia.

Akhirnya Zeus menyusun rencana untuk membalas perbuatan Hera. Pada suatu malam, Zeus membuat hati Alkmene khawatir kalau-kalau Hera akan mencelakakan Herakles kecil. Untuk melindunginya, Alkmene membawa Herakles keluar dari istana dan meninggalkannya di tempat sepi di bawah dinding kota Thebes, sambil berdoa kepada Athena, dewi kebijaksanaan, agar melindungi anaknya.

Sesuai dengan perintah Zeus, seperti dalam Greek Mythology Reteller, Athena mengajak Hera berjalan-jalan di sekitar Thebes dan seolah-olah tanpa sengaja membawanya ke tempat dimana Herakles ditinggalkan. "Seorang bayi sendirian! Dan begitu rupawan! Aku belum pernah melihat bayi yang begitu tampan dan sesehat ini!", seru Hera begitu melihat Herakles.

Athena melirik Hera sambil tersenyum, "Sudah berapa lama ia ditinggalkan disini? Kelihatannya ia sangat haus. Kau punya air susu, bukan? Susuilah ia barang sebentar saja." Dengan senang hati Hera menyusuinya, tetapi Herakles menyusu dengan begitu hebat sehingga Hera kesakitan.

Alhasil, dengan sentakan keras, Hera melepaskan diri dari Herakles dan air susu Hera memancar ke langit malam, membentuk gugus Bima Sakti (milky way-english).

Alih-alih Hera membunuhnya, ternyata sang Dewi malah membuat Herakles menjadi bertambah kuat dan tidak terkalahkan. Itulah sepenggal mitologi dari sebuah negeri yang pernah dikuasai pemimpin besar karismatik, Pericles (445-429 SM), Yunani.

Menggalang Stigma Mengubur Fakta

Posted by rusydi hikmawan On September - 9 - 2009 ADD COMMENTS Subscribe here
Korban sering diajak zikir dan pengajian. Pasti berulang-ulang sehingga kondisi otaknya menjadi alfa state
Ke­pala Departemen Psikiatri Fakultas Kesehatan Masyarakat UI Dr AAA Agung Kusumawardhani SpKJ (K).

enggangu sekali setiap mesej baru dari beberapa grup di inbox fesbuk saya. Bukan banyaknya mesej, tapi isi mesej yang menjadi masalah. Setiap membahas teroris pasti hanya islam stigma pelaku yang terbentuk: jenggot, berpenampilan khas.

Gak heran itu terjadi, karena saat ini Israel sedang dibrondong kasus HAM. Ini yang sering saya sebut sebagai "penggelapan fakta" dibeberapa diskusi bersama tetemans. Opini kejahatan HAM Israel begitu tak terdengar dengan stigma yang dibangun ke tubuh umat islam.

Lihat saja ketika B'Tselem, kelompok hak asasi manusia (HAM) Israel, membeberkan data bahwa lebih separuh dari 1.387 warga Palestina yang tewas dalam serangan Israel di Jalur Gaza akhir tahun 2008 hingga awal 2009 adalah warga sipil, eh rakyat Indonesia sibuk dicuciotaknya dengan stigma Islam teroris.

Padahal B'Tselem telah meneliti selama berbulan-bulan, mendatangi para keluarga korban. Dan temuannya korban sipil tewas dengan jumlah yang sangat ekstrem dan kerusakan masif pada properti warga sipil mengharuskan introspeksi serius di dalam masyarakat Israel.

Menurut B'Tselem, 1.387 warga Palestina di Jalur Gaza tewas dalam serangan itu, termasuk 774 warga sipil dan 330 pejuang. Kelompok itu menyebut 248 polisi Palestina ikut tewas ketika mereka bertugas di dalam kantor polisi, mereka tidak sempat melarikan diri karena serangan udara mendadak.

Apalagi sejumlah badan kemanusiaan Inggris mengatakan situsi di Jalur Gaza kini adalah yang terburuk dalam 40 tahun. "Keadaan 1,5 juta warga Palestina di Jalur Gaza lebih buruk sekarang dibanding waktu kapan pun sejak dimulainya pendudukan militer Israel 1967," kata kedelapan organisasi lembaga swadaya masyarakat itu dalam satu pernyataan.

Tapi walau pemerintah Inggris dan EU mengeluarkan kutukan keras terhadap blokade terus-menerus atas Gaza oleh Israel sebagai pelanggaran luar biasa terhadap hukum internasional ternyata Israel tetap tidak bergeming.

Laporan PBB pun telah menguatkan fakta bahwa kejahatan perang Israel yang telah melanggar hak asasi manusia dalam serangan militernya di Gaza.

Penyelidik PBB bidang hak asasi manusia, Richard Falk, mengatakan, berdasarkan hukum internasional seluruh serangan Israel mungkin bertentangan dengan hukum jika tidak mungkin bagi pasukan Israel membedakan antara sasaran sipil dan sasaran militer di wilayah pinggir laut yang berpenduduk padat itu.

Falk, Senin (23/3), menyerahkan laporan kepada Dewan Hak Asasi Manusia PBB di Geneva, meminta dilakukan penyelidikan independen atas kemungkinan telah terjadi kejahatan perang oleh pasukan Israel di Gaza.

Ternyata tak hanya PBB, pemimpin Komunitas Yahudi di Inggris Neturei Karta Rabi Ahron Cohen pun mencela kekejian Israel yang menindas warga Palestina terkait kekerasan bersenjata di Jalur Gaza. "Agama Yahudi melarang pertumpahan darah," kata Cohen.

Atas dasar kemanusiaan, kita pasti setuju seperti yang dikatakan Cohen, tindakan Israel secara tegas melawan hukum internasional. "Makanya, Israel harus menyerah, sama seperti rezim apartheid di Afrika Selatan kala itu," kata Cohen.

Namun kesepakatan kita, bukti riil, data valid tidak cukup mampu membungkam dan memberhentikan kejahatan HAM "the real terrorist" Israel di atas dunia ini. Ironisnya kebanyakan kita membebek menerima stigma umat islam adalah teroris. Na'uzubillah.

Warna Warni Jilbab

Posted by rusydi hikmawan On September - 3 - 2009 ADD COMMENTS Subscribe here
ata orang, Bulan Ramadhan bulan berkah. Ya, karena minimalis sekali kemungkinan kita berbuat salah. Semua dalam batas kendali. Lihat saja tayangan di TV, artis yang sebelumnya tidak berjilbab, eh di Bulan Ramadhan rame-rame jilbaban.

Tak hanya artis, kini masyarakat Indonesia pada umumnya memakai jilbab begitu beragam. Dari warna, corak hingga model. Ujungnya yang dililit dileher, salah satu ujung dikaitkan di atas kepala atau bagian bawah jilbab masuk rapi dalam kerah baju si pemakai. Ini warna warni jilbab.

Awalnya, pakaian penutup kepala perempuan di Indonesia semula umumnya dikenal dengan istilah kerudung, tetapi permulaan tahun 1980-an lebih populer dengan jilbab. Jilbab dalam arti penutup kepala hanya dikenal di Indonesia.

Di beberapa negara Islam, pakaian sejenis jilbab dikenal dengan beberapa istilah, seperti; chador di Iran, pardeh di India dan Pakistan, milayat di Libya, abaya di Irak, charshaf di Turki, hijâb di beberapa negara Arab-Afrika seperti di Mesir, Sudan, dan Yaman.

Hanya saja pergeseran makna hijâb dari semula berarti tabir, berubah makna menjadi pakaian penutup aurat perempuan sejak abad ke-4 H. Konsep hijab dalam kitab Taurat dikenal dengan tif’eret dan di kitab Injil dengan istilah zammah, re’alah, zaif dan mitpahat.

Tulis Nasa-ruddin Umar di Ulumul Quran, konsep hijâb dalam arti penutup kepala memang sudah dikenal sebelum adanya agama-agama Samawi (Yahudi dan Nasrani). Hijab sudah menjadi wacana dalam Code Bilalama (3.000 SM), kemudian berlanjut di dalam Code Hammurabi (2.000 SM) dan Code Asyiria (1.500 SM).

Ketentuan penggunaan jilbab sudah dikenal di beberapa kota tua seperti Mesopotamia, Babilonia, dan Asyiria (Kompas, 25/11/02). Tradisi penggunaan kerudung pun sudah dikenal dalam hukum kekeluargaan Asyiria.

Hukum tersebut mengatur bahwa isteri, anak perempuan dan janda bila bepergian ke tempat umum harus menggunakan kerudung. Dan kalau merunut lebih jauh mengenai konsep ini, ketika Adam dan Hawa diturunkan ke bumi, maka persoalan pertama yang mereka alami adalah begaimana menutup kemaluan mereka (aurat) (QS. Thaha: 121).

Pelembagaan hijâb dalam Islam, seperti tulisan Nong Darol Mahmada dalam Kritik Atas Jilbab, didasarkan pada QS. Al-Ahzab: 59 dan An-Nur: 31.

Kedua ayat tersebut menegaskan aturan berpakaian untuk perempuan Islam. Pada surat An-Nur, kata khumur merupakan bentuk plural dari khimar yang artinya kerudung. Sedangkan kata juyub merupakan bentuk plural dari dari kata jaib yang artinya adalah ash-shadru (dada).

Jadi kalimat "Hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya" ini merupakan reaksi dari tradisi pakaian perempuan Arab Jahiliyah. Seperti yang digambarkan oleh Al-Allamah Ibnu Katsir di dalam tafsirnya “Perempuan pada zaman jahiliyah biasa melewati laki-laki dengan keadaan telanjang dada tanpa ada selimut sedikitpun. Bahkan kadang-kadang mereka memperlihatkan lehernya untuk memperlihatkan semua perhiasannya”.

Oleh karena itu, maka segera diperintahkan untuk mengulurkan kerudung di bagian depan agar bisa menutup dada mereka”. Pakaian yang memperlihatkan dadanya ini pernah dilakukan Hindun binti Uthbah ketika memberikan semangat perang kaum kafir Mekah melawan kaum muslim  pada perang Uhud. Dan ini biasa dilakukan perempuan jahiliyah dalam keterlibatannya berperang untuk memberikan semangat juang.

Selain karena faktor kondisional seperti yang digambarkan di atas, kedua ayat ini juga turunnya lebih bersifat politis, diskriminatif dan elitis.

Ayat hijab dalam surat Al-Ahzab turun setelah perang Khandaq (5 Hijriyah). Sedangkan surat An-Nur turun setelah al-Ahzab dan kondisinya saat itu sedang rawan. Bersifat politis sebab ayat-ayat di atas turun untuk menjawab serangan yang dilancarkan kaum munafik, dalam hal ini Abdullah bin Ubay dan konco-konconya, terhadap umat Islam.

Ayat-ayat ini juga turun di saat kondisi sosial pada saat itu tidak aman, seperti gangguan terhadap perempuan-perempuan Islam untuk menghancurkan agama Islam. Maka ayat itu ingin melindungi perempuan Islam dari pelecehan itu. Menurut Abu Syuqqah, perintah untuk mengulurkan jilbab pada ayat di atas, mengandung kesempurnaan pembedaan dan kesempurnaan keadaan ketika keluar.

Allah Swt telah menyebutkan alasan perintah berjilbab dan pengulurannya. Firman-Nya, "Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal," karena itu mereka tidak diganggu. Jadi etika moral sebagai titik tekan penafsiran ayat tersebut, agar lebih sopan dan bersahaja (modesty) yang bisa dilakukan siapa saja.

Lalu dengan make-up dan beragam model penggunaan jilbab yang sangat mencolok, maka tidak heran setiap yang memandang begitu terkesima. Melek terus! Nilai kesopanan dan kesahajaan menjadi abu-abu.

Ke Tiongkok Ataukah Meksiko?

Posted by rusydi hikmawan On Agustus - 27 - 2009 ADD COMMENTS Subscribe here
ernyata komunis China mulai merevitalisasi doktrinnya, begitu yang saya baca di China Radio International (24/8) dalam Kongres Nasional Ke-17 Partai Komunis Tiongkok (PKT) di Balai Agung Rakyat Beijing yang dihadiri lebih 2.200 wakil melalui pemilihan demokratis dari lebih 70 juta anggota PKT.

Pembaruan doktrin komunisme akan terus dilakukan di Tiongkok. Hari ini pun, ketika Kongres Ke-17 Partai Komunis Tiongkok dibuka, acara pembaruan doktrin itu menjadi salah satu agenda terpentingnya.

Kalau dalam kongres ke-16 lima tahun lalu diputuskan komunisme Tiongkok "komunisme tiga kaki". Namun kongres ke-17 akan ada menambah satu doktrin lagi: "membangun negara berdasar konsep yang ilmiah".

Dengan doktrin baru itu, komunisme Tiongkok menjadi tidak hanya berlandas Marxisme-Leninisme, tapi sudah menjadi komunisme pancapilar: Marxisme-Leninisme, Maoisme, Dengisme, Jiangisme, dan Huisme. Itu karena ajaran Mao Zedong (Maoisme) tidak asli lagi oleh Uni Soviet.

Selain itu, Dengisme (ajaran Deng Xiaoping yang menitikberatkan pada pragmatisme ekonomi) membuat komunisme Tiongkok kian jauh dari landasan awalnya. Jiangisme (doktrin Jiang Zemin yang memasukkan businessman sebagai soko guru ketiga dalam komunisme Tiongkok setelah buruh dan tani) membuat Partai Komunis Tiongkok sebenarnya sudah tidak layak lagi disebut komunis.

Untungnya, Soviet juga sudah tidak ada dan Rusia (inti Soviet) juga sudah bukan negara komunis lagi. Memang, kepentingan Jiangisme atas doktrinnya telah membuat ekonomi dan dunia usaha di Tiongkok gegap gempita.

Doktrin tokoh yang memimpin Tiongkok selama sepuluh tahun (berakhir 2002) itu telah mengukuhkan Tiongkok sebagai calon raksasa ekonomi terbesar di dunia dalam hitungan waktu tidak sampai 50 tahun lagi. Tapi, doktrin Jiangisme menimbulkan dampak yang umumnya ditimbulkan oleh kapitalisme lama: kesenjangan kaya-miskin yang menganga lebar.

Data yang bisa menggambarkan kondisi itu dilihat dari Indeks Kesenjangan Tiongkok yang sudah mengkhawatirkan, pada posisi 4,75. Kalau angka indeks tersebut terus meningkat berarti kondisi sosial ekonomi Tingkok kritis. Padahal, indeks sosialis-komunis seharusnya tidak lebih dari angka 2,5.

Melihat itu, di bawah kepemimpinan Hu Jinto, Tiongkok saat ini akan melakukan usaha besar-besaran untuk menyeimbangkan kapitalisme lewat doktrin "Huisme" yang akan diputuskan dalam kongres partai minggu ini.

Rupanya, sistem ekonomi terbuka yang sudah telanjur dijalankan selama 15 tahun belum mendapatkan landasan di dalam partai sehingga disusulkanlah perubahan tersebut. Dalam kongres ketika itu, ditetapkanlah tafsir resmi teori Marxisme dan Leninisme serta doktrin Mao Zedong sesuai dengan konsep pemikiran Deng Xiaoping.

Itulah "jasa" Jiang Zeming yang sekaligus menunjukkan kuatnya posisinya di dalam partai. Bahkan, perubahan tersebut dia teruskan dengan perubahan lima tahun kemudian, yakni disahkannya pengusaha sebagai anggota partai dan harus punya wakil dalam politbiro.

Perubahan itulah yang dipakai sebagai dasar perubahan ekonomi dari sistem sosialisme menuju sistem yang terbuka. Perubahan itu juga dipakai sebagai landasan untuk perubahan berikutnya yang ditetapkan dalam kongres partai pada tahun 1992 yang menggariskan secara resmi bahwa sosialisme RRT adalah "sosialisme yang disesuaikan dengan keadaan di RRT".

Memang, keberanian Jiang Zeming itu telah melahirkan juga sayap kiri yang keras. Bulan lalu, menghadapi kongres ke-17 itu, kelompok tersebut menandatangani petisi yang mengecam keras komunisme Tiongkok sekarang. "Ini sudah bukan komunis lagi," katanya.

Petisi yang ditandatangani para pensiunan jenderal, pensiunan pejabat tinggi, dan ketua partai tingkat provinsi itu minta agar partai mencabut doktrin "komunisme tiga kaki" yang diputuskan di masa Jiang Zeming. Tentu, Hu tidak akan menghapus begitu saja doktrin-doktrin tambahan komunisme itu.

Bukan saja doktrin tersebut telah membuahkan hasil nyata, juga tidak mungkin Hu mengabaikan asas harmoni. Terlalu berisiko kalau negara sebesar Tiongkok harus berubah secara reformasif. Hu, kelihatannya, memilih membelokkannya saja sedikit dengan menambahkan doktrin baru "pembangunan yang berdasar ilmu pengetahuan". Itu berarti Hu akan menjalankan kebijakan pembangunan yang tidak lagi berdasar pada doktrin apa pun.

Program apa pun, asal dilandasi pemikiran yang ilmiah, akan dia jalankan. Kalau secara ilmiah, kapitalisme baru memang bisa diterima, ya mengapa harus ditolak. Kalau secara ilmiah sosialisme baru bisa diterima, mengapa tidak.

Kini, Tiongkok sedang meletakkan dasar untuk menjadi negara modern. Partai komunis Tiongkok yang berkuasa pun sedang membangun diri. Lalu bagaimana negara dengan ideologi yang berbeda dengan Tiongkok?

Kalau Tiongkok dapat mewakili interpretasi ideologi komunisme, maka Meksiko saya jadikan titik poin pandangan liberalisme. Oleh neolib, neoliberalisme terlihat hendak disembunyikannya, agar negara tetap menyokong hak kepemilikan individu mereka.

Untuk itu, aturan hukum dan institusi harus membebaskan fungsi pasar dan perdagangan bebas. Artinya, negara berhak menggunakan monopolinya atas alat-alat 'pendisiplinan' untuk menjamin kebebasan pasar.

Di samping itu, mengutip David Harvey, kekuasaan negara harus melindungi institusi finansial, dengan segala pembiayaannya. Prinsip ini bekerja pada saat krisis New York City pada pertengahan 1970-an, dan dikenal secara internasional ketika Meksiko berada di ujung kebangkrutan pada tahun 1982.

Melalui negara pula, sistim neoliberal ditegakkan berdasarkan sokongan dan dukungan penuh dari negara. Di sini, seperti kita ketahui, negara lah yang bertindak sebagai pemegang kendali pelaksanaan sejumlah proposal neoliberal, diantaranya pengalihan sektor publik (pendidikan, kesehatan, layanan sosial) ke tangan swasta.

Carlos Villas menjelaskan bahwa kebijakan sosial neoliberal ini menjalankan dua fungsi penting; pertama, sebagai pendukung proses akumulasi kapital melalui reproduksi sosial tenaga kerja.

Kedua, melegitimasi keseluruhan tatanan politik yang ada dengan cara menciptakan konsesi dengan keseluruhan populasi yang menerima sedikit keuntungan dari program ini.

Dalam neoliberalisme, untuk diketahui, kebijakan sosial bukan hal yang permanen dalam perangkat ekonomi mereka, tapi sesuatu yang temporer sifatnya. Dalam memperkuat proses akumulasi kapital, kebijakan sosial ini membantu proses akumulasi kapital melalui manuver finansial. Kebijakan privatisasi sistim pensiun, misalnya, dibanyak negara Amerika Latin yang diambil alih oleh perusahaan-perusahan finansial swasta, dan dijadikan sebagai sumber finansial yang besar untuk diputar kembali di pasar finansial.

Alih-alih memperbaiki kondisi kehidupan group penduduk berpendapatan rendah, kebijakan sosial ini hanya membantu sangat sedikit korban penyesuaian struktural, dan tetap tidak menghentikan laju kemerosotan ekonomi.

Meksiko. Tahun 1980-an pemerintah menyiasati dampak krisis ekonomi dengan menjalan program penyesuaian struktural, diantaranya memotong secara drastis anggaran sosial, memotong anggaran pendidikan dan kesehatan, serta menghapus segala jenis subsidi untuk kebutuhan dasar.

Situasi ini, tentunya, berkontribusi pada jatuhnya standar kehidupan rakyat secara keseluruhan. Untuk merespon ini, rejim Miguel de la Madrid segera menurunkan dua program sosial neoliberal, yaitu Program Dana Untuk Perumahan Rakyat (FONHAPO) dan Program Distrubusi Bahan Makanan Nasional Untuk Zona Rakyat Miskin Kota (PAZPU).

Pada saat itu, Meksiko dikenal dengan politik klientalisme dan korupsi, terutama di kalangan partai politik tradisional; PAN dan PRI. Sehingga, pada saat itu, pemerintah banyak meminta uluran tangan LSM dan sektor-sektor independen.

Program FONHAPO, yang sumber pendanaannya sangat terbatas, difokuskan kepada pembangunan rumah bagi mereka yang berpendapatan sangat rendah. Pada prakteknya, dengan mengadopsi sistim kredit kolektif, FONHAPO memberikan bantuan dana kepada orang miskin untuk menyelesaikan pembangunan rumahnya.

Program itu dianggap gagal mencapai target pemerintah, karena persoalan managemen dan pengelolaan dana. Untuk itu, pada tahun 1983, FONHAPO direorganisasi dan melahirkan administrasi baru, dimana keterlibatan organisasi popular dan LSM lebih besar.

Pada saat itu, organisasi-organisasi kiri yang berakar di organisasi popular, juga berupaya menunggangi proyek ini untuk membangkitkan partisipasi politik rakyat. Mereka mengorganisasikan rumah tangga yang belum terdata, supaya diberikan peluang untuk masuk dalam program ini.

Sementara itu, program PAZPU menyiapkan bahan makanan dengan harga murah kepada zone rakyat miskin kota yang berpendapatan di bawah minimum. Melalui program ini, DICONSA, sebuah administrasi yang bertanggung jawab terhadap penyaluran bahan makanan ini, menciptakan sejumlah toko makanan di berbagai komunitas rakyat miskin kota.

Dengan bersandar pada mobilisasi, berbeda dengan metode LSM yang berdasarkan lobi, organisasi sosial berhasil mendapatkan dukungan luas dari rakyat miskin kota, terutama ketika memenangkan negosiasi soal penambahan anggaran dan perluasan cakupan program ini.

Paul Haber menganggap program ini justru memberikan legitimasi kuat kepada pemerintah, meskipun sangat teoritis. Bagi gerakan kiri yang memanfaatkan program ini, tujuan utama mereka adalah mengorganisasikan massa rakyat secara luas, dan mendorong kemampuan mereka untuk bernegosiasi dengan pemerintah.

Di level komunitas, seperti dicatat seorang antroplogis Meksiko, Paula Sabloff, program ini dimanfaatkan oleh sejumlah gerakan sosial untuk mengorganisasikan rakyat di komunitas; meregulerkan rapat-rapat, melakukan pendidikan politik, serta menganjurkan mobilisasi politik. The Frente Democrático Campesino (FDC), sebuah organisasi rakyat di Chihuahua, berhasil memanfaatkan program ini untuk memperkuat organisasinya, memajukan kapasitas anggotanya, namun tetap mandiri dihadapan pemerintah.

Atau secara umum, kepentingan yang sengaja dibentuk oleh gerakan sosial dan partai kiri adalah untuk memperluas basis keanggotaan, basis dukungan, dan struktur partai; berhasil membangun dan memperkuat sebuah infrastuktur politik, berupa partai, aliansi, ataupun blok politik, yang memiliki hubungan erat dengan massa luas.

Baik gerakan kiri dan gerakan kanan di Indonesia memang memiliki tempat kepentingannya masing-masing. Gerakan kiri dan gerakan kanan di negeri ini masih mencari bentuk, menciptakan peluang kepentingan yang harus mereka jadikan kendaraan pergerakan. Indonesia masih malu-malu, menjadi Tiongkok ataukah Meksiko.

Meredam Keserakahan

Posted by rusydi hikmawan On Agustus - 23 - 2009 ADD COMMENTS Subscribe here
egelintir pemodal, PT Freeport, telah menguasai bagian kekayaan negeri kita di Pulau Cendrawasih, Papua. Akankah keserakahan terus menggerus tanah Timika, Papua saat lalu lintas karyawan menuju areal pertambangan Tembagapura, dihentikan sementara (17/8).

Harapan masih terlalu besar pada keberhasilan Ramadhan tahun ini. Keberhasilan menjadikan diri suci kembali tanpa keserakahan. Memang, selain dalam keadaan suci (fitrah), Allah telah menciptakan nafsu bagi manusia, hingga membuatnya dinamis, kreatif, dan inovatif dalam berkarya di muka bumi ini. Dengan nafsu itu pula yang membedakannya dengan malaikat yang senantiasa taat kepada perintah Allah, Rabb semesta alam.

Namun, adakalanya nafsu bermuatan negatif dan positif. Dalam teks suci Quran, Allah berfirman, "Maka Allah mengilhamkan kepada nafs (jiwa) itu (jalan/potensi) kefasikan (keburukan) dan ketakwaan (kebaikan)-nya" (Syams: 8).

Atau oleh Jalaluddin Rakhmat (2005: 233) menyebutnya sebagai dimensi kepribadian; al-bu’dul malakut atau dimensi kemalaikatan yang berasal dari alam malakut dan al-bu’dul bahimi atau dimensi kebinatangan, keserakahan.

Ada satu bagian dari dalam diri manusia yang membawa ke arah kesucian sebagaimana asal penciptaannya sehingga dimensi ini akan membawanya untuk dekat kepada Allah (al-bu’dul malakut). Dimensi ini pula yang membuat manusia tetap pada kemanusiaanya yang gemar membantu, bersilaturrahim dan melakukan berbagai bentuk kebaikan lainnya.

Namun, dimensi kebinatangan inilah yang merubah posisi manusia dari manusia yang sesungguhnya. Dimensi ini mendorong manusia untuk melakukan kejahatan, iri kepada orang lain, tega menzalimi orang lain, serakah pada kekayaan dan dendam kepada orang lain. Inilah sisi buruk manusia yang jika tidak dikendalikan maka dapat mengantarkannya pada posisi yang sama dengan binatang, atau malah melebihi keserakahan binatang.

Artinya, ketika manusia berada pada dimensi malakut, maka ia telah menghambakan dirinya hanya kepada Allah. Sebaliknya, ketika dimensi bahimi mendominasinya, maka ia telah menjadi budak setan yang selalu menjerumuskannya ke jalan kegelapan dan kesesatan.

Untuk itu manusia mesti mengendalikian nafsunya sehingga ia tetap manjadi makhluk Allah yang paling mulia. Pengendalian nafsu itu memerlukan perjuangan yang besar, dalam makna kemanusiaan oleh Rasulullah menyebutnya sebagai jihad al-akbar, perjuangan yang lebih besar dari pada perjuangan para sahabat dalam peperangan Badr atau Uhud sekalipun.

Meskipun demikian, Allah tidaklah membiarkan begitu saja hamba-Nya dalam keserakahan. Dia tetap mendidik hamba-Nya agar tetap pada posisi yang mulia, Dia disebut sebagai Rabb, yang artinya Maha Pemelihara atau Maha Pendidik. Karena sebagai pencipta, Allah tidaklah hanya menciptakan manusia begitu saja, tetapi Dia memelihara makhluk-Nya dan mendidiknya agar tetap pada kebaikan dan keselamatan.

Salah satu bentuk pendidikan yang diberikan Allah kepada manusia agar dapat mengendalikan nafsunya adalah dengan menetapkan bulan Ramadhan sebagai bulan untuk melakukan ibadah puasa khusus bagi umat Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian salah satu hikmah Ramadhan adalah sebagai lembaga pendidikan ruhaniyah bagi manusia sehingga kita dapat mengendalikan diri (jihad al-nafs atau selfrestrain) agar tetap pada posisi makhluk Allah yang mulia.

Menurut Isma'il al-Faruqi, yang dikutip Azyumardi Azra (2005: 25), menyebut Ramadhan sebagai "latihan terbaik dalam seni pengendalian diri" (the art of self mastery). Itu sebabnya bulan ini juga disebut dengan Syahr al-Tarbiyah (bulan pendidikan), atau madrasah ruhaniyah.

Ada tiga hal, yang bisa saya tulis, bahwa ibadah Ramadhan mampu mendidik manusia agar tetap menjadi manusia yang sesungguhnya. Pertama, puasa mendidik manusia untuk jujur dan merasakan kedekatan dengan Allah. Puasa menjadi ibadah yang rahasia, itu pula yang menunjukkan perbedaan Puasa Ramadhan dengan ibadah lainnya. Karena hanya Allah yang tahu apakah seseorang itu puasa atau tidak. Alhasil, orang yang berpuasa akan senantiasa merasakan bahwa dirinya dalam pengawasaan Allah, lalu mustahil baginya untuk berbuat sesuatu yang diyakininya sebagai perbuatan yang mengundang murka Allah.

Kedua, puasa mendidik manusia untuk meningkatkan kesalehan sosial. Dengan berpuasa, ia akan menyadari apa yang dirasakan oleh si miskin yang selalu lapar. Maka tak heran, ketika ibadah Ramadhan telah mempengaruhi tingkah polahnya ia akan santun dan kasih kepada si miskin. Setidaknya, hal itu akan dibuktikan dengan mengeluarkan zakat fitrah pada kaum mustadafin, proletar menjelang datangnya Hari Raya Idul Fitri.

Pendidikan berlapar-lapar pun telah meningkatkan persaudaraan, sehingga ia akan selalu menghindari diri dari hal-hal yang dapat mengundang pertengkaran antara sesamanya. Secara normatif, efek lapar dapat mengikis rasa kesombongan, dimana kesombongan acapkali merusak persaudaraan. Puasa tidak membedakan antara pejabat dengan rakyat, pengusaha dengan pekerja, kaya dengan miskin, dan berbagai bentuk kelebihan-kelebihan lainnya.

Yang terakhir, Ramadhan mampu mendidik agar manusia senantiasa menyucikan jiwanya. Sebulan penuh ummat manusia dididik melalui zikir, baik siang maupun di malam hari. Mungkin, ada yang termotivasi dengan kehadiran lailatul qadar, malam seribu bulan, sehingga mereka memperbanyak zikir dan shalat di setiap malam (qiyam al-lail).

Puasa yang penuh kesadaran dan tulus selama bulan Ramadhan pun akan menyucikan segala kesalahan, hati kembali suci dan tidak ada lagi keserakahan mengeksploitasi, jiwa merdeka tidak terjajah. Semoga.

Kotak Hitam Ideologi

Posted by rusydi hikmawan On Agustus - 20 - 2009 ADD COMMENTS Subscribe here
khirnya datang juga bulan yang dinanti-nanti, bulannya umat islam sedunia. Bulan penuh berkah, saat aktifitas sehari-hari menjadi ladang ibadah. Ramadhan! Ya, Ramadhan.

Seperti biasa, mendekati masuknya bulan Ramadhan, setiap stasiun televisi berlomba-lomba dengan program khas bulan spiritual. Dari penambahan jam tayang ceramah agama - dengan berbagai versi, sampai acara hiburan yang 'islami'. Kotak hitam televisi menjadi daya magnet yang menarik kuat bagi setiap penikmatnya. Acara berbuka dan makan sahur kurang lengkap tanpa tontonan, itulah sebabnya ideologi dalam kotak hitam mampu menyusup halus, lembut dalam otak-otak penonton.

Pas, memang, saat perut lapar, tenaga hampir tidak ada, menonton menjadi pilihan. Acaranya pun tepat dalam kemasan untuk peningkatan spiritualitas. Kepentingan atas spiritual yang begitu halus. Karena kepentingan di balik media, pasti, akan menentukan peran sosial media, apakah itu kepentingan elit produser produk atau program media, maupun kelompok konsumer media.

Dapat kita lihat, ada kepentingan utama di balik media : kepentingan rezim dalam memelihara kekuasaan dan sekaligus upaya "brain washing"; kepentingan pemodal dalam membiakkan kapital; kepentingan publik dalam menyalurkan inspirasi dan berekspresi.

Ramadhan memang waktu yang tepat untuk meraih kepentingan. Menjelang bulan penyucian ini, kita telah melalui beberapa kejadian nasional : pemilihan presiden dan aksi teror bom di JW Mariot dan Ritz Hotel. Ramadhan melalui televisi menjadi bulan pertarungan ideologi, atau meminjam istilah Antonio Gramsci, "pertarungan hegemoni" (hegemonic struggle).

Televisi menjadi bagian mekanisme perebutan dominasi di antara kekuatan yang ada, bukan melalui kekuatan (senjata, militer atau massa), akan tetapi melalui pertarungan emosi dan perasaan kotak hitam ideologi. Karena Ramadhan mampu menjembatani kepentingan pemodal yang ingin mendapat simpati penonton. Dominasi melalui kekuatan ide, konsep atau gagasan politik, ekonomi dan kultur. Keberhasilan dominasi tersebut dapat kita lihat melalui penerimaan ide atau gagasan yang diekspresikan melalui opini publik, dan televisi berhasil membangun opini publik tersebut.

Siapa sangka, hanya dengan duduk manis di depan kotak hitam televisi, ideologi telah merasuk dalam otak penonton, ideologi pemodal yang memproduksi "ide hegemonik" dalam rangka mempengaruhi dan membentuk opini publik. Ide hegemonik yang telah direkonstruksi penguasa hegemonik yang ada - entah itu, kapitalisme, leberalisme atau sosialisme.

Kepentingan hegemonik melalui kotak hitam ideologi, selain membentuk opini publik, dalam pandangan Marx, sebagai manipulasi atau "kesadaran palsu" (false consciousness). Penonton digiring menuju pemikiran dan kesadaran pada sebuah ideologi tertentu. Kesadaran yang salah tentang realitas dirinya. Sehingga kotak hitam ideologi televisi menjadi "cermin palsu realitas" dan telah mendistorsi realitas.

Nah, ketika kotak hitam televisi dengan program-program pemikatnya, bak madu yang siap dihinggapi lebah, bagian dari alat ideologi tertentu (ideological apparatusses), maka, menurut Yasraf Amir Piliang, itu semakin membuktikan bahwa media televisi bukan "cermin realitas" (miror of reality), tetapi telah menjadi mesin "perumus realitas" (definer of reality), agar sesuai dengan ideologi rezim, pemodal yang melatarinya.

Beroperasinya cermin palsu realitas saat Ramadhan dalam program kotak hitam televisi tidak dapat dipisahkan dari mekanisme ketersembunyian (invisibility) dan ketersembunyian (unconsciousness), yang merupakan titik keberhasilan sebuah ideologi. Artinya, ideologi telah menyusup dan menanamkan pengaruhnya lewat program televisi secara "tersembunyi" dan berhasil merubah pandangan penonton secara "tidak sadar".

Bila menonton adalah rutinitas utama selama Ramadhan dan televisi menjadi pilihan utama menanti "bedug buka", maka tak heran para penikmat televisi tidak mampu obyektif, karena kotak hitam ideologi telah mendidik penonton menjadi tidak obyektif. Pun banyak yang terjerumus bertingkah polah tidak menggambarkan realitas dirinya, karena kotak hitam ideologi telah menyeretnya menjadi 'realitas' menurut kacamata ideologi (kepentingan) tertentu.

Merdeka Bersekolah

Posted by rusydi hikmawan On Agustus - 17 - 2009 ADD COMMENTS Subscribe here
dit (12) beruntung bisa bersekolah. Beruntung, karena orangtuanya mampu secara finansial. Tapi tidak disebagian anak Lombok Timur lainnya. Alasannya klasik: tidak ada uang, perekonomian susah. Sebegitu sulitkah bersekolah di negeri ini?

Kata pejabat negara yang bijak, "semua orang adalah guru, semua tempat adalah sekolah." Kalimat penyejuk hati itu hanya layak menjadi penyemangat untuk terus menuntut dan memberi ilmu kepada siapapun dan di manapun itu bukan sebagai apologi atas carut marut pendidikan.

Tepat yang diungkapkan Prof. Yohanes Suryo dalam acara di salah satu televisi swasta (16/12), permasalahan pendidikan Indonesia adalah birokrasi.

Itu sebabnya di Pendopo, Bupati Lombok Timur M Sukiman Azmy melaunching Gerakan Peningkatan IPM untuk mewujudkan percepatan peningkatan kesejahteraan masyarakat : mempercepat pengentasan buta aksara, mempercepat peningkatan rata-rata lama sekolah, penurunan angka sekolah.

Bukan rahasia lagi, kehidupan masyarakat kabupaten Lombok Timur masih jauh dari sejahtera dan masih tertinggal dari daerah – daerah lain di Nusa Tenggara Barat, hal ini terlihat dari IPM Kabupaten Lombok Timur pada tahun 2007 berada pada peringkat ke 7 dari 9 kabupaten/Kota se NTB belum termasuk Kabupaten Pengembangan Lombok Utara. Rendahnya Kesejahteraan masyarakat Lombok Timur disebabkan karena komposit pendidikan (lama sekolah 6,31 th dan melek aksara 79,81 th).

Padahal kalau kita lihat, pada tahun 2007/2008, jumlah sekolah pada jenjang pendidikan SD/MI, SMP/MTs dan SMA/MA/SMK di Lombok Timur sebesar 843, 261 dan 172. Dengan jumlah murid SD/MI 152.692, SMP/MTs 56.383 dan SMA/MA/SMK 35.432.

Lalu ketika bersekolah menjadi masalah baru dalam hidup dan bersekolah hanya dijadikan rantai membentuk mesin-mesin pekerja, pantas saja Ivan Illich menyatakan, “Sekolah itu lebih berbahaya daripada nuklir! Ia adalah candu! Bebaskan warga dari sekolah!”Jelasnya.

Pendidikan bukanlah suatu proses untuk mempersiapkan manusia-manusia penghuni pabrik, berpenampilan elegan apalagi hanya sebatas regenerasi ideological states apparatuses, leyaplah pendidikan untuk memanusiakan manusia. Mempertahankan sekolah yang kapitalistik sama saja menggerogoti minat dan motivasi masyarakat untuk turut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Kalau dunia pendidikan hanya diposisikan sebagai pelengkap dunia industri, maka bisa jadi manusia-manusia Indonesia ke depan adalah manusia yang kapitalistik. Kapilatistik dapat kita lihat menjelang masa-masa penerimaan siswa/mahasiswa tahun ajaran baru. Di pinggir jalan sering ditemukan dari spanduk, baliho, leaflet, brosur, pamflet, dan stiker yang bertulis “Lulus dijamin langsung kerja”.

Apalagi banyaknya sekolah yang bergaya industri semakin memperparah citra dunia pendidikan yang cenderung lebih berorientasi pada pengakumulasian modal, daripada pemenuhan kualitas pelayanan akademik yang diberikan. Akhirnya, terlihat jelas bagaimana mutu SDM Indonesia laporan studi UNDP tahun 2006, Human Development Index (HDI) Indonesia menempati urutan ke-108 dari 177 negara.

Hal di atas setidaknya bisa menjadi renungan bagi dunia pendidikan di negeri ini, bahwa proses berpendidikan di sekolah bukanlah sesederhana belajar konvensional untuk mendapat ijazah. Kalau aktivitas sekolah hanya monoton semacam ini, maka pilihan untuk bersekolah merupakan pilihan yang sangat merugikan.


Oleh sebab itu, sudah saatnya dunia pendidikan berbenah diri secara serius. Khususnya pengembangan pembelajaran di sekolah bisa dijalankan melalui prinsip penyadaran kritis, sehingga melalui kesadaran kritis siswa mampu menganalisis, menghubungkan, bahkan menyimpulkan bahwa persoalan kemiskinan, pengangguran, dan lainnya merupakan persoalan sistem, bukan karena persoalan jenjang sekolah. Saatnya rakyat merdeka bersekolah. Semoga.

Posting di atas untuk mengikuti lomba blog dijaminmurah.com.

Saya Adalah Contoh

Posted by rusydi hikmawan On Agustus - 13 - 2009 ADD COMMENTS Subscribe here
etelah membaca posting sebelumnya, Itu Tidak Mendidik, tulisan ini jadi penjelas tambahan bagaimana seharusnya proses pembelajaran itu.

Karena kita adalah Homo Mechanicus, maka jika seorang pengajar dalam menghadapi masalah terbiasa dengan tidak mengontrol emosi dengan baik, itu berarti dia belum menjalankan proses pembelajaran dalam kelemahan tersebut.

Mengritisi fenomena pengajar tersebut Burhus Fredik Skinner menjelaskan dalam Teori Operant Conditioning pada tahun 1930-an bahwa periode teori stimulus (S), respon (R) sekaligus menyempurnakan teorinya Ivan Pavlo yang disebut “Classical Conditioning”. Bahwa psikologi akan diterima sebagai sains (science) bila studi tingkah laku (behavior) tersebut dapat diukur, seperti ilmu fisika, teknik, dan sebagainya. Artinya, belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang harus dapat diukur.

Bila pembelajar (peserta didik) berhasil belajar, maka respon bertambah, tetapi bila tidak belajar banyaknya respon berkurang, sehingga secara formal hasil belajar harus bisa diamati dan diukur. Dengan kata lain, belajar merupakan suatu proses yang harus dihadapi oleh semua manusia untuk memberikan reaksi positif dalam menjalani kehidupan.

Demikian juga di dalam kelas, guru dan murid bersama-sama belajar setiap hari. Guru dan murid tidak hanya belajar pada aspek akademik tetapi juga pada aspek sosial, budaya, tingkah laku, dan spritual.

Pada saat, guru menyadari bahwa dirinya juga menjadi bagian dari pembelajaran di dalam kelas maka pandangan ini memberikan pengertian bahwa guru juga bisa melakukan kesalahan dan bukan juga maha tahu. Guru yang mau belajar adalah guru yang benar-benar menyadari bahwa selama proses hidupnya, ia membutuhkan Tuhan, spirit untuk menimba ilmu, pantang menyerah, dan mengakui kekurangannya.

Kembali pada pendahuluan, jadi belajar yang dimaksudkan jika seseorang yang menyadari bahwa ia memiliki kelemahan dalam suatu hal maka ia akan belajar untuk mencari strategi apa yang akan membantu dirinya yang lemah untuk bisa bangkit dari kelemahan menuju kehidupan yang penuh dengan semangat dan pengharapan.

Itulah yang diajarkan Socrates (470-399 SM) filsuf Athena, Yunani melalui teori dan praktek pendidikannya, tujuan yang paling mendasar dari pendidikan adalah untuk membuat seseorang menjadi “good and smart". Untuk mencapai hal itu, metode pengajaran Socrates memiliki pengaruh yang signifikan dengan pembentukan melalui teori belajar kognitivisme yang berupa pemahaman dan perubahan tingkah laku yang dapat diamati.

Teori belajar ini mengembangkan lebih jauh praktek pendidikan dialogis yang dicontohkan oleh Socrates. Pembelajaran merupakan konsep inti bersama dengan pengalaman bersama, dialog, dan renungan. Gurupun menjadi 'cermin' bagi muridnya.

Karena guru menjadi contoh berperilaku bagi muridnya, maka dalam praktek pendidikan murid belajar melalui interaksi dengan sesamanya; orang tua, teman, guru dapat menjadi mediator dalam pembelajaran; guru memberi dorongan dan berpartisipasi dalam kegiatan belajar.

Layaknya behaviorisme menganalisa perilaku yang nampak, yang dapat diukur, dilukiskan, dan diramalkan. Belajar menjadi bagian yang merubah perilaku organisme karena behaviorisme tidak mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional; behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilakuknya dikendalikan oleh faktor stimulus. Tidak heran ketika murid menjadi Homo mechanicus, guru haruslah menjaga perilaku karena guru adalah cermin bagi mereka.

Bommu Alihkan Duniaku

Posted by rusydi hikmawan On Juli - 17 - 2009 ADD COMMENTS Subscribe here
elakunya warga Amerika atau Israel yang menguasai bom nonkonvensional. (Joe Vialls, Peneliti Australia)

Ada apa dengan Jum'at pagi? Saya bener-bener gak tau. Sibuk ngurus surat tugas buat prajabatan, ngedarin surat dari PW, jadi gak tau perkembangan.

Kawan-kawan ngabari, kalo ada ledakan di Jakarta. Kawan-kawan di mikroblog, fesbuk, juga sibuk bikin status tentang ledakan tsb. Dari MU yang gak jadi dateng sampai Pak Beye berkomentar : ledakan ini ada hubungannya dengan hasil pilpres. Yang bener saja?

Sebelum dilanjutkan, sebaiknya kita baca kembali sejarah bangsa ini ketika J.W. Marriott (5/8) diledakkan, saat itu Pak Beye menjabat Menko Polkam.

Bom Marriott adalah contoh yang tepat, betapa sebuah rekayasa ketakutan massal selalu mengandung celah kejanggalan. Itu hanya manifestasi kebijakan penguasa yang merasa terancam, apabila kebohongannya terungkap. Upaya menangkis suara kritis media yang melakukan investigasi intensif, dan analisis para pengamat yang tak mudah ditipu dengan dengan operasi penyesatan.

Salah seorang pengamat yang secara konsisten menentang “kampanye perang terhadap terorisme internasional” yang digencarkan sepihak oleh pemerintah Amerika Serikat adalah Joe Vialls, ahli masalah peledakan dari Australia.

Dalam situs pribadinya, Vialls mengungkapkan sejumlah fakta lapangan (hard facts) yang tak terbantahkan.

Pendapat PM Australia John Howard dan Presiden AS George W. Bush tergesa-gesa menuding pelaku bom Marriott adalah kelompok “Jemaah Islamiyah” disanggah Vialls habis-habisan.

Jika dalam peristiwa bom Bali (12 Oktober 2002), Vialls berkesimpulan bahwa bom di depan Sari Club berbeda dengan bom yang meledak di Paddy’s Bar, yakni jenis special atomic demolition munition (SADM) – atau lebih dikenal dengan nama “bom nuklir mini” (micro nuke).

Simpulan Vialls tentu saja menggegerkan dunia dan menggelisahkan petinggi AS dan Australia yang mengklaim paling berkepentingan dalam menangkal terorisme di dunia dan kawasan Asia Pasifik. Maka, dalam kasus bom Marriott, Vialls menyanggah keterangan Polri – yang didukung penuh oleh Polisi Federal Australia (AFP) dan Biro Investigasi Federal AS (FBI), bahwa bom itu diledakkan seorang operator yang mengendarai mobil Toyoto kijang di depan lobi hotel.

Sebuah tipuan jitu untuk membenarkan asosiasi publik, bahwa modus yang sama persis dengan peledakan bom Bali. Namun Vialls membantahnya sekeras mungkin.

Pertama, secara teliti Vialls mengamati bahwa lobang yang terbentuk akibat di lantai lobi setebal 30 sentimeter itu membuktikan bahwa bom dipasang di basement, persis menempel di langit-langitnya. Mungkin saja ada bom di dalam mobil, juga bensin dalam jirigen, tapi itu bukan penyebab lobang besar, karena bahan potasium yang disebut Polri seberat 300 kilogram tak mungkin menimbulkan efek sekuat itu. Bahkan, jika dilontarkan dari udara sekalipun, misalnya menggunakan pesawat tempur atau helikopter, maka lantai beton dan aspal itu belum tentu tembus.

Temuan yang menarik dari Vialls itu perlu ditelusuri dan diuji oleh Polri, jika simpulan aparat tidak ingin ditertawakan oleh para ahli peledakan sedunia. Kebodohan kita hari ini akan menimbulkan penyesalan sepuluh atau duapuluh tahun yang akan datang, ketika rezim kekuasaan berubah dan semua kebohongan terbongkar dengan sendirinya, setidaknya lewat sinyal yang telan dikemukakan Vialls.

Kedua, Vialls amat terkesan dengan rekaman gambar yang disiarkan luas oleh media internasional, bahwa asap putih membumbung tinggi beberapa saat setelah ledakan. Bagi Vialls, dan semua ahli peledakan pasti menyetujuinya, bom berbahan potasium-parafin-TNT yang disebut Polri tidak akan menimbulkan efek semacam itu. Mestinya, kalau keterangan Polri bisa dipercaya (seperti teori bom potasium seberat 1000 kilo yang diledakkan Amrozi cs), efek yang muncul adalah warna hitam kotor yang menyebar secara horizontal. Padahal, yang terjadi justru asap putih menjulang ke atas secara vertikal.

Terakhir, Vialls mendapatkan informasi kunci dari salah seorang manajer hotel yang merasakan keanehan, karena beberapa jam sebelum ledakan para penghuni hotel dan pengunjung berkebangsaan Amerika telah dievakuasi, setidaknya diberi peringatan dini (early warning). Sehingga tak aneh, apabila korban ledakan yang tewas dan luka-luka mayoritas pribumi, hanya seorang warga Belanda yang nahas di hari itu. Padahal, hotel Marriott dikenal sebagai tempat menginap dan rendevouz para ekspatriat.

Informasi yang didapat Vialls terkonfirmasi dengan keterangan yang diperoleh wartawan dari seorang petugas hotel yang kebingungan: mengapa Kedubes AS membatalkan pemesanan 20 kamar beberapa jam sebelum ledakan? Padahal, acara resmi kedubes sebenarnya akan diadakan beberapa jam setelah ledakan, yakni keesokan harinya.

Sebenarnya dengan meniru kecermatan dan keingintahuan tak terbatas yang dimiliki Joe Vialls, maka kita dapat membuka sebagian tabir yang menutupi jejak “para teroris yang sebenarnya”. Pun terkuak manipulasi fakta dan pencitraan buruk yang berlapis-lapis terhadap kelompok Islam.

Seperti dibeberapa kejadian di negeri ini, seringkali kejadian satu tiba-tiba hilang dari peredaran. Permasalahan satu tenggelam ketika permasalahan dua muncul begitu mencuri perhatian rakyat dan media.

Kasus penanganan korupsi dan perjalanan RUU Tipikor tenggelam ketika ketua non aktif KPK, Antasari, terbelit masalah hukum. Dan ledakan kemarin pun dimanfaatkan sebagai situasi lengah rakyat dan media ke perhitungan pemilu dan ketidakadilan sosial yang terjadi di kawasan tambang PT Freeport McMoran, Papua.

Kita tahu, beberapa waktu yang lalu media sibuk memberitakan keberadaan Freeport yang dianggap sebagai sumber konflik masyarakat Timika selama ini. Dan ternyata, ada tangan borjuasi kapitalis telah mengenggam daya nalar dan alam bawah sadar kita, bommu alihkan duniaku. Wa Allahu 'Alam.

Kembali Ke Sekolah

Posted by rusydi hikmawan On Juli - 15 - 2009 ADD COMMENTS Subscribe here
aya memang bukan sosok Manfred Wakei yang telah menghabiskan separo usianya mendidik anak-anak bangsa di Putapa, sebuah desa di pedalaman Irian Jaya.

Kalau membandingkan dengan pengabdian tulus Manfred yang lebih dari 30 tahun menjadi guru di daerah terpencil, saya memang belum genap setahun. Lalu kemampuan apa yang saya siapkan untuk anak didik di tahun ajaran baru ini?

Kita tahu, pasal 31 UUD sesuai Amandemen menyatakan bahwa  “Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan”, “Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya”. Hak untuk mendapatkan pendidikan yang bermutu dambaan kita, namun arah peningkatan mutu masih terlalu jauh.

Seperti Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang telah digariskan Depdiknas sejak 2007 lalu belum mampu sebagai, dan saya jadikan, jawaban. Pelaksanaan KTSP memang mengasumsikan guru mempunyai kompetensi untuk mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan konteks siswa mereka di tingkat satuan pendidikan masing-masing. Tapi bagaimana dengan saya yang berada di daerah pinggir, jauh dari pusat kota? Ide kreatif belum muncul juga.

Itulah salah satu sebab, fakta bahwa, KTSP diluncurkan dan diterapkan, ternyata belum tampak adanya perubahan yang signifikan dalam pola pengajaran di sekolah-sekolah, apalagi untuk daerah terpencil.

Sejatinya, dengan KTSP, saya dan guru lainnya 'dipaksa' untuk mampu menerapkan pola belajar yang menarik bagi murid serta kreatif dalam melakukan perubahan bagi praktek-praktek pengajaran di kelas ataupun manajerial di sekolah. Karena dengan KTSP, para guru diwajibkan menyusun strategi pembelajaran untuk bidang studi pilihan, yakni matematika dan IPA atau IPS dan bahasa serta selanjutnya menuangkannya dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) berdasarkan silabus sekolah yang akan dilaksanakan.

Seharusnya, berada di daerah pinggir kabupaten atau terpencil sekalipun bukan hambatan bagi sebagian guru untuk mengembangkan berbagai teknik mengajar siswa dengan pola yang menarik dan diminati murid-murid dibangku sekolahnya.

Walau dirasa sangat sulit buat saya dan guru di daerah terpencil lainnya, saya harus mampu mengajar -dalam satu kelas lebih dari 40 anak- dengan karakteristik model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, misal, versi Molly Jhonson (Jhonson, 2007). Karena, sekaligus menjadi karakteristik pembelajaran berpusat pada peserta didik, saya berperan sebagai fasilitator, mengelola kelas harus lebih kondusif yang mengarah pada pengalaman belajar yang produktif, menjadikan peserta didik aktif dalam kegiatan pembelajaran, tentunya saya memberi waktu dan energi yang lebih.

Tak hanya sampai di sana, Jhonson mengemukakan beberapa persyaratan yang sekiranya harus diperhatikan agar pelaksanaan pembelajaran yang berpusat kepada peserta didik berhasil, yaitu: (1) mengubah paradigma guru menjadi fasilitator pembelajaran, (2) komitmen guru dalam menyediakan waktu dan tenaga untuk membelajarkan peserta didik tentang berbagai materi pengetahuan, (3) kesediaan guru untuk mencoba menerapkan pendekatan baru dalam mengelola kelas, dan melihat secara kritis usaha penerapan pembelajaran yang berfokus pada peserta didik, dan (4) inisiatif guru untuk bergabung dengan kelompok masyarakat pengembang strategi pembelajaran yang berfokus pada peserta didik.

Nah, itu sebabnya, "pahlawan tanpa jasa" -walau saya tidak sepakat dengan istilah itu- diharapkan menjadi agensia-agensia perubahan yang efektif bagi masyarakat dan bangsa. Karena, pendidikan merupakan “intengible asset”, hanya dengan pendidikan dan pengajaranlah bangsa ini akan cerdas. "Saatnya kembali ke sekolah."

Belajar Demokrasi Ke Iran

Posted by rusydi hikmawan On Juni - 23 - 2009 ADD COMMENTS Subscribe here

udah lama gak nge-posting di blog. Hmm sibuk ama aktifitas ngajar di sekolah dasar, alhamdulillah, en nyimak berita hiruk pikuk pra-pilpres negeri ini. Jauh di negeri tetangga, Iran, 12 Juni yang lalu rakyatnya sudah memilih pemimpin negara baru. Luar biasa memang, persentase rakyat yang berpartisipasi meningkat hingga 85 persen dari jumlah pemilih 46 juta 200 ribu, yakni hampir 40 juta.

Alhasil, Mahmoud Ahmadinejad untuk kedua kalinya terpilih sebagai Presiden Republik Islam Iran selama 4 tahun ke depan dengan perolehan suara 24 juta. Perolehan suara yang menakjubkan dalam sejarah pemilihan umum presiden Iran selama 30 tahun terakhir. Fenomena bersejarah ini semakin urgen mengingat pemilu kali ini adalah pemilu pertama dalam dekade keempat Revolusi Islam Iran.

Pelajaran yang bisa kita ambil adalah pemenang sejati pilpres Iran ke-10 adalah rakyat Iran sendiri. Pilpres tersebut pada hakikatnya menjadi kemenangan sejati Islam dan cita-cita Revolusi Islam atas model khayalan dan interpretasi atas Islam.
Rakyat yang hadir di tempat-tempat pemungutan suara membuktikan bahwa hubungan Liberalisme dan Demokrasi yang digembar-gemborkan Barat ternyata tidak begitu dalam dan masih ada peluang untuk mengajukan model lain yaitu demokrasi agama. Bahkan dapat dikatakan bahwa masih banyak kesempatan untuk memanen cita-cita Revolusi Islam dari kebun demokrasi. Dengan demikian, tidak ada alasan untuk takut akan proses demokrasi. Karena demokrasi harus dipandang sebagai cara untuk melayani rakyat.

Kedua, hasil pemilihan umum presiden ke-10 menunjukkan kemenangan kejujuran atas pembunuhan karakter, tuduhan tanpa bukti dan kebohongan. Rakyat Iran ternyata mampu membedakan antara kejujuran, transparansi dan loyalitas terhadap prinsip-prinsip moral dan cita-cita Revolusi Islam dengan perilaku yang menghalalkan segala cara. Artinya, rakyat Iran tetap waspada dan mencermati tindak-tanduk para kandidat.

Itu karena,
“Dalam pemilu, diawasi oleh semua rakyat, Dewan Garda Konstitusi dan para ulama, pemerintah tidak bisa ikut campur,”
Mir Hossein Mousavi saat menjabat Perdana Menteri Republik Islam Iran, 29 Juni duapuluh tiga tahun lalu. Inilah untuk pertama kalinya Komisi Pemilihan Umum Iran membolehkan setiap kandidat untuk mengirimkan wakilnya untuk mengawasi jalannya pemilu. Alih-alih mengakui kekalahannya, mereka, Mousavi rival Ahmadinejad saat pilpres, malah mengeluarkan sejumlah pernyataan provokasi kepada para pendukungnya untuk melakukan aksi kekerasan atas kekalahan mereka.

Lalu, bagaimanakah perjalanan demokrasi saat pilpres mendatang di negeri yang memiliki jumlah pemeluk agama Islam terbesar di dunia ini? Pemeluk islam di negeri ini memang mendominasi, dan tentunya calon presiden yang mampu menjadirepresentasi umat islam dan pro rakyatlah yang sejatinya memimpin negeri. Semoga.

Kompensasi Kebodohan

Posted by rusydi hikmawan On Mei - 10 - 2009 ADD COMMENTS Subscribe here
ebodohan merupakan sebuah bentuk penjajahan di masa modern, kata Acong (bukan nama asli) tetangga saya. Karena ternyata di negara yang sedang sibuk dengan ajang Pilpres ini kebodohan belum dapat dilepaskan begitu saja. Pun kebodohan dapat dijadikan alat buat yang berkuasa.

“Kebodohan seperti sudah menjadi akar negara ini, bodoh karena bisa dibodohi oleh uang, akibatnya maka miskin; miskin harkat, miskin matabat dan miskin materi,” kata istri saya. Untuk lepas dari segala bentuk kebodohan, minimal, buat saya dan istri saya harus banyak belajar lagi.

Terlalu murah kompensasi kebodohan dinilai dengan uang, kalau penipuan yang terjadi (tiiit. Disensor rahasia dapur pribadi) kemarin dijadikan pelajaran berharga dari sebuah kebodohan.

Kita tahu, kalau Kabupaten Jembrana mampu meng-gratiskan sekolah, lalu kenapa kabupaten lain di negara ini tidak mau berbuat yang sama? Bukankah Jembrana tidak lebih kaya dari yang lainnya?

Itu menunjukkan masih kurang perhatian pemerintah pada bidang pendidikan. Besarnya angka drop-out masih dianggap biasa-biasa saja, kurangnya fasilitas sekolah negeri, rendahnya kualitas guru imbas dari rendahnya pendapatnya kurang mendapat perhatian yang serius sehingga lagu Iwan Fals dengan judul Oemar Bakrie menjadi lagu yang sering diperdengarkan hingga saat ini.

Daripada mensubsidi sepakbola kenapa tidak membangun perpustakaan keliling, internet keliling, dan fasilitas lain yang berkaitan dengan pendidikan. Ironis memang. Padahal jika masyarakat kita pintar (bukan sok pintar) maka pembangunan akan dapat dilakukan dengan baik. Sebaliknya jika masyarakat kita bodoh karena tidak mendapatkan pendidikan yang cukup, maka kita akan menjadi masyarakat yang gampang ditipu termasuk juga oleh pemimpin kita sendiri.

Akhirnya, saya dan istri harus terus belajar, dan tentunya buat bangsa ini jika cukup makan maka bangsa ini hidup sehat dan mampu menuntut ilmu dengan baik pastilah ada perbaikan generasi yang akan mendatang.

Hidup Memilih Bumiputra

Posted by rusydi hikmawan On Mei - 3 - 2009 ADD COMMENTS Subscribe here
urang lengkap baca posting ini kalau belum baca Manajemen Ketidakpastian, posting terakhir saya, dan Jangan Asal Memilih Perusahaan Asuransi di Bumiputra Dot Com. Hidup memang sering dilingkari dengan hal-hal ketidakpastian. Begitu pula ketika kita memutuskan untuk menggunakan jasa asuransi. Posting ini sharing buat kita yang ingin mengambil keputusan memilih asuransi.

Selama menjadi blooger tiga tahun belakangan, saya punya kawan maya bernama Meilin Pruita, seorang Blogger pernah menulis Asuransi Bumiputera di blog-nya yang bertajuk girasku ing panguripan. Meilin bercerita bahwa dia pernah menjadi pengguna jasa asuransi Bumiputra sebelum memosting tulisannya 31 Januari 2008. Tepatnya asuransi pendidikan untuk anaknya, yang tentunya tiap bulan dia harus menyetor sejumlah uang.

Meilin ikut sejak dia masih hamil, dengan asumsi sembari menabung buat masa depan si kecil. Tapi karena harus pindah rumah dan merenovasi di sana sini, ia pun akhirnya meng-cut perjanjian dengan asuransi tersebut untuk tambahan renovasi rumah. Setelah mengajukan klaim lamat-lamat Meilin dipersulit. Dipersulit... lit lit semakin sulit.

Orang yang menguruskan klaimnya mulai susah dihubungi. Sedang onlenlah, sedang meetinglah, sedang apalah, sedang inilah.... Meilin benar-benar tak habis pikir. Dikarenakan memutuskan kontrak, perusahaan asuransi tersebut memberikan pinalti sekian persen dengan memotong sejumlah uang yang sudah disetornya sekian tahun (dan itu bukan jumlah uang yang sedikit baginya).

Penyesalan pun datang, walau proses masih juga dipersulit??? Sebulan, dua bulan, tiga bulan???? “Jan (tiiit... , sensor)!!!” tulis Meilin. Akhirnya Meilin mendapat haknya kembali 4 Maret tahun lalu. Tentu saja dengan potongan hampir sepertiga jumlah total dari uang. Akhirnya dengan uang itu, bersama suami tercinta, Meilin mulai mager dan mbikin perbenahan di dalam rumah.

Tidak jarang, mungkin, kita mendapat cerita seperti hal di atas. Ironis memang. Memiliki produk asuransi tetapi tidak dapat membantu sama sekali di saat mereka amat sangat membutuhkannya. Lalu apa yang harus kita lakukan?

Seperti yang ditulis Kepala Departemen Komunikasi Perusahaan AJB Bumiputera 1912, Ryana Mustamin dalam blognya,
Ada baiknya sesekali meluangkan waktu membaca laporan neraca keuangan perusahaan asuransi. Di perhitungan laba rugi, selalu tercatat dua hal: pendapatan dan beban. Premi yang dibayar pemegang polis sudah pasti dicatat di pendapatan, dan nilai pertanggungan polis akan tercatat sebagai beban. Dari pendapatan premi, perusahaan asuransi akan melakukan investasi. Hasilnya, mengkontribusi aktiva (asset). Sementara, beban klaim - yang akan meningkat dari waktu ke waktu sesuai benefit yang dijanjikan ke pemegang polis, menjadi beban - bagian dari kewajiban perusahaan.

Nah, apa jadinya jika klaim jatuh tempo yang seharusnya dibayarkan, tapi ditunda?

Pertama, neraca akan pincang. Pendapatan tidak bertambah, karena premi sekaligus sumber dana investasi telah terhenti pembayarannya. Di sisi lain, beban tidak berkurang, karena kewajiban klaim tidak dikeluarkan. Nah, jika laju penurunan pendapatan tidak dibarengi dengan laju penurunan beban - bahkan sebaliknya beban meningkat, saya rasa bukan sekadar neraca keuangan tidak sedap dipandang, tapi perusahaan itu sendiri tengah mengarsiteki jalannya menuju jurang kehancuran.

Kedua, jika kewajiban klaim ke pemegang polis tidak diselesaikan, bukankah perusahaan asuransi tidak bisa mengajukan klaim reasuransi? Padahal semakin cepat klaim cair, semakin cepat pula perusahaan bisa menginvestasikan kembali dana itu ke outlet investasi yang dinilai prospektif?

Ketiga, terlepas dari kinerja keuangan, sangat bodoh jika pelaku industri asuransi tidak menyadari bahwa ini bisnis reputasi, kredibilitas. Konsumen tidak sedang mengkonsumsi suatu barang atau jasa yang bisa Anda ujicoba pada tahap pembelian. Milyaran dana promosi yang ditebar tidak akan sanggup mencuri kepercayaan konsumen, jika mekanisme klaim perusahaan bersangkutan rumit dan berbelit. Apalagi sampai melakukan tipu-daya. Kontrak masa asuransi (terutama asuransi jiwa) pun dikenal sangat panjang, berbilang puluhan tahun. Adalah mustahil perusahaan asuransi berumur panjang jika praktik bisnisnya curang.


Selanjutnya yang perlu kita ketahui adalah Risk Based Capital (RBC) suatu perusahaan asuransi. RBC pada dasarnya adalah rasio dari kekayaan bersih atau “net worth” perusahaan bersangkutan, yang dihitung berdasarkan peraturan dari standar akuntansi dibagi dengan nilai kekayaan bersih, yang dihitung kembali dengan mengikutsertakan risiko-risiko pemburukan yang mungkin terjadi. Artinya, RBC juga berkaitan dengan pengukuran keamanan finansial atau kesehatan perusahaan-perusahaan asuransi.

Regulasi pemerintah berdasarkan RBC mengenai kesehatan perusahaan-perusahaan asuransi memang diluncurkan ke industri asuransi di Indonesia oleh pemerintah Indonesia di tahun 1999. Dan tentunya, beberapa perusahaan asuransi sekarang telah berada di bawah pengawasan khusus pemerintah karena rasio kesehatan RBC mereka tidak memenuhi ketentuan minimum pemerintah.

Lalu, apakah rasio kesehatan RBC sebuah perusahaan asuransi yang kita percayakan sudah jauh di atas ketentuan pemerintah yang hanya sebesar 120 persen? Makanya, kita-kita mesti cari tahu sebelum mengambil keputusan asuransi mana yang akan menjamin keamanan finansial kita.

Dan diulangtahun ke 97, AJB Bumiputra 1912 pasti semakin memberi pelayanan terbaiknya. Karena dalam falsafahnya, AJB Bumiputra 1912 terus bekerja dengan profesionalisme, berkomitmen mengelola perusahaan dengan mengedepankan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) dan senantiasa berusaha menyesuaikan diri terhadap tuntutan perubahan lingkungan.