Bukan hanya pertanda dimulainya tahun baru, itu juga pertanda dimulainya perdagangan bebas seasia tenggara di awal tahun duaribu sepuluh, satu Januari, pagi ini.
Sepertinya mereka bersuka ria menikmati awal perdagangan bebas dan sudah bersiap diri untuk itu. Saat semua kompetisi semakin menganga bagi rakyat di negeri ini. Siapkah kalian? Siaaap!!! Siap tidak siap, kita memang harus siap.
Namun, di balik kesiapan itu, Ketua KAMMI Pusat Rijalul Imam begitu khawatir, hingga ia menulis di dinding fesbuk-nya, "...Mulai 1 Januari 2010 produk-produk Cina merapat ke Tanjung Priok, genderang pasar bebas (FTA) Cina-Asean dimulai.. Renungan besar era liberalisme ekonomi baru semakin mencengkeram Indonesia..."
Komentar pun bermunculan, "Biar Indonesia tambah semangat memproduksi barang berkualitas,, biasanya kreativitas muncul karena ada tekanan,, persaingan." Tapi itu ditimpali ketua umum, "Persaingannya tidak berimbang. Sejak 400 tahun penjajahan, Indonesia tidak lagi dikenal sebagai peniaga internasional. Sebagai petani tangguh pun yang terjadi adalah perbudakan dan pengempasan harga tani oleh serbuan produk impor yg tak kalah murahnya. Sebagai pelaut pun kini semakin tenggelam saja."
Padahal, tambahnya, dahulu kala terdapat pemeo: nenek moyangku sang pelaut. Tapi kini lautan kita dikuasai asing. Persoalannya bukan semata pada keterampilan kita berdagang dan memproduk, tapi pada dukungan kebijakan yang tidak pro rakyat.
Itulah perdagangan bebas. Sistem pedagangan yang didewa-dewakan para penguasa pro pemodal. Itu pula yang telah menegasikan tulisan Donny Gahral Adian dalam Neoliberalisme Kertas.
"Neoliberalisme hanya teoretisasi di atas kertas. Ibarat hantu, wujud terukurnya di realitas nyata sukar ditangkap. Paling banter kita melihat jejak pikirannya dalam beberapa kesepakatan ekonomi global. Lalu, buat apa kita memukuli setan bernama neoliberalisme saat musuh sebenarnya bersembunyi di belakang republik ini?" tulis Ketua Jurusan Filsafat Universitas Indonesia.
Ia berpijak pada gagasan manusia sebagai homo oeconomicus dan kesepakatan global. Saat homo oeconomicus yang hanya melihat kepentingan pribadi dan mengerahkan rasionalitasnya. Lalu, pasar sebagai satu-satunya institusi kebebasan bekerja sempurna, kesepakatan global harus dihasilkan.
Artinya, kebijakan global adalah gagasan amat sumir. Kesumiran gagasan neoliberalisme dalam pelbagai kesepakatan global membuat kita harus berhati-hati menyusun kritik, simpulan dari buah pikiran Donny.
Padahal menurut Ketua Komisi VI DPR Airlangga Hartarto di Bisnis.com, iklim neraca perdagangan nasional terhadap China akan semakin terpuruk kalau kesepakatan perdagangan bebas itu dilaksanakan sesuai jadwal.
Lihat saja, sejak AFTA antara Indonesia dan China diterapkan bertahap mulai 2005 lalu, nilai perdagangan Indonesia terus merosot. Bahkan pada 2008 nilai akumulasi perdagangan Indonesia dengan China mengalami defisit US$3,61 miliar.
Alih-alih meningkatkan kemakmuran rakyat, eh defisit malah makin besar. Terhitung mulai 1 Januari 2010 bea masuk 8.097 pos tarif dari 17 sektor industri akan jadi 0%. Sementara ekspor Indonesia kalah dengan impor dari China.
Gak hanya Industri, pertanian merupakan sektor yang paling terpukul dengan pelaksanaan kesepakatan perdagangan bebas dengan China. Hal itu tentu akan merusak kesinambungan program ketahanan pangan dan produk pertanian nasional yang sekarang baru dimulai.
Lalu kenapa ada gerakan yang menentang neoliberalisme bertopeng AFTA? Itu karena enam anggota Perhimpunan Negara Asia Tenggara (ASEAN) akan mengurangi sebagian besar tarif perdagangan mulai 1 Januari 2010.
Artinya, perjanjian AFTA yang mengikat enam negara, yakni Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina dan Brunei Darussalam akan mengurangi tarif impor, maka nilai perdagangan intra ASEAN bisa berkembang hingga 30 persen setelah AFTA berlaku.
Dalam Common Effective Preferential Tariff (CEPT) Agreements, pengurangan tarif juga berlaku bagi sekitar 98,86 persen jenis produk dengan kisaran tarif 0-5 persen.
Dengan pengurangan tarif tersebut, wajar saja produk dalam negeri tak bisa berbuat banyak. Produk secara massal dari negara tetangga dengan harga murah tentu lebih diminati. Jadi gak heran, CEPT Agreements menjadi batu sandungan bagi pedagang kecil.
Batu sandungan yang akan menggerus pedagang-pedagang di lapak kecil, pedagang tradisional dan pedagagang dengan modal terbatas. Jadi, hanya ucapan selamat saja yang bisa kita ucapkan untuk mereka: Selamat datang perdagangan bebas, selamat datang penguasa-penguasa pro pemodal besar dan selamat tinggal rakyatku.
The photo and the text can be changed by modifying the about.php file.Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

