Jan
23rd

Sekolah Alam Ciganjur: Sekolah yang Benar-benar Waktu Luang

Files under , Pendidikan | Posted by Abu Bakar Fahmi
Jam 07.30 pagi. Tiap hari bukan pagi yang terburu-buru. Pada saat banyak siswa di Jakarta bergegas mengejar kelas jam 6.30, disini, siswa berangkat satu jam lebih siang. Disini, siswa bukan disambut dengan kelas persegi panjang yang sempit, berderet meja kursi seragam tertata, dan papan hitam tersandar di muka, tapi dengan padang lapang kehijauan, dengan saung serupa panggung, dan tempat bermain yang bisa dipakai kapanpun sempat. Tanpa meja kursi, tanpa sekat pembatas kelas. Mungkin siswa disini tidak merasa masuk sekolah. Apalagi mereka tidak mengenakan pakaian seragam sekolah. Di lain pihak sementara orang menyangsikan: apakah yang semacam ini benar-benar sekolah?

Pagi pun tidak disambut dengan guru yang menanya tugas atau pekerjaan rumah, sambil secepat kilat mengeluarkan bertumpuk buku dalam tas. Pagi memang harus dinikmati. Dan para siswa menikmati pagi dengan bercerita ringan sehari-hari. Mereka berbincang pagii: tentang peristiwa kemarin, perasaan hari ini, maupun rencana yang akan dilakukan sepanjang hari. Para guru di sekolah itu menamai dengan morning talk.
Bagi sebagian orang, namanya tidak lagi jarang terngiang: Sekolah Alam Ciganjur. Kami ingin sedikit bertukar cerita tentang sekolah itu. Tentu hanya kilas sepintas, berdasar pengalaman kami bertamu sejenak di sekolah itu.

Kami berbelok ke kanan segera saat masuk pintu sekolah. Ada saung yang dibangun dengan teratak tangga yang lebih tinggi. Di lantai saung itu, ada satu komputer menyala dengan perempuan muda di depannya. Sedang mengerjakan administrasi siswa. Kami disambut, lalu duduk di alas karpet. Ini kantor sekolah itu. Tanpa meja, tanpa tempat duduk, hanya menggelosor.

Penasaran melayangkan tubuh-tubuh kami berkeliling di area yang luasnya 6.800 meter persegi itu. Dengan ditemani mang Pepen dan mang Asep, kami berjalan pelan sambil berkeliling sekolah. Jalan setapak, diplester. Disekelilingnya rumput-rumput hijau membungkus muka tanah. Beberapa pohon rambat mengatapi jalan setapak itu.
Kami dipergoki oleh antrian siswa yang hendak lewat. Ini siswa mungkin sedang mengikuti pelajaran olah raga. Atau mungkin bukan, karena di sini kapanpun para siswa bisa olah raga.

Di sebuah saung, siswa TK A sedang duduk mengantri. Berturut-turut seperti gerbong kereta yang sambung menyambung. Sesekali tawa kecil membahana dari siswa yang sengaja mendorongkan tubuhnya ke belakang mengenai temannya. Di pangkal antrian, seorang siswa dan guru sedang menghadap adonan dari tepung. Saat siswa di pangkal antrian selesai membuat rupa adonan, ia bergegas menuju ujung antrian. Begitu seterusnya mereka belajar membuat adonan.

Pada saung yang lain, sekelompok siswa mencari tempat masing-masing untuk sebuah kerja di tangan: alas dari papan yang menjepit selembar kertas di atasnya. Mereka sedang belajar menyalin huruf latin. Ada yang menunggingkan pantatnya di lantai saung, ada yang duduk di tangga, ada yang di pinggir jalan setapak, ada juga yang masih berlarian.

Pada bagian lain, di sudut sekolah, terhampar lapangan bola. Dua orang siswa sedang bermain sepak bola.

Sejenak waktu, kami menyalami beberapa siswa. Kami menatap mata mereka, mereka pun menatap mata kami. Uluran tangan langsung disambut. Nyaris tak ada rasa minder terbersit di wajah cerah mereka. Yang tersisa hanya ketegaran dan rasa ingin tahu yang lebih dalam pada kami, walau belum sempat kata-kata terucap dari mulut mereka yang menganga.

Di ketinggian, seorang siswa perempuan sedang menaiki teratak dari tali. Tiada ragu kaki menginjak, tak ada waktu untuk sesaat menengok ke bawah. Ia seperti sudah biasa dengan ketinggian. Ya, mereka, siswa yang lebih besar (mungkin kelas 5 atau 6) sedang khusyu bermain flying fox.

Saat itu kami datang tanpa diundang, kami datang tanpa memberitahu rencana kunjungan. Kesimpulan sederhana kami, apa yang kami lihat saat itu adalah apa yang terjadi setiap hari di sekolah itu. Ini sekolah atau tempat bermain?
Sekolah secara harfiah berarti ‘waktu luang’, berasal dari bahasa Latin, skhole, scola, scholae atau schola. Apa kegiatan yang paling tepat untuk mengisi waktu luang bagi anak-anak selain bermain-main?

Alkisah, orang Yunani tempo dulu biasanya mengisi waktu luang mereka dengan mengunjungi suatu tempat atau seseorang yang pandai. Mereka menanyakan dan mempelajari ikhwal yang mereka rasa butuh diketahui. Mereka meyebut kegiatan itu dengan istilah di atas. Keempatnya punya arti yang serupa: waktu luang yang digunakan secara khusus untuk belajar—leisure devoted to learning (Topatimasang, 1998).

Pada Sekolah Alam Ciganjur, para siswa datang ke tempat itu. Mereka menghabiskan waktunya untuk bermain: adonan, sepakbola, flying fox. Dengan bantuan para guru, mereka bermain tidak sekedar bermain, tapi ada pelajaran yang bisa didapat dari permainan itu. Di sekolah itu mereka bersenang-senang, bahkan mungkin lupa bahwa mereka sebenarnya sedang mempelajari sesuatu.

Di sebuah saung, ada gambar-gambar ikan yang ditempel melingkar pada lantainya. Fungsinya untuk membantu siswa agar bisa berdiri melingkar bulat teratur—sesuatu yang tidak mudah bagi anak usia 4-5 tahun. Dipakai setiap hari untuk mengakhiri jam pelajaran. “Itu baru kami terapkan”, ujar mang Asep, sambil menujuk gambar ikan yang ditempel melingkar itu. Sungguh, ternyata, di sekolah ini siswa dan guru saling belajar sesuatu yang baru—yang layak diketahui dan dijalani bersama-sama.

Tidak dinyana, kami teringat sekolah Summerhill yang didirikan A.S. Neill di London tahun 1921. “Menurut saya anak punya watak dasar bijaksana dan realistis. Kalau dibiarkan tanpa campur tangan apapun dari orang dewasa, ia akan berkembang sejauh potensinya memungkinkan. Secara logis, di Summerhill, barangsiapa punya potensi dan ingin jadi intelektual, ia akan jadi intelektual. Barangsiapa yang hanya cocok menyapu jalanan akan menyapu jalanan. Namun sejauh ini kami tidak menghasilkan segerombolan tukang sapu jalan.” Begitu ujar Neil (2006). Di Sekolah Alam Ciganjur, para siswa belajar dengan caranya sendiri dan tentang apa yang ingin mereka ketahui bersama. Jadi jangan heran jika ada siswa yang belajar sambil tiduran sementara yang lain hidmat menatap wajah guru. “Saya mendengarkan kok, Bu” begitu jawab seorang siswa yang belajar sambil berbaring, dan guru pun membiarkan ia belajar dengan caranya yang khas itu.

Mengapa sekolah ini berbeda dengan jamak sekolah yang lain? Ingin menawarkan sistem yang baru, mungkin. Tapi, ini pasti menyangkut salah satu pemberatan dari dua aspek pengalaman manusia: aspek logis dan psikologis (Dewey, 2006). Pada saat banyak sekolah memberati aspek pertama: dengan membebankan pelajaran atau bidang studi agar bisa menjawab Ujian Nasional, sekolah ini memilih pemberatan pada aspek kedua: bahwa pelajaran sekolah memang benar-benar mengikuti tumbuh kembang kepribadian anak. wallahua’lam.

Wisma Kodel, 21 Januari 2008


7 Responses to “Sekolah Alam Ciganjur: Sekolah yang Benar-benar Waktu Luang”

  1. By AFIEF klz 8 on Feb 17, 2009 | Reply

    SAYa BANgGA jadI MuRiD CItRa AlAM…..

  2. By dani on Mar 6, 2009 | Reply

    kapan cwe …mulai dgn sklh alm

    tujukin aku foto foto nya donk..

    pliz

    repz…me

  3. By Rizki Muhammad Faruk on Mar 30, 2009 | Reply

    السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
    بسم الله الرحمن الرحيم

    … من قتل نفسا بغير نفس او فساد في الارض فكانما قتل الناس جميعا ومن احياها فكانما احيا الناس جميعا… (المائدة:32)

    وعن ابن عمر ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال المسلم اخو المسلم لا يظلمه ولا يسلمه من كان في حاجة اخيه كان الله في حاجته ومن فرج عن مسلم كربة فرج الله عنه بها كربة من كرب يوم القيامة ومن ستر مسلما ستر الله يوم القيامة (متفق عليه)

    Yang terhormat
    Ustadz/Ustadzah

    Atas dasar ayat dan hadits di atas, ana memperkenalkan diri, ana adalah hamba Alloh yang sedang meniti sunnah Rosululloh saw. Dalam hal nikah, namun ana menghadapi beberapa kendala.

    Pada saat ini ana sebagai pengajar Al-quran tajwid/tahsin di sebuah Panti Sosial Asuhan Anak Winmar yang beralamat di Jl. Kalapadua Kiaralawang Desa Majasari Kecamatan Cibiuk Kabupaten Garut dengan status tenaga sukarela.

    Pendidikan terakhir MA tahun 1994 dan 2 tahun terakhir di ma’had Tahfidz Al-imarot Bandung tidak sampai selesai.
    Pengalaman kerja sebagai operator komputer program Word, Excel dan Corel draw selama + 4 tahun

    Calon istri ana seorang pengajar honorer di sekolah Dasar Islam Plus di Ciganjur Jakarta. Rencana nikah pada tanggal 18 jumadil akhir 1430

    Dengan segala kerendahan hati kiranya antum ma’lum pada keadaan dan kebutuhan ana yang masih belum berpenghasilan, ana sangat mengharapkan uluran tangan antum rohimakumulloh untuk nasihati ana sebagai saudara untuk menunjukan pekerjaan yang layak untuk menutupi kebutuhan sandang, pangan papan, kesehatan, kendaraan dan kebutuhan lainnya.

    Atas segala perhatiannya ana ucapkan jazakumulloh khiron katsiro

  4. By miLa on Jul 1, 2009 | Reply

    Asslamua’alaikum. wr. wb
    Kpd Yth, Pimpinan Sekolah Alam
    saya mahasiswa kampus negeri jkt,, ingin menanyakan, apakah boleh saya melakukan observasi di sekolah alam ini, untuk penyelesaian tugas akhir saya?

    sebelum dan sesudahnya trima kasih..

  5. By gusvita on Jan 28, 2010 | Reply

    saya baru mengetahui adanya sekolah alam cianjur ini, baru siang ini saat saya membantu anak les ku mengerjakan pr sekolahnya….

    dan saat saya membaca ini.. tentang sekolah ini…
    membuka mata saya…
    beginilah seharusnya sekolah…
    khususnya sekolah dasar….

    wow…

    saya seorang guru sd…
    ini memang hal yang berbeda…

    sungguh menarik….

  6. By ummi akmal on Feb 6, 2010 | Reply

    Saya pikir sekolah saya saja yang begitu.. ternyata ada juga sekolah alam indonesia.. btw, apakah SAI sekolah Islam terpadu atau umum??

  7. By dian sugandi surya on Feb 19, 2010 | Reply

    Assalamualaikum Wr.Wb,

    Apakah di sekolah alam ini menerima anak2 yang berkebutuhan khusus?(memerlukan shadow teacher)?

Post a Comment